Father Is Not a Daddy – Yoonfany Version

cxnf6snukaal9ch

Cerita tentang sebuah…. Kehidupan.

~~~

Entah mulai darimana aku harus menceritakan semuanya.

Hidup… bagiku seperti sebuah perputaran menyakitkan dan melelahkan yang tak pernah berhenti.

Ya.. kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa bersyukur dengan apapun yang telah Tuhan berikan pada kita.

Namun bagiku, bersyukur adalah hal tersulit yang selalu kucoba untuk melakukannya.

Kenapa?

Entahlah.

Balik lagi, semua tentang persepsi bagaimana orang itu memandang tentang semua yang ada dalam hidupnya.

Mau bersyukur atau tidak.

Tuhan aku tahu bahwa setiap udara yang bisa kuhirup adalah nikmat luar biasa yang mungkin tidak semua orang bisa memperolehnya.

Aku tahu bahwa semua organ tubuhku sudah berfungsi seperti layaknya manusia normal saja seharusnya aku sudah banyak bersyukur padamu.

Tapi sebagai manusia, tidak bisa dipungkiri bahwa kita pasti jarang merasa puas dan selalu menginginkan hal lebih dari yang kita dapat.

.

.

.

Ayah… ya.. Ayah.

Kalian tahu.. setiap kali aku melihat seorang anak terlihat begitu menyayangi dan mencintai Ayahnya, aku selalu bertanya..

Mengapa mereka begitu menyayangi ayah mereka?

Apa ayah mereka sebaik itu?

Apa istimewanya seorang ayah?

Bagiku… Ayah hanya seorang pria arogan yang menyuruh ibu menyiapkan semua kebutuhan dan keinginannya.

Ayah… dia memperlakukan ibu bagai pembantu yang bisa dia gunakan sebagai penyalur hasrat seksualnya secara sah karena mereka sudah terikat dalam sebuah pernikahan.

Ayah.. there no such thing in my life.

For me.. he is just a douche bag who happened make a lot heartbreak in my life.

Even my selfish side always blame him for whatever sadness that happened in my life.

People said that father is daughter first love

But My father.. he is my first heartbreak.

No.. dia mungkin bukan seorang “Ayah”

Dia hanya pria yang berhasil membuat aku lahir kedunia ini karena hasratnya yang tersalurkan pada ibuku.

.

.

.

Ibu pernah bercerita padaku bahwa dulu Ayah adalah pria baik.

Dia adalah seorang anak yang ternyata ditelantarkan juga oleh Ayahnya.

Ironis bukan?

Ayah pernah mengalami pahitnya sakit hati karena “ayah”-nya lebih mementingkan kehidupan baru bersama istri barunya.

Jika beliau sudah tahu sakitnya menjadi anak yang tidak bisa menikmati kasih sayang seorang “Ayah”… lalu mengapa beliau melakukan hal yang sama kepada anak-anaknya?

Apakah ini balas dendam?

Tapi kenapa pada kami yang tidak tahu apapun?

Kenapa aku dan ke enam kakakku yang menjadi korban keegoisan dan trauma masa lalunya?

.

.

.

Aku sudah tahu bahwa Ayah mempunya 3 rumah.

Rumahku adalah rumah pertama.

Rumah kedua adalah cinta pertamanya yang ternyata pernah membuat Ayah patah hati dan berambisi menjadi pria kaya raya untuk membalaskan sakit hatinya.

Rumah ketiga adalah godaan sebuah harta yang membuat Ayah lupa bahwa rumah pertama adalah akar dimana Ayah bisa tumbuh menjulang keatas dengan semua kekayaan, ilmu serta hal lainnya yang membuatnya menjadi salah satu manusia terjahat yang pernah kutemui.

Oh tidak!

Mungkin rumahku tidak pernah menjadi sebuah rumah untuk Ayah.

Kami hanya sebuah kantor tempat beliau menunaikan kewajibannya sebagai Ayah.

Kami hanya sebuah daily task yang harus beliau kerjakan.

Kami hanya beban yang mungkin ingin segera beliau selesaikan karena ternyata Tuhan masih memberi sedikit rasa manusiawi dalam hatinya untuk tetap membiayai aku, ibu dan ke enam kakakku meskipun kami mungkin hanya akan mendapat sedikit karena sebagian besar pendapatan ayah sudah disalurkan ke rumah dua dan rumah tiga.

.

.

.

Aku dan keenam kakakku hanya sebuah tanggungjawab yang harus segera diselesaikan.

Ayah tidak pernah menikmati proses penyelesaian tugas dan tanggungjawabnya.

Tanggungjawab Ayah selesai saat kami lulus sekolah menengah atas.

Selebihnya.. kami yang harus benar-benar mengarahkan hidup kami bahkan tanpa ada arahan yang lebih jelas dari beliau.

Jika Ayah adalah seorang kapten, maka beliau adalah kapten “terbaik” bagiku.

.

.

.

Masih lekat di ingatanku tentang bagaimana ibu menangis karena kakakku hampir saja terjerumus kedalam obat-obatan terlarang.

Kakak kecewa  pada Ayah yang lebih mengutamakan kakak-kakak dari rumah kedua.

Dulu aku tidak mengerti mengapa kakak bisa sehancur itu.

Aku berpikir selama ayah masih memberiku uang jajan dan semua kebutuhanku terpenuhi, maka tidak masalah ayah akan pulang ke rumah atau tidak.

Aku berpikir tidak masalah ayah tidak pernah mengecek kabar kami selama ayah masih memberi ibu uang belanja.

Aku berpikir tidak masalah ketika ayah memperlakukan kami layaknya seorang bawahan yang harus tunduk pada perintahnya selama beliau masih menghidupi kami meskipun aku kini tahu bahwa itu semua adalah keterpaksaan.

Aku berpikir tidak masalah bahkan ketika ayah tidak pernah mengingatkan kami untuk beribadah selama beliau masih ingat untuk menafkahi kami.

Dulu.. aku sebodoh itu.

.

.

.

Ayah secara tidak langsung telah menjadi referensi baku yang tercetak begitu jelas di ingatanku jika itu menyangkut tentang seorang pria.

Orang mungkin dulu merasa aneh mengapa aku begitu membenci seorang pria.

Jikapun aku harus berhubungan dengan mereka, hubungan itu akan berlangsung begitu akward, timid, and stressfull.

Why?

Bukankah tidak semua laki-laki seperti ayahku?

Aku tahu jelas tentang hal itu.

Aku tahu bahwa kita tidak boleh menyamakan semua pria brengsek karena tidak semua pria seperti ayahku.

Bahkan aku menyangsikan apa ayahku pantas disebut sebagai pria.

Karena bagiku definisi pria bukanlah apa yang selama ini dilakukan oleh ayahku.

 .

.

.

Rasa suka itu ada hanya saja aku takut.

Aku takut bahwa dia akan menjadi seperti ayahku.

Aku takut anak-anakku akan menjadi ‘aku’ selanjutnya yang pada akhirnya menulis semua ini di buku harian mereka.

.

.

.

Kalian tahu… saking takutnya aku akan pria seperti ayahku, aku bekerja mati-matian untuk bisa menghidupi diriku sendiri tanpa harus bergantung pada seorang pria.

Setiap hari aku melawan rasa lelah, kantuk dan pusing yang menghinggapi karena kesibukanku bukan hanya berhenti di jam 5 sore dimana para pekerja pulang ke rumah mereka untuk bersantai dan melepaskan penat mereka, bersenda gurau dan menikmati makan malam dengan anggota keluarga atau orang-orang tercinta mereka.

Tahu bahwa Ayah hanya akan menyekolahkanku sampai tingkat menengah atas, aku sudah memutuskan untuk bekerja saja dulu sambil menabung untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang lebih tinggi.

Setahun setelah kelulusanku uang itu terkumpul dan aku berhasil masuk ke sebuah universitas yang terbilang cukup bagus untuk mereka yang memutuskan untuk menimba ilmu lagi sembari mencari uang dipagi hari hingga sore harinya.

Awal kehidupan pendidikanku disana berjalan dengan baik hanya saja perlahan menjadi berantakan karena ketidakmampuanku dalam mengatur waktuku.

Kalian tahu.. 24 jam terasa tidak cukup bagiku.

Aku butuh lebih dari itu.

Banyak hal yang harus kulakukan dan 24 jam tidaklah cukup.

Alhasil.. setiap hari aku hidup layaknya sebuah mayat hidup yang mencoba menjadi Barbie di hadapan orang banyak meskipun nyatanya aku tidaklah seindah dan sebahagia itu.

.

.

.

Ada beberapa pria di hidupku yang pernah singgah.

Diantara mereka ada 1 orang yang membuatku menyesal telah melepaskannya karena ketakutanku akan seorang pria.

Dia adalah pria yang baik.

Hanya saja dia sangat buruk dalam mengutarakan perasaannya.

Dia tidak pandai berbicara dan bertutur kata manis nan romantis seperti pria biasanya.

Aku sempat mengira bahwa dia hanya terpaksa mencintaiku karena kebaikan yang selama ini kulakukan padanya.

Entah mengapa aku melihat dia seperti ayah yang hanya menjadikan ibu sebagai beban.

Karena itu kuputuskan untuk mengakhiri hubungan kami karena aku tidak ingin hubungan ini semakin menyiksaku.

Dia kaget dan sempat memintaku untuk tidak memutuskan hubungan kami.

Dia sempat membujukku untuk tetap bersama.

Dia berjanji akan berubah menjadi pria yang diinginkan olehku.

Tapi aku sudah tetap pada keputusanku karena ketakutanku akan sosok dia yang berubah menjadi seperti ayah lebih kuat dari rasa sayang dan cinta yang kurasakan padanya.

Dan akhirnya kami putus.

Hingga beberapa bulan kemudian aku mendengar  dari salah satu sahabatnya bahwa dia benar-benar mencintaiku.

Dia begitu patah hati dengan perpisahan kami sehingga akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke kota lain, mengubur semua kenangan tentangku yang ternyata begitu menyakitinya.

Hari itu aku tahu bahwa aku telah melepas salah satu orang yang ternyata benar-benar mencintaiku.

Hari itu aku tahu bahwa aku telah membiarkan ketakutanku melepaskan kebahagiaanku.

.

.

.

Putriku…

Dari semua cerita diatas, aku ingin memberitahumu untuk mempercayai bahwa di dunia ini tidak semua orang seperti kakekmu.

Aku ingin kau benar-benar bisa menaklukan apapun hal menjadi ketakutanmu.

Aku ingin kau membunuh sisi lain dari dirimu yang selama ini membatasimu dan menghalangimu memperoleh hal apapun yang bisa membahagiakanmu.

Percayalah bahwa di dunia ini.. masih banyak yang mencintaimu.

Dan salah satunya adalah Ayahmu.

Ibuku dan Ayahmu… mereka adalah berkah terindah yang Tuhan berikan padaku.

Ayahmu.. dia adalah seorang lelaki yang berhasil mengubah pandanganku tentang seorang pria.

Dia adalah seorang lelaki yang akhirnya benar-benar membuatku percaya bahwa tidak semua pria seperti ayahku, kakekmu.

.

.

.

“Sayang..” mendengar seseorang memanggil, seorang wanita segera menghapus butiran kristal yang membasahi pipinya.

“Fany-ah.. kau menangis?” wanita itu hanya tersenyum kecil sembari mencoba menghilangkan bukti tangisan itu dari wajah cantiknya meskipun usianya kini tak semuda dulu.

“Sayang..” Tiffany hanya menangis ketika pria itu mulai mendekapnya. Ia tidak bisa menahan luapan emosi setelah membaca surat yang ia tulis untuk putrinya 20 tahun lalu, ketika hidup masih begitu menyiksa baginya, jauh sebelum Tuhan mempetemukannya dengan sebuah kebahagiaan yang berhasil sang suami berikan padanya meskipun pada prakteknya tidak sesempurna itu.

“Maafkan aku..” parau terdengar ketika Tiffany berucap dalam lirihnya.

“Hei.. mengapa minta maaf? Kau menangis… itu bukan sebuah kesalahan, Sayang. Kau mau bercerita mengapa kau menangis seperti ini padaku?” pria itu melepaskan dekapannya di tubuh Tiffany . Ia membawa wajah istrinya itu benar-benar begitu dekat dengannya, membuat pandangan mereka bertemu dan terkunci dalam satu waktu dimana diam adalah sebuah cara lain bagaimana hati mereka berbicara.

.

.

.

-TIFFANY POV-

“Tiffany Hwang?” suara berat, dalam dan berkarisma itu membuatku segera menolehkan pandanganku ke belakang.

“Iya?” berdiri dibelakangku adalah seorang laki-laki bertubuh cukup tinggi bagiku. Bahkan aku saja hanya setinggi bahunya. Melihatnya setinggi itu.. aku merasa pendek sekali padahal aku sudah memakai sepatu hak tinggi andalanku T.T

b

Tubuhnya cukup bagus. Tidak kurus kering ataupun terlalu gemuk. Sepertinya ia rajin berolahraga dan fitness karena tubuhnya terbentuk seperti kebanyakan pemain basket yang sering kulihat di Televisi. Wajahnya putih bening seperti susu. Mata kijang hitam polosnya itu terlihat begitu tenang, sejuk dan menyenangkan… membuat siapapun akan betah untuk menatapnya lama-lama.

“Syukurlah! Akhirnya aku menemukanmu…” pria itu tersenyum begitu lebar seperti alligator meskipun yaaaa masih terlihat tampan.

“Aku?” tanyaku padanya yang masih tersenyum seperti itu.

“Oh ya.. aku adalah Lim Yoonan, pria yang akan menjadi rekan kerjamu. Mohon bantuannya.” Dia mengulurkan tangannya untuk menjabat milikku yang malah terdiam melihatnya.

Apa Tuan Lee serius memasangkanku dengan pria sepertinya?

.

.

.

“Nona Hwang?” langkahku terhenti ketika suara itu memanggilku. Kutolehkan pandanganku pada pria yang menatapku heran dalam senyumannya. Dia berdiri tak jauh dariku. Penampilannya masih terlihat rapi dan menyenangkan untuk dipandang.

Kemeja biru muda lengan panjangnya masih belum ia singkapkan seperti kebanyakan orang yang sedang minum bersama kami saat ini. Dasi abu tuanya juga masih terpasang dengan benar dan rapi tidak seperti teman-teman kantorku yang penampilannya sudah sedikit berantakan. Oh ya, hari ini Tuan Lee mengadakan pesta untuk menyambut bergabungnya Lim Yoonan ke kantor kami. Teman-teman kerjaku begitu bersemangat mendengar kata ‘pesta’ karena itu berarti mereka bisa minum sepuasnya hingga mabuk. Sedangkan aku…

“Mengapa kau masih disini?” tanyanya sambil berjalan mendekatiku yang masih bingung apa aku akan menceritakan padanya atau tidak tentang hal yang mengganggu pikiranku.

“Aku.. euhh..” ayo Tiffany Hwang! Cari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaannya.

“Kau tidak kuat minum soju?” pandanganku menjadi 100% fokus padanya.

Bagaimana bisa dia…

“Aku hanya menebaknya. Apa benar? Kau terlihat gelisah ketika Tuan Goo memintamu untuk meminum Soju tadi.” Apa aku harus mengaku padanya?

“Nona Hwang?” dia kembali bertanya padaku yang masih dilema dengan pertanyaan tadi.

Apakah aku harus jujur padanya?

Tapi jika aku jujur…. Dia pasti akan bilang pada orang-orang tentang kelemahanku ini. Dia mungkin akan sama seperti teman-teman kantorku yang selalu mengejekku tentang kemampuan minumku.

“Jika kau tidak kuat, lebih baik dibuang saja ke gelasku. Bukankah kita duduk bersampingan?”

Tunggu! Mengapa dia..

“Kau mungkin akan pulang sendiri mengemudikan mobilmu. Jadi aku khawatir terjadi sesuatu padamu. Lagipula aku kuat minum kok. Hanya Soju saja… tubuhku bisa menanganinya. Aku memiliki tingkat toleransi yang cukup tinggi terhadap alkohol jenis apapun. Jika tidak percaya maka kau boleh..” Pria bernama Yoonan itu tersenyum begitu lebar layaknya anak kecil yang mendapat nilai raport yang tinggi.

“Terimakasih. Sungguh.. terimakasih, Tuan Lim!” ucapku padanya yang masih tersenyum padaku dengan senyuman tampan dan manisnya itu.

Tunggu…

Apa aku baru saja menyebutnya tampan dan manis?

“Yoonan, kau bisa memanggilku itu.” Ucapnya terdengar begitu santai.

“Baiklah Yoonan-shi, kau bisa memanggilku Tiffany kalau begitu.” Dia tersenyum lagi padaku mendengar apa yang kuucapkan tadi. Tanpa sadar aku juga ikut tersenyum padanya yang entah sejak kapan mulai menjabat tanganku dengan hangat.

.

.

.

-AUTHOR POV-

“Nah! Bintang utama kita sudah kembali.” Tuan Goo berteriak pada Yoonan dan Tiffany yang baru saja tiba di meja mereka. Semua mata kini tertuju pada Yoonan dan Tiffany.

“Tiffany… mengapa kau lama sekali?” tanya Tuan Goo yang wajahnya sudah sedikit terlihat mabuk.

“Ah saya ada urusan sebentar tadi.”

“Kalau begitu.. sebagai hukumannya.. kau harus minum 4 botul Soju ini sampai habis okay!” yang lain juga ikut berteriak mendukung apa yang diusulkan Tuan Goo. Pria tua itu tersenyum menyeringai pada  Tiffany yang terlihat bingung dan panik harus berbuat apa.

4 botul Soju? Tiffany merasa akan mati mendengarnya  saja.

“Tiffany..” panggil Yoonan pelan menyentuh lenganku. 

“Minum saja. Ingat pesanku tadi.” Yoonan sedikit berbisik padaku. Pandanganku kualihkan padanya. Dia mengangguk dalam senyum lesung pipinya.’

“Jadi Tiffany.. bagaimana?” Tuan Goo kembali bertanya dengan wajah menyebalkannya itu.

“Baiklah, aku akan melakukannya.” Ucap Tiffany yang membuat Tuan Goo malah tersenyum semakin lebar mendengarnya.

“Bagus! Ayo sini, cepat minum botol pertamamu!” Tuan Goo segera menarik Tiffany untuk duduk dihadapannya sementara Yoonan duduk di samping kanannya.

Dengan Ragu, Tiffany mengambil gelas kecil untuk meminum sojunya. Tuan Goo yang sedikit mabuk dan sibuk berbincang tidak menyadari bahwa gelas berisi soju itu dipindahkan ke gelas bir besar kosong di dekat tas Yoonan yang cukup besar sehingga kecurangan yang Tiffany lakukan tertutupi. Yang lainnya pun terlalu mabuk dan sibuk dengan minuman mereka untuk menyadari hal itu. Dengan cepat Yoonan meminum soju yang ada di gelas birnya. Untuk sementara Tiffany aman melakukan kecurangan itu hingga akhirnya Tuan Goo mengetahuinya.

“Yah!!!!! Apa yang kau lakukan!” Teriak Tuan Goo dengan murka pada Tiffany sehingga ia tidak sengaja menjatuhkan gelas sojunya.

“Pantas saja kau belum mabuk. Kau membuangnya pada gelas Tuan Lim.”

“Tuan Goo.. aku yang memintanya untuk memberikannya padaku. Bukankah ini adalah pesta penyambutanku?”

“Kau membela wanita sombong yang tidak hormat pada perintah atasannya ini, Tuan Lim?” ucap Tuan Goo dengan emosi yang meluap-luap. Sepertinya ia benci sekali dengan Tiffany.

“Apa maksudmu, Tuan Goo?” tanya Yoonan yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh rekan kerjanya itu.

“Dia selalu menolak jika ditawari minum olehku dan atasan lainnya. Bukankah itu tidak sopan! Bekerja seperti orang paling sibuk di dunia padahal kerjaanmu juga tidak bagus. Tuan Lee masih memperkerjakanmu karena dia kasihan padamu. Hidup dengan ayah yang tidak bertanggungjawab seperti itu. Tapi aku mengerti kenapa ayahmu menelantarkanmu. Kau kan….” Ucap Tuan Goo pada Tiffany yang terlihat merah padam memendam emosinya itu terhenti ketika wanita bermarga Hwang itu menggebrak meja dengan kedua tangannya.

“Cukup! aku akan meminum soju di gelas bir itu sekarang juga.” Tiffany berteriak membuat suasana menjadi hening, semua mata kini tertuju padanya.

“Baiklah. Oneshot!” tantang Tuan Goo dengan senyum licik.

“Woahh Tiffany!” seru yang lainnya melihat Tiffany segera meminum soju itu sampai habis. Beberapa detik kemudian Tiffany tak sadarkan diri dan jatuh ke samping Yoonan yang terkejut dibuatnya.

“Tiffany!” pekik yang lain sementara Tuan Goo biasa saja.

“Cih! Wanita sombong itu… Hyukso cepat bawa dia ke pantry dan segera bangunkan dia.” Perintah Tuan Goo pada pria disampingnya.

“Tunggu. Biar Saya saja yang mengurusnya Tuan Goo.” Tanpa menunggu persetujuan Tuan Goo, Yoonan membawa Tiffany dalam pangkuannya dan berjalan meninggalkan orang-orang yang berbisik kagum padanya.

“Anak baru itu, sok pahlawan sekali!” ucap Tuan Goo sinis tanpa mengalihkan pandangan dari Yoonan yang masih membawa Tiffany dalam pangkuannya, berjalan menjauh dari ruang rekreasi yang masih menjalankan pesta penyambutannya.

*note: mereka pestanya di kantor ya

.

.

.

“Ahh.. akhirnya sampai juga!” Yoonan mulai merebahkan Tiffany di sofa pantry lalu berdiri mengambil minum untuk dirinya.

“Mengapa kau tidak jujur saja pada mereka bahwa kau tidak kuat minum, Tiffany?” tanya Yoonan pada Tiffany yang masih tak sadarkan diri. Dalam diam dia amati wanita yang entah mengapa begitu menarik perhatiannya sejak mereka awal bertemu 1 minggu yang lalu.

Kedua alis tebalnya.

Hidung mancungnya

Bibir merah ranumnya.

Kedua pipi sedikit chubby-nya.

Dagu runcingnya.

Leher putih mulusnya.

Dada…

“Eiii Lim Yoonan! Apa yang sedang kau lakukan! Kau tidak boleh seperti ini!”  Tampar Yoonan pada dirinya sendiri. Mencoba untuk menghapus pikiran kotornya, Yoonan berjalan membuka pintu pantry yang tadi ditutupnya.

“Eh.. mengapa tidak bisa dibuka?” berkali-kali pintu itu coba Yoonan buka. Ia berteriak meminta dibukakan pintu siapa tahu ada yang melewat ke pantry tapi nihil. Bahkan ia sudah mencoba untuk mendobraknya tapi usahanya berakhir sia-sia.

“Eurh seandainya handphoneku kubawa tadi.” Sesal Yoonan terduduk lemas disamping Tiffany yang masih belum sadarkan diri juga. 

5 menit…

15 menit…

30 menit…

1 jam…

2 jam berlalu dan akhirnya Yoonan tertidur di sofa itu tanpa menyadari bahwa Tiffany ada bersamanya

Keesokan paginya

“Aarrgh…” Yoonan yang sudah terbangun menguap masih menutup kedua matanya.

“Mengapa tanganku pegal sekali ya?” gumam Yoonan yang merasa sedikit pusing mungkin karena efek alcohol yang diminumnya kemarin malam. Perlahan ia buka kedua matanya dan…

“Omo!” kedua matanya terbelalak mendapati wajah Tiffany begitu dekat dengannya. Hidung keduanya saling bersentuhan. Kedua lengan Tiffany memeluk leher Yoonan yang terdiam kaku dengan posisinya tubuhnya saat ini. Kaki jenjang Tiffany sedikit naik ke paha kiri Yoonan.

Screenshot_2017-10-20-23-15-48-858

Wajah Yoonan memerah seperti kepiting rebus saat dengan tidak sadar wajah Tiffany semakin mendekat padanya dan kedua bibir mereka bertemu dalam kecupan singkat di pagi itu untuk pertama kalinya.

.

.

.

“Euuhh mengapa data hasil kalibrasinya bisa hilang??” keluh Tiffany yang sedang menulis kembali 150 halaman hasil pengujian 5 oscilloscope dan digital multi meter yang sudah diukurnya 2 hari yang lalu.

Tadi pagi manajer administrasi pengetikan sertifikat kalibrasi mengatakan bahwa Tiffany belum memberikan data hasil kalibrasi 5 alat tadi. Ia kaget mendengar hal itu karena seingatnya kemarin sore ia sudah menyimpan berkas-berkas itu di meja Tuan Goo yang tetap keras kepala berpendapat bahwa  dia tidak melihat berkas itu. Akhirnya Tiffany mengalah dan memutuskan untuk menulis ulang data hasil kalibrasinya itu. Untungnya ia selalu memfoto setiap hasil kalibrasinya sehingga jika ada kehilangan data seperti ini ia tidak harus melakukan kalibrasi ulang. Apalagi jika alatnya sudah diambil oleh konsumen, bisa mati ia jika data hasil kalibrasinya hilang.

Meskipun sesibuk ini entah mengapa Tiffany tiba-tiba teringat seseorang yang seharusnya tidak perlu ia ingat. 1 bulan berlalu sejak peristiwa pingsannya Tiffany di pesta penyambutan Yoonan. Semua berjalan biasa saja. Hanya terkadang Tiffany merasa Yoonan sedikit menghindarinya. Jika ia bertemu dengan pria itu, Yoonan hanya akan tersenyum kecil lalu berjalan melewatinya tanpa sepatah kata apapun. Hal itu terjadi bukan sekali saja, tapi sering sehingga membuat Tiffany berpikir apa telah terjadi sesuatu dengannya dan Yoonan pada malam  itu?

“Tiff… aku pulang duluan ya. Kau tidak apa-apa disini sendiri?” Bora teman dekat Tiffany di kantor ini bertanya.

“Tidak apa-apa. Kau pulanglah. Aku sepertinya harus lembur karena Tuan Goo meminta data ini besok pagi.” Ucap Tiffany tersenyum kecil pada Bora yang malah terlihat kesal.

“Ishh si setan jahat itu. Ingin rasanya aku…” ucapan itu terhenti ketika ponsel Bora berbunyi. Sepertinya kekasih Bora menelpon.

“Tiff.. maafkan aku, aku benar-benar harus pulang lebih dulu. Changwook Oppa sudah menungguku dibawah. Kami akan bertemu dengan orangtuanya hari. Doakan aku yaaaa..” Tiffany mengangguk dan membalas pelukan Bora yang dengan cepat memeluknya lalu berlari meninggalkan sahabatnya itu.

“Heumh.. apa aku.. akan bisa seperti Bora?” gumam Tiffany yang tiba-tiba teringat lagi dengan sesuatu yang tidak ingin diingatnya.

“Okay fokus Tiffany. Mari kita selesaikan tugas ini dan pulang!” hibur Tiffany pada dirinya sendiri kemudian mulai duduk di mejanya dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tanpa ia  sadari sebenarnya seorang pria sudah memperhatikannya sejak tadi. Pria itu mengamati Tiffany dengan senyuman yang sulit sekali diterjemahkan oleh authornya :p

.

.

.

“Haaaa tanganku pegal sekali dan aku mengantuk tapi… perutku juga lapar. Apa lebih baik aku berkunjung ke toko ayam goreng bibi Nam dulu?” Tiffany masih berjalan keluar dari stasiun kereta bawah tanah yang selalu menjadi transportasi andalannya selama beberapa tahun ini mengingat jarak rumah dan kantornya cukup jauh, apalagi dari kantor ke kampusnya.

Ah iya kampus… untung saja hari ini tidak ada perkuliahan jadi Tiffany bisa melepas lelah dan penatnya malam ini tanpa harus menggunakan otaknya lebih keras lagi setelah pulang kerja seperti hari biasanya.

Perjalanan keluar dari stasiun kereta tidak membutuhkan waktu yang lama tapi Tiffany menghentikan langkahnya ketika ia baru berjalan tidak jauh dari  pintu keluar stasiun.

“Wah hujan ternyata dan aku tidak membawa payung.” Rintik hujan mulai membasahi telapak tangan yang Tiffany tengadahkan ke atas langit dan sekujur tubuhnya yang tidak terlindungi oleh payung yang tidak dibawanya..

“Hah?” Tiffany tertegun saat melihat ada bayangan yang kini menutupi telapak tangannya yang tadi terkena rintikan hujan. Ia melihat keatas. Tatapan matanya bertemu dengan payung biru tua keunguan dan sepasang mata yang dikenalnya.

Screenshot_2017-10-22-09-22-27-480

“Yoonan-shi?” ucap Tiffany setelah membalikkan arah tubuhnya dan kini berhadapan dengan pria yang masih memegang payung besar di tangan kanannya.

“Tiffany..” Yoonan berkata dengan wajah datar namun khawatirnya.

Screenshot_2017-10-20-23-36-58-617

.

.

.

“Mengapa kau pulang semalam ini?” Tiffany dan Yoonan berjalan beriringan ditengah germicik hujan yang membasahi sekeliling mereka. Untung payung yang Yoonan bawa cukup besar untuk menutupi tubuh keduanya, euhmm tubuh Tiffany lebih tepatnya karena bahu dan lengan kiri Yoonan masih sedikit basah terhujani meskipun hujannya tidak sebesar tadi.

“Aku harus menyelesaikan data mentah hasil kalibrasiku.” Keduanya kini sedang berjalan di pinggir jalan raya besar dimana mobil masih banyak berlalu lalang.

“Yang mana?” tanya Yoonan.

“Oscilloscope dan Digital Multimeter milik PT. Mitsubachi” jawab Tiffany yang masih berjalan bersama Yoonan disisinya. Jarak mereka begitu dekat. Sesekali lengan Yoonan secara tidak sengaja mengelus bahu Tiffany yang tidak sadar akan hal itu.

Screenshot_2017-10-20-23-37-58-021

“Alat sebanyak itu dalam satu hari?” pertanyaan itu Yoonan ajukan. Ia ingin menghapus apapun yang ada di pikirannya saat ini. Entah kenapa bayangan pagi itu.. ketika bibir mereka bertemu dalam kecupan yang tidak disengaja mulai datang lagi.

“Ahh tidak. Aku sudah selesai mengujinya kemarin.” Tiffany yang masih biasa saja menjawab pertanyaan pria disampingnya yang wajahnya sudah merah padam karena ingatannya tadi.

“Lalu mengapa kau masih menulisnya?” tanya Yoonan coba mendinginkan kepalanya.

“Datanya…”

“Awas!” Tiffany terkejut ketika Yoonan segera menarik tubuhnya ke samping kiri, memeluknya tanpa permisi.

“Yoonan-shi…” gumam Tiffany memanggil pria yang masih memeluknya begitu erat dan… hangat.

“Kau baik-baik saja?” Yoonan bertanya dengan wajah khawatirnya sementara Tiffany hanya terdiam menatapnya.

“Aku yang seharusnya bertanya seperti itu padamu.” Ucap Tiffany menyentuh bahu dan lengan kanan Yoonan yang basah kuyup meskipun tertutup jas abu tua yang dikenakannya sejak tadi.

“Ahh… ini tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Yoonan dengan gugup melepaskan tangan Tiffany dari bahunya.

Beberapa menit kemudian….

“Itu rumahku.” Tiffany menunjuk sebuah rumah kecil yang dihuninya hanya bersama ibunya.

“Kalau begitu kita sudah sampai.”

“Benar sekali. Oh ya.. kau mengantarkanku sampai sini saja ya. Aku bisa…” ucapan Tiffany terhenti ketika ia melihat wajah Yoonan yang basah terkena hujan.

“Ap..Ap.. Apa yang kau lakukan?” gugup Yoonan ketika wanita sebahunya itu mulai mengelap wajahnya begitu lembut.

“Wajahmu basah dan kau menjadi seperti ini karena aku. Jadi biarkan aku…”

“Ahh.. tidak apa-apa. Tidak usah.” Ucap Yoonan mencoba melepaskan sentuhan Tiffany di wajahnya yang malah membuat ia semakin salah tingkah.

“Omo.. mengapa wajahmu menjadi merah seperti ini? Apa kau demam?” tanya Tiffany yang belum dijawab Tiffany ketika ia bisa mendengar keributan yang terjadi di rumahnya.

“Yoonan-shi aku harus segera pulang. Terimakasih karena sudah mengantarku sampai kesini.” Dengan itu Tiffany pergi berlari menuju rumahnya, meninggalkan Yoonan yang terdiam melihatnya.

Screenshot_2017-10-20-23-40-25-761

.

.

.

-TIFFANY POV-

“Bagaimana.. apa kau sudah bisa mengukur tegangan DC-nya?” Yoonan bertanya padaku yang masih kebingungan mengatur masukan dari generator gelombang yang terhubung dengan oscilloscope yang sedang diukur olehku. Kami sedang melakukan uji kelayakan di sebuah perusahaan multinasional yang sudah memiliki standar internasional dalam melakukan proses manufacturing produk-produknya.

Oh ya.. aku belum menceritakan pekerjaanku ya?

Aku dan Yoonan adalah calibration engineer di salah satu perusahaan kalibrasi terbesar di Korea Selatan. Kami bekerja mengelilingi Korea untuk mengecek kelayakan mesin-mesin pabrikasi yang digunakan oleh berbagai industri. Kebetulan aku dan Yoonan adalah Electrical Engineer juga sehingga kami selalu ditugaskan ke lapangan memeriksa mesin-mesin bertegangan tinggi tersebut.

Pekerjaanku dan Yoonan membutuhkan fokus dan ketelitian yang luar biasa. Karena jika kami salah sedikit saja, nyawa taruhannya. Kami bermain di arus kuat dan arus lemah. Untuk arus lemah aku masih berani melakukan pengukuran sendiri. Namun jika sudah berkaitan dengan arus kuat, maka aku selalu meminta bantuan Yoonan sebagai orang yang memang lebih berpengalaman dariku. Dia semacam orang kepercayaan bosku, Lee Jaehan. Setiap ada proyek baru, bos selalu memintanya untuk melaksanakan proyek tersebut dan aku selalu diminta untuk menjadi asistennya. Hubungan kami yang semula hanya teman kerja berkembang menjadi sesuatu yang aku tahu apa tapi aku masih mencoba untuk menganggapnya biasa saja. Hingga suatu hari dia mengungkapkan perasaannya padaku…..

“Aku menyukaimu.” Mulutku segera berhenti mengunyah makanan apapun yang sedang kukonsumsi saat ini

“Menyukaiku? Sebagai teman kan?” kuberikan senyum penuh candaanku seperti biasanya meskipun hatiku mulai merasakan sesuatu yang tidak enak.

“Aku menyukaimu lebih dari itu. Aku menyukaimu layaknya seorang pria yang menyukai kekasihnya, wanitanya.” Sendok dan garpu yang tadi sedang digunakannya, Yoonan simpan pada tempatnya. Kedua tanganya mulai menggenggam milikku yang tak tahu harus berbuat apa.

“Kekasih?” tanyaku lagi yang membuatnya tersenyum sedikit gugup sebelum mengiyakan dengan anggukan kepalanya yang terlihat yakin dengan jawabannya itu.

“Ya. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Aku ingin mencintaimu dengan layak.” Genggamannya sedikit mengerat meskipun masih lembut dan hangat.

“Oppa..” panggilku padanya yang terlihat sedikit gugup tapi berusaha untuk tenang didepanku. Aku dan Yoonan memang berbeda usia. Dia 5 tahun lebih tua dariku ternyata meskipun wajahnya masih mudah seperti seumuran denganku.

“Sejujurnya aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Kau adalah pria yang baik. Aku menyukai kepribadian, konsep diri, gaya hidup, kedewasaan dan kecerdasanmu. Bagiku kau terlihat begitu sempurna. Aku sempat berpikir bahwa wanita manapun yang menjadi pasanganmu, dia adalah wanita yang beruntung. Aku berterimakasih karena kau berani mengungkapkan perasaanmu padaku seperti ini. Tapi…. aku tidak tahu apa aku bisa menjadi wanita yang kau inginkan, yang layak untukmu. Aku tidak tahu apa aku bisa mencintai seseorang seperti orang itu mencintaiku. Aku.. aku tidak tahu…” rasanya tidak ada lagi kata-kata lain yang bisa keluar dari bibirku. Yoonan terdiam melihatku dengan kedua matanya yang berkata padaku untuk melanjutkan apapun yang ingin kuutarakan padanya.

“Kau takut untuk mencintaiku?” entah kenapa rasanya aku ingin menangis ketika dia mengucapkan hal yang selama ini aku tahu tapi aku tidak pernah bisa untuk mengucapkannya. Tidak ada kata yang terlontar untuk menjawab pertanyaannya itu. Diamku adalah jawaban baginya yang membuatnya malah semakin mengeratkan genggaman tangannya padaku.

“Seseorang pernah melukaimu hingga kau seperti ini?” suara itu masih belum bisa keluar dari bibirku. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawaban untuknya.

“Lalu apa yang membuatmu takut untuk mencintai seseorang lagi?”

“Aku”

“Kau?”

“Akulah yang menyebabkan diriku takut untuk mencintai orang lain lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Oppa.. saat orang lain mencintaiku dan aku mencintainya.. orang itu cenderung akan terluka karenaku. Karena cinta yang kumiliki… tidak pernah sama dengan cinta yang mereka berikan padaku. Aku belum bisa mencintai orang lain seperti aku… mencintai….. diriku sendiri.” 3 kata terakhir itu entah mengapa muncul di otaknya. 3 kata yang banyak orang katakan padanya. Meskipun menyakitkan untuk didengar, tapi mungkin mereka ada benarnya.

“Tiffany.. apa maksudmu?”

“Saat orang lain mencintaiku… mereka akan terluka. Mereka akan tersiksa dengan semua rasa yang mereka miliki untukku. Aku… belum bisa mencintai orang lain dengan layak.. tidak seperti yang kau dan yang lainnya coba lakukan padaku.”

“Benarkah?” tanya Yoonan dengan senyum penuh percaya dirinya yang begitu manis, tampan dan menenangkan untuk dilihat.

.

.

.

“Kau menyukainya?” Yoonan masih duduk di depanku. Kami sedang menikmati makan malam sebelum menonton film yang tadi sudah kami beli tiketnya 1 jam yang lalu. Ini adalah kencan kami kesekian kalinya setelah aku mencoba untuk menjalankan hubungan ini bersamanya. Selama 2 bulan ini hubungan kami masih berjalan dengan lancar. Meskipun terkadang kesibukan kerja dan jarak memisahkan kami, Yoonan masih mencoba untuk mengatasi itu semua.

Yoonan selalu mencoba menelpon atau melakukan panggilan video padaku. Tidak ada hal spesial yang kami bicarakan. Dia hanya bertanya padaku bagaimana kabarku. Apa aku makan siang atau tidak karena dia paling bahwa aku kadang melewatkan makan siangku. Istirahat siangku terkadang kupakai untuk tidur atau mengerjakan tugas kampus yang belum selesai. Dimalam hari… terkadang Yoonan ikut menemaniku mengerjakan tugas kuliahku hingga jam 3 subuh dengan masih mengaktifkan panggilan videonya. Terkadang aku atau Yoonan ketiduran dengan panggilan video kami atau malah kami berdua ketiduran secara bersamaan.

Di pagi hari suara dan wajahnyalah yang selalu menyapaku terlebih dulu. Meskipun dia tidur lebih telat dariku tapi Yoonan seperti sudah mempunyai jamnya sendiri. Setiap pukul 5 pagi dia sudah bangun dan membantuku untuk bangun. Honestly ain’t a morning person. Aku lebih seperti burung hantu karena pada saat malamlah justru otak dan pikiranku bisa berfungsi dengan lebih baik dibanding  pagi hari. Maka adalah sebuah keajaiban juga sebenarnya bagaimana aku masih bisa bekerja di perusahaan yang mengutamakan kegiatan di pagi hari sebagai jam produktifnya.

“Tentu. Sup iga ini begitu lezat. Rasanya aku ingin membawanya pulang ke rumah dan membaginya pada Mom. Dia pasti menyukainya.” Entah kenapa jika sedang menikmati makanan seperti ini aku selalu ingat dengan ibuku. Aku ingin beliau merasakan juga kenikmatan yang sedang kurasakan. Aku ingin dia menikmati apapun yang sedang kunikmati.

“Wah kalau begitu nanti sebelum pulang kita kembali lagi ke restoran ini dan membawa sup iga ini untuk ibumu. Setuju?” kuanggukan kepalaku beriringan dengan senyum bulan sabitku yang menjadi favoritnya.

“Ah ya.. kau benar sekali Oppa.” Senyuman perlahan mengembang di wajah baby face miliknya yang kini ikut tersenyum begitu lebar padaku. Senyuman itu begitu hangat dan menenangkan hatiku. Secara perlahan aku tahu bahwa aku mulai jatuh hati padanya dan kuharap rasa ini tidak akan menyakiti siapapun.

.

.

.

“Oppa.. maafkan aku.” Entah berapa kali kata itu sudah kuucapkan padanya.

“Tidak apa-apa. Aku tahu kau lelah. Tenanglah.” Yoonan masih bisa tersenyum padaku yang sudah melewatkan jam keberangkatannya. Hari ini adalah jadwalnya pergi New Zealand, melakukan kalibrasi di sebuah pabrik pengolahan susu milik perusahaan multinasional yang menguasai pasar makanan dan minuman berbahan susu didalamnya.

Ini adalah proyek yang sangat besar dan tentunya sangat menguntungkan bagi perusahaan tempat kami bekerja. Sebagai orang kepercayaan direktur, Yoonan mendapat kesempatan untuk menjadi teknisi senior yang dikirim kesana bersama direktur dan beberapa manajer serta teknisi senior lainnya. Jika Yoonan sukses dalam proyek besar ini, maka ia dijanjikan naik jabatan menjadi manajer teknik yang mana cukup bergengsi bagi teknisi sepertinya.

“Tapi aku merasa tidak enak padamu. Ini adalah perjalanan yang penting bagimu dan aku malah melewatkannya. Seandainya aku bisa bangun lebih pagi dan mengabaikan sakit kepalaku ini..” Kepala ini masih kutundukan tak berani menatap wajahnya yang masih terpampang di layar monitor laptopku.

“Fany-ah..” Yoonan memanggilku dengan suara khasnya yang dalam dan begitu jantan.

“Sayang.. kumohon lihatlah aku sebentar dan dengarkan apapun yang akan kukatakan padamu saat ini.” Panggilan dan pintanya kali ini sukses membuatku menaikan pandanganku agar sejajar dengannya. Kedua mata kami kini saling bertatapan dan aku tahu apapun yang akan dia katakana sepertinya serius sekali.

“Perjalanan dan proyek ini memang penting. Tapi.. disamping itu semua… ada yang lebih penting bagiku. Kau ingin tahu apa itu?” entah kenapa aku gugup dibuatnya.

“Apa itu?” tanyaku masih mencoba untuk menyembunyikan kegugupanku sedangkan dia masih dengan wajah seriusnya yang tidak tahu kenapa malah terlihat begitu menggemaskan bagiku meskipun aku masih gugup melihatnya terlihat serius seperti itu.

“Keselamatanmu adalah hal yang lebih penting dari apapun. Jika kau memaksakan datang ke bandara dengan kondisi kurang tidur dan sakit kepalamu itu… aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu. Dan jika sesuatu terjadi padamu karena aku… entahlah.. sepertinya akan sulit untuk tidak menyalahkan diriku sendiri dan melewatkan rasa bersalah itu begitu saja.” Matanya berkaca-kaca meskipun dia masih mencoba tersenyum untuk menutupi kesedihan dan kekhawatiran dari pikirannya itu padaku.

Aku..

Aku..

Aku tidak tahu harus berkata apa.  Yang aku tahu aku hanya…

“Lim Yoonan… aku mencintaimu.”

Aku hanya bisa mengucapkan kata-kata itu.

.

.

.

“Aunty Hwang…. Aku tahu mungkin ini terlalu cepat tapi aku ingin menikahi putrimu dan menjadikannya istriku.” Meskipun terlihat percaya diri, kegugupan itu masih jelas terasa dari intonasi, raut wajah dan gestur tubuh Yoonan.

“Yoonan Oppa?” Kutolehkan pandanganku padanya yang masih berada disampingku. Jujur aku terkejut ketika dia mengatakan hal itu. Bagaimana bisa Yoonan seberani itu mengungkapkan lamarannya kepada ibuku bahkan sebelum mengungkapkan hal ini padaku lebih dulu?

Jangan salah paham!

Aku tidak tersinggung.

Aku hanya.. entahlah. Aku tidak tahu bagaimana menceritakannya.

Seharusnya Yoonan meminta izin pada ayahku terlebih dulu hanya saja  dia tahu bahwa aku dan ibu sudah tidak tinggal lagi bersama ayah. Ayah sudah memutuskan untuk menetap di rumah ketiganya bersama ibu ketigaku yang bahkan sampai hari ini belum bisa mempunyai keturunan. Apa ini karma? Entahlah aku tidak ingin memikirkannya. Aku percaya Tuhan jauh lebih adil dari yang selama ini aku dan makhluk lain-Nya pikirkan tentang-Nya.

“Aku ingin menjadi suami Tiffany. Aku ingin menjadi teman hidup putrimu dan menjadikannya sebagai satu-satunya wanita yang kucintai sepanjang hidupku, tentunya selain ibu dan  adik perempuanku Aunty Hwang. Aku ingin memberikannya yang terbaik dari diriku hingga ajal menjemput kami..” Ibuku terdiam mendengar semua itu sama sepertiku. Dari sorot mata ibu entah mengapa bisa kulihat kebahagiaan yang terbalut rasa takut dan khawatir. Ibu nampak sedang memikirkan sesuatu setelah Yoonan mengutarakan niatnya untuk mempersuntingku.

“Apa kau yakin bisa melakukannya? Tiffany.. putriku.. dia tidak seperti wanita lainnya. Putriku memiliki sebuah luka yang begitu dalam didalam hatinya yang mungkin akan sulit dimengerti oleh kebanyakan orang sehingga sukar baginya untuk benar-benar mempercayai bahwa ada pria baik yang benar-benar bisa mencintai dan membahagiakannya setulus hati untuk selamanya. Putriku masih belum bisa mempercayakan hati dan hidupnya pada seorang pria.” Ketegasan itu nampak dari gaya bicara ibu yang jarang sekali terlihat seperti itu.

Ibuku adalah wanita paling baik didunia ini. Dia begitu lembut dan sangat memahami perasaan orang lain. Mungkin karena luka yang selama ini Ayah torehkan padanya membuat Ibu menjadi orang yang bisa dibilang memiliki tingkat simpati dan empati yang tinggi. Saat orang lain menyakitinya dengan kata-kata, ibu lebih memilih untuk diam dan tidak membalas hal itu. Dia lebih mencoba untuk selalu memaafkan orang lain dibanding menaruh dendam didalamnya, beda sekali dengan aku yang bisa dibilang dulu sangat benci dengan makhluk berjenis kelamin laki-laki.

“Mom….” Ucapku mencoba untuk menyanggah apa yang tadi telah dikatakan ibu. Ibu terlihat tidak bergeming dengan pernyataan yang telah ia ungkapkan pada Yoonan yang malah sedikit terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh ibu padanya.

“Semua hubungannya selalu berakhir karena Tiffany lebih memilih untuk melindungi hatinya dari luka yang mungkin akan timbul karena pria yang mungkin saja akan mirip dengan ayahnya.” Mataku terbelalak mendengar apa yang baru saja ibu ungkapkan. Semua itu… bagaimana ibu bisa…

“Fany-ah..”  Yoonan memanggilku yang masih belum bisa bangun dari pikiranku tentang mengapa ibu bisa dengan tepat mengucapkan apa yang selama ini menjadi masalah utamaku.

“Dia memiliki trauma yang mendalam terhadap pria, Yoonan-ah. Apa kau yakin bisa menerimanya?” kali ini pandanganku tertuju pada pria yang telah melamarku tadi.

Yoonan… dia menatapku dalam diam dengan ekpresi wajah yang sungguh tidak bisa aku artikan.

Apa ini adalah akhir untuk kita, Yoonan-ah?

Apa semua yang kujalani denganmu selama ini hanya mimpi dan kebahagiaan sesaat?

Jika benar.. maka aku harus menerima kenyataan bahwa kau… mungkin bukan laki-laki yang selama ini bisa menjadi pria yang mengubah hidupku.

.

.

.

THE AND

.

.

.

Eternity Happines Note:

Hallo apa kabar?

Sudah sembuh kan dari patah hatinya?

Mereka baik-baik aja kok.

Tiffany… Seohyun.. Sooyoung.. they are FINE.

Mungkin emang nanti bakal sulit liat OT8 ngumpul lagi tapi yaaa masih bisa liat mereka aja udah syukur sih aku mah 🙂

Oh ya.. adegan pas mabuk dan hujan-hujanan romantisnya aku modifikasi dari webtoon favorit aku yang baru, My Oppa Is An Idol.

Baca deh! Bagus gambarnyanya.

Tapi hati-hati baper tingkat dewa wkwkwkwk.

Oh ya… KOMEN DAN SARANNYA DITUNGGU.

THANKS

 

Iklan

16 pemikiran pada “Father Is Not a Daddy – Yoonfany Version

  1. Hehew,, obat rindu, patahati komplit,, bkin senyum sndri bagian ini, mo fany kemana juga ttp di hati 😉 . Ada yang bkin ngakak pas yoon tdr disofa bngun tdr mesti malu bnget tuh dia, ama muncul kta alis.. hidung.. D.d. Yoon otaknya sapu bersihin hehe,, 😀 wkwk,, nglawak author,, deg,, deg,, an nih gimn lanjutnya,, mksh authorku,,

  2. Wuahhh… jaannnn, emang mereka cocok ya. Suka da sama gambar dan karakter keduanya. Tiffany Ooc ya. But its okay banget… plot keren. Jalan cerita keren… gaya bahasanya juga ok. Suka q yg begini.. ditunggu update nya😘😘😘

  3. Kasiaan yah fany punya masa lalu yg kelam .. dy trauma sama ayah nya sendiri .. yg sebenernya kegunaan ayah bagi keluarga adalah sebagai hero .. ini malah sesuatu yg mereka takuti .. yoong emank gentle aku yakin dy bakal terima apa ada nya .. krna rasa cinta nya dan besar rasa sayang nya dy buat ngejaga fany ..

  4. Komen ndak ada?😤 lAri kemana ya. Wah, cerita mu selalu unik sis, menarik dengan alur plot nya. Uhhh, yoong oppa, bukankah cinta kadang cukup perlu tahu masa lalu tanpa mengumbarnya di masa depan? Fany, cukup serius dgn park yoonan, berharap ia bisa terima fany very well ya.. duh, next sis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s