Encounter (TAENY Version)

Screenshot_2017-06-18-23-01-06-459

Description

Tiffany Hwang adalah seorang wanita yang bisa dibilang sudah memiliki semua yang diinginkan oleh kebanyakan orang di usianya yang sudah menginjak 29 tahun. Banyak wanita yang kagum sekaligus iri dengan kesuksesan Tiffany dalam membangun karirnya hingga kini ia menjadi Creative Director disebuah perusahaan Fashion  yang dia dirikan bersama para sahabatnya.

Semua orang berpikir bahwa menjadi seorang Tiffany pastinya adalah sebuah kebahagiaan. Namun mereka tidak tahu bahwa ada beberapa hal yang belum Tiffany miliki hingga saat ini, yaitu cinta dan seorang pria yang bisa membangun kembali rasa itu didalam hidupnya.

Sejak berpisah dengan mantan calon suaminya beberapa tahun lalu, Tiffany belum memiliki lagi seorang pria yang benar-benar bisa ia cintai. Kencan itu masih ia lakukan dengan beberapa pria yang banyak mendekatinya. Meskipun begitu, belum ada satupun dari pria-pria tersebut yang mampu membuat Tiffany merasakan sebuah cinta yang dulu pernah ia rasakan pada sang mantan kekasih, Im Yoonan. Hingga suatu hari seorang pria misterius datang membawa sesuatu yang membuat Tiffany kembali bertanya apakah ia bisa mencintai lagi seorang pria selain masa lalunya.

Sebuah lanjutan dari LIE|EIL -> FINE|ENIF -> As long As You Happy yang akan segera menemui akhirnya.

Foreword

“Tiffany Hwang!” teriakan itu terdengar jelas sekali bahkan oleh orang-orang yang duduk cukup jauh dari tempat wanita yang namanya dipanggil tadi.

“Unnie.. kau tidak seharusnya berteriak seperti itu pada atasanmu. Aww… gendang telingaku sepertinya sebentar lagi akan pecah jika kau terus berteriak seperti tadi.” Ucap Tiffany dengan nada penuh otoritasnya sementara bibirnya mulai melengkungkan senyum indahnya membayangkan ekspresi lucu dan imut sang sahabat yang sempat terdiam sebelum membalas ucapannya dengan gaya konyolnya.

“Yah!!!! Kedudukan kita sejajar! Kau bukan atasanku. Lagipula kenapa kau membuatku malu lagi! Kemarin Seunghyun mengeluh pada suamiku tentangmu. Katanya kau dingin sekali padanya saat kencan kalian kemarin. Sampai kapan kau akan sepert….” Ucapan Hyorin terpotong karena Tiffany kini sudah menerima ice coffee yang dipesannya tadi. Ia tersenyum memberikan kartu uang elektroniknya untuk membayar minuman favoritnya beserta beberapa roti yang selalu berhasil membangun suasana hatinya menjadi lebih baik.

“Euh Hallo Unnie? Hallo? Hallooooo?” Kasir sudah selesai melakukan transaksinya. Ia memberikan kartu uang elektronik milik  Tiffany yang tersenyum kecil padanya.

“Yah Tiffa..” Panggil Hyorin yang sangat kesal pada sahabat yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.

“OMG mengapa sinyalnya jelek sekali ya? Aku akan menghubungimu lagi..” Tiffany mulai membalikan arah langkahnya, berjalan keluar dari coffee shop dan bakery favoritnya itu dengan tangan kirinya.

“Yah jangan berani kau menutup telp…”

“Ahh apa Unnie? Aku tidak mendengar suaramu..

“Tiffany Hwang!!!!”””

“Baik Unnie, sampai jumpa nanti di kantor!”

BRUGGHH!

“Aww….” Kedua mata Tiffany perlahan terbuka ketika mendengar rintihan itu. Pupilnya segera membesar mengetahui bahwa tubuhnya kini berada di atas seorang pria yang wajahnya masih belum bisa ia lihat karena kepalanya saat ini masih bersender di dada pria yang menjadi penyelamatnya.

“Kau baik-baik saja, Nona?” kalimat itu yang terdengar ketika Tiffany mencoba bangun dari atas tubuh pria yang entah mengapa terasa begitu nyaman untuk ia tiduri. Rasa panik kini menghampiri ketika Tiffany menyadari bahwa kemeja putih yang dipakai pria yang bertabrakan dengannya tadi sudah dipenuhi warna gelap dari es kopi hitamnya.

“Maafkan aku Tuan!” Tiffany segera bangkit dan membungkukkan tubuhnya pada pria yang  anehnya malah tersenyum begitu lebar seperti baru saja menemukan harta karun yang telah lama hilang, membuat  bulu-bulu halus di tubuh Tiffany mulai berdiri.

+

+

+

+

 

Encounter (TAENY Version)

 Screenshot_2017-06-24-22-30-59-406

“Euhmm Miss Hwang.. ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Terdengar keraguan dan sedikit rasa takut dari nada bicara Chayeon.

“Tuan Kim?” Chayeon sempat terdiam mendengar pertanyaan bosnya itu. Ia melirik ke arah pria yang masih setia duduk dihadapannya dengan beberapa barang yang dibawanya.

“Chayeon-ah..” gadis yang sudah 2 tahun ini menjadi sekretaris Tiffany mulai menutup kedua matanya, menggerutu dalam hatinya mengapa ia harus dihadapkan dalam posisi ini.

Kalian pasti bingung mengapa Chayeon bisa seperti itu?

Well… itu semua terjadi karena seorang pria tampan bernama Kim Taeyeon yang sudah beberapa minggu ini begitu rajin mengunjungi bosnya yang selalu menolak bertemu dengan pria bermata coklat madu yang karismatik itu.

Chayeon sungguh tidak mengerti mengapa bosnya itu tidak mau lagi bertemu dengan Taeyeon yang sebenarnya adalah tipe ideal semua wanita.

Bagaimana tidak!

Wajah tampan.. check!

Tubuh yang seksi dan  berotot… check!

Karismatik dan gentleman… check!

Cerdas, baik dan bersahaja… check!

Kekayaan dan kehidupan yang cukup mapan… check!

Masih banyak kelebihan lain yang tidak bisa Chayeon sebutkan karena pria dihadapannya itu baginya adalah definisi kesempurnaan yang Tuhan ciptakan di dunia ini. Sesungguhnya Chayeon sangat mengagumi Taeyeon sehingga ia memiliki kesulitan untuk mengusir pria yang ingin ia jadikan kekasihnya saja seandainya Taeyeon mau meliriknya, bukan Tiffany.

“Ya.. ini aku Nona Hwang!” Chayeon terlihat kaget melihat Taeyeon kini sudah berbicara dengan bosnya itu menggunakan teleponnya.

“Tuan Kim!” pekik Chayeon yang mencoba segera mengambil kembali teleponnya. Bisa mati ia jika Taeyeon berbuat seperti ini padanya, bosnya bisa marah besar.

“Apa yang sedang kau lakukan, Tuan Kim? Bukankah aku sudah menolak untuk bertemu denganmu?”

“Well aku percaya hatimu berkata tidak.”

“Apa maksudmu?”

“Otakmu menolak untuk bertemu denganku, tapi hatimu tidak. Benarkan Nona Hwang?”

“Kau…”

“Izinkan aku masuk. Kita bicarakan semuanya didalam.. sama seperti yang kita lakukan malam itu…” Taeyeon berbicara dengan suaranya yang dalam dan berkarisma membuat bulu kuduk Tiffany seketika merinding mendengarnya.

“Woohh… Taeng coba lihat disana, arah jam 11!” Zico terlihat bersemangat sekali melihat pemandangan yang sedang dinikmatinya sementara Taeyeon hanya menatap hal itu dengan tatapan bosannya.

Jam sudah menunjukan pukul 01.30 pagi dan Taeyeon sudah mengantuk. Apa yang ada di club malam ini terasa membosankan. Sebenarnya bukan malam ini saja. Sudah beberapa bulan ini Taeyeon merasa kehidupan malamnya mulai terasa hambar dan kosong, tidak semenyenangkan dulu. Dan ia tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi padahal dulu ia sangat senang berada di Club, menikmati musik, minuman beralkohol dan tentunya berbagai wanita yang bisa ia tiduri sesuka hati.

Entah mengapa semua yang ada didalam hidupnya mulai terasa hambar.

Mungkin ia sedang jenuh dan butuh sesuatu yang baru. Tapi Taeyeon tidak tahu hal apa yang bisa menaikan ketertarikannya serta menghapus kejenuhannya. Ia sudah mencoba untuk berkencan dengan gadis-gadis rekomendasi sahabatnya namun semua masih terasa datar. Tidak ada satupun dari mereka yang dapat menarik perhatiannya. Mereka cantik dan berpendidikan tapi… ada sesuatu yang Taeyeon cari dan ia masih belum mendapatkan hal itu dari gadis-gadis yang sudah dikencaninya atau bahkan ditidurinya. Banyak hal baru yang ia coba untuk mengusir kejenuhan itu namun semuanya sepertinya belum berhasil mengusir kehampaan yang entah sejak kapan dan mengapa ia bisa merasakan hal itu.

“Oh My God!” Jay  yang duduk di sebelah Taeyeon  berteriak membuat semua mata kini tertuju padanya.

“Hei ada apa?” Loco bertanya pada sahabatnya yang terlihat begitu terpesona pada apa yang ditatapnya. Penasaran dengan apa yang dilihat oleh sahabatnya itu.. Loco, Taeyeon dan Zico mulai mengalihkan pandangan mereka pada sesuatu yang sejak tadi ditatap oleh Jay.

“OMO!” reaksi itu yang diberikan oleh Zico dan Loco yang tersenyum begitu lebar layaknya orang gila ketika melihat sahabat mereka lainnya, Gray sedang menari dan berdansa begitu intens, liar dan panas dengan seorang wanita yang begitu seksi dan menggiurkan siapapun untuk menyentuh dan menikmatinya.

Screenshot_2017-06-23-05-47-11-565

“Aku harus membawanya ke kamarku malam ini juga!” Geram Zico begitu semangat layaknya seorang anak kecil yang akan segera membuka kado ulang tahunnya.

“Hei! Bisa saja dia ada ‘bisnis’ dengan Gray malam ini.” Balas Loco yang tersenyum penuh arti pada Zico yang membuang nafasnya sebal.

“Dan kau tidak boleh menidurinya malam ini jika wanita itu sudah punya janji dengan Gray, Zi. Ingat Bro Code kita yow!” timpal Jay dengan nada seriusnya meskipun senyum tampan dan cutenya itu masih ada.

“Mengapa kau diam saja? Bagaimana menurutmu Taeng?” Zico bertanya pada sang sahabat yang tak bisa melepaskan pandangannya dari wanita misterius yang berhasil mencuri perhatian mereka.

“Dia… sempurna.” Kata terakhir itu terdengar begitu kecil bagai bisikan yang untungnya masih bisa didengar oleh Loco.

“Wow! Baru kali ini aku mendengarmu memuji seorang wanita seperti itu. Apa kau benar-benar Kim Taeyeon sahabatku?” Jay dan yang lainnya tertawa melihat tatapan tajam menggemaskan yang Taeyeon berikan pada ketiga sahabatnya.

.

.

.

“Apa? Kau tidak berhasil membawanya ke apartemenmu?” Zico terlihat begitu senang mendengar jawaban yang Gray berikan padanya.

“Bagus sekali! Kalau begitu aku bisa….”

“Jangan bermimpi! Dia bukan wanita seperti yang kalian bayangkan.” Ucap Gray terlihat sedikit kesal dan frustasi dengan penolakan yang diterimanya.

“Heumh.. Gray ada benarnya juga. Dengan reputasi Tuan Lee Seohwa yang terkenal sebagai penakluk wanita dan penjahat kelamin terhebat diantara kita berlima yang ditolak mentah-mentah oleh wanita berambut golden brown itu, bisa dibilang wanita ini  mempunyai level kekebalan yang cukup tinggi terhadap sex appeal kita yang sudah terbukti tinggi jika kita berpatokan pada daftar wanita yang sudah kita kencani atau tiduri.” Loco mengemukakan analisis itu dengan wajah sok serius dan cerdasnya yang segera mendapat tonjokan kecil di perutnya oleh Gray.

“Jadi kau tidak usah bermimpi bisa menidurinya semudah itu Zi..” tawa Jay yang segera mendapat anggukan dari Loco dan Gray yang ikut tertawa bersama pimpinan geng mereka.

“Benarkan Taeng?” yang ditanya tak bersuara apapun sementara matanya masih belum terlepas dari wanita yang berhasil menarik perhatiannnya sepenuhnya.

Screenshot_2017-06-23-05-46-51-373

“Wah wah wah… sepertinya  kau sangat terpikat olehnya Taeng! Apa kau ingin menidurinya juga?” sindir Gray dalam tawa keringnya.

“Apa lebih baik kita undi saja siapa yang bisa mendekatinya dan mencoba untuk mengajaknya bersenang-senang malam ini?” celetuk Zico yang mendapat anggukan dari kedua sahabatnya kecuali Taeyeon dan Jay.

“Taeng.. apa kau setuju?” melihat tatapan yang Taeyeon berikan pada wanita yang masih begitu lincah dan liarnya menari dan berdansa, Jay tahu sahabatnya itu pasti memiliki rencana sendiri.

“TIDAK.” Pandangan itu Taeyeon alihkan pada Gray, Loco dan terakhir Zico yang sedikit terkejut melihat ekspresi serius sahabatnya itu.

“Apa maksudmu?” tanya Loco sedikit aneh pada Taeyeon yang mulai tersenyum dengan penuh percaya diri.

“Aku tidak akan menidurinya seperti yang ingin kalian lakukan dan aku tidak mengizinkan hal itu terjadi.” Jika kalian ada disana dan mendengar apa yang baru saja Taeyeon ungkapkan pada keempat sahabatnya, maka kalian akan tahu betapa seriusnya pria bermarga Kim itu berkata.

“Awww… Man! Lalu apa yang akan kau lakukan? Menikahinya? Hahahaha itu bukan kau sekali Kim Taeyeon…” balas Zico dengan tawanya yang malah semakin membuat Taeyeon tersenyum begitu tampan dan gila.

“Yeps! Kau benar.. aku akan menikahinya dan membuatnya menjadi milikku seutuhnya!” Taeyeon menjawab pertanyaan itu penuh dengan kepercayaan diri dan tidak ada keraguan yang terdengar di dalamnya membuat ketiga sahabatnya menatapnya kaget terkecuali Jay yang tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya mendengar jawaban sahabatnya itu.

.

.

.

“Euhh… apa yang kau lakukan!” bentak Tiffany pada seorang pria yang sedari tadi mengikutinya.

“Tentu saja menikmatimu dan bersenang-senang.” Senyum seringai itu terlihat jelas dari wajah tampan pria yang tadi baru saja menari dengannya.

“Jika kau ingin aku tidur denganmu… maka jawabannya masih sama… TIDAK!” tubuh itu Tiffany balikkan. Ia mengubah lagi rute jalan keluarnya dari club bodoh berisi pria-pria brengsek yang hanya menginginkan tubuhnya saja.

‘Mengapa aku bisa berada di tempat ini? Oh Tuhan… ingatkan aku untuk membunuh Jessi jika aku bertemu dengannya nanti.” Rutuk Tiffany dengan kondisi kepalanya yang semakin pusing. Mungkin itu adalah efek dari berbagai jenis minuman alkohol yang ia minum. Ajaibnya hari ini semua minuman memabukannya itu berhasil membuatnya terasa di dunia berbeda dan mengeluarkan sisi lain dari dirinya yang jarang sekali ia tampilkan.

“Ayolah! Kau tidak akan menyesal dengan semua kenikmatan yang akan kuberikan padamu, Brownie!” langkah Tiffany terhenti ketika pria itu menarik tangannya, membalikkan direksi tubuhnya sehingga kini ia sudah berhadapan dengan pria brengsek yang tidak henti menggodanya sejak tadi.

“Apa kau tidak tahu arti kata TIDAK?” kata terakhir itu berisi penekanan yang malah membuat pria itu semakin menyeringai.

“Kau.. akan menjadi milikku malam ini.” Detik berikutnya tubuh Tiffany terdorong ke tembok cukup keras. Tiffany mencoba untuk melawan dan melepaskan dirinya namun pria itu mulai mencengkaram kedua tangan Tiffany ke atas kepalanya. Ia menekan lutut kanannya ke daerah kewanitaan Tiffany yang tersentak.

“Kau menyukainya? Well.. sebentar lagi sahabatku akan segera menyapamu dengan sihirnya yang luar biasa hahaha” pria itu tertawa layaknya orang gila. Tiffany masih berusaha untuk melepaskan dirinya tapi entah mengapa badannya terasa lemas dan kepalanya semakin pusing. Ia tidak bisa melihat dengan jelas pria yang kini mulai menciumnya kasar.

“Arrggh!” pria itu berteriak kesakitan ketika Tiffany menggigit lidahnya. Ia segera menghentikan ciuman itu.

“Kau ingin lebih kasar lagi heuh?!” masih dengan senyum seringainya pria itu kini mulai mencium bibir Tiffany lebih keras dan kasar. Ia mulai memijat kedua buah dada Tiffany yang semakin memberontak namun apa daya, tenaga pria itu lebih besar darinya. Air mata itu mulai keluar ketika pria brengsek itu mulai merobek mini dress yang Tiffany gunakan.

“Wah.. sempurna! Sesuai dengan yang kubayangkan. Baiklah.. apa kau siap bertemu dengan kenikmatan baru?” Tiffany menggelengkan kepalanya ketika menyadari pria itu kini mulai membuka pakaiannya, siap mengkonsumsi malam mereka penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang tidak seharusnya terjadi.

“Apa yang kau katakan Tuan Kim!” bentak Tiffany yang mulai teringat lagi dengan malam yang tidak pernah ingin ia ingat sepanjang hidupnya.

“Arrghhh tolong aku! Lepaskan aku!” Tiffany masih meronta dalam tangisnya memukuli pria yang kini memeluknya begitu erat.

“Shusstt.. kau akan baik-baik saja, tenanglah.” Tangis itu terhenti ketika pria yang masih memeluknya itu berbicara.

“Kau.. siapa?” pandangannya masih kabur tapi Tiffany bisa merasakan bahwa pria yang memeluknya ini bukanlah pria yang tadi hampir saja mengotori tubuhnya. Well tubuhnya sedikit kotor dengan ciuman, cumbuan dan sentuhan dari pria brengsek yang entah dimana kini keberadaannya.

“Aku bukan pria yang tadi hampir memperkosamu. Tenanglah. Oh ya.. apa kau merasa sakit di bagian badanmu? Apa dia….” Ucapan pria penyelamatnya itu terhenti ketika Tiffany mulai membalas pelukannya dan menenggelamkan kepalanya ke dada pria itu.

“Terimakasih.” Hanya kata itu yang terucap dalam tangisan Tiffany yang bersyukur bahwa dirinya bisa selamat.

“Your very welcome Nona. Euhm.. Nona.. dimana alamatmu? Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang juga.”

“Nona? Eh.. dia tertidur?Ahh.. apa boleh buat. Sepertinya aku harus membawanya ke rumahku saja.”

.

.

.

“Ahhh..” kedua mata Tiffany terbuka diiringi dengan uapan dari mulutnya. Tangan kanannya mulai memijat kepalanya yang sangat pusing. Ia masih berusaha untuk membuka matanya dan memfokuskan pandangannya ketika menyadari bahwa ada benda aneh dibawah tubuhnya.

“OMG apa ini? Ini seperti…” perlahan Tiffany raba benda kenyal, halus dan lembut yang masih ia tiduri. Pahanya merasakan sesuatu yang mengganjal. Seperti ada benjolan cukup keras dan besar. Tangannya bisa merasakan sedikit bulu di benda kenyal yang menjadi bantalnya.

“Tunggu.. jangan bilang bahwa ini…” tangan Tiffany berhenti ketika ia merasakan benjolan kecil di samping kepalanya. Tubuhnya perlahan terbangun dan betapa terkejutnya Tiffany ketika menyadari bahwa  dirinya tidur diatas tubuh seorang pria yang hanya menggunaan celana boxer biru langit dengan ‘tenda’ yang kini udah menjulang gagah di selangkangan pria itu.

Tak ingin membangunkan pria yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya itu, Tiffany perlahan beranjak dari tempat tidur pria asing itu. Ia berjalan dengan pelan menuju cermin besar yang terletak tak cukup jauh dari ranjang.

“Oh Tuhan… apa yang sebenarnya telah terjadi..” Tiffany merasa panik seketika setelah melihat ia tidak mengenakan dressnya seperti tadi malam. Apalagi ketika ia melihat beberapa warna merah keunguan berbentuk bulat yang menghiasi leher indahnya.

“Tunggu… apa aku… oh tidak!” Tiffany rasanya ingin menangis mendapati kenyataan bahwa dirinya melakukan one night stand yang sebenarnya sangat dibencinya.

“No! bukan one night stand. Kemarin malam aku..” ingatan tentang pria yang menciumnya dengan kasar dan merusak dressnya kini muncul di memori Tiffany. Semuanya bagai kaset rusak yang bermain di kepalanya. Tiffany ingin muntah jika mengingat lagi bagaimana pria brengsek itu mencoba untuk memperkosanya.

Seketika amarah itu muncul. Tiffany berjalan menuju pria yang masih begitu nyenyak dalam tidurnya. Ia akan menampar pria itu namun tangannya terhenti ketika dirinya mulai ingat bahwa wajah pria yang ada bersamanya sekarang terlihat berbeda dengan pria yang ingin memperkosanya.

“Jika bukan dia.. lalu apa yang kulakukan disini? Mengapa aku hanya memakai ini dan dia tidur bersamaku?” Tiffany putarkan pandangannya pada kaus oblong putih yang dikenakannya lalu pada tubuh pria yang terlihat tersenyum dalam bunga tidurnya.

 

“Kau pergi begitu saja bahkan setelah aku menyelamatkanmu, Nona Hwang.” Balas Taeyeon dengan nada sedihnya.

“Tapi untung saja kita bertemu lagi di coffee shop! Sepertinya memang sudah takdir kita untuk bertemu lagi, Nona Hwang.” Tiffany menutup kedua matanya mendengar ucapan itu.

 

BRUGGHH!

“Aww….” Kedua mata Tiffany perlahan terbuka ketika mendengar rintihan itu. Pupilnya segera membesar mengetahui bahwa tubuhnya kini berada di atas seorang pria yang wajahnya masih belum bisa ia lihat karena kepalanya saat ini masih bersender di dada pria yang menjadi penyelamatnya.

“Kau baik-baik saja, Nona?” kalimat itu yang terdengar ketika Tiffany mencoba bangun dari atas tubuh pria yang entah mengapa terasa begitu nyaman untuk ia tiduri. Rasa panik kini menghampiri ketika Tiffany menyadari bahwa kemeja putih yang dipakai pria yang bertabrakan dengannya tadi sudah dipenuhi warna gelap dari es kopi hitamnya.

“Maafkan aku Tuan..” Tiffany segera bangkit dan membungkukkan tubuhnya pada pria yang  anehnya malah tersenyum seperti orang gila, membuat  bulu-bulu halus di tubuhnya mulai berdiri.

“Omo.. dia..” wajah itu segera Tiffany sembunyikan dari pria yang kini sudah berdiri dihadapannya.

“Nona.. kau masih mengingatku?” pria itu memiringkan kepalanya mengikuti ke arah wajah Tiffany disembunyikan. Keterkejutan itu muncul tak kala kedua mata coklat madunya itu menatapnya penuh dengan kebahagiaan dan tanda tanya didalamnya.

‘Matanya… begitu indah. Tidak! Bukan itu Tiffany Hwang! Kau harus bersikap biasa. Jangan seperti seorang remaja ababil. Kau sudah 29 tahun. Tenanglah. Anggap saja kau tidak pernah bertemu dengannya dan ini adalah pertama kali kalian bertemu. Ya.. seperti itu saja dan semuanya akan baik-baik saja.’ Ucap Tiffany dalam batinnya sementara pria yang sejak tadi menatapinya hanya tersenyum melihat wanita yang diselamatkannya itu terlihat begitu cute terlihat sibuk memikirkan sesuatu dan sepertinya ia tahu apa.

“Maaf… apa kita pernah bertemu sebelumnya? Apa aku mengenalmu?” dengan tenang Tiffany berbicara pada pria yang malah semakin melebar senyumannya melihat tingkah wanita di hadapannya.

“Aku Kim Taeyeon.. senang bisa bertemu denganmu Nona…”

“Tiffany.. Tiffany Hwang.”

“Ah ya.. Nona Hwang. Dan ya.. kau benar kurasa kita belum pernah bertemu. Maafkan aku.”

“Ah.. baiklah. Kalau begitu aku permisi Tuan Kim..”

“Euhmm Nona Hwang?!”

“Ya?”

“Kapan aku bisa mengambil kaosku?”

“Oh itu.. kau bisa mengirimkan alamatmu. Supirku akan… Oh Tuhan!”

“Senang bertemu denganmu lagi, Tiffany Hwang.”

 

“Tuan Kim.. bisa kau berikan teleponnya pada sekretarisku?”

“Nona Chayeon.. Nona Hwang ingin berbicara padamu sepertinya.”

“Ya.. Miss Hwang?”

“Chayeon.. bawa Tuan Kim masuk ke ruanganku.”

.

.

.

“Tuan Kim.. aku sudah..”

“Taeyeon.. kau bisa memanggilku itu, Tiffany-shi.”

“Ah baiklah Taeyeon-shi. Jadi begini.. aku sudah beberapa kali menolak untuk bertemu denganmu tapi kenapa kau begitu keras kepala ingin bertemu denganku?”

“Well… apa aku harus memiliki alasan khusus untuk bertemu denganmu?” dengan coklat madunya yang polos dan menawan, Taeyeon bertanya dalam senyuman tampannya.

“Tentu!” sahut Tiffany sedikit menunjukan kekesalannya.

“Ahahaha.. tenang-tenang. Jangan emosi seperti itu Nona Hwang.. kau semakin terlihat cantik jika seperti itu.”

‘Dan aku tidak bisa menahan diriku lagi jika kau seperti itu Tiff.. Ah.. celanaku sesak sekali rasanya!’ gerutu Taeyeon dalam hatinya.

“Maafkan aku.” Permintaan maaf itu terdengar begitu tulus dan cute bagi Taeyeon.

“Hahaha it’s okay. Jika kau ingin tahu mengapa aku selalu ingin menemuimu.. mengapa kau tidak makan malam denganku lusa?” senyum seringainya yang tampan dan menggemaskan itu sepertinya tak mempan bagi  Tiffany.

“Apa? Tuan Kim… kau…” Tiffany speechless mendengar penawaran dari pria yang terlihat begitu percaya diri dan telihat arogan dihadapannya.

“Aku akan menjemputmu jam 7 malam tepat di apartemenmu. Sampai jumpa nanti Nona Hwang!” dengan itu Taeyeon berbalik dan berjalan meninggalkan Tiffany yang terdiam menahan kekesalan dan amarah di tempatnya.

==== Encounter====

“Hai Bestie! Mengapa kau stress sekali?” Jessi melangkah menghampiri sang sahabat yang terlihat seperti orang gila dengan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Hahaha Jessi benar! Kau terlihat seperti orang gila!” Sook menyusul dari belakang bersama Jinkyung yang mengekor dibelakangnya.

“Sook Unnie, maknae kita jadi mirip sepertimu hahaha.” Ucap Jinkyung ikut berkomentar.

“Unnie…. Kau tidak boleh terlalu jujur seperti itu.” Hyorin berbicara dengan entengnya yang mendapat tatapan tajam dan membunuh dari Sook.

“Yah kalian semua! Adik kita sedang stress seperti ini kalian malah saling mengejek. Mengapa tidak kita hibur dengan makanan yang kita bawa?” Miran segera membawa Tiffany berdiri dari kursi kerjanya menuju sofa dan meja berisi berbagai makanan yang mungkin dapat memperbaiki suasana hati wanita bermarga Hwang itu.

.

.

.

“Sudah kenyang?” Miran bertanya pada wanita yang memberikan senyum bulan sabitnya masih dengan kue beras yang ada di mulutnya. Hyorin mengelus puncak kepala Tiffany yang semakin senang begitu diperhatikan oleh para sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.

“Baiklah.. sekarang coba ceritakan apa yang mengganggu pikiranmu.” Setelah melihat Tiffany menyelesaikan makanannya, Miran mulai berbicara yang mendapat anggukan dari teman-teman lainnya.

“Kami siap mendengarkan Fany-ah.” Jessi berucap dengan senyuman manisnya dibalik penampilannya yang terlihat begitu garang.

“Siapa tahu salah satu dari kami dapat memberimu solusi, benarkan?” Jinkyung ikut berbicara menyambung apa yang Jessi ucapkan tadi.

“Jinkyung Unnie benar sekali. Jadi ceritakanlah.. jangan ragu. Kami ada disini untukmu.” Ucap Hyorin yang mendapat persetujuan dari yang lainnya. Tiffany mengedarkan pandangannya pada semua yang ada bersamanya saat ini dan jujur ia merasa senang, terharu dan bersyukur sekali memiliki sahabat seperti mereka.

“Baiklah aku akan menceritakannya. Jadi begini, 2 bulan yang lalu aku pergi ke sebuah club yang Jessi rekomendasikan padaku.”

“Heaven Moor?” tanya Jessi dengan keseriusan yang mulai nampak di wajahnya.

“Iya. Disana aku mencoba untuk melepaskan semua lelah, penat dan stressku dengan meminum berbagai minuman beralkohol yang anehnya benar-benar bisa membuatku mabuk. Kalian tahu kan bagaimana kuatnya aku dalam hal minum?”

“Lalu?” Sook bertanya.

“Lalu.. aku mulai menggila sepertinya dengan berdansa dan menari sesuka hati bersama siapapun yang ada didekatku. Aku kurang ingat wajah mereka saat itu. Yang aku ingat aku hanya bersenang-senang disana hingga ada satu laki-laki yang membawaku menuju tempat sepi yang membuatku mendapat firasat buruk bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak baik padaku.”

“Omo! Apa yang terjadi selanjutnya Fany-ah?” Jessi bertanya dengan wajah seriusnya yang sejujurnya cukup menyeramkan.

“Pria brengsek itu hampir saja memperkosaku. Aku tidak tahu dan tidak mau mengingat  bagaimana detailnya peristiwa itu terjadi. Untungnya ada ada pria lain yang menolongku. Tapi..”

“Tapi apa?” tanya Hyorin penuh dengan rasa penasaran.

“Dia menolongku tapi aku tidak ingat bagaimana. Yang aku tahu aku sudah berada di pelukannya pagi itu dengan kaos oblong miliknya yang sempat membuatku kaget dan panik sehingga aku segera kabur saat itu.”

“Omo.. jadi setelah menyelamatkanmu.. dia menidurimu? How gentleman he is..” sindir Jinkyung yang segera mendapat gelengan kepala dari Tiffany.

“Tidak.. bukan seperti itu Unnie.”

“Lalu?” Kini giliran Miran yang bertanya pada adik termudanya itu.

“Setelah kabur darinya… beberapa hari kemudian aku bertemu dengan pria yang menyelamatkanku lagi di coffee shop. Aku berpura-pura tidak mengenalnya ketika dia menyapaku saat itu. Awalnya itu berhasil. Hanya saja ketika aku pamit, dia memanggilku dan menanyakan tentang kaosnya yang kupakai ketika aku kabur darinya pagi itu.”

“Hahaha lalu kau secara tidak sengaja membuka penyamaranmu dengan menjawabnya?” anggukan dari Tiffany membuat Miran dan yang lainnya tak bisa menahan tawanya sementara yang ditertawai hanya mendengus kesal mendengarnya, menyadari kebodohan dan kecerobohannya yang membuatnya menjadi seperti sekarang.

.

.

.

“Tapi Fany-ah.. mengapa kau mabuk-mabukan seperti itu? Itu sangat tidak seperti dirimu sekali…” Hyorin berhenti tertawa dan mulai kembali ke mode serius tapi santainya.

“Ahh… aku… waktu itu aku..”

“Dimana pria itu?” Tiffany masih duduk sambil sesekali melihat jam tangannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu pria yang menjadi teman kencannya yang disiapkan oleh Hyorin.

“Apa lebih baik aku telepon saja ya? Ah ya… baiklah.” Tiffany mulai menghubungi nomor yang Hyorin berikan padanya kemarin. Beberapa menit ia menunggu jawaban dari nomor yang dipanggilnya namun panggilannya malah dijawab oleh operator telepon.

“Ishh.. kemana pria itu?!” gerutu Tiffany yang mulai kesal dengan teman kencannya yang tak kunjung datang juga.

“Ah.. sudahlah! Lebih baik aku pergi saj..” lidah Tiffany terasa kelu ketika melihat seseorang yang begitu familiar baginya baru saja memasuki café tempat dirinya berada. Ia segera menutupi wajahnya dengan buku menu.

“Appa… aku ingin duduk di pangkuanmu..” seorang anak perempuan berusia sekitar 4-5 tahunan merengek manja pada pria yang sedari tadi berjalan menggenggam tangannya.

“Euna-ah.. bagaimana Appa bisa makan jika kau duduk di pangkuannya?” seorang wanita yang terlihat begitu cantik dengan pakaian santai dan sedikit formalnya berbicara membuat nama yang dipanggilnya tadi memberengut.

“It’s okay Sayang, biarkan Euna duduk di pangkuanku.”

“Tapi Oppa..”

“Aku kan masih bisa makan karena kau yang akan menyuapiku nanti, Sayang. Bukan begitu Euna-ah?”

 

“Apa?!!! Kau bertemu dengan mantan calon suamimu? Im Yoonan?” terlihat keterkejutan dan kekhawatiran di wajah Jinkyung yang sepertinya sama seperti yang lainnya.

“Tentu saja Jinkyung Unnie, memang siapa lagi?” canda Jessi yang mendapat pukulan kecil di kepalanya oleh Jinkyung.

“Lalu bagaimana? Apa kau menyapanya?” tanya Hyorin yang membuat fokus semuanya kini kembali pada Tiffany.

“Euh… untuk itu aku..” Tiffany sedikit menundukan kepalanya dan menutup kedua matanya mengingat lagi hal yang sebenarnya tak ingin diingat oleh akalnya, namun hatinya berkata lain.

“Appa! Aku ingin bermain bersama Sungjae dan Rohui!” Euna tersenyum begitu senang ketika Yoonan memberinya izin untuk bermain bersama teman-temannya di taman.

Selepas makan siang, Yoonan dan keluarga kecilnya memutuskan untuk menghabiskan sore mereka di taman yang terletak tidak terlalu jauh dari rumah mereka.

“Oppa.. mengapa kau begitu memanjakan Euna? Itu tidak baik.” Soojung mulai berbicara memecahkan keheningan diantara dirinya dan sang suami yang malah tersenyum begitu hangat padanya, membuatnya sedikit mengalihkan tatapannya karena ia tidak mau terjebak dalam jebakan yang sedang sang suami buat untuknya.

“Sayangku Soojungie.. mengapa kau menghindar dariku?” Bujuk Yoonan yang mulai membawa istrinya dalam pelukannya.

“Oppa.. mengapa kau seperti ini? Kau tahu kan aku tidak bisa marah padamu jika kau seperti itu.” Keluh sang istri yang membuat Yoonan tertawa begitu merdu.

.

.

.

“Oppa.. aku bersyukur sekali Euna bisa tumbuh menjadi gadis kecil yang sehat dan normal meskipun dulu aku… aku hampir saja membunuhnya.” Soojung merunduk malu dan sedih mengingat lagi kebodohan dan kesalahan fatal yang hampir saja dibuatnya dulu sewaktu mengandung Euna.

“Shusst Sayang.. itu semua terjadi di masa lalu. Kau tidak perlu menyesalinya. Yang penting sekarang kau sudah dan akan selalu mencoba menjadi ibu yang terbaik bagi putri kita.” Tangan itu Yoonan bawa dalam genggamannya. Ia berusaha menghapuskan rasa bersalah sang istri dan menenangkannya. Mereka berdua kini sedang duduk di bangku taman sembari melihat Euna yang terlihat begitu bahagia bermain bersama teman-temannya.

“Euhm.. terimakasih Oppa. Kau benar. Tapi.. sebenarnya aku harus berterimakasih pada Tiffany Unnie.” Senyum kecil mulai menghiasi wajah cantik Soojung.

“Tiffany?” Yoonan berkata dalam tanya dan rasa penasarannya.

“Eheum. Dialah yang membuatku membatalkan niatku untuk menggugurkan Euna saat itu.” Dengan senyum penuh nostalgianya.. Soojung berbicara.

“Bagaimana dia bisa..” Sesuatu yang familiar kini mulai bermain didalam hati Yoonan. Pria bermarga Im itu tidak bisa melanjutkan lagi kalimatnya karena rasa itu terlalu kuat dan perlahan mulai menguasai dirinya. Mengerti dengan kondisi suaminya, Soojungmulai kembali berbicara.

“Tiffany Unnie yang mencegahku ketika aku akan meminum cairan peluruh janinku. Dia juga yang memintaku untuk menjaga Euna dan kembali padamu.” Yoonan sedikit terdiam setelah mendengar hal yang baru saja diungkapkan istrinya.

Jujur Yoonan kaget mengetahui hal ini karena setahu dirinya.. Tiffany seakan memutus semua kontak setelah pernikahan mereka batal dan perpisahan itu terjadi. Yoonan hanya mendengar kabar tentang mantan kekasihnya itu dari surat kabar, majalah dan media informasi lainnya sejak Tiffany menjadi seorang pebisnis di bidang Fashion yang sangat sukses, jauh lebih sukses ketika wanita yang akan selalu menjadi pembelajaran terbaiknya itu menangani perusahaan keluarganya bersama Yoonan.

“Oppa.. apa kau merindukannya?” Soojung bertanya dengan senyum lembutnya seraya membawa wajah suaminya itu untuk berhadapan dengannya.

“Merindukannya? Maksudmu?” Yoonan terlihat sedikit tersesat dengan pertanyaan yang diberikan oleh istrinya.

“Tiffany Unnie…” genggaman tangan itu semakin menguat, membuat Yoonan mengalihkan pandangannya dari sang istri yang mengerti dengan apa yang dirasakan suaminya saat ini.

“Aku..” bunyi dering telepon terdengar. Yoonan dan Soojung segera mengalihkan perhatian mereka pada sumber suara itu. Mata mereka berpencar mencari dering telepon yang sepertinya berasal dari pohon besar di belakang bangku tempat mereka duduk saat ini.

“Oppa! Bukankah itu..” Mata Soojung tertuju pada seorang wanita yang berjalan begitu cepat dari pohon besar tadi. Wanita itu sedikit menoleh kebelakang dan sedikit terkejut ketika mengetahui Yoonan dan Soojung mengetahui keberadaannya. Langkah cepat itu segera berganti menjadi lari kecil yang membuat jarak mereka semakin menjauh.

“Fany-ah..” Rasanya jantung Yoonan akan lepas ketika melihat wanita yang selama ini masih berada dalam pikirannya.

“Oppa.. apa kau akan diam saja?” ucapan Soojung seperti membangunkan Yoonan dari lamunannya.

“Aku.. Sayang.. bolehkah aku mengejarnya dan berbicara dengannya?”

“Tentu. Kejarlah Unnie, Oppa. Jelaskan semua dan selesaikanlah apapun yang mengganjal di hati kalian.” Mendengar jawaban itu dan senyuman yang sang istri berikan padanya, Yoonan segera berlari mengejar Tiffany yang mulai semakin jauh dari jangkauannya.

.

.

.

“Fany-ah… bolehkah aku berkata sesuatu?” Yoonan dan Tiffany kini duduk di bagian lain taman yang tak  cukup jauh dari tempat Soojung dan Euna berada.

Setelah mengejar wanita yang mencoba kabur darinya, akhirnya kini Yoonan bisa membawa Tiffany untuk duduk berdua, berbicara empat mata. Meskipun sempat menolak, akhirnya Tiffany mau juga berbicara dengan Yoonan yang terlihat begitu memohon padanya.

“Apa.. yang ingin kau.. katakan?” nada bicara Tiffany terdengar sedikit kaku dan Yoonan sadar akan hal itu. Ia tersenyum sedih menyadari kecanggungan yang tak coba Tiffany sembunyikan darinya.

“Aku… merindukanmu.” Kedua mata Tiffany membulat mendengar ucapan itu.

“Yoonan-ah..” Yoonan membawa kedua tangan mantan kekasihnya itu dalam genggaman hangatnya yang membuat Tiffany tak tahu harus berkata apa atau merasa apa.

“Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Hanya kabarmu saja yang terdengar dari media.” Kedua mata Yoonan menyayu dalam sendu berbalut rindu.

Tiffany mencoba menundukan tatapannya namun tekanan yang Yoonan berikan di kedua tangannya membuat pandangannya tak berhasil menghindar dari mata coklat madu hangat dan lembut yang selalu berhasil membawa ketenangan yang dirindukannya.

“Ah itu.. aku..” rasanya.. Tiffany sudah tidak tahu lagi apa yang sedang dirasakan oleh hatinya saat ini.

“Kau ingin tahu sesuatu?” kedua mata itu menatap Tiffany begitu dalam diiringi senyuman manis khas Yoonan yang begitu ia rindukan.

“Heuh?” hanya kata itu yang berhasil terucap dan Yoonan tertawa kecil mendengarnya.

“Aku mencintaimu..” Yoonan mengungkapkannya begitu ringan dan santai, tanpa beban apapun sementara yang mendengarnya terlihat terkejut.

“Im Yoonan…” Tiffany menggelengkan kepalanya pelan seakan tak mau lagi mendengar apapun yang akan mantan kekasihnya itu ucapkan padanya.

“Aku mencintaimu sebagai masa laluku yang begitu berharga sehingga aku tidak ingin menghapusnya. Kau adalah titipan dari Tuhan yang membuatku yakin bahwa manusia baik itu masih ada. Maafkan aku yang dulu selalu menyakitimu dengan semua kebohonganku. Maafkan aku yang telah membalas semua kebaikanmu dengan pengkhianatan dan semua dusta yang jujur… hingga detik ini masih menjadi beban yang mengganjal dihatiku. Maafkan aku Fany-ah.. maafkan aku.” Kedua mata Yoonan yang berair itu meneriakan sebuah kejujuran yang membuat Tiffany tak kuasa menahan linangan air matanya.

“Yoong..” tenggorokannya terasa begitu kering. Suaranya seakan tercekat, terhalang sesuatu yang membuat tangis itu ingin pecah bersama semua rasa yang tersembunyi didalamnya.

“Kau adalah masa lalu yang ternyata aku cintai sedangkan Soojung dan putriku… mereka adalah masa kini serta masa depanku yang akan selalu kujaga dan kukembangkan.. sama seperti cinta yang kau berikan padaku dulu jika saja aku….” Butiran bening kristal dan hangat itu kini juga menghiasi wajah Yoonan yang tak bisa lagi menahan linangan air matanya.

Ini adalah ketiga kalinya ia benar-benar meneteskan air matanya. Pertama saat dirinya dan Soojung mengikat janji pernikahan, kedua saat Euna lahir dan ketiga.. saat ini, ketika wanita yang dulu begitu mencintainya dan memberikan semua untuknya berdiri dihadapannya dengan tangisan dalam diam yang tak bisa lagi disembunyikannya.

“Yoonan-ah.. semuanya telah terjadi. Kau dan aku telah memetik pelajaran berharga dari semua yang telah terjadi di masa lalu.” Dalam tangisnya, Tiffany tersenyum kecil lalu berbicara.

“Fany-ah..”

“Jika kau ingin menebus semua kesalahanmu… maka tolong jawab pertanyaan ini dengan sejujur-jujurnya. Apa kau bahagia saat ini? Benar-benar bahagia?” Yoonan terdiam mendengar pertanyaan itu. Kedua matanya mulai menatap wanita dihadapannya dengan semua rasa yang selama ini tertahan dihatinya.

Dalam diam… kedua mata mereka berbicara.

Dalam diam.. hati mereka mulai membuka lagi semua rasa yang sempat tertunda.

Dalam diam.. kejujuran itu mulai menampakan dirinya.

 “Aku bahagia Fany-ah. Aku bahagia. Karenamu.. aku bisa merasakan semua kebahagian ini, terimakasih.”

“Kalau begitu.. kau tidak usah khawatir. Kau tahu.. alasanku dulu melepasmu adalah karena aku ingin kau bahagia. Kebahagiaanmu.. adalah kebahagiaanku juga. Jadi.. mengetahui bahwa kau bahagia dengan semua yang kau miliki saat ini… aku bahagia, Yoonan-ah.” Senyum seperti bulan sabit itu Tiffany berikan pada pria yang semakin menggengam tangannya begitu erat dan hangat.

 

“Oh Tuhan… pantas saja kau..” Sook terlihat speechless dan tidak bisa lagi melanjutkan kata-katanya, sama seperti Hyorin, Jessi, Jikyung dan Miran yang terdiam di tempat mereka tak bisa berkata apapun. Mereka tahu bagaimana sulitnya bagi Tiffany untuk melepas pria yang bahkan hingga hari ini masih dicintai oleh wanita bermarga Hwang itu. Mereka tahu bagaimana terpuruknya Tiffany setelah melepas Yoonan pada Soojung. Mereka tahu betapa bodoh dan baiknya sahabatnya itu dengan berpura-pura tegar dan baik-baik saja melepas Yoonan yang telah menjadi impian Tiffany sejak lama.

“Aku senang mengetahui bahwa Yoonan sudah bisa memperoleh kebahagiaan itu bersama keluarga barunya. Tapi jujur.. aku juga tidak bisa menutupi rasa sedih, cemburu dan kesal yang berubah menjadi sebuah rasa frustasi. Semua itu menggangguku sehingga aku merasa perlu untuk melepaskannya.”

“Apa semua itu sudah terlepaskan?” tanya Jessi yang tidak bisa menutupi kesedihan di wajahnya setelah mendengar cerita sahabatnya itu.

“Sedikit.. Aku merasa lebih baik saat ini. Tapi…”

“Tapi?” Jessi kembali bertanya.

“Kau merasa terganggu dengan pria yang menyelamatkanmu itu? Ada apa dengannya? Bukankah dia baik sudah menyelamatkanmu? Siapa namanya?” Kini giliran Miran yang bertanya.

“Kim Taeyeon…” jawab Tiffany dengan suara kecilnya.

“Kim Taeyeon… tunggu! Aku seperti pernah mendengarnya. Fany-ah.. bolehkah aku menanyakan tentang pria itu pada kenalanku?” melihat anggukan sahabatnya itu, Jessi segera menghubungi seseorang di teleponnya dan berbicara cukup lama dengan orang itu. Dilihat dari ekspresi wajahnya, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres yang membuat semua mata kini menatap Jessi dalam tanya tapi tidak dengan Tiffany yang malah sibuk memikirkan cara bagaimana mengusir Taeyeon dari hidupnya.

==== Encounter====

Sebuah Volkswagen Scirocco silver kini berhenti di halaman luar  restoran yang terlihat begitu mewah dan berkelas. Pengemudi mobil sedan itu segera keluar dan membukakan pintu bagi teman kencannya malam ini. Dari dalam mobil itu turun seorang wanita dengan gaun malam coklat muda keemasan sederhananya yang terlihat begitu indah dan elegan. Pria itu tersenyum mengecup puncak tangan kanan wanita yang tersenyum kecil menerima perlakuan manis dan gentleman dari pria yang menjadi teman kencannya malam ini.

“Kau terlihat begitu cantik malam ini, Nona Hwang.” Puji Taeyeon yang tak bisa melepaskan tatapan dari Tiffany.

“Ah.. terimakasih tapi kau sudah mengatakan itu berkali-kali, Tuan Kim.” Tawa kecil itu terdengar dari Tiffany.

“Hahahaa.. benarkah? Well.. maafkan aku kalau begitu. Shall we go inside and enjoy our dinner date?”

“Of course, Mr. Kim… lead the way.”

.

.

.

Taeyeon dan Tiffany kini sedang duduk di salah satu meja restoran yang terkenal dengan hidangan Italianya yang khas di seantero Korea. Keduanya menyantap berbagai makanan mulai dari hidangan pembuka hingga kini hidangan penutup dengan nyaman dan tenang, tidak beradu argument seperti biasanya.

 “Taeyeon-shi…”

“Yes?”

Ajaibnya.. hari ini Tiffany terlihat berbeda. Ia lebih banyak diam dan mengikuti apapun yang Taeyeon katakan padanya. Maksudnya Tiffany lebih mengikuti alur pembicaraan yang berusaha Taeyeon bangun diantara mereka agar suasana tidak canggung dan memanas seperti biasanya.

 “Mengapa kau tidak memakan panna cotta-mu?”

Taeyeon senang mengetahui bahwa wanita yang sudah beberapa bulan ini menjadi perhatiannya itu terlihat menikmati semua makanan yang tersaji. Ia lebih senang ketika Tiffany mau menerima dan menyambut usahanya untuk membuat acara malam ini berjalan lancar sesuai dengan yang sudah ia rencanakan.

“Ah… ya.. benar. Aku akan memakannya.”

“Hahaha.. kau aneh sekali. Apa panna cottanya tidak enak?” tanpa seizin Taeyeon, Tiffany mengambil sesendok dessert khas dari Italia itu dan menyuapkan ke mulutnya.

“Heumh.. ini lezat sekali.”

“Kau mau lagi? Biar aku pesankan untukm..”

“Tidak usah, ini sudah cukup.” Tiffany tersenyum kecil sebelum menikmati kembali Baba au Rhum miliknya.

 “Euhm Taeyeon-shi.. bukankah kau akan memberitahuku alasan mengapa dirimu selalu ingin menemuiku?” Taeyeon sedikit terdiam mendengar pertanyaan itu sebelum akhirnya tersenyum dan kembali menikmati hidangan penutupnya.

“Tentu. Tapi… bisakah kita habiskan dulu makanan kita ini?” tanya Taeyeon yang mendapat persetujuan dari wanita yang duduk dihadapannya.

.

.

.

“Kita boleh berada disini?” Tiffany bertanya sembari mengedarkan pandangannya memindai berbagai bunga dan tanaman hias yang berada di taman belakang restoran itu berada. Tadi ia melihat hanya  private only yang boleh masuk kesini dan ia berpikir mengapa Taeyeon bisa membawanya ke tempat yang begitu indah ini.

“Tentu saja. Ini.. adalah ruang pribadiku.” Taeyeon mempersilakan Tiffany untuk duduk di sofa rotannya yang sudah dimodifikasi agar senyaman mungkin bagi penggunanya.

“Ruang pribadi? Maksudmu kau..” Tiffany kini sudah duduk di tempat yang Taeyeon sediakan baginya. Sofa ini terasa nyaman sekali. Rasanya ia bisa merebahkan tubuhnya dan tertidur disana sekarang juga, melepas semua lelahnya.

“Aku adalah pemilik restoran ini, Nona Hwang.” Kini Taeyeon duduk disamping Tiffany dan menatap wajah wanita disampingnya itu dengan kesungguhan.

“Benarkah?” Tanya Tiffany dengan wajah penasarannya yang terlihat cute sekali  sehingga Taeyeon tak kuasa menahan tawa kecilnya.

“Well.. kita tidak akan berada disini jika aku sedang berbohong padamu.” Tiffany terdiam sembari mengangguk-anggukan kepalanya ringan mendengar fakta baru tentang pria dihadapannya yang masih terlihat begitu tampan dengan brown suits yang memeluk tubuh atletisnya begitu sempurna.

images (49)

Bayangin aja ini baju yang dipakai Taeyeon yaaaa 🙂

Tiffany menggelengkan kepalanya menyadari hal berbahaya yang sedang dilakukannya yaitu mengecek tubuh layaknya dewa-dewa Yunani itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

“Oh ya.. tunggu sebentar! Aku yakin kau akan menyukai apa yang kusiapkan untukmu.” Dengan itu Taeyeon berdiri menuju sebuah pintu kamar yang terlihat begitu klasik dan terawat jika dilihat dari luar. Tiffany menunggu teman kencannya itu menyiapkan sesuatu untuknya sembari menatap pemandangan indah yang bermain didepan matanya.

.

.

.

“Alasanku selalu menemuimu adalah… karena aku tidak bisa melupakanmu.” Tiffany berhenti menyesap anggurnya dan mengalihkan fokus tatapannya pada Taeyeon yang masih menikmati anggur merah di gelasnya.

“Malam itu.. sebenarnya aku sudah melihatmu jauh sebelum pria brengsek itu mencoba untuk memperkosamu. Kau berdansa begitu panas dan cukup liar bersama salah satu sahabatku, Gray. Apa kau mengingatnya?” kini giliran Taeyeon yang mengalihkan pandangannya dan memberikan wanita di sampingnya itu senyum manisnya.

“Mungkin kau sangat mabuk ya malam itu sehingga sulit untuk mengingatnya. Kau tahu… saat kedua mataku melabuhkan pandangannya padamu… aku tahu bahwa kau… adalah wanita yang kucari selama ini untuk menjadi pasangan hidupku.” Alis itu sedikit Tiffany kernyitkan ketika ia mendengar semua yang Taeyeon ungkapkan padanya.

“Taeyeon-shi… apa kau yakin? Maafkan aku tapi.. kau belum mengenalku dengan baik namun kau sudah berkata seperti itu. Ini terdengar seperti sebuah bualan yang hanya akan terjadi di cerita fiksi romantis atau semacamnya. Apa kau yakin kau bukan penulis?” Taeyeon tersenyum dan tertawa mendengar apa yang baru Tiffany ucapkan padanya.

“Kenapa kau tertawa? Apa aku adalah lelucon bagimu?”

“Oh.. tidak-tidak. Bukan seperti itu maafkan aku. Hanya saja apa yang kau ucapkan tadi membangun tawaku. Maafkan aku, Nona Hwang.”

“Sudahlah. Taeyeon-shi.. kau belum melihat sisi terbaik dan terburuk dari diriku. Bagaimana kau yakin bahwa aku akan menjadi pasangan yang baik untukmu?”

“Karena aku percaya Tuhanlah yang sudah menyiapkan dirimu dan pertemuan kita. Jika aku belum sempat melihat semua sisi dari dirimu.. maka izinkan aku untuk menelusurinya.”

“Kau… tidak akan menyerah meskipun aku sekarang menolakmu kan?”

“No.. never. Give up and failure is not an option for me.”

“Wow.. such a strong faith you have. Heumh.. baiklah. Aku akan memberikanmu kesempatan itu. Hanya saja… ada syarat yang harus kau penuhi sebelum kau bisa benar-benar mendekatiku.”

“Apa itu?”

“Dalam waktu 100 hari.. kau harus bisa membuatku jatuh cinta padamu. Jika kau berhasil.. aku akan mengabulkan apapun permintaanmu.”

“Apapun? Bahkan jika aku memintamu menjadi istriku?”

“Yeps.. apapun, bahkan jika kau memintaku menjadi istrimu.”

“Yes!”

“Tapi.. jika kau gagal, maka kau harus melupakanku dan benar-benar pergi dari hidupku. Kau harus berhenti menggangguku, Taeyeon-shi.” Taeyeon terdiam dan terlihat benar-benar memikirkan tawaran yang Tiffany berikan padanya. Cukup lama ia terdiam sebelum akhirnya tersenyum pada Tiffany yang menatapnya heran.

“Tidak.. aku tidak mau.” Taeyeon berucap dengan penuh keyakinan sementara wanita disampingnya terliha cukup terkejut meskipun dengan senyum kemenangan yang mulai menghiasi paras cantiknya.

.

.

.

“Kau tidak mau menerima persyaratanku? Well kalau begitu sayang sekali. Jadi mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kit..”

“Aku tidak mau menyerah untuk mengejarmu dan menjadikanmu milikku. Maka dari itu aku menerima persyaratanmu.”

“Apa?!”

“Dalam 100 hari… aku akan membuatmu benar-benar jatuh hati dan jatuh cinta padaku, Tiffany Hwang.”

.

.

.

.

.

THE AND

.

.

.

.

.

ETERNITY NOTE:

Hallo my dear loyal reader and silent readers…

Apa kabar?

Semoga selalu baik dan menjadi lebih baik ya tiap harinya 🙂

Btw.. Selamat hari raya idul fitri 🙂

Pada mudik kemana? Pasti seru ya lebarannya 🙂

Sejujurnya akhir-akhir ini aku lagi kehilangan ide untuk nulis.

Tapi.. beberapa hari yang lalu ada seorang pembaca yang kirim email ke aku dan entah kenapa.. semangat buat nulis itu muncul lagi.

Jadi tulisan aku kali ini.. akan aku dedikasikan untuk beliau 🙂

Hahaha bahasanya dedikasi :p

Oh ya.. masih inget  cerita LIE|EIL , FINE|ENIF  dan  As long As You Happy kan?

Well.. cerita yang baru aja kalian baca tadi adalah kelanjutan dari semua judul yang sudah aku sebutkan diatas.

Nanti juga aka nada bagian penutupnya yang belum tahu akan aku buat kapan hahaha.

Ide sih udah ada cuma waktu untuk mengembangkannya belum ada.

Lagipula aku sedang terserang penyakit MALAS 😦

Jadi doakan aku semoga cepat sembuh ya!

Iklan

21 pemikiran pada “Encounter (TAENY Version)

  1. Ping balik: ENCOUNTER (Taeny, Yulsic, Yoonfany & Yoonsic Version) | Perfect The Imperfection

  2. Kalau lihat pengorbanan Fany buat Yoong, aku jadi iri. Bisakah di dunia ini ada orang yang setulus itu? Yoong sudah mendapatkan kebahagiannya, Fany juga seharusnya berhak mendapatkan kebahagiannya. Semoga Taeng bisa membahagiakan Fany 🙏😃

  3. Cengo bacanya.. bukan flat sih pas awal baca ini ff, hanya mikir ke diri sendiri “qo bisa? Ini gaya tulisan gak pernah bosen buat gue inget😆😆 jujur awal pertama baca ff thor Yg my lady dan ampe ff ini tuh ngerasa banget klo gue suka dan nikmatin ini.. gue tipe orang Yg pemilih Yg harus ngebaca main castnya TAENY dan itu ampe saat ini ff Yg sllu gue baca taeny semua, so tolong di maklumi gaya gue ngebaca tulisan mu thor terserah mau bilang gue kayak apa tetep di terima qo karna gue nyaman setiap baca ff taeny.. di wp ini ajj loh yg pernah gue baca selain main castnya taeny behh jujur kan gue😆😆 maaf ia gue baru nongol lagi di WP baru thor

  4. Ping balik: Password ENCOUNTER | Be Different

  5. Waaa.. Penasaran nih sama lanjutannyaaaa, gaya penulisannya gampang ke baca dan gak bikin bingung.. Semangat thor buat lanjutin ehehhe

  6. aku sll suka ceritamu thor apalagi yg berhubungan dgn taeny…walaupn akhirnya meraka g bsa sma2 .. tpi bisa mnghibur para Ls yg sll merindukan mereka..wkwkwk mksih thor atas ceritanya…ditunggu nextnya

  7. Ckkcck tulisan kakak selalu bagussss, kalimatnya luar biasaa..😍😍
    Tapi aku masih bingung kenapa ini dibilang lanjutan lie, fine ama as long as you happy.. 😁😂
    FIGHTING!!!💙💙💙

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s