My Lady (Shoot Final Part 2)

my-lady2

“Terkadang.. cinta bisa sebodoh itu.

Takdir bisa sekejam itu dan tak masuk di akal.

Kesedihan itu pasti menghampiri kita.

Tetapi jika kita bersabar dan percaya pada rencana Tuhan.

Kebahagiaan itu akan datang dan semua akan indah pada waktunya.”

Author Note:

Kencangkan sabuk pengaman perasaan Anda sebelum membaca cerita ini.                   

 

                         Siap?

 

                                     Mari kita mulai!

 

                                                                         Have Fun ^_^

 

============================

===========

============================

 

My Lady Shoot Final Part 2

 

crperfeviaaxdqa

“Taeyeon.. membalaskan dendam atau memaafkan itu adalah pilihanmu. Jika kau cukup ikhlas dengan kematian Jinhee, mungkin kau tidak perlu membawa orang lain dalam kesengsaraanmu. Jika kau memang ingin membalaskan dendammu pada Appa, harusnya kau segera membunuhnya saja. Jangan membawa aku dan Tiffany dalam masalahmu. Tiffany tidak tahu apa-apa. Okay aku akui aku salah tapi Tiffany? Kau masih ingin bilang bahwa kau mencintai wanita yang selama ini telah kau rencanakan untuk kau bunuh, selain aku dan Appa-ku?”

“Taeyeon-ah.. mari kita buat semuanya menjadi lebih mudah dan tidak menyakiti banyak pihak. Kau pikir lagi, jika kau nekat menikahi Tiffany.. maka bukan hanya aku dan Jessica yang akan merasa tersakiti dan terkhianati tapi keluarga Tiffany, Jessica dan tentunya keluargaku. Saat menjadi kekasihku, Tiffany bukan hanya memberikan cintanya padaku, tapi pada keluargaku juga. Begitu pula yang aku lakukan padanya. Coba kau pikir.. bagaimana reaksi Eomma dan Daddy Tiffany saat mengetahui bahwa putrinya selama ini berselingkuh dariku. Lalu Jessica… Taeyeon-ah.. aku yang tidak terlalu dekat dengannya seperti Tiffany saja tahu betapa dia mencintaimu. Dia tak perlu menuliskan essay tentang seberapa besar cinta itu ia berikan hanya untukmu. Tatapan mata dan aksinya sudah berkata lebih keras dari perkataan di bibirnya.”

“Semua ada padamu Taeyeon-ah. Apa kau memilih untuk mengikuti egomu atau melindungi perasaan orang-orang disekitarmu yang tentunya menyayangimu.” Semua yang sudah dikatakan Yuri tadi bagai panah yang tepat menembus jantungnya.

“Taeyeon-ah?” cukup lama Taeyeon terdiam setelah Yuri memberikan pilihan yang sungguh sulit  tadi. Ia benar-benar memikirkan semua yang telah Yuri katakan dan harus ia akui itu benar.

“Yul.. apa aku egois?” Yuri terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia tatap wajah sahabatnya yang terlihat begitu sendu.

“Apa yang kau bilang tadi.. semuanya benar. Dan aku baru sadar bahwa selama ini aku adalah pria yang sangat egois.”

“Aku selalu menganggap diriku sebagai korban, korban dari semua kegilaan di dunia ini.”

“Tapi setelah mendengar apa yang kau katakan tadi.. aku tahu bahwa akulah orang yang membuat banyak pihak terluka. Akulah orang yang paling jahat dalam semua ini. Aku telah menyakitimu, Tiffany dan Jessica.” Terkadang kita harus ditampar terlebih dahulu oleh sesuatu hingga sadar bahwa apa yang kita lakukan selama ini salah. Mungkin itu juga yang terjadi pada Taeyeon saat ini. Setelah terjadi perdebatan batin, akhirnya ia sadar bahwa apa yang dikatakan Yuri benar.  Melihat sahabatnya yang terlihat begitu jatuh dalam penyesalan dan kesedihan membuat hati Yuri tergerak. Ia berjalan untuk duduk di samping Taeyeon yang masih terdiam dalam rasa bersalahnya.

“Keegoisan adalah hal yang manusiawi Taeyeon-ah. Manusia adalah gudangnya kesalahan tapi dari itulah kita belajar mengenai hal baru.” kata-kata itu Yuri ucapkan tanpa perasaan yang berat di hatinya.

“Harus kuakui aku kecewa.. aku sakit hati.. aku marah saat aku mengetahui bahwa ternyata kau telah mematahkan janjimu. Semua perasaan tidak menyenangkan itu bertambah saat aku mengetahui bahwa kaulah orang yang selama ini merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan calon istriku dan pada akhirnya membunuh Appa. Tapi aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang membuatku bisa tetap berada disini bersamamu tanpa mengotori hati dan pikiranku dengan sebuah emosi yang pada akhirnya hanya akan menghancurkanku. Kau ingin tahu apa itu?” Tangan itu Yuri raih untuk ia genggam. Ia ingin sahabatnya itu fokus pada apa yang akan dikatakan selanjutnya. Genggaman tangan itu membuat Taeyeon mengangkat wajahnya, mengalihkan pandangannya pada Yuri yang tersenyum lembut padanya. Senyum yang dulu membuatnya yakin bahwa Yuri akan menjadi sahabatnya dulu saat mereka pertama kali bertemu, saat Yuri dengan beraninya menyelamatkan Taeyeon dari orang-orang yang ingin mem-bully-nya pada saat mereka masih kanak-kanak.

 

“Taeyeon-ah.. kita tidak pernah tahu dan tidak bisa memilih pada siapa rasa cinta itu akan berlabuh. Kita bisa berusaha mencoba untuk mengendalikannya tapi di akhir, kuasa Tuhanlah yang berkehendak. Aku mengerti ini bukan maumu untuk jatuh cinta pada Tiffany. Ini pasti bukan hal yang kau persiapkan dalam rencanamu untuk membalaskan dendammu pada Appa-ku ”

“Yuri..”

“Aku tahu bahwa kau benar-benar mencintai Tiffany. Kau akan melakukan apapun untuk melindunginya.”

“Akio!!!” samar-samar Yuri bisa mendengar suara seorang pria yang terlihat begitu murka pada pria yang sudah menyiksanya sejak tadi.

 

“Hello Brother.. mengapa kau emosi seperti itu?”

 

“Kau.. brengsek! Sudah kubilang jangan menyentuh Tiffany!” Akio terjatuh kesamping kiri menerima pukulan cukup keras yang Taeyeon layangkan padanya.

 

“Eurgh!” ringis Akio menyentuh pipinya yang terasa begitu sakit.

 

“Dimana dia sekarang?” Taeyeon membawa tubuh Akio untuk berdiri sejajar dan berhadapan dengannya. Akio terlihat masih kesakitan. Ia tak menjawab pertanyaan yang Taeyeon ajukan padanya.

 

“Akio!” Teriakan itu Taeyeon kumandangkan tanpa menyadari bahwa sebenarnya Yuri sedang mendengarkan percakapannya dengan Akio.

 

“Eurgh! Kau sungguh menyebalkan!” Akio melepas kedua tangan Taeyeon yang menarik kerah kemejanya cukup kuat. Ia mendorong tubuh pria bermarga Kim itu sedikit menjauh darinya. Jika ia tak mengingat hutang budinya pada Taeyeon yang sudah menyelamatkannya saat ia berada diujung maut beberapa tahun yang lalu, mungkin pria dihadapannya itu kini hanya tinggal nama.

 

“Akio..” Taeyeon menggeram pelan dengan tatapan membunuhnya sementara pria yang dipanggilnya itu hanya mendengus kesal dan memutarkan pandangannya.

 

“Aku hanya membuatnya tidur cukup lama hingga misi kita selesai.” Sebuah kunci terlempar ke arah Taeyeon yang segera menangkapnya.

 

“Sejahat dan sebrengseknya Akio Nozohara, aku adalah pria yang tidak akan melanggar janjinya seperti yang kau lakukan pada sahabatmu. Aku sudah memperingatkan anak buahku untuk tidak menyentuhnya. Kau bisa mengeceknya jika tak percaya padaku.” Dengan itu Akio pergi meninggalkan Taeyeon yang tertegun mendengar ucapannya.

 

 

“Terimakasih karena kau telah mencintainya dan menjaganya hingga hari ini. Aku ucapkan terimakasih.” Meskipun Yuri adalah seorang pria, tapi ia tak segan untuk memperlihatkan emosi terdalamnya melalui sebuah air mata atau tangisan. Baginya menangis bukanlah sebuah bentuk kelemahan. Tapi itu adalah bukti bahwa dirinya – manusia – masih memanusiakan dan menghargai perasaannya. Ia masih menghormati fitrahnya sebagai manusia yang terkadang memang bodoh dan tak berdaya. Hanya kepada Tuhanlah tempat ia meminta dan berkeluh kesah – memohon agar fitrahnya itu bukanlah sesuatu yang akan membuatnya kehilangan arah dalam hidupnya.

“Yuri-ah..”

“Aku percaya kau pasti akan memilih yang terbaik.”

.

.

.

Tiffany POV

“Oppa..” panggilku pada pria yang masih serius membaca buku fiksi science criminal-nya. Aku masih menjadikan pahanya sebagai bantalku. Kami masih bersantai di taman Villa milik keluarga kekasihku di Jeonju. Sejak tadi pagi kami menikmati keindahan alam yang Jeonju sediakan. Udara pagi yang menyejukkan itu membuat pikiranku terasa baru dan semangatku bertambah. Apalagi jika ada Oppa disampingku.

Yes.. My Lady?” ia memberikan tanda pada halaman terakhir yang dibacanya. Aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagia saat priaku ini memberikan fokus itu padaku, bukan yang lain.

“Aku mencintaimu.” Kedua jendela jiwanya itu menatapku dengan berjuta rasa yang tak bisa kujelaskan satu persatu. Yang jelas aku bahagia karena dia akhirnya mau jujur pada perasaannya dan berani mengambil sikap untuk hubungan kami.

“Oppa..” setelah berulang kali panggilanku tersambung pada kotak pesan suaranya akhirnya Taeyeon Oppa menjawab teleponku.

 

“Ya?” jawabnya singkat tak seperti biasa. 3 bulan telah berlalu sejak kematian Appa Kwon. Sejak saat itu intensitas pertemuanku dengan Taeyeon Oppa menjadi berkurang setelah masalah dengan Nozo Group selesai. Yuri Oppa berkata bahwa ia dan Nozo Group telah mencapai kesepakatan sehingga mereka tak mungkin lagi bisa mencelakaiku. Sejak saat itu Taeyeon Oppa berhenti menjadi pelindungku.

 

 Sejak saat itu pula Yuri Oppa memutuskan untuk mengumumkan putusnya hubunganku dengan Taeyeon Oppa ke public. Yuri Oppa tidak ingin publik kaget saat mengetahui berita hubunganku dengannya sudah membaik dan kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih lagi.. Aku tidak bisa menolak ide Yuri Oppa karena ia masih belum tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Selain itu aku juga tidak bisa meninggalkan Yuri Oppa dalam masa berkabungnya sendiri. Intensitas kebersamaanku dengannya menjadi semakin bertambah. Dia sering menghabiskan waktu istirahat dan luangnya denganku baik itu di apartemen milikku ataupun di rumahnya.

 

Sejak kematian Appa Kwon, Yuris Oppa juga memintaku untuk memproses lagi rencana pernikahan kami yang sempat tertunda karena alasan Nozo Group dan lainnya. Mengetahui itu.. aku tak tahu harus bersikap apa. Satu sisi aku ingin menolak tapi sisi lain dalam diriku tak bisa menolaknya. Melihat kesedihan dan semua yang telah dialaminya dalam beberapa bulan ini, aku tak bisa menggerakan lidahku untuk menolak idenya untuk memproses lagi rencana yang dulu selalu membuatku ingin segera melaksanakannya.

 

Lalu bagaimana hubunganku dengan Taeyeon Oppa?

 

Heumh.. ini sungguh sulit untuk dijelaskan. Aku yakin bahwa aku mencintainya dan dia juga mencintai aku. Tapi aku belum yakin bahwa kami siap mengambil langkah lebih jauh dalam hubungan yang samar ini. Jika kami mengambil langkah lebih jauh maka itu berarti aku dan Taeyeon Oppa harus jujur tentang hubungan serta perasaan kami yang sebenarnya pada Yuri Oppa dan Jessica. Itu pasti akan menyakiti bukan hanya Jessica dan Yuri Oppa, tapi keluarga mereka. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana semua dampak negative dari pengakuan kami akan benar-benar menghancurkan banyak perasaan.

 

“Apa kau sibuk? Bisakah kita bertemu sore nanti?” ia terlihat memicingkan matanya, berpikir tentang apa yang akan ia katakan padaku. Layar Ipadnya itu kembali ia periksa, terlihat terlibat konflik dengan dirinya sendiri.

 

Kalian pasti bingung bagaimana aku bisa mengetahui ekspresi wajahnya? Well.. sejak seminggu yang lalu aku memutuskan untuk mengintainya. Aku mengikuti kegiatannya dari pagi hingga akhirnya ia pulang ke rumahnya. Ya rumahnya.. bukan apartemennya yang bersebelahan dengan unitku saat ia dulu menjalankan tugasnya sebagai bodyguardku.

 

Mengapa aku melakukan hal itu? Karena aku merindukannya dan aku ingin tahu mengapa hampir 3 minggu ini dia begitu sulit untuk kuhubungi.  Kalaupun bisa dihubungi, ia selalu memiliki alasan untuk menolak permintaanku untuk bertemu dengannya. Jika aku menelponnya, percakapan kami tidak pernah berlangsung lama karena ia selalu memiliki alasan untuk mengakhirinya dengan cepat. Dengan kata lain selama hampir 3 minggu ini Taeyeon Oppa menghindariku.

 

Mungkin aku tahu mengapa ia melakukan hal itu.

 

Sikap anehnya itu mulai terjadi sejak ia mengetahui rencana pernikahanku yang kembali diproses sesuai permintaan Yuri Oppa. Aku masih ingat bagaimana sendunya wajah awet mudanya itu menatapku menggandeng lengan Yuri Oppa dalam balutann busana pengantin kami. Jika mengingat hal itu, aku tidak bisa mengingkari rasa bersalahku pada Yuri Oppa, Taeyeon Oppa dan Jessica.

 

Saat menyadari bahwa Taeyeon Oppa mencoba menghindariku, aku sedih dan kecewa. Aku mencoba menerima bahwa mungkin hubungan kami, semua rasa yang kami miliki memang harus berakhir sampai disini. Mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan bahwa apapun yang kulakukan dengan Taeyeon Oppa adalah salah, kami tak seharusnya mengkhianati kepercayaan dan perasaan yang pasangan kami berikan selama ini.

 

Selama beberapa hari aku mulai menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan di kantor maupun saat waktu istirahat dan santaiku bersama Yuri Oppa. Aku mencoba melupakan apapun yang aku rasakan pada Taeyeon Oppa selama ini. Dan hasilnya.. aku tidak bisa. Aku tidak bisa melupakannya dengan mudah dan begitu saja. Semakin aku mencoba untuk menghapus bayangnya, semakin kuat ia muncul di pikiranku.

 

Setelah mendapat realisasi itu, aku sadar bahwa aku benar-benar mencintainya. Apa yang kurasakan pada Taeyeon Oppa bukanlah cinta sesaat ataupun perasaan yang ambigu. Semuanya sudah tak samar lagi. Sejak saat itu aku memutuskan untuk membuatnya tahu bahwa aku benar-benar mencintainya. Tapi sebelum melakukan hal itu aku harus tahu terlebih dahulu apakah ia mau menerima perasaannya yang sebenarnya padaku. Aku yakin Taeyeon Oppa sedang berada di fase yang kujalani kemarin, saat aku belum yakin apakah cinta itu nyata atau hanya ilusi dan sementara.

 

“Oppa..” panggilku lagi membuatnya tersadar dari konflik dalam pikirannya.

 

“Fany-ah.. aku..” ucapannya terhenti saat seorang wanita datang menutup kedua matanya dari belakang. Wanita yang masih menjadi sahabat baikku, Jessica Jung. Sahabatku itu kemudian mengecup pipi kanan Taeyeon Oppa yang tersenyum kecil dalam diamnya, masih memegang telepon yang menghubungkannya denganku. Jessica terlihat bertanya pada siapa kekasihnya itu berbicara di telpon tadi sebelum kedatangannya. Taeyeon Oppa memperlihatkan namaku. Jessica tersenyum kecil sebelum mengangguk dan memeluk kekasihnya itu dari samping.

 

“Fany-ah.. sepertinya aku tidak bisa bertemu denganmu. Mungkin lain kali. Maafkan aku.” Kalimat itu memang sudah bisa kuduga keluar dari bibirnya. Ini bukan kali pertama Taeyeon Oppa menolak ajakanku. Maka hatiku sudah siap untuk mendengar penolakannya. Yang membuat hati ini terkadang tak kuat adalah saat aku melihatnya bersama Jessica. Selama seminggu aku mengikuti semua kegiatannya, aku tahu bahwa Taeyeon Oppa selalu meluangkan waktunya untuk Jessica sesibuk apapun itu.

 

Di pagi hari, Taeyeon Oppa sudah siap menjemput Jessica, mengantarkan sahabatku itu ke kantornya. Di siang hari mereka berdua menyempatkan diri untuk makan siang, baik itu di dalam kantor atau di luar. Di waktu yang pas seperti pada saat ini, Jessica selalu mendatangi Taeyeon Oppa yang sedang menghabiskan sore harinya di kafe yang berdekatan dengan kantornya. Di malam harinya mereka terkadang melakukan kencan di restoran atau hanya berjalan-jalan menikmati suasana malam di sungai Han.

 

“Baiklah Oppa.. aku mengerti.” Sambungan telepon itu terputus dan aku tak bisa menahan lagi panasnya air mata yang kini mengalir membasahi pipiku saat melihat Jessica mencium Taeyeon Oppa dengan mesranya. Sialnya Taeyeon Oppa membalas ciuman itu begitu hangat, sama seperti yang masih Jessica lakukan padanya.

 

.

.

.

 

 “Tiffany?” Taeyeon Oppa terlihat terkejut melihatku berada di depan pintu kamarnya sepagi ini. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, tidak rapi seperti biasanya. Piyama biru dongker yang dikenakannya terlihat begitu nyaman dan pas di tubuhnya.

 

“Oppa.. bolehkah aku masuk?” Taeyeon Oppa terlihat memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berjalan keluar dari pintu kamarnya, memberikanku akses masuk. Setelah aku masuk, ia menutup pintu itu, mulai menghampiriku yang sudah dengan nyaman duduk di sofa kamarnya.

 

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke kamarnya. Berbagai benda tersusun rapi tidak seperti kebanyakan kamar pria yang berantakan seperti kapal pecah. Kamar yang didominasi dengan warna putih dan biru langit itu terkesan begitu nyaman, luas, dan menyenangkan.. sesuai dengan kepribadian pemiliknya. Kulihat cukup banyak piala dan piagam penghargaan yang terpajang di sebuah lemari ukuran sedang dekat dengan meja belajarnya.

 

 Beberapa foto terpajang dengan apik. Salah satu yang menarik perhatianku adalah saat Taeyeon Oppa dalam baju wisudanya – lengkap dengan Toga beserta medalinya –  tersenyum begitu bahagia memeluk Jinhee yang mengecup pipinya dari samping memegang plakat penghargaan milik Taeyeon Oppa sebagai salah satu lulusan terbaik dengan kilat kebanggaan dan kebahagiaan di wajah cantiknya.

“Ada apa Fany-ah?”suaranya yang masih serak  memanggilku. Aku segera mengalihkan pandanganku padanya.

 

“Oppa ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Melihat perubahan ekspresi wajahnya, aku yakin dia sudah tahu apa yang akan aku katakan padanya.

 

“Bicaralah.” Ada keraguan sebelum ia mengucapkan itu.

 

“Mengapa kau menjauhiku?” ucapku sambil menatap kedua matanya yang terlihat enggan untuk menjawab pertanyaanku.

 

“Fany-ah..”

 

“Oppa.. tidak mungkin kau tiba-tiba menjauhiku tanpa alasan yang jelas dan aku ingin tahu apa yang menyebabkanmu seperti ini. Kau harusnya tahu bagaimana ini tidak menyenangkan bagiku mengetahui bahwa pria yang kau cintai tiba-tiba menghindarimu tanpa alasan jelas. Ini menganggu pikiran dan perasaanku Oppa. Jadi kumohon..” dari tatapan matanya aku tahu bahwa cinta itu masih kuat ia rasakan padaku. Aku berjalan mendekatinya, duduk di sampingnya yang tak memutuskan tatapannya padaku. Walaupun kami sudah berhadapan seperti ini Taeyeon Oppa masih tetap diam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. Hanya tatapan matanya yang mencoba mengatakan padaku untuk berhenti membuatnya bicara.

 

“Oppa.. apa kau masih mencintaiku..” mata itu ia pejamkan cukup lama sebelum ia menggelengkan kepalanya pelan.

 

“Benarkah?” Entah mengapa bibirku tersenyum meskipun air mata kini membasahi pipiku. Taeyeon Oppa masih menutup kedua matanya, tubuhnya terlihat bergetar menahan apapun yang ada di dalam pikiran dan perasaannya saat ini.

 

“Aku akan mempercayainya jika kau menatapku saat mengatakannya.” Perlahan mata itu terbuka. Kedua jendela jiwanya itu mulai menatapku. Ia mulai menggerakan bibirnya dan bersiap mengatakan sesuatu.

 

“Aku.. tidak mencintaimu.. lagi.” Taeyeon Oppa menatapku saat mengatakan hal itu. Tanpa ia sadari air mata itu turun membasahi wajahnya. Wajahnya terlihat bergetar menahan tangisnya. Wajahnya mulai memerah padam. Aku memberanikan bibir ini untuk mencium miliknya. Kedua bibir kami saling bersentuhan tapi ia tak memberikan respon apapun. Dengan berat hati aku melepaskan ciuman itu.

 

“Terimakasih Oppa..” tangis itu kini mulai keluar meskipun itu kecil. Aku memeluknya ringan sebelum berdiri dan berjalan meninggalkan ruangannya.

 

 

Aku juga mencintaimu Nona Hwang.” Kedua mataku tertutup saat ia menciumku pelan. Aku membalas ciumannya itu dengan intensitas yang sama. Kutarik kepalanya kebawah untuk memperdalam ciuman kami. Ciuman ini begitu manis serta memabukkan membuatku menginginkannya lagi dan lagi.

“Fany-ah.. maukah kau menikah denganku?” aku masih mengatur nafas saat ia mengucapkan hal yang tak kusangka akan diucapkannya. 1 bulan telah berlalu sejak Taeyeon Oppa mulai jujur pada dirinya tentang perasaannya padaku. Sejak saat itu hubungan kami membaik. Ia tak lagi menghindariku. Malah intensitas pertemuan kami meningkat. Taeyeon Oppa berbicara pada Yuri Oppa agar ia bisa tinggal lagi di unit sebelah apartemenku dan  secara mengejutkan Yuri Oppa mengizinkannya. Sejak saat itu kami memutuskan untuk menjalani hubungan ini dibelakang pasangan kami masing-masing meskipun persiapan pernikahanku dengan Yuri Oppa masih dilaksanakan.

“Oppa.. kau serius?” aku bukan tak bahagia saat mendengar lamarannya itu tapi jika memang ia serius melamarku maka kami harus segera menceritakan kebenaran hubungan ini pada pasangan kami masing-masing.

“Tentu.”

End Of Tiffany POV

.

.

.

“Tiffany Hwang.. Apa kau menerima pria di sampingmu ini sebagai suamimu?” suara pastur yang bertugas menikahkan mereka hari ini terdengar begitu jelas dan lantang ke seluruh penjuru ruangan. Sang mempelai wanita terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menolehkan kepalanya ke samping kanan, dimana pria  yang menjadi alasan mengapa ia bisa ada disini itu berdiri begitu tampan dan gagah dalam tuksedo hitam klasiknya.

“Fany-ah..” Tiffany tersenyum mendengar suara Taeyeon yang memanggilnya pelan. Ia  memberikan travel bag-nya pada Taeyeon yang segera membawanya. Mereka mulai berjalan keluar dari kamar hotel tempat resepsi pernikahan  Tiffany dan Yuri yang akan dilaksanakan 2 hari mendatang. Besok rencananya upacara pernikahannya dengan Yuri akan dilaksanakan di sebuah gereja katolik di Seoul.

 

Taeyeon dan Tiffany  mencoba untuk tidak menarik perhatian siapapun dalam perjalanan mereka meninggalkan hotel itu. Rencananya kedua insan dimabuk asmara itu akan melakukan pernikahan di Jeju tepat di saat upacara pernikahan Tiffany dan Yuri akan dilaksanakan di Seoul. Taeyeon yang merencanakan kawin lari ini dan Tiffany menyetujuinya. Itu Taeyeon lakukan karena Tiffany tidak sanggup untuk memberitahu Yuri dan Jessica tentang hubungan mereka. Maka dari itu Taeyeon segera merencanakan perjalanan mereka untuk kabur dari kehidupan mereka di Korea Selatan setelah mereka melaksanakan upacara pernikahan di Jeju.

 

“Kau sudah siap?” Taeyeon berucap setelah memakaikan Tiffany sabuk pengamannya. Tiffany menganggukan kepalanya memberikan prianya itu senyum bulan sabitnya sebelum perjalanan mereka… dimulai.

 

 

Nona Hwang?” suara itu kembali membangunkan Tiffany dari lamunannya. Ia memutarkan pandangannya ke sekeliling, melihat beberapa wajah-wajah familiar baik itu keluarga maupun sahabat-sahabatnya. Yang menangkap perhatiannya adalah senyum terharu Daddy beserta kakak-kakaknya dan terakhir wajah wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri dalam beberapa tahun ini.

“Aku menerimanya.” Pastur yang berdiri dihadapannya itu tersenyum melihat Tiffany mengucapkan janjinya.

“Miran Noona!” wanita yang dipanggil oleh Taeyeon tersenyum berjalan menyambut kedatangan kliennya itu.

 

“Woah.. dia begitu cantik Taeng!” Tiffany tersipu malu menerima pujian dari wanita yang terlihat begitu cantik dalam balutan dress semi formal putihnya.

 

“Noona.. tolong bantu Tiffany menjadi pengantin yang tercantik yang pernah kulihat. Aku mempercayakannya padamu.” Taeyeon menepuk bahu Miran pelan, tersenyum begitu hangat pada sahabatnya. Setelah memeluk Tiffany yang sudah berada bersama Miran, Taeyeon pamit.

 

“Oppa.. kau akan kemana?” langkah Taeyeon terhenti saat Tiffany memanggilnya.

 

“Aku juga harus mempersiapkan diriku.” Taeyeon tersenyum kecil sebelum pergi meninggalkan Tiffany yang terdiam melihat senyuman itu.

 

 

“Atas nama Tuhan.. kalian telah sah menjadi suami istri. Tuan.. Anda boleh mencium pengantin Anda.” Tiffany bisa merasakan tubuhnya dibawa untuk berhadapan dengan pria yang kini telah resmi menjadi suaminya.

“Terimakasih Fany-ah.. Aku mencintaimu” detik berikutnya bibir itu menyentuh milik Tiffany yang mencoba membalas ciuman suaminya. Ia bisa merasakan pria dihadapannya itu membawa tubuhnya lebih dekat, mendekapnya begitu mesra, mencoba menumpahkan semua perasaan cintanya. Mata itu Tiffany pejamkan, ia mencoba menikmati ciuman lembut dan penuh cinta itu meskipun air matanya perlahan mengalir membasahi pipinya.

.

.

.

.

.

TBC

 

============================

===========

============================

Hai!!!cw3ocrfvqaa2e_n

APA KABAR TEAM TAENY???

lotte-fansign-3

APA KABAR TEAM YULTI???

10731476_339602152880370_1007018483_n

APA KABAR TEAM TAENGSIC???

tumblr_msagphZaCZ1rfd5sco1_500

JADI.. apakah semuanya akan memiliki ‘HAPPY ENDING’???

 

BoSA-YMIcAAsadT

Jadi.. pria yang tadi Tiffany terima jadi suaminya siapa ya?

CLUE dari part sebelumnya:

Tuxedo hitam – TAEYEON

Tuxedo putih – YURI

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Well.. See You Soon!

cw3nkczucaam4tn

Iklan

94 pemikiran pada “My Lady (Shoot Final Part 2)

  1. Baubaunya fany itu sama tuxedo putih Yuri deh wkwkwk
    Ada daddy nya loh terharu pasti sama yuriii.
    Dia nyari” pengantin pria yg lain(taeng)
    Krna liat daddy dan yg lain jadi dia mau gak mau jawab bersediaaa 😭 mungkin gue berharap yuri marah sama fany yg jahat ngehianatin dia, gue berharap tiffany tau apa yg sebenernya terjadi. Biar adil thor, 😭 dan kenapa cuma yuri yg paling sakit gini sih. Dan taeng 2x ngelanggar janjinya ke yuri. Hmmm luar biasaaa
    Boleh kok yuri cinta tapi sedih liat dia dibohongin beberapa kali.

    Kalopun itu taeny yg di gereja, yaudahlah thor 2 orang yang sama” gak bisa jaga hati dan kepercayaan oranglain bersatuuu. Gosh pasti banyak pandangan buruk.

    Kalo fany tau kelakuan taeng dan masih cinta sama taeng? Yaudahlah yaaa mau gimana bakal aku terima kok. Hehhee yng penting fany tau semua kebenarannya. Kalopun akhirnya fany nyesel dan mikirin perasaan yuri yg ayahnya dibunuh sama sahabatnya sendiri 😭 itu lebih okeee

    Duh duh duh makin gila thooorrrr

  2. dimana pria yang menjadi alasan mengapa ia bisa ada disini itu berdiri begitu tampan dan gagah dalam tuksedo hitam klasiknya

    Kenapa rasanya yg menikah itu yulti ya.. Dari part diatas kaya seperti tae itu berada di kanan nya tiffany entah itu sebagai suami atau hanya orang yg menyaksikan,tapi bukan kah ?…ais gue binggung sendiri

  3. Kykx yg mnikah itu yulti….
    Karna agak brat bngettt ppany ngomong terima dan pke nangis. Klw sma tae kan gak bkalan kyk gtu…. Krna lw sma tae pasti udah di restui sma yuri.

    Pokokx gue ttp taeny. Taeny taeny taeny

  4. Kurang kenceng nih sabuk pengamannya 😱😵
    Aku berharap sih itu taeny…
    Kalaupun itu yulti….knp bisa?? Taeny kan kawin lari?? Atau tae yg lepasin fany Pas mereka mau nikah?? Makanya fany berat gitu jawabnya…
    Aaaaarrrgh…..binguuuuung 😵
    Taeny aja ya thor lagi kangen mereka 😭

  5. taengsic dong…

    sebenarnya mereka semua punya cinta yg besar
    fanny ke taeng
    taeng ke fanny
    jangan ditanya lagi seberapa besar cinta yuri terhadap fany
    begitu juga sicca terhadap taeng
    tp kok berasa egois yah klo semisal taeny bersatu
    oh ya lupa cinta juga bisa egois..

    kenapa taeny gk pikirkan dulu kedepannya
    teang deh ya mikir…
    fanny sakit hatinya..iya pasti
    tp dia masih punya yuri yg akan menyembuhkan lukanya dengan cinta dan perhatiannya..
    kalo sicca gk ada…only taeng
    yuri tau fanny pasti bakal kembali makanya dia memilih untuk diam dan mengikuti permainan yg ada sampe selesei
    lagipula cinta tau kok dimana dia akan berlabuh*apaini

    terkadang manusia memang selalu jelas melihat sesuatu yg jauh dimata..tp justru yg deket dirasa kabur jd tdk terlihat
    ya begitu lah taeng..saking besarnya cinta sicca jd dia tdk melihat..
    jangan sampai menyesal loh tae
    klo ntr sicca pergi..sicca juga manusia ada lelahnya…*berasalgngomongsamataeng

  6. Hahaa di buat bingung sama authornya yg nikah sama fany itu taeyeon apa yuri, sama siapa pun yang penting semua happy deh
    Tapi tetep sih pengennya mah taeny wkwkk #teamtaeny😁😁😁

  7. rasa” nya itu yulti yg merit di seoul,,,
    sedangkan taengsic jg merit di jeju..
    terserah author lah mau taeny apa yulti…
    yg penting pelajaran dr nih epep dah dapet,,,
    btw thor tuh pictures di bawah malah bikn kangen kebangetan…

  8. kayanya yg nikah yuti deh, sebab taeng kaya menyembunyikan sesuatu waktu pany bilang mau kemana
    kasian ya yul, cintanya pany udah tikung ke taeng
    taeng kamu harus jaga kepercayaan sica ya jangan kelain hati, kasian sica udah berkorban cintanya untukmu
    kasian jg sih taeny yg saling mencintai sama lain harus berpisah demi keluarga ama bersahabatan tp klo jadoh gx akan kemana
    ko gw jd plin-plan gini ya
    maunya yulti, taengsic tp jiwa locksmith gw maunya pilih taeny hehehe

  9. Oke sudahlah gue cuma akan menikmati ending dari cerita ini tanpa harus melihat copellll atau shipper. Terserah dah jadinya sama siapa sama siapa. Bukan #teamtaeny or #teamyulti gue cuma suka karakter yul aja wkwkwkwk

  10. Oke sudahlah gue cuma akan menikmati ending dari cerita ini tanpa harus melihat copellll atau shipper. Terserah dah jadinya sama siapa sama siapa. Bukan #teamtaeny or #teamyulti gue cuma suka karakter yul aja wkwkwkwk

  11. TiDaksssssssa,,,,,,,,
    pleaseeeeee TBCnya bikin penasaran.y nyampe ke ubun2,,,,,

    jijjjjaaaaaaaaa,,,,,,,
    Authornya bener2 jempollllll
    perasaanku bener2 terasa diaduk2 pakai mixer,,,,,,,

    jijjjaaaaaaaaa,,,, thor lanjuyin donk
    #sambil nangis guling2 gara2 penasarannnnnnnn,,,,,,
    siapapun pendampingnya fany, q terima kok,,,
    tp berharapnya sie, sama si taetae aja, hehehehe

  12. soulmate thorrr,,,sama aku,,dirimu,,dirinya…
    baca nih epep sambil denger tuh lagu jlebbb bgd…
    plusss tau cara nya nikung pacar ehhh tunangan sahabat sendiri…
    hahahahaha
    dia untukmu akhirnya…
    tak akan aku sesali…
    cinta tak ‘kan salah…

      • Gpp thor.. hanya saja fellnya dpet bwgd ketika Tae harus memilih antara omongan yul Dan pany.. jujur klo pun di posisi tae sangat membingungkan.. tp apa yg aq ambil dr sikap tae slm berhubungan dgn jessi.. bukanya tae angep jessi itu hanya seorang adek Ia.. tp knp jessi terlalu berharap kpd tae.. klo dr pandangan qu thor.. tae gak berbuat slh dgn mempermainkan perasaan jessi jg pany atau pun yul dan seharusnya yul yg dr awal tau akan sikap pany yg beda akhir akhir ini malah memicu kecemburuan pany.. knp?! Saat itu yul msh aja menyimpan kematian jin hae.. jdi jgn slh kan tae jika permainan yg di buat tae bisa mengubah hidup yul.. bisakah sahabat membela tanpa menutupi kebusukan appanya.. klo pun yul tau dr awal TAENY fall in love.. haruskah di diemkan sperti itu..

  13. klo ngliat dari clue tuxedona cey ini harusna taeny dan dsni udah dijelaskan klo fany itu bnr2 cinta ma taeyeon bukan sekedar pelarian yeay…#jelasteamtaeny#
    risma kok aku ngerasa gaya tulisan dan tata bahasa na berubah bgt ya beda aja gtu ga kyk biasana yg penuh dengan kata2 indah
    trs tumbenan dah dialog dan author pov na/tiffany pov/taeng pov dijadi satu gtu ga dikasih jarak jadi agak pusing sendiri bacanya
    maaf ya klo ad yg salah komenan aku

  14. hidup taeny!!! ga peduli prosesnya gimana tpi smoga endingnya bneran taeny. Mnding jujur mskipun bnyak yg trluka, drpda hnya mmbahagiakn orang lain tpi diri sendiri terluka. ga sbar nunggu ending gamblangnya.

  15. Hmmmmm…. Klo di satu sisi aku dukung yulti. Krn biar bagaimanapun mereka yang lebih dulu membina hubungan sebagai sepasang kekasih. Namun di sisi lain aku lebih dukung Taeny, krn mereka saling mencintai satu sama lain di tambah selama ini Taeyeon selalu menjaga Tiffany dgn baik . Maybe hubungan Taeny bisa di katakan suatu kesalahan but hellow….. Bukankah yulti masih belum berstatus suami istri..??. So….. Tidak ada salahnya utk mereka mendapatkan pasangan hidup sesuai hati mereka bukan? Krn mereka (yulti) belum terikat dgn tali pernikahan. Utk yg akan tersakiti?? Lirik sica ama yul. Kembali lg mereka harusnya jg memahami dong gmn besarnya Cinta yg tumbuh dihati taeny. Yahh.. Walaupun terlihat egois. Tp kembali lg, selama belum ada ikatan pernikahan diantara Kedua insan. Maka di antara mereka berhak utk mencari atau bahkan mendapatkan yang sesuai hati mereka.

    Hehheheheheheh. …….. Sorry thor, kepanjangan. Abisnya kebawa suasana bacanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s