My Lady Taeny Version

mine

Tiffany POV

“Oppa..” panggilku pada pria yang masih serius membaca buku fiksi science criminal-nya. Aku masih menjadikan pahanya sebagai bantalku. Kami masih bersantai di taman Villa milik keluarga kekasihku di Jeonju. Sejak tadi pagi kami menikmati keindahan alam yang Jeonju sediakan. Udara pagi yang menyejukkan itu membuat pikiranku terasa baru dan semangatku bertambah. Apalagi jika ada Oppa disampingku.

Yes.. My Lady?” ia memberikan tanda pada halaman terakhir yang dibacanya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagia saat priaku ini memberikan fokus itu padaku, bukan yang lain.

“Aku mencintaimu.” Kedua jendela jiwanya itu menatapku dengan berjuta rasa yang tak bisa kujelaskan satu persatu. Yang jelas aku bahagia karena dia akhirnya mau jujur pada perasaannya dan berani mengambil sikap untuk hubungan kami.

“Fany-ah.. maukah kau menikah denganku?” aku masih mengatur nafas saat ia mengucapkan hal yang tak kusangka akan diucapkannya. 1 bulan telah berlalu sejak Taeyeon Oppa mulai jujur pada dirinya tentang perasaannya padaku. Sejak saat itu hubungan kami membaik. Ia tak lagi menghindariku. Malah intensitas pertemuan kami meningkat. Taeyeon Oppa berbicara pada Yuri Oppa agar ia bisa tinggal lagi di unit sebelah apartemenku dan  secara mengejutkan Yuri Oppa mengizinkannya. Sejak saat itu kami memutuskan untuk menjalani hubungan ini dibelakang pasangan kami masing-masing meskipun persiapan pernikahanku dengan Yuri Oppa masih dilaksanakan.

“Oppa.. kau serius?” aku bukan tak bahagia saat mendengar lamarannya itu tapi jika memang ia serius melamarku maka kami harus segera menceritakan kebenaran hubungan ini pada pasangan kami masing-masing.

“Tentu.”

End Of Tiffany POV

.

.

.

“Ada yang ingin kami bicarakan.” Pembicaraan serius itu dimulai dengan Taeyeon yang berbicara. Di hadapan Taeyeon kini duduk Yuri dan Jessica sementara di sampingnya duduk Tiffany yang terlihat gugup dalam diamnya.

Keempat orang itu ceritanya sedang makan siang bersama, lebih tepatnya Taeyeon dan Tiffany yang mengundang pasangan mereka masing-masing. Makanan yang menjadi menu makan siang mereka hari ini sudah habis. Tapi ketakutan dan ketegangan itu masih terasa begitu kuat di batin dan pikiran Tiffany, berbeda dengan Taeyeon yang lebih tenang meskipun rasa yang Tiffany rasakan itu tentu ada padanya juga.

“Ada apa? Kau serius sekali Oppa..” Jessica membalas ucapan kekasihnya itu dengan santai. Dari nada bicara Taeyeon, ia menduga sesuatu yang tidak ia sukai akan terjadi.

“Bicaralah Taeng.” Yuri yang mengetahui arah pembicaraan ini menjawab dengan tenang meskipun ia merasa tak enak dengan apapun yang akan sahabatnya itu katakan padanya.

“Baiklah. Kali ini kami harus jujur. Aku dan Tiffany.. kami saling mencintai. Dan kami berencana untuk menikah. Maka dari itu.. kami disini untuk memberitahu kalian. Akan lebih baik jika kami jujur mengutarakan apa yang ada di hati ini meskipun kami tahu.. akan banyak pihak yang terluka. Tapi terkadang.. sebuah kebenaran memang menyakitkan. Dan kami harap.. kalian bisa menerimanya.”

“Oppa… kau bercanda kan?” Jessica tertawa dalam kebimbangannya setelah mendengar pengakuan kekasihnya itu. Ia menatap Taeyeon penuh dengan ketidakpercayaan yang bermain di matanya. Yuri menjatuhkan punggungnya ke kursi, ia menutup kedua matanya pelan, merasakan dadanya mulai sesak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Bagi Yuri semuanya kini sudah jelas. Apa yang Taeyeon pilih sudah terlihat jelas. Semua usaha untuk meyakinkan sahabatnya itu agar tak memilih bersama Tiffany telah hancur tak berbekas.

“Oppa..” Tiffany mendekati Yuri yang terlihat pucat sekali setelah mendengar apa yang dikatakan Taeyeon padanya. Calon suaminya itu terlihat kesulitan bernafas.

“Oppa jawab aku!” Taeyeon yang akan memeriksa keadaan sahabatnya itu dihalangi oleh Jessica yang menatapnya penuh emosi.

“Maafkan aku Sica.. tapi apapun yang kuucapkan tadi itu adalah benar. Aku mencintai Tiffany sama seperti aku mencintai Jinhee.” Tangan yang memegang bahu kekasihnya itu perlahan terlepas. Tubuh Jessica terduduk lemas setelah mendengar pengakuan pria yang ia kira selama ini bisa belajar untuk mencintainya.

“Sica..” Taeyeon berjongkok mengecek keadaan Jessica yang terlihat tidak lebih baik dari Yuri. Jessica seperti telah kehilangan jiwanya setelah mendengar pengakuan Taeyeon. Air mata itu perlahan mengalir dari kedua matanya. Ia menangis dalam diam menyadari bahwa selama ini cinta itu tak pernah menghampirinya, tak pernah memeluknya kembali meskipun ia telah berusaha sekeras apapun untuk mengembangkan dan mempertahankannya.

“Oppa!!” teriakan itu membuat Taeyeon yang sedang mengurus Jessica segera mengalihkan perhatiannya pada Tiffany yang menangis memeluk Yuri yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukannya.

.

.

.

“Fany-ah…” Taeyeon memegang bahu Tiffany yang masih menangis melihat Yuri yang tertidur di ranjangnya dengan semua alat bantu pernafasannya.

“Sayang.. kau harus istirahat. Kau bisa sakit jika..” Tiffany mengangkat tangan kanannya, meminta Taeyeon untuk berhenti berbicara padanya saat ini.

“Fany-ah..” Taeyeon memanggil lagi wanita yang masih memunggunginya, menatap Yuri dari luar ruangan tempat pria bermarga Kwon itu dirawat secara intensif.

Setelah pingsan di restoran tadi, Yuri segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Detak jantungnya melemah selama perjalanan menuju rumah sakit. Tiffany menangis dalam paniknya menemani Yuri selama perjalanan di dalam ambulan sementara Taeyeon dan Jessica mengikuti mobil ambulans itu dari belakang dengan mobil pribadinya.

Perjalanan menuju rumah sakit terasa lama karena kondisi Yuri yang semakin memburuk tiap detiknya. Tim medis beberapa kali memberikan pertolongan agar detak jantung Yuri tidak benar-benar melemah dan akhirnya menghilang. Sesampainya di rumah sakit, dokter segera menangani Yuri yang nyawanya seperti sudah diujung tanduk.

Beberapa jam berlalu setelah masa genting itu terlewati. Dokter keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah yang suram. Mereka memberi tahu Tiffany bahwa Yuri  terkena serangan jantung. Selain itu dokter juga menemukan beberapa tanda penganiayaan yang tergolong berat di tubuh calon suaminya itu. Luka-luka dari penganiayaan tersebut disinyalir menyebabkan kondisi Yuri bisa selemah sekarang. Luka itu bagai bom waktu yang jika meledak maka bisa merebut nyawa Yuri dalam sekejap.

Mendengar hal itu Tiffany sedikit tidak percaya. Seingatnya Yuri adalah pria yang selalu menjaga gaya hidupnya. Kekasihnya itu melakukan olahraga secara teratur dan rutin mengecek kesehatannya setiap 6 bulan sekali. Lalu dengan tanda penganiayaan yang ada di tubuh Yuri, Tiffany meminta dokter untuk mengklarifikasinya karena setahunya Yuri tidak pernah mengalami penganiayaan seberat itu.

Tiffany hanya menjelaskan pada dokter bahwa calon suaminya itu beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan bersamanya. Dokter mengeluarkan argumennya dan memberikan Tiffany bukti nyata tentang apa yang dialami oleh Yuri. Melihat semua itu, Tiffany tak bisa lagi menampik apa yang telah dokter beritahukan padanya.

Jika tentang serangan jantung, itu mungkin saja terjadi pada orang dengan rekam medis sesehat apapun bila orang tersebut sedang berada dalam tekanan atau beban pikiran yang begitu berat. Dokter mengira Yuri mengalami stress dan depresi secara bersamaan sehingga hal tersebut memicu serangan jantung itu terjadi. Penyakit jantung jenis iskemialah yang secara tidak sadar diidap oleh Yuri sehingga orang tidak akan curiga jika pria bermarga Kwon itu mengidap salah satu penyakit yang menyebabkan kematian paling besar di dunia.

Mendengar penjelasan itu bagai tamparan yang keras bagi Tiffany. Rasa bersalah itu begitu besar menghantam hati dan pikirannya. Apa yang telah dilakukannya selama ini pada Yuri terasa sangat jahat. Bagaimana bisa ia tak menyadari bahwa calon suaminya itu sedang stress dan mengalami depresi yang secara perlahan mulai membunuhnya? Bagaimana bisa ia masih begitu egois dengan ingin mencintai Taeyeon jika selama ini Yuri berada dalam kesakitan dan ia mengabaikan hal itu.

Saat ini.. Tiffany merasa menjadi wanita paling jahat dan tak tahu diri. Selama ini Yuri selalu menjadikan Tiffany prioritas utama di hidupnya. Sedangkan Tiffany.. ia malah menduakan cinta itu dengan Taeyeon yang belum terlalu mengenalnya seperti Yuri yang sudah mengambil hati semua anggota keluarganya.

Sungguh.. hati dan pikiran Tiffany terasa kacau sekali. Ia merasa sedih, marah, kecewa dan kesal pada dirinya sendiri yang tanduk pada nafsunya. Ia marah pada keegoisan yang selama ini bersembunyi dibalik kata cinta yang membimbingnya untuk tetap bersama Taeyeon meskipun banyak orang yang terluka.

“Oppa.. tolong tinggalkan aku sendiri untuk saat ini.” Tak sekalipun tubuh dan pandangan Tiffany berbalik saat ia berkata seperti tadi. Fokusnya saat ini hanya untuk Yuri, bukan yang lain, bukan cinta sesaatnya atau apapun itu namanya.

.

.

.

“Sayang.. kau menyukainya?” Tiffany menoleh pada suara pria yang memeluknya dari belakang. Dirinya dan calon suaminya itu kini sedang memilih dekorasi untuk upacara pernikahan dan pesta resepsi yang sesuai dengan selera mereka.

“Oppa.. katakan yang sejujurnya padaku.”

 

“Apa maksudmu?”

 

“Tolong ceritakan.. apa yang terjadi sebenarnya.”

 

“Fany-ah.. aku tidak mengerti dengan..”

 

“Oppa!” teriakan itu mengagetkan Taeyeon. Baru kali ini ia melihat Tiffany terlihat begitu marah padanya. Wanita yang selama beberapa hari ini menjauhinya itu kemudian memberikan laptop yang dibawanya tadi. Melihat file video yang ada di computer jinjing itu, Taeyeon mulai memainkannya.

 

“Fany-ah..” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Taeyeon. Lidahnya terasa kelu. Pita suaranya terasa habis dan tenggorokannya terasa tercekat. Ia tidak bisa berkata banyak mengetahui bahwa apa yang telah ia lakukan pada ayah Yuri terekam jelas di video yang telah selesai ditontonnya.

 

Selain video itu, diperlihatkan juga video lain saat Yuri mengalami penyiksaan sehingga pria bermarga Kwon itu memohon kepada  ayahnya untuk datang menyelamatkannya.

 

“Kau… masih tidak mengerti? Dalam tangis pelannya Tiffany berbicara sementara Taeyeon masih terjebak dalam mode terkejutnya.

 

“Ba.. Ba.. Bagaimana bisa.. kau mendapatkan.. ini?” cukup lama Taeyeon terdiam sebelum akhirnya ia berbicara. Bisa ia lihat Tiffany kini menatapnya penuh dengan kebencian. Tatapan cinta yang dulu selalu diberikan padanya itu kini entah kemana perginya.

 

“Dokter mengatakan padaku bahwa luka-luka yang ada di tubuh Yuri Oppa bukanlah luka biasa jika kita mengalami kecelakaan. Itu adalah luka penganiayaan yang tergolong berat. Aku ingin mengetahui kebenaran dari hal yang janggal itu. Maka dari itu  aku berinisiatif untuk memeriksa barang-barangnya. Yuri Oppa menyembunyikan file video ini dengan baik di komputer pribadinya. Yang dia tidak ketahui.. aku mengetahui sandi dari file-file yang berada di folder rahasianya. Untuk lebih jelasnya bagaimana.. kurasa itu tidak penting. Yang ingin kuketahui adalah.. cerita dibalik semua ini, Kim Taeyeon.” Mendengar itu.. Taeyeon tahu ia tak bisa menyembunyikan kejahatan yang selama ini telah dilakukannya.

 

Dengan hati yang berat, Taeyeon mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kebenaran dibalik pembunuhan Jinhee, awal mula terbangunnya kerjasasama dengan Nozo Group dalam rencana balas dendamnya pada Kwon Bang Won dengan memanfaatkan Yuri dan Tiffany, hubungannya dengan Jessica hingga akhirnya ia berhasil mengeksekusi rencana itu dengan baik serta alasan mengapa Yuri dan dirinya menyembunyikan ini semua dari Tiffany.

 

“Kau.. aktor yang luar biasa! Otakmu sungguh jenius!” Tiffany tertawa menepuk-nepuk kedua tangannya, terlihat puas sekali dengan apapun yang telah Taeyeon ceritakan padanya dan Taeyeon tahu itu bukanlah sebuah pujian yang sebenarnya.

 

“Fany-ah..” rasa malu, merasa bersalah dan kecewa pada dirinya dengan apa yang telah ia lakukan. Yuri benar, seandainya saja ia bisa lebih rasional,  tidak mengikuti emosi dan nafsunya untuk membalaskan kematian Jinhee, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.

 

“Lalu apa yang kau rasakan padaku selama ini, apa yang telah terjadi pada kita.. apa itu juga adalah bagian dari rencanamu?” Tawa merdu itu terdengar begitu menyedihkan bagi Taeyeon. Ia mencoba untuk menutup kedua telinganya. Ia pejamkan mata itu. Ia tak mau melihat Tiffany yang saat ini berada di hadapannya. Wanita yang ternyata benar-benar dicintainya itu terlihat seperti wanita gila dengan ekspresi wajah yang begitu menyakitkan tergambar jelas di paras cantiknya.

 

.

.

.

 

“Oppa.. lebih baik kita akhiri semuanya.” Diamnya Taeyeon membuat ucapan itu dengan sendirinya begitu mudah keluar dari mulut Tiffany.

 

“Fany-ah..” Taeyeon segera membuka kedua matanya, menatap Tiffany tak percaya.

 

“Aku mencintaimu Oppa. Sangat mencintaimu. Tapi aku tidak bisa bersama dengan pria yang selama ini hanya menggunakanku untuk rencana busuknya. Aku tidak bisa bersama dengan pria yang telah membunuh seorang pria yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri meskipun ia adalah pria terjahat yang pernah kuketahui.”

 

“Fany-ah.. aku mencintaimu. Semua yang kurasakan padamu adalah sebuah kenyataan. Tidak ada dalam rencanaku untuk jatuh cinta padamu. Aku tidak tahu bahwa pada akhirnya kau mampu membuat hati ini untuk melabuhkan tempat lain selain Jinhee. Aku mencintaimu Tiffany Hwang. Kumohon jangan katakan itu..” Tangan itu tak menerima genggaman yang Taeyeon berikan padanya. Tiffany masih terdiam tak menyambut kehangatan yang ingin diberikan oleh Taeyeon.

 

“Baiklah. Jika seperti itu.. setidaknya aku bahagia mengetahui bahwa apa yang selama ini telah kita lalui adalah nyata, bukan sebuah kebohongan lain yang telah kau buat. Tapi Oppa.. aku.. aku.. aku tidak sanggup untuk meninggalkan Yuri Oppa yang sudah begitu mencintaiku.” Tangan itu Tiffany genggam. Air matanya mengalir begitu deras meskipun tangisnya tak ada.

 

“Dia sudah begitu banyak berkorban untukku baik secara fisik, mental, serta perasaannya. Aku tidak bisa meninggalkan pria yang begitu tulus mencoba melindungi perasaanku dengan menutupi semua kejahatanmu. Aku tidak bisa membiarkan egoku untuk terus bersamamu dan meninggalkan kerasionalanku untuk tetap bersamanya. Aku tidak bisa Oppa… aku tidak bisa.”

 

“Fany-ah.. Sayang.. aku mencintaimu.”

 

“Oppa.. saat aku membiarkanmu masuk ke hatiku, aku berharap kau akan menjadi teman hidupku. Tapi takdir berkata lain. Mungkin.. akan lebih baik jika kau hanya menjadi sebuah pelajaran hidup yang begitu berharga bagiku. Maafkan aku Oppa.” Dengan itu Tiffany pergi meninggalkan Taeyeon yang terjebak dalam tangis penuh penyesalannya menyadari bahwa wanita yang ia cintai kini telah benar-benar pergi meninggalkannya.

6  bulan telah berlalu sejak kejadian pingsannya Yuri. Sejak saat itu Tiffany jarang menemui Taeyeon lagi. Wanita bermarga Hwang itu fokus merawat Yuri yang sempat terjebak dalam kondisi setengah mati setengah hidupnya selama 1 minggu. Setelah Yuri sadar, Tiffany segera memberikan semua waktu dan perhatiannya hanya untuk Yuri. Ia telah memutuskan untuk menghentikan apapun yang ia rasakan pada Taeyeon.

“Fany-ah?” suara itu membangunkan Tiffany dari kantuknya. Ia segera berjalan menghampiri pria yang masih terlihat begitu lemah dengan semua alat penyokong hidupnya.

 

“Ya Oppa? Kau ingin sesuatu? Atau ingin kupanggilkan dokter?” Yuri tak menjawab pertanyaan itu. Kedua matanya hanya fokus pada wanita dihadapannya yang terlihat begitu lelah namun kecantikan itu masih begitu kuat terasa. Perlahan tangan kanannya mencoba menyentuh pipi kiri Tiffany yang tersenyum memberikannya sebuah kebahagiaan yang tidak bisa Yuri beli dari siapapun.

 

“Aku menikmati ini, tapi kau harus kembali beristirahat, calon suamiku.” Tangan yang tadi membingkai pipinya itu Tiffany lepas sementara sang pemilik terlihat terkejut mendengar apa yang tadi sudah diucapkan olehnya.

 

“Coba ulangi yang tadi.”

 

“Yang mana?”

 

“Yang terakhir… panggilan yang kau berikan padaku di akhir kalimatmu.”

 

“Calon suamiku?”

 

“Fany-ah.. apa kau serius? Bukankah Taeyeo….” Suara itu menjadi senyap saat kelembutan bibir Tiffany menyapa milik Yuri. Melihat calon suaminya itu terkejut dan tidak memberikan reaksi apapun, Tiffany tarik Yuri, membuat pria bermarga Kwon itu semakin dekat dengannya, memperdalam kecupan itu menjadi sebuah ciuman yang cukup memanaskan suasana. Untuk beberapa waktu keduanya terlihat begitu menikmati intimasi mereka. Jika bukan karena kebutuhan bernafas, mungkin keduanya tidak akan menghentikan ciuman itu.

 

“Sudah tahu mengapa?” Yuri menggelengkan kepalanya sementara Tiffany tertawa ringan dibuatnya.

 

“Aku memilihmu Oppa, hati ini yang memilihmu, bukan hal lainnya.”

 

“Tapi Taeyeon…”

 

“Oppa… aku mencintai Taeyeon Oppa, tapi dia hanya akan menjadi pelajaran bagiku, sebuah pelajaran yang berharga. Sekarang kau yang ada dihadapanku, kau yang akan menjadi teman hidupku, saat ini dan masa yang akan datang.” Dengan sendirinya, senyum itu tergambar di wajah Yuri yang terbingkai lembut oleh kedua tangan Tiffany yang begitu hangat dan nyaman.

“Gaun pengantinmu serta dekorasi yang kita pilih ini.. luar biasa!” Tiffany terlihat begitu antusias mempersiapkan pernikahannya dengan Yuri. Tiffany yang Yuri lihat saat ini sama seperti Tiffany yang dulu begitu mencintainya, sebelum Taeyeon datang membawa segudang masalah di dalamnya. Namun Yuri sadar.. jauh di lubuk hati calon istrinya itu, nama Taeyeon masih bergaung keras dengan cinta di dalamnya.

“Sayang?” Yuri memanggil wanita yang masih terdiam setelah menerima panggilan dari teleponnya. Sejak tadi ia memanggil calon istrinya itu karena sarapan yang ia buat sudah selesai  tapi Tiffany tak menyahut panggilannya tersebut.

 

Penasaran, Yuri pun menghampiri wanitanya yang terlihat sibuk berbicara dengan seseorang dari teleponnya. Dari kejauhan dan dalam diam Yuri mengamati itu semua.  Dari hal yang Tiffany ucapkan, Yuri sudah bisa menebak siapa orang  yang sedang berbicara dengan wanita yang dalam hitungan beberapa bulan ini akan menjadi istrinya.

 

“Oh.. Oppa.. sarapannya sudah siap?” seperti tersadar dengan panggilan Yuri tadi, Tiffany segera menyimpan telepon pintarnya itu. Ia segera menghampiri Yuri yang tersenyum kecil mengangguk padanya.

 

.

.

.

 

“Oppa, kau tidak boleh lupa untuk meminum obatmu.” Tiffany masih belum melepas pelukannya.

 

“Siap Nyonya Kwon!” Tiffany tertawa mendengar jawaban calon suami itu. Ia akan melepas pelukannya saat pria yang masih begitu mendekapnya itu dengan cepat menciumnya.

 

“Oppa..” Tiffany berbicara di tengah ciuman itu, mencoba menghentikan sang kekasih yang terlihat begitu menikmati intimasi mereka.

 

“Baiklah…” dengan berat hati Yuri melepas ciuman itu dengan satu kecupan kecil yang membuat senyum bulan sabit itu menghiasi wanitanya.

 

“Kau hati-hati dijalan dan cepat pulang jika semua urusanmu sudah selesai disana.” Tiffany mengangguk setelah memberikan pelukan pada calon suaminya itu sebelum bergegas masuk mengemudi mobilnya.

 

.

.

.

 

“Aku tidak bisa.” Dari kejauhan Yuri bisa mendengar calon istrinya itu menolak permintaan pria yang duduk didepannya, masih menggenggam kedua tangan Tiffany dengan penuh cinta.

 

“Fany-ah.. kau tidak bisa terus-terusan membohongi perasaanmu. Kau bersama Yuri hanya karena merasa hutang budi. Mungkin benar kau mencintai Yuri, tapi… apa cinta itu sebesar yang kau rasakan padaku?” Mendengar kalimat itu keluar dari bibir Taeyeon, entah mengapa rasa perih itu kini menghinggapi hati Yuri. Apalagi Tiffany juga diam tak memberikan jawaban pada Taeyeon yang tahu bahwa diamnya Tiffany berarti semua ucapannya benar, calon istri sahabatnya itu masih sangat mencintainya, sama seperti dirinya yang masih sangat mencintai Tiffany.

 

Sejak Tiffany pamit tadi siang, Yuri mengikuti kemanapun calon istrinya itu beraktivitas. Dia mengikuti Tiffany secara diam-diam. Sejak menerima telepon dari Taeyeon 1 bulan yang lalu, entah mengapa calon istrinya itu terlihat sedikit aneh. Tiffany menjadi sedikit melamun dan agak pendiam jika Yuri tak ada disampingnya. Yuri sepertinya tahu kenapa namun ia ingin memastikan semuanya, tidak hanya berpangku pada asumsinya.

 

“Fany-ah… kembalilah padaku.” Genggaman tangan itu semakin Taeyeon eratkan.

 

“Oppa..” Tiffany mencoba untuk melepas genggaman itu namun Taeyeon begitu kuat.

 

“Jika kau terus seperti ini, kau bukan hanya menyiksa dirimu dan aku, tapi kau juga menyiksa Yuri. Apa kau pikir Yuri akan bahagia mengetahui bahwa istrinya masih mencintai pria lain dan itu adalah sahabatnya?” merasa sedikit kesal, akhirnya Taeyeon mengucapkan itu semua yang jelas membuat Tiffany berang.

 

“Kau.. berani sekali berbicara seperti itu Oppa!” Tiffany melepas paksa genggaman tangan Taeyeon yang terlihat terkejut dengan pergerakan dari wanita dihadapannya.

 

“Aku hanya mengatakan sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini kau ingkari karena kau selalu bersembunyi dibalik topeng kerasionalanmu yang begitu bodoh bagiku. Kau berkata padaku untuk tidak egois, tapi selama ini apa yang kau lakukan? Kau masih menerima semua teleponku, semua pertemuan rahasia kita bahkan semua sentuhanku pada malam itu.” Ucapan itu segera mendapat sebuah tamparan setelah Taeyeon selesai mengatakannya. Selesai menampar Taeyeon untuk kedua kalinya, Tiffany bergegas meninggalkan pria yang masih terdiam tak mengatakan apapun setelah tamparan itu dilayangkan padanya.

 

“Aku akan pergi..” teriakan itu menghentikan langkah Tiffany.

 

“2 minggu lagi aku akan pergi dari Seoul dan hidupmu… jika memang itu yang kau inginkan.” Melihat Tiffany terdiam, Taeyeon berjalan mendekati wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri sahabatnya itu. Ia memberanikan dirinya memeluk Tiffany dari belakang, mendekap wanita yang masih diam dalam sunyinya.

 

“Selama itu.. aku mohon padamu, beri aku kenangan indah yang bisa kuingat jika aku merindukanmu nanti.” Yang tak mereka ketahui, Yuri melihat semua itu dalam diamnya, menahan kepedihan hatinya melihat bagaimana kedua orang yang mencintai harus berpisah karena dirinya. Ia ingin sekali menyerahkan Tiffany pada Taeyeon namun ia tidak bisa mengalahkan keegoisannya yang ingin membuat Tiffany tetap menjadi miliknya dan ia tidak akan membiarkan sahabatnya itu merebut wanitanya dengan mudah. Apapun  yang terjadi, Yuri akan tetap mempertahankan Tiffany, meski itu harus menyakiti sahabatnya.

 

“Kau benar Oppa! Aku tidak sabar menunggu hari itu datang..” senyum khasnya itu Tiffany berikan pada sang kekasih yang terlihat begitu bahagia melihatnya.

==== My Lady ====

“Tiffany Hwang.. Apa kau menerima pria di sampingmu ini sebagai suamimu?” suara pastur yang bertugas menikahkan mereka hari ini terdengar begitu jelas dan lantang ke seluruh penjuru ruangan. Ia terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan, dimana pria  yang menjadi alasan mengapa ia bisa ada disini itu berdiri begitu tampan dan gagah dalam tuksedo hitam klasiknya.

“Sayang.. kau sudah siap?” Craig Hwang tersenyum menatap sang putri yang terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin putih klasiknya yang begitu menawan. Ia berjalan menghampiri putrinya yang sudah berdiri dari kursi riasnya.

 

“Aku siap Daddy.” Craig menganggukan kepalanya menerima senyum khas sang putri yang saat ini terlihat mirip sekali dengan mendiang istrinya. Tiffany menyadari kesenduan yang menghinggapi sang ayah. Ia memeluk ayahnya itu ringan sebelum akhirnya mereka berjalan keluar dari ruangan make-up menuju tempat dimana janji suci itu akan ia ucapkan bersama pria yang sudah menjadi pilihannya, Kwon Yuri.

Nona Hwang?” suara itu kembali membangunkan Tiffany dari lamunannya. Ia memutarkan pandangannya ke sekeliling, melihat beberapa wajah-wajah familiar baik itu keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Yang menangkap perhatiannya adalah senyum terharu Daddy beserta kakak-kakaknya dan terakhir wajah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri dalam beberapa tahun ini.

Pintu gereja telah terbuka lebar. Melodi yang indah dan menggugah itu mulai memainkan perannya mengiringi setiap langkah Tiffany dalam menghampiri pria yang tersenyum begitu manis menantinya di altar pernikahan mereka. Tak butuh waktu yang lama bagi Tiffany untuk menghampiri sang calon suami yang sudah menunggu dengan wajah sumringahnya.

 

“Sayang.. kau begitu cantik.” Yuri mengambil kedua tangan wanita yang kini sudah berdiri dihadapannya. Ia kecup kedua tangan itu dengan semua yang ia rasakan saat ini. Tiffany tersenyum dalam haru melihat Yuri yang selalu membuatnya menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.

 

“Kau siap?” Yuri kini telah berdiri di samping calon istrinya. Ia menolehkan kepalanya kepada wanita yang mengangguk menjawabnya. Dengan langkah yang ringan, ia membawa Tiffany menuju pastur yang akan menikahkan mereka hari ini.

“Aku menerimanya.” Pastur yang berdiri dihadapannya itu tersenyum melihat Tiffany mengucapkan janjinya.

“Kwon Yuri.. apa kau menerima Tiffany Hwang sebagai istrimu?” suara itu terdengar jelas ke seluruh penjuru ruangan.

 

“Aku..”

 

.

.

.

 

“Oppa?” Tiffany menolehkan kepalanya kepada Yuri yang tak menjawab pertanyaan pastur dihadapan mereka.

 

“Bukan aku yang harus menjawabnya.”

 

“Oppa.. apa maksudmu?”

 

“Fany-ah… pria yang seharusnya mengucapkan janji suci ini.. adalah pria yang bisa membahagiakan hidupmu. Pria yang benar-benar kau cintai bukan karena semua hal yang membuatmu merasa hutang budi padanya. Pria yang seharusnya menjadi pendamping hidupmu.. adalah dia yang mampu membuat hatimu tersenyum lepas saat kau bersamanya.”

 

“Oppa..”

 

“Kebahagianku… adalah kebahagianmu. Dan kebahagiaanmu.. adalah Taeyeon.”

 

Dengan itu Yuri berjalan mundur ke belakang. Dari pintu samping terdengar langkah seseorang. Tiffany menolehkan kepalanya dan terkejut melihat seorang pria dalam balutan tuksedo hitam klasiknya berjalan menghampirinya. Pria itu kini sudah berdiri di hadapan Tiffany yang menatapnya kaget dan bingung.

 

“Apa.. yang kau lakukan disini?” pertanyaan itu terdengar seperti sebuah bisikan yang membuat Taeyeon tersenyum padanya.

 

“Untuk menjadi suamimu.” Dengan yakin dan percaya diri Taeyeon menjawab pertanyaan wanita yang masih terjebak dalam kebingungan dan keterkejutannya.

“Atas nama Tuhan.. kalian telah sah menjadi suami istri. Tuan Kim.. Anda boleh mencium pengantin Anda.” Tiffany bisa merasakan tubuhnya dibawa untuk berhadapan dengan pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.

“Terimakasih Fany-ah.. Aku mencintaimu” detik berikutnya bibir itu menyentuh milik Tiffany yang mencoba membalasnya. Ia bisa merasakan pria dihadapannya itu membawa tubuhnya lebih dekat, mendekapnya begitu mesra, mencoba menumpahkan semua perasaan cintanya.

.

.

.

“Bolehkah aku berdansa denganmu?” suara itu menghentikan lamunan Tiffany yang terlihat menikmati dansa yang dilakukan ayah bersama ibu mertuanya.

“Tentu!” Taeyeon tersenyum mendengar jawaban itu. Dengan segera ia bawa Tiffany ke lantai dansa. Musik berubah menjadi sebuah lagu yang sangat mellow dan pelan saat keduanya mulai berdansa. Mengerti dengan tatapan yang diberikan oleh pria yang begitu hangat mendekapnya, Tiffany mulai menyenderkan kepalanya di bahu sang suami yang terasa begitu pas dan nyaman memeluknya, membawa tubuhnya berpacu dalam melodi yang indah dan menenangkan ini.

“Sayang.. aku dengar dari Hayeon kau berbincang dengan Yuri sebelum dia pulang. Memang apa yang kalian bicarakan dengan tadi?” rasa penasaran itu mengusik Taeyeon. Mendengar pertanyaan itu, Tiffany hanya tersenyum. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan kepala itu semakin ia senderkan pada bahu sang suami yang begitu nyaman baginya.

“Sayang…” panggilan itu terdengar merajuk dan Tiffany tidak bisa menahan tawanya mendengar itu. Dengan cepat ia tegakan kepalanya, menatap sang suami dengan kecantikan kedua matanya.

“Kau benar-benar ingin tahu?” tantang Tiffany pada sang suami yang mengangguk padanya.

“Yakin?” sekali lagi, anggukan itu Tiffany terima.

“Baiklah…”

“Oppa..” panggilan itu menghentikan langkah Yuri.

 

“Fany-ah.. apa yang sedang kau lakukan disini?” melihat Tiffany sedikit kesulitan berjalan, Yuri segera menghampirinya.

 

“Aku ingin berbicara padamu, Oppa.” Melihat ada bangku taman yang kosong dan sepi, Yuri segera membawa istri sahabatnya itu kesana. Di perjalanan ia membantu Tiffany berjalan dengan dress cantiknya yang sedikit merepotkan jika digunakan untuk berjalan.

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” keduanya kini sudah duduk dengan nyaman.

 

“Oppa.. mengapa kau melakukan semua ini?”

 

“Kau masih menanyakannya?”

 

“Aku tahu bahwa kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku. Tapi itu terdengar sulit untuk dipercaya dan teoritis.”

 

“Aku mengerti. Ada sebagian orang yang berkata bahwa kita tidak mungkin bisa melihat orang yang kita cintai bahagia dengan orang lain. Hal itu terdengar sangat bodoh. Bagaimana kita dapat bahagia jika hati kita tersiksa melihat bukan kitalah orang yang bisa membahagiakan dan memberi kebahagiaan itu sendiri pada orang yang sangat kita cintai?”

 

“Maka dari itu aku menanyakan hal ini, Oppa. Aku termasuk orang yang setengah percaya pada hal itu dan apa yang katakan tadi benar.”

 

“Aku awalnya setuju dengan teori itu. Cinta harus memiliki, egois dan posesive. Cinta tidak mungkin membuatku bahagia melihat kau bersama pria lain selain aku. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mempelajari hal baru yang membuatku tahu bahwa cinta.. bisa membimbingmu menuju sebuah kebahagiaan baru, sebuah kebahagiaan yang sebenarnya, yang tak banyak disadari orang kecuali Tuhan telah menganugerahkan hal itu pada hamba-Nya.”

 

“Apa itu, Oppa?”

 

“Keikhlasan.”

 

“Oppa..”

 

“Selama ini aku tahu bahwa kau masih berhubungan dengan Taeyeon. Aku tahu kau masih memikirkannya. Aku tahu dia masih ada di hatimu. Aku tahu jantung itu masih bergetar begitu keras untuknya. Aku tahu dalam mimpimu, igauanmu, namanyalah yang selalu kau dengungkan. Aku tahu hatimu tersiksa karena tak bisa bersamanya namun tak bisa menyakiti milikku juga dengan keegoisanmu untuk memilihnya.”

 

“Oppa.. kau..”

 

“Sayangku Tiffany Kim, apa gunanya aku menjagamu tetap menjadi milikku bila kau tidak bahagia? Aku tidak mau membuatmu hidup dalam kepura-puraan selamanya. Aku ingin kau menikmati hidup ini bersama pria yang benar-benar bisa membuatmu bahagia dan itu bukanlah diriku.”

 

“Awalnya aku ragu untuk membuat hal gila seperti hari ini terjadi tapi.. melihat senyum kebahagiannmu tadi setelah selesai melakukan upacara pernikahan kalian, aku tahu bahwa aku telah melakukan hal yang benar. Satu hal yang harus kau tahu dan kau ingat, AKU BAHAGIA… SANGAT BAHAGIA.”

 

“Hei.. kenapa kau menangis?”

 

“Oppa..” Tiffany menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Yuri yang tersenyum dalam tangis kebahagiannya.

 

“Kwon Yuri.. aku sungguh beruntung dicintai olehmu.” Kedua tangan itu Tiffany genggam.

 

“Tiffany Hwang, aku merasa terhormat dan bahagia bisa mencintaimu selama ini. Aku berharap, aku adalah sebuah pelajaran hidup yang berharga dan takkan kau lupakan.” Perlahan Yuri mulai mengecup kening yang berlanjut ke kedua mata wanita yang selamanya akan menjadi cinta dalam hidupnya.

“Sayang?”

“Oh.. hahaa.. ya?”

“Kenapa kau diam saja? Apa kau.. cemburu?”

“Tidak… aku tidak cemburu. Aku hanya tidak tahu harus berkata apa setelah mendengar ceritamu tadi. Yuri begitu luar biasa, hanya itu yang ada di pikiranku.”

“Kau benar. Aku bahagia jika akhirnya Oppa bisa menemukan kebahagiaan lainnya, selain aku. Orang bilang, cinta paling dalam adalah sebuah doa. Setiap hari, aku akan selalu berdoa semoga Oppa memperoleh semua kebahagiaan yang dia butuhkan dan inginkan. Semoga kita semua selalu diberkahi oleh Tuhan.”

“Tentu, Tuhan tidak tidur. Dia pasti akan mendengarkan doa-doa hamba-Nya, apalagi malaikat sepertimu, Istriku.”

==== My Lady ====

“Sayang.. kau belum kenyang?” Taeyeon bertanya pada wanita yang masih memakan semangkuk besar nasi belut teriyaki yang dibelinya.

“Belum.. malah aku ingin lagi tapi dengan rasa yang berbeda Oppa. Ah.. nasi belut asam manis pedas!” Taeyeon menatap istrinya itu dengan wajah horror. Tiffany memukul bahu suaminya itu. Taeyeon tertawa melihat istrinya yang terlihat merajuk sambil melanjutkan kembali kegiatannya memakan nasi belutnya itu.

“Aigoo.. istriku yang cantik ini sedikit sekali makannya.” Goda Taeyeon pada sang istri yang terlihat kesal mendengarnya.

“Oppa!” Teriak Tiffany menghentikan suapan yang akan masuk ke mulutnya. Melihat istrinya kesal seperti ini, Taeyeon segera memeluk tubuh Tiffany. Taeyeon menurunkan kepalanya ke perut sang istri yang sudah membesar. Ia ingin berbicara dengan buah hatinya yang masih berada dalam kandungan istrinya itu.

“Hahaha. Tidak apa-apa. Appa akan mengabulkan semua permintaan Eomma-mu ini Sayang. Meskipun dompet ini akan mengering jika Eomma-mu tak berhenti meminta Appa untuk mengabulkan semua keinginannya.” Taeyeon tertawa dalam kesakitannya menerima pukulan Tiffany di kepalanya.

“Aish Kim Taeyeon! Siapa suruh kau menghamiliku.” Tubuh itu Tiffany dorong.

“Aish Tiffany Kim! Siapa suruh kau mau dihamili olehku.” Taeyeon yang kini sudah terjatuh ke lantai membalas ucapan istrinya itu dengan senyum tampannya yang nakal dan menggemaskan.

“Hai hai hai! Ada apa ini?” Yuri berjalan menghampiri kedua sahabatnya yang terlihat seru dalam perdebatan mereka.

“Oppa.. dia mem-bully-ku!” Tiffany melapor pada pria yang tertawa mendengar rajukannya. Yuri  membawa tubuh Tiffany dalam pelukannya yang segera mendapat protes dari Taeyeon yang terlihat cemburu melihat kemesraan keduanya.

“Jadi.. kau ingin Oppa apakan suamimu ini?” kepala Tiffany Yuri elus.  Ia bertingkah seperti kakak yang akan mengabulkan apapun keinginan adiknya. Sejak pernikahan Taeyeon dan Tiffany, memang itulah posisi yang Yuri ambil di hati Tiffany dan ia bisa menerima itu semua dengan hati yang terbuka.

“Kau ingin Unnie menghukumnya juga Fany-ah?” Yoo Mi kini ikut bergabung. Ia berjalan menghampiri sang suami yang sedang memeluk wanita yang kini sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

Jung Yoo Mi.

11311369_1703684259888697_593478021_n

Tidak.. kini namanya telah berubah menjadi Kwon Yoo Mi sejak ia menikah dengan Yuri 5 tahun yang lalu. Ia bertemu Yuri saat pria bermarga Kwon itu menjadi pasiennya. Suaminya saat itu sedang menjalani pengobatan untuk penyakit jantung iskemianya. Dan Yoo Mi adalah dokter yang menangani pria yang tak ia sangka akan menjadi suaminya.

Selama menjadi pengobatan itu, hubungan Yoo Mi dan Yuri mulai berkembang. Mulai dari seorang pasien, teman, sahabat dan akhirnya kekasih hati. Yuri adalah pria yang baik dan menyenangkan. Keramahan dan perhatiannya pada Yoo Mi lah yang membuat dokter spesialis jantung itu jatuh hati pada Yuri yang secara perlahan mulai bisa mengkonversi semua cinta yang dimilikinya untuk Tiffany menjadi sebuah cinta yang akan ia berikan untuk adiknya.

Terkadang seseorang hanya bisa hidup di hatimu saja, bukan hidupmu. Lagipula cinta itu tidak bisa dipaksakan. Aku tidak ingin Tiffany tersiksa dalam hatinya selama bersamaku. Akan lebih baik jika ia bisa hidup secara bahagia dengan bebas. Saat kau melihat orang yang kau cintai bahagia, maka kau akan tahu bahwa kau telah melakukan hal yang baik dalam mencintainya.’ Itulah jawaban yang Yuri berikan pada Yoo Mi saat ia bertanya mengapa pria itu bisa melepaskan Tiffany – wanita yang begitu dicintainya – untuk Taeyeon.

Ya.. Yoo Mi tahu tentang masa lalu Yuri dengan Tiffany dan Taeyeon. Sejak mengetahui hal itu, rasa cintanya pada Yuri bertambah. Dengan yakin ia terima lamaran yang Yuri ajukan padanya. Ia tak mungkin menolak pria sesempurna Yuri yang bisa mencintai seorang wanita seperti yang ia lakukan pada Tiffany. Dan kini.. ia bangga bisa menjadi wanita yang membahagiakan Yuri bersama kedua buah hatinya.

“Oppa.. lebih baik kau meminta maaf pada Tiff” Jessica yang mengamati mereka dari jauh kini menghampiri kedua pasangan yang sedang asik beradu argumen  mereka.

“Tiff.. aku akan mendampingimu dengan gratis jika kau ingin menuntut Kim Taeyeon dengan pelecehan seksual yang selama ini telah ia lakukan padamu hingga akhirnya kau hamil sebesar sekarang.” Yoon Kye Sang, suami Jessica yang berprofesi sebagai pengacara itu kini ikut berbicara.

Yoon Kye Sang

0d42689064864a55a85b02f4bbe88363

Kye Sang adalah sahabat Taeyeon selama di Amerika. Pertemuannya dengan Jessica terjadi saat wanita bermarga Jung itu sedang mengobati luka hatinya dengan berlibur selama 3 bulan di Cali. Sungguh sebuah kebetulan saat ia mengetahui bahwa pria yang begitu menyakiti wanita yang dalam beberapa bulan itu telah menjadi kekasihnya setelah perkenalan mereka adalah Taeyeon, sahabatnya.

Sejak mengetahui kisah Jessica yang menyakitkan, ia berjanji untuk membahagiakan wanita yang pada akhirnya bisa memaafkan Taeyeon. Dan disinilah ia, bersama sang istri yang sudah mengikhlaskan apapun yang telah terjadi padanya di masa lalu. Kye Sang yakin, kini dirinya dan putra merekalah yang menjadi prioritas hidup Jessica.

“Sayang.. maafkan aku.” Taeyeon berlutut di hadapan sang istri dengan wajah dramatis dan menyesalnya. Tiffany tak bisa menahan tawanya melihat sang suami yang terlihat begitu menggemaskan dengan aktingnya itu. Tawa itu menular pada kedua pasangan lain yang berada di samping mereka. Kini tawa itu semakin besar dan kebahagiaan itu dengan jelas terlihat dari wajah mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Dan pada akhirnya mereka semua hidup dengan bahagia ^_^

-Fin-

Author Note:

Dear All,

Inilah bentuk apresiasiku untuk kalian hai para pecinta gembok dan kunci yang sudah bersabar dan mencoba untuk menikmati cerita ‘My Lady’ selama ini.

Masih banyak penulis di luar sana yang menulis TAENY jauh lebih baik dari aku.

Aku juga tahu kalian hanya akan fokus pada TAENY disini tapi aku berharap, nilai-nilai yang aku coba bawa di cerita ini, kalian bisa mencoba untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Aku tahu ini mungkin bukan apa-apa untuk kalian. Catatan kecil ini bahkan mungkin tidak kalian baca. Semua yang telah aku ucapkan diatas, mungkin kalian akan lupa. Tapi percayalah, aku tidak akan lupa. Karena kalian adalah ladang keikhlasanku, dan dari kalian aku sedang belajar bagaimana menghasilkan sebuah karya dengan keikhlasan meskipun pada prakteknya memang sulit. But we never knew if we never try!

LOVE,

ETERNITY HAPPINESS

 

Iklan

47 pemikiran pada “My Lady Taeny Version

  1. kan bener kataku waktu itu yul itu tersakiti krn keegoisannya sendiri dan ketidak-beraniannya terhadap fakta yg ada…
    bahkan saat ppany dgn keukeh masih mempertahankan yul,, yul pun masih tersakiti.. tp saat dia menerima kenyataan itu dgn ikhlas segala hal baik pun datang dgn sendirinya…

    cinta tak harus selalu berbalas. ada kalanya, harapan utk memiliki hatinya harus kamu kubur dalam” bersama rasa itu. hanya mampu mendoakan kebahagiannya dr jauh, walau sebenarnya di lubuk hatimu mengingakan dia merasa bahagia karena kamu.-Our Hope

    sumpah sica cool bgd disini -mgkn jg krn faktor sica sbg innocent victim-…cara dia mencintai taeng and deal with her past till she get the beautifull present that she deserve*thumbsup

    you know me author…
    told you already…
    I read everything^^
    spt kata kazuto “aku masih ingat. sungguh. semuanya tersimpan di kepalaku seperti foto”-winter in tokyo

    • yes km betul, tapi kebanyakan pembaca gagal melihat hal itu, mereka terlalu fokus dgn keinginan mereka supaya pairing atau pasangan yg mereka inginkan bersatu hingga terkadang mereka tidak sadar bahwa keegoisan itu perlahan mulai menguasai.
      aku senang km bisa menginterpretasikan makna-makna tersembunyi yg coba aku berikan dalam semua cerita-ceritaku.
      Detailnya kita chat di LINE aja ya💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟💟

  2. Speechless sih hahaha.
    Gatau mau bilang apa selain bagus.
    apalagi sama note-nya, simple tapi ngena di hati, jago bgt nih si penulis nyindir pembacanya.
    Good Luck thor, sehat terus dan jgn galau aja.

  3. gk tau mo komen apa😂😂😂😂
    suka sama semua karakternya..
    tp paling suka karakter sicca sih…
    dia bisa menyembuhkan luka yg dia rasa dan bisa bersahabat dgn orang yg membuat dia terluka..
    jatuh cinta dg taeng itu takdir sicca..tp menikah ato tdk dg taeng itu pilihan sicca..

    congrat’s for my TAENY😙😙😙

  4. Ahahaayyyyyyy
    Wkwkwkwk
    Happy endingggggg
    Pd akhirnya semua dapet pasangan masing2 memang
    Wooo keren thorrr
    Ni crita ending dgn alur yg bgs dan pas
    *apasih
    Wkakakakakaka
    Mntep2
    Duhhh
    Gtw hrs ngmobg apa lgi dahhh
    Bnr2 kerennnn
    Wkwkwkwkwkw

  5. Im so sorry baru coment.
    Cinta kadang gak pake logika mungkin begitulah adanya, fany yg rela ninggalin yuri, fany yg akhirnya nerima tae gitu aja setelah di persatukan yuri kembali, yuri yg akhirnya menyerahkan tiffany ke taeyeon padahal waktu itu dia sangat cinta. Huaaa… Aku jadi terhura.
    Tapi kasian taetaeku di bully orang orang dewasa karna ngehamilin my miyoung, lagian siapa yg gak tergoda buat ngehamilin tiffany.

  6. Yah pada akhirnya semua happy ending..
    Salut sama keikhlasan yul..
    Dia nggak egois buat ngedapetin fany walaupun sebenernya dia bisa…

    Ini yg aq suka dr tulisan authornim banyak makna2 terselip di tulisannya 😅😅. Semangat ya buat ngeluarin tulisan2 yg lebih bagus lagi…

    Btw thor, aq masih nunggu kelanjutan love it self 😂😂

  7. Yeah,, akhirnya diakhiri semuanya bahagia. Termasuk para readers. 😀
    Yang memang paling penting dihidup bisa ikhlas dengan menata hati menjadi lebih baik setelah nerima hal” buruk apapun itu. 😉
    Dan ‘jangan egois’, bisa bikin uring”an sendiri.
    Next ff nya,, 😉😉

  8. Ini ff pertama yang aku baca di wp ini dan hasil sangat memuaskan walaupun pas pertengahan ada momeny yang buat hati kaya gimana gitu hehe taoi ininya aku suka sama fanfinya dan bagus banget 👍salam kenal author dan semangat terus

  9. authorrrr kenapa loe begitu baikkkkk,,,,
    wlu ending.y happy untuk taeny,
    tp jg ada kebahagiaan lain untuk pasangan yg lain juga,,,
    aplause buat author, untuk karya2nya…
    daebakkkkkkk

    thank you so much thorrr

  10. kalo versi taeny nih..duhh sweet, ending yang bahagia..psti ini mah ending yg di harapkan para LS .. good job buat lu thor yg lagi2 bikin ff se-nice ini..syukur di chap ini gk ada yg trluka sama kyk di my lady versi ori nya…semua bahagia pada takdir masing-masing nya ;))

  11. yaa ampun yuri kau mngajarkan ku mencintai dgn IKHLAS
    cara kamu mencintai tiffany oh my god
    cara kamu melepaskan tiffany…. salut banget sama yuri….
    awal baca smpet greget sama taeyeon…
    but its all about taeny cara ppany mncintai yuri dan taeyeon.
    hati dan kebahagiaan ppany hanya untuk taeyeon. congrats lah…
    gue baper beneran. berasa diposisi yuri yang harus merelakan orang yang kita cintai demi kebahagiaan orang tersebut.

    respon email gue dong thor

  12. Horee…… Horeee….. Horee……. Akhirnya Taeny marriage jg. 😁😁😁. Sorry ya thor, baru bisa komen skrg. Baru ada paket soalnya. 😜😜. Entah knp mnurut aku jika d bandingkan ending my lady yg pertama ama yg kedua ini, lebih berkesan itu di ending yg ini. Aku ngomong kayak gini bkn krn aku LS loh thor. Tp krn mnurut aku yahh.. Emg lebih brkesan dan brmkna itu ya ini. Di mana hikmah dan pelajarannya lebih aku dapetin disini.

  13. baik banget hatinya yul, mau merelakan wanita yg begitu di cintainya
    dan bengorbanan yul targantikan oleh wanita yg jg tulus mencintainya

  14. makasih banget ya thor udah buat clue jfi akhirnya aq bisa baca ff yg trkunci ini..dan mngkin baru ini aq baru bisa baca ff mu yg punya pw krn emailq blm d bals2 smp skrg..
    hehehe..
    happy ending n mksh akhirx taeny bisa brsatu..pdhl ku pikir tadi akan ada yulsic hehehe..
    🙆🙆🙆🙆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s