E.I.L|L.I.E – [YULSIC]

54efb07b36e588f820c0c71a55521544

“Ahh.. aku lapar sekali. Padahal tadi kita hanya berbelanja sebentar, tapi perutku sudah selapar ini.” Jessica dan Yuri baru saja tiba di sebuah restoran bernuansa western yang terlihat modern dan berkelas, menyajikan hidangan terbaik untuk para tamu yang datang.

Tidak butuh waktu yang lama untuk keduanya tiba di meja yang sudah Yuri pesan sejak beberapa hari lalu. Restoran tempat mereka akan menyantap makan malam adalah restoran yang sudah mendapatkan Michellin Star dimana hanya restoran-restoran dengan pelayanan terbaik dan tentunya hidangan tebaik yang dapat memperolehnya. Sesampainya di dalam resto, Yuri dan Jessica disambut oleh pelayan dengan jas hitam rapinya. Pelayan tersebut yang mengantar Yuri dan Jessica menuju meja yang sudah dipesan.

“Tunggu, biar aku membantu, My Lady.” Jessica tak bisa menyembunyikan senyumannya ketika Yuri menarik kursi untuknya seperti seorang charming gentleman.

“Aww.. kau manis sekali Tuan Kwon.” Jessica mencoba terlihat untuk tidak terlalu girang dengan tindakan manis yang Yuri tunjukan tadi.

Anytime and anything for you, My Lady” demi apapun, Yuri  terlihat begitu mempesona dengan senyum manisnya yang penuh karisma. Kedua alisnya yang cukup tebal membuat Yuri memiliki daya tarik tersendiri sehingga tak heran jika banyak wanita yang mengejar kekasihnya itu. Kulit coklat mulusnya menambah  ketampanan Yuri. Perawakannya  tinggi dan terlihat begitu jantan dengan tubuh kekarnya membuat Yuri banyak dikagumi kaum hawa, termasuk Jessica yang merasa beruntung bisa menjadi wanita yang selalu menjadi prioritas utama Yuri. Apalagi dengan busana yang Yuri gunakan hari ini.

Sebuah kemeja putih  yang dipeluk erat oleh jas single breasted suit hitam yang senada dengan celana kain yang Yuri gunakan membuat pria bermarga Kwon itu terlihat begitu keren layaknya aktor atau publik figur yang Jessica idolakan, tentu saja selain kedua orang tuanya.

“Terimakasih bany…”

“Kembali kasih.” Yuri hanya tersenyum lembut  menganggukan kepalanya lalu berjalan ke tempat duduknya yang berada tepat dihadapan Jessica.

Pelayan mulai datang membawa daftar menu terbaik mereka.

“Selamat malam Tuan dan Nyonya, kami menyediakan hidangan khusus steak malam ini. Hidangan rekomendari dari restoran kami adalah Wagyu steak serta Tenderloin steak  yang kami import langsung dari Amerika Serikat, Selandia Baru….” Pelayan dengan kemeja putih dan rompi hitamnya itu menjelaskan secara detail semua menu yang bisa menjadi pilihan bersantap Yuri dan Jessica. Berbeda dengan Jessica yang begitu serius mendengarkan penjelasan tentang hidangan yang akan disantapnya, Yuri terlihat tidak bisa membagi fokusnya karena pandangannya hanya tertuju pada wanita dihadapannya yang terlihat begitu cantik dalam balutan dress biru langit yang membuat siapapun tak bisa mengalihkan pandangannya dari seorang Jessica Jung.

“Yuri-ah?” tanya itu membangunkan Yuri dari adorasinya pada sang kekasih yang tertawa kecil melihatnya linglung seperti anak hilang yang imut dan menggemaskan.

“Iya?”

“Kau akan memesan apa?”

“Oh aku akan memesan.. heumhh…” terlihat jelas sekali bahwa tadi Yuri tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh pelayan yang melayani mereka. Jessica tertawa kecil dalam hatinya melihat tingkah imut prianya itu. Tak ingin lebih lama membuat kekasihnya terlihat konyol, Jessica segera menyentuh telapak tangan Yuri yang terdiam melihatnya.

“Dia akan memesan Tenderloin steak  sedangkan aku Wagyu steak. Untuk minumnya kami akan memesan….” Meskipun Jessica berbicara pada pelayan yang melayani mereka namun tatapannya tak terputus pada Yuri, seakan mencoba mengecek bahwa apa yang dikatakannya benar dan mendapat persetujuan dari pria dihadapannya. Yuri menganggukan kepalanya mendengar apa yang dipesan oleh Jessica untuknya. Ia yakin Jessica tahu yang terbaik untuknya.

“Sica.. sepertinya sesuatu tertinggal di mobilku. Aku akan mengambilnya dulu, kau tunggu disini ya.” Jessica mengangguk dalam senyumnya mendengar ucapan Yuri yang segera berlari menuju mobilnya untuk mengambil sesuatu yang akan sangat penting untuk acara makan malamnya hari ini

.

.

.

“Untukmu, Nona Jung.” Sebuket mawar putih kini Yuri berikan pada wanita yang terlihat tak bisa berkata-kata menerima salah satu kejutan yang ia siapkan. Hanya senyuman penuh dengan kegembiraan yang menjadi reaksinya.

“Benarkah?” Tanya itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.

“Iya Sayang. Semoga kau menyukainya.” Ucap Yuri hangat dan terdengar tulus yang menghangatkan hati Jessica untuk kesekian kalinya. Yuri.. prianya itu tidak pernah berhenti memberikan kejutan-kejutan yang selalu berhasil membuat harinya lebih berwarna dan dipenuhi dengan cinta.

“Ahh.. Terimakasih aku sangat menyukainya Sayang.”  Mawar putih itu kembali Jessica hirup wanginya sebelum disimpan di samping kirinya karena kini makanan pembuka yang mereka pesan sudah tiba.

“Syukurlah kalau begitu.” Pandangan keduanya bersatu dan senyum itu kembali muncul. Merasa konyol, keduanya juga tertawa dalam senyuman mereka, tak peduli dengan pandangan di sekitar.

.

.

.

“Cobalah, aaaahh..” steak yang mereka pesan kini sudah terhidang begitu lezat dan menggugah selera. Jessica memotong miliknya dan mulai menyuapkan potongan pertamanya untuk sang kekasih yang segera membuka mulutnya, menerima suapan penuh cinta darinya.

Is it good?” senyuman dan anggukan penuh kepuasan yang Yuri berikan  menjadi jawabannya.

“Nah.. kau juga harus mencoba milikku.” Kini Yuri memotong steak di piringnya ke dalam porsi yang pas di bibir wanitanya. Ia suapkan steak itu pada Jessica  yang terlihat tidak sabar untuk menerimanya.

“Bagaimana?”

“Heumh.. ini enak sekali!” Jessica terlihat begitu gembira dengan rasa yang kini bermain di lidahnya. Yuri tersenyum puas melihat kebahagiaan yang ditunjukan oleh kekasihnya.

“Aku kan sudah bilang bukan seperti itu kejadiannya. Kau terlalu curiga padaku.” Suara seorang pria di belakang Yuri mengalihkan perhatiannya. Perlahan dia tolehkan kepalanya ke belakang, melirik sumber suara itu.

“Bagaimana aku tidak curiga, kau tiba-tiba saja tidak menghubungiku hari itu dan aku mengetahui dari sahabatmu sendiri bahwa kau menemui mantan kekasihmu!” Wanita yang duduk dihadapan pria itu tak bisa menyembunyikan kekesalan dan amarahnya pada kekasihnya.

“Dia hanya masa laluku, Sunkyu-ah. Lagipula itu hanya pertemuan untuk membahas kerjasamaku dengan perusahaannya. Kau tidak perlu cemburu seperti itu.” Pria itu mencoba meyakinkan kekasihnya yang terlihat masih belum bisa percaya dengan kata-katanya.

“Aku cemburu karena aku mencintaimu. Kau harusnya bahagia jika aku seperti ini, Sooyoung-shi!” meskipun ada sedikit bentakan di akhir kalimatnya, entah mengapa Yuri yakin wanita tadi tidak benar-benar ingin membentak prianya. Dia hanya ingin mengungkapkan cintanya tapi mungkin caranya yang kurang tepat.

Yuri memperhatikan mereka dalam diam tak mendengarkan apa yang sedang Jessica bicarakan padanya.

“Sayang… Yuri-ah?” Jessica memanggilnya dan fokus Yuri kini beralih pada wanita dihadapannya lagi.

“Mengapa kau tertarik sekali mendengarkan pertengkaran mereka?” pertanyaan itu membuat Yuri terdiam dan sedikit salah tingkah. Suasana mendadak menjadi canggung entah mengapa. Keduanya terdiam sejak pertanyaan itu Jessica ajukan pada Yuri.

“Aku bersyukur karena kita jarang bertengkar seperti itu, apalagi didepan umum. Ah.. bagaimana kita akan bertengkar jika kau selalu mengerti dengan semua keinginanku?” Tak ingin lama-lama terjebak dalam suasana yang kurang nyaman bagi keduanya, Jessica berbicara. Senyum bulan sabit itu Jessica berikan pada Yuri yang tersenyum juga menerimanya.

.

.

.

Yuri baru saja selesai menyelesaikan urusannya toilet. Ia melangkahkan kedua kakinya, berjalan kembali menghampiri sang kekasih yang masih menunggu di mejanya. Kaki itu berhenti melangkah ketika Yuri melihat lagi Jessica yang masih duduk di kursinya. Entah mengapa perlahan pandangannya menjadi berubah ketika ia melihat lagi sang kekasih yang kini sedang memperbaiki riasan wajahnya.

Dalam diam Yuri memandangi Jessica.

 ‘Apa aku benar-benar menyukainya?’

‘Apa pilihanku benar?’

‘Apa dia benar-benar adalah wanita yang tepat untukku?’

‘Apa aku benar-benar mencintainya?’

Semua hal itu bermain di pikiran Yuri dan memberatkan hatinya.

Tidak ada yang salah dengan Jessica.

Kekasihnya itu adalah wanita yang banyak diidamkan oleh seorang pria.

Cerdas, Lembut, Ceria, Manja dan feminin.

Mungkin hal itu yang membuat Jessica banyak dikejar oleh pria-pria untuk dijadikan pasangan.

Dan Yuri bersyukur karena Jessica lebih memilih untuk bersamanya, mencintainya hingga detik ini.

Perlahan senyum itu muncul namun rasa yang berada di dalamnya berbeda. Yuri masih belum bisa mendefinisikannya. Pandangannya tidak pernah terputus pada wanita yang telah menjadi kekasihnya selama 2 tahun ini.

Senyum Yuri semakin mengembang ketika Jessica menangkap pandangannya dan tersenyum malu karena sejak tadi prianya itu memperhatikannya  dengan tatapan yang begitu dalam dan hangat, membuat wanita manapun meleleh dan salah tingkah dibuatnya.

“Sica.. kemarilah.” Posisi tempat Yuri berdiri di dekat bar dengan posisi mejanya memang tidak jauh sehingga ia tidak perlu berteriak keras untuk memanggil wanitanya.’

“Mengapa aku harus kesana?” goda Jessica dalam tanyanya.

“Kemarilah, maka kau akan tahu.” Dengan tatapannya yang begitu dalam dan lembut, Yuri berucap sehingga wanita manapun akan sulit untuk menolak permintaannya.

“Baiklah..” masih dalam tawanya, Jessica  menghampiri sang kekasih yang tersenyum dalam diam di tempatnya. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Jessica untuk berada dihadapan kekasihnya yang masih terdiam menatapnya penuh dengan cinta.

“Sica -ah..” Yuri mengambil tangan kiri Jessica yang terdiam masih dalam senyum malu-malunya, seperti seorang remaja yang kasmaran.

“Menikahlah denganku.” Dari saku kanan jasnya, Yuri mengeluarkan sebuah cincin emas putih dengan butiran permata kecil di tengahnya. Tanpa menunggu jawaban Jessica, cincin cantik itu Yuri sematkan di jari manis wanita dihadapannya.

“Sayang.. Terimakasih. Aku bahagia sekali!” Tubuhnya Jessica hamburkan kedalam pelukan sang kekasih yang tersenyum kecil menerima kehangatan yang Jessica berikan padanya.

Seorang pria masih fokus mengendarai mobilnya ketika telepon pintarnya berdering. Melihat nama yang terpampang dilayar monitor audio layar sentuh dashboard mobilnya, pria itu terdiam. Hembusan nafasnya yang biasa perlahan menjadi berat namun dirinya tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu untuk dihindari. Nafas berat itu keluar dengan cepat sebelum perlahan kembali berangsur menjadi ringan dan normal seperti biasanya. Dengan senyum yang berusaha ia berikan untuk dirinya sendiri, pria itu menekan layar sentuh yang akan segera menyambungkan dirinya dengan seseorang yang tidak mungkin ia hindari.

“Hallo.” dengan lembutnya pria itu menyapa suara yang sedari tadi menunggu jawabannya. Dari kejauhan dia bisa mendengar musik pop terbaru dan terbaik di tangga lagu sedang bermain menjadi background musik yang menemani orang yang sedari tadi mencoba untuk menghubunginya.

“Sayang.. kau ada dimana?” pria itu masih terdiam mendengar pertanyaan itu diajukan padanya. Tatapannya berpencar mencoba memikirkan jawaban terbaik untuk menjawab kekasihnya.

“Aku sedang berada di suatu tempat.” Pria itu mencoba untuk terdengar misterius namun gagal.

“Aku tahu tapi tepatnya dimana? Kau tahu.. aku merindukanmu. Apa kau tidak akan bisa menemuiku lagi seperti kemarin?” tawa itu keluar menemani senyuman yang pria itu sunggingkan di wajahnya mendengar nada manja dari keluhan wanitanya. Namun sayang, senyum dan tawa itu tidak terlihat lepas dan alami seperti seharusnya. Ada unsur keterpaksaan didalamnya yang coba ditutupi oleh pria itu. Ketampanan dan karisma dari pria itu sayangnya belum berhasil menutupi sebuah fakta bahwa bukan hatinyalah yang tertawa tadi diiringi dengan kebahagiaan didalamnya.

“Ah benarkah seorang Jessica Jung merindukanku?” pria itu ingin membangun mood-nya dengan mulai menggoda sang kekasih yang dalam benaknya terbayang sedang merengut imut.

“Isshh.. kau jahat! Aku seperti tidak memiliki seorang kekasih karena pria bernama Kwon Yuri tidak mau menemuiku bahkan hanya untuk makan siang bersama. Tuhan.. apa salahku di masa lalu sehingga aku menerima takdir seperti ini?” wajah cemberut  yang mengggemaskan itu sudah pasti yang menjadi ekspresi wanitanya.

“Takdir seperti apa?” pria itu masih mencoba untuk terdengar biasa dalam tanyanya meskipun sebenarnya ia penasaran juga.

“Sebuah takdir dimana aku mencintai seorang pria yang cuek, tidak perhatian, tampan, tidak menyenangkan namun selalu sukses membuat hatiku dan hati wanita lainnya berdetak tak karuan layaknya sebuah bom waktu yang akan meledak.” Pengakuan itu tidak terdengar seperti sebuah sindiran tapi lebih terdengar sebagai sebuah kekaguman. Mendengar itu Yuri hanya tertawa kecil dengan merdunya membuat sang kekasih yang berada di tempat lain secara tanpa sadar ikut tertawa dengannya.

“Oh.. keren sekali pria bernama Kwon Yuri itu! Kau harus segera mengenalkannya padaku.” masih dengan nada ‘cool’-nya pria tadi berkata pada sang kekasih yang malah semakin merengek manja layaknya seorang remaja meskipun umur mereka kini sudah bisa digolongkan dalam kategori usia dewasa.

“Yah!!! Kau menyebalkan sekali, boyfriend!” nada wanita itu semakin meninggi dan memekik, terdengar semakin kesal pada kekasihnya yang menyebalkan namun tetap ia rindukan, selalu.

“Yeah… I know I’m that awesome, girlfriend.” Ucap pria bernama Kwon Yuri tadi ringan tanpa beban.

“Heumh.. aku harus meminta kembali doaku pada Tuhan beberapa hari yang lalu.” Ingatan wanita itu kembali kepada pengalamannya selama di Roma, mengikuti kegiatan peragaan busana kelas internasional yang banyak dihadiri oleh publik figure serta tokoh-tokoh penting di dunia hiburan. Di sela kesibukannya, wanita itu masih menyempatkan diri untuk melakukan sebuah ritual yang sudah dilakukan orang sejak dulu, yaitu melemparkan koin di air Trevi Fountain yang sudah menjadi ikon tersendiri bagi mereka yang sedang berada atau hendak bepergian ke Roma.

“Apa itu?”

“Aku sepertinya harus meminta kepada Tuhan untuk merevisi rasa cintaku padamu.” Dari nada bicaranya, Jessica terlihat serius.

“Maksudnya? Revisi? Hahaha memangnya cinta itu sebuah skripsi?”tawa itu tak bisa Yuri tahan setelah mendengar pernyataan kekasihnya tadi.

“Yes.. kau menyebalkan sekali. Harusnya aku meminta kepada Tuhan agar aku tidak jatuh cinta padamu.” Jessica mencoba sebisa mungkin untuk terdengar menyesal dengan rasa cinta yang dimilikinya untuk sang kekasih.

“Mengapa?” Yuri kembali bertanya pada wanita yang masih hening dalam diamnya.

“Karena jatuh itu menyakitkan. Lebih baik aku membangun cinta itu dengan fondasi yang kuat dan kokoh agar cinta kita bertahan walau dilanda badai sekuat apapun untuk selamanya, hingga mau memisahkan.”

‘Kita..’ Yuri berucap dalam hatinya.

“Sayang? Kau masih disana?” Suara Jessica membangungkan Yuri dari pikirannya. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalan yang sedang dilaluinya.

“Ahh.. ya. Lalu bagaimana?” mencoba terlihat biasa, Yuri mengeluarkan nada terlembutnya.

“Bagaimana apanya?” Kini malah Jessica yang balik bertanya.

“Tentang permintaanmu. Apa kau masih ingin merevisinya?” tawa itu kembali datang ketika Yuri mengingat kembali ucapan kekasihnya tadi.

“Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin merevisinya. Tapi… dengan kau menjadi kekasihku dan mencintaiku seperti sekarang, aku tidak bisa meminta lebih dari itu karena Tuhan sudah begitu baik bisa menyatukanku dengan pria sepertimu, impianku.” Ungkapan manis itu terdengar jujur dan tidak dibuat-buat. Semua kata yang terucap, dikatakan dengan penuh cinta. Rasa lain kini bermain di hati Yuri. Sebuah rasa yang sejujurnya belum bisa ia definisikan sebagai cinta seperti yang Jessica miliki untuk dirinya.

“Impianmu?” Yuri kembali bertanya pada kekasihnya yang tanpa perlu pikir panjang untuk menjawabnya.

“Aheuh. Kau adalah salah satu impianku Kwon Yuri, mimpi indahku.” Jessica berucap dengan suaranya yang bulat, tanpa sebuah keraguan didalamnya.

‘Mimpi indahmu…’ kata-kata itu membahagiakan sekaligus menyedihkan bagi Yuri.

“Aww.. kau manis sekali Nona.” Dengan nadanya yang menggoda, Yuri kembali bersuara, mencoba menutupi suasana hatinya yang sebenarnya.

“Tentu saja, aku kan wanitamu, belahan jiwamu.” Dengan percaya diri Jessica mengeluarkan pernyataan itu.

‘wanitaku.. belahan jiwaku..’ kata-kata tadi benar-benar membuat Yuri berpikir tentang hatinya.

“Yuri-ah…” Panggilan yang lembut dan merdu itu membuat Yuri kembali ke dunia nyata.

“Ya?” tanya yang menjadi jawaban Yuri.

“Mengapa kau..” ucapan Jessica terhenti

Sica.. kau ada di kantor kan? Aku akan segera tiba di kantormu 10 menit lagi. Bersiap-siaplah.”

 

Lamaran tadi adalah hal yang ia lakukan untuk memantapkan hati Yuri. Pria bermarga Kwon itu berharap suatu hari nanti, ia bisa benar-benar mencintai Jessica setulus hati. Jessica menerima lamaran itu tanpa tahu jika sebenarnya perasaan Yuri masih bimbang padanya, hati pria bermarga Kwon itu bukan tertuju padanya. Yuri tidak mencintainya secara emosional, dia hanya mencoba untuk terus berusaha membuat hatinya agar bisa mencintai Jessica.

Dari sekian banyak hubungan yang terjalin selama ini, dari Jessicalah cinta itu bisa dengan sungguh-sungguh Yuri rasakan. Maka dari itu, meskipun selama 2 tahun ini dia menjalin hubungan dengan Jessica, sebenarnya cinta itu masih belum bisa tumbuh menjadi seperti yang Jessica berikan padanya.

“Seohyun-ah.. aku pergi dulu.” Seorang pria tinggi dan gagah memeluk wanita yang dipanggilnya tadi. Kedua pipi wanita itu ia kecup sebelum bibir yang menjadi tujuan terakhirnya. Wanita bernama Seohyun tadi terlihat jelas sekali membalas kecupan itu dengan setengah hati.

Dalam pelukan Jessica, Yuri terdiam. Pandangan matanya kini beralih pada betis indah wanita bernama Seohyun tadi yang terlihat begitu cantik dan menawan  dalam balutan cocktail dress merahnya yang seksi dan menggoda.

Telepon Seohyun berbunyi. Ia mulai menjawab panggilan itu dan mulai mengedarkan pandangannya, mencari pria yang akan menjadi customer selanjutnya. Namun kedua matanya terhenti tak kala melihat seorang pria yang sedang memeluk seorang wanita tapi menatap dirinya dengan senyum yang begitu lembut dan menawan, seolah pria itu terjebak dalam pesona yang selalu Seohyun bawa dalam dirinya.

Pandangan Seohyun dan Yuri kini benar-benar beradu. Dalam diam, keduanya tersenyum. Dan hanya Tuhan yang tahu apa arti dibalik senyuman itu sendiri.

.

.

.

The And

.

.

.

Next : E.N.I.F | F.I.N.E

.

.

.

Author Note:

Sepotong cerita diatas adalah sebuah cerita yang diadaptasi dari Music Video Urban Zakapa – I Don’t Love You dan MV teorinya dari @dreamteller di youtube

Buat kalian yang masih bingung dengan ceritanya, biar aku jelasin lagi ya..

Di scene akhir itu si Yuri ngelamar Jessica tapi dia masih curi pandang ke Jessica, wanita yang secara emosional dan fisik menarik perhatiannya.

Di cerita ini, buat Yuri cinta itu berarti pengorbanan.

Dia pertama liat Jessica dengan aura yang ceria tapi lama kelamaan dalam pandangan Yuri, selalu cinta yang berusaha Yuri bangun bikin hatinya lelah dan bimbang sampai akhirnya dia mutusin kalau dia akan tetap bersama Jessica dan melihat cinta sebagai sebuah pengorbanan.

Yuri lihat Jessica sebagai subjek dimana dia harus menaruh pengabdian dan pengorbanan diri

Yuri ga cinta Jessica secara emosional

jadi selama ini si Yuri masih terus nyoba buat cinta sama Jessica

Ada kan scene Yuri liat pasangan lagi berantem di restoran tempat dia makan malam sama Jessica

dia ngeliatnya pertengkaran pasangan di meja belakangnya itu sebagai tanda cinta yang nyata, bukan sebuah cinta yg dipaksakan kaya cintanya dia ke Jessica .

Banyak hal yang diributin sama sepasang kekasih dimana kalau temen biasa gakan ngelakuin hal itu.

intinya Yuri liat pertengkaran itu sebagai lambang cinta yang nyata, bukan palsu kaya yg dia lakuin ke Jessica.

cinta Yuri buat Jessica itu berdasarkan usaha dan pengorbanan Yuri buat punya rasa cinta ke Jessica

Yuri berusaha buat mencintai Jessica dengan mengorbankan emosi dan perasaan dia yang sebenernya.

cincin yg Yuri kasih ke Jessica itu lebih melambangkan bagaimana nanti si Yuri bakal terus nyoba buat cinta sama Jessica bukan sebuah janji dimana dia akan mencintai Jessica selamanya kaya seorang pria yg udah beneran cinta sama pasangannya.

Yuri coba kontrol perasaannya serasional mungkin sampai hatinya jadi kering dan datar. Hampa gtu.

Buat Yuri, cinta itu bukan sesuatu yang harus selalu datang dari hati tapi ya murni cuma sebuah usaha untuk tetap ada di samping Jessica

Jadi Yuri akan selamanya ada di sisi Jessica tapi secara bersamaan dia berada dalam keadaan yang sebenernya ga cinta Jessica sama sekali.

Jahat ya?

Tapi manusiawi sih kalau kata aku.

Karena apa ya… mungkin kita juga pernah ada dalam posisi itu.

Coba tanya lagi deh sama ingatan kalian, pernah ga kalian gituin seseorang yang bener-bener cinta sama kalian?

Bener loh pepatah yang bilang kalau rumput tetangga terlihat lebih hijau dan bagus dari punya kita.

Aku sendiri masih sering mikir kaya gtu.

Terkadang kita terlalu fokus ngejar sesuatu yang jauh dan ga pasti sedangkan yang udah ada dihadapan mata dan pasti malah kita abaikan.

Dari cerita diatas, aku ingin berbagi pengalaman yang mungkin bisa sedikit mengetuk hati dan pikiran kita tentang apa cinta itu sendiri.

Jadi harusnya kalau emang ga cinta lebih baik jujur ya J

Jangan ragu dan ngerasa gak enak buat bilangnya.

Karena hidup dalam sebuah kebohongan dan kepura-puraan sendiri adalah sebuah penderitaan terbesar yang sebenarnya bisa ditanggulangi kalau kita mau belajar jujur sama diri kita sendiri.

Dan untuk seseorang yang selalu mengingatkan aku untuk mencintai diriku sendiri, Terimakasih.

You are the big help that God send to me.

So don’t ever think to leave me and end our friendship.

Because you are not a friendshit to me.

So.. keep me with you.

Keep me with your positive thought.

Least but not last, Happy Sunday dan Sehat selalu.

Hope God always mercy you.

cw3nkczucaam4tn

.

 

Iklan

10 pemikiran pada “E.I.L|L.I.E – [YULSIC]

  1. kerennnn thor..
    mnurut aku yuri gk jahat sih cman msih brusaha aja tuk mncintai jessica,
    tp yang jelas aku stuju banget sma author ^^

  2. Kerennn aku kira yulsic pasangan yang perfect ternyata eh ternyata tapi kalo gitu kasian ke Jessica nya ia udah mencintai sepenuh hati tapi di bales cuman gitu doang sama yuri tapi author juga ada benernya juga sih 😘😘

  3. Meski belom cinta secara emosional setidaknya yuri udah berusaha kasih yang terbaik yg dia bisa 😀😀😀
    Setuju banget nih sama authornya 👍👍👍

  4. Gue setuju banget ama author-ssi mungkin pandangaku kebanyakan orang sekarang memang begitu 🙂 gue suka ff author-ssi, cara deskripsikan pas, sudut pandangnya juga pesan yang ditampilkan setiap ff itu ngena dan bermakna banget. Intinya gue suka tulisan lu, author-ssi :’) sorry baru komen.

  5. Ping balik: ENCOUNTER (Taeny, Yulsic, Yoonfany & Yoonsic Version) | Perfect The Imperfection

  6. Ping balik: Password ENCOUNTER | Be Different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s