My Lady (Shoot Final part 1)

 my-lady2

Sebelumnya di My Lady (Shoot 0-4)

ceci-tiffany-is-running

“Tiffany?” Mendengar nama itu mengulaskan senyum di wajah Yuri. Ia memperlihatkan sebuah album foto yang tersimpan di laci meja kerjanya pada Taeyeon yang segera melihat album itu.

“Dia.. tunanganmu Yul? Wow.. you got a nice catch..” Yuri tertawa kecil mendengar celetukan sahabatnya itu. Ia duduk di samping Taeyeon yang masih serius atau lebih tepatnya terpesona melihat begitu banyaknya foto eye smiling girl itu dalam album foto sahabatnya.

“Kau beruntung bisa mendapatkannya..” Yuri tersenyum melihat foto-foto liburannya di Milan tahun kemarin.. tepat saat ia melamar kekasihnya itu untuk menjadi pendamping hidupnya.

“Tentu.. maka dari itu aku ingin kau menjaganya untukku Taeng.. apalagi bila sesuatu terjadi padaku..” kesedihan dan melankoli itu terasa lagi membuat Taeyeon menatap sahabatnya yakin.. menganggukan kepalanya.. bersedia mengabulkan keinginan sahabatnya itu.

“Aku akan menjaganya Yul.. aku akan menjaganya.. kau tidak usah khawatir..” Taeyeon menatap sahabatnya itu sebelum akhirnya membawa Tiffany yang tertidur di pangkuan Yuri menuju sofa.

***

Screenshot_2016-06-16-23-23-50-116

“Sayang.. kau harus mengerti.. aku melakukan ini semua demi keselamatanmu…” Yuri mencoba menggenggam tangan Tiffany yang berusaha menepisnya.

“Tapi mengapa harus seperti ini?? apa kau ingin membatalkan pernikahan kita?” Yuri menggeleng cepat mencoba menggenggam kembali tangan kekasihnya itu.. ingin menjelaskan semuanya pada wanita yang terlihat marah sekali padanya.

“Kau ingin Taeyeon Oppa menjadi pelindungku.. bodyguardku.. oke aku terima. Tapi.. jika kau ingin aku mengenalkan pada dunia bahwa Taeyeon Oppa adalah kekasihku.. itu gila Oppa!” Tiffany sedikit berteriak mengatakan itu semua. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi dengan semua ketakutan dan kegilaan pria di hadapannya ini.

***

tiffany-gimpo-airport-66s

“Kau gila!” aku melepaskan genggaman tangannya, membuat pria di sampingku ini terlihat terkejut tapi beberapa detik kemudian berhasil mengatur lagi ekspresi wajahnya. Kami sekarang sedang berada dalam perjalanan pulang.

“Tenanglah Fany-ah.. semua akan baik-baik saja..” Kim Taeyeon.. pria di sampingku ini berucap masih dalam nada tenangnya, seakan tadi tidak terjadi apapun.

“Kau menciumku Oppa! Kau mencumbuku di khalayak umum! Bagaimana jika Yuri Oppa melihatnya? Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Dan lagi.. mengapa kau menciumku seperti tadi Heuh? Apa kau tidak sadar bahwa wanita yang kau cumbu tadi adalah calon istri sahabatmu?” aku menumpahkan emosiku padanya yang hanya tersenyum kecil menyesap segelas wine yang baru ia buka tadi.

“Yah Kim Taeyeon! mengapa kau hanya diam saja?” aku memberikan tatapan tajamku padanya sementara wajahnya masih terlihat biasa meskipun bisa kulihat senyum mulai bermain di dalamnya.

“Lalu mengapa kau tidak menolaknya? Mengapa kau tidak mendorongku?” Senyum itu bukan untuk mengejekku, lebih terlihat seperti sebuah bentuk kepuasan karena hiburan yang ia terima dari amarahku.

Aku terdiam..

Benar.. mengapa aku tidak langsung menolaknya saja?

Apa mungkin aku..

“Haruskah aku menolakmu.. mendorongmu dan mendapat kemungkinan bahwa mereka akan tahu bahwa kau bukanlah kekasihku yang sebenarnya?” Senyum di wajahnya itu bertambah lebar, terlihat begitu menyebalkan bagiku untuk melihatnya.

Mengapa kau masih begitu tampan dalam senyuman menjijikan itu?

***

unnamed

“Dia adalah Jinhee, gadis pertama yang membuat Taeyeon jatuh cinta.” Rasanya tenggorokanku tersedak mendengar hal itu. Mengapa?

“Sayang sekali dia harus pergi begitu cepat..” ada kesedihan yang tak bisa Yuri Oppa tutupi dari wajahnya.

“Pergi?” Tanyaku pelan, masih tak ingin berkata banyak.

“Jinhee adalah mahasiswi hukum yang aktif membela hak dan keadilan bagi rakyat lemah. Dia adalah gadis yang sudah lama Taeyeon kagumi sejak kami duduk di sekolah menengah atas. Dia adalah aktivis HAM yang selalu giat mengkampanyekan kesamaan status dan hak bagi rakyat lemah meskipun dia adalah putri Lee Gwi..” kekasihku ini membuka lagi lembaran lain dimana wanita bernama Jinhee tadi tersenyum begitu bahagia menggenggam tangan Taeyeon Oppa dan pria tua yang ia ketahui sebagai seorang jaksa terkenal di negaranya.

“Si bodoh pendek ini baru berani meminta Jinhee menjadi kekasihnya saat mereka sudah duduk di tingkat 2. Sejak itu mereka menjalin hubungan yang serius hingga akhirnya Jinhee meninggal.”

“Meninggal?” Entah mengapa aku sekarang merasakan kesedihan itu muncul di hatiku saat melihat wanita bernama Jinhee itu tersenyum begitu indah pada Taeyeon Oppa yang sedang membakar sosis di sampingnya.

“Saat itu Jinhee sedang menangani kasus tentang pencemaran laut yang dilakukan oleh salah satu perusahaan asal Rusia yang mengolah minyak mentah. Sidang itu adalah sidang yang terakhir kali Jinhee hadiri karena beberapa hari kemudian Jinhee ditemukan tewas di apartementnya nyaris tanpa luka apapun di tubuhnya. Media pun anehnya menutup rapat mulut mereka tentang kasus ini.”

***

snsd-tiffany-fendi-elle-6-tiffany-hwang-39953461-500-334

“Aku sedang bingung..” pelan suara ini keluar dari bibirku membuatnya mendekat padaku, ingin mendengarku lebih jelas berbicara padanya.

“Aku dan Yuri Oppa sudah membicarakan kejadian kemarin dan reaksi yang dia berikan sama seperti apa yang kau bicarakan padaku.” Taeyeon masih menyesap minumannya, menganggukan kepalanya memberi tanda pada Tiffany untuk melanjutkannya ucapannya.

“Yuri Oppa kesal padamu tapi dia berkata bahwa keselamatanku adalah prioritas utamanya. Dia rela kau menciumku seperti kemarin karena dia ingin aku selamat meskipun aku bersamamu.”

“Lalu?”

“Oke.. let’s say jiwa dan ragaku selamat selama aku bersamamu tapi bagaimana bila hatiku tidak?” Taeyeon Oppa menatapku dalam diam, seperti berusaha mencerna apa yang baru saja kuucapkan padanya.

***

tumblr_nukz0ciFRW1r8ttxlo1_500

“Oppa.. bantu aku meyakinkan sesuatu dalam hatiku.” Sepertinya Taeyeon tahu kemana arah pembicaraan mereka.

“Apa yang harus aku lakukan?”Tiffany terlihat ragu untuk mengutarakan maksud hatinya. Melihat itu, Taeyeon mengeratkan tangan yang menggenggamnya sejak tadi. Ia berusaha memberikan dorongan dan dukungan agar Tiffany mau mengutarakan niatnya.

“Untuk 1 bulan kedepan dimulai dari besok, jadilah kekasihku” Tawa itu hadir tapi tak bisa menutupi rasa gugup yang sebenarnya begitu kuat dirasakan Taeyeon.

“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?” Tak ada beban dalam nada bicara Taeyeon, berbeda dengan milik Tiffany.

“Selama ini kita hanya bersandiwara. Tapi yang aku minta padamu adalah nyata. Aku ingin kau menjadi priaku yang sesungguhnya, bukan berakting hanya ingin melindungiku karena aku adalah wanita yang begitu berharga untuk sahabatmu.” semua itu keluar penuh dengan tekad dari mulut Tiffany. Tak ada kata mundur dari niatannya tadi.

“Kau yakin?” wajah Taeyeon yang santai tadi kini perlahan menjadi serius, mengimbangi milik Tiffany yang menatapnya sungguh-sungguh.

“Aku yakin.” Kedua mata mereka kini saling pandang, terikat dalam kesunyian yang menenangkan keduanya meskipun hati mereka tidak.

“Apa kau siap dengan semua konsekuensinya?” Melihat interaksi Taeyeon dan Tiffany saat ini, mereka terlihat seperti seorang ayah yang mewawancara calon menantunya.

“Aku siap bahkan jika diakhir aku… aku ternyata mencintaimu Oppa.” rasa bersalah itu seketika menjalar ke pikiran Tiffany jika ia mengingat bahwa Yuri adalah calon suaminya. Tapi jika ia masih terkungkung dalam sangkar pikirannya yang itu maka kegilaannya yang sudah dialaminya selama beberapa hari ini takkan pernah berakhir.

Tiffany harus keluar dari zona amannya jika ingin mendapatkan keajaiban dan kebahagiaan dalam hidupnya.

***

ctlepggumaafiu0

“Oppa.. jika kau harus memilih antara dua orang yang ternyata kau cintai.. apa yang akan kau lakukan?” Mood sedikit berubah. Taeyeon terlihat berpikir keras meskipun ia tahu jawabannya.
 
“Aku akan mengikuti kata hatiku. Karena diri kita.. hanya kita sendiri yang tahu bagaimana nyatanya. Kau bisa berkata bahwa kau adalah wanita paling tangguh di dunia ini tapi kau takkan bisa membohongi hati kecilmu. Jadi jika aku ada di posisimu.. aku akan jujur dengan diriku dan hatiku.” tangan itu Taeyeon elus sementara pemiliknya masih terdiam memikirkan kata-katanya tadi.

***

Screenshot_2016-06-23-23-44-01-307

“Jadi.. menurutmu aku harus tetap mengatakan ini padanya?”

“Mengutarakan perasaanmu? Tentu.” Tiffany mencoba memberikan senyumnya, berharap itu bisa menenangkan Taeyeon meski hatinya tidak.

“Baiklah..” wajahnya terlihat begitu bersemangat. Ia mengecek lagi jam tangannya dan tersenyum. Tak lama berselang suara ledakan muncul. Keduanya mengalihkan pandangan mereka pada pesta kembang api yang baru saja dimulai. Keduanya terdiam menikmati bermacam warna yang menghiasi langit Gyeonggi saat itu.

“Kau bilang aku harus mengutarakan perasaanku padanya kan?” Tiffany menganggukan kepalanya, masih menikmati ledakan-ledakan penuh euforia di dalamnya, mencoba menyembunyikan kondisi hatinya yang sebenarnya.

“Aku mencintaimu.”

“Hah..”

“Aku mencintaimu Tiffany Hwang.”

***

“Fany-ah.. kau baik-baik saja?” sepertinya Tiffany kesulitan bernafas dan menahan tangisnya.

“Oppa” suaranya terdengar melemah dan pendek.

“Fany.. kau masih ada di kantor kan? Aku akan menghubungi mereka untuk segera menolongmu. Bertahanlah!” perasaan Taeyeon semakin tidak enak saat mendengar hembusan nafas Tiffany yang semakin cepat temponya.

“Euhm..” hanya itu yang Taeyeon dengar sebelum sambungan telpon mereka terputus.

***

“Taeyeon-ah.. apa yang harus kita lakukan?” Taeyeon berjalan menghampiri Yuri yang terlihat tertekan dengan masalah ini.

“Yul.. kau tenanglah dulu. Aku sudah mempunyai rencana.” Bahu itu Taeyeon

“Apa maksudmu?” Taeyeon mengalihkan pandangannya pada Presiden SJJD yang terlihat semakin gugup.

“Kau masih memiliki persediaan pasukan elitmu di Seoul?” Presiden SJJD segera menghubungi bawahannya. Ia mengecek persediaan pasukan khusus yang disediakan untuk para klien VVIP mereka.

“Pasukan elit kami siap untuk Anda gunakan Tuan. Kami menunggu perintah Anda untuk mengirim berapa kuantitasnya.” Presiden SJJD mulai berbicara membuat Taeyeon kembali berpikir.

“Baiklah. Siapkan aku 20 orang secepatnya.” Presiden SJJD segera menelpon bawahannya.

“Taeng.. apa yang akan kau lakukan?”

“Menyelamatkan Tiffany.”

“Kau..”

“Ya.. kita akan berperang Yul untuk menyelamatkan Tiffany.”

‘Hidupku..’ lirih Taeyeon dalam hatinya.

 

=============================

=======

=============================

My Lady

(Shoot Final part 1)

tiffany-0003_img_885_590

“Yul.. kau yakin ingin ikut denganku?” Taeyeon bertanya lagi pada sahabatnya yang terlihat bingung.

“Taeng.. kau tahu aku tidak bisa  berdiam diri saja memikirkan mungkin Fany berada dalam bahaya. Aku tidak bisa.”  Kepanikan itu jelas terasa. Nafas Yuri keluar begitu kasar dan cepat. Penampilannya terlihat sedikit berantakan tapi aura berkelas dan elegannya itu masih ada.

“Baiklah.. tapi kita tidak bisa mengandalkan semuanya pada pasukan elit SJJD. Kau tahu kita harus mempertaruhkan nyawa dalam misi ini. Aku tidak bisa menjamin keselamatanmu selama kita berperang nanti. Jadi kumohon pikirkan lagi. Kwon Group membutuhkanmu dan jika sesuatu terjadi padamu..” Taeyeon menghentikan tangan Yuri yang  akan mengambil rompi penahan pelurunya.

“Taeng… Tiffany adalah wanita yang membuat hidupku menjadi lebih hidup. Dia adalah kehidupanku.” Pegangan tangan Taeyeon melemah.

“Aku tahu… tapi..” Yuri menarik rompi itu dengan kasar. Ia dengan cepat memakai alat lain yang akan menambah tingkat keamanan dirinya dalam misi ini.

“Kau tidak usah khawatir, aku akan membuat diriku tetap hidup. Jadi fokuslah pada rencanamu menyelamatkan calon istriku dan laksanakan tugasmu sebagai bodyguard-nya.” Yuri berucap sebelum meninggalkan Taeyeon yang terdiam memikirkan sesuatu melihat tingkah gegabah dan penuh emosi sahabatnya itu.

“Yuri-ah… kau akan benar-benar membuat dirimu terbunuh jika kau bersikap seperti itu..” Taeyeon tertawa kecil melihat kepergian Yuri lalu kembali memakai alat keamanannya.

.

.

.

“Tuan.. kita sudah sampai.” Salah satu anggota tim elit SJJD menginformasikan hal itu pada Taeyeon yang baru saja selesai mengulangi penjelasan tentang rencana mereka kepada anggota tim elit lainnya.

“Baiklah. Kalian semua mengerti? Ada yang ingin ditanyakan?” Seluruh anggota tim elit SJJD tak ada yang mengemukakan ketidakpahaman mereka, mereka mengerti betul bagaimana rencana Taeyeon akan dieksekusi nanti.. lebih tepatnya sekarang karena mereka kini telah tiba di lokasi yang diberikan oleh Nozo.

“Jika tidak ada yang ditanyakan, mari kita berdoa sesuai kepercayaan masing-masing.” Taeyeon, Yuri dan 20 anggota elit SJJD mulai berdoa untuk kelancaran misi mereka.

“Selesai. Tetap berhati-hati dan hidup. Jaga komunikasi kita bagaimanapun kondisinya. Kita harus bisa menyelamatkan prioritas kita, Nona Hwang. Good luck!” Taeyeon berucap, berusaha meningkatkan semangat anggota timnya.

Rencana mereka mulai dieksekusi. Ini ditandai dengan 2 orang tim elit SJJD yang menyamar menjadi anggota keamanan Nozo Group yang sedang berjaga. Mereka menghampiri 2 orang yang sedang berjaga di pintu depan salah satu gudang milik Nozo Group di Gyeonggi.

“Ada apa?” salah satu penjaga Nozo Group bertanya pada 2 orang dari tim SJJD.

“Tuan Hong menyuruh kami untuk mengirim pesanannya kesini. Kalian bisa mengeceknya.” Moohyun, salah satu tim SJJD menjawab. Salah satu penjaga dari Nozo Group menghubungi nama yang disebutkan tadi sementara yang lainnya menunggu.

“Tuan Hong ingin kami mengecek lebih dulu barangnya.” Moohyun mempersilakan salah satu penjaga Nozo Group mengikutinya ke belakang, membuka pintu box mobil yang berisi tim SJJD yang tertidur ditutupi kain. Saat penjaga  Nozo Group akan membuka kain penutup itu, Moohyun mengeluarkan pistol kedap suaranya lalu menembakan peluru 2 kali ke kepala penjaga Nozo Group yang segera ambruk.

Merasa curiga dengan suara dari belakang mobil, penjaga Nozo Group yang lainnya menghampiri Moohyun yang segera menembak bagian jantung penjaga tersebut hingga meninggal ditempat. Earphone kedua penjaga Nozo Group itu kemudian Moohyun ambil. Ia menggunakan earphone itu untuk berjaga di pintu luar sementara temannya 1 lagi membawa earphone itu kedalam mobil dan memberikannya pada Taeyeon yang segera memakainya.

“S4.. tolong cover kami dari luar.” Moohyun mengiyakan perintah Taeyeon yang segera masuk kedalam kawasan gudang yang ternyata sangat luas. Ada beberapa bangunan di dalamnya. Tapi hanya ada satu bangunan gudang yang menyala pencahayaannya.

“Inbang.. didepan aman? Mereka belum menyerang?” Taeyeon bisa mendengar seorang pria berbicara. Ia menunggu jawaban dari Moohyun yang mengambil earphone pria bernama Inbang yang tadi sudah mereka lumpuhkan.

“Diluar masih aman.” Moohyun berusaha meniru suara pria yang sudah ia bunuh tadi.

“Baiklah. Kalian bisa istirahat sebentar. Mereka juga tidak akan datang secepat itu. Apalagi orang yang kita sekap adalah harta mereka. Pasti sesuatu sedang mereka susun dengan matang saat ini.” Pria itu tertawa di akhir kalimatnya sementara Taeyeon dan yang lainnya sudah siap untuk menyerang mereka.

.

.

.

Mobil berhenti di tempat yang cukup jauh dari gedung yang diduga terdapat Tiffany di dalamnya. Satu persatu anggota tim elit SJJD  mulai keluar dari mobil itu. Mereka terbagi dalam 5 tim dimana 1 tim terdiri dari 4 orang. 4 Tim bergerak menuju lokasi yang dituju sedangkan 1 tim bertugas mengawasi dari jauh. 2 orang dari tim pengawas itu pergi gedung sebelah untuk mengawasi jalannya misi. Mereka membawa senapan sniper Hecate II untuk mematikan musuh yang mencoba menghalangi jalannya tim lain. 4 tim  lainnya secara diam-diam masuk kedalam gedung lewat pintu depan dan belakang.

“L2.. kalian sudah masuk?” Taeyeon dan timnya sudah masuk ke dalam gedung melalui pintu depan setelah berhasil melumpuhkan beberapa penjaga Nozo Group. Ia dan Yuri berada dalam 1 tim agar keselamatan Yuri bisa terjamin.

“Sudah. Kami sedang menuju lokas..” jawaban itu terputus saat suara tembakan terdengar disusul dengan tembakan-tembakan lain yang kini mulai mendominasi suara yang terdengar dari earphone Taeyeon.

“Tim 4 sedang diserang. Tim 3 cover mereka. Tim 1 dan 2 tetap bergerak menuju sarang.” Komando itu Taeyeon berikan kepada anggota tim lainnya yang segera mengerti dengan tugas mereka selanjutnya. Taeyeon, Yuri bersama 6 orang lainnya mulai mempercepat pergerakan mereka. Dengan diserangnya tim 4, kehadiran tim SJJD kini sudah diketahui pihak Nozo Group. Mereka pasti akan memperketat pengamanan mereka di ruangan Tiffany berada.

“Tunggu.” Taeyeon seketika menghentikan langkahnya melihat sekitar 30 orang Nozo Group yang berjaga di koridor menuju sebuah ruangan yang Taeyeon yakini disana Tiffany berada.

“Tim 3 dan 4, kami sekarang berada di lantai 2. Apa kalian bisa mengcover kami?” suara tembakan masih terdengar hebat.

“Kami.. akan.. mengusahakannya.” Salah satu anggota dari tim 3 menjawab meskipun ia terdengar kesakitan.

“Terimakasih. Kalian harus tetap selamat! Kami akan menunggu.” Ucap Taeyeon mencoba memberi semangat pada anggota tim 3 dan 4 yang sedang bertarung melawan orang Nozo Group yang ternyata cukup banyak.

“Kita harus menunggu tim 3 dan 4. Yang menjaga ruangan itu terlalu banyak.” Anggota tim lainnya mengangguk sementara Yuri terlihat tak setuju dengan ucapan sahabatnya itu.

“Jika kita menunggu mereka, apa kau yakin mereka bisa tiba disini? Kau tahu.. mereka terdengar seperti akan mati tadi.” Semua mata kini tertuju pada Yuri yang balik menatap mereka dengan tatapan tajamnya.

“Orang-orang Nozo Group terlalu banyak untuk kita lawan. Pergi kesana sekarang sama saja dengan bunuh diri dan kita tidak mungkin menyelamatkan prioritas kita jika hal itu terjadi.” Dengan wajahnya yang tenang Taeyeon berbicara. Anggota tim yang lain terlihat setuju dengan apa yang Taeyeon ucapkan. Meskipun begitu Taeyeon tetap merasa khawatir mengingat orang-orang Nozo Group memiliki kemampuan yang cukup tinggi dalam hal seperti ini. Ia hanya berharap semoga tim 3 dan 4 bisa tiba disini dengan selamat, kembali melanjutkan misi mereka menyelamatkan Tiffany.

“Jika mereka tak bisa kesini, apa yang akan kita lakukan?” Yuri kembali berbicara dengan sedikit emosi kali ini.

“kita akan tetap menyelamatkan Tiffany.” Tegas Taeyeon sementara Yuri terlihat masih belum puas dengan jawaban sahabatnya itu.

“Bagaimana? Bukankah tadi kau bilang jumlah kita kurang banyak sehingga kita akan terbunuh? Apa kau akan menyerah menyelamatkan calon istriku?” emosi Yuri kini tak terbendung lagi. Ia menarik kerah kemeja Taeyeon yang masih terlihat tenang tak terpancing dengan emosi sahabatnya itu.

“Aku akan menyelamatkan Tiffany. Kita akan menyelamatkan calon istrimu tak perduli apapun yang terjadi.” Taeyeon melepaskan tangan Yuri dari kerah kemejanya. Ia sedikit mendorong Yuri untuk menjauh darinya masih dengan wajah tenangnya yang datar.

.

.

.

“L2..” Taeyeon menghampiri pria terlihat sedikit kacau dengan beberapa memar di wajahnya.

“kami siap!” dengan suara sedikit lemah, pria yang Taeyeon hampiri tadi berbicara.

“Kami juga siap!” 3 orang lainnya yang selamat kini ikut berbicara meskipun kondisi mereka tidak jauh lebih baik dari L2.

“Okay Tim 1 akan mendekati sarang dengan menyamar sebagai orang mereka.” Taeyeon membuka sebuah lemari yang berisi beberapa seragam Nozo Group. Selama menunggu kedatangan tim 3 dan 4, Taeyeon menelusuri isi ruangan yang ia dan timnya diami. Ternyata ruangan yang mereka diami adalah tempat berganti baju para penjaga Nozo Group. Ia mendapat ide baru untuk menelusup masuk ke ruangan yang dicurigai tempat Tiffany berada.

“Tim 2 dan 4 tetap mengawasi kami dari belakang. Jika sesuatu terjadi segera serang mereka dengan senapan mesin kalian.” Mereka mengerti dengan rencana Taeyeon dan segera menyuarakan ketersetujuan mereka. Taeyeon dan 3 orang lainnya, termasuk Yuri mulai mengganti pakaian serta tampilan mereka layaknya anggota pengaman Nozo Group sama seperti yang dilakukan Moohyun yang sekarang masih berjaga di pintu depan.

“Kalian sudah siap?” anggukan itu Taeyeon terima dari anggota timnya. Mereka mulai bersiap untuk menerima perintah selanjutnya.

“Baiklah, mari kita mulai.”  Taeyeon dan timnya mulai bergerak mendekati tempat yang mereka tuju. Disana mereka berusaha senatural mungkin menjadi anggota tim pengaman Nozo Group yang masih belum curiga dengan kehadiran mereka.

“Kalian sudah beristirahat?” mendekati ruangan tempat Tiffany disekap, salah seorang tim pengaman Nozo Group berbicara. Taeyeon dan 3 orang lainnya terdiam saling menatap satu sama lain, mencoba berkomunikasi siapa yang akan menjawab pertanyaan itu.

“Ya.. kami sudah beristirahat.” Taeyeon menjawab pertanyaan itu sementara 29 orang lain yang mendengar jawaban itu terdiam kemudian memfokuskan pandangan mereka pada Taeyeon dan timnya.

“Habisi mereka!” Pria yang tadi bertanya pada Taeyeon berteriak lalu berjalan menuju ruangan tempat Tiffany berada. Anggota tim keamanan Nozo Group lainnya mulai menodongkan pistol mereka pada Taeyeon akan tetapi Taeyeon dan timnya dengan cepat mengambil beberapa orang Nozo Group sehingga mereka kini punya sandera untuk menjamin keselamatan mereka.

“Jatuhkan senjata kalian atau mereka akan kami bunuh.” Taeyeon berbicara dengan nada ancamannya. Ia menodongkan pistolnya ke kepala sanderanya. Anggota tim Taeyeon juga melakukan hal yang sama. Mereka kini membentuk lingkaran dengan posisi punggung saling bersentuhan sementara di depan tubuh mereka adalah anggota Nozo Group yang mereka sandera.

Secara perlahan Taeyeon dan timnya berjalan mendekati ruangan Tiffany sementara tim keamanan Nozo Group dari belakang mengikuti, bersiap menembak Taeyeon dan timnya.

Bang! Bang! Bang!

Suara tembakan terdengar begitu keras. Taeyeon menatap salah satu anggota Nozo Group dengan tajamnya. Pria yang tadi menjadi sanderanya kini terkulai tak bernyawa di dekapannya.

“Kalian..” Taeyeon tak bisa berkata-kata lebih panjang lagi. Ia kehilangan kata untuk mengutarakan keterkejutan dan kejijikan melihat seseorang tega membunuh temannya sendiri.

“Kau pikir kami takut?” salah satu anggota Nozo Group yang tadi menembak rekannya sendiri itu malah tersenyum dengan angkuh dan jahatnya.

“Tembak mereka!” pria yang tersenyum tadi memerintahkan anggota Nozo Group lainnya yang segera menembaki Taeyeon dan timnya.

“Tim 2 dan 4 tolong cover kami!” Taeyeon mencoba menghubungi timnya. Tim Taeyeon terpaksa menggunakan sandera mereka sebagai tameng dari peluru-peluru yang mengincar mereka. Tim 2 dan 4 segera bergerak. Mereka segera menembaki anggota Nozo Group dari belakang dan itu cukup berhasil meskipun jumlah mereka masih terlalu banyak.

Aksi baku tembak masih terjadi. Tim Nozo Group dengan brutalnya terus menembaki Taeyeon, Yuri dan 2 orang tim elit SJJD yang mulai kewalahan meskipun mereka masih menggunakan tameng tubuh sandera mereka. Tim 2 dan 4 juga berusaha untuk melumpuhkan beberapa anggota tim Nozo Group yang kini terbagi 2 yaitu setengah menyerang Taeyeon sedangkan setengah lainnya menyerang tim 2 dan 4 yang kondisi kesehatannya tak semaksimal tim Nozo Group.

“Argghh!” 2 orang tim elit SJJD kini terjatuh dengan luka di bahu dan kaki mereka. Melihat itu Taeyeon segera menembak beberapa orang yang akhirnya terkapar terkena timah panasnya.

“Yuri-ah!” Taeyeon memanggil sahabatnya yang terlihat fokusnya mulai berkurang dalam menembaki beberapa orang Nozo Group yang semakin gencar menyerang mereka.

“Yul! Kau ha… Eurgh!” Taeyeon terjatuh bersama sanderanya yang sudah tak bernyawa. Bahu kirinya terasa panas sekali dan basah. Ia merasa sedikit pusing tapi beberapa detik kemudian akalnya berteriak untuk bertahan.

“Taeng!” Yuri akan bergerak ke samping, mendekati Taeyeon yang terlihat terluka cukup parah di bahu kiri dan dada kanannya meskipun sahabatnya itu menggunakan rompi anti peluru.

“Yul.. arrgh!” peluru lainnya kini bersarang di lengan kanan dan paha kiri Taeyeon. Yuri mencoba mendekati sahabatnya itu tapi hujan peluru masih menghalangi mereka.

“Taeng.. bertahanlah!” Yuri panik melihat Taeyeon yang terlihat begitu kesakitan.

“Yul… pergilah! Selamatkan Tiffany! Aku.. akan.. mengcovermu.” Suara Taeyeon terdengar begitu lemah. Yuri terdiam melihat sahabatnya dalam kondisi seperti itu. Ia bingung. Satu sisi ia ingin menolong Taeyeon tapi disisi lain ia harus menyelamatkan calon istrinya juga.

“Pergi!” meskipun lemah, Taeyeon mencoba berteriak  pada Yuri yang segera terbangun dari zona berpikirnya.

“Taeng..”

“Pergi Yuri!” Taeyeon menembak anggota Nozo Group yang tersisa dengan membabi buta. Beberapa pria berhasil ia tumbangkan tapi nahas, sebuah peluru berhasil masuk lagi ke kaki bahu kanannya. Dengan itu Yuri segera berlari mengejar pria yang tadi berjalan menuju ruangan Tiffany. Dari kejauhan ia bisa melihat pria itu menekan beberapa tombol untuk membuka kode kunci ruangan yang diduga tempat Tiffany berada. Pintu mulai terbuka secara perlahan dan pria tersebut bersiap masuk.

“Argh!” Timah panas itu bersarang di punggung pria tadi. Ia akan berbalik dan menembakan senjatanya saat Yuri dengan tepat menembak pria itu di kepala. Pria itu terjatuh dan Yuri segera berlari memasuki ruangan itu.

“Eugh..” Langkah Yuri terhenti saat ia melihat lengan kirinya terkena tembakan dari belakang. Satu peluru lagi mengenai kaki kirinya. Ia terjatuh tapi berusaha bangkit lagi karena pintu ruangan Tiffany perlahan kini mulai menutup. Dengan sekuat tenaga Yuri bergerak memasuki ruangan itu. Sesekali ia melihat ke belakang, menembak orang yang tadi menyerangnya.

“Arghh!!” Yuri menggulingkan tubuhnya dengan cepat memasuki ruangan  itu karena pintu sedikit lagi akan menutup.

.

.

.

“Ahh.. syukurlah.” Pintu sudah tertutup dan kini Yuri sudah berada di dalam ruangan tersebut. Luka tembak yang begitu menyakitkan itu tak Yuri rasa. Dengan langkah gontainya ia berjalan mendekati sebuah ranjang dimana Tiffany tertidur disana dengan masker oksigen yang mengcover hidung dan bibirnya.

“Fany-ah..” Yuri mempercepat langkahnya. Ia ingin segera menemui wanitanya yang terlihat begitu tenang dalam tidurnya di ranjang itu.

“Fany-ah” Yuri kini telah tiba di samping ranjang Tiffany. Ia melihat beberapa alat medis dipasang di tubuh calon istrinya itu termasuk elektrokardiograf yang merekam aktivitas jantung Tiffany yang terlihat dalam keadaan stabil.

“Bertahanlah.. kita akan keluar dari sini.” Yuri tak kuasa menahan linangan air matanya melihat kondisi kekasihnya yang seperti itu. Pikirannya juga bercabang pada Taeyeon. Ia tak tahu bagaimana kondisi sahabatnya itu apa masih hidup atau tidak mengingat beberapa luka tembak yang menghinggapi tubuh sahabatnya itu.

“Sayang.. bangunlah..” Dalam tangis sunyinya, Yuri mencoba membangunkan Tiffany yang masih belum sadarkan diri.

“Sayang..” lagi.. Yuri mencoba membangunkan Tiffany yang masih tetap terbaring di ranjangnya.

“Fany-ah.. kumohon..” tangan itu Yuri genggam perlahan. Ia bisa merasakan dinginnya tangan sang kekasih yang entah kenapa masih belum bangun juga.

“Apa yang harus kula..” ucapan Yuri terhenti saat ia merasakan sesuatu menusuk lengannya. Ia mencoba untuk melawan apapun yang ada di belakang tapi tubuhnya tiba-tiba saja melemah.

“Apa yang kalian..” dalam hitungan detik tubuh Yuri ambruk dan kegelapan yang menguasai pandangannya.

==== My Lady ====

“Arggh..” Yuri terbangun merasakan air yang membasahi wajah dan tubuhnya. Ia mencoba menggerakan tubuhnya tapi tak bisa. Rasanya tubuhnya kini telah remuk. Kepalanya pusing sekali. Ia masih berusaha mengumpukan jiwanya karena ia merasa seperti melayang. Ia berusaha membuka kelopak matanya tapi sulit, ini terasa begitu berat. Meskipun begitu ia masih bisa mendengar sayup-sayup suara di sekelilingnya.

“Dia sudah bangun?” salah seorang pria berbicara.

“Belum, padahal aku sudah menyiramnya dengan air es seperti yang kau suruh.” Pria satu lagi menjawab.

“Bangunkan dia. Kita akan menyiksanya lagi dan kita masih harus merekamnya.”

“Tunggu.. video yang sebelumnya tidak berhasil?”

“Euhm kurasa seperti itu. Bos masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkan. Maka dari itu kita harus tetap menyiksanya hingga keinginan kita dikabulkan dan rencana berlangsung dengan lancar.”

“Hallo Tuan Kwon!” seorang pria masih dengan kuas lukisnya di tangan kanannya mendatangi Yuri yang baru saja sadarkan diri. Ia masih mencoba mengumpulkan nyawanya. Rasanya tubuhnya begitu berat. Kepalanya begitu pusing seperti dipukul dari berbagai arah.

“Sudah baikan?” pria itu tersenyum, terlihat khawatir melihat tamunya  dalam kondisi seperti ini, babak belur dengan beberapa luka tembak di tubuhnya.

“Di. Ma.. na.. Ti.ffa..ny..” meskipun tenggorokannya terasa kering sekali, Yuri berusaha menanyakan keberadaan sang kekasih.

“Well.. dia masih menjalankan perannya sebagai putri tidurmu.” Senyuman di wajah pria itu tak berkurang. Ia malah seperti begitu menikmati apa yang ditatapnya saat ini.

“Ka..li..an..” ingin sekali Yuri menanyakan apa yang sudah dilakukan oleh mereka pada calon istrinya tapi tenggorokannya sakit sekali.

“Tenanglah Tuan Kwon.. kami hanya memberinya obat tidur agar calon istrimu tidak menyaksikan betapa kejamnya dunia saat ini.” Senyuman itu kini terlihat menakutkan bagi Yuri. Ia bisa merasakan sesuatu menarik tangan kanan dan kirinya ke arah yang berbeda, kakinya pun mendapatkan perlakuan yang sama. Rasanya semua tubuhnya akan lepas secara bersamaan.

“Arrrrgghh!!” teriakan itu terasa menyakitkan sekali tapi pria yang berbicara pada Yuri malah terlihat begitu senang dan bersemangat. Ia segera berlari ke kanvas barunya, mencoba melukis Yuri yang tak mengenakan apapun ditubuhnya, terikat oleh rantai yang kini menarik tubuhnya ke arah yang berbeda.

“Arrgghhh!!!” teriakan Yuri semakin kencang saat tarikan itu semakin kuat diberikan padanya. Seperti sebentar lagi salah satu tangan atau kakinya akan lepas.

“Cukup! Pelankan tarikannya. Tuan Kwon terlihat begitu kesakitan.”pria yang tadi begitu serius melukis sesuatu di kanvasnya kini terlihat berpikir.

“Oh ya.. mengapa kita tak memberikannya kenikmatan saja? Lukisanku akan lebih baik lagi jika ada wanita yang menemaninya.”

“Hentikan!” seorang pria yang baru memasuki ruangan berjalan dengan dibantu 2 orang di sisinya. Ia menghampiri pria yang terlihat kecewa melihat lagi lukisannya.

“Akio.. sudah cukup kau menyiksanya. Jangan jadikan dia objek lukisanmu yang gila itu.”pria itu berbicara dengan wajahnya yang datar.

“Ah.. kenapa kau bilang  seperti itu. Bukankah kau sering menikmatinya?” pria bernama Akio tadi menatap pria di hadapanya dengan senyum nakal dan menggodanya.

“Akio.. kita sedang tidak bermain-main.” Mendengar hal itu Akio tertawa. Ia mendekati Yuri yang setengah sadar setengah tidak menahan rasa sakit luar biasa di tubuhnya.

“Tuan Kwon.. lihatlah pahlawanmu sudah datang. Apa kau mengenalnya?”  wajah Yuri dibawa untuk melihat pria yang baru saja menyelamatkannya dari kegilaan Akio.

“K.. K.. Ka.. Kau…” kesadaran Yuri segera menghilang saat ia menerima tegangan dari pistol listrik yang Akio tembakan ke lehernya.

 

 

 

“Tapi kondisinya sudah seperti itu. Sepertinya dia akan mati jika kita menyiksanya lagi.” Pria yang satunya lagi berkomentar.

“Mau bagaimana lagi. Ini adalah perintah. Lagipula ayahnya cukup gila dengan tak memberikan apa yang Bos inginkan bahkan dengan kondisi putranya yang seperti ini.”

“Heumh.. kau benar. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Bos bilang kita harus membuat Kwon Yuri terlihat sekarat.”

“Lalu wanitanya? Kau tahu.. sungguh disayangkan jika kita tidak mencicipinya. Kita hanya membiarkannya tak sadarkan diri selama 3 hari ini.”

‘3 hari? Ini semua sudah terjadi selama itu?’ ucap Yuri dalam diamnya.

“Kau ini! Kita tidak boleh menyentuh wanita itu. Jika kau berani menyentuhnya, maka kau akan berurusan dengan salah satu anak kesayangan Tuan Takeshi  dan Tuan Shino pasti akan segera bertindak, bahkan Bos pun tak bisa melindungi kita.”

“Tuan Akio tidak akan bisa melindungi kita? Sehebat itukah pengaruh anak itu?”

“Kau tidak tahu betapa berterimakasihnya Tuan Takeshi saat anak itu menyelamatkan Bos beberapa tahun lalu. Jika tidak, mungkin Bos hanya tinggal nama.”

“Ah.. ternyata orang itu.. aku tidak menyangka. Aku kira dia orang baik tapi dia sama saja seperti kita.”

“Melihat dia berani melakukan ini bahkan pada orang terdekatnya, aku rasa dia memiliki alasan yang sangat kuat.”

“Hei kalian berdua! Ayo cepat lakukan tugas kalian!” seorang pria lainnya datang. Ia membawa kartu memori baru untuk merekam penyiksaan yang akan dilakukan pada Yuri.

‘Tidak! Aku harus berbuat sesuatu!’ panic Yuri dalam hatinya melihat 2 pria yang sejak tadi membicarakannya berjalan mulai mendekatinya.

“Coba kau bangunkan dia lagi.” Salah satu dari pria itu mendekati Yuri dengan membawa seember air dingin yang mengguyur tubuh Yuri yang masih tak memberikan respon apapun.

“Dia masih belum bangun. Apa mungkin..” pria satunya segera mengecek nadi Yuri.  Beberapa detik kemudian pria itu tersenyum dan menampar wajah Yuri cukup keras sehingga erangan kecil itu bisa terdengar.

“Hahaa.. jadi sejak tadi kau berpura-pura?” pria yang menampar Yuri tadi kini memanggil temannya. Ia meminta tongkat besi Baton Stick Fox miliknya dan mulai memukuli tubuh Yuri dengan brutal. Pria yang satunya lagi memegangi kamera, ia merekam penyiksaan itu.

“Hahaha.. apa kau masih berpura-pura?” erangan Yuri kini semakin keras. Tongkat itu meninggalkan jejak yang tak main-main. Tubuh Yuri kini sudah babak belur. Rasanya darah itu kini telah menjadi pakaian barunya.

“T..t..to..lo..ng… s..s..st.stop” Yuri meminta dalam rintihannya. Rasanya ia sudah tak kuat lagi. Tubuhnya sudah tak mampu lagi. Satu sisi dalam dirinya ingin menyerah tapi sisi yang lainnya menolak. Ia masih harus menyelamatkan Tiffany dari orang-orang gila ini.

“Baiklah.. tapi kau harus meminta pada Ayahmu untuk datang sekarang juga.” Pria itu berhenti memukuli Yuri, ia meminta temannya yang sedang merekam video mereka untuk lebih mendekat dan fokus ke wajah Yuri yang sudah bengkak dan lebam, mungkin orang luar takkan mengenali bahwa seorang Kwon Yuri yang sedang berbicara dengan mereka jika mereka melihat kondisi Yuri sekarang.

“Ap.. App..a.. t.. t..to..lo..ng.” dan diakhir, kesadaran itu kembali meninggalkan Yuri.

.

.

.

Seorang pria baru saja memasuki sebuah ruangan dalam sebuah gudang yang terlihat masih beroperasi seperti biasa. Pria itu memperlihatkan sesuatu dari smartphonenya pada pria berjas abu yang berjaga di pintu depan ruangan yang masih memiliki ruangan lain di dalamnya. Pria berjas abu itu mengantarkan pria tadi memasuki sebuah ruangan yang sedikit lebih kecil dari ruangan tadi.

“Silakan duduk disini Tuan.” Pria berjas abu itu membawa pria yang diantarnya tadi menuju kursi yang sudah disediakan. Pria yang diantarnya tersebut segera duduk di kursi tersebut. Si pria berjas abu itu segera pamit meninggalkan pria yang diantarnya tadi sendiri. Ia melihat ke sekeliling dan merasa takjub sekaligus aneh dengan ruangan tempat drinya berada saat ini.

“Apa ini.. bagaimana bisa mereka membuat yang seperti ini?” Pria itu mengamati desain ruangan yang simple dan minimalis dengan beberapa lukisan indah sekaligus mengerikan untuk dipandang.

“Ah.. selamat datang Tuan Kwon!” Akio yang baru tiba di ruangan berjalan menghampiri tamunya malam ini. Ia terlihat berpakaian resmi dan rapi, tidak santai seperti biasanya.

“Dimana putraku?” Kwon Bang Won segera berdiri saat Akio sudah berada di hadapannya. Ia tak membalas tangan Akio yang ingin menjabatnya.

“Kau tidak mengkhawatirkan calon menantumu juga?” wajah Akio terlihat kaget meskipun senyum manis dan liciknya itu mendampingi.

“Tiffany?” Akio tertawa melihat wajah Bang Won yang terlihat kaget.

“Wanita adalah salah satu kelemahan pria. Hal itu pula yang membawa putramu disini dan tentunya kau juga pada akhirnya.” Ekspresi wajah Bang Won kembali berubah. Wajah tampan dan karismatik itu kini terlihat dipenuhi amarah.

“Oh ya.. kau ingin melihat mereka?” Akio mendekatkan wajahnya pada Bang Won yang menatapnya dingin. Mata mereka saling bertatapan. Akio terlihat senang sekali melihat emosi pria di hadapannya itu. Kwon Bang Won selama ini terkenal sebagai pria yang pandai mengatur emosinya. Publik memuji gaya kepemimpinan Bang Won yang menjaga legasi Kwon Group tetap menjadi perusahaan yang banyak berkontribusi dalam pembangunan dan pengembangan industri di Korea Selatan.

“Kau.. masih bertanya padaku?” nada bicara Bang Won masih terdengar tenang. Akio tertawa lagi melihat pria di hadapannya itu. Ia kemudian mengeluarkan sebuah remote dari saku jasnya. Ia tekan tombol hijau di remote itu. Beberapa detik kemudian dinding yang berada di sebelah kiri Akio bergeser, menampilkan ruangan tersembunyi yang dilapisi oleh kaca anti peluru. Di ruangan itu kita bisa melihat Tiffany dan Yuri yang tidur di ranjangnya masing-masing. Bang Won berjalan mendekati dinding kaca itu, ingin melihat putra dan calon menantunya lebih dekat.

“Yuri-ah..” kepedihan itu jelas tergambar di wajah Bang Won saat melihat tubuh putranya dipenuhi luka siksaan yang dilakukan oleh anak buah Akio berbeda dengan Tiffany yang tak mendapat luka apapun, masih terlihat cantik dalam tidurnya.

“Tuan Kwon.. seandainya kau datang lebih cepat.. mungkin anakmu takkan seperti itu.” Akio menunjukan wajah prihatin dan simpatinya – menggelengkan kepalanya ringan.

“Kau….” Bang Won menggeram pelan. Hatinya sakit melihat 2 orang yang disayanginya seperti sekarang, terlihat lemah dan tak berdaya. Ia mengambil lalu menarik kerah kemeja Akio membuat putra semata wayang Ketua Nozo Group itu kaget dengan aksinya. Kuatnya tarikan itu membuat Akio sedikit sesak.

“Tuan.. Kwon.. se..baik..nya kau melepaskanku..” Akio menunjukan remote kecil yang masih dipegangnya sejak tadi. Melihat itu, Bang Won dengan enggan melepaskan genggamanya. Ia mendorong tubuh Akio yang sedikit terhuyung ke belakang. Bang Won menutup kedua matanya, menarik nafas cukup panjang, mencoba mengatur emosinya.

“Lepaskan mereka.” Akio yang sudah merapikan kembali pakaiannya memandang wajah Bang Won terhibur.

“Semua ini tidak akan terjadi jika kau mengabulkan keinginan kami dari awal.” Akio kini terlihat santai lagi. Ia memberikan senyum menantangnya itu pada Bang Won yang terdiam mendengarnya.

“Apa maksudmu?” Mata itu mendelik tajam pada Akio penuh tanya.

“Ah.. putramu tidak memberitahumu?” diamnya Bang Won menjawab pertanyaan yang Akio ajukan tadi. Putra bungsu Ketua Nozo Group itu mulai tertawa menyadari kesalahan yang Yuri lakukan selama ini.

“Apa yang kau inginkan?” Tubuh Bang Won bergetar menahan amarah dan kekesalannya. Tangannya mengepal hebat. Melihat itu Akio tertawa lagi lalu mengambil telponnya, menghubungi seseorang. Tak berapa lama kemudian datang 2 orang pria dengan pakaian formalnya menghampiri Akio dan Bang Won. Kedua pria itu membawa Leather Case mereka. Dari Leather Case itu mereka mengeluarkan sebuah map yang segera diberikan pada Akio dan Bang Won. Bang Won membaca isi dokumen itu dengan teliti. Ia beberapa kali menaikan alisnya, terlihat keberatan dengan isi dari kontrak kerjasama dan pembelian saham Kwon Group oleh Nozo Group.

“Yang harus kau lakukan adalah tandatangani kedua berkas itu. Putramu dan calon menantumu bisa pulang dengan selamat jika kau melakukan yang kuminta tadi.”

“Kau gila.. aku tidak mungkin menyetujui hal seperti ini!” ucap Bang Won dalam senyum tak percayanya. Akio memutarkan pandangannya, seolah tak mendengar ejekan pria dihadapannya.

“Semuanya tergantung padamu Tuan Kwon. Apa kau ingin mereka tetap hidup atau tidak.” Wajah Bang Won kini Akio bawa untuk kembali melihat ke ruangan dimana Yuri dan Tiffany berada. 2 orang kini sudah hadir bersama kedua calon pengantin itu. Kedua pria tersebut menodongkan pistol mereka ke kepala Yuri dan Tiffany yang membuat Bang Won terhenyak dalam diamnya.

“Tidak.. tidak…” ketakutan dan panic itu kini terlihat di wajah Bang Won yang membuat Akio puas melihatnya.

“Jadi.. apa yang akan kau pilih Tuan Kwon?” Bang Won masih belum melepaskan pandangan matanya dari Yuri dan Tiffany yang nyawanya kini semakin terancam.

“Tuan Kwon…” Akio kembali memanggil pria yang masih belum menoleh padanya. Sedikit kesal, Akio ikut berdiri bersama Bang Won mengalihkan pandangannya pada kedua bawahannya yang ada di ruangan tempat Yuri dan Tiffany berada. Akio memberikan sebuah kode pada  2 bawahannya itu. Salah satu bawahannya kemudian bersiap menembak kepala Yuri yang otomatis membuat Bang Won bertambah panik.

“Yuri-ah!” nafas kasar Bang Won kini terdengar.

“Tuan Kwon!” Akio menampar Bang Won cukup keras.

“Tandatangani sekarang atau putramu dan calon istrinya mati!” tak ada kesan main-main kini dalam ucapan Akio. Ia melemparkan  berkas itu pada Bang Won yang terdiam kesal menatapnya. Cukup lama Bang Won terdiam sebelumnya ia mulai menandatangi berkas-berkas itu. Setelah selesai, kedua berkas itu kembali diambil oleh 2 orang pria tadi. Mereka kemudian memasukan berkas-berkas itu ke dalam Leather Case lalu pamit undur dari ruangan tempat Akio dan Bang Won berada.

“Kau membuat pilihan yang tepat Appa!” seorang pria yang baru memasuki ruangan tempat Akio dan Bang Won berada kini berjalan menghampiri 2 pria tadi.

“Kau..” Bang Won seperti mendapat petir di siang bolong yang menyambarnya begitu kuat. Ia menatap pria dihadapannya penuh dengan keterkejutan dan rasa tak percaya.

“Tenang saja Appa, mereka akan selamat. Aku akan menjamin hal itu.” Pria itu tersenyum pada Akio yang mengerti dengan maksud senyuman itu dan pada Bang Won yang kini menatapnya murka

“Baiklah.. kurasa urusanku disini sudah selesai. Aku pamit dulu Tuan Kwon. Senang bekerjasama denganmu. Semoga harimu menyenangkan!” Akio memberikan senyum licik dan nakalnya sebelum pergi meninggalkan Bang Won dan pria yang baru saja tiba di ruangan mereka tadi.

“Mengapa kau.. melakukan ini?” Geram Bang Won pada pria di hadapannya yang hanya tersenyum kecil melihat kemurkaannya.

“Kau lebih tahu kenapa aku melakukan hal ini Tuan Kwon.” Senyuman itu perlahan menghilang, terganti dengan rasa benci dan amarah yang membuat Bang Won seketika mengerti maksud ucapan pria di hadapannya.

“Apa mungkin kau.. tidak!” Bang Won menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang ada di pikirannya. Bang Won terjatuh menyadari bahwa apa yang menjadi prasangkanya benar.

“Apa kau sudah ingat?” pria itu kini ikut terduduk bersama Bang Won yang tertunduk tak berani menatapnya.

“Kau sudah ingat dengan semua dosamu sekarang?” Bang Won menggelengkan kepalanya. Kedua matanya kini berair, menahan air mata ketakutan, panik dan rasa bersalahnya.

“Kau sudah ingat dengan seorang wanita yang kau bunuh beberapa tahun lalu? Seorang wanita yang dicintai oleh seorang pria yang kau anggap sebagai putramu sendiri.” Pria itu tak kuasa menahan air matanya sama seperti Bang Won yang kini menangis dalam diamnya.

“Seorang wanita.. yang merupakan hidupku.. kebahagiaanku!” Bang Won terdiam mendengar teriakan itu.

“Kau membunuh wanita yang sebentar lagi akan menjadi pasangan hidupku. Kau membunuh wanita yang selalu menginspirasiku. Kau membunuh wanita yang menjadi mimpiku… Arrrghhh!!!!” teriakan itu dipenuhi dengan kesedihan dan rasa frustasi. Bang Won hanya menangis dalam diamnya.

“Mengapa kau menangis heuh?”

“Taeyeon-ah..” Bang Won kini berucap.

“Mengapa kau.. membunuhnya?” Taeyeon kini menghentikan tangisnya. Ia duduk mendekati Bang Won yang menatapnya penuh rasa sesal. Sebenarnya ia sudah tahu alasan dibalik pembunuhan itu tapi ia ingin mendengar kenyataan itu dari Bibir Bang Won sendiri.

“Taeyeon-ah..” Bang Won mencoba memanggil lagi pria yang memang sudah ia anggap sebagai anaknya itu.

“Kenapa? Kenapa kau melakukan itu?” Taeyeon menolak panggilan itu. Ia menatap Bang Won penuh dengan kebencian dan amarah yang terpendam.

“Aku.. aku..” entah kenapa Bang Won seperti kehilangan kata-kata. Ia tak tahu harus berucap apa.

“Kwon Bang Won!” Tamparan begitu keras Taeyeon layangkan pada pria yang lebih tua darinya itu.

“Kau.. berani menampar.. Appa-mu?” setelah terdiam cukup lama terdiam akhirnya Bang Won berbicara.

“Kau bukan Appaku.” Taeyeon menatapnya tajam dan terlihat muak.

“Hahaha.. baiklah. Kau benar. Aku memang bukan Appa-mu. Maka dari itu aku tidak segan untuk menyuruh anak buahku menghabisi nyawa kekasihmu.” Bang Won tertawa layaknya pria gila.

“Jadi benar.. kau.. memang seperti itu.” Taeyeon tertawa kecil mendengar pengakuan Bang Won.

“Kau tahu, bahkan jika orang itu adalah Tiffany sekalipun, jika ia menghalangi tujuanku, aku tidak akan segan untuk menghabisinya.” Bang Won mengucapkan kata-kata itu seakan itu adalah hal yang biasa. Ia kembali ke mode bisnisnya sementara Taeyeon menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.

“Tiffany? Kau gila! Dia adalah wanita yang menjadi dunia Yuri, putramu sendiri!.” Bang Won tersenyum mendengar ucapan itu.

“Tidak ada yang tidak gila di dunia ini Taeyeon-ah. Di dunia ini, dengan cara seperti inilah kita bertahan. Kebaikan yang tak memiliki kekuasaan dan teroganisir.. selamanya akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi dan dipenuhi kekuatan serta kekuasaan. Kau harus tahu.. inilah HIDUP!” Taeyeon terdiam mendengar ucapan Bang Won. Apa yang telah diucapkan oleh ayah sahabatnya itu seperti benar-benar mempengaruhi pikirannya. Melihat hal itu membuat Bang Won tertawa.

“Kau mengerti?” Bang Won berdiri dan mulai merapikan pakaiannya. Ia melihat ke arah Yuri dan Tiffany yang masih tertidur di ranjangnya. Kali ini tak ada seorangpun yang menjaga mereka dan itu berarti Akio menepati janjinya.

“Kau harus memastikan Yuri dan Tiffany tiba di Seoul dengan selamat. Aku akan memaafkanmu kali ini.” Dengan itu Bang Won berjalan melewati Taeyeon yang masih terduduk dalam diamnya.

“Kau.. tidak akan meminta maaf.. dan menyesalinya?” suara itu menghentikan langkah Bang Won yang segera membalikan direksi tubuhnya menghadap Taeyeon. Sahabat putranya itu kini mulai berdiri dan berjalan menghampirinya.

“Tentu saja.. tidak. Tak ada yang harus disesali dalam hidup ini.” Bang Won tertawa ringan melihat Taeyeon yang perlahan ikut tertawa dengannya.

“Ah… kau benar. Mengapa aku baru menyadarinya?” Tawa Taeyeon semakin mengeras.

“Appa.. bolehkah aku memelukmu? Well anggap saja ini sebagai ucapan terimakasihku karena kau sudah membukakan kedua mataku akan dunia yang sesungguhnya.” Taeyeon meminta dengan senyum penuh penghormatan pada Bang Won yang mengiyakan keinginan sahabat putranya itu.

“Kemarilah.. peluk Appa-mu ini!” Bang Won tertawa kecil melihat Taeyeon semakin dekat dengannya. Dibawalah Taeyeon dalam pelukan itu.

“Appa..” kesunyian itu Taeyeon yang memecahkannya. Ia masih memeluk Bang Won yang tak menaruh curiga apapun padanya.

“Heumh?”

“Maafkan aku..” beberapa detik kemudian Bang Won bisa merasakan sesuatu menusuk lehernya. Ia mendorong tubuh Taeyeon, melepaskan pelukan itu. Diambilnya suntikan yang masih tertanam di lehernya.

“Apa ini?” seluruh tubuhnya terasa terbakar, otot-ototnya nyeri.

Potassium Chloride.” Taeyeon tersenyum begitu tenang layaknya ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

“K..k.. kau..” Bang Won terjatuh – tersungkur kedepan. Ia memegangi dadanya yang sesak. Taeyeon terdiam memandangi Bang Won yang sedang menghadapi ajalnya. Perlahan ia berjalan menuju ayah sahabatnya itu. Mata Bang Won yang terbelalak menunjukan bahwa kehidupan itu sudah tak ada lagi. Mata itu Taeyeon tutup diiringi dengan doa didalamnya.

“Semoga kau tenang di alam sana… Appa.”

==== My Lady ====

 

“Oppa..” Tiffany membawa Yuri dalam pelukannya. Kekasihnya itu terlihat kelelahan baik secara fisik maupun mental setelah menyelesaikan proses pemakaman untuk ayahnya beberapa hari yang lalu. Mendiang calon ayah mertuanya itu ditemukan meninggal di ruang kerjanya karena serangan jantung.

Tiffany tak pernah mengetahui bahwa ayah Yuri menderita sakit apapun termasuk penyakit jantung karena ayah Yuri memang tergolong pria yang sehat di usianya. Beberapa kali Tiffany ikut bersama ayahnya untuk bermain Golf, Tenis ataupun berkuda bersama Yuri dan calon mertuanya itu. Maka saat mendengar bahwa Kwon Bang Won meninggal terkena serangan jantung, Tiffany sedikit sulit mempercayainya.

 Sepertinya buka hanya Tiffany yang berpikiran seperti itu. Anggota keluarga Kwon yang lainnya pun menginginkan agar kematian Bang Won diselidiki tapi Yuri dengan tegas menolaknya. Ia tidak ingin tubuh ayahnya diotopsi. Lagipula ibu, dan kakaknya telah ikhlas menerima kematian sang ayah yang memang mungkin sudah waktunya berpulang kepada yang maha kuasa. Karena itu, keluarga Kwon yang lain pun tak bisa memaksa Yuri untuk mengizinkan jasad ayahnya diotopsi.

Tiffany tak mengetahui bahwa dirinya diculik oleh Nozo Group beberapa hari yang lalu karena Yuri mengatakan padanya bahwa mereka berdua kecelakaan saat akan mengunjungi ayah dan ibu Yuri siang itu. Obat yang diberikan oleh Nozo Group selama masa penyekapan itu sepertinya lebih kurang berpengaruh pada ingatan Tiffany akan hari itu sehingga ia mempercayai apapun yang Yuri katakan padanya. Yuri juga sudah memberitahu Taeyeon agar sahabatnya itu tidak memberi tahu Tiffany tentang penculikan yang menimpanya. Ia tak ingin calon istrinya itu mengingat lagi kenangan buruk yang mungkin ditinggalkan dari penculikan itu.

“Beristirahatlah.. aku akan menemanimu.” Tiffany membawa calon suaminya itu untuk tidur di sampingnya. Ia tahu sudah beberapa hari ini Yuri sulit untuk tidur. Jikapun tidur, pria bermarga Kwon itu akan mengigau ketakutan dan kesakitan seperti sedang mengalami penyiksaan. Ingin sekali Tiffany menanyakan hal itu tapi mengingat kesibukan Yuri selama mengurus pemakaman ayahnya, niat itu ia urungkan.

“Fany-ah..” keduanya kini duduk di ranjang Yuri yang mendekap Tiffany di sampingnya.

“Heumh?” wajahnya Tiffany tolehkan ke samping kanan, menatap Yuri yang tersenyum kecil dalam kelelahannya.

“Aku bersyukur kepada Tuhan karena dalam kondisi seperti ini, kau masih ada di sampingku – memberikanku kekuatan untuk bertahan dan bersabar dalam menghadapi ini semua – terimakasih.” Kedua tangan milik calon istrinya itu Yuri ambil – ia cium cukup lama – memejamkan kedua matanya hingga tak terasa air mata itu membasahi tangan Tiffany.

“Oppa..” Tiffany segera memeluk Yuri yang menangis dalam diamnya. Ia menepuk-nepuk punggung calon suaminya itu pelan, berharap bisa menenangkan pria yang ia ketahui sangat dekat dan menyayangi mendiang ayahnya itu.

“Sayang.. jangan tinggalkan aku, tetaplah bersamaku.” Yuri berucap dalam tangisnya. Mendengar hal itu pikiran Tiffany segera beralih pada Taeyeon. Jika saja pria bermarga Kim itu belum benar-benar mengambil hatinya, mungkin Tiffany takkan ragu dan berpikir dulu untuk menjawab pertanyaan pria yang kini sedang dipeluknya.

“Fany-ah..” panggilan itu membangunkan Tiffany dari lamunannya. Ia bisa merasakan Yuri perlahan melepaskan pelukan itu.

“Sayang..” melihat wajah calon suaminya saat ini, Tiffany tak memiliki hati untuk menolak keinginannya. Ia menganggukan kepalanya pelan, memberikan senyum bulan sabitnya. Melihat itu Yuri tersenyum lega dan membawa Tiffany dalam dekapannya, membagi kehangatan dan kenyamanan yang selalu Tiffany sediakan kedalam tubuhnya, mencoba melupakan kematian sang Ayah yang menyakitkan.

.

.

.

“Yul..” Taeyeon yang baru tiba di kamar Tiffany sedikit terkejut melihat sahabatnya itu baru saja keluar dari kamar mandi di kamar calon istrinya itu.

“Shush..” Yuri memberinya tanda untuk tidak berisik. Taeyeon bisa melihat Tiffany masih terlelap dalam tidurnya dan itu terlihat imut sekali. Perlahan senyum itu muncul di wajah Taeyeon yang tak sadar bahwa Yuri mengamatinya.

“Ayo kita keluar.” Ajak Yuri pelan pada sahabatnya itu, ia tak ingin menganggu tidur calon istrinya itu. Taeyeon mengangguk, mengerti dengan ucapan sahabatnya itu. Perlahan keduanya berjalan keluar dari kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka.

.

.

.

“Taeng.. apa kau merindukan Jinhee?” Yuri membunuh kesunyian yang sejak tadi menemani sarapan mereka.

Do I ever not?”  Yuri tersenyum kecil mendengar jawaban sahabatnya itu. Ia menuangkan kembali jus jeruk yang menemani sarapan mereka.

“Aku sudah menduganya.” Senyum itu masih belum hilang dari wajah Yuri. Ia mengoleskan kembali selai blueberry di roti panggangnya.

“Ada apa Yul?” tak setiap hari Yuri bertanya seperti itu padanya dan Taeyeon yakin pasti ada sesuatu yang mengganggu pikiran sahabatnya itu.

“Aku merindukan Appa.. dan Jinhee. Taeng.. maukah kau menemaniku mengunjungi mereka?”

“Tentu.”

.

.

.

“Hallo Jinhee-ah..” Yuri berjongkok di nisan wanita yang hingga hari ini masih menempati tempat yang special di hati dan hidup Taeyeon. Ia memberikan karangan bunganya.

“Apa kabarmu? Apa kau sudah bertemu dengan Appa di surga?” Yuri berbicara pada nisan Jinhee layaknya wanita itu ada disana. Taeyeon hanya diam mengamati sahabatnya itu. Entah mengapa ia merasakan kesenduan itu mendekapnya lagi begitu kuat. Kerinduannya pada Jinhee kembali meningkat lebih dari biasanya.

“Aku harap kau bertemu dengannya disana. Tolong sampaikan salam cinta dan rinduku padanya.” Taeyeon menundukan kepalanya. Ia tak berani menatap Yuri yang sedang berbicara dengan mendiang kekasihnya. Tenggorokannya rasanya tercekat dan air matanya kini sudah membasahi pipinya. Tak tahu mengapa ia bisa seperti ini. Apakah ini karena kerinduannya pada Jinhee atau karena rasa bersalahnya karena telah membalaskan dendamnya pada ayah Yuri dengan membunuhnya.

“Jinhee.. tolong jaga Appaku.” Tangis Yuri kini juga bisa terdengar.

‘Tolong… maafkan semua kesalahannya. Dia sudah menebusnya. Taeyeon sudah menebusnya. Dia sudah menghukum apapun yang Appa lakukan padamu. Tolong maafkan dia.’ Yuri memohon dalam hatinya dengan tangis yang ia tujukan untuk Jinhee dan ayahnya.

==== My Lady ====

 

“Oppa..” Jessica datang dari belakang. Ia segera memeluk Taeyeon yang sedang memasak untuk sarapan mereka pagi ini.

“Heumh?” Taeyeon tersenyum merasakan pelukan itu semakin mengerat. Ia tahu jika seperti ini pasti ada yang diinginkan oleh kekasihnya itu.

“Ke butik temanku. Ada sesuatu yang ingin aku cek disana. Ya?” Taeyeon mematikan kompor listriknya. Ia melepaskan pelukan sang kekasih yang menatapnya heran tapi penuh pengharapan.

“Lama tidak?” Taeyeon membalikkan direksi tubuhnya menghadap sang kekasih yang terlihat memikirkan sesuatu.

“Euhm.. 2 jam?” Taeyeon mengerutkan kedua matanya mendengar jawaban yang disangsikan kebenarannya itu.

“Oppa.. ayolah..” Jessica memohon dengan imut membuat Taeyeon tertawa dalam hatinya.

“Oppa..” Tubuh itu Jessica goyangkan sementara Taeyeon sendiri masih terlihat berpikir dengan permintaan wanita di hadapannya itu.

.

.

.

“Oppa.. kau.. tampan sekali!” Jessica terlihat seperti seorang remaja yang baru pertama bertemu dengan idolanya. Ia mengambil foto Taeyeon beberapa kali. Pria bermarga Kim itu mengenakan setelan tuksedo hitam klasik yang cocok sekali di badannya.

“Benarkah?” Taeyeon tersenyum melihat tingkah wanita dihadapannya itu.

“Kau juga cantik” pipi Jessica merah merona mendengar pujian dari prianya itu. Saat ini ia mengenakan gaun putih simple yang menunjukan keindahan tubuhnya.

“Kalian berdua seperti Barbie dan Ken.”

“Yul? Fany?” Taeyeon terkejut melihat 2 orang yang tak ia harapkan ada di hadapannya saat ini, lebih tepatnya 1 orang karena ia masih ingin melihat Tiffany pastinya.

“Hai Tiff! Oppa!” Jessica menyapa kedua orang yang baru saja tiba di butik yang menjadi tujuannya hari ini.

“Kau pasti kaget? Haha maafkan aku. Aku yang sengaja meminta Jessica untuk mengajamu kesini.” Senyum itu masih belum hilang dari wajah Yuri dan Jessica, berbeda dengan Taeyeon dan Tiffany yang berusaha menghilangkan ketidaknyamanan mereka.

“Untuk apa?” Taeyeon berkata. Ia berusaha untuk tidak terlihat kesal atau terkejut dengan semua ini.

“Fitting baju. Aku dan Tiffany berencana untuk mempercepat persiapan pernikahan kami. Nozo Group sekarang sudah tidak mengganggu lagi. Jadi.. ini adalah momen yang pas. Oh ya.. Jessica disini bersedia untuk membantu sehingga kami bisa menemukan butik yang luar biasa ini. Kau beruntung Taeng memiliki kekasih seperti Jessica… ” Jessica tertawa kecil memukul pundak Yuri yang ikut tertawa karenanya.

“Oh.. Yuri-shi.. Tiffany-shi! Akhirnya kalian datang juga.” Seo Sookyung, kepala perancang sekaligus pemilik butik memasuki ruangan tempat Yuri, Taeyeon, Tiffany dan Jessica berada.

 “Ah iya.. kebetulan tadi ada yang harus diselesaikan dulu jadi kami terlambat. Mohon dimaafkan Nona Seo..” dengan manis dan karismatiknya Yuri memberikan alasannya pada Sookyung yang terjebak dalam pesonanya.

“Hahaha.. tidak apa-apa. Jessica dan Taeyeon-shi sudah mencoba pakaian mereka. Ayo.. sekarang giliran kalian!” Sookyung memanggil 2 asistennya yang segera membawa Yuri dan Tiffany menuju ruang ganti mereka.

Beberapa menit kemudian Yuri sudah tiba di ruangan tempat mereka tadi berkumpul. Pria bermarga Kwon itu terlihat begitu tampan dan gagah mengenakan tuksedo putih klasik yang membuatnya terlihat semakin berkelas.

“Hei! Apa yang sedang kau lamunkan?” tegur Yuri pada Taeyeon yang sedari tadi begitu asik memandangi pemandangan luar lewat dinding kaca ruangan mereka.

“Euh.. tidak.” Taeyeon hanya tersenyum kecil menggelengkan kepalanya.

“Taeng.. ayolah!” Lengan itu Yuri sentuh. Ia berusaha membujuk sahabatnya itu untuk berbicara. Taeyeon terlihat sedang memikirkan sesuatu yang jelas mengganggu dan Yuri ingin tahu.

“Yul.. bagaimana kalau kita minum-minum nanti malam? Hanya kita berdua dan aku akan menceritakan apa yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.”

“Oh.. okay!”

“Yuri-shi..” Panggilan Sookyung itu membuat Taeyeon dan Yuri membalikan tubuh mereka melihat Tiffany berjalan memasuki ruangan didampingi Jessica.

“Sayang..” Yuri terpukau melihat calon istrinya itu terlihat cantik sekali mengenakan gaun putih simple dan elegan dihiasi aksen yang menawan, membuat semua mata tertuju pada gaun dan penggunanya.

“Fany-ah”  Taeyeon pun tak bisa menahan rasa kagumnya saat melihat Tiffany tersenyum padanya dalam gaun indah itu.

Yuri segera menghampiri Tiffany yang juga tersenyum padanya. Pria bermarga Kwon itu tak berhenti memandangi keindahan dihadapannya yang begitu dekat dengannya.

“Tuhan.. seandainya aku bisa menikah disini sekarang.. pasti aku akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini.” Senyum Yuri bagai seseorang yang baru menemukan harta karun. Ia membawa calon istrinya itu dalam pelukannya, mencoba meredam rasa bahagia melihat Tiffany dalam balutan gaun pengantinnya.

‘Taeyeon Oppa.. maafkan aku.’ senyum Tiffany menyendu kala ia melihat Taeyeon yang menatapnya dalam diam.

“Yuri Oppa! Ayo sini aku foto!” mendengar ide itu, pelukan itu Yuri lepas. Ia kini berdiri di samping Tiffany, membawa tangan kanan calon istrinya itu untuk menggandengnya, mempersiapkan dirinya untuk difoto oleh Jessica.

“1..2..3.. okay!” beberapa kali Jessica menangkap gambar Tiffany dan Yuri dengan kameranya. Ia mengecek lagi hasil jepretannya dan hasilnya memuaskan.

“Taeng.. kami serasikan?” Taeyeon hanya mengajukan 2 ibu jari-nya disertai dengan senyum kecilnya yang bagi kebanyakan orang itu terlihat keren tapi tidak dengan kondisi hati pemiliknya. Seandainya saja ia yang berada di posisi Yuri, mungkin perasaan, pikiran dan tindakannya takkan seperti ini.

Seandainya.

.

.

.

“Ahhh.. hari ini sungguh menyenangkan. Apalagi tadi saat aku melihat Tiffany mengenakan gaun pengantinya.. Oh Tuhan!” Yuri memakan kembali ayam goreng madunya. Sesuai dengan ajakan Taeyeon, keduanya kini menikmati malam bujang mereka di rumah Yuri. Mereka memesan beberapa variasi rasa ayam goreng, kue beras dan jajanan lainnya untuk menemani bir yang sudah tersedia.

“Tiffany.. begitu cantik.” Taeyeon menutup kedua matanya, kembali meneguk birnya.

“Kau benar dan aku begitu beruntung bisa menjadi suaminya. Kau bisa bayangkan Taeng, setiap hari aku akan selalu bersamanya. Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anakku nanti. Aku akan menemaninya memeriksakan kandungannya ke dokter. Aku akan menemaninya saat ia melahirkan putri atau putra kami nanti. Jumlahnya tak masalah, semkain banyak semakin baik. Dia adalah wanita yang akan menemaniku hingga kami tumbuh menjadi kakek nenek nanti. Aku akan mencintainya dan takkan bosan meski dia mungkin nanti takkan secantik sekarang.” Siapapun yang mendengarnya jelas tahu bahwa itu bukan bualan semata. Jika kalian bisa melihat sinar keyakinan dan janji di kedua mata Yuri, maka kalian akan tahu betapa pria bermarga Kwon itu menginginkan Tiffany menjadi istrinya.

“Yuri-ah.. apa kau yakin..  Tiffany… masih mencintaimu seperti yang ?” di akhir kalimat itu Yuri menolehkan wajahnya menatap Taeyeon yang terlihat tak mabuk saat mengucapkan itu.

“Tentu.. mengapa aku harus meragukannya?” Yuri tersenyum penuh penasaran melihat perubahan ekspresi wajah Taeyeon. Sahabatnya itu terlihat terlibat konflik dengan dirinya sendiri.

“Karena aku.. mencintainya.” Hening mendadak menguasai keduanya. Taeyeon dan Yuri saling beradu pandang, mencoba menguatkan apa yang menurut mereka benar dalam pikiran mereka.

“Taeyeon-ah.. menurut pengalaman, orang yang baru berlatih bermain tenis selama beberapa bulan, dia tidak akan bisa mengalahkan orang yang sudah bertahun-tahun berlatih dan bermain di banyak kejuaraan. Pengalaman membuktikan semuanya.” Yuri berbicara setelah cukup lama ia dan Taeyeon terdiam.

“Kita tidak akan tahu sebelum mencoba Yuri-ah.” Taeyeon membalas ungkapan sahabatnya itu dengan percaya diri sementara Yuri hanya tertawa mendengarnya.

“Kau benar. Tapi pertanyaannya.. apa Tiffany hanyalah sebuah percobaan untukmu?” Bir itu kembali Yuri teguk dari kalengnya.

“Tidak. Aku tidak pernah bermain-main dengan seorang wanita.” Ucap Taeyeon penuh dengan determinasi.

“Benarkah? Lalu Jessica?” ini terlihat begitu mudah bagi Yuri untuk membalas setiap ucapan sahabatnya itu.

“Dia bukan sebuah permainan untukku.” Tegas Taeyeon tak ingin kalah.

“Tapi dengan kau seperti ini.. kau sudah mempermainkannya Taeng. Dan kau juga sudah mempermainkan aku!” Yuri menggebrakan kaleng birnya ke meja, membuat isi bir itu tumpah.

“Mempermainkanmu?”

“Ah ya.. mungkin aku harus menceritakannya sekarang.”

“Apa maksudmu Yuri?”

“Saat kau masuk ke ruangan itu, menghampiri Appa, aku terbangun. Aku melihat semuanya Taeyeon. Aku melihat semuanya.”

“Maksudmu.. kau..”

“Ya! Aku tahu kaulah yang menghentikan pria brengsek yang menyiksaku untuk dijadikan objek lukisannya. Aku tahu kaulah yang membunuh Appa saat itu. Aku tahu segalanya Kim Taeyeon dan dengan bodohnya selama ini kau mempermainkanku dan Tiffany menggunakan Nozo Group.” tatapan mata Yuri kini dipenuhi dengan amarah dan rasa jijik. Ia terlihat begitu muak dan ingin membunuh Taeyeon saat ini juga.

“Yuri-ah..”

“Aku tahu.. semuanya bukan sepenuhnya salahmu. Apa yang terjadi pada Appa.. dia pantas mendapatkannya. Mungkin.. Jinhee bukanlah orang pertama dan terakhir yang dibunuhnya untuk menjalankan semua rencananya.”

“Yul.. maafkan.. aku.”

“Tidak Taeyeon.. kau tidak usah meminta maaf. Aku juga bersalah padamu.”

“Yul..”

“Hari itu.. beberapa jam sesudah Appa mengeksekusi rencananya, aku baru tahu bahwa Jinhee-lah korbannya. Aku tak sengaja membaca email-email Appa bersama Choi Yoora, istri salah satu petinggi Blankspace Group, Victor Belozerof. Aku ingat saat itu Jinhee sedang menangani kasus pencemaran laut yang dilakukan oleh salah satu perusahaan dari Rusia yang mengelola minyak mentah. Kilang Onsan yang dikelola R-Oil Corporation dan Kilang Ulsan yang dikelola KS Group di Ulsan. Kedua perusahaan tersebut dikelola oleh Choi Yoora.  Kwon Group salah satu yang menerima bantuan dana dari Blankspace Group sehingga Appa yang sewaktu itu mendapat tekanan dari Choi Yoora untuk menyelesaikan kasus itu memutuskan untuk membunuh Jinhee.” Rasanya terlalu banyak informasi yang Taeyeon terima saat ini. Jantungnya berdetak lebih cepat, pikirannya terasa berada di tempat yang berbeda, kepalanya terasa pusing. Taeyeon mengusap wajahnya sedikit kasar, merasa sedikit kacau setelah mendengar ucapan Yuri tadi.

“Aku tak mengatakannya karena aku tahu kau pasti akan membunuh App ajika kau mengetahuinya. Dan ketakutan terbesarku itupun sudah terjadi tanpa aku memberitahumu. Maafkan aku Taeyeon-ah.”

“KWON YURI!!!!” beberapa pukulan Taeyeon layangkan pada pria yang kini sudah terbaring setelah menerima amukan sahabatnya itu.

“BRENGSEK!!!!!” Taeyeon memukul wajah Yuri tiada henti. Darah kini sudah mengalir dari hidung dan bibir Yuri. Pria bermarga Kwon itu tak memberikan perlawanan apapun menerima serangan dari sahabatnya.

“KAU.. ARRGHHHHH!!!!” Taeyeon meninju kepala Yuri sekali lagi cukup keras sebelum akhirnya bangkit – berjalan menuju kursi terdekat untuk menenangkan perasaannya yang kacau saat ini sementara Yuri terlihat begitu kesakitan dengan erangan yang menyertainya.

.

.

.

“Maafkan aku.” Taeyeon masih memandang lurus kedepan saat ia mengucapkan kata maaf itu. Keduanya kini sedang berada di halaman belakang, mendinginkan otak, hati, perasaan dan pikiran mereka, Taeyeon lebih tepatnya. Sejak perkelahian mereka tadi, euhm maksudnya penyerangan yang Taeyeon lakukan, pria bermarga Kim itu mendiamkan dirinya di taman halaman belakang sedangkan Yuri tetap berada di dalam rumah, mencoba mengobati luka di wajahnya. Merasa cukup parah, Yuri pun akhirnya menelpon dokter pribadinya untuk merawat dan mengobati cederanya. Rasanya ia telah menjadi samsak tadi.

“Aku juga minta maaf karena tidak memberitahumu lebih cepat. Aku tidak sanggup melakukannya Taeyeon-ah. Aku.. aku tak bisa. Maafkan aku. Seandainya aku tahu tentang rencana itu lebih cepat, mungkin Jinhee masih ada bersama kita hingga hari ini.” Yuri menundukan kepalanya. Ia menutup kedua kelopak matanya, mendenguskan nafas kesalnya. Ia merasa seperti pecundang jika mengingat Jinhee dan kematiannya.

“Semua telah terjadi Yul. Benar kata mendiang Appa-mu, tak ada yang perlu disesali. Mungkin.. ini semua memang sudah seharusnya seperti ini.” Yuri mengangkat pandangannya menerima tepukan di bahunya. Perlahan ia ikut tersenyum melihat senyum kecil yang Taeyeon berikan padanya.

“Terimakasih Taeng.”

.

.

.

“Yuri-ah.. aku ingin menikahi Tiffany.” Seketika Yuri berhenti mengunyah sandwich-nya. Ia memberikan Taeyeon tatapan ‘apa kau serius’-nya.

“Masalah kita sudah clear. Kita sudah saling mengetahui masalah masing-masing dan saling memaafkan. Kurasa ini saat aku melangkah kedepan dan mulai menata masa depanku.. bersama wanita yang kucintai, CALON istrimu.” Tak ada rasa takut atau peraaan berat lainnya saat Taeyeon mengutarakan niatnya itu.

“Tidak bisa.” Sandwich itu Yuri simpan. Rasanya nafsu makan itu seketika menghilang setelah mendengar ucapan sahabatnya tadi.

“Kenapa? Aku mencintainya dan dengan jelas.. Tiffany juga mencintaiku.”

“Tapi dia juga MASIH mencintaiku Taeyeon.”

“Lalu.. mengapa tak kita tanyakan pada Tiffany siapa yang menjadi pilihan hatinya?”

“Semuanya tidak semudah itu Taeyeon.”

“Lalu.. apa yang harus kita lakukan? Jika seperti ini kita bukan hanya menyiksa diri kita, tapi orang banyak.”

“Maka dari itu.. kau harus meninggalkannya.”

“Maksudmu?”

“Apa yang Tiffany rasakan padamu, itu hanya sementara. Aku yang lebih lama mengenalnya, aku yang lebih mengetahui bagaimana sebenarnya Tiffany dan perasaannya.”

“Kau.. kau bercanda Kwon Yuri.”

“Aku serius Kim. Appa.. dia adalah pria yang Tiffany kagumi tentu saja selain Daddy-nya. Menurutmu.. apa yang akan terjadi pada Tiffany jika ia mengetahui bahwa kau, pria yang menjadi cinta sesaatnya, telah membunuh Appa-ku?”

“Yuri..”

“Maafkan aku Taeyeon.. tapi kau yang memulai semua kekacauan ini. Kau yang menjadikan Tiffany umpan agar aku terjebak dalam rencanamu untuk membalaskan dendam pada Appa-ku. Kau yang membuat hati Tiffany menjadi goyah dan bingung. Kau yang membuat hatimu mengkhianati Jinhee. Kau yang membuatmu berpikir bahwa kau mencintai Tiffany. Kau yang telah mematahkan janjimu untuk tidak jatuh cinta pada wanitaku. Kau Kim Taeyeon.. kaulah sumber semua kekacauan ini.” Suasana yang cukup panas tadi kini semakin memanas.

“Jadi.. sekarang kau menyalahkan semuanya padaku? Lalu bagimana dengan kau yang sudah melindungi kejahatan Appa-mu selama ini?” Taeyeon tertawa menyindir sahabatnya yang langsung teringat dengan kematian Jinhee.

“Taeyeon.. membalaskan dendam atau memaafkan itu adalah pilihanmu. Jika kau cukup ikhlas dengan kematian Jinhee, mungkin kau tidak perlu membawa orang lain dalam kesengsaraanmu. Jika kau memang ingin membalaskan dendanmu pada Appa, harusnya kau segera membunuhnya saja. Jangan membawa aku dan Tiffany dalam masalahmu. Tiffany tidak tahu apa-apa. Okay aku akui aku salah tapi Tiffany? Kau masih ingin bilang bahwa kau mencintai wanita yang selama ini telah kau rencanakan untuk kau bunuh, selain aku dan Appa-ku?”

“Taeyeon-ah.. mari kita buat semuanya menjadi lebih mudah dan tidak menyakiti banyak pihak. Kau pikir lagi, jika kau nekat menikahi Tiffany.. maka bukan hanya aku dan Jessica yang akan merasa tersakiti dan terkhianati tapi keluarga Tiffany, Jessica dan tentunya keluargaku. Saat menjadi kekasihku, Tiffany bukan hanya memberikan cintanya padaku, tapi pada keluargaku juga. Begitu pula yang aku lakukan padanya. Coba kau pikir.. bagaimana reaksi Eomma dan Daddy Tiffany saat mengetahui bahwa putrinya selama ini berselingkuh dariku. Lalu Jessica… Taeyeon-ah.. aku yang tidak terlalu dekat dengannya seperti Tiffany saja tahu betapa dia mencintaimu. Dia tak perlu menuliskan essay tentang seberapa besar cinta itu ia berikan hanya untukmu. Tatapan mata dan aksinya sudah berkata lebih keras dari perkataan di bibirnya.”

“Semua ada padamu Taeyeon-ah. Apa kau memilih untuk mengikuti egomu atau melindungi perasaan orang-orang disekitarmu yang yang tentunya menyayangimu.” Semua yang sudah dikatakan Yuri tadi bagai panah yang tepat menembuh jantungnya.

Dan Taeyeon.. kini terjerat dilema.

.

.

.

TBC

=============================

=======

=============================

AN: Hai!

taeny ff, snsd, Yoona, Tiffany

         Miss me???

tiffany-0004_img_885_590

         Well TBH, IMISSU

cdwycq5vaaecq4_

See You Next Year?

tumblr_o47lu0sm0K1u7382mo1_500

Iklan

81 pemikiran pada “My Lady (Shoot Final part 1)

  1. Omg ini bener” taeng jahaaaaattttt. Kenapa dendeman giniii.
    Yul rasional banget mikirnya.

    Semiga fany tau kebenarannya bair dia sadar yul baik, dan taeng walau baik juga tapi dia bawa” fany buat bales dendam gila nyawa orang loh itu kok dijadiin umpan 😭

  2. Ternyata selama ini taeng musuh dalam selimut 😠
    Apa taeng yakin kalo dia cinta sama fany?
    Kalo ngeliat kajadian sebelumnya yg cuma dijadiin umpan buat balas dendam..

    Yah semoga fany tau kebenarannya..
    Biar yul nggak tersakiti terus..
    Yultif harus bersatu!!

  3. Wow ceritanya bikin jantung gw dag dig dug der…..
    kwon yuri semangat buat fany sadar bahwa pria yg pantas buat dirinya adalah loe bukan tae tpi tpi tae juga cocok sech sama fany…..😆😆😆
    Thor di tunggu next ceritanya jangan lama lama……..SEMANGAT SEMANGAT
    kira kira endingnya YULTI apa TAENY yah…..? gw maunya kwon yuri bahagia

  4. kamprettt semua komen gw ilang ntah kmana krn pict ppany betebaran di mana”…
    iya gw kangen miss alay,,,queen eyesmile,,,pink monsta a.k.a tiffany hwang!!!T.T mewek,,,mewek dah masa bodo..wong gw nya kangen nya kebangetan…
    miyoungieeeee bogoshippooooo…T.T

    mau dikatakan apa lagi~
    kita tak akan pernah satu~
    engkau disana,,,aku disini~
    meski hatiku,,,memilihmu~

    hah nasib klian(pemeran epep nih) ada di tangan author…jd gw sebagai reder tak bisa berbuat banyak selain mendoakan agar klian bisa pd happy ending semuanya…
    hahaha*ketawa serek

  5. Jadi taeyeon selama ini yg jadi pemimpin nozo group nggak nyangka banget gw lagian jga sih appanya yuri jahat banget.
    Gw berharap ini bisa jadi taeny endingnya tpi kaya’x susah tiffany jg masih cinta sama yul.

  6. Taeyeon kek gini karna appa nya yuri, jadi ini gk sepenuh nya salah teyon, yuri juga salah seharusnya yuri bisa hentiin appa nya buat bunuh jinhye. Tapi apa? yuri diem aja dan bahkan yuri ngerahasiain itu dari taeng, jadi jgn salahkan teyon klau dia jadi orang yg mengerikan. ya walaupun sebenernya teyon gk mau jadi monster

    Liat ntar ajalah ending nya kek gimana….
    ditunggu kelanjutannya thor, hwaitaeng✊✊

  7. bener apa yg di katakan yul, taeng, lo tinggalin pany aja biar gx menyakiti banyak orang terutama sica yg udah cinta mati ama lo dari dulu sampe sekarang

  8. Omo (?) See you next year ? Tidak kelamaankah ?
    Sbnrnya ga ngerti action2 wkwk tapi jelas ini dalang semuanya taeyeon..
    Pengen nya yulti sihhh but idk in the end tiffany sm siapaaa? Hehe
    Ini ada part 2nya ? Di tunggu yahhh..
    Ff baru dong heeheheh married life trs drama2 gitu #melowbeuts hahaha.
    Good luck for next chap.. Semangkaaaaa 👍

  9. Ini taeyeon bermuka dua ,benar kata yul kalo taeyeon lebih baik menghindari tiffany dimana kalo yul bilang ke tiffany yg sebenarnya mungkin fany akan membeci taeng atau tidak? Ribet jg gimana endingnya nanti masih blm yakin kalo ending akan yulti karna hati tiffany terbagi dua atau hanya perasaan sesaat saja.

  10. Tbh gasuka yulti, bner2 gasuka yulti. Tp karakter yul disini jd bkin kesel sendiri. Yg diomongin yul bner semua. Tapi ttp aja gasuka yulti yaawlaaa. Taeyeon, ikut aku aja yuklah. Kita cari mommy kita, Tippany Hwang SNSD, bukan Tippany Hwang yg di epep

  11. Gue kubu yuri. Bodo amat lah yuriiii gue yang paling kasian deh di sini gilaaaa dia yang terus terusan di sakiti loh THOR. Ngeliat taeng pas lagi dia di siksa dengan kejamnya, ngeliat bokap nya sendiri di bunuh sama sahabatnya dan dan dan calon istrinya mau di rebut ateng. Gila yuri hati luh nak malaikat banget. Bener bener berjaga tiffany sampe sampe peristiwa penculikan sama ga di kasih tau fany loh biar dia ga trauma. Taeng eluuu nyebelin. Bodo nindi good for kuru #yuri. Kalo ini sampe taeny Thor lu bener bener dah….

  12. Itu gue typo tapi yaudah lah intinya gue kubu #yuri mau ntr ending nya sama siapa tuh si patini. Gue tetep kubu yuri. Udah lah biarkan yuri sendiri dan berbahagia

  13. 😧😢😢.. jgn slhkan TAENY ketika mrk merasakan nyaman dgn tingkah konyol yul wlpun di balik itu semua tae memyimpan dendam pd appa yul, jika di lihat secara keseluruhanya.. yul lah yg memenangkan itu tp bagi qu tetep tae pahlawan qu di ff ini^^.. gomawo thor.. saya hanya menikmati kisah tae dibandingkan yul.. maaf

    • iya maki makasih ya komennya.
      aku ga bisa memuaskan siapapun sih pada akhirnya hehee karna kadar kepuasan orang kan relatif ya.
      Tapi aku berusaha adil hehee biar ga fanwar juga.
      Cuma ya ak ga nulis cuma buat ngehibur shipper ini atau itu aja.
      aku pgn Maki lebih liat isi cerita bukan pairingnya aja meskipun maki lebih menikmati apapun yg berbau taeyeon.
      Hehehe aku ga bisa maksain semua cerita ini isinya Taeyeon semua😅

  14. Wah dilema berat…😥
    Setelah semuanya terbongkar n masalahnya clear..ternyata sekarang terjadi masalah d diri tae…
    Tae dilema gue dilema…disatu sisi liat yul sedih harus ditinggal appa nya (walaupunjahat) nggak tega juga hrs liat yul ditinggal fany…tp gue juga nggak tega liat tae sedih klu nggak jadi ama fany…
    Pastinya jessie juga bakalan sedih klu nggak jadi ama tae…
    Arrrrggh!!! Ottokhe??😱
    (Oh iya thor pernah liat tae bilang “dia akan ngerasa kesepian dan sedih kalau terlalu lama ditinggal ama fany)
    Itu acara apa ya?

  15. Entah kenapa kalo udah bertaun taun eh jodoh nya zama yang berbulan bulan kok nyesek ya …
    Padahal dari awal yg di lakauin yul itu untuk keselamatannya tiffany sampe terakhir rella di gebugin hmhm masih lirik taeyeon? Huffttt sakitnya hati yul wkwkwk

    Semoga next year yang terbaik menjadi pilihan tiffany lirik yul hahaha

  16. Thor…….!…… ……!……!!!!!!

    #teriakhisterisPakekTOAK

    Akhirnya elu update jg. Bahkan sekali 2..!!!! 😰😰😰😰😱😱😱😱😱

    Thor, gue baru baca sekilas2 aje udh berasa tegang. Gue save dulu ye… 😋😋😅😅😄😄😄

  17. Waaah, makin parah aja neh. ga nyangka kalau taeng trnyata dalang dibalik semua kekacauan ini. bisa juga ya dia jdi jahat. tpi kalau keterlaluan juga kalau tae bner2 mau ngerebut tiffany dari yul. bner kata yuri. dia yg lbih dulu, kluarga udah deket. gmna jdinya kalau tba2 nikahnya ama tae. trus gmna jessica pula. aaah, pusing!!!

  18. ttp pengen taeny walaupun kemungkinan na kecil😢😢 ga nyangka ceritana bakalan sprti ini klo ternyata taeng dalang dari semuanya..
    klo buat cerita masuk akal memang seharusna yulti tp gmn ya ga bisa liat tae ga sama fany😭😭😭..ok ditunggu tahun depan ya risma

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s