Marry You 1.2 (Final)

c0gs4c2viaax0bd

“Aku mulai berpikir bahwa kau sedang menculikku.” Taeyeon hanya tertawa mendengar aku berbicara masih dalam balutan blindfold yang  menutup kedua mataku

“Jika kau merasa diculik, kau bisa menyalahkan Hans sebagai pelakunya.” kini giliran aku yang tertawa mengelus pipi dan leher kuda yang sejak tadi sore menjadi tungganganku berlatih berkuda bersama Taeyeon.

“Hans menyukaimu. Dia tak seganas dulu saat aku mencoba menaikinya untuk pertama kali. Kau beruntung Nona Hwang.” Taeyeon juga ikut mengelus leher kudanya.

Tanpa melihatpun aku bisa merasakan kasih sayang yang calon suamiku itu berikan pada hewan peliharaan yang jarang ditemuinya itu.

Setelah cukup lama berjalan melewati hutan akhirnya kami tiba di tempat yang akan menjadi kejutan untukku.

“Tunggu sebentar.” Aku merasakan kain yang sejak tadi memeluk mataku erat kini telah terlepas. Kukedipkan kedua mata ini, mencoba memfokuskan pandanganku.

“Terimakasih Tuan Kim.” meskipun kejadian tadi siang bersama Yuri membuat moodku sempat turun tapi aku berusaha mengontrol hati dan pikiranku agar tak terkalahkan oleh emosiku.

Syukurlah Yuri tak berbuat sesuatu yang bisa membuat penyamaran Tiffany terbongkar. Pria itu lebih terlihat diam jika Tiffany sedang bersamanya dan yang lain.

Setelah makan siang bersama, ketiga Kim bersaudara bersama pasangan mereka mencoba berkuda, yang mencoba lebih tepatnya Tiffany karena 5 orang lainnya sudah bisa mengendarai tunggangan mereka masing-masing, termasuk Yuri.

Yuri dan Tiffany mencoba fokus dengan pasangan masing-masing. Yuri beberapa kali terlihat tertawa memeluk Sooyeon yang mendengar leluconnya.

Kai dan Soojung mencoba mengadu kecepatan kuda yang mereka tunggangi di pacuan yang sudah disediakan. Kedua sejoli itu tampak sangat kompetitif dan menikmati olahraga yang tak terlalu sering mereka lakukan mengingat kesibukan keduanya di dunia industri hiburan.

Lalu bagaimana dengan Taeyeon dan Tiffany?

Well.. let say Taeyeon menikmati perannya sebagai instruktur berkuda Tiffany hari ini.

Asisten pribadinya itu terlihat imut dan manis sekali saat melihat Hansem, kuda yang sejak dulu selalu Taeyeon tunggangi. Tiffany terlihat seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah natalnya saat Hans berjalan, membawanya mengelilingi peternakan, tentunya dengan pengawasan Taeyeon.

Yang paling menyenangkan adalah saat Taeyeon ikut mengendarai Hans bersama asisten pribadinya itu. Tiffany duduk di didepan, ia dibelakang memegang tangan kekasihnya yang mencoba mengendalikan tali kekang kuda tunggangan mereka.

Taeyeon menghentikan Hans saat ia merasa sudah cukup jauh dari kedua adiknya yang sibuk dengan pasangan mereka masing-masing.

“Kau senang?” Tiffany memutarkan pandangannya, mencoba melihat Taeyeon yang duduk di belakangnya.

“Kau benar. Ini menyenangkan meskipun awalnya menakutkan.” Hati Taeyeon melonjak senang melihat senyum bulan sabit itu Tiffany berikan padanya.

“Berbaliklah, aku akan membantumu.” Perlahan Tiffany membalikan direksi tubuhnya berhadapan dengan Taeyeon yang membantunya agar Hans tak berulah. Taeyeon sedikit mundur kebelakang agar kekasihnya itu bisa duduk dengan nyaman menghadapnya.

“Ini aneh tapi bagus. Aku bisa melihat tampilanmu yang keren memakai busana berkudamu.” Taeyeon membuka helm pengaman dan kacamata Tiffany. Ia merapikan rambut sang kekasih yang terlihat begitu cantik.

“Sekarang terlihat lebih indah.” keduanya saling bertukar pandang tak memperdulikan dunia di sekitar.

“Aku beruntung bisa disini bersamamu.” Taeyeon membawa tangan Tiffany, mulai mengecup punggung tangan kekasihnya itu.

“Tae..” meskipun usianya bukan 17 tahun lagi, Tiffany tak bisa membohongi bahwa hatinya berdegup kencang seperti seorang gadis belia.

“Heumh?” selain punggung, satu persatu jari itu Taeyeon kecup membuat wajah Tiffany memerah.

“Terimakasih” Taeyeon hanya tersenyum sebelum mengecup bibir lembut dan manis kekasihnya yang memejamkan mata menerima kecupan itu.

“Kau tega meninggalkan Hans sendiri..” ucapku terdengar sedikit merengek padanya.

“Hahaha biarkan saja. Hans mempunyai teman imajinasinya sendiri jadi dia takkan kesepian.” Tangan kanan Taeyeon tak sekalipun melepasku meskipun tangan kirinya membawa keranjang medium, mantel dan perlengkapan piknik kami.

“Ah.. sudah sampai. Mari kita gelar tikarnya.” Kami berada di sebuah bukit yang tak jauh dengan Hans berada. Aku membantu Taeyeon menyiapkan piknik malam hari kami yang sudah terdengar begitu romantis bagiku.

Tak ada makanan berat yang kami bawa. Hanya ada sebotol wine, air mineral, keju yang telah dipotong dadu kecil, beberapa jenis buah-buahan, dan makanan ringan asin favoritnya mengingat tadi kami sudah makan malam bersama yang lainnya.

Taeyeon membuka winenya, mulai menuangkan ke gelasku dan miliknya.

“Untuk wanitaku” aku tak bisa menahan tawaku melihat wajah tampan dan imutnya berkata seperti orang mabuk dengan membawa namaku.

“Untuk Priaku” kusulangkan gelas ini dengan miliknya yang tersenyum begitu lebar, terlihat sumringah mendengar sebutanku untuknya.

“Berbaringlah di sampingku.” Gelas anggur kami sudah habis, Taeyeon menawariku untuk isi ulang tapi aku menolak idenya. Aku tidak ingin berada dalam pengaruh alkohol dan menghancurkan moment berharga ini.

“Ayo.. lengan, bahu dan dadaku menyediakan kenyamanan lebih dari hotel bintang 5. Semua ini adalah propertimu Nona Hwang.” Ia tersenyum begitu tampan dengan tatapan sombong dan menggodanya.

“Benarkah? kau yakin hanya aku wanita yang menerima pelayanan spesialmu ini?” Aku menatapnya ragu, mencoba menyembunyikan senyum 1 juta dollarku.

“Oh Nona Hwang… kau menyakitiku.” wajah masamnya itu terlihat begitu menggemaskan.

“Masih sakit?” seperti anak kecil Taeyeon menggelengkan kepalanya. Ia masih menunjuk bagian tubuhnya tadi agar aku bisa berbaring bersamanya. Meskipun aku tak bisa melihat senyum bodohnya itu, aku tahu Taeyeon senang saat kepalaku memilih untuk bersandar di dadanya.

“Begini lebih baik” tawaku bergetar di dadanya. Ia juga ikut tertawa mengelus puncuk kepalaku yang kudekatkan dengan dagunya.

“Mi.. ini bukan pertama kalinya aku berkencan dengan seorang wanita.” Taeyeon mulai berbicara memecah keheningan yang tadi menyelimuti kami.

“Aku tahu.”

Tawanya itu.. aku tak pernah bosan mendengarnya.

“Apa itu terlihat sekali?” meskipun tak ia tunjukan tapi aku tahu Taeyeon khawatir mendengar jawabanku.

“Ya.. dan aku tidak menyukai playboy. Sulit bagiku mencari alasan untuk membencimu. Terlepas dari kekuranganmu, kau adalah pria yang banyak diimpikan wanita untuk menjadi seorang pasangan.”

“Termasuk dirimu?” pertanyaan seperti ini 50-50 peluangnya.

Cukup menjebak.

Ada nada bercanda dan meminta kejujuran di dalamnya.

Bagaimana aku harus menjawabnya?

“Untuk menjadi pacarku, aku tidak pernah berharap mendapatkan pria sepertimu.” jawabku terdengar jujur. Aku ingin tertawa saat melihat tangannya tak lagi mengelus lenganku.

Apa dia kecewa?

“Pria sepertimu, adalah pria yang cocok untuk menjadi suamiku. Ayah anak-anaku dan pemimpin keluargaku nanti~”

Wow! Apa aku benar-benar mengatakan hal itu?

“Kau serius?”Taeyeon membawa tubuh kami bangkit, membuatku duduk di pahanya, berhadapan dengannya.  Mata coklat madu yang polos itu terlihat begitu bahagia dan dipenuhi semangat.

Aku bertanya pada diriku sendiri apa tadi yang kukatakan hanya bualan atau tidak.

Untuk itu aku tak tahu.

Yang kutahu tak ada beban saat kata-kata tadi keluar dari bibirku dengan alaminya.

“Tentu Tuan Kim” kuberanikan diri untuk menjawabnya.

“Terimakasih Mi.” Wajah bahagianya yang imut itu mendadak menjadi sedikit sedih. Mata coklat madu itu terlihat sendu meskipun ia tak mengatakannya.

“Ada yang ingin kau ceritakan?” Taeyeon terlihat ragu untuk sesaat sebelum ia menggenggam telapak tanganku.

“Meskipun aku pernah berkencan dengan beberapa wanita tapi aku tak pernah menganggapnya sebagai permainan.” Aku menganggukan kepalaku, mengerti dengan ucapannya itu.

“Kencan itu cukup banyak tapi hanya 2 orang yang menjalin hubungan serius denganku. Banyaknya kencan kugunakan untuk mengenal lebih banyak kepribadian wanita, mempelajarinya agar aku lebih mengerti mana yang aku butuhkan untuk menjadi pasangan hidupku.”

Apa ia akan menceritakan hubungannya dengan Sunmi?

“Kedua wanita itu adalah seseorang yang dulu kukira akan menjadi istriku nanti. Tapi kenyataannya semua janji manis yang kami buat termakan oleh waktu. Bahkan wanita yang kedua, dia dengan mudahnya melupakan semua hal yang menjadi mimpinya dulu bersamaku.” Tak ada tangis yang keluar, hanya tawa pahit yang membuatku sedih mendengarnya.

Tae.. apa sekejam itu Sunmi meninggalkanmu?

“Aku tahu hubungan kita masih terlalu premature tapi aku berharap kau yang terakhir bagiku” Senyum penuh kesedihan bercampur sedikit bahagia itu kini menghiasi wajahnya.

“Itu juga yang kuharapkan Mi” aku mengecup kedua pipi dan hidungnya berharap kesedihan itu segera pergi.

“Mengapa tak disini?” Senyum jahilnya yang tampan muncul lagi saat ia menunjuk bibirnya.

“Oh.. kau tak perlu menanyakan itu Tuan Kim!” Kekehku sebelum mengecup bibirnya ringan, berusaha menyampaikan perasaanku padanya.

“Eh..” Saat aku akan melepas diriku, Taeyeon menariknya lebih dekat, membawa tubuh kami bersatu dan mulai menciumku dengan mesranya.

“Aku mencintaimu Nona Hwang” Ini pertama kalinya dia mengucapkan kata-kata magic itu.

Selama ini kami tidak pernah mengucapkannya.

Pada saat dia memintaku berkencan dengannya, dia hanya mengatakan dia menyukaiku dan ingin mengenalku lebih jauh.

Saat memintaku menjadi kekasihnya pun ia tak mengucapkan kata cinta dan hal romantis lainnya.

Meskipun aku pernah hidup di Amerika dimana ‘aku mencintaimu’ sudah menjadi biasa, bahkan seseorang yang tidak berada dalam hubungan pun saling bertukar kalimat itu, tapi bagiku itu adalah 3 kata yang spesial.

Kata dimana hanya akan kuucapkan pada orang-orang yang benar-benar kusayangi. Tentu Aku dan keluargaku sering bertukar 3 kata itu tapi tidak dengan teman priaku.

Pria terakhir yang selalu mengatakan cintanya dan kubalas dengan sepenuh hati adalah Julian atau sekarang harus kusebut Yuri.

Eurgh.. nama koreanya, aku tidak terbiasa menyebutkannya. Selama di Amerika kami hanya memakai nama luar negeri kami.

Aku tidak terlalu nyaman saat orang-orang memanggil nama korea yang Eomma berikan. Sejauh ini hanya Appa yang kuperbolehkan memanggilku seperti itu.

Aku baru sadar kalau aku sudah membiarkan Taeyeon memanggil nama koreaku selama ini.

Mengapa aku tak keberatan saat ia menyebutkannya ya meskipun itu terbalik?

Hwang Miyoung… Hwang Youngmi.

Apa aku sudah mulai menganggap Taeyeon….

“Aku juga mencintaimu Tuan Kim” Dan ya.. sepertinya hatiku telah menjawab sendiri apa yang logikaku pertanyakan.

==== Marry You====

“Kau menerima perjodohan ini?” ibu Taeyeon terlihat begitu senang begitu pula ayahku. Hari ini ayah Taeyeon tidak bisa ikut dalam makan malam kami.

Oh ya mengapa kami selalu bertemu di malam hari?

Simpel… karena sejak pagi hingga sore aku harus menjalankan tugasku sebagai asisten pribadi Taeyeon meskipun sejak pengakuan cintanya aku menemukan kondisi kami sulit untuk menjaga profesionalitas sebagai atasan dan bawahan.

Aku menduga orang-orang sudah mulai menyangka kami menjalin hubungan yang lebih meskipun pada nyatanya iya. Bagaimana tidak, setiap hari bosku itu begitu lengket denganku.  Di meja kerjaku selalu tersimpan mawar putih, pink, merah yang dirangkai begitu indah. Belum dengan sepaket permen atau coklat yang menaikan kadar gulaku, membuatku mood-ku selalu lebih baik.

Taeyeon selalu menemukan berbagai alasan untuk memanggilku ke ruangannya. Apa yang terjadi di ruangan itu? Hanya kami dan Tuhan yang mengetahuinya.

Kalian pasti sudah berpikiran yang lain kan?

Tenanglah. Aku dan Taeyeon tak pernah melakukan lebih dari ciuman. Jika kami sedikit terbawa suasana, kami melanjutkannya ke tahap bercumbu yang aku syukuri tidak pernah melewati batas hingga hari ini.

Panggil aku kuno dan kolot tapi aku hanya akan bercinta dengan suamiku saja setelah kami menikah.

Keperawananku adalah sebuah berlian yang berharga, mengapa aku memberikannya pada sembarang orang? Meskipun kau sangat mencintai seorang pria, bila ia masih belum meminangmu, jangan sepenuhnya percaya bahwa dia mencintaimu.

Di zaman ini orang sudah menggila dan melupakan sedikit moral dalam hidupnya demi uang, kekuasaan dan ketenaran.

Mungkin aku tidak mengerti karena aku belum merasakan bagaimana sulitnya mencari uang karena Appa selalu menyediakan semua kebutuhanku. Tapi melihat beberapa temanku di Amerika yang mati-matian membiayai kuliah kami yang cukup mahal, aku tahu betapa berharganya setiap sen yang mereka dapat.

Hampir disetiap kegiatan Taeyeon, aku ada tapi tidak dengan kegiatanku. Ada satu hari dalam satu minggu dimana aku meminta Taeyeon untuk tak menemuiku.

Kenapa?

Meskipun kami sudah menjadi sepasang kekasih tapi aku membutuhkan waktu sendiriku, privasiku.

Awalnya calon suamiku itu protes tapi setelah kujelaskan padanya bahwa jarak akan membuat hatiku semakin menginginkannya dia perlahan setuju.

Itu juga dengan syarat baru.

Aku harus menyediakan satu hari lain dalam seminggu hanya bersamanya. Tidak ada gadget dan buku-buku fantasi yang biasanya membuatku sedikit lupa diri jika aku sudah mulai memainkan atau membacanya.

Perlahan aku mulai terbiasa dengan cinta yang Taeyeon beri padaku. Aku seberusaha mungkin untuk membalasnya dengan jumlah yang sama. Aku senang kami mulai belajar melepas masa lalu.

Aku dengan Yuri dan Taeyeon dengan Sunmi.

Taeyeon kini terlihat lebih bisa mengontrol moodnya saat Jiwoong dan Sunmi berkunjung ke ruangannya.

Sebenarnya aku tak mengerti mengapa Jiwoong bisa setega itu menunjukan kemesraannya pada Taeyeon,  mantan kekasih istrinya.

Ya kalian benar, Jiwoong dan Sunmi sudah menikah 2 bulan lalu.

Pastur baru saja memberitahukan kepada para hadirin bahwa pasangan di hadapannya telah resmi menjadi suami istri. Aku dan Taeyeon duduk di bangku paling depan bersama keluarga Kim dan Choi  yang menangis haru melihat putri mereka sudah menikah.

“Taeyeon-ah..” panggilku. Ia menatapku dengan senyum kecilnya.

“Kau baik-baik saja?” tangannya yang sejak tadi menggenggamku terasa begitu dingin dipenuhi dengan keringat. Kuperiksa pipi dan dahinya yang terasa panas.

“Aku baik-baik saja.” ucapnya sedikit lemah.

Melihatnya seperti ini aku mengerti. Jika aku berada di posisinya sekarang, mungkin aku akan sepertinya.

Bibir bisa dengan mudah mengucapkan bahwa kita sudah melupakan kenangan buruk dari masa lalu tapi hati manusia siapa yang tahu.

Aku tidak menyalahkan Taeyeon yang sudah menyatakan cintanya padaku tapi nyatanya belum 100% melupakan Sunmi, kakak iparnya, wanita yang akan sering ia temui karena kini sudah menjadi bagian dari keluarga besar Kim.

Itu manusiawi dan aku memahami itu.

Karena itu yang terjadi denganku.

“Iya Nyonya.. aku menerimanya.” jawabku tak lagi ragu.

6 bulan berlalu sejak Taeyeon mengungkapkan cintanya padaku. Jika kuhitung lagi, 9 bulan sudah aku mengamati calon suamiku itu. Aku rasa itu cukup dan aku yakin kami sudah siap mengambil hubungan kami ke tahap lebih jauh.

“Taeyeon..” pria yang  kupanggil masih sibuk membaca resep makanan yang akan kami masak malam ini.

“Iya Sayang?” Yuri dan Nick sering memanggilku itu tapi mengapa saat Taeyeon mengucapkannya terasa berbeda?

“Apa kau siap menikah dalam waktu dekat ini?” Buku itu Taeyeon tutup. Matanya segera terfokus padaku yang terlihat biasa meskipun nyatanya tidak.

“Kenapa? kau ingin melamarku?” nada dramatis itu membuat tanganku yang basah mencuci sayuran dan buah-buahan untuk salad kami menyerang wajahnya.

“Yah!!!” aku ingin tertawa melihat matanya yang tertutup mencoba menghentikan seranganku.

“Kau yang harus melamarku sebelum pria lain melakukannya.” Sayuran dan buah-buahan itu kutiriskan, mulai kupotong kecil seperti biasa.

“Apa kau bermain dengan pria lain didepanku Nona Hwang?” ucapnya terdengar curiga dan mengancam. 

“Ya.. aku berselingkuh darimu.” ucapku menggigit kiwi yang tadi sudah kupotong.

“Siapa pria itu?!” kiwi yang masih ada di bibirku Taeyeon ambil dengan bibirnya.

“Nama pria itu Kim Taetae. Apa yang akan kau lakukan heuh?!” aku rasa aku sudah cukup nyaman dengannya sehingga sisi dominanku perlahan mulai muncul.

Ingat ungkapan bahwa wanita selalu benar?

Yuri dan Nick sudah merasakan itu saat bersamaku dulu.

Aku berharap kau bukan korban selanjutnya Taeyeon-ah.

Semoga aku bisa menjadi submisive untukmu.

“Bila pria itu Kim Taetae, maka aku rela jika kau dilamarnya. Aku yakin dia siap menikahimu kapan saja. Bahkan detik ini jika kau mau.” Kutatap mata coklat madunya yang terlihat bersemangat dan sungguh-sungguh.

“Oh.. aku mencintaimu Tuan Kim!” kecupan itu kuberikan padanya yang menerimanya sepenuh hati.

“Syukurlah! Ahh.. Jung Min kita akan segera menimang cucu! Kalian berencana memiliki berapa anak? 4, 5, 7, atau 11?” Nyonya Kim terlihat begitu bahagia dengan apapun yang ada di imajinasinya saat ini. Appa hanya terkekeh melihat kehebohan calon ibu mertuaku itu.

“Nyonya..”

“Hush! Panggil aku Eomma Sayang” memanggil lagi kata ibu membangkitkan memori ibuku yang meninggal di saat aku berusia 11 tahun.

“Anna.. kurasa putriku belum siap mengatur 11 Kim-Hwang dalam waktu dekat ini.” Appa membantuku menjawab pertanyaan ibu Taeyeon. Aku tersenyum melebarkan mataku mempertanyakan maksud ucapannya itu.

Bukan belum Appa tapi aku memang takkan siap mengasuh 11 orang versi mini aku dan Taeyeon berlarian mengacak-acak rumah penuh kedamaian serta cinta kami nanti.

.

.

“Sayang.. kau yakin tidak ingin pulang bersama Eomma?” Ibu Taeyeon bertanya lagi padaku yang menolaknya secara halus. Appa sudah pulang lebih dulu karena ada acara lain yang tak bisa ditinggalkannya.

“Tidak Eomma, aku masih harus bertemu teman perempuanku yang lain. Kebetulan sebentar lagi mereka datang.” Aku memberikan wajah menyesalku melihat ibu mertuaku.. eheum calon ibu mertuaku ini terlihat sedih karena aku tak bisa pulang bersamanya. Kuantar ibu Taeyeon hingga beliau masuk ke mobilnya dan  perlahan pergi dari pandanganku.

Unnie.. kau bersama Jessi dan Hyorin? Kalian sudah dimana? Hara dan Bora belum ada. Jinkyung Unnie tak bisa datang karena putrinya sakit.” Aku berbicara pada Sook Unnie yang menggagas pertemuan malam ini.

“Kau masih di studio? Jessi dan Hyorin belum datang menjemputmu?” Dua orang itu memang..

“Tiffany.” Aku terdiam mendengar suara itu.

Tidak… jangan bilang kalau dia…

“Stephanie, Tiffany atau Miyoung. Aku harus memanggilmu yang mana Youngmi Unnie?” suaranya terdengar normal tapi aku tahu tidak dengan tatapan tajamnya yang bisa membunuhku dalam sekejap.

“Soojung..”

.

.

“Jadi.. kau dijodohkan dengan Oppa?” Aku menganggukan kepalaku pelan. Soojung duduk didepanku masih dengan tatapannya yang mengintimidasi.

“Mengapa kau menyembunyikan hal ini dari Oppa? Tuhan.. bahkan aku tak percaya orangtuaku dan ayahmu setuju dengan hal ini.” Aku sedikit menundukan kepalaku bagai anak kecil yang ketahuan mengambil mangga kebun sebelah.

“Kau bukan hanya membohongi Oppa, tapi aku, Jiwoong Oppa dan Sooyeon Unnie.” wajah Soojung terlihat kesal sekali padaku.

Aku tahu aku salah.  Tapi aku juga memiliki alasan yang jelas mengapa aku melakukan penyamaran ini.

Haruskah aku menjelaskan alasanku padanya sekarang?

Orang-orang hanya ingin mendengar apa yang  ingin mereka dengar.

Manusia hanya akan berpikir apa yang ingin mereka pikirkan.

Bahkan bila kita menjelaskan hingga mulut berbusa pun jika menurut mereka penjelasan kita tidak sesuai dengan yang mereka inginkan, mereka akan tetap menilaimu salah dan membencimu.

Manusia sekarang begitu menyeramkan.

Mereka merasa menjadi Tuhan dan sempurna, tak pernah berbuat salah sekecil apapun.

Jika sudah menyukai sesuatu, mereka akan membela hingga titik darah penghabisan, tak perduli yang dibela itu benar atau salah.

Mereka hanya gemar menebar budaya kebencian, bukan memaafkan dan menerima kesalahan seseorang.

Sesempit dan sebodoh itulah pikiran manusia bertitel ‘modern’ saat ini.

“Soojung-ah.. maafkan aku.” ucapku sekali lagi menundukan kepalaku.

“Tolong jelaskan kenapa kau berbuat ini Unnie.” dibalik tampangnya yang mengintimidasi, aku tahu Soojung memilki hati yang lembut.

Unnie.. ayo ceritakanlah.” ucapnya lembut membuatku mulai berani menatapnya.

Kujelaskan dari awal tujuanku melakukan penyamaran ini hingga akhirnya aku setuju menerima perjodohan yang akhirnya membuatku benar-benar jatuh hati pada Taeyeon.

Soojung mendengarkan semuanya dalam diam tanpa menyela membuatku sedikit tenang dan mendapat keberanian untuk menceritakan semuanya lebih jelas.

“Dengan menerima perjodohanmu, berarti hubungan kalian akan semakin serius. Aku yakin dalam beberapa bulan kedepan Eomma akan mengumumkan tanggal pernikahanmu. Kapan kau akan memberitahu Oppa tentang dirimu yang sebenarnya?” Soojung memang masih terlihat kesal tapi setidaknya aura mengintimidasinya telah berkurang sehingga aku bisa lebih nyaman berbicara dengannya.

“Secepatnya. Aku sedang mencari waktu yang pas. Aku tidak mau gegabah dan merusak semuanya Soojung-ah.”

Tanpa diketahui oleh Soojung seperti ini pun, aku memang berencana memberitahu identitasku yang sebenarnya pada Taeyeon sebelum tanggal pernikahan kami diumumkan ke publik.

Bila Taeyeon harus mengetahui kebenaran, itu harus aku yang memberi tahunya, bukan orang lain. Masalah ini sudah kukonsultasikan dengan orangtua Taeyeon dan Appa. Mereka setuju dengan permintaanku. Aku sungguh bersyukur karena mereka mau menerima beberapa permintaanku setelah masalah perjodohan ini timbul.

“Syukurlah Unnie. Aku sedikit tenang mendengarnya. Kau tahu, Oppa terlihat begitu mencintaimu. Aku minta maaf bila tadi aku menyakitimu dengan perkataanku tapi aku hanya tak ingin Oppa terluka lagi.”

“Lagi?” pancingku. Aku tahu siapa wanita yang sedang Soojung bicarakan.

“Aku rasa sudah waktunya menceritakan ini padamu. Kuharap ini tak mengubah apapun yang kau rasakan pada Oppa.” Aku mengangguk, memberinya sinyal untuk melanjutkan ceritanya.

“Dulu Oppa sempat berpacaran dengan Sunmi Unnie. Hubungan mereka bertahan cukup lama meskipun orang-orang tak mengetahuinya. Dikeluargaku hanya aku yang mengetahui hal ini itupun karena aku yang mendesak Oppa untuk menceritakannya.”

Aku mengerti mengapa Taeyeon bisa sampai menceritakannya padamu bila kuingat bagaimana terintimidasinya aku tadi saat kau menyerangku dengan berbagai pertanyaan yang tak bisa kuhindari.

Kau cocok menjadi seorang jaksa Soojung-ah.

“Beberapa bulan sebelum Unnie datang, Sunmi Unnie meminta Taeyeon Oppa untuk melepaskannya. Tentu awalnya Oppa menolak tapi setelah Sunmi Unnie mengatakan bahwa dia  mencintai pria lain, sudah tak bisa lagi bersama Oppa, akhirnya Taeyeon Oppa melepaskannya.”

Heumh.. apa mereka berpisah karena perjodohan ini?

“Yang paling mengejutkan adalah saat Jiwoong Oppa mengenalkan pada kami calon istrinya beberapa minggu kemudian dan kau tahu sendiri itu siapa.” Ada kesedihan dan kekesalan dari ucapan Soojung tadi. Aku mengerti kenapa. Gadis dihadapanku ini memang begitu menyayangi Taeyeon. Bahkan orang lain yang melihat mereka sekilas akan mengira dua Kim itu sebagai sepasang kekasih. Kedekatan mereka berada di level yang cukup ekstrem bagiku. Jika aku tak ingat Soojung sudah mempunyai Kai, mungkin aku cemburu dan sudah mencurigai kedekatannya dengan Taeyeon.

“Sampai hari ini aku masih khawatir dengan Taeyeon Oppa. Tapi karena ada dirimu kekhawatiran itu sedikit berkurang. Setidaknya Oppa bisa belajar mencintaimu. Kau tidak apa-apa kan Unnie?”

“Euhm.. jujur aku terkejut tapi it’s okay, itu adalah bagian masa lalu Taeyeon yang harus aku terima.”  senyuman penuh terimakasih itu Soojung berikan padaku.

Unnie.. tolong jaga hati Oppa ya.” dengan senang hati Soojung-ah. Dengan senang hati

==== Marry You====

“Tidak!” jawabku untuk kesekian kalinya. Pria dihadapanku menatapku tak percaya.

Kau memberikanku tatapan seperti itu? Harusnya aku yang menatapmu tak percaya dengan yang kau ajukan padaku.

“Julian? ada apa ia menelponku?” layar telponku menunjukan 21 panggilan tak terjawab dari nomor yang kuingat milik Yuri.

Apa lebih baik aku menelpon balik?

“Hallo…” belum sempat kutelpon nomor itu sudah menghubungiku lagi.

“Tiffany.. ini aku. Bisakah kita bertemu?”

.

.

“Ada apa?” entah kenapa aku tak bisa membenci Yuri meskipun sikapnya sewaktu di pacuan kuda begitu kubenci.

“Apa kabarmu?”

“Jul.. No.. Yuri.. kau serius memintaku datang kesini untuk menanyakan kabarku?” tawaku kering melihatnya.

“Aku meminta maaf.”

Tentu kau harus melakukan itu.

Apa yang kau lakukan kemarin.. itu jahat.

“Maafkan aku. Aku tak seharusnya berbuat seperti itu padamu. Maafkan aku Fany-ah.” mendengarnya seperti ini, aku bagai melihat Julian yang dulu, pria yang dulu begitu mencintaiku.

“It’s okay Yuri-ah.. aku memaafkanmu.” Lesung pipinya itu muncul bersama dengan senyum manisnya yang dulu menjadi favoritku.

“Fany-ah… ayolah..”

Kwon Yuri.. apa kau serius?

“Yuri.. kau sudah bersama Sooyeon. Bukankah dia yang telah mematikan monster yang kubuat?”

“Fany.. aku dulu tak tahu bahwa Eomma yang memintamu berpisah dariku. Aku telah membencimu dengan alasan yang salah. Aku menyayangi Sooyeon tapi itu bukan cinta yang masih kurasakan hingga hari ini padamu.”

“Benci itu hadir karena aku begitu mencintaimu dan kau dulu memberikan alasan yang sempurna untuk membuat kebencian itu ada.”

“Jadi sekarang kau menyalahkanku?” ucapku terlihat kesal tapi sebenarnya aku ingin menangis mendengarnya seperti tadi.

“Tidak. Aku tidak menyalahkanmu. Maafkan aku.” Aku diam tak merespon ucapannya, berpikir bagaimana aku harus menjelaskan kondisiku saat ini. Dia harus mengerti bahwa kami tak mungkin bersatu.

Aku tidak mau banyak orang yang terluka nanti karena sebuah keegoisan berkedok cinta.

Aku tahu bahwa cinta tak harus memiliki itu adalah sebuah dusta.

Tapi apa karena cinta kita harus menyakiti banyak orang?

“Yuri-ah.. kumohon  lupakan apapun yang pernah terjadi di masa lalu.” Kedua tangannya mulai kugenggam.

“Fany..” mata kami saling menatap. Aku tidak boleh goyah dengan tatapan matanya yang terlihat begitu terluka karena ucapanku.

“Jika kau bertanya apa aku masih mencintaimu? Mustahil bila kujawab tidak.” wajah awet mudanya itu aku elus.

“4 tahun bersamamu adalah kenangan terindah yang aku syukuri hingga hari ini. Aku benar-benar merasakan indahnya cinta dan kasih sayang yang tak bisa kubandingkan dengan pria manapun.” detik ini aku menangis dalam diamku begitupun dengan dirinya.

“Tapi itu semua hanya kenangan. Aku sudah mempunyai masa depanku. Dan kau juga mempunyai Sooyeon yang begitu mencintaimu.”

“Apa kau mencintainya?” tangis itu kini diiringi dengan senyuman saat aku mengingat momen-momenku bersama Taeyeon.

“Ya.. aku mencintainya.” dengan bangga dan percaya diri kuucapkan hal itu.

“Aku mencintainya Yuri-ah. Aku mencintai calon suamiku, Kim Taeyeon.” meskipun ini menyakitkan baginya, Yuri harus tahu bahwa kini semuanya tak lagi sama.

.

.

“Sayang.. kau terlihat aneh sekali hari ini.” Beberapa hari setelah pertemuan dengan Yuri, aku memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Taeyeon.

“Benarkah?” jawabku gugup.

“Kau seperti ingin memberitahuku sesuatu tapi ragu. Ada apa? ceritalah..” kami sekarang sedang berada di teras rumahnya di Hannam-dong, menikmati kudapan ringan setelah seharian bekerja dengan masalah perkantoran yang tak ada hentinya.

“Aku berharap setelah mendengar ini, kau masih mencintaiku.” rasanya aku seperti sedang menghadapi sidang pembunuhan dengan aku sebagai tersangkanya.

“Euhm.. ceritakanlah.” raut wajahnya kini terlihat serius, sama sepertiku.

“Selama ini ada hal yang kututupi darimu dan itu adalah identitasku.” Taeyeon diam menatapku serius.

“Namaku bukanlah Hwang Youngmi. Aku adalah putri Hwang Jung Min, Hwang Miyoung atau orang lebih sering memanggilku Tiffany Hwang.” Raut wajahnya yang selama ini selalu mendamaikan hatiku seketika berubah menjadi seperti neraka yang siap membakar aku dengan api didalamnya.

“Jadi.. selama ini kau berbohong padaku Tiffany-shi?” mendengar Taeyeon berkata seperti itu membuatku takut. Mata coklat madunya tak lagi bersinar menampilkan cinta dan kepolosan yang kusuka.

“Aku memang menyembunyikan identitasku yang sebenarnya tapi apa yang aku rasakan padamu sampai saat ini, itu adalah kenyataan, bukan sebuah kebohongan.” dalam posisi seperti ini aku tidak boleh lemah.

Kesalahan itu memang milikku tapi aku juga berhak memberikan pembelaan.

Jika bukan diriku sendiri, siapa lagi yang akan membelaku.

Jika aku percaya pada diriku bahwa aku benar maka orang takkan bisa menyangkalnya.

Aku berharap semoga itu berlaku pada Taeyeon.

“Apa tujuanmu melakukan ini? Kau tahu.. kau telah menipu banyak orang!” ada amarah dari ucapannya yang cukup membentakku. Aku terdiam, terkejut melihat Taeyeon seperti itu.

“Kita dijodohkan Tae. Aku ingin mengenalmu lebih jauh tanpa kau tahu bahwa aku adalah calon istrimu. Aku tak mau kita berdua terpaksa menjalani pernikahan ini. Aku ingin semuanya terbangun dengan cinta.” jelasku pada Taeyeon yang terlihat mencerna kata-kataku.

“Aku mengerti maksudmu tapi kau melupakan satu elemen penting dalam sebuah hubungan.”

“Taeyeon-ah..”

“Kejujuran dan kepercayaan. Kau melupakan itu Tiffany. Dan aku tak tahu apa aku bisa mempercayaimu dengan semua kebohonganmu.” meskipun tak bersuara, hatiku menangis. Air mataku perlahan mengalir dari sumbernya.

“Tiffany.. apa kau benar-benar mencintaiku?” lama kami terdiam sebelum akhirnya ia berbicara.

“Aku mencintaimu Taetae, sangat mencintaimu. Aku tak menyangka aku bisa seperti ini padamu setelah berpisah bersama Julian.”

“Julian?” kurasa ini waktunya menceritakan semuanya.

Dengan Taeyeon mengetahui identitas asliku, aku harus memberitahu siapa Julian sebenarnya. Aku tak ingin Taeyeon mengetahuinya dari orang lain.

“Julian adalah nama luar negerinya. Nama koreanya adalah Kwon Yuri.”

“Kekasih Sooyeon?” aku menganggukan kepalaku dalam tangisku.

“Kuharap kau tidak salah paham. Sudah 2 tahun aku berpisah dengan Yuri. Pertemuan pertama kami  adalah saat di pacuan kuda. Setelah itu kami tak pernah melakukan komunikasi lagi. Bisa dibilang perpisahan kami kurang baik. Aku benar-benar menyakitinya untuk membuatnya mau berpisah dariku. Ibunya memohon padaku untuk melepaskan Yuri karena dia juga sebenarnya sudah dijodohkan dengan seseorang dan aku tak tahu bahwa wanita itu adalah Sooyeon.” ucapku sejelas mungkin karena tangisku tak mau berhenti sesuai perintah otakku.

“Wow.. ini sungguh membingungkan dan mencengangkan. Aku tak menyangka kita semua terhubung seperti ini.” Taeyeon memberikan tanggapannya, tersenyum kecut dan heran dengan penjelasanku tadi.

“Jujurlah padaku, Tiffany.. apa kau masih mencintai Yuri?”

Mengapa aku selalu mendapat pertanyaan seperti ini dengan objek yang berbeda?

“Dia hanya kenangan dan masa laluku Taeyeon-ah. Aku mencintai masa depanku dan itu kau.” entah kenapa tangisku mulai pecah mengeluarkan suara lebih keras. Rasanya aku ingin membunuh siapapun yang menciptakan cerita ini dan menjadikan perjodohan sebagai biang masalahnya sehingga aku harus seperti ini.

“Shusst.. okay jangan menangis.” Taeyeon membawa aku dalam pelukannya. kusenderkan kepalaku di dada bidangnya, membekap tangisku padanya.

“Tiffany-shi..” ucapnya sambil mengelus punggungku.

 “Taetae jangan aku panggil itu..” isakku memprotesnya.

Aku merasa jadi orang asing bila dia memanggilku seperti tadi.

“Okay. Mi.. aku mungkin masih belum bisa meredam emosiku mendengar semua pengakuanmu hari ini. Aku ucapkan terimakasih karena kau mau jujur dan mengambil resiko dengan menceritakan semua ini padaku.” perlahan aku mulai tenang berada di pelukannya.

Pelukan Taeyeon adalah vitaminku.

Kenyamanan, kehangatan dan rasa tenang bisa aku dapatkan dari pelukannya.

“Aku mencintaimu Mi.. sangat mencintaimu. Tapi… adalah sebuah kebohongan jika aku berkata aku baik-baik saja dengan semua ini. Maka dari itu… aku…”

Oh tidak.. Tuhan.. kumohon jangan biarkan ini berjalan seperti yang kutakutkan.

==== Marry You====

“Tuhan.. apa yang kulakukan disini?” Aku melihat sekelilingku dan hati ini ingin menangis rasanya.

“See you next week Jess” aku melambaikan tanganku dan mulai berjalan menuju mobilku. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 1 malam. 

Jessi, Sook, Jinkyung dan Hyorin Unnie adalah teman baikku selama di Korea. Kami memiliki hobi yang sama, yaitu berburu kuliner, buku dan musik yang bagus. Kehadiran mereka cukup membantuku melupakan semua pikiran negatifku.

Hari ini tepat 3 bulan aku dan Taeyeon tak bertemu. Jangankan bertemu, bahkan bertukar pesanpun tidak. Aku sudah memberikan surat pengundurkan diriku pada Paman Sungjeon sehari setelah aku mengungkapkan identitasku pada Taeyeon. Bosku itu tak memberikan konfirmasi apapun dengan surat pengunduran diriku.

Bagamana aku masih bisa menjadi asisten pribadinya jika aku tahu kami takkan berkomunikasi seperti dulu.

Sepertinya Taeyeon serius dengan apa yang dia ucapkan saat kami terakhir bertemu.

Taeyeon memang tak bilang bahwa ia ingin berpisah dariku. Waktu itu ia hanya meminta waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan semuanya lagi. Aku mengerti posisi Taeyeon maka dari itu kami melakukan ini.

Bila harus jujur, aku sedih dan tersiksa dengan kondisi ini. Hubungan ini terasa gantung. Taeyeon belum memberikanku kejelasan apa dia masih mau melanjutkan hubungan ini atau tidak. Baru kali ini aku benar-benar dibuat patah hati oleh seorang pria. Biasanya sebaliknya.

Tuhan… apa ini yang namanya karma?

“Bannya kempes, mengapa disaat seperti ini?” aku mencoba menghubungi Paman Cha saat seseorang memanggilku dengan suara khasnya.

“Yuri?” Dia setengah berlari menghampiriku dalam balutan jaket hitam dan jeans biru tua  ketatnya. Wajahnya tertutup masker tapi aku masih mengenali mata hitam onixnya yang familiar.

“Hai.. apa yang kau lakukan disini?” ucapnya membuka masker. Aku menunjuk dua ban belakang mobilku yang bernasib tragis.

“Kenapa kau ada disini?” tanyaku melihatnya berdandan ala remaja barat meskipun umurnya sudah tak memenuhi kriteria. Menyadari aku mengamati dandanannya, Yuri tertawa.

“Aku sedang mengingat lagi masa mudaku Tiffany-shi jika itu yang ingin kau tanyakan.” untuk sesaat aku ikut tertawa dengannya.

Bagaimana hubunganku dengan Yuri saat ini?

Heumh.. bisa kubilang hubungan kami semakin membaik.

Dia tak lagi memberikanku tatapan membunuhnya yang terlihat begitu membenciku.

Kami sudah mulai berkomunikasi layaknya seorang teman saat ia mau menerima bahwa aku mencintai Taeyeon dan aku tak bisa lagi bersamanya.

“Aku akan mengantarmu pulang. Tinggalkan mobilmu disini, nanti akan ada montir yang mengambilnya.” 

“Euhm tunggu, aku ingin menelpon pamanku dulu.” Yuri mempersilakan.

Beberapa kali kuhubungi Paman Cha dan Appa tapi kedua orang tua itu tak menjawabnya.

Apa mereka sudah tidur?

“Bagaimana? bisa dihubungi?” kugelengkan kepalaku. 

“Berarti kau memang harus pulang bersamaku Fany-ah..” ucapnya membukakan pintu mobil untukku.

“Tentu.. kau harus mengantarkanku ke rumah dengan selamat.” Yuri tersenyum masuk ke mobil dan mulai menghidupkan mesinnya.

“Aku akan mengantarkanmu dengan selamat.. menuju surga.” aku menatapnya heran sementara Yuri kembali memberikanku senyum jahat dan seksinya yang terlihat gagal sekali bagiku.

“Kau sudah bangun?” suara itu.. aku ingin sekali membunuhnya.

“Aku ada dimana?” jika aku bisa melepas penutup mata ini, sudah kurobek tawa tak menyenangkannya itu.

“Surga.” balasnya singkat.

“Yuri!”

“Tiffany.. mengapa kau tak diam saja dan menikmati apa yang akan diberikan padamu.”

“Dan aku harus berada disini bersama pria gila sepertimu?” tangannya menyentuh bibirku. Aku berusaha menghindar tapi tangannya yang lain mencengkram rahangku.

“Percayalah.. nanti kau akan berterimakasih pada pria gila ini.” pipi kananku ia kecup sebelum aku berteriak memakinya dengan sekuat tenagaku.

.

.

“Yuri-ah….” panggilku masih duduk di kursi mobilnya.

“Apa Tiffany?” dia sepertinya sudah bosan mendengarku memanggilnya berulang kali.

“Kau.. akan membawaku kemana?” meskipun tak melihat jam, tapi jika kuhitung kami sudah berada di mobil ini selama hampir 1 jam.

“Mengantar pesananku.” jawabnya singkat.

“Yuri-ah.. kumohon lepaskan aku..” aku mencoba membujuknya untuk kesekian kalinya.

“Fany… tidak bisa! Aku tidak mungkin melepaskanmu dari kebahagianmu.” kali ini ada kelembutan dari nada bicaranya.

“Kenapa harus begini caranya Yuri-ah?” ucapku lemas.

“Tunggulah.. kau akan segera tahu. Ah.. sebentar lagi kita sampai.”

.

.

“Jangan berani kabur atau kau akan tahu akibatnya.” Yuri berbisik padaku.

“Aku serahkan dia padamu Noona. Kau harus membuatnya tampil begitu cantik nanti.” Aku terdiam melihat Yuri berbicara dengan 3 orang wanita yang akan menjadi penata rambut, dandanan dan busanaku.

Tuhan.. apa yang sebenarnya kau siapkan untukku?

Mengapa hidupku harus berakhir seperti telenovela yang menyedihkan?

.

.

“Diam dan duduk yang manis.” Yuri berjalan keluar ruangan gelap tempat aku duduk saat ini.

Kulihat sekeliling dan ruangan ini tak begitu menakutkan sebenarnya. Minimnya pencahayaan membuat suasana mencekam itu terasa. Dinding-dindingnya ditutupi kain hitam yang menambah kesan horor dan misterius di dalamnya.

Aku merasa seperti sedang syuting Paranormal Activity.

“Apa yang kulakukan disini?” tawaku miris. Aku melihat dress merah muda yang memelukku erat, menambah kecantikan dan keanggunan siapapun yang mengenakannya.

“Eh..” sebuah cahaya biru menyorot background putih yang baru kusadari sebagai layar proyektor.

“Apa ini?” gumamku melihat layar biru itu mulai berubah. Disana mulai diputar sebuah video yang membuatku berpikir saat melihatnya.

“Kasihan sekali gadis itu..” ucapku melihat pemeran utama dari film pendek itu harus berpisah dengan kekasihnya karena mereka dijodohkan dengan dua orang yang berbeda.

Film ini lebih seperti animasi yang digarap oleh pembuatnya secara langsung. Maksudnya saat satu adegan muncul, si kreator menampilkan proses awal hingga akhirnya karakter animasi itu terbentuk. Tentu saja sang editor video mempercepat proses pembuatan cerita di videonya. Setelah kupikir-pikir jalan ceritanya mirip denganku.

Lucu bukan?

‘WILL YOU MARRY ME?’

Tulisan itu menjadi penutup film yang kini telah berakhir.

“Apa-apaan ini?” tawaku melihat tulisan di layar yang mengakhiri film itu.

“Kau siapa?” tawaku terhenti saat layar proyektor itu diangkat. Dari kejauhan aku bisa melihat seorang pria cukup tinggi dengan tux hitam yang memuji tubuhnya. Wajahnya tak bisa kulihat jelas karena topeng abu mengkilatnya menutup hampir seluruh bagian wajahnya.

“Kau tidak akan menjawab pertanyaan yang tadi?”

Tunggu… suaranya terdengar familiar.

“Bagaimana? Iya atau tidak?” Topeng itu ia lepas dan aku hanya diam membisu melihat wajahnya.

.

.

“Hahaha.. kau harus melihat wajahmu tadi!” Yuri begitu puas menertawaiku sejak tadi.

“Ouch Fany!” teriaknya kesakitan mendapatkan pukulan di perutnya.

“Bagaimana? Iya atau tidak?” Topeng itu ia lepas dan aku hanya diam membisu melihat wajahnya.

“Taeyeon..” hanya kata itu yang bisa terucap.

“Tiffany Hwang.. maukah kau menikah denganku?”

“Sebelum menjawabnya.. bolehkah aku melakukan sesuatu?” Taeyeon masih tersenyum tampan dan berkarisma, tak tahu apa yang kusiapkan untuknya. Kau pikir kau saja yang bisa memberikanku kejutan sefantastis ini?

“Kau tidak boleh menertawakan Tiffany Unnie terus Oppa.” Soojung tertawa melihat Taeyeon meringis kesakitan pada kekasihnya.

“Lihatlah tatto indah yang tergambar di wajah tampan Oppa-ku ini” Sooyeon terkekeh melihat bekas telapak tangan  di pipi Taeyeon yang terlihat merah muda penuh warna, tanda cinta dari dariku yang berterimakasih atas kejutan dan lamaran yang disiapkannya.

“Kau pantas mendapatkannya!” ucapku memukul lagi lengan pria yang masih memelukku dari samping. Ia mengecup puncak kepalaku, membuat raut merah merona malu muncul di wajahku.

Aku, Taeyeon,  Sooyeon, Yuri,  dan Soojung kini sedang menikmati makan malam setelah event yang menegangkan tadi. Siapa yang menyangka bahwa Taeyeon akan menjadi aktor yang baik dalam sebuah film penculikan?

“Taeyeon.. calon istrimu kasar sekali.” komentar Yuri yang membuatku mendelik padanya.

“Tidak apa-apa. Itu bagus. Aku jadi semakin bersemangat menyiapkan pernikahan kami!” sahut Taeyeon terlihat bersemangat membayangkan sesuatu di kepalanya.

“Hahaha… aku mengerti. Well kau harus rajin melatih fisikmu kalau begitu. Supaya kau bisa mengalahknnya.” Yuri terkekeh menepuk bahu calon suamiku yang mengangguk senang menerima sarannya.

Taeyeon dan Yuri terlihat asik berbicara berdua sementara aku, Soojung dan Sooyeon mulai menyantap makanan kami yang mulai dingin.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” tanyaku tak mengerti omongan 2 pria aneh berwujud malaikat ini.

“Oh Unnie.. lebih baik kau tak mengetahuinya.” Sooyeon tersenyum padaku sementara Soojung, gadis itu tertawa kecil dengan aura misteriusnya.

.

.

Oppa..” setelah kami menikah aku mulai memanggilnya sesuai keinginannya.

Awalnya aku tak mau karena aku lebih nyaman memanggilnya Taeyeon. Tapi mata coklat madunya yang memelas padaku, membuatku tak bisa menolaknya.

“Yes Love?” aksen Inggrisnya membuat panggilan itu terasa begitu seksi. Kami sedang berada di salah satu hotel di Jeju, menikmati bulan madu kedua kami. Tak terasa 2 tahun sudah berlalu sejak aku menikah dengan pria yang tak kusangka bisa membuatku sebahagia sekarang.

“Aku pikir aku sudah menemukan ‘Happy Ending’ku..” Kutarik kerah kemejanya, bibir kami bertemu dalam ciuman manis yang membuatnya menarik pinggangku lebih dekat sementara aku mengalunkan tanganku di lehernya.

“No.. Love.. kau belum menemukan ‘Happy Ending’mu..” ciuman itu Taeyeon lepas. Ia mengelus bibirku dengan ibu jarinya, lembut.

“Why?” sahutku membuatnya mengecup hidungku.

“Happy endingmu.. adalah saat aku, kau dan keluarga kecil kita hidup bahagia hingga akhir usia. Happy Ending itu saat kita selalu bersyukur bahwa Tuhan bisa menyatukan kita hingga hari ini.” Senyumku tak bisa hilang saat ia membisikan kata-kata manisnya ke telingaku.

“Kau yakin keluarga kita akan kecil?” tantangku memandang wajah tampan bodohnya itu yang selalu membuatku jatuh lagi dan lagi.

“Maksudmu?”

“5” dia tampak bingung mendengar jawabanku. Aku membawa kedua tangannya mengelus perutku yang sudah tak rata dan seksi lagi.

“Kita akan memiliki 5 anak sekaligus?” Senyum bulan sabitku kini kuberikan pada suamiku yang tertawa bahagia memeluk perutku.

“Mi.. Terimakasih. Aku mencintaimu dan 5 jagoan kita.” Aku menganggukan kepalaku, mengelus puncak kepala Taeyeon yang masih memeluk perut buncitku dan mengecupnya berkali-kali.

Perjodohan…

Siapa sangka lewat cara kolot dan kuno itu aku bisa menemukan belahan jiwaku?

Hidup adalah sebuah misteri dan aku.. tak sabar untuk menunggu petualangan baru selanjutnya yang akan membawaku menuju Happy Ending lainnya.

.

.

.

.

FIN X FINE

.

.

.

.

Author Note:

Penasaran?

Just..

c0ccnz1ukaei1ni

c2wujbuvqaal8wn

Iklan

16 pemikiran pada “Marry You 1.2 (Final)

  1. Yeahh… Happy ending sperti yg saya blng d email kata dan pesan autor trsampaikan lwt ff ini tentang manusia dan keperawanan i like it!!! Smangat bwt nulis ff ya thor
    ps:gomawopwnyathor

  2. Owwwwwww 😍😍😍😍 ini sweet banget,dibalik perjodohan mereka menemukan belahan jiwa mereka,dan gk selamanya perjodohan itu berakhir dengan tragis,pasti bakalan ada yg happy ending seperi taeny.

    Sip aku gk bisa bayangin kalau mereka beneran seperti ini.

  3. Bru bisa coment dek….
    Taeny kurang mendramatisir pas Fany jujur ma identitas nya,,,,maaf feel-nya kurang dpt
    Tapi ff MU bagus bgt!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s