My Lady Shoot 4

images-1

“Di dunia ini… terkadang seseorang hanya dapat hidup di hatimu saja, bukan hidupmu.”

Menyedihkan tapi itu adalah kenyataan.

Bagian penutup dari cerita tentang seorang pria dan wanita yang ingin dilindunginya.

***

my-lady2

“Aku mencintaimu”

“Hah”

“Aku mencintaimu Tiffany Hwang.”

Tiffany POV

Aku terdiam.

Tunggu.. ini bukan mimpi kan?

Taeyeon Oppa..

“Kembang apinya sudah berakhir. Sebaiknya kita pulang.” Taeyeon Oppa kembali tersenyum padaku, membawa tanganku bersamanya sedangkan aku masih mematung tak mengikutinya.

“Fany-ah.. kenapa?” kedua mata itu bersinar layaknya permata.

“Oppa.. kau serius?” tanyaku tak lagi ragu. Aku harus memastikannya. Tak mungkin tadi aku hanya bermimpi atau berhalusinasi.

“Tentang kita akan pulang?” aku menggelengkan kepalaku.

“Lalu yang mana?” dalam senyum itu terselip sedikit tawa.

Kim Taeyeon, apa kau ingin mempermainkanku heuh?

“Aku mencintaimu Tiffany Hwang.” kutirukan ucapannya tadi membuatnya melihatku dengan rasa terhibur.

“Mengapa kau tak menjawabnya, Aku juga mencintaimu Kim Taeyeon?” jarak yang ada di antara kami tadi, kini berkurang. Ia berdiri tepat di hadapanku, masih dengan senyum manisnya, terlihat begitu memanjakan mata.

“Aku sudah mengutarakan apa yang ingin kuucapkan. Aku.. mencintaimu.” bibirnya menyapaku perlahan. Mataku masih terbuka lebar menerimanya sementara Taeyeon Oppa telah menutup kedua matanya, memberikan semua perasaannya pada ciuman ini.

Ciuman itu hanya sekedar ciuman.

Tak ada lidah atau nafsu yang bersaing merebut dominasi di dalamnya.

Tubuhku terasa ringan saat melakukannya.

“Lagi.” ucapku pelan saat bibir kami terpisah. Taeyeon Oppa hanya tersenyum menciumku lagi dengan ringannya membuat malam ini menjadi malam yang tak terlupakan dalam hidupku.

END OF TIFFANY POV

.

.

.

“Oppa..” Taeyeon masih menutup matanya mendengar panggilan itu. Ia menutup kepalanya dengan selimut, mencoba kembali ke tidurnya.

“Oppa bangunlah..” Taeyeon mengernyitkan dahinya, merasa terganggu dengan suara yang memanggilnya dari tadi.

“Taeyeon Oppa.. aku hamil!” seketika mata Taeyeon terbuka, tubuhnya bangun. Ia mengedipkan mata berkali-kali melihat sekeliling dan mendapati wanita yang berdiri di samping ranjangnya tertawa masih menggunakan gaun tidurnya.

maxresdefault

“Laki-laki atau perempuan?” dengan wajah polosnya Taeyeon bertanya sementara Tiffany tertawa melemparkan bantal ke muka pria yang baru saja mengungkapkan cintanya beberapa hari lalu.

.

.

.

“Heumh.. enak sekali. Kau jago memasak ternyata.” tak ada nada sindiran atau godaan di dalamnya. Taeyeon masih menikmati sarapan khas amerikanya yang Tiffany siapkan untuk keduanya.

“Eiii.. kau meremehkanku. Aku sebentar lagi akan menjadi ibu rumah tangga, tentu aku harus bisa memasak.” Tiffany memberikan pembelaan untuk dirinya tak menyadari ucapannya tadi membuat pria di hadapannya berpikir sesuatu.

“Kau akan menjadi istri yang baik.” Taeyeon berhenti mengunyah rotinya, mengatur pandangannya pada Tiffany yang masih memakan hidangannya.

“Tentu!” ada kebanggaan saat Tiffany mengucapkannya. Senyum manisnya itu berubah menjadi sedikit arogan, mencoba menggoda pria yang sejak tadi ternyata tak mengalihkan pandangannya.

“Aku percaya itu. Yuri sangat beruntung memilikimu nanti sebagai istrinya.” senyum manis itu seketika berubah menjadi kelabu saat Taeyeon menyebutkan nama yang tak coba ia pikirkan sejak beberapa hari yang lalu.

“Oppa.. maafkan aku.” Tiffany menundukan kepalanya, tak mau menatap Taeyeon yang tersenyum kecil melihatnya.

“Hei.. jangan seperti itu. Kau dan aku.. mungkin orang lain menilai kita salah tapi mereka tidak tahu bahwa sebenarnya tak ada yang salah dalam semua ini.” Taeyeon naikan dagu itu agar sejajar dengan miliknya. Ia menatap Tiffany dalam, mencoba menyelami pikiran wanita di hadapannya itu.

Ia mengerti apa yang Tiffany rasakan.

Rasa bersalah.

Malu.

Takut.

Semua hal itu berkolaborasi membuat hati tak menentu. Menjadi sebuah beban berat yang rasanya bisa membunuhmu dalam sekejap.

Semua itu… Ia juga merasakannya.

“Fany-ah.. tatap aku.” Mata ungu kehitaman itu kini menatapnya, masih dengan nuansa kelabu yang menyelimutinya.

“Rasa ini, sejak dulu aku lawan. Kau tahu… saat aku menyatakan cintaku padamu, aku telah melanggar janjiku pada calon suamimu.” Tiffany menatapnya diam.

“Dulu, saat Yuri memintaku melakukan hal ini, dia memintaku, memohon padaku agar aku menjagamu dengan hidupku. Ia memintaku berjanji  bahwa aku tidak akan jatuh cinta padamu.”

“Manusia hanya bisa berencana, terkadang kenyataan mempermainkan kita. Aku kira aku bisa melakukannya. Aku kira aku bisa mengontrol hatiku, karena selama ini itulah yang membuatku bertahan hidup. Tapi aku salah.” tawa itu keluar dari mulut Taeyeon. Ia menggelengkan kepalanya, terlihat tak percaya dengan dirinya sendiri.

“Sejak hatimu mulai bimbang karenaku, aku tahu. Aku bisa merasakannya. Tapi aku menolak untuk mengetahuinya. Karena aku tahu jika aku terlibat di dalamnya, aku takkan bisa mundur dari semuanya.”

“Aku tak tahu bahwa hatiku ternyata ingin memelukmu. Aku berusaha untuk melawannya. Tapi aku tak bisa. Hati ini menolak akal dan nuraniku. Hatiku menginginkanmu meskipun aku tahu ini adalah salah.”

“Oppa..” Tiffany tak bisa menahan tangisnya melihat Taeyeon seperti ini. Pria yang duduk di hadapannya kini terlihat begitu rapuh, sama seperti dirinya.

“Fany-ah.. aku tahu kau tak mungkin membatalkan pernikahanmu dengan Yuri. Aku tahu bagian lain dari dirimu masih mencintainya. Dia adalah pria yang selama beberapa tahun ini menjadi pemilik hatimu dan sebentar lagi akan menjadi suamimu, pendamping hidupmu.”

“Oppa kumohon.. hentikan..” rasanya Tiffany tak mau lagi mendengar hal itu. Apa yang diucapkan Taeyeon terlalu menyakitkan bagi keduanya.

Taeyeon benar. Tiffany masih mencintai Yuri. Tapi ia juga mencintai Taeyeon. Dan hal itu menyakitkan karena ia tak mau melukai kedua prianya itu.

Jika Tiffany boleh egois, ia ingin memiliki keduanya. Ia ingin mencintai dan memberikan kedua pria itu kebahagiaan yang mereka berikan padanya.

“Kata cinta yang kuucap padamu, aku tak pernah meragukannya. Mencintaimu.. bagiku cukup. Bila aku harus mencintaimu dengan tidak memilikimu.. itu berat dan mustahil.” Tiffany menggelengkan kepalanya, mencoba menggenggam tangan Taeyeon.

“No Oppa.. kumohon jangan katakan itu.” Tiffany tahu apa yang akan Taeyeon katakan padanya dan ia tak mau menerimanya.

“Sayang.. aku tidak ingin menyakitimu.” kata-kata itu terlontar begitu lembut dan menenangkan. Tiffany merasa Taeyeon sedang memeluknya dengan kata-kata itu.

“Aku mencintaimu Oppa… aku mencintaimu. Kumohon.. tak bisakah kita seperti ini dulu?” Taeyeon sepertinya mengerti maksud ucapan wanita di hadapannya. Ia terdiam sejenak, memikirkan hal itu.

Berat bagi Taeyeon sebenarnya untuk melakukan hal itu.

Ini akan sangat menyakitkan bagi Yuri jika sahabatnya itu mengetahuinya.

Jessica… ia juga akan tersakiti jika ia mengikuti keinginan Tiffany.

“Oppa.. hingga waktu itu tiba, tak bisakah kita menikmati semuanya?”

‘Yul.. Sica.. maafkan aku.’ Taeyeon berucap dalam hatinya, menutup kedua matanya.

“Baiklah.. mari kita lakukan.”

.

.

.

“Nona Hwang..” Tiffany berdiri dari kursinya. Ia menghampiri pria yang baru saja memasuki ruang kerjanya. Ia memeluk pria itu cukup lama sebelum melepaskannya.

“Oppa.. mengapa kau pergi begitu lama?” Pertanyaan itu tak terjawab karena kini ada pria lain yang memasuki ruang kerja Tiffany, membawa sebuket bunga dan beberapa makanan.

cdwycq5vaaecq4_

“Hai Sayang!” Tiffany mencoba tersenyum menerima kecupan di bibirnya. Ia membalas pelukan itu ringan, menatap pria di sampingnya yang berdiri dengan wajah tanpa ekspresinya.

“Ah.. aku merindukanmu.” Yuri melepas pelukan itu, membawa Tiffany duduk.

Ketiganya kini duduk di tempatnya masing-masing, Yuri bersama Tiffany di satu sofa sedang Taeyeon duduk di sofa lain di samping calon istri sahabatnya itu.

“Sayang.. kau tahu, tadi Taeng meninggalkanku. Padahal aku membawa ini semua untukmu.” Yuri tertawa melihat Taeyeon cuek tak memperhatikan ucapannya, mulai membuka makanan yang mereka bawa tadi.

“Benarkah?” Tiffany mencoba menunjukan ketertarikannya mendengar cerita calon suaminya itu.

“Kau terlalu membesar-besarkannya Yul.” Taeyeon berkomentar, mencoba mengalihkan perhatiannya.

Bila harus jujur, ia tak suka dengan semua ini.

Ia harus diam menyaksikan wanita yang dicintainya itu bermesraan dengan pria lain. Tapi bila ia merasakan hal itu, jadi berpikir bagaimana Yuri bisa tahan melihatnya dulu bahkan hingga hari ini masih bermesraan dengan calon istrinya. Mengingat hal itu ia menjadi malu pada dirinya dan kagum pada sahabatnya itu.

Yuri adalah pria yang luar biasa. Demi keselamatan wanita yang dicintainya, ia rela mengorbankan perasaannya.

“Hahaha.. segeralah kau kenalkan kami pada kekasihmu.” Taeyeon tersenyum lebar menunjukan deretan gigi rapinya, menutup kedua matanya mendengar godaan sahabatnya itu.

“Sayang.. kau bilang Jessica masih sendiri, mengapa tak kita jodohkan dengan Taeng?” Mata itu seketika terbuka. Taeyeon melihat ekspresi tak setuju Tiffany dan Yuri yang terlihat bersemangat dengan idenya.

.

.

.

54efb07b36e588f820c0c71a55521544.jpg

“Taeyeon-ah.. bukankah Jessica begitu cantik malam ini?” Yuri memecah kesunyian diantara mereka.

“Tentu yang paling cantik bagiku adalah calon istriku.” tangan itu Yuri kecup ringan lalu ia genggam, terlihat begitu bahagia.

“Oppa..” Tiffany tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan kegusaran hatinya.

Sungguh hadir di makan malam ini adalah ide yang buruk. Sejak Yuri mengusulkan kencan buta antara Taeyeon dan Jessica, entah mengapa hatinya menjadi kacau. Saat ia mengutarakan ide Yuri pada Jessica, sahabatnya itu terlihat  tak keberatan malah terlihat bersemangat.

Cemburu? Tentu.

Tapi ia tak boleh memperlihatkan hal itu.

“Tiff.. kau tidak usah malu seperti itu.” Jessica tertawa menggoda wajah merah padam sahabatnya sementara Tiffany hanya tersenyum kecil membalasnya. Jika saja Jessica tahu kenapa wajahnya merah padam seperti tadi.

.

.

.

“Oppa… terimakasih.” Jessica dan Taeyeon masih berjalan di taman kecil yang disediakan restoran tempat mereka makan malam hari ini.

“Kau harus berterimakasih pada Yuri dan Tiffany juga.” Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia membawa Jessica untuk duduk di bangku taman, melihat air mancur mulai beraksi, menari dalam kerlap kerlip lampu, terlihat hidup dan mengagumkan.

“Heueumh.. tentu.” Kepala itu Jessica senderkan di pundak kekasihnya. Ia menggenggam tangan prianya itu perlahan, mencoba menikmati moment yang indah ini.

“Ini menyenangkan. Aku ingin melakukannya denganmu selamanya.” Jessica memecah kesunyian yang menenangkan keduanya.

“Bagaimana denganmu?” Taeyeon menolehkan kepalanya, tersenyum dalam diamnya.

“Ya.. aku ingin melakukan hal itu.” jawaban Taeyeon terasa mengambang dan Jessica merasakan hal itu.

“Oppa.. apa terjadi sesuatu?” Tatapan Taeyeon  malah terkesan bertanya balik padanya.

“Kau seperti tak menaruh hatimu pada ucapanmu.” Senyum kecil itu coba Jessica gunakan untuk menutupi kesedihannya.

Melihat wajah itu, hati Taeyeon menjadi sedih. Jessica wanita yang baik dan luar biasa. Taeyeon tak layak mendapatkan cinta yang Jessica berikan. Itu terlalu berat dan membebani hatinya.

“Sica.. jika aku mencintai wanita lain, apa yang akan kau lakukan?” mendengar hal itu Jessica terdiam.

Keduanya diam.

Sementara itu….

“Sayang… saat kita menikah nanti, aku akan menjadi pria paling beruntung karena bisa menjadi orang pertama yang melihatmu bangun dan tidur lagi.” Yuri terlihat begitu bersemangat membicarakan pernikahannya. Berbeda dengan Tiffany yang lebih pasif, ia hanya memberikan respon seperlunya, mencoba tak terlihat mencurigakan.

“Oppa.. mengapa kau begitu mencintaiku?” Yuri menghentikan langkahnya, ia menolehkan kepalanya menatap Tiffany.

“Aku juga tidak tahu.” Yuri tertawa menjawabnya. Ia menunggu Tiffany bereaksi pada jawabannya.

“Yah.. bagaimana bisa begitu.” Tiffany menunjukan protesnya, ia berjalan mendahului Yuri yang mengejarnya.

“Hahahaa.. kau marah?” Tiffany masih diam tak menatap calon suaminya itu.

“Aku mencintaimu.. karena Tuhan yang membuatnya seperti itu. Well.. tak kutampik bahwa kau cantik, menarik, berpendidikan dan memenuhi semua kriteria seorang wanita untuk menjadi istriku. Tapi dibalik itu semua, aku yakin Tuhanlah yang telah menanamkan rasa cinta dan sayang itu seiring berjalannya waktu.” mendengar jawaban itu, Tiffany menyembunyikan tangan kanannya ke belakang, ia mengepalkan jari-jarinya, terlihat kesal dengan dirinya sendiri.

Fany-ah.. kau bodoh.. kau jahat.

“Harusnya aku tak menjawabnya jika kau akan seperti ini.” Yuri tersenyum kecil mengecup Tiffany ringan.

“Oh.. mereka cepat juga.” Komentar itu membuat Tiffany membalikan direksi tubuhnya melihat Jessica mencium Taeyeon mesra.

==== My Lady ====

“Apa dia sudah mengabarimu?” Takeshi Nozohara masih fokus mengatur strategi untuk mengalahkan lawannya.

“Belum. Tapi sepertinya semua berjalan sesuai rencana.” Shino, asisten pribadi Takeshi kini mulai menyerang atasannya itu dengan baduknya.

“Heumh.. menurutmu, apa dia sudah termakan oleh jebakannya sendiri?” Takeshi mengerutkan dahinya melihat Shino berhasil mengambil beberapa baduknya.

“Anda lebih mengenalnya melebihi saya Tuan. Tapi.. semua hal bisa terjadi. Hati manusia.. kita tidak ada yang tahu.” Shino mengulaskan senyum penuh hormatnya pada Takeshi yang terdiam lalu tertawa menepuk lengan bawahannya itu.

“Maksudmu.. dia mulai menyukai wanita itu? Wah.. ini akan rumit sepertinya.”

“Jika itu terjadi, Saya yakin dia sudah mempunyai rencana lain jadi Anda tidak perlu khawatir Tuan. Saya akan memastikan kita mendapatkan semuanya.” Shino tersenyum lagi mengambil beberapa baduk yang dimiliki Takeshi.

“Kau tahu.. kalian adalah orang-orang kesukaanku. Kalian bisa kuandalkan. Terimakasih.”

.

.

.

“Lagi?” Tiffany menutup kedua matanya, menahan kekesalan yang melandanya.

“Maafkan Saya Nona, saya akan merevisi kontraknya segera.” Salah satu anggota team proyek periklanan baru mereka bersuara.

“Orang bilang maaf adalah sebuah alasan untuk melakukan kesalahan selanjutnya. Kalian sudah membuktikan itu.” Tak ada ekspresi marah yang tergambar di wajah Tiffany. Wajah cantik itu hanya terlihat begitu kecewa. Setiap kata yang terucap dari mulutnya terasa begitu dingin.

“Nona.. mohon maafkan saya, saya yang harus bertanggungjawab atas semua kesalahan tim ini.” Sang ketua tim ikut berbicara, dalam kondisi seperti ini ia tidak bisa hanya diam dan melihat anak buahnya menerima amarah atasannya.

“Baiklah. Kalau begitu kau tidak keberatan kan jika aku memindahkanmu ke bagian lain?” Semua orang yang ada di ruangan itu menatap Tiffany terkejut dan penuh ketakutan.

“Nona Hwang.. mohon maafkan Tuan Cha. Kami mohon…” beberapa orang mulai berbicara, memohon pada Tiffany yang masih duduk di tempatnya tenang.

“Jika aku memaafkannya.. apa aku mendapat jaminan bahwa kalian tidak akan melakukan ini lagi?” Orang-orang itu mulai diam. Mereka menundukan kepala menyadari bahwa apa yang dikatakan Tiffany benar.

“Baiklah. Kali ini aku akan memaafkan kalian tapi tolong.. jangan kecewakan aku lagi.” Ketua tim dan bawahannya terlihat lega dan senang. Mereka berulang kali membungkukan tubuh, mengucap terimakasih pada Tiffany yang terlihat masih kesal meskipun berusaha tak ia tunjukan.

“Kalian boleh pergi sekarang.” Dengan itu orang-orang tadi mulai keluar dari ruangan Tiffany. Sekretarisnya mulai masuk saat meihat orang-orang itu keluar.

“Nona.. diluar ada Nona Jung yang sudah menunggu.” Tiffany terlihat terkejut dan sedikit berpikir sebelum akhirnya memerintahkan sekretarisnya untuk membawa Jessica bertemu dengannya.

jessica-taiwan-fan-meet

“Hai Tiff, sepertinya kau tidak senang melihatku disini.” Tiffany tersenyum kecil mendengar candaan sahabatnya itu. Ia segera menghampiri Jessica yang masih berdiri di dekat pintu, mengajak wanita yang kini sedang dekat dengan Taeyeonnya itu untuk duduk di sofa kenyamanannya.

“Ada apa? Kau terlihat kesal sekali.”

“Heumh.. Jinhan membatalkan kontrak mereka dan Daddy cukup kecewa mendengar hal ini.” Wajah Tiffany terlihat sedikit sedih mengingat percakapannya dengan sang ayah.

“Jinhan adalah klien yang menguntungkan tapi kalian masih bisa mendapatkan yang jauh lebih itu. Bersemangatlah!” Tiffany menganggukan kepalanya sembari tersenyum meskipun sepenuh hati.

Bagaimana tidak? Salah satu hal yang membuatnya kesal, bukan hanya untuk hari ini ada di hadapannya, duduk di sampingnya seperti wanita yang terlihat paling bahagia.

“Thanks Jessi. Oh ya.. mengapa kau disini? Bukankah hari ini kau akan kencan dengan Oppa?”

“Tadinya begitu. Hanya saja adiknya menelepon dan meminta Taeyeon untuk datang menjemputnya. Sepertinya Hayeon sedang mengalami hari yang buruk jadi aku segera menyuruh Oppa untuk menemani adik iparku itu.” Meskipun terlihat sedikit sedih tapi Jessica terlihat senang.

“Adik ipar? Hubungan kalian sudah sejauh itu?” jika bukan karena ia adalah tunangan Yuri, Tiffany ingin sekali dengan bebas mengekspresikan kecemburuannya.

“Hahaha aku berharap bisa sejauh itu dan lebih. Tapi belum. Kami belum sampai kesana. Kami baru 4 bulan menjalani hubungan ini dan aku berterimakasih padamu dan Yuri Oppa.” Mungkin benar saat orang berkata jika kita sedang jatuh cinta, maka kecantikan kita akan bertambah. Dan Tiffany melihat itu semua dari Jessica. Sahabatnya itu semakin hari terlihat semakin cantik dan bercahaya sejak menjadi kekasih Taeyeon.

Menjadi kekasih Taeyeon.. bagaimana bisa? Bukankah publik hanya mengetahui bahwa Taeyeon adalah kekasih Tiffany?

Itu mudah saja. Mereka hanya harus merahasiakannya dan tetap membuat Taeyeon dan Tiffany semakin harmonis setiap harinya. Sejauh ini publik sepertinya mempercayai hal itu. Beberapa media beberapa kali mengabarkan pada khalayak umum bahwa Taeyeon dan Tiffany sudah bertunangan atau bahkan menikah diam-diam dan tinggal satu rumah.

Yuri bahagia mendengar berita itu karena berarti public dan mungkin Nozo Group mempercayai bahwa calon istrinya itu sudah taka da hubungan apapun dengannya. Dengan begitu keselamatan Tiffany akan terjamin meskipun Taeyeon tak memberikan pengamanan yang ekstra pada wanitanya itu. Apa yang Yuri rasakan tak sepenuhnya dirasakan oleh calon istrinya. Tiffany sebenarnya cukup senang saat ia mendengar berita itu tapi disisi lain ia sedih karena setelah kejadian itu, frekuensinya bersama Taeyeon tak sebanyak dulu, saat Nozo Group masih mengintainya dan Taeyeon memberikan perlindungan ketat padanya.

Awalnya Tiffany menolak ide Taeyeon untuk menjadi kekasih Jessica. Tapi pria bermarga Kim itu bercerita padanya bahwa Yuri terlihat sedikit curiga pada hubungan mereka dengan mengirimkan beberapa orangnya untuk menguntit mereka secara diam-diam. Mendengar hal itu mau tidak mau Tiffany akhirnya menyetujui ide pria yang tak pernah ia duga bisa mencuri hatinya selain Yuri. Jadilah Taeyeon dan Jessica sepasang kekasih yang merahasiakan hubungan mereka sama seperti yang Tiffany dan Yuri lakukan.

Meskipun Tiffany tahu Taeyeon mencintainya tapi tetap saja. Melihat Taeyeon bermesraan atau menunjukan perhatiannya pada Jessica perlahan mulai mengganggu mood dan membuat Tiffany cemburu. Seperti hari ini contohnya, dimana ia dengan mudah melampiaskan amarah dan emosi terpendamnya karena Taeyeon dan Jessica kepada para bawahannya dan itu membuat Tiffany merasa buruk. Tak biasanya ia seperti itu. Selama ini ia memliki hubungan yang cukup baik dengan para karyawan ataupun staff di perusahaannya. Tapi sejak Jessica mulai berhubungan dengan pria yang ternyata ia cintai itu, semuanya menjadi seperti sekarang.

“Aku berharap semua masalah dengan Nozo Group segera berakhir. Kau selamat dan segera melangsungkan pernikahanmu dengan Yuri Oppa.” Taka da kepalsuan atau agenda lain yang tergambar di wajah Jessica. Tiffany murni melihatnya sebagai sebuah harapan dan doa yang diucapkan oleh sahabatnya.

“Heumh.. aku.. juga berharap seperti itu. Aku hanya berharap.. Tuhan memberikan yang terbaik untuk semuanya.”

.

.

.

“Tuan.. kami sudah mengikuti perintahmu untuk tetap menjaga jarak tapi.. apa ini tidak akan membuat lawan kita menjadi tidak takut dengan ancaman kita nanti?” seorang pria berpakaian formal hitam membungkukan badannya, memberikan hormatnya lalu mulai memberikan laporan pada seorang pria yang baru saja selesai menambahkan beberapa warna di lukisannya.

“Well.. kau ada benarnya juga tapi justru itulah yang aku inginkan.” Pria itu terlihat puas dengan lukisannya. Beberapa kali ia mencampurkan beberapa warna dan mulai menggoreskan kuasnya, memberi kehidupan pada karyanya.

“Maksud Anda?” Pria berpakaian formal hitam tadi masih berdiri di belakang bosnya yang terlihat begitu fokus dengan lukisannya.

“Kau lihat.. pengamanan mereka sekarang berkurang. Kita akan lebih mudah melaksanakan rencana ini. Kwon Yuri.. pria itu tak secerdas yang kubayangkan. Jadi kita hanya menunggu sang penjaga meniup pluitnya dan aksi yang sebenarnya akan dimulai.”

“Tuan.. terkait dengan hal itu, beliau sudah tiba di ruang tamu.”

“Oh.. benarkah? Hahaha.. mengapa kau tidak membawanya kesini?” si pria berpakaian formal hitam tadi terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan bosnya.

“Beliau tidak ingin menganggu moment Anda dengan apapun yang ada di ruangan ini. Maka dari itu beliau meminta Anda untuk menemuinya di ruang tamu.”

“Wah.. tumben sekali. Biasanya dia menikmati apa yang kulukis. Hahaha. Baiklah, minta padanya untuk menunggu, aku harus membersihkan diri dulu sebelum bertemu dengannya.” Pria yang masih memegang kuas lukisnya itu tersenyum puas melihat objek dalam lukisannya, seorang wanita polos tak berpakaian yang kedua tangan dan kakinya diikat rantai, tersenyum dalam tangisnya menerima serangan seksual yang berikan oleh pria yang memegang cambuk dan pistol di tangannya.

==== My Lady ====

Yuri POV

“Sayang.. kau terlihat murung. Ada apa?” aku bertanya pada wanita yang masih tak memakan steak  kesukaannya.

“Aku hanya lelah Oppa. Jinhan membatalkan kontraknya dan itu sedikit mempengaruhi mood-ku.”

Kau selalu terlihat lelah akhir-akhir ini Fany-ah dan itu semua salahku karena aku yang telah membawamu dalam semua masalah ini.

“Euhm baiklah. Tapi setidaknya kau harus mengisi energimu. Mungkin itu akan memperbaiki situasi hatimu. Apalagi ada aku disini yang akan mengusir apapun yang membuatmu merasa tidak enak hati.” Perlahan senyum yang selama ini selalu membuat hariku menjadi lebih baik muncul.

“Ayo buka mulutmu.. aku akan menyuapimu.” Senyum itu mengembang percis seperti yang kuinginkan setelah ia memakan potongan steak yang kusuapkan padanya.

“Merasa lebih baik?” Tiffany menganggukan kepalanya masih menikmati kekayaan rasa dari makanan yang ada di mulutnya. Ia bersenandung kecil,terlihat senang dengan apapun yang dirasakannya.

“Kau tahu.. Makanan adalah obat terbaik untuk mengatasi hari burukmu.” Puncak kepalanya mulai ku elus. Aku tahu jika elusan itu sangat disukainya. Wanitaku itu selalu terlihat lebih bahagia jika aku mengelus puncak kepalanya, memeluknya dan menyenangdungkan lagu favoritnya dalam pelukan itu dengan lembut ke telinga.

Tiffany.. calon istriku itu, dia bisa terlihat begitu kuat dan mengagumkan tapi dalam waktu yang bersamaan dia terlihat begitu lemah sehingga aku ingin melindunginya apalagi jika hal yang menyangkut dengan ibunya mulai dibicarakan. Sofia Hwang, wanita yang begitu berpengaruh dalam hidup calon istriku ini meninggal dalam peristiwa percobaan pembunuhan pada suaminya saat Tiffany masih berumur 10 tahun. Adalah hal yang menakjubkan bagaimana Tiffany bisa tumbuh menjadi seorang wanita yang mengesankan dan luar biasa hingga hari ini mengingat mendiang calon ibu mertuaku itu harus meninggalkan putrinya di usia yang sebenarnya masih membutuhkan didikan dari seorang ibu.

“Aku tak pernah meragukanmu jika itu terkait dengan memperbaiki mood-ku. Kau yang terbaik Oppa.” Wanita yang masih terlihat seperti seorang gadis bagiku ini kini meminum anggur merahnya. Melihat dia begitu menikmati apa yang telah kusiapkan untuknya membuatku bahagia sekecil apapun hal itu.

“Apapun yang kulakukan padamu, aku berharap itu bisa menggapai hatimu.” Dia berhenti mengunyah steaknya, menatapku dalam diam, ingin berbicara padaku dengan tatapannya. Ini adalah hal yang kusukai darinya karna terkadang tanpa katapun dia ingin selalu berkomunikasi denganku.

“Oppa.. sekecil dan sesederhana apapun hal yang kau lakukan padaku, aku bisa merasakan ketulusan dan semua perasaan yang coba kau sampaikan padaku. Terimakasih tak bisa mewakili betapa bersyukurnya aku hingga hari ini masih menerima semua cinta darimu.” Tangan itu bukan aku yang menggenggamnya seperti biasa tapi dia.

“Fany-ah.. kau masih bertahan denganku hingga hari ini saja itu sudah cukup bagiku. Kehadiranmu, hatimu dan cintamu itu adalah sesuatu yang tak bisa aku ingkari untuk disyukuri.” Air mata itu perlahan jatuh ke pipinya. Aku berharap itu bukan air mata kesedihan, kebahagiaan yang selalu ingin kulihat darinya.

“Oppa..” tubuhnya yang selalu menjadi candu ia hamburkan dalam pelukanku. Tiffany eratkan kedua tangannya ke punggungku, memelukku seakan aku akan pergi darinya.

“Tidak apa-apa sayang, kau tidak perlu mengucapkan semuanya jika itu terlalu berat bagimu.” Entah mengapa melihatnya seperti sekarang kadang membuatku bahagia. Kenapa? Karena Tiffany dengan mudah menunjukan sisi emosional dan lemahnya padaku dan aku menyukai itu.

“Maafkan aku Oppa… maafkan aku yang belum bisa menjadi seorang kekasih yang baik bagimu.” Aku juga bukan kekasih yang baik bagimu Fany-ah. Aku yang selama ini membuatmu bingung dengan hatimu. Aku yang dengan bodohnya telah membuat sahabatku sendiri tergoda olehmu. Aku yang telah membuatnya perlahan menjadi seseorang yang mulai tak bisa kupercaya. Aku yang membuat kalian berdua terjebak dalam cinta semu itu.

Semu?

Ya tentu saja.

Apapun yang Tiffany rasakan pada Taeyeon sekarang, itu takkan pernah bisa mengalahkan cinta yang sudah terpatri di hatinya untukku.

Kalian pikir aku selama ini tidak tahu apapun tentang hubungan gelap mereka?

Kalian pikir aku sepenuhnya percaya pada Taeyeon bahwa ia akan menjaga hatinya untuk tak jatuh cinta pada calon istriku?

Kalian pikir aku senaif itu? Hahahaha.

Tidak! Tentu saja tidak.

Aku adalah Kwon Yuri.

Aku mengetahui semuanya.

Meskipun selama ini aku sibuk mengurus Nozo Group yang selalu membuatku ingin menghancurkan mereka, aku masih tetap mengawasi calon istriku dan sahabtku itu. Jika aku tak melihat Tiffany, maka sudah sejak awal aku menghancurkan Nozo brengsek itu. Keselamatan Tiffany adalah prioritasku. Aku tak ingin apa yang dulu terjadi pada ibunya terulang. Aku tak ingin menjadi seperti Tuan Hwang yang tak bisa melindungi wanitanya dengan baik. Aku ingin Tiffany hidup dan menjadi pendamping hidupku.

Menitipkan Tiffany pada Taeyeon adalah salah satu kebodohan yang harus kulakukan. Sahabatku itu adalah kandidat terbaik untuk melindungi wanitaku. Pengalamannya yang buruk tentang kematian Jinhee pasti akan membuatnya melindungi Tiffany sebaik mungkin, apalagi ia adalah calon istriku. Nozo Group pun takkan berani menyentuhnya karena dia adalah polisi yang pernah menyelamatkan putra Presiden mereka dari percobaan pembunuhan beberapa tahun lalu. Aku yakin Taeyeon bisa membantuku menyelesaikan masalah ini dengan melindungi Tiffany.

“Sayang.. menangislah.. keluarkan semua yang mengganggu hatimu.” Punggungnya kini yang kuelus. Ia menenggelamkan kepalanya di dadaku, tempat favoritnya, bukan milik Taeyeon ataupun yang lain.

End of Yuri POV

==== My Lady ====

“Fany-ah.. kau ingin makan siang dimana?” Taeyeon mulai menyalakan mesin mobilnya. Ia tersenyum melihat buket bunga yang duduk di kursi belakang, kejutan yang ingin diberikan pada wanita yang beberapa hari ini ia rindukan.

Sudah 2 minggu Yuri membebas tugaskannya. Sahabatnya itu memberinya liburan untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya dan Jessica. Ia awalnya menolak karena jika ia pergi maka tidak akan ada yang melindungi dan menjaga Tiffany tapi Yuri meyakinkannya bahwa Tiffany akan aman selama ia pergi nanti. Yuri sudah menyiapkan tim keamanan terbaik selama Taeyeon pergi dan setelah menguji anggota tim itu, Taeyeon akhirnya mau mengikuti keinginan sahabatnya itu.

“Yuri Oppa.. akan menjemputku nanti, kau tidak usah datang Oppa.” Ada sesuatu yang berbeda dengan nada bicara Tiffany. Firasat Taeyeon mengatakan ini bukan suatu hal yang baik.

“Tapi aku tetap harus melindungimu. Aku tetap harus berada di sampingmu.” Mobil itu mulai Taeyeon kendarakan. Ia mencoba fokus mengendarai mobil kesukaannya itu sembari menunggu Tiffany yang masih terdiam belum membalas apapun yang diucapkannya tadi.

“Aku.. akan makan siang.. dengan Eomma dan Appa. Lebih baik.. kau tidak.. disana Oppa. Tim keamanan Yuri Oppa bisa melakukan tugasmu selama aku bersama mereka.” Ucapan Tiffany sedikit terpatah, ia seperti sedang menahan sesuatu.

“Fany-ah.. kau baik-baik saja?” sepertinya Tiffany kesulitan bernafas dan menahan tangisnya.

“Oppa” suaranya terdengar melemah dan pendek.

“Fany.. kau masih ada di kantor kan? Aku akan menghubungi mereka untuk segera menolongmu. Bertahanlah!” perasaan Taeyeon semakin tidak enak saat mendengar hembusan nafas Tiffany yang semakin cepat temponya.

“Euhm..” hanya itu yang Taeyeon dengar sebelum sambungan telpon mereka terputus.

.

.

.

“Apa yang kau katakan!” Yuri meraih kerah kemeja pria yang masih terlihat berusaha tenang dengan situasi mereka saat ini.

“Maafkan saya Tuan. Mereka mengira ambulance yang membawa Nona Hwang berasal dari perusahaan kami.” Presiden SJJD, salah satu perusahaan penyedia layanan keamanan terbaik di Korea Selatan mencoba memberikan argumennya.

“Kenyataannya bukan itu yang terjadi! Apa yang akan kau lakukan heuh? Kau ingin mati di tanganku?” Yuri tak bisa mengontrol emosinya saat ini. Salah seorang perwakilan Nozo Group baru saja mengirimkannya foto Tiffany yang tak sadarkan diri di dalam sebuah mobil ambulance.

“Kami akan membawa Nona Hwang kembali dengan selamat Tuan. Mohon tenanglah.” Yuri melepas kerah itu dan mendorong pria yang masih mencoba tenang menahan sakit di punggungnya.

“Kalian.. jika sesuatu terjadi dengan calon isriku, aku akan membuat kalian merasakan apa yang dirasakan olehnya!” Yuri melepas dasinya dan membuka kancing kerah kemejanya. Ia melemparkan dasi itu ke Presiden SJJD yang masih menundukan kepalanya.

“Taeyeon-ah.. apa yang harus kita lakukan?” Taeyeon berjalan menghampiri Yuri yang terlihat tertekan dengan masalah ini.

“Yul.. kau tenanglah dulu. Aku sudah mempunyai rencana.” Bahu itu Taeyeon

“Apa maksudmu?” Taeyeon mengalihkan pandangannya pada Presiden SJJD yang terlihat semakin gugup.

“Kau masih memiliki persediaan pasukan elitmu di Seoul?” Presiden SJJD segera menghubungi bawahannya. Ia mengecek persediaan pasukan khusus yang disediakan untuk para klien VVIP mereka.

“Pasukan elit kami siap untuk Anda gunakan Tuan. Kami menunggu perintah Anda untuk mengirim berapa kuantitasnya.” Presiden SJJD mulai berbicara membuat Taeyeon kembali berpikir.

“Baiklah. Siapkan aku 20 orang secepatnya.” Presiden SJJD segera menelpon bawahannya.

“Taeng.. apa yang akan kau lakukan?”

“Menyelamatkan Tiffany.”

“Kau..”

“Ya.. kita akan berperang Yul untuk menyelamatkan Tiffany.”

‘Hidupku..’ lirih Taeyeon dalam hatinya.

.

.

.

TBF

Iklan

50 pemikiran pada “My Lady Shoot 4

  1. Thor.. knp sperti ini.. knp harus tae yg sllu menerima kesedihan tak bisa kah tae bahagia dgn jln nya sendiri tanpa adanya beban slma ini.. lihat betapa sygnya tae kpd yul n pany hingga mengorbankan nyawanya buat yg dicintainya.. egois yul

  2. Agak lupa dg ceritanya 😂
    Yuri udah tau hubungan taeny?😨
    (Relakanmerekaseobang) 😉
    Fany mulai bimbang lagi tuh …jangan bimbang please pilih tae aja 😉
    Iss…nozo grup minta dimusnahkan dr muka bumi..😠..moga aja fany nggak kenapa napa 🙏

  3. Gw baper baca part kwon yuri yg tau kalau pany punya hubungan sama tae……😢😢
    thor jika fany bukan jodoh kwon yuri yaudahlah biar fany sama tae aja dari pada gw baca part kwon yuri yg kadang bikin gw baper hilangin aja rasa cinta yuri sama fany…..

  4. Gak tega liat nasibnya yul..
    Apalagi ternyata selama ini dia tau kalo taeny ada hubungan…
    Fany diculik sama nozo group?
    Semoga nanti nggak ada yg jadi korban nozo group..

  5. Ahh untung gua nsh inget jln cerita nih ff,jadi gk baca ulang lgi dah😁😁😁
    Akhirnya jadian juga😄 tapi sian juga sih yul diduain😩 ahh jadi baperkan😥
    Tapi gua harap hatinya pani buat tae yaa😂 yul ama sica aja ya ya ya😂😂😂😂
    Nozo group oh god minta diancurin nih orang😠 awas aja klau pani sampe kenapa2, dan tae mau nyelamatin wanitanya walau nyawa taruhannya

  6. what…fanny hamil
    lah kok bisa sejauh itu sih…😪😪😪😪😪

    sicca kyknya tau deh wanita yg taeng maksud itu fanny.dia cuma nunggu taeng buat jujur aja.cewek feeling nya kuat lagi klo ada yg beda sma pasangannya pasti cepet krasa.

    poor yuri poor sicca..
    mending sicca jalani hidup baru aja deh…pergi kemana ke siapa tau ntr di jalan ketemu seseorang..yoona misalnya ato sooyoung ato mungkin saya😂😂😂😂😂

    semoga taeng bisa nyelametin pujaan hatinya yah
    dan yuri relain aja lah fanny buat taeng.mungkin memang fany bukan kebagian mu…..*pukpikindrjauh

  7. jd taeng yg selalu berkorban demi keselamatan pany,apa pany nanti akan jd korban sama persis yg ada di lukisan
    gx papa taeng kmu memgalah aja demi persahabatan kamu ama yul kan masih ada sica yg masih menumggumu

  8. Ugh akhirnya muncul juga chap 4 nya aduh jadi binggung ini nanti jadi taeny atau yulti wkwwk.berharap happy ending ,,,,itu lohh tiffany diculik greget lagi kalo salah satu dari yul dan taeng terluka makinseru aja pasti 😀

  9. Fany mau dua2nya
    Yul dan Tae
    kasihan jg sica kl gini
    gw pengin Fany milih Tae tp kl Yuri tdk mau lepaskan Fany susah jg Taeny nyatu. lebih baik Tae ma sica aja, ndk baik lama2 gantung perasaan orang

  10. Waduh ternyata yuri udah tau hubungan taeny yah, kasian juga sih ya jadi yul perasaannya gimana tau calon istrinya ada maen sama sahabat nya tapi salah sendiri sih
    Ayoo taetae selamatkan fany
    Fighting

  11. fany : dan aku pun masih mencintai dia namun hatiku membuka pintu untuknya~
    taeng : pedih aku rasakan kenyataannya cinta tak harus slalu miliki~
    haha ksian cinta taeny dianggap semu olh yul….
    ck jgn bilang wanita yg dilukis ntuh si ppany lagi…
    uuuggghhhhh
    ayo tuyul ehhh maksudnya taeyul cepetan slamatin ppany sblm terlambat…

  12. Gue kubu yuriii pokoknya. #teamyuri #yulkeren #yulkecjeeeh #taengamasicaaja itu kan taeng udah di cariin jodoh ama yul sica Elah ganggu Mulu ateng ah

  13. Waahhhh… Akhirx author kesayangan gue update jg.. Hehehhe….

    Wah.. Wah….. Trnyta yul udh tau hbngan taeny?
    Hmm…. Klo mnurut gue sih bgusx yul relain aja taeyeon ama fany. Krn yg lebih baik dlm melindungi panykan cuma taetae..

    Hehehhehe..

  14. Wduhhh ternyta si yuri emg pinter
    Wkkwkwkwkw
    Kcauu dh si yuri tau hub taeny
    Kasian sih taeyeon
    Tpi gtw np demen liat tae kek gtu
    Ahhahhhhaa
    Moga2 fany gapapa duhh
    Lanjut thorrr
    Penasarann
    Wkkwwkw

  15. Kenapa TaeNy harus begini? semoga aja di chapter selanjutnya pas YulTi pergi menyelamatkan Fany, orang yang pertama di peluk Fany itu adalah Tae biar Yul tahu kalo Fany tuh cinta ama Tae, begitu pula sebaliknya. Biar YulSic aja yang jadian

  16. Diiihh aq pikir bneran tuh wktu ppany bilang hamil, eh gak taunya bercanda.
    Tuh kn yuri udh tau soal hubungn taeny, sbnernya sih kasian sm yul, sahabat yg slama ini dia percaya bwt jagain cln istrinya eh malah diam2 berhubungn, ppany jgn sakitin yuri donk, udh deh mendingan mikirin pernikahan sm yul aja. Biarin lah skali2 taengsic bersatu, biar gak miris trus
    Haduh ppany knp tuh?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s