EX  PART Three

chic-clothes-cool-f-x-favim-com-3613071

Written by: Coffee22MJ

Hiduplah bersama apa yang kamu inginkan

Bukan bersama yang kamu paksakan

 “Kau mau kemana Yoong?” tanya Taeyeon yang baru saja datang

“Bukan urusanmu” ucap Yoong sambil terus berjalan meninggalkan rumahnya

“YOONG!!!” teriak Taeyeon

Namun sayang orang yang di panggilnya pergi berlalu begitu saja

“Aku kehilangan jejak mobil Yul” ucap Taeyeon

“Kau pasti lelah Tae.. kajja kita kekamarmu” ucap Tiffany sambil mencuri tatapan kepada jejak Yoong yang pergi kearah pintu keluar

“Ya kau tau ini membuatku sangat lelah Fany-ah” ucap Taeyeon

Keduanya berjalan menuju Kamar Taeyeon

“Tae.. seepertinya aku akan pulang ke apartemen malam ini juga”

“Ada apa denganmu Fany-ah?” tanya Taeyeon

“Aku hanya merindukan apartemenku..  lagipula aku tidak bisa disini karena suasananya sedang tidak baik Tae, kau butuh istirahat dan Appa membutuhkanmu” ucap Tiffany

“No sayang.. kau harus disini bersamaku  dan  Kau tidak akan pulang ke apartemenmu karena aku ingin kau tinggal bersamaku” ucap Taeyeon

“Whats?”

“Ya kau dan aku akan tinggal bersama disini, Ayahmu menitipkanmu kepadaku jadi aku harus menjagamu dengan baik dan tidak ada penolakan karena aku tidak menyukai itu” ucap Taeyeon

“Aku datang kesini karena aku merindukan Seoul dan tentu tempat tinggalku Tae!” ucap Tiffany kenal

“Ya aku tau tapi kau harus tinggal bersamaku, sudahlah aku lelah Fany-ah” ucap Taeyeon meninggalkan Tiffany

“Kau mengatakan kepadaku kau akan mengantarkan aku besok ke apartemenku Taeyeon-ah” ucap Tiffany

“Jangan bahas ini lagi Fany-ah. Aku tidak ingin berterngkar denganmu malam ini” ucap Taeyeon

“Kau selalu seperti ini Taeyeon-ah” panggil Tiffany namun Taeyeon menghiraukannya dan terus berjaln menuju kamar mandinya

Tiffany menghempaskan dirinya keatas kasur, ia menghembuskan nafas kasar dan mulai memejamkan matanya. Ia sangat kesal ketika sifat asli Taeyeon keluar seperti ini, Taeyeon akan bersikap sangat manis terhadapnya namun akan bersikap seperti tadi ketika ia menginginkan atau menentukan suatu keputusan. Itulah bedanya Taeyeon dengan Yoong

Flashback

“Akhirnya aku bisa kabur dari latihanku hari ini hahaha aigooo aku merindukanmu Tiffany Hwang” ucap Yoong

“Happybirthday baby dan happy anniversary yang ke 3 sayang.. satu tahun semenjak kau debut kau sulit sekali untuk aku temui dan aku hubungi. Namun hari ini adalah hari dimana usiamu bertambah dan kau menyempatkan dirimu datang ke apartemenku hahaha” ucap Tiffany sambil memberikan sepotong cake

“Terimakasih sayang.. aku beruntung memiliki dirimu. Kini di usiaku yang ke 21 tahun aku sangat terimakasih karena kau sudah menemaniku selama 3 tahun ini. Dan sudah satu tahun debutku, aku harap kau selalu sabar dan mengerti posisiku saat ini dalam masa promosi yang gila-gilaan” ucap pria tersebut mulai mengecup kening wanita di hadapannya

“Aku mencintai dirimu Kwon Yoonan kau adalah warna terindah dalam hidupku” ucap Tiffany

“Aw kalimat manis dari mana itu baby?” ucap Yoong sambil memeluk Tiffany

“Hahaha” Tiffany hanya tertawa geli karena Yoong medekatkan hidungnya dengan hidung Tiffany dan mengecup Bibir manisnya

“Bagaimana jika kita berjalan-jalan malam ini?” tanya Yoong

“Hmm kemana? No! Kau harus bersama ku semalaman ini di apartemenku!” ucap Tiffany

“Apa kau tidak bosan? Aku sudah berjanji akan membawamu pergi keluar bukan? Kajja!!!” ucap Yoong

“Tidak apa. Kita disini saja untuk malam ini” ucap Tiffany

“Aaaa Ayolah baby” ucap Yoong

“Tidak!” tolak Tiffany

“Hmmm baiklah aku akan menuruti apapun yang tuan putri inginkan” goda Yoong

.

.

.

“Aku ingin yang ini” ucap Tiffany

“Aku tidak menyukainya baby kita harus membeli barang aku dan kau menyukainya ish” ucap Yoong

“Ini lucu Yoong kau harus menggunakannya” ucap Tiffany

“Tidak Tiffanyku sayang ini tidak lucu.. kau bayangkan aku memakai serba Pink.. apa kata fansku nanti” ucap Yoong

“Jangan hiraukan mereka, aku menyukai kau memakai Pink Yoong. Yippyy Pinky Boy!!” ucap Tiffany

“Lihat-lihat ada yang birunya baby.. aku yang ini saja. Bagaimana ?” tanya Yoong sambil menunjuk gambar di laptop Tiffany

Keduanya sedang memilih couple jacket winter edition di toko yang akan mereka gunakan berdua

“Noo! Aku ingin kau memakai Pink!” ucap Tiffany

“Hmm baiklah apapun demi dirimu!” ucap Yoong sambil mengecup Pipi Tiffany

Ketika jacket itu sampai Tiffany langsung memberitahu Yoong. Tengah malam buta Yoong selesai latihan dan jadwalnya ia menyempatkan untuk datang mengambil jacket tersebut di apartemen Tiffany tanpa sepengetahuan penghuni apartemennya yang sedang terlelap tidur dengan membawakan sebuket bunga mawar pink dan coklat yang ia simpan disamping tempat tidur wanitanya. Keesokan paginya Tiffany bangun dari tidurnya dan mendapati coklat dan bunga disamping tempat tidurnya membuat senyum itu terpancar dari bibir manisnya, ia segera bergegas membersihkan diri dan duduk di ruang tv. Saat ini ada acara music Yoong bersama Grup nya maka tidak heran jika Tiffany sudah duduk diruang tv, Tiffany sangat shock karena prianya memakai jacket yang ia pilihkan, padahal dengan sangat jelas Yoong tidak menyukainya. Membuat Tiffany tersenyum lebar

“Tidak akan pernah ada yang bisa membuat hariku berwarna seperti ini. kau benar-benar warna terindah dalam hidupku. Kau selalu mengalah demi apa yang aku inginkan, sikapmu selalu manis dan tidak bisa aku tebak. Aku beruntung mendapatkanmu” ucap Tiffany sambil terus memandang kekasihnya yang tampil bersama grupnya

.

.

.

“Bisakah kau melepas Topimu saat makan bersamaku? Aku sangat tergangu dengan pemandangan di hadapanku” Ucap wanita tersebut

“Baby aku tidak bisa.. aku takut media atau fans mengenaliku. Aku tidak bisa melakukan hal yang sembarangan.. ini sudah perjanjianku bersama agensiku. Maafkan aku sayang” ucap pria tersebut

“Baiklah” ucap Tiffany pasrah

“Hmm kajja kita pindak keruang VVIP” ucap Yoong

Tiffany hanya diam dan mengikuti keinginan Yoong, mereka berdua pindah ke tempat VVIP yang tidak ada pelanggan lain selain mereka berdua. Makanan yang mereka pesanpun datang

“Nah aku bisa melepaskan Topiku sekarang.. pandanganmu tidak akan tergangu lagi bukan? Hehe” ucap Yoong dengan senyum bodohnya

.

.

.

“Jangan kembali ke dorm!” ucap Tiffany

“Aku harus kembali baby.. agensi akan marah padaku jika aku melakukan hal ini” ucap Yoong

“Aku tidak ingin kau pergi!” ucap Tiffany

“Tapi aku sungguh tidak bisa sayangku” ucap Yoong

“Hmm baiklah aku akan menginap disini menemanimu oke? sudah jangan murung seperti itu” ucap Yoong lalu memeluk Tiffany

“Aku tidur di sofa dan kau di kamar? Oke?” tanya Yoong

“Hmm tidur bersamaku lebih baik. Asal kau tidak melakukan hal macam-macam” ucap Tiffany

“NO! Bagaimana bisa aku tidak macam-macam jika ada dewi disampingku” goda Yoong dan berhasil membuat Tiffany tersipu

Flashback end

“Apa ini adalah karmaku? Melepaskan pria sebaik dirimu Yoong.. aku merindukan kita. Kenapa aku bisa terjebak dalam cinta ini, seharusnya aku lebih bersabar dengan dirimu Yoong. Aku merindukanmu.. sungguh aku merindukanmu.. Ini memang salahku” lirih Tiffany dalam hatinya sambil mata nya terpejam perlahan airmatanya mengalir dan mengengam cicin yang dibuat menjadi liontin

“Liontin dan cincin ini masih aku pakai sampai detik ini. Apa ini bukan jawaban untuk semuanya Yoong? Kenapa kau masih mempertanyakan apa aku masih mencintaimu atau tidak. Bodoh!” lirih Tiffany dalam hat

“Aku masih mencintaimu Kwon Yoonan” lirih Tiffany dalam hati dan air matanya semakin banyak mengalir

“Fany-ah bersihkan dirimu dan pergilah tidur, aku akan keruangan Appa” ucap Taeyeon setelah keluar dari kamar mandi

Tiffany membuka matanya perlahan dan mengusap air matanya lalu beranjak dari tempat tidurnya

“Kau selalu menangis setiap kali aku membuat keputusan.. Hmm maafkan aku kau tidak bisa pulang ke apartemenmu dan mulai besok kau akan di antar jemput oleh Supir pribadiku Tuan Kim” ucap Taeyeon

“Dan kau harusnya bersyukur karena aku mau bertahan dengamu sejauh ini” ucap Taeyeon lagi sambil menatap Tiffany

Tidak ada jawaban dari Tiffany ia langsung masuk kedalam kamar mandi. Taeyeon hanya menghela nafasnya dan pergi keluar kamar.

.

.

.

“Apa maumu Kwon Yuri?” tanya Jessica

“Kau” ucap Yuri

“..”

“Kenapa harus bersamanya?!” tanya Yuri sambil meninggikan suaranya

“Kau akan membuat kita celaka Kwon Yuri! Pelankan laju mobilmu!” teriak Jessica

“Lebih baik kita mati bersama dari pada aku harus melihatmu bersama dengannya!” ucap Yuri

“KAU YANG MELEPASKU!” teriak Jessica saambil memejamkan matanya

“Andai kau bersabar.. mungkin semua tidak seperti ini Sica” lirih Yuri sambil menepikan mobilnya

“Aku? Bersabar? Aku sudah bersabar demi dirimu! Demi kita, namun kau dengan mudahnya melepaskanku!” ucap Jessica yang kini menatap tajam ke arah Yuri

“Apa tidak bisa kita berhubungan dalam jarak jauh? Apa itu terlalu sulit untukmu? Apa tidak bisa kau menghubungiku ketika kau kuliah disana? Hah?!” ucap Jessica lagi

“Kau yang menyerah sebelum berjuang Yul! Kau yang melepaskanku tanpa ada pertahanan! Dan kini dengan mudahnya kau menyalahkan aku dan adikmu tentang hubungan kami?! Pikirkan baik-baik, siapa yang membuat aku bangkit dari keterpurukan dan mengobati goresan luka dihatiku ini!! Kau harusnya berterimakasih kepadanya bukan menghajarnya! Dan aku rasa kau sudah bahagia dengan calon tunanganmu bukan?” Timpal Jessica lagi

“Kau salah Sica aku hanya ingin yang terbaik untuk kita dan ketika aku kembali kau sudah menjadi artis besar yang sudah tidak mungkin aku dapatkan bukan?” tanya Yuri

“Bodoh!” ucap Jessica sambil mendesis kesal

“Sungguh aku tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu Kwon Yuri” ucap Jessica

“Sica.. aku mohon kembalilah kepadaku” mohon Yuri sambil memegang tangan Jessica

“..”

“Sica..” lirih Yuri

“Aku tidak bisa Yul.. kau memiliki kekasih dan akupun sama” ucap Jessica

“Kita bisa mengakhiri hubungan kita bersama mereka. Sica kau tau jika aku tidak bisa hidup tanpamu, aku benar-benar hancur ketika malam itu aku melihatmu bersamanya” ucap Yuri

“Semudah itu kau selalu mengucapkan kalimat mengakhiri hubungan dan asal kau tau rasa hancur yang kau rasakan itu adalah yang aku rasakan ketika kau meninggalkanku” ucap Jessica

“Apa kau tidak mencintaiku lagi Jessica Jung?” tanya Yuri sambil menatap harap kepada Jessica

Deg jantung Jessica terasa terhenti, kepalanya mendadak berputar. Dusta jika ia menyangkal kalo rasa cinta itu sudah tidak ada, Bohong besar rasa rindu hilang begitu saja. Karena sejujurnya ia sangat senang ketika ia bertemu kembali dan melihat lagi pria yang ia cintai dengan sepenuh hati dulu mungkin sampai saat ini. Namun apa yang Jessica pikirkan kini adalah kondisi Yoong yang mulai mengisi sebagian hatinya, mengisi kekosongan kepingan hancur yang dibuat oleh lelaki disampingnya saat ini

“Antarkan aku ke apartemen Yul.. kekasihku pasti mengkhawatirkanku” ucap Jessica

“Jawab pertanyaanku! Apa kau tidak mencintaiku lagi?” ucap Yuri

“……”

“Sica.. maafkan aku, Sungguh aku meminta maaf kepadamu. Biarkan aku yang menyelesaikan dan menyembuhkan kepingan hancur itu dihatimu. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku benar-benar mencintaimu Sica” ucap Yuri memohon

“Yul.. aku mohon jangan seperti ini” lirih Jessica

“Baiklah.. aku tau kau masih belum bisa jika saat ini. aku akan terus mencobanya sampai kau mau bersamaku lagi sampai kau menjadi milikku lagi, aku akan berbicara baik-baik dengan Yoong untuk mendapatkan hatimu kembali” ucap Yuri sambil mulai melanjukan mobilnya

“..” tidak ada jawaban dari Jessica

.

.

.

“Aarrrggghhh dimana kau Jessica Jung” ucap Yoong yang kini berada di ruangan apartemen Jessica

Yoong sudah menunggu hampir setengah jam di ruangan apartemen Jessica, namun masih belum nampak juga sosok yang ia tunggu. Yoong terus mencoba menghubungi nomer Jessica namun tidak ada jawaban, sama halnya dengan menghubungi nomer Yuri yang tidak direspon sama sekali. Pikirannya menerka kemana-mana tentang apa yang terjadi saat dirumahnya banyak kemungkinan dan kemungkinan paling terbesar adalah Yuri mantan kekasih Jessica.

“ARRRGGGHH AKU BISA GILA!!!” teriak Yoong sambil mengacak-ngacak rambutnya

.

.

.

“Appa.. maafkan aku kehilangan jejak Yuri” lirih Taeyeon sambil membungkukan tubuhnya dihadapan sang Ayah

“…”

“Aku sudah mengantarkan Shin Hye kerumahnya” ucap Taeyeon

“…”

“Appa.. tolong jangan pikirkan masalah ini. Biar aku saja yang menyelesaikannya dan aku yakin Yuri tadi hanya emosi saja” ucap Taeyeon

“Panggilkan Tuan Kim dan kau boleh keluar nak” ucap tuan Kwon

“Baik Appa” ucap Taeyeon

Taeyeon membungkukan tubuhnya kembali lalu meninggalkan ruangan tersebut untuk memanggilkan tuan Kim.

“Pak.. kau di panggil oleh Appa” ucap Taeyeon

“Baik Tuan” ucap kepala Kim

“Aaah mulai besok kau akan menjadi supir pribadi kekasihku dan aku ingin kau menjaganya jangan sampai ia bertemu dengan siapapun yang berlawanan jenis dan jika memang dia harus bertemu dengan lelaki tolong laporkan dan fotokan untukku. Kau mengerti maksudku? ” ucap Taeyeon

“Baik Tuan” ucap Kepala Kim

“Aku tidak akan membiarkan dirimu bertemu dengan EX boyfriend-mu Fany-ah.. tunggu lah sebentar lagi sampai aku bisa meluluhkan hatimu seutuhnya” ucap Taeyeon didalam hatinya sambil tersenyum

Kepala Kim pergi keruangan Tuan Kwon..

“Permisi Tuan..” ucap Kepala Kim

“Apa yang harus aku lakukan?” tanya tuan Kwon

“Apakah sudah saatnya semua aku ceritakan kepada anak-anakku tentang hal yang sebenarnya?” tanya Tuan Kwon lagi

“Tuan.. jangan membebankan semua masalah di pikiranmu. Tolong lepaskan, kau harus memikirkan kondisi kesehatanmu. Dan aku rasa masalah Yul dan Yoong akan berjalan dan berlalu dengan sendirinya. Mereka sudah besar tuan.. pasti bisa menyelesaikannya” ucap kepala Kim

“Lalu bagaimana tentang rahasia besar yang aku simpan selama ini? mereka harus mengetahuinya bahwa dia bukan anakku tapi anakmu” ucap Tuan Kwon

“Maafkan aku tuan.. aku sungguh meminta maaf karena membuat beban untuk hidupmu” ucap kepala Kim

“Aku tidak bisa terus menyiksanya, dia terlalu banyak berkorban.. selama ini aku hanya ingin dia menjadi manusia yang lebih kuat dari kedua anakku” ucap tuan Kwon

“Tuan.. kau tau yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Dan memberitahu tentang yang sesungguhnya sebuah rahasia yang kita simpan bukan menyelesaikan masalah karena suasana saat ini sangat tidak baik” ucap Kepala Kim

“Kau benar.. aku hanya bisa memperkeruh suasana saja” ucap tuan Kwon

“Kau boleh pergi” ucap tuan Kwon

Kepala Kim membungkukan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan Tuan Kwon.

.

.

.

Yuri turun dari dalam mobilnya dan membukakan pintu untuk Jessica. Jessica kaluar dengan mata sembab, ya sepanjang jalan tadi ia tidak bisa menahan tetesan air matanya, entahlah kenapa air mata itu keluar begitu saja. Ia mulai melangkahkan kaki menjauh dari mobil Yuri

“Tunggu” ucap Yuri menarik Jessica kedalam pelukannya

“Sebentar saja aku mohon”lirih Yuri semakin mengeratkan pelukannya

Tangis Jessica pecah tembok pertahanan yang ia bangun kini runtuh. Semua rasa benci, rindu, cinta, sayang, dan kesal menjadi satu.

“Aku akan membuatmu kembali kedalam pelukanku sica.. Tunggulah hari itu tiba” ucap Yul lagi

“Jika pada akhirnya memang bukan aku yang kau pilih setidaknya aku pernah berusaha untuk memperjuangkan dirimu untuk menebus semua kesalahan dimasalaluku” ucap Yuri lagi sambil sedikit demi sedikit melonggarkan pelukannya terhadap Jessica

“Kajja aku antarkan kau kedalam” ucap Yuri sambil mengengam tangan Jessica

“Tidak… cukup sampai sini saja” tolak Jessica

“Why?” tanya Yuri

“Aku yakin didalam ada Yoong” ucap Jessica

“Lalu?” tanya Yuri sambil berjalan membawa Jessica

“Yul.. aku mohon” ucap Jessica sambil melepaskan gengaman Yuri

“Sica..”

“Jika kau ingin dihargai maka hargailah orang lain Yul dan jika kau tidak bisa menghargai adikmu maka tolong hargai keputusan dan permintaanku. Selamat malam dan hati-hati di jalan” ucap Jessica dan berlari meninggakan Yuri di parkiran.

Yuri tersenyum pahit sambil terus mengawasi pandangannya ke arah Jessica. Jessica berjalan memasuki lift apartemennya. Hidupnya kali ini beras lebih berat dua kali lipat dibandingkan menghadapi haters yang ada. Ia sungguh tidak tau apa yang akan terjadi besok dan seterusnya atas nasib cintanya. Ia harus memilih dengan baik dan tidak menyakiti perasaan siapapun.

TING bunyi pintu liftpun terbuka, Jessica berjalan menuju pintu apartemennya dan memasukan kode pintunya lalu masuk. Ia menghela nafasnya saat melihat sepasang sepatu ada dirak sepatu. Sepatu itu milik Yoong, dengan berat hati ia masuk dan melihat sosok pria yang sedang memejamkan matanya di sofa sambil mendengarkan music. Jessica tidak langsung menghampiri pria tersebut, ia berjalan menuju kamarnya dan berniat untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum berbicara banyak dengan Yoong karena mau tidak mau ia harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Yoong.

.

.

.

Tiffany baru saja menyelesaikan mandinya ia berjalan menuju balkon kamar Taeyeon dan menghirup udara segar. Hatinya sangat sedih karena mendengar keputusan yang Taeyeon buat.

“Maafkan aku” bisikan suara husky di telinga Tiffany

“…”

“Aku hanya ingin yang terbaik untukmu” Ucap Taeyeon sambil melingkarkan tangannya di perut Tiffany

“…”

“Jangan diam saja Fany-ah” ucap Taeyeon sambil terus memeluk Tiffany dari belakang

“Tae.. kau tau dengan sangat jelas maksudku kesini bukan?” tanya Tiffany

“Ya aku tau.. namun tidak bisakah kau mengerti perasaanku?” ucap Taeyeon

“Apa selama ini aku tidak mengerti perasaanmu? Setiap kali kita bertengkar kau selalu menyalahkan mantanku karena sikapku, tanpa kau sadari jika memang sikapku seperti ini” ucap Tiffany

“Lalu siapa yang salah? Aku ? begitu?” tanya Taeyeon melepaskan pelukannya terhadap Tiffany

“Aku lelah Tae.. Baiklah aku akan tinggal bersamamu disini. Dan kau harus menanggung apapun resiko yang terjadi untuk hubungan kita nantinya” ucap Tiffany

“Terserah kau saja” ucap Taeyeon meninggalkan Tiffany

Tetesan air mata itu kembali mengalir, hatinya sudah lelah dengan keadaan ini. Keadaan yang harus ia tutupi betapa hatinya tersiksa dengan semuanya. Ia membutuhkan pengobat luka yang sebenarnya. Dan jelas itu bukan seorang Kwon Taeyeon.

Flashback

“Lalu kenapa kau bersamanya?” tanya Tiffany

“….” Yoong hanya tersenyum dan perlahan melepaskan tangan Tiffany yang menahan tangannya

“Kenapa kau bersamanya? Tanya Tiffany lagi

“Karena dia seperti dirimu” ucap Yoong dan berjalan meninggalkan Tiffany

“Karena dia seperti dirimu” ucap Yoong

“Karena dia seperti dirimu” ucap Yoong

“Karena dia seperti dirimu” ucap Yoong

Flash back end

Kalimat itu terus berputar-putar di ingatan Tiffany, membuatnya sedikit pusing. Ia pun masuk kedalam kamar dan menutup pintu balkon. Ia menghela nafas karena Taeyeon tidak ada dikamarnya. Tiffany merebahkan dirinya di kasur king size yang berada disana, ia mematikan lampu dan mencoba untuk memejamkan matanya.

.

.

Jessica keluar dari kamar mandinya selama 1 jam lebih ia berada disana dan segera memakai piama kesukaannya tidak lupa memakai parfume lalu mengeringkan rambutnya. Beberapa menit kemudian aktivitas mempercantik dirinyapun sudah selesai, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia berjalan keluar kamar untuk menuju sofa yang di tiduri oleh pria yang sedari tadi menggunya pulang namun sebelumnya ia berjalan ke arah dapur terlebih dahulu dan mengambil dua buah juice didalam lemari es dan kembali berjalan menuju sofa. Ia berjongkok tepat di hadapan wajah sang prianya, ia tersenyum miris karena masih terlihat dengan sangat jelas jika luka yang berada diwajah pria tersebut semakin parah, ia tidak tega untuk membangunkan pria yang ada di hadapannya. Ia bangkit lalu memilih duduk dihadapan prianya sambil terus memandangi prianya

“Yoong.. apa yang harus aku lakukan? Semua terasa salah. Apa aku harus melepasmu? Tidak ! itu akan menyakitimu dan mungkin menyakiti hatiku” lirih Jessica didalam hatinya sambil terus memandangi wajah prianya tersebut

“Luka ini memang belum sepenuhnya kering, luka ini belum sepenuhnya hilang, dan rindu ini masih ada untuknya Yoong.. apakah kau akan menerimanya setelah aku menceritakan semuanya? Kenapa aku harus dihadapkan oleh dua pilihan yang menyulitkanku” ucap Jessica lagi

“Jika aku menyakitimu apakah kau akan memaafkanku?” lirih Jessica

“Yoong.. apa kau tau jika aku mulai mencintamu? Namun entah ini rasa apa jika boleh jujur Hatiku kembali bergetar saat Yuri memelukku tadi” sesal Jessica sambil menutup matanya sambil menyenderkan dirinya ke sofa

“Apa yang harus aku lakukan Yoong” ucap Jessica dalam hatinya  masih menutup matanya

“Apa aku bisa memilihmu dan melupakannya?”

“Bagaimana dengan besok?dia pasti akan bicara padamu Yoong”

“Apa yang harus aku lakukan” lirih Jessica sambil menaruh tanganya di atas matanya

“Kenapa tidak membangunkanku?” suara paruh itu terdengar samar-samar di telinga Jessica

“…”

“Jess..” panggilnya lagi membuat gadis yang hampir terlelap tidur itu tersadar dan membuka matanya

“Tidurlah di kamar, kau pasti lelah hari ini” ucap Yoong

“Hmm kajja” ucap wanita tersebut

“Hmm aku?” tanya Yoong

“Ya kau. Lalu siapa lagi?” tanya Jessica

“Aku belum membersihkan diriku dan lagi pula kamar ku disampingmu” ucap Yoong

“Tidak perlu membersihkan dirimu cukup cuci wajahmu dan ganti pakaianmu” ucap Jessica

“Baiklah” ucap Yoong lalu beranjak dari sofa tersebut dan berjalan menuju kamarnya

“Kau mau kemana? Kamarku bukan kamarmu Kwon Yoonan” ucap Jessica

“Jess..” lirih Yoong

“Tidurlah bersamaku.. aku akan menceritakan sebuah dongeng untukmu” ucap Jessica

“Tidak hari ini Jess. Kau lelah baby” ucap Yoong

“Yoong.. “ ucap Jessica dengan lembut sambil berjalan menghampiri Yoong

“Aku hanya tidak ingin kau terluka lebih jauh lagi” ucap Jessica sambil mengusap pipi Yoong yang penuh luka

“Aku akan terbiasa dengan luka Jess” lirih Yoong dan berjalan meninggalkan Jessica

Perlahan cairan hangat dari mata Jessicapun mengalir, hatinya sakit ketika Yoong mengatakan hal tersebut. Jessica berlari dan memeluk Yoong dari belakang.

“Sssstt jangan menangis” ucap Yoong sambil membalikan badan dan memeluk wanitanya.

“Jangan seolah-olah kau yang terkuat disini bodoh! Aku tau hatimu itu sangat rapuh!” ucap Jessica sambil memukul Yoong

“Aigooo hari ini aku penuh dengan pukulan sepertinya” ucap Yoong sambil mengelus puncak kepala Jessica

“Kajja kita bicarakan baik-baik jika memang kau tidak lelah” ucap Yoong sambil membawa wanitanya berjalan menuju balkon kamar Jessica

“Hmmm jangan menangis lagi.. kau jelek” ucap Yoong dan mengelap sisa-sisa butiran air mata di dekat mata Jessica

“Siapa yang tidak jatuh hati kepada pria sebaimu” ucap Jessica mendengar ucapan Jessica Yoong hanya tersenyum

“Yoong..” panggil Jessica

“Bicaralah.. jangan ada yang kau sembunyikan” ucap Yoong

“Pria itu… pria itu adalah kakakmu. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa dan aku sangat takut ketika pertama kali aku bertemu dengannya dan mengetahui jika dia adalah kakakmu Yoong. Malam ini sungguh diluar dugaanku, ketika aku bertanya padamu apakah ada orang lain dan kau menjawab tidak, aku merasa lega namun ketika semakin dekat dengan arah rumahmu dan ketika kita masuk kedalam dan aku melihat sosok pria itu, hatiku sesak dan kembali hancur lagi. Namun disatu sisi aku merasa bahagia karena bisa melihatnya kembali.” Ucap Jessica

“Lalu?” Ucap Yoong sambil tersenyum

“Yoong.. aku mohon jangan membuat aku semakin tersudutkan” ucap Jessica

“No.. aku tidak menyudutkanmu sayang” ucap Yoong

“Hmm tadi dia mengungkapkan semuanya bahwa ia menyesali apa yang telah ia lakukan. Dan..” Jessica tidak melanjutkan kalimatnya

“Dan dia memintamu kembali kepadanya?” lanjut Yoong

“Yoong…” lirih Jessica

“Kau tau? Ketika makan malam bersamamu? Aku pulang kerumah dan aku hampir saja di pukul olehnya untuk melepaskanmu. Setelah kejadian itu aku berusaha menyakinkan diriku bahwa pikiranku salah jika kakakku lah pria yang selama ini memiliki hati kekasihku” ucap Yoong

“Jujur saja aku tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku mencintaimu. Dan bohong jika aku sudah tidak mencintaiNYA” ucap Jessica

“Berikanlah sedikit lebih lama untuk hatimu mengetahui siapa sebenarnya pemilik hatimu itu Jess” ucap Yoong

“Maafkan aku” lirih Jessica sambil menundukan kepalanya

“Hei.. jangan merasa terbebani dan bersalah. Ini hal wajar. Kau tau bukan ini adalah resiko kita sebagai pencinta kerinduan terhadap kekasih dimasalalu haha. Jess.. aku mencintaimu dan bohong juga jika aku tidak merindukannya. Dilubuk hatiku tempatmu mempunyai posisinya tersendiri. Dan sampai hari itu tiba aku tidak akan pernah menyerah untuk berusaha menjadi yang terbaik untuk jalan cerita cinta kita. Kerena memilikimu saat ini adalah salah satu hadiah dari tuhan yang paling aku syukuri terlepas dari bayangan masalalu yang aku miliki.” Ucap Yoong sambil mengecup puncak kepala Jessica

“Kau dengannya sama saja. Sama-sama jago dalam hal berkata manis” ucap Jessica

“Tentu berbeda! Aku lebih tampan hahahah dan harus kau ingat bahwa aku lebih santai tidak tempramental sepertinya” ucap Yoong

“Kau benar.. Hmm dan mulai besok ia akan membuktikan bahwa ia menyesali semuanya dan dia akan meminta izinmu untuk mendekatiku” ucap Jessica membuat Yoong menatap gadisnya sejenak.

“…” hening tidak ada jawaban dari Yoong. Ia berbalik memandang kota Seoul dimalam hari. Ada beberapa kali helaan nafas dari Yoong, membuat Jessica memejamkan matanya. Ia tau jika ucapannya menyakiti pria disampingnya

“Jess.. apakah menurutmu aku harus bersaing dengan saudara kandungku sendiri?” ucap Yoong

“….” membuat Jessica menundukan kepalanya

“Wanita yang bersama Taeyeon Hyung adalah pemilik kerinduan yang menggebu di hatiku ini” ucap Yoong

“DEG” Jessica menatap Yoong dengan tatapan yang tidak bisa di artikan

“….”

“Aku harus mulai merelakannya demi Taeyeon Hyung dan mungkin aku harus merelakanmu juga bersama Yuri Hyung. Sejujurnya aku paling tidak bisa melawan orangtuaku atau kedua kakakku Jess.. kau tau aku menolak pekerjaan dari Ayahku karena apa? Karena aku akan bersama Tiffany dalam satu perushaan. Dan itu membuat aku takut melukai perasaanmu, jika tembok yang telah kau susun dengan rapih agar tidak ada orang lain yang masuk kedalamnya lagi setelah dirimu akan hancur oleh dirinya” ucap Yoong

“Aku tidak bisa Jess.. bersaing dengan kedua kakakku” lirih Yoong yang menundukan kepalanya dan air mata mulai jatuh dari mata rusanya itu

“….”

“Maafkan aku” ucap Jessica sambil mengusap punggung Yoong

“…”

“Kenapa hidupku serumit ini” lirih Yoong sambil terus menahan sesak didada dan air matanya

“Yoong..” ucap Jessica sambil mengusap punggung kekasihnya

“Mari kita akhiri semuanya. Kembali lah kepada kebahagiaanmu Jess” lirih Yoong sambil menundukan kepalanya menahan air matanya yang semakin deras mengalir

“Yoong kajja kita lakukan bersama. Lupakan masalalu kita dan mari saling mencintai dan melindungi mulai dari sekarang sampai nanti” ucap Jessica sambil memegang tangan Yoong

“Jess.. aku tidak ingin kau terpaksa” ucap Yoong

“Jika tidak dipaksakan semua tidak akan pernah berjalan” ucap Jessica

“Lalu?” tanya Yoong

“Kau pemenangnya. Mari kita buat kenangan indah sampai akhir Yoong.. aku mencintaimu. Aku tidak ingin mendengar kata perpisahan dari mulut manismu itu” ucap Jessica

“Jess.. aku tidak ingin kau menjalaninya terpaksa. Aku akan memberikan waktu sedikit lagi untuk kau berpikir dengan baik dan jernih” ucap Yoong

“Keputusanku sudah bulat Kwon Yoonan” ucap Jessica

“Kau serius?” tanya Yoong lagi

“YA! Mari kita mulai dan membuat lembaran baru yang lebih baik lagi. Dan kau boleh menolak dengan halus apa yang kakakmu tawarkan kepadamu” ucap Jessica

“Baiklah karena kau sangat gigih mempertahankan apa yang kau mau, aku sangat tersentuh karena kau mau berjuang demi aku padahal kau belum mengetahui secara jelas siapa pemenang hatimu kan? Haha maka akupun rela bersaing bersama kakak kandungku sendiri. Aku akan berjuang untuk mempertahankan apa yang aku miliki saat ini dan tidak memberikan kepada dirinya apa yang ia telah tinggalkan.” Ucap Yoong

“Maafkan aku membuat kau bertengkar dengannya” ucap Jessica

“Hmmm tidak apa-apa baby.. aku tidak akan pernah menyalahkan dirimu ataupun kakakku karena ini sudah jalan yang di tuliskan oleh tuhan. Kita sebagai pemainnya harus menjalani dan membuat keputusan yang terbaik agar tidak membuat orang lain terluka” ucap Yoong

“Aku mencintaimu  Kwon Yoonan” ucap Jessica sambil tersenyum

Yoong meraih pinggang Jessica dan memeluknya lalu mengecup puncak kepala Jessica dengan lembut.

“Maafkan aku Yul” ucap Jessica dalam hati

“Maafkan aku Tiff” ucap Yoong dalam hati

Yoong merasa sangat bahagia dan sedih untuk saat ini karena sejujurnya ia memang tidak bisa bersaing dengan kakaknya sendiri, ia lebih baik mengalah untuk kedua kakak kandungnya, namun karena wanita disampingnya telah mengambil keputusan maka mau tidak mau ia harus berjuang demi cintanya yang saat ini

.

.

.

.

8:00 AM Kwon massion

Tuan Kwon belum berada dimeja makan sedangkan Tiffany dan Taeyeon sudah berada di meja makan keduanya hening tidak ada pembicaraan satu sama lain. Beberapa menit kemudian terdengar suara langkah turun dari tangga ternyata suara itu bersumber dari Yuri yang dengan wajah ceria dan tanpa berdosa nampak melupakan kejadian yang semalam terjadi datang kemeja makan dan duduk di hadapan Taeyeon dan Tiffany, ia tersenyum ketika kedua orang dihadapannya melihat kearahnya.

“Good morning” ucap Yuri sambil tersenyum

“Kau memang sudah gila Yul” ucap Taeyeon namun tidak di hiraukan oleh Yuri

“Bagaimana tidurmu Fany-ah?” tanya Yuri

“…” tidak ada jawaban dari Tiffany ia hanya tersenyum kearah Yuri

Tidak lama kemudian Tuan Kwon datang ke meja makan dan duduk di bangku utama dan semuanya memulai makannya. Tuan Kwon tidak memandang kedua anaknya, ia terus fokus kepada makanan yang ada dihadapannya.

“Maafkan sikap lancangku semalam Appa” lirih Yuri sambil menghentikan makannya

“…” tidak ada tanggapan dari tuan Kwon

“Aku terbawa suasana dan luapan emosiku membuat kacau semuanya” ucap Yuri

“Apakah kau tidak memikirkan perasaan adikmu dan Shin Hye yang tidak tau menau apa yang terjadi dengan dirimu dan Jessica?” ucap Tuan Kwon

“Aku sangat menyesal tidak menjaga dirimu dengan sangat baik sehingga aku tidak tau sifat asli dirimu. Apa ini sifat aslimu Kwon Yuri?” tanya Tuan Kwon lagi

“Kau berani memukul saudara kandungmu sendiri hanya karena seorang wanita? Apa kau pikir jika ia tau jika Jessica adalah kekasih atau mantan kekasihmu ia akan merebutnya darimu?”

“Aku sangat yakin jika Jessica tidak akan memilihmu kembali jika memang sikap aslimu yang semalam adalah benar dan kau harus nya meminta maaf kepada adik dan kekasihmu bukan kepada aku yang tidak memiliki kaitannya dengan urusanmu!” ucap Tuan Kwon lalu beranjak dari tempat duduknya

Taeyeon dan Tiffany yang ada dimeja makan hanya menundukan kepalanya.

“Apa kau tidak akan memarahiku Hyung?” tanya Yuri

“Perjuangkan apa yang ingin kau perjuangkan tanpa melumpuhkan lawanmu terlebih dahulu. Bersikaplah memakai logika dan jangan lupakan bersikap juga menggunakan perasaanmu” ucap Taeyeon singkat lalu beranjak dari tempat duduknya

Yuri tersenyum miris karena kini posisinya semakin terpojokan, ia merogoh handphonenya yang berada di saku celananya

To : Kwon Yoonan

Mari kita bicara pada jam makan siang di cafe biasa

Yuri memasukan Handphonenya kembali sambil beranjak dari tempat tersebut menuju halaman massion Kwon. Mobil Taeyeon sudah tidak berada disana, hanya tersisa mobilnya dan mobil ayahnya.

.

.

.

Jessica menyiapkan sarapan untuk Yoong, ia membuatkan sandwich kesukaan kekasihnya dan juice. Yoong baru saja menyelesaikan mandinya dan hanya memakai celana pendek dan kaos tipis saja, ia berjalan menuju ruang makan lalu memeluk Jessica dari belakang dan mengecup singkat rambut sang kekasih.

“Emmm masakan yang tidak pernah aku bosan ketika sarapan pagi” ucap Yoong sambil tertawa

“Kau memuji atau mengejekku?” tanya Jessica

“Hmm memuji awal dari kehancuran jadi aku mengejekmu hahaha” ucap Yoong

Jessica membalikan badannya dan memukul tangan Yoong

“Awww kau galak sekali hari ini baby” ucap Yoong

Bunyi Handphone Yoong membuat keduanya kaget, Yoong menghapiri handphone nya dan melihat dengans angat jelas jika dilayar handphone nya ada seseorag yang tidak ingin ia ajak bicara untuk saat ini

“Siapa?” tanya Jessica

“Hmm Taeyeon Hyung” ucap Yoong

“Jika kau tidak ingin bicara dengannya biar aku yang mengangkatnya” ucap Jessica

“Tidak. Biar aku saja. Aku tau ini pasti keadaan rumah” ucap Yoong

ON THE PHONE

“Pagi Hyung” ucap Yoong

“….” Jessica mengerutkan alisnya Yoong mengetahuinya langsung mengakhtifkan speaker handphone nya

“Apa Hyung ? Tolong ulangi lagi?” pinta Yoong

“Jika Yuri ingin bertemu denganmu hari ini sebaiknya kau hindari dia, tadi dia baru saja dimarahi oleh Appa” ucap Taeyeon

“Hmm.. apa keadaanya semakin memburuk?” tanya Yoong

“Ya. Appa sangat marah kepadanya. Kau pulanglah tenangkan Appa” ucap Taeyeon

“Baiklah aku akan pulang setelah jadwalku selesai Hyung” ucap Yoong

“Apa benar jika Jessica adalah mentan kekasih Yuri?” tanya Taeyeon. Raut wajah Yoong berubah dan sedikit menelan ludah. Jessica pun sama

“Hmm benar. Semalam Jessica menceritakan semuanya kepadaku” ucap Yoong

“Yoong.. kau tau yang terbaik untuk keluarga kita. Kau tau dengan sangat jelas seperti apa watak Kakakmu yang satu itu. Aku hanya tidak ingin kau menerima yang lebih dari ini. cukup kemarin kau menjadi pelampiasan amarahnya” ucap Taeyeon

“Ya dan aku tidak akan membiarkan dia meluapkan amarahnya kepada kekasihku. Hyung aku harap kau menghargai apapun keputusan yang akan aku pilih” ucap Yoong

“Tentu. Aku akan mendukung apapun yang kau pilih dan sebaiknya kau mengalah kepadanya Yoong. Bagaimanapun dia cukup tersiksa ketika ia memilih meningalkan kekasihnya. Kau tidak mengetahuinya namun aku cukup sangat mengetahuinya Yoong. Jessica adalah belahan Jiwa nya yang sangat ia cintai, aku pikir Jessica yang ia maksud bukan Jessica yang kau miliki. Aargg jika aku tau akan menghalangi pertemuan tadi malam” ucap Taeyeon

“Aku akan bertemu dengannya pada makan siang di cafe biasa” ucap Yoong

“Jangan temui dia Kwon Yoonan!” ucap Taeyeon

“Hyung.. jika aku bisa memilih aku akan melepaskan kekasihku saat ini juga untuk kebahagiaan kakakku, kau tau dengan sangat jelas jika aku tidak bisa membantah apapun yang kalian ingin kan bukan? Namun untuk yang satu ini aku akan mempertahankannya karena belum tentu juga Jessica memilih aku dan dari pada aku melukai orang lain selain Yuri Hyung. Aku tidak ingin melukaimu Hyung. Terimakasih telah memberitahuku.. bye Hyung” ucap Yoong

ON THE PHONE END

Ia langsung menutup Telfonenya dan membuka pesan dari Yuri

To : Kwon Yuri

OK.

“Baby jangan dengarkan apa yang dibicarakan Taeyeon Hyung” ucap Yoong sambil berjalan menuju arah Jessica berdiri

“Tapi apa yang ia bicarakan ada benarnya Yoong” ucap Jessica

“Lalu? Apa harus aku merubah rencana kita lagi?” tanya Yoong

“….” Jessica tidak memberi tanggapan

“Kajja kita sarapan baby” ucap Yoong sambil menarikan bangku untuk Jessica

Keduanya sarapan dengan suasana hening tidak ada yang membuka suara satupun.

“Apapun yang aku bicarakan dengan Yuri Hyung nanti pasti yang terbaik untuk kita bukan? Jadi jangan khawatir baby” tanya Yoong yang akhirnya membuka suara

“Aku hanya takut jika dia berbuat kasar kembali kepadamu Yoong” lirih Jessica

“Tidak akan sayang. Itu ditempat umum. Appa akan semakin marah kepadanya” ucap Yoong

“Apa aku boleh ikut?” tanya Jessica

“Big no!” ucap Yoong

“Sudahlah tidak perlu ada yang kau khawatirkan baby aku dan dia sudah sama-sama dewasa” ucap Yoong

“Bagaimana jika Appa mu semakin tidak suka terhadapku karena kejadian ini?” tanya Jessica

“Appa  bukan tipe orang seperti itu sayang. Tenanglah” ucap Yoong

“Kajja kita berangkat kau ada jadwal dua jam lagi bukan?” tanya Yoong

Jessica hanya mengangukan kepalanya dan membawa piring kotor dan gelas yang ada di meja makan tersebut. Keduannya berjalan ekluar apartemen Jessica dan berjalan menuju parkiran mobil.

.

.

.

“Jangan berbuat yang macam-macam. Jika ingin keluar dari kantor tetap bersama supir pribadimu” bisik Taeyeon kepada Tiffany

“Terserah kau saja” ucap Tiffany lalu keluar dari mobilnya dan menebar senyum kesetiap orang yang berada di sekitarnya

Keduanya memasuki ruangan yang telah disediakan. Tiffany kini menjadi sekertaris pribadi Taeyeon, karena Yoong menolak pekerjaan yang di tawarkan oleh ayahnya. Didalam ruangan tidak banyak perbincangan yang dibicarakan oleh keduanya, sejauh ini Taeyeon bersikap profesional mungkin karena aura amarah yang masih ada di hubungan keduannya. Tiffany tidak berbicara sama sekali, ia hanya memberikan jadwal yang akan Taeyeon lakukan hari ini, itupun sudah ada di memo yang sekertaris sebelumnya buatkan. Taeyeon memiliki beberapa pertemuan dengan lawan bisnisnya dan mau tidak mau sebagai sekertarisnya Tiffany harus menemani Taeyeon, didalam ruang meeting keduanya sangat bersikap profesional layaknya bos dan sekertarisnya, Tiffany mengikuti alur yang di mainkan oleh seorang Kwon Taeyeon. Sampai akhirnya waktu jam makan siangpun tiba

“Kau ingin makan apa?” tanya Taeyeon

“Aku tidak lapar” ucap Tiffany

“Baiklah. Kajja kita makan siang diluar saja” ucap Taeyeon

“Tidak. Setelah makan siang kau ada pertemuan penting untuk membahas proyek yang sedang berjalan saat ini” ucap Tiffany

“Lupakan itu kajja ikut aku” ucap Taeyeon sambil menarik tangan Tiffany

“Taeyeon-aah jangan memaksaku” ucap Tiffany menghempaskan tangan Taeyeon

“Kau ingin adikku saling memukul lagi? Aku harus menyelamatkan mereka Fany-ah” ucap Taeyeon

“Lalu kenapa kau harus mengajakku?” tanya Tiffany

“Karena kau akan kembali ke apartemenmu ketika aku tidak disampingmu” ucap Taeyeon

“Cih!” desis Tiffany

Tiffany kembali diseret keluar oleh Taeyeon pada saat pintu terbuka mau tidak mau Tiffany bersikap normal layaknya tidak terjadi apa-apa. Kedua nya pergi menggunakan lift untuk ke ruangan bawah gedung. Tiffany tidak membuka suaranya ia lebih memilih mendengarkan lagu walau terlihat sangat tidak sopan namun ia harus melakukannya karena ini sangat membantu moodnya kembali perlahan, jika tidak maka akan ada pertengkaran besar antara dirinya dan Taeyeon. Tiffany tidak bisa menyalahkan sikap Taeyeon yang over protect kepada nya karena memang ini sudah sifat Taeyeon sejak mereka berdua menjalani hubungannya. Bukan tidak pernah terjadi pertengkaran antara keduanya selama dua taun ini, mereka cukup sering bertengkar bahkan Taeyeon selalu terus menyalahkan pria yang ada di masalalu Tiffany.

“WHY IM SO FAKE” teriak Tiffany dalam hati

Keduanya berjalan menuju mobil pribadi Taeyeon dan menuju cafe yang Taeyeon perintahkan kepada kepala Kim sebagai supir pribadi Taeyeon. Sepanjang perjalanan Tiffany membuang muka nya ke hadapan Jalanan kota Seoul di siang hari yang nampak ramai karena jam makan siang. Hanya butuh 30 menit keduanya sampai di cafe yang Yoong maksud kedua nya langsung masuk kedalam cafe tersebut namun kedua manusia yang mereka tunggu belum menampakan batang hidungnya. Taeyeon memesankan makanan untuk diirnya dan Tiffany, namun Tiffany hanya memesan satu gelas ice green tea, Taeyeon segera menutup cafe tersebut, karena memang cafe tersebut dimiliki oleh Kwon Grup maka tidak heran ketika Taeyeon meminta pihak manager menutup cafe tersebut para pelayanan yang diperintahkan oleh managernya menuruti perintah Taeyeon, tidak berselang lama mobil mewah milih Yuri nampak terleihat dari tempat duduk Taeyeon. Yuri turun dari dalam mobilnya dan masuk kedalam cafe tersebut, ia mengerutkan alisnya saat melihat Taeyeon berada disana bersama Tiffany.

“Ada urusan apa kau disini?” tanya Yuri

“Aku? Tentu saja makan siang. Kebetulan sekali kau ada disini” ucap Taeyeon

“Anak itu pasti takut dan menyuruhmu kesini menemaninya? Ya ? benar kan ?” tanya Yuri hanya dibalas senyuman oleh Taeyeon

Tidak lama berselang Yoonan memasuki cafe tersebut dengan topi masker dan jaket tebalnya untuk menutupi identitasnya.

“Kau ada apa disini Hyung?” tanya Yoong ke arah Taeyeon dan melihat ke arah Tiffany

“Kau pikir aku bisa tenang di kantor memikirkan kalian berdua?!” tanya Taeyeon

“Duduk dan bicarakan baik-baik” ucap Taeyeon

“YA! mana mungkin aku berbicara jika ada kekasihmu disini” ucap Yuri

“Tidak apa dia mengerti” ucap Taeyeon

Taeyeon duduk dihadapan Tiffany dan disamping Tiffany ada Yoonan sedangkan di hadapan Yoonan ada Yuri.

“Maafkan atas sikapku kemarin” ucap Yuri

“Lupakanlah aku hanya menganggapnya jika kita bertengkar biasa” ucap Yoong

“Yoong..” ucap Yuri

“Bicaralah Hyung..” ucap Yoong

“Aku meminta izinmu untuk mendapatkan apa yang harus nya yang menjadi milikku. Aku bisa melakukan hal yang lebih kejam dari kemarin jika kau tidak memperbolehkan aku menebus kesalahanku kepada orang yang aku cintai sampai detik ini” ucap Yuri

“….” Yoong menundukan kepalanya, tangannya mengepal karena kesal, sakit dan marah ketika kakak kandungnya sendiri berbicara seperti itu, Taeyeon hanya melihat kearah Yuri yang tidak percaya mendengar apa yang diucapkan adiknya. Tiffany menelan ludahnya dan menatap Yoong dengan iba

“Yul..” panggil Taeyeon dengan lembut sambil memegang pundak adiknya tersebut

“Hyung biarkan aku menyelesaikan masalahku dengannya. Aku harap kau mengerti jika posisimu di diriku” ucap Yuri

“Yoong.. aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpa nya. Cukup kemarin aku sangat tersiksa dengan rasa pura-pura aku mencintai Shin Hye. Biarkan aku menebus kesalahanku dan mencoba memulai cerita cinta aku dengannya sekali lagi” ucap Yuri

“…” Yoong tidak menjawab lagi ia terus menundukan kepalanya

“Aku hanya meminta kepadamu hanya kali ini saja, tolong bantu aku kembali bersama orang yang aku cintai Yoong. Sudah cukup aku terlalu banyak mengalah kepadamu. Apa aku kurang baik terhadapmu selama aku menjadi kakak? Apa aku kurang berkorban untuk masa depan dan keinginanmu? ” ucap Yuri

“Hyung.. kau tau jika aku denganya sangat berusaha dengan keras ketika kita memulai semuanya? Aku dengannya sangat tertatih ketika aku harus mencintai seseorang hanya karena ia mirip dengan EX yang pernah ada dan yang aku cintai sampai saat ini. Betapa sakitnya berapa hancurnya kembali hatiku saat aku tau jika lelaki yang mirip denganku itu adalah kakak kandungku sendiri? Apa yang harus aku lakukan? Aku harus membalas pukulan mu ketika kau meluapkan emosimu kepadaku? Tentu tidak bukan. Karena akupun merasakan apa yang kau rasakan, aku merasakan rasa sakit itu hyung. Jika aku bisa akupun ingin merebut kembali apa yang seharusnya aku miliki saat ini, orang yang harus nya menyembuhkan lukaku orang yang harusnya aku bahagiakan lebih dari yang aku miliki saat ini, orang yang membuat hidupku dua kali bahkan 1000x lipat bahagia dibanding ketika aku bersama Jessica, namun aku tidak bisa karena kini ia telah bahagia dengan pilihannya ia telah memiliki apa yang ia tidak dapatkan dari seorang Kwon Yoonan. Ia telah bahagia dengan apa yang dia mau, dia te—” Yoong tidak melanjutkan kalimatnya saat tangan dingin putih mulus itu menyentuh tangan miliknya, tangan itu mengengam erat tangan Yoong yang berada di  bawah meja lebih tepatnya diatas paha Yoong. Yoong menghela nafasnya mencoba mengkontrol suasana hatinya saat ini yang terbawa suasana

“Hyung.. kau tau bukan aku sangat menghargai kalian berdua? Aku tidak bisa bersaing dengan kalian berdua karena aku tau pengorbanan kalian berdua untuk aku tidak bisa dihitung oleh jari. Bahkan bertengkar dan beradu mulut dengan kalianpun aku tidak bisa. Maka apa yang harus aku lakukan selain menerima tawaranmu atau menyerahkan dia kepadamu?” ucap Yoong  sambil mengeratkan gengamannya kepada tangan Tiffany dibawah Meja Taeyeon yang tidak menyadari itu karena sibuk dengan menatap langit-langit cafe tersebut sambil mengepulkan asap rokok yang sedang dihisapnya

“Lakukanlah jika kau bisa merebutnya dariku Hyung.. mungkin memang takdirku seperti ini. Mari kita bersaing dengan sehat untuk menentukan siapa yang sebenarnya Jessica pilih kau atau aku. Aku harap kita bisa bersaing secara sehat. Walaupun aku dan Jessica telah memutuskan untuk membuka lembaran baru untuk melupakan masalalu, namun melihat kegigihanmu aku tidak bisa mematahkannya” lirih Yoong lalu melongarkan gengaman tangannya kepada Tiffany namun Tiffany menolaknya

“Khaaah aku akan pergi sekarang. Mari kita berjuang Yul Hyung” ucap Yoong sambil melepaskan gengaman tangan Tiffany dan beranjak dari bangkunya

“Jangan lupakan makan siang kalian dan Taeyeon Hyung… Tiffany Noona sangat tidak suka dengan asap Rokok” ucap Yoong sambil berjalan keluar cafe tersebut

Taeyeon menatap Yuri dan mematikan Rokoknya

“Kau harusnya malu Yul memiliki adik yang pemikirannya lebih bijak dari dirimu” ucap Taeyeon

“Aku akan memperjuangkannya Hyung.. maafkan keegoisanku” ucap Yuri

“Apa kau benar-benar sudah melupakanku Yoong” lirih Tiffany dalam hati

“Lakukan apapun yang kau inginkan asal tidak melukai saudara kandungmu sendiri, buka matamu” ucap Taeyeon

“Aku akan kembali ke kantor” ucap Taeyeon lagi ia beranjak dari bangku nya dan mulai berjalan namun Tiffany tidak mengikutinya

“Fany-ah apa kau tidak ingin ke kantor bersamaku?” tanya Taeyeon

“…”

“Tiffany??” panggil Taeyeon lagi

“Hey” ucap Yuri sambil mencolek bahu Tiffany

“Hmm?” tanya Tiffany sambil menoleh ke arah Yuri

“…” tidak dijawab oleh Yuri namun menunjuk kearah Taeyeon Tiffanypun melihat kearah yang Yuri tunjukan dan melihat Taeyeon sedang menatapnya

“Kau kekantor bersamaku atau diam disini bersama manusia hitam itu?” tanya Taeyeon

“YAAA!!!! HYUNG!!!” teriak Yuri tidak terima

Tiffanypun beranjak dari bangkunya ia berjalan menuju Taeyeon. Kedua keluar dari cafe tersebut kini hanya menyisakan Yuri. Ia langsung mengeluarkan Handphonenya

On the Phone

Beberapa kali panggilannya tidak dijawab kini sudah panggilan yang kelima akhirnya dijawab oleh lawan bicaranya tersebut.

“Hallo” ucap Yuri

“Ya?” jawab lawan bicaranya

“Sica.. apa kau ada waktu untuk makan siang?” tanya Yuri

“Tidak. Aku ada jadwal Full hari ini” ucap Jessica

“Hmm baiklah aku akan mengantarkan makanan ke lokasimu. Sebutkan dimana lokasimu saat ini” ucap Yuri

“Tidak perlu disini ada makanan box yang bisa aku makan” ucap Jessica

“Sica.. bagaimana bisa aku membuktikan kesungguhanku jika kau menolaknya” ucap Yuri

“What?” ucap Jessica

“Yoong sudah menyetujuinya jadi kau bukan miliknya” ucap Yuri

“GILA” teriak Jessica lalu menuti Telfonenya

On the phone end

Yuri tersenyum saat mendengar apa yang diteriakan oleh Jessica. Jessica tidak pernah berubah dari ia mengejarnya saat dulu mereka berpacaran. Yuri langsung memesankan beberapa makanan di cafenya lalu membawanya kedalam mobil dan segara mencari alamat dimana Jessica melakukan shooting dan bukan seorang Kwon Yuri jika tidak menemukan alamat tersebut, hal tersebut sangat gampang ia lakukan ketika ia meminta sahabatnya yang bekerja di perusahaan intel pemerintah maka tidak sulit untuk menemukan lokasi hanya dengan mencari tau gps aktif atau tidak di handphone Jessica dan berununglah Kwon Yuri karena gps Jessica sangat mudah dilacak. Hanya butuh waktu 2 jam untuk sampai dilokasi yang disampaikan oleh sahabatnya tersebut memang lokasinya cukup jauh dan ketika ia sampai Yuri sudah melewatkan jam makan siangnya, ia tersenyum ketika melihat sebuah tenda dan diberi nama Jessica Jung, yang artinya disanalah tempat ruangan Jessica beristirahat. Yuri menghampiri ruangan Tersebut terdengar dengan samar-samar suara Jessica yang sedang tertawa dan ditemani beberapa staff yang berada didalam nampaknya, Yuri membuka tirai tenda tersebut dan otomatis semua pandangan kepadanya saat ini

“KAU?” teriak Jessica

“YA!! APA YANG KAU LAKUKAN DISANA?” teriak manager Jessica langsung menghampiri Yuri

“Aku temannya.. ouch tolong aku Sica” ucap Yuri saat managernya memukul Yuri dan menyuruhnya keluar

“Unnie.. dia temanku. Tinggalkan kami berdua” ucap Jessica.

Semua staff keluar dari dalam tenda tersebut hanya menyisakan Jessica dan Yuri didalamnya

“Unnie” panggil Jessica

“Hmm?” tanya managernya

“Jangan biarkan siapapun masuk dan  beri tahu aku jika sudah jadwal take ku” pinta Jessica

Managernya hanya tersenyum lalu meninggalkan keduanya. Jessica menatap Yuri, Yuri hanya tersenyum kepadanya dan membukakan makanan yang ia bawa

“Aku sudah makan” ucap Jessica

“Jangan berbohong aku sangat tau dengan jelas kau akan melewatkan makan siangmu jika tidak ada yang menyuapimu” ucap Yuri sambil memberikan satu buah suapan berisikan pasta carbonara kesukaan Jessica

“Yul.. aku bisa memakannya sendiri” ucap Jessica menolak yang Yuri lakukan

“Hmm aku tidak yakin. Bahkan kau dulu tidak makan siang dijam istirahat karena aku tidak disampingmu dan kau berakhir di ruang UKS hahaha” canda Yuri untuk mencairkan suasana namun Jessica tetap tidak tertawa sedikitpun

“Aaaaaaaaa pesawat akan mendarat namu ternyata landasannya masih tertutup kabut maka aku akan berkeliling sampai kabut itu hilang” ucap Yuri lagi sambil memaikan garpu yang berisikan pasta tersebut

“Aaaamm.. anak pintar uuuhh” ucap Yuri sambil mengusap kepala Jessica

“Hahaha Yul hentikan aku merasa jijik melihat sikapmu seperti ini” ucap Jessica sambil tertawa

“Yaaa telan dulu makananmu” ucap Yuri sambil mengulungkan pasta yang kedua untuk Jessica lalu memberikannya kembali kepada Jessica

“Aaaaaaa” ucap Yuri lagi

Kini Jessica terbiasa dengan perlakuan yang Yuri tunjukan kepadanya sampai suapan terakhir yang diberikan Yuri

“Sreeekk”

“Hooho aku membawakan Roti kesukaan tuan putriku” ucap pria jangkung yang baru saja datang

Yuri dan Jessica melihat kearah Yoong

“Ups.. maaf aku tidak mengetahuinya. Hehe maafkan aku menganggu acara kalian” ucap Yoong lalu menutup kembali tirai tersebut

Jessica yang akan memakan suapan terakhir dari Yuri pun beranjak dan berlari mengejar Yoong

“YOOONGGG!!!!” teriak Jessica

Namun sayang Yoong sudah masuk kedalam van nya dan meninggalkan lokasi tersebut. Jessica diam mematung didepan tenda nya

“Dia akan terbiasa dengan hal ini nantinya” bisik Yuri dibelakang Jessica

“ARRRRGGGHH!!!!! PERGI! DAN TERIMAKASIH UNTUK MAKANANMU!” ucap Jessica sambil berteriak

“Baiklah aku akan pulang, jaga kesehatanmu sayang. Bye” ucap Yuri

Yuri meninggalkan lokasi tersebut, Jessica langsung memasuki tendanya dan mengambil handphonenya lalu menelfone Yoong namun tidak ada jawaban dari sang kekasih, ia merasa sangat frustasi dengan kondisi yang saat ini terjadi.

“Apa yang harus aku lakukan tuhan” lirih Jessica

 .

.

.

.

 TBC

Hai guys.. jadi apa yang harus Jessica lakukan? Any idea? Hahaha

Terimakasih banyak untuk komen kalian yang cukup membangun mood nulis ku di part EX ONE, namun ketika di protect ternyata hanya sebagian dari kalian saja yang berani mengikuti rules yang dibuat oleh kami hehe. Tidak apa itu hak kalian itu adalah hak kalian karena kami tidak ingin memaksakan apapun yang kalian pilih. Namun untuk part ini aku harap kalianpun sama memberikan komentar baik saran kritik maupun dukungan untuk aku sebagai penulis hehe maaf sekali lagi jika jauh dari kata sempurna untuk penggunaan kalimat dan typo dimana mana. Wajarlah ya namanya manusia jari kepeleset pegel garagara saking gemes nya ngetik hahaha.

See u next part. Belum ada rencana sampai part berapa, ini sesuai mood aja. Dan shipper ending masih aku pikirkan baiknya bagaimana.

Any idea ?

Iklan

104 pemikiran pada “ EX  PART Three

  1. Ondeh mande.. …kasian bgt ya si yoon. 😥😥Tp, seharusnya Si yuri sadar diri klo Jessica itu bukan lg miliknya. Klo seseorang sdh memiliki kekasih kita tdk berhak mengambilnya. Akan tetapi belajarlah utk menerima keadaan dan carilah pasangan hidup yg lain. Krn ini sdh mnjd takdir tuhan yg hrs kita terima. Dan utk yoong seharusnya jg belajar dan trs berusaha utk menghilangkan perasaannya sama tiffany. Krn tiffany sdh mnjd milik org lain. Dan utk tiffany, jika ia blm merasakan kenyamanan brsama taeyeon maka paksalah dirinya utk menerima taeyeon baik dr kekurangan dan kelebihan ygb ia miliki. Krn sesungguhnya dr kita mnjalankan suatu hal dr keadaan terpaksa kemudian memaksakan diri sampai akhirnya kita akan mnjd terbiasa. Krn blm tentu apa yg kita inginkan tanpa keterpaksaan akan membuat kita bahagia selamanya. Krn betapa bny org yg awalnya menikah dgn seseorang yg mereka inginkan akhirnya bercerai?? Atau bertengkar tanpa habisnya . Sebalikx betapa bny jg org menikah dgn keadaan trpksa contohnya krn perjodohan akhirnya mereka mnjd rukun dan harmonis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s