My Lady (Shoot Final Part 3)

mine

“Fany-ah.. maukah kau menikah denganku?” aku masih mengatur nafas saat ia mengucapkan hal yang tak kusangka akan diucapkannya. 1 bulan telah berlalu sejak Taeyeon Oppa mulai jujur pada dirinya tentang perasaannya padaku. Sejak saat itu hubungan kami membaik. Ia tak lagi menghindariku. Malah intensitas pertemuan kami meningkat. Taeyeon Oppa berbicara pada Yuri Oppa agar ia bisa tinggal lagi di unit sebelah apartemenku dan  secara mengejutkan Yuri Oppa mengizinkannya. Sejak saat itu kami memutuskan untuk menjalani hubungan ini dibelakang pasangan kami masing-masing meskipun persiapan pernikahanku dengan Yuri Oppa masih dilaksanakan.

“Oppa.. kau serius?” aku bukan tak bahagia saat mendengar lamarannya itu tapi jika memang ia serius melamarku maka kami harus segera menceritakan kebenaran hubungan ini pada pasangan kami masing-masing.

“Tentu.”

End Of Tiffany POV

==========================================

====================

==========================================

My Lady (Shoot Final Part 3)

cwlm1yuusaa63es

“Tiffany Hwang.. Apa kau menerima pria di sampingmu ini sebagai suamimu?” suara pastur yang bertugas menikahkan mereka hari ini terdengar begitu jelas dan lantang ke seluruh penjuru ruangan. Sang mempelai wanita terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan, dimana pria  yang menjadi alasan mengapa ia bisa ada disini itu berdiri begitu tampan dan gagah dalam tuksedo hitam klasiknya.

“Fany-ah..” Tiffany tersenyum mendengar suara Taeyeon yang memanggilnya pelan. Ia  memberikan travel bag-nya pada Taeyeon yang segera membawanya. Mereka mulai berjalan keluar dari kamar hotel tempat resepsi pernikahan  Tiffany dan Yuri yang akan dilaksanakan 2 hari mendatang. Besok rencananya upacara pernikahannya dengan Yuri akan dilaksanakan di sebuah gereja katolik di Seoul.

 

Taeyeon dan Tiffany  mencoba untuk tidak menarik perhatian siapapun dalam perjalanan mereka meninggalkan hotel itu. Rencananya kedua insan dimabuk asmara itu akan melakukan pernikahan di Jeju tepat di saat upacara pernikahan Tiffany dan Yuri akan dilaksanakan di Seoul. Taeyeon yang merencanakan kawin lari ini dan Tiffany menyetujuinya. Itu Taeyeon lakukan karena Tiffany tidak sanggup untuk memberitahu Yuri dan Jessica tentang hubungan mereka. Maka dari itu Taeyeon segera merencanakan perjalanan mereka untuk kabur dari kehidupan mereka di Korea Selatan setelah mereka melaksanakan upacara pernikahan di Jeju.

 

“Kau sudah siap?” Taeyeon berucap setelah memakaikan Tiffany sabuk pengamannya. Tiffany menganggukan kepalanya memberikan prianya itu senyum bulan sabitnya sebelum perjalanan mereka… dimulai.

 

 

Nona Hwang?” suara itu kembali membangunkan Tiffany dari lamunannya. Ia memutarkan pandangannya ke sekeliling, melihat beberapa wajah-wajah familiar baik itu keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Yang menangkap perhatiannya adalah senyum terharu Daddy beserta kakak-kakaknya dan terakhir wajah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri dalam beberapa tahun ini.

“Aku menerimanya.” Pastur yang berdiri dihadapannya itu tersenyum melihat Tiffany mengucapkan janjinya.

“Miran Noona!” wanita yang dipanggil oleh Taeyeon tersenyum berjalan menyambut kedatangan kliennya itu.

 

“Woah.. dia begitu cantik Taeng!” Tiffany tersipu malu menerima pujian dari wanita yang terlihat begitu cantik dalam balutan dress semi formal putihnya.

 

“Noona.. tolong bantu Tiffany menjadi pengantin yang tercantik yang pernah kulihat. Aku mempercayakannya padamu.” Taeyeon menepuk bahu Miran pelan, tersenyum begitu hangat pada sahabatnya. Setelah memeluk Tiffany yang sudah berada bersama Miran, Taeyeon pamit.

 

“Oppa.. kau akan kemana?” langkah Taeyeon terhenti saat Tiffany memanggilnya.

 

“Aku juga harus mempersiapkan diriku.” Taeyeon tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan Tiffany yang terdiam melihat senyuman itu.

 

“Atas nama Tuhan.. kalian telah sah menjadi suami istri. Tuan.. Anda boleh mencium pengantin Anda.” Tiffany bisa merasakan tubuhnya dibawa untuk berhadapan dengan pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.

“Terimakasih Fany-ah.. Aku mencintaimu” detik berikutnya bibir itu menyentuh milik Tiffany yang mencoba membalas ciuman suaminya. Ia bisa merasakan pria dihadapannya itu membawa tubuhnya lebih dekat, mendekapnya begitu mesra, mencoba menumpahkan semua perasaan cintanya. Mata itu Tiffany pejamkan, ia mencoba menikmati ciuman lembut dan penuh cinta itu meskipun air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.

“Fany-ah.. kau begitu cantik.” Tiffany tersenyum menerima pujian itu. Mereka kini telah tiba di Gereja tempat upacara pernikahan mereka akan dilaksanakan. Gereja ini tidak terlalu besar ataupun kecil. Ini cukup untuk Tiffany yang berpikiran bahwa bukan seberapa besar tempat untuk upacara pernikahannya itu akan dilaksanakan tapi lebih dengan siapa ia akan mengucap janji suci sehidup sematinya itu nanti.

 

Selama di perjalanan tadi Taeyeon tak banyak berkata-kata. Duduk bersampingan di mobil pernikahan mereka, Taeyeon hanya memegangi tangan Tiffany. Sesekali ia mencium tangan yang sudah ditutupi sarung tangan berwarna putih itu. Tiffany juga tak banyak bicara, gugup dengan upacara pernikahan mereka nanti. Saat tiba di tempat tujuanlah baru suasana tegang itu mulai mencair.

 

“Terimakasih Oppa. Kau juga begitu tampan.” Taeyeon tertawa sebelum akhirnya membawa calon pengantinnya itu berjalan dalam genggaman tangannya menuju pintu masuk gereja.

 

“Tiffany Hwang.. aku mencintaimu.” Tepat dihadapan pintu gereja yang masih tertutup itu Taeyeon menghentikan langkah kakinya. Ia membawa tubuh Tiffany untuk berhadapan dengannya. Ia bawa tubuh wanitanya itu dalam pelukan. Entah kenapa kata cinta itu terasa berbeda di telinga Tiffany. Kata cinta itu tak menghangatkan hatinya seperti bisa. Tak membuat jantungnya berdetak lebih keras. Kata cinta itu…. Lebih terdengar seperti sebuah kata perpisahan.

 

.

.

.

 

“Oppa..” kata itu yang pertama kali Tiffany ucap saat kedua pintu gereja terbuka. Bisa Tiffany lihat orang-orang yang dikenalnya duduk rapi di kursi mereka. Semua mata kini tertuju padanya. Taeyeon membawa wanita yang masih terkejut itu untuk berjalan menghampiri pria cukup berumur yang mewariskan senyum bulan sabit itu kepada putrinya.

 

“Fany-ah..” Taeyeon berbicara pada wanita di sampingnya yang enggan beranjak dari tempatnya.

 

“Oppa.. ada apa ini?” dari kejauhan Tiffany bisa melihat seorang pria dengan tuksedo putihnya berdiri tegap menantinya di altar pernikahan. Pria itu tersenyum padanya seakan ia tak pernah tahu bahwa Tiffany mencoba kabur bersama Taeyeon dari pernikahan yang harusnya ia lakukan dengan pria hitam manis itu. Senyuman pria itu masih tetap sama, manis.. hangat.. dan karismatik seperti biasanya.

 

“Oppa..” tiba-tiba semua menjadi jelas bagi Tiffany. Kejanggalan dalam rencana kawin lari mereka, sikap Taeyeon yang begitu baik dan mesra padanya seakan ia akan segera berpisah dengannya, telpon-telpon misterius yang Taeyeon lakukan saat Tiffany mulai tertidur, dan hal aneh lainnya  membuat Tiffany tersadar bahwa Taeyeon memang sudah merencanakan ini semua dari awal.  

 

“Maafkan aku.” Detik berikutnya Tiffany bisa merasakan tubuhnya dibawa oleh Taeyeon berjalan menuju ayahnya. Tangannya tak lagi Taeyeon genggam. Pria bermarga Kim itu lebih memegang pergelangan tangannya begitu erat hingga Tiffany bisa merasakan sakitnya.

 

“Daddy..” Kini Tiffany telah sampai di hadapan ayahnya. ia mencoba memohon pada ayahnya itu untuk menghentikan pernikahan ini lewat tatapan matanya. Craig Hwang menggelengkan kepalanya pelan diiringi tatapan penuh kekecewaan. Craig merasa kecewa mengetahui putrinya itu akan kabur dari pernikahannya, meninggalkan pria sebaik Yuri yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.

 

Sejak itu Tiffany tahu bahwa ia tak bisa lagi menolak takdirnya untuk menjadi istri Yuri.

 

“Sayang.. mengapa kau diam saja? Kau tidak menyukainya?” Yuri menghampiri sang istri yang masih diam tak menyentuh makan malam yang sudah terhidang di meja makan kamar pengantin mereka.

Setelah melaksanakan upacara pernikahan siang tadi, Yuri menggelar pesta resepsi di sebuah resort dekat gereja tempat mereka menggelar upacara sakral itu. Hampir seluruh anggota keluarga besar Kwon dan Hwang hadir di pesta itu begitu pula dengan teman-teman terdekat mereka termasuk Jessica dan Taeyeon yang pada saat itu juga mengumumkan kabar bahagia mereka kepada khalayak umum.

“Taeyeon Oppa?” Jessica bertanya-tanya saat melihat Taeyeon turun dari panggung – tempat Taeyeon tadi membagikan suara merdunya di pesta resepsi Yuri dan Tiffany – berjalan  ke arahnya dan berdiri tepat di hadapannya.

 

“Menikahlah denganku.” Sambil berlutut ia membuka sebuah kotak kecil dihiasi kain velvet merah yang terlihat begitu indah. Semua mata kini tertuju pada mereka tak terkecuali Tiffany yang tidak bisa menahan rasa sakit hatinya melihat hal itu. Dengan cepat ia berjalan meninggalkan taman dan memasuki pintu salah satu bangunan di resort itu, meninggalkan Yuri yang hanya diam menatap kepergian istrinya itu.

 

“Oppa.. apa yang sedang kau lakukan?” Tiffany melepas tangan Yuri yang menyentuh bahunya pelan. Suaminya itu terlihat ingin menenangkan hatinya yang sedang kacau ini.

“Fany-ah..” Yuri kini mencoba untuk menggenggam kedua tangan istrinya itu tapi Tiffany menolaknya.

“Kau tahu bahwa tadi pagi seharusnya Taeyeon Oppa yang berdiri di altar itu… bukan kau Oppa. Taeyeon Oppa yang seharusnya menjadi suamiku dan menemaniku disini. Tidak.. kami seharusnya berangkat ke Cali malam ini.” Mendadak suasana menjadi hening dan canggung setelah Tiffany mengatakan itu ada suaminya. Ia tak bisa membaca ekspresi wajah Yuri saat ini. Apa yang tergambar di wajah suaminya itu tak tahu kenapa menjadi sulit untuk Tiffany artikan. Keduanya terdiam untuk beberapa menit sebelum akhirnya Yuri bebicara.

“Lalu?” nada itu terdengar menantang Tiffany untuk mengeluarkan apapun yang menganggu hatinya saat ini.

“Oppa! Kau harusnya marah padaku. Kau seharusnya kecewa padaku. Kau harusnya memutuskan hubungan ini dan membatalkan pernikahan ini. Kau seharusnya membenciku yang telah mengkhianati semua cinta dan kepercayaan yang aku terima darimu.” Emosi Tiffany meledak. Ia memukul dada dan bahu Yuri yang ada di hadapannya dalam tangisnya itu. Tiffany tumpahkan semua yang menjadi risau dalam hatinya pada Yuri yang menerimanya dalam diam. Merasa lelah, Tiffany menghentikan pukulan-pukulan itu. Ia menjatuhkan tubuhnya yang segera Yuri bawa dalam pelukannya.

“Apa kau sudah selesai?” Yuri berucap melepas pelukannya dari Tiffany yang menatapnya heran.

“Oppa..” Air mata itu Yuri hapus dari wajah istrinya dengan lembut dan perlahan. Tiffany hanya terdiam menerima perlakuan suaminya itu. Ia memejamkan matanya saat Yuri mengecup bibirnya pelan sebelum melepasnya dan sedikit merapikan dandanannya. Yuri membawa segelas air yang berada di meja makan ke hadapan istrinya, meminumkan air itu, berharap wanita yang kini sudah resmi menyandang marga keluarga besarnya itu menjadi tenang.

“Apa yang kau katakan tadi ada benarnya. Sebagai pria aku seharusnya melakukan apa yang kau sebutkan tadi. Kau.. benar-benar telah mengecewakanku. Kau membuat harga diriku sebagai lelaki terasa diinjak-injak dengan rencana kaburmu bersama Taeyeon. Kau membuat hatiku hancur Fany-ah.. benar-benar hancur. Rasanya kepercayaan yang kubangun padamu selama ini bisa hilang dalam sekejap dengan kejadian ini.” Yuri mulai berbicara tentang perasaannya pada Tiffany yang hanya terdiam melihat wajah suaminya itu kini menunjukan rasa yang lebih dari sakit.

“Tapi.. kau harus tahu bahwa aku bukan pria biasa. Aku tidak seperti kebanyakan lelaki yang mengusung nafsu dan emosinya dalam menghadapi masalah. Aku adalah Kwon Yuri, pria yang berkomitmen untuk mencintaimu dalam keadaan apapun dengan kelebihan dan kekuranganmu.” Keraguan itu tak terlihat saat Yuri mengucapkan apa yang telah diucapkannya.

“Ada satu hal yang harus kau ketahui Sayang.” Yuri tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya.

“Aku sudah tahu bahwa kau menaruh rasa pada Taeyeon begitupun sebaliknya. Dengan semua yang terjadi pada kalian selama ini, mustahil jika rasa suka itu tak muncul. Lalu mengapa aku diam? Karena aku tahu jauh di dalam hatimu, kau masih mencintaiku. Fany-ah.. kau harus tahu terkadang kau tidak mengetahui dirimu sendiri. Terkadang kau bisa tersesat dan kehilangan arah. Dan aku disini untuk membimbingmu kembali ke kebahagianmu yang sebenarnya.” Kaget sudah pasti itu yang Tiffany alami. Ia tak tahu bahwa selama ini Yuri sudah mengetahui semuanya. Yang membuat Tiffany semakin terkejut adalah bagaimana pria di hadapannya itu bisa menahan rasa sakit yang ia berikan padanya selama ini seorang diri.

“Aku menganggap bahwa apapun yang terjadi padamu dengan Taeyeon sebagai ujian untuk hubungan kita. Aku merasa kau memang sedang kehilangan arah dengan perasaanmu dan hubungan kita karena semua masalah ini. Aku tidak akan mengelak bahwa aku juga ikut menjadi sumber penderitaanmu selama beberapa bulan ini.” Rasa bersalah itu jelas terlihat dari ekspresi wajah Yuri.

“Jika aku.. tidak.. jika kita mampu bertahan menghadapi cobaan ini maka aku yakin di masa yang akan datang, sesulit apapun itu, kita akan tetap bisa menghadapinya bersama. Apa yang kurasakan padamu.. ini bukan sekedar cinta dan nafsu yang menjadi satu, tapi ini adalah sebuah rasa sayang yang telah Tuhan titipkan padaku melaluimu. Aku tahu kau adalah takdirku dan aku yakin itu. Pernikahan ini tidak akan terjadi jika memang Tuhan tidak mengizinkannya.” Tiffany menutup kedua matanya, menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah suatu kebenaran yang tidak mungkin disanggah lagi.

“ Taeyeon sudah mengakui perasaannya tentangmu padaku. Dia bilang dia mencintaimu tapi aku tidak yakin. Dia begitu mencintai Jinhee. Aku tahu tidak mudah baginya untuk mencintai lagi wanita lain selain Jinhee. Maka dari itu aku memberi Taeyeon tantangan apakah dia sanggup meyakinkan hatinya untuk benar-benar mencintaimu. Dan hasilnya.. kau sudah melihat semuanya hari ini.” Diakhir ucapan suaminya itu, Tiffany tak bisa berkata-kata. tenggorokannya itu rasanya tercekat. Pikirannya entah mengapa menjadi kosong. Semua kenangannya bersama Taeyeon perlahan berubah menjadi sebuah pisau tajam yang menusuk jantungnya berkali-kali.

 Menyadari itu semua, Tiffany menggelengkan kepalanya. Tangisnya itu berubah menjadi begitu keras.Ia tutup wajahnya itu dengan kedua tangannya. Melihat Tiffany seperti itu, Yuri tak bisa menahan dirinya untuk segera membawa tubuh istrinya itu dalam pelukannya. Ia membiarkan sang istri menangis di dadanya, meredam tangis itu. Untuk beberapa menit mereka berada dalam posisi seperti itu. Yuri membiarkan wanitanya itu untuk kembali tenang. Jika mereka ingin melanjutkan percakapan ini, maka harus dengan kepala dingin, bukan dengan emosi yang memuncak yang bisa menghancurkan semuanya.

“Sayang.. kumohon.. untuk hari ini esok dan seterusnya, fokuskan kembali perasaan dan cintamu hanya padaku dan keluarga yang akan kita bangun.” Punggung itu Yuri elus pelan. Ia mencoba untuk berbicara pada Tiffany yang sudah mulai tenang meskipun tangisnya masih terdengar tapi setidaknya tidak sekacau tadi.

“Aku tidak akan memintamu untuk melupakan perasaan apapun itu yang pernah dan mungkin masih kau rasakan untuk Taeyeon. Tapi kau harus sadar bahwa akulah pria yang ada denganmu saat ini. Aku yang siap dan mampu untuk menjadi masa depanmu.” Yuri melepas Tiffany dari pelukannya. Ia menatap mata hitam keunguan itu saat ia mengucapkan niatnya tadi. Yuri ingin Tiffany tahu bahwa ia akan menerima apapun yang telah dilakukan oleh istrinya itu, baik atau buruknya.

“Fany-ah.. apa kau mau berjalan.. bersamaku lagi?” Tangis itu kini sudah berhenti. Tiffany terdiam, menatap suaminya itu lekat.

“Oppa.. aku.. tidak tahu..” Tiffany bisa melihat deru nafas suaminya itu keluar. Yuri menutup kedua matanya mendengar apa yang tadi telah diucapkannya. Untuk beberapa saat keheningan itu menjadi momen diantara mereka.

“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Dengan apa yang telah terjadi padamu hari ini, aku tahu hatimu masih kacau. Tapi.. biarkan aku yang memelukmu. Izinkan aku untuk membuat hatimu menjadi baik dan nyaman lagi. Berikan aku kesempatan untuk membawa kebahagiaan dan kenyamanan itu padamu.” Tatapan mata itu memohon pada Tiffany begitu yakin dan tak terbantahkan. Rasanya Tiffany tak bisa membawa suaranya untuk menolak ketika Yuri mulai membawa kedua tangannya itu untuk ia kecup. Tubuhnya seakan kaku saat suaminya itu mulai mencium bibirnya.

Perasaan rileks itu perlahan muncul dalam cumbuan yang sang suami berikan padanya. Perlahan Tiffany mulai terbawa dalam sensasi lain ketika suaminya itu menyentuh bagian-bagian lain dari tubuhnya. Ini terasa aneh, membuatnya tak nyaman dan ingin mengeluarkan sesuatu yang tak ia ketahui. Yang pasti tubuhnya seakan ikut dalam pergerakan yang Yuri berikan padanya. Tanpa disadari, Tiffany kini sudah berbaring di kasur dengan sang suami yang berada di atasnya dan mulai mengkonsumsi pernikahan mereka dalam malam yang menjadi kali pertama bagi keduanya.

 

==== My Lady ====

 

 

 

“Sayang.. kita bisa pulang sekarang jika kau mau.” Tiffany bisa merasakan genggaman suaminya itu dengan lembut dan hangat di tangan kirinya. Yuri tersenyum kecil saat tangan kanan istrinya itu membingkai wajahnya. Tiffany menggelengkan kepalanya pelan menanggapi saran sang suami.

“Tidak apa-apa Oppa. Aku.. harus bisa melihatnya. Ini untuk kebaikanku juga.” Yuri mengerti dengan ucapan istrinya itu. Ia kembali mengalihkan tatapannya pada kedua mempelai yang baru saja selesai memberikan wedding speech mereka sebagai pengantin baru.

6 bulan telah berlalu sejak upacara pernikahan di Jeju yang tak terlupakan itu. Sejak saat itu Taeyeon tak sekalipun mencoba untuk menghubungi Tiffany, menjelaskan alasannya untuk membawa Tiffany kepada Yuri. Sesekali mereka bertemu saat Yuri dan Jessica mengajak untuk makan siang atau lainnya. Kecanggungan itu memang terasa tapi Tiffany mencoba menghapusnya. Terkadang rasa amarah, kecewa, pengkhianatan dan kesedihan itu  masih ada ketika ia melihat Taeyeon. Tiffany merasa telah dipermainkan oleh Taeyeon selama ini.

Saat seperti itu, Tiffany selalu mengingat apa yang Yuri ajarkan padanya. Self Forgiving dan keikhlasan. Ya.. suaminya itu memberitahunya untuk memaafkan apapun yang ia rasa salah dalam dirinya, semua hal yang membuat hatinya sakit, malu, kecewa, patah hati, dan perasaan berat lain yang mengganggu dirinya. Suaminya itu selalu mengingatkannya untuk mengikhlaskan apapun yang telah terjadi kemarin.

Sejak saat itu Tiffany mulai mengikuti beberapa kelas motivasi dan penyembuhan penyakit batin. Ia mulai aktif lagi mengikuti kelas Yoga yang dulu sempat ditinggalkannya karena kesibukan aktivitas lainnya baik di kantor ataupun bersama keluarganya dan Yuri. Pria yang kini sudah ia sanding marganya itu selalu berusaha menemaninya dalam kegiatan perbaikan dirinya tersebut. Bahkan suaminya itu kini ikut melakukan Yoga bersamanya.

Jika melihat semua usaha yang dilakukan Yuri hingga hari ini, Tiffany tak bisa berkata banyak selain bersyukur dan berterimakasih. Baik itu pada Tuhan yang telah mengirimkannya seorang pria yang begitu sabar serta tulus dalam mencintainya maupun pada Yuri yang masih bertahan dengannya hingga saat ini. Yuri selalu percaya bahwa Tiffany bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mencintai dan memfokuskan perasaan, pikiran dan tindakannya pada kehidupan rumah tangga yang sedang mereka bangun.

“Oppa.. mari kita beri mereka selamat.” Yuri menatap Tiffany yang tersenyum menganggukan kepalanya, yakin dengan apa yang telah ia ucapkan tadi. Mereka berjalan mendekati Taeyeon dan Jessica yang sedang berbincang dengan beberapa tamu lain yang memberikan ucapan selamat kepada keduanya. Sedikit lagi tiba di tempat yang ia tuju, Tiffany menghentikan langkahnya – terdiam melihat senyum yang Taeyeon berikan pada istrinya. Ia tidak akan berbohong bahwa itu menyakitkan. Tapi.. ia harus belajar untuk menerima itu semua.

“Sayang..” Yuri memeluk istrinya itu dari samping. Ia mempelajari kembali ekspresi wajah sang istri yang terlihat berbeda. Ada konflik batin yang berusaha diredam istrinya itu.

“Tidak apa-apa.. aku harus bisa melepaskannya Oppa.” Yuri mengerti dengan keinginan Tiffany. Ia kembali mendampingi sang istri yang kini sudah berhadapan langsung dengan Jessica yang berdiri di samping Taeyeon.

“Tiff!!!” Jessica membawa Tiffany dalam pelukannya.

“Selamat Jessi.. akhirnya kau bisa mewujudkan mimpimu.” Pelukan itu Tiffany balas. Ia menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu.

“Terimakasih! Kau tidak tahu betapa berartinya ini semua bagiku. Apalagi kau ada disini, menyaksikan pernikahanku. Terimakasih Tiff..” Tiffany melepas pelukan itu. Ia berusaha menunjukan senyum khasnya itu pada sang sahabat yang terlihat begitu bahagia hari ini. Selesai dengan Jessica, Tiffany melanjutkan langkahnya menuju Taeyeon. Pria bermarga Kim itu terlihat begitu tampan dalam balutan tuksedo biru langitnya yang mengkilat dan lembut. Riasan wajahnya yang natural, tatanan gaya rambut Slick Back hitamnya yang rapih dan bercahaya, wangi parfum dan aroma tubuhnya yang khas membuat Tiffany ingin menghamburkan dirinya dalam pelukan pria yang kini telah menjadi suami sahabatnya.

“Fany-ah…” suara Taeyeon yang dalam dan sedikit serak membangunkan Tiffany dari bayangannya.

“Selamat Oppa.”Tiffany memberanikan dirinya untuk memeluk Taeyeon yang sempat terdiam sebelum akhirnya membalas pelukan itu seperti yang Tiffany inginkan. Lewat pelukan itu mereka berdua terlihat menumpahkan rasa apapun yang dipendam oleh keduanya selama ini, Tiffany lebih tepatnya.

“Semoga kau bahagia Oppa. Aku.. mencintaimu.” Kata itu terucap begitu saja dan Tiffany bahagia. Ia merasa sebuah beban berat telah terangkat dari bahunya saat ini.

“Terimakasih Fany-ah. Semoga kebahagiaan itu juga selalu menyertaimu dan Yuri.” Taeyeon melepas pelukan itu dan memberikan Tiffany senyuman yang begitu manis dan lembut. Sebuah senyuman yang  dulu selalu Taeyeon berikan pada Tiffany. Sebuah senyuman yang menjadi salah satu alasan mengapa Tiffany mencintainya.

“Terimakasih Taeng. Semoga kau cepat memiliki momongan!” Yuri yang melihat itu semua segera membawa istrinya itu dalam rangkulannya. Ia menggeser tubuh Tiffany untuk tak berhadapan langsung dengan Taeyeon yang tersenyum kecil melihat ulah sahabatnya itu.

“Semoga kau juga. Jadi kita bisa mengajak mereka bermain bersama-sama nanti.” Yuri tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu. Karena masih ada tamu lain yang ingin menyelamati, Yuri dan Tiffany pamit dari hadapan Taeyeon dan Jessica. Keduanya berjalan menuju meja makanan dan minuman. Mereka mulai menikmati beberapa hidangan yang disediakan.

“Sayang.. kau terlihat berbeda.” Yuri menyelipkan rambut yang sedikit terurai milik Tiffany yang sedikit menutupi kecantikan dan keindahan istrinya itu.

“Benarkah?” Tiffany terlihat terkejut dalam senyumnya.

“Euhm. Kau terlihat lebih bebas dan santai, tidak tegang seperti tadi. Aku menyukainya.” Tiffany tertawa menutup kedua matanya menerima kecupan di hidungnya dari Yuri yang kemudian mulai mengecup bibirnya berkali-kali.

“Oppa..” Yuri menghentikan kecupan itu dengan ciuman yang terbilang cukup lama. Yuri terdiam memandangi sang istri yang menatapnya bingung dan penasaran. Ia hanya memberikan senyum pada istrinya itu.

“Kau melakukannya dengan baik Fany-ah..” Senyum bahagia dan penuh kebanggaan itu bisa Tiffany lihat dari wajah Yuri. Hatinya menghangat saat suaminya itu mencium dahi   lalu mengelus puncak kepalanya dengan lembut dan ringan.

==== My Lady ====

“Oppa..” Tiffany berjalan menghampiri Yuri masih dalam balutan gaun tidurnya. Ia tersenyum dalam hati melihat sang suami terlihat begitu serius dalam mode kerjanya. Baginya Yuri terlihat begitu tampan jika sedang bekerja membuat jantungnya berdebar-debar seperti seorang remaja yang akan bertemu dengan idolanya.

Mendengar panggilan itu, Yuri segera menghentikan kegiatannya membaca beberapa proposal kerjasama yang diajukan kepada Kwon Group. Ia menutup file-file itu dan segera mematikan layar komputernya. Senyum lelahnya itu tak bisa ia sembunyikan saat ia melihat sang istri kini berdiri di hadapannya. Ia bawa tubuh istrinya itu untuk duduk di pangkuannya.

“Ada apa Sayang? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Tiffany berpikir sebentar sebelum menggelengkan kepalanya ringan seperti anak kecil. Melihat itu Yuri tertawa. Ia membawa tubuh istrinya itu untuk duduk di mejanya, berhadapan dengannya yang memajukan kursinya sehingga kini jarak yang memisahkan itu berkurang.

“Lalu? Ah.. apa kau merindukanku?” Yuri menaik turunkan kedua alisnya yang sontak membuat tawa Tiffany pecah saat melihat wajah konyol suaminya yang masih terlihat terlalu tampan baginya.

Tiffany IJWD Making Film

Suara tawa itu teredam segera setelah ciuman itu Yuri berikan pada istrinya. Ia mulai mencumbu sang istri yang mengikuti ritme permainannya. Untuk beberapa menit keduanya sibuk menambah momen keintiman mereka sebelum akhirnya kebutuhan untuk bernafas memanggil.

“Huh.. apa ini?” Yuri menerima amplop putih yang diberikan oleh Tiffany. Istrinya itu tak menjawab pertanyaannya, hanya meminta Yuri untuk segera membuka amplop itu dan membaca isinya. Surat itu mulai Yuri baca dan diakhir.. ia tak bisa mengatur perasaannya. Semuanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Ia merasa bagai bermimpi membaca surat itu.

“Fany-ah..” Yuri menatap istrinya begitu dalam. Ia ingin memastikan lagi bahwa ini semua bukan mimpi. Menjawab itu, Tiffany tersenyum dalam anggukannya.

“Kau.. akan menjadi seorang ayah, Oppa.” Yuri tak bisa lagi menahan tangis bahagianya mendengar hal itu. Ia memeluk Tiffany dalam tangisnya. Rasanya perjuangannya selama ini telah terbayarkan.

4 tahun telah berlalu sejak Tiffany memutuskan untuk melupakan Taeyeon dan memfokuskan dirinya untuk menjalani rumah tangga bersama Yuri. Ia memutuskan untuk memiliki momongan dan Yuri menyetujuinya. Sejak saat itu Tiffany berhenti mengkonsumsi pil pengontrol kesuburannya. Ia dan Yuri mulai menjalankan program untuk membuatnya hamil.

Setelah beberapa bulan program itu berlangsung, Tiffany dan Yuri masih belum mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Karena itu keduanya mulai berkonsultasi dengan dokter dan mulai melakukan serangkaian tes untuk mengetahui apa penyebab sulitnya Tiffany untuk hamil. Hasilnya.. terjadi masalah di Yuri. Suaminya itu mengidap varikokel yang mengganggu proses pelepasan sperma saat proses pembuahan berlangsung.

Solusi dari masalah tersebut adalah dengan melakukan operasi. Dokter berkata bahwa tingkat kehamilan terjadi pada tiga bulan pasca operasi  berkisar 25% dan meningkat menjadi 50% pada enam bulan pasca operasi. Mendengar hal itu akhirnya Yuri memutuskan untuk melakukan operasi tersebut. 8 bulan telah berlalu sejak operasi itu dilakukan dan hasilnya.. hari ini ia mengetahui bahwa dalam rahim Tiffany kini telah hadir calon anak mereka.

“Terimakasih Tuhan!” Yuri melepaskan pelukan itu dan mulai mengucapkan rasa syukurnya pada Sang Pencipta.

“Fany-ah.. aku juga ingin berterimakasih karena kau mau bersabar untuk menanti kehamilan ini. Kau.. mau mengerti dengan keadaanku dan tetap menyemangatiku untuk tidak menyerah. Terimakasih Sayang. Aku mencintaimu. Sangat.. sangat mencintaimu.”

“Kembali kasih Oppa dan aku juga mencintaimu.”

Senyum Yuri semakin berkembang saat ia merasakan bibir istrinya itu mulai menciumnya pelan. Tiffany menarik Yuri untuk berdiri dan semakin menyatukan tubuh mereka, membawa ciuman ringan itu menjadi memanas dan membakar gairah keduanya untuk melanjutkannya ke tahap yang lebih jauh. Merasa hampir kehabisan nafas, Tiffany melepaskan ciuman itu. Ia tertawa dalam hatinya melihat Yuri yang terlihat tak rela mengakhiri ciumannya. Yuri terlihat begitu imut jika sudah merajuk seperti itu dan Tiffany tak bisa menahan dirinya itu mencubit kedua pipi suaminya itu yang kini sudah lebih berisi dari biasanya.

 “Oh iya Oppa.. apa kau yakin kau sangat.. sangat mencintaiku? Lalu bagaimana dengan ini?” Tiffany membawa tangan Yuri untuk menyentuh perutnya yang masih rata. Ia tersenyum melihat sang suami yang tertawa sebelum akhirnya memeluk calon bayi mereka dan menciumnya.

Sementara itu di bagian dunia lainnya…

 

“Sayang.. kau sudah bangun?” seorang pria segera menghampiri wanita yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Wanita itu perlahan tersenyum begitu melihat wajah khawatir pria yang saat ini menggenggam tangannya begitu erat, seakan ia akan pergi begitu saja.

“Oppa..” Ia mencoba untuk duduk dan berhasil setelah prianya itu membantunya.

“Sica.. aku takut dan panik saat  menemukanmu tergeletak di dapur. Sayang.. tolong jangan lakukan itu lagi. Kau harus menjaga kesehatanmu dan calon bayi kita.” Amarah, ketakutan dan rasa panik itu kini tergantikan dengan kekhawatiran dan rasa sayang yang jelas tergambar di wajah Taeyeon dan Jessica bisa merasakan semua itu.

“Oppa..” Jessica tiba-tiba berhenti mengerjakan hiasan di cupcake-nya dan tertegun melihat Taeyeon yang menghampiri dengan wajah sedih dan bingungnya.

 

“Maafkan aku.. maafkan aku..” Melihat ekspresi kebingungan kekasihnya itu Taeyeon segera memeluknya. Kata-kata tadi ia ucapkan diiringi dalam tangis penyesalannya. Perlahan tangan Jessica bergerak menepuk-nepuk punggung kekasihnya itu pelan. Ia mencoba menenangkan Taeyeon yang masih terjebak dalam emosinya. Sepertinya Jessica tahu mengapa prianya itu bisa terlihat hancur, kacau dan patah hati seperti ini. Beberapa menit berlalu dan ketenangan itu kini mulai menemani keduanya. Jessica mulai melepaskan pelukan itu, menatap Taeyeon yang masih menundukan kepala tak berani menatapnya.

 

“Oppa.. ada yang ingin kau katakan?” tak ada pandangan yang menghakimi Taeyeon saat Jessica menatapnya. Wanita dihadapannya itu menatapnya penuh pengertian seakan mengerti dengan apapun yang akan Taeyeon katakan kepadanya.

 

“Sica maafkan aku.” Taeyeon berhenti saat ia mengingat lagi semua yang telah ia perbuat pada wanita dihadapannya itu. Ia merasa malu dan tidak pantas menerima apapun yang telah Jessica lakukan dan berikan padanya selama ini.

 

“It’s okay Oppa.. lanjutkanlah.” Taeyeon bisa merasakan kembali tangan lembut dan halus kekasihnya itu menggenggam miliknya.

 

Dengan itu Taeyeon mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kebenaran tentang kematian Jinhee, rencana balas dendamnya pada ayah Yuri hingga perasaannya pada Tiffany yang telah berubah menjadi cinta. Taeyeon juga jujur pada Jessica bahwa ia masih belum bisa mencintai wanita bermarga Jung itu seperti ia mencintai Jinhee dan Tiffany.

 

Mendengar hal itu tentu saja perasaan Jessica menjadi sedikit kacau. Ia meminta waktu kepada Taeyeon untuk memikirkan semuanya lagi. Jessica pergi ke sebuah desa di  Jeolla-do untuk menenangkan otak, pikiran, hati dan perasaannya untuk beberapa hari. Seminggu kemudian ia meminta Taeyeon untuk menjemputnya. Jessica ingin membicarakan resolusi yang sudah ia dapat selama masa tenang dan refleksinya itu.

 

“Oppa.. aku sudah memikirkan semuanya.” Mereka berdua kini sedang duduk menikmati angin sore di perkebunan dekat tempat tinggal Jessica selama ia berada di Jeolla-do.

 

“Jika kau berjanji untuk benar-benar melupakannya maka aku akan menerimamu lagi.”

 

“Sica..”

 

“Sejujurnya aku kecewa dan marah padamu. Aku kesal karena kau selama ini telah membohongiku meskipun aku tahu itu semua bukan keinginanmu. Tapi.. aku sadar kau hanyalah manusia biasa yang bisa berbuat salah. Semua yang terjadi padamu kemarin, itu tidak terjadi dengan sendirinya. Tuhan pasti mempunyai rencana lain mengapa kau melakukan itu semua. Tuhan pasti tahu mengapa aku masih ingin dan bisa bertemu denganmu hari ini.”

 

.

.

.

 

“Sica apa kau mengizinkannnya?” Taeyeon sudah selesai menceritakan rencananya untuk membuat closure dengan Tiffany. Kini ia sedang menunggu wanita dihadapannya itu untuk menyetujui apa yang telah ia pikirkan selama beberapa hari ini bersama sahabatnya.

 

“Bukankah ini terlalu jahat bagi Tiff?”

 

“Sica.. hanya dengan seperti itulah dia akan benar-benar melupakanku… begitupun aku yang ingin melupakannya seutuhnya dan melanjutkan hidupku bersamamu.” Jessica tersenyum sendu sebelum menganggukan kepalanya menerima genggaman tangan pria yang mulai belajar untuk benar-benar mencintainya.

 

.

.

.

 

“Oppa.. cincin ini dan semuanya.. apa kau serius?” pesta resepsi itu telah selesai. Yuri dan Tiffany sudah kembali ke kamar mereka begitu pula dengan tamu lainnya yang mulai beristirahat ke tempatnya masing-masing. Taeyeon dan Jessica masih menikmati angin malam di pinggiran pantai untuk melepas penat mereka.

 

“Tentu.”

 

“Oppa..”

 

“Sica.. kau sudah melakukan terlalu banyak untukku. Apa yang kulakukan hari ini, itu adalah bukti awal dari komitmen yang ingin kubangun bersamamu.”

 

.

.

.

 

 

“Oppa..” Taeyeon baru saja keluar dari kamar mandi. Rambut hitamnya itu terliha masih basah.

 

“Heumh?” Jessica bangkit dari ranjangnya menghampiri Taeyeon yang belum sempat mengeringkan rambutnya yang masih basah tadi. Ia membawa sang suami untuk duduk di meja rias, mengambil pengering rambut dan mulai mengeringkan rambutnya yang tergolong lembut dan terawat untuk ukurang seorang pria.

 

“Aku mendengar apa yang Tiff ucapkan padamu tadi.” Taeyeon memejamkan kedua matanya menikmati pijatan yang Jessica berikan selama wanita yang baru menjadi istrinya itu mengeringkan rambutnya.

 

“Lalu?” Taeyeon mendesahkan rasa nikmatnya saat Jessica memijat bagian alis dan dahinya. Penat dan lelah itu seakan menghilang. Kepalanya yang cukup pusing selama resepsi kini membaik. Taeyeon bisa merasakan tubuhnya kembali relaks dengan jasa yang diberikan oleh istrinya itu.

 

“Mengapa kau tidak menjawabnya?” pijatan itu telah selesai begitu pula dengan rambut Taeyeon yang sudah cukup kering. Tak menjawab pertanyaan istrinya itu, Taeyeon malah menggendong Jessica ke tempat tidur mereka.

 

“Oppa..” Jessica merajuk melihat Taeyeon yang tak memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi.

 

“Apa Sayang?” Taeyeon kini menjawab panggilan Jessica yang memukul dadanya pelan berkali-kali. Ia tertawa dalam hatinya melihat sang istri yang terlihat begitu imut dan seksi dengan wajah merah padamnya itu.

 

“Jawab pertanyaanku yang tadi.” Jessica masih ingin mendengar alasan mengapa suaminya itu tak menjawab pengakuan cinta yang diberikan oleh Tiffany tadi pesta resepsi mereka.

 

“Kau ingin aku menjawabnya seperti apa?” Taeyeon tersenyum melihat Jessica yang terlihat seperti anak kecil yang sedang memikirkan jawaban ujian di sekolahnya hari ini.

 

“Aku ingin kau menjawabnya dengan jujur dari hatimu.” Jawaban itu terdengar seperti anak kecil yang begitu polos dan Taeyeon ingin tertawa mendengarnya.

 

“Kau yakin?” Taeyeon sengaja membuat ekspresi wajahnya terlihat khawatir.  Jessica memberikan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan suaminya tadi.

 

“Baiklah. Kau siap?”

 

“Benar-benar siap?

 

“Oppa…”

 

“Hahaha.. okay. Jadi begini, alasanku tidak menjawab ungkapan cinta Tiffany adalah.. karena..”

 

“Karena?”

 

“Karena ini…” tubuh Jessica yang tadi duduk di hadapannya Taeyeon dorong ke belakang. Kepala istrinya itu mendarat dengan selamat di bantal mereka.

 

Taeyeon mulai menaiki tubuh Jessica, membuat sang istri berada di dalam perangkapnya. Taeyeon sedikit menutup matanya mendengar teriakan melengking sang istri yang terkejut dengan aksinya tadi. Teriakan itu tidak bertahan lama karena sudah ia redam dengan ciuman di bibir Jessica yang perlahan mulai membalas sapaan penuh cintanya itu. Ciuman itu berlanjut menjadi sebuah cumbuan yang membakar nafsu birahi keduanya.

 

“Oppa..” Jessica meringis pelan saat Taeyeon mulai menyatukan tubuh mereka dalam tingkat intimasi yang lebih tinggi. Meskipun awalnya kurang nyaman, perlahan Jessica mulai menikmati dan relaks dalam proses yang membuat jiwa mereka semakin terhubung.

 

.

.

.

 

“Sica.. Sayang?” Taeyeon mencoba memanggil sang istri yang terdiam di dalam pelukannya. Keduanya baru saja selesai mengkonsumsi malam pertama mereka sebagai sepasang suami istri. Proses itu berlangsung selama beberapa kali sebelum akhirnya keduanya berhenti karena stamina mereka yang belum terlatih.

 

Maklum.. ini adalah kali pertama untuk keduanya.

 

Meskipun sudah pernah berpacaran atau menjalin hubungan dengan orang lain dalam waktu yang cukup lama, baik Taeyeon atau Jessica tetap berpegangan pada prinsip mereka bahwa bercinta hanya akan dilakukan setelah keduanya menikah. Siapa sangka mereka akhirnya bisa melakukan hal yang sakral tersebut di malam pernikahan mereka mengingat sebenarnya banyak sekali godaan bagi keduanya untuk bercinta saat mereka masih berpacaran, bukan menikah.

 

“Heumh?” Taeyeon tersenyum bangga mendengar suara istrinya itu terdengar serak, tidak seperti biasanya. Ia tertawa dalam hatinya mengingat teriakan melengking yang menggema beberapa kali selama proses bercinta mereka berlangsung dalam beberapa bagian.

 

“Sayang.. kau ingin tahu mengapa aku tidak menjawab kata cinta yang Tiffany ucapkan padaku?” Taeyeon bisa merasakan anggukan kepala Jessica yang terbaring di dada polosnya.

 

“Harus kuakui aku senang saat dia mengatakan bahwa dia masih mencintaiku. Namun.. ketika aku mengalihkan pandanganku kesamping – saat  aku melihatmu – aku tahu bahwa aku tidak perlu membalas ucapan itu. Kau mau tahu kenapa?” Taeyeon tersenyum lagi saat merasakan anggukan  Jessica yang sepertinya benar-benar kelelahan. Meskipun begitu Taeyeon tetap membawa istrinya itu untuk berhadapan dengannya. Ia ingin agar sang istri benar-benar melihat kesungguhan dari setiap kata-kata yang akan ia ucapkan nanti.

 

“Saat aku melihatmu.. semua hal yang sudah kau lakukan padaku berdatangan dengan sendirinya membuat jantungku perlahan tapi pasti mulai berdetak lebih kencang dari pelukan yang Tiffany berikan padaku. Dari situ aku tahu bahwa cinta itu bukan hanya kau yang sudah mengusahakannya untuk tumbuh di hatiku tapi karena Tuhan yang mengizinkannya untuk bersemi di dalamnya.”

 

“Kata cinta itu.. biar aku ucapkan hanya untukmu saja.  Hari ini, besok.. dan selamanya.” Tatapan mata itu tak Taeyeon putuskan saat ia mengucapkan apa yang ada di hati dan pikirannya. Pandangannya dengan Jessica bertemu dan hatinya bersorak saat melihat Jessica memberikan senyum tercantiknya pada dirinya.

 

.

.

.

 

“Kau bahagia?” Jessica menolehkan kepalanya pada suara yang bertanya padanya.

 

“Oppa!” pelukan itu segera ia berikan pada Taeyeon yang tertawa bahagia menerimanya. Tadi siang ia menerima surat undangan untuk melanjutkan studi desainnya di Parson, salah satu sekolah  fashion terbaik di dunia yang berada di Amerika. Dengan melanjutkan studinya disana, karir Jessica sebagai perancan busana secara internasional mulai terbuka.

 

“Oppa.. aku senang sekali. Aku tidak tahu bahwa Parson bisa memanggilku secepat ini. Tunggu.. apa kau..?” Taeyeon tersenyum mengalihkan pandangannya seolah ia tidak tahu dengan apa yang Jessica curigakan padanya.

 

Beberapa bulan lalu Jessica mendapat undangan untuk melanjutkan studinya fashionnya dari Istituto Marangoni di Milan. Tapi berhubung Jessica tak bisa meninggalkan suaminya yang sedang bertugas di New York, dengan berat hati ia menolak kesempatan emas tersebut.

 

Sejak menikah, Jessica dan Taeyeon memutuskan untuk melanjutkan kehidupan mereka di Amerika, melupakan semua masalah mereka di Seoul, Taeyeon lebih tepatnya. Selain karena alasan itu, kantor pusat di Amerika juga memanggil Taeyeon untuk kembali bertugas disana. Selain menjadi warga negara Korea Selatan, Taeyeon juga sudah terdaftar sebagai warga negara Amerika. Begitupun dengan Jessica yang lahir dan menjalani masa kecilnya di California, ia memiliki dua kewarganegaraan yang sama seperti suaminya.

“Salah satu klienku secara mengejutkan adalah Alexander Wang. Aku memberikan CV dan portofoliomu. 1 bulan kemudian dia memberikan surat rekomendasi agar kau bisa mengembangkan kemampuanmu di Parson. Aku pikir kau pasti setuju jadi aku mengirimkan berkas-berkasmu untuk bersekolah disana dan seperti itulah…” ucapan itu tak terdengar lagi saat Jessica dengan cepat menyambar bibir suaminya itu, membawa keduanya dalam ciuman dan cumbuan yang memabukkan bagi keduanya.

 

.

.

.

 

“Sica?” Taeyeon tersenyum penasaran melihat istrinya itu terlihat begitu senang memandangi  balita-balita  yang berada di penitipan anak yang sering mereka lewati jika mereka pulang dari kantor Taeyeon.

 

“Oppa..”

 

“Iya Sayang?” Taeyeon peluk istrinya itu dari belakang.

 

“Aku ingin memiliki mini Taeyeon dan Jessica berlarian dengan riang seperti mereka.” Mengerti dengan maksud istrinya itu, Taeyeon terdiam memikirkannya.

 

“Tentu.” Jawaban suaminya itu membuat cahaya harapan dan kebahagiaan semakin terlihat di kedua mata Jessica. Taeyeon tertawa saat istrinya itu membalikan direksi tubuhnya, berhadapan dengannya dan mulai memeluknya.

 

 

“Sica…” Taeyeon memanggil lagi sang istri yang masih terdiam menatapnya dengan senyum cantiknya.

“Tentu Oppa. Aku akan menjaga diriku dan bayi kita.” Taeyeon menghembuskan nafas leganya mendengar jawaban sang istri. Ia memiliki alasan yang jelas mengapa bisa sekhawatir itu. Sejujurnya ada beberapa masalah yang terjadi sebelum kehamilan itu dipastikan adanya. Bahkan setelah dokter menyatakan Jessica positif hamil pun, masalah itu masih menghampiri mereka.

Ini adalah kehamilan Jessica yang kedua kalinya. Calon bayi mereka yang pertama harus berpulang lebih cepat saat masa kandungan baru mencapai minggu ke 18. Lelah, stress dan kondisi kandungan yang cukup lemah membuat Jessica dan Taeyeon harus merelakan kepergian sang jabang bayi yang sudah mereka harapkan. Ada sedikit masalah dengan kondisi psikologis Jessica setelah keguguran tersebut. Hal itu menyebabkan Jessica harus rehat dari pekerjaannya. Ia mulai mengikuti sesi terapi kejiwaan untuk menyembuhkan apapun rasa yang salah dalam batinnya.

Beberapa bulan setelah mengikuti terapi dan benar-benar beristirahat dari semua aktivitasnya sebagai desainer yang sudah mulai dikenal namanya di kancah dunia, Jessica mulai memberanikan diri untuk mencoba hamil lagi. Dalam beberapa kali percobaan, akhirnya kehamilan itu menghampiri lagi. Kali ini ia benar-benar memprioritaskan kehamilan tersebut dengan mengambil rehat dari pekerjaannya hingga ia melahirkan nanti. Tetapi Jessica masih melakukan proses desain karya-karya barunya, hanya saja ini tidak sesibuk dan segila dulu dimana tingkat tekanan itu begitu tinggi sehingga terkadang ia lupa bahwa ia sedang mengandung seorang calon manusia didalam rahimnya.

Hal itu juga yang dulu memicu beberapa kali pertengkarannya dengan Taeyeon yang akhirnya menambah beban pikirannya. Pertengkaran terakhir terjadi cukup hebat sehingga Taeyeon tak pulang selama beberapa hari. Ia kembali pulang ke rumah sederhana mereka setelah menerima kabar bahwa sang istri tak sadarkan diri ketika sedang menyiapkan fashion show-nya.

Tubuh Taeyeon seketika lemas ketika mengetahui sang istri mengalami keguguran. Ia menangis dalam diamnya melihat Jessica terlihat begitu lemas terbaring di ranjang rumah sakit. Rasa bersalah itu menghinggapinya. Sejak saat itu Taeyeon berjanji pada dirinya sendiri untuk benar-benar menjadi suami yang lebih baik bagi istrinya. Ia akan benar-benar merawat Jessica dan mungkin calon bayi mereka dengan baik di kemudian hari.

Tuhan mengizinkan Taeyeon membuktikan dirinya dengan memberikan kehamilan kedua pada Jessica. Sejak saat itu Taeyeon benar-benar menjadi suami yang siaga. Bahkan ia mengajukan izin untuk bertugas di New York selama masa kehamilan Jessica agar ia bisa memonitor perkembangan kesehatan istri dan calon bayi mereka.

“Sayang.. kau harus kuat. Daddy dan Mommy sangat menantikan kehadiranmu. Jadi.. tumbuhlah dengan baik dan sehat disana.” Jessica tersenyum melihat suaminya itu mulai berbicara pada calon bayi mereka. Ia begitu senang saat melihat wajah sang suami yang terlihat begitu terkejut dan semangat merasakan pergerang sang jabang bayi di dalam rahimnya.

==== My Lady ====

“Appa..” seorang gadis berjalan menyambut kedatangan sang ayah yang baru saja tiba di sebuah restoran yang akan menjadi tempat keluarganya menghabiskan makan malam mereka. Pria yang terlihat masih tampan di umur 45 tahunnya itu tersenyum membalas pelukan sang putri yang masih manja padanya meskipun putrinya itu telah beranjak dewasa.

“Apa kau begitu merindukan Appa heumh?”  Pria itu tertawa ketika putrinya itu tak menjawabnya. Anak perempuan satu-satunya itu hanya menenggelamkan wajahnya di dadanya, mendekapnya begitu hangat dan menyenangkan.

“Appa!” kali ini seorang anak laki-laki memeluk tubuhnya dan sang putri bersamaan. Anak laki-laki tersebut begitu mirip dengan istrinya jika dilihat dari wajah sedangkan sang putri lebih mewarisi wajahnya. Secara keseluruhan mereka mewarisi good traits yang orangtua mereka miliki baik secara jasmani maupun rohani.

“Seohyun-ah.. Dareum-ah.. biarkan Appa kalian bernapas dulu.” Seorang wanita yang berdiri dari tempat duduknya berkomentar. Mendengar ucapan wanita itu, kedua remaja tadi segera melepas pelukan mereka dari sang ayah dengan wajah merajuknya. Wanita yang terlihat masih cantik dan mempesona di usia paruh baya-nya itu tersenyum melihat tingkah menggemaskan kedua buah hatinya. Kakinya ia langkahkan untuk menghampiri mereka. Berdiri dihadapan suaminya, wanita itu segera membawa sang suami dalam pelukannya. Ia kecup bibir suaminya itu ringan setelah pelukan itu ia lepas.

“Biarkan Eomma dulu yang memeluk dan mengembalikan energi Appa kalian.” Kedua anak remaja itu tertawa mendengar ucapan sang ibu.

.

.

.

“Bagaimana kabar kedua orangtuamu?” Yuri bertanya pada anak laki-laki yang duduk di samping putrinya. Anak laki-laki yang setahun lebih tua dari putrinya itu terlihat begitu tampan dan awet muda seperti ayahnya. Ia mewarisi lesung pipi manis itu dari sang ayah.

“Mereka baik-baik saja. Oh ya.. mereka sangat menyesal tidak bisa hadir hari ini Appa. Daddy masih harus menyelesaikan seminar dan pelatihannya di Hongkong sedangkan Mommy masih menjalani tugasnya sebagai istri berbakti dengan menemani Daddy. ” Yoong menjawab pertanyaan Yuri dengan penyesalan yang tergambar diwajahnya. Melihat itu, Seohyun segera menggenggam tangan kanan sang kekasih yang masih bebas.

“Tidak apa-apa Yoong. Daddy-mu sudah menelponku tentang hal itu. Lagipula.. kau ada disini saja aku sudah senang. Putriku terlihat begitu bahagia ketika kau ada disampingnya.” Yuri mengedipkan salah satu matanya pada Seohyun yang tersenyum malu dalam rajukannya. Tiffany, Yoong dan Dareum ikut tertawa bersama Yuri yang begitu menikmati tingkah menggemaskan putri sulungnya itu.

cw3nyx9viaalall

Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa Seohyun telah menginjak usia ke 22, usia akhir dari fase remaja menuju seorang wanita dewasa. Bukan hanya kecantikan di luar yang selalu membuat Yuri bangga memiliki putri seperti Seohyun, tapi kecantikan hatinya juga. Putri sulungnya itu terlihat bertambah dewasa, cerdas, rendah hati dan bijaksana seiring dengan pertambahan usianya.

Meskipun saat ini Seohyun terlihat manja padanya tapi Yuri tahu jika diluar.. putrinya itu selalu berusaha untuk menjadi gadis yang mandiri dan tidak merepotkan kedua orangtuanya meskipun kata repot itu tak pernah ada di dalam kamus Yuri jika apapun itu berhubungan dengan sang putri. Seperti contohnya hari ini dimana Yuri sengaja terbang dari Jepang ke San Fransisco – tempat Seohyun menempuh pendidikan  hukum dan medisnya di Stanford University – untuk merayakan ulang tahun putri kesayangannya itu.

screenshot_2016-11-10-23-21-26-289

Dareum

Tuhan memberikan anugerah yang luar biasa bagi Yuri dan Tiffany dengan hadirnya Seohyun yang setelahnya disusul anak laki-laki mereka – Kwon Dareum – yang lahir 3 tahun kemudian. Seohyun dan Dareum mewarisi kecerdasan dan penampilan yang menarik dari kedua orangtuanya. Selain itu keduanya juga dibekali pendidikan sikap dan mental yang baik oleh Tiffany yang sengaja beristirahat dari posisinya sebagai direktur pemasaran di perusahaan ayahnya setelah Seohyun dan Dareum menginjak usia yang ideal untuk memulai pendidikan mereka di lembaga formal seperti sekolah.

Meskipun memiliki kekayaan yang berlebih, Tiffany tetap memasukkan putra dan putrinya ke sekolah biasa meskipun banyak yang menyarankannya untuk mengambil salah satu program home schooling atau sekolah swasta yang berisi para pewaris perusahaan-perusahaan elit dan bonavit seperti yang digambarkan dalam sebuah drama (red: The Heirs).

Bagi Tiffany, keluarga adalah segalanya. Wanita yang kini menyandang marga Kwon itu lebih fokus untuk mengasuh anak-anaknya serta rumah tangganya bersama Yuri. Meskipun sedang berada di puncak karirnya, Tiffany rela melepas semua jabatan dan kekuasaan yang dipegangnya demi mendampingi kedua buah hatinya yang sedang benar-benar membutuhkan sosok seorang ibu di hidup mereka. Akan lebih baik jika Tiffany yang menangani hal apapun yang berhubungan dengan kedua buah hatinya baik itu dari pendidikan, gaya hidup dan yang paling penting yaitu tentang pendidikan agama dan karakter yang baik.

Sebelum mengambil keputusan itu tentu Tiffany berkonsultasi dulu pada sang suami yang mendukung keputusannya itu. Keluarga besar Tiffany serta Yuri juga memberikan dukungan yang baik. Dan hasil dari itu semua bisa dilihat hari ini dimana Seohyun berhasil memasuki universitas impiannya di San Fransisco sedangkan Dareum memilih untuk menetap bersama Tiffany dan Yuri di Korea Selatan dengan memilih KAIST sebagai tempatnya menuntut ilmu lebih lanjut.

Di kota San Fransisco-lah hubungan asmara Seohyun dan Yoong bersemi. Keduanya adalah mahasiswa Stanford University, salah satu universitas terbaik di dunia selain Harvard dan MIT. Disana Yoong menempuh pendidikan di bidang politik sedangkan Seohyun mengambil beban studi yang lebih berat dengan 2 bidang yang dipilihnya sekaligus yaitu hukum dan medis, sesuai dengan minat dan bakatnya. Mereka bertemu karena memiliki hobi yang sama yaitu di bidang olahraga (berkuda)  dan seni (Teater).  Karena memiliki hobi yang sama, keduanya menjadi dekat.

Tinggal di negeri orang seorang diri, Seohyun sering menyandarkan dirinya pada sosok Yoong yang selalu hadir tepat disaat gadis bermarga Kwon itu membutuhkannya. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya tanpa mereka sadari. Hingga pada suatu waktu akhirnya kedua insan itu sadar bahwa hati mereka menginginkan satu sama lain. Didasari hal itu, keduanya sepakat untuk menjalin hubungan yang lebih dari seorang sahabat seperti yang mereka jalani selama ini.

Hubungan itu berjalan lancar hingga suatu hari Seohyun mengetahui hal yang selama ini belum pernah diceritakan oleh orangtuanya yaitu masa lalu sang ibu dengan ayah kekasihnya, Kim Taeyeon. Tapi untunglah masalah itu bisa cepat terselesaikan dan akhirnya hingga saat ini, ia masih bahagia menjalani hubungannya dengan Yoong yang semakin serius dengan hubungan mereka.

Beberapa bulan yang lalu, tepatnya di hari jadi mereka, Yoong melamar Seohyun di depan kedua orangtua mereka yang sengaja berkumpul di New York untuk merayakan ulang tahun Jessica yang bertepatan dengan hari jadi Yoong dan Seohyun yang sudah menginjak tahun ke 3. Sejak hari itu ikatan keduanya bertambah kuat meskipun mereka sudah tidak berada di kampus yang sama karena Yoong sudah memulai karirnya lebih dulu di salah satu instansi pemerintahan di New York bersama ayahnya yang kini sudah memiliki jabatan yang cukup tinggi di kepolisian New York.

Ring.. Ring.. Ring..

“Hallo.. Yoong?” suara wanita terdengar saat Yoong mengangkat panggilan Skype-nya. Suara itu kini ditemani visual berbentuk video yang memungkinkan penggunanya untuk bertatap muka meskipun mereka berada di belahan dunia yang berbeda.

“Yes.. Mom..” Yoong tersenyum melihat ayah dan ibunya berada dalam satu frame. Baginya, Taeyeon dan Jessica adalah pasangan yang menjadi idolanya. Dari mereka ia banyak belajar tentang membangun, mengelola dan mempertahankan sebuah hubungan. Ilmu yang mereka berikan ia gunakan dalam menjalankan komitmennya bersama Seohyun dan hasilnya.. hingga hari ini ia masih bahagia menjalani hubungan itu bersama adik tingkatnya yang terbilang jenius itu.

“Sambungkan kami dengan Hyunnie, Son. Kami ingin berbicara dengannya.” Disamping Jessica, Taeyeon berbicara. Raut wajahnya terlihat lelah sekali. Tapi meskipun begitu, senyum khas ayahnya yang manis dan hangat masih terlihat. Dengan itu Yoong memberikan smarphone-nya pada Seohyun yang begitu senang bisa menemui orangtua sang kekasih yang sudah ia anggap seperti orangtuanya sendiri.

“Hallo Mom.. Dad! Aku merindukan kalian.” Sapa Seohyun dengan senyum bulan sabitnya yang ia warisi dari sang ibu yang tersenyum bahagia disampingnya melihat sang putri begitu antusias menyapa Taeyeon dan Jessica lewat layar kaca.

Dari kejauhan Tiffany memperhatikan Seohyun yang terlihat begitu senang saat berbincang dengan – Taeyeon dan Jessica – orangtua Yoong. Putrinya itu kini telah dewasa dan siap untuk menikah. Rasanya.. baru kemarin Seohyun menangis padanya karena putrinya itu tidak bisa menalikan sepatunya. Sekarang.. putrinya itu sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang siap menjalani salah satu takdirnya, yaitu menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya kelak.

“Seohyun.. dia terlihat begitu bahagia Sayang. Itu berarti kita sudah melaksanakan tugas kita sebagai orangtuanya dengan baik. Terimakasih Tuhan.” Tiffany berucap dalam diamnya, menatapi sang putri yang tertawa mendengar banyolan konyol dari Taeyeon yang membuat Jessica dan putranya itu pecah dalam tawa yang merdu.

Dari belakang, tubuh istrinya itu Yuri peluk. Ia menyenderkan dagunya di bahu sang istri yang menggenggam kedua tangan yang ia lingkarkan di perut istrinya itu. Jika berada dalam posisi seperti ini, cukup dengan menghirup aroma khas istrinya itu, apalagi disertai dengan bentuk intimasi lainnya, semua lelah yang Yuri rasakan seakan perlahan menghilang. Energi yang terkuras tadi seperti terisi lagi dengan sendirinya. Mungkin karena itulah Yuri tidak pernah ragu berkata pada orang lain bahwa istrinya – Tiffany – adalah baterai kehidupannya.

“Kau benar Sayang. Dia terlihat begitu senang.” Yuri mendesah puas menutup kedua matanya, terlihat begitu bersyukur dan menikmati apapun yang ia miliki serta rasakan saat ini.

 “Aku juga ikut bahagia melihatnya seperti itu Oppa. Meskipun aku tak bisa bohong.. aku sedih menyadari Hyunie akan segera menjadi milik suaminya.”

“Ahh.. Sayang. Jika kau merasa seperti itu.. berarti kita sehati hehehe.” Tiffany tertawa menerima kecupan-kecupan yang Yuri berikan pada pipi, leher dan bagian lain kepalanya.

“Oppa.. disini masih banyak orang.” Tiffany berusaha menjauhkan wajah Yuri yang sejak tadi menciuminya meskipun tamu-tamu lain masih ada di restoran tersebut, belum lagi dengan kedua putra mereka bersama Yoong.

“Okay… baiklah maafkan aku Sayang. Kau tidak bisa menyalahkan aku yang begitu merindukanmu setelah 4 hari ini berpisah darimu.” Meskipun kecupan dan ciuman itu telah berhenti, pelukan itu masih belum Yuri lepas dari tubuh istrinya itu.

“Aku juga merindukanmu Oppa.” Yuri tersenyum begitu lebar mendengar jawaban sang istri. Tidak ada yang lebih baik saat seorang mengetahui bahwa dirinya dirindukan, apalagi jika orang tersebut adalah seseorang yang begitu dicintai.

“Benarkah?” Tiffany menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya itu.

“Syurkulah. Kalau begitu.. nanti malam.. kita…” Tiffany tersenyum menahan tawanya mendengar Yuri berbisik seperti itu padanya.

Old habits die hard’ ucap Tiffany dalam hatinya melihat tingkah antik sang suami yang tidak pernah berubah.

cw3nfmuuaaachze

“Appa!”  teriakan itu menghentikan apapun yang akan Yuri ucapkan pada Tiffany yang tertawa kecil membayangkan wajah frustasi suaminya yang masih sangat… sangat.. terlihat tampan dan karismatik baginya. Hal itulah yang selalu membuat Tiffany bersyukur kepada Tuhan.  Selain tampan hati.. Yuri juga memiliki ketampanan wajah dan postur tubuh yang mengesankan. Karena itu.. meskipun mereka sudah separuh baya, tapi kegiatan seksual itu masih aktif mereka lakukan sehingga hasilnya.. kehidupan rumah tangga mereka masih hangat dan harmonis hingga saat ini.

“Iya Sayang?” Senyum itu Yuri berikan pada sang putri untuk menutupi rasa kesalnya. Seohyun menghampiri kedua orangtuanya yang sedari tadi asik dalam dunianya sendiri. Ia menyerahkan smartphone sang kekasih yang ia gunakan sejak tadi untuk berkomunikasi dengan calon mertuanya.

“Hai Kwon!” sapa Taeyeon antusias.

“Hai Kim..” Yuri menyembunyikan wajah semangatnya dengan menampilkan wajah bosannya pada sang sahabat yang malah terlihat jauh lebih lelah darinya.

“Eiii kau lucky monkey! Kau pura-pura terlihat bosan padahal kau senang kan melihatku?” Tawa Yuri pecah saat mendengar godaan sahabatnya itu. Jessica yang ada disampingnya juga ikut tertawa mendengar candaan sang suami.

“Hai Tiff!” Jessica menyapa Tiffany yang membalasnya antusias. Kedua wanita itu lalu mulai mengobrol sementara suami mereka terdiam dalam senyuman mendengar kehebohan sang istri saat bercerita mulai dari hal yang penting hingga yang tidak jelas sekalipun. Merasa lelah, kini Tiffany dan Jessica berhenti berbicara, mereka membiarkan sang suami yang mulai berbicara.

“Kim.. kau harus segera mengisi ‘cakra’mu. Wajahmu terlihat jelek jika loyo seperti itu.” Ucap Yuri terlihat khawatir meskipun sebenarnya terselip ejekan didalamnya.

“Cakra? Ah.. yayaya. Hahaha.. mungkin besok pagi. Aku tidak kuat jika malam ini.” Jessica dan Tiffany terdiam mendengarkan percakapan suami mereka.

“Ah.. payah kau. Aku saja nanti malam akan mengisinya hahaha. Iya kan Sayang?” Tiffany tak mengerti dengan ucapan suaminya itu. Ia hanya terdiam melihat wajah bahagia dan penuh kebanggaan milik sang suami yang diberikan padanya.

“Apa? Kau serius? Kau baru saja melakukan penerbangan yang cukup lama dan kau akan menguras staminamu lagi? Wow Fany-ah.. suamimu ini sungguh seperti Monster! Sex Drive-nya begitu tinggi. Apa dia sering mencoba teknik-teknik baru yang kuberikan…” mendengar balasan Taeyeon, sepertinya Tiffany dan Jessica mulai mengerti pembicaraan aneh suami mereka.

“Kim Taeyeon.. Kwon Yuri!” Jessica membekap mulut sang suami yang mencoba melepas tangan istrinya itu dari bibirnya sedangkan Yuri, pria bermarga Kwon itu meringis kecil saat Tiffany menjewer kupingnya. Melihat itu.. Yoong, Seohyun dan Dareum hanya bisa geleng-geleng kepala dalam tawa mereka.  Pada akhirnya mereka semua hidup dalam kebahagiannya masing-masing.

-Fin-

==========================================

====================

==========================================

Author Note:

Apa yang sudah tertulis diatas adalah ending yang isinya mengikuti apa yang hati aku inginkan. Dari sudut pandang aku sebagai pembaca, aku gak setuju dengan cinta yang Taeny kembangkan dari awal. Itu adalah kesalahan. Aku tahu tahu cinta bisa egois. Tapi menurut aku cinta yang sebenarnya adalah cinta yang tidak menyakiti siapapun, baik yang kita cintai atau orang di sekelilingnya.

Aku sadar pada akhirnya apa yang aku tulis mungkin tidak bisa memuaskan banyak orang dengan selera yang berbeda-beda, yang sialnya selera kebanyakan orang berbeda dengan seleraku dan sedihnya, aku masih ingin merebut hati kalian agar tetap membaca cerita yang ingin kubagi dengan kalian. Sebisa mungkin aku ingin menghargai mereka yang sudah setia menunggu cerita ini yang sejujurnya tidak akan aku selesaikan karena ada beberapa masalah yang hingga hari ini masih belum mampu aku selesaikan di kehidupan nyataku.

Tapi.. berkat doa kalian semua mungkin aku masih bisa bertahan hingga hari ini.

Secara tidak langsung kalian yang ada disini adalah keluarga virtualku. Meskipun aku tahu mungkin kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan pada kalian. Tapi saat membaca komentar kalian, hati ini rasanya senang karena mengetahui aku masih bisa membuat orang bahagia dengan apa yang mereka baca.

Jadi untuk mereka, pendukung gembok dan kunci yang sudah bersusah payah untuk membaca cerita ini,  aku memutuskan untuk membuat 2 ending yang berbeda.

1 menuruti kata hati dan idealismeku.

1 lagi sesuai minat pasar.

My Lady Taeny Version!!!!

My Lady Taeny Version akan dipost dengan password beberapa hari setelah post ini dipublish.

Password-nya bisa kalian ambil di ending ini.

Passwordnya adalah nama panggilan Yuri yang Taeyeon berikan di percakapan mereka bersama para sang istri di akhir cerita ini.

Mudah kan??? kalian ga perlu repot-repot menghubungi aku lagi.

Selamat mencari dan Have Fun!

Oh ya.. kenapa aku mau repot-repot membuat ending lain yang sebenarnya hati aku tolak?

Mungkin itu adalah cara lain untuk menyampaikan rasa terimakasih dan sayang aku untuk kalian semua para pecinta gembok dan kunci yang masih setia mengunjungi blog ini.

Terakhir…

Doa aku untuk kalian semua, semoga kalian bisa mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya. Bukan hanya kebahagiaan di dunia tapi di akhirat kelak. Karena sesungguhnya kehidupan yang abadi adalah disana. Aku berharap apa yang sudah aku tulis bisa menggapai hati kalian baik itu kalian senangi atau tidak. Setidaknya saat kalian sudah tidak menjadi pecinta fanfict lagi, saat kalian melihat nama aku di halaman pencarian, kalian ingat bahwa aku adalah seorang penulis amatiran yang pernah hinggap di pikiran kalian.

cw3nkczucaam4tn

 

cxd1vc5ukaadtne

Bye!

Iklan

86 pemikiran pada “My Lady (Shoot Final Part 3)

  1. Yaps menurut ku cinta taeny adalah kesalahan, bagaimanapun ketika kita menyadari seseorang masuk dalan hati kita padahal hati kita sudab berkomitmen dengan yang pertama bener bener akab sakit banget klo sampe pengorbanan yul selama ini di tusuk sm sahabatnya sendiri. Kalo ngerasa nyaman sm yg baru ya wajar saja karena taeng selalu ada buat fany beda sm yul yg sibuk, namun yul sesibuk appun selalu berusaha ngejaga tiffany

    Btw makasih ya toor udah mau update, di tunggu ff ya lainnya, yulti yoonsic boleh hehehe

  2. Waw happy ending akhirya kwon yuri bahagia……..😀😀😀
    akhirnya kebaperan gw berakhir di part ending
    note buat author semangat semangat apapun masalah yg sedang loe hadapi thor jalanilah dengan ikhlas dan sabar semua masalah pasti ada jalan keluarnya (gw sok banget yach nasehatin orang nasehatin diri sendiri aja susah 😂😂😂😂)hidup ini indah thor bila kau tau jalan mana yg benar dan harapan itu pasti ada jika author percaya(nyontek lirik lagu)jika allah memberikan cobaan sama kita berarti dia sayang sama loe thor karna di masih memberikan teguran berupa masalah yg loe hadapi jdi semangat dan berdoa semua akan indah pada waktunya……sekian dan terimakasih soory klw coment gw gk nyambung😉😉

  3. Wah happy ending mereka ditambah yoong sma hyunie 😱😱
    Yeay ending,walaupun ending nya bkn taeny gak papa deh,semoga nnti author mempunyai ide untuk bikin cerita yg ending nya taeny 😁😁

  4. yeah…
    taengsic jjjang…
    sweet bgt sih…

    dan yah cinta tau kemana jalannya
    sejauh apapun dia melangakah cinta sejati pasti kembali….*apaansih

    selamat untuk fanny yg udh mendapat kebahagian nya bersama yuri.dan terimakasih untuk tdk meninggalkan pria sebaik,sesabar,dan penyayang sperti bpk kwon😂😂😂😂

    untuk taeng..duh maaf yeh kemarin2 aq emosi…
    perlakuan nya dia ke sicca seketika buat rasa kesel aq kemarin2 hilang sudah.dia bener2 udh berubah…

    JETI beruntung lah dapetin suami cem TAERI

    suka bgt ending nya pokonya

    terimakasih ya Ma
    soalnya scen taengsic gk cuma ketemu,makan udh gitu😂😂😂😂
    tp byk…

  5. Udah gue bilang gue ikhlass kan😅
    Yg penting tiffany bahagia deh gpp, itu yg utama😅
    Gue makin ikhlas karena yg lain bahagia, biar taeny gak nyatu lagian bakalan digantiin sm anak2nya hmmmmmm….

    Wessssss ada taeny versionyaaaa yuhhhuuwww💃💃💃
    Ilovyuuuuu thorrrrr mwahhh😙
    Hahahahaha😂

  6. terharu bgt dengan note.mu thor,
    sebenarnya ending cerita ini cukup memuaskan, bisa dibilang perfect lah,

    cinta yg tidak menyakiti, masing2 dari pasangan ini punya banyak pelajaran yg bisa dipetik, dari sebuah penantian, kesabaran, dan keikhlasan.

    jijjaaaa, ff ini selain menjadi sebuah hiburan, tp jg banyak pelajaran yg bs dipetik,
    gomawo untuk karya2mu yg sangat mengagumkan thor,

    q tunggu karya2mu selanjutnya.

    I’m proud became loyal’s reader.

    • aku seneng kalau tulisan ini bisa bermanfaat lebih selain menghibur. makasih karna km juga masih main ke blog ini, baca tulisan absurd dan amatiran yg kadang suka gatau kpn diupdatenya. Paling nunggu mood yg pas sih buat nulis.

  7. First kah ? Hehe semoga iyaaa. Kalo ga juga gapapa.. Suka sm endingnya.. Udh di ksh spoiler sih kayak gmn cm di ubah lagii wkwkwk tapi udah expect sih kalo akhirnya Yulti dan taengsic mereka bakal punya anak terus anaknya bakal punya hubungan dan jeng jeng ternyata bener. Agak penasaran sih perasaan both of couple itu gk nyangka mereka bakal besanan ? Wkwk
    But i like the ending.. Dirimu sangat bijak walaupun terkadang pikiran kita reader berbeda dengan pikiran kaka sendiri ttp tetep memperhatikan minat pembaca..
    Good job !
    Apatuh password yg di maksud ? Ini yah ? ” lucky monkey” ? Saya komen apa kasih tau org yah passwordnya ? Wkwkw
    Ditunggu another great fanfic nya kalo bisa pairingnya yoonfany 💕 haha see you in another story
    Love you yakk 💕💕😘😘

  8. tuh kan apa gw kata bener kan itu yul…
    hmmm gmna yah…di satu sisi gw seneng satu sisi lg gw lebih ke “why” dgn sikap taeny maupun taeyul…utk sica ga terlalu gmn gw nya krn emang dr awal sica tuh innocent victim in this story…jd mau ceritanya ending seperti apapun pasti sica akn tersakiti terlebih dahulu…
    dan menurut gw sih yul itu tersakiti selama ini krn ke-egoisan nya sendiri plus ketidak beranian nya terhadap kehidupan/fakta yg ada…
    hukum sebab-akibat berperan penting disini…
    terus utk taeny…emang bisa sebegitu gampangnya klian melupakan seseorang yg emang-nyata-klian sadari-klian tau-bahwa dia org yg klian cinta yg jg mencintaimu???di hari itu ppany lgsg terima yul sebagai suaminya jg taeng yg lgsg lamar sica depan smua org…that kind of imposible for me…especially about something powerfull called LOVE…
    terus apa lg yah…gw bingung mau jelasin gimana*plakkk* sooo gw masuk list reader yg suka ga suka dgn ending yg ini*plakkk emang ada???*
    apa lg gw org yg “if you love something fight for it!” beda bgd ama taeng yg “if you love something/someone you have to learn to let it go”
    hahaha
    tp seperti yg di katakan salah satu penulis favorit gw “cinta itu bisa di tanam,di semai lalu di pupuk hingga tumbuh.krn hati itu fleksibel tdk mutlak.”-Esti Kinasih.Still

    • aku ngerti sih maksud km disini, sebenarnya itu juga yg jadi keraguan aku untuk posting ending ini. Tapi awalnya aku pikir reader gakan seteliti km buat ngeanalisis cerita.
      Maka dari itu aku senang baca komen km yg positif dan membangun
      Thanks😘
      Tapi ini penjelasan aja ya, jadi gini loh, pada awalnya ending hanya ada 1, yaitu taeny. Tapi setelah aku baca beberapa komen yg kurang suka dgn ending taeny, setelah aku pikir lagi sih iya. Mereka egois loh. Dan sebagai penulis itu salah aku yg bikin mereka seperti itu😂
      Jadi pada akhirnya aku putuskan untuk bikin 2 ending, yaitu yg hati ak mau dan yg reader mau.
      Setelah yuri selamat dari nozo group, rencananya aku tetep mau bikin yulti nikah, begitupun dgn taengsic. Tapi beberapa tahun kemudian yulsic meninggal dgn alasan yg berbeda sehingga pada akhirnya taeny bisa bersatu.
      Cuma ak pikir lagi ini ga adil buat mereka yg mengharap happy ending untuk Yuri dan Jessica yg dalam cerita ini melakukan banyak sekali pengorbanan untuk orang” yg mereka cinta.
      Aku paham ‘why’ km itu terjadi karna aku ga jelasin lebih detail ttg apa yg ada di hati taeny saat mereka memutuskan untuk menikah dgn yulsic.
      Tapi ak udah ngegambarin ko perasaan cinta Tiffany yg blm padam pas nikahan taengsic saat fany meluk dan bilang cinta ke taeng terakhir kalinya.
      sebenernya taeng sendiri dia masih cinta sama fany ko, cuma dia milih untuk mengkonversi cinta itu menjadi bentuk lain dan mulai mencintai jessica. Emang sih disini aku ga terlalu jelasin dari sudut pandang taeyeon karna aku ga terlalu dapet feelnya saat nulis karakter taeyeon dichapter ini😂
      Pada intinya.. apa yang aku tulis adalah sebuah fiksi atau fantasi dimana hal yg tidak mungkin terjadi bisa saja aku buat disini sesuka hati aku😁
      Jadi di cerita aku.. ya nothing impossible.
      Tapi balik lagi semua ke selera masing”
      km dgn apa yg km pegang dan aku dgn apa yg aku yakini saat aku menulis sesuatu.
      Tapi sekali lagi thanks komennya.
      aku menunggu komen-komen berkualitas seperti ini😘.
      Buat yg lain bukan berarti komennya ga aku tunggu ya hehehe
      cuma asik aja kalau ada reader yg bisa kasih aku masukan untuk nulis yg lebih baik lagi💟💟💟💟💟💟💟💟

      • mungkin thor-klo dr sudut pandangku- barangkali yulti merit nya ditunda dlu,,terus taeny nya yg menderita*plakkk jahat amat gw* lebih dlu krn perasaan masing” dan krn telah menyakiti org yg mereka cintai dan mencintai mreka…
        terus yulti ama taengsic merit beberapa tahun kemudian stelah menata kembali perasaan mreka masing”…
        btw thank for the compliment thor^^

  9. bener jg sih cintanya taeny dari awal itu kesalahan, karena pany udah punya tunangan dan taeng datang mau merebutnya
    susah lo punya cowo kaya yul yg menerima pany apa adanya, dari pehiatan pany dengan sahabatnya
    dan akhirnya yg bersatu itu anaknya yulti ama taengsic hehehe

  10. ^^ jujur bwgd ps buat aq kagum.. aq tak pernah meminta jika jln cerita ini sesuai pikiran qu tp krna ini kerja keras author aq pun sbgai reader baru sangat amat menghargai ini.. wlpun susah buat TAENY itu nyata di dlm pemikiran qu dan lebih baik sang penulislah menetukn ending ini di bw kmna seperti yg aq liat ini tuh ending yg sedih sekligus membahagiakan… krna itu maqy ucapkan terimakasih thor mau melanjutkan ff ini… krna gembok dan kunci bisa menghargai ini^^.. turut bahagi

  11. Intinya di sini belajar “ikhlas”
    Walaupun memang cinta itu “egois” krn berawal dr “kesalahan” yg kalau hrs dilanjutkan akan menyakiti banyak pihak..walaupun sebenarnya yg membuat kesalahan itu sendiri tersakiti ..
    Tp klu semua ikhlas kyknya jd damai ya thor 😊(walaupun di awal agak nyesek) tp liat ending yg happy buat semuanya …..
    jd senang aja liatnya 😀
    Mungkin pr gembok n kunci akan dpt sensasi yg beda klu baca versi satunya…
    😁

  12. Ahhhh leganya kekekeke, setidaknya sebagai pembaca dan penikmat ini cerita dari awal mengetahui akhir dari cerita nya seperti ini bagus thor. Salut sama author yang ga terpengaruh sama keinginan pemirsaah kekeke. Terima kasih telah membuat ff yang menarik dan kadang bikin gue sebel sendiri dan makasih buat endingnya thor (kitasepemikiran) wkwkwkkw. Meskipun gue selalu bilang kubu yuri, itu sebenernya gegara gue ga rela kalo ini taeny, karena gue kalo baca ff selalu mencoba memakai persepektif pembaca bukan copeel or shipper.

  13. Aaakkkk happy setelah tiffany hamil wkwkwkk

    Beruntung banget tiff punya yul yg memperjuangkan mempertahan dia. Huaaaaa masih mau padahal fany jahat. Omg fany masih sempet bilang cinta. Wkwkwk

    Dah sampe akhir perjuangan pun yul yg mempertaruhkan harga dirinya yg udh diinjek injek. Salut bangeeettt cinta macam apa yg gitu tulus 😢 *pelukyuuulll
    Tapi untunglah fany mau ngebuka hatinya lagi buat yul. Hehehe walau masih sebel gueee ahahhaa

  14. setuju thor.. kadang kalo dipaksa buat ending nya taeny..kesan nya cinta itu jadi jahat, terlalu banyak orng yg tersakiti.. karna sesuai pepatah “cinta itu tidak harus memiliki” .. yah wlaupun jg gua rada nyesek sebagai LS but gua selalu puas..nice ff… setiap perbedaan yg ada di ff elu itulah yg bikin menarik dan cuma di ff elu gua ikhlas banget ama taengsic hehe 😀 ..mengaduk perasaan pisan lah:D .. oke semangat kedepan nya thor^^

  15. Yuri suami idaman sering disakiti tapi tetap bertahan semoga kelak memiliki suami seperti yul …happy ending buat kedua pasangan next time bosa ga ya buat pairing taengsic lagi demen banget ama mereka

  16. Akhirnya malah YulTi TaengSic. Yah, walaupun aku ga terlalu suka ama couple ini, tapi ini kan cerita milik author. Terserah author mau di bikin siapa couple-an ama siapa. Kita2 yang readers mah enjoy aja menikmati ceritanya

  17. Setelah baca nih ending, aku mulai berpikir bahwa memang seharusnya inilah yang terjadi. Yulti ama Taengsic bersatu. Yahh….. Walaupun aku masih nggk rela….. 😭😭😭😭. Krn aku lebih suka taeny…… 😭😭.

    But it’s oke. Utk ff kali ini yg aku baca terdapat beberapa hal yg menjadi pelajaran buat aku. Inti dr pelajaran itu ialah bagaimana kita dpt mengikhlaskan dan merelakan segala apa yang kita cintai atau miliki utk org lain.

    Eaaakkk…… 😂😂😂😂😂😁😁😁

    Hehehhehehehehe…………. 😁😁😁😁😁
    Oke aku tunggu My Lady Taeny Ver nya thor…

  18. Ping balik: Password My Lady Taeny Version!!!! | Be Different

  19. Ahhh rumput tetangga memang jauh lebih indah bila dibanding ama rumput sendiri..
    Cinta datang karna terbiasa dg kehadiran dr orang yg memberi perhatian lebih utk kita hingga fany jadi ngelupain klo dy punya cinta jauh lebih baik dr yg tae berikan sama halnya tae ngelupain gimana hebatnya jessica buat dy

  20. akhirnya slsai juga bacany,, 😀
    terhibur,, banya pesen,,sama2 happy akhirnya. hyah kadang cinta ga hrz miliki ckup seseorg itu tau kita pernah dan akan sllu menyayanginya dgn cara laen, kyakna lbh baik.
    klo lepasin gtu awalnya iklas ga iklas, toh nanti klo udh lewat pasti bisa juga. buat risma sehat sllu,, & sllu dapat kebahagiaan skrg n selamanya,, semangat nulisnya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s