-Closure- [My Lady]

mine

“Aku mungkin menyesal meninggalkanmu,  tapi itu karena aku mencintaimu.”

Saat kita mencintai seseorang, tidak peduli sesakit apapun, jika itu bisa membawa kebahagiaan pada orang yang kita sayang, maka kita pasti akan melakukannya.”

Bagian lain dari cerita Taeyeon dan Tiffany, yang memilih untuk melepaskan satu sama lain untuk akhir yang indah bagi semua yang mencintai mereka. Dan mungkin.. secara tidak langsung.. untuk diri mereka sendiri.

Author Note:

Rekomendasi lagu pendamping untuk mendukung suasana:

  1. Changmin – Because I Love You
  2. Park Hyo Shin – Breath
  3. Min Kyung Hoon – Love You
  4. Joy & Im Seulong – Always In My Heart
  5. Kahitna – Soulmate
  6. Jessica – That One Person
  7. Tiffany – Moon and Sunrise
  8. Park Hyo Shin – Wild Flower

Kalau bisa dimainkan sesuai urutan ^_^

================================

===================

================================

 

Closure

 

cxnks0xuuaajpqw

 

“Oppa..” Tiffany menyapa pria dihadapannya. Pria itu berhenti memainkan smartphone-nya. Ia menyimpan salah satu alat elektroniknya itu ke tasnya.

“Hai Fany-ah. Bagaimana kabarmu ?”Tiffany tersenyum kecil mendengar ucapan itu.

Sudah cukup lama sejak Taeyeon kembali bertanya seperti itu padanya. Biasanya jika mereka bertemu, pria bermarga Kim itu hanya akan tersenyum kecil lalu diam tak mengatakan apapun. Jika Tiffany bertemu dengan Taeyeon yang dibawa oleh Jessica untuk menemaninya, Taeyeon hanya akan duduk dan sibuk memainkan apapun yang ada di smartphone-nya. Itu sudah menjadi kebiasaan hingga Tiffany tahu kapan Taeyeon akan bosan memainkan perangkat elektroniknya dan meminta Jessica untuk segera mengakhiri pertemuannya dengan Tiffany.

Kali ini, setelah beberapa bulan berlalu sejak Tiffany menikah dengan Yuri, Taeyeon menghubunginya. Pria yang dalam hitungan hari akan menjadi suami sahabatnya itu mengajaknya untuk bertemu. Taeyeon bilang ada yang ingin dibicarakannya. Dan disinilah mereka sekarang, menikmati angin sore di sebuah kafe yang Tiffany ketahui sebagai tempat Taeyeon terkadang menghabiskan sorenya di akhir pekan.

“Kau ingin aku menjawabmu secara jujur?” dengan tatapan matanya, Tiffany tahu apa yang Taeyeon inginkan sebelum calon suami sahabatnya itu berbicara.

“Tentu.” Jawab Taeyeon terlihat santai.

“Kata baik itu.. masih aku usahakan. Hati ini masih sebelumnya sembuh dari luka yang kau torehkan. Tapi.. aku tidak akan menyimpannya sebagai dendam. Karena aku tahu.. apapun yang kau perbuat padaku kemarin, itu pasti memiliki alasan yang jelas hingga Tuhan mengizinkannya. Walaupun kau tidak pernah mencoba untuk menjelaskannya padaku.” Nada bicara Tiffany masih biasa tapi terdengar kegetiran di dalamnya. Taeyeon yang mendengar hal itu hanya menutupkan kedua matanya sebentar sebelum kembali menatap wajah Tiffany dengan rasa penyesalan dalam senyumnya.

“Aku senang kau semakin bijak dalam menghadapi semuanya. Aku bisa melihat bahwa Yuri sudah memberikan pengaruh yang positif padamu. Aku merasa lega..” wajah penuh kesedihan itu bisa Taeyeon lihat dari Tiffany.

“Kenapa kau berkata seperti itu Oppa? Apa dulu aku membebani hatimu? Apa semua yang kurasakan padamu adalah sebuah kesalahan?” pertanyaan itu terlalu menyakitkan bagi Taeyeon untuk menjawabnya. Ia terdiam sebentar, menarik nafasnya pelan sebelum mengeluarkannya secara perlahan. Ia mencoba untuk tersenyum sambil menutup kedua matanya, mencoba menghilangkan rasa sakit itu.

“Fany-ah.. kau harus tahu bahwa apa yg kurasakan padamu, itu tidak pernah sekalipun menjadi beban untukku. Yang kita rasakan bukanlah kesalahan. Kita hanya sedang tersesat dan terbawa oleh perasaan kita masing-masing. Kau yang membutuhkan Yuri sedangkan aku yang sangat merindukan Jinhee sehingga hal tersebut memicu apa yang kita rasakan kemarin.” Setenang mungkin Taeyeon mencoba menyuarakan apa yang ada di hatinya.

“Kemarin?” mata itu Tiffany picingkan. Ia menatap Taeyeon dengan wajah tak percayanya mendengar pria dihadapannya berkata seperti tadi.

“Memang kenapa Fany-ah?” ada kebingungan di wajah Taeyeon dan Tiffanya hanya tersenyum kesal melihatnya.

“Jadi.. kau sudah tak merasakan apapun padaku? Kemarin adalah kata lampau yang tidak akan hadir pada hari ini Oppa. Apa kau sudah benar-benar melupakanku?” Tiffany tak bisa menyembunyikan apapun yang ia rasakan setelah mendengar ucapan Taeyeon yang begitu menyakitkan baginya.

“Aku tidak pernah melupakanmu.” Taeyeon tersenyum begitu lembut pada wanita dihadapannya yang terlihat tersakiti dengan ucapannya tadi.

Bagi Taeyeon, tersenyum adalah sebuah kewajiban jika ia sedang berada dengan Tiffany. Karena semua tentang Tiffany selalu membuat Taeyeon tersenyum, baik itu dari penampilan fisiknya, tawanya, senyumnya, ekspresi wajahnya, keindahan yang ia bawa ketika menggunakan busana yang mendefinisikan kecantikannya, caranya berbicara, tatapan matanya yang menyejukkan hatinya, dan semua tentang wanita yang kini sudah menjadi istri sahabatnya.

“Lalu.. apa maksud kata-katamu tadi?” tanya Tiffany bingung dengan apa yang Taeyeon lakukan sekarang. Yang Taeyeon lakukan hanya tersenyum, bukan menjawab pertanyaannya dan itu membuat Tiffany sedikit kesal.

“Oppa.. mengapa kau tersenyum seperti itu? Aku tidak sedang main-main dengan ucapanku. Jadi tolong jawab pertanyaanku tadi!” tawa itu hadir tak kala Taeyeon mendengar istri sahabatnya itu mengomel padanya.

‘Yul benar-benar beruntung memilikimu sebagai istrinya.’ Ucap Taeyeon dalam hatinya masih menatap Tiffany dalam tawa kecilnya sementara wanita dihadapannya itu masih terlihat kesal padanya.

“Aku juga sedang tidak main-main dengan apa yang kulakukan.” tantang Taeyeon mencoba mencairkan ketegangan yang hadir diantara mereka.

Bagi Taeyeon, saat dia ingin mengatakan sesuatu, ia tak mau dalam keadaan emosi. Karena jika emosi sudah menguasai, maka rasionalitas akan pergi dan hal apapun akan menjadi kacau pada akhirnya. Sehingga melihat ketegangan yang tadi terjadi, ia merasa perlu untuk meredamnya dengan cara yang tepat. Tentu ia tahu cara apa yang paling tepat untuk mengalihkan perhatian Tiffany yang terkadang memang mudah terpancing emosinya.

“Apa maksudmu?” tawa yang mengecil tadi kini terdengar cukup keras dan itu membuat Tiffany bingung melihat pria dihadapannya itu yang menikmati sekali tawanya. Dan kini entah mengapa tawa itu juga keluar dari bibir Tiffany yang merasa bahagia bisa melihat Taeyeon tertawa seperti itu lagi setelah sekian lama.

“Aku sedang menikmati ciptaan Tuhan yang ada dihadapanku. Dan aku tidak sedang main-main dalam menikmatinya. Aku serius. Bisa menatapmu seperti ini dengan semua rasa yang selama ini bermain di hatiku, aku harus bersyukur pada Tuhan. Kau.. adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.” Wajah tampan itu terlihat begitu manis dan Tiffany tidak bisa menahan dirinya untuk tidak luluh dalam pesona pria dihadapannya itu.

“Oppa..” panggil Tiffany dalam protesnya.

“Aku tidak sedang merayumu. Aku sedang mencoba jujur padamu, pada diriku.” Wajah tampan itu terlihat semakin tampan dengan keseriusan yang tergambar dengan sempurna. Siapapun yang melihat Taeyeon saat ini bisa terpesona hanya dalam hitungan detik dan hati mereka telah sepenuhnya menjadi milik pria bermarga Kim itu.

“Oppa.. jika kau tidak pernah melupakanku.. mengapa kau selalu menghindariku? Setelah semua yang terjadi pada kita, mengapa kau memperlakukanku seperti orang asing? Yang paling penting.. mengapa kau memberikanku pada Yuri Oppa di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kita? Kau tahu.. hingga hari ini, semua itu terasa masih menyakitkan jika aku secara tidak sengaja mengingatnya.” Wajah Taeyeon berubah menjadi sendu mendengar hal itu. Ia tersenyum kecil  sebelum mengambil kedua tangan Tiffany dalam genggamannya. Tiffany yang terkejut tak bisa menolak itu. Lagipula di hatinya yang terdalam, Tiffany masih menginginkan Taeyeon untuk memperlakukannya seperti dulu, penuh dengan cinta dan kasih sayang yang membuatnya lebih hidup.

“Fany-ah.. apa kau.. masih mempercayaiku?” Tiffany terdiam cukup lama sebelum menganggukan kepalanya pelan. Taeyeon tersenyum melihat jawaban wanita yang akan menjadi sebuah cerita baginya.

“Terimakasih karena kau masih mempercayaiku meskipun kepercayaan itu tak selamanya bisa aku pegang.” Senyum itu berkurang setelah Taeyeon menyadari kekurangan dalam dirinya itu.

“Alasanku mengundangmu kesini karena aku ingin menjelaskan semuanya. Mengapa aku membawamu pergi untuk menikahi Yuri dan membatalkan pernikahan kita, mengapa aku menghindarimu, mengapa aku memperlakukanmu seperti orang asing, mengapa aku memilih untuk melamar Jessica dan menikahinya. Aku akan menjelaskannya dengan jujur. Maka dari itu aku bertanya padamu tadi apa kau mempercayaiku atau tidak. Karena akan sulit bagiku untuk menjelaskannya jika kau tidak mempercayaiku. Maka dari itu… aku akan mulai menceritakannya. Aku harap kau bisa mendengarkan semuanya hingga selesai. Sesudah itu baru kau bisa menanyakan lagi apapun yang mungkin mengganggu pikiran atau hatimu.”

“Baiklah Oppa. Aku akan mengikuti peraturanmu.”

“Terimakasih.”

“Heumh.”

“Sebenarnya ayah Yuri meninggal bukan karena terkena serangan jantung. Kwon Bang Won meninggal karena aku yang membunuhnya. Pria brengsek itulah yang telah menyebabkan Jinhee meninggal. Ia telah memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Jinhee dengan meracuninya. Aku mengetahuinya setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut di New York, dibantu oleh beberapa sahabatku disana.” Dengan hati yang ikhlas dan pasrah, Taeyeon mulai menceritakan semua hal yang dalam beberapa bulan ini menjadi beban yang begitu berat baginya hingga ia tak mampu untuk berbicara pada Tiffany setelah ia melakukan hal begitu buruk.

“Oppa..” Tiffany menggelengkan kepalanya pelan dalam keterkejutannya itu. Apa yang telah didengarnya tadi, Tiffany seperti tidak ingin mempercayainya.

“Hatiku hancur saat mengetahui bahwa pria yang sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri tega membunuh wanita yang begitu aku cintai demi ambisinya. Sejak mengetahui hal itu, hatiku seakan mengeras, kebencian dan rasa dendam itu mulai muncul. Tuhan seperti mendukung dendamku itu dengan memperkenalkan aku pada Akio Nozohara, anak satu-satunya yang dimiliki oleh pemimpin Nozo Group, yang waktu itu hampir mati dibunuh oleh musuh-musuh ayahnya, Takeshi Nozohara. Aku menyelamatkan Akio yang sedang mengalami percobaan pembunuhan yang disetting oleh Blankspace Group, sebuah perusahaan Holding dari Rusia yang membantu Kwon Group dalam melakukan ekspansinya keluar Korea Selatan.”  Wajah getir penuh dengan luka di hatinya itu membuat Tiffany tak kuasa untuk melihatnya. Ia sedikit mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Taeyeon yang tidak pernah memutuskan pandangannya.

“Akio adalah pewaris tahta Nozo Group, karena para sesepuh Nozo Group telah memilihnya. Begitu berharganya Akio bagi Takeshi dan Nozo Group sehingga mereka begitu berterimakasih padaku. Takeshi akan memberikan apapun yang kuinginkan sebagai ucapan terimakasihnya dan hadiah bagiku yang telah menyelamatkan putra sekaligus suksesornya. Mendengar itu akalku segera bermain. Aku meminta padanya untuk membantuku membunuh Kwon Bang Won. Awalnya Takeshi ragu, tapi setelah mengetahui bahwa ia bisa memperoleh 25% saham Kwon Group jika mengikuti rencanaku untuk membunuh Bang Won, dengan segera ia setuju. Dan.. itulah awal kekacauan hubunganmu dengan Yuri.” Mendengar itu Tiffany segera menolehkan kepalanya pada Taeyeon yang tersenyum kecil dan begitu pahit padanya.

“Maksudmu.. kau..” Tiffany seperti kehabisan kata-kata untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya.

“Ya.. rencanaku adalah dengan menggunakanmu dan Yuri sebagai pemancing agar Bang Won mau masuk kedalam perangkapku. Aku menggunakan Nozo Group yang akan mengancam keselamatanmu jika Yuri tidak menyetujui kerjasama yang diinginkan mereka. Aku tahu bahwa kau begitu berarti bagi Yuri meskipun sahabatku itu jarang menceritakan tentangmu padaku tapi aku mempunyai sumber terpercaya untuk menguatkan semua asumsiku tentangmu bagi Yuri. Langkah selanjutnya dalam rencanaku adalah dengan menjadi bodyguard-mu.” Tiffany terdiam mendengar itu semua dan Taeyeon bisa menebak bagaimana kacau balaunya perasaan wanita yang duduk dihadapannya itu.

“Aku yakin Yuri akan memilihku karena ia tahu kemampuanku. Selain itu ia tahu aku akan menjagamu dengan baik karena berkaca dari pengalamanku yang pernah kehilangan Jinhee. Tuhan juga seperti mendukungku dengan menjadikanku bodyguard-mu. Hal lain yang kulakukan setelah itu adalah memonitor pergerakan Yuri dan timnya dengan berpura-pura menjadi mata-mata di Nozo Group sendiri. Dengan itu aku jadi tahu apa yang akan Yuri lakukan selanjutnya. Setelah itu.. semua rencanaku berjalan dengan lancar hingga akhirnya hal yang tak pernah kuperhitungkan terjadi.” Rasa bersalah itu semakin menumpuk saat Taeyeon melihat ekspresi wajah Tiffany yang terlihat begitu terkhianati dengan semua yang telah diucapkannya.

“Aku tidak tahu bahwa dengan menjadi bodyguard-mu, itu adalah boomerang bagiku sendiri. Aku tidak pernah menduga bahwa kau bisa membuat hati ini ingin kembali mencintai seseorang seperti aku dulu mencintai Jinhee. Aku tidak memperkirakan bahwa kau mampu membuatku benar-benar kembali merasa hidup karena setelah kepergian Jinhee, aku merasa kebahagiaan dan kehidupanku telah dirampas.  Aku rasa Tuhan ingin menyadarkan semua kegilaanku ini lewat kau, Fany-ah. Karena sejak aku menyadari bahwa aku mencintaimu dan kaupun memiliki rasa yang sama untukku, fokusku untuk membalaskan dendam itu sedikit berkurang. Saat aku melihatmu terbangun di pagi hari dalam pelukanku, aku merasa ingin melupakan semua yang telah kurencanakan dan menghabiskan sisa hidupku denganmu.” Taeyeon menutup kedua matanya sejenak, tertawa dalam tangisnya tak bersuaranya, hanya air mata yang mulai turun setelah ia mengingat lagi momen-momen indahnya bersama Tiffany.

“Oppa..” suara itu terdengar begitu kecil dan lemah. Suara itu seperti meminta Taeyeon untuk menghentikan kenyataan pahit yang sedang ia coba untuk ceritakan saat ini.

Tubuh Tiffany terlihat bergetar semuanya. Mata itu tak lagi menatap Taeyeon. Tiffany menutup kedua matanya dalam tangisannya yang membuat Taeyeon berhenti sebentar dalam melanjutkan ceritanya yang menyakitkan itu.

Air mata Taeyeon masih mengalir melihat wanita dihadapannya itu terlihat terkejut dan tak bisa mempercayai apa yang telah diceritakannya. Ia tersenyum dalam tangisannya. Sesakit apapun Taeyeon harus tetap menceritakannya. Sekarang atau tidak sama sekali.

“Terkadang aku merasa bingung pada Tuhan. Dia membantuku untuk membalaskan dendam ini dengan mempertemukanku dengan Nozo Group lalu seperti mencoba menyadarkanku dengan mempertemukanmu denganku yang pada akhirnya membuatku jatuh cinta. Saat aku ingin menghentikan semuanya, Tuhan seperti kembali mendukungku untuk melanjutkan rencana ini karena Akio telah mengeksekusi tugasnya lebih dulu dari perkiraanku. Dia sudah menculikmu sebelum aku sempat mengutarakan niatku untuk menghentikan semuanya.”

“Aku.. diculik?” Taeyeon rasa keterkejutan itu akan selalu menemani Tiffany selama ia menceritakan semua ini.

“Ya Fany-ah.. kau telah diculik beberapa bulan lalu. Aku memutuskan untuk menghentikan balas dendamku dan membicarakan semuanya pada Akio. Akio tidak terima, ia mengancam akan membunuhmu jika aku tidak melanjutkan rencana kami. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali melanjutkan rencana itu. Aku membawa Yuri untuk menyelamatkanmu dan Yuri berhasil masuk dalam perangkap kami. Akio menyiksanya dengan hebat sehingga suamimu itu hampir mati. Hal itu sengaja dilakukan agar Bang Won mau datang ke tempat kau dan Yuri disekap untuk menebus kalian. Taktik kami berhasil sehingga Bang Won mau datang dan menandatangani surat perjanjian pengalihan 25% saham miliknya kepada Nozo Group. Setelah itu.. aku membunuhnya.”

“Kau ingat hari dimana kau mencoba gaun pengantinmu bersama Yuri, Jessica dan aku? Malam harinya aku mengutarakan perasaanku tentangmu pada Yuri. Ia terkejut tapi ia sudah bisa menebaknya. Aku sempat beradu argument dengannya tapi aku tidak bisa berkata-kata lagi saat Yuri memberitahuku bahwa ia tahu semuanya. Ia tahu bahwa aku yang sudah menjebaknya untuk datang menyelamatkanmu dan membunuh ayahnya.”

“Aku merasa sangat menyesal karena sudah mempermainkan Yuri dan tentu saja kau, Fany-ah. Rasa sesal itu bercampur dengan amarah serta kekesalan saat Yuri akhirnya jujur padaku bahwa ia sebenarnya mengetahui bahwa ayahnya adalah dalang dibalik kematian Jinhee. Ia mengetahui semua itu beberapa jam setelah Jinhee terbunuh. Alasan Yuri untuk tidak memberitahuku adalah karena ia tidak mau ayahnya terbunuh olehku yang memang pada akhirnya.. akulah yang membunuh ayahnya.”

“Sejak mengetahui semua itu, kami mencoba untuk memaafkan kesalahan kami. Esoknya kami sudah berbaikan. Yuri sudah menerima kematian ayahnya begitupun aku yang memaafkannya karena sudah menyembunyikan kebenaran dari kematian Jinhee. Pagi itu.. aku mengutarakan niatku untuk mempersuntingmu.”

“Dengan vocal Yuri menolak hal itu. Kami beradu argument lagi dan pada akhirnya aku sadar bahwa apa yang dikatakannya benar, aku adalah sumber dari hubungan kita yang rumit dan menyakitkan ini. Aku tidak pantas menerima semua cinta yang kau beri padaku. Aku tidak seharusnya menyakiti sahabatku sendiri dan aku.. aku tidak seharusnya menyakiti Jessica yang sudah sejak lama mencintaiku.”

“Kenapa Yuri Oppa tidak menceritakan ini semua padaku?” ada amarah yang terdengar dari nada bicara Tiffany dan Taeyeon tahu kenapa.

“Karena dia tidak ingin melukaimu. Yuri tahu bahwa hatimu akan hancur jika kau mengetahui semuanya. Dia ingin melindungimu dengan tidak menceritakan ini semua. Dia juga ingin kau tidak membenciku dengan menutupi semua kejahatan yang telah kuperbuat pada kalian.” Taeyeon merasa ia perlu menjelaskan hal itu karena ia tidak ingin ada kesalahpahaman yang bisa memperkeruh masalah mereka.

“Lalu.. mengapa kau menceritakan ini semua padaku?!” amarah itu kini seperti ditujukan padanya dan Taeyeon mencoba setenang mungkin untuk menghadapinya.

“Karena aku ingin kau terlepas dari semua rasa penasaran yang menganggumu. Aku ingin kau tahu mengapa aku memilih untuk menyerahkanmu pada Yuri. Aku ingin kau tahu mengapa aku memilih untuk melupakanmu. Karena aku.. aku ingin kau bisa melanjutkan hidupmu bersama Yuri dengan perasaan yang bebas, tidak terjebak dalam kenangan tentang kita yang pada akhirnya akan menyakitimu. Aku ingin kau hidup bahagia, Fany-ah.” Taeyeon memberikan senyumannya setelah ia selesai menjelaskan alasannya. Tiffany hanya terdiam menatap mata Taeyeon yang terlihat begitu jujur padanya.

“Dan kau pikir.. dengan melakukan ini semua.. aku akan bahagia? Apa kau pikir dengan meninggalkanku bersama Yuri Oppa akan membuatku lebih baik? Kau.. sungguh egois Oppa. Kau memikirkan semuanya sendiri tanpa bertanya lebih dulu padaku!” Senyum itu perlahan memudar dan Taeyeon tahu ia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya menjadi kacau dan berjalan tidak seperti yang ia harapkan.

“Lalu.. apa kau akan bahagia jika kau hidup denganku tapi mengetahui bahwa orang-orang di sekelilingmu menderita karena keegoisan kita?” mendengar itu Tiffany tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

“Apa maksudmu?” Tiffany bertanya dengan wajah bingungnya.

“Pernikahanmu dengan Yuri sebenarnya adalah salah satu syarat dari perjanjian yang ayahmu lakukan dengan Bang Won. Perusahaan ayahmu bisa sesukses sekarang, itu karena bantuan yang Kwon Group berikan padanya. Kau tidak sadar bahwa selama ini Kwon Group secara perlahan sudah memegang kuasa pada perusahaan ayahmu?”

“Tidak mungkin… jadi.. Yuri Oppa selama ini..”

“Jangan menyalahkan Yuri. Sampai saat ini, dia bahkan belum mengetahui bahwa ternyata pertemuan kalian dulu saat kau magang di kantornya hingga akhirnya kalian jatuh cinta, itu semua sudah diatur oleh Bang won. Ayahmu tidak mengetahui apa-apa. Justru selama ini dia sudah terjebak dalam perangkap Bang Won sehingga mau tidak mau dia harus menuruti apapun yang Bang Won katakan padanya.”

“Oppa.. darimana kau mengetahui ini semua?”

“Saat aku menyelidiki hubunganmu dengan Yuri. Kwon Bang Won.. pria gila itu, dia melakukan segala hal untuk mendapatkan kekuasaan. Bahkan dia tega untuk menipu dan membohongi anaknya sendiri.”

“Bagaimana kau bisa yakin bahwa Yuri Oppa tidak terlibat dan mengetahui ini semua?”

“Fany-ah.. aku sudah mengenal Yuri sejak kami kanak-kanak. Dia.. bukan tipe pria yang akan menukarkan  jiwanya pada setan untuk memperoleh kekuasaan seperti ayahnya. Dia adalah pria yang akan melakukan apapun untuk orang-orang yang dicintainya. Bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya, maka itu akan ia lakukan.”

“Penyelidikan yang kulakukan bersama timku, kami tidak melakukannya dengan asal. Anggota tim kami adalah para professional yang ahli di bidangnya. Nozo Group tidak main-main dalam mendanai penyelidikan kami. Lagipula ini tentang hidup dan mati. Tentunya tentang masa depanku juga. Jadi kau jangan meragukan kemampuanku untuk melakukan penyelidikan apapun.”

“Jadi.. hanya karena itu kau memilih untuk melepasku pada Yuri Oppa dan membatalkan pernikahan kita? Mendengar pertanyaan itu seakan melukai semua yang telah Taeyeon lakukan saat ini. Ia tak bisa menyembunyikan tatapan menyakitkannya itu pada Tiffany yang terkejut melihatnya.

“Hanya karena itu katamu???” Taeyeon tertawa kecil mencoba menutupi rasa kesalnya.

“Jika kau mencintaiku seharusnya kau memperjuangkanku Oppa!” Tiffany tak mau kalah. Ia tahu Taeyeon merasa tersakiti oleh kata-katanya tadi. Tapi menurutnya, apa yang telah Taeyeon lakukan padanya lebih menyakitkan dari itu.

“Kau benar.  Tapi… jika kasusnya seperti ini, apa yang akan kau lakukan?” Taeyeon sedikit terpancing.

“Apa kau masih bisa mencintai pria yang telah menipumu dan memanfaatkanmu untuk membalaskan dendamnya? Apa kau mau tetap egois mengejar cintamu tapi orang-orang di sekelilingmu terutama keluargamu menderita karena keegoisan yang berkedok cinta itu? Apa kau mau mengkhianati seorang pria yang selama ini sudah begitu tulus mencintaimu dan melakukan banyak pengorbanan untukmu? Apa kau mau menyakiti sahabat terbaikmu dengan menikahi pria yang selama ini begitu dicintainya? Apa cinta benar-benar bisa membutakanmu hingga kau mau menutup akal serta hati nuranimu dari semua itu? Apa kau benar-benar ingin membuat dirimu sejahat itu dengan melangsungkan pernikahan kita? Coba kau tanyakan pada dirimu, apa kau seperti itu?” kata-kata itu bagai ribuan pedang yang kini menusuk jantung Tiffany.

“A..a..aku..” Tiffany kehabisan kata-kata. Rasanya ia tak sanggup untuk berkata apapun lagi. Dadanya terasa panas dan sesak sekali. Dengan cepat ia meneguk air putih dihadapannya. Ia mencoba mengatur nafasnya agar perasaannya menjadi lebih tenang meskipun ia tahu usaha itu mungkin tidak akan berhasil setelah mendengar sebuah kebenaran yang terlalu sakit untuk dicerna olehnya.

Taeyeon hanya memandangi Tiffany dalam diamnya. Ia mengerti betul dengan apa yang Tiffany rasakan. Ia hanya berharap Tiffany bisa mulai untuk menerima kenyataan yang sebenarnya meskipun itu menyakitkan. Taeyeon percaya, dengan menerima semua luka yang ada di hati kita, perlahan kita bisa melepaskan semua hal yang memberatkan hati itu. Dan kebahagiaan itu secara perlahan akan mencari jalannya untuk masuk ke hidup kita.

“Aku tahu kau bukan wanita yang seperti itu. Kau.. adalah wanita yang begitu baik Fany-ah. Hati dan nuranimu tidak akan mengizinkanmu untuk berbuat hal sejahat  itu. Aku tahu cinta bisa egois. Aku tahu kau hanya manusia biasa yang berbuat khilaf tapi aku percaya bahwa kau cukup bijak untuk memilih mana yang terbaik untuk semua ini. Dan pilihan itu adalah dengan melupakanku.”

“Dan mencintai Yuri Oppa?” Setelah cukup lama, Tiffany kini terlihat sudah mulai tenang.

“Ya.” Tegas Taeyeon dengan senyum yang meyakinkan.

“Mengapa kau begitu ingin aku bersamanya? Kau bukan Tuhan Oppa, kau tidak tahu mana yang akan menjadi terbaik untukku.” Taeyeon tak memutuskan tatapannya pada Tiffany setelah mendengar pertanyaan itu. Ia malah kembali mengulaskan senyum yang begitu manis dan lembut yang akan meluluhkan hati siapapun yang melihatnya.

“Jika kau melihat dengan kedua bola matamu sendiri bagaimana Yuri berjuang untuk menyelamatkanmu saat Akio menculikmu, maka kau akan tahu mengapa.” Tiffany terdiam mendengar jawaban Taeyeon. Di wajahnya masih tergambar keraguan yang begitu jelas. Melihat itu Taeyeon segera mengeluarkan laptopnya. Ia menghidupkan laptop itu dan mulai menunjukan beberapa video pada Tiffany. Video itu berisi semua aksi penyelamatan yang dilakukan Yuri, Taeyeon dan tim SJJD. Ada juga video saat Yuri mengalami penyiksaan. Dalam video itu Yuri selalu meminta Akio untuk melepaskan Tiffany.

“Masih tidak percaya?” Taeyeon tersenyum kecil pada wanita yang terlihat kembali meneteskan air matanya setelah melihat video-video yang sudah Taeyeon berikan padanya.

“Jika pria itu bukan Yuri, maka aku tidak mungkin akan melepaskanmu semudah ini. Dia.. adalah yang terbaik dari yang terbaik. Aku percaya dia bisa membuatmu bahagia. Dia bisa membuatmu kembali mencintainya seperti dulu dengan semua kesabaran, kebaikan, kedewasaan, kebijaksanaan dan hal lainnya yang aku yakin hati kecilmu tahu mengapa dulu kau bisa begitu mencintainya sebelum aku datang dan mengacaukan hubungan kalian.”

Taeyeon yakin Tiffany mengerti dengan maksud ucapannya tadi. Ia bisa melihat ekspresi wajah Tiffany yang berubah menjadi sebuah kesenduan saat mengingat Yuri. Ia yakin Tiffany bisa melupakannya dan kembali fokus menata masa depannya bersama Yuri. Tidak sulit untuk mencintai pria sesempurna Yuri. Taeyeon tahu bahkan jika Tiffany mengatakan bahwa ia begitu mencintai Taeyeon, jauh di dalam hatinya, cinta itu masih ada begitu besar untuk Yuri. Dan Taeyeon harus berbesar hati untuk menerima kenyataan itu.

“Hingga detik ini, aku harus jujur bahwa aku masih sangat mencintaimu. Setiap kali aku melihatmu, tubuh ini ingin memelukmu, mendekapnya begitu hangat seperti dulu. Aku ingin mengobrol denganmu, tertawa lepas, menciummu, dan semua hal lain yang dulu sering kita lakukan. Jadi.. tolong jangan ragukan cinta ini. Tapi dengan semua hal yang telah kusebutkan tadi, bagiku, sekarang.. cara terbaik untuk mencintaimu adalah dengan melupakanmu.” Tak ada keraguan atau kepura-puraan yang Tiffany lihat dari wajah Taeyeon. Pria yang duduk dihadapannya itu terlihat serius dan tulus dengan apapun yang telah diucapkannya tadi.

“Kau harus tahu.. aku sudah cukup bahagia karena melihatmu dalam bimbingan pria yang bisa kupercaya. Aku percaya Yuri akan membuat dirimu menjadi lebih baik. Dia akan mengantarkanmu menuju kebahagiaan yang sebenarnya.”

Mendengar itu, entah kenapa hati Tiffany menjadi malu. Ia merasa sudah begitu egois dan jahat dengan mempertahankan apapun yang dirasakannya pada Taeyeon. Tiffany merasa bersalah karena selama ini sudah menyalah artikan semua niat baik Taeyeon dan orang-orang di sekelilingnya, termasuk Yuri yang selama ini selalu melindunginya tak peduli sesakit apapun luka yang akan diterimanya dengan memilih untuk tetap mencintainya.

“Itu juga yang ingin kulakukan pada Jessica. Aku ingin memberinya kebahagiaan yang selama ini belum bisa kuberikan padanya karena kebodohanku. Aku sudah dibutakan oleh cinta itu sendiri sehingga aku tidak menyadari bahwa selama ini ada seorang wanita yang begitu setia dan tulus  mencintaiku.”

“Jessica pernah bercerita padamu tentang seorang pria yang sudah sejak lama ia cintai?” Tiffany terlihat berpikir dan teringat sesuatu.

“Tidak mungkin. Maksudmu Taengoo itu adalah dirimu?”

“Iya… itu aku. Taengoo adalah nama panggilan yang Jessica gunakan padaku saat kami masih kanak-kanak.”

“Lalu bagaimana Yuri Oppa tidak mengetahui..”

“Yuri dan Jessica tidak saling mengenal meskipun aku bersahabat dengan mereka. Aku bisa dekat dengan Jessica karena kedua orangtuanya yang selalu membawanya ke rumahku dalam kunjungan mereka. Ayah kami bersahabat baik sehingga keluarga kami sering menghabiskan akhir pekan bersama. Sedangkan kedekatanku dengan Yuri terbangun karena  aku selalu bermain ke rumahnya hingga akhirnya aku dekat dengan keluarganya. Jadi kemungkinan pertemuan Yuri dengan Jessica sangat kecil. Maka dari itulah Yuri tidak tahu bahwa sebenarnya aku sudah berpacaran dengan Jessica sejak aku menjadi bodyguard-mu. Alasan awal untuk menjalin hubungan dengannya adalah karena aku merasa kasihan dengannya dan lagi.. aku ingin mengalihkan semua rasa aneh yang kurasakan padamu. Aku sengaja memintanya untuk merahasiakan hubungan kami sehingga kau tidak tahu tentang ini semua.”

“Jadi kau..”

“Ya.. aku telah membohongimu lagi Fany-ah.. maafkan aku.”

“Kenapa Oppa? Kenapa kau melakukan itu?”

“Karena aku tidak ingin jatuh cinta padamu. Aku tidak ingin melanggar janjiku pada Yuri. Tapi pada akhirnya aku mencintaimu juga. Dan aku.. melukai banyak orang dengan cinta itu.”

“Oppa..”

“Fany-ah.. kau sudah bersahabat cukup lama kan dengan Jessica. Maka kau pasti tahu betapa luar biasanya dia bisa mempertahankan cintanya untukku meskipun dia tahu bahwa aku begitu mencintai Jinhee.”

“Selama ini dia sudah berbesar hati untuk melihatku bersama Jinhee. Dia masih menyayangiku meskipun aku secara tidak sadar selalu menyakitinya. Aku menolak untuk berkomunikasi dengannya setelah kematian Jinhee. Padahal dia berniat baik untuk membantuku menyembuhkan rasa sakitku karena kehilangan Jinhee. Dia juga masih mau mencintaiku meskipun aku bermesraan denganmu selama kita menjadi kekasih untuk melindungimu dari Nozo Group. Dia masih menerimaku setelah aku mengakui semua kejahatanku pada kalian. Dia masih mau mencintaiku hingga akhir hayatnya dengan menerima lamaranku padahal dia tahu bahwa hati ini masih berdetak begitu keras untukmu.”

“Jessi..”

“Jika kau ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap memilih dirimu atau Jessica yang selama ini sudah begitu mencintaimu?”

“Sebelum aku memutuskan untuk menyerahkanmu pada Yuri dan mulai membuka hatiku untuk Jessica, aku sudah memikirkan semuanya. Dan aku pikir.. ini adalah yang terbaik untuk kita.”

“Oppa.. apa kau benar-benar merasa bahagia dengan semua ini?”

“Aku mencintaimu tapi aku harus meninggalkanmu, ini sejujurnya sangat sulit bagiku untuk mempraktekannya. Kau harus tahu.. saat aku menyadari bahwa aku mencintaimu, aku tahu bahwa itu adalah hal yang akan benar-benar membahagiakanku. Aku mungkin menyesal meninggalkanmu,  tapi itu karena aku mencintaimu.”

“Aku hanya memberikanmu bekas luka, tapi aku percaya kau akan memahami hatiku.”

“Aku tahu ini semua begitu menyakitkan, namun.. aku yakin kita berdua sanggup untuk melaluinya. Kau pasti bisa mencintai Yuri seperti dulu. Saat bersamaku, aku tahu kau tidak sepenuhnya melupakan Yuri. Namanya masih bergetar begitu keras di jantungmu. Dan Jessica.. aku juga yakin dia akan bisa membuatku mencintainya, sama seperti ketika aku mencintaimu dan Jinhee.”

“Oppa.. bolehkah aku berkata sesuatu?”

“Tentu.”

“Sejujurnya aku kaget dengan semua yang telah kau ceritakan tadi. Aku tidak tahu harus berkata apa. Rasanya hati ini begitu kacau. Otakku seperti akan meledak menerima begitu banyak informasi yang begitu menyesakkan hati. Tapi seburuk dan semenyakitkan apapun sebuah kebenaran, itu lebih baik disampaikan. Aku berterimakasih karena kau mau membawa dirimu untuk menceritakan kenyataan pahit ini padaku meskipun ada kemungkinan bahwa aku akan sangat membencimu dan pandanganku akan negative padamu setelah aku mendengar semua yang kau ceritakan tadi.”

“Awalnya aku marah dan benci karena aku merasa kau terlalu egois dan telah mempermainkan aku. Tapi setelah kau mengemukakan semua alasanmu, aku mengerti bahwa bukan hanya aku yang tersakiti tapi kau juga dan yang lainnya. Aku sadar bahwa apapun yang kau lakukan pada dasarnya itu karena kau ingin melindungiku, karena kau mencintaiku. Jika itu adalah caramu untuk mencintaiku, maka.. aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku akan melupakanmu dan semua kenangan tentang kita. Aku akan memulai hidupku lagi bersama Yuri Oppa.” Untuk sesaat keheningan itu yang menemani Taeyeon dan Tiffany. Keduanya tersenyum dalam tangis mereka menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenarnya akan mereka raih dengan melakukan hal ini.

“Terimakasih Fany-ah karena kau mau mengerti.. terimakasih. Aku.. mencintaimu.” Taeyeon terlihat begitu lega dan jujur dengan semua kata-katanya. Semua beban yang menggunduk di hatinya seakan menghilang dengan sendirinya. Dan Taeyeon yakin, Tiffanypun akan merasakan hal yang sama dengannya.

“Dengan semua yang kau lakukan selama ini, aku yang seharusnya berterimakasih. Dan Oppa… aku juga mencintaimu.” Tatapan keduanya kini bersatu, terkunci dalam kebahagiaan baru yang telah berhasil mereka temukan. Perlahan, jarak diantara wajah mereka berkurang. Tiffany yang masih terdiam di kursinya mulai menutupkan kedua matanya ketika bibir Taeyeon mulai menyentuh miliknya. Ciuman itu terasa begitu manis dan menyedihkan dengan air mata yang membasahi wajah keduanya.

Ring.. Ring.. Ring..

“Angkatlah..” Ciuman itu Taeyeon yang mengakhirinya. Ia melepaskan pagutan di bibir Tiffany karena smartphone wanita dihadapannya itu berdering cukup lama selama mereka menumpahkan semua perasaan pada ciuman tersebut.

“Hallo Oppa..” Tiffany mengangkat panggilan itu dan mulai berbicara dengan pria yang menelponnya dan Taeyeon tahu itu pasti Yuri.  Taeyeon tersenyum bahagia dalam tangisnya melihat senyum di wajah Tiffany saat wanita itu berbicara dengan suaminya. Ya.. orang-orang mungkin benar saat mereka berkata bahwa kebahagiaan yang sebenarnya itu akan kita raih jika kita mampu untuk melepas ego dan hal lainnya yang memberatkan hati kita. Taeyeon bisa merasakan hal itu saat ini. Dan ia bersyukur karena Tuhan masih mengizinkannya untuk memperbaiki dirinya sehingga kedamaian itu secara perlahan mulai menghampirinya.

Ring.. Ring.. Ring..

Mendengar smartphone-nya berdering, Taeyeon segera mengambil alat yang sudah mejadi separuh dirinya itu dari tasnya. Senyum di wajah Taeyeon semakin berkembang saat ia melihat nama yang memanggilnya saat ini.

“Oppa.. kau sudah selesai? Meeting-ku sebentar lagi selesai. Kau jadi menjemputku?” dari speaker smartphone-nya itu Taeyeon bisa mendengar calon istrinya itu berbicara.

“Tentu. Aku juga sebentar lagi selesai. Saat aku sudah dekat dengan kantormu, aku akan mengabarimu.”

“Baiklah. Aku akan menunggumu. Aku mencintaimu Oppa.”

“Aku juga mencintaimu.”

“Jessi?” Tiffany

“Kau akan pergi sekarang?”

“Sepertinya iya Oppa. Yuri Oppa sudah ada di depan. Jadi aku harus pergi sekarang. Aku tidak ingin membuatnya lama menunggu. Kau.. tidak apa-apa aku tinggal?”

“Tidak apa-apa Fany-ah. Aku juga sebentar lagi akan pergi menjemput Jessica.”

“Baiklah. Terimakasih Oppa untuk semuanya. Aku pergi…” Tiffany terkejut saat Taeyeon membawanya dalam pelukan yang begitu erat. Perlahan senyumnya muncul ketika Taeyeon mengelus puncak kepalanya.

“Berhati-hatilah dijalan. Sampaikan salamku untuk Yuri.” Bisik Taeyeon yang membuat senyum Tiffany melebar. Taeyeon merasa senang saat wanita dalam pelukannya itu menganggukan kepalanya. Dengan itu Taeyeon lepas pelukannya. Ia memandangi wajah Tiffany yang tersenyum padanya. Saat tubuh Tiffany akan berbalik meninggalkannya, Taeyeon menahannya.

“Fany-ah.. datanglah ke pernikahanku nanti. Aku menunggumu.” Tiffany terlihat ragu untuk menganggukan kepalanya. Taeyeon terlihat sedikit khawatir menunggu jawaban wanita dihadapannya itu. Ia tahu mungkin itu akan berat bagi Tiffany tapi ia ingin sekali wanita yang akan menjadi pelajaran berharga dalam hidupnya itu datang menghadiri pernikahannya. Ia ingin Tiffany melihat kesungguhannya dalam membuktikan apa yang sudah ia ucapkan tadi. Ia ingin Tiffany menjadi saksi dimana kehidupan barunya akan dimulai. Sepentinglah itulah arti Tiffany bagi Taeyeon.

“Tentu Oppa. Aku akan datang bersama suamiku nanti.” Kesedihan itu jelas masih terlihat tapi Taeyeon yakin Tiffany bisa menghadapi semuanya saat ia melihat senyuman khas istri sahabatnya itu.

.

.

.

The And.

.

.

.

================================

===================

================================

Author Note:

Semoga apa yang sudah aku tulis tadi, bisa memuaskan rasa penasaran kalian yang mempertanyakan kenapa Taeyeon dan Tiffany bisa semudah itu belajar lagi untuk mencintai pasangan mereka masing-masing serta melupakan semua kisah mereka.

Di ending yang kemarin mungkin aku kurang menambahkan bagian ini sehingga ada sebagian pembaca yang menanyakan mengapa Taeyeon bisa sejahat itu melepas Tiffany pada Yuri atau kenapa Taeyeon bisa semudah itu mencintai Jessica padahal dia masih mencintai Tiffany juga.

Dari perspektif aku sebagai penulis, ada pergolakan batin saat aku menulis karakter Taeyeon di cerita ini. Aku ingin menggambarkan dia sebagai seorang pria yang kuat, memiliki kelebihan fisik dan mental yang baik tapi masih terjebak dalam masa lalu yang mungkin bisa menghancurkan dirinya sendiri. Jadi dari part awal cerita ini dibuat hingga akhirnya selesai kemarin, aku sengaja membuat Taeyeon terkesan sebagai pria yang sempurna, jahat, egois dan agak lemah. Itu semua perlu dilakukan untuk perkembangan karakter dari cerita ini supaya ga monoton dan bisa membawa pembaca untuk masuk kedalam cerita aku.

Untuk karakter Tiffany, heumh.. aku sengaja membuatnya terkesan labil dengan hatinya sendiri sehingga mungkin sebagian orang akan kesal atau sebal melihatnya sikapnya yang plin-plan dan egois karena ingin memiliki Yuri dan Taeyeon secara bersamaan, atau tega meninggalkan Yuri untuk kawin lari bersama Taeyeon. Tapi pada dasarnya, karakter Tiffany disini juga baik. Bisa dibilang ia adalah korban dari kejahatan si penulis yang membuatnya terjebak dalam cinta dua hati yang merumitkan. Tapi kalau ga gitu, ya gakan ada cerita ini sih, dan ceritanya tidak akan sejauh ini perkembangannya.

Untuk karakter Yuri dan Jessica, aku sengaja membuat mereka menjadi karakter yang berjiwa besar meskipun mereka memiliki beberapa kekurangan seperti mereka yang tidak mau menerima kenyataan bahwa pasangan mereka telah berpaling atau kegigihan mereka mempertahankan pasangan masing-masing meskipun pada prosesnya itu menyakiti pasangan mereka, dalam hal ini Taeyeon dan Tiffany.

Ada yang bilang bahwa Yuri tersakiti karena keegoisannya sendiri plus ketidakberaniannya terhadap kehidupan atau fakta yang ada. Aku setuju dengan pendapat di atas dan aku senang ada salah satu pembaca yang menyadari hal yang sebenarnya sengaja aku selipkan selama proses berjalannya cerita selama ini.

Oh ya.. dari cerita yang aku tulis di atas, sebagai pembaca, aku merasa cukup untuk mengetahui kenapa Taeyeon dan Tiffany memutuskan untuk melupakan perasaan apapun yang mereka miliki dan mulai menjalani kehidupan barunya dengan pasangan masing-masing. Euhm..  melupakan mungkin adalah kata yang salah untuk menggambarkan apa yang mereka lakukan. Mungkin ini lebih tentang bagaimana Taeyeon dan Tiffany mencoba menerima kenyataan dan mendewasakan diri mereka dalam proses yang menyakitkan ini (salahin author-nya :P). Terutama Taeyeon, dengan semua kejahatan yang udah dia lakukan pada Yuri, Tiffany dan Jessica, dia merasa dengan melakukan hal ini – melepas Tiffany dan mencoba benar-benar mencintai Jessica – itu adalah penebusan atas semua kesalahan yang sudah dia lakukan karena hatinya sempat dibutakan oleh cinta dan nafsu yang berkembang menjadi sebuah balas dendam yang pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Kalian tahu, di tengah-tengah cerita, aku sendiri yang nulis cerita ini sempat kesel dan sebel banget sama karakter Taeyeon yang aku bikin. Aku sempat males lanjutin cerita ini karena tiap baca lagi ceritanya untuk mendapatkan mood menulis, aku selalu berakhir morang-maring karena karakter Taeyeon yang menurut aku dulu jahat dan egois banget. Tapi….setelah aku selesai menulis part ending yang kemarin dan part ini, pandangan aku berubah.

Aku merasa kagum dengan kedewasaan yang Taeyeon bawa di part ini. Caranya yang rasional dan tenang dalam menceritakan semua kejelekannya pada wanita yang masih sangat dicintainya, itu keren buat aku. Emang sih ya kayanya mustahil deh ada cowo sekece Taeyeon di part ini tapi buat aku, gada yang mustahil di dunia ini. Tuhan menciptakan manusia dengan sifat yang berbeda-beda. Kemampuan mereka dalam menghadapi masalah dan menyelesaikan atau melaluinya menunjukan kualitas hidup mereka selama ini. Dan aku percaya… dari jutaan manusia di dunia ini, pasti ada 1 yang seperti itu. Dan aku berharap itu jodoh aku, kamu dan kalian semua (BAPER). Aminin ya!

Dengan melepaskan Tiffany, aku rasa Taeyeon sudah melakukan apa yang seharusnya seorang pria lakukan pada wanita yang dicintainya. Dia itu ga mikir singkat,  tapi dia berpikir jauh kedepan. Dia tahu mana yang terbaik bagi Tiffany meskipun Tiffany sendiri tidak sadar bahwa apa yang dilakukan Taeyeon, pada akhirnya itu untuk kebaikan dirinya sendiri. Itulah definisi cinta buat aku. Saat kita mencintai seseorang, tidak perduli sesakit apapun, jika itu bisa membawa kebahagiaan pada orang yang kita sayang, maka kita pasti akan melakukan hal sebodoh atau semenyakitkan apapun itu. Dan itu bisa aku lihat dari orang-orang di sekeliling aku, terutama ibu. Ya… itulah cinta yang mamah berikan pada aku selama ini. Dan aku tidak bisa berkata banyak selain berterimakasih atas semua pengorbanannya. Hahaa jadi terharu dan emosional gini ya aku.

Mungkin pepatah dari barat ini cocok kali ya untuk menggambarkan pesan yang ingin aku bawa dari part ini.

You’ll never be brave (Kamu tidak akan pernah berani)

if you don’t get hurt. (jika kamu tidak terluka)

You’ll never learn (Kamu tidak akan pernah belajar)

if you don’t make mistakes. (Jika kamu tidak melakukan kesalahan)

Aku gak pernah menyangka bahwa cerita yang tadinya hanya akan menjadi oneshoot, kini bisa berubah sepanjang ini. Aku juga ga pernah menyangka bahwa cerita ini, bisa membuat aku begitu emosional saat menulisnya. Heumh.. mungkin bagi kalian yang membaca, cerita ini terkesan standard dan pasaran, Tapi untuk aku pribadi, ini adalah suatu kepuasan, dimana aku bisa benar-benar menuangkan idealisme aku seutuhnya. Dan banyak hal juga yang aku pelajari selama menulis cerita ini.

Untuk Taeny version dengan happy ending-nya, aku belum bisa mengupdate-nya dalam waktu dekat. Kemarin ada pembaca yang berbaik hati untuk membacanya dan dia memberikan komen yang sangat membangun dan membantu aku untuk melakukan revisi. Jadi para penggemar gembok dan kunci, mohon bersabar dan tunggu lebih lama lagi.  Mungkin paling lambat tahun depan dan paling cepat minggu ini.

Diakhir, aku memohon maaf jika apa yang aku tulis tidak bisa memuaskan semua pembaca disini.

Selalu sehat, bersyukur, semangat dan bahagia!

cxnk1ljukaaevmh

See you again!

cxd1vc5ukaadtne

cw3nkczucaam4tn

 

Iklan

40 pemikiran pada “-Closure- [My Lady]

  1. Setelah taeyeon ngejelasin semuanya ke tiffany gw jga ngerti kenapa taeyeon milih lepasin tiffany untuk yuri dan dia milih untuk menikah dengan jessica krn jessica ternyata segitu cintanya sama dia

  2. see! I knew it! some part in their heart,,they still feel it…
    yep! I like this end..oops this And mksdnya…
    favorite character number one -> Jessica
    menurut ku karakter jessi di sini hampir sempurna utk seorg yg mencintai…
    terus stuju ama author tentang karakter taeng…seorg dgn tingkat kedewasaan dan ketenangan macam taeng susah di dpt..smoga aj kita bisa di pertemukan dgn org macam taeng*Amen
    klo utk fanny,, hati nya emang berfungsi dgn baik*plakkk* haha like i said in the previous chap Hati itu fleksibel tdk mutlak…begitulah hati fanny jg taeng…
    *Euhm.. melupakan mungkin adalah kata yang salah untuk menggambarkan apa yang mereka lakukan. Mungkin ini lebih tentang bagaimana Taeyeon dan Tiffany mencoba menerima kenyataan dan mendewasakan diri mereka dalam proses yang menyakitkan ini (salahin author-nya :P).*
    yg ini jg gw stuju thor-termasuk salahin auhtornya*plakk-emang ga gampang melupakan org yg kita cintai dan jg mencintai kita..jd dr pd melupakan mending menerima dan mendewasakan diri dgn ikhlas supaya kita bisa mencapai kebahagian yg akn segara datang….
    terus utk definisi cinta-nya author,,sebelas duabelas kaya yg gw komen di chap sblmnya…
    “if you love something / someone fight for” dan itu lah yg di lakukan seorg ibu sejak kita lahir^^
    pepatahnya jg keren..dan memang pelajaran yg paling berharga adlh kesalahan…
    well over all I LIKE THIS STORY!
    termasuk pelajaran buat nikung sahabat sendiri*plakk hahaha
    tp beneran cerita nya bagus thor!!perasaan reader terombang-ambing dgn cerita ini…
    waiting for your another awesome story author^^
    keep healthy,,smile and spread love!!!

    ps. lagi” gw nge-drabble,,
    mau di katakan apalagi~
    crita nya bagus bikin baper~
    hahaha

    • Well aku nulis ini kan juga ketantang sama semua pertanyaan km di komen km yg kmrin.

      Setelah aku pikir lagi, kayanya aku perlu bikin 1 part buat menjelaskan knp ending yg kmrin bisa terjadi.

      Inilah knp aku selalu percaya masukan pembaca bisa membantu penulis untuk mengembangkan tulisannya.

      Btw makasih ya, senang bisa diskusi dengan km. Sering-sering ya!😄👏👍👍

  3. biarkan saja perasaan yang di rasain sma taeny mereka simpan dalam hati masing2.tdk perlu berusaha keras untuk melupa..
    krna justru ketika berusaha lupa malah akan ttp ingat..biar saja seperti itu.

    mungkin dalam hati taeng berkata”aku mencintaimu tp tdk memilikimu itu cukup bagiku.”
    cara taeng mencintai tifany dengan membahagiakan jesicca
    😊😊😊😊

  4. Ahhhhhh
    So sweeeeettttttt
    Wkakkakakakakakakaakaa
    Manteppp thorrrr
    Terharuu dahh bener2
    Wkwkwkwkw
    Memang keputusan yg baik ya begni
    Wkakakakkwkwl
    Sangat bijak si taeyeon (?)
    Eh author nya (?)
    Wkwkwkwkw
    Kerennn thorrr
    Mkin cinta sma ni author 😂😂😂😂😂
    Wooooo

  5. akhirnya jelas jg kenapa taeny berpisah dengan baik2 dan hidup dengan pasangan masing2 dengan bahagia

    pemikiran de risma keren banget tentang ff ini jd bikin baper

  6. sumppaaahhh thor..nih ff different..my gaadd my feelling;( .. good atas kerja keras elu buat bikin ini..gara2 ff ini gua punya cara pandang yg berbeda ke taeny..biasa tiap gua baca ff apalgi yg genre nya sad.. gak peduli mau semustahil apapun. gak peduli sesakit apapun. gak peduli mau seegois apapun yg penting TAENY bersatu..tapi setelah baca ff. gua sadar dan gua ngerasa sesuatu yg beda #cieelaahh .. gua ikhlas banget taeny gak bersatu. dan gua seneng bahwa ternyata ada cara lain yg bisa bikin taeny sama2 bahagia walaupun gk harus bersama( buat di FF ) .. Pokok nya amaziingg buat ff elu tho ❤

  7. Yahh……… Yang namanya Cinta emg sulit utk di defenisikan. Karena Cinta defenisinya tergantung masing2 org yang merasakannya. Dan jujur…… Sbg LS aku agak sedikit kecewa ama Taeny disini sekaligus bangga karena mereka dapat menyelesaikan masalah rumit ini dgn akal yg sehat dan jiwa yg lapang.

    Eaaaakkk…….

    Sorryy….. Klo komennya agak abal2. Soalx aku nggk tau lg hrs ngomong apa selain kagum pada cara penulisan author Risma yg semakin membaik…..hehehhehehbe

  8. Gomawo ^^.. ikhlas melepas yg dr awal bukan milik dan kepunyaan nya.. wajar pas klimaknya dapet bwgd fellnya.. mungkin ngenes untuk tau semua kebohongan slma ini tp sesakit apa pun ending dr cerita ini aq msh terima dgn semua kronologisnya.. ^^ gomawo sekali lagi

  9. Huaaaaa suka sekali penjelasan dichap ini. Kalo aku emang udh berfikir ini alasan taeng, dan ini alasan kenapa Yulti bersatu. Gak bisa dipungkiri kehidupan ini manusia saling bergantung. Jadi gak bisa egois gitu aja.

    Gue bener” kesel sebenernya sama tiffany thor, udh dijelasin tapi masih ego nya luar biasa.
    Tapi kok gue masih ngeganjel thor ttg mereka yg masih sama” mencintai.
    Gue locksmith tapi kalo ceritanya kaya gini, gila ini terlarang banget. Hahaha

  10. Senang dg karakter tae..n senang juga karna author udah jelasin semua sampai sejelas jelasnya 😊
    Walaupun di awal kyknya fany msh enggan buat nerima penjelasan tae..n tae kyknya juga hampir berbalik arah untung aja dg penjelasan dan kata2 uthornya yg sangat bagus (di sini aku kagum dg penggambaran n cara penjelasannya) daebak!!👍😉
    Di sini aku ngeliatnya dr sudut pandang tae makanya aku “ikhlas” klu akhirnya tae ngelepasin fany 😂
    (Beda lagi kalau liat dr sudut pandang cast yg lain)😊
    makasih thor 😘😘😘

  11. Haiii author-nim lama tak jumpa..
    U pasti ngira gw jadi silent readers deh karna gw udah lama ga ngunjungin wp u trus tiba2 nongol di ff u yg lain yg mungkin udah ada beberapa ff yg kelongkap..
    Ganti hp, gw jadi lupa ama link wp u ampe gatau ff terbaru u mulai dr mana aja karna ff yg trakhir gw baca lupa judulnya..
    Btw gw suka ama jalan crita ff u ini. Begitu dewasa ngejabarin semua tentang cinta tae ama fany jadi bikin bangga ama apa yg udah tae lakuin n rela untuk ngelepasnya.
    Ampe gw sendiri bingung, kok u bisa sih bikin crita sebagus ini dg pemikiran yg orang lain tuh ga kepikiran n dapet dr mana kata2 sebagus percakapan tae ama fany..
    Pokoknya semangat

    • yaampun aku dilupain hahhaa
      gpp ka, yaudah baca aja lagi kalau ada waktu
      iya ka ff ini emang kepuasan bgt buat aku bikinnya.
      Aku yg nulis tapi aku paling seneng baca ff ini, bagus soalnya, ga cuma menghibur tapi memberi edukasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s