Marry You Part 1.1

C5Vq50VUoAAJ6rS

“Youngmi?” tawa ketiga orang yang tadi meledak mendadak terhenti saat seorang pria menyapa mereka, lebih tepatnya Asisten Pribadinya.

“Tuan Kim..” Tiffany kembali ke mode penyamarannya. Ia mengenakan lagi kacamatanya sementara Nicole dan Chloe bersorak dalam hati bisa bertemu langsung dengan pria yang sudah mereka bicarakan sejak tadi.

“Hahaha kau ini, masih saja kaku seperti itu. Cukup Taeyeon, aku merasa tua jika kau memanggilku seperti tadi.” Tiffany terdiam menerima tepukan ringan di pundaknya.

“Oh ya.. inikah kedua sepupu yang kau ceritakan kemarin?” Nicole dan Chloe ikut berdiri di samping sepupu mereka yang terlihat imut sekali, salah satu bahan untuk ejekan mereka selanjutnya.

‘Inikah yang namanya menjadi dirinya sendiri? kekekeke’ Nicole tersenyum menahan tawanya melihat Tiffany yang tak seperti biasanya bila berhadapan dengan pria.

Sepupunya itu terkenal cukup dominan jika mereka berbicara tentang pria. Tiffany bukanlah seorang wanita murahan yang memainkan banyak hati pria.

Seingat Nicole, sampai detik ini baru 2 pria yang menjalin hubungan cukup serius dengan sepupunya itu. Sewaktu di Cali, cukup banyak pria yang mendekati sepupunya itu tapi kebanyakan mereka menyerah mendekati Tiffany setelah mendapatkan perlakuan yang cukup dingin dari putri semata wayang Hwang Jung Min itu.

Bahkan 2 hubungan kemarin, Nickhun dan Julian, setahu Nicole Tiffanylah yang memegang kontrol meskipun tetap, sepupunya itu takkan mengingkari fitrahnya dipimpin oleh seorang pria yang mana akan menjadi suaminya kelak.

Kecantikan Tiffany adalah kelemahan bagi setiap pria begitupun yang dirasakan kedua mantan kekasih sepupunya itu. Kini, Nicole penasaran apakah Taeyeon masuk kedalam pesona sepupunya yang melemahkan itu.

“Ah iya. Perkenalkan ini adalah..” belum selesai Tiffany berbicara, Nicole sudah menjabat tangan Taeyeon yang tersenyum dalam keterkejutannya menerima jabatan tangan itu.

“Nicole Hwang senang bertemu denganmu.” Tiffany menaikan alis kanannya melihat sepupunya itu terlihat begitu bersemangat berkenalan dengan atasannya.

“Aku Chloe Hwang. Kuharap kau masih mengenalku Taeyeon-shi.”

Well Nicole dan Chloe, aku Kim Taeyeon, senang bisa mengetahui mengapa asisten pribadiku bisa secantik ini.” Kedua Hwang itu tertawa mendapat pujian tadi berbeda dengan Tiffany yang terdiam mendengarnya.

‘Catatan lain, calon suamiku terlalu ramah sehingga dia bisa menggombali orang tanpa membuatnya terlihat seperti itu. Sungguh jenius Taeyeon, jenius.’ Tiffany akan memasukan itu ke kolom observasinya nanti.

“Ah Chloe.. tentu aku mengingatmu. Aku tidak sabar menunggu kolaborasi proyek sosial kita nanti. Dengan adanya Youngmi disisiku, kurasa kerjasama kita nanti semakin mudah, bukan begitu?” kedua sepupu dan calon suaminya itu tertawa, membuat Tiffany terpaksa mengikuti permainan mereka.

“Tentu. Oh ya kau bisa mengajak Nicole juga , dia adalah Marketer Cosmetic Global yang bisa membuat program kita semakin terdengar ke seluruh dunia.” Taeyeon tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya menyetujui ide Chloe.

“Oh ya Taeyeon mengapa kau ada disini?” Nicole berbicara mengejutkan Taeyeon dengan kalimatnya.

“Aku ada makan siang  dengan adikku.”

“Kalau begitu kau harus segera menemuinya.” Tiffany ingin sekali mengusir bosnya itu sebelum kedua sepupu kesayangannya itu memulai interogasinya pada Taeyeon.

“Soojung sudah pulang, kami sudah selesai makan siangnya.”

“Kalau begitu, bergabunglah bersama kami. Aku akan senang sekali jika kau menerima undangan ini.” Taeyeon terlihat ragu melihat Tiffany yang memberikan aura berbeda tak seperti kedua sepupunya.

“Lagipula setelah ini kalian bisa pulang bersama ke kantor. Aku dan Nic kebetulan masih harus pergi ke tempat lain untuk mengerjakan proyek kami. Kau tidak keberatan kan Taeyeon?” Tiffany menghembuskan nafasnya pelan. Tentu saja siang ini akan menjadi siang yang menyenangkan bagi kedua sepupunya.

“Ste.. ah Youngmi, sepertinya teleponmu berbunyi.” Tiffany segera mengambil smartphone-nya itu. Ia permisi ke toilet setelah melihat siapa yang menelponnya tadi. Melihat itu, Nicole seperti mendapatkan ide cemerlang yang segera ditangkap oleh Chloe. Keduanya tersenyum senang melihat Taeyeon duduk di hadapan mereka, terlihat tampan dan karismatik seperti deskripsi dewa-dewa Yunani.

“Taeyeon-shi.. aku tahu kita baru saja bertemu. Tapi bolehkah aku bertanya sesuatu?” Nicole memulai permainannya.

“Tentu.”

“Apa kau menyukai sepupu kami?” Taeyeon membulatkan kedua matanya sementara Nicole dan Chloe menatapnya seperti seorang predator yang siap memangsa target mereka.

.

.

“Hallo Appa.. ada apa? Maaf aku tadi sedang bersama Nic dan Chloe.” Tiffany mulai berbicara setelah ia menemukan ruangan yang aman untuk berbicara dengan ayahnya yang tiba-tiba menghubunginya.

“Sayang, kau bisa ikut makan malam dengan Appa hari ini?”

“Hari ini? mengapa? kita akan bertemu siapa nanti?” Tiffany harus tahu dulu apa agenda nanti malam sehingga ia bisa menyiapkan semuanya meskipun mendadak seperti ini.

“Tuan dan Nyonya Kim”

“Maksudmu orangtua Taeyeon?”

“Iya.”

Appa.. mengapa mendadak sekali?” Tiffany menutup kedua matanya dengan rasa kesal dan geram yang bermain di hatinya.

“Maafkan Appa Sayang, tapi mereka yang meminta kita bertemu malam ini. Sepertinya mereka ingin mendengar pendapatmu tentang calon suamimu. Kau sudah 3 bulan mengobservasi putra mereka.” Tiffany menghembuskan nafasnya kesal.

Diburu-buru dan terburu-buru.

Tiffany benci jika ia harus seperti itu.

“Kau tak bisa menegonya Appa? berikan aku waktu sebulan lagi untuk memutuskannya.” Jung Min ingin melakukan itu tapi melihat betapa inginnya keluarga calon besannya itu bertemu dengannya malam ini, ia ragu untuk mengeksekusi permintaan putrinya itu.

“Aku tidak bisa. Kita harus menemui mereka malam ini. Maafkan Appa Sayang.” Tiffany terdiam lagi mendengar penjelasan ayahnya mengenai percakapannya dengan ayah dan ibu Taeyeon.

“Baiklah aku mengerti.” sambungan telepon itu mati. Tiffany segera duduk di balkon restoran, memandang langit siang ini yang terlihat cerah, tapi tak secerah hatinya saat ini.

“Euh.. siapa lagi?” Tiffany merasakan telponnya kembali bergetar. Ia segera mengangkat telpon dari sahabatnya yang sudah lama tak ia temui sejak ia kembali ke Seoul.

“Hai Unnie, apa kabar?”

“Hallo Hara, aku baik. Bagaimana denganmu?” Mendengar suara sahabatnya itu selalu membawa senyum bagi Tiffany. Pembawaan Hara yang manja membuatnya serasa memiliki adik perempuan, menghilangkan kesepiannya sebagai anak tunggal.

“Aku juga baik Unnie. Oh ya apa kau sudah bertemu dengan Oppa?”

Oppa?”

“Eumh.. Julian Oppa.”

“Julian.. ada di Korea?”

“Loh.. Oppa tidak mengabarimu?”

“Sejak kami berpisah, komunikasi kami berjalan kurang baik.” Kesedihan itu terasa sekali meskipun Tiffany mencoba menutupinya.

“Oh Unnie.. maafkan aku. Aku tak bermaksud..”

“No.. it’s okay Hara. Terimakasih telah mengabariku. Oh ya.. maafkan aku, rekan bisnisku sedang menungguku, bisakah kita berbicara nanti? aku akan menelponmu.” Setelah bertukar salam, Tiffany memutuskan sambungan itu. Ia menengadahkan wajahnya keatas, merasakan hembusan angin itu menyapa wajahnya.

.

.

“Youngmi.. kau terlihat tertekan, apa terjadi sesuatu?” Chloe bersuara menyambut kedatangan sepupunya yang cukup lama melakukan kegiatannya di toilet.

“Ah.. tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing.”

“Kau sakit?” Refleks tangan itu menyentuh dahi, disusul dengan kedua pipi Tiffany yang membeku menerimanya.

“Mungkin hanya sedikit demam. Beberapa hari ini aku tidak bisa tidur awal seperti biasanya hehehe.” Tiffany melepaskan tangan itu dari wajahnya pelan, tak ingin bosnya itu merasa tersinggung dengan perlakuannya.

“Kalau begitu kau tak usah ikut ke kantor denganku. Aku akan mengantarkanmu ke apartementmu.”

“Ah tidak usah Taeyeon. Aku naik taksi saja.” Tiffany meneriakan bantuan pada kedua sepupunya itu dari matanya. Ia tak mungkin membiarkan Taeyeon mengetahui tempat tinggalnya. Pria itu bisa curiga padanya jika ia melihat rumah mewahnya di Samseongdong. Selama ini Taeyeon hanya tahu ia tinggal di kompleks apartement kelas menengah, bukan sebuah kediaman tuan putri di jantung kota Seoul.

“OMG Chloe aku lupa, flashdisk untuk presentasi dengan klien nanti sore tertinggal di apartement Youngmi!” Nicole memasang wajah kaget dan menyesalnya. Ia menepuk dahinya, terlihat menghayati aktingnya.

“Baiklah kita ambil saja. Oh iya kau pulang bersama kami saja Youngmi.” Chloe menutup sandiwara itu dengan senyum pembawa solusinya. Tiffany memberikan tanda lain agar mereka bisa pergi sekarang.

“Taeyeon kau tidak keberatan kami pergi lebih dulu?” Melihat wajah asisten pribadinya yang terlihat semakin pucat, Taeyeon menganggukan kepalanya.

“Tidak apa-apa. Kalian pergilah sekarang. Hati-hati di jalan.” Ketiga Hwang itu pamit dan segera pergi mengantar Tiffany menuju kediamannya. Sementara itu telpon Taeyeon berdering.

“Hallo Dokter Kim!” Taeyeon tertawa menggoda adiknya yang mengerang protes dipanggil seperti itu.

“Kau sudah tiba di bandara?”

“Ah baiklah. Makan malam?”

“Tentu. Aku akan mengajak Soojung dan Kai nanti. Ya.. berhati-hatilah, sampai ketemu. Aku mencintaimu Dokter Kim kekekeke.” Taeyeon tertawa lagi mendengar protes adiknya itu sebelum memutus telpon mereka.

“Ah.. seandainya.. seandainya..” Taeyeon melihat ke arah Tiffany dan kedua sepupunya tadi pergi sebelum bangkit dan meninggalkan restoran itu, kembali ke kantornya.

.

.

“Steph.. kau baik-baik saja?” Nicole seperti biasa yang memecah kesunyian mereka selama di perjalanan berbeda dengan Chloe yang memilih diam, fokus mengendarai mobilnya.

“No.. dan Nic bisakah kau bangunkan aku saat kita sudah tiba?” mata itu mulai Tiffany pejamkan. Ia menyenderkan kepalanya ke bahu Nicole yang mengelus puncak kepalanya ringan, tak menyadari air mata itu perlahan turun dari pemiliknya.

“Dia sudah tidur?” Chloe melihat Nicole mengecek Tiffany yang sudah tertidur di bahunya.

“Sudah. Heumh.. kira-kira kenapa mood-nya bisa drop seperti ini ya?” Nicole menutupi tubuh sepupunya itu dengan jaketnya.

“Apa mungkin Hara sudah memberitahunya?”

“Tentang Julian?”

“Tentu.”

“Heumh.. aku tidak tahu. Meskipun jika benar ini karena Julian, aku harap Stephi bisa kuat menghadapinya. Jalan baru telah menantinya.” Nicole tersenyum kecil melihat kembali sang sepupun yang tidur begitu lelap di pangkuannya.

==== Marry You====

“Kau sudah baikan?” sudah 3 hari Taeyeon tak melihat asisten pribadinya itu di kantor. Gadis itu memang sudah menghubunginya, memberitahu bahwa ia sakit.

Sebenarnya Taeyeon ingin menjenguk Youngmi, tapi jadwalnya yang padat memaksanya untuk mengundur terus kunjungannya itu. Belum lagi dengan Sunmi yang semakin sering datang ke kantornya, meminta bantuan Taeyeon untuk menyiapkan pernikahannya.

Sungguh Taeyeon ingin menolak permintaan calon kakak iparnya itu, tapi tetap, hati kecilnya tak bisa berbohong bahwa Sunmi masih menjadi seseorang spesial di hidupnya. Maka seberusaha apapun Taeyeon mencoba menolak permintaan Sunmi, akhirnya ia luluh juga.

“Iya. Maka dari itu aku sudah bisa masuk hari ini.”

“Syukurlah. Kalau begitu, bisakah kau ikut makan siang denganku?” Asisten Pribadinya itu terlihat berpikir sebentar sebelum mengiyakan permintaannya.

.

.

“Aku baru sadar bahwa kau cukup berbeda saat tak mengenakan kacamata itu.” Belut bakar itu masih kuresapi rasanya saat bosku ini mulai berbicara.

“Oh benarkah?” dia tertawa kecil menganggukan kepalanya.

“Apa kau masih bisa melihat dengan jelas jika kacamata itu dilepas?” Tentu! sebetulnya aku malah tidak memerlukan kacamata ini.

“Mi? Miyoung-shi?” Tunggu.. apa?

“Kau memanggil siapa?” tanyaku berusaha tetap tenang meskipun aku gugup jika dia memang sudah mengetahui identitasku.

“Aku tidak memanggil siapa-siapa. Namamu bagus. Youngmi.. jika aku ulang menjadi Miyoung kan? Young-mi-young-shi?”

Nic benar, nama samaranku begitu jenius.

Mengapa aku bisa memilih nama itu dari semua nama yang ada di dunia?

Tunggu… mengapa dia tiba-tiba berbicara seperti ini?

Apa mungkin….

Maafkan keterlambatan kami. Apa kalian sudah lama menunggu?” Berdiri di hadapanku kedua Kim Senior yang terlihat mengesankan seperti saat pertama kali kami bertemu. Aku dan Appa ikut berdiri, memberikan salam kami begitupun mereka.

Makan malam ini dilanjutkan dengan obrolan kecil dimana kami saling bertanya kabar satu sama lain, kondisi pasar terbaru, perkembangan bisnis kedua grup perusahaan sambil menikmati makanan lezat yang terhidang apik dan tak mengecewakan.

“Aku tak sabar bertemu dengan putrimu.” Appa terlihat jujur dengan apa yang dikatakannya. 

Well sebenarnya aku juga penasaran dengan anak ketiga keluarga Kim. Nyonya Kim bilang anaknya itu berhasil meraih 3 gelar sekaligus di bidang yang berbeda. Hukum, manajemen bisnis dan kedokteran. Wow.. just wow! Yang membuatku penasaran adalah bagaimana dia bisa meraih semua itu di usianya yang masih terbilang muda. 

Orang kaya cenderung memiliki kebiasaan membangga-banggakan apa yang dimilikinya begitu juga mungkin dengan keluargaku dan keluarga Kim. Tapi sejauh ini mereka belum melewati batas sehingga aku tak bisa membenci mereka. 

Ayah Taeyeon terlihat sedikit pendiam tidak seperti istrinya yang memiliki kepribadian seperti Taeyeon. Ahh.. aku tahu, untuk visual, Taeyeon mendapatkan ketampanan dan karismanya dari sang ayah sedangkan untuk sikapnya yang ramah, supel, dan menyenangkan, itu semua Nyonya Kim wariskan padanya.

“Oh kau bisa segera menemuinya. Tadi sore putriku sudah tiba di bandara. Sayang sekali hari ini dia tidak bisa bergabung dengan kita.” Kim Anna memberikan wajah menyesalnya pada Appa yang terkejut mendengar berita itu.

“Anna.. kau harus secepatnya mempertemukan kami kalau begitu.” Appa terlihat antusias begitupun dengan ibu Taeyeon yang mengiyakan permintaannya.

“Kita bisa mengatur itu nanti. Apalagi jika Tiffany sudah menerima perjodohan ini. Benarkan Tiffany-shi?” ucapan Tuan Kim tadi sedikit mengubah atmosfer hangat yang terbangun menjadi sebuah ketegangan bagiku.

Damn! tatapan matanya begitu dalam dan menghantuiku. Aku seperti melihat Jiwoong  Senior saat ini. Oh ya.. jika kuingat lagi, kepribadian Jiwoong sangat mirip dengan ayahnya. Serius, tepat sasaran, dan efisien.

“Kau benar Sayang. Tapi kita masih belum mendengar jawaban nona cantik ini. Bagaimana Tiffany, apa kau mau menjadi istri Taeyeon?” Mendadak aku merasa seperti ratu sejagat. Semua mata kini tertuju padaku.

“Ah hahaha. Kau benar Tuan Kim!” tawaku mengusir aura aneh yang menyelimuti kami tadi.

“Tae-yeon-tae. Wah.. jika aku menyamar aku takkan menggunakan Yeontae sebagai namaku, itu terdengar bodoh tapi cerdas secara bersamaan.” Tawaku bergerak pelan dalam temponya berbeda dengan pria di hadapanku yang masih menikmati lelucon bodohnya.

Lebih tepatnya nama bodoh yang kubuat untuk penyamaranku karena perjodohan bodoh ini.

“Youngmi.. kau baik-baik saja?”

Tolong hapus senyum tampanmu yang bodoh itu dari hadapanku. Ingin sekali aku meneriakan itu padanya sekarang.

“Tentu.” Aku memberikan senyum palsuku padanya yang terlihat cantik dan mengesankan seperti biasanya.

“Euhm.. Taeyeon boleh aku bertanya sesuatu?” Dia membulatkan mata coklat madunya yang indah itu sebelum tersenyum menganggukan kepalanya mempersilakanku.

Beruntung kami saat ini berada di ruang pribadi restoran favoritnya. Jika tidak, wajahnya yang tadi mungkin sudah menjadi santapan wanita yang menggilainya.

Setelah beberapa kali ikut makan bersamanya, aku menjadi sedikit terbiasa melihat para gadis atau wanita seumuranku tak bisa menjaga matanya untuk tak menatapi bosku ini. Apa ia setampan itu hingga kalian seperti itu? kekekeke mungkin aku harus merasa begitu beruntung karena bisa dijodohkan dengannya.

“Jika kau bisa membandingkan, bagaimana cara kerjaku dengan PA-mu yang sebelumnya? Euh.. apa kau puas dengan kinerjaku? Aku ingin mengetahuinya…” Melihat ekspresi wajahnya yang abstrak tapi tetap tampan dan imut membuatku segera mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya begitu aku benci di akhir kalimatku tadi.

Aegyeo

Cukup lama dia terdiam. Terlihat sulit menjawab pertanyaanku tadi. Membuatku semakin curiga padanya dan Sunmi. Jika saja Paman Cho bisa memberikan laporan itu lebih cepat aku tak harus bertanya seperti tadi.

“Taeyeon? Heumh.. it’s okay jika kau tidak mau menjawabnya.”

“No.. tunggu. Aku akan menjawabnya.” sanggahnya cepat membuat senyum itu perlahan terlukis di wajah cantikku.

Go.. You go Tiffany Hwang!!! hahahaha

“Baiklah aku akan menunggu.” Senyum bulan sabit andalanku mulai kukeluarkan. Taeyeon sepertinya tak bisa menahan pesonanya. Dia terlihat terhipnotis senyuman yang Eomma wariskan padaku.

“Sunmi adalah asisten pribadi pertamaku. Dia wanita yang baik.”Mengapa itu terdengar seperti cinta pertamanya bagiku?

“Sejujurnya dunia bisnis bukan dimana hatiku berada. Aku lebih mencintai kegiatan kemanusiaan. Tapi setelah beberapa bulan aku bergabung diperusahaan, Sunmi membuka pandangan baru akan kecintaanku tadi. Aku masih bisa melakukan kegiatan yang kucintai dengan cara lain yaitu memberikan bantuan secara finansial. Aku ingin menjadi seorang Philanthropist.”

“Oh ya aku sering mendengar namamu dari Chloe tentang itu.” Taeyeon tersenyum lagi mulai melanjutkan ceritanya.

“Aku bersyukur karena Tuhan memberikan kecerdasan, keluarga yang berkelebihan sehingga aku tinggal mengelola apa yang orangtua serta leluhurku berikan padaku. Peran Sunmi sungguh besar dalam pengembangan karirku sebagai Direktur Pemasaran di LK Tech. Pengalamannya begitu banyak sehingga aku bisa belajar banyak darinya meskipun usia kami hanya berbeda 3 tahun.” Mata Taeyeon begitu bersemangat saat ia berbicara.

Heumh.. mengapa aku menjadi semakin tertarik mencari tahu tentang Sunmi?

“Efektif dan efisien. Itu hal yang selalu dia ajarkan padaku tanpa aku harus mendengarnya berulang kali meneriakkan kata itu padaku. Dia selalu mengeluarkan pernyatan sesuai dengan apa yang dikerjakannya. Dia cerdas, baik, dan begitu memperhatikanku. Dia bukan hanya sekedar PA bagiku, tapi lebih seperti ‘soulmate’ jika kami sedang bekerja.” Mendengar cara Taeyeon menceritakan Sunmi, aku bisa melihat betapa bangga dan bahagianya pria dihadapanku ini dulu bisa bersama dengan calon kakak iparnya.

“Wow.. dia terdengar begitu hebat. Pasti dia begitu spesial bagimu.”

“Iya. Dia begitu istimewa hingga aku sulit melepaskannya.”

Eh.. Tunggu.. mengapa itu terdengar berbeda?

Kulihat lagi raut wajahnya yang berubah menjadi sedikit melankolis, terjebak dalam nostalgia yang tak ingin kupikirkan apa isinya.

“Lalu bagaimana denganku?” ucapku dengan percaya diri. Wajah melankolisnya perlahan menghilang, tergantikan dengan wajah berpikirnya yang begitu imut.

“Cara kerja kalian hampir sama hanya saja auramu berbeda.” Senyum tampannya itu terlihat sangat jahat bagiku.

Tuhan apa kau lupa mengikat satu setanmu dari neraka?

“Berbeda?” ucapku mencoba terlihat penuh tanya meskipun pada kenyataannya iya.

“Entahlah. Aku merasa kau begitu misterius.”

“Misterius?” Apa penyamaranku mulai ia rasakan?

“Iya. Tapi misterius dalam artian yang baik.”

“Syukurlah. Kukira misterius seperti apa hehehe.”

“Ah ya! Aku mengerti. Kau dan Sunmi, perbandingan kalian seperti ini. Saat bersama Sunmi, aku bagaikan seorang chef yang memulai proses masak dari awal. Mulai dari berbelanja, memilih bahan yang bagus, membeli dan mengolahnya sehingga menjadi masakan yang lezat.”

“Lalu saat bersamaku?”

“Saat bersamamu aku bagai seorang chef yang sedang mengikuti kompetisi dan di mejaku dengan ajaibnya sudah tersedia berbagai bahan makanan yang segar dan berkualitas, membantuku membuat hidangan yang mengesankan dan tak terlupakan.” Kuamati lagi wajahnya dan ya.. sepertinya ia jujur padaku.

Mendengar apa yang diucapkannya tadi aku tak tahu harus berkata apa. Senang itu ada tapi aku tak ingin banyak berharap dulu. Apalagi jika mendengar bagaimana dia memuji Sunmi, kurasa memang pernah terjadi sesuatu diantara mereka.

“Dengan adanya kau menjadi PA-ku, aku terkadang bertanya, chapter apa yang sedang Tuhan siapkan untukku karena di chapter yang sebelumnya, itu sungguh mengesankan. Aku tak sabar menanti apa yang akan terjadi dengan kita.” ucapannya itu membuat tawa manisku pecah.

Taeyeon berpikir hidupnya seperti buku? kekekekeke.

Tuhan sepertinya begitu senang menghiburku dengan mendekatkan orang-orang seperti Taeyeon, Chloe dan Nicole padaku.

“Taeyeon.. jika aku tak mengenalmu dengan baik, aku mengira kau menyukaiku.” tawa kami pecah dan atmosfer aneh apapun tadi yang menghampiri kami sekejap lenyap.

“Bagaimana jika kau memang tidak mengenalku dengan baik?” Tawaku perlahan mati melihat wajahnya yang tersenyum dengan sesuatu yang tak bisa kuartikan.

“Maaf?” ucapku tapi kedua tangan itu malah perlahan mengambil milikku yang mencoba terlihat tenang meskipun aku tahu kemana ini akan bermuara.

.

.

Oppa.. aku menikmati foto-foto yang kau ambil selama di Barcelona.” Meskipun baru kenal dan bertemu sekali dengan kekasih kakaknya, Soojung sudah bisa mengakrabkan dirinya dengan pria yang lebih tua 5 tahun dari kakaknya itu.

Perbedaan umur Soojung dengan kakaknya beragam. Jiwoong tahun ini sudah berusia 30 tahun, sama seperti calon istrinya, Sunmi. Saat Taeyeon lahir, Jiwoong masih berusia 3 tahun. Dua tahun kemudian lahirlah kaka ketiga Soojung dan terakhir Soojung sendiri yang lahir 3 tahun setelah kaka ketiganya itu lahir.

Di usianya yang ke 22 jalan 23, Soojung sudah meraih beberapa hal yang menjadi target jangka panjang hidupnya.

Pendidikan di bidang Fashion dan Modelingnya sudah ia selesaikan meskipun tetap, ia tak berhenti mengejar ilmu yang tak hanya bisa ia dapatkan di lembaga formal. Karir modelingnya sedang berada di puncak. Kini ia sedang mencoba menyalurkan minat desainnya di dunia fashion yang sudah cukup lama ia pelajari.

“Ah.. Syukurlah. Kemarin aku sibuk menyiapkan konserku.” Soojung tersenyum melihat kekasih kakaknya itu terlihat begitu perhatian pada kakaknya.

Unnie.. bukankah Oppa begitu manis?” kakak perempuannya itu tersenyum malu, sesuatu yang sudah cukup lama tak Soojung lihat sejak beberapa tahun lalu.

“Terimakasih adik ipar.” kakak perempuannya itu tertawa kecil mendengar kekasihnya memuji Soojung.

“Ah kakak ipar. Aku senang mendengar kata ipar yang terdengar begitu pas di telingaku kekekeke.” Mereka berempat tertawa menikmati makan siang yang sengaja Soojung adakan untuk menyambut lagi kepulangan kakak perempuannya ke Korea.

==== Marry You====

“Apa yang sedang kau lakukan?” Taeyeon duduk disampingku yang masih memeriksa beberapa dokumen yang akan diserahkan pada Tuan Kim.

Menjadi seorang asisten pribadi bukan berarti kau bisa bekerja dengan mudah dan tenang karena kau hanya disuruh membuat kopi atau membuat janji dengan kolega atau rekan bisnis bosmu.

Seorang personal assistant atau asisten pribadi lebih dari itu. Aku harus mengerti dan menyesuaikan bagaimana cara kerja Taeyeon. Jika aku tak mengerti apapun dengan hal yang Taeyeon kerjakan, maka itu akan menjadi bencana bagiku saat bosku itu menyuruhku menghadiri beberapa rapat penting jika jadwalnya bentrok dan ia tak bisa menghadirinya. Pasti aku adalah orang yang akan ia delegasikan pada tempat pertama.

Seorang asisten pribadi bukan hanya memiliki visual yang baik. Bagiku, itu lebih bagaimana seseorang bisa menjadi pasangan kerja yang baik bagi atasannya. Maksudnya, kita bukan hanya memiliki kecantikan, tapi kemampuan untuk membuat atasan nyaman dan puas dengan kinerja kita. Intinya kita hadir untuk memudahkan pekerjaan sang bos.

Aku selalu mendengar nada negatif tentang seorang asisten pribadi. Banyak yang berkata bahwa mereka hanyalah mainan para bos, menjual tubuh dan tampang cantik atau tampan mereka pada si bos apalagi jika atasan mereka memiliki jenis kelamin yang berbeda.

Bagiku.. kini seorang asisten pribadi adalah pekerjaan super. Bagaimana tidak? kita bukan hanya mengurus jadwal meeting atasan kita di perusahaan atau bertemu dengan orang-orang penting lainnya di luar perusahaan. Bahkan hal pribadi seperti jadwal bermain Golf, memesan tiket untuk liburan pun harus dilakukan sang asisten pribadi.

Tapi jika hubungan khusus seorang atasan dengan asisten pribadinya, aku sering mendengar itu dan mungkin aku harus membenarkannya.

Kenapa?

Karena ini juga yang mungkin terjadi padaku

“Istirahatlah sebentar. Matamu terlihat lelah dan aku takut kecantikanmu segera memudar.”

Oh ya aku menemukan fakta baru tentang Taeyeon. Selain tampan dan baik seperti malaikat, ia memiliki mulut manis yang mengeluarkan lelucon garing, cukup pahit tapi dengan anehnya aku bisa tetap menikmatinya.

Ucapan bernada sarkasme itu sungguh sebuah keajaiban bagiku.

“Euhm.. iya sebentar lagi selesai.” mendengar ucapanku dia bukannya pergi tapi kedua tangannya malah mulai bergerak memijat bahuku.

Jika kalian berpikir Taeyeon adalah bos mesum dan cabul maka aku akan berkata…

TIDAK.

“Aku tidak ingin kekasihku sakit lagi karena kelelahan.”

Terkejut?

Itupula yang kurasakan saat dia mengajakku berkencan 3 bulan yang lalu.

Apa kalian pikir hubungan kami terlalu cepat? kurasa iya tapi aku tidak bisa menolak mata coklat madunya yang bersinar begitu indah saat ia memintaku menjadi kekasihnya. Sampai detik ini bahkan aku masih berpikir mengapa aku bisa menjadi kekasih sekaligus asisten pribadinya.

Aku belum menceritakan hal ini pada Appa, kedua orangtua Taeyeon atapun kedua sepupu tersayangku.

Mereka pasti akan kegirangan dan mencoba mempercepat pernikahanku dengan Taeyeon.

Aku tak mau pernikahan kami terjadi secepat itu.

Tidak saat aku belum yakin bahwa kami berdua telah sama-sama move on dari mantan kami.

Ya.. aku sudah tahu bahwa Sunmi dulu menjalin hubungan dengan Taeyeon secara diam-diam. Dan aku tahu pria yang kini menjadi kekasihku itu belum sepenuhnya mematikan perasaannya pada calon kakak iparnya.

Oh… aku bisa membayangkan gilanya Nicole dan Chloe mengetahui hal ini.

“Mi.. kau mau ikut berkuda denganku sabtu ini?” Aku memejamkan mataku menikmati tangannya yang cukup terampil memijatku. Badanku perlahan mulai relaks menerima pijatannya yang cukup mengesankan bagiku.

Aku sempat bertanya padanya bagaimana dia bisa memiliki kemampuan memijat seperti ini. Bukankah seharusnya dia hanya berbaring tenang menerima pijatan dari terapis yang sudah ahli di bidangnya?

Masa kuliahnyalah yang membuatnya terbiasa hidup menjadi orang biasa, bukan seorang anak pengusaha kaya yang tinggal menjentikkan tangannya untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya.

Saat Taeyeon aktif menjadi relawan, ia banyak bertemu dengan banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi. Dari situ ia banyak mengambil ilmu yang hingga hari ini masih ia coba untuk aplikasikan.

Luar biasa bukan?

“Berkuda? tapi aku belum pernah melakukannya.” ucapku mencoba menahan suara seperti desahan karena aku begitu menikmati tangannya yang sedang mengerjakan keajaiban di tubuhku.

“Nah justru itu bagus. Aku akan mengajarimu. Disana pemandangannya menyejukkan. Aku yakin semua kesuntukanmu akan hilang setelah kau kesana. Bagaimana.. mau kan?” dia menghentikan pijitannya saat aku mengarahkan tubuhku menghadapnya. Melihat ekspresi wajahku sepertinya ia sudah tahu jawabanku.

.

.

Oppa!!!” seorang gadis yang wajahnya cukup mirip dengan Taeyeon berlari memeluk pria disampingku.

“Aigoo Model Papan atasku.” Taeyeon tertawa renyah mengelus puncak kepala gadis yang semakin menelusupkan kepalanya ke bahu kekasihku.

“Dia siapa Oppa?” Tatapan matanya yang tajam mengingatkanku pada ayah Taeyeon yang selalu membuatku merasa kurang nyaman.

“Dia adalah…” No.. jangan bilang bahwa aku adalah kekasihmu Taeyeon, kumohon.

“Pengganti Sunmi.” gadis itu mendelikkan mata kanannya, mencoba meminta penjelasan dari Taeyeon. Itu juga yang sebenernya ingin aku lakukan.

“Dia adalah PA baru dan temanku, Hwang Youngmi.” Setelah itu aku mulai mengenalkan diri begitupula dengan gadis yang ternyata adalah adik terakhir Taeyeon itu mulai mengenalkan dirinya padaku.

2 Senior Kim dan 4 juniornya masing-masing memiliki visual yang tak biasa.

Aku penasaran dengan adik Taeyeon yang satu lagi.

Mungkin mereka memang adalah keluarga Visual.

Unnie.. jika aku tak mengenal baik Oppa, kukira kau adalah kekasihnya hahahaha.” Oh.. keluarga Kim dan kalimat itu sepertinya begitu familiar.

Soojung.. sepertinya kau memang tak cukup baik mengenal kakakmu.

“Benarkah?” aku menunjukan wajah terkejutku membuatnya tertawa kecil. Siapa sangka gadis yang diawal tadi muncul dengan aura mengintimidasi itu kini terasa begitu akrab dan nyaman denganku?

Manusia… adalah sebuah objek yang takkan bisa dipahami oleh jenius sekalipun.

“Apa kalian benar tak ada hubungan apapun? Dugaanku berdasar pada cara Oppa menatapmu dan memperlakukanmu sebagai ‘teman’nya secara sekilas.” Ternyata bukan hanya matanya yang tajam, insting dan nalarnya juga. Aku harus hati-hati dengan anak ini.

“Ladies… makan siang kita sudah siap!” kudengar Kai, kekasih Soojung memanggil. Aku dan Soojung akan berdiri dari ayunan tempat kami berdiri saat aku mendengar suara mobil memasuki villa tempat kami akan tinggal sampai besok malam.

Unnie sepertinya sudah datang.” Senyum khas keluarga Kim yang dimiliki oleh Taeyeon juga kini bermain di wajah adiknya.

Unnie?” ucapku selagi kami berjalan menuju pintu depan. Kami berada di taman belakang yang tak cukup jauh dari pintu depan villa klasik ini.

“Kau akan melihatnya nanti. Ayo!” Soojung mempercepat langkah kami, lebih tepatnya berlari menjemput kakak perempuannya yang sepertinya begitu dipuja oleh semua orang.

.

.

“Apa yang sebenarnya sedang kau lakukan?” aku merasakan sakit di pergelangan tanganku menerima cengkraman dari pria di hadapanku.

“Unnie!!” sepertinya itu adalah kebiasaan Soojung untuk memeluk orang terdekatnya saat mereka bertemu. Wanita yang masih mengenakan kacamata hitamnya itu menerima pelukan adiknya yang antusias menyambutnya.

“Unnie.. perkenalkan ini Youngmi Unnie, dia teman Taeyeon Oppa dan PA barunya.” Aku sedikit membungkuk padanya yang sama membalas bungkukanku.

“Kim Sooyeon.” kacamata itu ia lepas dan Tuhan.. apa kedua orangtuanya memiliki cetakan yang sama saat mereka memproduksi Kim bersaudara?

Wajah Sooyeon mirip sekali dengan Soojung. Berbeda dengan Jiwoong yang lebih mirip dengan Taeyeon. Tapi jika dilihat dari jauh mereka berempat memiliki wajah yang nyaris sama.

Aku juga mulai mengenalkan diriku pada Sooyeon yang begitu ramah dan memberikanku aura kenyamanan. Tatapan matanya begitu lembut membuatku ingin memeluknya saat ini juga.

Bagaimana ya cara menggambarkan Sooyeon dengan kata-kata? sepertinya sulit.

Dia terlihat begitu dewasa dengan wajah awet mudanya itu. Kelembutan yang ia tampilkan cukup kontras dengan kecerdasan yang menunjukan intimidasi dan superiornya. Tapi anehnya aku tak merasa terganggu dengan hal itu. Keramahan dan kehangatan yang dibawa oleh dirinya membuat orang percaya diri dan nyaman untuk berbicara dengannya.  Mungkin sekompleks itu deskripsi Sooyeon bagiku. Mungkin ada satu kata cocok yang terdengar berlebihan untuk menggambarkan Sooyeon secara keseluruhan yaitu SEMPURNA

“Oh.. biar aku membantumu Oppa” pengamatanku terhenti saat seorang pria yang masih mengenakan kacamata hitam dan topi fedora putihnya memasuki rumah dengan barang bawaannya.

“Oh iya Unnie.. aku belum mengenalkanmu. Dia adalah kekasihku.. Kwon Yuri.” 

“Julian.. kau menyakitiku.” ucapku tak membuatnya melepaskan tanganku.

“Jangan berkata seperti itu padaku. Kau tidak tahu arti sakit yang sebenarnya Tiffany!”

Aku sedikit meringis menerima cengkraman tangan mantan kekasihku yang terlihat begitu membenciku.

“Jika kau tak melepaskanku, aku akan berteriak!” tangan itu mulai melepas pergelangan tanganku yang terlihat sedikit merah karenanya.

Bagus! aku harus mengarang alasan baru pada Taeyeon nanti. Dia tak boleh tahu Julian euh maksudku Yuri berbuat ini padaku.

“Jawab pertanyaanku yang tadi!” ketusnya menatapku begitu tajam.

Julian… kemana mata yang selalu menatapku penuh cinta itu?

Seandainya saja kau tahu alasan sebenarnya aku memilih untuk berpisah denganmu dulu, apa kau masih menatapku dengan kebencian seperti ini?

“Itu bukan urusanmu.” Aku memejamkan mataku merasakan keras dan kasarnya batang pohon menyapa punggungku lagi. Yuri mendorongku cukup keras. Entah sejak kapan ia menjadi pria sekasar ini dan lucunya hati ini masih bereaksi tak biasa saat berada di hadapannya.

Good Job Tiffany!

“Sooyeon adalah kekasihku. Kebohongan yang kau berikan pada keluarganya, itu jelas menjadi urusanku” Sakit yang tubuhku rasakan sekarang rasanya tak sebanding dengan hatiku.

“Kau baru menjadi kekasihnya, bukan suaminya. Jadi itu bukan urusanmu! Lagipula Sooyeon tidak pantas menerima pria kasar emosional sepertimu.” kata-kata itu sepertinya membakar emosi Julian dan harus kuakui cukup pedas.

“Kau yang membuatku seperti ini Tiffany. Kau yang membangkitkan monster dalam diriku yang tak kuketahui sebelumnya. Sooyeonlah yang telah mematikan monster yang bisa saja menghancurkan hidupku.” Tak ada keraguan saat Yuri mengucapkan itu.

Akulah yang membuatmu seperti ini.

Ya.. kau benar Julian. Aku yang membuatmu menjadi monster.

Bencilah aku Julian.

Benci aku sesuka hatimu.

Mungkin ini yang terbaik untuk kita.

“Aku tidak pernah mencintai monster sepertimu.” Aku mencoba pergi darinya tapi ia kembali memerangkap tubuhku dengan miliknya.

“Benarkah? Oh.. apa kau lupa dengan ini?” mataku terbelalak saat bibirnya menciumku dengan kasar. Aku berusaha melepas tapi dia sungguh kuat sehingga aku memutuskan untuk diam tak memberikan reaksi apapun. Yang aku tahu, pipiku basah oleh air mataku yang sialnya keluar begitu saja.

“Mengapa kau menangis? apa  sekarang kau mulai merasakan rasa sakit itu?” Yuri kembali menciumku sedangkan aku hanya diam tak memberikannya respon seperti tadi.

Ciuman itu bukan sebuah ciuman lagi jika kedua tangannya kini mulai menjamah tubuhku.

.

.

“Hentikan!” sesuatu dalam diriku memberontak. Aku mendorong tubuhnya dengan sekuat tenagaku membuatnya terdorong mundur ke belakang.

“Oh.. jadi sekarang kau tak menyukainya?” Yuri tertawa sinis mengelap bibirnya yang cukup belepotan karena lipstikku. Dia mengeluarkan telponnya, mengecek tampilannya yang masih terlihat belepotan seperti tadi.

“Julian apapun yang sedang kulakukan sekarang, itu takkan menyakitimu serta Sooyeon. Jadi jangan berani kau menceritakan tentang identitasku yang sebenarnya.”

“Apa kau pikir aku bisa percaya padamu?” tawa penuh ejekan itu terasa begitu mengiris hatiku. Sesuatu yang lain dalam diriku bangun. Amarahku terasa memuncak.

“Jika kau berani menceritakan semuanya, aku berjanji Sooyeon takkan pernah lagi ingin bersamamu. Kau akan menjadi monster yang bisa kukendalikan selamanya. Camkan itu!” sebelum pergi, kutampar pipi kanannya cukup keras, membuatnya menatapku tak percaya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author Note:

How.. how.. how?

Makin serukah?

Wuuu… Yuri udah datang.

Gimana ya kelanjutan hubungan ‘Youngmi’ dan Taeyeon? Wkwkwkwk

Ayo coba ceritakan perasaan kalian setelah baca part ini.

Aku tunggu ya.

Aku pengen ngobrol sama kalian

c2ftsyvveaisyen

Have a nice day dan God Bless You

Iklan

20 pemikiran pada “Marry You Part 1.1

  1. Ohh jadi julian itu kwon yuri, mungkin tiffany mempunyai pilihan kenapa dia memutuskan yuri dari hidupnya tapi sedih juga karna taeyeon gk tau apa apa

  2. Author selalu berhasil membuat otak ku menggambarkan cerita ini ,
    Daebak , tifdany be carefoul ,jullian sekarang monster tapi aku takin kau mampus menaklukkannya

  3. Author selalu berhasil membuat otak ku menggambarkan cerita ini ,
    Daebak , tiffany be carefoul ,jullian sekarang monster tapi aku takin kau mampus menaklukkannya

  4. julian tu yuri toh
    aku kira adek taeng yg satu’a tu seo trnyata jessie haha
    wah jessie dsni ga jd karakter cem ital nih tp jd cwe yg sempurna buat dibanggakan+bkin nyaman
    taeny udh jadian aja ya tp yg lain blm pd tau

  5. yg td diawal dah senyum2 ampe taeny jadian tp diem, hehe,, ini mulai deh greget, yuri ngapain pke cium2 fany yaa,,nyebelin klo mo tanya ya biasa aja, pke pegang2. ya itu alsn putusnya, ga jls. tp ya dah, udah putus juga ribet amat yuri,

  6. aahh sush bngt mau bc part ini di ganggu mulu .. > < . kaget gue tryata julian itu yuri . sbnernya bngung knp tiba2 taeyeon sm tiffany udh jadian..? apa aku bc nya kurng teliti y .? jhhhh _seru B.G.T 😀

  7. huaaa kangen tiffany T.T
    jadi julian itu yuri??? weehhh ini mah bisa banget buat ngebayanginnya hahah kalau julian susah karena bingung bayanginnya make muka siapa waakka..
    please deh itu keluar kim sempurna banget dari segala hal (wajah ,otak & dan lainnya) iri syekali~ hahah..

    penasaran kalau taeng tau gimana ya? dibakal marah kali ya

  8. Julian = Yuri
    Yul sama sooyeon aja jgn ganggu tae sm tiff…
    Keren cara penulisannya bikin mudah ngebayangi…
    Tpi kenapa haru ada kai 😣😣

  9. Ternyata julian itu si yuritem yah 😂😂😂 awalnya lembut jadi kasar gara2 cinta hmmm, udah lah yul ama sica aja cocok kok 😊

  10. Julian adalah kwon yuri ? Dan apakah taeng liat adegan kissing yuri sama fany tadi ? Kalo emang lihat pasti sakit banget itu kan kasian taeng tapi gapapa lah yang penting taeny udab official(?) hahaha

  11. Nga nyangka klw Julian itu Yuri….keren!!!!
    Dan mantap bgt ya kelg Kim Taeyeon SMA Jeje d jdiin kakak adek…aku malah nyangka seo yg adeknya tae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s