My Lady (Shoot 3)

 mine
Sayang.. kau masih ada di kantor?” suara berat dan dalam itu kembali menghubunginya. Tiffany beranjak dari kursinya, berjalan menuju dapur mini yang terletak di ruangannya. Ia mengambil susu strawberry dingin yang bisa membuatnya santai.

3  minggu sudah berlalu sejak kencan klasik Taeyeon dan Tiffany terjadi. Sejak itu hubungan keduanya menjadi semakin dekat, layaknya kedua insan yang dimabuk asmara, lebih tepatnya Tiffany karena Taeyeon masih mengatur intensitas hubungan mereka meskipun Tiffany tak menyadarinya.
“Aku masih di kantor. Sepertinya aku akan memanggil layanan pesan antar saja.”Terdengar lantunan musik Jazz di tempat Yuri berada. Sepertinya calon suaminya itu sedang makan siang bersama beberapa koleganya karena perbincangan bisnis masih terdengar.
“Memang Taeyeon kemana? bukankah dia yang seharusnya menemanimu?”
“Oppa ada perlu. Ia harus menemui temannya dari LA yang sedang berkunjung ke Seoul.” Yuri teringat percakapannya dengan Taeyeon beberapa hari lalu. Sahabatnya itu akan bertemu dengan informan Nozo group yang kini mulai memperlambat permainan mereka dalam mengejar Yuri dan orang-orang yang berharga untuknya.
 “Okay. Kalau begitu biar aku yang memesankan makan siangmu. Kau istirahat saja dan tunggu makananmu tersaji di kantormu.” Tiffany tahu calon suaminya sibuk, ia tak ingin merepotkan Yuri yang begitu perhatian padanya. Terlebih ia tak mau rasa bersalah itu menggunung membebani hatinya yang goyah untuk Taeyeon.
“Oppa..”
“Sayang.. tidak ada kata tidak. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin selalu berada di sampingmu. Setidaknya biarkan aku melakukan ini untuk menyalurkan rinduku padamu.” Tiffany mendesah pelan mengetahui bahwa keputusan Yuri tak bisa diubah lagi.
“Baiklah, tambahkan es krim kesukaanku.”
“Okay.. pesanan Anda siap diantar Nona Hwang!” Yuri berbicara menirukan suara operator salah satu restoran cepat favorit kekasihnya membuat tawa itu hadir dari wanita yang sudah cukup lama tak dikunjunginya.
.
.
.
“Nona.. Pesanan makan siang Anda sudah datang.”
“Baiklah. Masukan ketagihanku, nanti aku akan mengambilnya.” Chaeyeong mengiyakan perintah bosnya itu.
.
.
.
“Nona Hwang.. ini pesanan Anda.” seorang pria berseragam salah satu restoran cepat saji menghentikan Tiffany yang sedang membaca sesuatu di layar komputernya.
“Oh.. terimakasih sudah mengantarkannya kesini.” Kurir itu tersenyum saat Tiffany menghampirinya, mengambil pesanannya yang cukup banyak untuk satu orang.
“Eh.. kenapa kau masih disini?” Tiffany yang sedari tadi sibuk mengecek makan siangnya baru sadar bahwa kurir itu masih berdiri menatapnya.
“Kau belum membayarnya Nona.” suara kurir itu terdengar aneh. Seketika rasa takut itu muncul mengingat tentang Nozo Group yang pernah diceritakan oleh Taeyeon padanya.
‘Apa mungkin dia..’ Tiffany menghapus kecurigaannya itu, berjalan mengambil telponnya menghubungi asisten pribadinya tapi itu tertahan saat pria misterius itu mengambil telponnya dengan paksa.
“Aku ingin bayaran yang lain Nona..” Senyum seringai itu mulai menakutkan. Tiffany berusaha lari tapi pria itu menghadangnya. Tiffany berlari ke mejanya, mengambil senjata api genggam jenis revolver kaliber 22 yang Taeyeon berikan padanya.
“Apa maumu?” Tiffany menodongkan senjata yang ia sendiri sebenarnya takut memakainya. Taeyeon pernah mengajarkannya menembak beberapa kali tapi tetap.. rasa takut itu masih menghantuinya.
Tik..
Tik..
Tik..
Jarum jam masih berjalan sementara ketegangan antara keduanya mulai mencair.
“Aku hanya menginginkan sebuah pelukan.” Kurir itu melepaskan topi dan kacamatanya, berjalan mendekati Tiffany yang menatapnya bingung.
“Oppa?” keterkejutan itu jelas tergambar dari wajah Tiffany. Ia terdiam di tempatnya melihat kurir itu kini berubah wujuda menjadi calon suaminya yang masih terlihat jantan, tampan dan berkarisma meskipun memakai seragam yang terlihat konyol untuknya.
Seseorang pasti akan membayar jutaan Won agar ia bisa mendapatkan foto Yuri saat ini, itulah yang dipikirkan Tiffany.
“Kau begitu defensif tadi. Aku suka. Berarti Taeyeon sudah mengajarkannya padamu. Baguslah..” Tiffany terdiam menerima pelukan calon suaminya. Beberapa detik kemudian ia sadar dan membalas pelukan itu, berusaha sebisa mungkin untuk membangun kenyamanan di dalamnya. Untuk beberapa lama mereka berpelukan seperti itu sebelum Yuri melepasnya, menatap Tiffany yang terlihat masih bingung dengan semuanya.
“Apa aku mengejutkanmu.. kau terlihat takut. Maafkan aku Sayang.” Senyum itu Tiffany coba ulaskan di wajahnya, mencoba menghapus rasa bersalah Yuri yang terlihat begitu jelas.
‘Fany.. dia hanya mencoba memberikan kejutan untukmu. Mengapa kau seperti ini?’suara itu berbicara dalam pikirannya.
“Hahaa kau hampir membuat aku terkena serangan jantung.” Tiffany menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, terlihat bahagia dengan kejutana yang Yuri berikan padanya.
 images (11)
“Benarkah? hahahaa.. maafkan aku. Oh ya.. kita makan es krimnya sebelum cair!” Yuri begitu semangat membawa calon istrinya itu untuk menyantap makan siang mereka.
.
.
.
“Sayang… kau sudah selesai?” Yuri melihat 1/4 bagian burger yang tersisa sementara Tiffany menganggukan kepalanya menjawab calon suaminya itu.
“Apa kau masih sakit? Tiffany-ku akan selalu menghabiskan makanannya tidak seperti ini.” Tiffany memberikan tatapan menyesalnya sebelum mengambil burger itu dan menyuapkan ke mulut Yuri yang menerimanya penuh dengan tanda tanya dan Tiffany mengerti itu.
“Aku hanya sedang stress Oppa. Beberapa minggu terakhir ini, proyek yang kutangani semakin banyak.”
Itu adalah salah satu faktor yang memicu Tiffany stress. Tapi faktor utamanya adalah masalah hatinya yang kini bercabang untuk sahabat calon suaminya itu. Tiffany tak bisa mengungkapkan itu semua pada Yuri. Ia takkan bisa. Meskipun ia memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ada di hatinya, pernikahan itu sungguh mustahil untuk dibatalkan.
Keluarga besarnya dan Yuri sudah begitu dekat. Berbagai kerjasama yang dijalin keluarganya bersama keluarga Kwon, itu menambah hal menjadi semakin sulit. Apalagi ia belum tahu isi hati Taeyeon yang sebenarnya padanya. Ia tak tahu apakah cintanya hanya bertepuk sebelah tangan atau terbalaskan.
“Kau tahu.. meskipun hubungan kita sedang seperti ini, kau bisa menceritakannya padaku. Atau Taeyeon.. dia juga pendengar yang baik seperti calon suamimu ini.” Yuri tersenyum begitu manis dan menyejukkan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan itu tapi tidak dengan wanita yang masih berada di sampingnya.
‘Bagaimana aku bisa menceritakannya jika kalian adalah sumber dari semua ini?’ rutuk Tiffany dalam hatinya meskipun bibirnya kini melengkung sempurna sedangkan matanya menyipit, memberikan senyum khas yang disukai calon suaminya itu.
“Oh ya.. bagaimana jika kita bermain game?” wajah bersemangat Yuri seperti anak kecil. Perlahan senyum itu menyatu dengan hati Tiffany.
“Game apa Oppa?” Tiffany mencoba mengikuti tempo semangat pria yang kini sibuk mengatur sesuatu di meja mereka.
“Ini!!! Tada!” Yuri menunjukan deretan kentang goreng dan nugget yang berbaris rapi di tempatnya.
“Permainannya seperti pepero stik hanya saja kita menggantinya dengan kentang goreng dan nugget. Jika aku menang… kau harus cuti beberapa hari dan ikut berlibur denganku.”
“Lalu jika aku menang?”
“Aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”
‘Bahkan jika aku memintamu untuk melepasku?’ suara lain berbicara dalam pikiran Tiffany yang mencoba menghilangkan kesedihannya. Calon suaminya itu sedang mencoba menghiburnya, mengapa ia tak menikmatinya dan melupakan masalah hatinya?
“Semuanya? bahkan jika itu sulit?” Tiffany menantang Yuri yang terlihat sedikit berpikir sebelum menganggukan kepalanya penuh semangat.
“Okay! Aku ikut..” Yuri tertawa melihat wanita di sampingnya itu terlihat ceria lagi. Syukurlah.. setidaknya ia bisa mengalihkan stress calon istrinya itu walau mungkin sesaat.
“Hahaha.. itu baru Tiffany Hwang. Nah seperti ini peraturannya. Siapa yang paling banyak dan panjang menghabiskan kentang atau nugget, dia yang menang. Skor akan dikurangi jika objek jatuh karena gigitan terakhir. Maksudnya seperti ini, jika aku yang terakhir menggigit kentang hingga kentang itu jatuh, maka aku akan dikurangi skornya. Kau harus sepintar mungkin mengganggu pasanganmu untuk memberikan kentangnya di akhir. Mengerti?” Tiffany mengangguk dan mulai menyiapkan dirinya sementara Yuri mulai mengeluarkan senjata andalan dari game ini.
“Tidak! jangan bilang..” Yuri tertawa lagi melihat wajah horor calon istrinya. Ia mulai membuka salah satu saus sambal terpedas di negaranya itu, tadinya iseng ingin memainkannya bersama teman-temannya di klub golf besok pagi.
“Aku tidak mau Oppa!” Tiffany memberikan wajah terjuteknya sementara Yuri melihatnya penuh dengan tawa, terhibur melihat tingkah wanitanya itu.
“Hei.. semua pusingmu akan hilang jika kau memakan sesuatu yang pedas. Aku sudah mendapatkan penelitian tentang hal itu. Lagipula.. apalah arti sebuah tantangan jika itu tak menggoncang adrenaline kita?”
‘Adrenalineku sudah sering tergoncang sejak kau mengenalkanku pada Taeyeon Oppa!” Suara dalam pikirannya kembali merutuk sementara suara yang lain mulai ikut berbicara.
‘Fany.. dia terlihat begitu bahagia. Apa kau tak ingin membahagiakannya? Kau tahu.. apa yang kau lakukan bersama Taeyeon akhir-akhir ini akan sangat menyakiti hati calon suamimu jika ia mengetahuinya.’ Hati Tiffany diliputi rasa bersalah jika ia melihat itu.
Bukankah yang ia lakukan dengan Taeyeon adalah sebuah perselingkuhan?
Bagaimana bisa Tiffany menyakiti pria sebaik Yuri?
“Baiklah.. jika kau tidak mau, aku..”
“Aku mau Oppa. Mari kita lakukan!”
.
.
.
“Heumhnghh..” Tiffany melenguh masih dalam dekapan sang calon suami yang begitu bersemangat memenangkan pertarungan mereka.
Ia masih mencoba mengambil potongan kecil kentang goreng di mulut Yuri. Pria itu begitu pintar memainkan lidahnya membuat Tiffany kewalahan mengikuti tempo permainan. Ia tak tahu game yang awalnya hanya untuk senang-senang ini berubah menjadi ajang bercumbu bagi dirinya dan sang calon suami yang begitu menikmati permainan mereka. Rasanya tubuhnya panas sekali, nafasnya serasa  akan habis dan Tiffany tahu ia tak boleh kalah dalam pertarungan.
“Aah..” Yuri merintih kesakitan saat bibir bawahnya Tiffany gigit pelan sementara wanitanya itu tersenyum puas penuh kemenangan meskipun bibirnya merah terlihat seperti bengkak.
“Sekarang skor kita sama. Dan aku akan memenangkan game ini!” dengan penuh percaya diri Tiffany meminum air hangat dari mug merah mudanya. Ia tahu jika setelah makan makanan pedas lebih baik meminum sesuatu yang hangat. Maka dari itu ia segera menyiapkan beberapa gelas teh hangat untuk dirinya dan Yuri yang tersenyum bahagia melihat perhatian calon istrinya itu.
“Bersiaplah untuk kalah!” Yuri memberikan senyum seringainya yang bagaimanapun akan selalu terlihat begitu tampan dan menggoda jika orang melihatnya.
Mereka berdua kini mengambil ancang-ancang. Tiffany yang pertama menggigit kentang pedas membunuh itu dilanjutkan Yuri. Keduanya melahap kentang itu hingga tersisa sedikit bagian di mulut mereka, lebih tepatnya saat bibir mereka bertemu. Saat itulah saat penentuan dimana Tiffany biasanya kalah cepat dari Yuri yang selalu memperlama durasi ‘french kiss fries’ mereka.

“Hammpphnngg..” suara itu bagai musik paling indah di telinga Yuri. Ia tersenyum menatap Tiffany yang menutupkan matanya, terlihat menikmati sesi french kiss mereka. Ia melihat moment itu sebagai kesempatan untuk mencari kemenangannya.

“Yah!!” Tiffany memukul dada Yuri cukup keras, mendorong calon suaminya itu yang mendekapnya dalam pelukan.

“Aku menang yeahh!!” Yuri berdiri kegirangan, melupakan sakit di dadanya. Ia mendekati Tiffany yang menatapnya sebal.

“Kau curang Oppa..”

“All is fair in a game.. love and war” Yuri memberikan pembelaannya pada Tiffany yang kini sibuk merapikan make up-nya yang sedikit berantakan karena game dan sesi bercumbu mereka tadi.

“Meskipun kau menang.. aku tak menerima hasilnya. Kau curang😣” Yuri tertawa melihat wanitanya itu terlihat begitu cute dan menggemaskan jika seperti sekarang. Ia bergerak mendekati Tiffany yang berusaha menjauh darinya.

“Kau ikut liburan denganku beberapa hari dan aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Bagaimana? cukup adilkan? anggap saja kita berdua memenangkan game ini.” Penawaran itu membuat Tiffany terdiam dalam pikirannya.

‘Heumh benar juga. Mengapa tidak aku jadikan liburan ini untuk meyakinkan perasaanku pada Yuri Oppa?’ batin Tiffany kembali berbicara, mencoba bernegosiasi dengan akalnya.

“Deal!”

==== My Lady ====

“Sica.. ada apa?” Taeyeon melepas kacamata Round Frame Vintage-nya yang membuatnya terlihat santai tapi formal dan menonjolkan sisi yang flamboyan. Ia mulai duduk di hadapan wanita yang selalu terlihat stylish dan elegan seperti biasa.

“Tidak ada apa-apa. Aku merindukanmu. Aku ingin menghabiskan hari ini denganmu.” senyum itu begitu polos dan manis tergambar di wajah Jessica.

“Kau serius?” Taeyeon tertawa kecil menatap wanita di hadapannya itu tak percaya. Ia segera meminum green tea latte yang ada di depannya.

‘Dan aku mempercepat pertemuanku dengan Tuan Wu hanya karena ini?’ Taeyeon berbicara dalam hatinya mencoba menutupi kekesalannya.

“Oppa.. apa kau marah?” tak ada rasa takut dan penyesalan saat Jessica mengucapkan itu.

jessica jung ceci (2)

“Kau tahu… sudah beberapa bulan ini kita jarang bertemu. Kau tak bisa menyalahkan seorang wanita yang begitu merindukan kekasihnya.” kekesalan itu perlahan terganti dengan rasa bersalah. Taeyeon mengamati lagi wajah wanita di hadapannya yang terlihat begitu anggun dan mempesona.

“No.. aku tidak marah. Malah aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Kau harus seperti ini karena aku.” Satu senyuman dingin yang begitu hangat dari Jessica sudah memberikan jawaban bagi Taeyeon. Ia tersenyum mengingat lagi bagaimana gadis di hadapannya itu perlahan berubah menjadi seorang wanita.

Like a Lady

Jessica adalah sahabat masa kecilnya yang sempat hilang kontak dengan Taeyeon. Mereka mulai berkomunikasi lagi sejak Jessica masuk sekolah menengah atas dimana saat itu Taeyeon sudah masuk perguruan tinggi.

Ayah Jessica adalah sahabat Ayah Taeyeon yang sama sama berprofesi sebagai pengacara sukses di negaranya. Sayang Taeyeon dan Jessica tak mau mengikuti jejak ayah mereka. Jessica tetap pada cita-citanya menjadi desainer yang akhirnya bisa ia raih di usia mudanya begitu pula dengan Taeyeon yang sukses menjadi polisi yang banyak menangani kejahatan di dunia maya atau yang biasa orang sebut Cyber Crime.

Status kekasih Jinhee yang disandang Taeyeon tak mematikan cinta diam diam yang Jessica miliki untuk sahabatnya itu. Mereka masih dekat meskipun Jinhee sadar bahwa Jessica menyukai Taeyeon lebih dari sekedar sahabat. Malah dalam beberapa kesempatan, Jinhee selalu berkata bagaimana Jessica dan Taeyeon begitu cocok. Mungkin jika Taeyeon tak bertemu dengannya, Jessicalah yang menjadi kekasih pria bermarga Kim itu.

Entah ini hanya perasaan Jessica saja atau tidak tapi setiap ia melihat Jinhee berdua dengan Taeyeon, wanita itu selalu menatapnya lain. Tatapan itu seakan berkata pada Jessica bahwa Jinhee hanya meminjam Taeyeon untuk sementara. Beberapa hari sebelum Jinhee ditemukan tewas di apartementnya, Jessica sempat makan siang dengan wanita yang selalu karismatik dan bersahaja baginya.

‘Jika aku pergi nanti, kau adalah orang yang paling cocok menjadi pendampingnya selain aku.’ Jessica akan bertanya mengapa tapi tawa manis Jinhee mengalihkan perhatiannya. Ia kira saat itu Jinhee bercanda tapi ternyata itu adalah saat terakhir Jessica bertemu dengan wanita yang banyak menginspirasi dunianya.

Kematian Jinhee adalah pukulan berat bagi Taeyeon. Sejak itu, komunikasi Jessica dan Taeyeon menjadi tak lancar. Pria bermarga Kim itu selalu beralasan bahwa ia sibuk menempa dirinya di Amerika sehingga ia tak sempat untuk menjawab komunikasi apapun yang diinisiasi Jessica bahkan keluarganya.

Itu adalah salah satu masa tersedih bagi Jessica. Beberapa kali ia ingin menyerah dari Taeyeon dengan menerima ajakan kencan pria-pria yang mengantri untuk bisa mendapatkan hatinya. Tapi ucapan terakhir Jinhee selalu membuatnya bangkit lagi. Kata-kata yang Jinhee berikan padanya selalu menjadi motivasi dan penyemangat Jessica untuk percaya bahwa Taeyeon bisa melihat hati dan cintanya suatu hari nanti.

Kembalinya Taeyeon ke Seoul setelah beberapa tahun menetap di New York menjadi momentum yang tepat bagi Jessica untuk membuat salah satu mimpinya, yaitu menjadi kekasih atau bahkan istri Taeyeon,  terwujud. Beberapa bulan setelah Taeyeon berada di Seoul, tepatnya 1 bulan sebelum Taeyeon membantu Yuri, Jessica resmi menjadi kekasih pria yang ia kira hanya akan menjadi mimpi baginya.

Awalnya Taeyeon menolak permintaan Jessica untuk menjadi kekasihnya tapi beberapa hari kemudian pria itu menerimanya. Dengan jujurnya Taeyeon meminta maaf pada Jessica bila ia masih belum bisa menghapus Jinhee dari ingatannya. Jessica bisa menerima itu karna itu tahu posisi Jinhee di hati Taeyeon takkan pernah tergantikan.

Mengapa ia repot-repot menghapus Jinhee dari hati Taeyeon jika ia bisa membangun sendiri tempat lain yang tak kalah berkesannya di hidup kekasihnya itu.

Tapi sungguh.. jalan tidak akan selamanya lurus dan datar. Selalu akan ada belokan serta kerikil yang menghadang. Begitu pula dalam hubungan Taeyeon dan Jessica.

Mengizinkan Taeyeon menjadi kekasih Tiffany sesungguhnya adalah hal yang berat bagi Jessica. Wanita manapun tak ingin membagi prianya dengan yang lain, sekalipun itu sahabatnya sendiri. Tapi mendengar cerita kekasihnya itu tentang Yuri yang begitu memohon padanya, pikiran Jessica berubah.

Jessica dekat dengan Taeyeon tapi ia tak terlalu dekat dengan Yuri. Mereka berbeda lingkaran pertemanan. Jessica tahu Yuri adalah sahabat dekat Taeyeon. Hubungan mereka begitu dekat layaknya saudara kandung. Tapi ia tak yakin Yuri tahu bahwa Jessica adalah teman dekatnya Taeyeon. Yuri hanya mengetahui Jessica sebagai sahabat calon istrinya, tak lebih.

Maka saat Taeyeon memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka, Jessica tak menolak. Ia tahu beratnya masalah yang dihadapi Yuri dan sahabatnya, Tiffany.

Ya.. selama ini kalian mungkin berpikir bagaimana bisa Jessica menyembunyikan hubungannya dengan Taeyeon dari Tiffany. Itu mudah saja.

Tiffany adalah tipikal wanita yang sangat percaya pada sahabatnya dan sangat menghormati privasi seseorang. Jessica memang pernah bercerita tentang pria yang selama ini disukainya, tapi ia tak pernah bilang bahwa pria itu adalah Kim Taeyeon, pria yang sudah beberapa waktu ini berperan sebagai kekasih Tiffany menggantikan Yuri.

Kalian tahu, bahkan hingga hari ini Tiffany belum tahu bahwa Jessica adalah kekasih Taeyeon.

Oh alangkah lucunya hidup ini.
Itu yang selalu terbesit di pikiran Jessica.

“Oppa.. aku mengizinkanmu untuk melakukan ini semua. Jika aku merasa sakit dengan kemesraan yang kau tunjukan bersama Tiff.. maka itu adalah resiko yang harus aku terima.” tangan kekasihnya itu Jessica coba genggam dalam hangatnya. Selamanya, tangan itu ingin ia genggam meski ia tahu pada akhirnya Tuhanlah yang akan berperan menyatukan mereka atau tidak.

“Sica.. tetap saja, aku..” masih ada keraguan di wajah Taeyeon, rasa bersalah itu menggerogoti kepercayaan dirinya.

“Kau tahu.. kesempurnaan dan kedewasaan bagiku bukanlah suatu hasil akhir, tapi hanya status yang memancing manusia terus belajar, berusaha dan mencoba untuk menggapainya. Bukankah pada akhirnya semua itu takkan bisa diraih? Tapi kita mendapatkan pembelajaran, kebahagiaan, kebanggaan, dan hal lain, baik itu bersifat suka atau duka dalam prosesnya.” Taeyeon terdiam menatapi Jessica yang tersenyum malu padanya. Meskipun begitu, karisma dan kepercayaan diri wanita bermarga Jung tak berkurang sedikit.

Kecerdasan, kecantikan dan kebijaksaan memiliki beberapa definisi dan bersifat relatif.

Bagi Taeyeon, wanita di hadapannya sekarang adalah definisi dari semua yang ia sebutkan tadi.

“Aku ingin mengalami itu semua bersamamu Kim Taeyeon.”

“Jadi.. jika kau merasa bersalah padaku, cukup cintai aku lebih dan lebih lagi setiap harinya. Begitu banyak hal yang begitu aku syukuri di dunia ini, salah satunya jika kau bisa melakukan hal itu padaku. Mungkin aku akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.” Sungguh, mempercepat pertemuannya dengan Tuan Wu, terburu-buru datang ke kafe yang cukup jauh dari tempat meetingnya tadi, menghabiskan setiap detik mengamati keindahan dihadapannya, mendengarkan ucapan menyenangkan Jessica adalah hal yang sangat berharga.

Worth it.

==== My Lady ====

“1..2..3” Pada hitungan ketiga blind fold itu Tiffany buka. Ia memutarkan pandangannya, terhenyak melihat surga yang belum sempat ia lihat sejak dulu, hanya angan dan rencana yang memenuhinya.

“Kuharap kau menyukainya Sayang.”

lily-beach-maldives

Laut jernih berwarna biru, pantai dengan hamparan pasir putih, pepohonan nyiur, jernihnya air laut berwarna turquoise nan memanjakan mata bernuansa romantis tak bisa membuat Tiffany mengedipkan matanya untuk beberapa detik.

“Oppa.. ini luar biasa!” lengan itu ia kalungkan ke leher Yuri. Tiffany tatap wajah manis nan seksi yang memancarkan kehangatan dari kulit coklat sawo matang calon suaminya itu.

‘Mengapa aku bisa begitu jahat seperti ini? kau begitu sempurna untukku Oppa.’ batin Tiffany berkata tapi tidak dengan apa yang ditunjukan wajahnya.

“Sayang…” Suara berat dan dalam itu membangunkan Tiffany dari lamunannya.

“Oppa.. aku mencintaimu. Terimakasih.” tubuh kekar prianya itu Tiffany peluk, menenggelamkan dirinya di dalam kenyamanan yang akan selalu ada untuknya.

.

.

.

“Aku tahu kau mungkin masih lelah, tapi.. aku yakin kau akan menyukainya” Yuri penuh dengan kejutan hari ini.

Tadi siang Tiffany sudah dikejutkan dengan pemandangan indah di Paradise Island, salah satu resort dan vila terbaik di Maldives.

images

Prianya itu mengajaknya untuk istirahat sejenak lalu melakukan spa untuk menyegarkan tubuh mereka. Sorenya, tak lupa mereka berjalan di tepi pantai, melihat  salah satu sunset terindah yang pernah Tiffany lihat.

Dan disinilah sekarang ia dalam dekapan blind fold lagi yang menutupi pandangannya. Seperti biasa calon suaminya itu menuntunnya perlahan menuju tempat yang menjadi destinasi mereka.

“Yang terbaik untuk yang terbaik. Selamat Ulang Tahun Nona Hwang” Yuri berbisik halus, memeluk wanitanya dari belakang. Untuk beberapa detik mereka terdiam, lebih tepatnya Tiffany yang masih terkejut dan terharu dengan apa yang ada di depan matanya sedangkan Yuri menikmati ekspresi calon istrinya yang ia yakin takjub karena kejutannya.

“Oppa.. aku..” pelukan itu Yuri lepas, ia ganti dengan membawa satu-satunya wanitanya itu untuk duduk di meja privat dining mereka yang sudah didekor romantis dan minimalis sesuai selera wanitanya itu.

8949760772_38c8dfec98_b

Tak beberapa menit berselang, 2 orang pegawai resort membawa cart makanan yang Yuri pesan. 2 pria itu mulai menata hidangan di meja dan yang tak ketinggalan pastinya birthday cake untuk tokoh utama hari ini, Tiffany.

Mulai dari makanan pembuka hingga penutup, semuanya mengesankan. Tiffany menyantapnya penuh dengan penghayatan, menikmati surga dunia yang sedang ia nikmati. Selama menyantap makan malam pribadi mereka, Yuri tak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita di hadapannya itu, sedikit mengabaikan pemandangan luar biasa yang bisa mengambil nafas siapapun yang melihatnya.

Hanya cake, sebotol wine serta 2 gelas wine yang kini ada di meja mereka.

Keduanya terlihat begitu puas dengan hidangan yang sudah mereka santap tadi terutama Tiffany yang tak berhenti membahas betapa lidahnya begitu dimanjakan dengan cita rasa unik dan nikmat yang Maldives berikan untuknya.

Tiffany POV

“Aku senang kau begitu menikmatinya.” Yuri Oppa membawa tanganku untuk ia genggam. Ia usap lembut tangan itu, beberapa kali mengecupnya ringan seakan itu adalah hal paling berharga untuknya dan aku… oh Tuhan, itu manis sekali. Kurasa aku mengingat kembali mengapa aku bisa begitu mencintai pria di hadapanku sebelum hati ini tergoda oleh pesona Kim Taeyeon.

“Euhm.. Kuharap kau tidak bosan mendengarnya tapi.. Terimakasih.” Tangan itu masih digenggamnya dan tatapan kami menyatu dalam ruang yang tak terbatas.

“Your very welcome Fany-ah” nama panggilan itu, aku baru sadar betapa aku merindukan Oppa mengucapkannya.

“Oh ya.. sudah lama aku tidak mendengarmu bernyanyi, bagaimana jika kita duet?” anggukan itu segera membuat Yuri Oppa menelpon salah satu pegawai resort yang membawakannya gitar dan beberapa makanan ringan beserta minumannya.

Aku mulai menyanyikan lagu favoritnya, Narsha-I’m In Love diiringi gitar akustiknya yang indah. Puas dengan penampilanku, Yuri Oppa mulai memetik senar gitarnya lagi, membawakan lagu yang dulu selalu dia nyanyikan untukku, Jung Yup-Nothing Better yang sukses membuatku terpana dibuatnya.

Angin berhembus membawa kenyamanan bagiku, membuatku kembali berpikir tentang semua ini.

Apa yang terjadi dengan diriku kemarim? Mengapa aku begitu menghindarinya?

Aku masih mencintainya, aku yakin itu. Tapi… mengapa hati ini begitu berat untuk berjumpa dengannya?

Apa ini semua karena Oppa jarang ada disisiku dan aku mulai nyaman bersama Taeyeon Oppa? Atau …

“Sayang.. kau melamun lagi, ada apa?” Tuhan.. kedua mata itu menatapku begitu hangat, penuh perhatian, membuatku merasa tidak enak. Kugelengkan kepalaku, tersenyum menyakinkannya tapi aku tahu itu tak berhasil.

Mata ini tertutup dan nafas itu kuhembuskan. Aku membuka mataku kembali, mencoba mengumpulkan keberanianku.

“Oppa.. aku mencintaimu, sungguh. Tapi.. jika suatu hari hati ini berpindah haluan, apa yang akan kau lakukan?” gitar itu Yuri simpan. Ia membawaku untuk berbaring disampingnya, di kasur yang sejak tadi sudah tersedia tapi belum kami tempati.

“Fany-ah.. kau lihat bintang-bintang itu?” aku menganggukan kepalaku masih menatap jutaan bintang yang menemani kami dengan keindahannya.

“Dimanapun kau melihatnya, dia masih ada untukmu kan? Kemanapun kau pergi, jika waktunya muncul, bintang akan menyapamu dengan cahayanya.” Tunggu.. apa ini adalah jawaban Yuri Oppa padaku?

“Sayang.. bagiku kau adalah bintang itu.” jangan seperti itu kumohon. Aku tidak sesempurna yang kau bayangkan. Aku telah menyakitimu, hatiku bukan milikmu lagi sepenuhnya.

“Oppa..” Ia mengalihkan pandangannya padaku. Kedua matanya memancarkan sinar sama seperti bintang-bintang yang masih betah menemani kami.

“Hati kita hanyalah Tuhan yang bisa mengaturnya. Aku takkan bisa memastikan hatimu hanya untukku bila nyatanya kita memang cenderung untuk mendua. Aku tidak tahu kemana takdir akan membawaku, membawamu. Tapi yang aku yakini, kita bisa mengubah takdir itu sesuai keinginan kita, asal ada kemauan, usaha dan doa.” nada bicaranya masih sama, begitu tenang dan karismatik dengan suaranya yang begitu dalam dan tebal.

“Begitupun denganku. Jika hatimu mulai berpaling, maka aku akan membawamu kembali padaku. Karena bagiku, kau adalah takdirku, kebahagianku, hidupku. Mungkin itu terdengar terlalu manis dan mengada-ada, tapi bagiku.. itulah arti dirimu.” Yuri Oppa kembali berucap sementara aku terdiam mendengarnya. Tuhan betul-betul menciptakanmu dengan kata-kata manis di dalamnya.

“Jadi jika kau takut nanti aku akan tersakiti, jangan khawatir karena aku takkan membiarkan hal itu.” di wajah tampannya terlihat keyakinan dan tekad yang besar sementara aku, rasa bersalah itu kini menyelimutiku. Mungkin ini yang membuatku tak sanggup untuk bertemu dengannya.

“Bahkan… jika cinta itu perlahan padam, aku akan menghidupkannya kembali. Setiap saat aku akan mengingatkanmu bagaimana dulu hatimu memilihku. Bagaimana aku menjadi duniamu.” Menatap matanya saat ini, rasanya aku ingin menangis. Setiap kata yang terucap, seperti membakar sumbu air mataku, membuatku kembali berpikir betapa beruntungnya aku karena Tuhan telah memilihku untuk menjadi pendampingmu.

“Jika itu yang mengganggu pikiranmu selama ini, aku meminta maaf.” rasa bersalah itu tak terelakan lagi dari wajah tampannya.

“Jika hatimu mulai goyah, aku memakluminya. Aku yang menyebabkan hal itu. Keadaan memaksaku untuk membuat kalian bersama untuk sementara waktu. Karna itu.. aku memohon padamu, tolong bertahanlah sedikit lagi. Kuatkan hatimu hanya untukku.” Wahai hatiku.. tak kau dengarkah permintaan pria d

“Oppa maafkan aku.. maafkan aku..” akhirnya air mata ini tumpah. Dia menarikku untuk menangis di pelukannya. Untuk beberapa menit aku menangis, menumpahkan apa yang selama ini menjadi beban dan mengganjal di pikiran dan hatiku. Yuri Oppa tak berbicara, dia hanya memelukku, mengelus punggungku, mencoba menenangkanku yang masih menangis dalam diam.

End Of Tiffany POV

.

.

.

“Hari ini dan seterusnya, hanya Yuri Oppa yang harus ada di hatimu. Ayo bangunlah Tiffany! Semangat!” Tiffany berbicara pada refleksinya di kaca. Ia masih terbalut jubah mandinya, berbicara dengan dirinya sendiri seperti wanita gila.

“Fany-ah.. kau ada di dalam?” ketukan pintu itu menyadarkan Tiffany dari kegilaannya. Ia segera membereskan dirinya, berlari membuka pintu.

“Aigoo.. kukira kau pergi keluar” senyum yang menunjukan deretan gigi rapinya Tiffany berikan pada Yuri. Pria bermarga Kwon itu tertawa gemas mencubit pipi wanita yang ia kira sudah pergi menelusuri pantai.

“Mana mungkin aku meninggalkanmu. Lagipula tadi aku hanya melakukan rutinitas pagiku.”  ekspresi Tiffany masih seperti tadi. Yuri mengerti lalu membawa calon istrinya itu ke teras depan Ocean Suites untuk menikmati sarapan yang tadi Tiffany pesan untuk mereka.

Dari teras yang cukup luas mereka menikmati sarapan dengan hamparan laut biru bening yang cantik.

Setiap mata akan terpesona saat melihatnya. Begitu menyenangkan dan menenangkan. Rasanya semua masalah terlupakan.

“Oppa.. hari ini apa yang akan kita lakukan?” Sarapan mereka sudah habis, kini keduanya sedang duduk di sofa teras yang sempurna.

“Kita memiliki waktu 5 hari disini, mengapa kita tak mencoba semuanya?” Yuri menaik turunkan kedua alisnya, tersenyum begitu lebar seperti orang gila.

“Semua? Kau yakin?” Tiffany menatap wajah calon suaminya itu ragu.

“Ya.. bahkan jika kau mau.. kita bisa berkunjung ke pulau-pulau lain yang kau inginkan. Selama disini, aku ingin hanya ada kita berdua, tak ada kerjaan, Nozo group atau masalah apapun yang memberatkan hatimu.” hangat senyuman yang terlihat gila itu sama seperti sinar mentari yang betah bertengger di posisinya.

“Baiklah! Kau memang yang terbaik Oppa.” Senyum bulan sabit itu menjadi liburan Tiffany dan Yuri dimulai.

Hari pertama mereka isi dengan mengelilingi pantai, mencoba makanan lokal, bermain banana boat, ski air, berselancar, perahu kano, snorkling, parasailing dan berbagai aktivitas di air lainnya.

Banana-Reef

Malam harinya mereka habiskan dengan makan malam yang romantis  dan tentunya istirahat.

CN_beachbbq_3_750x350_FitToBoxSmallDimension_Center

Hari kedua Tiffany mengajak Yuri untuk spa, memanjakan dan merelaksasikan tubuh mereka dari kegiatan yang cukup melelahkan kemarin yang tentunya menyenangkan dan berkesan bagi keduanya.

Spa selesai, kini Yuri yang ingin mencoba memancing. Tentu ini adalah pengalaman pertama bagi Tiffany yang begitu semangat untuk mencobanya. Setelah beberapa jam mereka mendapatkan ikan yang cukup banyak untuk makan malam pribadi di Ocean Suites mereka.

Hari ketiga, Yuri mengajak calon istrinya itu untuk pergi ke suatu pulau yang masih jarang diketahui orang. Keduanya diantar oleh tour guide mereka. Orang itu memberikan tantangan pada Yuri dan Tiffany untuk bertahan hingga sore hari dengan bekal makanan seadanya.

Merasa tertantang, mereka pun menyetujui ide tersebut. Alhasil dari pagi hingga sore mereka hidup seperti orang terdampar dengan bekal seadanya. Keduanya begitu bersemangat mengelilingi pulau yang tak berpenghuni itu, merasakan dunia hanya milik berdua dengan keindahan dan surga dunia yang mendekap mereka.

Di hari keempat, Tiffany ingin mengunjungi kota. Disana mereka pergi ke beberapa musium, pasar tradisional dan tempat lainnya. Keduanya begitu menikmati jalan-jalan mereka hari itu, apalagi Tiffany. Ia banyak mengabadikan moment-moment yang menurutnya inspiratif, bisa menjadi refrensi untuk beberapa project yang sedang ditanganinya.

Oh ya… Tiffany dan Yuri juga banyak mencicipi makanan khas Maladewa seperti chicken biryani, garudiva, huni roshi, dan mas huni.

Mereka juga sempat merasakan sensasi makan yang berbeda dengan berkunjung ke restoran bawah air bernama Ithaa Undersea Restaurant.

images (2)

Hari kelima, hari terakhir mereka di Maldives. Meski demikian, Yuri tetap mengajak Tiffany untuk menyelam di HP Reef, Manta Point dan Banana Reef.

HP-Reef-768x435

Manta-Point-768x512

Sebelum pulang dengan jet pribadi Yuri, keduanya menyempatkan diri menikmati spa untuk menyegarkan tubuh mereka. Malam harinya, merekapun pulang dengan berbagai kenangan indah dan berkesan yang Maldive berikan.

.

.

.

“Sayang.. kita sudah sampai.” Tiffany masih tertidur lelap di tempatnya. Yuri mengamati calon istrinya itu dalam diam, menelusuri keindahan yang Tuhan titipkan padanya.

“Tunggulah sebentar lagi, hari bahagia itu akan datang dan pernikahan itu akan segera terlaksana.” Kening itu Yuri kecup pelan. Perlahan ia bawa  Tiffany dalam pangkuannya, mengunci kaki wanitanya itu di pinggangnya agar calon istrinya itu aman dan tak terganggu dalam tidurnya.

==== My Lady ====

“Oppa minumlah.. kau pasti lelah.” Jessica menghapus keringat yang membasahi dahi dan leher kekasihnya itu sementara prianya itu mulai meneguk minuman isotoniknya.

“Kau bermain bagus tadi” Taeyeon menganggukan kepalanya, masih menikmati air yang menyegarkan dahaganya.

“Kau melihatku bermain?” Keringat itu berhasil Jessica hilangkan, kini gilirannya yang meminum jusnya.

“Eii.. sini biarkan aku yang mengelapnya.” Senyum itu datang saat Taeyeon mulai menyeka keringat di sekitar wajah Jessica.

“Terimakasih Oppa..” senyum malu-malu itu membuat Taeyeon tertawa kecil. Ia menganggukan kepalanya dan mulai memakan snack sehat yang Jessica pesankan untuknya.

Jessica-for-Li-Ning-girls-generation-snsd-37430866-500-565

“Oppa.. aku penasaran, bagaimana kau begitu yakin bahwa kau tidak akan jatuh cinta pada Tiffany?”

“Well.. itu…”

Flashback

“Kau gila!” Taeyeon segera menghunuskan pedang kayunya ke bahu Yuri yang dengan mudah menghindarinya. Taeyeon arahkan kembali pedang itu ke bahu kiri sang sahabat yang masih bisa menghindarinya juga. Berkali-kali ia melancarkan serangan itu hingga akhirnya lengan kanan Yuri yang tak sempat menangkisnya.

“Yul, kau baik-baik saja?” Yuri segera menarik tubuh Taeyeon kebawah, membuang pedang kayu sahabatnya itu. Ia mulai mengunci kaki dan tangan Taeyeon dengan miliknya, membuat sahabatnya itu terjebak, tak bisa menyerang dirinya.

Awalnya pertarungan Hapkido mereka berlangsung biasa. Semua menjadi luar biasa ketika Yuri mengutarakan niatnya tentang Tiffany.

“Arggh Brengsek! Apa yang kau lakukan???” Taeyeon meringis kecil saat Yuri menghimpit tubuhnya, menyerang leher dan pergelangan tangannya.

“Aku tidak gila. Aku hanya mencoba menjadi rasional” Yuri masih mengatur nafasnya, mencoba berbicara dengan tenang. Ia mulai melepaskan ikatan dirinya di tubuh Taeyeon yang segera mendorongnya dan berdiri, mengambil kuda-kuda yang pas untuk menyerang Yuri yang begitu mahir dalam olahraga bela diri ini.

“Bagaimana bila ia terpesona padaku?” Yuri mengambil nafas, menangkis pukulan yang diarahkan ke mukanya dengan tenang, terlihat menguasai dirinya.

“Tunanganku.. atau kau yang takut jatuh hati padanya?” Taeyeon tertawa kecil, menyeringai sebelum mendaratkan pukulan ke ulu hati, dada dan bagian lain tubuh Yuri yang mundur dibuatnya.

“Lucky Bastard!” Taeyeon tersenyum senang berhasil menghantam dada sahabatnya itu dengan pukulan ringan yang membuat Yuri terhuyung mundur ke belakang sebelum akhirnya bisa mengembalikan postur tubuhnya yang tak seimbang tadi.

“Apa kau takut heuh? well.. bajingan ini yang memiliki Tiffany Hwang hingga saat ini.” Taeyeon tertawa mengejek mendengar ucapan itu. Ia melayangkan tendangan ke ulu hati Yuri yang segera menghindar, membuat Taeyeon menatapnya tajam.

“Mengapa tak kau saja yang melindunginya? Mereka takkan menyentuhnya… selama kau ada di sampingnya.” Stamina mereka memang luar biasa. Meskipun berada dalam pertarungan sengit seperti ini, mereka masih bisa bercakap-cakap panjang.

Kali ini Taeyeon yang kewalahan menghindari tendangan yang Yuri arahkan ke perut, kemaluan dan kakinya. Beberapa kali ia meloncat menghindari tendangan kuat yang bisa mematahkan kakinya.

“Aku tidak bisa.” Tegas Yuri mengatur pernafasannya.

Untuk beberapa detik keduanya terdiam, mencoba mengatur konsentrasi mereka.

Yuri meluncurkan tendangan ke lengan kanan Taeyeon yang berhasil menahannya meskipun ia terdorong ke samping.

“Kau tahu rasanya kehilangan wanita yang kau cintai.” pikiran Taeyeon segera tertuju pada mendiang kekasihnya yang sudah beberapa tahun ini meninggal. Fokusnya hilang sehingga tendangan Yuri tepat mengenai ulu hatinya, membuatnya jatuh terhuyung kebelakang. Kepalanya pusing, mual. Tapi lebih dari itu, hatinya perih mengingat Jinhee dan kematiannya yang begitu menyakitkan.

“Mengapa.. kau.. membawa.. Jinhee..” Suara itu masih terdengar tenang tapi tidak dengan hatinya yang geram. Nafasnya tersengal-sengal.

“Karena Jinhee.. adalah wanita yang begitu berharga bagimu. Begitupun Tiffany untukku.” Taeyeon terdiam mencoba mengatur nafasnya. Dadanya sesak jika ia mengingat lagi Jinhee dan semua kenangan di dalamnya.

“Apa kau rela jika aku mencium, mencumbu, atau bahkan… bercinta dengannya?” Yuri mematung. Ucapan Taeyeon tadi seketika mengacaukan pikirannya.

Melihat itu, Taeyeon segera menendang perut sahabatnya itu cukup keras membuat Yuri mengalami apa yang ia rasakan tadi. Tubuh pria bermarga Kwon itu terhuyung ke belakang, terjatuh, merasakan pusing luar biasa dan memuntahkan sesuatu dari mulutnya.

“Sakit yang kau rasakan tadi.. takkan seberapa jika aku melakukan apa yang kusebutkan tadi padamu. Bagaimana? kau siap?” Yuri masih meringis kesakitan tak menjawab pertanyaan Taeyeon yang terlihat kesal padanya. Meskipun begitu, ia tetap berjalan menghampiri Yuri, memberikan handuk dan minuman untuk sahabatnya itu.

Lama keduanya terdiam.

Yuri masih terkapar di lantai sedangkan Taeyeon duduk di dekat sahabatnya yang masih mencoba mengendalikan rasa sakitnya.

“Tidak dengan bercinta!” meskipun suaranya masih lemah, amarah itu terasa.  Taeyeon berdiri, berjalan menghampiri Yuri yang terduduk menghadapnya.

“Why?” meskipun ia mungkin tahu jawabannya, Taeyeon tetap ingin bertanya.

“Dia bukan sebuah boneka yang bisa kau permainkan! Aku akan membunuhmu jika kau melakukannya!” Yuri terengah-engah mengucapkannya. Matanya berapi-api dengan kilatan amarah yang melengkapinya. Taeyeon tertawa melihat hal itu.

“Lalu bagaimana denganmu? Yang kau titip padaku memiliki hati dan kau dengan mudahnya memintaku untuk berpura-pura menjadi kekasihnya, apa bedanya aku denganmu?” Yuri melemparkan handuknya pada Taeyeon yang segera menangkap handuk itu masih dalam tawa kecilnya yang mengejek.

“Aku melindunginya Taeng! Aku melakukan ini karena aku mencintainya!” Yuri meringis menahan sakit di perutnya sementara Taeyeon masih diam melihatnya.

“Aku tidak ingin dia meninggal karena aku. Aku rela membunuh rasa cemburuku, merendahkan harga diriku dengan meminta hal ini padamu. Bisakah kau mengerti hal ini? bagaimana bila kau dan Jinhee berada di posisi kami?” Mata Yuri terlihat berkaca-kaca. Pada saat itulah Taeyeon sadar bahwa Yuri serius akan melakukan hal ini. Sahabatnya itu bahkan rela seperti ini demi seorang wanita bernama Tiffany Hwang.

“Taeyeon-ah.. kumohon.” Yuri menyembunyikan tangisnya dengan segera berlutut di hadapan sahabatnya itu.

Taeyeon hanya terdiam, terkejut mendapati Kwon Yuri, pria yang selama ini menjaga gengsi dan harga dirinya, selalu berusaha menjadi yang lebih baik darinya kini memohon padanya seperti ini.

“Tolong berjanjilah padaku, kau akan melindunginya dengan hidupmu. Dan satu lagi… berjanjilah padaku.. untuk tidak jatuh cinta padanya.” Mata itu terlihat memerah, masih basah diiringi tangis kecil yang kali ini baru Taeyeon dengar.

“Taeyeon-ah..” Yuri kembali meminta padanya, membuat Taeyeon tersadar bahwa semua ini nyata. Yang berada di hadapannya adalah sahabatnya.

“Baiklah. Aku berjanji.. aku berjanji akan menjaganya dengan hidupku. Aku akan menjaga hatinya hanya untukmu.” Taeyeon menundukan tubuhnya, membawa Yuri untuk berdiri dengannya, membiarkan sahabatnya itu menumpahkan semua emosi yang selama ini terpendam di hatinya.

End Of Flashdback

“Just.. wow..” Taeyeon tertawa kecil melihat reaksi kekasihnya itu. Ia kembali meneguk minumannya, mulai memakan hidangan yang Jessica pesankan untuknya.

“Tapi Oppa… bagaimana.. bila kau melanggar janji itu?” pandangan itu kini beralih pada Jessica.

“Akan kupastikan itu takkan terjadi. Kau tenang saja.” Senyum nakal dan menggodanya itu kembali ia ulaskan sebelum menyantap lagi berbagai hidangan yang akan memuaskan nafsu makannya.

==== My Lady ====

“Sepertinya liburanmu menyenangkan..” Tiffany mengalihkan pandangannya, menatap pria yang masih ia gandeng.

“Sangat menyenangkan! kau harus mencobanya!” Taeyeon senang melihat senyum lebar itu. Sepertinya keputusan Yuri untuk membawa Tiffany berlibur kemarin adalah hal yang tepat. Wanita bermarga Hwang itu kini terlihat lebih ceria, lebih bebas.

“Oh ya Oppa.. kau masih harus menjadi kekasihku selama seminggu ini.”

“Eh.. kenapa?”

“Selama aku di Maldives kemarin, itu tak terhitung sebagai 30 harimu menjadi kekasihku.”

“Hahaa.. bagaimana bisa seperti itu?!” mereka masih berjalan santai di taman dekat apartement Tiffany. Secara kasat mata, mereka terlihat seperti pasangan serasi yang sedang menikmati kencan.

Kemarin malam informannya memberi info bahwa Nozo group mulai memperketat lagi pengintaian mereka pada Tiffany. Mendengar hal itu, Taeyeon berinisiatif untuk menambah frekuensi kemesraan dirinya dan Tiffany tampil di depan publik. Yuri setuju begitupun dengan Tiffany yang terlihat lebih tenang mendengar hal itu.

Dari pengamatannya kemarin, sepertinya Tiffany sudah memperbaiki kondisi hatinya selama di Maldives. Selama berada di sisi Yuri, wanita bermarga Hwang itu terlihat tak mau berpisah dari calon suaminya. Tiffany yang ia lihat kemarin, seperti Tiffany yang ia lihat pertama kali, begitu mencintai Yuri, tak terlihat ragu sama sekali.

“Oh ya Oppa, tadi pagi aku menerima undangan makan malam. Kau mau menemaniku?” Mereka kini sudah tiba di gedung apartement, berjalan beriringan menuju unit masing-masing.

.

.

.

“Kau terlihat begitu tampan.” Tiffany tersenyum puas melihat pria yang baru saja ia tata gaya rambutnya.

Taeyeon POV

“Oppa.. genggam tanganku.”

“Iya?” aku masih fokus mengendarai mobil saat tiba-tiba ia berkata seperti itu.

“Seperti ini” Tiffany ambil tanganku, ia menyatukan jari jemarinya denganku, terasa begitu pas.

Pas? apa yang kau katakan Kim Taeyeon? Tidak.. ini terasa biasa saja. Genggaman tangan ini tak ada yang spesial. Tidak. Dia hanya menggenggam tanganmu seperti biasa. Santailah.

Atur nafasmu, pikiranmu dan hatimu.

“Lalu bagaimana aku bisa mengendarai mobil ini?” tanyaku mencoba menggodanya seperti biasa. Tiffany menekan beberapa tombol di mobilnya, mengubah mode berkendara manual menjadi otomatis.

“Setiap detik yang kulalui bersamamu, begitu berharga untuk kulewatkan.” Senyum bulan sabitnya menghiasi lagi paras cantiknya. Ia menatapku sebentar lalu mengalihkan jendela dunianya itu ke depan, menyanyikan lagu Ariana Grande favoritnya yang bermain sejak tadi.

Aku bersumpah.. rasanya senyum itu begitu indah.

Wajah merona bercahayanya, bibir pink lembut tipisnya, bulu mata lentiknya.

Tuhan.. ada apa denganku?

Semua tentang Tiffany hari ini begitu sempurna.

Aku benar benar harus berhati-hati. Jika tidak.. hati ini akan mengkhianati akalku.

.

.

.

“Oppa..” aku mengerti maksud panggilannya tadi. Ia mengeratkan gandengannya di lengan kiriku, mencoba terlihat mesra di depan awak media yang meliput kedatangan kami dan beberapa publik figur lainnya.

“Taeny!!! we love you!!” beberapa gadis meneriakan gabungan namaku dan Tiffany begitu keras. Mereka memperlihatkan papan yang sudah dihias seunik mungkin, menunjukan beberapa moment kami yang tertangkap kamera selama hubungan settingan ini dibuat.

Aku dan Tiffany berhenti sejenak untuk melambaikan tangan kami kepada awak media, memberi mereka kesempatan mengabadikan moment manis kami.

Saat aku akan kembali berjalan, seorang gadis dari kumpulan tadi mendatangiku melihat penjaga tak lagi ketak menjaga kami.

“Oppa.. tolong jaga Unnie kami dan terimalah ini!” gadis itu tak sempat menyelesaikan kalimatnya saat beberapa petugas keamanan menghampiriku, yang satu membawa si gadis pergi sedang yang lain mendekatiku.

“Tuan.. kau tidak apa-apa?” pria bertubuh kekar dan besar itu bertanya padaku.

“Kami baik-baik saja. Terimakasih.” Tiffany menjawabnya lalu kami kembali berjalan memasuki gedung.

“Wow.. kau memiliki banyak penggemar. Aku harus berhati-hati sepertinya.” canda Tiffany dengan tawa merdunya sementara aku melihat kembali hadiah yang diberikan oleh fans tadi.

Sebuah buku.

Heumh.. aku akan melihatnya nanti.

.

.

.

“Tiff!” seorang wanita yang begitu cantik menghampiri kami, membuat pasanganku malam ini melepaskan gandengannya dari lenganku. Kehangatan itu seakan hilang saat ia pergi mendekati wanita tadi.

“Unnie!” wanita itu berpelukan dengan Tiffany, melakukan ritual yang biasa gadis-gadis lakukan jika bertemu teman lamanya.

“Tiff.. mengapa kalian tak bergabung di meja kami? Oppa akan sangat senang mendapat teman baru!” wanita itu menarik Tiffany yang tertawa padaku, mengajak kami ke mejanya yang tak terlalu jauh dari tempat kami sekarang.

Disana kulihat ada beberapa aktris, musisi, olahragawan dan pebisnis yang kadang kulihat di layar kaca. Mereka terlihat asik membicarakan sesuatu hingga kami datang, membuat semua mata tertuju pada kami, lebih tepatnya aku.

“Hai Tiff!” Choi Siwon, anggota Super Junior yang juga putra pemilik salah satu pemegang saham terbesar Hyundai Group mendatangi ‘kekasih’-ku, memeluknya ringan. Selanjutnya beberapa orang di meja juga menyapa kami, lebih tepatnya Tiffany karena aku tak terlalu mengenal mereka.

“Guys.. kalian mungkin sudah sering melihatnya di TV. Dia adalah kekasihku.. Kim Taeyeon.” Aku mulai mengenalkan diri pada mereka yang untungnya menerimaku dengan baik.

Setelah perkenalan itu mereka mulai membicarakan hal-hal yang sedang trend di dunia. Aku hanya diam, sesekali ikut berbicara saat Teddy, seorang producer musik dari YG, bertanya padaku tentang hobi barunya, olahraga menembak. Siwon bertanya tentang  pendidikan IT-ku di KAIST yang membuat orang-orang terdiam mendengar ceritaku. Perhatian mereka mulai berpusat padaku.

Orang-orang mulai bertanya hal lain padaku yang untungnya masih bisa kujawab. Sesekali aku mengalihkan pandanganku pada Tiffany yang menatapku dalam diam, terlihat begitu tenang dan menyenangkan mendengarku berbicara. Tawanya hadir sesekali saat Yeu Seul, wanita yang membawa kami kesini, menggodanya tentang hubungan kami. Bisa kulihat rona malu saat Yeu Seul membisikan sesuatu pada Tiffany, membuat tatapan mata kami beradu.

Entah kenapa tiba-tiba bibirku diam. Mata ungu kehitaman itu menatapku berbeda. Meneriakan sesuatu yang harusnya tak muncul diantara kami. Pikiranku berkata untuk mengalihkan tatapan ini tapi hatiku menyangkalnya. Untuk beberapa detik dunia serasa sunyi.  Sekelilingku berubah menjadi abu-abu. Warna itu hanya kulihat dari tubuh Tiffany.

Mata itu menarikku untuk bermain bersamanya, menggoda hatiku yang tak bisa berpaling dengan janjiku pada sahabatku, calon suaminya.

Lagi.. entah mengapa perutku merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya banyak sesuatu yang beterbangan didalamnya. Adrenalinku berpacu menjadi nafsu yang ingin kubunuh secepatnya. Rasanya badan ini begitu bersemangat, aku ingin berlari secepatnya dari situasi ini.

“Aww.. mereka benar-benar dimabuk cinta.” Teddy berbicara, membuatku kembali sadar.

Apa yang baru saja terjadi?

“Tiff.. apa yang kau sukai dari polisi kita ini?” Chang Wook, pria yang melejit lewat drama terbarunya tiba-tiba bersuara membuat orang-orang meminta Tiffany untuk menjawabnya.

“Semuanya.” jawaban itu singkat tapi mengandung banyak makna. Aku masih menatapnya diam meskipun orang-orang menjadi heboh mendengar jawabannya tadi.

“Aww.. manis sekali! bisakah kau menjelaskannya secara detail?” seseorang berbicara lagi membuat ini menjadi panjang.

Heol!

“Aku suka saat dia membuatku begitu nyaman menjadi diriku. Aku suka caranya membuatku tertawa riang saat hariku begitu berat. Aku suka.. semua perhatian yang dia berikan padaku, caranya menjagaku, memanjakanku. Aku suka caranya membuatku cemburu untuk mendapat perhatianku. Aku suka caranya menahan diriku saat aku akan pergi jauh. Aku suka caranya meyakinkan aku saat aku ragu. Aku menyukai semua tentangnya, Kim Taeyeon.” Kalian tak bisa membayangkan betapa ramainya meja kami saat semua itu selesai terucap dari mulut manisnya.

Kutatap kedua bola mata itu, entah mengapa itu terasa jujur dari dalam hatinya.

Pikiran itu begitu mudah kuselami.

Fany-ah.. apa kau sadar dengan yang kau rasakan sekarang?

Ini begitu salah tapi ini juga begitu benar.

Apa yang harus kulakukan?

Kutatap mata itu sekali lagi

satu…

dua…

tiga…

dan ah… sekakmat!

sepertinya hatiku mulai mengalahkan akalku.

.
.
.

“Oppa.. terimakasih.” Tiffany masih memegang tanganku, berdiri di depan unitnya.

Makan malam tadi sungguh sesuatu.

Aku berharap ini semua hanya mimpi.

Apa yang kurasakan hanya sebuah ilusi.

Jika benar.. ini akan menjadi mimpi yang indah untukku.

Setidaknya dalam bunga tidurku aku takkan merasa bersalah karena hatiku ternyata mulai ingin memeluknya.

“Oh ya.. mengapa kau tak masuk dulu? tadi aku lupa tidak memberikanmu barang yang dititipkan Yuri Oppa untukmu.”

Yuri Heuh?

Baiklah.

“Okay..” Ia mulai membuka pintu, membawaku masuk. Lampu secara otomatis menyala dan…

“Oppa?” Yuri menghentikan game yang sedang dimainkannya. Ia menghampiri Tiffany yang menatapnya bingung begitu pun aku.

Apa yang dilakukannya disini?

“Hai Taeng!” dadaku ia tinju ringan sebelum memelukku sebentar lalu beralih memeluk dan mengecup bibir Tiffany ringan.

Hei.. jangan bilang bahwa aku tak menyukainya!

No Kim Taeyeon… No!

“Oppa.. bagaimana kau bisa kesini? bukankah Nozo Group sedang mengawasi kita dengan ketat?” Good Tiffany, aku jadi tidak usah menanyakannya.

“Kau tidak usah khawatir. Aku menggunakan itu.” dengan senyum bodohnya yang terlihat karismatik Yuri menunjuk kostumnya, seorang petugas layanan kebersihan.

“Hahaha.. kau jenius Oppa!” Mood Tiffany sedang bagus. Ia tertawa melepaskan pelukannya lalu berjalan ke dapur.

“Kalian berdua duduklah. Biar aku membuat coklat panas untuk kita. Oh ya Oppa.. aku belum memberikan titipanmu untuk Taeyeon Oppa, barangnya masih ada di kamarku” Tiffany masih membuat minumannya sementara Yuri segera berlari ke kamar dan aku.. aku duduk seperti orang bodoh.

Taeyeon ayo cepat cari alasan agar kau bisa pergi!

No Taeyeon! ganggu mereka berdua agar tak bisa bermesraan.

Hai.. Yuri sahabatmu. Tiffany it’s a no no.

Tiffany mencintaimu.. tak bisakah kau melihat itu?

“Taeng.. hei!” pukulan di bahuku membuatku terbangun dari debat di dalam pikiranku.

“Ini.. aku yakin kau menyukainya.” Yuri memberikan box persegi panjang berukuran sedang. Sedikit berat. Sepertinya ini miniatur Yatch yang kuinginkan sejak beberapa bulan lalu.

Nice catch!

“Not Bad.. Terimakasih Yul”

“Yang kau lakukan untukku lebih dari itu Taeng. Harusnya aku yang berterimakasih padamu.” No.. jangan seperti itu Yul, jangan buat rasa bersalah itu hadir.

“Pantas saja berat, ternyata itu isinya.” Tiffany datang membawa nampan berisi coklat panasnya. Ia memberikan secangkir untuk kami.

“Bagus kan? Taeyeon sudah lama mencari yang seperti ini.” Tiffany mengangguk, menyesap coklat panasnya yang menghangatkan tubuhku. Sesaat dia  menatapku, pandangan kami bertemu tapi terpecah saat Yuri membawa kekasihnya itu untuk duduk di pangkuannya, mendekap Tiffany begitu mesra.

“Taeyeon menyukainya. Tapi.. akan lebih bagus lagi kalau kita berlibur bersama menggunakan Yatch itu di kehidupan nyata.” Tiffany tersenyum kecil menyadari kedua tangan Yuri melingkar di perutnya. Ia mencoba melepaskan tangan itu tapi Yuri menolaknya, malah membawa tangan kiri Tiffany untuk ia genggam.

Eurgh!!!

“Taeng.. maukah kau ikut berlibur dengan kami jika semua ini sudah selesai?”

Dan melihat kalian selalu bermesraan dihadapanku?

Hahaha… Tidak.. Terimakasih.

“Tentu!” inilah manusia, inilah aku.

“Oppa.. bukankah aneh jika nanti hanya kita bertiga yang pergi?” Tiffany terlihat sedikit tidak nyaman saat Yuri mengecup tangannya.

Kedu mata ungu kehitamannya itu  mengatakan maaf dalam diam padaku. Sepertinya ia bisa merasakan ketidaknyamanan yang kurasakan.

“Oh pastinya nanti Taeyeon akan membawa pasangannya. Iya kan Taeng?” Senyuman Yuri begitu misterius. Tunggu.. apa dia sudah tahu tentang aku dan Jessica?

“Kau tidak usah khawatir.. Taeyeon begitu mahir menemukan pasangan hatinya. Mungkin kita saja yang tidak tahu.” Aku menatap Yuri dengan membulatkan kedua mataku, memiringkan kepalaku, terlihat sedikit konyol, pura-pura terlihat terkejut meskipun memang itu kenyataannya.

Yuri tertawa melihat itu tapi tidak dengan Tiffany. Calon istrinya itu terdiam, terlihat memikirkan ucapan calon suaminya tadi.

“Cute!” bibir itu lagi-lagi Yuri kecup tanpa izin pemiliknya. Tiffany terbangun kaget. Ia memukul lengan Yuri yang mendekapnya erat.

Baiklah.. aku pergi!

Hei Kim Taeyeon.. apa kau cemburu?

Ha.. cemburu? tentu saja tidak. Mengapa aku harus cemburu? Yuri dan Tiffany akan segera menikah. Jadi wajar jika merek..

Mengapa kau meracau seperti itu?

Hah.. maksudmu?

Jika kau tak cemburu.. kenapa kau ingin segera pergi?

Hahaha.. tentu karena aku tidak mau mengganggu mereka.

Tidak mau mengganggu mereka atau kau yang tak mau terganggu karena melihat mereka seperti itu?

Eh..

“Omo! Oppa!” Teriakan itu menghentikan kereta pikiranku. Aku hanya diam melihat Tiffany berlari ke tempatku, terlihat khawatir.

Mengapa kau seperti itu?

Apa terjadi sesu..

“Aww…” rasa panas itu seperti menggigit pahaku. Kulihat tumpahan coklat panas menghiasi celana kain hitamku.

“Taeng.. kau baik-baik saja?” Yuri juga ikut menghampiriku sementara Tiffany mulai berlari ke dapur, mengambil sesuatu untuk mendinginkan pahaku.

“Yul.. sepertinya aku harus segera pergi. Fany-ah.. Terimakasih coklat panasnya. Sungguh panas hehehe..” aku meringis dalam tawaku sebelum berlari keluar dari unit Tiffany dengan rasa sakit luar biasa di pahaku.

Oh.. What a Wonderfull Day!

End Of Taeyeon POV

.
.
.
Hari demi hari berlalu.

Taeyeon masih melaksanakan perannya sebagai kekasih Tiffany, bukan hanya ‘kekasih’ yang sudah disetting dari awal sejak masalah dengan Nozo Group muncul.

Hari ini adalah hari terakhir.

“Fany-ah.. bisakah kau menghabiskan hari ini hanya denganku?” Tiffany menghentikan langkahnya.

“Kau serius?” kedua mata itu tersenyum menggoda Taeyeon.

“Ini akan menjadi salah satu hari terbaik di hidupmu.” Tiffany menganggukan kepalanya mengiyakan ajakan Taeyeon yang terlihat begitu percaya diri dengan ucapannya tadi.

“Baiklah.. kalau begitu… ayo kita siap-siap!” Senyum tak meninggalkan keduanya saat Taeyeon menggenggam tangan Tiffany, membawa mereka kembali melakukan jogging yang sempat terhenti.

.
.
.

“Everland?” ini bukan kali pertama Tiffany kesini tapi ini kali pertama seorang pria mengajaknya kesini. Bahkan Yuri belum pernah membawanya kesini. Ia pernah ke taman hiburan kedua  terbesar di Korea Selatan itu bersama beberapa temannya dulu di sekolah menengah pertama.

“Ini adalah tempat yang akan menuliskan kenangan baru untukmu, untuk kita. Aku harap kau menyukainya.” Tiffany menolehkan kepalanya ke samping, menatap pria yang tersenyum begitu lebar menatap pintu masuk.

“Ini bukan sejauh mana atau seindah apa tempat yang kau datangi. Tapi.. dengan siapa kau berada di tempat itu, menghabiskan setiap detikmu yang tak terlupakan bersamanya.” Tiffany tersenyum dalam hatinya melihat Taeyeon kini mulai menatapnya. Senyum yang Taeyeon berikan padanya saat ini, ia belum pernah melihatnya. Senyum itu… tak ada kata yang bisa menggambarkannya karena itu begitu indah.

“Baiklah.. mari kita buat setiap detik menjadi berharga!” genggaman yang Taeyeon berikan pada Tiffany, hanya dengan itu ia tahu bahwa hari ini akan menjadi kenangan yang begitu indah bagi keduanya.

.
.
.

“Untukmu” Taeyeon menyerahkan minuman yang ia beli tadi.

Malam mulai menyapa keduanya.

Seharian ini.. Taeyeon dan Tiffany habiskan dengan bermain, mengambil foto, dan menikmati seluruh fasilitas yang ada.

Waktu hampir menunjukan pukul 9 malam.

“Fany-ah.. aku menepati janjiku kan?” Minuman itu berhenti Tiffany sesap. Ia menoleh ke kanan, menatap Taeyeon yang kembali menyesap kopi hangatnya.

Musim panas memang masih berlangsung, tapi di malam hari, panas itu tak setia menemani.

“Terimakasih Oppa.” Kalian tahu betapa indah senyum bulan sabit Tiffany kan?

“Aku ingin membuat pengakuan.” Angin malam menyapu wajahnya. Taeyeon masih menghadap ke depan, tak menatap Tiffany.

“Omo.. apa aku harus menyiapkan hatiku?” dengan wajah terkejutnya Tiffany tertawa, membuat Taeyeon ikut tertawa bersamanya.

“Mungkin.”

“Hahaa.. baiklah.. ceritakan Oppa.” wajah tampan itu masih Tiffany lihat meskipun sang pemilik tak menatapnya.

Tiffany POV

“Tempat ini memiliki kenangan tersendiri untukku. Disini… hampir setiap tahun, aku dan mendiang kekasihku selalu merayakan hari jadi kami.” Taeyeon Oppa memulai pengakuannya sedangkan aku diam mendengarnya.

Mengapa hatiku sakit seperti ini?

Oh benar.. kau sudah jatuh cinta padanya secara perlahan Tiffany.

“Aku mencintai Jinhee, sangat mencintainya. Hingga hari ini aku belum bisa melupakannya.” kilatan cahaya matanya bisa mengatakan hal itu tanpa harus ia berbicara seperti ini padaku.

“Aku tahu dunia takkan berhenti berputar meski Jinhee meninggal. Aku juga tahu bahwa hidupku tak berhenti disitu.” mendengarnya bercerita seperti ini, adalah hal yang baru.

“Kepergian Jinhee adalah salah satu hal terberat bagiku. Hari itu.. aku sudah menyiapkan lamaranku. Aku sudah berlatih bersama Yuri, takut jika ucapanku malah akan mengacaukan semuanya.” entah kenapa tawanya terasa begitu menyakitkan untukku.

Itu bukan tawa penuh kebahagiaan, tapi sebaliknya.

“Tubuhku lemas saat melihatnya terbaring kaku di sofanya. Rasanya.. kebahagiaanku telah diambil hari itu.” Aku tak tahu bahwa kau pernah merasakan hal ini. Kukira kau cukup kuat untuk menghadapi kepergiannya Oppa.

“Untuk beberapa waktu aku sempat terjatuh dan akhirnya bisa bangkit lagi.” Aku tersenyum meskipun air mataku turun dari tempatnya secara diam-diam.

“Setelah kepergian Jinhee, aku mencoba untuk berkencan dengan beberapa wanita dan.. hingga hari ini tak ada yang bisa menggoncangkan hatiku seperti yang Jinhee lakukan.”

“Aku mengerti Oppa..” ucapku terlihat tegar meskipun hatiku sebenarnya sakit menyadari bahwa ternyata Taeyeon Oppa mungkin tak merasakan apa yang seperti kurasa.

Dia tersenyum kecil padaku, memberikan tanda terimakasihnya.

“Akhir-akhir ini ada seorang wanita yang mengganggu pikiranku. Saat bersamanya, aku bisa merasakan kehadiran Jinhee yang tak pernah kurasaan dengan wanita manapun. Kau tahu.. bersamanya, seperti Jinhee ada disampingku, memberikanku kebahagiaan yang selama ini kukira takkan hadir lagi.”

Dear Heart… kumohon kuatkan hatimu untuk mendengar apapun yang akan Taeyeon Oppa katakan.

Fany-ah.. mengapa kau harus sedih, bukankah kau sudah berjanji bahwa hatimu hanya akan kau berikan pada Yuri?

“Aku mengira aku senang berada di samping wanita itu karena kenangan Jinhee yang ia bawa bersamanya. Aku berpikir aku menyukainya. Aku ingin bersamanya untuk waktu yang lama tapi ini tentu tidak adil bagi wanita itu jika aku bersamanya hanya karena bayang-bayang Jinhee.”

“Maka dalam beberapa waktu aku mencoba meyakinkan perasaanku padanya. Aku mencoba membandingkannya dengan Jinhee dan hasilnya.. harus kuakui, dia adalah wanita ketiga yang berhasil membuatku jatuh cinta padanya selain ibu, Jinhee dan tentu wanita itu sendiri.” Kedua mata Taeyeon Oppa mulai menatapku membuatku bingung. Mengapa ia menceritakan ini semua padaku?

“Jika kau menjadi aku.. apa yang akan kau lakukan jika ia telah memiliki kekasih? Apa aku harus berhenti atau mengejarnya meskipun aku harus merusak kebahagiaan orang lain?” Heumh.. situasi Oppa terdengar begitu rumit, sama sepertiku.

Aku terdiam sebentar memikirkan jawaban untuknya.

Fany-ah.. kau serius akan memberikan jawaban ini?

“Oppa.. jika kau mencintainya.. maka tak ada alasan lain untukmu agar tak mengejarnya.” Taeyeon Oppa tersenyum lega mendengar jawabanku sementara aku.. aku masih berusaha menenangkan hatiku bahwa aku sudah berbuat hal yang benar.

End Of Tiffany POV

“Jadi.. menurutmu aku harus tetap mengatakan ini padanya?”

“Mengutarakan perasaanmu? Tentu.” Tiffany mencoba memberikan senyumnya, berharap itu bisa menenangkan Taeyeon meski hatinya tidak.

“Baiklah..” wajahnya terlihat begitu bersemangat. Ia mengecek lagi jam tangannya dan tersenyum. Tak lama berselang suara ledakan muncul. Keduanya mengalihkan pandangan mereka pada pesta kembang api yang baru saja dimulai. Keduanya terdiam menikmati bermacam warna yang menghiasi langit Gyeonggi saat itu.

“Kau bilang aku harus mengutarakan perasaanku padanya kan?” Tiffany menganggukan kepalanya, masih menikmati ledakan-ledakan penuh euforia di dalamnya, mencoba menyembunyikan kondisi hatinya yang sebenarnya.

“Aku mencintaimu.”

“Hah..”

“Aku mencintaimu Tiffany Hwang.”

==================

============

======

Greget?💃

Iklan

91 pemikiran pada “My Lady (Shoot 3)

  1. Ya ampun….
    Greget banget…
    Sekarang taeyeon yang nggak bisa jaga hatinya..
    Jangan sampe terima ya fany~ah.. bukan hanya yuri nanti yang sakit jessica juga..
    Masalahnya makin complicated…

  2. Asliiii greget ..
    Wah si taeng melanggar janjinya, tp gpplah klo itu bisa buat perasaannya tenang..
    Masa depan siapa yg tau wkwkwk
    Yuri or taeyeon?mumet² dah lu tif ..

    ditunggu lanjutannya thor ..

  3. TAENY KEBAWA BAPERRRR!!!! .. gimna nasin yulsic(?) gua jg kasian sama mereka, apalagi yul yg udh rela berkorban.. nice chap gua kebawa suasan euy:(

  4. Greget banget…. banyak Typo-nya wkwkwk

    Ngga deh bercanda 😂😂😂

    asik ini semua moment pairing ada ya
    Yulti Check
    Taengsic Check
    dan terakhir… Taeny Check😂
    mana yg terakhir itu langsung jedar lagi hahahaa
    Yulsicnya kapan nih😅

    berhubung lo update-nya detail bgt maka gw pun akan melakukan hal sama
    kita bahas dari awal ya
    diawal cerita kita disuguhin moment Yulti yang mengejutkan, manis, hot dan romantis.
    Game kentangnya ituloh, modus bgt 😂.. coba ahhh hahaha
    denger jawaban Yuri ttg hati fany yang kalau berpaling ke org lain, gw rasa kalau kalian beneran cinta sama seseorang maka kalian akan benar” mempertahankannya meskipun ga muna sih ya, jodoh itu di tangan tuhan😂.
    Baca cerita liburannya jadi pengen liburan ke Maldives juga😍

    Pas moment Taengsic, aduh Sica.. kangen!
    kenapa lo cantik bgt sih? jawaban lo juga sama bagusnya lagi kaya si Yuri.
    Ko gw jadi mikir klo taeng itu sebenernya ga layak sama lo.
    Wanita sekeren lo harusnya disatuin sama cowo sekeren Yuri.
    Sorry ya gw ga ngeliat dari fisik, tapi dari cara author kembangin personality mereka di ff ini.
    Di bagian Taeny-nya… heumh gw suka bgt cara author ngegambarin kacaunya hati Taeyeon dengan cara Cool dan ringan, berasa komedi malah gw bacanya apalagi yang pas Tatang ketumpahan coklat panas karna dia ngelamunin Panul😂.
    Entah knp gw dapat nuansa Above The Paper disitu.
    Biasanya kan yang konyol tapi tetap tampan karismatic itu si Yuri😂
    Ah jadi kangen ATP deh. Kangen saltingnya Yuri dan Misteriusnya Sica disitu.
    Ok lanjut. Dan akhirnya Tatang pun jatuh cinta ke Fany.
    gw penasaran sih apa lo bakal bikin Taeny bersatu meskipun rusak kebahagiaan orang atau lo akan bikin mereka pisah karena hubungan mereka itu ga seharusnya terjadi loh😁
    gw rasa mayoritas LS akan dukung taeny, masa bodo dengan hati Yulsic sakit atau ngga.
    Dan.. gw pribadi berharap lo bikin cerita ini lebih realistis.
    Like.. Come On! kalau taeny bersatu, itu mainstream bgt. Kecuali.. kecuali hahahaha.
    tapi gw percaya sih, lo bakal bikin yang menyenangkan untuk semuanya.
    Thanks udah update cepet 😘

  5. what? apa ini kenapa rumit banget gue suka banget saat yul dan fany liburan tempatnya keren.. tapi lebih keren jika taeny yg pergi kesana wkwkw.. gue berharap biarkan yul dan fany bersama jika fany goyah kasian yul nya tapi berhubung ada jessica kenapa tidak yulsic aja peace..

  6. bagus hehee..
    gtw mau komen apa
    udah diborong sama Reader Senyap wkwkkw

    yang pasti sih pengembangan semua unsur di cerita ini bagus. Sukaaa!!!

    saya sih dukung taeny
    cuma egois bgt rasanya hahaaa.
    ingin dikirim pasangan sesempurna Yulsic di FF ini Tuhan!
    saya ga terlalu suka Yulsic tapi saya suka karakter mereka disini, tertindas tersakiti gimana gtu wkwkwkw

    seneng bgt km mutusin kembali nulis walaupun banyak juga curhatan km disini wkwkwkw

    apapun masalah km, semoga Tuhan kasih jalan keluar.
    dan tetap semangat berkarya.
    GBU

  7. Chap terakhirx itu loh bikin greget, ppany juga gak bsa bhongin hatix lw emang dy udah jatuh dlm pesona tae. Cuma dy msh ragu, mnurut aku udah jlas bnget lw ppany udah jatuh cinta ama tae, smakin dy brusaha mnguatkn hatix bhwa dy mncintai yul smakin klihatan bhwa ppany gak bsa nyembunyiin fakta bhwa hatix mmilih tae. Buktix aja ada ssuatu yg mmpu mnggetarkn hatix dan itu hanya tae. Ktika sma yul dy gamang tpi saat sma tae, dy srasa kyk lgi falling in love. Yul ccokx ama sica aja, sma” setia. Tae kn jg gak ada rasa ma sica.
    Udahh itu ajaa kpanjangan nihhhh

  8. Greget banget ini mah
    Nah lo fany bakal ngjawab apa ?
    Ayo tae lanjutkan selama janur kuning belum melengkung, tiffany bukan milik siapa siapa ae walaupun tiffany udah jd calon bini sahabat lu, tpi kan masih calon kita ngga tau apa yang terjadi kedepannya. *cumaadminyangtaukedepannyagimanahahaha*

  9. Tuh kan…kim tayeon kalah
    dengan perasaan nya…
    kecewa deh…
    gimana dengan perasaan sicca coba…
    sicca mungkin selalu bilang tdk apa apa..tp bukan berarti dia baik2 saja..apalgi hatinya
    sicca udh sabar secara tdk langsung dia menunggu taeng bisa menerima dia…ketika udah bisa sma2 muncul begini…apa perlu nyalahin yuri krna yuri yg ngusulin ide ini…apa perasaan taeng yg tdk lagi sama pada tempatnya…ntah lah yg jelas kecewa deh ama taeng…ya meski kemungkinan taengsic bakal seperti semula lagi kyknya tipis deh…
    klo sicca nyerah aq setuju bgt lambat laun mungkin dia bakal lelah apalgi jika dia liat taeny berdua…
    berharap fanny bisa berfikir jernih apalagi dia habis liburan sama yuri…dan semoga pernyataan cinta taeng tidak lbh dr joke semata…

  10. Nah loh…ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk aku yg dilanda cintamu…
    #jdnyenyongnih 😁😄
    Ah yul oppa begitu besarnya hatimu sampai bs bikin fany jatuh cinta lagi😱😘😘
    Sekarang tae yg nggak bs pegang janjinya…
    Buat fany makin bingung dech…
    Reader juga jd bingung..mau yulti,taeny atau taengsic..
    #selamatberbingungria 😄😄

  11. omg ternyata taeng jg mencintai pany jd cintanya pany gx pertepuk sebelah tangan
    tp rintangannya taeny udah punya pasangan masing2 😔
    akankah cintanya taeny bersatu 😣

  12. Terima.
    Terima.
    Terima.
    Terima.
    Terimaaaaaaa…
    Greget…
    Gak tau mau komen apa,, semuanya udah pasa di borong.
    Yg pasti ceritanya keren.
    Gak sabar next chap nya.
    Salam kenal

  13. greget pake banget. ya ampuuuun, ini gimana coba. skarang cinta mereka bersambut. gimana mau mnghindarinya coba? hadeuh, situasinya makin suliiit. mau pinad haluan yuri sama jessica juga gmna. halah pusing qu kalau ikutan mikirin thor. mnding nunggu post an kmu ja. jgn lama2 yah. udah ga sabar nih

  14. Taeyeon akhirnya goyah jga nggak mungkin lah dia bisa nolak pesona seorang tiffany sekarang mereka udah saling ngakuin perasaan masing” tpi gimana dengan yulsic, kya’x untuk bisa membuat taeny bersatu bakalan sulit kasian banget sama yulsic klo taeny akhirnya bersama mana yulsic cinta banget lagi sama taeny tpi meskipun gitu gw tetap berharap endingnya taeny.

  15. Ah moment yulti nya gila romantis bgt lagi😊
    Momemt taengsic nya juga ada.
    Taeng udh ngelangar janjinya ke yuri,tapi hati orang siapa yg taulah yaa.
    Greget bgt dah akhirnya kira” jwaban fany apa? gua harap sih fany terima cinta tae 😁 yaa walaupun mreka taeny nyakitin perasaan yulsic jufa pda akhirnya

  16. waw.. Waw.. Daebak lah thor, sweet si yulti, TaeNy juga jadi inget adegan di bbf pas junpyo kasih surprise ke jan Di ake kembang api segala ,romantis. Tpi disini kasihan si njess harus merasa sakit karna cinta nya ke Tae 😭😭😭

  17. Ini ceritanya tiffany yuri, taeyeon jessica, taeyeon tiffany?
    Eh belum baca yg sebelumnya juga sih hee
    Oh iya salam kenal:)
    Maklum baru tau dan hal baru juga 😀

  18. Sorry baru komen~~~
    Kasian jessica 😦 sampai sekarang pun cinta nya belum terbalas, masa taeng tega buat hianitin sica???
    Aduhhh yuri sweet banget sihhh, coba punya pacar yang sweet kek yuri di dunia nyata. Seneng banget deh wkwk
    Haduuuhhh taeee jatuh cinta lagi sm tiffany… tiffany makin sulit memilih ini u,u
    Yuri udh rela lohhh melakukan apapun demi tiffany.

    Aku berharap yang terbaik aja buat hubungan yulti❤

    Ditunggu update selanjutnya… yang semangat yaakkk… 🙆🙆🙆 lope your story so muchh

  19. greget bgd lah pokoknya…
    jd pengen gigit author nya*ehhhh
    hahahaha
    hayoloh ppany pasti kaget bukan main deh tuh pas taeng ngaku perasaan nya…
    aduuuuhhhh ntar yulsic gimance dong……
    mskpun gw seneng(?) taeny saling cinta,,tp cinta nya mreka bakal melukai banyak pihak….
    huft

  20. Sumpah sedih_😢😢 gak kebayang sakitnya tae kaya apa ^^.. Ternyata cinta mrk berkembang dgn sendirinya,, aq harap mrk bisa bersatu .. Disitu lah tae yg sllu membentengin hatinya kini ambruk gitu aja hanya dgn beberapa minggu ,, kibarkan bendera LS😍😍😍😍😍😍

  21. waduhh kasian yuri dong nnti..
    rumit bgt ya..
    udah bisa ketebak sih tae psti
    jtuh cinta sm fany..
    jessi jg nnti gmn yah.. kasian.. apa nnti jessi ma yuri?

  22. Astaga Thor bikin nyesek ngeliat tae😢😢😢 bisakah mrk bersatu? Klo emang sangat sulit buat mrk bersatu ,, setidaknya jgn ada yg terlaku Gitu

  23. Whooo. . . Wooo . . . Wooooww. . . .
    gue harap panny tidak salah memilih..

    My Tae loe sedang bermain api…
    dan Yul loe yg nyalain api..

    gue sii TaeNy, tapi skali2 YulTi juga bole laa
    kesian si Yul dia uda berusahaa dan uda ngerencanain sejau ini,
    dan kita lihat apa yg akan terjadi, YulTi or TaeNy..
    kesian si Sica disana dia tidak ada temen nya..

  24. greget banget ini huaaa buruan risma di update haha..omg plis fany terima taeng kalian saling mencintai walaupun ini jahat tapi gmn dund udah klop banget nie taeny masa bodo dgn yulsic udah baper banget nie risma..jgn bilang taeng cuma ungkapin perasaaan na aj ga niat buat bersatu sama fany plis risma jadikan first happy ending taeny d ff series kamu jebal…
    jgn langsung end ya risma banyakin sweet taeny dulu stlah resmi menyandang pasangan real kekasih amin

  25. pastilh krn fany udh ykin n nata hatiny hny utk yuri eh tiba2 skrg tae mlh ungkpin hatiny…..tae…tae…
    lht bgmn yuri btp cintany am fany, sm jg jessica yg sgt bijaksana akn trm skp tae…
    jgn lm2 updateny y…^^

  26. Maaf ya thor gw sebagai readers ga profesional bgt baca ff u,masih kesel saat bacanya
    Taeng yg janji ga bakal jatuh cinta m fany huhhh makan tuh janji grrrr 😈😬

  27. hehee,, LS nya banya yg minta taeny,,disini amp ada yg bilang biarin aja yulsic nangis 😀
    mksh thor ris, mataku seger baca ini liat pemandangan laut jd kangen liburan bwah laut. critanya bkin gemes bin greget bnget itu pasti
    hihi,, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s