Wanderer


wanderer

Tittle   : Wanderer

Cast     : Kim Taeyeon & Tiffany Hwang

Genre  : Yuri, Romance, Drama, AU

Author:SiscataetaeX Eternity Happiness (E.H)

.

.

__________

.

.

 

Tepat pada pukul sepuluh pagi aku tiba di Seoul, kota kelahiranku yang sudah hampir lima tahun tak ku kunjungi. Karena ya… pendidikan yang harus ku selesaikan di Stanford University, San Fransisco.

“Biar saya bantu nona”

Aku tersenyum saat paman Kang menawarkan dirinya untuk membawakan koperku yang cukup besar ini. Well, saat ini aku tengah berada di bandara Incheon dan paman Kang ini ialah supir pribadi ayahku. Paman Kang baru saja tiba untuk menjemputku.

Perlahan ku lihat paman Kang mulai membukakan pintu mobil bagian penumpang untukku, untuk kesekian kalinya aku tersenyum melihatnya. Menurutku perlakuannya terlalu berlebihan.

.

Baiklah, sepertinya aku belum memperkenalkan diriku pada kalian bukan?. Namaku Kim Taeyeon, sebenarnya tidak ada yang spesial dalam hidupku ini, aku hanya seorang anak perempuan yang terlahir di tengah-tengah keluarga yang harmonis, sebut saja begitu. Karena selama ini aku selalu mendapatkan kehangatan dan kasih sayang dari keluargaku, ayahku selalu menjadikan istri dan anak-anaknya sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Itulah mengapa aku sangat menyayanginya. Aku juga bersyukur bahwa sampai kini aku masih memiliki banyak teman, jadi bisa dikatakan hidupku cukup sempurna. Ayahku seorang pengusaha desain interior ternama di Korea, ia sangat tegas mendidik anak-anaknya namun terkadang juga bisa sangat lembut dan berwibawa. Aku memiliki satu orang adik perempuan sebut saja namanya Hayeon, Kim Hayeon. Walaupun Hayeon saat ini masih duduk di bangku SMP, namun ia sudah dapat berpikir dewasa untuk menyelesaikan masalah dalam hidupnya. Jadi menurutku aku tidak perlu terlalu sering mengkhawatirkannya.

Ibu?

Well, ibuku sudah meninggal dunia tiga tahun lalu saat aku masih menempuh pendidikanku, ia meninggal karena kecelakaan pesawat yang  ditumpanginya. Masih teringat dalam benakku dengan suara cerianya yang mengabariku bahwa ia akan datang ke SF untuk menjengukku. Aku tak pernah menduga bahwa itu adalah kali terakhir suara merdunya itu aku dengar. Ibu meninggal karena  pesawat yang  ditumpanginya malah jatuh tak terkendali di perbatasan. Benar-benar miris bukan?.

“Nona, kita sudah tiba.”

Suara paman Kang membangunkanku dari lamunan panjangku. Tersenyum, aku turun dari mobil.

“Hahhhh….” Ku hela nafas lelahku sambil mataku tak henti-hentinya menatap kagum pada rumah megah yang berdiir kokoh dihapanku, ditambah halaman depan yang memiliki desai menarik dan berukuran luas. Ku lirikkan mataku ke bagian samping kanan, disana terletak satu meja berserta emapat kursi bundar yang terbuat dari pahatan kayu. Tak lupa pula di belakangnya terdapat dua buah ayunan. Kemudian ku alihkan pandanganku kesebelah kiri, disana terdapat kolam ikan yang disertai air pancur yang unik. Ayah benar-benar telah banyak mengubah bentuk halamn rumah ini. Tapi, aku menyukainya.

.

“Kim Taeyeon, putriku….”

Ayahku melebarkan kedua tangannya untuk menyambut kedatanganku. Dengan penuh percaya diri aku menerimanya dengan sebuah pelukan.

“Selamat datang kembali Sayang.” Bisik ayahku lembut ditelingaku saat kami tengah melepas rindu dalam pelukan.

“Aku merindukanmu …. ayah”

Aku merasakan ayahku mulai merenggangkan pelukannya, lalu dengan senyuman lembutnya ia menatapku melalui lensa kacamata yang ia gunakan.

“Kau tumbuh semakin cantik Sayang”

.

Author

.

“Hayeon-ah~…. aku duluan ya”

Seorang gadis lengkap dengan seragam sekolahnya hanya memamerkan senyum ramahnya ketika salah seorang temannya menyapa dirinya yang saat ini berdiri di halte yang terletak tidak jauh dari gerbang sekolah. Yup, jam sekolahnya baru saja usai dan waktunya ia untuk  menunggu jemputan.

DRETT…DRETTT….

Merasakan ponselnya bergetar membuat Hayeon dengan segera mencari keberadaan ponsel itu dalam ranselnya. Dan ia tersenyum saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya.

‘Kak Taeyeon’

“Hei… aku tadi pagi sudah sampai dirumah”

“Benarkah? Memangnya aku peduli”

“Hei… dasar kau, baiklah.. aku tidak akan memberikan pesananmu”

“Hei..hei..kakak, aku hanya bercanda,” Hayeon menghela nafasnya lalu dengan penuh keyakinan iapun melanjutkan ucapannya “Aku merindukanmu”

“Maka dari itu, cepatlah pulang. Ayah baru saja akan memainkan biola yang ku belikan untukmu”

.

Pembicaraan selesai, dan tak menunggu waktu yang lama akhirnya jemputan gadis cantik itu datang. Tanpa aba-aba, Hayeon segera memasuki mobil jemputannya. Ia benar-benar tak sabar untuk menyambut kedatanagn kakak kesayangannya, siapa lagi kalau bukan Kim Taeyeon.

.

Malam, pukul 19.00 KST

Kim Jaejoong merasa senang saat melihat bagaimana asiknya kedua putrinya melahap makanan mereka sambil sesekali bersenda gurau bersama. Kim Taeyeon dan Kim Hayeon selama ini saling akur satu sama lain, sikap Taeyeon yang penyayang dan Hayeon yang pengertian membuat mereka dapat hidup dengan baik. Jarang sekali Jaejoong mendapat kabar jika putrinya tengah bertengkar.

“Taeyeon-ah~….”

Taeyeon mengehntikan makannya sejenak lalu menatap ayahnya yang kini memandangnya dengan penuh kewibawaan.

“Mulai besok, kau akan bekerja di perusahaan ayah sebagai direktur”

“Uhhuuukk……” Pernyataan tiba-tiba dari ayahnya membuat ia tak dapat menelan makanan yang berada dalam mulutnya. Baginya ini benar-benar terlalu terburu-buru. Namun, bukan Taeyeon namanya jika ia menampakkan keraguannya pada ayahnya. Well, dengan penuh percaya diri ia menegakkan tubuhnya lalu mengangguk tanda setuju. Dan hal itu memuat ayahnya tersenyum bangga padanya.

PRROOOKK…PROOKK..PROOOK..

Suara tepukan tangan dari Hayeon membuat dua pasang mata itu langsung menoleh kearah gadis remaja itu.

“Selamat kakakku yang cantik, kau pantas mendapatkannya”

Taeyeon tersenyum lalu dengan segera memberikan pelukan hangat kepada adik tercintanya.

Benar-benar pemandangan yang indah. Keluarga yang bahagia bukan?

.

.

Taeyeon

Pagi itu, aku memandang pantulan bayanganku di cermin. Hari ini aku memilih pakaian kerja yang nyaman untukku pakai, tentu saja dibantu oleh adik manjaku.

“Kau terlihat elegant kak”

Aku melirikkan mataku pada Hayeon melalui pantulan kaca ini. Dapat kulihat bagaimana tulusnya ia memberikanku semangat.

Menarik nafas lalu menghembuskannya, kukepalkan kedua tanganku lalu berkata dengan lantang. ‘FIGHTING !!!!!!’ dan hal itu membuat Hayeon tertawa lalu memelukku dari belakang.

“Kau harus melakukan yang terbaik, jika tidak.. aku malu mengakuimu sebagai kakakku. Hehehehe…”

“Hei..” Aku sempat menatap tajam kearah adik remajaku ini sebelum akhirnya ia dengan cepat mendaratkan  kecupan hangatnya dipipiku. Dan itu berhasil membuat hatiku sedikit luluh, lalu dengan sayang akupun mengusap lembut kepalanya.

.

“Mohon kerjasamanya”

Aku membungkukkan tubuhku kepada seluruh staff dan pegawai-pegawai yang bekerja di perusahaan GNA milik ayahku. Mereka semua terlihat sangat terbuka menyambut kedatanganku apalagi saat mereka mengetahui bahwa akulah yang akan menjadi Direktur baru di perusahaan ini.

.

“Baiklah Direktur, didepan sana ada lift yang nantinya akan menghubungkan langsung keruangan Anda. Oh iya, satu lagi. Ayah Anda sudah menetapkan salah seorang pegawai disini yang akan menjadi sekretaris pribadi anda”

“Sekretarisku?”

Asisten pribadi ayahku ini menganggukan kepalanya untuk meyakinkanku kembali.

“Sebentar lagi Anda akan menemuinya Direktur, ruangannya juga berada di depan ruangan anda.”

.

Aku terus berjalan mengikuti kemana sisten pribadi ayahku ini membawaku. Sampai akhirnya ‘TIING’ bunya lift yang kami naiki membuyarkan lamunanku, dan tibalah aku sekarang di sebuah tempat dimana bentuk dekorasinya yang elegant, ruangan itu memiliki lorong panjang dimana didepan lorong itu terdapat sebuah pintu. Dibalik pintu itulah ruanganku berada, sementara disamping kananku terdapat sebuah ruang petak sedang dengan dinding kacanya yang kuyakini merupakan ruangan dari sekretarisku itu. Mengingat di lantai ini hanya terdapat dua ruangan saja, ruangan kaca milik sekretarisku dan ruangan didepannya adalah milikku.

.

TOK..TOK…

Dapat kulihat seorang wanita dibalik pintu kaca ini segera berdiri sat ia mendnegar ketukan dipintu ruangannya. Sekilas ia menatapku lalu, tatapan itu.. sepertinya ia baru saja menangis.

Setelah paman Joe, asisten pribadi ayahku ini membawaku masuk kedalam ruangan wanita ini. Dengan segera wanita itu membungkukkan tubuhnya lalu memandangku sebentar sampai akhirnya ia menundukkan kembali tatapannya.

“Perkenalkan, wanita ini adalah Direktur baru perusahaan ini. Dan persiapkan dirimu untuk menjadi sekretaris barunya. Apa kau mengerti?”

“Aku mengerti..”

Kini kami saling bertatapan, sampai akhirnya aku mengulurkan tanganku kearahnya, sikapku ini sempat membuatnya sedikit terkejut. Namun, tanpa banyak berpikir iapun menggapai uluranku.

“Kim Taeyeon, itu namaku”

“Tiffany Hwang….”

Perlahan kami melepaskan genggaman itu, sampai akhirnya aku berbicara kembali

“Mohon kerja samanya, nona Hwang”

Entah mengapa, kali ini ia memandangku dengan ekspresi yang sulit ku artikan. Namun, tak menunggu waktu lama iapun mengangguk seraya membungkukkan kembali tubuhnya dihadapanku.

.

Aku menhela nafas untuk kesekian kalinya saat kini aku telah berada diruanganku. Ruangan ini tampak begitu minimalis dan sangat nyaman untuk ditempati, ayahku benar-benar tahu seleraku.

“Jika tidak ada lagi yang anda butuhkan, saya permisi dulu Direktur”

Tanpa menjawab pernyataan dari paman Joe, aku hanya menggerakkan sebelah tanganku kearahnya petanda aku menyuruhnya pergi.

Mengetahui sudah tidak ada lagi orang diruangan ini, akupun membalikkan kursiku untuk melihat pemandangan kota Seoul di balik jendela kaca yang berukuran besar dibelakang meja kerjaku.

“Benar-benar indah…”

Tok…tok….

Aku melirikkan pandanganku kearah pintu ruanganku, saat mendengar suara ketukan.

“Masuklah !!” Seruku, sampai akhirnya ia, wanita yang tadi kutemui diruangannya datang menghampiriku bersama sejumlah dokumen ditangannya.

“Ya ampun, jangan katakan tumpukan dokumen ini adalah beberapa hal penting yang harus kupelajari?”

Wanita itu tertawa sambil menganggukan kepalanya. Dengan kesal aku menepuk jidatku, aku benar-benar sedang tidak ingin belajar sekarang. Apakah aku harus memepelajarinya.

“Direktur tenang saja, saya akan membantu Anda”

Dia tersenyum saat ia menawarkan hal itu begitupun dengan aku yang senang bisa mendapatkan bantuan di hari pertamaku.

Yang aku tak tahu.. senyum itu merupakan sebuah awal dimana hubungan ini akan berkembang.

=== Wandered ===

 

“Kau sudah selesai mengaturnya?” suara itu menyapaku dengan rasa serak yang terdengar begitu khas dari pemiliknya. Lembaran kertas yang coba kubaca sejak tadi mendadak menjadi sesuatu yang bukan fokusku lagi. Langkahnya terasa begitu cepat, sama seperti degupan jantungku yang tak mau bekerjasama dengan akalku.

Segera kurapikan tumpukan kertas itu. Dia yang sudah ada di depanku memberikan tatapan terhibur dan herannya padaku. Bibir tipisnya yang terbentuk begitu sempurna mulai memberikan senyum hangatnya, menyapa siangku seakan ini adalah pagi yang tak bersisa. Lesung pipi itu muncul, melengkapi keindahan yang tak sengaja dipancarkan olehnya.

“Kenapa kau seperti itu?” dia bertanya seakan aku adalah makhluk terbodoh yang ada dihadapannya dan mungkin… itu benar.

“Aku?” tawanya terdengar mendengar tanya itu bersuara. Aku menatapnya penuh tanya dan heran, berbeda dengannya yang terlihat begitu menikmati ekspresi wajahku.

“Kau..” kata itu terhenti sedangkan matanya tak berhenti menjelajahi hatiku dengan kedua jendela jiwanya, berharap jiwaku menyerah dalam pesonanya yang tak tertandingi.

.

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam tapi aku masih betah berada di atap gedung yang menjulang tinggi ke langit Seoul, menatapi malam yang masih tak bersahabat dengan hatiku, yang menyendu dirundung pilu karena seorang pria yang kukira masih dapat menjadi teman hidupku, bukan sesuatu yang hanya bisa hidup di hatiku.

 

Kopi panas yang kini telah menghangat dan mendinginlah yang setia menemaniku, bukan dia, si brengsek yang seenaknya memainkan hatiku. Eurgh!!! Park Yoonan! Mengapa kau harus hadir dihidupku jika itu hanya membawa luka? Tuhan, mengapa kau izinkan dia untuk mencuri pandanganku, rasaku, sukaku, dan cintaku? Mengapa kau biarkan dia hidup dan membuat hati ini pedih tak terperih. Mengapa aku begitu mudah jatuh cinta padanya? Mengapa kau membuatku begitu bodoh dengan cinta ini, Tuhan? Mengapa aku bisa begitu buta sehingga aku bisa dibodohinya selama 2 tahun ini? Mengapa aku mau menggantungkan harapan ini pada Dia yang tak pernah mengikatnya sama sekali? Mengapa?!!!!

 

Semua itu aku teriakan dalam sunyi yang menemani. Aku merasa sedikit lega ketika semuanya sudah selesai aku ucapkan. Senyum itu perlahan muncul dan aku tahu bahwa ini hanya sementara karena saat ranjang itu menyapaku, tangis ini yang berganti menemani setiap kenangan yang telah kami buat. Tangis itu kini mulai mendera, membuat angin tak mampu menghentikannya dalam badai, hanya mampu membawa duka ini dalam kekosongan yang tak bertepi.

 

Diam itu tak mau menemani karena tangisku bertambah keras, membuat tenggorokanku terasa sakit, belum dengan hidungku yang mampet serta kepalaku yang sedikit pusing. Dinginnya malam tak membuat hatiku bergetar, menggigil dan meringis mencari kehangatan dari sekitar. Hati ini mungkin sudah terlalu sakit untuk merasakan hal lain selain luka yang dia torehkan. Haus, kuminum lagi kopi di genggamanku. Sepertinya kopi pun tak mau menemani, karena hanya tetes-tetes yang tersisa, sama seperti cintanya yang hilang termakan dusta dan pengkhianatan yang ia bawa.

 

“Tiffany-shi?” Sebuah suara memanggilku, sesuatu yang familiar jika boleh kutebak. Vokalnya yang bulat keluar merdu seiring dengan tanya yang dia berikan padaku. Kubalikkan direksi tubuhku ke belakang, melihat seseorang yang tak kusangka bisa ada disini, malam ini, menemaniku selain malam yang mulai tak bersahabat dengan dukaku.

 

“Nona Kim?” tanya itu kujawab dengan tanya saat dia menghampiriku dengan 2 cangkir coklat hangat yang mengiringi langkahnya. Tak butuh waktu yang lama untuk kami bertatap muka dengan jarak yang begitu dekat.

 

“Minumlah, aku sengaja membelikannya untukmu.” Wanita yang sudah 3 bulan ini menjadi bosku mulai membuka genggaman tanganku dari cangkir kopi yang tadi menjadi kawanku, mengambilnya dan mulai menggantinya dengan secangkir coklat panas yang begitu hangat mengitari genggaman tanganku.

 

.

.

.

 

“Nona Kim.. mengapa kau ada disini?” coklat panas itu kini telah menghangat, mulai bersahabat untuk kuminum dengan kehangatan di dalamnya, sedikit mengobati dingin yang menusuk tubuhku secara perlahan. Tak kuketahui bahwa gigilan itu datang dari tubuhku. Kueratkan cardigan putih yang melindungiku sejak tadi, cukup hangat tapi terlalu tipis untuk cuaca seperti ini.

 

“Aku juga ingin bertanya hal yang sama denganmu. Nona Hwang… mengapa kau ada disini?” Dia berucap sambil memintaku untuk memegang cangkir coklat hangatnya, membuatku bingung kenapa dia seperti itu.

 

“Ap.. Apa yang kau lakukan?” kagetku tak terbendung saat ia mulai membuka kancing mantelnya satu persatu. Dengan senyum manis dan polos layaknya seorang bayi, ia lepas mantel hitam itu lalu ia kenakan di punggungku. Dia mengambil kedua cangkir yang kubawa tadi, membuat pandanganku menjadi sebuah tanya untuknya.

 

“Pakailah, aku tahu kau kedinginan dengan apa yang tadi kau kenakan. Hidungmu sudah merah sekali seperti strawberry.” Di akhir kalimatnya, Taeyeon, bosku itu tertawa dengan merdunya, melupakan fakta bahwa aku masih berdiri dihadapannya dengan wajah bingungku.

 

“Kenapa kau masih seperti itu?” wajahku semakin meneriakan tanda tanya sepertinya karena kini dia menghentikan tawanya, masih tersenyum dengan wajah yang selalu mencurangi usianya yang sebenarnya. Melihat wajahku yang masih bertanya padanya, sepertinya dia mengerti. Mulai dia keluarkan smartphone dari saku cardigan hitam tebal yang masih memeluknya, memposisikan benda pribadinya itu ke wajahku yang sepertinya mulai mengerti dengan apa yang sedang dia lakukan.

 

“Kau terlihat bingung sekali dan maafkan aku jika aku tak bisa menahan tawaku tapi kau imut sekali.” Dia menunjukan gambar yang tadi dia ambil dengan kamera smartphone-nya. Dari layar itu bisa kulihat wajahku yang terlihat begitu bingung dengan hidung memerah persis seperti yang dia bilang tadi. Aku terlihat begitu berantakan dengan maskara yang mulai memudar, sehingga tangisku meninggalkan jejak tinta hitam di pipi mulusku. Sejujurnya, aku terlihat jelek dan bodoh sekali dalam foto itu. Untuk sesaat aku menutup kedua mataku, mencoba menenangkan rasa malu yang mulai menjalar ke tubuhku. Tuhan,,, biarkan moment ini hanya menjadi mimpi yang dia tak pernah tahu, cukup aku yang mengingatnya, mungkin bahkan aku tak ingin mengingatnya sama sekali. Sungguh memalukan! Aku bersumpah, ini merupakan salah satu moment yang memalukan dalam hidupku.

 

“Kau membuatku merindukan Stepho. Ah.. sudah 3 bulan ini aku tak melihatnya. Sayang sekali, seandainya dia bisa ikut bersamaku kesini, mungkin kami tidak perlu berpisah.” Entah kenapa rasa rindu dan kesenduan itu bisa kurasakan dari tubuhnya, bukan hanya kata-kata yang kudengar dari mulutnya.  

 

“Stepho?” tanya itu keluar tanpa control dariku. Dia mengangguk lalu mencari sesuatu di telepon pintarnya. Senyumnya merekah saat dia melihat sesuatu lalu dengan semangat memperlihatkannya padaku.

 

“Kenapa kau terkejut seperti itu?” alis kanannya dia naikan keatas, senyumnya itu mengandung tanya dengan apapun yang ekspresi wajahku katakan padanya.

 

“Aku.. mirip dengan anjingmu?” tawa kembali hadir menenami kami setelah dia mendengar pertanyaanku tadi. Dia terlihat puas sekali dengan apapun yang ada dalam pikirannya. Heumh.. bagus Kim Taeyeon, aku sekarang  tahu bahwa bosku, menganggapku seperti anjingnya.

 

“Tiffany.. maafkan aku tapi wajah bingungmu memang imut sekali seperti anjingku.” Tawa itu mulai mereda. Aku masih menunjukan wajah ‘foker face’-ku padanya, terlihat sebal karena dia menertawaiku seperti aku adalah lelucon baginya.

 

“Tapi aku tidak pernah menganggapmu sebagai anjingku dalam dunia pekerjaan dan hal  lainnya. Kau adalah sekretarisku, namun aku juga ingin kau menjadi temanku.” Keseriusan itu nampak dari wajah cantiknya yang bersinar dibawah naungan cahaya bulan yang menemani kami sejak tadi.

 

“Mengapa kau ingin aku menjadi temanmu?” ini sudah diluar jam kerja jadi aku mungkin bisa memanggilnya tidak dengan cara yang formal seperti biasanya. Lagipula dia yang memulai percakapan ini menjadi kasual, bukan seperti bos dan bawahannya.

 

“Selain karena aku ingin kita berada dalam lingkungan kerja yang nyaman, saat aku meihatmu, ketika aku mengamatimu selama 3 bulan ini, aku seperti melihat diriku dalam dirimu.” Lembut, itulah yang kurasakan dari pandangannya padaku. Apa yang diucapkannya tadi terasa jujur dari hati, tak seperti Yoonan yang pandai memainkan hatiku.

 

“Apa maksudmu?” sejujurnya aku tidak mengerti dengan maksud ucapannya tadi. Dia melihatku seperti melihat dirinya sendiri? Bagaimana bisa? Dan tunggu.. apa dia bilang dia mengamatiku selama ini? Oh Tuhan.. semoga bukan hal buruk yang menjadi hasil pengamatannya.

 

“Katakan padaku Tiffany, apa kau.. sedang patah hati?” tatapannya semakin melembut menjadi simpati yang entah mengapa mengusik batinku untuk berkata yang sejujurnya padanya, tentang hatiku dan masa lalu yang masih mengikat pikiran dan rasaku  hingga hari ini, membuat duniaku menjadi abu-abu dilangkahi kelabu.

 

.

.

.

 

“Jadi.. dia memilih sahabatmu?” aku dan Taeyeon sekarang berada di tenda jajanan malam yang begitu ramai di sekitar Myeongdong. Kami memesan beberapa botol soju, kue beras, soondae, samgyeopsal, odeng, japchae dan beberapa jajanan lainnya yang bisa memuaskan nafsu makanku.

 

“Ya.. kau tepat sekali Nona Kim hahaha…” tawaku tanpa melihat wajahnya yang sedikit memerah setelah meneguk segelas kecil soju yang kutuangkan untuknya.

 

Sejak pertanyaan yang Taeyeon ajukan di atap tadi, aku mulai menceritakan masalahku padanya tanpa kesulitan apapun. Entahlah, rasanya berbicara pada Taeyeon tentang Yoonan terasa begitu mudah, seakan nama pria brengsek itu sudah tidak lagi menggangguku. Dia begitu serius dalam diamnya mendengar semua ceritaku mulai dari awal perkenalanku dengan pria tak punya hati itu, saat kami jatuh cinta, hubungan kami yang sudah berjalan selama bertahun-tahun, bahkan hingga akhirnya beberapa bulan lalu, Yoonan memutuskan hubungan kami karena dia lebih memilih untuk menikahi sahabatku, Jessica Jung, yang ternyata adalah cinta pertamanya.

 

“Aku tidak tahu sejak kapan mereka berhubungan dibelakangku, yang aku tahu mereka sedang menyiapkan pernikahan. Bukankah aku bodoh, Taeyeon-ah? Mengapa aku bisa mencintai pria yang hatinya tak pernah ada untukku pada nyatanya?” linangan air mata tak bertangis menemani tawa ini. Taeyeon menuangkan lagi cairan bening yang bisa membuatku lupa pada dukaku untuk sementara. Kuteguk dalam satu tembakan dan rasanya.. cairan itu membakar seluruh tenggorokanku, menghangatkan  tubuhku yang mati kedinginan di dalamnya.

 

“Dosenku pernah berkata tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang malas. Tapi.. justru kebodohan itu sendiri adalah sifat dasar manusia, sebuah fitrah yang justru membuatmu menjadi manusia. Dengan menjadi bodoh, kita melakukan kesalahan dan dari kesalahan itu sendiri, kita mempelajari hal baru. Jadi Tiffany Hwang… kau tidak perlu bersedih dengan kebodohanmu karena itu berarti kau sedang dalam proses untuk mendapat pelajaran baru dalam hidupmu, pelajaran yang berharga. Itu pula yang terjadi padaku.” Senyumnya yang lembut dan menghangatkan itu kembali Taeyeon berikan padaku. Rambut hitam sedada-nya terurai begitu indah. Tatapan mata hitam keabuannya itu membuatku entah mengapa bisa mendapatkan ketenangan yang selalu mengiringi setiap langkahnya.

 

“Salah satu alasan aku mau menerima tawaran ayahku untuk bekerja di perusahaannya adalah… karena aku ingin melupakan semua kenanganku di Stanford.” Wajahnya menyendu meskipun senyumannya masih belum pudar.

 

“Maksudmu.. kau..” tatapan matanya membuat suara itu entah mengapa tak mau keluar menghampiri. Aku terdiam saat pandangan kami berlalu.

 

“Ya Tiffany. Aku juga pernah terluka sepertimu. Hanya saja mungkin kasusku berbeda denganmu. Steve, mantan kekasihku, dia tidak pernah berselingkuh dengan siapapun. Dia adalah pria yang baik, humoris, memiliki suara yang sangat bagus, cerdas dan loyal.” Dibalik sendu itu ada sebuah kebahagiaan dan ketenangan yang mengelilinginya, membuatku ikut terbawa dalam suasana itu.

 

“Lalu mengapa kalian berpisah?” tanyaku mulai berani untuk berbicara padanya lebih lanjut.

 

“Steve adalah seorang dokter dan aktivis kemanusiaan yang kukenal karena kami sering beribadah di gereja yang sama. Hubungan kami juga berkembang disana. Pada suatu hari, Steve memberitahuku bahwa dia akan berangkat ke Gaza untuk melakukan misi kemanusian selama 2 minggu. Mengetahui bahwa itu adalah kebutuhan jiwanya, aku tak bisa melarangnya untuk maju ke medan peperangan itu. Dengan berat hati aku melepas kepergiannya ke Gaza. Hingga di hari ke 8 sejak kepergiannya itu, aku mendapat kabar bahwa rumah sakit tempat Steve menjalankan tugasnya dihantam bom dan Steve… dia menjadi salah satu korban tewas yang tubuhnya sudah hancur bersama bangunan yang aku kira bisa melindunginya.” Kesedihan itu ada dan terasa namun entah mengapa Taeyeon terlihat begitu ringan dan bebas menceritakan hal yang mungkin bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sensitive, dan berat untuk diceritakan pada orang lain, kecuali jika mereka sudah dekat.

 

“Taeyeon.. maafkan aku.. aku tidak tahu bahwa…..” aku tak tahu jika Taeyeon memiliki masa lalu yang menyedihkan seperti itu. Kukira hidupnya berjalan dengan mudah dan sempurna, secara dia adalah seorang direktur dan putri pemilik saham terbesar di perusahaan kami.

 

“Tidak apa-apa. Aku sudah belajar untuk mengikhlaskan semuanya. Memang awalnya berat tapi.. perlahan semuanya terasa ringan jika kita menyerahkan semuanya pada kuasa Tuhan. Aku… ingin kaupun melakukan hal yang sama, Nona Hwang.” Nada bicaranya itu seakan memohon padaku untuk mengabulkan permintaannya.

 

“Nona Kim, aku ucapkan terimakasih sebelumnya, tapi.. kenapa kau menceritakan ini semua padaku? Kenapa kau ingin aku melakukan hal yang sama denganmu?” aku rasa itu adalah hal wajar yang kuucapkan padanya. Lagipula, siapa yang tidak penasaran pada seseorang yang tiba-tiba begitu baik padamu hanya karena dia melihatmu menangis. Bukankah itu mencurigakan?

 

“Sebelum aku belajar mengikhlaskan semuanya, hari-hariku, bahkan setiap detik yang kulalui, itu terasa begitu menyiksaku. Dalam diamku, aku selalu merintih pada Tuhan mengapa Dia begitu tega mengambil orang yang kucintai lebih cepat dari yang kuinginkan. Steve berkata bahwa Tuhan begitu mencintai setiap hamba-Nya tapi mengapa Dia begitu tega menyiksaku dengan mengambil Steve begitu cepat?” kedua mata hitam keabuan itu mulai berkaca-kaca, menahan tangis dan menyimpan sejuta luka di dalamnya.

 

“Taeyeon-ah..” tanpa sadar aku terbawa dalam sendunya, bukan sebuah ketenangan yang dia ciptakan sejak tadi.

 

“Setiap hari aku menyalahkan Tuhan dan diriku sendiri yang tak mampu mencegah keinginan Steve. Setiap hari aku menyiksa diriku dengan semua rindu dan perasaan yang kurasakan padanya. Hingga suatu hari Steve datang dalam mimpiku. Dia memintaku untuk melepaskannya, mengikhlaskan semuanya. Sejak itu aku sadar bahwa  semua duka yang kurasakan untuk Steve tidak akan bisa membawanya kembali padaku. Aku hanya menyakiti diriku sendiri dan dengan menyakiti diriku, itu secara tidak langsung sama saja dengan aku menyakiti orang-orang di sekelilingku, terutama mereka yang begitu menyayangiku seperti keluargaku.” Tangisnya itu tak ada, hanya linangan cairan sebening kristal yang menghiasi paras cantiknya.

 

“Alasanku mengatakan ini semua padamu.. karena aku tidak ingin kau mengalami sakit yang kurasakan. Aku tidak ingin kau menyiksa dirimu terus menerus oleh sebuah luka yang sebenarnya hanya cukup hadir pada hari itu saja, tidak sampai hari ini. Kau harus mencintai dirimu lebih dari kau mencintai pria yang mungkin saja tak pernah memikirkanmu sedangkan kau masih terjebak pada luka yang ia torehkan. Kau harus memikirkan mereka yang mencintaimu selama ini Nona Hwang, keluargamu.” Ketulusan dan kejujuran, adalah sesuatu yang tidak bisa kuingkari dari ekspresi wajah Taeyeon. Mendengar apa yang telah Taeyeon ucapkan tadi, entah mengapa hatiku bertambah sedih. Apa yang diucapkannya tentang Yoonan adalah sebuah kebenaran yang sebenarnya aku ketahui, namun masih kuingkari.

 

“Aku.. mereka sudah tidak ada.” Ada hal lain yang mengusik senduku lebih dalam. Dan itu adalah keluarga. Ayah dan ibuku sudah berpulang cukup lama. Hubunganku dengan kedua kakakku juga kurang baik. Michelle menetap di Amerika bersama suaminya sedangkan Leo memutuskan untuk mengelola hotel milik Ayah di Filipina bersama istrinya.

 

Hubunganku kurang baik dengan mereka karena dulu, kedua orang tuaku begitu memanjakanku sehingga aku tumbuh menjadi seorang gadis yang menyebalkan mungkin untuk kedua kakakku. Bahkan kedua orangtuaku saja meninggal karena keegoisanku yang memaksa mereka untuk menghadiri acara wisudaku di salah satu universitas ternama di Korea. Sejak ayah dan ibu pergi, Mich dan Leo menjadi dingin padaku. Mereka menyalahkanku atas kematian orangtua kami. Sejak saat itu aku tidak berani untuk menghubungi mereka. Aku tidak ingin mendapatkan luka dan penolakan dari saudara sedarahku. Aku tidak mau kecewa dan membenci mereka lagi seperti dulu. Sejak saat itu aku tinggal di Seoul seorang diri, sebelum Yoonan datang dan mulai menemani hingga akhirnya dia pergi.

 

“Fany-ah..” dalam hitungan detik, tanpa aba-aba apapun, tubuhku Taeyeon bawa dalam pelukannya dan aku mulai menumpahkan semua emosi yang tertahan dan tersembunyi selama ini.

.

“Kau begitu imut!” hidung mancungku Taeyeon cubit ringan. Aku cemberut mendapat cubitan itu meskipun hatiku berkata lain. Dia tertawa kecil melihat rautan mukaku. Dalam tawanya dia bantu aku untuk merapikan file-file yang tadi sedang kubaca.

“Nona Kim.. kau tidak perlu melaku…” ucapanku terpotong dengan telunjuknya yang ia simpan di bibirku.

“Aku yang memaksa ingin melakukannya Nona Hwang. Jadi kau tidak bisa menghentikanku.” mata kanannya Taeyeon kedipkan, masih dengan senyum manis berhiaskan lesung pipi yang membuat siapapun akan meleleh melihatnya.

.

.

.

“Kau makan seperti anak kecil, begitu menggemaskan!” aku memutarkan pandanganku mendengar pujian atau lebih tepatnya sindiran yang Taeyeon berikan padaku. Kami sekarang sedang makan siang di salah satu restoran favoritnya yang menjadi favoritku juga. Di restoran ini tersedia berbagai menu, mulai dari hidangan eropa hingga asia. Aku bisa mengobati kerinduanku pada masa kecilku dengan memesan hidangan barat sedangkan Taeyeon lebih menikmati makanan korea dan negara  sekitarnya.

Ini bukanlah kali pertama aku dan Taeyeon makan siang bersama. Sudah sekitar 9 bulan berlalu sejak kami mulai berbicara dari hati ke hati. Sejak saat itu hubungan kami perlahan berubah bukan hanya sekedar hubungan kerja tetapi menjadi lebih pribadi. Pribadi disini mempunyai arti dimana Taeyeon benar-benar ingin menjalin persahabatan denganku. Aku dengan senang hati menerima tawarannya. Tapi aku tidak pernah tahu bahwa rasaku memberontak pada inginku. Aku tidak pernah tahu bahwa perlahan hatiku, mulai jatuh padanya. Dan aku.. ingin dia menangkapnya.

.

Hari sudah cukup malam. Seperti biasa, aku akan pulang setelah Taeyeon pulang. Jadi jika bosku itu memutuskan untuk pulang telat, maka aku harus ikut pulang telat sama sepertinya. Begitupun sebaliknya, malam ini juga tak menjadi pengecualian karena aku baru saja keluar gedung kantor tepat pukul 11 malam. Sudah kuhubungi taksi yang akan mengantarku pulang ke apartementku di Insadong.

“Omo!.. Nona Kim,  apa yang kau lakukan?” tanyaku pada wanita yang baru saja keluar dari Porsche seri Boxster putihnya.  Dia berjalan mendekat dengan wajah tenang dan karismatiknya. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya ketika dia menggenggam tanganku, membawaku untuk duduk di kursi mobil mewahnya itu. Aku ingin menolak tapi tenaganya cukup besar untuk tubuh mungilnya.

 

“Dimana rumahmu?” tanya itu dibalas lagi dengan tanya yang membuatku sedikit enggan untuk menjawabnya karena dia seenaknya memaksaku untuk pulang dengannya seperti tadi.

 

“Fany-ah…” aku sungguh membencinya jika dia sudah memanggilku dengan suara semerdu dan sedalam itu.

 

“Apartement Sky Light, Insadong.” Jawabku singkat tapi entah kenapa dia hanya tertawa mendengar kata ketusku.

 

“Baiklah… kencangkan sabuk pengamanmu!”

 

“Apa maksud.. Argghh!!!”

 

.

.

.

 

“Kau.. baik-baik saja?” Kami sudah tiba di depan pintu masuk komplek apartemenku. Aku masih duduk di kursi, begitupun dengannya.

 

“Nona Kim… dengan segala hormat, jika kau ingin bunuh diri, tolong jangan bawa aku.” Perempuan di hadapanku ini hanya tersenyum sebelum akhirnya meledak dalam tawa merdunya. Entah kenapa rasa kesalku perlahan menghilang terbawa dalam tawanya yang begitu menghipnotisku untuk ikut bersamanya.

 

“Itu bukan bunuh diri Nona Hwang, itu yang namanya memacu adrenaline. Lihat wajahmu yang cantik itu.. semakin bertambah hidup setelah memacu adrenaline-mu.” Aku tak memberikan respon apapun dan bersiap keluar dari pintu mobil saat tangannya mencegahku untuk membuka pintu mobilnya.

 

“Biar aku yang membukakannya untukmu.” Ucapnya lembut seperti seorang pria yang baru saja mengantarkan wanitanya pulang. Aku terdiam melihat wajahnya yang kembali dihiasi senyuman sebelum keluar dari kursinya dan berlari membukakan pintunya untukku.

 

“Baiklah.. aku pamit. Selamat malam Nona Hwang.” Sekali lagi, senyum lesung pipinya menghiasi. Aku terdiam menerimanya.

 

“Tunggu..” langkahnya terhenti setelah mendengar panggilku.

 

“Ya?” punggung itu dia balikkan, wajahnya kini berhadapan dengan aku yang menatapnya heran dalam diam. Untuk beberapa waktu pandangan kami bertemu, mengunci dan mencoba berkomunikasi.

 

“Taeyeon.. mengapa kau melakukan semua ini?”

 

“Karena kau.. adalah sahabatku.” Aku bersumpah, senyumnya begitu manis saat ini. Kelembutan dan kenyamanan yang terpancar beriringan dengan tawa karismatiknya membuatku tanpa sadar menganggukan kepala ini, menerima tawarannya untuk menjadi sahabatnya.

 

.

“Taeyeon-ah.. nanti malam, bisakah kau mengantarku pulang?” mendengar itu dia terdiam lalu mengecek jadwalnya di telepon pintarnya. Dia terlihat sedikit berpikir sebelum menganggukan kepalanya.

“Good!” aku berseru padanya karena berarti malam ini rencanaku bisa terlaksana.

“Great!” sahutnya dengan tawa dalam antusias.

“Yeah.. Yeah!” tawa kami saling beriringan menjadi sebuah musik yang tak pernah menjemukan untuk didengar.

“Okay.. cukup hahahaha. Kau konyol sekali Nona Kim!” kupukul bahunya pelan karena kini tawa seperti Ahjumma-nya mulai keluar, membuat tawanya menjadi sebuah lelucon bagiku.

“Hei! Aku masih menjadi bosmu!” dia berpura-pura membentakku dengan wajak kejamnya.

“Oh ya? Kita sekarang sedang berada di luar kantor. Kau masih bisa menyebut dirimu sebagai bosku, Kim Taeyeon?” Aku memperlihatkan salah satu guntingan kunci kesayangannya yang berada dalam genggaman tanganku. Taeyeon terlihat tidak bisa berkutik melihat benda kesukaannya berada dalam ancaman.

“Hahaha.. baiklah Nona-ku. Kau adalah bosku jika kita sedang diluar kantor.” Tawanya menyerah tapi tetap terhibur dengan permainan kami. Kuberikan gantungan kunci tersebut. Dia terlihat senang sekali, seperti anak kecil yang senang sekali mendapatkan mainan kesayangannya kembali padanya.

“Taeyeon-ah..” panggilku iseng padanya.

“Heumh?” jawabnya ringan. Dia masih menatapku begitu fokus, layaknya aku adalah hal terpenting di dunia ini.

“Tidak.” Urungku mengutarakan apa yang menjadi niatku. Rasanya tak tepat membicarakannya disini meskipun sabarku memberontak untuk mengatakan hal yang sebenarnya saat ini.

“Tiffany..” panggilnya lembut, seakan dia mengerti apa yang menggangu pikiranku.

“Heumh..” jawabku ingin dia yang memulai pembicaraan ini. Dia mengambil tangan kananku, membawanya dekat dengan bibirnya. Tangan itu ia elus, bagai itu adalah hal paling rapuh dan berharga yang ia ketahui. Cukup lama dia melakukan hal itu hingga aku yakin bahwa berikutnya, tangan itu akan ia kecup layaknya adegan di film, seperti yang  kubayangkan. Kulihat senyum lesung pipinya itu muncul dan aku tahu, dia kembali membuatku jatuh hati padanya entah untuk keberapa kalinya. Rentetan gigi putihnya yang rapi menambah keindahan yang tak pernah bosan aku menatapnya. Yang paling penting, lesung pipinya yang begitu manis dan adiktif. Bibirnya mulai bergerak, seperti akan mengatakan sesuatu dan aku harap itu hal yang kuinginkan.

“Tidak..” dia sedikit tertawa sebelum meletakkan tanganku kembali ke tempatnya. Tawanya semakin menjadi setelah melihat ekspresi wajahku yang terdiam bodoh mendengar ucapannnya tadi.

“Yah!!!!!” bahunya kini kembali menjadi korban keganasan tangan dan nafsuku.

.

.

.

“Nah.. kita sudah sampai di istanamu.” Rem itu Taeyeon injak hingga kami berhenti dengan perlahan. Kami sekarang sudah berada di parkiran apartement-ku.

“Kau terlalu berlebihan Taeyeon-ah…” ucapku melepas sabuk pengaman yang mendekap tubuhku selama perjalanan kami.

“Hahaha.. biar saja. Lagipula, bukankah seharusnya seorang putri hidup di sebuah istana!” sahutnya sebelum keluar mobil, berlari membukakan pintuku.

“Jika ada seorang pangeran di dalamnya, maka itu bisa menjadi sebuah istana.” Aku berucap sembari keluar dari pintu mobilnya.

“Lalu.. mengapa kau tak segera mengundang pangeranmu kesini?” wajah kami kini sudah berhadapan. Dia memandangku dengan mata hitam keabuannya yang selalu menantang hatiku untuk menginterpretasikan setiap tatapannya.

“Siapa? Tidak ada yang mau menjadi pangeranku.” Jawabku ringan kembali bersiap  melaksanakan langkah selanjutnya.

“Ah.. benarkah? Lalu Nikun, Grey, Senghyun, Siwon, In Sung?” entah kenapa tawa itu hadir saat aku mendengar nama-nama pria yang masih mengejarku hingga hari ini, terutama Nikun, yang sampai saat ini selalu berkata bahwa aku adalah kekasih rahasianya. Grey, dia pria yang cukup baik dan keren namun sayang, bukan dia yang aku inginkan. Ketiga kandidat lainnya terlalu sempurna untuk seorang aku yang banyak sekali kekurangan dengan ketidaksempurnaaanku yang seharusnya mereka lengkapi. Tapi aku sendiri tidak ingin mereka yang menjadi pelengkapnya.

“Lalu siapa yang kau inginkan?” itu kau bodoh! Ingin sekali kukatakan hal itu padanya yang terlihat penasaran dengan jawabanku.

“Apa kau ingin mengetahuinya?” dengan wajah polos penasarannya, Taeyeon mengangguk-anggukan kepalanya seperti anak kecil. Aku harus menahan diriku untuk tidak menciumnya karena keimutannya itu. Taeyeon selalu berkata bahwa aku imut padahal keimutannya lebih dariku.

“Bermalamlah. Maka kau akan mengetahui seseorang yang selama ini kucintai.” Melihat senyum antusiasnya, aku tahu bahwa rencanaku akan berjalan dengan baik malam ini.

.

.

.

“Kau sudah selesai?” Taeyeon kini sudah ikut denganku, berdiri disampingku dengan handuk kecil yang masih menggantung di lehernya. Kami sedang menatap pemandangan malam dari balkon apartementku, sesuatu yang sering aku lakukan jika aku sedang gugup. Kuserahkan padanya secangkir minuman hangat yang menjadi favoritnya. Dia tersenyum menerima teh melatinya, mulai menghirup aroma menyenangkan dan menenangkan yang dikeluarkan.

“Heumh.. enak sekali. Terimakasih, kau paling tahu tingkat kemanisan yang kuinginkan dalam teh melatiku.” Aku mengangguk dalam diam dan melanjutkan pandanganku pada langit yang membisu, tidak seperti hatiku.

“Taeyeon-ah..” setelah cukup lama kami terdiam menikmati malam dalam kehangatan yang manis ini, aku mulai berbicara. Aku pikir ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku padanya.

“Ya?” Dia menolehkan wajahnya padaku, masih dengan senyumnya yang selalu membuat jantungku melemah.

“Aku mencintaimu.””

“Aku juga. Kau adalah sahabatku, sahabat pertama yang kubuat setelah kembali ke Seoul.”

“No.. bukan itu maksudku.”

“Lalu apa… tunggu… maksudmu…”

“Ya.. aku mencintaimu lebih dari seorang teman. Aku mencintaimu layaknya seorang wanita yang mencintai prianya. Aku mencintaimu Taeyeon-ah.” Kini.. aku hanya tinggal menunggu jawabannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Author Note:

Hai!

Cerita di atas adalah hasil kolaborasi aku dan author taeny garis keras “Siscataetae” 😁.

Ide cerita ini datang dari ka Sisca yang punya misi terpendam dalam cerita yg akan terbagi dalam beberapa part.

Apa yang kalian sudah baca tadi adalah bagian pembuka dari ff ini. Panjang ya? suka ya?

Komen dong hehehe.

biar yang nulisnya semangat.

Oh ya aku yakin kalian pasti ngerasain perbedaan bahasa dan gaya tulisan cerita ini kan?

Nah knp? padahal ini adalah ff kolaborasi. Tapi aku sengaja menjaga ciri khas tulisan kami karna aku pikir akan jadi hal unik kalau dalam 1 tulisan terdapat lebih dari 1 gaya tulisan. Jadi pembaca bisa menikmati kedua gaya tulisan tersebut dalam 1 cerita.

Diakhir… tulisan kami mungkin tidak bisa memuaskan selera semua pembaca yang berkunjung ke blog ini.

Heumh.. berkaca dari pengalaman pribadi, kalian boleh jujur kok untuk mengkritik apakah ff ini bagus atau tidak. Ceritanya bikin kalian skip skip ga baca atau cuma baca beberapa karna kalian udah bisa tebak jalan ceritanya.

Thanks!

Iklan

120 pemikiran pada “Wanderer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s