Anemone 1.1 – Park Yoonan

12918558_992683510823829_1658076568_n

Tittle               : Anemone Yoonfany Version

Main Cast     :  Im Yoona & Tiffany Hwang

Genre              : Genderbender, Romance, Drama.

Author            : Eternity Happiness

Note: Kata-kata yg di Bold dan Italic adalah flashback

Selamat Membaca ^_^

=== Anemone ===

“Hyun.. aku merasa sudah cukup dengan semua yang kudapat hingga hari ini.” Yoonan memberikan lagi surat rekomendasi yang sang kekasih berikan padanya. Mereka kini sedang makan siang di kafe dekat kantor Yoonan di daerah Ilsan.

“Tapi Soojung akan membutuhkan biaya lebih ketika dia masuk ke Universitas nanti, Sayang.” Seohyun kembali mendorong surat itu pada prianya yang masih terlihat begitu tampan dengan kemeja abu polos yang memeluk tubuhnya erat.

“Dia bisa mendapatkan beasiswa seperti yang kulakukan dulu..” surat itu kembali jatuh ke telapak tangan Seohyun.

“Dan membuat adikmu menjadi sepertimu sekarang?” surat rekomendasi itu Seohyun bawa dalam genggamannya. Ia menyimpannya di kedua tangan sang kekasih yang menatapnya tak percaya.

“Apa maksudmu?” dari nada itu terlihat bahwa Yoonan sedikit tersinggung dengan ucapan kekasihnya itu. Pekerjaannya memang tidak menyediakan kemewahan seperti yang Seohyun miliki namun gajinya masih cukup untuk membiayai hidupnya sehari-sehari bersama  sang adik yang baru saja duduk dibangku sekolah menengah atas.

“Sayang aku tidak bermaksud menyinggungmu tapi dengan kecerdasan dan kemampuan fisikmu yang luar biasa, kau bisa memperoleh lebih dari apa yang kau terima sekarang. Kau sudah layak menjadi seorang agen di SJJD. Mereka akan mampu menyediakan hal yang selama ini belum kau dapatkan dari perusahaan tempatmu bekerja.” Seohyun terlihat begitu ingin Yoonan bergabung bersamanya menjadi agen intelijen di SJJD, sebuah perusahaan keamanan swasta yang cukup tersohor di negaranya. SJJD sudah termasuk dalam 10 perusahaan penyedia jasa keamanan terbaik di dunia selain Blackwater, SCG International Risk,  G4S dan beberapa perusahaan elit lainnya.

“Seohyun-ah…” Yoonan enggan menggeluti pekerjaan yang membahayakan nyawanya seperti yang dilakukan oleh sang kekasih. Baginya menjadi staff IT di perusahaan yang ditempatinya sekarang sudah cukup, apalagi perusahaannya itu yang sudah membantunya meraih pendidikan yang lebih tinggi di Seoul National University.

“Sayang kumohon bergabunglah denganku di SJJD. Aku berjanji kau dan Soojung akan memperoleh kehidupan yang lebih baik. SJJD dapat memberikanmu segalanya.” Melihat kekasihnya seperti itu, Yoonan terdiam.

“Yoonan…” panggil Seohyun pada pria yang terlihat menundukan kepalanya.

“Aku tidak tahu..” Kepala itu Yoonan dongakan. Ia tatap kembali kedua mata sang kekasih yang menatapnya begitu dalam.

“Apa kau mencintaiku? kau ingin menikahiku kan?”

“Hei.. mengapa kau menanyakan hal itu? Tentu saja jawabannya IYA!”

“Lalu.. mengapa kau tidak mau menuruti keinginanku?”

“Aku bukannya tidak mau tapi kontrakku dengan perusahaan ini belum berakhir. Aku tidak bis..”

“Kalau masalah itu kau tidak usah khawatir, aku dan SJJD akan mengurusnya. Jadi kau mau kan?” melihat tak ada lagi pilihan lain, akhirnya Yoonan anggukan kepalanya itu.

.

.

.

“Aku tidak berbohong padamu kan?” Yoonan mengalihkan pandangannya ke samping kanan tepat dimana sang kekasih menyenderkan kepala di bahunya. Senyuman tak bisa ia sembunyikan ketika wanitanya itu memeluknya begitu hangat dan nyaman dari belakang. Keduanya sedang menikmati sore mereka ditemani semilir angin yang sejuk dari sebuah desa indah di sekitar lereng bukit terjal di pusat Andalusia, tempat mereka bermalam untuk beberapa hari ini.

“Kau benar Hyun. Terimakasih.” Pelukan itu semakin Seohyun eratkan di tubuh pria yang begitu mencintainya.

Sudah seminggu ini Seohyun, Yoonan dan Soojung menikmati liburan mereka di Spanyol, kota yang menjadi destinasi utama untuk dikunjungi bersama orang-orang terkasihnya apalagi di acara yang spesial baginya. Ya.. salah satu tujuan dari liburan ini adalah untuk merayakan hari jadinya bersama Yoonan yang ke 3 dan merayakan kelulusan Soojung yang lebih cepat dari waktunya karena adik kekasihnya itu mengambil program akselerasi sehingga Soojung hanya menjalani masa SMA-nya selama 2 tahun.

“Aku hanya ingin yang terbaik bagimu, bagi kita dan tentunya Soojung.” Pelukan itu Seohyun lepas. Yoonan segera membalikan direksi tubuhnya sehingga kini ia sudah berhadapan langsung dengan sang kekasih yang terlihat begitu cantik layaknya dewi.

“Terimakasih karena kau masih berada disisiku. Terimakasih karena kau telah mengenalkanku pada dunia baru yang membuat hidupku menjadi lebih baik. Terimakasih, Sayang. Seo Juhyun, aku sangat mencintaimu.” Kedua pipi bening merona milik kekasihnya itu Yoonan bingkai dengan lembut menggunakan kedua telapak tangannya.

“Aku juga mencintaimu, Park Yoonan.” Ciuman manis itu menjadi penutup sore santai mereka di hari yang tidak akan keduanya lupakan dalam ingatan mereka.

.

.

.

“Oppa!” Yoonan meringis kecil menerima pelukan sang adik yang menangis di bahunya.

“Sayang.. biarkan Oppa-mu beristirahat dulu.” Seohyun menasehati gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu layaknya seorang ibu.

“Oppa… kau membuatku hampir mati karena ketakutan.” Soojung melepas pelukan itu sebelum memberikan pukulan kecil di dada kakaknya yang semakin meringis kesakitan dibuatnya.

“Aw.. maafkan Oppa, Sayang. Lagipula ini adalah hal yang wajar bagi pekerjaan Oppa dan Unnie-mu.” Dalam ringisannya Yoonan berpendapat meskipun tatapan tajam membunuh itu Soojung berikan padanya.

“Kau juga sama saja Unnie, coba lihat luka baru di lenganmu. Apa kalian ingin membuatku mati muda karena ketakutan heuh?!” Soojung menangis lagi namun kali ini dalam pelukan kedua kakaknya yang malah tertawa mendengar keluhannya.

.

.

.

“Sayang.. ini adalah kedua kalinya kau terluka dalam 3 bulan ini.” Yoonan mengelus lembut pipi sang kekasih yang masih terbaring lemah di ranjangnya.

“Ini adalah resiko dari pekerjaan kita. Kau sendirikan yang mengatakannya pada Soojung waktu itu. Apa kau sudah lupa?” ada tawa kecil dari wajah pucat yang masih terlihat begitu cantik dan mempesona bagi Yoonan.

“Aku tahu tapi ini sudah sangat mengkhawatirkan bagiku. Kau tahu.. sedikit lagi peluru itu berhasil menembus jantungmu. Untung saja kau masih menggunakan rompi pengamanmu. Jika tidak.. aku tidak tahu apa yang akan terjadi denganmu.” Kekhawatiran itu tampak begitu jelas di wajah Yoonan. Prianya itu terlihat begitu tampan dengan janggut dan kumis tipis yang menghiasi daerah dagu dan di bawah hidungnya.

“Kau pasti tahu apa yang akan terjadi denganku, Sayang.” Seohyun tertawa dalam canda lemahnya  sebelum membawa wajah kekasihnya itu untuk dikecupnya. Setelah berpacaran dengan Yoonan lebih dari 3 tahun, tentunya ia tahu cara terbaik untuk mengalihkan perhatian kekasihnya. Perlahan ia ubah kecupan itu menjadi sebuah ciuman yang berhasil membuatnya hampir kehilangan nafas. Kebutuhan akan oksigen membuatnya segera melepas ciuman yang berhasil memanaskan tubuhnya yang masih lemas.

“Hyun.. ayo kita berhenti. Aku tidak ingin kehilanganmu.” Akhirnya Yoonan membawa topik yang kadang menjadi sumber pertengkaran mereka.

“Sayang..” Seohyun berusaha untuk mengelak dari ide kekasihnya itu. Ia mengalihkan pandangannya dari Yoonan.

“Jika masalah uang yang kau pikirkan, jangan khawatir. Aku sudah mendapat tawaran kerja  dari perusahaan baru yang lebih elit dan bonavit dari SJJD. Kau tidak usah bekerja. Gajiku nanti lebih dari cukup untuk membiayai kita bertiga. Bahkan untuk anak-anak kita nanti.” Senyum penuh harapan dan meyakinkan Yoonan berikan pada wanita yang masih belum mau menatapnya. Ia berusaha membujuk kekasihnya itu agar mau menyetujui keinginannya.

Yoonan tahu Uang adalah hal yang penting bagi Seohyun. Kekasihnya itu pernah mempunyai masa lalu yang buruk karena Uang. Uanglah yang membuat Seohyun tidak bisa menyelamatkan ibunya yang terkena kanker usus. Uang jugalah yang telah merampas nyawa sang ayah yang mati dibunuh oleh rentenir yang mereka pinjami uangnya untuk membiayai pengobatan ibunya. Uang yang hampir membuat Seohyun menyerahkan harga diri dan keperawanannya pada bos mafia yang sudah membelinya dari rentenir yang memburunya.

Untung saja saat itu terjadi operasi yang diadakan oleh tim SJJD sehingga Seohyun bisa selamat. Darisana Seohyun mengenal SJJD. Lee Jaehan, pria itu yang menolong Seohyun remaja dari gelapnya dunia saat itu. Jaehan yang membawa Seohyun untuk dilatih menjadi seorang agen intelejen dan spionase yang handal. Hingga hari ini, predikat agen terbaik masih disandang oleh Seohyun yang mewarisi keahlian dari sang mentor, Jaehan, pria yang sudah dianggapnya sebagai ayah kandungnya sendiri.

Pertemuan Seohyun dan Yoonan terjadi ketika wanita bermarga Seo itu sedang menjalankan salah satu misinya. Yoonan menjadi saksi dalam kasus yang sedang ditanganinya sehingga mereka menjadi dekat. Apalagi sikap Yoonan yang ramah dan menyenangkan membuat Seohyun betah berlama-lama dengan pria yang memiliki latar belakan ekonomi yang terbilang lemah, seperti dirinya dulu.

Kedua orangtua Yoonan meninggal ketika pria itu masih kecil. Sejak kecil Yoonan sudah bekerja sambil sekolah demi menghidupi dirinya dan sang adik. Pria bermarga Park itu bisa menempuh seluruh tingkat pendidikan hingga universitas karena berbagai beasiswa dan kerja sampingan yang dilakukannya. Tuhan begitu baik karena menganugerahi Yoonan kemampuan otak diatas rata-rata sehingga walau memiliki waktu belajar yang sedikit, ia masih bisa mencerna semua pelajaran yang diterimanya dengan baik.

Cerdas, sopan, ramah, humoris dan menyenangkan mungkin menjadi salah satu alasan Seohyun jatuh hati pada Yoonan. Selama menjadi saksi, Yoonan dan Soojung tinggal di apartemen Seohyun. Kebersamaan itu lama kelamaan memupuk benih cinta yang dimiliki keduanya hingga akhirnya Yoonan memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa cintanya pada gadis yang ternyata memiliki masa lalu yang lebih menyakitkan dari dirinya. Dari situlah kisah cinta mereka bermula hingga hari ini, cinta itu masih begitu kuat keduanya rasakan meskipun pertengkaran itu menjadi bumbu lain bagi hubungan mereka.

“Ini bukan tentang itu.” Nada Seohyun berubah menjadi tegas.

“Lalu?”

“Aku masih belum bisa menceritakannya padamu sekarang.”

“Kau masih ingin bermain rahasia denganku? Sudah hampir 4  tahun aku menjadi kekasihmu tapi kadang aku tidak mengerti denganmu, Seohyun-ah..”

“Yoonan..”

“Kumohon pikirkan lagi permintaanku. Aku pergi dulu, Soojung sudah menungguku.”

.

.

.

“Sayang..” suara itu membuat kerutan serta kekesalan di wajah seorang pria segera menghilang.

“Kau ada dimana? Aku sudah menunggumu sejak 4 jam yang lalu.” Keluhan itu berbanding terbalik dengan senyuman yang perlahan menghampiri wajah pria itu. Kotak kecil krystal itu masih terbuka, menunjukan keindahan sepasang cincin yang siap digunakan untuk keduanya.

“Sayang.. maafkan aku. Aku tidak dapat menemuimu hari ini.” Suara wanita itu terdengar tenang meskipun ada kepanikan yang berusaha disembunyikannya.

“Mengapa? Apa terjadi sesuatu?” meskipun kecewa, Yoonan tidak bisa mengenyampingkan rasa khawatirnya. Kekasihnya  itu jarang sekali membatalkan janjinya, apalagi ini adalah hari jadi mereka yang ke 4. Yoonan sudah menyiapkan kejutan spesial untuk wanitanya itu. Dia berencana untuk melamar Seohyun untuk menjadi istrinya tepat di hari resminya hubungan mereka terjalin.

“Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Sayang… Bisakah kau datang ke…” Beberapa derap langkah mulai terdengar. Suara ketukan pintu yang begitu keras ikut menemani derap langkah itu. Kini suara tembakan hadir membuat panggilan itu terputus sebelum sang pemilik suara mengutarakan maksudnya.

“Hyunie.. hallo.. hallo!” Yoonan berusaha memanggil sang kekasih namun sambungan telepon mereka sudah terputus. Ia mencoba menghubungi lagi kekasihnya itu namun nihil. Panggilannya selalu tersambung pada suara operator yang menyatakan bahwa nomor kekasihnya itu tidak dapat dihubungi.

Menyadari kekasihnya dalam bahaya, Yoonan segera beranjak dari kursinya, memasukan telepon pintar dan kotak cincinnya itu ke saku mantel yang dikenakannya. Jantungnya berdetak begitu kencang. Rasanya ia ingin segera menemui sang kekasih yang akhir-akhir ini memang jarang menemuinya.

Sejak beberapa bulan lalu Seohyun memang terlihat begitu sibuk mengerjakan sesuatu yang bahkan hingga hari ini belum Yoonan ketahui apa. Mungkin karena itu juga hubungan mereka menjadi sedikit menjauh. Yoonan tahu kekasihnya itu adalah salah satu agen terbaik SJJD yang menjadi andalan agensinya dalam menyelesaikan misi-misi rahasia dan berbahaya. Ia penah ikut dalam salah satu misi Seohyun yang memang membutuhkan sekresi dalam pengerjaannya.

“Seohyun-ah.. apa yang harus kulakukan? Oh ya… Yuri! Dia mungkin bisa membantuku. Lebih baik kuhubungi dia sekarang!” Langkah kaki itu terhenti. Yoonan segera mengeluarkan telepon genggamnya, menghubungi sang sahabat yang selalu dapat diandalkan dalam hal seperti ini.

“Yul.. angkatlah!” panggilan itu masih belum terjawab meskipun sambungan telepon itu sudah beberapa kali Yoonan lakukan.

“Sial!… ini tidak bisa terjadi. Aku harus menca..” telepon genggam itu terjatuh bersamaan dengan tubuh Yoonan yang tersungkur ke belakang tak dapat menolak peluru yang tiba-tiba bersarang di bahu kanannya.

.

.

.

“Kau sudah bangun?” Cha Seung Woo menyapa anak buahnya yang masih terkulai lemas di ranjang rumah sakit milik SJJD.

“Aku ada dimana?” Kepala Yoonan masih terasa begitu pusing. Rasanya pandangan matanya terbagi menjadi beberapa bentuk. Berulangkali ia coba fokuskan pandangannya namun rasa pusing dan sakit luar biasa di kepalanya malah yang menghampiri.

“Kau.. ada di unit kesehatan SJJD.” Seung Woo mulai berbicara setelah diam itu menemani keduanya.

“Mengapa aku.. bisa ada disini?” Pandangan Yoonan tak terputus dari pria yang berjalan semakin dekat padanya. Bosnya itu kini sudah berdiri di hadapannya. Dia mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jas hitamnya. Amplop itu segera mendarat di telapak tangan Yoonan yang tidak mengerti dengan maksud atasannya itu. Ia buka amplop itu dan ia coba baca isinya meskipun rasa pusing itu masih  menemaninya.

“Yoonan.. aku memohon maaf…” Surat itu sudah selesai Yoonan baca. Jantungnya seakan berhenti untuk sesaat ketika nama kekasihnya ada di dalam surat pernyataan kematian tersebut.

“Tidak.. tidak.. Anda pasti sedang bercanda kan?” pegangan tangannya melemah pada kertas itu. Meski merasa tak memiliki tenaga apapun, surat itu ia lemparkan. Yoonan tidak percaya dengan apapun yang tertulis di surat itu. Ia tidak akan percaya dengan kebohongan yang menyatakan bahwa sang kekasih kini telah tiada.

“Seohyun meninggal dalam misi yang sedang dijalaninya. Aku menyesal karena harus memberitahukan berita duka ini tapi Agen Seo memang telah meninggal. Jasadnya sudah dikremasi kemarin.” Kepala itu Yoonan gelengkan lemah. Tidak.. ini tidak mungkin terjadi padanya. Tidak pada saat ia sudah siap untuk mempersunting kekasih hatinya itu.

“Apa?” keterkejutannya semakin bertambah dengan informasi yang diberikan oleh bosnya tadi.

“Itu adalah permintaan Seohyun dalam surat wasiatnya. Jika meninggal nanti, dia ingin jasadnya dikremasi. Seohyun ingin abunya ditebar di sungai Han. Dia juga meminta agar kau diberitahu tentang kematiannya setelah semua proses pemakamannya selesai.” Kesedihan itu berusaha ditutupi oleh bosnya namun tidak dengan Yoonan yang jatuh terkulai kembali ke ranjangnya. Untuk sesaat keduanya terdiam, lebih tepatnya Yoonan yang seperti dihantar halilintar dengan berita menyakitkan ini. Seperti sadar dan sudah menemukan kekuatan baru, Yoonan mencoba bangkit dari tidurnya. Ia segera  menarik tangan bosnya itu untuk mendekat padanya.

“Tidak.. Seohyun tidak mungkin melakukan itu padaku. Anda berbohong! Seohyun tidak mungkin meninggalkanku! Dia tidak mungkin melakukan ini!” Kerah kemeja Bosnya itu Yoonan tarik. Dia mencekik sang bos yang segera melepas tekanan Yoonan di lehernya. Mendengar kericuhan di dalam, anggota SJJD lainnya yang sedang berjaga di ruangan Yoonan segera menghampiri ke dalam ruangan. Mereka kaget melihat sang bos yang terlihat kesulitan melepaskan cengkraman Yonan di lehernya.

 

Oppa?” Yoonan masih bergelut dengan kesah dalam tidurnya. Seorang gadis yang baru saja terbangun karena igauan sang kakak yang berteriak dalam tidurnya masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ia kucek kedua matanya agak cepat karena rintihan sang kakak kini semakin menjadi.

Oppa….” Soojung tidak bisa menahan tangisnya melihat kakaknya  terlihat begitu tersiksa dalam tidurnya. Bukan kali pertama Yoonan seperti ini. Sejak kematian wanita yang sudah Soojung anggap sebagai kakak perempuannya sendiri, sang kakak hampir setiap malam selalu mengigau dalam tidurnya, menangis dan merintih berharap kematian kekasihnya hanya sebuah mimpi yang tidak pernah terjadi.

“Sayang.. kenapa kau menangis?” Yoonan yang sudah tersadar dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya itu kini menatap sang adik yang mencoba menutupi tangisnya dalam diam.

“Tidak.. aku hanya bermimpi buruk, Oppa.” Senyum itu berusaha Soojung berikan pada sang kakak yang terlihat begitu memerah muda wajahnya dengan keringat yang membasahi wajahnya, salah satu efek yang diakibatkan dari mimpi buruk itu.

“Ingin Oppa buatkan susu coklat hangat?” dengan kondisinya yang sedikit mengkhawatirkan, Yoonan masih menaruh perhatian yang begitu besar untuk adiknya. Melihat itu hati Soojung rasanya begitu perih. Seandainya Seohyun masih ada, mungkin kakaknya tidak akan mengalami mimpi buruk yang semakin sering terjadi semenjak kematian wanita yang sebenarnya akan dilamar oleh kakaknya 1 tahun yang lalu.

“Euhm..” Soojung anggukan kepalanya.

“Baiklah.. adik Oppa yang cantik ini tunggu disini ya. Susu coklatmu akan segera hadir sebentar lagi!” dengan itu Yoonan segera bergegas menuju dapur apartemennya meninggalkan sang adik yang kembali menangis dalam diam meratapi kesedihan yang menghinggapi kakaknya hingga hari ini.

“Tuhan.. Appa.. Eomma..  Unnie.. tolong bantu Oppa untuk menyembuhkan traumanya.” Rintih Soojung dalam doa penuh tangisnya.

==== Anemone ====

“Kau yakin ingin melakukan ini?” Yuri bertanya lagi pada sang sahabat yang terlihat begitu serius dengan apapun yang akan dilakukannya.

“Apa kau tidak merasakan kejanggalan dari kematian Seohyun? Dia adalah agen terbaik SJJD dan dia mati hanya karena misi kecil yang tidak mungkin bisa membunuhnya, Yul! Apa itu logis?”

“Aku tahu tapi jika SJJD tahu dengan spionase yang kau lakukan, nyawamu dan Soojung taruhannya.”

“Jika terjadi sesuatu padaku, kau pasti akan merawat Soojung. Aku percaya padamu, Yul.”

“Hei apa yang kau bicarakan. Kau semakin tidak waras setelah kematian Seo.”

“Kewarasanku, hatiku, jiwaku bahkan hidupku sudah mati sejak Seohyun pergi, Yul.”

“Park Yoonan! Apa kau gila? Kau masih mempunyai Soojung, aku dan orang lain yang menyayangimu. Kau tidak boleh seperti ini!”

“Lalu aku harus bagaimana Yul? Seohyun sudah tertanam begitu kuat dalam hati dan alam bawah sadarku. Kehilangannya adalah sebuah sakit luar biasa yang begitu menyiksaku. Jika aku tidak melihat Soojung, aku ingin pergi menyusul kekasihku, Yul. Aku ingin bersamanya.”

“Yoonan..”

“Ini menyakitkan Yul.. sangat menyakitkan. Aku lelah, aku ingin menyerah. Aku tidak mau berpura-pura lagi menjadi baik dan kuat. Aku lelah dengan semuanya Yul.”

“Kau tidak boleh lemah seperti ini, kau harus melawan rasa sakit itu Yoon. Aku akan membantumu melakukan penyelidikan ini. Tapi kau harus berjanji padaku bahwa kau akan bertahan dan kuat menghadapi semuanya. Kau harus hidup Park Yoonan!”

 

“Yoon.. ini gila sungguh gila!”

“Ada apa Yul?”

“Coba kau baca ini.” Yuri menyerahkan sebuah berkas yang berisi semua catatan harian Seohyun pada sahabatnya. Ia  menggelengkan kepalanya tiada henti, terkejut dengan kebenaran yang ingin diungkap oleh Seohyun hingga nyawa menjadi taruhannya. Rasanya ia begitu salut pada Seohyun yang berani mencoba untuk mengungkap hal yang bisa membuat seantero Korea guncang. Ini bukan hanya tentang pejabat internal SJJD, melainkan sudah membawa nama pemerintah dan grup-grup korporat serta konglomerat yang bisa dengan mudah menghancurkan siapapun yang mencoba mengusik permainan mereka.

Sudah hampir setahun mereka mencari jurnal itu dan akhirnya pencarian mereka tidak berakhir dengan sia-sia. Meskipun SJJD telah memusnahkan semua berkas-berkas yang berhubungan dengan Seohyun, bahkan kematian agen terbaik mereka pun terkesan ditutupi. Banyak agen lainnya yang berspekulasi tentang penyebab kematian Seohyun karena kasusnya hampir sama dengan salah satu senior mereka yang telah lebih dulu berpulang.

Rumor dan spekulasi itu seketika meredup ketika SJJD mengeluarkan peraturan baru yang akan menghukum siapapun yang menyebarkan rumor tidak jelas tentang kematian salah satu agen yang mereka hormati, Seo Juhyun. Sejak saat itu kehadiran Seohyun akan hanya menjadi angin lalu di kalangan agen-agen lainnya, sama seperti yang dialami oleh Jaehan dulu. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Yoonan dan Yuri yang masih melakukan penyelidikannya tentang kematian Seohyun secara diam-diam.

“Jadi mereka membunuhnya karena hal ini?”

“Yoon…”

“Aku mengerti sekarang kenapa Seohyun begitu gigih memperjuangkan kasus ini. Ini bukan hanya tentang uang tapi ini tentang kehidupan orang banyak. Siapapun mereka yang melakukan ini.. mereka bukan manusia!”

“Kasus ini juga yang coba diinvestigasi oleh Lee Jaehan Sunbaenim kan?” Yoonan menganggukan kepalanya mengingat lagi semua hal yang kini menjadi sebuah puzzle yang tersusun rapi dalam pikirannya.

“Yoon.. apa yang akan kau lakukan setelah mengetahui hal ini?” Yuri kini menjadi khawatir pada sahabatnya. Hal yang baru saja mereka temukan hari ini dapat menjadi pengantar maut untuk menjemput. Kalau SJJD tahu bahwa mereka selama ini menyelidiki kematian Seohyun, maka hanya namalah yang menjadi kehadiran mereka di dunia ini.

“Yul… kau tenang saja, aku tidak akan melibatkanmu dalam hal ini.”

“Yoon apa maksudmu?! Aku tidak takut mati.. aku hanya..”

“Kumohon.. apapun yang terjadi, tolong jaga Soojung untukku.”

“Yoonan! Apa yang akan kau lakukan?”

“Kau tenang saja Yul, aku tahu apa yang akan kulakukan.”

.

.

.

“Hallo Tuan Park!” Choi Yoora, pemilik utama sekaligus pemegang saham terbesar SJJD menyapa pria yang baru saja tiba di ruangannya.

“Apa yang kau inginkan?”

“Wah.. kau to the point sekali ya orangnya! Okay, aku menyukaimu!”

“Kau tidak perlu basa basi denganku.” Mendengar jawaban Yoonan, Yoora membuka layar lebar Artificial Interface-nya. Wanita yang terlihat masih begitu cantik di usia 50 tahunnya itu segera menghidupkan cermin pintarnya. Di layar yang terpampang begitu besar itu terlihat profil seorang wanita yang Yoonan ketahui sebagai pewaris salah satu grup konglomerat yang sangat berpengaruh di Korea Selatan.

cwkq7dlvmaatbnc

“Kau ingin aku apakan wanita itu?” semenjak meninggalnya Seohyun, Yoonan menjadi seorang agen yang terkenal kejam dan tidak memiliki ampun bagi siapapun musuh atau orang yang harus ia bunuh dalam misinya. Ia menjadi salah satu asset SJJD selain Seohyun dan beberapa agen papan atas lainnya.

“Baiklah. Kita langsung pada intinya saja. Aku ingin kau ikut dalam misi ini.” Dari layar itu mulai dikemukakan bagaimana rencana penculikan yang akan dilakukan pada wanita tadi. Yoonan mendengarkan hal itu dengan seksama. Ia tidak tahu mengapa SJJD berani sekali mencoba untuk menculik salah satu orang yang akan menjadi istri orang paling berpengaruh di negaranya.

“Aku tidak mau. Apa kalian ingin cari mati? KTY Grup bisa membunuh kalian semua!”

“Well.. kalau begitu aku tidak mempunyai pilihan lain.” Wajah itu berubah menjadi sedih meskipun tawa jahat itu masih terlihat jelas di wajah Yoora. Layar lebar transparan tadi mengubah tampilannya. Di layar itu terlihat seorang gadis yang masih menangis meskipun bibir dan kedua matanya dibekap kain hitam. Jantung Yoonan seakan berhenti ketika melihat gadis itu.

“Soojung-ah..”

“Kau betul! Dia adalah adikmu tercinta… Park Soojung.”

“Apa yang kau lakukan padanya?”

“Well.. aku hanya sedang menyelamatkannya dari kejamnya dunia. Bukankah akan lebih baik jika adikmu selamat dari buruan orang-orang yang telah membunuh kekasihmu yang selanjutnya akan memburumu?”

“Tunggu.. bagaimana kau…”

“Park Yoonan.. ckckckck… kau pikir kau secerdas itu hingga bisa menyembunyikan semuanya dariku dan cermin ajaibku?” Yoora tertawa lagi, kali ini begitu lepas seperti Yoonan adalah lelucon terbesar dalam hidupnya.

“Seluruh jalur data di negeri ini, baik online maupun offline, SJJD yang mengawasinya. Jadi secerdas apapun kau berusaha mengelabui kami, cerminku akan tahu, kau harus ingat itu.”

“Jadi kalian..”

“Ya! Kau benar sekali! Tadinya aku ingin sekali membunuhmu tapi… mengingat kau adalah salah satu asset terbaik kami, maka aku mengurungkan niatku. Sudah cukup Seo Juhyun dan Lee Jaehan yang mengorbankan nyawa mereka untuk kebodohan yang seharusnya tidak mereka perbuat.”

“Benarkah? Bukankah dengan mengikuti misi ini, aku sama saja dengan membunuh diriku? KTY dan Hwang Grup terkenal dengan keamanan mereka yang super ketat dan terjaga.”

“SJJD bukanlah salah satu perusahaan penyedia jasa keamanan terbaik di dunia jika kami tidak bisa menembus keamanan mereka.”

“Apa maksudmu?”

“Sudah.. aku tidak ingin menjelaskan hal ini lebih jauh. Jika kau tidak mau mengambil misi ini maka ucapkan selamat tinggal pada adikmu tersayang.”

 

“Yoonan.. apa kau yakin dengan keputusanmu ini? Kumohon pikirkan lagi semuanya.”

“Yul.. apapun yang terjadi.. kumohon.. selamatkan adikku. Buat dia bahagia meskipun aku.. mungkin tidak bisa lagi mendampinginya.

“Yoon..”

“Terimakasih untuk semuanya Yul, kau adalah teman terbaikku, sahabatku, saudaraku. Aku percaya padamu. Kutitipkan Soojung padamu.”

.

.

.

c0hhfj3uaaanfs6

Wolf.. apa kau sudah melihat Pheasant?” ramai riuhnya pesta yang berada dihadapan Yoonan tidak mengurangi fokusnya untuk menyelesaikan misinya hari ini. Sejak tadi ia berusaha mengawasi targetnya dengan setenang mungkin tanpa membuat orang-orang disekelilingnya curiga. Tuxedo hitam klasik menjadi sahabatnya dalam misi ini layaknya tokoh agen spionase favorit mendiang kekasihnya, James Bond. Senyum kecil bermain di wajah Yoonan mengingat kenangan akan wanita yang masih begitu dicintainya hingga detik ini. Seandainya Seohyun masih ada, mungkin ia sudah mendapat pelukan yang begitu erat dengan tampilannya saat ini.

Pheasant atau lebih lengkapnya Golden Pheasant adalah salah satu burung terindah yang ada di dunia. Burung itu menjadi nama samaran untuk target operasi mereka malam ini, Stephanie Hwang, atau publik lebih mengenalnya sebagai Tiffany Hwang, salah satu konglomerat yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang diadakan oleh perusahaannya.

Nama Tiffany juga menjadi sorotan publik setelah hubungannya dengan pewaris KTY Grup go public. Tiffany dan kekasihnya itu diisukan menjadi power couple yang akan banyak mempengaruhi perekonomian negara setelah pernikahan mereka berlangsung nanti. Jika KTY dan Hwang Grup bersatu, maka grup konglomerat tersebut akan menjadi grup terkuat yang ada di Korea Selatan, bahkan dunia mengingat pengaruh keduanya dalam perkembangan perekonomian baik di dalam maupun luar negeri.

“Aku baru saja melihatnya berjalan menuju lorong yang ada di dekat taman.”

“Bagus. Ikuti dia dan awasi gerak-geriknya. Kita harus segera mengeksekusi rencana ini. Waktunya tidak banyak lagi. Sebelum kekasihnya datang, kita harus sudah membawanya kalau tidak… kita semua hanya tinggal nama, Wolf.”

“Baiklah, aku akan segera melakukannya, Earl.

.

.

.

Daddy..”

“Sayang.. aku tidak bisa membantumu dalam hal ini. Semuanya..”

“Ya.. aku tahu bahwa semuanya sudah ditetapkan bahkan sejak aku masih dalam kandungan Mommy. Tapi Dad.. tidak bisakah aku berkata tidak untuk yang satu ini? Selama ini aku selalu mengikuti keinginan kalian. Kumohon… untuk kali ini saja, biarkan aku mendapatkan..”

“Steph..”

Dad.. kumohon..”

Daddy tidak bisa, Sayang. Kau tetap harus melakukan ini. Nasib semua orang ada padamu,”

Dad..”

“Sayang.. Sebentar lagi Taeyeon akan tiba. Kau harus segera bersiap.” Dengan itu Anthony Hwang bergegas pergi meninggalkan sang putri yang termenung sendiri mendengar jawaban ayahnya.

c0fcesxviaa1-ar

Yoonan POV

Blues.. kurasa aku benar-benar harus menyerah dengan semuanya.” Suara itu terdengar penuh dengan duka di dalamnya. Entah mengapa hati ini terasa nyeri saat mendengarnya. Kecantikan itu terasa tertutupi dengan emosi lain yang terlukis dari paras cantiknya.

“Aku harus menjadi istrinya. Mungkin memang jalan takdirku untuk menjadi seperti ini. Terkungkung dalam sebuah sangkar emas penuh kenikmatan yang tidak bisa kurasakan sama sekali semua kebahagiaan di dalamnya..” Binatang peliharaannya itu dia elus dengan lembut. Blue Jay itu seakan mengerti dengan kesedihan pemiliknya. Burung cantik itu menyenandungkan suara merdu penuh kesedihan didalamnya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Ada apa denganmu Nona Hwang?

Mengapa kau terlihat begitu sedih?

Bukankah kau harusnya bahagia bisa bersatu dengan pria yang selama ini menjadi pujaan hatimu?

Blues.. terbanglah kemanapun.. sebebas mungkin. Jangan seperti aku.” Desahan itu terlepas dari mulutnya. Sangkar burung itu dia buka. Burung berwarna biru dan putih itu terdiam melihat sang pemilik membukakan sangkar putih megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya. Stephanie kembali mengelus burung itu, memberikan kecupan kecil sebelum membawa sahabatnya itu keluar dari sangkar dan mencoba menerbangkannya namun sang peliharaan tak bergerak sedikitpun.

Bahkan dari kejauhan aku dapat melihat kesedihan di wajahnya.

Kulit putihnya yang mulus seperti susu semakin terlihat bercahaya dengan sinar bulan yang menerangi tubuhnya.

Tangannya yang lembut terlihat begitu nyaman untuk disentuh dan digenggam.

Bibirnya yang lembab dan terawat terlihat begitu merah seperti bunga rose yang menggoda siapapun untuk untuk menyentuhnya, menjamahnya.

Rambut hitam kecoklatannya terurai ke belakang bergelombang yang menutupi punggung indahnya.

Ini bukan kali pertama aku melihat Stephanie Hwang namun secara nyata… dia terlihat bagai seorang malaikat dengan sayap patah yang terperangkap dalam kekosongan dunia.

“Kau tidak mau pergi?” Stephanie berbicara dengan burung itu seakan dia berbicara dengan seorang manusia. Aku tidak tahu mengapa seorang pewaris sepertinya masih dapat meluangkan waktunya berbicara pada seekor burung yang mungkin tidak mengerti maksud ucapannya.

Don’t be sad” burung itu bersuara lagi untuk pertama kalinya.

“Terimakasih Blues, kau memang teman terbaikku. Sekarang pergilah, kejar kebahagiaanmu di alam bebas, buat aku senang. Jika aku tidak bisa, setidaknya kau yang mewakiliku.” Seakan mengerti dengan keinginan pemiliknya, burung itu mulai terbang dengan bebas, meninggalkan sang pemilik yang tersenyum kecil dalam kesenduan yang bermain di wajahnya.

Mom.. aku berharap kau ada disini…” Tangis kecil itu terdengar jelas bagiku.

Stephanie Hwang, mengapa aku ingin mendekatimu?

Mengapa aku ingin menenangkanmu dalam pelukanku?

Entah angin apa yang membuat tubuhku kini berjalan menghampirinya. Semakin dekat dengannya, hati ini rasanya begitu hancur. Apalagi saat melihat butiran kristal itu kini jelas membasahi paras cantiknya. Tatapan matanya masih tertuju ke bawah namun segera memandang kearahku tak kala tangan ini berhasil menyentuh bahunya.

“Siapa kau?” Sorot kesedihan itu berubah menjadi keterkejutan  dan ketakutan. Kedua matanya entah mengapa membuatku merasa sakit dan sembuh secara bersamaan. Kecantikan dan pesona yang diberikan olehnya membuat siapapun bisa terlupa dengan apa yang akan dilakukan.

“Aku…” dalam hitungan detik tubuhnya jatuh kedalam pelukanku. Aku terkejut dan segera mengecek penyebabnya. Rasa panik itu menghampiriku ketika kulihat sebuah anak panah kecil kini sudah tertancap di bahu polosnya. Denyut nadi lehernya segera kuperiksa dan terimakasih Tuhan, dia masih hidup.

“Earl! Apa yang terja..” kata-kata itu belum selesai kuucapkan ketika ledakan mulai terdengar. Tubuhku dan Stephanie terlempar ke samping. Rasanya punggungku begitu panas dan perih namun aku bersyukur karena Stephanie tidak terluka. Otakku segera bekerja mendengar derap langkah mulai mendekati kami. Suara tembakan mulai terdengar. Dari jauh, bisa kulihat beberapa penjaga tempat ini sedang bergelut melawan orang-orang dengan seragam hitam dan senjata lengkap di tangan mereka.

“Cepat temukan Stephanie Hwang! Segera bunuh jika kalian menemukannya!”

Wolf! Cepat bawa Pheasant keluar!” baku tembak juga terdengar dari earphone-ku. Sepertinya teman-teman setimku sedang melawan orang-orang yang sekarang masih bertarung untuk memburu sang pewaris kerajaan bisnis Hwang yang terkulai lemahh dalam pelukanku.

“Tunggu ada apa ini? Bukankah kita hanya akan menculiknya?” dentuman peluru semakin terdengar hebat baik dari earphone-ku atau dari sekelilingku.

“Kau benar. Tadi Wax yang menembak Pheasant pingsan, agar kau mudah membawanya.” Ledakan lain terdengar.

“Lalu.. mengapa ada orang lain yang ingin membunuhnya?” untuk beberapa detik kepala timku tidak menjawab, hanya deru nafasnya yang membalas pertanyaanku.

“Aku tidak tahu siapa mereka tapi sepertinya mereka juga mengincar Pheasant. Cepat pergi sebelum keamanan KTY atau Hwang Grup mengepung kita!” sambungan itu terputus. Aku segera membawa tubuh Stephanie dalam gendonganku meskipun tubuhku masih merasakan rasa panas dan nyeri luar biasa dari luka bakar yang bom itu berikan. Dengan sekuat tenaga kulangkahkan kaki ini dalam langkah cepat.

Tidak.. aku tidak boleh mati sekarang.

Soojung masih membutuhkanku.

Stephanie.. kau juga tidak boleh mati!

Tidak saat berada  dalam genggamanku!

Kau harus hidup, Stephanie Hwang! Jika kau mati dan misi ini gagal maka Soojung.. Tidak!

Aku tidak akan membiarkanmu mati.

Soojung harus hidup!

Harus!

==== Anemone ====

Earl…” panggilku pada Joohyuk yang mencoba menghadapi kekacauan yang semakin menjadi di luar sana. Saat ini aku dan target operasiku sedang berjalan menuju keluar mansion luas dan mewah milik keluarga Hwang yang cukup memusingkan bagi siapapun yang baru pertama kali berada di dalamnya. Kami berada di dalam labirin sebuah taman yang begitu luas. Aku mencoba mengakses peta jalan keluar dalam jam pintarku, masih berusaha membawa sang pewaris keluar dari kekacuan ini.

Wolf.. cepat eksekusi rencana B!” ucapnya dalam satu tarikan nafas yang terdengar berat.

“Tapi kalian…”

“Kami akan baik-baik saja. Ingat! Pheasant harus tiba di nest sebelum jam 4 pagi, itu yang Eagle perintahkan pada kita.” Teriakan dan tembakan menjadi musik pengiring ucapan Joohyuk padaku. Bisa kudengar desah kesakitan yang coba ditahan oleh salah satu temanku itu.

“Earl! Nyawa kalian dalam baha..” sebuah dentuman keras terdengar lagi. Beberapa detik kemudian koneksi terputus. Hanya suara sambungan dari earphone-ku sendiri yang tidak tersambung pada pimpinan misiku kali ini.

Earl…” Bukan pertama kali sambungan ini terputus namun entah mengapa aku tahu kali ini aku tidak akan bisa menghubungi lagi Joohyuk.  Kulirik lagi wanita yang masih tak sadarkan diri dalam gendonganku. Untuk sesaat kaki ini tak mau melangkah. Mataku terpejam memikirkan lagi apa harus kulakukan dengan rencana itu. Masalahnya rencana B terlalu riskan untuk dilakukan, nyawaku dan Stephanie taruhannya. Jika wanita yang masih ada dalam pelukanku ini meninggal, maka Soojung tidak akan selamat. Semua hal kini mulai kukalkulasikan dengan cepat, mencari solusi terbaik dari kekacauan ini.

“Baiklah!” tidak ada lagi pilihan lain, aku harus melakukannya. Gendongan ini semakin kueratkan. Kakiku mulai melangkah  mengikuti apa yang petaku digitalku arahkan. Labirin itu kini menjadi pelindung kami dari semua hal yang bisa membunuh kami. Dari kejauhan kegaduhan itu terdengar. Ledakan, tembakan serta teriakan orang-orang seperti menjadi musik pengiring dalam setiap langkahku yang setiap detik kupercepat meski luka ini memincangku.

.

.

.

“Ah..” Nafas itu masih berusaha kuatur. Kami kini sudah berada di dalam mobil sedan hitam yang terparkir di sisi barat pintu keluar Hwang Mansion. Setelah berhasil menghabisi beberapa penjaga, akhirnya aku tiba di titik lain yang akan membantuku menyelesaikan misi bodoh ini. Apa yang sebenarnya SJJD pikirkan? Apa mereka ingin membunuh agen-agennya dengan mengirimkan kami pada kandang singa? Jika Yoora ingin membunuhku, dia tidak perlu mengorbankan Joohyuk dan lainnya. Rasanya aku ingin segera menyelesaikan misi ini dan membunuh Yoora dengan kedua tanganku.

“Euh…” rintihan itu mengalihkan perhatianku dari kekesalanku. Benar! Tidak seharusnya aku membuang setiap detik untuk hal bodoh ini. Aku harus segera membawanya ke nest. Mesin mobil segera kunyalakan dan perlahan kami segera pergi dari kekacauan ini.

“Ah.. si.. si..apa.. k..k..kau?” dengan suara kecilnya yang lemah dan serak wanita yang menjadi tawananku kini berbicara. Pertanyaan itu tak kujawab karena perhatianku segera teralih pada dua mobil hitam serta motor besar yang mengikutiku dari belakang. Kecepatan mobil segera kutambah karena mereka semakin mencoba mendekat.

“Hei.. jawab pert..” ucapannya terpotong karena aku segera menundukan kepalanya ke samping kanan, membuat peluru itu tak berhasil menembus kepalanya, hanya melubangi kaca mobil yang kami kendarai. Kulihat wajahnya yang terlihat begitu terkejut melihat peluru lain yang melubangi bagian lain dari kaca depan mobil yang kami tempati.

“Ap..p..pa yang sebenarnya terjadi?” ketakutan itu terdengar jelas sekali dari nada bicaranya meskipun aku tidak melihat ekspresi wajahnya secara jelas karena seluruh perhatianku hanya tertuju pada jalanan. Kubantingkan stir mobil ke kanan, membuat 1 mobil dan sepeda motor yang mengejar kami terkecoh menabrak pembatas jalan meskipun yang lain masih berhasil mengikuti.

“Berpeganganlah yang kuat.” Hanya itu yang bisa kukatakan padanya yang menatapku dengan ketakukan dan kebingungan yang masih menjadi keindahan dalam wajahnya. Kugelengkan kepala ini pelan. Yoonan, tidak seharusnya kau berpikir seperti itu saat ini. Fokusku segera kembali tak kala kulihat motor hitam yang mengejar kami semakin mendekat. Aku  sudah menginjak pedal rem namun kecepatan mobil tidak berkurang. Jarum di speedometer malah semakin naik, mengindikasikan kecepatan semakin bertambah.

Tunggu!

Apa yang sebenarnya terjadi?

Kulirik kebelakang dan motor itu semakin mendekat. Bisa kulihat pria yang duduk di kursi belakang motor itu sedang mengotak-atik sesuatu di tabletnya.

Ah! Sepertinya aku tahu kenapa!

Segera kutancapkan pedal gas. Semakin kupercepat laju mobil ini agar si brengsek tadi tidak bisa mengatur laju kendaraanku lewat tabletnya. Untuk beberapa waktu kami berhasil menjauh dari dari kejaran mobil dan motor itu. Mobil ini melesat begitu cepat layaknya sebuah jet udara. Kulirik ke samping kiri dan masih kulihat ketakutan serta kebingungan itu masih menghiasi parasnya, malah semakin bertambah dibanding yang tadi.

“Tenanglah.. kita akan sela..” kemudi setirku goyah ketika ban belakangku pecah dan detik berikutnya mobil ini berguling menuju sebuah jurang yang mungkin akan menjadi akhir hidup kami.

.

.

.

Pearl.. bagaimana dengan Wolf?” seorang wanita yang baru memasuki ruang kerjanya segera duduk dan mengambil sesuatu di meja kerjanya.

“Kami berhasil membereskannya. Semua jejak telah dihilangkan.”

“Bagus, kalian mengerjakannya dengan baik. Aku akan segera menghabisi adiknya setelah ini.”

“Tapi Nyonya.. bukankah lebih baik Anda menepati janji Anda dengan melepas adiknya?”

“Mengapa aku harus melakukan itu? Lagipula Wolf  sudah pergi menyusul kekasihnya yang sama bodohnya dengannya.”

“Nyonya.. tadi pagi aku menerima ini.” Pria dengan kulit sawo matangnya itu segera memperlihatkan sebuah video di tabletnya.

“Tidak.. ini tidak mungkin terjadi. Dia pasti hanya bercanda denganku!” Yoora tertawa membaca email yang Yoonan tuliskan padanya.

“Saya juga mengira begitu tapi.. coba lihatlah ini Nyonya.” Pria yang diam-diam menjadi tangan kanannya itu segera memperlihatkan sebuah file yang berisi semua dokumen serta bukti lainnya tentang kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh SJJD, beberapa oknum pejabat di pemerintahan serta pengusaha-pengusaha kaya yang selama ini berusaha ditutupi oleh SJJD sebagai lembaga keamanan yang melindungi semua kebobrokan mereka.

Dalam surat elektroniknya, Yoonan mengancam akan membeberkan semua rahasia mereka ke publik jika Soojung mereka bunuh. Meskipun Yoonan mungkin telah tiada, tapi dia masih mempunyai orang-orang yang mengawasi gerak gerik Yoora beserta SJJD. Yoonan mengancam akan membeberkan satu persatu kebusukan SJJD dan kroninya jika mereka berani menyakiti adiknya.

“Tidak! Bagaimana dia bisa..” ucapan Yoora terhenti ketika telepon genggamnya berdering. Ia segera melihat isi dari pesan yang baru masuk ke alat pribadinya itu. Matanya terbelalak tak kala membaca isi dari pesan itu.

“BAGAIMANA BISA NONA HWANG HILANG? KAU TAHU.. DIA ADALAH PEWARIS HWANG GROUP! CALON ISTRI KIM TAEYEON, PRIA YANG BISA MELENYAPKAN SJJD HANYA DALAM SATU JENTIKAN JARINYA!”

“Nyonya.. masalah itu.. kami..”

“KAMI APA??? JELASKAN PADAKU TENTANG KEKACAUAN INI! SEKARANG!!!”

.

.

.

“Oppa..”

“Kau baik-baik saja kan Soojung-ah?”

“Dimana Oppa?”

“Euhm.. masalah itu.. aku..”

“Yul.. semua yang kau perkirakan selama ini benar.” 

“Apa maksudmu?”

“Yoora.. wanita iblis itu.. dia memintaku untuk ikut dalam misi penculikan Stephanie Hwang. Jika aku tidak ikut, maka Soojung akan dibunuh olehnya.”

“Apa? Menculik pewaris Hwang Group? Dia dalah calon istri Kim Taeyeon, Yoon. Itu sama saja dengan membunuhmu secara tidak langsung.”

“Itu yang kukatakan padanya. Ini adalah misi bunuh diri, lebih tepatnya membunuhku.”

“Lalu.. apa yang akan kau lakukan?”

“Yul.. apa kau bisa membantuku?” dengan itu Yoonan mulai memperlihatkan draft dari rencana yang telah disusunnya. Yuri membacanya dengan seksama. Beberapa kali alisnya naik membaca tulisan yang ada di aplikasi pengolah kata milik sahabatnya itu.

“Kau.. yakin ingin melakukan ini? Yoora dan SJJD mempunyai sumber informasi yang banyak di seluruh negeri ini. Apa kau bisa mengelabui mereka?”

“Karena itulah aku membutuhkan bantuanmu Yul. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa membantuku melaksaknakan rencanaku.”

“Aku..”

“Yuri-ah.. kumohon bantulah aku, bantu Soojung.”

“Baiklah. Tapi kau harus berjanji satuhal padaku. Apapun yang terjadi nanti, tetaplah bertahan hidup dan segera hubungi kami!”

 

“Yoonan Oppa.. dia melakukan hal itu?”

“Sayang, Oppa-mu ingin kau tetap hidup. Dia begitu menyayangimu hingga dia mau melakukan semua ini, bahkan mengorbankan nyawanya sekalipun.”

“Tapi Yuri Oppa.. aku tidak tahu apakah kakakku saat ini masih hidup atau tidak. Apalagi tadi aku mendengar bahwa Oppa sudah meninggal dan jasadnya sudah dikremasi.”

“Soojung-ah..  kau harus bersabar Sayang. Aku percaya bahwa kakakmu masih hidup. Dia tidak selemah itu. Kau harus yakin itu.”

“Tapi Oppa.. aku takut. Bagaimana jika..”

“Sayang, kau harus percaya bahwa Tuhan akan melindungi kakakmu dimanapun dia berada saat ini, baik di dunia atau mungkin… di akhirat.” kata terakhir yang Yuri ucapkan itu, biar hanya Yuri yang mendengarnya karena ia sendiri sejujurnya takut bahwa sahabatnya itu benar-benar telah meninggal seperti yang telah SJJD umumkan pagi ini.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Author Note:

Hi

454545

Anemone adalah sebuah cerita yang aku tulis idenya ketika aku mendengarkan OST The K2 yg judulnya sama juga, Anemone. Aku dengernya malem-malem dan lagi galau gitu hahaha. Suka bgt sama lagu ini terutama yg versi cowonya, nyesss bgt di hati pas dengerin.

Setelah itu aku coba cari arti liriknya dan terciptalah ide yg menggebu aku untuk bikin cerita ini. Belum lagi aku emang abis baca ff sedih menguras air  mata. Jadi ajaaaa… hahahaha.

Untuk lebih detailnya.. kaliah bisa lihat dibawah ini tentang hal apa aja yg menginspirasi aku untuk bikin ff imajinasi gila ini.

  1. FF The Birth Of Devil punya Euniel. Beliau adalah salah satu penulis ff taeny kesayangan aku ^_^ kalau kalian mau cek ceritanya, silakan di AFF ada kok dan dia sudah sangat famous. Makanya kalau ada yg baca dan ngerasa itu mirip, jgn heran. Knp? Karna aku emg ambil ide awal dari ff dia yg itu tapi pengerjaannya ya aku ubah pake cara aku sendiri. Bahkan pairingnya pun beda kan.
  2. The K2. Pasti tahu drama Yoona yg satu ini kan? yg ada akang Chang Wooknya hahaha. Nah ada beberapa scene yg aku ambil dari drama itu tapi ga jiplak bgt sih. Aku masih tahu diri wkwkwkw. Ya sebisa mungkin pake gaya akulah nulisnya. Bahkan kalian tahu, selama bikin Anemone ini, aku selalu dengerin OST The K2 untuk dapet feel ketika nulis. Terutama yg judulnya sama seperti ff ini, ANEMONE male version.
  3. Sebelum aku publish ini, sudah ada beberapa pembaca yg berbaik hati untuk mereview draft yg dari kemarin aku password. Jadi yg tertulis sekarang adalah hasil editannya.
  4. Seperti biasa dalam setiap ff aku kita akan bermain Present-Past-Present. Jadi kalian harus fokus bacanya.
  5. Chapter ini sengaja ga aku gembok. Kenapa? karna ini hanya chapt perkenalan aja. Next chapt sampai finalnya akan aku gembok karena aku bikin 2 versi jadi biar pembaca ga tumpang tindih bacanya. Lagian syarat dapet wp dari aku gampang kok. Kalian cukup kirim email aja ke aku, gausah nebak ini itu yg bikin pusing kepala.
  6. Kenapa aku bikin 2 versi? simple sih, aku pengen semua selera bisa baca aja. Meskipun jujur versi awal dari anemone sendiri adalah Yoonfany. Aku harap yg baca Taeny bisa dapet feelnya juga ya. Aku kan penulis Couple Selingkuhan rasa Taeny 😛
  7. Alurnya sengaja aku buat cepat karna aku tidak berencana membuat Anemone menjadi series yg bisa sampai puluhan chapter. NO! hahaha.

udah segitu aja ah cuap-cuapnya.

Sampai jumpa di chapter gembokan selanjutnya 🙂

c2wujbuvqaal8wn

Iklan

63 pemikiran pada “Anemone 1.1 – Park Yoonan

  1. hufft pnjg bgt thor,..
    gw kira awal ny udh yoonfany (ngarep) hehe
    ehh ada seohyun trnyata,,
    kasian soojung ditinggal oppany.. tenang soojung ad yul oppa yg menemani,
    si yoong niat nyulik malah terpesona sm tiffany hwang,, haha,,.
    gw krg nge feel thor ,, mgkn krn lum bnyk moment yoonfany ny kali ya,, mdh2 an next chap seru dgn imajinasi lu yg slalu keren,,

  2. Crita ya seru apalagi kejaran mobil kyak action the k2 gak nyangka yoong lngsung terpesona dgn Fany . Fany yg merupakan pewaris Hwang group tdak menyukai pertunangan kty group smoga Yong dan Fany selamat sdih jga lhat yoong yg trauma krna kepergian Seohyun …
    Yoog yg brusaha merencanakan ingin menjatuhkan sjjd yg pda akhir ya di ketahui Choi yoora….memang nasib yoong yg penuh cobaan gak sabar nggu cerita selanjutnya……..

  3. Annyeong author-nim 🙂 aku readers baru ^^ lgi cari” ff Yoona malah nemu ini pas baca ahh keren thor (y) genre action ples pairing nya YoonFany my OTPig hehe 😀 duh smoga YoonFany baik”aja kasian Soojung ditinggal bareng Yul 😦 ditunggu chapter selanjutnya author 🙂 fighting!!

  4. Finally, part 1 complete juga. Lebih jelas dan ending nya lebih detail, dan pertanyaan-pertanyaan yang kemaren masih bersarang diotakku akhirnya terjawab sudah. Aku suka gimana kamu mendeskripsikan dan Menggambarkan setiap scenennya, aku suka scene yg kejar-kejaran dan pas di hwang resident, kamu menggambarkannya dengan bahasa yang baik, enak dibaca dan jelas, jadi langsung kebayang deh adegannya kaya gimana. Walaupun yg scene kejar kejaran udah cukup dibantusama scene asli yg di k2. itu ajasih dari aku. pokoknya intinya aku suka sama ceritanya, sama alurnya,sama cast nya, sama authornya *eh wkwkwkkw semangat terus ya risma 🙂 semangat berkarya dan berimajinasi. Aku tunggu cerita selanjutnya 🙂 much loveeeeeeeee~~~~~~

  5. Hai author. 👋 akhirnya bisa baca ff mu thor hehe ini action ya agen2 gtu wuiih keren haha penuh intrik, trus bakalan pake alat2 canggih, ku suka 👍
    kira2 rencana Yoon apa ya, penasaran😁
    SJJD langsung percaya kalo wolf udh mati gtu thor? tapi kan cuma jatuh kejurang mobilnya. Pasti mayatnya atau bangke mobilnya bakalan keliatan dong ya ato mungkin agen lain ada yg kerja sama yoon buat manipulasi kematiannya. SJJD pasti ga seceroboh itu ngga meriksa mobilnya ato paling tidak liat jasadnya klo beneran udh meninggal. Kutunggu chapter selanjutnya thor. bergembok ya? duh. semangat ya thor nulis ff actionnya karena nulis ginian lebih susah daripada nulis romance. 💪 tp thor Yoon kan agen tangguh ya masa cuma kena tembakan dibahu langsung tumbang atau itu pake bius. 😱.

    pokoknya semangat terus buat author 😁 ffnya bagus. 👌

  6. Thor Yang kamu lakukan itu jahat hahaha just kidding thor, entah knp otak gue buntu kalo soal action gitu apalagi Ada unsure bales dendamnya wkwkwk suka sedih gitu kalo Ada yg meniggal dari salah satunya. Tapi overall aku suka sih tapi yooranya dimatiin bisa gak thor sungguh jahat dia

  7. anyeong kakak author😀 aku readers baru, aku suka krya kakak cra pnulisannya kren 👍 di tnggu chapter brikutnya kak, Faighting✊

  8. Kenapa baca ini jdi flashback k2 ya? Duh fany disini kesian bgt jdi kek tahanan yg gabisa bebas. Yoong jg kesian gegara hyunie jd sering mimpi buruk. Smoga pertemuan mereka bisa membawa kebahagiaan utk mereka. Duh ini harapan gua knapa jadi kek harapan utk manusia padahal ini cuman fiksi. Yosh ditunggu chapttr selanjutnya

  9. Jadi nostalgila baca ini dg filmnya the k2 film yg gw blum bisa move on dr film ntu hhhhh untung udah gw donlod filmnya jadi bebas ngeluarin rindu gw ama kopel bang bang 1 itu walo nangis sendiri ngeliat adegam mereka yg ciuman huwaaaa 😭
    Penasaran kenapa hyunnie bisa metong n bikin yoong jadi menderita karna ditinggal ama doi

  10. uwaaahhhh luar warbiyasaaaa, seperti adrenaline aja. bikin tegang dan sangat menantang, pas pertama baca di kira karakter seohyun maksa banget. eh pas kesini ternyata seperti itu 😂

    masih penasaran sama kondisi YoonFany, mereka ke jurang apa stay di kepung?. sesuai trailer waktu itu, benar benar perjuangan. daebaaakkkkk aku suka ka, apa ini udh di next?

  11. Ping balik: Password Anemone 1.2 Kim Taeyeon & Park Yoonan | Be Different

  12. Ping balik: Anemone 1.3 – Park Yoonan | Be Different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s