My Lady (Shoot 2)

mine

Sebelumnya di My Lady (Shoot 1)

“Oke.. let’s say jiwa dan ragaku selamat selama aku bersamamu tapi bagaimana bila hatiku tidak?” Taeyeon Oppa menatapku dalam diam, seperti berusaha mencerna apa yang baru saja kuucapkan padanya.

“Aku bingung Oppa.. aku takut..” ucapku kembali membuatnya terdiam, terlihat berpikir dengan apa yang akan ia katakan.

“Fany-ah.. apa kau mencintai Yuri?” Aku dengan cepat menganggukan kepalaku.

“Apa kau pikir aku mau melakukan semua ini jika aku tidak mencintainya Oppa?” Aku menatapnya kesal dan tak percaya.

“Lalu mengapa kau masih meragukan hatimu?” Damn! Mengapa kau pintar bermain kata?

“Aku.. aku.. aku tak tahu Oppa..” Bodoh! Kau jelas sekali tahu Tiffany Hwang!

“Okay.. aku mengerti..”Dia segera menyimpan kopinya, menarik tubuhku semakin dekat dengannya.

“Kau harus melatih hatimu untuk tetap bersama Yul meskipun aku melakukan ini..” Detik berikutnya bisa kurasakan bibir lembutnya itu menyapu milikku yang tak membalasnya meskipun bagian lain diriku ingin melakukan hal itu. Ia melepaskan kecupan itu dan tersenyum begitu manis padaku dengan wajah kekanakannya.

“Karena hanya Kwon Yuri.. pemilik hatimu dan aku.. akan memastikan itu” ucapnya penuh dengan keyakinan tapi tidak denganku.

Bagaimana bisa kau seyakin itu jika yang kau lakukan adalah sebaliknya?

============

=======

===

=======

============

My Lady (Shoot 2)

images (14)

“Sayang.. kau ada jadwal bersama Taeyeon hari ini?” Tiffany memeriksa jadwal di agendanya sementara sang kekasih masih menunggunya dengan sabar. Ini adalah minggu ke sekian kalinya Yuri tak berjumpa dengan calon istrinya itu. Tentu rindu sudah memuncak di hatinya. Ia berharap malam ini bisa menjadi ‘quality time’ mereka.

“Kurasa tidak, ada apa Oppa?” agenda itu Tiffany tutup kembali, memusatkan perhatiannya pada prianya yang terdengar begitu bersemangat dan senang bisa berbicara dengannya.

“Aku ingin bertemu..” Entah mengapa bertemu dengan calon suaminya kini menjadi sebuah beban bagi Tiffany. Rasanya ia belum siap untuk bertatap muka lagi dengan prianya itu, apalagi setelah pengakuan yang ia buat pada Taeyeon beberapa waktu yang lalu.

“Euhm.. Oppa..” Nada bicara Tiffany terdengar ragu tapi Yuri tahu bahwa calon istrinya itu ingin berkata sesuatu.

“Ada apa My Lady?” nama panggilan itu.. entah mengapa hanya Taeyeon yang terasa pas untuk memanggilnya seperti itu.

“Jangan panggil aku itu Oppa..” Tiffany merajuk dalam ucapnya membuat Yuri tertawa, terhibur dengan protes yang diutarakan wanitanya itu.

“Aigoo.. baiklah wife. Kau tidak akan menolak yang ini kan?”

Deug!

Pertanyaan Yuri tadi bagaikan panah yang tepat menembus titik utama kesadaran Tiffany bahwa ia sekarang sedang berbicara dengan calon suaminya, pria yang seharusnya menjadi prioritas utama di hatinya, bukan seseorang yang ingin ia hindari.

“Sayang.. kau baik-baik saja?” Kepala Tiffany rasanya pusing. Puluhan palu serasa memukulnya bersamaan. Badannya entah mengapa terasa menggigil diiringi suara-suara ambigu yang mengambangkan hatinya.

Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Kim Taeyeon

Kwon Yuri

Kim Tae…

“Arghh.. please stop!” Tiffany memegang erat kepalanya sementara sambungan telpon di earphone-nya masih menyala.

“Fany-ah..” suara yang rendah dan berat sang kekasih sedikit mengalihkan perhatian Tiffany dari rasa sakitnya tadi.

“Oppa.. aku tidak enak badan. Kepalaku pusing sekali, bisakah kita bertemu nanti saja?” Tiffany memijat pelan bagian kepala di samping atas pelipis matanya. Rasa pusing itu semakin memuncak.

Sudah beberapa hari ini wanita bermarga Hwang itu tak bisa tidur, mungkin hanya 1-3 jam, itupun karena ia meminum pil tidur. Belum lagi dengan nafsu makannya yang menurun, ia hanya menyantap sandwich di pagi hari dan selanjutnya Arabica menjadi teman setianya selama beberapa hari ini.

Jika Yuri tahu tentang kebiasaan barunya meminum Arabica, Tiffany bisa mendapat ceramah yang panjang mengingat calon suaminya itu sangat menjaga pola hidupnya.

“Okay.. aku akan menemuimu di apartem..” ucapan itu terpotong saat Tiffany berbicara dengan suaranya yang terdengar kesakitan.

“Oppa.. bisakah kita bertemu nanti saja? aku ingin beristirahat dengan penuh.” Suara Tiffany memang tak berbohong. Wanita bermarga Hwang itu terdengar begitu lemas, seakan semua energinya akan hilang dalam seketika.

“Tapi Sayang..” tak disangkal lagi, Yuri keberatan dengan ide calon istrinya itu. Ia ingin sekali bertemu dengan kekasihnya itu, melabuhkan rindunya setelah beberapa minggu mereka tak bertemu karena kesibukannya di luar Korea Selatan.

“Kumohon Oppa.. jika kau khawatir aku sendiri, tidak perlu. Taeyeon Oppa akan menemaniku.” Mendengar itu, Yuri tahu bahwa apa yang diinginkan tunangannya itu tak bisa diubah dan ia harus menurutinya.

“Okay.. beristirahatlah. Aku mencintaimu” Yuri terdengar begitu berat untuk mengakhiri pembicaraan mereka sementara Tiffany sebaliknya, ia ingin segera ini berakhir.

“Terimakasih Oppa. Aku juga mencintai..mu” Tiffany memutus sambungan teleponnya, menjatuhkan kepalanya ke tumpukan berkas-berkas yang berserakan di mejanya.

“Tuhan.. Tolong Aku!” Tiffany berucap lemah menenggelamkan kepalanya ke tumpukan berkas-berkasnya sementara tanpa ia sadari sejak tadi seseorang sedang memperhatikan gerak-geriknya.

==== My Lady ====

Tiffany POV

Tuhan!

Apa yang sedang kulakukan?

Aku tercengang melihat posisiku dengan pria yang masih mendekapku dalam pelukannya.

Sejak kapan kami ada dalam posisi ini?

Flashback

“Oppa…” Tiffany memanggil lemah pria yang masih berdiri di luar ruangan kerjanya,  masih sibuk membaca sesuatu di Smartphone-nya. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam dan Tiffany baru saja keluar dari ruangannya, berjalan menghampiri sang ‘kekasih’ yang setiap hari selalu setia menunggunya pulang, sesuai dengan job desk-nya sebagai pelindung Tiffany.

“Hai.. kau terlihat pucat?” pernyataan itu terasa seperti pertanyaan. Taeyeon segera mendekati Tiffany yang berjalan pelan padanya.

“Kau sakit?” Tiffany menggelengkan kepalanya, mencoba menenangkan wajah khawatir yang Taeyeon berikan padanya.

“No.. kau tidak baik-baik saja. Aku akan menelpon Yuri untuk..” Tiffany mengeratkan pegangannya di lengan Taeyeon tak setuju dengan ide pria yang perlahan mulai menggerayangi hatinya.

“Why?” Tiffany hanya memberikan senyum kecilnya yang pucat berusaha membawa Taeyeon untuk berjalan dengannya keluar gedung kantor, menuju mobil mereka.

.

.

.

“Oppa.. bisakah kau menemaniku malam ini?” Taeyeon sudah menyalakan mesin mobilnya, bersiap memulai perjalanan pulang mereka.

“Tentu, seperti biasanya kan?” Sejak menjalankan tugasnya sebagai pelindung Tiffany, Taeyeon tinggal di apartement sebelah wanita bermarga Hwang itu agar bisa memberikan perlindungan yang maksimal.

Belum lagi dengan fakta bahwa beberapa orang suruhan Nozo Group memantau keseharian Tiffany dan Taeyeon. Maka dari itu jika Tiffany meminta Taeyeon untuk menemaninya, biasanya ia akan dengan mudah kembali ke unitnya karena unit apartement mereka yg bersebelahan.

“Tidak.. kau bermalam di unitku.” Tiffany memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa sakit dan pusing di kepalanya. Tubuhnya terasa begitu sakit, mungkin karena kurangnya tidur dan angin malam yang menjajah tubuhnya, membuatnya lemah seperti ini.

“Apa? Bagaimana dengan Yur..” Bukan ingin Tiffany untuk memotong ucapan Taeyeon dan yang lainnya hari ini tapi rasanya semua orang terlalu banyak bicara, membuat pusing di kepalanya semakin bertambah.

“Aku sudah bilang pada Yuri Oppa bahwa kau yang akan merawatku malam ini.” Mata itu masih Tiffany pejamkan, rasanya kepalanya akan pecah. Performanya di kantor hari ini sangat buruk, tidak seproduktif biasanya. Tiffany harus segera menyembuhkan penyakit sulit tidurnya jika ia tak mau hari-harinya seperti sekarang.

.

.

.

“Makanlah.. ini akan mengurangi sakit kepalamu.” Taeyeon membawa sup hangat untuk Tiffany yang terbaring lemas di ranjangnya.

“Heumh.. terimakasih..” aroma sup itu begitu menggoda, sama seperti orang yang membuatnya. Perlahan sup itu Tiffany nikmati. Taeyeon duduk disamping tunangan sahabatnya itu dalam diam, mengamati wanita yang begitu menikmati masakannya.

“Mengapa kau melihatku seperti itu?” pengamatan itu tertunda karena Tiffany kini menatap Taeyeon penasaran, masih dengan sendok di mulutnya, terlihat begitu cute bagi siapapun yang melihatnya meskipun wajah pucat itu masih menjadi tema riasan Tiffany saat ini.

“Kau menyukai masakanku.” Ada beberapa butir nasi di bibir Tiffany. Taeyeon berinisiatif mengambil butiran nasi itu tanpa meminta izin pada pemiliknya.

“Oppa..” Taeyeon tersenyum dalam tawanya melihat wajah tak bisa berkata-kata Tiffany. Ia memakan butiran-butiran nasi di tangannya yang ia ambil dari wanita yang terlihat malu dengan aksinya tadi.

“Kenapa? kau seperti anak kecil Nyonya Kwon” ada perubahan ekspresi dari wajah Tiffany saat Taeyeon menyebutkan kata terakhir dari kalimatnya. Wanita bermarga Hwang itu terlihat kembali pucat dengan berbagai beban pikiran yang mulai menghantuinya lagi.

“Hei.. kau bisa menceritakan semuanya padaku.” Taeyeon tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran putri kesayangan Craig Hwang itu. Tiffany yang ia lihat beberapa hari ini, bukan Tiffany biasa. Kekasih sahabatnya itu terlihat stress dan kurang tidur meskipun make up berhasil sedikitnya menutupi hal itu.

“Oppa.. maafkan aku..” wajah cantik nan jelita itu bertambah muram. Taeyeon mengangkat dagu Tiffany yang tak ingin bertemu dengannya.

“Fany-ah.. it’s okay. It’s okay not to be okay.” Kedua mata ungu kehitaman itu kali ini mau menatapnya, mulai berbicara dalam diamnya, berusaha menelanjangi Taeyeon dengan pikiran di dalamnya.

“Oppa.. tolong aku” Tangan itu begitu dingin menggenggam milik Taeyeon yang menerimanya penuh kehangatan. Ekspresi wajah Tiffany saat ini, terlihat begitu bingung dalam kerapuhan yang membayanginya membuat Taeyeon ingin menghapus apapun yang menjadi masalah wanita yang sudah begitu dekat dengannya, terlalu dekat malah.

“Bicaralah. Apapun itu, aku akan berusaha membantumu sekuat dan sebisaku. Kau adalah wanita yang begitu berharga untuk sahabatku, saudaraku.”

Bagian terakhir dari kalimatmu.. itu bagian yang buruk Kim Taeyeon 😅

“Oppa.. bantu aku meyakinkan sesuatu dalam hatiku.” Sepertinya Taeyeon tahu kemana arah pembicaraan mereka.

“Apa yang harus aku lakukan?”Tiffany terlihat ragu untuk mengutarakan maksud hatinya. Melihat itu, Taeyeon mengeratkan tangan yang menggenggamnya sejak tadi. Ia berusaha memberikan dorongan dan dukungan agar Tiffany mau mengutarakan niatnya.

“Untuk 1 bulan kedepan dimulai dari besok, jadilah kekasihku” Tawa itu hadir tapi tak bisa menutupi rasa gugup yang sebenarnya begitu kuat dirasakan Taeyeon.

“Bukankah itu yang selama ini kita lakukan?” Tak ada beban dalam nada bicara Taeyeon, berbeda dengan milik Tiffany.

“Selama ini kita hanya bersandiwara. Tapi yang aku minta padamu adalah nyata. Aku ingin kau menjadi priaku yang sesungguhnya, bukan berakting hanya ingin melindungiku karena aku adalah wanita yang begitu berharga untuk sahabatmu.” semua itu keluar penuh dengan tekad dari mulut Tiffany. Tak ada kata mundur dari niatannya tadi.

“Kau yakin?” wajah Taeyeon yang santai tadi kini perlahan menjadi serius, mengimbangi milik Tiffany yang menatapnya sungguh-sungguh.

“Aku yakin.” Kedua mata mereka kini saling pandang, terikat dalam kesunyian yang menenangkan keduanya meskipun hati mereka tidak.

“Apa kau siap dengan semua konsekuensinya?” Melihat interaksi Taeyeon dan Tiffany saat ini, mereka terlihat seperti seorang ayah yang mewawancara calon menantunya.

“Aku siap bahkan jika diakhir aku… aku ternyata mencintaimu Oppa.” rasa bersalah itu seketika menjalar ke pikiran Tiffany jika ia mengingat bahwa Yuri adalah calon suaminya. Tapi jika ia masih terkungkung dalam sangkar pikirannya yang itu maka kegilaannya yang sudah dialaminya selama beberapa hari ini takkan pernah berakhir.

Tiffany harus keluar dari zona amannya jika ingin mendapatkan keajaiban dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Yuri bagai sebuah mahkota cantik dan menggoda yang disimpan dalam kotak akrilik bening dimana Tiffany sudah bisa melihat keindahan, kenikmatan dan berbagai kemudahan yang akan diterimanya sedangkan Taeyeon… pria itu bagai mahkota yang disimpan dalam kotak misteri tak terkendali, membuat siapapun pasti tergoda untuk menelusuri dan mencari tahu isi kotak itu yang sebenarnya.

“Aku siap dan kau bisa memegang kata-kataku ini.” Api semangat, tekad dan ketetapan hati yang tergambar dari kata-kata, ekspresi wajah dan gestur tubuh Tiffany membuat Taeyeon tersenyum sendu dalam hatinya. Semua itu begitu Taeyeon rindukan dari seseorang yang takkan pernah ada lagi untuknya, sesuatu yang begitu berharga yang pergi terlalu cepat dengan alasan yang begitu menyakitkan dan tak bisa diterima oleh akalnya.

“Jika kau sudah siap dengan semua konsekuensinya… baiklah. Aku tidak akan pernah bisa menolak wanita secantik dirimu.” Dan Tiffany tahu bagian baru dalam hidupnya akan dimulai besok saat Taeyeon memberikan senyum tampan penuh percaya dirinya mengecup Tiffany di dahinya.

End Of Flashback

 

 

Mendadak semua yang terjadi tadi malam bermain bagai kaset rusak di kotak ingatanku. Aku terdiam mencoba memahami bagaimana aku bisa seberani itu mengambil keputusan yang akan benar-benar mengubah hidupku bahkan yang lainnya juga bila aku ternyata benar menyukai.. No! mencintai Taeyeon Oppa.

“Fany-ah… ada apa?” Taeyeon Oppa kembali memeriksa suhu tubuhku dengan menempelkan telapak tangannya di keningku, membuyarkan kereta pikiranku tadi.

Ia sedikit merangkak dari posisinya sekarang lalu beranjak keluar dari selimut ranjangku, tempatnya tadi berada di sampingku. Aku masih terdiam memandanginya yang menatapku penasaran terbalut terhibur di dalamnya melihatku seperti ini padanya.

“Kau sudah sembuh” aku mengecek suhu tubuhku sendiri. Memang benar, suhu tubuhku tak setinggi kemarin dan sakit kepalaku sedikit berkurang.

“Berbaringlah.. aku akan menyiapkan sarapan kita dan kita akan menyantapnya disini.” Aku tak menolak dorongan yang Taeyeon Oppa berikan padaku. Pria bermarga Kim itu menjatuhkan tubuhku pelan, berada di atasku dengan senyum polosnya yang nakal tapi menggemaskan.  Aku kembali menutup mataku menikmati kecupan yang dia berikan di pipi kananku sebelum beranjak menyiapkan sarapan kami pagi ini.

==== My Lady ====

“Kau ingin kita melakukan apa hari ini?” Tiffany masih memeriksa sesuatu di Macbook-nya sementara Taeyeon sudah terlihat rapi dengan kemeja putih dan celana kain skinny cream-nya.

“Aku ingin kencan yang klasik.”

Occhiali-Vintage-by-Doubleice-01-601x300

Kacamata itu Tiffany lepas dari tempatnya bersandar tadi. Ia sedikit memijat hidungnya, merasa sedikit pegal dengan bingkai kacamata kerjanya.

“Klasik?”

“Euheuh. Pergi ke taman, menikmati makan siang dari bekal yang kita buat, menikmati angin sore sambil bersepeda di Sungai Han, menonton film di bioskop dan menikmati jajanan malam yang sudah lama kurindukan.” kilat semangat dan wajah penuh mimpi indah itu membuat Taeyeon tertawa kecil dalam sendunya, teringat sesuatu yang selamanya takkan pernah ia lupa.

Flashback

“Jinhee-ah.. Selamat Sayang” Taeyeon tersenyum begitu bangga dan puas memeluk sang kekasih yang menenggelamkan dirinya di pelukannya. Jinhee hari ini memenangkan kasus lagi dan Taeyeon begitu bahagia melihat kekasihnya itu sangat gigih memperjuangkan hak orang-orang yang sudah sepatutnya memperoleh keadilan.

“Taeyeon-ah terimakasih. Jika kau tak mendukungku, mungkin aku takkan seperti sekarang.” Taeyeon mengiyakan ucapan wanita yang masih begitu betah dalam pelukannya. Ia tersenyum mengelus puncak kepala sang kekasih yang selalu memberikan kehangatan dan kenyamanan saat tubuh mereka berdekatan seperti ini.

“Sebagai ucapan terimakasihmu aku ingin besok kau menghabiskan waktumu denganku. Hanya untukku.. Kim Taeyeon seorang!” ucapan Taeyeon terdengar memaksa tapi Jinhee tak mempersalahkannya. Wanita berparas cantik nan simple itu melepaskan pelukan prianya, mengamati wajah sang kekasih yang setiap hari bukan terlihat tua tapi sebaliknya. Senyum itu dengan alami tergambar di wajah Jinhee. Memiliki Kim Taeyeon sebagai seorang kekasih adalah berkah terbesar dalam hidupnya. Pria yang sejak dulu secara diam-diam menjadi pengagum rahasianya itu begitu pengertian dan sangat mendukung karirnya sebagai pengacara yang membela kaum miskin secara terang-terangan meskipun ia tahu resiko dari karir yang dipilihnya itu tinggi tapi Jinhee tak bisa mengabaikan panggilan hatinya untuk melakukan ini.

Kim Taeyeon..

Bagi Jinhee prianya itu adalah definisi kesempurnaan dari seorang pria.

Dia cerdas, manis, lucu, humoris, pengertian, perhatian, supportif, tampan dan tentunya possesive. Sifat terakhir yang disebutkan mungkin terkesan negatif tapi bagi Jinhee sebaliknya. Possesive-nya Taeyeon lebih terasa positif, karena itu berarti prianya itu begitu mencintainya hingga sifat itu muncul.

“Baiklah besok kita akan pergi berkencan. Dan aku hanya milikmu.. Kim Taeyeon seorang!” Jinhee kini berdiri ke samping kanan Taeyeon, menggandeng prianya itu untuk mendekap dirinya seperti biasa, dalam tawa bahagianya melihat tingkah khas kekasihnya yang begitu menyayanginya. Mereka mulai berjalan menuju mobil Taeyeon yang terparkir tak terlalu jauh.

“Kencan seperti apa?” ini bukan kencan pertama mereka tapi biasanya Jinhee selalu memberikan tema untuk kencan mereka dimana itu menambah keseruan dan semangat dari  acara mereka.

Jinhee.. kekasihnya itu.. ia begitu kreatif dan Taeyeon tak pernah meminta lebih dari wanitanya itu. Baginya Jinhee sudah luar biasa, lebih dari cukup.

“Klasik. Aku ingin kencan yang klasik” wajah Jinhee terlihat membayangkan kencan mereka nanti sedangkan Taeyeon menatap wanita di sampingnya itu heran sebelum akhirnya ikut tersenyum bersama sang kekasih yang terlihat bahagia dengan idenya itu.

TBI STILL_(80)

Jinhee

“Kencan Klasik, heumh.. boleh juga.” Jinhee terlihat semakin bersemangat mendengar Taeyeon yang memuji idenya. Ia mengeratkan gandengannya, menyenderkan kepalanya di lengan kanan prianya yang tersenyum seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta setiap kali Jinhee begitu padanya.

“Tentu! Kita bisa pergi ke taman, menikmati makan siang dari bekal yang aku buat, menikmati angin sore sambil bersepeda di Sungai Han, menonton film di bioskop dan menikmati jajanan ringan di pasar malam yang kau sukai.” Jinhee menghentikan langkahnya, mengalihkan pandangannya ke Taeyeon yang tersenyum mengecup bibir wanitanya itu ringan tapi tetap memberikan ledakan luar biasa di hati keduanya.

End Of Flashback

 

“Oppa.. kau tak menyukainya?” Taeyeon yang tadi terjebak dalam nostalgianya menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil mencoba menghapus kesedihan dan kerinduan itu dari dirinya.

“Aku menyukainya.” Senyum itu kembali menghiasi wajah Tiffany yang tak menyadari lamunan ‘kekasih’nya. Ia segera beranjak dari kursinya, membawa Taeyeon untuk menyiapkan kencan mereka hari ini.

.

.

.

“Wah.. ini sempurna!” Mata Tiffany bersinar penuh semangat dan bahagia melihat beberapa makanan yang sudah tersedia di hadapannya. Taeyeon masih membuka bekal lain dari keranjang piknik mereka. Ia tahu kekasih sahabatnya itu mempunyai selera makan yang cukup besar untuk tubuh langsingnya.

“Mari makan! Terimakasih Oppa”

images (2)

senyum bulan sabit itu memberikan efek tersendiri bagi Taeyeon yang terhenyak melihatnya sementara Tiffany begitu serius menikmati ‘surga’ yang Taeyeon sediakan untuknya.

Tiffany POV

“Oppa.. mengapa kau tidak memakannya?” Taeyeon Oppa menggelengkan kepalanya pelan tak memutuskan pandangan kami membuatku sedikit gugup melihatnya.

“Melihatmu makan, aku sudah kenyang.” Entah ini hanya perasaanku atau tidak, tapi Taeyeon Oppa hari ini terlihat berbeda.

Senyum tampan nakalnya itu tak lagi muncul sejak aku memintanya untuk melakukan kencan hari ini.

Wajahnya terlihat sedikit sedih dan ada kerinduan yang terasa saat ia tersenyum menatapku.

Apa yang sebenarnya terjadi?

“Jika kau ingin membantuku untuk menjadi kekasihku, kau harus makan.” Oppa tersenyum menutup rapat mulutnya. Ia tersenyum begitu manis menggelengkan kepalanya.

Taeyeon Oppa.. mengapa kau begitu menggemaskan hari ini?

Kau membuatku mengingat Yuri Oppa 😌

Heol Tiffany.. kau benar-benar membuat dirimu sulit sepertinya 😣

“Baiklah… aku terima tantanganmu!” aku tahu dia ingin bermain sesuatu denganku.

Aku baru tahu kau bisa kekanakan seperti ini😄

“Aish…” aku mendesah kesal karena untuk kesekian kalinya Taeyeon Oppa berhasil menangkis seranganku untuk memasukan kimbap ini ke mulutnya.

“Kau akan kalah!” Taeyeon Oppa masih menggelengkan kepalanya, menjulurkan lidahnya padaku, menggodaku yang semakin tertantang dibuatnya.

Ok it’s ON!

“Ahh..” Aku menjatuhkan diriku saat tubuh ini akan mengejarnya. Taeyeon Oppa segera berlari menghampiriku. Ia membawaku dalam pelukannya, melihatku penuh dengan kekhawatiran seakan aku akan menghilang darinya untuk selamanya.

Hap!

“Got you!” Aku tertawa melihat mulutnya penuh dengan kimbap yang tadi berhasil kusuapkan ke mulutnya. Wajah tak bisa berkata-katanya begitu lucu dan menggemaskan 😁😄.

.

.

.

“Oppa…” aku masih mengayuh pedal sepeda sementara pria di belakangku masih diam menikmati angin yang menyapu wajah tampannya yang terlihat begitu tenang.

“Taeyeon Oppa!” teriakku membuatnya tersadar dan mengeratkan pelukannya di perutku.

Heol! dia sungguh sesuatu hari ini😌.

Kau kenapa Oppa?

“Aku lelah. Ganti.” aku menghentikan sepeda kami, turun dari kursi pengemudi sementara ia masih duduk manis di kursi penumpangnya.

“Lemakmu masih belum sepenuhnya terbakar Nona Hwang. Kau menghabiskan ribuan kalori tadi.” aku mengharapkan senyum seringai itu menghiasi wajahnya tapi tidak.

Wajah tampan nan manisnya itu malah menatapku lembut, malah membuatku merasa bertambah gugup.

Sungguh… ada apa sebenarnya dengan Taeyeon Oppa hari ini?

“Tapi Oppa.. aku lelah. Kakiku capek mengayuh dari tadi.” Tawa itu keluar dari mulutnya. Bibirnya melengkungkan senyum terhangat yang pernah kulihat. Entah mengapa melihat wajah terhiburnya membuatku ikut dalam tawa berbalut senyumnya yang kini menjadi adiksi mungkin bagiku.

“Baiklah. Lebih baik kita jalan kaki.” Tangan itu menggenggam miliku yang belum siap menerimanya.

“My Lady…” panggilan itu bergaung begitu indah di telingaku. Rasanya Taeyeon Oppa hanya menatapku sendiri di dunia ini dengan tatapan lembut dan hangatnya, memberikanku kenyamanan di dalamnya.

“Genggam tanganku. Berjalanlah bersamaku Sayang..”

Deug Deug… Deug Deug.. Deug Deug…

Kata terakhir yang Taeyeon Oppa katakan padaku…

Tuhan.. ini bukan kali pertama dia memanggilku seperti ini tapi mengapa tadi terasa berbeda.

Kata sayang darinya tadi terasa begitu nyata seakan hanya aku yang mendapatkan itu.

Jantungku berdetak lebih kencang saat ia menarik tubuhku untuk bersender di lengan kanannya, mendekap tubuhku begitu hangat dan menyenangkan.

End Of Tiffany POV

.

.

.

“Kau yakin ingin menonton ini?” Taeyeon menunjuk tiket yang baru saja mereka beli lengkap dengan makanan dan minuman yang tentu saja banyak Tiffany pesan untuk mereka, lebih tepatnya untuk dirinya😂.

“Tentu! Jessi bilang film ini seru dan aku pasti akan menikmatinya” Taeyeon tersenyum kecil mendengar nama yang disebutkan tadi. Rasa bersalah itu mulai muncul tapi kembali ia kesampingkan.

Ini bukan saat yang tepat untuk merasakan hal itu.

Sekarang yang ada di hadapannya adalah Tiffany dan ia ingin fokus pada kekasih sahabatnya itu yang mulai bimbang akan perasaannya.

“Baiklah.. lead the way My Lady” Tiffany tersenyum melihat tingkah ‘kekasih’ sekaligus pelindungnya yang begitu gentle dan cute baginya.

.

.

.

“Arghh” Taeyeon harus sedikit menutup telinganya mendengar teriakan wanita di sampingnya yang terlihat ketakutan melihat scene yang bermain di layar lebar.

“Pakailah” Earphone itu Taeyeon pasangkan ke telinga Tiffany yang menatapnya heran, masih dengan wajah pucat dan ketakutannya membuat pria bermarga Kim itu khawatir tapi ingin tertawa melihatnya.

Jessica.. Taeyeon harus berbicara dengan wanita itu nanti.

“Better?” Tiffany menganggukan kepalanya mulai menikmati alunan lagu yang menutupi sound effect dari film yang mereka tonton.

“Yang membuat film horor menjadi menyeramkan sebenarnya adalah efek suaranya yang menciptakan sugesti penuh ketakutan bagi penontonnya. Jadi.. jika kau takut.. pakailah ini.” Lagi hanya anggukan yang Taeyeon terima dari wanita di sampingnya. Ia menggelengkan kepalanya sebelum memberikan smartphonenya, membiarkan Tiffany memilih lagu yang ada di playlistnya, playlist Jinhee lebih tepatnya.

Flashback

“Mengapa kau hanya mendengarkan lagu seperti ini?” Taeyeon melepas earphonenya, menatap kekasihnya itu heran. Alis kanannya terangkat melihat sang kekasih memasukan jack earphone ke smartphonenya.

“Kau harus mendengarkan ini. Ini akan selalu mengingatkanmu padaku.”

unnamed

Jinhee💓💙💚

“Tercermin di mataku tatapan matamu. Kau tersenyum di balik wajah canggungmu itu begitu manis, aku tidak bisa menahannya. Bertemu denganmu seperti keajaiban bagiku.” Kata-kata itu terlontar begitu manis dari mulut Jinhee membuat Taeyeon tak bisa menahan senyum lebarnya. 
Aku terbiasa sendirian, hari-hariku kelabu. Tapi aku ingat hari dimana kau datang padaku, mengetuk pintu hatiku. Kau bersinar padaku seperti cahaya. Membangunkanku dari kegelapan. Membuka pintu hatiku yang tertutup. Saat aku bersamamu, rasanya seperti aku bermimpi sepanjang hari. Aku begitu bahagia..” Kini giliran Jinhee yang terdiam dalam senyumnya mendengar sang kekasih membalas rangkaian katanya.

Hal-hal yang tidak berarti, sehari-hari, sekarang seperti baru seolah-olah aku telah melihat dunia untuk pertama kalinya. Aku terkejut setiap hari karena kau mendatangkan hal baru yang begitu menyenangkan.”Rangkaian kata itu kembali Taeyeon bagi dengan wanita yang selalu berhasil mengalihkan dunianya bahkan tanpa usaha apapun.

Cukup dengan Jinhee diam dalam lamunannya, dunia Taeyeon sudah teralihkan dengan sendirinya. Apalagi sekarang, saat senyum bulan sabit itu menghiasi wajahnya. Menjadi alasan senyum itu hadir adalah salah satu kebahagian tersendiri.

Bahkan pada hari turun hujan, kau menerangkan hatiku. Saat aku melihatmu, aku hanya dipenuhi olehmu. Hanya melihatmu membuat kegembiraan menyebar di hatiku. Kau satu-satunya yang bisa membuatku tersenyum seperti ini” seakan tahu apa yang dipikirkan kekasihnya, Jinhee mengucapkan itu dengan suara termerdunya, masih tersenyum manis pada prianya yang menatapnya begitu dalam.
“Kau adalah cahayaku, aku tidak bisa menyembunyikannya. Saat kita bersama, rasanya seperti hatiku menari. Aku sangat berterima kasih. Cintamu seperti mimpi dimana aku tak ingin terbangun meski pagi menawarkan surga yang hanya ingin kubagi denganmu.” kalimat puitis nan romantis itu berakhir di Taeyeon yang menutup ungkapan hati mereka dengan kecupan yang manis di kening Jinhee yang tersenyum begitu puas dengan kencan mereka hari ini. 
Sore itu mereka habiskan dengan bersantai ria di taman, ditemani alunan musik indah dan pemandangan cantik tak terlupakan tentunya dengan memori yang takkan habis dimakan waktu.
 End Of Flashback
“Lagunya bagus. Aku menyukainya. Seleramu bagus Oppa” Taeyeon tak mengucapkan apapun. Ia hanya menggenggam tangan Tiffany yang bersender di lengan kanannya.
‘Kau memang yang terbaik Jinhee-ah..’ hati Taeyeon membuat monolog di dalamnya meskipun ia masih bersama Tiffany tapi memori bersama Jinhee selalu mendatanginya.
Tiffany bukan wanita pertama yang Taeyeon kencani selama beberapa tahun ini setelah kepergian Jinhee tapi wanita bermarga Hwang itu entah mengapa selalu membangkitkan memori Jinhee yang berharga untuknya.
Secara fisik, tak ada kemiripan dari keduanya. Tapi secara sikap ada beberapa hal yang sama.
Determinasi dan semangat kerja yang tinggi adalah salah satu hal yang sama. Dedikasi Tiffany pada pekerjaannya sama seperti Jinhee yang akhirnya harus pergi lebih cepat karena hal itu.
Berada di dekat Tiffany adalah kebahagian dan kesedihan bagi Taeyeon.
Ia bahagia karena saat ia bersama Tiffany, Taeyeon bisa merasakan kehadiran Jinhee bersamanya. Tapi disatu sisi hatinya begitu sedih karena ia tahu Jinhee takkan pernah hadir lagi disampingnya, hanya memori yang menjadi penghubung mereka, media dimana Taeyeon bisa menyalurkan seluruh kerinduannya pada wanita yang masih kuat bertengger di hatinya.
.
.
.
“Kau mau lagi Oppa?” Taeyeon menggelengkan kepalanya, masih mengunyah kue beras yang tadi Tiffany berikan padanya.
Mereka kini sedang menikmati makanan yang Tiffany borong dari pasar malam.
Ada kue beras yang begitu pedas, kue beras yang manis, odeng, mandu dan tak lupa es krim kesukaan Taeyeon.
“Aku tak tahu bagaimana bisa badanmu masih selangsing itu.” pukulan itu Taeyeon terima di lengannya, tertawa melihat pipi gembul Tiffany yang masih semangat melahap hasil buruannya di pasar malam tadi.
“Karena itulah Gym dan berbagai aktivitas di dalamnya diciptakan.” Balas Tiffany yang tak mau kalah, sebal melihat pria di sampingnya itu mulai menggodanya.
Beberapa menit berlalu dan kini makanan mulai habis, lebih tepatnya Tiffany yang menghabiskannya. Keduanya sejak tadi memandangi langit yang begitu bersahabat, menunjukan jutaan bintang yang akan mempesona siapapun yang melihatnya.
Tak salah jika Taeyeon membawa mobil kesayangannya untuk acara hari ini.
images (6)
“Oppa.. jika kau harus memilih antara dua orang yang ternyata kau cintai.. apa yang akan kau lakukan?” Mood sedikit berubah. Taeyeon terlihat berpikir keras meskipun ia tahu jawabannya.
“Aku akan mengikuti kata hatiku. Karena diri kita.. hanya kita sendiri yang tahu bagaimana nyatanya. Kau bisa berkata bahwa kau adalah wanita paling tangguh di dunia ini tapi kau takkan bisa membohongi hati kecilmu. Jadi jika aku ada di posisimu.. aku akan jujur dengan diriku dan hatiku.” tangan itu Taeyeon elus sementara pemiliknya masih terdiam memikirkan kata-katanya tadi.
==== My Lady ====
“Sayang.. kau masih ada di kantor?” suara berat dan dalam itu kembali menghubunginya. Tiffany beranjak dari kursinya, berjalan menuju dapur mini yang terletak di ruangannya. Ia mengambil susu strawberry dingin yang bisa membuatnya santai.
3  minggu sudah berlalu sejak kencan klasik Taeyeon dan Tiffany terjadi. Sejak itu hubungan keduanya menjadi semakin dekat, layaknya kedua insan yang dimabuk asmara, lebih tepatnya Tiffany karena Taeyeon masih mengatur intensitas hubungan mereka meskipun Tiffany tak menyadarinya.
“Aku masih di kantor. Sepertinya aku akan memanggil layanan pesan antar saja.” Terdengar lantunan musik Jazz di tempat Yuri berada. Sepertinya calon suaminya itu sedang makan siang bersama beberapa koleganya karena perbincangan bisnis masih terdengar.
“Memang Taeyeon kemana? bukankah dia yang seharusnya menemanimu?”
“Oppa ada perlu. Ia harus menemui temannya dari LA yang sedang berkunjung ke Seoul.” Yuri teringat percakapannya dengan Taeyeon beberapa hari lalu. Sahabatnya itu akan bertemu dengan informan Nozo group yang kini mulai memperlambat permainan mereka dalam mengejar Yuri dan orang-orang yang berharga untuknya.
“Okay. Kalau begitu biar aku yang memesankan makan siangmu. Kau istirahat saja dan tunggu makananmu tersaji di kantormu.” Tiffany tahu calon suaminya sibuk, ia tak ingin merepotkan Yuri yang begitu perhatian padanya. Terlebih ia tak mau rasa bersalah itu menggunung membebani hatinya yang goyah untuk Taeyeon.
“Oppa..”
“Sayang.. tidak ada kata tidak. Aku mengkhawatirkanmu. Aku ingin selalu berada di sampingmu. Setidaknya biarkan aku melakukan ini untuk menyalurkan rinduku padamu.” Tiffany mendesah pelan mengetahui bahwa keputusan Yuri tak bisa diubah lagi.
“Baiklah, tambahkan es krim kesukaanku.”
“Okay.. pesanan Anda siap diantar Nona Hwang!” Yuri berbicara menirukan suara operator salah satu restoran cepat favorit kekasihnya membuat tawa itu hadir dari wanita yang sudah cukup lama tak dikunjunginya.
.
.
.
“Nona.. Pesanan makan siang Anda sudah datang.”
“Baiklah. Masukan ketagihanku, nanti aku akan mengambilnya.” Chaeyeong mengiyakan perintah bosnya itu.
.
.
.
“Nona Hwang.. ini pesanan Anda.” seorang pria berseragam salah satu restoran cepat saji menghentikan Tiffany yang sedang membaca sesuatu di layar komputernya.
“Oh.. terimakasih sudah mengantarkannya kesini.” Kurir itu tersenyum saat Tiffany menghampirinya, mengambil pesanannya yang cukup banyak untuk satu orang.
“Eh.. kenapa kau masih disini?” Tiffany yang sedari tadi sibuk mengecek makan siangnya baru sadar bahwa kurir itu masih berdiri menatapnya.
“Kau belum membayarnya Nona.” suara kurir itu terdengar aneh. Seketika rasa takut itu muncul mengingat tentang Nozo Group yang pernah diceritakan oleh Taeyeon padanya.
‘Apa mungkin dia..’ Tiffany menghapus kecurigaannya itu, berjalan mengambil telponnya menghubungi asisten pribadinya tapi itu tertahan saat pria misterius itu mengambil telponnya dengan paksa.
“Aku ingin bayaran yang lain Nona..” Senyum seringai itu mulai menakutkan. Tiffany berusaha lari tapi pria itu menghadangnya. Tiffany berlari ke mejanya, mengambil senjata api genggam jenis revolver kaliber 22 yang Taeyeon berikan padanya.
“Apa maumu?” Tiffany menodongkan senjata pada pria yang malah semakin mendekat , menutup jarak diantara mereka.
===========================
==================
========== 

Hai💊💉👼

Bagian Selanjutnya akan di Up dalam waktu dekat

Selamat membaca dan Terimakasih.

Iklan

72 pemikiran pada “My Lady (Shoot 2)

  1. first comment kah? hahaaa

    hai, salam hangat dari pembaca senyap hehehe

    gpp kan?

    Wah.. ini full taeny ya? locksmith serasa diulangtahunin wkwkwkw

    ok lanjut ke ceritanya.
    Menurut pengamatan Reader Senyap, kayanya cerita ini semakin complicated😂
    si fany beneran cinta sama taeyeon kayanya.
    Tapi kasian Yuri.
    Asli.
    gw salah satu yang dukung Yulti berakhir bahagia disini wkwkwkw
    berasa ngenes aja kalau si Yuri ditinggalin Fany yg hatinya udah berpaling sama sahabatnya si Tatang😂
    Ya meskipun kita juga gtw sebenernya si Yul selingkuh juga apa ngga.
    Atau lo mau jadiin hal itu plot twist ya? wkwkw
    Eh sica disini jadi apa sih? perasaan dia jarang nongol
    tadi ada nongol tapi namanya aja wkwkww
    dari roman”nya.. disini Sica jadi pacarnya Taeng ya? wkwkww
    Si Tatang hebat, udah Jinhee, Fany, Sica pula hahahaha

    Nah yang jadi pertanyaan gw, apakah hati Taeyeon beneran kegoda sama si fany?
    atau tatang cuma kebayang” sama si pacarnya yg udah meninggal? secara tuhkan tadi diceritain kalau ada beberapa kemiripan fany sama Jinhee

    eh btw.. cakep ya si Jinhee wkwkwkw
    pantes si Tatang ga bisa lupa.
    Han Hyo Joo.. yeeeee
    gw nonton Drama barunya, W
    lo juga harus nonton, bagus tuh
    siapa tau bisa buat refrensi ff selanjutnya?😂

    Thanks udah update dan Salam Senyap😘

    • yap first komen hehee

      meskipun km senyap, aku suka hahaha

      iya lagi suka han hyo joo
      aku juga nonton ko yg W
      ada kepikiran sih pgn bikin ff dari situ tapi takut ga selesai hahaa

      pertanyaan km ttg ff ini akan terjawab di next chap yaaa

  2. Gue lupa ini yang mana kekeke, kayaknya harus baca lagi deh part 1 nya. Tapi tapi… Thor jahara banget kalo sampe nyakitin yuri ya ampun 😂😂

  3. “Genggam tanganku. Berjalanlah bersamaku Sayang..”mantap kata” taeng yg bikin hati fany tmbah gmn, bnr kt taeng, ikuti kata hatimu fany, klo trnyata cinta sm taeng bilang aja, siapa yg gak mau dperlakukan manis sm tae sih, walo hati nya tae sbnrnya msh terluka dtinggal Jinhee tuk selama nya, mgkn dgn hadirnya fany bs ngobatin luka hatinya tae, *berharap* yuri suruh aja cari yg lain gitu thor hehehe

  4. First off all gatau kenapa aku baca cm feelnya ga dpt hehe.
    Aku ga suka tiffany disini, kenapa gitu mau ketemu yuri aja susah pdhal udh jarang ketemu.. padahal yuri perhatian bgt sm dia.. kenapa tiff hrs ngelakuin itu minta tae buat jd pacarnya buat realized her feelings, but why? Jujur aku taeny shipper cuma di sini taeny moment nya too much haha
    dan tiffany please sadar taeyeon tuh cuma mikir lu sebagai bayang2nya jinhee.
    Akhirnya kayaknya saya mengerti apa yang akan terjadii..
    Next Chap kayak ny seru bgt deh wkwkw
    Haha maaf ya komen nya ga enakin. But saya prefer yulti for this fic.
    Keep update yakk, waiting for your update yak 😀

  5. Anjirr fany plinplan disini dia bingung sama perasaanya sendiri
    Nah pertanyaan gue taeyeon ini beneran tergoda sama fany ? Atau Ingat si mantan yang punya kemiripan sama fany ? Jd Taeyeon nerima fany ?

  6. komplik nya ini terjebak dua hati..mungkin ku kira taeyeon tidak mencintai tiffany untuk sekarang karna mungkintaeyeon masih mencintai jinhee ,gimana kalo tiffamy tau tentang jinhee apa yg akan terjadi?

  7. cinta datang karena terbiasa..itu yg fanny rasakan ke taeng krna sudah terbiasa dan selalu bersama taeng maka tumbuh lah rasa yg berbeda…
    bisa jd taeng hanya menghargai pengakuan atas perasaan fanny terhadap nya maka dia ayo aja ketika fany mengatakan ingin menjadi kekasihnya.di sisi lain jinhee masih menempati ruang di hati taeng di sisi lain juga dia begitu menghormati yuri sebagai sahabatnya..dan tdk tau jelas posisi apa jesica di hati nya hati taeng maksudnya.

    ada sedikit kekhawatiran kalo nantinya taeng jg akan merasakan hal yg sama seperti fanny kepadanya.tidak kah ini menyakitkan bwt yuri.yuri selalu menurut akan semua yg tiffany mau asal fanny bahagia..apa kali ini jg dia juga akan nurut jika yuri tau kalau fanny mulai mencintai taeyeon.melepas fanny untuk taeng..lbh tepatnya untuk kebahagian fanny..biarlah yg nulis saja yg nentuin
    hahaaaa…..

    fanny kenapa2 atau di culik mungkin…bisa jd sblom di culik taeng keburu dateng..dan klopun sampe di culik berharap sih yuri yg nyelametin fanny…biar fanny tau klo yuri itu sayang sekali sama dia dan rela melakukan apa saja untuk dia bahkan nyawa…

    oke ditunggu kelanjutan nya….
    heeheheeeh….

  8. tbc sllu jd pengganggu…. lg seru jg thor bc nya…. ending nya taeny aja ya thor jangan yulti 😊😊#ngintipin taeny lg honeymoon ke LA 😍😍

  9. Nih cerita ff feel nya dpt bgt ampe baper gua baca nih ff gimana bingung nya pany sama perasaan nya sendiri antara sih tatang sama yuri?? tapi kira-kira tatang beneran suka gak ya sama pany? moga aja iya😊 tapi gimana ama sica? ahh entah lah itu urusan sih tatang 😂😂
    Tapi yg penting taeny bersatu😂😂 hehe

  10. waah, makin complicated aja nih. tiffany beneran jtuh cinta ama taeyeon deh itu. kliatan bgt. cma dia masih ragu aja. trus si yul gmna dunk. aku kok ngerasa ada ssuatu yah dibalik ini semua. yuri kya nyembunyiin ssuatu. ada hubungannya dgn jessica kah? penasaran bgt. lnjut aja deh!!

  11. Taeng masih terbayang akn sosok jinhee,,magkenye masi ttp jarak ama ppany,,sdgkn ppany ntahlah mulai berdebar utk taeng tp masih sempet mikir yul jg..,
    hmm tuh kurir dah pasti bkn suruan nya yul tuh,,ayo supertaeng selamat kan lady mu*plakkk

  12. Hai q new reader kyakny salam kenal ni taeny yaa hhh bkin baper krn loskmsith sih q pst taeny tp mgikut yg bkin ff j.. Mksih ff ny thor sehat bahagia sukses sll 😀

  13. gue gk tau apa sebelumnya ada fic ato ini new fic, tapi yg pzt gue suka

    “Apa kau siap dengan semua konsekuensinya?”
    gue seneng pas tae ngomong ini,, dia akan menerima segala resiko yg akan terjadi setelah sebulan uda berlalu, dan siap menghadang apapun yg akan terjadi bersama panny, dan yaahh dia hanya mengatakan itu karena dia mengingatkan panny akan jinhee.

    /tapi sini jinhee gue gk tau uda mati ato putus ato apalahh/

    yg pasti disisi yuri akan sakit jika panny beneran fallin’love with tae. dan panny gk tau apa tae memiliki prasaan yg sama atoo yaa itu si jinhee itu..

    pekerjaan panny apa sii pake bodyguard segala,, dan siapa itu nozo group?
    complicateddd lahhh

  14. tembak aja tuh orang pany mencurigakan sekali, taeng ke mana sih kok bisa lengah
    apa pany bener2 suka ama taeng atau cuman pelarian atas gx adanya yul
    taeng gx tertarikkah ama pany jd teringat terus ama mantan

  15. Anyeong thor^^ maqykim ijin , baca kelanjutan ff favorite Maqy,, apa kbrnya… Lama saja tak nengok hum nya Thor😊
    Siapa pun dia ,, gak akan bisa menemukan atau menggantikan posisi jinhae di hati tae.. Mungkin bagi tae pany kemiripan dr jinhae tidak menempatkan di hati tae tp Thor.. Maunya pany dgn tae sih😐.. Huff 😧 apa pun itu ,,, keputusan author lah yg mutlak happy end nya dgn siapa ^^.. Gomawo bthor

  16. Hampir lupa sama cerita sebelumnya, tp keinget lg pas baca prolog chap 1 nya kkkk…
    hubungan taenyyul ini rumit banget tp gw berharap ini bakalan dijadiin taeny sih, kalo yul mah kasih si jenong ajalah daripada fany sama yul tapi gak bahagia dikejar2 terus sama nozo grup itu. Mending sama taeng aja, lagian kayaknya secara hati mereka udah saling suka tuh hehehe…. #ngarep
    Itu siapa lg penjahit yg mau nyelakain fany hadeeh…..lg tegang2nya malahan tbc. Next ajalah^^

  17. hai hai hai mian baru muncul hhe
    sukaaaaa banget bnyk taeny moment na manis haha…aku selalu suka karakter fany yg agresif,,ehm cocok banget kmu pilih cast hyo joo cantik barusan tadi aku nonton running man yg guestna hyo joo haha
    tadi baca kue mandu jadi inget hyo joo d drama briliant legacy haha..
    ada apa dengan taeng ya plis dund jangan inget jinhee lagi dan kok kencan klasikna fany bisa sama gtu ma jinhee apa fany prnh baca gtu jurnalna taeng??semakin mengarang deh aku piss..
    sedikit kasihan sama yuri krna prlakuan fany yg udh berminggu2 ga ketemu,,yul ga curiga gtu risma??
    jgn lagsg end ya risma plisss

  18. uhmmm.. semakin dekat dengan peperangan.. wkwkwkwk… bagian atas tulisannya rapi tapi bagian bawah ada yang salah dengan jarak antar paragraf.. kayaknya beda pengaturan waktu nulis draft d word ya.. perasaan tiffany dalem banget ya.. kalo taeyeon sendiri gimana?? hmm..

    • asik dibaca sama master-nim ceritanya. Dapet review singkat pula😄. Harus sujud syukur ini kekekekeke. kalau yg pertanyaan terakhir udah di jawab di shoot 3 nya ka. Dan ya.. aku nulis ff skrg ga di word lagi, laptopku rusak beberapa bulan lalu. alhasil ngedit seadanya di wp. Ada sih WPS office di hp tapi ga nyaman pakenya. Jadi sebenernya.. untuk update cerita itu.. butuh perjuangan😌. Mulai dari yg udah ngetik beribu kata trus lupa ga kesave, koneksi internet lemot, si wordpressnya ga bisa kebuka, dan hati aku yg kadang nolak untuk nulis lagi😅.
      Btw.. glad see u here

  19. Haiiiiiii author kesayangan 😘🙌
    Seperti biasa ga terlalu suka ama orang yg sepertinya kepincut ama yg lain karna gw tipe orang yg suka main cast yg dr awal udah di plot jd sepasang kekasih tp tiba2 malah selingkuh huhuhu
    Pliss gw komen kaya gini jangan terlalu diambil hati atopun dianggap ngebash ff u ya.gw cuma komen pa yg da di uneg2 gw aja kaya lagi nonton sinetron trus kesel ama salah satu pemain dr sana tp selebihnya gw suka bgt ama ff u.
    Ihhh qo jinhee cantik dah,gw jadi suka ama dy 😊
    Btw gw penasaran nih ama peran sica disini,gw ga pernah liat dy nongol n yoong kayanya juga ga ada 😩

  20. gw bru baca thor.. ya ampun gw br liat trnyta lnjutan & ff bru loe ada di bawah smua..
    gw klw buka wp loe kagak prnh scroll ke bawah..
    gw ktggalan bnyk thor.. haha..
    duh tiffany msih lnjut ya bermain api nya.. hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s