Marry You

C5Vq5TtUMAA6enP

“Nona.. Tuan mengharapkan kehadiran Anda sekarang.”

“Baiklah.. tolong bilang pada Appa aku akan segera kesana. Terimakasih Paman Cha.” Pria bernama Cha Seung Hoo itu sedikit menunduk sebelum pamit.

“Heumh.. mengapa perasaanku tidak enak?” gadis yang kini telah tumbuh menjadi seorang wanita itu tertawa kecil sebelum menyimpan penanya. Ia menutup beberapa map yang tadi sedang diperiksanya.

“Lebih baik aku mencari tahu jawabannya sekarang.” wanita itu bangkit dari kursi kenyamanannya, berjalan menuju sang ayah yang ia yakini berada di ruang kerjanya.

.

.

.

“Masuklah” Hwang Jung Min masih menggenggam sebuah surat yang dibacanya sejak tadi. Ia menyimpan surat itu, bangkit dan berjalan menghampiri sang putri yang baru tiba di ruangannya.

Appa.. ada yang ingin kau bicarakan?” Jung Min mengiyakan pertanyaan putrinya itu. Ia berdiri mengambil sebuah kotak berukuran sedang, memberikan kotak itu untuk putrinya.

Keheningan malam menemani keduanya. Jung Min mengamati sang putri yang serius melihat dan memeriksa isi kotak yang tadi diberikan padanya. Ada sedikit kerutan di alis sang putri yang membuat Jung Min sedikit khawatir sebenarnya.

“Mau bagaimanapun aku tidak bisa menolaknya kan?” Jung Min memberikan senyum menyesalnya pada putrinya yang tersenyum kecil meyakinkannya.

“Kau mau melakukan ini?” Jung Min tahu putrinya itu takkan tega menolak permintaan Kakek dan Neneknya yang sudah beberapa tahun ini berpulang ke pangkuan Tuhan.

“Well.. kenapa tidak?” Senyuman khas yang membentuk bulan sabit itu tergambar di wajah sang putri meskipun Jung Min tahu hati putrinya itu belum sepenuhnya setuju dengan apa yang tertulis di surat yang diwasiatkan Ayah dan Ibunya.

==== Marry You ====

 “Aku sudah menyeleksi PA barumu. Dia akan mulai bekerja besok.” Pria yang dipanggil tadi masih terdiam memandang lalu lalang Seoul dari atas vilanya di Hannam-dong.

“Secepat itu? Wow.. kau tidak main-main Paman!”

“Kau tahu.. pernikahan kakakmu semakin dekat, maka dari itu kau harus segera mencari pengganti kakak iparmu.”

“Calon paman.. dia masih belum resmi menjadi kakak iparku.”

“Taeng..”

“Paman..”

“Anak muda.. aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Apapun yang akan kau lakukan, lebih baik kau hentikan.”

“Kau yang memancingku. Lagipula kenapa aku harus mencari PA baru jika CALON kaka iparku adalah PA yang sempurna bagiku?”

“Taeng…”

“Paman..”

“Aigoo.. sebenarnya sudah sejauh apa hubungan kalian?” Pertanyaan itu belum Taeyeon jawab meskipun ia tahu pamannya itu pasti sedang menunggu jawabannya.

“Tunggulah.. aku akan membawa favoritmu.” Taeng terdiam memberikan senyum terimakasihnya yang penuh dengan keterpaksaan.

Pikirannya kembali melayang pada wanita yang sudah beberapa hari ini tak bertemu dengannya. Tangan itu ia kepalkan. Ia mendengus, membuang nafasnya kasar mencoba menghapus rasa apapun yang membuat amarahnya terbakar saat ini.

“Minumlah.. hati-hati masih panas.” Sungjeon, orang kepercayaan Kim Jongwoon, pria yang lebih muda beberapa tahun dari ayahnya memberikan secangkir teh chamomile yang mulai Taeyeon minum. Ia menikmati kehangatan dan aroma khas yang membuat mood-nya lebih baik.

“Belajarlah untuk melepaskannya.”

“Aku tahu itu tidak mudah tapi calon kakak iparmu takkan mungkin melepaskan kakakmu.”

“Kenapa paman? bukankah semuanya itu mungkin? Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.”

“Jika waktunya sudah tepat, kau akan mengetahuinya. Aku harap kau bisa mengendalikan emosi dan perasaanmu. Jangan biarkan logikamu terkalahkan oleh emosimu. Itu takkan pernah berakhir dengan baik. Percayalah padaku.” Meskipun Sungjeon tersenyum tapi pria itu tak bisa menyembunyikan kesedihan. Beruntung Taeyeon tak melihat wajahnya saat ini.

“Paman… apa dia mencintai kakaku? Apa dia hanya mempermainkanku selama ini?” Suara Taeyeon masih terdengar tebal dan dalam, gagah seperti biasanya meskipun emosinya perlahan mencurangi pikirannya.

“Aku tidak tahu, hanya calon kakak iparmu dan Tuhan yang mengetahuinya. Menurutmu?” teh itu kembali Sungjeon hirup, begitu menenangkan dan nikmat.

“Dia mencintaiku. Sunmi tidak mungkin mempermainkanku.” ada getaran yang berbeda kali ini dari suara Taeyeon. Sungjeon menarik nafasnya dalam, mencoba memahami situasi ini sekali lagi.

“Percayalah pada apapun yang hatimu katakan. Tapi kau harus bisa membaca situasi saat ini.” wajah itu kembali Sungjeon amati.

“Kenapa harus hyung Paman, dari sekian banyak pria di bumi ini mengapa harus kakakku.” Taeyeon memejamkan matanya, mencoba mengatur kekesalan dan frustasi yang menghantuinya sejak beberapa minggu ini.

Well.. kita tidak akan pernah tahu skenario apa yang Tuhan siapkan.” tawa itu hadir, meskipun rasa kesal itu masih terasa.

Kesunyian itu kembali menyeKimuti kedua orang yang terlihat seperti ayah dan anak menikmati waktu berkualitas ditengah kesibukan mereka.

“Apa dia cantik?” Senyum penuh keterkejutan muncul di wajah Sungjeon. Ia menaikan salah satu alis tebalnya, balik bertanya pada ‘tuan muda’-nya yang menatapnya polos.

“Kenapa? bukankah PA baruku seorang gadis?” ada aura jahat dibalik kepolosan dan ketampanan yang memeluk wajah Taeyeon membuat Sungjeon tertawa puas melihatnya.

“PA barumu seorang pria. Dia 2 tahun dibawahku. Apa kau ingin menjadikannya rebound?” wajah terkejut itu terlihat palsu dan Sungjeon tahu itu.

“Apa kau takut aku akan jatuh cinta lagi pada PA-ku maka kau memilihkanku seorang pria? kau ingin aku berubah haluan Paman Go?” Sungjeon memutarkan pandangan matanya, tak termakan bualan dramatis pria yang digilai banyak gadis seantero Korea Selatan itu.

Appa akan sangat sedih mengetahui anak laki-laki tertampannya menjadi penyuka sesuka jenis.” Meskipun usianya kini sudah menginjak 27 tahun, Kim Taeyeon masih terlihat begitu cute. Semakin tahun, wajah itu bukan menua. Alam seperti sedang bermain dengannya karena setiap tahun Taeyeon semakin terlihat segar dan awet muda seperti seorang remaja.

Oppa!!!” Sungjeon tersenyum melihat Soojung berlari memeluk Taeyeon yang terlihat senang menerima pelukan itu.

“Hei Nona.. ada apa kemari?” Soojung mengkerucutkan bibirnya, terlihat lucu dan imut jika sedang marah seperti ini.

“Apa aku tidak boleh mengunjungi kakakku? Tak bolehkah aku merindukannya?” Puncak kepala itu Taeyeon elus. Ia memberikan senyum terlembut dan tampannya yang bisa melelehkan siapapun yang tak melihatnya.

“Bodoh.. mengapa kau menyerangku seperti ini?” Taeyeon tertawa melihat adiknya itu menikmati perlakuan khusus darinya meskipun Soojung tak mau menunjukannya.

“Bagaimana Kai? cederanya sudah sembuh?”

“Taeng.. sepertinya minumanmu sudah habis, Soojung-ah.. ingin paman buatkan coklat panas?” Sungjeon tahu kedua adik kakak itu butuh privasi. Sedekat apapun ia dengan keluarga Kim, mereka bukanlah satu darah. Maka dari itu, ia selalu berusaha memberikan ruang bagi mereka meskipun mereka sudah sangat dekat.

“Tidak usah Paman terimakasih.” Meskipun terlihat manja dan angkuh, Soojung sebenarnya adalah gadis yang manis. Ia terlihat tak peduli dan masa bodoh dengan sekelilingnya tapi sekali lagi, itu hanyalah sebuah topeng yang sudah diajarkan oleh leluhurnya.

Well.. garis keturunan wanita di keluarga Kim memang terkenal anggun, berkelas, cantik, elegan dan sulit diraih. Tentu di publik luas mereka mengembangkan reputasi yang baik tapi dibalik itu semua jarak itu tetap ada.

Soojung dan kakak perempuannya yang lain, mereka dididik untuk menjadi seorang wanita yang sepantasnya. Soojung masih belajar menjadi wanita yang mulia, terlihat seperti seorang bangsawan meskipun ini adalah era modern dimana kebebasan individu telah menjadi ideologi baru, seakan manusia lupa bahwa kebebasan hadir bukan untuk membuat kita menjadi liar, melainkan membawa kebebasan yang membawa kenyamanan bagi diri kita sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Cederanya sudah membaik. Dia hanya harus beristirahat beberapa minggu lagi.”

“Syukurlah. Aku sudah lama tak duel dengannya. Kekasihmu itu belum bisa mengalahkanku di duel kami beberapa bulan lalu hahaha.” Tawa itu diikuti oleh Soojung. Ia senang melihat kakaknya baik-baik saja, tak seperti yang ia bayangkan.

Oppa.. Unnie kemarin memintaku untuk mengajakmu pergi mengantarnya ke butik Aunty Song.”

Unnie? Seohyunie?”

“Bukan.. Sunmi Unnie yang memintaku.” Soojung sebenarnya tak ingin menyampaikan pesan ini pada kakak keduanya itu. Ia tahu sejarah calon kakak iparnya itu dengan kakak keduanya.

“Aku? kenapa dia tak meminta calon suaminya saja.” kakaknya itu tertawa tapi Soojung tidak dengan hatinya. Ada kepahitan yang berteriak dari tawa itu. Hanya orang bodoh dan mati rasa yang tak bisa mengetahui itu.

“Ji Oppa yang menyuruhnya.” suara Soojung terdengar lemah tapi Taeyeon masih bisa mendengarnya.

“Kau serius?” Sungguh.. Taeyeon tak habis pikir dengan kakak tertuanya itu.

Apa kakaknya itu begitu membencinya hingga ia harus melakukan ini?

“Baiklah.. sampaikan pada Sunmi bahwa aku akan menemaninya.” Amarah dan kekesalan itu berhasil Taeyeon tutupi dengan senyuman nakal nan tampannya yang membuat adiknya itu malah tertawa kecil melihatnya.

“Kenapa?”

“Aku tahu sekarang mengapa banyak wanita yang menjadi korbanmu.” Soojung tertawa lagi sebelum berjalan meninggalkan kakaknya yang terdiam sebelum akhirnya mengejar adiknya yang terlihat lebih dewasa darinya.

.

.

“Sayang, kau tidak menyukainya?” Sunmi berhenti memainkan  saladnya. Ia mencoba untuk memfokuskan pandangannya pada pria di hadapannya yang masih terlihat begitu tampan meskipun mereka hari ini sibuk mengurusi persiapan pernikahan yang akan datang beberapa bulan lagi.

“Tidak.. aku menyukainya.” Senyum yang lembut dan manis itu untuk kesekian kalinya Jiwoong berikan padanya membuat Sunmi tak tahu harus berkata apa.

Untuk beberapa saat mereka hanya menyantap makan malam itu dalam diam meskipun alunan biola yang manis dan romantis menemani mereka sejak tadi.

“Jiwoong… maafkan aku.” Keduanya kini sedang menikmati makanan penutup ditemani anggur merah yang begitu nikmat namun memabukkan bagi keduanya.

“Jiwoong..” pria bermarga Kim itu masih serius menikmati creme brulee-nya, tak terganggu dengan ucapan calon istrinya itu.

“Jangan ucapkan kata itu jika kau hanya akan mengulanginya.” Nada Jiwoong yang tegas namun tenang membuat Sunmi seketika terdiam.

“…”

“Sunmi ini semua demi kebaikan kita. Jika aku bisa menolaknya, maka hal itu yang akan pertama kali aku lakukan.”

“Jiwoong…”

“Aku menyayangi adikku lebih dari aku menyayangi diriku sendiri sehingga aku mau melakukan ini. Aku tahu kau juga mencintainya tapi kita tidak punya pilihan lain. Kau tidak boleh bersamanya begitupun dengan wanita lainnya.”

“Tapi Jiwoong..”

“Aku memohon kerjasamamu. Jika kau masih ingin Taeng bersama kita, maka belajarlah mencintaiku dan melupakannya.” Air mata itu akhirnya terjatuh. Sunmi mencoba menghentikan tangis kecilnya itu sementara Jiwoong kini beralih duduk didekatnya, membawa wanita yang masih mencintainya adiknya itu dalam pelukannya.

==== Marry You ====

“Ahh… favoritku!” Taeyeon segera menghampiri teh earl grey kesukaannya yang sudah terhidang di meja kerjanya lengkap dengan kudapan ringan yang menaikkan semangat kerjanya.

“Apa mungkin PA baru itu yang menyiapkannya?” Ia kini memakan biskuit almond yang terasa begitu pas di lidahnya.

“Bagus… tapi mengapa cara penyajiannya seperti seorang wanita. Apa mungkin dia…” Imajinasi Taeyeon mulai bermain. Ia membayangkan seorang pria tua yang mengedipkan mata padanya, mencoba menggodanya, menatapnya seperti ingin menelanjanginya, meraba bagian tubuhnya satu persatu, membisikan sesuatu di telinganya, mengecup telinganya pelan, tangan itu masih menjamah tubuhnya yang mendadak beku tak bisa bergerak.

“Tuan Kim..”

“Tuan Kim..”

“Tuan Kim..” Panggilan ketiga itu seakan membangunkannya dari dunia fantasi yang mengerikan itu.

“Oh.. ya?” Taeyeon menatap wanita yang berdiri di depan meja kerjanya. Ia berjalan mendekati wanita yang masih berdiri di tempatnya, terlihat begitu percaya diri dan profesional dengan busananya yang cantik dan elegan.

“Kau.. siapa?” Mereka berdua kini sudah berhadapan. Taeyeon mengamati wanita yang memiliki tinggi sedagunya, cukup tinggi bagi sebagian wanita.

Rambut hitam kecoklatan itu tergerai jatuh lurus dengan sedikit gelombang di akhirnya, dihiasi poni sealis yang membuatnya terlihat manis dan menyegarkan. Kacamata yang senada dengan warna rambutnya menambah kesan cerdas yang ditampilkannya.

Blouse merah muda lembut  dan rok pensil hitam itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, tidak terlihat terlalu ketat ataupun terlalu besar. Sepatu hak tinggi hitamnya yang mengkilat menghiasi kakinya. Riasan mukanya terlihat cantik natural, tak berlebihan ataupun pucat. Bibir merah muda tipis itu terlihat sedikit berisi begitu indah untuk tak dinikmati. Yang paling menarik adalah mata coklat madunya yang entah kenapa begitu adiktif untuk tak dilihat beberapa detik saja.

“Kau.. siapa?” kali ini ucapan itu terasa lebih halus, lebih seperti bisikan yang membuat wanita di hadapannya itu mengeluarkan sesuatu yang harusnya Taeyeon hindari sejak awal.

Senyuman yang menutup kedua mata gadis itu terlihat begitu memikat dan menggoda baginya. Begitu manis dan menarik untuk matanya.

“Aku adalah PA barumu. Senang bisa bertemu denganmu Tuan Kim” gadis itu memberikan Taeyeon senyum profesionalnya, sedikit membungkuk, masih dengan senyuman indah di wajahnya.

“Oh kalian sudah berkenalan?” suara Sungjeon memecahkan kebisuan Taeyeon. Pria itu membawa beberapa file dan menyimpannya di meja kerja Taeyeon.

“Tuan Go, selamat pagi.” gadis itu sedikit membungkuk lagi, memberikan hormatnya pada Sungjeon yang tersenyum puas penuh arti.

“Selamat pagi PA baru, selamat datang di LK Tech. Taeng mengapa kau diam saja?”

“Ah.. iya. Selamat bergabung. Semoga kita bisa bekerja dengan baik.” Taeyeon memberikan tangannya pada Personal Assistant barunya yang segera menyambutnya. Tangan itu begitu halus dan lembut seperti bayi, terasa sulit untuk Taeyeon lepaskan.

“Taeng aku sudah menyimpan file-file yang sudah disetujui oleh ayahmu. Jiwoong juga sudah menandatanganinya. Kurasa kau bisa memeriksanya nanti karena ayahmu merevisi beberapa point dari proposalmu.” Taeyeon coba mengalihkan perhatiannya pada tangan kanan ayahnya itu.

“Terimakasih paman.” Sungjeon berjalan mendekati Taeyeon, ia mendekatkan bibirnya dengan telinga Taeyeon.

“Kembali kasih Taeng. Oh ya… jangan menunjukan bahwa kau terpesona semudah itu padanya.” mendengar bisikan itu, seketika wajah Taeyeon sedikit memanas, memerah seperti kepiting rebus.

==== Marry You ====

Kim Taeyeon.

Dia pria biasa, sama seperti kebanyakan anak pengusaha atau keluarga kaya. Tampilannya baik. Visualnya mengesankan. Tapi secara sikap aku masih belum bisa menilainya.

Ramah.. check

Sopan pada orang yang lebih tua.. check

Perhatian pada adik perempuannya.. check.

Moody.. check.

Heumh.. sebenarnya ada yang aneh setelah kuamati selama beberapa minggu aku ada disini.

Taeyeon, dia terlihat tidak nyaman setiap kali Jiwoong berkunjung ke ruangannya. Seperti ada tensi diantara mereka. Apa mereka sedang bertengkar? Tapi.. banyak yang berkata bahwa mereka adalah adik kakak yang memiliki hubungan baik, tak seperti kebanyakan pewaris yang terkadang saling menjatuhkan untuk memperoleh mahkota tertinggi kerajaan di bisnis mereka.

Ah ya! aku ingat mood Taeyeon berubah drastis saat seorang wanita bernama Sunmi  berkunjung ke ruangannya. Oh ya.. Sunmi adalah PA-nya sebelum akhirnya mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Tunggu, aku baru ingat bahwa Sunmi adalah calon kakak ipar Taeyeon. Jadi alasan pribadi itu.. apa karena Sunmi akan segera menikah dengan Jiwoong hingga ia mengundurkan diri? Tapi bukankah ia bisa saja masih bekerja bersama Taeyeon meskipun sudah menikah? Heumh.. sepertinya ada sesuatu diantara mereka bertiga.  Aku bisa meminta bantuan Paman Cha untuk menyelidiki Sunmi.

“Stephii!” Nicole dan Chloe baru saja tiba di meja yang sudah dipesan oleh sepupunya yang terlihat serius memikirkan sesuatu.

“Nic.. kau tahu apa yang sedang dipikirkannya?” wanita yang ditanya itu menggelengkan kepalanya, mengendikan bahunya pertanda ia tak tahu.

“Steph.. Julian ada disini!” Nicole kini yang berbicara, sedikit berteriak membuat apapun yang sepupunya pikirkan terhenti.

“Jul..” Tiffany mengalihkan pandangannya ke samping kanan, berharap nama yang disebut tadi ada di sampingnya.

“Akhirnya kau kembali! apa yang sedang kau pikirkan Steph? Julian?” Tiffany menatap kedua sepupunya itu bingung sebelum tersenyum menghisap jus strawberry-nya.

“Sebegitu sulitnya kah kau melupakan pria itu?” Chloe kembali berbicara, mulai menikmati salad lobsternya yang segar dan lezat.

“Bukannya aku tidak mencoba mengerti alasanmu, tapi sampai hari ini aku masih tak mengerti mengapa kau memutuskan berpisah dengannya jika pada akhirnya kau masih mencintainya seperti ini.” Chloe terbatuk mendengar ucapan Nicole. Sepupunya itu memang terkenal terlalu jujur dan berani mengemukakan pikirannya meski kata-katanya itu kadang menyakitkan. Tapi itulah yang Chloe dan Tiffany suka dari sepupunya itu.

“Nic..”

“Bicaralah Steph.. aku, tidak, aku dan chloe ingin mengerti semuanya. Apapun itu, kami akan selalu mendukungmu.” Nicole dan Chloe menggenggam tangan Tiffany, mencoba memberikan kekuatan pada sepupu mereka.

“Sebenarnya kami…”

“Apa kabar Tiffany..” seorang wanita berusia diatas 40 tahun menyapa gadis yang segera berdiri memeluk wanita itu seperti ibunya.

“Mom.. senang bisa bertemu denganmu lagi.” Senyum khas itu Tiffany berikan pada wanita yang membalas senyumannya sama. Keduanya duduk di kursi masing-masing, menikmati pemandangan sibuk New York di pagi hari.

“Sayang.. bagaimana kabar keluargamu di Korea?” Miran masih menikmati Turkey Sandwich-nya begitu pula Tiffany.

“Mereka baik-baik saja meskipun ayah sekarang sendiri bersama Paman Cho sejak Nenek meninggal.” ada sedikit kesedihan jika Tiffany mengingat lagi orang-orang tersayangnya yang telah lebih dulu berpulang.

“Syukurlah. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Julian?” Senyum malu tapi bahagia itu tampak jelas tergambar dari wajah Tiffany. Ia menjadi lebih semangat bila mengingat kekasihnya yang menjadi pria paling sempurna di hidupnya, tentu selain ayah dan mendiang kakeknya.

“Kami baik. Ya meskipun kadang pertengkaran itu tak terhindarkan. Tapi sampai detik ini, aku masih mencintainya dan aku yakin Julian juga begitu.” Miran terlihat senang mendengarnya meskipun ia tak bisa menutupi ketidaknyamanannya.

“Bagaimana denganmu Mom? Apa semua baik-baik saja?” 

“Aku dan yang lainnya baik. Kecuali Julian.” garpu dan pisau itu Miran simpan. Ia mulai menatap gadis di hadapannya yang terlihat bingung dengan ucapannya tadi.

” Julian?”

“Tiffany maafkan aku jika ini akan sulit kau lakukan tapi bisakah kau berhenti berhubungan dengan Julian?” Tiffany mencari nada atau gesture bahwa ini adalah bualan semata dari wajah Miran tapi wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu tak menunjukan itu.

“Kau hanya bercanda kan?”

“Oh Tuhan! jadi kau..” Tiffany menganggukan kepalanya membenarkan apa yang dipikirkan Chloe.

“Fany-ah..” seorang pria masih mencumbu Tiffany yang mencoba membalasnya dengan tempo yang sama. Kedua begitu asik melakukan hal itu sehingga mereka tak sadar seseorang telah melihat itu sejak beberapa detik yang lalu.

Julian segera berlari membawa pria lain yang mencumbu kekasihnya. Ia mendorong Gray dan memberikan tinjunya pada pria yang mencoba melawan serangan Julian.

“Brengsek!!! apa yang kau lakukan!!!” Wajah tampan Gray kini mulai memar dan darah perlahan mengalir dari hidungnya.

” Julian hentikan!” Tiffany mencoba menghentikan serangan yang tak henti kekasihnya itu berikan pada Gray.

“Kau bisa membunuhnya!” Pria malang itu mulai tak sadarkan diri. Julian menghajar Gray seperti kesetanan. Sedikit lagi saja, nyawa pria malang itu bisa melayang.

“Aku akan membu..” ucapan Julian terhenti saat vas bunga itu kini menghampiri kepalanya. Kepalanya terasa melayang, tubuhnya terasa ringan dan ia bisa merasakan darah perlahan keluar dari tempat vas itu menyentuh kepalanya.

“Lalu apa yang terjadi?” Terkejut dan khawatir, mungkin itu yang bisa menggambarkan ekspresi dua sepupu Tiffany.

Sayang, kau menyukainya?” Tiffany terdiam melihat sepasang cincin emas putih dengan hiasan berlian di tengahnya, terlihat begitu cantik, simple dan berkesan, sesuai seperti cincin pernikahan yang diinginkannya.

“Menikahlah denganku.” kalimat itu menyusul keluar dari bibir Julian. Tiffany tatap mata hitam onix itu, mencoba menyelami pikiran pria yang masih begitu mencintainya meskipun ia tahu Tiffany telah bermain api dengan pria lain.

” Julian.. maafkan aku.” Cukup lama Tiffany diam sebelum akhirnya mengucapkan itu.

“Tidak apa-apa. Mungkin aku memang terlalu cepat untuk melamarmu dan kau memang belum sia..” Tiffany tutup kotak cincin itu dan mendorongnya pada pria yang menatapnya sedih penuh tanda tanya di pikirannya.

“Aku tidak bisa Julian. Sampai kapanpun aku takkan bisa menerima lamaranmu.” Suara itu terdengar begitu menyakitkan bagi keduanya. Tiffany mencoba menahan tangisnya meskipun suaranya mulai goyah.

“Why?”

“Hatiku.. tidak lagi bersamamu.”

“Apa ini karena Gray?” Tiffany menggelengkan kepalanya lemah. Tangisnya kini pecah. Ia mencoba meredam tangisnya agar orang tak melihatnya heran.

“Lalu kenapa Fany-ah? ada apa? mengapa akhir-akhir ini kau berubah? Apa yang terjadi?” sungguh Julian sudah berusaha untuk menahan rasa frustasinya. Rasanya ia ingin membunuh seseorang saat ini tapi tidak dengan wanita yang sudah 4 tahun ini menjalin kasih dengannya.

“Gray hanyalah salah satu pria untuk mengetes perasaanku padamu. Aku ingin tahu apakah aku merasa bersalah saat aku berselingkuh darimu. Dan hasilnya..” Tak ingin mendengar hal itu, Julian segera memotong ucapan Tiffany.

“Dia bukan satu-satunya pria yang mencumbumu seperti kemarin?” Hati Julian  mencelos saat ia melihat anggukan kekasihnya itu.

“Aku tak ingin menyakitimu lebih jauh. Maafkan aku Julian.” Tiffany mencoba menatap lagi pria yang menundukan kepalanya, memejamkan matanya, mencoba menahan emosinya.

“Tuhan… aku tidak tahu ini seburuk itu. Maafkan aku Steph” Nicole berpindah duduk ke samping Tiffany yang merasakan lagi rasa sakit yang sudah cukup lama coba ia lupakan. Sudah 2 tahun berlalu sejak ia dan Julian berpisah. Tiffany memutuskan untuk kembali ke Seoul, memulai lembaran baru, mencoba meninggalkan semua kenangannya bersama Julian di Amerika.

“It’s okay Nic. Aku harusnya menjelaskan pada kalian dari awal. Apalagi kau, aku mengerti jika selama ini kau cenderung membela Julian karena kau adalah sahabatnya. Orang yang menjodohkan kami dulu.” melihat wajah merasa bersalah sepupunya itu entah kenapa membuat Tiffany ingin tertawa. Tawa itu disusul oleh Chloe yang mulai mengerti mengapa Tiffany menertawai Nicole.

“Hei mengapa kalian tertawa?” Tiffany memberikan smartphone-nya pada Nicole, mencoba memperlihatkan wajah sepupunya itu yang sedikit bingung tapi akhirnya ikut tertawa bersamanya.

“Kalian tahu.. kita cukup gila tertawa seperti ini setelah mendengar cerita Stephi yang seperti drama di televisi. Apa kau yakin tak ingin menulis dan membuat sebuah film atau mini drama dari ceritamu itu Steph?” Chloe mencoba menghentikan tawanya mendengar celotehan Nicole.

“Ide bagus Nic!” kedua sepupu itu bersulang sebelum meminum anggur mereka.

“Oh.. kalian!” Tiffany memutarkan pandangannya seolah lelah dengan tingkah kedua sepupunya itu. Mereka bertiga memang dekat sejak kecil. Tapi hubungan ketiganya semakin dekat setelah Tiffany memutuskan melanjutkan sekolah menengah atasnya di Cali bersama kedua sepupunya itu.

“Tapi Nic… Stephi masih belum menemukan ‘Happy Ending’-nya. Jadi kita masih belum bisa mendapatkan film yang ditunggu-tunggu sepanjang masa.” Nicole menepuk nepuk tangannya tertawa mendengar ucapan Chloe.

“Oh diamlah kalian. ‘Happy Ending’ itu sedang mendekatiku.” Senyuman misterius itu membuat Nicole dan Chloe berhenti tertawa.

“Siapa dia?” Nicole kini mulai mengeluarkan aura investigatornya. Tiffany tertawa melihat tingkah sepupunya itu. Ia mengambil smartphonenya, mencari sesuatu yang akan memuaskan rasa penasaran sepupunya itu.

“Kalian tahu pria ini?” Nicole terdiam sementara Chloe tersenyum terkejut melihat foto itu.

“OMG Steph.. he’s nice catch!” Chloe terlihat bersemangat melihat-lihat lagi foto pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu.

“Kau mengenalnya Chloe?” Nicole bertanya pada Chloe yang masih berada di dunia fangirling-nya.

“Tentu! dia beberapa kali ikut dalam acara amal perusahaannya yang bekerja sama dengan perusahaanku. Kau tidak mengetahuinya Nic? dia bagai Kpop idol yang banyak dipuja oleh gadis dan wanita-wanita paruh baya Korea karena ketampanan dan karismanya.”

“Oh benarkah?” Chloe tertawa melihat wajah terkejut Tiffany, bukan Nicole yang terlihat mulai tertarik mencari tahu pria itu di smartphonenya.

“Steph, kukira kau lebih tahu karena kau kan yang menetap di Korea.”

“Eumh.. aku sibuk.”

“Wow.. kau benar Chloe! dia terlihat keren sekali disini.” Nicole memperlihatkan seorang pria yang terlihat begitu gagah menggendong seorang anak kecil yang terluka cukup parah terkena reruntuhan gempa.

“Jangan heran Steph, itu adalah foto saat dia masih kuliah. Sejak menduduki jabatannya sekarang, dia jarang terjun langsung ke kegiatan seperti di foto tadi. Kudengar dia lebih memberikan bantuan secara finansial pada lembaga sosial non profit yang dulu sempat menjadi dunianya.” Tiffany menangguk sebelum melihat kembali foto-foto pria yang terlihat begitu bahagia dengan aktivitas kemanusiaannya.

“Jadi.. bagaimana kalian bisa dekat?” Nicole mulai bertanya.

“Euhm.. dia adalah calon suamiku.” mulut Nicole dan Chloe terbuka lebar mendengarnya.

“Oh.. kalian tak perlu sehisteris itu.” Tiffany tertawa canggung melihat bara api dari kedua sepupunya yang kini milai mendekatinya, mengepungnya untuk memulai interogasi.

“Bagaimana dia bisa menjadi calon suamimu?”

“Eumh.. kami dijodohkan.” Kedua sepupu itu tampak semakin terkejut mendengar jawaban Tiffany.

“Nic.. sekarang kita hidup di tahun berapa?”

“2017 seingatku. Tunggu, biar aku cek kalenderku lagi.” Nicole membuka kalender di telepon genggamnya.

“Oh kalian hahaha.” Tiffany tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan kedua sepupunya itu. Ia meminum lagi jus strawberry segarnya, melupakan bahwa kedua sepupunya itu mulai berbisik-bisik di hadapannya.

“Sejak kapan?”

“Sejak kapan apanya?”

“Sejak kapan kalian mulai berhubungan? Apa kau sering bertemu dengannya? Bagaimana reaksinya mengetahui perjodohan ini? Apa ia menolak atau menerimamu?” Jika bukan karena status darah yang mengikat mereka, rasanya Tiffany ingin memukul kedua wanita dihadapannya ini.

“Haruskah aku menjawabnya?” Tiffany menelan ludahnya melihat bara api yang berkobar-kobar di mata kedua sepupunya. Keduanya memegang pisau makan dan garpu mereka, membuat Tiffany merasa terancam jika ia tak menjawab pertanyaan kedua sepupunya itu.

“Dia belum mengetahui perjodohan ini. Aku yang meminta pada kedua orangtuanya untuk merahasiakan hal ini darinya. Kau tahu, aku tidak suka ide bahwa jikapun nanti kami bersatu, itu karena kami dijodohkan. Maka dari itu aku bekerja menjadi PA-nya sejak 3 bulan lalu.”

“Kau menyamar menjadi PA-nya?” Chloe terlihat bersemangat dengan hal itu.

“Eumh.. bisa iya bisa tidak.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak mengikuti banyak jejak di film yang mengubah penampilanku sepenuhnya menjadi kutu buku, tak menarik, atau seperti ‘Ugly Betty’. Aku hanya mengubah namaku. Selebihnya, aku menjadi diriku sendiri.”

“Siapa nama samaranmu?”

“Hwang Youngmi.” Nicole dan Chloe terdiam sejenak sebelum mengeluarkan tawanya yang terlihat puas sekali.

“Hwang Youngmi.. Hwang Miyoung. OMG itu jenius sekali. Tuhan… aku tak tahu kau secerdas itu Steph hahahaha.” Nicole masih tertawa begitu bahagia hingga meneteskan air matanya sama seperti Chloe yang begitu terhibur mendengar nama itu. Tiffany yang melihat itu lama kelamaan kesal. Ia memeriksa smartphone-nya mengecek apakah Taeng menghubunginya.

Tadi siang ia meminta izin pada Taeyeon untuk bertemu dengan kedua sepupunya yang sedang berkunjung ke Seoul, mengerjakan proyek fashion mereka. Sebagai PA, tentunya jam kerja Tiffany lebih fleksibel. Ia tidak harus 12 jam berada di kantor di samping bosnya. Apalagi sekarang teknologi sudah canggih. Ia bisa mengerjakan tugasnya dimanapun dan kapanpun dengan siapa saja yang penting apa yang diminta Taeyeon bisa ia penuhi. Sejauh ini pria yang diam-diam menjadi calon suaminya itu puas dengan kinerjanya. Maka dari itu Tiffany bisa mendapatkan kebebasan seperti ini.

“Kalian sudah selesai tertawanya? jika tidak aku akan kembali ke kantor, sepertinya..”

“Okay kami berhenti hahaha. Maafkan kami” Chloe menghapus air matanya. Ia bersama Nicole memberikan wajah memohonnya yang menurut kebanyakan pria imut sedangkan bagi Tiffany menjijikan.

“Hentikan.. kalian begitu menjijikan.” Kedua gadis Amerika itu menghentikan aegyeo mereka.

“Hahaha Terimakasih Steph, kami juga mencintaimu.” Nicole berceloteh membuat Tiffany memberikan wajah muaknya.

“Jadi bagaimana kelanjutan misi penyamaranmu?”

“Sejauh ini semua berjalan lancar. Aku masih melakukan observasi padanya. Kalian tahu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup maka dari itu aku ingin memastikan bahwa dia adalah pria yang cocok untuk menjadi suamiku nanti.”

“Wow Steph.. itu bagus sekali. Aku setuju denganmu.” Chloe memberikan 2 ibu jarinya pada Tiffany yang berterimakasih padanya.

“Lanjutkan, aku penasaran.” Nicole kini berbicara.

“Baiklah. Menurut pengamatanku selama 3 bulan ini, dia masih layak menjadi suamiku. Apa yang Chloe ceritakan padaku tadi menambah point positive tentangnya. Sejujurnya aku belum memberikan pernyataan pada Appa ataupun kedua orangtuanya bahwa aku menerima perjodohan ini. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin mengenal Taeyeon lebih dulu tanpa harus terbebani dengan adanya perjodohan ini.”

“Dan keputusanmu?”

“Aku tidak bisa memastikan bahwa aku menerima perjodohan ini. Tapi sejauh ini, dia berhasil membuatku ingin mengenalnya lebih jauh. Sepertinya kemungkinan dia menjadi suamiku besar jika melihat ‘attitude’nya selama aku berada di sampingnya. Menjadi Asisten Pribadinya sungguh adalah posisi yang pas bagiku untuk mengenalnya lebih jauh. Dia sering mengajakku makan dengannya, menghadiri acara-acara perusahaan atau pribadinya. Sepertinya dia sudah menganggapku sebagai temannya, bukan hanya sekedar pekerjanya. Dan sepertinya aku nyaman dengan situasi kami saat ini.”

“Steph apa kau yakin dia tak menyukaimu?” Nicole berbicara yang diaminkan oleh Chloe.

“Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi melihat sikapnya yang ramah dan baik pada semua orang, asumsi itu melemah. Jadi aku tidak mau banyak berasumsi bahwa dia menyukaiku. Jikapun memang itu terjadi, aku bersyukur karena itu yang aku harapkan. Berarti perjodohan kami semakin mudah untuk dilakukan.”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau siap untuk jatuh cinta lagi? Mendengar ceritamu tadi dengan Julian, aku yakin kau masih mencintainya hingga hari ini.” Nicole kembali beraksi dengan pertanyaan menusuknya sementara Tiffany sedikit terdiam, memikirkan apa yang diucapkan sepupunya itu.

“Jika Julian adalah jodohku, maka kami akan bersatu sebesar apapun jarak yang memisahkan kami sekarang. Jika memang Tuhan menuliskan Taeyeon sebagai pasanganku, maka aku tak bisa menolaknya. Aku percaya bahwa cinta itu, Tuhan yang telah menanamkannya pada setiap makhluk ciptaannya. Saat aku mencintai Julian, Tuhan pula yang telah memberikannya padaku. Bahkan jika memang rasa itu masih ada sampai hari ini, aku ingin percaya bahwa Tuhanlah yang memberikannya. Begitu pula dengan Taeyeon. Aku yakin rasa itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu jika memang kami ditakdirkan untuk bersama.”

“Seperti yang diharapkan dari Stephany Hwang kita” kedua sepupu itu bertepuk tangan setelah mendengar jawaban Tiffany.

“Tidak, kau salah Nic, namanya sudah berganti menjadi Hwang Youngmi kekekeke.” Chloe dan Nicole kembali menertawakan nama samaran sepupu mereka sementara yang ditertawakan hanya menutup mata dan menepuk dahinya melihat tingkah antik kedua sepupunya itu.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Author Note:

Haii!!!
ada yg merasa familiar dengan cerita ff ini?

Yes! ini adalah remake dari ff yoonfany aku yg judulnya expect the unexpected.

Karena seseorang.. aku jadi bikin deh versi ini biar kalian para locksmith bisa baca juga. Karena menurut aku bagus ceritanya walaupun pasaran sih ya hahaha.

Yowes..selamat menikmati dan jangan lupa kasih tahu aku apa yang kalian pikirkan setelah baca ff ini 🙂

cw3nkczucaam4tn

 

Iklan

55 pemikiran pada “Marry You

  1. Ahhhhhhhh ada taeny version nya 😍😍😍😍,thankyou kakak udh mau bikin ini aku seneng banget kakak bikin ini,aku sempetin baca ini di saat aku belajar buat besok,sekali lagi terimakasih 😊😊

  2. Untung gue blm pernah baca vers manapun jd gue lebih penasaran dari orang” yg udh baca. tp jujur aja mulai dari percakapan si ibu sampe selesai cerita tntang julian itu gue gak ngerti, ntah flashback, pov atau apalah blm lagi td di tengah” ada nama eric. Menambah pemikiran gue yg otaknya pas pasan wkwkwk

  3. Yes Taeny version 😍
    Awalny familiar bgt sm critanya ehh pas dibaca emnk perna bca yg yoongfany tp yg ini versi taeny nya, 😊
    Btw cerita author menurut aku ga pasaran karena ff author nih ga bisa ditebak jd pas pmbca mkir hal ini eh munculnya hal yg ga dikira sblmnya, so thor jngan bilang klu crita author pasaran lagi yaw,, Fighting , btw udh hapal blum al kahfinya? Hehehe

  4. hehe,, blum baca ini aq 🙂
    yg familiar namanya dr miyoung ke youngmi 😀 smpet mikir bbrp detik kyk aneh liat dimn gtu,,hehe lola aq. klo buat taeny ending taeny kudunya ya ris,,?

  5. Hihihi seru taeny dijodohkan, fany cerdas hwang miyoung jadi hwang youngmi *lucu – agar lebih mengenal tae lagi mungkin yaa. Ngakakkk 😂😂 pas bagian dialog fany, Nicole dan Chloe, Tapi aku agak bingung sama obrolan fany dan ibunya julian 😅.

  6. kalimat ini masih ambigu “Jika kau masih ingin Taeng bersama kita” ,semoga gk bakal ada keburukan deh di lingkungan keluarga tentang taeng…
    oohh ini ff remake dari yoonfany ,maklum deh gk tau pan cuma baca yg berbau taeny doang hehe…

    sorry baru baca ini (padahal udh minta pw dari pagi / duluan hahah).

  7. Wah baru buka lagi ternyata ada ff baru apa lagi cast taeny seneng banget rasa hahaha #lebay
    Tapi aku penasaran sama apa yang dibilang sama jiwoong kalo sunmi ga boleh sama taeng, tapi gapapa lah asal sama fany semua sempurna haha

  8. Waaa taeny 😊aku udah bc blm ya versi satunya??🤔
    Kira2 bakalan jatuh cintrong nggak ya tae??(locksmith berharap banget)😂
    Di liat dr masa lalu taeny sama2 hrs putus dg terpaksa (blm tau masalah sebenarnya apa) jd walaupun udah dijodohin fany maunya saling kenal dulu kalau kt org mah tak kenal maka tak sayang…(lanjutin dech) 😁

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s