E.I.L|L.I.E – [TAENY]

tiffany marie claire (7)

“Ahh.. aku lapar sekali. Padahal tadi kita hanya berbelanja sebentar, tapi perutku sudah selapar ini.” Tiffany dan Taeyeon baru saja tiba di sebuah restoran bernuansa western yang terlihat modern dan berkelas, menyajikan hidangan terbaik untuk para tamu yang datang. Tidak butuh waktu yang lama untuk keduanya tiba di meja yang sudah Taeyeon pesan sejak beberapa hari lalu. Restoran tempat mereka akan menyantap makan malam adalah restoran yang sudah mendapatkan Michellin Star dimana hanya restoran-restoran dengan pelayanan terbaik dan tentunya hidangan tebaik yang dapat memperolehnya. Sesampainya di dalam resto, Taeyeon dan Tiffany disambut oleh pelayan dengan jas hitam rapinya. Pelayan tersebut yang mengantar Taeyeon dan Tiffany menuju meja yang sudah dipesan.

“Tunggu, biar aku membantu, My Lady.” Tiffany tak bisa menyembunyikan senyumannya ketika Taeyeon menarik kursi untuknya seperti seorang charming gentleman.

“Aww.. kau manis sekali Tuan Kim.” Tiffany mencoba terlihat untuk tidak terlalu girang dengan tindakan manis yang Taeyeon tunjukan tadi.

Anytime and anything for you, My Lady” demi apapun, Taeyeon  terlihat begitu mempesona dengan senyum manisnya yang penuh karisma. Kedua alisnya yang cukup tebal membuat Taeyeon memiliki daya tarik tersendiri sehingga tak heran jika banyak wanita yang mengejar kekasihnya itu. Kulit putih mulusnya menambah  ketampanan Taeyeon. Perawakannya yang tidak terlalu tinggi namun masih terlihat begitu jantan dengan tubuh kekarnya membuat Taeyeon banyak dikagumi kaum hawa, termasuk Tiffany yang merasa beruntung bisa menjadi wanita yang selalu menjadi prioritas utama Taeyeon. Apalagi dengan busana yang Taeyeon gunakan hari ini.

Sebuah kemeja putih  yang dipeluk erat oleh jas single breasted suit hitam yang senada dengan celana kain yang Taeyeon gunakan membuat pria bermarga Kim itu terlihat begitu keren layaknya aktor atau publik figur yang Tiffany idolakan, tentu saja selain kedua orang tuanya.

“Terimakasih bany…”

“Kembali kasih.” Taeyeon hanya tersenyum lembut  menganggukan kepalanya lalu berjalan ke tempat duduknya yang berada tepat dihadapan Tiffany.

Pelayan mulai datang membawa daftar menu terbaik mereka.

“Selamat malam Tuan dan Nyonya, kami menyediakan hidangan khusus steak malam ini. Hidangan rekomendari dari restoran kami adalah Wagyu steak serta Tenderloin steak  yang kami import langsung dari Amerika Serikat, Selandia Baru….” Pelayan dengan kemeja putih dan rompi hitamnya itu menjelaskan secara detail semua menu yang bisa menjadi pilihan bersantap Taeyeon dan Tiffany. Berbeda dengan Tiffany yang begitu serius mendengarkan penjelasan tentang hidangan yang akan disantapnya, Taeyeon terlihat tidak bisa membagi fokusnya karena pandangannya hanya tertuju pada wanita dihadapannya yang terlihat begitu cantik dalam balutan dress biru langit yang membuat siapapun tak bisa mengalihkan pandangannya dari seorang Tiffany Hwang.

“Taeyeon-ah?” tanya itu membangunkan Taeyeon dari adorasinya pada sang kekasih yang tertawa kecil melihatnya linglung seperti anak hilang yang imut dan menggemaskan.

“Iya?”

“Kau akan memesan apa?”

“Oh aku akan memesan.. heumhh…” terlihat jelas sekali bahwa tadi Taeyeon tidak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh pelayan yang melayani mereka. Tiffany tertawa kecil dalam hatinya melihat tingkah imut prianya itu. Tak ingin lebih lama membuat kekasihnya terlihat konyol, Tiffany segera menyentuh telapak tangan Taeyeon yang terdiam melihatnya.

“Dia akan memesan Tenderloin steak  sedangkan aku Wagyu steak. Untuk minumnya kami akan memesan….” Meskipun Tiffany berbicara pada pelayan yang melayani mereka namun tatapannya tak terputus pada Taeyeon, seakan mencoba mengecek bahwa apa yang dikatakannya benar dan mendapat persetujuan dari pria dihadapannya. Taeyeon menganggukan kepalanya mendengar apa yang dipesan oleh Tiffany untuknya. Ia yakin Tiffany tahu yang terbaik untuknya.

“Fany-ah.. sepertinya sesuatu tertinggal di mobilku. Aku akan mengambilnya dulu, kau tunggu disini ya.” Tiffany mengangguk dalam senyumnya mendengar ucapan Taeyeon yang segera berlari menuju mobilnya untuk mengambil sesuatu yang akan sangat penting untuk acara makan malamnya hari ini

.

.

.

“Untukmu, Nona Hwang.” Sebuket mawar putih kini Taeyeon berikan pada wanita yang terlihat tak bisa berkata-kata menerima salah satu kejutan yang ia siapkan. Hanya senyuman penuh dengan kegembiraan yang menjadi reaksinya.

“Benarkah?” Tanya itu tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan.

“Iya Sayang. Semoga kau menyukainya.” Ucap Taeyeon hangat dan terdengar tulus yang menghangatkan hati Tiffany untuk kesekian kalinya. Taeyeon.. prianya itu tidak pernah berhenti memberikan kejutan-kejutan yang selalu berhasil membuat harinya lebih berwarna dan dipenuhi dengan cinta.

“Ahh.. Terimakasih aku sangat menyukainya Sayang.”  Mawar putih itu kembali Tiffany hirup wanginya sebelum disimpan di samping kirinya karena kini makanan pembuka yang mereka pesan sudah tiba.

“Syukurlah kalau begitu.” Pandangan keduanya bersatu dan senyum itu kembali muncul. Merasa konyol, keduanya juga tertawa dalam senyuman mereka, tak peduli dengan pandangan di sekitar.

.

.

.

“Cobalah, aaaahh..” steak yang mereka pesan kini sudah terhidang begitu lezat dan menggugah selera. Tiffany memotong miliknya dan mulai menyuapkan potongan pertamanya untuk sang kekasih yang segera membuka mulutnya, menerima suapan penuh cinta darinya.

Is it good?” senyuman dan anggukan penuh kepuasan yang Taeyeon berikan  menjadi jawabannya.

“Nah.. kau juga harus mencoba milikku.” Kini Taeyeon memotong steak di piringnya ke dalam porsi yang pas di bibir wanitanya. Ia suapkan steak itu pada Tiffany  yang terlihat tidak sabar untuk menerimanya.

“Bagaimana?”

“Heumh.. ini enak sekali!” Tiffany terlihat begitu gembira dengan rasa yang kini bermain di lidahnya. Taeyeon tersenyum puas melihat kebahagiaan yang ditunjukan oleh kekasihnya.

“Aku kan sudah bilang bukan seperti itu kejadiannya. Kau terlalu curiga padaku.” Suara seorang pria di belakang Taeyeon mengalihkan perhatiannya. Perlahan dia tolehkan kepalanya ke belakang, melirik sumber suara itu.

“Bagaimana aku tidak curiga, kau tiba-tiba saja tidak menghubungiku hari itu dan aku mengetahui dari sahabatmu sendiri bahwa kau menemui mantan kekasihmu!” Wanita yang duduk dihadapan pria itu tak bisa menyembunyikan kekesalan dan amarahnya pada kekasihnya.

“Dia hanya masa laluku, Sunkyu-ah. Lagipula itu hanya pertemuan untuk membahas kerjasamaku dengan perusahaannya. Kau tidak perlu cemburu seperti itu.” Pria itu mencoba meyakinkan kekasihnya yang terlihat masih belum bisa percaya dengan kata-katanya.

“Aku cemburu karena aku mencintaimu. Kau harusnya bahagia jika aku seperti ini, Sooyoung-shi!” meskipun ada sedikit bentakan di akhir kalimatnya, entah mengapa Taeyeon yakin wanita tadi tidak benar-benar ingin membentak prianya. Dia hanya ingin mengungkapkan cintanya tapi mungkin caranya yang kurang tepat.

Taeyeon memperhatikan mereka dalam diam tak mendengarkan apa yang sedang Tiffany bicarakan padanya.

“Sayang… Taeyeon-ah?” Tiffany memanggilnya dan fokus Taeyeon kini beralih pada wanita dihadapannya lagi.

“Mengapa kau tertarik sekali mendengarkan pertengkaran mereka?” pertanyaan itu membuat Taeyeon terdiam dan sedikit salah tingkah. Suasana mendadak menjadi canggung entah mengapa. Keduanya terdiam sejak pertanyaan itu Tiffany ajukan pada Taeyeon.

“Aku bersyukur karena kita jarang bertengkar seperti itu, apalagi didepan umum. Ah.. bagaimana kita akan bertengkar jika kau selalu mengerti dengan semua keinginanku?” Tak ingin lama-lama terjebak dalam suasana yang kurang nyaman bagi keduanya, Tiffany berbicara. Senyum bulan sabit itu Tiffany berikan pada Taeyeon yang tersenyum juga menerimanya.

.

.

.

Taeyeon baru saja selesai menyelesaikan urusannya toilet. Ia melangkahkan kedua kakinya, berjalan kembali menghampiri sang kekasih yang masih menunggu di mejanya. Kaki itu berhenti melangkah ketika Taeyeon melihat lagi Tiffany yang masih duduk di kursinya. Entah mengapa perlahan pandangannya menjadi berubah ketika ia melihat lagi sang kekasih yang kini sedang memperbaiki riasan wajahnya.

Dalam diam Taeyeon memandangi Tiffany.

 ‘Apa aku benar-benar menyukainya?’

‘Apa pilihanku benar?’

‘Apa dia benar-benar adalah wanita yang tepat untukku?’

‘Apa aku benar-benar mencintainya?’

Semua hal itu bermain di pikiran Taeyeon dan memberatkan hatinya.

Tidak ada yang salah dengan Tiffany.

Kekasihnya itu adalah wanita yang banyak diidamkan oleh seorang pria.

Cerdas, Lembut, Ceria, Manja dan feminin.

Mungkin hal itu yang membuat Tiffany banyak dikejar oleh pria-pria untuk dijadikan pasangan.

Dan Taeyeon bersyukur karena Tiffany lebih memilih untuk bersamanya, mencintainya hingga detik ini.

Perlahan senyum itu muncul namun rasa yang berada di dalamnya berbeda. Taeyeon masih belum bisa mendefinisikannya. Pandangannya tidak pernah terputus pada wanita yang telah menjadi kekasihnya selama 2 tahun ini.

Senyum Taeyeon semakin mengembang ketika Tiffany menangkap pandangannya dan tersenyum malu karena sejak tadi prianya itu memperhatikannya  dengan tatapan yang begitu dalam dan hangat, membuat wanita manapun meleleh dan salah tingkah dibuatnya.

“Fany-ah.. kemarilah.” Posisi tempat Taeyeon berdiri di dekat bar dengan posisi mejanya memang tidak jauh sehingga ia tidak perlu berteriak keras untuk memanggil wanitanya.’

“Mengapa aku harus kesana?” goda Tiffany dalam tanyanya.

“Kemarilah, maka kau akan tahu.” Dengan tatapannya yang begitu dalam dan lembut, Taeyeon berucap sehingga wanita manapun akan sulit untuk menolak permintaannya.

“Baiklah..” masih dalam tawanya, Tiffany  menghampiri sang kekasih yang tersenyum dalam diam di tempatnya. Tidak memerlukan waktu yang lama bagi Tiffany untuk berada dihadapan kekasihnya yang masih terdiam menatapnya penuh dengan cinta.

“Fany-ah..” Taeyeon mengambil tangan kiri Tiffany yang terdiam masih dalam senyum malu-malunya, seperti seorang remaja yang kasmaran.

“Menikahlah denganku.” Dari saku kanan jasnya, Taeyeon mengeluarkan sebuah cincin emas putih dengan butiran permata kecil di tengahnya. Tanpa menunggu jawaban Tiffany, cincin cantik itu Taeyeon sematkan di jari manis wanita dihadapannya.

“Sayang.. Terimakasih. Aku bahagia sekali!” Tubuhnya Tiffany hamburkan kedalam pelukan sang kekasih yang tersenyum kecil menerima kehangatan yang Tiffany berikan padanya.

Seorang pria masih fokus mengendarai mobilnya ketika telepon pintarnya berdering. Melihat nama yang terpampang dilayar monitor audio layar sentuh dashboard mobilnya, pria itu terdiam. Hembusan nafasnya yang biasa perlahan menjadi berat namun dirinya tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu untuk dihindari. Nafas berat itu keluar dengan cepat sebelum perlahan kembali berangsur menjadi ringan dan normal seperti biasanya. Dengan senyum yang berusaha ia berikan untuk dirinya sendiri, pria itu menekan layar sentuh yang akan segera menyambungkan dirinya dengan seseorang yang tidak mungkin ia hindari.

“Hallo.” dengan lembutnya pria itu menyapa suara yang sedari tadi menunggu jawabannya. Dari kejauhan dia bisa mendengar musik pop terbaru dan terbaik di tangga lagu sedang bermain menjadi background musik yang menemani orang yang sedari tadi mencoba untuk menghubunginya.

“Sayang.. kau ada dimana?” pria itu masih terdiam mendengar pertanyaan itu diajukan padanya. Tatapannya berpencar mencoba memikirkan jawaban terbaik untuk menjawab kekasihnya.

“Aku sedang berada di suatu tempat.” Pria itu mencoba untuk terdengar misterius namun gagal.

“Aku tahu tapi tepatnya dimana? Kau tahu.. aku merindukanmu. Apa kau tidak akan bisa menemuiku lagi seperti kemarin?” tawa itu keluar menemani senyuman yang pria itu sunggingkan di wajahnya mendengar nada manja dari keluhan wanitanya. Namun sayang, senyum dan tawa itu tidak terlihat lepas dan alami seperti seharusnya. Ada unsur keterpaksaan didalamnya yang coba ditutupi oleh pria itu. Ketampanan dan karisma dari pria itu sayangnya belum berhasil menutupi sebuah fakta bahwa bukan hatinyalah yang tertawa tadi diiringi dengan kebahagiaan didalamnya.

“Ah benarkah seorang Tiffany Hwang merindukanku?” pria itu ingin membangun mood-nya dengan mulai menggoda sang kekasih yang dalam benaknya terbayang sedang merengut imut.

“Isshh.. kau jahat! Aku seperti tidak memiliki seorang kekasih karena pria bernama Kim Taeyeon tidak mau menemuiku bahkan hanya untuk makan siang bersama. Tuhan.. apa salahku di masa lalu sehingga aku menerima takdir seperti ini?” wajah cemberut  yang mengggemaskan itu sudah pasti yang menjadi ekspresi wanitanya.

“Takdir seperti apa?” pria itu masih mencoba untuk terdengar biasa dalam tanyanya meskipun sebenarnya ia penasaran juga.

“Sebuah takdir dimana aku mencintai seorang pria yang cuek, tidak perhatian, tampan, tidak menyenangkan namun selalu sukses membuat hatiku dan hati wanita lainnya berdetak tak karuan layaknya sebuah bom waktu yang akan meledak.” Pengakuan itu tidak terdengar seperti sebuah sindiran tapi lebih terdengar sebagai sebuah kekaguman. Mendengar itu Taeyeon hanya tertawa kecil dengan merdunya membuat sang kekasih yang berada di tempat lain secara tanpa sadar ikut tertawa dengannya.

“Oh.. keren sekali pria bernama Kim Taeyeon itu! Kau harus segera mengenalkannya padaku.” masih dengan nada ‘cool’-nya pria tadi berkata pada sang kekasih yang malah semakin merengek manja layaknya seorang remaja meskipun umur mereka kini sudah bisa digolongkan dalam kategori usia dewasa.

“Yah!!! Kau menyebalkan sekali, boyfriend!” nada wanita itu semakin meninggi dan memekik, terdengar semakin kesal pada kekasihnya yang menyebalkan namun tetap ia rindukan, selalu.

“Yeah… I know I’m that awesome, girlfriend.” Ucap pria bernama Kim Taeyeon tadi ringan tanpa beban.

“Heumh.. aku harus meminta kembali doaku pada Tuhan beberapa hari yang lalu.” Ingatan wanita itu kembali kepada pengalamannya selama di Roma, mengikuti kegiatan peragaan busana kelas internasional yang banyak dihadiri oleh publik figure serta tokoh-tokoh penting di dunia hiburan. Di sela kesibukannya, wanita itu masih menyempatkan diri untuk melakukan sebuah ritual yang sudah dilakukan orang sejak dulu, yaitu melemparkan koin di air Trevi Fountain yang sudah menjadi ikon tersendiri bagi mereka yang sedang berada atau hendak bepergian ke Roma.

“Apa itu?”

“Aku sepertinya harus meminta kepada Tuhan untuk merevisi rasa cintaku padamu.” Dari nada bicaranya, Tiffany terlihat serius.

“Maksudnya? Revisi? Hahaha memangnya cinta itu sebuah skripsi?”tawa itu tak bisa Taeyeon tahan setelah mendengar pernyataan kekasihnya tadi.

“Yes.. kau menyebalkan sekali. Harusnya aku meminta kepada Tuhan agar aku tidak jatuh cinta padamu.” Tiffany mencoba sebisa mungkin untuk terdengar menyesal dengan rasa cinta yang dimilikinya untuk sang kekasih.

“Mengapa?” Taeyeon kembali bertanya pada wanita yang masih hening dalam diamnya.

“Karena jatuh itu menyakitkan. Lebih baik aku membangun cinta itu dengan fondasi yang kuat dan kokoh agar cinta kita bertahan walau dilanda badai sekuat apapun untuk selamanya, hingga mau memisahkan.”

‘Kita..’ Taeyeon berucap dalam hatinya.

“Sayang? Kau masih disana?” Suara Tiffany membangungkan Taeyeon dari pikirannya. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada jalan yang sedang dilaluinya.

“Ahh.. ya. Lalu bagaimana?” mencoba terlihat biasa, Taeyeon mengeluarkan nada terlembutnya.

“Bagaimana apanya?” Kini malah Tiffany yang balik bertanya.

“Tentang permintaanmu. Apa kau masih ingin merevisinya?” tawa itu kembali datang ketika Taeyeon mengingat kembali ucapan kekasihnya tadi.

“Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin merevisinya. Tapi… dengan kau menjadi kekasihku dan mencintaiku seperti sekarang, aku tidak bisa meminta lebih dari itu karena Tuhan sudah begitu baik bisa menyatukanku dengan pria sepertimu, impianku.” Ungkapan manis itu terdengar jujur dan tidak dibuat-buat. Semua kata yang terucap, dikatakan dengan penuh cinta. Rasa lain kini bermain di hati Taeyeon. Sebuah rasa yang sejujurnya belum bisa ia definisikan sebagai cinta seperti yang Tiffany miliki untuk dirinya.

“Impianmu?” Taeyeon kembali bertanya pada kekasihnya yang tanpa perlu pikir panjang untuk menjawabnya.

“Aheuh. Kau adalah salah satu impianku Kim Taeyeon, mimpi indahku.” Tiffany berucap dengan suaranya yang bulat, tanpa sebuah keraguan didalamnya.

‘Mimpi indahmu…’ kata-kata itu membahagiakan sekaligus menyedihkan bagi Taeyeon.

“Aww.. kau manis sekali Nona.” Dengan nadanya yang menggoda, Taeyeon kembali bersuara, mencoba menutupi suasana hatinya yang sebenarnya.

“Tentu saja, aku kan wanitamu, belahan jiwamu.” Dengan percaya diri Tiffany mengeluarkan pernyataan itu.

‘wanitaku.. belahan jiwaku..’ kata-kata tadi benar-benar membuat Taeyeon berpikir tentang hatinya.

“Taeyeon-ah…” Panggilan yang lembut dan merdu itu membuat Taeyeon kembali ke dunia nyata.

“Ya?” tanya yang menjadi jawaban Taeyeon.

“Mengapa kau..” ucapan Tiffany terhenti

“Fany-ah.. kau ada di kantor kan? Aku akan segera tiba di kantormu 10 menit lagi. Bersiap-siaplah.”

 

Lamaran tadi adalah hal yang ia lakukan untuk memantapkan hati Taeyeon. Pria bermarga Kim itu berharap suatu hari nanti, ia bisa benar-benar mencintai Tiffany setulus hati. Tiffany menerima lamaran itu tanpa tahu jika sebenarnya perasaan Taeyeon masih bimbang padanya, hati pria bermarga Kim itu bukan tertuju padanya. Taeyeon tidak mencintainya secara emosional, dia hanya mencoba untuk terus berusaha membuat hatinya agar bisa mencintai Tiffany.

Dari sekian banyak hubungan yang terjalin selama ini, dari Tiffanylah cinta itu bisa dengan sungguh-sungguh Taeyeon rasakan. Maka dari itu, meskipun selama 2 tahun ini dia menjalin hubungan dengan Tiffany, sebenarnya cinta itu masih belum bisa tumbuh menjadi seperti yang Tiffany berikan padanya.

“Seolhyun-ah.. aku pergi dulu.” Seorang pria tinggi dan gagah memeluk wanita yang dipanggilnya tadi. Kedua pipi wanita itu ia kecup sebelum bibir yang menjadi tujuan terakhirnya. Wanita bernama Seolhyun tadi terlihat jelas sekali membalas kecupan itu dengan setengah hati.

Dalam pelukan Tiffany, Taeyeon terdiam. Pandangan matanya kini beralih pada betis indah wanita bernama Seolhyun tadi yang terlihat begitu cantik dan menawan  dalam balutan cocktail dress merahnya yang seksi dan menggoda.

Telepon Seolhyun berbunyi. Ia mulai menjawab panggilan itu dan mulai mengedarkan pandangannya, mencari pria yang akan menjadi customer selanjutnya. Namun kedua matanya terhenti tak kala melihat seorang pria yang memeluk seorang wanita tapi menatap dirinya dengan senyum yang begitu lembut dan menawan, seolah pria itu terjebak dalam pesona yang selalu Seolhyun bawa dalam dirinya.

Pandangan Seolhyun dan Taeyeon kini benar-benar beradu. Dalam diam, keduanya tersenyum. Dan hanya Tuhan yang tahu apa arti dibalik senyuman mereka.

.

.

.

The And

.

.

.

Next : E.N.I.F | F.I.N.E

.

.

.

Author Note:

Sepotong cerita diatas adalah sebuah cerita yang diadaptasi dari Music Video Urban Zakapa – I Don’t Love You dan MV teori dari @dreamteller di youtube

Buat kalian yang masih bingung dengan ceritanya, biar aku jelasin lagi ya..

Di scene akhir itu si Taeyeon ngelamar Tiffany tapi dia masih curi pandang ke Seolhyun, wanita yang secara emosional dan fisik menarik perhatiannya.

Di cerita ini, buat Taeyeon cinta itu berarti pengorbanan.

Dia pertama liat fany dengan aura yang ceria tapi lama kelamaan dalam pandangan Taeyeon, selalu cinta yang berusaha Taeyeon bangun bikin hatinya lelah dan bimbang sampai akhirnya dia mutusin kalau dia akan tetap bersama Tiffany dan melihat cinta sebagai sebuah pengorbanan.

Taeyeon lihat fany sebagai subjek dimana dia harus menaruh pengabdian dan pengorbanan diri

Taeyeon ga cinta fany secara emosional

jadi selama ini si Taeyeon masih terus nyoba buat cinta sama fany

Ada kan scene Taeyeon liat pasangan lagi berantem di restoran tempat dia makan malam sama fany

dia ngeliatnya pertengkaran pasangan di meja belakangnya itu sebagai tanda cinta yang nyata, bukan sebuah cinta yg dipaksakan kaya cintanya dia ke Tiffany .

Banyak hal yang diributin sama sepasang kekasih dimana kalau temen biasa gakan ngelakuin hal itu.

intinya Taeyeon liat pertengkaran itu sebagai lambang cinta yang nyata, bukan palsu kaya yg dia lakuin ke fany.

cinta Taeyeon buat fany itu berdasarkan usaha dan pengorbanan Taeyeon buat punya rasa cinta ke fany

Taeyeon berusaha buat mencintai Tiffany dengan mengorbankan emosi dan perasaan dia yang sebenernya.

cincin yg Taeyeon kasih ke fany itu lebih melambangkan bagaimana nanti si Taeyeon bakal terus nyoba buat cinta sama fany bukan sebuah janji dimana dia akan mencintai fany selamanya kaya seorang pria yg udah beneran cinta sama pasangannya.

Taeyeon coba kontrol perasaannya serasional mungkin sampai hatinya jadi kering dan datar. Hampa gtu.

Buat Taeyeon, cinta itu bukan sesuatu yang harus selalu datang dari hati tapi ya murni cuma sebuah usaha untuk tetap ada di samping fany

Jadi Taeyeon akan selamanya ada di sisi fany tapi secara bersamaan dia berada dalam keadaan yang sebenernya ga cinta fany sama sekali.

Jahat ya?

Tapi manusiawi sih kalau kata aku.

Karena apa ya… mungkin kita juga pernah ada dalam posisi itu.

Coba tanya lagi deh sama ingatan kalian, pernah ga kalian gituin seseorang yang bener-bener cinta sama kalian?

Bener loh pepatah yang bilang kalau rumput tetangga terlihat lebih hijau dan bagus dari punya kita.

Aku sendiri masih sering mikir kaya gtu.

Terkadang kita terlalu fokus ngejar sesuatu yang jauh dan ga pasti sedangkan yang udah ada dihadapan mata dan pasti malah kita abaikan.

Dari cerita diatas, aku ingin berbagi pengalaman yang mungkin bisa sedikit mengetuk hati dan pikiran kita tentang apa cinta itu sendiri.

Jadi harusnya kalau emang ga cinta lebih baik jujur ya J

Jangan ragu dan ngerasa gak enak buat bilangnya.

Karena hidup dalam sebuah kebohongan dan kepura-puraan sendiri adalah sebuah penderitaan terbesar yang sebenarnya bisa ditanggulangi kalau kita mau belajar jujur sama diri kita sendiri.

Dan untuk seseorang yang selalu mengingatkan aku untuk mencintai diriku sendiri, Terimakasih.

You are the big help that God send to me.

So don’t ever think to leave me and end our friendship.

Because you are not a friendshit to me.

So.. keep me with you.

Keep me with your positive thought.

Least but not last, Happy Sunday dan Sehat selalu.

Hope God always mercy you.

c2wujbuvqaal8wn

Iklan

47 pemikiran pada “E.I.L|L.I.E – [TAENY]

  1. keterlaluan sekali
    kalo memag tdk merasakan cinta ya sudah mengaku saja
    kenapa?tdk enak hati,ato sudah terlanjur bersama maka bair saja begitu adanya..
    ah taeyeon gimana sih jujur aja lah meski nanti ujungnya nyakitin tp bukankah emang udh nyakitin dengan kepura2anmu
    klo bilang taeyeon itu tdk bersyukur tepat gk yah
    tepat aja yah*maksa
    dicintai seorang tiffany gitu..
    hai orng diluar sana mungkin tdk ada yg seberuntung taeng bisa dapetin seorang tiffany hwang

    klo ini ada lanjutannya inginnya sih fany menyadari semua terutama perasaan taeyeon untuk dia..tp gk mungkin yah udh ending kan..

    memang ya ygg namanya perasaan itu tdk bisa dipaksaan tp alangkah baiknya jujur saja apalagi dg yg namanya perasaan sendiri…menyakitkan,memang..tp akan indah pd saatnya
    heheeee…

  2. wow! so,, she love him but he couldn’t love her back…
    even if he could,,,she in love with somebody who doesn’t know the meaning of love…
    it is not love dear,,,but don’t worry..all is work if you can gain the pain..believe it “Amor Vincit Omnia”
    ohhh dan utk taeyeon..love her even if it’s difficult..you’ll never know what good you’re loosing until you lost it..hati-hati

    utk catetan paling bawah…
    anytime and always…

  3. Lebih baik berkata yang sebenarnya daripada berpura-pura. Itu tak adil untuk keduanya. Taeyeon tersiksa karena mesti berbohong untuk mencintai Tiffany. Tiffany hanya mencintai kebohongan yang diciptakan Taeyeon.

  4. Jahat. Tapi manusiawi ? hmm ya
    aku pernah ngalamin tp akhirnya putus, itu lebih baik drpd trus maksain sama2, bahagia iya bahagia tp ga bener2 bahagia

  5. Sebetulnya liat taeyeon disini sedih yaa gk bisa jujur sama fany apalagi kesanya kayak membohongi fany, aku rasa tae dan fany harus menyendiri dulu deh biar tqu kalau gk deket deket apakah merasakan rindu dan sebagainya….

    Kalau ada next nya, buat tae menyadari bahwa tiffany sangat berharga baginya begitupun sebaliknya semoga semua baik baik aja ☺

    • nah!
      knp aku bilang taeyeon jahat tapi manusiawi?
      karna disini yg menderita itu justru Taeyeon menurut aku.
      Hidup dalam kepura-puraan itu gaenak loh.
      Hidup pake topeng itu cape.
      Makanya kita kalau liat masalah jgn dari satu sisi
      coba liat juga dari sudut pandang lain.

  6. Knp si tae gk jujur aja sma fany?? Kalo menurut aku ya di sini situasinya agak rumit,sebenarnya taeyeon itu dia suka sama fany but dia masih confused with her own feelings, and disini juga dia mencoba tetap sama fany kan,kalo di bilang jahat ya jahat semua org pasti gk mau diginiin,tapi aku harap taeyeon jadi bisa tulus lah sma tiffany.

  7. Terkadang manusia memang egois walau mereka tidak meneriakkan klo mereka egois.
    Yg taeng lakukan jahat n egois karna dy ga mau kehilangan tp juga ga yakin klo dy mencintai fany
    Dan seolhyun emang lagi anget2nya dihubungin ama taeng semenjak mereka komenan di suatu acara 😂😂😂😂

  8. Taeyeon jahat klo emang nggak cinta yah nggak usah sampai dilamar jga dong masa mau nikahin tiffany tapi ujung-ujungnya ngelirik cewek lain jga

  9. Kyaaaaaaa!!! Kata2nya sukaaaa 😘😘
    Emang jujur itu harus walau terkadang menyakitkan…
    Mungkin tae msh bimbang tp dia berusaha buat ngeyakinin hatinya untuk fany..
    Di sini tae hanya ngelirik kan enggak sampai pacaran atau semacamnya (soalnya keburu end) 😊jd di sini aku msh berada d pihaknya tae yg msh berusaha walaupun hrs berbohong sama fany yg terpenting dia msh ad untuk fany n ngebuat fany bahagia tanpa menyakiti fany (meskipun berbohong)
    #agak susah ngasi pendapat aku yg di ketik sm yg dipikirin nggak sinkron 😂

  10. bca ni inget mv urbanzakapa yg model’a seoinguk. eh trnyata bnr dri tu mv.
    aku prnah kya gt dan pas ngalamin itu aku liat mv’a dan aku posting di sosmed irik lagu’a buat kode org tu tp org tu ga peka/mungkin ga peduli. buat jd org yg jujur tu ga segampang kya ngomong’a apalagi ttg prasaan krna kadang ga tau apa yg sbnr’a dirasain. emang egois/jahat sih tp mau gmn cba kalo org tu cinta dgn pengorbanan bkin sulit buat jujur kan.

  11. Setelah baca nih ff. Ada beberapa hal yg menjadi tanda tanya dariku.
    Pertama, apa yg membuat taeyeon pacaran dgn tiffany? Klo dia emg nggk pny perasaan apa2 lalu knp hrs pacaran dgn tiffany?
    Kedua, kok taeyeonnya sampai nggk punya perasaan Cinta yg tulus utk tiffany sih? Kan kasian tiffany
    Ketiga, disini nggk ada menceritakan gimana pertama kalinya taeyeon dan tiffany bertemu hingga akhirnya mereka pacaran.
    Keempat, omg……. Ini ff hrs ada sekuelnya thor…. Hmmmm…… Klo perlu nih, sekuelnya itu taeyeon sama tiffany udh nikah tp ternyata taeyeon masih blm pny perasaan apa2 ke tiffany eh nggk taunya suatu hr si tae malah selingkuh ama seolhyun. Nahh…. Suatu saat si tiffany tau klo selama ini trnyata tae nggk mncintai dia. Namun setelah tiffany tau eh si taeyeon malah udh mulai suka gtu ama tiffany.

    Waahhhhh….. Pasti bakalan keren tuh ceritanya thor… Wkwkwkkwkw

  12. gw suka sama ceritanya ditambah gmn lu jelasin di ending. setuju bgt sih, emg gk bisa dipaksain, tiap org kan pasti beda tp emang lebih baik jujur dr awal walau mungkin ada yg tersakiti, dari pada udh jalan lama baru ketahuan aslinya, sakit nya malah makin dlm

  13. Omooo suka deh ini ceritanya
    Banyak emang yg gini. Tau banget taeng harus nyoba buat cinta krna satu sisi dia gak mau nyianyiain orang yg cinta sama dia, aaahhh tapi ini fany 😿beneran gak ada emosionalnya? Really? Duh sini buat gueee wkwkwk

  14. Aku… Nggak ngerti mau komen apa. Yg jelas persis sama kehidupanku. Beruntung aku udah lepasin dia, dan setelah baca ini aku ngerasa ternyata nggak adil ya buat mereka. Jadi fake itu berat apalagi dikehiduapan kita sendiri dan menjadi korban fake itu lebih berat, berat buat terima kenyataan, apalagi sumber kebahagiaan kita yg ngelakuin itu. tapi benar kata kamu kak cerita seperti ini memang manusiawi… Btw ini kak risma rocksmith kan ya? Aku kehilangan wp mu 😭😭😭 aku pikir waktu itu kamu udah nggak aktif, tapi nemu di tag taeny kok ada wp mu lagii… Halo kak… sepertinya udah banyak ya postingan kamu? Aku ketinggalan 😓😓😓

  15. Yah thor lu kejam!, gk sengaja nyasar kesini lu malah buat ff dg cerita seperti ini,.
    Wkwkwk,,, hiks ini kondisiku saat ini, ada seseorang yg menembakku beberapa bulan yg lalu, sebenarnya aku tdk punya perasaan sama dia, kasihan saja kalau aku menolaknya apalagi didepan umum.
    Tapi sekarang dia malah mempunyai hubungan dg org lain di belakangku.
    Aku sih gk ambil pusing terserah dialah mau gimana aja, yg penting aku gk dirugikan, haha,,,

  16. Kalau pany tau tae cuma pura pura cinta sama dia, gimana tuh? Apa ngak malah ngancurin hati pany,yg bener” cinta sama tae? Ayolah tae kalau kamu sudah dapat bidadari secantik pany, ngak usah lirik” boobs yg lain wkwkwk😆✌

  17. Rumit thor, apa lagi kalo ga cinta tapi tetap harus memilih dia ..
    Krna dorongan dari keluarga..
    Cinta itu rumit ..
    Tapi aku suka kata_kata dan nasihat mu thor ,

  18. nah gtu bikin cerita pendek2 aja, ga pke chap panjang asal km msh nongol aja udh seneng semua. hehe,,,suka aku 😀
    tdnya aq ngerti dr sudut pandang tae, setidakna dia udh nyoba terbaik ama fany wlupun gmn ujungna ntr. cuma pas liat tae lirik badan seolhyun,, hehe,,,aku jd mikir tae mah ambil kesempetan orange,, mata di jaga ya 😀

  19. ini bnyk versi ya thor. baca yg taeny aja udh lma gk baca ff taeny hehe.
    gawat ni klo cinta yg kyk gini sbenarnya gk usah di paksa ntar ujung2ny nyesel gk bahagia wkwk
    taeyeon kyknya masih ragu mana lirik cwek lain lgi dan gk nyangka cwek yg dilirik ternyata seolhyun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s