Choice

cxgou2cvqaeezjp

“Karena pada akhirnya aku sadar… bahwa pilihan itu tidak ada padamu, padaku, pada kita.”

.

Ungkapan hati.. untuk Dia yang pernah selalu dan pada akhirnya sempat menggetarkan jantung ini.

***

Pagi ini aku melihat Dia bangun dengan senyum seindah bulan yang pada kenyataannya tak secantik itu. Punggungku kusandarkan pada Head Board ranjang yang selalu menjadi tempat Dia dan aku berbagi malam, dingin, panas, menyenangkan, bahkan menyedihkan. Dalam diam mata ini mengawasi semua gerak-geriknya. Dalam senyum, jendela jiwa ini menatap Dia yang terdiam menutup kedua matanya, mengenggam kedua tangannya sendiri lalu mengucapkan rasa syukur karena hari ini Tuhan masih begitu baik memberikan semua berkah-Nya yang luar biasa tak terhingga. Seandainya mulut ini mampu bergerak, seandainya tubuh ini mampu untuk mendekapnya, seandainya ego ini mau mengalah pada super egonya, mungkin semua akan menjadi mudah.

.

“Taengoo.. aku ingin yang ini!” wanita disampingku terlihat begitu antusias memilih gantungan kuda poni yang akan dibelinya, heumh… lebih tepatnya aku yang membelikan tokoh kartun kesukaannya itu untuk memuaskan hasratnya untuk memiliki benda apapun berwarna merah muda.

 

“Kau yakin? Gantungan boneka Totoro ini berwarna merah muda juga.” Ucapku menggodanya. Dia terlihat berpikir seakan tawaranku kini menjadi pilihan di hatinya.

 

“Aku tidak mau. Aku ingin kuda poni saja.” Tegasnya setelah terdiam cukup lama, terjebak dalam pikiran yang sebenarnya dikendalikan oleh perasaannya.

 

“Baiklah…” aku menyerah untuk membujuknya. Kudekati si penjual gantungan kunci yang kami incar sejak tadi. Dia menyapaku dengan ramah meskipun wajahnya terlihat ingin mengajakku untuk berkelahi.

 

“Selamat siang! Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah seperti kebanyakan penjual yang berusaha melayani konsumennya dengan baik.

 

“Saya ingin 1 gantungan kuda poni dan totoro merah muda yang dipajang di rak depan.” Si penjual itu tersenyum mengerti dengan permintaanku. Dengan cekatan ia menyiapkan pesananku tadi. Dalam beberapa menit kedua barang yang kupesan tadi sudah terbungkus cantik dalam balutan kotak merah muda berukuran sedang.

 

.

.

.

 

“Ini..” Dia.. wanitaku, terbangun dari lamunannya ketika aku datang menyapa. Senyuman khas itu tersungging di wajah bahagianya, membuat siapapun yang melihat tahu bahwa aku adalah kekasih yang baik baginya.

 

“Terimakasih.” Ucapnya ringan meskipun kebahagiaan itu coba Dia sembunyikan. Oh.. Dia ingin bermain sesuatu denganku sepertinya. Baiklah.. aku akan mengikuti permainanmu, Sayang.

 

“Kau.. tidak senang?” tanyaku terlihat kecewa mendengar ucapannya tadi. Dia terdiam memandangku dengan kedua mata hitam kecoklatannya. Eii.. apa kau sedang mencoba membaca pikiranku hei Nona?

 

“Aku bahagia.” Kedua matanya menyipit diiringi dengan senyum di bibirnya yang terbentuk dengan sempurna. Aku mendeham pelan, mencoba untuk tidak terganggu dengan apapun yang ia coba perbuat padaku. Eii… aku tidak akan kalah padamu Nona!

 

“Hahaha… kau begitu imut!” Dia tertawa mencubit pipi kananku dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih memegang kotak hadiah pemberian dariku dengan erat, seperti Dia akan kehilangan kotak tersebut. Aku menutup kedua mataku dalam ringisku, sesekali mengintip kebahagiaan yang melanda hatinya saat ini.

 

.

.

.

 

“Sayang.. terimakasih atas hadiahnya. Aku sangat.. sangat.. sangat menyukainya!” suaranya terdengar seperti anak umur 5 tahun yang baru mendapat hadiah dari kedua orang tuanya. Dalam diam, aku anggukan kepala ini untuk menjawab pernyataannya.

 

Hal berikutnya yang aku tahu adalah bibirnya mengunjungiku dalam kontak termanis dan hangat yang selalu ia berikan dalam intimasi kami. Tangan kanannya mulai menarik leherku untuk memperdalam ciuman kami, sementara tangan kirinya memijat kepalaku pelan, membuat kesadaranku terasa hilang dalam ilusi memabukkan ini.   

 

Kubalas ciuman itu dengan membawa tubuhnya semakin menyatu denganku. Punggung itu kubawa dengan tangan kiriku sedangkan pinggangnya kuserahkan pada tangan kananku. Tubuh kami menempel bagai sepotong roti isi yang tak terpisahkan, dimana hanya nikmat dikonsumsi secara bersamaan, bukan sebagian.

 

“Kembali kasih. Aku senang jika kau bahagia.” Ciuman itu telah berakhir, meski aku menyesalinya. Kami berdua masih ingin hidup. Aku masih ingin menikahinya, menjadi suami dan ayah dari anak-anaknya kelak. Dia menyenderkan kepalanya di bahuku, seakan itu adalah tempat ternyaman yang pernah ia temukan. Lagi.. aku tersenyum dalam diam menerima kehangatan darinya.

 

“Sayang.. aku bahagia.. karena itu kau yang membuatku bahagia.” Dengan suara merdunya, kalimat itu akan selalu kuingat untuk sekarang dan selamanya

.

“Kau ingin aku membantumu bercukur?” suaranya yang merdu itu membawaku mendarat pada kenyataan lagi. Melihat senyumku, dia beranjak dari ranjang, membawa tubuhku bersamanya, melakukan ritual kami di pagi hari.

.

.

.

“Sayang.. mengapa semakin hari kau semakin terlihat muda? Aku iri padamu…” aku mencoba menahan tawaku mendengar protesnya. Dia masih mencukur rambut-rambut yang tumbuh di daguku dengan perlahan, terlihat seperti sedang membuat karya seni. Diamku berarti aku menikmatinya. Dan memang itulah yang terjadi.

.

“Sayang.. Hyoyeon kemarin menggodaku… dia mengatakan bahwa aku mengencani seorang anak umur 18 tahun sedangkan aku sudah terlihat seperti tante-tante.” rengek manja wanita yang saat ini duduk disampingku. Dia memberikanku wajah sedihnya yang terlihat begitu imut membuatku menahan tawa ini dalam diamku.

 

“Benarkan? Kau terlihat seperti Vampir karena semakin tahun kau malah terlihat semakin muda hahahaha..” Hyoyeon tertawa puas setelah mengatakan pendapatnya pada wanitaku yang terdiam, menatapnya tajam seperti sebuah pisau yang siap untuk mengoyak penerimanya.

 

“Yah!!!” Hyoyeon meringis dalam tawanya menerima pukulan dari kekasihku yang terlihat kesal padanya. Aku mencoba menenangkan emosinya itu dengan segera membawa tubuhnya dalam pelukan.

 

“Sayang.. Hyoyeon hanya bercanda. Kau jangan terpancing oleh leluconnya ya.” Aku bangga mengetahui dalam seketika tubuhnya menjadi relaks dalam dekapanku. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku yang dengan segera kukecup agar amarahnya semakin menghilang. Amarah bukan sahabatnya dan aku tak mau emosi itu mengganggu kesehatannya.

 

 

“Kau.. sudah merasa baikan?” ucapku membuatnya mengangguk pelan, terlihat begitu nyaman bersandar padaku.

 

“Eheumh… kita sedang makan malam disini.” Sooyoung menyindirku dengan nada polosnya. Aku memberikan tatapan tajam yang kupelajari dari kekasihku yang saat ini terlihat seperti sebuah kucing yang berlindung pada pemiliknya, aku.

 

“Hahaa.. kau tidak akan mau menjadi korban selanjutnya kan Soo?” ancamku sambil melirik wanita yang masih betah dalam pelukanku. Mengerti maksud ucapanku, Sooyoung segera mengiyakannya.

 

.

.

.

 

“Sayang.. jika kau semakin tahun semakin muda sedangkan aku terlihat semakin tua… apa yang akan terjadi pada kita?” nadanya yang terdengar begitu jujur dan polos membuat tawa ini sulit untuk aku menahannya. Makan malam telah selesai. Kini aku dan Dia sedang menikmati malam sunyi yang menenangkan ini di taman belakang vila sederhanaku, di Gyonggi.

 

“Apa kau benar-benar mengkhawatirkan hal ini?” tanyaku hati-hati.

 

Melihat wajahnya, kini, aku tahu hal ini mungkin benar-benar mengganggu pikirannya. Dia terlihat gelisah meskipun kecantikan itu mencoba untuk menutupinya. Aku terdiam memikirkan jawaban apa yang paling baik untuk kuberikan padanya. Sebagai pria, tentu hal seperti ini tidak akan membuatku merasa terganggu, tapi dari sudut pandangnya sebagai wanita, aku tahu hal ini menjadi sebuah cemas baginya.

 

“Sayang.. apa kau percaya padaku?” kegelisahan itu terlihat berubah menjadi sebuah kebingungan saat aku bertanya padanya. Wajahnya kucoba bingkai dengan kedua tanganku, membuatnya fokus menatapku dan benar-benar mengerti maksud pertanyaanku tadi. Mata kami bertemu dan aku segera mentransfer isi pikiranku padanya.

 

“Aku mempercayaimu.” Ucapnya tanpa ragu dan itu sedikit menenangkan hatiku.

 

“Jika kau mau.. aku bisa mengubah gaya busanaku, tatanan rambut dan riasan di wajahku agar aku terlihat lebih dewasa dan sebanding denganmu.  Kita juga bisa mencari klinik kecantikan terbaik untuk membuatmu terlihat lebih muda dari tahun ke tahunnya. Kita bisa melakukan segala hal untuk membuat tampilan luar kita terlihat lebih baik.”

 

“Kau.. sudah terlihat begitu muda dengan semua yang kau miliki, Sayang. Aku bukan hanya berbicara tentang fisik, tapi kecantikan di dalam hatimu. Jiwa mudamu yang selalu membuatku jatuh dan jatuh lagi setiap harinya dalam pesonamu. Jadi.. aku berharap kau tidak usah mencemaskan hal ini. Karena aku akan melakukan apapun agar kau tidak cemas karena hal seperti ini.”

 

“Tapi aku..”

 

“Aku sangat mengerti kegelisahanmu. Tapi… aku berharap mulai saat ini, cukup dengar apa yang hatimu dan hatiku katakan. Jangan dengarkan apapun yang orang luar katakan tentang kita. Mereka tidak tahu apapun tentang kita.”

 

“Maafkan aku..”

 

“Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Wajar jika kau merasa cemas dan ketakutan seperti tadi. Satu pintaku, jika kau merasa terganggu dengan hal seperti ini lagi, segera ceritakan padaku. Aku tidak ingin kau menanggung semuanya sendiri.”

 

“Terimakasih Sayang. Kau pria terbaik yang Tuhan kirimkan padaku.” Aku tersenyum mendengar pujiannya. Wajahnya kini kubawa mendekat dan selanjutnya.. bibirku mulai menjelajah miliknya yang membalasku mesra.

.

“Sudah selesai!”  Dia terlihat begitu senang melihat wajahku  saat ini.

“Benarkah?” tanyaku padanya. Ia memberikan senyum bulan sabitnya  lalu mengecup bibirku pelan yang kubalas dengan intensitas yang sama. Kecupan itu perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang memaksaku untuk segera menanggalkan pakaian kami karena hasrat sudah menguasai. Untuk beberapa menit dan mungkin jam kedepan, aku yakin, teriakannya yang serak dan melengking mungkin akan menjadi musik pagiku.

***

 

 

“Sayang.. bukankah kita akan menemui Sunny hari ini?” Bisa kulihat kebingungan itu menyelimuti wajahnya. Aku mengerti akan hal itu. Seperti biasa, hanya senyum manisku yang kuberikan padanya.

“Aku ingin menghabiskan hari ini hanya berdua denganmu.” Jawabku sedikit memohon padanya. Aneh.. mungkin itu yang tergambar di wajah kekasihku, Tiffany Hwang.

.

“Sayang..” Tiffany Dengan rambut hitam kecoklatannya yang cukup panjang tergerai sedikit bergelombang, Dia  memanggilku dari pintu yang entah sejak kapan mulai terbuka.

 

“Ya?” skrip naskah itu aku simpan. Dia masih berdiri luar ruang belajarku, masih terlihat begitu cantik dengan gaun tidurnya yang sedikit transparan, mengerti sekali bagaimana cara menggodaku untuk mengkonsumi setiap malam dengan cinta di dalamnya. Kuhampiri dan kubawa tubuhnya untuk duduk di pangkuanku, di balkon rumah kami, menikmati malam di musim panas yang menggairahkan ini.

 

“Masih sibuk membaca naskah untuk drama barumu?” aku mengiyakan pertanyaannya dengan dehamanku karena aku masih sibuk mengecupi bahu dan lehernya, pelan dan mesra, sesuai seleranya.

 

“Dia yang akan menjadi lawan mainmu?” lagi, aku berdeham menjawab pertanyaannya.

 

“Sayang..” kecupan-kecupan itu aku hentikan. Aku membawa wajahnya untuk berhadapan denganku.

 

“Besok… aku ingin membawamu ke Pulau Nami, kau mau?” aku menatapnya heran melihatnya diam belum menjawab ajakanku.

 

.

.

.

 

“Ya.. seperti itu!” ucapku pada wanita yang masih tersenyum begitu cantik di tengah pohon-pohon yang berdiri kokoh berjajar mengelilingi kami. Daun berwarna kekuningan menambah keindahan dari manusia yang menjadi objek potretku.

 

“Sayang.. aku sudah lelah.” Dia memprotesku dengan rautan yang begitu imut. Aku berjalan menghampiri Dia  yang masih terlihat begitu cantik dengan keringat yang menjadi peluhnya. Kuberikan sebotol minuman isotonik yang segera diminumnya dalam hitungan detik. Dia terlihat begitu haus dan aku senang walau hanya memandanginya.

 

“Kekasihku cantik sekali!” ucapku antusias  pada Dia yang sudah selesai meneguk pelepas dahaganya. Senyum bulan sabit itu.. untuk puluhan juta kalinya, tidak.. mungkin miliaran kalinya membuatku terperangkap menjadi tawanan hatinya.

 

“Sayang..” panggilan itu membuatku kembali ke dunia nyata. Aku berusaha mengatur hatiku yang selalu terbawa dalam keelokannya.

 

“Fany-ah.. aku berharap cinta kita.. akan bertahan untuk waktu yang cukup lama. Karena aku.. membutuhkanmu.” Lagi.. aku menjadi tawanan hatinya yang dengan ganas selalu memaksaku untuk masuk ke dalam pesonanya.

.

“Ah.. seperti itu. Baiklah! Aku juga sebenarnya malas bertemu dengan Sunny hari ini.” Tawanya membangkitkan hariku yang dari awal terasa kelabu. Aku bersyukur karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bersamanya, walau mungkin, tidak lama. Dan aku.. akan memanfaatkan setiap detik, untuk membuatnya menjadi berharga.

.

.

.

“Sayang…” kami masih menikmati pohon-pohon cemara yang berjejer menemani pemandangan indah yang Jade Garden tawarkan. Aku masih menggenggam tangan kanannya, berjalan di samping wanita yang masih begitu menggilai taman yang menjadi lokasi syuting drama aktor favoritnya, Jo In Sung. Ini bukan kali pertama aku membawanya kesini, apalagi sejak Dia begitu menggilai drama That Winter The Wind Blow, drama yang membuatnya semakin mengagumi aktor kesayangannya yang terkadang membuatku cemburu.

“Ya?” jawabku padanya.

“Aku ingin ke Edelweiss Swiss..” ah.. tempat itu. Baiklah.. sepertinya aku tahu.

.

.

.

Bangunan khas Swiss menjulang tinggi. Ada warna hijau dan warna oranye yang mendominasi warna dari bangunan-bangunannya. Ada 10 bangunan yang bisa kami masuki dan Tiffany memutuskan untuk memasuki semuanya. Bukannya memahami isi dari museum yang dimasukinya, kekasihku ini malah sibuk memintaku memotretnya. Love Clay Museum, Cheese Museum, Love Museum, Chocolate Factory dan Bear Museum. Kami mengunjungi semuanya, lebih tepatnya Tiffany yang menjadikan mereka semua background fotonya. Dan aku tidak protes karena melihatnya terlihat bahagia seperti itu, membuat semua lelahku hilang.

“Ahh.. ini sungguh bagus!” antusiasnya pada hasil jepretanku mengambil fotonya yang tak sadar sedang membenarkan dandanannya.

“Kau sungguh senang?” tanyaku padanya yang masih serius mengecek foto-foto yang aku ambil tadi, dengan Dia sebagai fokus lensa kameraku.

“Sangat!” serunya sebelum menghisap sedotan jus strawberry-nya. Kami kini sedang beristirahat di sebuah café yang ada di dalam taman sendiri. Aku menikmati es kopiku, mencoba menyegarkan diri dengan minuman yang menjadi adiksi bagiku.

“Syukurlah. Jika kau bahagia.. maka akupun akan bahagia. Dan aku.. akan melakukan apapun jika itu bisa membawa kebahagian padamu.” Kulihat kedua matanya berkilauan dengan air mata yang hampir keluar. Fany-ah… Sayang.. aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, karena bahagiamu jadi bahagiaku pasti.

 

 

***

 

 

“Semuanya sudah siap?” pria di depanku menganggukan kepalanya, terlihat menahan sesuatu dalam jiwanya. Aku tersenyum membawa pria yang sudah seperti adikku itu dalam pelukanku. Ia membalasnya erat. Kutepuk-tepuk punggungnya pelan, berharap ia bisa menahan apapun yang mengganggu hatinya saat ini.

“Hyung.. apa tidak ada cara lain?” dia menatapku dalam permohonannya. Dengan berat kugelengkan kepala ini padanya, membuat raut wajahnya menjadi padam temaram, bagai jiwa yang baru kehilangan satu cahaya dalam tubuhnya.

“Tolong lakukan apa yang kuminta padamu. Aku percaya kau akan melakukannya dengan baik.” Ia mengepalkan kepalan tangannya begitu keras, terlihat tak bisa lagi menahan emosinya. Dalam pelukan itu aku mencoba membuatnya nyaman.

.

“Kau jahat!” dadaku menjadi korbannya lagi hari ini. Dia meninju dada bidangku ini untuk kesekian kalinya setelah melihat apa yang baru saja ditontonnya.

 

“Sayang..” bujukku mencoba menghentikan amukannya yang tiap detik bertambah besar dan cukup menyakitkan. Pukulannya tergolong cukup bertenaga untuk ukuran wanita kecil mungil sepertinya, salah satu faktor yang membuatku tertarik padanya untuk pertama kali.

 

“Dia hanya lawan mainku. Kami harus membuat semua adegan itu terlihat nyata dan meyakinkan. Aku mohon kau mengerti..” Dia tak bergeming mendengar semua hal yang sudah kujelaskan tadi. Cukup lelah, pukulan itu ia hentikan. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa di belakang tubuhnya, terlihat lemas dengan apapun yang telah dilakukannya.

 

Sebenarnya bukan pukulan dan amukannya yang membuatku merasa sakit. Cairan bening panas yang membuatku merasa tersiksa saat aku melihatnya mengalir dari kedua jendela jiwanya. Menangis tidak, hanya saja air mata itu dengan derasnya membasahi kedua pipinya yang merona. Lebih baik aku menerima amukannya daripada melihatnya seperti itu.

 

“Sayang.. maafkan aku.” Aku memang salah. Seharusnya aku memberitahu bahwa aku melakukan adegan ranjang di film terbaruku bersama dengan seorang aktris yang kurang disukainya. Awalnya aku berpikir Dia akan menerima dan mengerti posisiku yang harus tetap menjadi aktor yang professional dalam memerankan perannya.

 

Aku terbutakan dalam ambisiku untuk membuat karirku semakin tinggi dengan menerima peran ini. Aku kurang memikirkan perasaan wanitaku yang kini terlihat begitu perih mencoba untuk mengelola emosi dan amarahnya.

 

Film ini sudah ditayangkan 2 minggu lalu dan mendapat tanggapan yang positif dari para kritikus dan penikmat film pada umumnya. Aku merasa bahagia karena ini dapat membantu citraku sebagai aktor naik sehingga mereka tidak memandangku sebelah mata lagi karena aku adalah seorang penyanyi. Perkiraanku tidak meleset. Setelah beberapa hari tayang, banyak media yang tertarik untuk mengulas film yang kubintangi bersama aktor dan aktris papan atas lainnya. Tawaran untukku semakin banyak berdatangan sejak itu. Agensi merasa bahagia dengan kemajuan karirku. Tapi yang aku tak perkirakan adalah kemarahannya, wanitaku, Dia yang kini tetap menangis dalam diam setelah terlihat puas melampiaskan amarahnya padaku.

 

“Apa kau.. menikmatinya?” kedua mata itu kupejamkan saat mendengarnya. Sungguh aku tak mengerti, bagaimana bisa Dia berpikir seperti itu? Rasa sesal dan penuh bersalahku tadi entah mengapa perlahan berubah menjadi amarah yang coba kuhilangkan.

 

“Fany-ah… ini hanya murni pekerjaan. Kau sudah tahu kan bagaimana aku harus siap dan professional dalam menerima peran yang mungkin bisa meningkatkan kualitas aktingku. Publik memberikan tanggapan yang baik, Sayang. Aku tentu saja menikmati buah hasil kerja kerasku. Tapi jika kau bertanya apakah aku menikmati semua proses dalam pengambilan video bercinta kami, maka aku jawab tidak. Bagaimana aku bisa menikmatinya jika itu bukan dirimu?” Dia terdiam dalam tatapan kosong yang diberikannya padaku.

 

Sial! Mengapa aku kesal melihatnya seperti itu?

 

Mengapa amarahku begitu memberontak untuk mengalahkan rasa bersalahku?

 

“Sayang…” panggilku mencoba menenangkan diriku untuk tidak marah pada wanita yang masih terdiam dalam tangis yang kini mulai terdengar. Suara tangisnya sungguh melukai batinku.

 

“Okay.. aku salah dan aku meminta maaf karena aku tidak memberitahumu tentang bed scene yang kulakukan dengan Yoomi. Aku minta maaf. Tapi kumohon jangan menyiksaku dengan tangisanmu. Itu.. sungguh.. menggangguku.” Kata terakhir yang terucap dari bibirku, entah kenapa aku bisa mengatakannya. Aku ingin mengatakan bahwa itu menyakitiku namun entah mengapa aku malah mengucapkan hal itu menggangguku.

 

“Ini.. mengganggumu? Aku?” Ingin kumaki diriku sendiri rasanya ketika suara seraknya bertanya padaku dengan tatapan nanarnya. Mulutku entah mengapa terkunci melihat tatapan menyakitkan itu.

Diam.. itu yang kami lakukan.

Diam.. itu aku yang membuatnya.

Diam.. dia juga ikut terdiam bersamaku meskipun tatapan nanarnya tak pernah terlepas dariku.

Diam.. dia menunggu aku berbicara sesuatu padanya.

Diam… akhirnya dia pergi saat aku mencoba membunuh diamku yang tak pernah ingin kuberikan padanya.

.

“Taeyoung-ah.. tolong jaga Fany untukku.” Pelukan itu kulepas saat kusadari bahwa kini.. adalah waktunya aku untuk pergi.

Meninggalkan Seoul dan Dia.

 

 

***

“Sayang..” Tiffany baru saja bangun. Ia mengucek matanya sesekali, mencoba membuat pandangannya menjadi lebih jelas. Ia lirik ke samping, hanya bantal dan guling yang menemani paginya hari ini. Kerutan di wajahnya muncul menyadari sang kekasih yang tak menyambutnya pagi ini dengan senyum, peluk, kecup dan sapaan hangat yang membuat harinya terasa lebih hidup. Mungkin.

Tiffany menguap, mencoba mengusir kantuk dan mulai meregangkan badannya. Tidurnya nyenyak sekali rasanya tadi malam. Apalagi setelah perjalanan yang menyenangkan dan penuh dengan kenangan bersama sang kekasih. Kenangan itu membuat hari ini terasa berbeda. Tak berat dan membuat dirinya sesak dengan rintihan sunyi yang bernyanyi dalam batinnya. Ia langkahkan kakinya mengambil sebuah kamera yang menjadi saksi bisu semua moment indahnya bersama sang kekasih. Ia hidupkan kamera itu, mencoba mencari foto-foto yang menjadi favoritnya kemarin.

Kerut heran dan penuh tanya jelas terlihat dari paras cantik Tiffany ketika menyadari bahwa foto-foto itu telah hilang entah kemana. Ia mencari tapi tak ada satupun yang memenuhi inginnya. Hingga akhirnya ia bertemu dengan sebuah video dimana sang kekasih, prianya, yang tersenyum duduk di sebuah sofa hitam dengan baju serba putihnya yang membuatnya terlihat begitu tampan tapi terasa jauh dengannya.

Penasaran, Tiffany putar isi video itu. Senyum menghiasi wajahnya saat ia melihat sang kekasih yang menyapanya seperti biasa.

“Hai Sayang.. kau sudah bangun kurasa jika kau melihat video ini.” Kim Taeyeon, kekasihnya itu terlihat begitu tampan.

Fany-ah.. ketika kau melihat video ini, mungkin aku sudah tidak ada lagi disini, di sisimu. Aku meminta maaf jika aku meninggalkanmu seperti ini.” Ekspresi wajah Taeyeon terlihat begitu sedih, menyesal, dan terluka dengan perasaannya sendiri. Tiffany terdiam melihat prianya itu mencoba melanjutkan kata-kata meskipun ucapannya tertahan linangan air mata yang tak disertai tangis pemiliknya.

“Fany-ah.. jika kau penasaran mengapa aku melakukan semua ini maka jawabannya adalah… aku ingin membuatmu bahagia.” Melihat tatapan yang Taeyeon berikan padanya lewat layar kaca, sepertinya Tiffany mengerti.

.

“Fany-ah..” Tiffany mencoba menghapus tangisnya melihat kedatangan sang sahabat yang berlari menghampirinya begitu cepat, seakan ia akan pergi secepat kedipan mata.

 

“Kau baik-baik saja?” pria yang kini sudah berdiri berhadapannya bertanya masih mencoba menghapus deru nafasnya. Ia segera membawa Tiffany dalam pelukannya melihat wanita dihadapannya terlihat begitu hancur.

 

.

.

.

 

“Dia masih belum berani memberitahu tentang status kalian?” Tiffany terdiam meminum teh melati hangat yang menemaninya saat ini. Duduk didepannya adalah Lim Yoong, pria yang sejak dulu sudah menjadi sahabatnya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

 

“Haruskah aku memberinya pelajaran?” Tiffany menggelengkan kepalanya pelan menolak ide sahabatnya itu

 

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?” Lagi.. Yoong coba tanya sahabatnya itu.

 

30 menit yang lalu Tiffany menelepon Yoong yang masih menikmati makan malam bersama kekasihnya, Seohyun. Tak ada kata yang terucap dalam panggilan itu. Hanya getaran suara dan sedikit tangisan yang menyambungkannya. Yoong tahu pasti terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu. Dan penyebabnya tidak lain adalah Kim Taeyeon, pria yang sudah dikencani Tiffany selama 5 tahun ini.

 

Pertemuan sang idola yang digandrungi oleh kaum hawa dengan sahabatnya terjadi saat Tiffany menjadi seorang pemain flute yang membuka penampilan special Taeyeon di acara akhir tahun yang diselenggarakan salah satu stasiun TV swasta dengan begitu megah dan berkelas. Sejak saat itu Taeyeon dan Tiffany menjadi dekat. Bahkan dalam beberapa lagu ciptaannya, unsur flute selalu dimasukkan dalam materi lagu-lagu di albumnya. Intensitas pertemuan mereka semakin tinggi karena Taeyeon mendapat proyek pembuatan soundtrack sebuah film dimana Tiffany sebagai personil yang memainkan flutenya/

 

“Aku.. tidak tahu Yoong. Aku merasa.. aku tidak tahu lagi apa yang kuinginkan. Semuanya perlahan menjadi kabur seiring berjalannya waktu yang melangkahi kenangan-kenangan ini.”

 

“Apa kau.. masih mencintainya?”

 

“Aku.. masih sangat mencintainya tapi cinta ini yang selalu menyakitiku.”

 

“Apa kau… ingin berpisah darinya?”

 

“Seandainya aku bisa melupakannya, maka kata pisah itu sudah bukan menjadi pilihan.”

 

“Maksudmu?”

 

“Yoong.. bagiku Taeyeon bagai sebuah obat yang bisa menyembuhkanku, menguatkan aku, dan membuatku kembali hidup. Tapi disatu sisi dia juga bagai racun yang perlahan mencoba membunuhku. Hatiku.”

 

“Apa sebegitu sulit bagimu untuk melepasnya?

 

“Jika kau menjadi aku.. apa yang akan kau lakukan? Satu sisi kau begitu mencintainya tapi di sisi lain benci itu juga menguasaimu saat kau berpikir tentangnya.”

 

“Fany-ah.. mengapa kau tak mau jujur pada dirimu sendiri?”

 

“Yoong.. apa yang kau katakan?”

 

“Jika kau jujur pada dirimu sendiri maka kau sudah tahu bahwa kau.. sudah tidak bisa lagi bersama Taeyeon. Apa yang kau rasakan padanya bukan sebuah cinta. Itu adalah penyiksaan diri. Selama ini kau selalu mencoba untuk mengerti bagaimanapun kondisi Taeyeon. Tapi dia? Apa dia mengerti bagaimana tersiksanya kau melihatnya bermesraan dengan wanita lain? Belum dengan status kalian yang masih disembunyikan.”

 

“Yoong…”

 

“Fany… jujurlah pada dirimu sendiri! Apa kau kuat menahan sakit ini? Apa kau bisa selamanya hanya menjadi rahasianya? Apa kau bisa hanya menjadi baying-bayang Kim Taeyeon?”

 

“Tempatmu bukan berada di belakangnya, tapi disampingnya.” Tangan itu Yoong ambil, dia bawa dalam genggamannya.

 

“Jika dia benar-benar mencintaimu.. maka kau takkan semenderita ini. Kau.. Tiffany Hwang.. pantas mendapatkan yang terbaik dan itu…”

 

“Itu?” Tiffany bertanya.

 

“Itu..” Yoong terlihat ragu untuk mengatakan apa yang ada di hatinya/

 

‘Aku’ jawab Yoong dalam sunyi yang tak menyelimuti hatinya.

.

.

.

 

“Taeyeon.. kau sedang dimana?” Ming bertanya pada artisnya yang sejak 2 jam menghilang dari latihan untuk konser tunggalnya, Butterfly Kiss.

 

“Aku sedang ada urusan pribadi.” Jawab Taeyeon masih mencoba menyembunyikan emosinya.

 

Pemandangan di hadapannya sungguh bukan sesuatu yang ia inginkan. Saat ini Yoong, sahabat kekasihnya, Tiffany, sedang memeluk sang kekasih yang terlihat begitu tenang dalam dekapannya.

 

Sebenarnya bukan karna pelukan itu amarah Taeyeon muncul. Rasa kekecewaan terbalut kesedihan dan amarah itu datang ketika Taeyeon mendengar semua yang sudah dikatakan oleh kekasihnya itu. Hatinya terasa remuk saat mengetahui bahwa wanita yang menjadi segalanya itu selama ini merasa terksiksa dengan cinta yang mereka punya. Lehernya terasa dicekik ketika melihat wanita yang begitu dicintainya itu ternyata selama ini menderita hidup bersamanya.

 

Taeyeon kira Tiffany selama ini bahagia bersamanya. Taeyeon kira wanitanya itu benar-benar bisa menerima keadaannya sebagai artis yang menghibur orang-orang dengan bakatnya.  Taeyeon kira selama ini ia telah berhasil membuat Tiffany bahagia. Namun kenyataan berkata lain. Kini, dari kejauhan ia bisa melihat Yoong memperlakukan Tiffany begitu mesra, bagai pria yang begitu mencintai seorang wanita dan itu mengusik pikiran dan perasaan Taeyeon hingga ke akar.

 

“Taeng..”

 

“Noona.. 1 jam lagi aku akan kesana. Bye!” sambungan itu Taeyeon tutup. Ia kembali momfokuskan perhatiannya pada kedua insan yang terlihat begitu menikmati momen mereka, Yoong lebih tepatnya yang menikmati moment itu.

 

“Fany-ah..” rasanya air mata Taeyeon ingin keluar ketika melihat sang kekasih yang terisak dalam pelukan pria lain, terlihat begitu sakit dengan apapun yang dimiliki dengannya.

 

 Lalu bagaimana dengan senyuman dan kebahagiaan yang selalu ditunjukan oleh Tiffany selama ini? Apa semua itu palsu? Mengapa Tiffany melakukan itu semua? Mengapa Tiffany tidak jujur saja pada Taeyeon bahwa sebenarnya dia merasa tersakiti dengan semua yang Taeyeon lakukan padanya?  Mengapa Tiffany malah menceritakan semua masalahnya pada Yoong? Apa Tiffany tak nyaman dengan Taeyeon yang justru seharusnya lebih mengetahui apapun tentang kekasihnya itu dibanding Yoong?

 

Diam Taeyeon amati kekasihnya yang terlihat mulai tenang dan menghentikan tangisnya. Yoong mengelus puncak kepala Tiffany yang tersenyum kecil menerimanya. Pelukan itu Yoong lepas. Jejak air mata di paras cantik itu Yoong hapus. Dia berikan senyuman termanis dan penuh simpatinya pada Tiffany yang terlihat lebih baik setelah menerimanya. Mereka berdua tertawa. Tiffany pukul dada sahabatnya itu pelan berkali-kali setelah mendengar lelucon tentang tangisnya dari Yoong.

 

.

.

.

 

Hyung.. apa yang kita lakukan disini?” Taeyoung bertanya ketika ia dan Taeyeon memasuki sebuah kafe bergaya vintage yang terasa begitu nyaman bagai di rumah sendiri. Pelayan tersenyum menyambutnya. Ia dan Taeyeon dibawa menuju meja yang terletak di ujung, terlihat begitu pas jika ingin mengamati semua meja dan pengunjung yang ada di lantai 2 kafe tersebut.

 

“Diam dan perhatikanlah. Jangan lupa gunakan kacamatamu.” Taeyoung menurut dan mulai menggunakan kacamata hitamnya, sama seperti Taeyeon yang menggunakan masker dan topi hitamnya, terlihat berbeda sekali dari seorang Kim Taeyeon yang biasanya.

 

Bel pintu masuk terdengar. Seseorang atau lebih tepatnya 2 orang memasuki kafe. Kedua orang tersebut menyapa para pegawai kafe yang sudah mereka kenal. Kedua berjalan menuju lantai 2 tempat Taeyoung dan Taeyeon berada.

 

“Hyung..” Panggil Taeyoung pada Taeyeon ketika melihat Yoong berjalan menggenggam tangan Tiffany. Ketika tiba di meja mereka, Yoong menarik kursi sedikit keluar dari kolong meja agar wanita yang disampingnya itu bisa duduk. Tiffany memberikan senyumnya pada kebaikan dan kelembutan yang Yoong berikan padanya. Yoong juga tersenyum menerima senyuman yang Taeyeon kira hanya akan diberikan padanya.

 

“Diam dan dengarkanlah apa yang mereka bicarakan.. maka kau akan mengerti mengapa aku membawamu kesini.”

 

.

.

.

 

“Fany-ah.. bagaimana kabar hatimu?” setelah menikmati menu utama dari makan siang mereka, Yoong mulai membuka pembicaraan yang selama ini selalu mnegusik batinnya.

 

“Hatiku.. baik-baik saja.” Dalam senyumnya, Tiffany tutup kedua mata itu.

 

“Lalu mengapa senyummu masih seperti itu?” kedua mata itu Tiffany buka, senyumnya masih ada meski tak seindah tadi.

 

“Maka kau sudah tahu jawabannya.” Jawab Tiffany terlihat tak ingin berbicara lebih banyak.

 

“Kondisi hati tidak pernah konstan dan statis. Aku bukan Tuhan yang bisa membaca pikiran dan apapun yang ada dalam hatimu jika kau tak mengucapkannya.” Sendu itu mulai terasa. Tiffany mendenguskan nafasnya kasar mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu.

 

“Kondisi hatiku kurang baik. Taeyeon membatalkan makan malam kami saat aku sudah menunggunya hampir 5 jam. Itu sebenarnya tidak terlalu menggangguku. Hal yang paling membuatku kesal adalah… saat dia memberitahuku bahwa dia harus mengkonfirmasi hubungannya bersama Jessica Jung untuk menutupi skandal presiden yang sekarang sedang hangat dibicarakan.” Wajah itu terlihat gusar dan Yoong mengerti kenapa.

 

“Apa  kau memberitahu Taeyeon ketidaksetujuanmu? Apa dia tak bisa menolak hal itu?” kekhawatiran itu jelas terlihat di wajah Yoong.

 

“Presiden mengancam akan mempersulit karir Taeyeon jika ia menolak permintaannya.”

 

“Dia lebih memilih karirnya dibanding perasaanmu?”

 

“Dia sedang menjaga profesionalitasnya Yoong sebagai penghibur.”

 

“Omong kosong! Fany-ah… jika Taeyeon benar-benar mencintaimu, maka dia akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia dan nyaman bersamanya. Tidak seperti ini.”

 

“Aku mencintainya Yoong.”

 

“Tapi kau menyakiti dirimu sendiri. Kau mengingkari rasa sakitmu. Jika itu cinta, itu bukanlah hal yang terus menerus menyakitimu.”

 

“Lalu apa yang harus aku lakukan Yoong?”

 

“Fany-ah.. bicarakanlah semuanya pada Taeyeon.”

 

“Tidak!”

 

“Fany..”

 

“Aku tidak ingin dia sedih mengetahui bahwa aku seperti ini karenanya. Aku tidak ingin mengganggu fokusnya. Dia sedang menjalani tahap awal dari proyek film barunya.”

 

“Lalu kau akan terus menyakiti dirimu seperti ini? Sampai kapan Tiffany? Sampai kapan???” Tiffany diam tak menjawab pertanyaan yang sebenarnya ia tanyakan pada dirinya sendiri. Sunyi itu menemani keduanya untuk beberapa saat.

 

“Fany-ah… dengan kau seperti ini, bukan hanya kau yang tersakiti tapi Taeyeon juga. Bayangkan jika Taeyeon mengetahui semua ini? Jika kau menjadi Taeyeon, apa yang kau rasakan? Sakit kan? Kau pasti akan bertanya mengapa kekasihmu tidak jujur saja padamu bahwa selama ini dia menderita dengan sikap-sikapmu. Yang paling menyakitkan adalah.. jika Taeyeon tahu bahwa selama ini akulah yang mendengar semua keluh kesahmu, bukan dia, kekasihmu, orang yang seharusnya lebih mengetahui dirimu lebih dari apapun.” Lagi.. hanya diam serta tangis dalam sunyi yang menjawab semua ucapan Yoong. Dan lagi.. Yoong hanya bisa membawa sahabatnya itu dalam pelukan, untuk menenangkan hati yang tersakiti itu.

 

.

.

.

 

“Kau sudah tahu kenapa aku membawamu kesini?”

 

“Hyung..”

 

“Taeyeoung-ah.. aku tahu Tiffany begitu mencintaiku. Tapi.. jika kau menjadi aku, apa yang akan kau lakukan? Apa aku harus tetap mempertahankannya untuk tetap bersamaku jika dia tersiksa seperti itu? Aku mencintainya dan aku ingin dia bahagia. Jika bersamaku hanya membawa luka, mengapa aku harus tetap egois untuk membiarkannya terus seperti ini?”

.

“Aku tidak bisa memilih antara kau atau karir yang selama ini telah menjadi mimpiku. Maka dari itu aku harus melepasmu. Karena jika aku egois, mempertahankan keduanya, maka kau yang tersakiti disini. Aku tidak mau hal itu terjadi.” Tanpa izin, air mata itu jatuh meski tangisnya tak terdengar. Bisa Tiffany lihat luka dari kedua jendela jiwa kekasihnya itu.

Aku meminta maaf karena harus dengan cara seperti ini aku mengucapkan perpisahan kita. Tapi.. aku tidak ingin kau lebih terluka jika bersamaku. Aku ingin kau bahagia Fany-ah. Aku ingin kita bahagia. Karena bahagia adalah bahagiaku juga.” Dalam tangis kosongnya Taeyeon berbicara.

Aku tahu aku egois karena memutuskan ini semua sendiri. Tapi.. jika aku tak melakukan hal ini, sampai kapan kau akan terus menyiksa dirimu dengan tetap bersamaku? Padahal kau tahu bahwa aku hanya akan menyakitimu di akhir. Maka dari itu aku, sebagai pria, merasa perlu untuk mengambil keputusan ini.” Tiffany menutup kedua matanya, menahan tangis meskipun butiran kristal sudah mulai membasahi pipinya. Ia tak kuasa melihat pria yang begitu dicintainya terlihat mencoba tegar dan ikhlas melepasnya.

Jika kau bertanya apa aku mencintaimu atau tidak maka aku tidak akan berbohong bahwa aku masih sangat mencintaimu. Tapi.. jika dengan mencintaimu itu secara tidak langsung menyakitimu, lebih baik aku membunuh cinta itu dengan pelan. Karena bagiku, cinta itu adalah dengan membawa kebahagiaan pada orang yang kita cintai” wajah itu berkata dengan kejujuran dan sebuah tekad nyata di dalamnya.

 

“Aku tidak pernah bisa menjadi sempurna. Aku ingin tetap menjadi diriku. Tolong maafkan aku yang telah mengabaikan perasaanmu. Mungkin ini alasan yang sempurna untuk meninggalkanku. Tapi.. kau tidak pernah melakukan itu.” Senyum itu Taeyeon sunggingkan. Meski sakit, tapi Tiffany tahu Taeyeon bukanlah tipe pria yang akan menunjukan kesedihannya dengan mudah. Maka dari itu senyum masih menghiasi meskipun Tiffany tahu hati prianya itu ikut hancur bersama ucapannya.

 

“Saat sebuah keabadian harus berakhir, aku ingin mengakhirinya dengan indah. Kau harus merelakan setiap kenangan dan waktu yang kita lewati. Saat pelukanku tak bisa lagi menenangkan hatimu yang sedih dan menghapus resahmu, aku memilih untuk mengakhiri hubungan kita seperti ini.” Ada tawa kecil yang menyempil di akhir kalimat Taeyeon dan entah kenapa Tiffany ingin terbawa kedalamnya.

 

“Aku tahu.. saat melihat ini, kau mungkin mencoba menahan tangismu yang dalam, dengan sisa-sisa ketegaran yang masih kau simpan.” Dalam tangis itu Tiffany tertawa meski ia tahu itu bukan tawa kebahagiaan karena sang kekasih telah pergi dari genggaman.

 

“Ada hal yang sebenarnya tidak kita kehendaki untuk terjadi namun menjadi kenyataan, ada hal yang kita tidak ingin tahu tapi kita harus mempelajarinya dan ada orang yang kita merasa kita tidak bisa hidup tanpanya tapi pada akhirnya kita harus merelakannya untuk pergi dari hidup kita. Aku berharap aku, kau dan kita bisa melakukan hal itu Sayang” Dengan mudahnya Taeyeon mengucapkan itu semua dan sialnya Tiffany harus mengakui bahwa apa yang diucapkan kekasihnya itu benar adanya.

 

“Oh ya… dengan meninggalkanmu, aku rasa aku bisa membuka gerbang kebahagian baru untukmu. Yoong, sahabatmu itu, apa kau tahu bahwa dia begitu mencintaimu? Aku mendukungmu untuk bersamanya. Dia adalah pria baik. Dia mengerti dirimu lebih dari aku. Dia bisa membuatmu nyaman menceritakan semua keluh kesahmu. Dia bisa membuatmu nyaman menjadi dirimu. Dia.. yang bisa membahagiakanmu, bukan aku. Jadi.. coba bukalah hatimu untuknya. Karena kau pantas mendapatkan yang terbaik dan itu.. adalah Dia.”

Dengan semua yang sudah terjadi.. aku bahagia karena bisa mencintai wanita seluar biasa dirimu. Perpisahan ini bukan akhir hidupmu, tapi awal menuju gerbang kebahagiaan yang baru. Tiffany Hwang… aku mencintaimu. Lupakan aku dan mulai hidupmu dengan kebahagiaan yang baru karena itu.. adalah yang sekarang sedang coba aku lakukan.” Video itu berhenti berputar. Tapi tidak dengan air mata Tiffany yang semakin membasahi kedua pipinya. Ia hanya berharap bahwa ini semua adalah sebuah mimpi dan pada saat ia bangun, semua masih sama, Taeyeon masih berada di sampingnya dan masih menjadi kekasihnya.

.

.

.

“Fany-ah.. apa yang terjadi?” Yoong segera menghampiri wanita yang terlihat begitu berantakan dengan tangisnya. Ia segera membawa Tiffany dalam pelukannya.

“Yoong.. apa kau tahu bahwa Taeyeon telah pergi hari ini?” pertanyaan itu membunuh kesunyian yang sedari tadi menemani mereka.

“Aku…”

.

“Apa yang ingin kau bicarakan?” Yoong berusaha setenang mungkin mengajukan pertanyaan itu. Ia tak bisa bohong bahwa ia tak menaruh amarah dan kekesalan pada pria yang selama ini telah menyakiti sahabatnya, wanita yang sebenarnya diam-diam menjadi cinta rahasianya.

 

“Apa kau.. mencintai kekasihku?” pertanyaan itu sontak membuat Yoong membulatkan matanya.

 

“Kau tidak perlu sekaget itu hahaha.” Tawa itu terdengar lepas dari pemiliknya dan Yoong mulai menatap pria di hadapannya itu curiga.

 

“Apa yang akan kau lakukan?”

 

“Jadilah kekasihnya. Gantikan posisiku di hatinya. Buat dia lupa padaku. Bukalah kebahagiaan baru bersamanya. Aku yakin kau orang yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.”

 

 

“Apa kau sedang mengerjaiku Kim Taeyeon?”

 

“Untuk apa aku mengerjaimu? Aku serius.”

 

“Mengapa?”

 

“Karena aku sudah tahu bahwa selama ini aku adalah sumber penderitaannya. Aku adalah racun baginya dan aku.. tidak baik baginya. Aku rasa.. kau lebih tahu tentang hal itu dibanding aku. Tiffany pasti sudah menceritakannya padamu.”

 

“Bagaimana kau bisa…”

 

“Secerdas apapun manusia menyembunyikan perasaannya, pada akhirnya akan terbuka juga. Aku mempunyai caraku sendiri. Dan karena itu.. aku, kau dan kita ada disini. Untuk mencari jalan keluar dari semua ini.” Melihat diamnya Yoong, Taeyeon tahu ia bisa mulai menceritakan semua rencananya pada pria yang masih membisu menatapnya.

 

.

.

.

 

“Ini gila! Kau malah akan semakin menyakitinya jika kau melakukan ini.” Yoong segera mengemukakan ketidaksetujuannya dengan ide yang telah Taeyeon kemukakan.

 

“Apa kau tidak egois dengan meninggalkannya seperti itu? Mengapa kau tak bicara langsung padanya? Kau tahu.. bahkan jika kau pergi meninggalkannya ke ujung duniapun, dia akan tetap mengejarmu. Apa kau sebodoh dan sebrengsek itu Kim Taeyeon?” Taeyeon tersenyum kecil mendengar kata-kata Yoong. Dalam dia ia menghirup kopinya lalu menyeruputnya penuh dengan kenikmatan. Sementara Yoong terlihat kesal padanya.

 

“Lalu? Apa kau punya solusi lain? Kau tahu Tiffany lebih dariku Yoong. Kau tahu bahwa dengan cara semanis apapun, dia takkan melepasku jika aku masih ada disini. Maka dari itu aku pergi dan memintamu untuk menggantikanku untuk menjadi kehidupan barunya.” Dengan santai tanpa beban apapun Taeyeon berkata. Ia terlihat seperti sudah bisa memperhitungkan semuanya dan siap dengan apapun yang akan terjadi.

 

“Aku tahu kau pria terbaik untuk menjadi kekasih, suami dan ayah dari anak-anaknya kelak. Tidak ada pria yang tahan mendengar wanita yang dicintainya menyampaikan keluh kesahnya tentang pria lain yang sangat dicintainya. Aku tahu hubunganmu dengan Seohyun hanya sebagai pengalih perhatianmu dari Tiffany. Kau masih sangat mencintai Tiffany hingga detik ini meskipun berulang kali dia membunuh hatimu dengan ungkapan cintanya untuk pria sebrengsek aku.” Tangan itu Yoong kepalkan ketika mendengar ucapan Taeyeon. Ia tahu harus berkata apa. Ia tak tahu harus merasa apa. Semuanya terlalu rumit rasanya.

.

“Dan kau menyetujui rencananya?” Yoong terdiam tak menjawab pertanyaan wanita yang masih ada dalam dekapannya. Melihat itu Tiffany mulai mengeluarkan kekesalannya dengan memberikan pukulan-pukulan yang tak menyakitkan apapun kecuali hati pemiliknya.  Pukulan-pukalan yang Tiffany layangkan ke tubuhnya tidak Yoong tahan ataupun lawan. Ia membiarkan Tiffany mengeluarkan semua kekesalannya.

.

.

.

“Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang Taeyeon katakan benar. Kau harus belajar mencintai dirimu dengan melepasnya. Kau harus belajar mencintaiku karena itu yang Taeyeon inginkan. Dan aku.. akan membuatmu mencintaiku lagi dan lagi.”

“Yoong..”

“Aku mencintaimu Fany-ah.. aku sangat mencintaimu. Sudah sejak lama. Aku mencoba menghapus rasa ini tapi selalu gagal. Aku ingin menjauh darimu tapi aku tidak bisa. Sesuatu selalu membawaku kembali padamu sejahat dan sekejam apapun kau menyiksaku tanpa kau tahu dan kau sadari. Kau adalah Gravity-ku.”

“Izinkan aku mencintaimu, Fany-ah. Biarkan aku yang melukis kebahagiaan baru di hidupmu. Biar aku yang mengobati luka hatimu. Biar aku yang menjadi masa kini dan masa depanmu.”

“Yoong.. aku tidak bisa. Aku mencintai Taeyeon.”

“Apa kau yakin kau mencintainya, bukan kenangan indah saat kalian masih bersama? Fany-ah.. saat seseorang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya, itu adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk bahagia dan melangkah ke depan atau tetap terkunci dalam masa lalu yang menjauhkan kebahagiaan itu sendiri dari jangkauannya.”

“Jika kau ingin mempertahankan semua rasamu untuk Taeyeon, maka aku tak bisa menahannya. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk memberikan kebaagiaan itu padamu. Karena itu yang Taeyeon inginkan, bukan hanya aku, yang mencintaimu. Hidup itu tentang sebuah pilihan, Fany-ah. Pilihan untuk tetap berada dalam sebuah kebahagiaan yang semu, yang hanya menyakitimu atau sebuah kebahagiaan baru yang nyata ada di hadapanmu.”

“Yoong.. jika kau bersamaku.. bagaimana dengan Seohyun?”

“Aku memilih untuk mengakhiri hubungan kami beberapa minggu yang lalu.  Aku memilihmu meskipun aku tahu mungkin kau tidak akan memilih untuk berjalan bersamaku, tapi setidaknya aku sudah jujur pada diriku bahwa kau.. adalah kebahagiaan yang aku pilih untuk saat ini, esok dan selamanya.” Mendengar itu Tiffany tak tahu harus berkata apa. Yang ia tahu, tubuhnya entah mengapa tak bisa menolak kecupan yang perlahan berubah menjadi cumbuan yang Yoong berikan padanya.

 

***

 

 

Mom!” seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun berlari menghampiri sang ibu yang baru saja tiba di kamarnya. Anak itu segera menghamburkan dirinya dalam pelukan wanita yang terlihat masih begitu cantik bahkan tanpa riasan apapun.

“Oh Dave… apa kau begitu merindukan Mommy?” anak laki-laki itu tersenyum menganggukan kepala terlihat begitu imut serta menggemaskan sebelum mengecup pipi sang ibu yang begitu merindukannya.

“Sayang.. kami sangat merindukanmu.” Taeyeon berjalan menghampiri sang istri yang masih memeluk anak mereka begitu hangat. Dari belakang ia peluk kedua manusia yang begitu berharga baginya, selain Tiffany yang menjadi pelajaran paling berharga dan tidak terlupaka dalam hidupnya.

Dad.. kau memelukku terlalu erat!” Dave menyuarakan protesnya, membuat 2 orang dewasa yang menumpuknya seperti sandwich tertawa lepas.

“Aigoo.. maafkan Daddy, Sayang.” Dalam tawanya Taeyeon berbicara sembari menerima kecupan-kecupan ringan dari sang istri yang senang sekali menggodanya.

.

.

.

“Sayang.. lusa, kita jadi berkunjung ke rumah Tiff?” sang istri baru saja keluar dari kamar mandi sementara Taeyeon masih asik memainkan game COC di tabletnya. Mendengar pertanyaan istrinya itu, Taeyeon segera menyimpan permainannya, lalu menghampiri wanitanya itu yang terlihat begitu memicu nafsu birahi meski tanpa make up sekalipun.

“Tentu. Yoong tadi siang meneleponku, Yoojung ingin sekali bertemu denganmu dan Dave. Sepertinya gadis itu sudah terpesona oleh kalian, bukan aku.” Bibir itu Taeyeon cibirkan, terlihat sedih dan merajuk dengan ucapannya sendiri membuat sang istri tertawa begitu merdu, layaknya dewi.

“Aww.. Sayang.. kau cute sekali. Aku jadi ingin memanjakanmu jika sudah seperti ini.” Mendengar itu wajah Taeyeon seketika berubah. Wajahnya terlihat begitu semangat dan antusias dengan apapun yang akan dilakukan istrinya.

“Aku siap dimanjakan olehmu, Nona Stephanie Young Hweng.” Dengan wajah polosnya Taeyeon berucap meskipun sang istri tahu dibalik kepolosan itu tersimpan kemesuman yang besar. Dengan senyum indahnya, Stephi, nama panggilan istri Taeyeon, mulai membuka kancing kemeja tidur suaminya yang tersenyum begitu semangat dan terlihat seperti idiot yang tak sabar menerima hadiah natalnya malam ini.

“Aku juga siap memanjakanmu Tuan Erick Kim.”

Erick, nama alias Taeyeon selama ia berkarir di Hollywood setelah ia memutuskan untuk berhijrah ke negeri paman sam. Disanalah ia bertemu dengan Stephanie, seorang fashion designer yang sedang mengembangkan karirnya secara internasional. Hubungannya dengan Stephanie dimulai saat Taeyeon menjadi tamu di acara amal yang diadakan di Parson, sekolah desain tempat dulu Stephanie menuntut ilmu. Dari sana keduanya dekat dan setelah 1 tahun berteman, keduanya memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka menjadi sepasang kekasih.

Belajar dari pengalamannya bersama Tiffany, kali ini Taeyeon lebih berani untuk mengambil resiko. Selain itu dengan lingkungan Hollywood yang lebih terbuka, Taeyeon berani mengemukakan hubungannya ke public bersama Stephanie yang dengan mengejutkan mendapat respon yang positif dari publik. Bahkan karir keduanya semakin menanjak sejak  mengumumkan hubungan mereka ke khalayak umum yang begitu menyukai kepribadiaan Stephanie dan Taeyeon yang begitu serasi dan saling melengkapi.

Setelah 2 tahun berkencan, Taeyeon memutuskan untuk membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius dengan melamar Stephanie yang segera menerima pinangannya itu. Berita pernikahan mereka menjadi topik yang panas selama 1 bulan. Berbagai media meliput salah satu pernikahan termegah tahun itu. Berbagai kalangan hadir sebagai tamu di acara resepsi tersebut tak terkecuali sang kekasih hati yang tak bisa Taeyeon miliki, Tiffany Hwang, yang kini telah merubah marganya menjadi Lim setelah ia menikah dengan Yoong setahun kemarin.

Setelah kepergian Taeyeon yang mendadak, Tiffany memutuskan untuk tetap mengejar Taeyeon yang sayangnya sudah tidak bisa bersama Tiffany. Berkali-kali Tiffany mencoba menghubunginya dan Taeyeon selalu menjawab hal yang sama, bahwa ia sudah tidak mau menjadi sumber penderitaan Tiffany. Ia mau Tiffany bahagia bersama Yoong. Dalam tangisnya, akhirnya Tiffany mau mulai belajar menerima kenyataan bahwa mungkin Taeyeon hanya seseorang yang bisa ia jaga dalam hatinya, bukan hidupnya. Beberapa tahun mereka berhenti berkomunikasi hingga pada pertengahan tahun kemarin, Tiffany yang didampingi Yoong, mulai berkomunikasi lagi dengan Taeyeon bahkan Stephanie yang dapat menerima kehadiran Tiffany sebagai masa lalu kekasihnya. Sejak saat itu hubungan mereka membaik bahkan hingga hari ini, hingga mereka sudah memiliki momongan.

Mom! Aku ingin tidur denganmu. Tadi aku mimpi buruk. Aku bermimpi seorang pria yang mirip Daddy menculikmu dan menyiksamu. Bahkan aku bisa mendengar suara rintihanmu.” suara itu segera menghentikan apapun yang sedang Taeyeon dan Stephanie lakukan. Mereka segera mengenakan pakaian tidur yang sudah tergeletak di lantai dengan posisi seprai kasur mereka yang sudah berantakan, meninggalkan jejak aktivitas yang sedang mereka lakukan.

“Steph… bagaimana ini?” Taeyeon menunjuk sang sahabat yang tak bersahabat dengannya. Stephanie tertawa melihat itu. Ia segera mengecup bibir sang suami yang merajuk merasakan sakit karena sahabatnya itu tak mendapatkan kasih sayang dari istrinya.

“Sayang.. kita akan melanjutkannya besok, setelah mengantar Dave sekolah okay!” dengan itu Stephanie berlari membuka pintu dan segera menemui putranya yang terlihat sedang menangis dalam ketakutannya sedangkan Taeyeon masih terduduk di ranjang dengan wajah frustasinya.

“Aku harus secepatnya memasang peredam suara di kamar ini!” ucap Taeyeon penuh tekad sebelum berjalan ke kamar mandi dan menenangkan sang sahabat yang masih marah padanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

..

=The And=

 

=====================================

Author Note:

Cerita ini sudah aku tulis saat aku masih menulis ending untuk My Lady. Jadi kalian gausah bingung, kenapa aku bilang aku sibuk tapi aku masih bisa post sesuatu, dan aku belum bikin My Lady Taeny Version.

Soon ya!

Dan untuk kalian yang masih mendukungku, I LOVE YOU!!!!!!!!!

Doakan aku yang terbaik ya! Lagi semangat nyari $$$$$$$$ nih makanya mungkin gatau kapan mau update lagi hahahaha.

See You Again!

taeny ff, snsd, Yoona, Tiffany

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

56 pemikiran pada “Choice

  1. jikustik-tak ada yg abadi,,akhiri dgn indah,,,utk dikenang…
    oh God!
    this emotion!!!
    tak bisa ditahan u.u ^.^
    di satu sisi ppany bikin emosi disisi yg lain pengen ngamuk ke yoong terus sisi yg lain pengen bgd jitak pala taeng…hahaha
    tp untung aja semua nya pd happy end…

    semangat author!!!

  2. Thor, jujur, apa mata aku yang salah atau gimana ya. Di bagian akhir cerita ada kalimat seperti ini “setelah mengantar Dave sekolah okay!” dengan itu Tiffany berlari membuka pintu dan segera menemui putranya yang terlihat sedang menangis dalam ketakutannya sedangkan Taeyeon masih terduduk di ranjang .dengan wajah frustasinya.
    Tiffany or Stephani?
    Dan….. Kok di akhir cerita ada foto Tiffany dgn rambut acak2annya yg nyelip di tengah2 cerita harmonis keluarga taeyeon. ?
    Jadi aku bingung nih, sebenarnya Tiffany ama stephani itu orang yg sama? Atau stephani itu adalah tiffany, namun tiffany adalah org lain?.

    #TaenyMoveOn

    Maklum thor, aku agak miris kalo baca yg beginian, gimana tiffany harus berpisah ama taeyeon. 😂😂😂.

    Klo emg bener pradugaku, berarti pas baca di awal aku salah dong dalam bayangin sosok tiffany. 😱😱😱😱

  3. ^^ menarik.. hingga saat ini cinta pertama sulit buat di gantikan.. ironis memang tp kenyataanya begitu.. mungkin disana terlalu banyak memory yg harus di upgrade membiasakan nya terlalu menyakitkan..thk thor

  4. setelah lama nggak pernah ninggalin jejak, dan saya kira author hiatus. terakhir liat posting” yg random hahaha dan akhr” ini saya kangen baca tulisannya eh, ternyata banyak betul update barunya dan tulisannya semakin waooow most wanted author list saya ini (:

  5. suka sedih klo taeny terpisah
    tp mau gimana lg, hubungan taeny gx bisa di pertahankan lagi klo ada salah satu yg merasa tersiksa
    untung taeng menemukan pengganti pany yg gx jauh beda cantik dan sexy ama pany hehehe
    dan pany akhirnya menyerah mengejar taeng dan mau menerima yoong sampe mereka punya momongan sama kaya taeng ama stephanie

  6. Gpp dah taeng ga dapet pany juga yg penting dapet stephi wong sama dia2 juga hahaa
    Ckckk taeny kayanya ga pernah bersatunya yak di wp ini perasaan ada aja halangannya wkwkk ujung2nya pisah😀

  7. Hooo taeng sm steph, tp langkah taeng emang bener ngambil keputusan itu dari pada semakin lama fany yg akan menderita. Cinta memang tak hrs memiliki, cinta itu emang hrs buat pasangan kita bahagia

  8. setor komen dlu ya baru setengah bca krna bnyak kerjaan hiks TT
    suka bgt gaya bahsa yg digunakan, cerita’a bagus ntr ta lnjut bca’a stlh plng krja

  9. aku pernah ngalamin gmn diputusin krna ga mau saling menyakiti lbh lama dan pernah mutusin krna ga mau nyakitin lbh jauh *jiah malah curhat haha
    dsni keputusan tae bnr bgt walaupun awal’a saling nyakitin bgt tp krna keputusan tu jd bisa nemuin kebahagian masing”, coba kalo ttp bertahan mungkin ga bakal berakhir tu saling nyakitin’a.
    tae mah mupon si mupon tp nma’a ttp mirip ma fany, kya nikah ma kmbaran fany atuh tu mah hehe
    akhir’a yoona berhasil meluluhkan fany

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s