DISTANT

cvuzi3kuiaapgnd

 

“You never grow distant because you’re too busy. It’s when the love fades or you meet someone better that you grow distant…”

True.

Sebuah cerita pendek yang terinspirasi dari quote diatas.

***

“Sayang… apa yang akan kau lakukan hari ini?” Jika ini adalah hari pertama aku mendengar pertanyaan itu darinya, aku takkan berbohong jika aku mengatakan bahwa aku menyukainya.

Kalimat itu adalah rangkaian kata yang kuinterpretasikan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya padaku.

Bukankah kalian bahagia saat orang yang kalian sayangi memperhatikan kalian?

Oh.. tentu saja akupun begitu.

“Meeting dengan Mr. Lee” balasku singkat, lalu meminum lagi teh melatiku yang aroma dan rasanya bisa menenangkanku dengan ajaibnya, membantuku kembali fokus dengan tujuanku hidup hari ini.

Sejak didiagnogsa penyakit radang lambung yang cukup parah, aku mulai mengurangi konsumsi kafein. Jadi bisa kuhitung berapa cangkir Caramel Macchiato atau arabika yang kuminum dalam sebulan. Tak seperti dulu. Dalam sehari aku bisa menghabiskan 3 gelas kopi hitam pekat yang aromanya begitu tajam dan menggugah selera atau kopi lembut yg tak terlalu manis ataupun pahit, membuatku selalu lupa diri bahwa minuman itu perlahan bisa membunuhku.

“Lee Seong-hwa?” suaranya yang cukup berat tapi kering terdengar.

“Ya.. Mr. Gray.” balasku datar tak berusaha terdengar panik ia akan marah atau curiga padaku.

“Sayang..”

“Ini hanya bisnis. Dia adalah client yang cukup penting untuk firma hukumku. Jika kasusnya berhasil kami tangani, reputasi firma akan naik. Apa aku harus melepasnya?” tak ada suara lain yang terdengar untuk sesaat selain hembusan nafasnya.

“Maafkan aku jika aku terdengar egois, tapi ini penting bagiku. Firma ini adalah sesuatu yang sangat berharga untuk Daddy. Kuharap kau mengerti.”

“Ya. Aku akan menjemputmu nanti malam. Semoga harimu menyenangkan Love.” sambungan itu terputus sebelum sempat aku berbicara apapun.

Aku tahu perasaannya tersakiti dengan ucapanku tadi. Tapi aku tak bisa kehilangan klien penting lagi karena Yoonan. Kondisi firma menjadi sedikit goyah saat beberapa klien pindah ke firma lain karena kecemburuan kekasihku itu.

Sudah 5 tahun lebih aku dan Yoonan menjalin hubungan yang serius. Pria bermata kijang itu menjadi dukungan terbaikku ketika Daddy berpulang 2 tahun lalu. Saat itu aku masih menjadi pengacara junior di firma hukum yang menjadi impianku, firma milik Daddy.

Sejak dulu, bekerja bersama Daddy adalah impianku. Bisa berbagi pikiran, ide dan  mengelola ide tersebut sehingga menjadi senjata ampuh untuk memenangkan kasus adalah sebuah kepuasan dan kenikmatan tersendiri bagiku. Daddy adalah sosok yang kuidolakan dan Yoonan tahu itu.

Perkenalanku dengan Yoonan berawal ketika perusahaan keluarganya yang menyewa jasa hukum ke firma Daddy. Aku saat itu bertanggungjawab dalam kasus itu. Yoonan menjadi perwakilan perusahaan yang selalu berkomunikasi padaku tentang kasus yang kebetulan menjadi pegangannya. Kasus itu tentang tuntutan yang diajukan perusahaan Yoonan pada perusahaan milik keluarga Kwon yang dianggap telah mencurangi perjanjian yang keduanya buat.

Kasus itu cukup memorable bagiku karena dengan adanya kasus itu aku bisa menjadi kekasih Yoonan. Selain itu, aku bisa benar-benar melupakan Yuri dan melabuhkan hatiku pada Yoonan.

Entah sejak kapan aku menjadi seperti ini.

Sosok Yoonan perlahan menjadi abu-abu di pikiranku.

Rasanya hati ini tak sebergetar dulu saat dia mengucapkan kata sayang atau cintanya padaku.

Rasanya setiap sentuhan yang dia berikan padaku tak menghangatkan lagi hati ini.

Mata kijangnya yang dulu selalu menghipnotisku sekarang terlihat begitu biasa.

Harus kuakui aku sedikit kejam pada Yoonan tadi. Egois pula. Entah sejak kapan aku menjadi seorang wanita yang kurang menghargai prianya.

Aku tahu kesalahanku itu.

Tapi aku tak bisa menghentikan perasaan aneh yang kadang membuatku tak ingin bertemu dengannya sama sekali.

Apa ini karena kesibukan kami berdua?

Apa hal itu yang membuat jarak itu semakin terbentang?

Apa hal itu yang membuatku terkadang merasakan hal yang tak seharusnya kurasakan pada Yoonan?

Apa aku… mulai jenuh dengan hubungan ini?

Kring… Kring…

“Oh.. siapa ini?” kereta pikiranku terhenti saat telponku berdering. Seseorang yang nomornya tak teridentifikasi di telponku memanggil.

“Bestiee!!!” dari teriakannya saja aku sudah tahu siapa yang menelponku ini. Suaranya kebetulan cukup khas sehingga aku bisa dengan mudah mengenalinya.

“Suaramu membuat gendang telingaku hampir pecah.” tawanya yang serak dan renyah yang terdengar selanjutnya.

“Kau tidak sibuk kan?” suaranya yang merdu terdengar kembali. Well menjadi seorang penyanyi sukses yang sudah terkenal di kancah internasional membuat sahabatku itu terdengar merdu hanya dengan berbicara.

“Sekarang?”

“Duh! tentu saja.”

“Euhm.. sekarang dan 2 jam kedepan aku tidak terlalu sibuk. Hanya saja aku…”

“Bagus! aku akan segera keatas. See you soon Bestie!” sambungan telpon kami sudah tertutup meskipun aku belum sempat berkata apapun padanya.

***

“Bestie!!!” dia berlari ke pelukanku layaknya seorang wanita yang merindukan kekasihnya.

“Kau semakin bersinar. Apa Oppa memberikan malam yang tak terlupakan untukmu?” candaku mengomentari wajah dan tampilannya yang terlihat semakin cantik bagiku.

“Hahahaha kau tahu saja!” dia tertawa memukul pundakku terlihat seperti tante genit yang malu mengungkapkan tentang kehidupan seks mereka meskipun pada nyatanya bahagia dan bangga.

“Apa lagi yang membuat wanita lebih bersinar selain kecantikan hati dan seks yang mengesankan?” kini aku ikut berbaur dalam tawanya.

Untuk beberapa menit kami menikmati waktu perbincangan kami. Dia menceritakan kesibukannya melakukan konser di beberapa negara amerika latin dan utara sehingga sudah beberapa bulan ini dia tak sempat menemuiku. Biasanya sesibuk apapun sahabatku itu, dia selalu meluangkan satu hari dalam sebulan untuk berkencan denganku.

Jangan ganggu kami. Dia milikku dan aku miliknya hari ini.” Aku selalu tertawa mengingat kalimat yang selalu diucapkannya pada Yoonan dan suaminya saat kami akan memulai kencan kami.

Tiffany sudah dekat denganku sejak kami masih kanak-kanak. Keluarganya dekat dengan keluargaku. Ibu kami sudah bersahabat sejak mereka remaja hingga akhirnya memiliki kami. Tiff menjadi sangat dekat dengan keluargaku, terutama Mommy sejak ibunya meninggal ketika dia masih 14 tahun. Ibunya meninggal beberapa bulan setelah Tiff memulai kehidupan Trainee-nya.

Untuk beberapa bulan Tiff terlihat seperti mayat hidup. Ibunya adalah wanita yang sangat ia cintai, panutannya. Dalam beberapa bulan aku dan Mommy berusaha menguatkan kembali gadis bermarga Hwang itu. Syukurlah usaha kami berhasil sehingga Tiff tak jadi mengubur cita-citanya menjadi seorang penyanyi karena ia merasa bersalah terlalu sibuk dengan kehidupan Trainee-nya ketika ibunya saat itu tengah berjuang menyembuhkan kanker yang sudah cukup lama disembunyikan dari Tiff. Tante Hwang tak ingin Tiff khawatir dan kehilangan fokus untuk meraih mimpi anak bungsunya itu.

Bagi tante Hwang, Tiff adalah sebuah keajaiban. Dulu saat Tiff lahir, dokter sudah memvonis bahwa Tiff hanya bisa bertahan hidup dalam beberapa hari saja karena ada masalah di saluran pernafasan dan jantungnya. Maka dari itu, bisa melihat Tiff bernafas, hidup dan mengejar mimpinya adalah sebuah keajaiban dan berkah luar biasa yang selalu disyukuri Tante Hwang hingga akhir masa hidupnya.

Sejak saat itu ikatan persahabatanku berubah menjadi sebuah persaudaraan yang sejauh ini selalu membuatku bersyukur kami berdua bisa dipertemukan. Well sejak dulu kami selalu berada di kelas yang sama, sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Kami mulai berpisah sejak aku mendapat beasiswa pendidikan  hukumku di Harvard dan dia memilih untuk memasuki sekolah seni di Seoul, beriringan dengan karir musiknya yang baru dimulai. Tapi syukurnya persahabatan kami tetap terjaga hingga hari ini ditengah kesibukan yang membuat kami terkadang lupa dan tak menghubungi satu sama lain.

“Taefan semakin tampan dan menggemaskan” komenku melihat beberapa foto anak pertama Tiff yang kini sudah mulai mengikuti jejak kedua orangtuanya sebagai artis.

“Kau tahu kan sebenarnya Oppa tak ingin Taefan menjadi artis. Tapi jagoanku selalu terlihat senang saat juru kamera menangkap wajahnya. Kasihan suamiku, sebenarnya ia ingin Taefan menjadi pengacara sepertimu atau arsitek seperti kekasihmu.” Senyumku perlahan berkurang mendengar kata-kata terakhir Tiff.

“Benarkah?” tanyaku berusaha menutupi apapun yang kurasakan saat ini.

“Heumh benar. Tapi kami takkan menghalangi apapun yang diinginkan Taefan nanti. Tugasku dan Taeyeon hanya memberikan informasi  dan mengarahkan Taefan. Kami tidak akan memaksa Taefan untuk menjadi apa yang kami inginkan.” dari tahun ke tahun, aku selalu merasa kedewasaan Tiff bertambah apalagi sejak menikah dan memiliki anak 5 tahun yang lalu.

Kalian tahu yang lucu?

Taefan lahir sehari sesudah Yoonan memintaku menjadi kekasihnya dan meresmikan hubungan kami. Jadi hampir setiap tahun aku dan Yoonan merayakan hari jadi kami bersamaan dengan ulang tahun Taefan.

“Jessi.. apa ada sesuatu yang mengganggumu?” jika ada orang lain yang bisa membaca ekspresi wajahku lebih baik selain Mommy dan mendiang Daddy, yaitu Tiffany Hwang.

“Tiff.. apa kau pernah jenuh dengan Taeyeon?” mengerti dengan pertanyaanku, dia sedikit berpikir, terlihat mengingat sesuatu sebelum mendekatkan dirinya padaku dengan senyum bulan sabitnya yang khas.

“Jessi.. ini adalah pengalamanku yang mungkin belum pernah kuceritakan padamu. Kuharap kau bisa mendapatkan sesuatu dari ini.”

“Ceritakanlah Tiff, aku akan mendengarkanmu.”

“Baiklah, jadi begini…”

Fany.. apa yang terjadi?” Tiffany melepaskan tangan Taeyeon yang menggenggamnya. Ia berjalan 2 langkah ke belakang, mengambil jarak dari kekasihnya yang menatapnya bingung dan sedih.

“Oppa.. bisakah kita berpisah?” suara Tiffany terdengar ragu tapi memaksa.

“Beri aku alasan untuk menyetujui permintaanmu itu.” lama Taeyeon tak menjawab sebelum pria itu kembali bersuara.

“Kita berdua sibuk. Kau dengan persiapan konsermu dan aku dengan tahun akhirku di Universitas serta persiapan album baruku.”

“Hanya karena itu?”

“Hanya karena itu katamu? apa kau pikir ini mudah untukku?”

“Maafkan aku Fany tapi bagiku kesibukan kita bukanlah alasan yang tepat untuk mengakhiri apa yang sudah kita bangun dan pertahankan hingga hari ini. Jika sibuk yang menjadi alasan kita berpisah, mengapa tak sejak dari awal? Dulu kau lebih sibuk dari ini dengan semua kegiatan promosimu begitupun aku dengan drama musikal dan fan meetingku di Cina. Lalu mengapa sekarang kata ‘sibuk’ menjadi sebuah alasan untuk kita berpisah? bukankah ini adalah komitmen yang kita bangun dengan kesibukan kita?”

Apa yang diucapkan Taeyeon tadi benar. Tiffany tak bisa berkata apapun untuk sesaat setelah mendengar ucapan kekasihnya itu. Mereka berdua sudah mulai berpacaran sejak Tiffany masih belum debut sedangkan Taeyeon sudah memiliki karir yang stabil di dunia hiburan sebagai penyanyi, aktor, model dan produser yang memproduksi beberapa single yang menjadi hits di Korea Selatan dan negara sekitarnya. Keduanya baru berani mengumumkan hubungan mereka setelah Tiffany berhasil memantapkan posisinya sebagai solois sukses yang mendapatkan cinta dari banyak orang dengan suara emas dan musik jenius yang banyak diproduksinya.

Fans mereka memanggil Taeyeon dan Tiffany sebagai Taeny couple dan menyebut diri mereka sebagai Locksmith. Sungguh mengejutkan bagi Tiffany melihat respon publik yang mendukung hubungannya bersama Taeyeon disaat banyak pasangan artis atau idol yang tak direstui oleh publik atau fans mereka sehingga mereka akhirnya harus putus atau menjalani hubungan mereka secara diam-diam seperti apa yang dilakukannya dulu sebelum Taeyeon dengan berani dan gentlenya mendeklarasikan Tiffany sebagai kekasihnya disaat pria bermarga Kim itu meraih penghargaan solois terbaik di Seoul Music Award. Pada saat itu Tiffany hadir karena ia yang bertugas membacakan nominee dan pemenangnya. Pengakuan cinta Taeyeon dan hubungan mereka ke publik saat itu menjadi berita populer yang bertahan selama beberapa bulan di situs pencarian seperti Naper atau Dawu. Nama Taeyeon dan Tiffany selalu menjadi kata kunci teratas dan kepopuleran mereka meningkat. Keduanya menjadi visual couple yang banyak diidolakan orang.

“Kesibukan bukanlah sesuatu yang membuat kita menjadi jauh atau hubungan kita merenggang. Ini antara cinta kita yang sudah padam atau salah satu dari kita bertemu dengan seseorang yang lebih baik dari pasangan kita sehingga jarak dan kerenggangan itu tercipta.”

“Sekarang.. katakan padaku, mana yang menjadi penyebabnya hingga kau ingin berpisah dariku? Aku tidak akan memaksamu untuk tetap mencintaiku jika memang cinta itu telah padam. Aku juga tak bisa menahanmu untuk bersamaku jika ada orang lain yang lebih baik dariku dalam segalanya jika itu berkaitan tentangmu. Aku tidak akan menghalangi kebahagianmu. Jika kau memang ingin berpisah tentu akan kulakukan, karena kebahagianmu adalah kebahagianku juga. Hanya saja.. tolong beri aku alasan yang tepat. Cukup itu.” 

“Oppa..”

“Tidak Fany. Jika perpisahan itu memang yang kau inginkan maka aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak dengan kata ‘sibuk’.. aku takkan pernah percaya dan melepasmu atau hubungan kita jika kau masih bersikeras bahwa itu alasan utamanya.” Taeyeon berjalan mendekati sang kekasih yang terlihat memikirkan lagi semua yang sudah diucapkannya tadi. Ia membawa kekasihnya itu untuk duduk di bangku taman villa pribadi-nya di Gyeonggi.

Tiffany mengikuti Taeyeon tanpa memberikan perlawanan apapun. Ia mengikuti Taeyeon untuk duduk disampingnya. Tangannya kembali Taeyeon genggam. Kali ini lebih lembut dan hangat dari biasanya. Tiffany tahu dengan hanya genggaman tangan, Taeyeon berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa Tiffany takkan pergi darinya. Menyadari hal itu membuat hati Tiffany perih.

Taeyeon benar.

Apa yang terjadi padanya?

Mengapa ia tak bisa jujur pada dirinya sendiri tentang perasaannya?

Ini bukan tentang kesibukan 

Tapi lebih tentang Tiffany yang jenuh dengan semuanya dan ingin mencari sesuatu hal yang baru.

Mengapa begitu sulit mengatakan hal itu?

Apa karena ia terlalu mencintai Taeyeon sehingga ia tak mau melukai perasaan prianya itu?

Atau memang cinta itu sebenarnya telah padam?

“Fany-ah.. aku akan melepasmu jika memang kau sudah tidak mencintaiku atau ada orang lain di hatimu sekarang. Tapi, izinkan aku memperjuangkanmu lebih dulu. Jika memang hatimu masih belum bisa bersamaku lagi, maka aku akan benar-benar melepasmu. Aku akan mengabulkan permintaanmu untuk mengambil rehat dari hubungan kita. Tapi maksimal 3 bulan. Hanya itu. Lewat dari 3 bulan, jika kau masih belum memberikan jawaban yang jelas tentang alasanmu ingin berpisah dariku maka kau tak bisa menolakku untuk memenangkan lagi hatimu, menghidupkan lagi api yang telah padam di hatimu tentang aku dan kita. Deal?” 

Keesokan harinya Taeyeon benar-benar menepati janjinya. Pria itu tak menghubungi Tiffany. Taeyeon benar-benar memberikannya ruang untuk berpikir tentang apa yang telah terjadi pada Tiffany, pada hubungan mereka.

Tak terasa 3 bulan telah berlalu. Masa rehat yang Taeyeon berikan pada Tiffany telah habis. Malam ini keduanya akan bertemu di apartement Tiffany untuk membicarakan semuanya yang selama 3 bulan ini telah tertunda dan terpikirkan.

“Oppa..” tak ada kata lain yang bisa Tiffany ucapkan selain itu. Ia menghamburkan dirinya dalam pelukan sang kekasih yang menyambutnya penuh hangat dan kenyamanan yang selalu terasa sama dari dulu hingga hari ini dan hanya Taeyeon yang bisa memberikan itu padanya.

“Terimakasih Oppa.. terima kasih.”

“Kembali kasih Sayang. Ingin menceritakan apa yang kau pikirkan atau rasakan selama 3 bulan ini?” Tiffany menganggukan kepalanya seperti gadis kecil yang imut sekali.

“Selama 3 bulan ini kau telah memberikanku kesempatan untuk merindukanmu. Kau telah memberikanku ruang untuk bebas dan sendiri.” 

“Benarkah?”

“Kau membuatku sadar betapa aku membutuhkanmu. Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin saat aku bersamamu hingga aku lupa rasanya sepi. Aku tak menghargai sepi yang menimbulkan rindu. Dengan ruang  yang kau berikan padaku, aku tahu bagaimana perasaanku yang sebenarnya  padamu.”

“Aku rasa ruang sendiri dan ruang rindu itu baik bagi kita?”

“Tentu. Dan untuk menjawab pertanyaanmu 3 bulan yang lalu… Tidak. Jawabannya adalah tidak. Bukan karena ada orang lain yang lebih baik dan cinta kita yang telah padam. Bukan pula kesibukan yang menjadi alasan aku untuk berpisah darimu. Itu lebih dimana aku lupa bagaimana aku merindukanmu sehingga hatiku mulai bertanya apa aku masih mencintaimu atau tidak dimana nyatanya cinta itu tak pernah padam.” Taeyeon hanya tersenyum menatapi sang kekasih yang menjelaskan bagaimana perasaannya selama 3 bulan ini tak berkomunikasi dengannya.

“Jadi masih ingin berpisah denganku?” Taeyeon menepuk pelan puncak hidung mancung kekasihnya yang berpikir sebentar sebelum menggelengkan kepalanya terlihat imut. 

“Bagus. Karena akupun tak pernah berencana untuk berpisah darimu. Kau ingat itu Nona Hwang!” Kepala itu Tiffany anggukan diiringingi senyum bulan sabitnya yang begitu indah.

“Aku mencintaimu Fany-ah.” Kening itu Taeyeon kecup lalu berpindah ke puncak hidung dan bibir Tiffany sementara wanitanya itu masih menutup kedua matanya menerima kecupan manis dan penuh arti yang selalu Taeyeon berikan padanya dan hanya untuknya.

“Tunggu.. kalian pernah mengalami itu semua?”Tiffany tertawa sebelum meminum Green Tea Latte yang dibawanya tadi.

“Tentu. Kurasa hampir kebanyakan pasangan akan mengalami hal itu. Kau tahu, ini seperti sebuah tes apakah kau akan naik ke tingkat selanjutnya atau menyerah dan mengakhiri semuanya dan aku bersyukur karena Taeyeon Oppa tak menyerah denganku saat itu.” wanita yang hingga kini masih eksis di dunia hiburan meskipun sudah menikah dan memiliki anak memakan donat yang dibawanya juga tadi.

“Lalu apa yang harus kulakukan? haruskah aku mengikuti jejakmu?”

“Sister.. aku rasa cara terbaik adalah bicarakan semua pada Yoonan. Diskusikan. Yang terbaik untuk kalian apa. Solusi dari masalahku kemarin datang karena diskusi yang kulakukan bersama Oppa. Jika kau menyimpan semuanya sendiri seperti sekarang, maka itu akan lebih menyakitkan bagi kalian berdua. Yoonan berhak tahu apa yang membuatmu berubah padanya. Jessi.. kau harus tahu bagaimana Yoonan begitu sabar padamu. Dia begitu baik seperti malaikat tapi jika kau sudah membakar amarahnya, kau berhadapan dengan seorang setan.” Apa ini sebuah ancaman atau peringatan?

“Oh percayalah padaku Jessi.. kau tidak akan pernah mau berhadapan dengan Hell Yoonan.” Ya aku percaya pada ucapan sahabatku itu.

Dengan mengejutkan Yoonan sempat menjalin hubungan dengan Tiffany dulu, sebelum sahabatku itu kenal Taeyeon dan aku sudah berada di Harvard. Hubungan mereka cukup lama, 1 tahun. Well aku sedikit tak nyaman mengetahui bahwa sahabatku adalah mantan kekasih Yoonan tapi Tiffany dan kekasihku menjelaskan semuanya dari awal tentang hubungan mereka.

Tiffany Hwang…

Dia adalah gadis yang terbuka dan begitu dekat denganku tapi terkadang aku merasa tak mengenalnya sama sekali dengan banyaknya hal yang masih menjadi rahasia untuknya dan misteri bagiku.

“Euhm.. aku percaya. Kau tidak usah menceritakan masa lalumu bersamanya yang begitu ‘indah’. Rasanya aku butuh ekstra kopi jika aku mendengar cerita kalian lagi.” Kuputarkan bola mataku berusaha terlihat sebal padanya tapi Tiffany jauh lebih tahu bahwa itu hanyalah acting. Ia tertawa memberikan senyum bulan sabitnya, menepuk-nepuk kedua tangannya terlihat terhibur dengan reaksiku.

“Mom!!!” suara menggemaskan terdengar.

“Oh Pangeranku!” keluarga kecil Tiffany sungguh dramatis. Taefan berlari memeluk ibunya sementara sahabatku itu menangis kecil menerima pelukan putranya seperti mereka tak bertemu begitu lama. Di belakang mereka datang sang sutradara yang terlihat keren dengan setelan blazer biru navy dan jeans yang senada dengan blazernya. Kaus putih Taeyeon memuji kulit putih bersih dan sehatnya yang membuat suami sahabatku itu bak pangeran modern dari dunia dongeng.

“Maafkan mereka Sica. Mereka sedang berlatih untuk VCR konserku nanti. Kau dan Yoonan harus datang!” Aku tersenyum mengiyakan ucapan Taeyeon yang selalu terlihat keren, tenang dan karismatik bagiku, cocok menjadi pendamping Tiffany yang kadang bisa terlihat begitu konyol dan bodoh dibalik aura diva, dewasa, seksi serta dominan yang hanya terlihat di publik.

“Tante Sica!” Dan si tampan kombinasi Taeyeon dan Tiffany melepas pelukan di ibunya, berlari memelukku. Aku selalu berpikir bagaimana bisa sahabatku mengkombinasikan gen mereka sehingga terciptalah seorang Taefan yang begitu tampan dan menggemaskan.

“Tante.. aku merindukanmu. Bagaimana kabarmu dan Om Yoon? Maafkan aku yang jarang mengunjungimu Tante. Mommy dan Appa selalu membawaku bepergian sehingga aku tak sempat menemuimu.” Dibalik ketampanan itu terselip kedewasaan yang Taeyeon wariskan pada putranya. Taefan masih begitu kecil tapi dia sudah memiliki manner yang baik untuk anak seumurannya.

“Tante baik Sayang. Euhm.. bagaimana jika kau sudah tidak sibuk, kita bermain ke Disneyland Tokyo?” Mata coklat madunya bersinar mendengar ajakanku. Taefan menganggukan kepalanya kemudian memelukku lagi.

“Mom.. Appa.. aku boleh kan pergi bersama Tante Sica?” bagaimana Tiffany dan Taeyeon bisa menolak putra mereka yang terlihat begitu imut dan menggemaskan, sesuatu yang diwariskan Tiffany pada putranya itu.

“Tentu Pangeranku.” Tiffany berbicara dengan nada ibu perinya.

“Dan kami akan mewujudkan keinginanmu untuk memiliki adik secepatnya jika kau pergi bersama Tante Sica dan Om Yoo nanti, apalagi jika kalian pergi selama seminggu.” Taeyeon adalah pria yang terlihat sempurna dari dalam dan luar. Tapi ada sesuatu yang mencemari dirinya. Satu hal. Yaitu kemesuman yang tersembunyi dibalik wajah polos dan tenangnya.

***

jessica-jung-for-eyemag-jessica-snsd-38457016-500-323

“Yoong.. ada yang ingin kubicarakan.” Sudah seminggu aku memikirkan saran Tiffany dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan diskusi itu.

“Bicaralah.” Wajahnya yang tenang dan begitu tampan membuatku mendapatkan keberanian.

“Apa kau merasa ada yang berbeda dengan hubungan kita?” ekspresi wajahnya sedikit berubah mendengar pertanyaan itu. Aku rasa dia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini bermuara.

“Kau ingin berpisah?” suaranya terdengar begitu berat.

“Tidak. Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Aku hanya menanyakan pendapatmu tentang hubungan kita. Jadi jawablah sesuai dengan yang kutanyakan.” Yoonan tersenyum kecil menatapku dengan mata kijangnya yang polos dan membuat rasa bersalahku muncul.

Apa aku terlalu kejam padanya?

“Jujur aku merasa kau berubah. Hubungan kita menjadi renggang. Aku merasa kau terbebani dengan hubungan kita. Kau tidak merasa bebas dan bahagia seperti dulu. Kau sibuk dengan duniamu. Kau sedikit melupakanku.” Meskipun itu terdengar menyakitkan bagiku tapi itu adalah kenyataan. Aku memang sudah memperlakukan pria yang begitu sempurna bagiku ini dengan tak layak.

“Apa yang kau ucapkan, aku takkan mengelaknya. Aku meminta maaf dan aku ingin menjelaskan alasan dibalik itu semua.” Sinar di mata kijangnya terlihat meredup mendengar aku mengakui hal itu.

“Kenapa?” ada rasa perih yang menghinggapi saat mata kijangnya itu berbicara padaku dalam diamnya.

“Selama beberapa bulan ini jujur aku merasa bingung dengan diriku sendiri. Aku terbangun di pagi hari dan saat aku melihat pesan suaramu yang menyapaku, aku merasa biasa, tak merasa bahagia dan bersemangat seperti dulu. Saat kau memeluk atau menciumku, semuanya tak terasa seperti dulu, dimana kembang api menyulut adrenalinku dan hatiku selalu menginginkanmu lebih.”

“Kau adalah pria dan kekasih yang sempurna Yoong. Aku tak pernah meragukan hal itu. Selama 5 tahun ini kau selalu membuatku menjadi wanita paling beruntung dan special di dunia ini.” Tangannya kini kugenggam. Kami duduk berhadapan di atap rumah peristirahatan keluarga besarnya di Jeonju.

“Lalu.. apa yang salah dariku hingga akhirnya semuanya menjadi hambar dan datar bagimu?”

“Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi perbincanganku dengan Tiff membuka sesuatu.”

“Apa yang dikatakannya?”

“Tiff bilang yang harus kulakukan adalah membicarakan ini semua padamu dan mendiskusikan solusinya. Aku tidak boleh memendam ini semua sendiri.”

“Lalu.. apa yang kau inginkan?”

“Yoong.. jangan seperti itu. Kau membuatku semakin merasa bersalah.”Aku merajuk padanya.

“Baik. Maafkan aku. Tapi aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Kau tahu, kau adalah wanita pertama yang bisa mencapai sejauh ini denganku. Aku memahami jika kau merasa jenuh dengan hubungan kita. Tapi aku kadang tak mengerti dengan apa yang kau inginkan. Hal itu selalu membuatku bertanya apa aku selama ini memang tak terlalu memahamimu? Apa aku bukan kekasih atau pria yang baik bagimu. Kau dan kemandirianmu dalam menghadapi suatu masalah terkadang yang membuatmu seperti ini. Aku bersyukur Fany memberimu saran untuk membicarakan masalah ini denganku sekarang.”

“Yoong..” mengapa ini begitu menyakitkan saat melihat mata kijangnya berkaca-kaca menahan air matanya. Yoong bukan tipe pria yang mudah menitikkan air mata jika hal itu tidak benar-benar menggugah nuraninya.

“Choi Sooyoung.” Mendengar nama itu rasanya jantungku berhenti untuk beberapa detik.

“Yoong..”

“Sica.. aku tahu pria itu sedang mendekatimu. Aku tahu pria itu tak memperdulikan statusmu sebagai kekasihku. Kau tahu, dia bahkan mengajakku bertemu, meminta izin untuk mendekatimu. Gila bukan? Tapi alasannya cukup masuk akal. Selama kita masih belum mengucap janji pernikahan kita di hadapan Tuhan, kau masih sebelumnya milikku.”

“Tidak Yoong.. ini bukan seperti yang kau pikirkan..” Tuhan, mengapa semuanya menjadi kacau seperti ini?

“Aku rasa kau membutuhkan ruang yang bebas dan baru untuk beberapa waktu agar kejenuhan itu hilang. Lebih baik kita berpisah untuk beberapa bulan. Aku tidak akan menghubungimu atau berhubungan denganmu. Mungkin Sooyoung bisa membantumu menentukan apa yang kau inginkan, apa yang hatimu inginkan. Dan kau tidak perlu merasa bersalah. Jika ini adalah yang terbaik untuk kita, mengapa kita tak mencobanya?”

***

“Kau ingin kita memasak saus apa?” Yoong masih melihat-lihat beberapa botol saus untuk makan malam keluargaku malam ini.

“Euhm Seafood Carbonara dan Daging asap pedas asam manis?”

“Sempurna! Kita akan menggunakan fetucinni dan long macaroni untuk pastanya.”

“Yess!!! Soojung dan Mom pasti akan menyukainya. Kau memang menantu idaman Im Yoonan-shi.”

“Hahaha.. saat aku menjadi suamimu nanti, aku akan melindungi dan melayani kau, Soojung dan Mommy dengan semua yang kumiliki. Daddy sudah mempercayakan kalian padaku jadi aku tidak akan menyia-nyiakan harta yang ayahmu titipkan.”

“Yoong.. mengapa kau begitu manis?”

“Euhm.. karena aku kekasihmu?” dia tertawa menerima pukulan di pundaknya dariku, membawa tubuhku dalam rangkulannya, melanjutkan sesi berbelanja kami yang masih harus mencari bahan-bahan lain agar makanan kami nanti terhidang dengan sempurna.

“kenapa kau belum menyentuh pastamu?” suara pria di hadapanku membangunkanku dari lamunanku.

“Aku menunggunya agak dingin.”

“Oh.. kalau begitu makan dulu garlic bread-nya saja atau chicken wing-nya. Ini.. makanlah.” Dia tersenyum melihatku mulai memakan apa yang disarankannya tadi. Kami menikmati seluruh hidangan dalam damai, dia terlihat begitu menikmati semua makanan yang dipesannya, tidak denganku.

“Jess.. bagaimana? Kau senang?” Aku mengiyakan pertanyaannya. Dia terlihat puas tapi aku tahu tak sepenuhnya seperti itu. Ada sedikit rasa frustasi di dalamnya.

Choi Sooyoung.

Pria yang sama tingginya dengan Yoonan itu sudah 5 bulan ini mendekatiku lebih terbuka dan leluasa semenjak aku berpisah untuk sementara waktu dengan Yoonan. Aku sudah berusaha untuk menolaknya tapi pewaris salah satu perusahaan konstruksi terbesar di negaraku itu begitu gigih. Mengingat saran Yoonan, aku akhirnya mencoba menjalani beberapa kencan dengannya.

Aku sudah menjelaskan padanya bagaimana hubunganku dan Yoonan. Dia tak keberatan saat aku mengatakan padanya untuk tidak melakukan skinship selain berpegangan tangan, pelukan atau hanya kecupan di bibir.

No make out and love making.

 “Jess.. ini adalah hari terakhir masa rehatmu dengan Yoonan. Bagaimana?”

“Aku..”

“Kau tahu putri Tuan Seo Kangjun yang kukenalkan padamu di pesta ulang tahun perusahaanku kemarin? Sudah 2 bulan ini dia dekat Yoonan.”

“Apa maksudmu Soo?”

“Aku hanya ingin kau mempertimbangkan lagi semuanya. Aku ingin menjadi priamu. Kekasihmu. Ayah dari anak-anakmu.”

“Soo.. kau tahu kan…”

“Aku tahu Jess. Kau hanya berpisah untuk sementara waktu dengan Yoonan untuk mengusir kejenuhanmu dan mengetahui seberapa besar kau membutuhkan atau menginginkan Yoonan di hidupmu. Aku tahu.” Dia terlihat mengatur emosinya dengan baik. Tapi kepalan tangan kirinya berbicara lebih jelas tentang emosinya saat ini meskipun dia tak menunjukan kekesalan dan frustasinya secara verbal padaku.

“Tapi.. apa Yoonan benar-benar bisa menjaga hatinya saat kalian dalam masa rehat ini? Bukankah tak adil baginya bila hanya aku yang mendekatimu sedang dia tak membiarkan dirinya didekati oleh wanita lain?”

“Itu tidak mungkin terjadi. Kau hanya mempengaruhiku untuk meninggalkan Yoonan dan memilihmu.”

“Jess aku memang ingin kau meninggalkan Yoonan dan beralih padaku tapi tidak dengan cara sepicik itu. Itu bukan gayaku sebagai seorang Choi.” Ucapan Sooyoung terasa berbeda, ada penekanan dan rasa sakit di dalamnya.

“Temuilah Yoonan besok dan bicarakan kelanjutan hubungan kalian. Aku akan mengantarmu dan menunggumu.”

***

“Yoong..” Yoonan berdiri menghampiriku.

“Oh hai Sica!” dia masih menyapaku dengan gaya khasnya yang ramah seakan masa rehat ini tak berefek apapun padanya.

“Apa aku mengganggumu?” pertanyaanku terdengar canggung. Tapi memang itu yang kurasakan. Setelah 6 bulan ini aku tak berhubungan dengannya, semuanya terasa berbeda bagiku tapi tidak dengannya.

“Oh hallo Jessica-shi senang bertemu denganmu lagi disini.” Wanita yang menjadi penyebab lain kecanggunganku adalah dia, Seo Juhyun.

“Ah hai Nona Seo.” Balasku berusaha terlihat ramah meskipun hatiku tidak.

“Panggil aku Seohyun saja Jessica-hi.”

“Sica.. kalian sudah saling mengenal?” Yoonan terlihat terkejut melihat kami saling menyapa.

“Kami..”

“Aku dan Jessica-shi bertemu di pesta ulang tahun CJF Group beberapa waktu yang lalu. Sooyoung Oppa mengenalkanku pada kekasih barunya yang cantik sekali dan orang itu adalah Jessica-shi.” Wanita ini.. dia memujiku atau ingin memasukanku ke neraka?

“Kekasih?” Oh tidak! Yoong jangan percaya padanya kumohon.

“Yoong.. aku..”

“Yoongie Oppa, kau harusnya datang kemarin bersamaku. Jessica-shi sungguh cantik. Soo Oppa sungguh beruntung bisa menjadi priamu.” Seohyun… aku bersumpah tadi aku melihat senyum seringainya saat dia menyelesaikan ucapannya tadi.

“Ya.. Choi Sooyoung adalah pria yang beruntung.” Mata kijang Yoonan menyiratkan kesedihan yang ia tutupi dengan senyuman dan kalimatnya tadi.

Yoong kumohon.. jangan termakan ucapan wanita licik ini.

“Yoong.. ini tidak..”

Beep.. Beep..

“Oppa.. sepertinya kita harus pergi sekarang. Appa dan ayahmu sudah menunggu kita di lokasi proyek.” Seohyun setengah berbisik, menghentikan momenku untuk menjelaskan semuanya pada Yoonan. Kekasihku itu terlihat sedikit bimbang setelah mendengar apa yang SeoBitch bisikan padanya.

“Yoong.. aku..” Ada apa dengan orang-orang hari ini? Mengapa mereka begitu senang memotong ucapanku ???

“Sica.. bisakah kita berbicara nanti? Aku dan Seohyun harus pergi sekarang, maafkan aku.” Dengan itu Yoonan berjalan meninggalkan aku. Tahu hal apa yang paling mengejutkan? Yoonan berjalan menggenggam tangan kanan wanita licik itu sama seperti caranya dulu menggenggamku.

Untuk beberapa menit aku terdiam.

Tidak.

Ini tidak mungkin terjadi.

Apa yang dikatakan Sooyoung kemarin tak mungkin terjadi.

Yoonan tak mungkin mengkhianatiku.

Tidak.

.

.

.

.

.

.

TBC

Iklan

68 pemikiran pada “DISTANT

  1. Akhirnya bisa baca ff buatan author yg sekian lama menghilang entah kemana…….?😄😄
    Kirain cerita ini menceritakan tentang YULSIC,YULTI eh setelah dibaca ternyata YOONSIC jujur caople ini kurang kemistrinya dan juga kurang g’reget.😥😧

  2. hallo…

    aq kira pas baca di awal yoontif..kkk

    sicca jgn nyesel yah hehee
    tp yoong gk bakal pindah hati kok percaya deh
    mungkin saja seo cuma ingin melihat reaksi sicca.pura2 gitu buat sicca cemburu.
    biasanya sih klo orang nya gk ada baru terasa besarnya cinta dia kepadanya.moga aja sicca ngrasain betapa besarnya cinta yoong ke dia dan dia gk bkl terima soo ya meski dalam keadaan emosi ato sedih setelah liat yoong sma seo…
    anggap saja itu untuk saling menguatkan cinta masing2 kn hubungan gk selalu baik2.

  3. Apa ini??
    Tenang aja sica yoong nggak akan berpindah kelain hati kok..
    Mungkin dia sedikit kecewa karna tau km udh jadian sma soo…

    Taeny mah nggak usah diraguin lagi
    Haha 😂😂

  4. Salah sendiri sih siapa suruh ninggalin yoonan, dan mau maunya di deketin sama soo jadi nggak usah marah jga kali kalo yoonan dekat sama orang lain

  5. Long time no see Risma setelah sekian lama hehehee😁😁😁
    Tuhh kan sica jadi sakit sendiri kan liat yoong sama wanita lain tapi pasti yoong bakal setia ko sama kamu sica tenang aja
    Gue kirain awalnya yoontiff ehh ternyata yoonsic

  6. Pasti lah kejenuhan Itu pasti Melanda.. Aplgi hub’n nyampe 5thn gto.. Eike jg ngalamin cyin.. Nah lho ko jd ribet bgno y.. Seobaby knp jg evil d mare yak.. Ati2 Jessie sama Soo.. Liat motif d balik kebaekan ny Soo tu ad Ap.. Taeny keluarga yg menjadi panutan

  7. Hello i’m new reader _😄😄
    Hua jujur pertama baca kirain oneshoot huaaa jess nyesel berat pasti , tenang yoong ga akan pindah ke lain hati kok

  8. Kirain yoonfany ternyata enggak. Yah jessicapa pea ninggalin my price yoon gue diakan perfect bgt kenpa ditinggal coba? Kalo seohyun jadi jahat kyknya gak bisa deh thor gak dapet feelnya gue soalnya yg gue tau diakan polos wkwkwk

  9. omaigat…
    tuh kan sica…jd kesel sendiri deh eike baca nih epep..thats why klo dah punya yg baik plus cakep jgn di anggurin…di embat org pan sakit jd nya u.u
    tumben author bikin taeny family happy…
    biasanya jg yg tragis mengharubiru gimana gtu*plakkk
    hahahaha

      • baca dong thorrrr…
        red silky line suami nya ppany a.k.a tanner mati…
        the reason is taeng malah dah mati dr chap pertama trus ppany happy ending ama yoonan…
        di love itself taeng cinta ppany tp ppany nya malah bakal nikah sama yoonan kembaran nya sica..trus taeng stengah hati jadian ama sica..
        di epep my lady taeng suka ppany tp masih keinget mantan plus ppany tunangan nya yul…trus yul ama taeng temen baik..
        di earned it taeny saling cinta tp anak nya taeng yg nyebelin itu-yg gw lupa namanya- malah bikin taeng cium jess depan umum and secara kaga lgsg bikin public mengira klo taengsic yg bakal tunangan…
        di epep i’m not the only one ending nya taeng malah koma trus kaga sadar jg-dan gw nyalahin ppany akn itu…
        apa lg yahhh…
        above the paper kan punya nya yulsic….
        pokoknya di wp ini author sering bgd nyiksa taeny*plakkk peace thor
        hahahaha

  10. Omaigaaasssshhhhh ff baru dan ini yoonsic yuhuuuuuuuu god tolong musnahkan manusia semacam seohyun dan sooyoung yang demennya ngerusak hubungan orang, biarin yoong ama sica hidup damai dan bahagia berdua selamanya wkwkwklebayyy semoga toons bisa sesabar,sekuat dan se manis hubungan taeny ya, pokoknya jangan pisah plissss, bacot ya gue wkwkwk oiya seperti biasa cerita lo selalu bagus dan menarik, dan tetimakasih karma masih nyempetin ditengah apapun yang lagi lo kerjain thor, be creative and keep healthy juga ya, selamat dan semangat berimajinasi~

  11. Omaigaaasssshhhhh ff baru dan ini yoonsic yuhuuuuuuuu god tolong musnahkan manusia semacam seohyun dan sooyoung yang demennya ngerusak hubungan orang, biarin yoong ama sica hidup damai dan bahagia berdua selamanya wkwkwklebayyy semoga yoonsic bisa sesabar,sekuat dan se manis hubungan taeny ya, pokoknya jangan pisah plissss, bacot ya gue wkwkwk oiya seperti biasa cerita lo selalu bagus dan menarik, dan tetimakasih karma masih nyempetin nulis ditengah kesibukan apapun yang lagi lo kerjain thor, be creative and keep healthy juga ya, selamat dan semangat berimajinasi~

  12. Yuhu ff baru. TBC nih ??? Hehe agak sedih main pairing bukan yoonfany sempet kekecoh juga sih kirain ini ff yoonfany. Hmm keknya seo sm soo sekongkol? #sotausaya tapi bisa aja yoong deket sm seo karena permintaan orang tuanya. Haduh belum bisa nebak sih akhirnya gimana hehehe. Ditunggu deh next chapter nya 😀

  13. Ketemu juga… Yoonsic…
    Seru banget hehehe ada lanjtannya apa blm lanjut tor ?
    Come on sica kaya anak abg aja kalo jenuh minta udahan hmhmhm
    Pdahal di suatu hubungan kalo lg jenuh enak nya ngelakuin hal yg bikin kita ga jenuh lg, tp tiap org beda beda sih ya hehe

  14. ini toh pengantar shoot 1..
    hadeh.. br baca yg ini.. pntesan gw rada bingung apa mlsh yoonsic..
    hahhkk kemauan sica trnyata..
    bwt masalah jd kacau..
    saran fany diikutin jd gtu deh..
    tae sm fany kn beda wktu mrka break g ada org ketiga dr keduabelah pihak.. nah ini yoonsic ada
    tu yg buat ribet.. tp tu yg bwt ff ini menarik.. hehe
    gw jd random gtu baca ff loe thor.. haha.. bnyk ktggalan.. gw tgguin deh shoot 2.. tp gw ttp dukung yoonsic,, smngat sica.. haha menagkan hati yoong kembali dr si seobitch .. haha

  15. awal baca dikira g ceritain taeny, eh ada nma yoonan trus ngira yoonfany tpi jengjeng ternyata yoonsic haha
    aku salfok ke fto ank kecil’a bkin mata berbinar” kalo liat bocah kece tu, krna bocah kece lbh menarik dan menggemaskan haha
    seo jd karakter yg licik bkn maknae yg polos g
    jd ntr yoonan bakal pilih jessie apa seo?
    kalo pilih seo, ntr jessie bakal resmi ma soo?

  16. hyuni memuji jessi sekaligus mendorong nya ke neraka perpisahan yg sebenarnya.
    kejenuhan dan perpisahan sementar membuat hubungan yoonsic semakin sulit dan di ambang perpisahan yg sesungguhnya.

  17. berhubung tadi author update ff distant 2 makanya aku langsung cari distant part sebelumnya.
    Wahh awal-awal aja udah bkin gregetan , apalagi yoonsic masing2 punya orang yg menyukai mereka . Ehh sepertinya seohyun manas”in yoong aja nih ,jadi sebel liatnya . Pasti nanti yoong jadi gak percaya deh sama jessi 😦 lama juga ya yoonsic break-nya ,semoga nanti balikan lagi ya kalian 🙂 aku izin baca part yg selanjutnya yaa ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s