In From Your House

c0wrk3ruqaaqdqy

Title : In From Your House

Author : Choi Zuazua/ Taebyun

Cast : Kim Taeyeon, Tiffany Hwang

Genre : Romance, girlxgirl

Typo berhampuran, jangan main copas tanpa izin dari yang bersangkutan !!!

Ini ff remake dari ff dengan judul yang sama, tapi dengan cast yang berbeda yaitu YoonWon & YulSic yang udah dipost tahun lalu, hanya saja dalam cast ini ada beberapa perubahan yang tidak terlalu besar, semua pov milik Taeyeon,  semoga kalian menikmati..

 

Happy Reading

 

-czz

 

 

 

Kau menyiksaku kini dengan rasa rinduku yang semakin mendalam. Menghukum hati ini dengan kepergianmu. Memang salahku memilih bertahan akan semua kebodohan, melepasmu begitu saja tanpa mencoba memperjuangkan. Aku yang lemah akan impianmu, terpaku akan impianku. Membuatmu tanpa ragu meninggalkanku, ini baru 2 tahun dan rasanya hidupku seperti dalam ambang kematian. Maafkan aku, Fany-ah.

“Taetae, please..” suara mohon itu terdengar pilu ditelingaku.

“Tidak sekarang, Fany-ah..” meredam rasa kesal aku memejamkan mata sejenak, mood hari ini benar-benar buruk. Sepulang dari pemotretan aku berharap dapat segera bergelung diranjangku bersamanya, karena tidur dalam pelukannya semua rasa lelahku atas jadwal gila itu terhapuskan. Bukannya membahas hal ini lagi, dan lagi.

“Lalu kapan, aku sama lelahnya sepertimu.”

“Kau tahu kita sama-sama lelah, tapi kau ingin membahas- ahh lupakan.. kita perlu tidur, Fany-ah.”

“Kau selalu menghindar, sampai kapan ?!” aku menjadi terpancing saat dia mulai memojokkanku dengan suaranya mulai meninggi.

“Kita pernah membahas hal ini 7 kali, dan semua tidak pernah berakhir baik. Jangan menyulut pertengkaran, Fany-ah !” airmatanya mulai mengalir, dan itu karena aku. Ya Tuhan !

“Mianhae..” aku menyesal telah membentaknya, dia berpaling, aku tahu aku telah menyakitinya. Tapi sungguh kita pernah membahas hal ini 7 kali dan semuanya tidak pernah berakhir baik. Ujung-ujungnya kita bertengkar, lalu dia pergi meninggalkanku dengan wajah basah terlukanya sambil membanting pintu secara kasar. Sedangkan aku ? aku hanya bisa membiarkan-menatap penuh nanar punggungnya tanpa mengejar. Lalu butuh waktu 1 minggu untukku membujuknya kembali pulang ke rumah kita, minta maaf tidak pernah cukup menebus pertengkaran itu. Maksudku aku harus merelakan kartu kreditku digesek berkali-kali-Shopping, namun itu tidak masalah bagiku karena alasan mengapa aku bekerja keras selama ini adalah dia, Tiffany Hwang. Benar, s dalam hidup Kim Taeyeon ada Tiffany Hwang itulah mengapa aku harus bekerja keras. Hanya saja yang aku permasalahkan adalah sampai kapan kita akan bertengkar-baikan seperti itu. Tidak bisakah dia bersabar sedikit lebih lama lagi ?

Aku bersimpuh dihadapannya yang sedang duduk diatas ranjang kita, lalu mengusap airmatanya. “Kumohon berhentilah menangis, ini menggangguku Fany-ah. Aku sakit setiap melihatmu menangis. Maafkan Taetae..” lalu menggambil kedua tangannya untuk kugenggam.

“Taetae, aku pun minta maaf. Tapi daddy terus menerus bertanya kepadaku. Aku tidak memiliki banyak alasan lagi untuk menjawabnya.”

“Kau masih memiliki satu alasan dan itu adalah aku. Bersabarlah sedikit lagi.”

“Butuh berapa lagi aku harus bersabar ? 2 tahun, 3 tahun atau bahkan 10 tahun lagi ? 8 bulan lagi usiaku sudah memasuki 35 tahun, dan daddy terus menerus mendesakku unt-..”

“Fany-ah, aku mohon mengertilah. Albumku sebentar lagi dirilis, dan perusahaan mengadakan konser dunia untukku. Itu adalah impianku, Fany-ah. Ketika bersamaku ingin kau hidup kecukupan tanpa satupun kekurangan. Percayalah semua ini aku lakukan untukmu.”

“Kau selalu mengatakan hal sama untuk kedelapan kalinya. Tidak bisakah satu kali ini saja kau merelakan mimpimu untukku ?”

“Apa yang kau bicarakan, kau tidak seperti Tiffany Hwang yang kukenal !” aku melepas genggaman tanganku, lalu membelakanginya.

“Taetae, aku selalu percaya padamu. Tapi aku.. aku tidak bisa terus menerus mengabaikan daddy, mengabaikan impiannya ! setiap kali melihat wajah kecewanya, hatiku sakit. Itu sungguh menggangguku.. aku.. aku lelah.”

“Egois ! dan kau memilih mengabaikan impianku !”aku melihat dia terperanjat saat aku menyebutnya egois.

“Egois ?”

“Ya, kau mulai egois sekarang.”

“Lalu bagaimana denganmu, Kim Taeyeon?”

“Fany-ah, aku sangat mencintaimu. Tidak bisakah kau menungguku lagi ?”

“Sampai kapan, Taetae ? Kau sudah memiliki segalanya, dan itu sudah cukup untukku. Aku hanya ingin menikah, hidup normal tanpa adanya rasa khawatir dan takut. Aku ingin hidup normal bersamamu dan anak-anak kita kelak tanpa adanya ikatan kontrak yang membatasi. Apa.. apa hanya aku yang memiliki mimpi itu ?”

“Mimpimu adalah mimpiku, Fany-ah.”

“Lalu kapan ?”

“Tidak tahun ini, Fany-ah..”

“Tahun depan ?”

“Fany-ah, please..”

“Kau tidak bisa menjawab, baiklah aku mengerti dan aku tidak akan membahas ini lagi. Maafkan aku membuang waktu istirahatmu. Tidurlah, kau sangat lelah.”

 

Tiffany meninggalkanku masuk ke kamar mandi, haahhhh.. akhirnya aku bisa menyentuh ranjangku. 2 menit terpejam, aku kembali membuka mata saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dia keluar tanpa melihat ke arahku, apa yang salah ? dia lalu membuka seluruh pakaiannya dengan membelakangiku, beribu-ribu kali aku melihatnya pun tidak akan pernah cukup untukku mengaguminya. Dia berganti pakaian dengan santai, memilih item kasual namun terkesan mencurigakan. Karena apa ? dia juga mengenakan topi pada jam tidur seperti ini ?

Apa yang salah ???

“Fany-ah, kau mau kemana ?”

“Aku harus pergi.” Seketika aku bangkit dari ranjang, lalu menghadangnya.

“Bukankah kau mengerti lalu mengapa meninggalkanku ? jangan kekanakan, Fany-ah !”

“Karena aku mengerti, maka dari itu aku harus pergi. Kejarlah mimpimu, Tae.”

“….”

“Dan maaf, aku tidak bisa menunggu lagi. Aku tidak bisa mengabaikan impian daddy lagi.”

“Omong kosong apa yang kau bicarakan ?!”

“I love you, boo..”

“Jika kau mencintaiku, kau tidak mungkin meninggalkanku !”

“Apa kau bersedia menukar mimpimu dengan mimpi, daddy ?”

“Fany-ah, kenapa kau seperti ini lagi. Aku berjanji akan menikahimu tapi tidak sekarang. Sebegitu tak sabarkah kau ingin menikah, sampai tidak ingin menungguku ?”

“Aku sudah menunggumu, boo. Tapi dad-..”

“Omong kosong ! berhenti bicara !” aku menciumnya penuh, mengusai bibirnya. Menggerakan bibirku secara liar, ciuman kasar ini berselang 5 menit tanpa sedikitpun dia membalasku. Aku melepaskan tautan bibir kita, lalu menatpnya dalam. Iris cokelat itu, semakin dalam aku menatapnya, disana hanya ada kekecewaan.

“Saranghae..” ucapku tepat dibibirnya, lalu menciumnya lagi. Melumat bibirnya seakan tidak ada hari esok, dia masih belum membalasku tapi aku tak kehilangan akal. Menggigit bibir bawahnya membuatnya mengerang, memberiku akses memasuki mulutnya. Dan pada akhirnya dia membalas ciumanku. Sungguh kita ciuman seperti tidak ada hari esok.

Setelah ciuman ini berakhir, dengan nafas yang masih memburu tatapan kita saling bertemu. Tidak perlu ada puluhan ribu kata yang terucap kita sama-sama tahu jawabannya.  Seperti yang sudah-sudah setelah membahas persoalan ini, pada akhirnya dia meninggalkanku. Hanya saja kali ini dia pergi dengan wajah terluka tanpa airmata dan membanting pintu secara kasar. Sedangkan aku ? aku hanya bisa membiarkan-menatap penuh nanar punggungnya tanpa mengejar.

 

 

 

-czz

Cuaca dingin tidak menyurutkan niatku, tubuhku tetap membawa hatiku yang tidak bisa berhenti merindukanmu datang kepadamu. Didepan rumahmu, disana dipenuhi bayanganmu. Aku hanya bisa mengintipmu dibalik pintu gerbangmu yang menjulang tinggi. Begini saja bagiku sudah cukup. Yaa.. setidaknya kita bernafas dikawasan rumah yang sama. Menyedihkan !

Dibawah langit yang sama, dikawasan rumah yang sama namun tidak mempunyai keberanian untuk bertemu. Aku tahu, aku sangat menyedihkan ! tapi tidak apa-apa seklipun aku harus hancur dan menyedihkan, asalkan rindu ini sedikit tidaknya sudah terobati oleh senyummu yang selalu mendebarkan hati.

Terus menatapmu lewat kamera cctv ini, kuharap nanti kau dapat melihatku. Fany-ah, sepanjang waktu berdiri disini aku tertegun saat seperti pertama kali kita bergandengan tangan, kupu-kupu masih ada disana-bertebaran di dalam perutku.

Fany-ah, apa aku bisa bertemu denganmu ?

Apakah aku sanggup menyapa dan tersenyum kepadamu ?

Atau apakah tidak seharusnya tak ku isi hatiku dengan cinta yang masih saat ini untuk dirimu, yang kini telah pergi dengan mimpi barumu ?

Jika memang seharusnya tidak, tapi karena semua terlanjur aku tidak pernah menyesal. Apa itu menyesal ? aku tidak perlu mengetahuinya. Karena satu-satunya yang perlu aku tahu adalah cintaku padamu  tidak pernah berubah dan berhenti.

Dengan harapan bodoh ini aku berbalik, tapi aku melihatmu dari kejauhan. Dalam hati aku berterimakasih pada Tuhan yang telah mengizinkanku melihat sosokmu secara nyata. Fany-ah, kau memang pantas disebut dewi. Kau sugguh berkali-kali lipat sangat cantik. Selalu aku bertanya-tanya bagaimana ada keindahan seindah dirimu didunia ini ? Ya, benar.. jika itu adalah dirimu maka semuanya memang ada dan nyata. Kau tahu, aku tidak perlu pergi ke surga jika menatapmu saja sudah lebih dari cukup. Semua keindahan dan kenikmatan surga yang selalu aku bayangkan seperti yang didongengkan eomma ketika hendak tidur, semuanya ada pada dirimu.

Wajah cantikmu, rambut indahmu, senyum memikatmu sama seperti sebelumnya. Saat pertama dan terakhir kali kita bertemu, ah..tidak ! kau jauh lebih cantik, Fany-ah. Tapi.. sekarang didepanmu aku menjadi seorang yang berbeda. Diam-diam aku melangkah menjauh sebelum kau semakin mendekat. Andai kau melihatku, aku bersembunyi dibalik gang kecil, menyembunyikan bekas luka yang kembali terbuka menganga akan sebuah penyesalan.

Seperti orang bodoh airmata mengalir, jika berhubungan denganmu aku selalu menjadi seseorang yang berbeda. Lihatlah airmataku mudah sekali mengalir. Demi indahnya matamu, aku mengutuk diriku yang cengeng ini !

Perlahan aku berbalik dengan rasa sakitku, baru beberapa langkah kau memanggilku dari kejauhan.

“Taetae..”

Ketika aku berbalik kembali dan mataku bertemu pandang dengan matamu, waktu seakan berhenti berputar. Kita membeku disini. Bogoshipo, Fany-ah.

Kau yang tersenyum meski tanpa diriku, masih terlihat sangat cantik. Itu saja sudah cukup mengobati rindu yang selalu membunuhku.

“Fany-ah, kau tetaplah cintaku. Kau adalah seluruh kerinduan dan kebahagiaanku. Selamat ulang tahun kekasih jiwaku, tetaplah tersenyum dan jangan lupa bahagia.”

..

Brukk !

Tubuhku terhuyung kedepan saat seseorang menubrukku dalam pelukan dari belakang. Dentuman jantung ini aku tahu siapa pelakunya, benarkah.. benarkah Tiffany Hwang memelukku ? sensasinya masih sama, dan aku tidak akan pernah lupa rasanya. Bahuku basah, dia menangis sama sepertiku.

“Fany-ah..”

“Apa itu caramu memberi selamat tahun?”

“Fany-ah..”

“Kupikir, kau tidak akan datang boo.”

Boo.. panggilan itu aku menemukan jawaban atas rasa takutku selama ini. Seketika aku melepas pelukannya agar bisa menatapnya langsung. Tersenyum bodoh, aku mendekapnya dalam pelukanku. Seraya menghujami kepalanya dengan kecupan-kecupan ringan.

“Maaf, aku terlambat sayang..” dirasakannya Tiffany hanya menggeleng dalam dekapannya.

Tidak ada kegugupan semenakutkan ini untukku, Cuma 15 menit temu kangenku dengan Tiffany, daddy-maksudku tuan Hwang memanggilku diruang kerjanya. Sedari tadi aku hanya sibuk memainkan jemariku dan membasahi kerongkongan. Bisa kurasa keringat dingin mulai menjulur keluar. Ini lebih dari rasa gugupku saat pertamakali kita debut sebagai Gilrs Generation.

“Kim Taeyeon..”

Glek ! setelah kesusahan menelan salivaku sendiri, aku memberanikan diri mengangkat kepalaku-menatap langsung sepasang iris tua itu yang mengingatkanku pada sosok putrinya.

“Ya, Maaf atas keterlambatan saya, tuan Hwang. Maaf sudah membuat putri anda menunggu, maaf sudah membuat putri anda menangis, dan maaf sudah membuat anda kecewa dan menunggu.”

“Saya bersalah tuan Hwang dan dengan lancang saya menemui putri anda. Sejujurnya semenjak putri anda pergi selama 24 bulan ini, saya telah kehilangan arah. Hidup saya mulai kacau, hari-hari saya menjadi buruk. Saya tidak bisa kehilangan putri  anda, cukup 24 bulan ini saya hidup tapi mati.”

“Saya tahu betepa pengecut dan bodohnya saya, lemah atas mimpi putri anda dan terpaku akan mimpi saya. Percayalah tuan Hwang saya hanya ingin menjadi pantas untuk putrid anda. Saya ingin mengumpulkan uang lebih banyak lagi untuk menjamin kehidupan putri anda.  Sebenarnya kontrak saya dengan perusahaan berakhir tahun kemarin, dan saya berkeinginan menikahi putri anda setelah saya tidak terikat apapun dari perusahaan. Saya pikir waktunya tepat ketika rumah impian putri anda berhasil saya wujudkan,karena diam-diam saya membangun rumah impin kita tanpa member tahu putri anda dan itu membutuhkan waktu 3 tahun untuk mendirikannya sempurna. Tapi saya.. saya terlalu bodoh membiarkan putri anda pergi.” Embun terbentuk dalam mataku, sebentar lagi.. sebentar lagi akan meledak tangisku.

“Saya sangat mencintai putri anda tuan Hwang, saya tidak ingin jauh darinya.”

“ Tuan Hwang saya Kim Taeyeon meminta Tiffany Hwang untuk menjadi pasangan hidup saya.”

Waow.. kau semakin cerewet Taeng, kemarilah daddy merindukanmu.” Aku langsung berdiri dan menghambur dalam pelukannya. Menumpahkan tangisku sejadi-jadinya.

“Berjanjilah untuk tidak membiarkan putriku pergi dari sisimu.”

“Aku berjanji daddy, dan terimakasih..   aku menyayangimu.”

..

Dan kini aku berada dibalkon kamarnya bersama dengan bidadariku, dia duduk bersandar nyaman padaku. Menautkan jemari kita seraya melihat bintang Amerika. Sedari tadi senyum tidak pernah memudar dari wajah kita.

“Terimakasih sudah menungguku, sayang.” Aku mencuri cium pipinya seraya memainkan rambutnya.

“Boo, sebenarnya aku..” aku tidak suka ketika dia berbicara hati-hati seperti itu.

“Tidak apa-apa bicaralah, sayang..” sebisa mungkin aku menghalau perasaan yang tiba-tiba menyeruak tak suka. Dia membalikkan tubuhnya, membuat kita saling berhadapan. Wajahnya yang bersinarkan rembulan sepuluh juta lebih cantik.

“Aku..aku..” keraguan itu membuatnya seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya.

Chup !

Aku memberinya kecupan rindu, dia tersenyum-senyum yang mendebarkan hati begitu dahsyat.

“Aku mencintaimu, boo..” dia mempersempit jarak kita, seraya menaruh ke dua tangannya dileherku. Menciumku sampai mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Aku mengerang, dengan senang hati membalasnya. Kita berakhir dengan saling member dan menerima.

Nafas kita saling bersautan, kedua kening yang saling menempel dengan mata saling beradu lama. Ini lebih dari cukup untukku mengerti apa yang sedang dikhawatirkan ratuku ini.

“Tidak apa-apa sayang. Aku tahu kau tidak ingin mengecewakan daddy. Tapi, berapa lama ? apa dia menciummu atau kau menciumnya seperti apa yang kau lakukan padaku ?”

“2 minggu dan itu sangat menyiksaku, boo. Aku tidak pernah menciumnya, aku benci bau rokok. Dia pernah mencium kening dan bibirku, tapi hanya sekilas karena aku langsung mendorongnya. Aku lebih menyukai bibir mungilmu daripada bibir tebalnya-rasanya sangat aneh saat bersentuhan dengan milikku. Aku memutuskannya tepat setelah dia menciumku, terdengar jahat memang tapi siapa peduli jika hatiku hanya mencintaimu. Aku hanya menginginkanmu, boo.”

“Terimakasih sudah memilih menjadi jawab dan hanya menginginkanku. Sayang, dihari spesialmu ini kau menginginkan apa, hm ?”

“Just give me baby, boo.” Bisiknya dengan suara husky membuatku tersengat dan memerah secara bersamaan.

Tiffany, bagaimana bisa kau bicara sefrontal itu ? Tsk.. aku hampir lupa bahwa aku mengencani gadis Amerika.. hihihihhi

“Kajja, kita membuatnya sekarang !” begitu semangat aku langsung menggendongnya ala pengantin baru.

“Yaa ! kau harus menikahiku dulu, Kim.”

“Ok, kita menikah besok, Hwang.”

“Aku ingin pesta ala princess dengan gaun mewah berwarna pink..”

“Siap, itu bisa diatur. Apapun untukmu, sayang.”

“Aku juga ingin cin-..”

“Aku akan menyiapkan semuanya yang kau inginkan, sayang bisakah kita membuatnya sekarang ?”

“Ok. Call.”

End..

Terimakasih untuk ka risma, sebenarnya ini project ff untuk ultahmu, tapi kemarin setelah beres mlah kagk ke simpen TT.. jadi yah hari ini aku ketik ulang, tapi yah gitu gak bisa sama dengan yang file-nya ke hapus, seperti sebuah kertas sekali saja diremas kertas itu tidak akan balik sempurna. Hhhehe yah sama kayak ff, sekali nulis gak ke simpen nulis ulang pun feel-nya gak bisa sama,

xoxo

 

Iklan

19 pemikiran pada “In From Your House

  1. Aaaakkkk ini pertengkaran yg buat hati gue ikutan sakit 😭hhuhu daebak nih buatnya.

    Tapi pada akhirnya unch comeback to tae yaaaaaa 😍 udah kena lock bangeeeettt

  2. kadang kala memang seperti itu yah ketika seseorang yg ingin mengejar mimpinya berusaha jd yg pantas untuk orng yg dia cintai jd sedikit tdk pengertian mikirnya kan demi masa depan meraka*ngomongapasih
    untung aja fany mau nunggu dan gk gampang berpaling ya meski kena dikitlah bibir manisnya😂😂😂😂😂

  3. Waktu aku baca di awal, aku kira bakal nyesek akhirnya. Untung Fany masih mau nunggu Tae. Pasangan byuntae memang nggak pernah sabar kalau masalah buat anak 😁😁😁

  4. KIRAIN BAKALAN SAD ENDINGGGG!
    Dan aku fikir pani sudah menikah pas teye ngintip² itu. 😭😂

    teye setiap manusia memiliki batas kesabaran dan pani pun bgtu, kita pun begtu dan aku pun bgtu ㅋㅋㅋㅋ😂😂😂😂
    So jangan sia²kan ksempatan mu haha

    Ok last part nya bikin yang banyakkkk yakk littlepani dan littletaeng nya kkkkk

  5. Bikin gw deg-degan pas baca diawalnya karna gw pikir mereka bakal pisah ehhh tp untungnya ga jadi hohoho
    Btw ini kado buat risma yg paling keren

  6. nyesek bisa liat org yg disayangi tapi ga berani nemuin. tapi ga pa yg penting endingnya bikin senyum 😀 yg baca. baca loncat jadi klewat2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s