LONELY

C5VrC6oVYAAIRyp

“Oppa.. maafkan aku. Sepertinya hari ini aku… euhm kita tidak bisa melakukan video call malam ini.”

“Kenapa?”

“Euhm.. hari ini aku ada kelas pengganti.”

“Hari ini? Tapi ini hari Sabtu, Mi, weekend. Waktunya kau untuk beristirahat. Jika kau kelelahan maka kau akan..”

“Iya, Oppa aku tahu. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Euhm Oppa, aku akan menghubungimu nanti sesampainya di rumah ya, bye.”

“Aku juga mencintaimu, Mi.” Kata itu, hanya Taeyeon yang mendengarnya karena sambungan itu sudah terputus bahkan sebelum sempat kekasihnya itu mengucapkan 3 kata simpel yang masih mampu menggeterkan hatinya seperti pertama kali ia jatuh cinta pada wanita bernama Hwang Miyoung.

.

.

.

“Sayang.. kau sedang apa? Bolehkah aku menelponmu?”

“Aku.. baru saja tiba di kamarku, Oppa. Tentu kau boleh menelponku. Hanya saja.. eumh.. aku merasa lelah sekali Oppa. Tadi banyak sekali tugas yang diberikan padaku baik di kantor maupun di kampus. Maukah kau menunggu setengah jam saja?”

“Kenapa?”

“Aku ingin cuci muka, makan dan berdoa lebih dulu sebelum nantinya aku mengantuk. Bolehkah?”

“Euhm.. yasudah. Tapi nanti jika kau sudah selesai, jangan lupa chat aku okay?”

“Okay Oppa.”

2 jam kemudian

“Oppa, mengapa kau belum tidur?” Seorang gadis yang terlihat terbangun dari tidurnya itu bertanya pada sang kakak yang masih memegangi ponselnya begitu erat di tangannya.

“Oh Hayeon-ah.. mengapa kau masih bangun? Bukankah besok pagi ada ujian?”

“Aku terbangun karena suara bising di kamarmu.”

“Ahh.. maafkan aku.”

“Oppa.. kau menunggu seseorang?” pandangan Haeyeon tertuju pada ponsel yang masih dipegang kakaknya.

“Ahh tidak. Aku hanya lapar maka dari itu aku tadinya akan menghubung….”

“Miyoung Unnie?”

“Miyoung?”

“Kau menunggu dia menelponmu kan?”

“Ahh..  itu..”

“Oppa.. ini bukan pertama kali aku melihatmu tidur larut karena menunggu Unnie meneleponmu. Bahkan aku beberapa kali mendapatimu hingga tertidur karena menunggu Unnie.”

“Hayeon-ah..”

“Oppa.. aku tidak melarangmu untuk berhubungan dengan Miyoung Unnie. Dia adalah wanita yang baik dan aku menyukainya. Tapi akhir-akhir ini.. Unnie seperti tidak menaruh perhatiannya lagi padamu. Ada apa Oppa? Apa terjadi sesuatu?”

“Euh itu.. Miyoung… dia.. sedang sibuk dengan tugas di kantor dan kampusnya. Maka dari itu dia mungkin kelelahan dan lupa meneleponku.”

“Oppa.. jika kau adalah prioritas utamanya, maka hal seperti ini tidak akan terjadi berkali-kali.”

“Dia hanya sedang sibuk.”

“Sibuk bukan menjadi alasan untuk melupakan janji yang telah dibuatnya padamu. Kata sibuk hanya dipakai oleh orang-orang yang tidak bisa mengatur waktunya. Sibuk hanya akan diberikan pada orang yang bukan menjadi prioritas kita.” Tegas Hayeon dengan kilatan amarah yang tergambar di wajah membuat Taeyeon terdiam menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh adiknya itu ada benarnya juga.

.

.

.

“Oppa..”

“………”

“Maafkan aku. Tadi malam aku ketiduran. Sepertinya aku kelelahan sekali Oppa. Tadi siang aku ikut bersama Tuan Nam mengecek progress pembangunan komplek apartemen Skylite. Setelah itu aku harus ikut rapat dengan Tuan Anthony untuk memeriksa kondisi keuangan perusahaan. Dan pulang dari kantor seperti biasa, aku harus ke kampus.

“….”

“Oppa… apa kau marah?”

“Sayang, jika kau ada di posisiku, apa yang kau rasakan?”

“Ak.. ak.. aku.. mungkin akan merasal kesal dan kecewa.”

“Karena?”

“Karena kau sudah berjanji untuk menghubungiku tapi kau mengingkarinya dan membiarkanmu menunggu semalaman.”

“Jadi.. kau tahu kan apa yang kurasakan sekarang?”

“Oppa..”

“Ini bukan kali pertama hal seperti ini terjadi. Dan aku… aku merasa lelah.”

“Oppa..”

“Sayang.. apa kau harus terus melakukan ini semua? Kau tahu.. akhir-akhir ini aku merasa tidak lagi berada dalam list prioritasmu. Kau selalu sibuk dengan pekerjaanmu, kuliahmu dan kegiatan organisasimu hingga kau sulit hanya untuk membalas pesanku.”

“Oppa maafkan aku, semua memang salahku yang mungkin kurang mengatur jadwalku dengan baik sehingga kau merasa seperti itu. Maafkan aku Oppa.”

.

.

.

“Oppa.. maafkan aku.”

“Ada apa, Mi?”

“Sepertinya aku tidak bisa menemuimu malam nanti.”

“Kenapa?”

“Aku tidak enak badan Oppa.”

“Kau sakit?”

“Euhm.. tidak tahu. Besok aku akan memeriksakannya ke rumah sakit. Oppa.. kau belum berangkatkan?”

Beberapa jam kemudian

“Oppa?” Miyoung baru saja terbangun dari tidurnya dan kaget mengetahui bahwa kekasihnya sedang membaca sesuatu di meja belajarnya.

“Oh.. kau perlu sesuatu, Sayang?”

“Aku.. haus Oppa. Bisakah kau membawakanku minum?”

“Okay. Kau tunggu disini ya.”

Beberapa menit kemudian

“Segelas air mineral untuk kekasihku yang masih tetap terlihat cantik meskipun sedang sakit.”

“Oppa….” Miyoung merajuk pada sang kekasih yang malah tertawa mendengar rajukannya.

“Hati-hati Sayang, nanti kau tersedak.” Balas Taeyeon tanpa memperhatikan rajukan kekasihnya.

“Heumh!!!” dengus Miyoung merasa sebal dengan prianya yang malah memberikan senyum manis nan menawannya.

.

.

.

“Sayang.. sudah merasa baikan?” Taeyeon bertanya pada sang kekasih yang menganggukan kepalanya sembari meneguk jus jambu merah yang dibawanya tadi.

“Lumayan Oppa. Aku tidak merasa pusing dan mual seperti tadi siang.”

“Syukurlah. Aku lega.”

“Oppa..”

“Ya, Sayang?”

“Terimakasih.”

“Untuk?”

“Untuk semuanya. Thank you, it’s all thanks to you.”

“Sayang..”

“Aku sangat berterimakasih padamu Oppa. Aku tahu kau kecewa karena aku membatalkan janji kita di menit-menit terakhir tapi kau masih menyempatkan dirimu menjengukku. Jika kekasihku tidak sebaik dirimu, aku tidak tahu apakah hubungan ini akan tetap bertahan hingga hari ini atau tidak.”

“Miyoung-ah, aku tahu ini juga berat untukmu. Kau dan perjuangan hidupmu selama ini, itu semua adalah akibat dari sikap pengecut ayahmu. Maka dari itu aku berjanji akan selalu mencoba untuk mengerti dirimu dan membahagiakanmu meskipun pada pelaksanaannya tidak sesempurna harapan dan niatku.”

Kata terimakasih itu bukan pertama kali kudengar darinya.

Aku tahu dia sangat bersyukur karena aku masih bertahan dengannya meskipun dengan kondisinya yang seperti ini. Aku tahu beban hidupnya lebih berat dari yang dia ceritakan padaku. Aku tahu selama ini ada sesuatu yang sengaja dia tutupi dariku.

Miyoung-ah.. apa kau pikir aku bodoh?

Mengapa kau selalu menanggungnya sendiri?

 

==== LONELY ====

 

“Miyoung-ah.. kau akan pulang dulu ke rumah hari ini?”

“Tidak tahu Eomma. Tapi sepertinya aku langsung pergi ke kampus karena ada beberapa tugas yang belum kukerjakan.”

“Oh.. baiklah. Kalau begitu Eomma akan menambah bekalmu untuk makan malammu.”

Terimakasih Eomma, kau memang ibu yang terbaik. Seandainya aku bisa mengungkapkan itu semua padamu secara langsung. Jika saja ego dan gengsiku mau mengalah sedikit saja.

.

.

.

“Sayang, kau sudah makan siang?”

“Belum. Apa kau sudah makan siang, Oppa?

“Aku baru saja selesai.”

“Yah! Kau curang….”

“Hahaha tadi Jessica mengajakku untuk mencoba kafe baru di dekat rumahnya. Kami makan pasta yang lezat sekali. Kau harus mencobanya nanti!”

“Heumh iya Oppa.”

“Sayang?”

“Oppa.. aku makan siang dulu ya. Aku akan menghubungimu nanti.” Dan teleponpun terputus sebelum Taeyeon sempat membalas ucapan kekasihnya itu.

.

.

.

“Ahhh akhirnya!” Taeyeon segera mendekatkan speaker ponselnya setelah melihat nama yang sejak tadi siang ia harapkan untuk bisa dihubungi atau menghubunginya.

“Sayang…”

“Hallo… maaf apa ini keluarga dari Nona Hwang Miyoung?”

“Saya adalah kekasihnya, Kim Taeyeon, maaf Saya berbicara dengan siapa saat ini?”

“Tuan Kim, Saya adalah Jang Bari, salah satu pengemudi bis yang ditumpangi oleh kekasih Anda. Saya ingin mengabari Anda bahwa Nona Hwang saat ini sedang berada di klinik XXXXX.”

“Apa? Bagaimana bisa, Pak?”

“Saya juga tidak tahu. Seingat Saya, Nona Hwang memang sudah terlihat begitu pucat dan lemas saat berjalan memasuki bis. Dia memilih untuk duduk di belakang. Saya tidak mengamati lebih jauh karena waktu itu bis masih cukup penuh dengan penumpang. Yang aneh adalah Nona Hwang tidak turun-turun meskipun bus yang Saya kemudikan telah  tiba di halte terakhir. Karena kondisi sudah sepi penumpang, waktu itu hanya ada saya dan Nona Hwang yang terlihat tertidur maka Saya berinisiatif untuk membangunkan kekasih Anda. Yang membuat Saya kaget adalah ketika Nona Hwang tidak kunjung  bangun juga ketika Saya mencoba membangunkannya. Ketika saya mencoba mengecek denyut nadinya, itu terasa begitu lemah. Maka dari itu Saya segera menghubungi petugas lain yang sewaktu itu ada di tempat kejadian. Kami segera membawa Nona Hwang ke klinik terdekat untuk mendapat pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut. Teman Saya menyarankan untuk segera menghubungi pihak keluarga dengan memeriksa ponsel Nona Hwang. Ternyata nomor Anda berada di urutan paling atas daftar panggilan dan disinilah Saya mencoba mengabari Anda tentang kondisi Nona Hwang.”

“Fany-ah…” ucap Taeyeon dengan kekhawatiran dan kesedihan setelah mendengar penjelasan tersebut.

“Tuan Kim lebih baik Anda segera datang ke XXX hospital agar bisa mengecek kondisi Nona Hwang yang sebenarnya.”

“Baik Pa. Tolong kirimkan alamat lengkapnya dan saya akan segera berangkat kesana. Terimakasih Pak.”

.

.

.

“Eunghh…” sebuah erangan terdengar dari seorang gadis yang baru saja terbangun dari tidurnya.

“Fany-ah.. Sayang, syukurlah kau sudah bangun.”

“Oppa..” suara itu terdengar begitu serak dan lemah.

“Iya Sayang?”

“Ak..aku.. min.. minum..”

“Oh baiklah, tunggu sebentar ya. Aku akan segera mengambilkannya untukmu.” Dengan itu Taeyeon segera mengambilkan segelas air mineral yang sudah tersedia di meja dekat ranjang kekasihnya berbaring saat ini.

“Minum pelan-pelan ya Sayang.” Tiffany mulai meneguk cairan bening dalam gelas yang masih dipegang oleh kekasihnya yang terlihat begitu hati-hati merawatnya.

Melihat sang kekasih yang sepertinya sudah tidak terlalu haus seperti tadi, Taeyeon segera membantu wanitanya itu untuk berada dalam posisi duduknya yang nyaman dan stabil, tidak seperti tadi. Setelah itu ia segera menyimpan gelas yang kini sudah kosong tak bersisa. Ditatapnya kekasihnya itu lekat dengan semua kata yang tertahan dalam hatinya.

“Fany-ah, apa kau.. sedang mengalami kesulitan?” akhirnya kata-kata yang tertahan itu keluar juga. Tiffany menatap kekasihnya itu dengan tatapan terkejutnya sebelum mencoba menjaga ekpresi wajahnya dan kembali terlihat biasa.

“Tidak Oppa, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir.” Suara Tiffany masih terdengar begitu lemas dengan suara serak yang menjadi pendampingnya membuat Taeyeon tak tega untuk menanyakan hal yang ingin ia ketahui.

“Sayang maafkan aku tapi dengan kau dan aku berada disini, ini bukan hal yang baik-baik saja. Kau sudah jelas sekali terlalu menekan dirimu ke titik dimana tubuhmu saat ini sudah tidak sanggup lagi mendukung semua aktivitasmu yang padat setiap harinya.” Taeyeon mencoba untuk tetap tenang mengucapkan itu  semua karena ia tahu bagaimana sensitivenya Tiffany.

“Oppa.. aku baik-baik saja. Ini hanya kelelahan biasa.” Kilah Tiffany yang mendapat gelengan kepala dari Taeyeon dengan tatapan tegas dan khawatirnya.

“Kau bisa terkena radang selaput otak jika kelelahan terus seperti ini. Itu bukan opiniku tapi dokter yang menanganimu yang mengatakannya. Sayang, tidak bisakah kau berhenti dari pekerjaanmu dan fokus kuliah? Aku akan mencoba membantu biaya kuliahmu nanti.”

“Tidak Oppa, terimakasih.”

“Sayang…”

“Aku tidak mau merepotkanmu terus Oppa. Kita belum menikah tapi kau sudah memberikan begitu banyak hal baik secara materil atau lainnya padaku. Apa kata orangtuamu nanti Oppa? Bagaimana Appa-mu dapat memberikan restunya padaku jika dia selalu menilaiku sebagai wanita yang hanya bisa menguras dompetmu atau saldo tabungan dan kartu kreditmu?”

“Baiklah, kalau begitu ayo kita menikah jika kau takut itu akan mengganggumu nanti.”

“Aku tidak mau menikah sebelum Appa-mu merestui hubungan kita.”

“Jika kau sudah menjadi istriku nanti, seiring berjalannya waktu pasti nanti Appa akan menyetujui hubungan kita, Fany-ah. Selain karena mencintaimu, aku ingin menikahimu karena aku juga ingin membantu meringankan bebanmu, Sayang. Kau pikir ini tidak menyakitkan untukku melihat wanita yang kucintai berjuang mati-matian untuk membebaskan dirinya dari sisa kejahatan yang ayahnya lakukan? Bahkan untuk menggapai mimpimu, kau mengorbankan masa remajamu untuk mencari uang agar kebutuhanmu beserta Eomma-mu terpenuhi. Itu pasti adalah hal yang berat dan kau selalu berhasil menyembunyikannya dariku. Mengapa Fany-ah? Mengapa kau selalu menanggung semuanya sendiri? Ada aku disini yang bisa menjadi temanmu berbagi semua keluh kesahmu.”

“….” Tiffany terdiam belum bisa menjawab pernyataan dan pertanyaan yang baru saja diutarakan oleh sang kekasih. Rasanya semua itu terasa benar tapi menyakitkan baginya karena memang begitulah adanya. Jika Tiffany bisa memilih, ia tidak mau berada di posisinya sekarang, dimana uang menjadi kebutuhan yang membuatnya bekerja membabi buta demi menghidupi dirinya bersama sang ibu dan biaya kuliahnya.

“Sayang.. apa ini terlalu berat bagimu hingga kau tidak sanggup untuk menceritakannya padaku?” Tiffany hanya terdiam meskipun air matanya perlahan mulai membasahi pipinya. Tenggorokannya terasa tecekat sehingga kata tu sulit sekali keluar dari mulutnya.

“Katakanlah Fany-ah.. kumohon..”

“JIka aku mengatakan bahwa ini semua begitu berat bagiku dengan tangisan yang menyakiti hatimu dan air mata yang membasahi pipiku, apakah semuanya tiba-tiba akan berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin?”

“Fany-ah…”

“Jika aku mengeluh tentang semuanya dan tentang betapa menyakitkannya ini semua, apakah masalahku akan segera selesai?”

Diamku bukan berarti aku tidak mau menceritakan semuanya padamu, berbagi keluh  dan kesah yang selalu memberatkan hatiku.

Hanya saja… aku sudah lelah.

Terkadang orang hanya ingin tahu tentang masalahku, bukan membantu.

Tatapan-tatapan itu  berteriak padaku dan mengatakan bahwa aku adalah wanita yang menyedihkan.

Siapapun tidak ingin menjadi aku.

Mereka hanya menatapku dengan belas kasihan dan terkadang penuh dengan rasa lain yang membuatku merasa sangat tidak berharga sebagai manusia.

Jika aku menceritakan semuanya pada Oppa, apa semua masalah akan selesai?

Jika aku menceritakan tentang apa yang Ayahnya inginkan… apa kami masih bisa bersama?

Jika aku..

Ya.. semuanya hanya jika.

Jika aku tidak pernah bertemu dengan Oppa.. mungkin kata jika itu tidak akan pernah menjadi jika.

.

.

.

“Sayang!” Taeyeon masih mencoba berlari mengejar Miyoung yang semakin menjauh darinya.

“Hwang.. Miyoung!” mendengar teriakan penuh amarah dan ketegasan itu seketika membuat langkah kaki Miyoung berhenti. Taeyeon belum pernah memanggilnya sekeras itu. Amarah, kesal dan panic bersatu menjadi sesuatu yang membuat Miyoung merasa tak mengenali lagi kekasihnya.

“Kau salah paham.” Miyoung hanya terdiam tak menjawab ucapan Taeyeon yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah merah padamnya.

“Miyoung-ah..” Nada bicara Taeyeon melunak, tidak seemosi tadi.

“…” Miyoung hanya terdiam, menundukan pandangannya dengan linangan air mata yang mulai menemaninya.

“Sayang.. kumohon jangan menangis, bicaralah.” Taeyeon kembali berbicara dengan nada lembutnya membuat Miyoung mulai berani menaikan pandangannya agar sejajar dengan pria dihadapannya sekarang.

“Jika ini semua salah paham, mengapa kau memeluknya seperti tadi Oppa?” rasa cemburu  dan amarah jelas terlihat di wajah Miyoung.

“Mi.. Jessica sedang patah hati. Calon suaminya membatalkan pernikahan mereka hanya dalam hitungan hari mereka akan menikah. Sebagai sahabatnya aku tentu merasa harus menghiburnya, memberikan dukungan emosional.” Taeyeon berusaha menjelaskan setenang mungkin.

“Dengan pelukan seperti tadi?” pertanyaan itu seperti bahan bakar yang memancing kekesalan Taeyeon.

“Demi Tuhan! Tidak terjadi apapun antara aku dan Jessica. Dia hanya sahabatku. Bagaimana aku bisa meninggalkannya dalam kondisi seperti ini? Jessica juga selalu ada untukku saat aku..” kalimat itu terhenti karena Taeyeon tahu jika ia mengatakan kata selanjutnya, maka itu akan sengat menyakiti hati kekasihnya.

“Saat kau apa Oppa?” kedua mata itu menatap Taeyeon dengan rasa sakit didalamnya.

“Mi.. aku..” entah kenapa kata-kata itu begitu sulit untuk Taeyeon ucapkan saat ini.

“Saat kau merasa kesepian karena aku terkadang mengacuhkanmu? Begitu?” semua yang diucapkan Miyoung sebenarnya adalah sebuah kebenaran yang tidak ingin Taeyeon akui didepan kekasihnya karena ia tahu itu hanya akan menyakiti Miyoung di akhir.

“Mi.. ini hanya salah paham. Ini tidak seperti itu.” Dengan wajah mencoba tenangnya Taeyeon kembali berbicara.

“Lalu seperti apa Oppa? Tolong beri tahu aku.” Permintaan itu datang dengan sebuah rasa penuh pemintaan yang menyakitkan didalamnya yang tidak bisa Taeyeon jelaskan dengan kata-kata.

“Sayang.. aku.. aku.. aku hanya…” Mendadak lidahnya kelu dan Taeyeon tahu bahwa ini akan menjadi bencana baginya jika ia terus seperti ini.

“Oppa.. mengapa kau begitu sulit untuk menceritakannya padaku? Apa memang terjadi sesuatu antara dirimu dan Jessica? Apa kalian… berselingkuh?” kata selingkuh yang terakhir didengarnya tadi bagai sesuatu yang berhasil menyulut emosinya menjadi naik kembali, dan Taeyeon tidak suka itu.

“Aku hanya menceritakan padanya bagaimana kau jarang ada untukku, padahal aku sangat merindukanmu. Bagaimana bisa itu bisa disebut dengan selingkuh?!” Kekesalan itu tidak bisa Taeyeon tutupi lagi dan ia merasa menyesal karena telah menunjukannya pada Miyoung.

“Oppa… apa kau merasa kesepian?”

“Sayang.. aku tidak merasa kesepian. Selama ini kita hanya terlalu sibuk menyembunyikan diri kita dengan kesibukan. Kau sibuk aku juga sibuk jadi.. aku mencoba mengerti keadaanmu dengan menceritakan semua keluh kesahku pada.. Jessica.”

“Tidak.. kau tidak mengerti apa maksudku tadi Oppa. Kau tahu.. saat aku melihat kedua matamu yang dipenuhi dengan rasa khawatir dan kesendirian, aku sadar bahwa selama ini kau merasa kesepian. Aku yang membuatmu merasa sendiri.”

“Miyoung-ah….”

“Kau tahu Oppa? Aku minta maaf jika semua kesibukanku mengejar semua impianku membuatmu merasa kesepian.”

“Tidak Sayang.. bukan seperti itu. Aku tidak merasa kesepian. Aku hanya sangat merindukanmu hingga aku kadang takut jika aku menjadi beban lain bagimu. Aku tahu kau lelah dan aku tidak ingin menambah beban pikiranmu dengan semua rasa rinduku yang mungkin berlebihan ini.” Mendengar hal itu, Miyoung terdiam sebelum tersenyum kecil pada sang kekasih yang kini terlihat bingung melihat senyumannya.

“Dosenku selalu berkata bahwa untuk mendapatkan suatu manfaat maka harus ada biaya atau pengorbanan yang kita berikan. Awalnya aku kurang memahami hal itu tapi lama kelamaan aku semakin mengerti tentang konsep itu.”

“Mi…”

“Menjadi seorang wanita yang sukses adalah salah satu mimpiku. Membuat kehidupanku bersama ibu menjadi lebih baik adalah tujuan utamanya. Sebelum mengenalmu, hal itulah yang selalu kutanamkan dalam pikiranku. Aku harus menjadi orang yang sukses sehingga ibuku bisa merasakan kebahagian yang selama ini belum bisa diraihnya bersama ayahku yang meskipun brengsek, dia tetap adalah orangtuaku.”

“Sayang..”

“Setelah bertemu denganmu, menjadi temanmu, sahabatmu dan kekasihmu… ada hal lain yang masuk kedalam daftar mimpiku. Kau ingin tahu apa?”

“Menjadi seorang istri yang baik bagimu dan anak-anak kita nanti. Menjadi wanitamu yang bisa selalu kau banggakan bukan hanya karena kecantikan luarku, tapi karena kecantikan dari dalam diriku juga. Menjadi kekasihmu yang selalu membuat dirimu bersyukur memiliki rasa cinta itu untukku. Menjadi belahan jiwamu hingga maut memisahkan.”

“Mi.. aku tidak..”

“Setiap hari, mungkin hanya 3-4 jam waktu yang kugunakan untuk tidur. Sisanya kugunakan untuk belajar, bekerja dan mencoba untuk  bertahan hidup dengan semua yang Tuhan titipkan padaku. Semua kegiatanku membuatku sulit untuk menyisihkan waktuku untuk orang-orang yang kusayang. Aku meminta maaf padamu jika ketidakmampuanku dalam mengatur waktu membuatmu merasa kesepian. Tapi yang harus kau tahu, aku juga kesepian Oppa. Aku merasa sendiri. Aku merasa jarak itu terbangun begitu lebar diantara kita. Bukan hanya kita, bahkan dengan ibuku sendiri dan sahabat-sahabatku, Oppa. Aku merasa sedih  melihat ibu setiap hari tidur larut karena beliau keras kepala ingin menungguku pulang. Ibu ingin memastikan bahwa aku tiba di rumah dengan selamat.”

“Sayang.. maafkan aku.. aku tidak tahu bahwa kau..”

“Kau tidak perlu minta maaf Oppa. Ini semua salahku. Semua mimpi dan keinginanku perlahan malah membuatku jauh dari kalian. Tujuanku adalah membuat kalian bahagia dan bangga padaku tapi kini.. malah akulah yang menjadi sumber kesedihan kalian. Maafkan aku..”

“Tidak Mi.. kau tidak salah. Ini semua hanya waktu dan kondisinya yang tidak tepat.”

“Aku berpikir seperti itu tapi hal ini terus terjadi dan aku lelah. Aku tidak ingin terus menyakitimu, Oppa.”

“Sayang.. jangan bilang bahwa kau..”

“Lebih baik kita berpisah Oppa. Mari kita akhiri semuanya disini. Aku merelakanmu jika kau memang ingin bersama Jessica.”

“Miyoung-ah… aku hanya ingin bersamamu, bukan Jessica!”

“Tapi Jessicalah yang bisa memberikanmu kebahagian itu Oppa, bukan aku.”

“Mi…”

“Ayahmu.. beliau juga menyetujui Jessica menjadi pendamping hidupmu bukan? Dia beberapa kali meneleponku, bertanya tentang kabarku dan menceritakan tentang kedekatanmu dengan Jessica. Kau tahu… dari semua percakapan itu aku pada akhirnya tahu bahwa Ayahmu sangat menginginkan Jessica untuk menjadi menantunya, bukan aku.”

“Appa tidak tahu bahwa kaulah yang kubutuhkan Mi! Kumohon..  lupakan apapun tentang permintaanmu tadi. Aku akan menganggap semua itu tidak pernah kau katakan.”

“Oppa..”

“Tidak Mi! Kau harus tahu bahwa aku mencintaimu!”

“Aku juga mencintaimu Oppa. Tapi.. apa kau benar-benar bisa bertahan dalam cinta yang selalu menyakitimu?”

“Mi..”

“Oppa.. berpisah darimu, itu adalah hal yang sangat berat. Aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya. Tapi aku berani untuk mencobanya karena aku percaya.. cinta ini tidak akan membawa kita kemanapun selain kesedihan dan penderitaan.”

“Hwang Miyoung, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu menghilangkan pikiran itu? Untuk kesekian kalinya aku berkata….. kau adalah kebahagianku. Kau adalah kebutuhanku, keinginan hatiku. Lalu bagaimana aku bisa bahagia jika tidak ada dirimu didalamnya. Kehilanganmu.. sama saja dengan kehilangan dari kebahagianku.”

“Mari kita berpisah untuk sementara waktu. Aku membebaskanmu untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Jika kita memang ditakdirkan untuk bersatu, sejauh apapun, dengan siapapun kita pada saat itu, perbedaan apapun yang memisahkan kita… jika Tuhan mengizinkan, kita akan tetap bersatu Oppa.”

“Miyoung-ah…”

“I love you, Kim Taeyeon.. always. Let God and destiny  find us again, if we are meant to be.”

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

THE AND

.

.

.

.

.

Eternity Note:

Aku meminta maaf jika selama ini ada kata-kata atau sikap dan perilaku yang membuat kalian kecewa dan tidak nyaman.

Terimakasih untuk tetap membaca tulisan-tulisan amatir ini.

Terimakasih untuk tetap menyempatkan waktunya untuk berkomentar dan menceritakan sama aku pendapat kalian.

Aku senang dan apresiasi sekali meskipun kadang ga aku balas.

Yang ga aku bales bukan karena komentar kalian ga bagus dan worth untuk aku balas.

No, please jangan berpikir seperti itu.

Sejujurnya, something got wrong with my hormon since february.

I already consult it with my doctor and the expense is quite big.

So i choose the alternative way to cure it and make it balance again.

Doakan saja berhasil ya dan hormon aku kembali normal.

Karena gangguan hormon ini sangat mengganggu, mengganggu sekali sampai di titik aku kaya orang gila aja hahaha.

I always sad and angry to people suddenly without reason.

i felt so depressed.

Bukan hanya secara fisik, tapi secara mental juga melelahkan.

Makanya aku minta maaf kalau aku terkesan cuek akhir-akhir ini.

I have problem that i tried to keep it just for myself and God.

Aku gamau membebani kalian dengan keluh kesah aku yang ga guna bagi kalian hehehe.

Percayalah, KESEHATAN itu penting bgt.

Kalian bangun tiap pagi, bernafas, melihat, buang air kecil, buang air besar, keluarin ingus, kentut, Haid… itu semua anugerah banget loh dari Allah.

Jangan karena kalian ga punya gadget terbaru, ga dianggap gaul, dapet nilai tugas atau ulangan jelek terus, lalu kalian merasa jadi manusia paling malang dan marah sama Allah.

Kalian protes kenapa kalian yang punya nasib sejelek ini.

Jangan! Jangan pernah marah sama Allah.

Karena Allah itu baik banget.

Dia masih kasih kalian kenormalan dalam hidup seperti hal-hal simpel yang udah aku sebuatin diatas.

If you think you are ugly and unfortunate just because your look and your current financial status, then No.

If you think you are ugly secara fisik, maka buat hati kamu cantik.

Beauty outside ada expirednya sama kaya minuman vitamin C ituloh hahahhaa.

Karena cantik tampangnya aja gakan cukup bikin orang tertarik sama kamu.

Kecantikan dari dalam akan lebih bertahan lama dibanding kecantikan luar kamu.

Embrace your flaw.

Enjoy your beauty.

Because we are diamond, no one can break us kalau kata orang bijak dan gambar yang aku liat di instagram mah wkwkwkwkw.

Love, Eternity

Screenshot_2017-04-17-05-04-59-678

Iklan

45 pemikiran pada “LONELY

  1. 😀 Semangat Miyoung love u,,
    Tae tae berjuang buat Miyoung klo bener yakin dia temen hidupmu,, wlupun klo jodoh betemu lagi tapi klo ga da niat berjuang mana isa ketemu.
    Buat Risma,, jaga kesehatan,, senyum sllu untukmu 🙂

  2. Ya bener nafas banget2 anugerah dek, klo sakit kepaksa beli tabung oksigen mahal, nah ini kita diberi kemudahan ama Allah gratis bisa bebas bernafas tanpa beli, makanya ga bisa bayangin baiknya Dia. Mo bales gimn pke apa aja ga pernah cukup kita 🙂

  3. Ohhhh NOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 TAENYKUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!! 😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 HUAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. Aku hrap ini nnti bkan sad ending, salut jga ma ppany yg slalu krja kras demi mmperbaiki hdupnya nnti tpi kshan jga taeny hrus psah

  5. for Tiffany the strong woman in this story,,you have to know that real love doesn’t meet you at your best,,it meets you in your mess…be Mindful of what you Toss away,,be Careful of what you Push away,,and Think Hard before you Walk away..
    as for Taeyeon,,just because you Love someone,,doesn’t mean you’re supposed to be With them,,usually it takes the Worst Pain to bring about the Best Change…
    and for both of you,,sometimes the Greatest Love is simply to Let Go…

    you know what??
    some talk to you in their Free Time,,and some Free their Time to talk to you…
    Learn the Difference…

    Note :
    depression is a silent killer.
    kalau obat bukan penyembuh sebenarnya…lalu apa yg bisa menyembuhkan penyakit??
    itu semua bergantung pd Hati dan Pikiran mu..jika diantara kedua itu sedang tdk benar,,maka kau akn rentan terhadap penyakit…
    segala hal yg ada disekitarmu,,tergantung bagaimana caramu menggunakan mereka,,
    mereka mungkin bisa menjadi obat penyembuh lukamu,,atau racun mematikan bagi hati dan pikiranmu…
    bijaksanalah…
    ^^

      • belummm,,, flu & batuk nya masih setia menemani u.u
        jarang sakit tp skalinya sakit,,,tepar dehhh…

        is this your current situation??
        the story I mean…

      • bagian “jika”-nya fany :

        “Jika aku mengatakan bahwa ini semua begitu berat bagiku dengan tangisan yang menyakiti hatimu dan air mata yang membasahi pipiku, apakah semuanya tiba-tiba akan berubah menjadi lebih baik dari hari kemarin?”

        “Jika aku mengeluh tentang semuanya dan tentang betapa menyakitkannya ini semua, apakah masalahku akan segera selesai?”

        sounds familiar…
        kamu pernah nanya pertanyaan yg serupa di aku…
        and my answer is no…tdk ada yg akn berubah klo kamu tdk melakukan sesuatu…
        I remember that clearly…

  6. Disini gw ngerasa fany egois banget cuma mikirin diri sendiri padahal ada seseorang yg akan siap membantunya asal ia bisa nerima. Dalam hubungan sudah hal lumrah klo saling take&give dan nerima bukan sesuatu memalukan dan ngebuat diri sendiri jadi rendah. Utk mencintai sebuah kebahagiaan bila liat orang yg dicintai senang & ga susah..yah tapi gw ngerti sih dg sikonnya yg dihadapi ama fany dan seenggaknya ia bisa liat dari persepsi taeng..
    Gw cuma bisa berdoa semoga u selalu dalam keadaan baik ris..

  7. Nice quote😀

    mreka saat ini berada dititik yg sulit.. Tidak ada yg salah dari keduanya.
    Mreka memiliki alasan tersendiri..
    Apa menurutmu, panny egoist disini? Ato apa perlu panny menerima tawaran dari tae²?

  8. Gw kasian banget sama tiffany harus kerja keras biar bisa hidup lebih baik dan bisa bahagiain ibunya dan jga supaya bisa diterima sama mr kim yah walaupun dengan begitu dia jadi nggak punya waktu buat taeyeon.

  9. fany itu klo mnurut aku dlam ff ini wnita yng hebt, dia rela ninggalin smua kbhagiaannya demi orng yng dia syangi, tae hrus sbar klo nunggu fany yng brusha untuk mrubh hidupnya mnjadi yng lbih baik…
    taeny klo sikonnya kyak gini psti sngat mnyakitkan
    fighting kak dan smoga smua yng saat ini kakak hdapi slalu di mudhkan oleh Allah

  10. Udah lama gk baca ff yg cast utamanya taeny. Berharap semoga ini cerita bakalan bnyk moment manis sweet taeny tpi kyknya bnyk badai ini cerita hahaha 😂
    Semangat ya thor buat ff taeny 👍💪

  11. Oh…. God…… Selalu sad story. 😭 but I like 😂 . Utk Miyoung, kamu seorang wanita yg luar biasa. Kamu peka sama kehidupan kamu dan mau menghadapi rintangan dalam hidupmu. Itu Bagus. Hanya saja..seingin apapun kamu mau menggapai impianmu. Tetap…jangan pernah lupakan orang2 disekelilingmu. Karena sefokus dan seserius apapun kamu berlari utk menggapai impianmu itu hingga melupakan mereka yg mencintaimu. Maka jangan salahkan apabila mereka satu persatu akan pergi meninggalkanmu.

    Eaakkkk…….. 😂😂😂😀😀😀

  12. Kalo ada Yoona ku udh nyayi ka… oh Tuhan ku cinta Taeyeon.. ku sayang Yoona.. Rindu Jessica… inginkan Tiffany. 😗 wkwkwk

    Apa cuma aku ya yang waktu bacanya kek baca pengalaman pribadi, ga semua adegan sih tp ada beberapa yg yah sering terjadi dikalangan anak muda yg menjalin hubungan tp karena aktivitas kampus-kerja jd begitu.

  13. Lha kok taeny bikin miris thor, jd cm gitu aja, gak ada lanjutan thor, haduh udh jarang ktemuan, eh nongol2 malah putus. Kasian jg liat ppany kerja keras bwt nyenengin ibunya, tp salut deh sm smua prjuangan ppany👏👏

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s