DISTANT (Shoot 1)

jessica-jung-blanc-eclare-fall-2015-rtw-collection-shop-10

“Bukan aku yang kau rindukan, tapi kenangan.”

Bagian lain dari cerita Jessica dan pria yang dicintainya. Serta sedikit hiburan dari Taeyeon dan keluarga kecilnya.

 

jessica-fuse-photo-shoot-7

“Jessica kau ada dimana?” suara seorang wanita dengan nada keibuannya terdengar dari earphone wanita yang masih fokus mengendarai mobilnya.

 

“Aku sedang di perjalanan menemui Tuan Jang Sejun. Ada apa Aunty?”

 

“Dimana posisimu sekarang tepatnya?” Jung Dujeon berbicara masih dengan tenangnya meskipun hatinya berkata lain. Adik mendiang ayahnya itu memegang posisi yang dulu dipegang kakaknya. Maka dari itu sudah menjadi tugasnya untuk tetap mendampingi Jessica menjalankan firma hukum keluarganya itu.

 

“Aku sedang dalam perjalanan menuju Gyeonggi. Tuan Jang kemarin mengirimkanku email untuk bertemu dengannya disana, di salah satu kantornya. Ada apa memang Aunty? Apa terjadi perubahan rencana?” untuk beberapa detik jawaban itu tak terdengar, hanya ada deruan nafas yang cukup kasar dari tantenya itu. Entah mengapa Jessica memiliki perasaan yang tidak enak melihat tantenya bersikap seperti itu.

 

“Kembalilah ke kantor sekarang. Tuan Jang sudah membatalkan pertemuannya hari ini.”

 

“Apa? Tapi Aunty.. Tuan Jang..”

 

“Aku menunggumu.” Panggilan itu terputus dan Jessica tahu tantenya itu ada dalam mood yang tidak baik. Melihat kesempatan untuk berputar arah, Jessica membanting setirnya, mulai merubah arah perjalanannya.

 

.

.

.

 

“Aunty..” Jessica mulai masuk dan berjalan menghampiri wanita yang terlihat masih serius membaca beberapa berkas kasus yang firma sedang tangani.

 

“Duduklah.”  Dujeon melepas kacamata kerjanya. Ia melihat keponakannya itu mulai duduk dan memberikan perhatian padanya.

 

“Aunty.. ada apa sebenarnya?” Jessica yang memulai percakapan mereka. Ia tahu tantenya itu terlihat pusing menghadapi sesuatu yang mungkin tak diketahuinya. Sebagai keponakan dan junior di firma hukum ayahnya, Jessica ingin tahu apa yang mengganggu tantenya. Mungkin saja ia bisa membantu.

 

“JFF memilih firma lain untuk mendampingi mereka. Sekretaris Tuan Jang mengirim ini beberapa jam sebelum kau berangkat. Aku baru sempat memeriksanya tadi.” Jessica mengambil Ipad yang diberikan oleh tantenya itu. Ia mulai membaca surat yang berisi pembatalan pendampingan advokasi yang akan dilakukan oleh Firma hukum keluarga Jessica kepada Tuan Jang Sejun, direktur keuangan JFF yang sedang terlibat dalam kasus penggelapan pajak. Di surat itu disertakan alasan yang jelas kenapa Jessica tak lagi digunakan sebagai pengacara yang akan mendampingi kliennya tersebut.

 

“Kau.. sudah mengetahuinya?” Dujeon bertanya pada keponakannya yang memejamkan kedua matanya, mencoba mengontrol kekesalan dan amarahnya setelah membaca alasan Jang Sejun tak jadi menyewa jasanya.

 

“Jessica.. lebih baik kau bicarakan hal ini pada kekasihmu. Hal seperti ini sudah mulai mengkhawatirkan bagiku. Yoonan harus tahu dimana ia bisa ikut campur dalam urusanmu atau tidak. Kau harus membuat citra profesionalmu menjadi lebih baik lagi. Beberapa klien yang kemarin kau tangani mengeluhkan hal yang sama tentang Yoonan. Aku bukannya tidak perduli terhadap hubungan kalian, tapi sebagai Direktur Firma ini aku harus menjaga agar citra perusahaan tidak tercoreng karena hal kurang professional seperti ini.” Dujeon mengutarakan apa yang menjadi perhatiannya dalam beberapa waktu pada Jessica.

 

Jessica adalah wanita yang cerdas dan berdedikasi dalam pekerjaannya. Ia selalu memberikan 100% dari dirinya dalam menangani kasus-kasus yang ditanganinya. Banyak orang yang mulai menaruh perhatian mereka pada Jessica yang sering memenangkan kasus-kasus yang cukup menjadi sorotan publik sehingga popularitasnya terbangun. Apalagi ia adalah putri salah satu pengacara senior di kalangan publik Korea Selatan yang kemampuannya sudah tak diragukan lagi. Beberapa kali Jessica dan mendiang ayahnya terlihat menjadi cover utama majalah-majalah baik di kalangan nasional maupun internasional. Undangan untuk berkarir di kancah politik sudah beberapa kali datang tapi Jessica menolak. Ia ingin mengikuti jejak ayahnya yang tetap setia di jalur hukum dan mengembangkan Firma Hukum mereka menjadi lebih besar lagi.

 

“Terimakasih Aunty. Aku mengerti. Aku akan segera membicarakannya dengan Yoonan. Aku.. meminta maaf karena hal ini harus terjadi lagi.” Jessica sedikit menundukan kepalanya, mengepalkan kedua tangannya di pangkuannya. Di wajah cantiknya itu kini terlihat penyesalan.

 

 

“Bicarakan semuanya baik-baik. Jangan terbawa emosi. Aku mengerti bagaimana berartinya firma ini untukmu. Tapi jangan sampai hal ini menimbulkan konflik yang mungkin nantinya akan kau sesali. Kendalikanlah semua perasaanmu menjadi positif, nyaman dan menyenangkan saat kau berbicara dengan Yoonan nanti. Karena dari situlah pikiran postif itu berasal. Sebuah pikiran positif tidak akan bisa menjadi sepenuhnya positif jika perasaanmu tidak nyaman saat memikirkannya. Perasaanlah yang kadang mengendalikan pikiran kita jadi kau harus bisa mengatur dan mengelola perasaanmu dengan baik.” Senyum itu perlahan muncul setelah Jessica mendengar saran dari tantenya.

 

Jung Dujeon.. tantenya itu, ia mewarisi pembawaan tenang, bijaksana, karismatik serta rasional yang dimiliki oleh mendiang ayahnya. Maka dari itu Dujeon selalu menjadi figur yang Jessica kagumi selain ayahnya. Wanita yang 7 tahun lebih muda dari ibunya itu selalu menjadi mentor Jessica juga dalam menangani kasus yang dirasa sulit. Maka dari itu ia bersyukur Dujeon tak memutuskan untuk pindah ke Firma lain saat banyak perusahaan lain yang menawari tantenya itu jabatan dengan bayaran dan kekuasaan lebih yang didapatkannya selama berada di Firma hukum keluarganya.

 

Dujeon juga memiliki hubungan baik dengan keluarga Yoonan. Orang yang pertama kali mengenalkan Jessica dengan pria bermarga Im itu adalah Dujeon. Tantenya  bersahabat dengan adik ayahnya Yoonan sehingga ia bisa dekat dengan keluarga Yoonan. Dujeon pula orang yang pertama kali melihat tanda-tanda yang berbeda dari keponakannya dan Yoonan yang ternyata saling memendam rasa selama mereka bekerja sama dalam kasus yang Jessica tangani. Secara tidak langsung Dujeon adalah orang yang menghubungkan Jessica dan Yoonan yang siapa disangka bisa berhubungan untuk waktu yang cukup lama hingga saat ini.

 

“Terimakasih Aunty. Terimakasih.” Jessica berdiri menghampiri tantenya itu lebih dekat. Ia memeluk Dujeon untuk menyampaikan rasa terimakasihnya sebelum pamit dan keluar dari ruangan.

 

.

.

.

 

“Sayang..” Jessica berusaha membalas pelukan sang kekasih yang baru tiba di apartemen mereka. Kekasihnya itu segera membawanya berjalan menuju ruang makan. Ia menyimpan leather case-nya di sofa dan mulai membuka mantel dan jas yang menghangatkan tubuhnya dari udara dingin.

 

“Wah.. ini terlihat enak! Aku ingin memakannya sekarang tapi lebih baik aku mandi dulu.” Yoonan terlihat begitu semangat untuk menyantap makanan yang sudah dimasak oleh kekasihnya itu. Ia segera berjalan menuju kamarnya bersama Jessica, bersiap-siap untuk membersihkan tubuh dan segala penat dari aktivitasnya hari ini.

 

“Mandi air hangat setelah seharian berdingin ria di luar memang yang terbaik.” Beberapa menit berlalu dan kini Yoonan sudah duduk berhadapan dengan Jessica di meja makan. Kekasihnya itu terlihat begitu cantik saat menghidangkan beberapa makanan ke piringnya. Aura seorang istri dan keibuannya muncul dan Yoonan sangat menyukai hal itu. Itu adalah salah satu alasan mengapa ia mencintai Jessica yang secara usia memang lebih tua darinya. Ada jarak 2  tahun yang terbentang diantara mereka. Bagi Yoonan itu tidak masalah. Yang terpenting wanita itu bisa membuatnya nyaman menjadi dirinya sendiri dan mencintai dirinya apa adanya. Itulah selama ini yang membuatnya jatuh cinta kepada wanita yang saat ini duduk dihadapannya.

 

“Ada apa?” Yoonan terbangun dari lamunannya mendengar pertanyaan kekasihnya itu.

 

“Ada apa.. apanya?” Jessica kini menatap Yoonan lekat. Ia memberikan tatapan tajam dan curiganya pada sang kekasih yang merasa bingung sekaligus terhibur dengan tatapan khasnya.

 

“Kenapa kau terus memandangiku dari tadi?” dalam fantasinya Yoonan merasa sebagai seorang penjahat yang sedang diinterogasi oleh Jessica yang terlihat begitu seksi jika sedang bekerja. Definisi cantik, seksi, elegan serta hal lainnya tentu berbeda-beda bagi setipa orang.

 

Menurut Yoonan, jika kekasihnya itu sedang fokus bekerja atau melakukan kegiatan lainnya, itu terlihat sangat seksi. Kecerdasan itu jelas terlihat ketika ia melihat Jessica mengatur strategi agar kliennya bisa memenangkan perkara. Pertanyaan, saran dan kritik yang kadang Jessica berikan pada kliennya selalu membuat Yoonan merasa beruntung karena ia memiliki kekasih yang tidak hanya cantik, tapi cerdas dan berwibawa. Yang paling penting, kecantikan hatinya yang selalu bisa Yoonan lihat jika Jessica sedang melakukan kegiatan amal bulanan yang merupakan program wajib yang diadakan semenjak Jessica bergabung dengan Firma keluarganya.

 

“Huh? Siapa yang memandangimu?” Yoonan paling senang jika sedang menggoda kekasihnya itu. Diantara mereka berdua, Yoonanlah yang lebih sering bercanda ketimbang Jessica yang cenderung serius. Tapi itu bukan berarti Jessica membosankan dan tidak bisa diajak bercanda. Sejak menjadi kekasih Yoonan, tawa merdu dan senyum indah itu lebih sering terlukis di wajah Jessica. Yoonan dan Jessica bagai penyeimbang atau pelengkap dari kekurangan yang mereka miliki. Jika sedang bersama Jessica, Yoonan terlihat lebih dewasa dan matang. Terkadang Jessica malah merasa ia tidak pernah memiliki kekasih yang lebih mudah darinya karena Yoonan selalu bisa mengimbangi kedewasaan yang dimilikinya. Jessica bersyukur akan hal itu meskipun balik lagi, sisi kekanak-kanakan itu masih ada dan itu yang membuatnya merasa terganggu.

 

“Euhm.. sudahlah.” Yoonan tersenyum puas melihat kekasihnya itu kembali menyantap makanannya.

 

“Aku hanya sedang menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah.” Jessica berhenti melakukan kegiatan apapun yang dilakukannya saat ini. Yoonan tertawa bahagia dalam hatinya karena itu berarti kata-katanya tadi memiliki dampak yang luar biasa untuk kekasihnya. Ia mulai genggam kedua tangan kekasihnya itu, mengecupnya bergantian. Jessica terdiam melihat Yoonan mengelus pipinya dengan lembut, mengecup bibirnya ringan lalu detik berikutnya memberikannya senyum yang begitu manis dan menawan.

 

‘Tuhan.. kuatkanlah hati ini.’ Doa Jessica dalam diamnya.

 

.

.

.

 

“Yoong..” Jessica berbicara memecahkan keheningan malam yang menemani mereka sejak tadi. Jessica dan Yoong kini sedang berada di balkon apartemen mereka yang menghadap langsung ke jantung kota Seoul. Keduanya sesekali menikmati malam mereka memandangi langit dan cahaya malam di Seoul yang indah dari gedung-gedung megah dan menjulang tingga yang ada.

 

“Yes?” Yoong masih memeluknya dari belakang, mengurangi kedinginan yang menggoda mereka. Ia berharap salju pertama tahun ini bisa turun sekarang, saat dirinya sedang bersama Jessica. Orang bilang jika kalian melihat salju pertama turun bersama seseorang yang kalian sayangi, maka kalian akan bersama selamanya dan Yoonan ingin mempercayai itu. Ia ingin keabadian itu yang menemaninya bersama Jessica nanti.

 

“Kau tahu Jang Sejun?” Bom itu mulai Jessica jatuhkan hingga tinggal menunggu waktu kapan bom itu akan meledak.

 

“Aku.. pernah mendengar namanya tapi aku tidak mengenalnya.” Suara Yoong terdengar tenang saat menjawabnya.

 

“Tadi siang dalam perjalananku menuju Gyeonggi, Aunty menelponku untuk kembali ke kantor. Ia memberitahuku bahwa  Jang Sejung memutuskan untuk tidak menyewaku lagi sebagai pengacaranya. Aku kaget karena Tuan Jang sudah begitu percaya dengan kemampuanku untuk menyelesaikan masalahnya. Aunty memberikanku surat dari Tuan Jang. Dan kau tahu apa isinya? Dengan berat hati ia harus berhenti menggunakan jasaku karna kekasihku menganiaya dan mengancam keselamatannya. Kau.. masih tidak mengenalnya?” Jessica kembali mengingat pesan tantenya untuk tidak membicarakan masalah ini dalam kondisi emosional. Maka dari itu ia memilih waktu saat ia dan Yoong sedang santai seperti ini. Ia benci sebenarnya harus merusak momen berharga seperti sekarang dengan pembicaraan yang pastinya akan membawa konflik untuk hubungan mereka.

 

“Baiklah. Mungkin aku mengenalnya.” Wajah itu terlihat masih mencoba untuk tenang meski dalam hatinya tidak.

 

“Mengapa kau menganiayanya?” Jessica bertanya dengan nada datarnya.

 

“Aku tidak menganiayanya. Dia juga membalas pukulanku tapi untungnya aku bisa menghindarinya dengan baik.” Ucap Yoonan mulai membela dirinya.

 

“Okay.. kenapa kalian melakukan hal itu? Dia adalah klienku Yoong. Orang yang seharusnya puas dengan kinerjaku. Kalaupun dia ingin memberhentikanku sebagai pengacaranya.. itu harus karena ketidakmampuanku untuk membelanya bukan karena arogansi seorang pria yang mementingkan emosinya dibanding nama baik kekasihnya.” Tidak ada jawaban yang Jessica terima setelah itu. Wajah kekasihnya itu terlihat mengeras. Yoonan terlihat sedang mengatur emosinya.

 

“Kenapa kau diam? Apa kau akan marah karena aku membela Tuan Jang? Kau tahu apapun yang kau lakukan pada Tuan Jang.. itu terdengar sangat kekanak-kanakan. Aku hanya akan membela siapa yang benar. Dan kau.. ini bukan kali pertama kau melakukan hal yang mencoreng nama dan citraku dengan kecemburuanmu yang berlebihan itu. Aku tidak tahu kenapa aku masih berada disini setelah berulang kali kau melakukan hal itu.” Sepintar-pintarnya Jessica mengelola perasaannya terkadang ia gagal juga. Emosi itu mulai memuncak saat Yoong terdiam tak menjawab pertanyaannya. Ia ingin tahu mengapa Yoonan melakukan hal seperti itu.

 

“Lalu.. apa aku harus diam mendengar pria bengsek itu menceritakan fantasi seksualnya tentangmu? Apa aku hanya akan diam mendengar rencananya untuk menidurimu setelah meeting kalian hari ini? Apa aku hanya akan diam setelah mengetahui bahwa kasusnya hanyalah pancingan untuk menjatuhkan reputasimu?” ada keterkejutan yang jelas terlihat di wajah Jessica mendengar penjelasan sang kekasih.

 Jessica tidak tahu bahwa Jang Sejun akan melakukan semua hal buruk tadi padanya. Ia bisa marah seperti tadi.. itu karena beberapa kasus yang  ditanganinya tiba-tiba berhenti begitu saja karena kliennya yang tidak nyaman dengan perlakuan yang Yoonan berikan pada mereka. Satu atau dua kali Jessica bisa mengerti mengapa kekasihnya itu seperti itu. Tapi jika hal ini terjadi secara terus menerus bagaimana karir Jessica bisa berkembang dan bertahan?

 

“Darimana kau tahu semua itu?”mata itu Jessica picingkan.

 

“Aku bertemu dengannya di jamuan makan malam yang diadakan Choi Junsil. Mungkin dia belum tahu bahwa aku kekasihmu sehingga pria brengsek itu dengan arogan dan bangganya menceritakan hal yang membuat amarahku memuncak. Argh! Aku tidak mau mengingat kata-kata itu! Rasanya aku ingin membunuhnya saat itu.” Jessica terdiam melihat sang kekasih begitu berapi-api menceritakan apa yang ia dengar selama perjamuan itu. Kekasihnya itu terlhat sedang terjebak dalam emosinya dan ia merasa harus berkata sesuatu.

 

“Yoong.. jika memang seperti itu keadaannya.. aku ucapkan terimakasih karena kau sudah membelaku. Aku mengerti sekarang kenapa kau marah dengan Tuan Jang. Tapi.. aku tidak setuju dengan caramu membelaku. Kekerasan bukan jalan keluar yang baik. Setidaknya kau bisa membicarakan hal ini padaku dulu sebelum mengambil keputusan sendiri untuk menghajarnya seperti yang kau ceritakan tadi.”

 

“Maafkan aku.” Amarah itu perlahan terkikis saat Jessica melihat sang kekasih menundukan kepalanya.

 

Yoonan sepertinya sudah sadar dengan kesalahannya. Ia menutup kedua matanya dalam penyesalan yang kini mulai dirasakannya. Apa yang dikatakan Jessica ada benarnya. Tak seharusnya ia bertindak gegabah dengan berkelahi bersama klien kekasihnya yang brengsek seperti Jang Sejun. Tapi pada saat itu ia  tak bisa menahan dirinya saat si brengsek arogan itu menjelek-jelekan kekasihnya di hadapan pria hidung belang lainnya. Maka dari itu ia merasa harus mengambil suatu tindakan tapi mungkin keputusannya itu kurang tepat.

 

“Kau memang kekasihku tapi aku yang berhak memutuskan apakah aku akan melanjutkan pekerjaanku atau tidak bersama mereka. Apa yang kulakukan selama ini.. bukan hanya tentang aku tapi menyangkut citra firma yang ingin kujaga karena selama ini.. bahkan hingga maut menjemput.. itulah yang Daddy lakukan. Aku tidak mau menghancurkan apapun yang telah Daddy dedikasikan selama ini dalam hidupnya.” Yoonan berdiri dalam diam mendengar Jessica mengemukakan pendapatnya.

 

Penyesalan itu rasanya bertambah dan hatinya semakin berat jika ia mengingat ayah Jessica yang sudah berpulang kepada Sang Pencipta. Mendiang ayah kekasihnya itu adalah pria yang dari luar terlihat seperti pribadi yang keras dan dingin tapi saat Yoonan sudah mengenalnya lebih baik setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan Jessica, Yoonan tahu bahwa ayah Jessica adalah pribadi yang hangat dan menyenangkan.

 

Banyak hal yang Yoonan pelajari dan ia dapat dari Jung Woo Sung. Mendiang ayah kekasihnya itu begitu sayang pada keluarganya, terutama Jessica, putri sulungnya. Meskipun Woo Sung sangat menyayangi Jessica tapi ia tak pernah mengurangi profesionalitasnya dalam bekerja. Bahkan pada saat Jessica akan bergabung dengan firma miliknya, Woo Sung tetap menyeleksi putri kesayangannya itu sesuai dengan prosedur yang berlaku meskipun sang putri merupakan salah satu lulusan terbaik di Harvard dalam konsentrasi pendidikan yang diambilnya. Bagi Woo Sung apa yang tertulis di ijazah tidak menginterpretasikan bagaimana kemampuan seseorang yang sebenarnya. Hal  itu yang membuat Firmanya bisa sebesar sekarang karena tenaga kerja berkualitas yang produktif. Karena ia merekrut tenaga kerja yang benar-benar handal bukan hanya berdasarkan keterangan di sebuah kertas.

 

Hal lain yang Yoonan paling ingat adalah kesetiaan yang Woo Sung berikan hanya pada istrinya meskipun banyak sekali godaan yang menantinya. Jika Yoonan sedang berkumpul dengan keluarga Jessica, ia bisa melihat bagaimana Woo Sung membawa keluarganya itu menjadi orang-orang yang independen. Ia selalu memberikan hak kepada anggota keluarganya untuk memilih jalan mana yang ingin mereka ambil. Tapi di belakang ia selalu memonitor proses dari pemilihan tersebut. Sama seperti yang Woo Sung lakukan saat Jessica menjalani studi lanjutannya di Seoul. Pada intinya Woo Sung adalah seorang pria dan kepala keluarga yang menjadi panutan Yoonan, tentu saja selain ayahnya sendiri.

 

“Sayang.. lain kali jangan bertindak mengikuti emosi dan nafsumu seperti yang kau lakukan pada Tuan Jang dan yang lainnya. Jika sesuatu terjadi kau harus membicarakanya padaku. Bukankah kita setuju bahwa komunikasi yang jujur dan terbuka serta kepercayaan adalah fondasi yang kuat untuk menjaga dan mengembangkan hubungan ini?” Yoonan mulai mengalihkan pandangannya pada Jessica yang menatapnya lembut, tidak disertai amarah dan emosi seperti tadi. Hatinya terasa begitu tenang saat melihat Jessica tersenyum lagi padanya.

 

“Iya Sayang.. maafkan aku.” Jessica mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu. Ia tatap kedua mata kijang Yoonan yang begitu menarik dan menawan hatinya. Perlahan jarak diantara mereka menghilang dan kedua bibir itu bertemu dalam ciuman hangat yang membuat siapapun yang melihatnya pasti merindukan pasangan mereka.

 

“Ah.. yes!” Yoonan melepas ciuman itu. Ia tersenyum begitu lebar sembari menjulangkan tangan kanannya ke atas, terlihat begitu bahagia dengan apapun yang ia rasakan saat ini.

 

“Kau kenapa?” Jessica tertawa dengan muka merah padamnya melihat kekasihnya itu heran.

 

“Sayang.. ini adalah salju pertama. Dan kita sedang bersama saat itu terjadi!” Yoong menjelaskan dengan penuh antusias. Pria bermarga Im itu terlihat girang sekali seperti baru mendapat undian berhadiah.

 

“Lalu?”

 

“Kau tidak tahu?” Jessica menggelengkan kepalanya begitu imut membuat Yoonan tak kuasa mengecup bibir mungilnya itu.

 

“Seseorang berkata padaku, jika kita menyaksikan salju pertama bersama orang yang kita cinta, maka kita akan bersama orang tersebut selamanya. Jadi setelah mendengar itu, aku memutuskan untuk melakukannya bersamamu.” Kedua mata kijang itu berkilau penuh dengan harapan dan keyakinan. Melihat itu Jessica hanya bisa tersenyum. Pria yang ada dihadapannya itu, ia berharap adalah keabadiannya dan semoga Tuhan mengabulkan doanya.

 

 

“Jessica?” seorang pria memanggil wanita yang sejak tadi terlihat berada dalam dunianya sendiri.

“Ah.. ya?” Jessica terlihat bingung saat namanya dipanggil. Ia segera berdiri menyambut pria paruh baya yang berdiri di depannya.

“Kau melamun sejak tadi melihat pasangan didepanmu.” Berdiri di sebrang jalan tempat Jessica duduk sekarang adalah sepasang kekasih yang sedang bersenda gurau dengan salju yang menghujani mereka orang lain di sekitarnya. Si pria mendekap wanitanya itu begitu hangat, sementara si wanita terlihat begitu bahagia menyaksikan salju pertama bersama kekasihnya.

.

.

.

“Kau merindukan putraku?” Jessica terbatuk ketika meneguk coklat panas yang sedang konsumsi. Pria  yang duduk dihadapannya tersenyum melihat itu.

“Aigoo.. kenapa kau terkejut seperti itu?” Jessica segera membersihkan tumpahan coklat panas yang tadi ia sedikit semburkan karena keterkejutannya mendengar pertanyaan ayah kekasihnya.

“Appa.. kau mengetahuinya?” Im Sung Ha mengiyakan pertanyaan wanita yang sudah ia anggap sebagai anaknya itu.

“Bagaimana..”

“Yoong tak pernah menceritakan masalah kalian padaku. Tapi melihat wajahnya dalam beberapa waktu ini, aku tahu kalian sedang dalam masalah. Belum lagi Tuan Seo yang akhir-akhir ini selalu menelponku, ya  selain pembicaraan tentang bisnis kami, dia sering menanyakan kemungkinan kami untuk menjadi besan. Meskipun aku seorang pria, aku adalah seorang ayah, Jessica. Aku bisa merasakan dan tahu jika sesuatu terjadi pada anak-anakku, termasuk kau dan Yoong.”

“Appa..” Jessica tersenyum sendu mengingat sang ayah yang telah berpulang dan masalahnya dengan Yoong yang belum selesai hingga saat ini.

Sejak pertemuannya dengan Yoonan dan Seohyun, Jessica belum bertemu lagi dengan kekasihnya itu. Ketika ia berusaha menemui Yoonan, pria itu selalu bilang bahwa ia sibuk. Jessica tahu itu adalah alasan untuk menghindarinya. Untuk beberapa waktu ia bisa mendiamkan itu semua, mengikuti keinginan Yoonan yang mungkin butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Jessica mengerti hal itu tapi ia merasa tidak adil karena sebenarnya apapun yang Yoonan rasakan setelah mendengar ucapan Seohyun, itu hanya kesalahpahaman. Jadi Jessica merasa kekecewaan dan kesedihan yang Yoonan rasakan padanya itu adalah sebuah kebodohan yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika ia lebih cepat menjelaskannya pada Yoonan tanpa perlu adanya gangguan dari wanita jalang berwajah malaikat itu, Seo Juhyun, atau yang kadang ia maki menjadi Seobitch.

Seo Juhyun, wanita itu benar-benar memanfaatkan situasinya yang kacau dengan Yoonan saat ini. Jessica tidak tahu seberapa dekat hubungan kekasihnya dengan wanita jalang itu saat ini tapi beberapa kali ia mencoba menghubungi Yoonan dan Seohyunlah yang mengangkatnya. Dengan nada malaikatnya, wanita jalang itu selalu berkata bahwa Yoonan sedang sibuk jadi tidak bisa diganggu. Sebelum sempat Jessica mengatakan hal lainnya, iblis berwajah malaikat itu sudah memutus sambungan teleponnya sehingga Jessica tak sempat mengutarakan protesnya.

“Lalu.. apa kau menyetujuinya?” Jessica bertanya dengan wajah tenangnya meskipun Sung Ha bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di paras cantik wanita dihadapannya itu.

“Aku tidak sekolot itu Nona Jung. Siapapun yang akan menjadi pasangan putraku nanti, jika ia memang yang terbaik, maka aku akan mendukungnya.” Mendengar jawaban yang bijak dan  diplomatis itu entah kenapa jantung Jessica terasa melemah. Jawaban itu terasa seperti tak mendukungnya. Ia ingin Sung Ha hanya mendukungnya, bukan Seohyun.

“Tapi.. jika aku boleh jujur, aku lebih memilihmu untuk menjadi menantuku.” Sung Ha tersenyum mengedipkan mata kanannya membuat harapan itu muncul di hati Jessica.

“Appa.. lalu apa yang harus aku lakukan?” Sung Ha tersenyum mendengar pertanyaan itu. Ia meminta Jessica untuk mendekat padanya dan mulai membisikan sesuatu yang memicu senyum Jessica.

***

2099273551f1d83313b9c7cab417575c

“Taetae..” Taeyeon terlihat masih sibuk memainkan sesuatu di tabletnya sedangkan Tiffany baru saja melihat beberapa akun dan komentar orang-orang tentang lagu yang baru dirilisnya, di media sosial favoritnya, Instagram dan Youtube, sahabatnya.

Yes My Queen? Tatapan Taeyeon belum beralih pada sang istri yang kini terlihat penasaran dengan apa yang sedang dilakukan suaminya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Tiffany bertanya dalam senyumnya melihat wajah sang suami yang terlihat begitu tampan dan imut dengan ekspresinya yang begitu fokus. Jika suaminya sedang terlihat seperti itu, Tiffany selalu ingin melakukan hal lain yang mungkin akan disesalinya. Perlahan ia beranjak dari tempatnya di ranjang, mendekati sang suami yang sebenarnya berada di sisinya.  Taeyeon yang sedang menyandarkan tubuhnya ke Head Board tempat tidurnya sedikit terkejut saat sang istri sudah duduk di pahanya, masih dengan gaun malamnya yang cantik dan menggoda iman, membuat siapapun yang melihat ingin merobeknya dengan cepat.

“Melukismu?” pandangan mereka bertemu saat Taeyeon menjawab pertanyaan Tiffany.

“Benarkah?” jantung Tiffany bergetar lebih keras saat Taeyeon tersenyum begitu tampan dengan lesung pipi tipis yang bermain di kedua wajahnya. Perlahan tubuh Taeyeon semakin ia naiki hingga kini kedua ‘sahabat’ mereka bertemu meskipun secara tidak langsung karena berbagai kain dan benda lainnya yang masih menyelimuti tubuh mereka.

“Yah!!!!!!” Taeyeon tertawa mendengar teriakan sang istri yang memukul dadanya berkali-kali melihat lukisannya. Di lukisan itu terlihat Tiffany yang begitu lahap memakan kedua roti yang ada di tangan kanan dan kirinya, mengenakan kostum babi yang ia gunakan di acara ulang tahunnya yang dirayakan bersama para penggemarnya beberapa bulan yang lalu. Gambar itu terlihat masih bagus dan imut sebenarnya. Yang membuat teriakan dan pukulan itu muncul adalah tulisan yang menyempil di pojok kiri atas.

‘My lovely Fat Pig, Oink.. Oink! Love!’

.

.

.

“Taetae..” panggilan itu terdengar begitu seksi saat Tiffany masih mengatur nafasnya.

“Iya Sayang?” Taeyeon segera mengalihkan tatapannya pada sang istri yang terlihat masih lelah setelah sesi bercinta mereka beberapa menit yang lalu. Tubuhnya masih mendekap sang  istri yang terasa begitu nyaman dan hangat seberapa seringpun ia mendekap tubuh wanita terindah yang sering ia jamah itu.

“Apa mereka akan segera bersatu?” pikiran itu tiba-tiba muncul di benak Tiffany.

“Siapa?” dengan wajah bingung dan bodohnya Taeyeon menjawab membuat Tiffany tersenyum dengan senyum khasnya melihat keimutan suaminya itu.

“Duh.. Jessica dan Yoonan tentunya.” Taeyeon meringis menerima pukulan kecil di kepalanya.

“Oh.. hahahha. Tenang saja, sebentar lagi juga kita akan mendapat undangan dari mereka?” wajahnya terlihat begitu yakin dan Tiffany penasaran dibuatnya.

“Kenapa kau berkata seperti itu?” dengan wajah yang siap mengintrogasi.. Tiffany bertanya.

“Heumh.. karena aku tahu?” dengan wajah polos dan penuh kebanggaannya Taeyeon menjawab sementara sang istri menatapnya

“Yah!!!!”

.

.

.

“Taetae..” setelah selesai menyiksa suaminya, Tiffany merasa lapar. Ia memutuskan untuk membuat snack ringan untuk menenangkan perutnya yang mulai melakukan protes. Ia tak menyalahkan perutnya jika memang ingin protes karena ia tahu berapa besar tenaga yang sudah ia gunakan selama bercinta dan menyiksa suaminya yang kini terkulai lemas di ranjang mereka. Merasa kasian dengan sang suami, akhirnya Tiffany memutuskan untuk membawa snack itu ke kamar mereka, menyantapnya bersama sang suami yang begitu bahagia memakannya, seperti orang yang baru makan setelah 1 bulan berpuasa. Dan disinilah mereka sekarang, masih menyantap snack-snack itu dengan posisi Tiffany yang terlihat sibuk memeriksa sesuatu di smartphone-nya.

Yes My Love?” jawaban itu membuat Tiffany segera mengalihkan tatapannya pada Taeyeon yang terlihat begitu bahagia memanggilnya penuh dengan cinta.

 

“Aww… kau sungguh manis. Oh ya… bagaimana acara kemarin? Menyenangkan?” Taeyeon terlihat berpikir, memonyongkan bibirnya, terlihat begitu imut untuk ukuran pria seumurnya yang sudah terbilang tua sebelum mengaggukan kepalanya terlihat begitu antusias dengan menunjukan dua ibu jarinya sebagai tanda untuk melengkapi komunikasi non verbalnya.

“Benarkah?” Tiffany bertanya dengan kondisi kedua matanya menatap Taeyeon begitu dalam, seperti mengeluarkan cahaya laser merah muda dari kedua jendela jiwanya itu. Taeyeon masih menganggukan kepalanya, terlihat bahagia seperti anak TK.

“Baiklah.. sepertinya aku tahu mengapa kau begitu bahagia!” tawa Tiffany begitu merdu tapi tidak bagi Taeyeon.

Dihadapan Taeyeon terpampang video dirinya yang terlihat mencuri pandang pada dua orang MC yang memandu acaranya kemarin. Meskipun wajahnya masih terlihat biasa, serius dan terkesan tidak peduli dengan kedua MC yang membawa papan hadiah untuk pemenang sebuah kompetisi game yang dihadirinya kemarin, tapi dari video itu masih terlihat sesekali ia mencuri pandang pada asset kedua MC tersebut yang mengenakan busana yang begitu ketat dan mengundang mata-mata tidak bertanggungjawab untuk melihatnya. Lirikan mata Taeyeon terlihat mengikuti kedua asset MC tersebut secara bergantian. Wajahnya terlihat polos dan segera mengalihkan pandangannya setelah melakukan kesalahan itu. Meski dengan wajah polosnya tadi, Taeyeon tahu bahwa Tiffany pasti mengerti dengan tatapan yang diberikan pada kedua MC itu.

“Sa.. sa.. sa..Sayang.. aku bisa menjelas…”

“Besok dan 6 hari selanjutnya Taefan akan tidur denganku. Kau tidur di kamarnya saja!” Tiffany beranjak dari ranjangnya,  berjalan meninggalkan Taeyeon yang menganga mendengarnya.

***

“Kau benar-benar tidak ingin aku menemanimu?” Yoonan menggelengkan kepalanya pelan menjawab wanita yang masih duduk di kursi kemudi kendaraan roda empatnya.

“Baiklah.. aku pergi dulu.” Yoonan mengangguk, memberikan senyuman dan lambaian tangannya melihat Seohyun mulai menutup kaca jendela mobilnya dan menancap gas mobilnya, meninggalkan Yoong berjalan memasuki gedung apartemen barunya sejak ia berpisah dengan Jessica beberapa bulan yang lalu. Beberapa menit berlalu dan kini ia tiba di depan pintu unit apartemennya yang terletak di lantai paling atas, salah satu keuntungan menjadi putra pemilik salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negaranya dan bagian asia lainnya.

“Eh.. Mengapa ada sepatu lain?” itu yang diucapkan Yoonan saat ia baru memasuki unitnya. Perlahan ia berjalan menuju ruang tamu dan dari kejauhan ia bisa melihat punggung seorang wanita yang sedang menata sesuatu di meja makan. Dengan langkah sunyinya ia berjalan mendekati wanita itu.

“Sica?” wanita yang dipanggilnya itu berbalik menghadapnya. Berdiri didepan Yoonan adalah Jessica yang terlihat begitu cantik mengenakan hanbok yang begitu indah yang didominasi oleh warna merah muda dan biru langit berpadu dengan warna-warna pastel lainnya membuat wanita bermarga Jung itu terlihat seperti seorang putri kerajaan di zaman modern ini. Dan tampilan seperti itulah yang menjadi rahasia Yoonan dimana tidak semua orang tahu bahwa jika ia melihat seorang wanita berpakaian seperti itu, maka hatinya akan seketika meluluh.

“Selamat datang!” dengan wajah cerianyanya, Jessica menyambut Yoonan dalam pelukannya. Yoonan terdiam menerima pelukan itu sebelum dengan perlahan membalas pelukan wanitanya itu. Melepas pelukan itu, Jessica segera melepas mantel dan jas Yoonan, menggantungkannya di tempatnya. Setelah itu ia membawa Yoonan untuk duduk di meja makan. Yoonan hanya terdiam membiarkan Jessica berbuat seperti itu padanya. Dalam dia ia bertanya pada dirinya sendiri apakah hatinya sudah siap bertemu lagi dengan wanita yang masih sangat dicintainya meski berkali-kali menyakitinya.

“Lebih baik kita makan dulu.” Dengan itu makan malam Yoonan dan Jessica dimulai tanpa banyak kata-kata yang menemani mereka.

.

.

.

“Aku senang bisa bersama denganmu.. seperti ini.” Makan malam telah selesai. Yoonan dan Jessica kini sedang menikmati indahnya pemandangan malam Seoul dari balkon apartemen Yoonan. Keduanya berdiri menumpu tubuh mereka pada tembok balkon sambil menikmati teh melati untuk Yoonan dan coklat panas bagi Jessica.

“Benarkah?” Jessica menganggukan kepalanya terlihat begitu meyakinkan.

“Syukurlah.” Ucap Yoonan dalam dengan senyuman polosnya, sama seperti kedua mata kijangnya yang kini menatap Jessica begitu dalam.

“Yoong..” Panggil Jessica memecahkan kesunyian yang tadi sempat menyelimuti mereka.

“Heumh?” Yoonan yang sejak tadi begitu menikmati pemandangan malam yang menemani mereka, kembali memusatkan perhatiannya pada Jessica.

“Aku merindukanmu.” kata-kata itu terdengar begitu jujur dan tulus.

“Sica..”

“Iya?”

“Bukan aku yang kau rindukan, tapi kenangan yang pernah kita buat yang kau rindukan. Dan aku.. mungkin tidak bisa lagi membuatnya bersamamu.”

.

.

.

.

.

.

.

TBC

lotte-fansign-3

cw3nkczucaam4tn

tumblr_o47lu0sm0K1u7382mo1_500

 

Iklan

56 pemikiran pada “DISTANT (Shoot 1)

  1. thor,,ini lanjutan crita yg waktu itukan???
    oke kyk nya di next chap yoonan ato mgkin jessie bakalan minta break deh…
    entah krn pengaruh seo ato pengaruh crita ppany di chap sblmnya…
    haha ksian taeng,,harus bobo sendiri slama seminggu…makanya jgn terlalu nakal tuh mata..hihihi

  2. nah kan nyesel pan..
    apalagi denger kalimat yoong di akhir sebelum tbc😂😂😂
    iya yoong mah da gitu…

    yoong juga butuh waktu kali yah
    tp mo sampe kapan…
    jgn sampe ambil keputusan yg nanti bikin nyesel ya yoong
    justru dengan mengingat ingat akan kenangan tambah lebih menguatkan hati,lbh makin sayang dan lbh berpikir
    dulu aja bisa ngadepin setiap masalah..cemburunya yoong,sifat kekanakan yoong…ko sekarang malah nyerah sih
    jd segini aja nih cintanya*ditoyor
    drpada buang tenaga gk jelas meding lopelope pan udh lama gk ketemu..
    anggap aja kehadiran soehyun itu untuk memperkokoh pondasi hubungan yoonsic..kn dalam hubungan bkn hanya cinta aja tp juga pondasi yg kuat agar tiap ada masalah bisa diselesein dengan baik..

    kasian bgt ateng abis diterbangin gk lama dijatuhin😂😂😂
    makanya teng..punya mata tuh di jaga..
    udh punya istri seorang tifany masih aja lirik2..
    moga mimpi indah lah buat taeng…

  3. Sicanya udh mau jujur tp yoong yg sekarang menutup diri..
    Tae mah matanya nggak bisa dikendaliin..
    Hahhaa…
    rasain kan tidur sendiri selama seminggu..

  4. mampus lu taeng gx dapat jatah selama 1 minggu, abis lu jg sih yg gx bisa mengendalikan tuh mata klo lihat cewe yg bening
    yoong kenapa lo ngomong ke sica kaya gitu, padahal sica udah mau memperbaiki hubungan kalian

  5. Maaf banget thor…… Maaf banget……. Gue cuma baca taeny momentnya doang.

    Wkwkwk….. 😂😂😁😁😂😂😂
    Kasian banget taetae kagak dibolehin tidur bareng ama panul. Hihoho… …. Tp thor, ini sbenernya Bintang utamanya siapa thor? Jessicayoonan atau taeny?

  6. waduhhhhh gw ketinggalan banyak banget iniiiii 😑😑😑😑
    udah bingung gw mulai dr mana gw bacanya karna yg sebelumnya gw lupa judul ff yg udah gw baca tp kayaknya yg “the reason is” itu udah yg ampe final trus yg selanjutnya ga tau u update ff apa lagi setelah itu..
    arghhh klo misah2 jadi pusing gw beuhhh
    ehhh btw ff ni baru pertama kan?baru mulai kan? yg distance ini

  7. Astaga😃😂 demi apa pun.. tae polos bwgdd sangkin polosnya ndak tau jika istrinya jealous wkwkwkwk😄😃.. dunia taeny penuh misteri euyy dan aq menyukai kata terakhir pany” 6 hari kedepan aq akan tdr dgn taefan 😨 gak mungkin gak ngakak thor.. gomawo thor tp ada apa dgn yoonsic tiba tiba berpisah?! Belum paham permasalahanya dan tiba tiba sudah pisah saja😕

  8. br selesai baca & br liat ff baru yoonsic.. ktgglan bnyk gw thor..
    duh part I dh kyk gtu thor.. so sad bgt si sica,, seo bisa jd wanita jalang jg ya thor.. hehe..

  9. Aku merindukan yoonsic … Huhu
    Disini ngefeel bgt yoonsic nya trs quote dr km juga ngena bgt huhu baper deh bacanya kan
    Yoong nya so jual mahal disini, sica nya kaya baru sadar dan nyesel kalo jenuh itu ga hrs break wkwkwkwk
    Update selanjutnya pleaseplease.. Prnasaran..

  10. Hallo risma 🙂 ff yoonsic ya ini? Duhh akhirnya couple favorite muncul hehehe as always kok ris, ini bagus, aku suka sama peran jessie, biasanya dia kan jadi designer lah, pewaris tahta lah, aktris atau blah blah blah. Tapi disini jessie jadi pengacara, uhhh mau dong dibela sepenuh jiwa juga hahah dan selalu sifat abang yoonan yang selalu dewasa dan sweet itu selalu bikin meleleh, tapi kenapa dia gamau membuat memories baru sama jessie? Udah nyerah gitu bang? Ett rasanya jadi pengen jambak seobitch wkwkwk semangat berkarya terus ya risma, aku tunggu kelanjutannya dan ff yoonsic lainnya :))

  11. konsep ff yg menarik , beda dari ff yg biasanya. huh seohyunnya jadi jahat2 gmna gitu :3 yah nasib yoonsib gmna tuh ? untung appa yoong org-nya bijak dan gak egois 🙂 jadi makin penasaran nih bagamaina kisah petualangan/? cinta yoonsic selanjutnya,apakah akan berakhir dgn happy atau sad ? entahlah hanya author yg tau . Semangat yaa thor risma nulis ff-nya 💪

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s