Love Itself Chapter 17

abvsu6xr

-Nagasaki, Japan, 19 Maret 2014-

“Soo apa kau yakin akan ikut denganku?Aku tak mau merepotkanmu terus.”

“Aku yakin Jess… Tenanglah, kau tidak perlu tak enak begitu. Lagipula kepindahanku ke Korea juga atas kehendakku sendiri. Oh iya, apa aku sudah memberitahumu bahwa 2 bulan lagi aku dan Yuri akan menikah? Yuri sudah memutuskan untuk menetap di Chongdamdong setelah bulan madu kami nanti di Maldives.”

“Benarkah? Selamat Soo! Yuri pasti sangat beruntung memilikimu.” Jessica berucap memeluk pria tinggi itu.

“Haha.. terimakasih Jess. Aku harap di pernikahanku nanti Taeyeon bisa sadar dan menjadi pendampingku. Oh maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih.” Sooyoung segera meminta maaf setelah menyadari ekspresi gadis dihadapannya itu berubah.

“Tidak apa-apa, Soo. Aku sudah berjanji pada Taengoo bahwa aku akan menjadi kuat untuknya, untik kami.” Jessica segera mengulaskan senyumnya, berharap pria di hadapannya percaya padanya.

“Baiklah. Tapi.. jika kau ingin menangis, aku akan selalu disini untukmu, Jess. Terkadang kita harus mengeluarkan kesedihan yang mengganggu kita. Tidak baik jika kita memendamnya sendiri. Namun aku senang karena kau selalu kuat Jess. Taeyeon beruntung sekali  memilikimu sebagai kekasihnya.” Kata itu terucap penuh dengan kekaguman didalamnya.

‘Meskipun aku tahu bahwa Taeyeon masih mencintai Tiffany…Berjuanglah Jess!’ ucap Sooyoung dalam hatinya kembali menatap Jessica yang kini tengah memegang tangan Taeyeon yang masih tertidur lelap dalam komanya, mungkin itulah yang dipikirkan semua orang.

=== Love Itself ====

 “Selamat datang Nona Im…” Seorang dokter kini menyambut Jessica yang telah tiba di ruangan VVIP Daegum Health Center, salah satu rumah sakit terbaik di Korea Selatan.

“Selamat sore Dokter Jung..Apa kabar? Saya sungguh senang Anda mau menangani kekasih saya.” Jessica membungkuk, memberi salam pada Jung Jae Wook, direktur sekaligus dokter spesialis di rumah sakit Daegum.

“Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda? Saya harap Anda tabah dengan keadaan kekasih Anda. Saya yakin masih ada harapan..” Dokter Jung kini mendekati Taeyeon, mulai melakukan pemeriksaan pada pria yang masih setia dalam tidurnya.

“Dokter…bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ada perkembangan bagus?”

“Detak jantung dan tanda vital lainnya sudah cukup baik untuk pasien seperti ini. Hanya saja untuk  mengetahui kondisi cedera otaknya, kami perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi dapat saya simpulkan bahwa kekasih Anda sudah ada dalam keadaan yang baik. Kita hanya harus menunggu kapan ia akan sadar dan itu memang memerlukan waktu yang tak sebentar. Tapi Anda tenang saja, kami akan mengusahakan yang terbaik…”

“Terima kasih Dokter..” Jessica tersenyum tenang mendengar  kata-kata dari Dokter Jung.

      Tak beberapa lama,  Donggun dan Jaekyung kini memasuki ruangan itu. Mereka kemudian menyapa sahabat lama mereka, Dokter Jung. Lalu setelah berbincang sedikit, Dokter Jung pamit untuk menyiapkan pemeriksaan lebih lanjut yang akan dilakukan pada Taeyeon. Kini Donggun dan Jaekyung mendekati Jessica yang masih duduk memegangi tangan kekasihnya.

“Mengapa kau tak bilang dari awal Sayang?” Jaekyung kini duduk di samping putrinya, disusul Donggun yang memegang bahu sang istri.

“Ibumu benar …mungkin Taeyeon akan mendapat perawatan yang lebih baik jika kau segera membawanya kesini.” Ucap Donggun begitu lembut pada putrinya itu.

“Maafkan aku Father..Mother..tapi di Nagasaki, Taeyeon juga sudah mendapatkan perawatan terbaik dari rumah sakit tempat Sooyoung bekerja. Lagipula aku juga tidak ingin menambah beban pikiran kalian karena mengetahui kekasihku jdalam keadaan yang sama seperti Yoong. Saat itu kondisi Taeyeon masih tidak memungkinkan untuk dipindahkan ke rumah sakit lain, apalagi di Seoul. Tapi kini keadaannya sudah cukup membaik.” Jessica berusaha untuk tersenyum menatap Taeyeon yang masih tertidur dalam komanya. Perlahan ia mengelus pipi dan dahi kekasihnya itu, membuat kedua orangtuanya menatapnya dengan tatapan sedih dan iba.

“Jess..apa kau yakin kau mau menangani perusahaan sekarang? Father bisa  membatalkan semuanya jika kau ingin disini, menemani Taeyeon hingga ia sadar nanti.” Ucap Donggun mengelus lembut bahu putrinya.

“Tidak father, kau tak usah melakukan itu…Lagipula ini juga sudah waktunya aku membantu kalian, apalagi Yoong masih belum bisa menempati jabatannya dengan kondisinya yang seperti itu. Izinkan aku membantu kalian, mungkin jika aku bisa lebih sibuk, aku takkan terlalu tersiksa menunggu hingga Taeyeon bangun nanti. Aku juga  yakin, Taeyeon ingin aku lebih produktif lagi, aku harus kuat untuknya Father, untuk masa depan kami.” Kini Jessica mengecup tangan Taeyeon, membuat pria itu meneteskan air matanya.

‘Mengapa kau menangis, Taengoo? Apa kau merasakan kesedihan ini?’ Ucap Jessica dalam hatinya, menghapus air mata Taeyeon dengan sapu tangan kesayangannya.

=== Love Itself ====

-Im Mansion, Gangnam-Gu, 27 Maret 2014-

“Sayang…kau ingin sarapan apa? Atau harus kubuatkan bubur lagi?” Tiffany kini bertanya pada Taeyeon yang berada dalam tubuh suaminya. Sudah 1 minggu lebih mereka tinggal di Im Mansion atas permintaan Jaekyung yang memaksa keduanya untuk tinggal kembali di Im Mansion dengan alasan karena ia dan Donggun begitu merindukan Yoong. Tiffany juga masih mengambil cuti dari kuliahnya untuk merawat sang suami yang masih dalam masa penyembuhan.

      Mereka kini tengah berada di kamar yang Yoong tempati sebelum mereka menikah, karena setelah menikah, Yoong dan Tiffany kini tinggal di Penthouse yang tak cukup jauh dari pusat kota Seoul. Sebenarnya Penthouse itu adalah hadiah pernikahan Yoong untuk Tiffany yang ia bangun untuk galery pribadi sang istri, tapi gadis itu memaksa suaminya untuk menempati Penthouse yang sengaja Yoong desain sendiri itu setelah mereka pulang dari bulan madu mereka di Bali dan Venesia.

“Ak..ak..aku tak ingin memakan bubur lagi. Bisakah kau buatkan aku makanan kesukaanku?” Ucap Taeyeon memberikan istri sahabatnya itu wajah imut menggemaskannya yang sukses membuat Tiffany mengecup bibirnya singkat. Sebenarnya tadi dini hari ia terbangun dan melihat Tiffany yang sedang menyiapkan makanan favorit Yoong.  Maka dari itu ia meminta Tiffany menyiapkan makanan itu untuk sarapannya.

“Baiklah..tunggu sebentar ya!” Tiffany mengedipkan matanya lalu berlari meninggalkan ruangan mereka menuju dapur yang ada di lantai 1.

“Oh Tuhan…bagaimana ini? Aku tidak bisa selamanya membohongi Fany..Tapi kami..” Ucapan Taeyeon terhenti saat mengingat kembali peristiwa beberapa hari yang lalu dengan rasa bersalah yang kini selalu hinggap di hatinya.

“Hei…kemana kau pergi? Mengapa kau meninggalkanku dalam kebingungan seperti ini!! Bukankah kau seharusnya membantuku dari kebingungan ini?!!…..” Taeyeon berteriak berharap malaikat penolongnya itu tiba-tiba hadir di hadapannya.

 

“Sayang..akhirnya aku menemukanmu!” Taeyeon menghentikan teriakannya saat Tiffany kini telah memeluknya dari belakang begitu erat.

 

“Fany-ah…” Tubuh Taeyeon seketika melemah saat ia menerima pelukan itu

 

“Kau sedang apa disini??Aku sudah mencarimu kemana-mana,  setelah melihat kamera CCTV akhirnya aku….” Ucapan Tiffany terhenti saat Taeyeon melepaskan tangan Tiffany yang mendekap dadanya, melepaskan pelukan yang hangat itu, membalikkan badannya sehingga kini ia berhadapan dengan Tiffany yang menatapnya heran. Ia menatap  wajah Tiffany dengan seksama, melihat lebih detail wajah indah itu, wajah yang selama ini selalu ia impikan.

       Semua peristiwa yang tadi ia alami dengan MiKyung kini kembali berputar di otaknya.  Secara perlahan ia mengelus dahi, mata, hidung, pipi hingga puncaknya bibir  milik Tiffany. Taeyeon mendekatkan wajahnya dengan Tiffany hingga wanita itu bisa merasakan hangatnya nafas Taeyeon di bibirnya. Kini Tiffany mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya, membuat tubuhnya dan Taeyeon  bersatu, merasakan kehangatan  di seluruh tubuh mereka.

 

“Aku Mencintaimu Fany-ah…” setelah mengucapkan kata-kata itu, Taeyeon kemudian mencium Tiffany dengan lembut, mencurahkan seluruh rasa yang telah ia simpan selama ini. Ciuman itu disambut Tiffany dengan memegang dan menarik belakang  kepala Taeyeon, membuat ciuman itu semakin dalam. Intimate action itu terhenti saat Tiffany menyadari bahwa suaminya terlihat sesak.

 

“Terimakasih Fany-ah, kau luar biasa….” Ucapan Taeyeon terhenti saat Tiffany meletakkan jari telunjuknya di bibir Taeyeon.

 

“Kau juga luar biasa Sayang… aku mencintaimu, Yoong….” Senyuman di wajah Taeyeon seketika memudar saat mendengar kata-kata terakhir Tiffany, membuat hatinya merasakan kembali perih yang luar biasa.

“Sayang…sarapannya sudah siap! Ayo kita turun ke bawah..” Pikiran Taeyeon terhenti saat Tiffany kini menarik dirinya menuju ruang makan di lantai 1 mansion mewah yang kini mereka huni.

“Ayo..makan yang banyak ya!! Supaya proses pemulihanmu bisa lebih cepat.” Tiffany tersenyum sambil memberikan semangkuk Miso Soup dan Sup daging sapi ginseng favorit suaminya itu.

“Ya..Terima kasih Fany-ah..Selamat makan.” Taeyeon berusaha menunjukkan senyumnya lalu mulai memakan makanan yang diberikan Tiffany padanya perlahan, mencoba membangun selera makannya yang hilang sejak ia terjebak di tubuh Yoong.

      Tiffany tersenyum melihat Yoong yang menurutnya mulai kembali seperti biasa, memakan masakan yang sebenarnya telah ia siapkan dini hari bersama ibu mertuanya. Ia bersyukur pada Tuhan karena telah menjawab doa-doanya, menyembuhkan kembali suaminya. Tapi senyumannya kini memudar saat ia merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya. Ia kemudian meminum jus pear yang ada di meja makan, mencoba mengurangi rasa pusing itu. Taeyeon yang menyadari kondisi ini segera mendekati Tiffany.

“Kau sakit?” Taeyeon kini memegangi tubuh Tiffany yang terlihat sedikit pucat.

“Haha..tidak. Ini hanya sakit kepala biasa kok…ini mungkin efek dari pil kontrasepsi yang selalu kukonsumsi sejak 2 bulan kemarin, Sayang…kau tak usah khawatir. Lebih baik kau habiskan makananmu…aku sengaja membuatkannya untukmu dengan cinta..” Tiffany kini mengelus tangan Yoong yang berada di pinggangnya.

      Kekhawatiran Taeyeon sedikit berkurang mendengar jawaban Tiffany tadi. Kini ia kembali ke kursinya, mencoba menghabiskan masakan Tiffany yang diberikan padanya. Sementara itu Tiffany kini merasakan pusing dan mual yang luar biasa. Ia berpura-pura ingin menelepon Seohyun pada suaminya itu, padahal sebenarnya ia berlari menuju Toilet khusus pembantu yang terletak cukup  jauh dari ruang makan tempat Yoong berada. Ia tak mau suaminya itu terlalu khawatir padanya dan akhirnya stress. Apalagi Dr.Han telah mengingatkan dirinya untuk selalu membuat suaminya relaks, karena jika Yoong terkena depressi maka efek samping dari racun yang menyerang tubuhnya bisa kembali aktif dan tentunya itu akan sangat membahayakan nyawa Yoong. Kini ia telah memuntahkan sarapannya yang baru ia makan sedikit. Ia mencuci mulutnya lalu menatap refleksinya di cermin. Ia melihat wajahnya yang cukup pucat.

“Mengapa aku bisa mual dan pusing seperti ini? Apa aku salah makan ya kemarin?” Ucapan Tiffany terhenti saat rasa mual itu kembali datang. Kini ia memuntahkan lagi cairan dari  tubuhnya. Paman Kang yang sedang berjalan melewati toilet bisa mendengar suara muntahan Tiffany. Kemudian ia mengetuk pintu toilet itu, terkejut saat Tiffanylah yang membukanya.

“Nyonya Muda…Maafkan saya…saya tidak tahu bahwa Anda yang berada di dalam.” paman Kang menundukkan kepalanya, meminta maaf pada Tiffany yang kini tersenyum padanya.

“It’s okay Paman Kang dan tolong panggil saja saya Tiffany…” Tiffany tersenyum pada pelayan setia Keluarga Im itu.

“Maafkan saya jika lancang, tapi mengapa Anda berada di toilet ini?”

“Oh itu karena tadi saya merasa sedikit mual dan pusing. Yoong sedang sarapan di ruang makan, maka saya memutuskan untuk pergi ke toilet ini.” Paman Kang mengangguk mendengar penjelasan Tiffany. Tapi tiba-tiba ia terpikir sesuatu yang membuatnya tersenyum sendiri.

“Mengapa Paman  tiba-tiba tersenyum?” Tiffany menatap Paman Kang heran, tapi sebelum pelayan itu menjawabnya, Tiffany kini berlari lagi menuju toilet.

“Mungkinkah dia..ahh lebih baik aku kabarkan ini pada  Nyonya Jaekyung. Nyonya pasti akan senang jika ternyata prediksiku benar…” Paman Kang kemudian berjalan menjauhi toilet tempat Tiffany berada. Kemudian ia menghubungi majikan yang sudah ia anggap sebagai anak yang selama ini ia tak miliki. Setelah beberapa detik menunggu akhirnya Jaekyung mengangkat teleponnya.

“Selamat siang Paman…ada apa?” Jaekyung menjawab panggilan pelayan favoritnya itu dengan lembut. Ia sudah menganggap Paman Kang sebagai anggota keluarganya sendiri.

“Nyonya…sepertinya Anda harus segera membawa Nona Tiffany ke rumah sakit.”

“Memang ada apa dengan menantuku Paman? Apa ia sakit? Bagaimana keadaannya sekarang? Mengapa tidak kau saja yang membawanya sekarang? Apa Yoong tahu tentang kondisinya?” Ucapan Jaekyung begitu cepat sehingga Paman Kang tertawa kecil.

“Mengapa Paman tertawa?”

“Ahh tidak…Nona Tiffany baik-baik saja. Hanya saja tadi saya melihat beliau muntah-muntah di toilet khusus pembantu. Saya mengira Nona Tiffany sedang..”

“Baiklah… Aku mengerti maksudmu paman. Paman..bisakah kau antarkan Tiffany menuju Daegum Health Center jam 9.00 nanti?” Jaekyung tersenyum dalam hatinya setelah mendengar ucapan Paman Kang.

“Tentu saja Nona…Tapi lebih baik anda menghubungi Nona Tiffany setelah telepon saya ini.”

“Ok Paman..Baiklah aku tunggu disana ya..Selamat siang Paman..”

“Selamat Siang Nona..” Lalu Paman Kang menutup teleponnya, berjalan menuju toilet yang Tiffany tempati tadi. Sepertinya gadis itu masih sibuk memuntahkan isi perutnya membuat Paman Kang segera berlari menuju Dapur, membuatkan teh tawar untuk Tiffany.

=== Love Itself ====

“Mother mengapa kita harus bertemu disini? Memangnya siapa yang sakit?” Ucapan Tiffany terhenti saat seorang wanita seusia ibunya memasuki ruangan yang ia tempati dengan jas putih khas seorang dokter.

“Selamat Pagi Jaekyung dan..Tiffany?” Wanita itu tersenyum menyapa Jaekyung yang kini sudah memeluknya. Tiffany heran melihat ibu mertuanya itu, memeluk begitu saja orang yang baru mereka kenal.

“Wah..sudah cukup lama ya kita tidak bertemu Min’ah..” Ucap Jaekyung melepas pelukannya.

“Tiff..perkenalkan, ini adalah Jung Min’ah, salah satu dokter terbaik di Korea Selatan. Ia adalah teman Mother saat kami masih bersekolah di Kanada dahulu, jauh sebelum Mother bertemu dengan Father.”

“Saya Jung Min’ah, senang bisa bertemu dengan Anda.” Min’ah kini menjabat tangan Tiffany.

“Senang bisa bertemu dengan Anda Nyonya Jung” Tiffany kini menyapa Min’ah dengan senyum bulan sabitnya membuat Min’ah kembali tersenyum padanya. Kini mereka semua sudah duduk di meja kerja Min’ah, Wakil Direktur Daegum Health Center, tempat ia dan suaminya, Jung Jae Wook bekerja.

“Tadi suamiku menelepon, katanya kau ingin memeriksakan sesuatu padaku. Memang ada apa?” Jaekyung kini tersenyum sambil menatap Tiffany yang masih belum mengetahui maksud ibu mertuanya yang sebenarnya.

“Aku ingin kau memeriksa menantuku..” Mendengar ucapan  Jaekyung, kini Min’ah mengerti maksud sahabatnya itu.

“Tapi mother..aku tidak sakit…” Sebelum Tiffany sempat melanjutkan kata-katanya, kini Min’ah sudah membawanya ke ruang pemeriksaan.

30 menit kemudian..

      Tiffany dan Jaekyung sedang menunggu Min’ah yang membawa amplop hasil pemeriksaan Tiffany 30 menit yang lalu. Wajah Tiffany masih agak pucat, apalagi saat pemeriksaan tadi, ia tak henti-hentinya merasa mual, untungnya Min’ah segera memberikannya obat penghilang rasa mual itu. Tiffany yang tak tahu apa yang terjadi padanya hanya mengikuti dengan baik setiap prosedur pemeriksaan yang dilakukan Min’ah. Ia mengira ini hanyalah check-up biasa yang selalu ia lakukan 6 bulan sekali.

“Maaf membuat kalian menunggu lama…” Min’ah kini duduk di kursinya, memberikan amplop pada Jaekyung. Kemudian Jaekyung membaca hasil  pemeriksaan Tiffany dengan teliti. Tak berapa lama, senyuman kini terlihat di wajah Jaekyung, lalu ia memeluk Tiffany yang duduk di sampingnya.

“Mother?” Tiffany menatap  Jaekyung heran.

“Selamat Sayang…!” Jaekyung lalu memberikan amplop itu pada Tiffany yang dengan segera membaca hasil pemeriksaannya tadi.

“Aku hamil?? Tapi bagaimana bisa? Selama ini aku meminum pilku dengan teratu..” Ucapan Tiffany terhenti saat ia teringat sesuatu. Kemudian ia mengambil sesuatu dari tasnya.

“Ada apa Tiff?” Jaekyung bertanya pada menantunya yang masih terkejut mendengar berita membahagiakan ini.

“Mother..ternyata aku lupa membeli pil kontrasepsiku. Jadi hampir selama 6 minggu ini aku tidak meminumnya…5 minggu yang lalu aku dan Yoong…kami melakukan sex tanpa pengaman apapun…” Ucap Tiffany dengan nada kebingungan. Ini semua terjadi di luar rencananya. Ia tak menyangka dirinya bisa begitu ceroboh dalam hal sepenting ini.

‘Bagaimana bisa aku lupa membeli dan meminum pilku??’ rintih Tiffany dalam hatinya yang begitu kesal pada dirinya sendiri.

       Tiffany tak berencana untuk memiliki anak di masa awal pernikahannya. Ia dan Yoong telah merencanakan program memiliki anak setelah Tiffany melanjutkan karirnya di Italia selama 2 tahun sesudah lulus nanti. Mereka berdua telah berkomitmen untuk menikmati masa awal pernikahan mereka tanpa hadirnya seorang anak, mengingat Tiffany yang kurang begitu akrab dengan anak kecil, berbeda dengan Jessica yang begitu akrab dengan anak kecil meskipun ia dijuluki Ice Princess karena sikapnya yang begitu dingin terhadap orang lain.

“Lalu apa yang kau takutkan Sayang? Bukankah ini berita bagus? Mother sudah tak sabar untuk memberi tahu Yoong berita bagus ini. Oh iya lebih baik sekarang kita memberitahu Jessica dan Father yang ada di Lantai 7, mereka pasti akan sangat senang sekali mendengar semua ini Tiffany Dear..” Tiffany yang masih lemas mendengar berita ini akhirnya mengikuti kemana Jaekyung membawanya.

       Mereka terlebih dahulu pamit pada Min’ah yang kini resmi menjadi dokter yang akan menangani Tiffany selama masa kandungan hingga melahirkan bayinya nanti. Tiffany hanya terdiam selama perjalanan menuju lantai 7, tempat dimana  ia akan bertemu dengan Jessica dan Donggun. Kini mereka telah sampai di ruangan VVIP, tempat dimana Taeyeon dirawat.

       Ruangan itu dilengkapi dengan  tempat tidur, 1 untuk pasien dan satu untuk penjenguk yang ingin menginap. Di ruangan spesial itu juga terdapat TV LED terbaru lengkap dengan mini home theater, 5 sofa yang nyaman, kulkas mini dan balkon mini, tempat yang begitu sempurna untuk melihat pemandangan malam Seoul yang begitu indah, tak lupa mini counter dan toilet. Terdapat penyekat yang memisahkan kamar tidur pasien dan penjenguk, sehingga jika kita pertama kali masuk ke ruangan ini, kita takkan mengetahui bahwa ini sebenarnya adalah ruang rawat inap karena pasien tersembunyi di sebelah sekat.

“Tiff… apa kabar?” Jessica kini memeluk Tiffany yang masih terdiam dan bingung.

“Ahh mengapa kau begitu diam menantuku?” Kini giliran Donggun yang memeluk menantunya, membawa Tiffany duduk.

“Mungkin ia masih terkejut dengan semua ini Sayang..” Jaekyung tertawa kecil mengingat ekspresi kebingungan Tiffany tadi saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya kini sedang mengandung buah cintanya dengan Yoong.

“Maksudmu? Oh iya kau bilang tadi ingin mengabarkan kabar yang istimewa pada kami?” Donggun berbicara menunjuk dirinya dan putrinya.

“Lebih baik kau beritahukan sendiri Tiffany, ini adalah momentmu!” Ucap Jaekyung begitu bersemangat, membuat Donggun dan Jessica semakin penasaran karena Tiffany masih terdiam.

“Ingin berbicara sesuatu, Hwang Miyoung?” Ucap Jessica membuat Tiffany memberikan tatapan dinginnya yang membunuh karena ia paling tidak suka dipanggil nama koreanya oleh siapapun, kecuali Yoong, Taeyeon dan kedua orangtuanya. Mengetahui bahwa Tiffany telah masuk perangkapnya, Jessica tersenyum.

“Aku Hamil…” Tiffany mengucapkan semua itu tanpa nada kegembiraan.

“Benarkah? Wah..Selamat Im Tiffany…kau akan segera menjadi seorang ibu…dan aku akan menjadi tante hehe..” Jessica kembali memeluk sahabatnya.

“Terima kasih Tuhan..! Akhirnya doaku terkabul…Selamat menantuku..aku sudah tak sabar menimang cucu pertamaku. Ahhh apa kita sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya?” Ucap Donggun setelah memeluk menantunya itu.

“Sayang…usia kandungan Tiffany baru menginjak minggu pertama, jadi kita harus menunggu hingga usia kandungan menantu kita menginjak minggu ke 12 atau 13. Seriously Im Donggun, apakah kau tak tahu atau berpura-pura tak tahu?” Ucap Jaekyung memutarkan padangannya pada Donggun yang tersenyum bodoh pada istrinya, persis seperti yang Yoong sering lakukan pada Tiffany, membuat Tiffany tersenyum mengingat masa-masa sebelum peristiwa keracunan itu terjadi.

“Akhirnya kau tersenyum seperti dulu Tiff…Senyum yang membuat kakakku crazy for you…” ucap Jessica menatap sahabatnya itu dengan muka yang terlihat begitu lelah.

“Benarkah??Thanks anyway..Aku hanya takut jika Yoong nanti shock dengan berita ini Jess… Apalagi kami sudah merencanakan untuk memiliki anak 2 tahun lagi.”

“Kau tak usah khawatir Sayang…Yoong pasti akan sangat bahagia karena impiannya untuk menjadi seorang ayah muda akan segera tercapai.”

“Maksud Father?” Tiffany kini menatap Donggun dengan tatapan bingungnya.

“Yoong, apa rencanamu setelah menikah nanti?” Tanya Donggun pada sang putra yang masih sibuk menata desain Penthouse yang akan diberikan setelah ia kembali pulang dari bulan madunya.

 

“Aku akan menerima tawaran Father…Lalu mengembangkan bisnis kita di Italia setelah Fany lulus nanti.” Jawab Yoong yang kini telah menyelesaikan sentuhan akhir di desainnya. Ia tersenyum puas melihat kembali desain yang sengaja ia buat untuk calon istrinya itu.

 

“Italia?”

 

“Iya Father…Fany ingin melanjutkan karirnya disana selama 2 tahun lalu kembali ke Seoul dan saat itulah kami akan menjalankan program untuk memiliki anak. Aku tak ingin menghambat Fany untuk meraih apa yang diimpikannya Father…” Ungkap Yoong mendapat angggukan dari ayahnya.

 

“Tapi apa kau bisa menunggu selama itu Son? Bukankah kau sudah bercita-cita untuk segera menjadi seorang ayah muda?”

 

“Tadinya itulah yang kuinginkan..tapi demi Fany..aku bisa menunggu Father. Akan tetapi, jika takdir berkata lain, maka aku akan begitu senang saat mengetahui istriku sudah mengandung buah hati kami di masa awal pernikahan kami nanti.” Donggun tersenyum mendengar kata-kata putranya itu.

 

“Kau sekarang sudah dewasa Son..aku bangga padamu. Jaga dan binalah keluargamu nanti dengan baik.” Ucap Donggun membuat Yoong menatapnya dengan penuh kesungguhan.

 

“I’m going to Father…”

“Setelah mendengar cerita Father tadi, kurasa kau tak perlu khawatir lagi Tiff..” Jessica berbicara sambil mengelap keringatnya dengan sapu tangan kesayangannya.

“Kurasa kau benar Jess.. Tapi mengapa kau dan Father ada disini? Siapa yang sakit?” Tiffany kini menyadari ekspresi muka Jessica yang kembali begitu lelah dan sedih, seperti sahabatnya itu sedang terkena sesuatu yang begitu buruk. Ini adalah kedua kalinya Tiffany melihat sahabatnya seperti itu, pertama saat mereka masih SMA.

“Lebih baik kau ikut Father, Tiff..” Donggun kini membawa Tiffany menuju ruangan yang hanya sekat yang memisahkan ia dengan Jessica dan Jaekyung yang masih duduk di sofa tamu ruang VVIP.

“Father, pria itu siapa?” Tiffany tak bisa mengenali pemuda itu secara langsung karena masker nafas, selang oksigen, infusan, kabel yang tepasang di dada serta perban yang menutupi hampir seluruh kepala pemuda itu.

“Kau tak mengenalinya Tiffany Dear?” Donggun menatap Tiffany tak percaya.

“Apa maksud Father?” Tiffany kini bertanya pada mertuanya.

“Mendekatlah…maka kau akan tahu…” Kini Tiffany mendekati pria itu, mengamati wajah yang begitu familiar  baginya. Wajah baby face itu kini tidur begitu lelap, dengan irama naik turun dadanya yang begitu lambat menandakan kesulitan bernafas yang dialami pria cute itu. Seketika dunianya seperti runtuh saat menyadari siapa pemuda yang begitu damai itu dalam tidurnya. Nafasnya memburu, mencoba mengelak pikirannya.

“Dia…”Tiffany tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi saat Jessica kini telah hadir disampingnya, mengungkapkan sesuatu yang begitu membuatnya terkejut,takut, sedih dan sakit dalam hatinya.

“Ia adalah kekasihku Tiff…sahabat masa kecilmu, Kim Taeyeon…”

‘Dan ia adalah cinta pertamaku Jess, andai saja kau tahu…’ Ungkap Tiffany dalam hatinya sambil menatap Taeyeon dengan kesedihan yang begitu mendalam.

 

.

.

.

.

.

.

 

TBC

 

 

Author Note:

 

Apa kalian merindukan kisah klasik ini?

 

Iklan

47 pemikiran pada “Love Itself Chapter 17

  1. Akhirnya di lanjut juga hehehe…
    Nah lho tiffany hamil anaknya yoong..
    Sementara di tubuh yoong ada taeyeon..

    Gmana nasib yoong yg sebenernya ya?
    Dia masih hidup atau udh meninggal?
    Masih banyak yg belom terungkap..

    Buat jessi bener2 salut sama kesabarannya semoga taeyeon cepet sadar kalo km yg terbaik jess…

  2. Cerita ini pernah saya baca klo gak salah di Asianfanfic tpi cerita / tulisannya setengah setengaah gk full gk kya bikinan author….
    akhirnya ff lama update juga setelah dipertanyakaan kelanjutan ceritanya yg masih menyisakan tanda tanya dan ambigu antara di tamatin atau berhenti tanpa ada kelanjutan.

  3. ini kan yg ceritanya pany mengalah demi sica untuk memiliki taeng demi persahabatan mereka
    pany hamil anaknya siapa tuh, anaknya yoong atau taeng yg terperangkap di tubuhnya yoong

  4. nah loh,,who’s baby inside ppny’s womb???
    waduh ksian yah taeng,,giliran punya “kesempatan” buat dapetin ppany malah ppany nya dah sah milik yoong…
    coba aj klo waktu itu sica ga minta jd pacar boongan taeng pas menang taruhan..

  5. wow sdh lama ya thor ff ini kagak update..
    akhirny dilanjutin ,, dh lama bgt nggu ny,, haha
    di akhir part ini fany msh nyimpan prasaanny utk tae.. hadeh,, kasian si yoong & jessi ya..
    yg di tubuh ny yoong kn si tae..
    pnasaran gw lnjtnny..
    pnasaran hati fany sbnrny ke siapa sih.. mdh2an si yoong.. pengen ending ny yoonfany .. hehe

  6. Thor, seriously.. U tuh bikin gw lupa ama keseluruhan crita ff ni saking lamanya u ga pernah update nih ff ampe gw inget2 “sebelumnya tuh jalan critanya gimana ya kok gw agak lupa ya” tp gw seneng banget karna akhirnya u update juga hohoho
    Sayang yoongnya ga sadar n yg gantiin malah tae n begituan juga lagi ama fany pake tubuh yoong tp ngomong2 karna begituannya pake tubuh yoong, otomatis spermanya dr yoong kan ya huhhh

  7. gue ngebayangin taeng nanti yg make tubuh yoong , ngerasain jadi bapak karna fanny sudah hamil. hehhehe . tpi kasian sica nya ,, sica mengira taeng masi koma . padahal taeng ada ditubuh yoong . taeng mau ngaku atao nggak ya …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s