YOU ARE MINE (6)

CzUVbiSVEAE3405

Ditulis oleh: Ranizone dan Eternity Happines

.

.

.

   Pagi ini Yoona, Tiffany dan Krystal bersiap untuk kembali ke Seoul untuk merayakan natal bersama keluarga mereka. Tepat hari ini juga ayah Tiffany akan tiba dari Amerika. Tidak hanya mereka bertiga yang akan berangkat, Siwon pun diajak ikut serta. Demi mengejar waktu agar cepat sampai dan berhubung karena helikopter tidak cukup untuk menampung mereka, Yoona meminta dikirimkan jet pribadi untuk mengantar mereka semua ke tempat tujuan.

Baca lebih lanjut

Iklan

YOU ARE MINE (5)

Jessica-Jung-2017-cr-ronald-stewart-billboard-1548

DITULIS OLEH RANIZONE

Yoona POV

   Lima bulan setelah kelahiranku, Daddy merevisi dokumen yang menyangkut data-data identitasku. Di akte kelahiranku, Daddy mengganti namaku yang semula Kwon Yoona, menjadi Jung Yoona. Ia  mencantumkan namanya sebagai ayah Kandungku. Sebelumnya, Daddy juga sudah mendaftarkan pernikahannya dengan Umma di gereja dan dinas kependudukan. Daddy ingin aku diakui sebagai anak yang terlahir dari pasangan yang sah, dan diakui secara hukum. Agar masyarakat tidak menganggapku sebagai anak haram, karena tidak jelas siapa ayah kandungnya. Daddy ingin aku menjadi pewarisnya suatu hari nanti. Untuk itulah, semua harus diatur sesuai hukum yang berlaku di negara kita.

Baca lebih lanjut

YOU ARE MINE (4)

desktop-background-3061483_960_720

 

DITULIS OLEH: @RANIZONE

   Sebuah pemandangan indah terlihat dari sepasang anak muda yang masih terlelap dalam satu balutan selimut, dengan masih saling berpelukan, tampak seperti pengantin baru. Terlihat bagaimana si pria memeluk erat wanitanya dengan protektif, seolah tak ingin ditinggalkan wanitanya.

   Wanita lain yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa tersenyum bahagia. Sebenarnya ia tidak ingin mengganggu pasangan itu, namun karena hari sudah hampir siang, mau tidak mau terpaksa ia harus memisahkan mereka dan tentu saja mengakhiri adegan romantis tersebut.

Baca lebih lanjut

21 Januari 2018

tori-1976609_960_720

No one can understand me right now

They said it’s okay, you’ll gonna be fine, nothing will harm you

NO! they lie

They don’t know anything

They don’t understand how hard it is for me.

I’m not okay

I’m not fine

I am tired

Tired doing things that I do not want it.

Tired try to be comfortable in my uncomfort zone

I barely alive

Each day I always push myself to trought it

Face the hardship that God send me

Masked my feeling as if everything is okay and I’m fine

Fake everything and be the other me who think that world gonna be nice to me for a second

But it is not

Each day, it grow to be more worse

I’m sick

I’m in pain

But I have to work

I have to study

I have to keep being nice when everyone keep being bad to me

Hurting me till my feeling being numb and I barely can understand what is happiness, what is love, what is this feeling that keep haunted me and make me restless

I feel like I can’t breath

I can’t do this anymore

I want end this pain

I want end this misery

But I do not wish to end my life here

I want be happy

Doing what I want

What I wish

Living the life where I can smile and be gratefull to God anytime, everytime.

What should I do?

I want give up but I know I can’t

I want runaway but I know I can’t

What should I do?

Should I end the life here?

Well maybe they will be sad when I’m gone

But it just for a moment

A few days or times later… they will forget me and I just will be the name that maybe they will forget too.

HELP ME

SAVE ME

PLEASE LET ME OUT

SAVE ME FROM THIS MISERY

I BEG YOU

ANYONE

HELP ME

HELP ME

HELP ME

I WANT LIVE

YOU ARE MINE (2)

  cd11e37f1f9ec30a260b892490132e40

Menyayangimu…

Adalah sebuah perasaan menakjubkan yang membuatku merasa hidup

Mencintaimu…

Sebuah kesalahan yang tidak bisa ditolak oleh hatiku.

Melupakanmu?

Bahkan tanya tak mampu mencari jawabnya.

***

    Yunho, Boa dan Jessica bergegas menuju rumah sakit setelah mendapat kabar dari Yoona kalau Krystal pingsan. Ketiganya berlarian di koridor menuju ruang IGD, tak sabar untuk segera bertemu Krystal.

   Sementara itu, Yoona dan Tiffany menunggu dengan cemas di depan pintu ruang IGD, tempat Krystal mendapat pertolongan pertama. Sudah setengah jam dokter yang memeriksa Krystal belum juga keluar, membuat kedua orang tersebut semakin cemas. Bahkan sampai Yunho, Boa dan Jessica tiba dan bergabung dengan mereka, dokter tersebut belum juga keluar.

“Kenapa mereka lama sekali?” gerutu Yoona. Ia tidak bisa duduk tenang, sejak tadi ia terus mondar-mandir di depan pintu IGD tersebut.

“Yoona-ya” panggil Boa. Ia menepuk tempat duduk tepat di sebelahnya, mengisyaratkan agar anaknya itu untuk duduk di sampingnya. Yoona menurut. Ia duduk, dan langsung meletakkan kepalanya di bahu sang ibu. Dengan lembut Boa mengusap rambut putra kesayangannya itu, mencoba membuatnya lebih tenang.

“Sabar, sayang. Jangan khawatir. Soojung pasti baik-baik saja. Kau harus tenang.” Boa paham kekhawatiran Yoona. Sebenarnya ia tak kalah khawatirnya, tapi dia berusaha menutupinya dengan mencoba bersikap tenang. Kalau dia juga ikut panik, lalu siapa yang akan menenangkan mereka?

   Tak hanya Yoona, Jessica pun sama khawatirnya, hanya saja dia tunjukkkan lewat tangisan. Gadis itu menangis terisak dalam pelukan ayahnya. Yunho mengusap-usap lengan Jessica sembari mengucapkan kata-kata untuk menenangkannya.

   Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Yoona adalah orang pertama yang refleks berdiri dan langsung menghampiri sang dokter yang sejak tadi mereka tunggu-tunggu. Yoona segera memberondong si dokter dengan berbagai pertanyaan.

“Krystal tidak apa-apa. Tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Dia hanya kelelahan dan butuh banyak istirahat. Ingat, dia bukan robot. Robot saja bisa rusak jika terlalu sering digunakan, apalagi manusia yang bekerja keras tanpa istirahat. Juga tolong diperhatikan makanan yang dia konsumsi. Sepertinya akhir-akhir ini Krystal sering makan makanan sembarangan.”

“Anda yakin tidak ada hal yang berbahaya, dokter?” Yoona tampaknya tidak puas dan tidak percaya ucapan dokter tersebut. “Anda yakin sudah memeriksa semuanya?”

Dokter itu hanya tersenyum dan menggagguk sebagai jawaban. Dia tepuk pelan pundak Yoona sambil berlalu meninggalkan keluarga Jung.

   Seorang perawat keluar dari ruangan tersebut memberi tau kalau Krystal akan dipindahkan ke ruang perawatan dan keluarga baru bisa menjenguk setelah Krystal berada di ruang rawat tersebut.

***

   Satu persatu orang yang sejak tadi menunggui Krystal masuk ke ruang rawat. Begitu giliran Yuri, Yoona dengan sigap menahannya. Yuri terkejut. Keduanya saling tatap. Sorot mata Yoona yang tajam membuat nyali Yuri menciut.

“Bisa kita bicara sebentar?”

   Yuri mengikuti Yoona dari belakang. Keduanya berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Yuri tidak tau kemana Yoona membawanya. Ia agak merinding begitu mereka melewati kamar jenazah. Semakin ke dalam semakin sepi dan rumah sakit itu semakin terlihat menyeramkan.

   Tibalah mereka di sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti gudang. Yoona mempersilahkan Yuri masuk lebih dulu. Begitu Yuri sudah masuk, Yoona secara tiba-tiba menyergapnya dan menyudutkannya di tembok. Yuri tak berkutik sama sekali saat lengan Yoona menekan lehernya, membuatnya sulit bernapas. Belum lagi dinginnya tembok menusuk punggungnya hingga tembus sampai ke tulang.

“Y….Yoo…Yoonaaa…. A…apa…yang…kk..kau lak…kku..kan?” keringat mulai membanjiri wajah tampan Yuri. Dia hampir kehabisan oksigen, dadanya sesak. Berkali-kali ia memukul lengan Yoona, berharap sepupunya itu melepaskannya.

“L….lepas k..kkan ak..kku..”

Melihat wajah Yuri yang memerah, Yoona pun menurunkan lengannya dari leher Yuri. Yuri terbatuk-batuk sampai jatuh tersungkur.

“KAU LIHAT KAN? INI AKIBAT KEEGOISANMU. KAU PUAS?.” teriak Yoona penuh emosi. Ia berjongkok dan menarik kerah baju Yuri. “Dengar Kwon Yuri, adikku itu bukan mesin pencetak uangmu. Meskipun sekarang dia terkenal dan sukses karenamu, bukan berarti kau bisa menjadikannya alat untuk memperkaya dirimu. Ingat Kwon, kesuksesan agensimu ini berkat siapa? Jika aku menarik investasiku dan Krystal dari agensimu, apa yang bisa kau lakukan, hah?” Yoona menarik napasnya sejenak. Ia lepas kerah baju Yuri dari cengkramannya sambil tersenyum sinis, “Jangan macam-macam denganku. Dan juga…..” Yoona menepuk-nepuk pipi Yuri. “Tolong jauhi kakakku. Aku tidak suka dia bersamamu.”

   Yuri dengan berani menatap Yoona. Dia memang tidak bisa menolak apapun perintah Yoona, tapi jika itu berhubungan dengan Jessica, ia tak mau tinggal diam.

“Kenapa kau tidak menyetujui hubungan kami?”

“Bukan urusanmu.”

Yuri tertawa kecil. “Kau takut aku memperalat Jessica juga?”

Dengan penuh emosi, Yoona menghantam wajah Yuri dengan satu kali pukulan keras. Yuri kembali tersungkur, dari sudut bibirnya keluar darah segar.

“JUNG YOONA” teriak Jessica. Ia berlari menghampiri Yuri yang berusaha berdiri dengan susah payah. Jessica menangis melihat Yuri seperti itu. Padahal Yoona cuma sekali memukulnya, tapi wajah Yuri sudah babak belur.

“APA YANG KAU LAKUKAN?” Jessica mendorong adiknya itu agar menjauh dari Yuri. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Yoona. Setelah itu, Yoona melihat Jessica menangis terisak-isak untuk Yuri. Gadis itu membantu kekasihnya duduk sebelum ia bersihkan luka-luka di wajah tersebut. Mata Yoona berkaca-kaca menyaksikan adegan itu. Betapa beruntungnya Yuri. Jessica belum pernah menangis seperti itu untuknya. Jessica tidak pernah membersihkan lukanya jika dia terluka. Jessica tidak pernah memeluknya untuk menenangkannya.

“You are so lucky, bro. Bahkan kakakku lebih menyayangimu dari pada adiknya sendiri. Dia mengobati lukamu tapi memberikan luka padaku.”

Dan seperti sudah menjadi kebiasaan, Yoona menarik tangan orang dengan seenaknya. Dia tarik tangan Jessica dan membawanya keluar dari gudang itu, meninggalkan Yuri seorang diri. Tidak peduli betapa sakitnya saat Jessica memukul-mukul punggungnya agar dilepaskan dari cengkramannya.

   Yoona meminta supir pribadinya agar mengantar Jessica pulang ke rumah.

“Pulang dan istirahatlah. Aku yang akan menjaga Krystal.”

“Bagaimana dengan Yuri?”

Yoona tertawa sedih. Ditatapnya Jessica yang terlihat berantakan karena tak hentinya menangis, di pipinya ada noda darah, darah yang berasal dari Yuri.

“Berhenti mengkhawatirkannya dan cobalah untuk peduli padaku. Apa yang terjadi, tidak sepenuhnya salahku.”

***

   Di lobby rumah sakit, terlihat beberapa wartawan tengah berkumpul menunggu konfirmasi mengenai kabar pingsannya Krystal Jung. Orang-orang yang berada di rumah sakit tersebut heran kenapa banyak sekali wartawan, mereka tidak tau kalau salah satu artis ternama tengah di rawat di situ. Kehebohan di lobby rumah sakit sampai juga di telinga Yoona, selaku pihak keluarga, ia pun berniat untuk menemui para wartawan yang sedang menunggu kabar tentang Krystal.

“Kenapa cepat sekali beritanya menyebar? Bukankah kalian sudah memastikan kalau tidak ada yang tau kejadian ini?”, tanya Yoona pada dua asistennya.

“Kami yakin kalau tidak ada yang tau selain pihak keluarga dan agensi.” jawab salah satu asistennya.

“Lalu?”

“Maafkan kami, tuan. Mungkin ada pihak yang sengaja melakukannya, dan kami kelolosan.” kedua asistennya tersebut membungkuk sebagai permintaan maaf.

“Tidak apa-apa, ikut aku.”

   Yoona bersama kedua asistennya berjalan menuju lobby untuk menemui para wartawan itu. Dan mereka pun langsung dikerubungi dan diserbu dengan berbagai pertanyaan.

“Yoona-ssi, bagaimana kondisi Krystal saat ini? Apa dia baik-baik saja?”

“Kondisi Krystal sudah membaik.”

“Apa yang terjadi? Kenapa Krystal sampai pingsan seperti itu?”

“Dia hanya kelelahan, dan butuh banyak istirahat.”

“Apa semua ini karena jadwalnya yang begitu padat? Apa yang akan dilakukan Golden Star setelah ini? Apa kalian akan menuntut KY Ent?”

Pertanyaan salah satu wartawan tersebut membuat suasana menjadi hening, si wartawan menjadi pusat perhatian karena pertanyaannya yang dianggap terlalu berani. Ia pun jadi salah tingkah dan merasa tidak enak pada semua yang ada di sana, terutama pada Yoona. Namun, reaksi pewaris Golden Star tersebut diluar dugaan, ia malah tersenyum dengan sangat manis, tidak menunjukkan amarah sama sekali.

“Pertanyaan bagus. Tapi maaf, aku tidak bisa menjawabnya. KY Ent dan GS Corp akan segera menggelar konfrensi pers secara resmi, jadi silahkan ajukan pertanyaan tersebut disana.” Yoona pun berlalu meninggalkan kerumunan wartawan tersebut.

   Seperti yang dikatakan Yoona, keesokan paginya, konfrensi pers pun digelar untuk menjawab rasa keingintahuan masyarakat akan kondisi Krystal. Dari pihak KY Ent, diwakili oleh Kim Taeyeon, dan didampingi kuasa hukum KY Ent, karena Yuri tidak mungkin tampil dengan wajah babak belur. Sedangkan dari pihak GS Corp, diwakili langsung oleh Yunho dan juga kuasa hukumnya. Yoona tidak muncul dalam konfrensi pers tersebut, dia malah memilih menemani sang adik di ruang rawat VIP nya. Mereka hanya menyaksikan prescon tersebut di saluran TV yang menyiarkan secara langsung.

“Oppa, apa kau dan Daddy akan menuntut Yul Oppa?” tanya Krystal. Yoona yang sedang menyuapkan buah jeruk ke mulut Krystal, berhenti dan menoleh ke arah adiknya.

“Kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Bukankah Oppa sangat membencinya? Jadi oppa mengambil kesempatan ini untuk menghancurkannya. Bahkan kudengar, oppa memukulnya semalam.”

Yoona tertawa, tidak menyangka adik kesayangannya itu memiliki logika dan imajinasi sehebat itu.

Diusap-usapnya rambut Krystal, “Wow…kau luar biasa baby Jung. Tapi aku tidak sejahat apa yang kau pikirkan. Meskipun aku membencinya, tapi aku tidak akan menghancurkannya. Umma dan Unniemu pasti membunuhku jika aku melakukannya.” kakak beradik itu pun tertawa bersama dan kembali fokus menonton prescon yang berlangsung di GS Group Tower.

“Soojung-ah, kau suka menjadi artisnya Kwon Yuri?”

Krystal mengangguk, “Tapi, aku lebih suka menjadi adikmu.”

Yoona tersenyum, “Kalau begitu, jadilah adik yang baik untukku.”

***

DF_ufXwVYAEQuF9

   Krystal sudah diperbolehkan pulang dan menjalani perawatan di rumah setelah menghabiskan waktu selama 3 hari di rumah sakit. Dia masih diharuskan untuk beristirahat, akibatnya semua jadwal kegiatannya dihentikan sementara. Rencana perilisan album terbarunya pun terpaksa diundur. KY Ent hanya bisa pasrah menerima keputusan GS Corp saat presscon kemarin.

   Selama menjalani pemulihan, Krystal ditemani manajernya, Tiffany. Gadis itu juga diminta tinggal sementara di rumah keluarga Jung agar lebih memudahkan menjaga Krystal.

“Sebenarnya aku ini manajer atau baby sitter sih?” tanya Tiffany saat mendengar tugas baru yang diberikan -siapa lagi kalau bukan- Yoona.

“Jangan banyak protes, aku ini atasanmu sekarang. Jadi lakukan saja apa yang kuperintahkan.”

“Baiklah Tuan Muda.”

Meskipun suka protes, tapi Tiffany tetap melakukan tugasnya sesuai yang diperintahkan. Entah kenapa Tiffany tidak bisa menolak semua permintaan dan perintah Yoona. Semua ia turuti walaupun terkadang anak itu suka seenaknya memerintah.

   Selama tinggal di rumah keluarga Jung, Tiffany merasa ada hal aneh yang terjadi antara Yoona dan Jessica. Meskipun keduanya tidak terlalu dekat, namun keganjilan itu terlihat jelas. Ada aura dingin yang menyelimuti hubungan mereka. Jessica berusaha menghindar jika berpapasan dengan Yoona, begitupun sebaliknya. Di meja makan, Jessica tidak pernah menatap Yoona, bahkan saat keluarga itu bercanda, Jessica sama sekali tidak merespon.

   Karena penasaran, Tiffany pun bertanya pada Yoona saat keduanya tengah berada di taman bunga milik Boa.

“Apa kalian bertengkar?”

Yoona bingung dengan pertanyaan Tiffany, siapa yang dia maksud? Mengerti kebingungan sahabatnya, Tiffany pun menegaskan.

“Kau dan Jessica.”

“Oh….itu…” Yoona terlihat bingung bagaimana menjelaskan situasinya pada Tiffany.

“Ah….bukankah saudara memang biasa bertengkar? Kita juga sering bertengkar.”

“Tapi ini beda. Seperti….”

“Aish….kenapa kau begitu cerewet, huh?” sengaja Yoona mengalihkan pembicaraan agar Tiffany tidak lagi bertanya.

   Yoona memberikan sebuket bunga berbagai jenis yang ia peroleh dari mengumpulkan beberapa tangkai di kebun ibunya. Yoona memakaikan mahkota yang ia buat dari beberapa kelopak bunga segar.

“Cantik.”

Tiffany tersenyum bahagia mendapat pujian seperti itu dari Yoona. Sederhana memang, tapi dampaknya luar biasa bagi gadis bermarga Hwang tersebut.

“Malam ini, ayo kita kencan.” Yoona menggenggam tangan Tiffany dan membawanya keluar dari taman bunga tersebut.

Tiffany hanya diam dan mengikuti kemana Yoona membawanya. Masih shock dengan apa yang diucapkan Yoona barusan. “Kencan?” lirihnya.

Yoona berhenti dan membalikkan badan sehingga keduanya saling berhadapan.

“Apa yang biasa dilakukan orang yang sedang kencan?” tanya Yoona.

“Dinner?” jawab Tiffany.

“Yes! Kita akan makan malam, itu artinya kita kencan kan? Hahaha” Yoona mencolek hidung Tiffany yang wajahnya memerah karena saat berbicara tadi, wajahnya dan wajah Yoona berdekatan.

***

   Yuri terbangun saat mendengar suara orang membuka pintu apartemennya. Dia bangkit dari tempat tidur dan bergegas menemui orang itu. Hanya satu orang yang tau password apartemennya, selain dirinya, Jessica.

   Gadis itu langsung memeluknya begitu mereka bertemu. Yuri mendengar Jessica sesenggukan di bahunya.

“Maafkan aku, Yul. Aku malah meninggalkanmu waktu itu.”

“Tidak apa, sayang. Aku mengerti.”

Mereka melepaskan pelukan. Jessica meneliti wajah Yuri yang masih terlihat memar di sudut bibirnya. Menyentuhnya dan mengelusnya saat Yuri meringis.

“Apa masih sakit?”

Yuri menggeleng, “Tidak setelah kau menyentuhnya.”

Biasanya Jessica akan mencubitnya begitu Yuri menggodanya, namun kali ini Jessica memeluknya lagi.

“Maaf baru mengunjungimu.”

“Bagaimana Krystal?”

“Baik.”

“Yoona?” pertanyaan Yuri mengundang keheranan di wajah Jessica. Apa dia tidak salah dengar?

“Kudengar kau dan dia tak bicara setelah kejadian itu.” Yuri mengambil tangan Jessica dan menggenggamnya erat. “Jangan seperti itu, dia hanya mengkhawatirkanmu. Dia…”

Ucapan Yuri terhenti karena bibirnya dibungkam oleh Jessica dengan sebuah kecupan manis.

“Bisakah kita tidak membahasnya?” pinta Jessica setelah kecupan itu berakhir.

“Oke. Bagaimana kalau kita makan malam? Sudah lama kita tidak makan pasta di restoran favoritmu.”

“Call.”

   Pasangan itu sengaja tidak menggunakan ruang VIP seperti yang biasanya mereka lakukan. Kali ini mereka memilih tempat yang membuat mereka berbaur dengan pengunjung lain. Meskipun ramai, namun keamanan dan keprivasian di restoran ini tak perlu diragukan lagi. Makanya banyak artis dan public figure lainnya sering makan di restoran tersebut.

   Sambil menunggu makanan datang, mereka saling berbagi cerita. Jessica mengeluhkan banyaknya pesanan pakaian dan event menjelang akhir tahun. Akibatnya, ia harus sering pulang malam bahkan terkadang menginap di kantornya. Mendengar hal itu, Yuri memperingatkan Jessica untuk tidak terlalu memforsir diri. Dia takut kejadian yang menimpa Krystal terjadi juga pada Jessica.

“Jaga kesehatanmu. Jangan sampai sakit.” pesan Yuri.

   Karena posisi Yuri mengarah langsung ke pintu masuk, jadi dia bisa melihat pelanggan yang datang ke restoran. Dan pandangannya tertuju pada pelanggan yang baru saja masuk. Sepasang anak muda yang sangat dikenalinya. Salah satu dari mereka juga melihat ke arah Yuri. Tatapan tidak senang terpancar dari mata itu. Buru-buru Yuri mengalihkan pandangannya.

“Wah….kalian disini juga ternyata.” sapa salah satu pelanggan yang baru datang itu, yang tak lain adalah Tiffany.

Yuri dan Jessica kompak tersenyum pada Tiffany dan pasangannya malam itu, Yoona. Lebih tepatnya, Jessica hanya tersenyum pada Tiffany.

“Mau bergabung?” tawar Yuri yang langsung disetujui oleh Tiffany. Namun, Yoona menolak.

“Kita cari tempat lain saja.”

“Yoona….Tapi…”

“Tidak apa-apa, Tif. Jangan dipaksa, dia tidak ingin makan bersama kami.” sindir Jessica.

Tanpa berkomentar apapun, Yoona langsung menarik Tiffany keluar dari restoran itu. Di tengah jalan, Tiffany melepaskan genggaman Yoona di tangannya.

“Yoona, kau ini kenapa? Aku hanya ingin makan di sini. Kenapa membawaku keluar?”

“Sebenarnya kau ingin makan malam denganku atau dengan mereka? Kalau ingin dengan mereka, masuklah. Aku akan makan sendiri.”

   Yoona membawa beberapa bungkusan plastik berisi makanan dan minuman ke atap apartemen Tiffany. Dibelakangnya Tiffany menyusul dengan malas.

“Jangan cemberut, ayo cepat naik.” Yoona membantu Tiffany menaiki anak tangga yang kecil dengan hati-hati.

“Kenapa tidak di apartemenku saja? Kenapa harus disini?”

   Yoona hanya tersenyum. Di lantai atap itu, ia gelar sebuah kain bermotif kotak-kotak dan diatasnya ia susun dengan makanan dan minuman yang mereka beli tadi. Terlihat seperti mereka sedang piknik. Piknik di malam hari di atas atap apartemen dan ditemani bintang-bintang yang menghiasi langit. Yoona mengisyaratkan Tiffany agar duduk di sebelahnya.

“Maaf mengacaukan kencan kita.”

“Kita hanya makan malam, bukan kencan.”

“Baiklah, terserah apa katamu.” Yoona membuka dua kaleng bir. Satu ia berikan pada Tiffany. Lalu ia mengambil sandwich tuna yang terlihat begitu menggoda.

“Apa istimewanya sandwich ini? Sampai-sampai dia tergila-gila.” gumam Yoona. Ia menggigit sandwich tersebut dan mengunyahnya perlahan. Alis Yoona terangkat, sekarang ia tau jawabannya kenapa sandwich tuna ini begitu digilai kakaknya. Tanpa ia sadari, sejak tadi Tiffany terus memperhatikannya. Sesekali ia tersenyum geli melihat cara Yoona makan dan ekspresinya saat menyantap makanan. Semua itu jadi hiburan tersendiri baginya.

   Malam semakin larut dan udara terasa semakin dingin. Karena tadinya mereka berencana makan di restoran, jadi Tiffany menggunakan dress dengan panjang hanya sampai lutut. Tiffany gelisah karena dress yang dikenakannya membuat sekujur tubuhnya menggigil. Melihat itu, dengan gentlenya Yoona mengambil jas yang sudah sejak tadi dia buka, jas itu ia sampirkan di bahu Tiffany.

“Terima kasih.” ucap Tiffany. Tak lama, dia terkejut saat Yoona meletakkan kepala di bahunya.

“Yoona, boleh aku bertanya?”

“hmm”

“Kenapa kau sangat menentang hubungan Jessica dan Yuri?”

Yoona memejamkan matanya. “Karena aku cemburu.” jawabnya pelan. Namun Tiffany masih bisa mendengarnya.

“Apa?” Tiffany kaget dan menarik kepala Yoona dari bahunya. “Tadi kau bilang apa? Cemburu? Pada siapa?”

Yoona tertawa, “Aku ini pria normal, sudah pasti bukan cemburu dengan Yuri.”

“Itu berarti kau cemburu pada Jessica? Tapi kenapa? Apa kau tidak ingin kakakmu bahagia bersama pria pilihannya? Suatu hari nanti kakakmu pasti akan menikah, kau tidak boleh mengekangnya seperti itu. Kau juga akan menikah suatu hari nanti. Jadi biarkan dia menjalani hidupnya dan kau juga, jalani hidupmu dengan baik.”

Yoona tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Tiffany. “Kau pikir aku seperti ini karena aku tidak ingin dia menikah? Karena aku takut kehilangan kakakku?”

Tiffany mengangguk.

“Bukan seperti itu Tiffany. Aku cemburu karena aku….” Yoona mendekatkan wajahnya ke arah Tiffany.

“Mencintainya.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

THE AND

.

.

.

.

team Yoonsic mana suaranya? hahahhaa

team Yoonfany? masih hidup kan?

team Yoonkrys? wkwkwk

btw ini yang nulisnya bukan aku loh tapi @ranizone

dia nulisnya bagus deh.

Oh ya… aku udah denger lagu baru Taeyeon dan…..

entah knp mendadak jadi mellow-mellow ga jelas kaya gini ya ini hati

apalagi banyak liat fmv tentang snsd dan juga taeny…

duh.. ini hati padahal berusaha untuk move on :((

Stupid

Screenshot_2017-06-24-22-30-59-406

Aku sepertinya sedang lelah

Lelah untuk mengikuti semua norma yang berlaku

Mungkin aku sedang ingin memberontak

Bukan pada siapa-siapa

Tapi lebih pada diriku sendiri.

.

.

.

Tidak ada yang bisa kusalahkan seperti biasanya

Sepertinya aku kini mulai dewasa

Yaa.. dewasa

Mau tau apa arti sebuah kedewasaan bagiku?

.

.

.

Saat aku sudah tidak lagi menyalahkan takdir dan keadaan disekelilingku, aku rasa itu dewasa.

Saat aku mulai menerima bahwa mungkin harus seperti inilah hidup yang kujalani, aku rasa itu dewasa.

Saat aku tidak menganggap diriku sebagai korban lagi, aku rasa aku sudah mulai dewasa.

Saat aku tahu bahwa ternyata selama ini akulah yang salah maka aku berpikir mungkin aku telah dewasa.

.

.

.

Masalah yang kuhadapi saat ini mungin bukan sebuah masalah.

Kesalahan ini semuanya terjadi karena diriku sendiri.

Tidak ada yang salah selain aku.

Aku yang terlalu santai dalam mengerjakan sesuatu.

Aku yang terlalu kritis dan perfeksionis hingga akhirnya butuh waktu yang lama bagiku untuk mengerjakan sesuatu yang padahal seharusnya kukerjakan dalam waktu singkat.

Aku yang tidak bisa bersahabat dengan waktu.

Aku yang terlalu serius dalam mempermainkannya.

Aku yang selama ini menjahati diriku sendiri.

Aku yang merusak diriku menjadi seperti sekarang.

Aku yang menjerumuskan diriku dalam sebuah bola salju yang semakin hari semakin membebani pundakku.

Aku yang secara tidak langsung membiarkan diriku tenggelam seperti ini.

Aku yang salah.

Aku yang terlalu pasrah

Aku yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa tidak ada yang bisa bertanggung jawab tentang hidupku selain aku sendiri.

Aku yang terlalu bergantung pada orang lain.

Aku yang terlalu mengandalkan perasaanku dalam apapun.

Aku yang cenderung mengambil sebuah keputusan salah yang pada akhirnya menyengsarakanku.

Aku yang selama ini selalu meleburkan diriku dalam hal yang kutahu itu dosa.

Aku yang selama ini menganiaya diriku.

Aku yang egois ingin semuanya selalu berjalan lancar dan menyalahkan Tuhan bila sesuatu yang buruk menimpaku.

Aku yang selalu ingin Tuhan ada untukku padahal aku tidak pernah ada untuk-Nya.

Aku yang membuat diriku seperti ini, terjebak dalam dunia abu-abu dimana aku sudah tidak menyadari lagi hal apa yang benar dan salah untukku.

Aku yang membuat diriku perlahan menjadi aku yang selama ini aku hindari.

Aku yang membuat diriku jadi sehina ini.

Aku …. Ya itu aku.

Aku yang membuat hidup tidak pernah bersahabatku.

Bahkan aku yang membuat diriku mengetahui bahwa aku adalah manusia sebodoh ini.

.

.

.

Entah sejak kapan aku membenci sebuah hitungan.

Sejak aku menjadi bodoh?

Sejak aku menjadi malas?

Sejak aku tidak sepintar dulu?

Sejak aku mengalami kesulitan untuk mencerna apa yang guru atau dosen  jelaskan padaku tentang sebuah hitungan atau hal apapun yang berbau logika?

Atau… sejak perasaanku benar-benar mengalahkan logikaku dalam menjalani hidup ini?

.

.

.

Apa hidupku sudah hancur?

Apa tidak ada lagi jalan keluar untukku?

Apa hanya karena 1 mata kuliah ini aku harus menyerah?

Kemana semua keinginan  yang dulu ada?

Entah mengapa perlahan aku jadi tidak tahu apa sebenarnya hal yang aku inginkan?

Aku merasa aku hanya mengikuti hal yang orang lain lakukan tapi aku sendiri tidak ingin melakukan hal itu.

Bodoh..

Ya!

Itu kebodohan lain yang kulakukan selama 23 tahun ini.

Menjadi manusia yang hanya mengikuti norma pada umumnya.

.

.

.

Banyak orang yang bilang bahwa aku sebenarnya sudah tahu apa yang salah dalam hidupku.

Aku sudah bisa sedikit menganalisisnya meskipun aku blm tahu apa hal itu benar atau tidak.

Kedua sahabatku pernah bilang tentang hal itu.

Bahkan mereka sampai bingung kenapa aku masih begini jika aku tahu apa yang salah dengan diriku dan aku mungkin tahu solusinya apa.

Sejujurnya aku setuju dengan apa yang mereka ucapkan waktu itu dan itu benar benar membuatku frustasi.

Aku kesal

Aku marah

Aku benci

Mengapa harus aku?

Kenapa harus aku yang menghadapi hal ini?

Aku ingin berubah.

Aku ingin menjadi Aku yang aku inginkan.

Aku ingin menjadi Aku yang dulu sudah aku rencanakan masa depannya.

Bahkan aku sudah membuat pohon kehidupan untuk diriku sendiri dimana di tiap rantingnya kutuliskan rencana, harapan dan doa untuk diriku yang lebih baik lagi.

.

.

.

Ahhh doa.

Harapan.

Tuhan.

Mungkin itu yang salah denganku.

Secara perlahan aku melupakan itu semua.

Dan kalian tahu… KEBODOHAN besar lain dalam hidupku adalah aku menyadari hal itu tapi aku belum melakukan apapun untuk memperbaikinya.

.

.

.

Tujuan awalku menulis semua ini adalah agar rasa berat didadaku ini bisa menghilang.

Agar aku bisa menumpahkan semua kegundahan ini dalam hal lain yang nantinya tidak akan aku sesali.

Agar aku bisa menangis.

Menangis sekerasnya mungkin bahkan hingga aku bisa ingat lagi rasanya menangis seperti apa.

Tapi nyatanya tidak.

Bahkan ketika kuketik kata-kata ini.. air mata itu tak kunjung keluar dari tempat persembunyiannya.

Rasa sesak ini masih ada.

Dan aku… tidak tahu harus bagaimana.

Yang aku tahu… hari esok masih ada dan aku masih harus menjalaninya.

Tentunya jika Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjalaninya.

.

.

.

Aku berharap aku berhenti menjadi BODOH seperti ini dan menjalani hidupku sesuai dengan yang kuinginkan.

Karena aku tahu hidup itu hanya sekali dan aku ingin memperoleh kebahagiaan yang seutuhnya selama menjalaninya.

Eternity Happiness…

Yeahhh… i still hope i can get that.