Anemone 1.3 – Kim Taeyeon

3

Bagi yang lupa dengan cerita sebelumnya bisa klik link dibawah ini

Anemone

Part 1.1

Part 1.2

Selamat Membaca!

===============================================================

“Wow.. aku tidak menyangka kau masih setampan ini dengan penampilan barumu Paps!” Yuri tak berhenti menatapku seakan aku adalah makhluk asing yang baru ditemuinya. Aku hanya memutarkan bola mataku menjawab bentuk lain dari sindirannya itu. Jika Yuri berkata aku tampan maka itu berarti sebaliknya.

Kwon Yuri memujiku tampan?

Itu mustahil!

 Meskipun kami bersahabat, sejak dulu Yuri selalu tidak mau kalah dariku dalam hal apapun. Yuri adalah orang yang kompetitif dan dia membutuhkan lawan sparring dalam hal apapun sehingga bisa mengeluarkan potensi terbaik dari dirinya. Begitulah yang kupelajari selama ini. Awalnya aku risih dengan hal ini tapi lama kelamaan aku menikmati salah satu sifat dari sahabatku itu.

“Tunggu… sepertinya ada yang kurang…” Yuri terlihat memikirkan sesuatu sementara aku hanya menatapnya bosan. Beberapa detik kemudian ia tersenyum seperti orang gila sebelum berlari meninggalkanku yang terdiam bengong melihat kepergiannya.

Ada apa dengannya… aneh sekali?

“Tadaaaa!” beberapa menit kemudian Yuri kembali dengan sebuah kacamata berbingkai coklat yang terlihat klasik namun masih memiliki sentuhan modern.

“Apa itu? Kau ingin aku memakainya?” tanyaku pada Yuri yang segera memakaikan kacamata itu padaku. Dia membawa sebuah cermin kecil yang membuatku segera melihat tampilan baruku.

“Ini.. terlihat berbeda. Aku…. menyukainya.” Gumamku melihat kembali bayanganku di cermin. Kacamata itu hanya penambah dari perubahan lain yang Yuri buat padaku dan ternyata dia benar, aku benar-benar terlihat tampan dengan semua perubahan tampilanku ini.

Untuk kesekian kalinya aku harus mengakui kejeniusan sahabatku ini.

Kwon Yuri, kau luar biasa!

 “Sangat berbeda. Aku yakin siapapun akan sulit mengenalimu sebagai Kim Taeyeon. Mereka hanya akan mengetahuimu sebagai Kwon Taehyuk.” Ucap Yuri dengan penuh percaya diri dan kebanggaan dengan hasil make-overnya padaku.

Selain mengubah warna rambut dan warna mataku menjadi merah kecoklatan (hazel), sahabatku itu juga membiarkan janggut dan kumis tipis yang tersambung dengan jambang menambah lengkap penyamaranku. Rambutku yang dulu sedikit panjang kini telah dipotong. Yuri bilang ini adalah model terbaru. Dia menamainya Long Quiff. Penampilan baru ini membuatku terlihat seperti seorang pria yang sudah berumah tangga, dewasa.. mapan.. bersahabat… ramah.. dan sederhana. Oh mungkin lebih tepatnya aku terlihat menyediakan sebuah kenyamanan dan keamanan seperti layaknya seorang suami.

“Benarkah? Lalu bagaimana dengan Youngmi?” Yuri tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia segera mengeluarkan telepon pintarnya dan mencari sesuatu didalamnya sebelum akhirnya memberikannya padaku.

“Sangat berbeda bukan?” tawa kecilnya melihatku terdiam menatap penampilan baru Stephanie yang kini terlihat begitu berbeda. Dia terasa bukan seperti seorang Stephanie Hwang, namun memang Kwon Youngmi, seorang gadis polos yang terlihat begitu imut dan menggemaskan, istriku.

“Sebelum membuat perubahan pada penampilan Stephanie.. aku melakukan risetku. Selama ini Stephanie jarang sekali menggunakan poni tengah. Dia selalu membiarkan rambutnya terurai panjang dengan warna hitam atau blonde sebagai warna rambutnya. Gaya berbusananya juga selalu meneriakan eksklusivitas, keanggunan dan kemewahan. Itu seperti sudah menjadi protokol menurutku. Maka dari itu aku memutuskan untuk memotong sedikit rambut panjangnya yang bergelombang. Oh ya jangan lupakan poni tengah sehalisnya yang memberikan kesan lebih muda, polos dan menyegarkan seperti seorang gadis.”

Wow.. sejak kapan Yuri memperhatikan fashion hingga sedetail itu?

“Fashion is science, Taehyuk-shi. Tentu aku akan memperhatikannya.” Seakan tahu dengan apa yang kupikirkan tadi, Yuri berbicara bahkan tanpa aku bertanya padanya. Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang serius tapi berakhir menjadi konyol bagiku.

Harus kuakui Yuri adalah salah satu manusia jenius yang pernah kutemui. Bahkan dia lebih cerdas dariku sehingga manajemen SJJD jarang menugaskannya ke lapangan seperti aku dan Jessica. Choi Yoora tentunya tidak mau kehilangan salah satu asset berharganya untuk sebuah misi yang kebanyakan mempertaruhkan nyawa para agen didalamnya.

Tidak ada manusia yang sempurna, mungkin pepatah itu ada benarnya.

Setiap kelebihan pasti memiliki kekurangan.

Begitu juga dengan Yuri.

Dibalik kecerdasannya yang diatas rata-rata, kemampuan fisiknya dalam bertarung dan mempertahankan diri berada di bawah rata-rata. Maka dari itu Yuri jarang mengeluh tentang bagaimana ia jarang dilibatkan secara langsung dalam sebuah misi. Biasanya ia hanya menyusun rencana dalam sebuah misi lalu melakukan monitoring di dalamnya, mensupervisi hingga misi tersebut selesai.

Banyak rencana Yuri yang tereksekusi dengan brilian.

Tentu itu tidak lepas dari semua pihak yang ikut membantu lancarnya sebuah misi yang Yuri rencanakan.

Orang luar mungkin tidak akan percaya bahwa aku bersahabat dengan Yuri karena di SJJD kami terkenal sebagai rival yang selalu memperebutkan gelar pegawai SJJD terbaik yang pada akhirnya selalu dimenangkan oleh Lee Jaehan Sunbaenim dan mendiang kekasihku, Jessica.

“Poni tengah dan warna rambutnya yang baru… itu membuatnya terlihat sangat berbeda. Tunggu.. warna matanya juga berbeda. Coklat gelap kemerahan. Bukankah ini..” fokusku teralihkan pada kedua mata coklat bening kemerahan yang terlihat begitu cantik. Kedua matanya bersinar layaknya seekor singa yang menunggu untuk ditandukan namun terlihat begitu murni dan polos sehingga siapapun ingin membawa singa itu pulang ke rumah dan merawatnya.

“Yepss kau benar sekali. Aku membuat warna rambut dan mata kalian sama agar kalian terlihat seperti suami istri.” Yuri tersenyum  dalam cengirannya yang mungkin bagi sebagian wanita terlihat begitu tampan tapi bagiku terlihat begitu bodoh.

Tapi bagaimanapun.. dia adalah pria yang paling loyal padaku sejauh ini dan aku bersyukur akan hal itu.

.

.

.

“Aigoo… apa yang sedang kau lakukan?” seorang wanita di usia 35 tahunnya berjalan mendekati Taeyeon yang terlihat kesusahan menanam beberapa tumbuhan di ladang ukuran sedang yang dibelinya setelah ia pindah ke desa yang Yuri tawarkan padanya.

Sudah hampir 1 bulan Taeyeon tinggal di sebuah desa cukup terpencil di daerah Jeonju. Desa itu ajaibnya belum terjamah kemajuan teknologi saat ini. Maka Yuri merasa ini adalah tempat yang tepat untuk menutupi keberadaan sahabatnya beserta Stephanie Hwang dari buruan SJJD dan kroni-kroninya.

Taeyeon terpaksa mengiyakan ide sahabatnya itu karena ia tidak mempunyai pilihan lain. Pewaris klan Hwang kini ada bersamanya dan ia harus bisa menutupi semua jejaknya agar Stephanie tidak ditemukan. Entah mengapa ia tidak ingin melihat Stephanie terlihat begitu kosong lagi dalam berbagai kemudahan hidup dan kemewahan yang menemaninya.

Sebelum pindah ke desa yang kini ditempatinya, Taeyeon menjalani pelatihan singkat untuk terapi yang akan dilakukannya pada Stephanie atau kini yang biasa ia sebut dengan Youngmi, Kwon Youngmi.. istrinya. Pelatihan itu berjalan lancar dan setiap hari, setiap saat jika dirasa memang bisa… Taeyeon selalu melakukan terapi pada Youngmi yang dengan mudahnya menerima semua pelajaran yang Taeyeon berikan padanya meskipun terkadang sesi terapi itu terhenti karena Youngmi sudah tidak bisa menahan sakit yang ia rasakan.

Di desa itu, Taeyeon mencoba peruntukan baru dalam karirnya yaitu sebagai petani yang memiliki ladang kecil yang cukup untuk membantunya bertahan hidup bersama Youngmi. Untuk masalah bertahan hidup.. sebenarnya ia sudah tak perlu khawatir karena Yuri selalu mengiriminya uang. Uang tersebut berasal dari tabungan Taeyeon yang sudah dipindahkan ke rekening tabungan lain milik Yuri yang tidak diketahui SJJD untuk menghidupi dirinya dan Joohyun.

“Ahh… Aku sedang mencoba menanam beberapa buah-buahan, Bibi.” Park Hana tersenyum mendengar itu. Ia segera mengambil apapun yang ada di tangan Taeyeon dan segera melakukan hal yang sejak tadi belum bisa dilakukan pria yang sudah berganti nama menjadi Taehyuk untuk menutupi penyamaran.

Taehyuk melihat dengan seksama semua proses yang Hana lakukan dalam menanam beberapa jenis buah-buahan yang ingin ditanamnya sejak tadi. Beberapa waktu telah berlalu dan kini Hana sudah selesai mengajari pria di sampingnya itu tentang bagaimana cara menanam yang benar, tidak seperti yang dilakukan Taehyuk tadi.

“Aku tidak pernah melihat istrimu keluar rumah, apa dia sakit?” Saat Taehyuk pindah ke desa mereka, pria itu mengenalkan pada kepala desa seorang wanita yang ternyata adalah istrinya. Hanya saja wanita itu belum pernah berbicara satu patah katapun pada kepala desa. Hana mengetahui hal itu ketika sang kepala desa menceritakan padanya di restoran kecilnya.

“Oh itu.. sebenarnya istriku masih dalam masa terapi, sehingga ia belum bisa keluar rumah.”

“Terapi?”

“Iya.. istriku mengalami kecelakaan sehingga dia kehilangan beberapa kemampuan dasarnya seperti berjalan dan berbicara. Maka dari itu kami pindah ke desa ini, untuk membantu proses penyembuhan serta terapinya. Dokter berkata lingkungan desa seperti ini akan membantu proses penyembuhannya lebih cepat. Aku meminta maaf jika kami belum sempat berkeliling menyapa dan memperkenalkan diri kami kepada semua warga desa.” Taehyuk menunduk dan sedikit membungkuk untuk menyampaikan permintaan maafnya pada Hana yang segera menghentikan hal itu.

“Tidak usah meminta maaf seperti itu. Aku dan warga desa lainnya tidak tahu bahwa keadaan istrimu seburuk itu. Kami juga minta maaf belum sempat berkunjung dan menjenguk istrimu.”

“Tidak apa-apa Bi. Aku mengerti.” Taehyuk tersenyum pada wanita yang ternyata begitu perhatian dan baik padanya setelah mereka mengobrol dalam beberapa jam kedepan.

Keesokan harinya Hana datang berkunjung bersama anak laki-lakinya, Park Jinyoung. Kedekatan Taehyuk dan Hana terbangun sejak saat itu. Terkadang Hana dan Jinyoung membantu Taehyuk melakukan terapi pada Youngmi.

Awalnya Youngmi terlihat ketakutan jika melihat Hana atau Jinyoung. Tapi setelah Taehyuk mengenalkan serta berusaha mendekatkan Hana dan Jinyoung pada istrinya itu, Youngmi mulai bisa menerima kehadiran Hana dan Jinyoung.  Seiring berjalannya waktu, Hana dan Jinyoung juga menjadi dekat dengan Youngmi. Ketika Taehyuk ada keperluan mendadak ke luar desa, Hana dan Jinyounglah yang menjaga Youngmi. Kedekatan itu secara tidak langsung sudah membuat Youngmi dan Taehyuk menganggap Hana dan Jinyoung sebagai bagian dari keluarga baru mereka. Dan mereka sangat bersyukur akan hal itu karena Tuhan masih berbaik hati pada mereka. Tuhan masih memberikan kemudahan dalam kesulitan yang mereka jalani. Ia masih memberikan rasa bahagia meskipun kadang sedih itu melanda.

.

.

.

 “Ya sedikit lagi! Ayo Youngmi-ah…. kau pasti bisa!” teriak seorang pria dengan penuh semangat dan harapan yang tergambar di mata kijangnya. Wanita yang sebentar lagi akan sampai di hadapannya itu terlihat sangat lelah dan kesakitan menggerakan kakinya. Wanita itu terlihat setengah mati berjuang berjalan mendekat kepada pria yang selama ini begitu sabar melatihnya kembali berjalan, berbicara, membaca, berhitung dan hal lainnya yang harusnya sudah ia kuasai jika kecelakaan nahas itu tidak terjadi merenggut semua kemampuan dasarnya dalam bertahan hidup.

“Ahh.. Arrrgghhh aku tidak bisa…” Youngmi akan terjatuh ke depan menuju lantai kayu rumah mereka jika Taeyeon tidak bergegas menyelamatkan istrinya itu.

“Wopsss..” Tubuh itu segera mendarat di pelukan Taeyeon yang tertawa kecil berhasil menangkap wanita yang berstatus sebagai istrinya itu. Ia dapat merasakan aliran keringat Youngmi yang kini membasahi pakaiannya juga. Kausnya cukup basah ketika tubuh mereka bersatu dalam sebuah pelukan yang sering terjadi semenjak mereka hidup bersama sebagai suami istri.

“Maafkan aku…” Youngmi yang kini telah lancar berbicara seperti orang pada umumnya berkata setelah beberapa bulan Taeyeon melatihnya berbicara. Suaranya terdengar sedikit pecah diiringi tangisan yang berusaha ditahan.

“Tidak apa-apa. Kau sudah melakukan yang terbaik.” Taeyeon tepuk-tepuk pelan dan elus  punggung wanita yang sedang berada dalam pelukannya itu.

“Tapi aku… bagaimana jika aku tidak dapat berjalan seperti orang pada umumnya? Bagaimana jika aku..” pesimisme itu jelas terasa dari ucapan Youngmi tadi dan Taeyeon hanya tersenyum mendengar. Untuk beberapa saat mereka terdiam menikmati momen yang kini sedang terjadi sebelum Taeyeon akhirnya berbicara.

“Itu yang coba kau katakan dulu saat kau masih belajar untuk membaca. Lalu lihat bagaimana kau sekarang? Apa semua ketakutanmu terbukti?” Youngmi menggelengkan kepalanya meskipun air mata dan keringat itu masih mengalir membasahi paras  cantiknya.

“Selama kau tidak berhenti mencoba dan bersungguh-sungguh untuk sembuh, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan tetap berada di sampingmu untuk membantumu. Jika kau takut gagal dan pesimis itu wajar, namun semua itu tidak boleh menguasai dirimu sehingga akhirnya kau benar-benar membiarkan ketakutan dan pesimis tersebut menguasai dirimu. Apa yang kau rasakan, apa yang kau pikirkan.. adalah apa yang nantinya akan kau lakukan. Jadi  biasakanlah membangun kebiasaan bersugesti yang baik terhadapa dirimu sendiri.”  Taeyeon mengambil saputangan di saku kemejanya. Perlahan ia lap air mata dan keringat itu dengan lembut seakan Youngmi adalah kristal yang akan pecah jika ia tekan begitu kuat sekali saja.

“Aku tahu hanya saja.. ini begitu menyakitkan dan melelahkan. Rasanya aku ingin menyerah tapi sisi lain dalam diriku menolak. Aku tidak suka dengan perasaan ini Tae. Aku merasa sangat lemah dan tidak berguna.” Tangis itu sudah terhenti namun kekhawatiran itu masih jelas terasa. Melihat itu, Taeyeon tersenyum kecil sembari mengelus pipi kanan wanita yang terdiam menerima sentuhan lembut dari pria yang ia kira sebagai suaminya.

“Youngmi-ah… Ketakutan dan kekhawatiran itu pasti ada. Aku mungkin tidak tahu betapa menyakitkan ini semua bagimu. Aku mungkin tidak mengerti sepenuhnya kesedihan dan frustasi yang kau alami saat ini. Yang aku tahu.. kau adalah wanita yang tidak mudah untuk menyerah. Kau akan terus mencoba hingga akhirnya kau bisa. Percayalah.. semua hasil akan datang sesuai dengan usaha yang sudah kita berikan. Jika kau memberikan 100% maka kau juga akan mendapat 100% dari usahamu. Tugas kita hanya berusaha dan memberikan sebaik mungkin dari diri kita lalu hasilnya.. mari kita serahkan pada Tuhan.” Kedua tangan itu perlahan mulai Taeyeon genggam. Taeyeon tahu meskipun ia bukan suami Youngmi yang sebenarnya, setidaknya ia harus bertanggungjawab memberikan rasa aman, harapan dan kenyamanan seperti layaknya seorang suami pada umumnya. Meskipun bukan haknya memegang dan menyentuh Youngmi seperti saat ini, tapi ia tahu ketenangan itu akan menghampiri ‘istri’nya jika ia melakukan skinship seperti ini. Darimana Taeyeon dapat tahu tentang hal itu? Well search enginee seperti Naper dan  Dawum memberi kemudahan bagi siapapun untuk mencari informasi apapun, dimanapun, kapanpun.

Lalu.. bagaimana Taeyeon dapat mendapatkan akses internet jika tempat tinggal mereka saat ini terletak di tempat terpencil dimana teknologi belum sepenuhnya masuk ke desa tempat mereka tinggal seperti di Seoul atau kota besar lainnya?

Well.. awalnya Taeyeon memang harus bersusah payah pergi ke pusat kota untuk dapat berkomunikasi dengan Yuri atau mengakses internet. Namun setelah ia berkonsultasi dengan sahabatnya itu, mereka mendapat jalan keluar tentang masalah akses komunikasi yang terbilang sulit jika Taeyeon dan Youngmi masih berada di desa yang untungnya mampu menutupi keberadaan mereka dari SJJD, CNC dan Hwang Grup. Ia sudah memasang sebuah antena, receiver, penguat sinyal dan beberapa alat elektronik lainnya yang memungkingkan Taeyeon mengakses internet dari rumahnya tanpa terdeteksi oleh SJJD karena bahkan sampai hari ini pencarian terhadap Stephanie masih dilakukan sehingga jalur transportasi data digital masih diawasi dengan ketat oleh SJJD, CNC beserta Hwang Grup.

“Tae..” Youngmi tak kuasa menahan harunya mendengar ucapan membangun semangat dan motivasi yang sang suami berikan padanya.

“Senyuman lebih cocok untukmu, Youngmi-ah. Maka terus tersenyumlah.. bahkan jika keadaan tidak sebaik itu hingga senyuman menjadi sebuah hal yang sulit untuk kau lakukan. Dan aku.. akan membantu senyuman itu selalu menghiasi wajahmu.” Senyuman di wajah Taeyeon semakin melebar ketika ia bisa merasakan Youngmi membalas genggaman tangannya dengan sebuah rasa terimakasih yang mungkin memang tak perlu diucapkan dengan kata-kata, cukup dengan kedua jendela jiwa mereka yang saling bertemu dan bertukar kata tanpa dilema ataupun drama yang menemani mereka.

.

.

.

“Tae.. mengapa kita tidak tidur bersama?” pertanyaan itu sontak membuat Taeyeon tersedak sehingga ia sedikit terbatuk dan secara tidak sengaja memuntahkan buah peach yang sedang ia nikmati. Youngmi  refleks membantu suaminya itu menepuk-nepuk bagian atas punggung Taeyeon yang masih mencoba menormalkan kembali dirinya setelah serangan tersedak yang mendadak itu. Rasanya tenggorokan serta hidungnya sakit sekali. Itu terlihat jelas dengan hidung Taeyeon yang kini berwarna sedikit kemerahan.

“Tae, kau baik-baik saja? Omo! Maafkan aku…” masih dalam posisi membantu suaminya yang tersedak, Youngmi bertanya. Rasa bersalah itu semakin menjadi ketika ia melihat Taeyeon malah terdiam sembari menutup kedua matanya mencoba menerima rasa perih di hidung dan tenggorokannya.

Setelah hampir setahun lebih tinggal bersama Taeyeon, Youngmi tahu beberapa kebiasaan suaminya itu yang membuatnya semakin kagum pada sosok pria yang begitu sabar menemaninya selama ini. Selain sabar, humoris dan tekun, suaminya itu tidak pernah melawan rasa sakit apapun yang dirasakannya. Sebagai contoh adalah ketika ia dan Taeyeon terjebak di sebuah gua karena hujan besar yang melanda tempat mereka sedang berwisata di tempat yang cukup jauh dari desa mereka.

Saat itu begitu dingin dan menakutkan dengan semua petir yang terdengar. Youngmi hanya memakai baju tipis yang belum cukup memberikan kehangatan seperti yang pakaian Taeyeon kenakan  di tubuhnya. Beberapa waktu kemudian ia menggigil hebat karena rasa dingin yang semakin menguasai tubuhnya. Sebagian tubuhnya seakan mati rasa karena hal itu. Menyadari penderitaan yang dirasakannya, Taeyeon melepas beberapa bagian dari pakaian tebal dan hangatnya serta memakaikannya pada sang istri yang terlihat akan kehilangan kesadarannya saat itu juga.

Beberapa jam berlalu dan mereka masih berada dalam gua itu karena hujan badai itu masih belum reda juga. Taeyeon mencoba menciptakan api unggun dengan bahan seadanya yang tersedia di gua itu. Sepertinya mereka bukan orang pertama yang pernah singgah di gua tersebut karena Taeyeon bisa menemukan beberapa kayu bakar dan alat lainnya yang bisa membantu mereka menciptakan kehangatan yang kini terasa begitu dibutuhkan jika kehadirannya terbatas.

Api itu berhasil dibuat. Taeyeon dan Youngmi duduk bersampingan mencoba untuk menghangatkan tubuh mereka didepan api unggun yang berhasil Taeyeon buat untuk mereka. Meskipun begitu, Youngmi masih bisa merasakan bahwa suaminya itu kurang mendapatkan kehangatan seperti yang ia rasaakan. Itu terlihat dari sedikit gigilan yang tidak bisa lagi Taeyeon sembunyikan darinya.

“Tae.. kau menggigil. Pakai lagi saja mantelmu ini….” Tangan itu menghalangi Youngmi untuk melepaskan mantel sang suami yang sejak tadi melindungi tubuhnya dari rasa dingin.

“Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu melepasnya Mi.” rasa heran bercampur khawatir itu begitu jelas tergambar di wajah Youngmi yang menggemaskan. Taeyeon tak sanggup menahan tawa kecil dan senyum tampannya melihat hal itu.

“Dingin itu akan semakin menjadi jika kita melawannya. Rasakan dan coba terima rasa dingin itu masuk kedalam tubuhmu, maka kau tidak akan menderita dengan kedinginan itu sendiri.” Kata itulah yang selalu Youngmi ingat hingga hari ini. Maka ia tak terlalu khawatir ketika melihat Taeyeon mencoba menerima rasa sakit karena tersedak tadi. Ya Taeyeon tersedak mungkin karena pertanyaan yang Youngmi ajukan tadi.

“Aku baik-baik saja, Mi.” Senyum yang terkesan dipaksakan itu Taeyeon berikan pada Youngmi yang terdiam melihatnya. Ia merasa semakin bersalah setelah melihat suaminya seperti itu.

 “Tapi kau…. Baiklah lupakan saja pertanyaanku tadi. Anggap saja aku tidak pernah..” Youngmi menundukan pandangannya, tak berani menatap sang suami yang sepertinya mengerti dengan yang ia rasakan.

  Sudah beberapa hari ini entah mengapa pertanyaan tadi selalu mengganggu pikirannya.

Jika mereka memang suami istri, mengapa Taeyeon tidak pernah menyentuhnya lebih intim selain berpegangan tangan, pelukan dan elusan di pipi?

Mengapa mereka tidak pernah tidur bersama?

Selama ini Taeyeon dan Youngmi tidur di kamar berbeda. Sesekali Taeyeon menemani Youngmi hingga tertidur lalu kembali ke kamarnya.

Ia melihat beberapa pasangan suami istri lainnya terlihat begitu mesra dengan kecupan, ciuman bahkan cumbuan yang tak sengaja ia lihat. Sejak itu Youngmi mulai mempertanyakan mengapa Taeyeon tidak pernah melakukan itu padanya.

Apa karena ia amnesia dan sudah tidak membuat suaminya itu…

“Karena aku ingin membuatmu nyaman.” Seakan tahu dengan apa yang dipikirkan oleh Youngmi, Taeyeon tiba-tiba berbicara memecah kesunyian yang tadi sempat menyelimuti.

“Maksudnya?” tanya itu Youngmi sampaikan masih dengan wajah bodoh dan polosnya yang imut dan menggoda iman siapapun yang melihatnya

“Aku tahu mungkin kau merasa asing denganku meskipun aku adalah suamimu. Aku tidak ingin kau tertekan karena merasa tidak nyaman bersamaku. Aku ingin membuatmu nyaman dengan memulai lagi semuanya dari awal denganmu. Aku tidak ingin egois. Aku tidak ingin mengedepankan nafsu birahiku padamu sehingga akhirnya kau merasa terganggu, takut dan tidak nyaman denganku. Hal terakhir yang kuinginkan adalah… kau menjauh dariku.” Kedua mata polos itu menatap Taeyeon dengan sesuatu yang tidak bisa pria itu artikan. Entah itu sebuah kepercayaan, kekaguman atau kasih sayang…. Semuanya muncul tanpa mengungguli salah satu dari mereka hingga Taeyeon tidak tahu apa yang sedang coba Youngmi sampaikan padanya.

“Jadi.. bukan karena aku kehilangan ingatanku dan kau hanya kasihan padaku?” keheningan itu Youngmi yang mematahkannya. Taeyeon sedikit menggelengkan kepalanya mencoba kembali ke saat ini, dimana Youngmi terlihat begitu ragu padanya.

“Apa? Jadi hal itu yang mengganggumu sehingga tadi kau menanyakan ini?” perlahan senyuman kecil itu menghiasi wajah Taeyeon yang melihat sang istri terlihat begitu imut dengan tundukan kepala disertai rasa malu dan sedikit kesedihan didalamnya.

“Youngmi-ah.. ada benarnya aku membatasi diriku untuk tidak melampiaskan nafsuku padamu karena ingatanmu yang hilang. Tapi bukan karena kau sudah tidak menarik lagi bagiku. Bukan. Aku hanya ingin membuatmu nyaman bersama diriku. Mengapa kau bertanya seperti ini? Ada sesuatu yang mengganggumu?” tangan itu menaikan dagu Youngmi yang sejak tadi menundukan wajahnya, tak ingin menatap sang suami secara langsung.

Youngmi malu karena ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya.

Ia malu karena sudah berpikir bahwa suaminya itu selama ini bertahan dengannya hanya karena kasihan padanya, bukan cinta.

 Youngmi malu karena dengan semua kebaikan yang selama ini telah Taehyuk berikan padanya, ia malah membalasnya dengan berpikiran negative seperti ini.

“Kau ingin melakukan semua itu?” Pertanyaan itu membuat kedua mata mereka kini bertemu. Ada kebingungan di mata Youngmi yang membuat Taeyeon malah tersenyum lembut begitu manis padanya.

“Apa maksudmu?” senyum itu menjadi tawa kecil yang membuat Youngmi semakin bingung dibuatnya.

“Kau ingin aku tidur denganmu dan bersikap seperti layaknya sepasang suami istri pada umumnya seperti berpegangan tangan, berpelukan, berciuman, bercumbu bahkan bercin….” Bekapan tangan Youngmi di bibirnya membuat Taeyeon tak sempat melanjutkan perkataannya.

Wajah Youngmi terlihat begitu merah padam saat ini. Taeyeon tahu istrinya itu mungkin malu dengan apa yang akan diucapkannya tadi. Setelah Youngmi melepaskan bekapan tangannya, ia menggenggam kedua tangan istrinya itu yang otomatis membuat Youngmi kini kembali menatapnya.

“Apa kau mau memulai lagi semuanya dari awal denganku?”

“Tae…”

‘Stephanie Hwang..’ ucap Taeyeon dalam hatinya sembari menatap Youngmi yang terlihat gugup dan penasaran dengan apa yang akan diucapkannya.

“Maukah kau menjadi kekasihku lagi, Youngmi-ah?” Tidak ada kata yang terucap dari bibir Youngmi. Ia hanya menganggukan kepalanya ringan dan menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya yang sukses membuat Taeyeon tersenyum lebar melihatnya.

.

.

.

“Apa yang.. kau lakukan?” Youngmi bertanya pada sang suami yang sudah berdiri dihadapannya lengkap dengan sebuket bunga yang begitu indah.

“Memberi istriku hadiah..” Bunga itu Taeyeon sodorkan pada sang istri yang malah terdiam menatapnya

“Hadiah?” Youngmi kini mulai berbicara dan bertanya.

“Eheum. Kau sudah merapikan serta merawat tanaman-tanaman di halaman kita dengan baik. Dan itu membuatku bahagia. Maka dari itu kau pantas mendapatkan hadiah..” Taeyeon tersenyum dalam jawabnya sementara Youngmi malah terlihat sedikit kecewa mendengarnya.

“Benarkah? Hanya karena itu?” tanya itu disertai dengan pengharapan yang terdengar jelas didalamnya.

“Memang ada yang lain?” kali ini giliran Taeyeon malah yang tidak mengerti dengan maksud ucapan istrinya itu. Dalam diamnya, ia amati kembali penampilan sang istri yang terlihat berbeda. Youngmi… wanita itu terlihat lebih cantik dari biasanya.

Masih memeluk istrinya, Taeyeon usap rambut istrinya itu dari puncak kepala hingga ujung rambutnya.

Masih dengan matanya yg terpejam, Taeyeon hirup aroma khas milik sang istri yang membuat senyumnya semakin merekah

Rambut coklat gelap kemerahannya terurai dengan indah setelah Taeyeon melepas ikatan di rambut istrinya itu

Poni tengah yang mulai menutupi alisnya membuat Youngmi terlihat begitu muda dan cantik layaknya gadis-gadis desa yang terlihat begitu polos dan manis.

Kemeja merah muda serta rok denim biru dongker itu memeluk tubuh Youngmi begitu pas.

Tidak terlihat begitu ketat maupun longgar.

Riasan wajahnya tipis.

Taeyeon bisa melihat istrinya itu tidak mengenakan bedak sedikitpun di wajahnya. Hanya pelembab wajah dan lipstick warna merah muda tipis yang menambah warna alami di bibir indahnya yang bersinar, membuat siapapun ingin mengecap dan mengecupnya.

Bahkan dengan busana simpel dan  dandanan minimalis seperti itupun Youngmi sudah terlihat luar biasa bagi Taeyeon yang tak henti menatapi keindahan yang istrinya suguhkan padanya. 

“Oh ya.. aku sepertinya lupa mengatakan ini tapi..” Youngmi sedikit tersentak ketika suaminya itu memeluknya ringan.  Pelukan itu entah kenapa terasa  begitu hangat dan menyenangkan.

“Kau begitu cantik hari ini. Sangat cantik. Aku menyukainya. Terimakasih karena kau sudah melakukan usaha terbaik untuk membuatku terpesona dan semakin menyukaimu, Youngmi-ah…” dalam tutupan matanya, senyum Taeyeon semakin merekah ketika merasakan wanita dalam pelukannya itu mulai membalas dekapannya dengan intensitas yang sama.

.

.

.

Hari ini adalah hari lain dimana aku mulai mendekati Youngmi.

Ya.. aku mendekatinya bukan karena hanya untuk menguatkan sandiwara pernikahan kami.

Aku mendekatinya karena aku benar-benar ingin menjadikan cinta yang selama ini ia anggap ada untuknya dariku menjadi nyata.

Lalu.. apa mungkin aku benar-benar jatuh cinta padanya dalam rentang waktu yang singkat ini?

Aku dan Stephanie.. euhm maksudku Youngmi… kami memang baru bersama selama satu tahun lebih.

Sejak pertama kali aku melihatnya, ada sebuat rasa aneh yang membuatku ingin menolongnya meskipun saat itu aku tidak tahu hal apa yang mengganggunya. Hingga akhirnya aku tahu bahwa dengan semua kekayaan dan fasilitas yang dimilikinya, Stephanie tidak memiliki kebahagiaan yang diinginkannya. Mungkin itulah yang membuatnya terlihat begitu sedih dan tersiksa ketika aku melihatnya di Hwang Mansion.

Saat dia menjadi Stephanie Hwang…. Kecantikan itu ada. Keindahan itu nampak. Tapi Sorot matanya terlihat begitu padam dan temaram. Bagai sebuah bunga indah yang tak pernah disiram air hingga ia terlihat segar untuk dipandang.

Lalu ketika dia menjadi Youngmi… semuanya terasa berbeda.

Aku tidak pernah tahu bahwa dia memiliki sisi polos yang begitu menggemaskan.

Diawal hubungan kami, saat ia masih belum tahu apa-apa tentang dirinya, dia terlihat begitu ketakutan dan bingung melihatku. Aku merasa bersalah karena secara tidak langsung akulah yang telah menyebabkannya menjadi seperti itu.. kehilangan ingatan dan tidak tahu apapun tentang dunia yang ditinggalinya.

Sosok Stephanie Hwang yang anggun, elegan, dingin dan berkelas seketika runtuh ketika aku melihat Youngmi kesulitan berjalan dan berbicara.

Tangis penuh kebingunan dan ketakutan selalu menemaninya diawal-awal masa terapinya.

Tapi syukurlah, seiring berjalannya waktu.. dia mau menerima kenyataan baru bahwa aku adalah suaminya dan dia adalah istriku meskipun awalnya dia tidak tahu apa itu suami istri. Pengetahuannya kembali ke dasar seperti layaknya anak kecil yang tidak tahu apapun tentang dunia yang berputar di sekelilingnya.

Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk mengajarinya kembali menjadi manusia dewasa normal pada umumnya. Syukurlah dia memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Stephanie mampu mencerna berbagai pengetahuan yang kuberikan padanya dalam waktu singkat.

Kecerdasan Stephanie yang dulu hilang perlahan mulai ia raih kembali dengan keajaiban otaknya itu. Hanya saja.. ingatan tentang kehidupannya sebagai Stephanie entah mengapa begitu sulit untuk kembali. Beberapa kali aku mencoba memancing ingatannya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai Stephanie Hwang namun Youngmi tidak menunjukan reaksi apapun. Bahkan ketika aku menunjukan foto keluarga serta tunangannya, Choi Sooyoung, dia hanya menatap foto mereka dengan tatapan kosong dan bingung seolah keluarganya dan Choi Sooyoung adalah orang lain baginya.

Aku sempat mendiskusikan hal ini pada dokter yang menanganinya di Seoul dulu dan dokter itu berkata bahwa itu semua normal. Semua yang dialami oleh Stephanie adalah hal biasa bagi pasien hilang ingatan. Ketika aku menceritakan sakit kepala yang selalu dialami Stephanie ketika ia mencoba mengingat masa lalunya, dokter itu berpesan padaku untuk tidak memaksakan Stephanie memanggil kembali ingatan-ingatan di masa lalunya. Mendengar hal itu aku mengerti. Mungkin ada sisi lain dari Stephanie yang tidak ingin mengingat masa lalunya sehingga ia selalu menolak untuk memanggil kembali kenangan-kenangan yang mungkin tidak membahagiakannya. Sejak saat itu aku tidak lagi mencoba untuk membuat Stephanie ingat dengan masa lalunya.

Sejak saat itu juga aku mempunyai tujuan hidup baru yang tidak pernah kusangka akan menjadi tujuanku.

Aku akan membuat Stephanie Hwang bahagia menjalani kehidupan barunya sebagai Kwon Youngmi.

Dia bukanlah Stephanie Hwang yang hidup dalam ketidakbahagiaan seperti dulu.

Aku tidak akan membiarkan dia hidup terkungkung seperti dulu.

Aku akan membuatnya menikmati hidup seperi yang diinginkannya.

Dan hari ini.. mungkin aku sedang berjalan mencapai tujuanku itu.

“Taehyukie.. apakah ini bagus?” dihadapanku berdiri seorang wanita dengan balutan gaun musim panasnya yang menambah kecantikan dan keanggunan yang dimilikinya. Youngmi bertanya padaku dengan wajah polosnya yang menggemaskan. Gaun merah muda bermotif alam  selutut itu masih ia kenakan lengkap dengan topi bertepi lebar yang menutupun seluruh bagian kepala dan bahunya. Belum dengan kacamata hitam yang digunakannya, itu membuat Youngmi terlihat seperti seorang fashionista kelas atas.

Dia.. terlihat seperti Stephanie Hwang yang sebenarnya. Dirinya yang dulu. Masa lalunya.

“Tidak bagus ya?” pertanyaan itu membangunkanku dari lamunanku. Sejenak aku kembali memandangi keseluruhan dandanannya dan segera melepas kacamata hitam yang menutupi keindahan jendela jiwa miliknya.

“Tae?” Dia kembali bertanya tapi aku masih belum menghiraukannya.

Kutatap lagi wajahnya agar aku yakin bahwa yang berada di hadapanku adalah Youngmi, bukan Stephanie Hwang yang bisa pergi dari hadapanku kapan saja ketika ia mengetahui identitasnya yang sebenarnya.

Perlahan tanganku menemukan jalannya untuk menyentuh wajah wanita dihadapanku dan mendekapnya. Kuelus ringan kulit wajahnya yang bening dan merona. Entah mengapa aku melihatnya kali ini seperti aku akan kehilangannya.

“Apa aku terlalu cantik hingga kau takut kehilanganku?” Pertanyaan itu membuatnya tersenyum dan memegang kedua tanganku yang masih mendekap wajahnya. Kehangatan itu bisa kurasakan dari tangannya yang memeluk milikku dengan semua rasa yang dimilikinya.

“Kau tidak akan pernah kehilanganku, Taehyuk. I’m yours, faithfully.” Dia mengucapkan itu sebelum akhirnya mengecup pipi kananku dan berlari mengganti baju yang sudah dicobanya tadi ke ruang ganti di butik yang sedang kami datangi hari ini.

Stephanie Hwang.. aku rasa aku benar-benar bisa mencintaimu.

.

.

.

Apa mustahil bagiku untuk jatuh cinta lagi?

Awalnya kupikir IYA.

Mengapa?

Kurasa kalian bisa menebak jawabannya.

Jessica… ya benar sekali.

Jessica seperti cinta pertama yang pada nyatanya bukanlah yang pertama bagiku.

Meskipun dulu hidup susah dan serba kekurangan, aku pernah menjalin beberapa hubungan dengan gadis-gadis yang sayangnya mungkin mereka bukan ditakdirkan menjadi jodohku, begitu pula dengan Jessica.

Dari hubungan-hubunganku yang dulu, aku belajar bahwa jika dia memang adalah yang telah takdirkan untuk menjadi milikmu, maka ia takkan kemana.

Beberapa hubunganku dulu berjalan agak sulit karena aku tidak bisa menaruh seluruh perhatianku pada kekasihku.

Sekolah dan kerja, kedua hal itu benar-benar menguras tenaga dan pikiranku sehingga terkadang aku lupa bahwa aku memiliki kekasih yang harus kuperhatikan.

Dari beberapa hubungan itu, akulah yang selalu diputuskan. Dan aku tidak pernah masalah dengan hal itu. Bagiku diputuskan bukanlah sebuah aib yang harus ditutupi. Karena mungkin kebanyakan kesalahan terletak padaku yang kurang bisa menunjukan rasa sayang dan cintaku pada mereka hingga akhirnya mereka ragu denganku apakah aku mencintai mereka atau tidak. Dan jika mereka berpikir seperti itu, mungkin itu semua ada benarnya. Karena aku baru benar-benar merasa cinta pada Jessica seorang. Maka dari itu, meskipun dia bukan yang pertama bagiku tapi aku merasa bahwa dialah yang pertama dan kuharap yang terakhir bagiku.

Bersama Jessica, aku baru bisa benar-benar merasakan sebuah kebahagiaan dalam menjalin hubungan. Menjadi kekasih seseorang bukanlah lagi sebuah tanggungjawab dan beban yang memberatkan hidupku. Mencintai seseorang bukanlah lagi sebuah kewajiban yang harus kulakukan. Jessica membantuku merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Mendiang kekasihku itu membuatku bisa menikmati indahnya cinta yang sebelumnya tidak pernah bisa kurasakan.

Dulu aku sempat berpikir bahwa cinta hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. Mereka tidak perlu sulit memikirkan apa yang akan mereka makan hari ini. Mereka bisa fokus menjalankan pendidikan dan kehidupan pribadi mereka tanpa takut akan kelaparan di hari esok, berbeda denganku. Maka.. dulu aku selalu berpikiran bahwa cinta adalah hal yang mewah yang belum bisa aku miliki atau lakukan jika aku belum menjadi orang yang sukses karena aku selalu percaya bahwa jika kita sudah menjadi orang sukses dan memiliki segalanya dalam hidup ini, maka cinta akan menyusul.

Sepertinya Tuhan ingin aku mengubah cara pandangku. Saat bertemu dengan Jessica, aku memang sudah menyelesaikan pendidikanku dan bekerja di sebuah perusahaan yang mampu membuatku bertahan hidup dengan gaji yang diberikannya. Tapi saat itu aku belum menjadi seorang pria berhasil, sukses dan kaya raya karena aku masih menjadi pegawai kelas menengah yang mati-matian memperjuangkan hidupnya di Seoul bersama adik semata wayangnya. Di kondisiku yang masih seperti itu, Tuhan pertemukan aku dengan Jessica yang bisa mengubah cara pandangku terhadap cinta dan kehidupan.

Bersama Jessica aku bisa benar-benar bahagia.

Dia membantuku mengetahui potensi terbaik dalam diriku.

Dia membantuku mendidik Joohyun menjadi manusia yang lebih baik.

Dia membantuku menatap dunia dari sudut pandang yang berbeda dimana setiap manusia bisa menjadi bahagia, tergantung bagaimana mereka mendefinisikan kebahagian itu sendiri seperti apa.

Saat Jessica meninggal, aku merasa sebagian dari diriku telah Tuhan ambil bersamanya.

Hidup terasa begitu sulit tanpa ada Jessica didalamnya.

Hariku kembali menjadi kelabu meski aku sudah mencoba untuk mengusirnya.

Hatiku terlalu bergantung pada Jessica sehingga aku menjadi ingin mati bersamanya.

Bagai kaset rusak, semua kenanganku dengannya selalu bermain setiap saat.

Jessica adalah kekasih yang akan selalu menjadi anugerah terindah yang Tuhan titipkan dalam hidupku.

Dia  adalah seseorang yang membuatku berpikir bahwa aku tidak akan bisa mencintai orang lain selain dirinya.

Dia seakan membuatku berjanji bahwa tidak akan ada orang lain yang menggantikan posisinya.

Hingga akhirnya Stephanie datang dan perlahan mulai menghancurkan semua pemikiran itu.

Ketika Jessica datang dalam mimpiku dan memintaku untuk melepaskan dirinya dan menjalani hidupku dengan lebih baik lagi.. aku seakan sulit untuk melakukannya.

Ketika dia memintaku untuk menjaga Stephanie.. entah mengapa aku seakan tahu bahwa itu adalah hal yang harus kulakukan demi kebaikanku sendiri.

Selepas Jessica pergi.. entah mengapa aku masih merasa sendiri meskipun aku tahu ada Joohyun dan Yuri yang akan selalu menemaniku.

Tapi mereka berbeda.

Mereka tidak bisa mengusir rasa sepi itu seperti yang Jessica lakukan.

Meskipun dalam keramaian, aku masih merasa sendiri, sepi dan taka da yang menemani.

Tetapi ketika bersama Jessica, di tempat sepi sekalipun, aku bisa merasakan keramaian yang selama ini tidak pernah menghampiriku.

Sebuah keramaian yang membuat hati menjadi  penuh dan terisi dalam kebahagiaan meskipun keramaian itu tidak bisa divisualkan.

Di tempat terpencil pun, cukup ada Jessica didalamnya, maka aku merasa aku akan bisa hidup.

Semua itu mungkin terdengar berlebihan bagi siapapun yang belum pernah merasakannya.

Cinta.. ya seperti itulah cinta bisa mengubah hidupku yang kelabu menjadi penuh warna.

Tapi kehilangan cinta juga bisa menghancurkan hidup seseorang bahkan di waktu terbaik sekalipun.

Kepergian Jessica di hari yang sudah kurencanakan sebagai hari lamaranku padanya benar-benar membuatku terhenyak dan tersentak dengan realita yang ada.

Aku kira aku tidak akan bisa lagi menjadi hidup ketika Jessica pergi.

Namun Stephanie… mengubahnya menjadi berbeda.

Aku tidak tahu apakah yang kurasakan padanya sekuat cinta yang kurasakan pada Jessica.

Aku juga tidak tahu apa aku bisa mencintainya sama seperti aku mencintai Jessica.

Dia tidak pernah mengganti tempat Jessica dalam hatiku karena secara perlahan, Stephanie membangun tempatnya sendiri dalam hidupku.

Dengan kepolosan, ketulusan dan semangat dalam menjalani hidup yang telah mempermainkannya, Stephanie berhasil membuatku kembali mengerti bahwa hidup adalah tentang bagaimana kita membuatnya menjadi bahagia dan berharga.

Meskipun bagian dari dalam hidup kita telah menghilang dan pergi untuk selamanya, kita tidak boleh diam di tempat dan meratapi takdir yang Tuhan tuliskan untuk kita.

Diam dan meratapi bukan sebuah solusi atau jawaban.

Karena pilihannya selalu ada di kita.

Begitu pula dengan kebahagiaan dan cinta.

Jika kita mau ikhlas dan berbesar hati merelakan dia yang telah pergi maka bukan mustahil bahwa Tuhan akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.

Seperti Stephanie..

Meskipun ia tidak mungkin dibandingkan dengan Jessica, tapi bagiku Stephanie adalah jalan dari Tuhan yang ingin membuatku sadar bahwa aku tidak boleh hidup hanya untuk hari ini.

Aku harus menatap kedepan dan menata masa depanku menjadi lebih baik.

Tentu bersama Youngmi didalamnya.

Dan aku… siap untuk menyambut hari-hari penuh kebahagiaan itu bersamanya.

.

.

.

THE AND

.

.

.

.

Next On Anemone 1.4 – Kim Taeyeon

“Oh Tuhan… Youngmi-ah!” seorang pria berlari menghampiri wanita yang tergeletak tak berdaya dengan linangan darah yang terus keluar dari kepalanya.

.

.

.

“Tunggu!” seorang wanita berteriak memanggil wanita lain yang akan masuk ke mobil jemputannya.

“Kau… mengenalku?” wanita yang masih mengenakan kacamata hitamnya  dan gaun yang meneriakan kemewahan serta keeleganannya itu menolehkan kepalanya menuju sumber suara yang memanggilnya.

“Tentu. Apa kau melupakanku, Cous?” wanita itu segera membuka kacamata hitamnya. Ia tidak mempercayai bagaimana sepupunya bisa berdiri  sehat bugar dihadapannya.

.

.

.

“Tuan Choi.. aku mempunyai berita baik untukmu.” Yoora tersenyum begitu lebar dan licik pada pria di hadapannya yang terlihat masih sibuk memeriksa dokumen tentang sang kekasih yang masih belum ditemukan meski hampir 2 tahun berlalu sejak kejadian di Hwang Mansion.

“Jika kabar baik itu bukan tentang Stephanie, lebih baik kau pergi dari hadapanku sekarang juga!” Yoora masih tetap berdiri didepan Sooyoung meskipun pria itu membentaknya.

“Aku yakin kau tidak akan mengusirku jika aku mengatakan berita baik ini…” Pandangan pria bermarga Choi itu segera beralih pada Yoora yang masih tersenyum dalam tenangnya memegangi sebuah map hijau yang ia yakin akan membuat pria dihadapannya itu bahagia.

.

.

.

“Sayang.. maukah kau menjadikanku pendamping hidupmu?” Stephanie terdiam mendengar pria dihadapannya itu mengutarakan niatnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Menjawab pertanyaan itu dengan kata Iya akan menjadi awal yang baru bagi hidupnya dan ia tidak tahu apakah ini adalah langkah yang tepat atau malah sebaliknya.

“Aku….”

.

.

.

Penasaran???

Komen dibawah ya 🙂

Ditunggu!

Iklan

16 pemikiran pada “Anemone 1.3 – Kim Taeyeon

  1. Taeyeon kayaknya menghargai tiffany banget ya…… sabar membantu fany terapi dan melakukan hal lain…
    Mudah mudahan momen skinship mereka lebih banyak lagi ya……
    Gk sabar baca part selanjutnya kira kira fany kenapa ya… dan siapa yang melamarnya………..

    Thanks thor uda update aku uda tunggu lama tentang kelanjutan ff in

  2. Akankan persembunyian Taeny di desa itu di ketahui thor?
    Koq Fany terluka dan kepalanya keluar darah.
    Taetae baik, sabar dan penyayang. Suami idaman.
    Semoga Taeny bs nikah beneran dan bisa cpt bikin dedek gemez

  3. Akhirnya,, author kesayangan muncul juga,, wah bingung mo komen, taunya bkin senyum aja saking manisnya moment disana, ga perlu baca lg sblumnya jg msh inget critanya, cm ntar gmn klo tau aslinya, yongmi brubah ga ya?? 😀

  4. Meskipun cuma skinship biasa tapi taeny tetep so sweet 😘. Taeng disini bener2 dibuat manly banget, aku suka~. Dan penasaran sama next chapter nya, itu tiffany udh ingat sama masa lalunya? Terus hubungan taeny bakal kek gimana ya?

  5. Hmm,, apa ini di ambil dr kisah nyata? Terlihat nyata dibagian taengsic, ato aku nya yg terlalu bawa prasaan?😅

    Agak sdikit lupa lupa inget ama critanya…
    Tapi, disini crita nya tae sabar mao ngrawat youngmi sampe segitunya,,

  6. Hallo aku numpang baca ya author
    Wow wow wow ceritanya keren banget jadi gk sabar tar gmna chap selanjutnya kayaknya tiffany udah di temuin gawat ni
    Tapi andai di dunia ada orang kayak taeyeon sabar bner mau dong satuuuuu

  7. Aku belum baca awalnya Thor
    Keberuntungan sedang memihak pd tae, jd dia ga ush cpe” menutupi identitasnya karena Fany kna amnesia, aku harap Fany tetep bisa nerima tae apapun itu apabila nanti ingatan fany bklan balik lg, smoga aja tae bisa benar” menjaga fany dan mencintainya sepenuh hati …

  8. penasaran bngt thor. kalo bisa jgn lama update thor takutnya lupa sma jalan ceritanya tpi klo gk bisa jg gpp thor wkwk. semoga aj nanti klo ingatan tiffany kembali dia gk akan ninggalin tae 😭
    itu yg ngelamar tiffany kyknya sooyoung aduh mulai sotoy ni 😆. klo itu taeyeon yg ngelamar mohon mbak tiff langsung terima aja tpi klo sooyoung pikirkan baik2 perasaan kaum locksmith 😅

  9. Moment taeny yg brharga
    Gk baca dari awal jadi pas baca banyak pertanyaan yg muncul hahahaaa.
    Ditunggu kelanjutannya dah walaupun menyakitkan kayaknya buat tae.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s