Expect The Unexpected I

tumblr_o6dxslnL0e1sky81uo1_1280

“Nona.. Tuan mengharapkan kehadiran Anda sekarang.”

“Baiklah.. tolong bilang pada Appa aku akan segera kesana. Terimakasih Paman Cha.” Pria bernama Cha Seung Hoo itu sedikit menunduk sebelum pamit.

“Heumh.. mengapa perasaanku tidak enak?” gadis yang kini telah tumbuh menjadi seorang wanita itu tertawa kecil sebelum menyimpan penanya. Ia menutup beberapa map yang tadi sedang diperiksanya.

“Lebih baik aku mencari tahu jawabannya sekarang.” wanita itu bangkit dari kursi kenyamanannya, berjalan menuju sang ayah yang ia yakini berada di ruang kerjanya.

.

.

“Masuklah” Hwang Jung Min masih menggenggam sebuah surat yang dibacanya sejak tadi. Ia menyimpan surat itu, bangkit dan berjalan menghampiri sang putri yang baru tiba di ruangannya.

“Appa.. ada yang ingin kau bicarakan?” Jung Min mengiyakan pertanyaan putrinya itu. Ia berdiri mengambil sebuah kotak berukuran sedang, memberikan kotak itu untuk putrinya.

Keheningan malam menemani keduanya. Jung Min mengamati sang putri yang serius melihat dan memeriksa isi kotak yang tadi diberikan padanya. Ada sedikit kerutan di alis sang putri yang membuat Jung Min sedikit khawatir sebenarnya.

“Mau bagaimanapun aku tidak bisa menolaknya kan?” Jung Min memberikan senyum menyesalnya pada putrinya yang tersenyum kecil meyakinkannya.

“Kau mau melakukan ini?” Jung Min tahu putrinya itu takkan tega menolak permintaan Kakek dan Neneknya yang sudah beberapa tahun ini berpulang ke pangkuan Tuhan.

“Well.. kenapa tidak?” Senyuman khas yang membentuk bulan sabit itu tergambar di wajah sang putri meskipun Jung Min tahu hati putrinya itu belum sepenuhnya setuju dengan apa yang tertulis di surat yang diwasiatkan Ayah dan Ibunya.

==== Expect The Unexpected ====

 “Aku sudah menyeleksi PA barumu. Dia akan mulai bekerja besok.” Pria yang dipanggil tadi masih terdiam memandang lalu lalang Seoul dari atas vilanya di Hannam-dong.

“Secepat itu? Wow.. kau tidak main-main Paman!”

“Kau tahu.. pernikahan kakakmu semakin dekat, maka dari itu kau harus segera mencari pengganti kakak iparmu.”

“Calon paman.. dia masih belum resmi menjadi kakak iparku.”

“Yoong..”

“Paman..”

“Anak muda.. aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Apapun yang akan kau lakukan, lebih baik kau hentikan.”

“Kau yang memancingku. Lagipula kenapa aku harus mencari PA baru jika CALON kaka iparku adalah PA yang sempurna bagiku?”

“Yoong…”

“Paman..”

“Aigoo.. sebenarnya sudah sejauh apa hubungan kalian?” Pertanyaan itu belum Yoong jawab meskipun ia tahu pamannya itu pasti sedang menunggu jawabannya.

“Tunggulah.. aku akan membawa favoritmu.” Yoong terdiam memberikan senyum terimakasihnya yang penuh dengan keterpaksaan.

Pikirannya kembali melayang pada wanita yang sudah beberapa hari ini tak bertemu dengannya. Tangan itu ia kepalkan. Ia mendengus, membuang nafasnya kasar mencoba menghapus rasa apapun yang membuat amarahnya terbakar saat ini.

“Minumlah.. hati-hati masih panas.” Sungjeon, orang kepercayaan Lim Jongwoon, pria yang lebih muda beberapa tahun dari ayahnya memberikan secangkir teh Chamomile yang mulai Yoong minum. Ia menikmati kehangatan dan aroma khas yang membuat mood-nya lebih baik.

“Belajarlah untuk melepaskannya.”

“Aku tahu itu tidak mudah tapi calon kakak iparmu takkan mungkin melepaskan kakakmu.”

“Kenapa paman? bukankah semuanya itu mungkin? Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.”

“Jika waktunya sudah tepat, kau akan mengetahuinya. Aku harap kau bisa mengendalikan emosi dan perasaanmu. Jangan biarkan logikamu terkalahkan oleh emosimu. Itu takkan pernah berakhir dengan baik. Percayalah padaku.” Meskipun Sungjeon tersenyum tapi pria itu tak bisa menyembunyikan kesedihan. Beruntung Yoong tak melihat wajahnya saat ini.

“Paman… apa dia mencintai kakaku? Apa dia hanya mempermainkanku selama ini?” Suara Yoong masih terdengar tebal dan dalam, gagah seperti biasanya meskipun emosinya perlahan mencurangi pikirannya.

“Aku tidak tahu, hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya. Menurutmu?” teh itu kembali Sungjeon hirup, begitu menenangkan dan nikmat.

“Dia mencintaiku. Noona tidak mungkin mempermainkanku.” ada getaran yang berbeda kali ini dari suara Yoong. Sungjeon menarik nafasnya dalam, mencoba memahami situasi ini sekali lagi.

“Percayalah pada apapun yang hatimu katakan. Tapi kau harus bisa membaca situasi saat ini.” wajah itu kembali Sungjeon amati.

“Kenapa harus Hyung Paman, dari sekian banyak pria di bumi ini mengapa harus kakakku.” Yoong memejamkan matanya, mencoba mengatur kekesalan dan frustasi yang menghantuinya sejak beberapa minggu ini.

“Well.. kita tidak akan pernah tahu skenario apa yang Tuhan siapkan.” tawa itu hadir, meskipun rasa kesal itu masih terasa.

Kesunyian itu kembali menyelimuti kedua orang yang terlihat seperti ayah dan anak menikmati waktu berkualitas ditengah kesibukan mereka.

“Apa dia cantik?” Senyum penuh keterkejutan muncul di wajah Sungjeon. Ia menaikan salah satu alis tebalnya, balik bertanya pada ‘tuan muda’-nya yang menatapnya polos.

“Kenapa? bukankah PA baruku seorang gadis?” ada aura jahat dibalik kepolosan dan ketampanan yang memeluk wajah Yoong membuat Sungjeon tertawa puas melihatnya.

“PA barumu seorang pria. Dia 2 tahun dibawahku. Apa kau ingin menjadikannya rebound?” wajah terkejut itu terlihat palsu dan Sungjeon tahu itu.

“Apa kau takut aku akan jatuh cinta lagi pada PA-ku maka kau memilihkanku seorang pria? kau ingin aku berubah haluan Paman Go?” Sungjeon memutarkan pandangan matanya, tak termakan bualan dramatis pria yang digilai banyak gadis seantero Korea Selatan itu.

“Appa akan sangat sedih mengetahui anak laki-laki tertampannya menjadi penyuka sesuka jenis.” Meskipun usianya kini sudah menginjak 27 tahun, Lim Yoona, nama asli Yoong, masih terlihat begitu cute. Semakin tahun, wajah itu bukan menua. Alam seperti sedang bermain dengannya karena setiap tahun Yoong semakin terlihat segar dan awet muda seperti seorang remaja.

“Oppa!!!” Sungjeon tersenyum melihat Soojung berlari memeluk Yoong yang terlihat senang menerima pelukan itu.

“Hei Nona.. ada apa kemari?” gadis berwajah mirip dengannya itu mengkerucutkan bibirnya, terlihat lucu dan imut jika sedang marah seperti ini.

“Apa aku tidak boleh mengunjungi kakakku? Tak bolehkah aku merindukannya?” Puncak kepala itu Yoong elus. Ia memberikan senyum terlembut dan tampannya yang bisa melelehkan siapapun yang tak melihatnya.

“Bodoh.. mengapa kau menyerangku seperti ini?” Yoong tertawa melihat adiknya itu menikmati perlakuan khusus darinya meskipun Soojung tak mau menunjukannya.

“Bagaimana Kai? cederanya sudah sembuh?”

“Yoong.. sepertinya minumanmu sudah habis, Soojung-ah.. ingin paman buatkan coklat panas?” Sungjeon tahu kedua adik kakak itu butuh privasi. Sedekat apapun ia dengan keluarga Im, mereka bukanlah satu darah. Maka dari itu, ia selalu berusaha memberikan ruang bagi mereka meskipun mereka sudah sangat dekat.

“Tidak usah Paman terimakasih.” Meskipun terlihat manja dan angkuh, Soojung sebenarnya adalah gadis yang manis. Ia terlihat tak peduli dan masa bodoh dengan sekelilingnya tapi sekali lagi, itu hanyalah sebuah topeng yang sudah diajarkan oleh leluhurnya.

Well.. garis keturunan wanita di keluarga Lim memang terkenal anggun, berkelas, cantik, elegan dan sulit diraih. Tentu di publik luas mereka mengembangkan reputasi yang baik tapi dibalik itu semua jarak itu tetap ada.

Soojung dan kakak perempuannya yang lain, mereka dididik untuk menjadi seorang wanita yang sepantasnya. Soojung masih belajar menjadi wanita yang mulia, terlihat seperti seorang bangsawan meskipun ini adalah era modern dimana kebebasan individu telah menjadi ideologi baru, seakan manusia lupa bahwa kebebasan hadir bukan untuk membuat kita menjadi liar, melainkan membawa kebebasan yang membawa kenyamanan bagi diri kita sendiri maupun lingkungan sekitar.

“Cederanya sudah membaik. Dia hanya harus beristirahat beberapa minggu lagi.”

“Syukurlah. Aku sudah lama tak duel dengannya. Kekasihmu itu belum bisa mengalahkanku di duel kami beberapa bulan lalu hahaha.” Tawa itu diikuti oleh Soojung. Ia senang melihat kakaknya baik-baik saja, tak seperti yang ia bayangkan.

“Oppa.. Unnie kemarin memintaku untuk mengajakmu pergi mengantarnya ke butik Aunty Song.”

“Unnie? Seohyunie?”

“Bukan.. Jessica Unnie yang memintaku.” Soojung sebenarnya tak ingin menyampaikan pesan ini pada kakak keduanya itu. Ia tahu sejarah calon kakak iparnya itu dengan kakak keduanya.

“Aku? kenapa dia tak meminta calon suaminya saja.” kakaknya itu tertawa tapi Soojung tidak dengan hatinya. Ada kepahitan yang berteriak dari tawa itu. Hanya orang bodoh dan mati rasa yang tak bisa mengetahui itu.

“Yul Oppa yang menyuruhnya.” suara Soojung terdengar lemah tapi Yoong masih bisa mendengarnya.

“Kau serius?” Sungguh.. Yoong tak habis pikir dengan kakak tertuanya itu.

Apa kakaknya itu begitu membencinya hingga ia harus melakukan ini?

“Baiklah.. sampaikan pada Noona bahwa aku akan menemaninya.” Amarah dan kekesalan itu berhasil Yoong tutupi dengan senyuman nakal nan tampannya yang membuat adiknya itu malah tertawa kecil melihatnya.

“Kenapa?”

“Aku tahu sekarang mengapa banyak wanita yang menjadi korbanmu.” Soojung tertawa lagi sebelum berjalan meninggalkan kakaknya yang terdiam sebelum akhirnya mengejar adiknya yang terlihat lebih dewasa darinya.

.

.

“Sayang, kau tidak menyukainya?” Jessica berhenti memainkan caesar saladnya. Ia memfokuskan pandangannya pada pria di hadapannya yang masih terlihat begitu tampan meskipun mereka hari ini sibuk mengurusi persiapan pernikahan yang akan datang beberapa bulan lagi.

“Tidak.. aku menyukainya.” Senyum yang lembut dan manis itu untuk kesekian kalinya Yuri berikan padanya membuat Jessica tak tahu harus berkata apa.

Untuk beberapa saat mereka hanya menyantap makan malam itu dalam diam meskipun alunan biola yang manis dan romantis menemani mereka sejak tadi.

“Yuri… maafkan aku.” Keduanya kini sedang menikmati makanan penutup ditemani anggur merah yang begitu nikmat namun memabukkan bagi keduanya.

“Yuri..” pria bermarga Lim itu masih serius menikmati creme brulee-nya, tak terganggu dengan ucapan calon istrinya itu.

“Jangan ucapkan kata itu jika kau hanya akan mengulanginya.” Nada Yuri yang tegas namun tenang membuat Jessica seketika terdiam.

“…”

“Jessica ini semua demi kebaikan kita. Jika aku bisa menolaknya, maka hal itu yang akan pertama kali aku lakukan.”

“Yuri…”

“Aku menyayangi adikku lebih dari aku menyayangi diriku sendiri sehingga aku mau melakukan ini. Aku tahu kau juga mencintainya tapi kita tidak punya pilihan lain. Kau tidak boleh bersamanya begitupun dengan wanita lainnya.”

“Tapi Yuri..”

“Aku memohon kerjasamamu. Jika kau masih ingin Yoong bersama kita, maka belajarlah mencintaiku dan melupakannya.” Air mata itu akhirnya terjatuh. Jessica mencoba menghentikan tangis kecilnya itu sementara Yuri kini beralih duduk didekatnya, membawa wanita yang masih mencintainya adiknya itu dalam pelukannya.

==== Expect The Unexpected ====

“Ahh… favoritku!” Yoong segera menghampiri teh Earl Grey kesukaannya yang sudah terhidang di meja kerjanya lengkap dengan kudapan ringan yang menaikkan semangat kerjanya.

“Apa mungkin PA baru itu yang menyiapkannya?” Ia kini memakan biskuit almond yang terasa begitu pas di lidahnya.

“Bagus… tapi mengapa cara penyajiannya seperti seorang wanita. Apa mungkin dia…” Imajinasi Yoong mulai bermain. Ia membayangkan seorang pria tua yang mengedipkan mata padanya, mencoba menggodanya, menatapnya seperti ingin menelanjanginya, meraba bagian tubuhnya satu persatu, membisikan sesuatu di telinganya, mengecup telinganya pelan, tangan itu masih menjamah tubuhnya yang mendadak beku tak bisa bergerak.

“Tuan Lim..”

“Tuan Lim..”

“Tuan Lim..” Panggilan ketiga itu seakan membangunkannya dari dunia fantasi yang mengerikan itu.

“Oh ya?” Yoong menatap wanita yang berdiri di depan meja kerjanya. Ia berjalan mendekati wanita yang masih berdiri di tempatnya, terlihat begitu percaya diri dan profesional dengan busananya yang cantik dan elegan.

“Kau.. siapa?” Mereka berdua kini sudah berhadapan. Yoong mengamati wanita yang memiliki tinggi sedagunya, cukup tinggi bagi sebagian wanita.

Rambut hitam kecoklatan itu tergerai jatuh lurus dengan sedikit gelombang di akhirnya, dihiasi poni sealis yang membuatnya terlihat manis dan menyegarkan. Kacamata yang senada dengan warna rambutnya menambah kesan cerdas yang ditampilkannya.

Blouse merah muda lembut  dan rok pensil hitam itu memeluk tubuhnya dengan sempurna, tidak terlihat terlalu ketat ataupun terlalu besar. Sepatu hak tinggi hitamnya yang mengkilat menghiasi kakinya. Riasan mukanya terlihat cantik natural, tak berlebihan ataupun pucat. Bibir merah muda tipis itu terlihat sedikit berisi begitu indah untuk tak dinikmati. Yang paling menarik adalah mata coklat madunya yang entah kenapa begitu adiktif untuk tak dilihat beberapa detik saja.

“Kau.. siapa?” kali ini ucapan itu terasa lebih halus, lebih seperti bisikan yang membuat wanita di hadapannya itu mengeluarkan sesuatu yang harusnya Yoong hindari sejak awal.

Senyuman yang menutup kedua mata gadis itu terlihat begitu memikat dan menggoda baginya. Begitu manis dan menarik untuk matanya.

“Aku adalah PA barumu. Senang bisa bertemu denganmu Tuan Lim” gadis itu memberikan Yoong senyum profesionalnya, sedikit membungkuk, masih dengan senyuman indah di wajahnya.

“Oh kalian sudah berkenalan?” suara Sungjeon memecahkan kebisuan Yoong. Pria itu membawa beberapa file dan menyimpannya di meja kerja Yoong.

“Tuan Go, selamat pagi.” gadis itu sedikit membungkuk lagi, memberikan hormatnya pada Sungjeon yang tersenyum puas penuh arti.

“Selamat pagi PA baru, selamat datang di LK Tech. Yoong mengapa kau diam saja?”

“Ah.. iya. Selamat bergabung. Semoga kita bisa bekerja dengan baik.” Yoong memberikan tangannya pada Personal Assistant barunya yang segera menyambutnya. Tangan itu begitu halus dan lembut seperti bayi, terasa sulit untuk Yoong lepaskan.

“Yoong aku sudah menyimpan file-file yang sudah disetujui oleh ayahmu. Yuri juga sudah menandatanganinya. Kurasa kau bisa memeriksanya nanti karena ayahmu merevisi beberapa point dari proposalmu.” Yoong coba mengalihkan perhatiannya pada tangan kanan ayahnya itu.

“Terimakasih paman.” Sungjeon berjalan mendekati Yoong, ia mendekatkan bibirnya dengan telinga Yoong.

“Kembali kasih Yoong. Oh ya… jangan menunjukan bahwa kau terpesona semudah itu padanya.” mendengar bisikan itu, seketika wajah Yoong sedikit memanas, memerah seperti kepiting rebus.

        ==== Expect The Unexpected ===

Lim Yoona.

Dia pria biasa, sama seperti kebanyakan anak pengusaha atau keluarga kaya. Tampilannya baik. Visualnya mengesankan. Tapi secara sikap aku masih belum bisa menilainya.

Ramah.. check

Sopan pada orang yang lebih tua.. check

Perhatian pada adik perempuannya.. check.

Moody.. check.

Heumh.. sebenarnya ada yang aneh setelah kuamati selama beberapa minggu aku ada disini.

Yoong, dia terlihat tidak nyaman setiap kali Yuri berkunjung ke ruangannya. Seperti ada tensi diantara mereka. Apa mereka sedang bertengkar? Tapi.. banyak yang berkata bahwa mereka adalah adik kakak yang memiliki hubungan baik, tak seperti kebanyakan pewaris yang terkadang saling menjatuhkan untuk memperoleh mahkota tertinggi kerajaan di bisnis mereka.

Ah ya! aku ingat mood Yoong berubah drastis saat seorang wanita bernama Jessica Jung berkunjung ke ruangannya. Oh ya.. Jessica adalah PA-nya sebelum akhirnya mengundurkan diri karena alasan pribadi.

Tunggu, aku baru ingat bahwa Jessica adalah calon kakak ipar Yoong. Jadi alasan pribadi itu.. apa karena Jessica akan segera menikah dengan Yuri hingga ia mengundurkan diri? Tapi bukankah ia bisa saja masih bekerja bersama Yoong meskipun sudah menikah? Heumh.. sepertinya ada sesuatu diantara mereka bertiga.  Aku bisa meminta bantuan Paman Cha untuk menyelidiki Jessica Jung.

“Stephii!” Nicole dan Chloe baru saja tiba di meja yang sudah dipesan oleh sepupunya yang terlihat serius memikirkan sesuatu.

“Nic.. kau tahu apa yang sedang dipikirkannya?” wanita yang ditanya itu menggelengkan kepalanya, mengendikan bahunya pertanda ia tak tahu.

“Steph.. Erick ada disini!” Nicole kini yang berbicara, sedikit berteriak membuat apapun yang sepupunya pikirkan terhenti.

“Eri..” Tiffany mengalihkan pandangannya ke samping kanan, berharap nama yang disebut tadi ada di sampingnya.

“Akhirnya kau kembali! apa yang sedang kau pikirkan Steph? Erick?” Tiffany menatap kedua sepupunya itu bingung sebelum tersenyum menghisap jus strawberry-nya.

“Sebegitu sulitnya kah kau melupakan pria itu?” Chloe kembali berbicara, mulai menikmati salad lobsternya yang segar dan lezat.

“Bukannya aku tidak mencoba mengerti alasanmu, tapi sampai hari ini aku masih tak mengerti mengapa kau memutuskan berpisah dengannya jika pada akhirnya kau masih mencintainya seperti ini.” Chloe terbatuk mendengar ucapan Nicole. Sepupunya itu memang terkenal terlalu jujur dan berani mengemukakan pikirannya meski kata-katanya itu kadang menyakitkan. Tapi itulah yang Chloe dan Tiffany suka dari sepupunya itu.

“Nic..”

“Bicaralah Steph.. aku, tidak, aku dan chloe ingin mengerti semuanya. Apapun itu, kami akan selalu mendukungmu.” Nicole dan Chloe menggenggam tangan Tiffany, mencoba memberikan kekuatan pada sepupu mereka.

“Sebenarnya kami…”

“Apa kabar Tiffany..” seorang wanita berusia diatas 40 tahun menyapa gadis yang segera berdiri memeluk wanita itu seperti ibunya.

“Mom.. senang bisa bertemu denganmu lagi.” Senyum khas itu Tiffany berikan pada wanita yang membalas senyumannya sama. Keduanya duduk di kursi masing-masing, menikmati pemandangan sibuk New York di pagi hari.

“Sayang.. bagaimana kabar keluargamu di Korea?” Miran masih menikmati Turkey Sandwich-nya begitu pula Tiffany.

“Mereka baik-baik saja meskipun ayah sekarang sendiri bersama Paman Cho sejak Nenek meninggal.” ada sedikit kesedihan jika Tiffany mengingat lagi orang-orang tersayangnya yang telah lebih dulu berpulang.

“Syukurlah. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Erick?” Senyum malu tapi bahagia itu tampak jelas tergambar dari wajah Tiffany. Ia menjadi lebih semangat bila mengingat kekasihnya yang menjadi pria paling sempurna di hidupnya, tentu selain ayah dan mendiang kakeknya.

“Kami baik. Ya meskipun kadang pertengkaran itu tak terhindarkan. Tapi sampai detik ini, aku masih mencintainya dan aku yakin Erick juga begitu.” Miran terlihat senang mendengarnya meskipun ia tak bisa menutupi ketidaknyamanannya.

“Bagaimana denganmu Mom? Apa semua baik-baik saja?” 

“Aku dan yang lainnya baik. Kecuali Erick.” garpu dan pisau itu Miran simpan. Ia mulai menatap gadis di hadapannya yang terlihat bingung dengan ucapannya tadi.

“Erick?”

“Tiffany maafkan aku jika ini akan sulit kau lakukan tapi bisakah kau berhenti berhubungan dengan Erick?” Tiffany mencari nada atau gesture bahwa ini adalah bualan semata dari wajah Miran tapi wanita yang telah melahirkan kekasihnya itu tak menunjukan itu.

“Kau hanya bercanda kan?”

“Oh Tuhan! jadi kau..” Tiffany menganggukan kepalanya membenarkan apa yang dipikirkan Chloe.

“Fany-ah..” seorang pria masih mencumbu Tiffany yang mencoba membalasnya dengan tempo yang sama. Kedua begitu asik melakukan hal itu sehingga mereka tak sadar seseorang telah melihat itu sejak beberapa detik yang lalu.

Erick segera berlari membawa pria lain yang mencumbu kekasihnya. Ia mendorong Gray dan memberikan tinjunya pada pria yang mencoba melawan serangan Erick.

“Brengsek!!! apa yang kau lakukan!!!” Wajah tampan Gray kini mulai memar dan darah perlahan mengalir dari hidungnya.

“Erick hentikan!” Tiffany mencoba menghentikan serangan yang tak henti kekasihnya itu berikan pada Gray.

“Kau bisa membunuhnya!” Pria malang itu mulai tak sadarkan diri. Erick menghajar Gray seperti kesetanan. Sedikit lagi saja, nyawa pria malang itu bisa melayang.

“Aku akan membu..” ucapan Erick terhenti saat vas bunga itu kini menghampiri kepalanya. Kepalanya terasa melayang, tubuhnya terasa ringan dan ia bisa merasakan darah perlahan keluar dari tempat vas itu menyentuh kepalanya.

“Lalu apa yang terjadi?” Terkejut dan khawatir, mungkin itu yang bisa menggambarkan ekspresi dua sepupu Tiffany.

Sayang, kau menyukainya?” Tiffany terdiam melihat sepasang cincin emas putih dengan hiasan berlian di tengahnya, terlihat begitu cantik, simple dan berkesan, sesuai seperti cincin pernikahan yang diinginkannya.

“Menikahlah denganku.” kalimat itu menyusul keluar dari bibir Erick. Tiffany tatap mata hitam onix itu, mencoba menyelami pikiran pria yang masih begitu mencintainya meskipun ia tahu Tiffany telah bermain api dengan pria lain.

“Erick.. maafkan aku.” Cukup lama Tiffany diam sebelum akhirnya mengucapkan itu.

“Tidak apa-apa. Mungkin aku memang terlalu cepat untuk melamarmu dan kau memang belum sia..” Tiffany tutup kotak cincin itu dan mendorongnya pada pria yang menatapnya sedih penuh tanda tanya di pikirannya.

“Aku tidak bisa Erick. Sampai kapanpun aku takkan bisa menerima lamaranmu.” Suara itu terdengar begitu menyakitkan bagi keduanya. Tiffany mencoba menahan tangisnya meskipun suaranya mulai goyah.

“Why?”

“Hatiku.. tidak lagi bersamamu.”

“Apa ini karena Gray?” Tiffany menggelengkan kepalanya lemah. Tangisnya kini pecah. Ia mencoba meredam tangisnya agar orang tak melihatnya heran.

“Lalu kenapa Fany-ah? ada apa? mengapa akhir-akhir ini kau berubah? Apa yang terjadi?” sungguh Erick sudah berusaha untuk menahan rasa frustasinya. Rasanya ia ingin membunuh seseorang saat ini tapi tidak dengan wanita yang sudah 4 tahun ini menjalin kasih dengannya.

“Gray hanyalah salah satu pria untuk mengetes perasaanku padamu. Aku ingin tahu apakah aku merasa bersalah saat aku berselingkuh darimu. Dan hasilnya..” Tak ingin mendengar hal itu, Erick segera memotong ucapan Tiffany.

“Dia bukan satu-satunya pria yang mencumbumu seperti kemarin?” Hati Erick mencelos saat ia melihat anggukan kekasihnya itu.

“Aku tak ingin menyakitimu lebih jauh. Maafkan aku Erick.” Tiffany mencoba menatap lagi pria yang menundukan kepalanya, memejamkan matanya, mencoba menahan emosinya.

“Tuhan… aku tidak tahu ini seburuk itu. Maafkan aku Steph” Nicole berpindah duduk ke samping Tiffany yang merasakan lagi rasa sakit yang sudah cukup lama coba ia lupakan. Sudah 2 tahun berlalu sejak ia dan Erick berpisah. Tiffany memutuskan untuk kembali ke Seoul, memulai lembaran baru, mencoba meninggalkan semua kenangannya bersama Erick di Amerika.

“It’s okay Nic. Aku harusnya menjelaskan pada kalian dari awal. Apalagi kau, aku mengerti jika selama ini kau cenderung membela Erick karena kau adalah sahabatnya. Orang yang menjodohkan kami dulu.” melihat wajah merasa bersalah sepupunya itu entah kenapa membuat Tiffany ingin tertawa. Tawa itu disusul oleh Chloe yang mulai mengerti mengapa Tiffany menertawai Nicole.

“Hei mengapa kalian tertawa?” Tiffany memberikan smartphonenya pada Nicole, mencoba memperlihatkan wajah sepupunya itu yang sedikit bingung tapi akhirnya ikut tertawa bersamanya.

“Kalian tahu.. kita cukup gila tertawa seperti ini setelah mendengar cerita Stephi yang seperti drama di televisi. Apa kau yakin tak ingin menulis dan membuat sebuah film atau mini drama dari ceritamu itu Steph?” Chloe mencoba menghentikan tawanya mendengar celotehan Nicole.

“Ide bagus Nic!” kedua sepupu itu bersulang sebelum meminum anggur mereka.

“Oh kalian!” Tiffany memutarkan pandangannya seolah lelah dengan tingkah kedua sepupunya itu. Mereka bertiga memang dekat sejak kecil. Tapi hubungan ketiganya semakin dekat setelah Tiffany memutuskan melanjutkan sekolah menengah atasnya di Cali bersama kedua sepupunya itu.

“Tapi Nic… Stephi masih belum menemukan ‘Happy Ending’-nya. Jadi kita masih belum bisa mendapatkan film yang ditunggu-tunggu sepanjang masa.” Nicole menepuk nepuk tangannya tertawa mendengar ucapan Chloe.

“Oh diamlah kalian. ‘Happy Ending’ itu sedang mendekatiku.” Senyuman misterius itu membuat Nicole dan Chloe berhenti tertawa.

“Siapa dia?” Nicole kini mulai mengeluarkan aura investigatornya. Tiffany tertawa melihat tingkah sepupunya itu. Ia mengambil smartphonenya, mencari sesuatu yang akan memuaskan rasa penasaran sepupunya itu.

“Kalian tahu pria ini?” Nicole terdiam sementara Chloe tersenyum terkejut melihat foto itu.

“OMG Steph.. he’s nice catch!” Chloe terlihat bersemangat melihat-lihat lagi foto pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu.

“Kau mengenalnya Chloe?” Nicole bertanya pada Chloe yang masih berada di dunia fangirling-nya.

“Tentu! dia beberapa kali ikut dalam acara amal perusahaannya yang bekerja sama dengan perusahaanku. Kau tidak mengetahuinya Nic? dia bagai Kpop idol yang banyak dipuja oleh gadis dan wanita-wanita paruh baya Korea karena ketampanan dan karismanya.”

“Oh benarkah?” Chloe tertawa melihat wajah terkejut Tiffany, bukan Nicole yang terlihat mulai tertarik mencari tahu pria itu di smartphonenya.

“Steph, kukira kau lebih tahu karena kau kan yang menetap di Korea.”

“Eumh.. aku sibuk.”

“Wow.. kau benar Chloe! dia terlihat keren sekali disini.” Nicole memperlihatkan seorang pria yang terlihat begitu gagah menggendong seorang anak kecil yang terluka cukup parah terkena reruntuhan gempa.

“Jangan heran Steph, itu adalah foto saat dia masih kuliah. Sejak menduduki jabatannya sekarang, dia jarang terjun langsung ke kegiatan seperti di foto tadi. Kudengar dia lebih memberikan bantuan secara finansial pada lembaga sosial non profit yang dulu sempat menjadi dunianya.” Tiffany menangguk sebelum melihat kembali foto-foto pria yang terlihat begitu bahagia dengan aktivitas kemanusiaannya.

“Jadi.. bagaimana kalian bisa dekat?” Nicole mulai bertanya.

“Euhm.. dia adalah calon suamiku.” mulut Nicole dan Chloe terbuka lebar mendengarnya.

“Oh.. kalian tak perlu sehisteris itu.” Tiffany tertawa canggung melihat bara api dari kedua sepupunya yang kini milai mendekatinya, mengepungnya untuk memulai interogasi.

“Bagaimana dia bisa menjadi calon suamimu?”

“Eumh.. kami dijodohkan.” Kedua sepupu itu tampak semakin terkejut mendengar jawaban Tiffany.

“Nic.. sekarang kita hidup di tahun berapa?”

“2016 seingatku. Tunggu, biar aku cek kalenderku lagi.” Nicole membuka kalender di telepon genggamnya.

“Oh kalian hahaha.” Tiffany tak bisa menahan tawanya melihat kelakuan kedua sepupunya itu. Ia meminum lagi jus strawberry segarnya, melupakan bahwa kedua sepupunya itu mulai berbisik-bisik di hadapannya.

“Sejak kapan?”

“Sejak kapan apanya?”

“Sejak kapan kalian mulai berhubungan? Apa kau sering bertemu dengannya? Bagaimana reaksinya mengetahui perjodohan ini? Apa ia menolak atau menerimamu?” Jika bukan karena status darah yang mengikat mereka, rasanya Tiffany ingin memukul kedua wanita dihadapannya ini.

“Haruskah aku menjawabnya?” Tiffany menelan ludahnya melihat bara api yang berkobar-kobar di mata kedua sepupunya. Keduanya memegang pisau makan dan garpu mereka, membuat Tiffany merasa terancam jika ia tak menjawab pertanyaan kedua sepupunya itu.

“Dia belum mengetahui perjodohan ini. Aku yang meminta pada kedua orangtuanya untuk merahasiakan hal ini darinya. Kau tahu, aku tidak suka ide bahwa jikapun nanti kami bersatu, itu karena kami dijodohkan. Maka dari itu aku bekerja menjadi PA-nya sejak 3 bulan lalu.”

“Kau menyamar menjadi PA-nya?” Chloe terlihat bersemangat dengan hal itu.

“Eumh.. bisa iya bisa tidak.”

“Maksudmu?”

“Aku tidak mengikuti banyak jejak di film yang mengubah penampilanku sepenuhnya menjadi kutu buku, tak menarik, atau seperti ‘Ugly Betty’. Aku hanya mengubah namaku. Selebihnya, aku menjadi diriku sendiri.”

“Siapa nama samaranmu?”

“Hwang Youngmi.” Nicole dan Chloe terdiam sejenak sebelum mengeluarkan tawanya yang terlihat puas sekali.

“Hwang Youngmi.. Hwang Miyoung. OMG itu jenius sekali kekekeke. Tuhan… aku tak tahu kau secerdas itu Steph hahahaha.” Nicole masih tertawa begitu bahagia hingga meneteskan air matanya sama seperti Chloe yang begitu terhibur mendengar nama itu. Tiffany yang melihat itu lama kelamaan kesal. Ia memeriksa smartphone-nya mengecek apakah Yoong menghubunginya.

Tadi siang ia meminta izin pada Yoong untuk bertemu dengan kedua sepupunya yang sedang berkunjung ke Seoul, mengerjakan proyek fashion mereka. Sebagai PA, tentunya jam kerja Tiffany lebih fleksibel. Ia tidak harus 12 jam berada di kantor di samping bosnya. Apalagi sekarang teknologi sudah canggih. Ia bisa mengerjakan tugasnya dimanapun dan kapanpun dengan siapa saja yang penting apa yang diminta Yoong bisa ia penuhi. Sejauh ini pria yang diam-diam menjadi calon suaminya itu puas dengan kinerjanya. Maka dari itu Tiffany bisa mendapatkan kebebasan seperti ini.

“Kalian sudah selesai tertawanya? jika tidak aku akan kembali ke kantor, sepertinya..”

“Okay kami berhenti hahaha. Maafkan kami” Chloe menghapus air matanya. Ia bersama Nicole memberikan wajah memohonnya yang menurut kebanyakan pria imut sedangkan bagi Tiffany menjijikan.

“Hentikan.. kalian begitu menjijikan.” Kedua gadis Amerika itu menghentikan aegyeo mereka.

“Hahaha Terimakasih Steph, kami juga mencintaimu.” Nicole berceloteh membuat Tiffany memberikan wajah muaknya.

“Jadi bagaimana kelanjutan misi penyamaranmu?”

“Sejauh ini semua berjalan lancar. Aku masih melakukan observasi padanya. Kalian tahu, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup maka dari itu aku ingin memastikan bahwa dia adalah pria yang cocok menjadi suamiku nanti.”

“Wow Steph.. itu bagus sekali. Aku setuju denganmu.” Chloe memberikan 2 ibu jarinya pada Tiffany yang berterimakasih padanya.

“Lanjutkan, aku penasaran.” Nicole kini berbicara.

“Baiklah. Menurut pengamatanku selama 3 bulan ini, dia masih layak menjadi suamiku. Apa yang Chloe ceritakan padaku tadi menambah point positive tentangnya. Sejujurnya aku belum memberikan pernyataan pada Appa ataupun kedua orangtuanya bahwa aku menerima perjodohan ini. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin mengenal Yoong lebih dulu tanpa harus terbebani dengan adanya perjodohan ini.”

“Dan keputusanmu?”

“Aku tidak bisa memastikan bahwa aku menerima perjodohan ini. Tapi sejauh ini, dia berhasil membuatku ingin mengenalnya lebih jauh. Sepertinya kemungkinan dia menjadi suamiku besar jika melihat ‘attitude’nya selama aku berada di sampingnya. Menjadi Asisten Pribadinya sungguh adalah posisi yang pas bagiku untuk mengenalnya lebih jauh. Dia sering mengajakku makan dengannya, menghadiri acara-acara perusahaan atau pribadinya. Sepertinya dia sudah menganggapku sebagai temannya, bukan hanya sekedar pekerjanya. Dan sepertinya aku nyaman dengan situasi kami saat ini.”

“Steph apa kau yakin dia tak menyukaimu?” Nicole berbicara yang diaminkan oleh Chloe.

“Aku juga sempat berpikir seperti itu. Tapi melihat sikapnya yang ramah dan baik pada semua orang, asumsi itu melemah. Jadi aku tidak mau banyak berasumsi bahwa dia menyukaiku. Jikapun memang itu terjadi, aku bersyukur karena itu yang aku harapkan. Berarti perjodohan kami semakin mudah untuk dilakukan.”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kau siap untuk jatuh cinta lagi? Mendengar ceritamu tadi dengan Erick, aku yakin kau masih mencintainya hingga hari ini.” Nicole kembali beraksi dengan pertanyaan menusuknya sementara Tiffany sedikit terdiam, memikirkan apa yang diucapkan sepupunya itu.

“Jika Erick adalah jodohku, maka kami akan bersatu sebesar apapun jarak yang memisahkan kami sekarang. Jika memang Tuhan menuliskan Yoong sebagai pasanganku, maka aku tak bisa menolaknya. Aku percaya bahwa cinta itu, Tuhan yang telah menanamkannya pada setiap makhluk ciptaannya. Saat aku mencintai Erick, Tuhan pula yang telah memberikannya padaku. Bahkan jika memang rasa itu masih ada sampai hari ini, aku ingin percaya bahwa Tuhanlah yang memberikannya. Begitu pula dengan Yoong. Aku yakin rasa itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu jika memang kami ditakdirkan untuk bersama.”

“Seperti yang diharapkan dari Stephany Hwang kita” kedua sepupu itu bertepuk tangan setelah mendengar jawaban Tiffany.

“Tidak, kau salah Nic, namanya sudah berganti menjadi Hwang Youngmi kekekeke.” Chloe dan Nicole kembali menertawakan nama samaran sepupu mereka sementara yang ditertawakan hanya menutup mata dan menepuk dahinya melihat tingkah antik kedua sepupunya itu.

💨TBC💨

Iklan

36 pemikiran pada “Expect The Unexpected I

  1. Woooww new story of yoonfany and yoonsic so intersting thor debaakkkk hehhehehe .. senang ternyata yoonfany di jodohkan … and about yoonsic sepertinya mreka sling menyukai … tpi hrs berakhir .. aq mulai ngerti knp hbgn yoonsic hrs berakhir .. krna yoonfany dri awal sdh dijodohkan .. oleh krna itu sica hrs merelakan yoong .. tpi yoong sepertinya tdk tau apa”.. huhhhh penasaran kelanjutan nya good job thor udh bwt new story again hehehhehe ^^

  2. uaaaahhh mantab kak.. aku suka gaya ceritanya kak. the best dah,,,, emh? Yoong sama2 hurt nih, hihihihi… Yulsic? uhh, nggak rela, tapi pengen juga YoonFany… ahdehhhh…. semangat terus kak. hehehe…. kalo mengikuti keinginan mah nggak ada habisnya, ahahaha

  3. Saya reader baru salam kenal saya menyukai jln crita ya dimana yoonsic yg ptah hati dan Yoona harus menerima dan yoonfany yg di jodohkan semangat trus dalam membuat crita atau pun ff yg lain😄😄

  4. Kmrn sempat d gembok y wp ny.. Kira-in udh bubar ni wp eh ternyata masih ad.. Yoonfany egen.. Erick tu Tae y?! Emak ny Erick jahara deh misahin Fany sama Erick.. Yulsic tu emng udh takdir buat d jodohin.. Hahahaha

    • susah baca ff yoonfany atau yoonsic yg bagus di wp.
      Kalau tau bertaburan bak kacang goreng meskipun ada yg sesuai selera atau ngga.
      Karena yg nulis frustasi dengan minimnya stok ff Yoonfany di dunia ff snsd yaudah.
      Ngapain bikin banyak Taeny kalau aku bisa bikin Yoonfany rasa Taeny😁
      Untuk Yulsic, mereka beruntung karena Yoona udah sama fany, kai udah sama soojung dan tae udah sama seo.

  5. Gilaaaa keren abissa
    padahal +- sebulan ku ndak bk blog mu thor (hp error:-))
    dan taux ada judul br nongol hihi
    sumpeh kerren abiiss yoonsic vs yoonfany ( couple favorit ane) ank konglomerat lg
    . saking kerenx gk tau mau ngomong apa?
    Sekiannn thor jjang

  6. Oiya for yg pk pw
    bisa ndak minta pwx slain lewat email?
    Alx hpq gk bs buka pke email
    klo email hrus k warnet dl

    lewat fb/WA/sms bisa?
    #mohonkeringananxthor
    #hehe

  7. Wow new FF dgn cast Yoonfany,,, aku suka,,,aku suka *alameimei
    Jadi disini ceritanya yoong sama jess saling suka tapi nyatanya jess sama yul dijodohin gitu? Terus yoong sama fany juga dijodohin?
    Nicole bikin ngakak sumpah,, tapi nama samaran tiff bener-bener konyol Hwang Youngmi kekeke. Oke cuss ke chapter selanjutnya

  8. Gw lypa udh prnh msuk ke wp ini apa belom. Tpi ijinin ga ksi slam.. hay thor salam kenal hahahahaha..
    Wow wow wow yoong fany
    Fany idenya bagus hahahha ayo cpet bkin yoong nanksir lo biar move on dari sica..
    dan nikah bareng2 sma yulsic….
    Yulsicnya jgn di pisahin yaaa
    soalnya gw yulsic shiper hehehe..

  9. Oh uh new story ,ehh? And it’s yoonsicfany! Ohh my favorite otps, but I love yoonsic moreee~ gue menyayangkan kalo yoonsic pisah dan jessi sama yuri, tapi gue juga seneng kalo tiff dijodohin sama yoong, aishh I’m confused. Udahlah terserah lo thor mau bikin yoong sama siapa, yang penting akhirnya doi bakal sama salah satu dari mereka. Oh oh, I’m expecting for yoonsic moment, maybe flasback when they are still together. Dan buat ide cerita as always, it’s good. Gue suka giman lo nge-falsback, uh alurnya maju mundur maju mundur cantik yes. Pokoknya suka semuanya dah. Ditunggu kelanjutannya dan selamat berimajinasi ya. Semakin kreatif!

  10. yeaii ff yoonfany & yoonsic terbaru
    coment gue kok susah msk ya thor.?
    dr kmren.. 😔 & gue br baca kmren jg 😀
    gue penasaran tuh sm crita si yoonsic di ff ini
    gue tggu next chap ny ya thor… 😀

  11. yeaii ff yoonfany & yoonsic terbaru
    coment gue kok susah msk ya thor.?
    dr kmren2.. 😔 & gue br baca kmren2 jg 😀
    gue penasaran tuh sm crita si yoonsic di ff ini
    gue tggu next chap ny ya thor… 😀

  12. Bisa cinta segitiga nih antara yoong sica dan fany uhukkk. Kirain bakalan taeny nih ff ternyata yoonfany lagi. Tak apalahh haha. Masih gapaham alasan kenapa sica akhirnya mau nikah sama yul dan kenapa fany tbtb menjauh dan berubah sikap ke erick…

  13. Wow yoonfany dan yulsic nih cast nya , kasian juga tapi yoong padahal cinta bgt sama sica, eh tapi sicanya malah mau nikah sama Yuri 😥

  14. Hmm bingung mau ngomong apa buat ngomentarin ff u ni. U selalu bikin gw speechless abisssssss
    Tp ngomong2 fany ama erick putus lantaran emaknya ga setuju apa gimana ya? Kayanya hub fany ama emaknya erick baik2 aja kenapa mereka bisa putus n gw penasaran abis ama alasan yuri kenapa jessica harus mencintainya klo yoong masih harus bersama mereka? N ga boleh sama jessica atopun cewe lainnya, maksudnya apa ya? Apa yoong juga ga boleh ama yg lain? Gw takut salah baca pas bagian yuri ngomong ama jessica

  15. hai ap kbr author?udh lm g kunjungi wp ini..
    ap aj nih ff baruny…ampe ketinggln byk q.,^^
    oh y mw tny utk The Reason is ….yg part IV kn di PW tuh,cr dpt clueny gmn? ap lalui email?…
    oh yg mw ijin bc nih utk crt ini…..
    udh ad konflik nih…bgs.,,bgs…
    bcny bth fokus nih krn bth analisa utk ikuti alir crtny👍
    salut nih am yuri hrs jlni hub am sica yg sk am yoong..
    demi kebaikn bsm n klrgny…
    oh y setujuh bgt nih yoonfany dijdohin..^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s