Then.. There Is You Part II (Final)

IMG_7727

Note:         1. Seperti biasa, focus pada keterangan waktu

  1. Anggap bahwa LGBT bukanlah hal yang tabu lagi di Korea Selatan.
  2. Setelah membaca ini berpotensi terbawa nostalgia atau terbawa perasaan.
  3. Baca dengan santai, pahami, cermati dan ambil nilai positifnya, negatifnya buang.
  4. It must be healing time ^_^   semoga bisa jadi bacaan yang bermanfaat.
  5. Jika konten di dalam cerita ini dianggap baik mohon disebarkan kepada yang lain.
  6. Dimohon focus pada esensi cerita bukan hanya pairingnya (Taeny)

 

*Play List:

                  Over and over again – Nathan Sykes feat Ariana Grande

                   Be Alright – Justin Bieber

                   UR – Taeyeon

                   Moonlight Chemistry – Jeff Bernat

                   Better With You – This Wild Life

                                                                            


=====

==========

================

=====================

 

 

Seoul, Desember 2005

“Fany-ah.. tetaplah bersamaku” Tiffany perlahan mendekati Grey. Ia mengamati pria itu lebih dekat, memicingkan kedua matanya, curiga dan merasa ada yang aneh dengan pria di hadapannya.

“Tetaplah bersamaku.. jadi teman hidupku…” Pria bernama Grey itu membuka topengnya, tersenyum begitu tampan pada Tiffany yang hanya terdiam terkejut tak tahu harus berkata apa.

“Kau?” entah apa yang harus Tiffany rasakan sekarang.

Terkejut.. iya

Bahagia.. mungkin

Sedih.. iya

Marah.. tentu

“Ya.. ini aku, kembali untuk menjemputmu.” Taeyeon tersenyum meskipun ia tahu wanita di hadapannya itu terlihat marah sekali padanya. Ia berjalan mendekati Tiffany yang masih diam di tempatnya, terlihat masih bermain dengan pikiran di dalamnya.

“Fany-ah..” kelembutan suara itu kembali menyapa Tiffany yang tak ingin mempercayai apa yang ada di hadapannya.

“Maafkan aku.. aku harus pergi” Taeyeon tak sempat untuk mencegahnya karena wanita yang sudah cukup lama mengisi hatinya itu bergegas pergi tanpa mendengarkan apa yang selama ini ingin dikatakannya.

“Kau.. tidak pernah berubah..” Taeyeon tertawa kecil melihat wanita yang sudah menghilang dari pandangannya, bersiap melaksanakan rencana lain untuk mendapatkan pendamping hidupnya itu.

 

2 minggu kemudian…

“Unnie.. ini sudah waktunya pulang..” Seohyun mengingatkan Tiffany yang terlihat masih serius mengolah data-data untuk laporan keuangan yang diminta oleh Tuan Lee.

“Aku akan pulang setelah menyelesaikan ini semua Seohyun-ah. Kau pulang duluan saja..” Tiffany mendongak menatap gadis yang begitu perhatian padanya sejak ia bergabung di perusahaan ini, seperti seorang adik yang tak pernah ia miliki.

“Baiklah.. tapi jangan lupakan makan malammu, kau bisa sekurus Sooyoung Unnie jika seperti ini terus.” Tiffany tertawa kecil mendengar celotehan gadis yang sudah terlihat siap untuk pulang dengan busana musim dinginnya yang indah dan elegan, bagaikan seorang Lady pada umumnya.

“Tentu. Aku tidak akan melewatkan makan malamku, lagipula masih banyak yang akan lembur hari ini.” Seohyun melihat ke direksi pandangan Tiffany, ada beberapa orang yang lembur juga sepertinya.

“Okay.. aku pulang duluan. Good Luck Unnie..” Seohyun memberikan semangatnya pada Tiffany yang mengiyakan dan berterimakasih dengan hal kecil yang dilakukan oleh rekan kerjanya itu.

30 menit

1 jam

2 jam

“Ahh.. tinggal sedikit lagi, ayo bersemangatlah Fany-ah..” Rasanya punggungnya sudah akan patah. 2 jam sudah berlalu dan laporan ini masih belum selesai juga. Banyak data yang tidak valid, berantakan dan membutuhkan investigasi lebih jauh karena beberapa department tidak mengelola dana yang telah diberikan dengan baik. Banyak pengeluaran tanpa keterangan yang jelas, dengan bukti fisik yang minim.

“Beristirahat dan makanlah..” entah sejak kapan Taeyeon sudah berada di ruangannya. Wanita yang baru ia lihat sejak pesta 2 minggu yang lalu itu duduk di sampingnya, membukakan beberapa makanan yang menjadi favorit Tiffany. Kue beras, Belut teriyaki, jajangmyeon, air mineral dan strawberry smothies yang menjadi penaik nafsu makannya sudah siap tersaji di mejanya, terimakasih kepada Kim Taeyeon yang dengan cekatan menyiapkannya, tak perduli dengan penolakan yang Tiffany berikan padanya.

“Makanlah.. kita bisa membicarakan semuanya nanti, setelah perutmu terisi. Orang lapar cenderung tidak bisa berpikir rasional, lebih sensitive dan emosional..” Tiffany akan mengajukan protesnya saat sebuah kue beras yang masih hangat masuk ke mulutnya.

“Kau menyukainya? I’ll take that as a yes..” Tiffany berpikir tak ada gunanya memberikan penolakan. Ia mengunyah benda kenyal di mulutnya itu pelan, mengamati Taeyeon yang ikut memakan kue beras yang dibawanya.

‘Bagaimana kau bisa setenang itu? ckckckc..’ batin Tiffany berbicara melihat wanita yang masih begitu tenang menikmati makan malam mereka.

Pegawai lain sudah pulang menyisakan hanya Tiffany dan Taeyeon di ruangan yang begitu luas dan nyaman.

“Aku yakin kau menyukai in..” Tiffany mengambil olahan belut itu dari sumpit Taeyeon yang terdiam kemudian malah tertawa dalam hatinya melihat tingkah wanita yang hampir menjadi calon istrinya itu. Tadinya ia akan menyuapi Tiffany tapi wanita itu segera menolaknya.

Untuk beberapa saat mereka hanya menikmati semua makanan lezat itu dalam diam hingga akhirnya habis tak bersisa, well tadi siang Tiffany hanya memakan sepotong sandwich dan segelas kopi untuk tetap membuatnya focus mengerjakan semua tugasnya yang semakin hari semakin banyak sejak ia diundang ke pesta itu, pesta yang mempertemukannya dengan wanita yang masih begitu tak bisa ia definisikan keberadaannya di dalam hidupnya.

“Terimakasih atas makanannya” meskipun ia sebenarnya malas berbicara dengan Taeyeon, tapi Tiffany tahu bagaimana seharusnya ia menghargai apa yang sudah Taeyeon berikan padanya.

“Sama-sama. Lebih baik kau sekarang bersiap-siap pulang. Aku akan mengantarmu.” Merasa sudah lelah dan tahu bagaimana watak Taeyeon yang keras kepala, Tiffany menganggukan kepalanya lemah, membereskan beberapa file dan mematikan komputernya. Tiffany mencari tasnya saat Taeyeon menyentuh bahunya, menunjuk tas yang sudah ada di genggamannya. Tiffany hanya diam lalu mulai memakai Burberry coat coklatnya. Mereka berdua berjalan bersama-sama keluar dari kompleks perkantoran elit itu, berjalan menuju mobil Taeyeon yang sudah terparkir dengan cantik di luar lobi.

“Tunggu.. biar aku yang membukakan pintunya.” Taeyeon mencegah Tiffany yang akan membuka pintu mobilnya, sedikit berlari membuka pintu mobil kesayangannya untuk wanita spesialnya yang tak memberikan respon apapun padanya.

“Bolehkah aku membawamu ke dekat sungai Han?” Tiffany hanya menganggukan kepalanya, mengetahui apa yang akan mereka lakukan disana.

The Talk..

Ya.. mereka harus membicarakan hal yang belum selesai 1 tahun yang lalu meskipun keduanya tak memiliki ikatan apapun.

Tapi dengan lamaran yang Taeyeon ajukan 1 tahun yang lalu, tentu sangat jelas bahwa wanita bermarga Kim itu menyimpan rasa pada Tiffany yang jika harus jujur mungkin takkan menolak pinangan Taeyeon jika ia tidak terikat dengan masa lalunya yang memilukan baginya.

Mungkin bagi sebagian orang, apalah arti sebuah keperawanan.

Apalagi di zaman modern dan terpengaruh globalisasi ini, keperawanan adalah sesuatu yang tak bernilai. Tapi tidak bagi orang-orang seperti Taeyeon dan Tiffany yang masih memegang prinsip bahwa keperawanan adalah sesuatu yang hanya diberikan pada seseorang yang benar-benar mereka cintai, tentu saat sudah sah menjadi pasangan hidup, disaksikan Tuhan dalam damai-Nya.

“Ini.. pesananmu..” Taeyeon memberikan coklat hangat pada Tiffany yang berterimakasih menganggukan kepalanya, tak menatap wajahnya. Sebelum mencapai tujuan mereka, Taeyeon berinisiatif membeli minuman hangat dan snack ringan untuk mereka ke kedai kopi langganannya.

“Apa yang akan kita bicarakan.. oh maksudku, apa yang ingin kau bicarakan?” Tiffany mengoreksi kalimatnya, memberikan penekanan di akhir, seakan menyindir Taeyeon secara tidak langsung yang membuat senyum itu terlukis di wajahnya saat mendengarnya.

“Aku ingin memberikan penjelasan padamu mengapa aku pergi selama setahun ini.” Tidak ada rasa gugup yang terlihat saat Taeyeon mengucapkan hal itu.

“Baiklah..” meskipun ia merasa sudah masa bodoh dengan alasan mengapa Taeyeon pergi darinya selama setahun kemarin, tapi sisi lain dalam dirinya tak bisa berbohong bahwa ia ingin mendengar alasan itu dari Taeyeon sendiri, bukan spekulasi yang selama ini yang selalu bermain di otaknya, membuat kelelahan itu menjadi teman hidupnya.

“Setelah mengetahui pengakuanmu tentang masa lalumu… harus aku akui, aku kaget. Tapi bukan hal itu yang membuatku pergi dan menjauh darimu.” Taeyeon menyesap kopinya, menikmati kehangatan yang mengalir ke mulutnya.

“Aku menyadari bahwa aku masih belum pantas menjadi pendampingmu saat aku tahu tentang masa lalumu. Aku masih belum bisa sekuat dirimu dalam menghadapi masalah yang begitu menyiksa dan mungkin menghantuimu hingga hari ini.” Alasan ini bukanlah sesuatu yang Tiffany bayangkan dalam pikirannya. Ia menatap Taeyeon masih dengan kebingungan yang terlihat jelas bermain di wajahnya.

“Hampir selama satu tahun ini aku berkonsultasi dengan seorang dokter, dia seorang psikiater, menyiapkan diriku untuk bisa menjadi tangguh untukmu dan keluarga kita nanti. Aku melatih diriku untuk bisa menjadi yang kau andalkan, tempat sandaranmu selain Tuhan tentunya.” Asap putih itu keluar dari mulut Taeyeon, menunjukan dinginnya suhu malam ini, tapi tidak dengan hatinya.

“Aku tahu aku terlihat seperti pecundang karena tidak membicarakan ini semua denganmu terlebih dulu.” Tangan itu mulai Taeyeon genggam, lembut dan ringan, tidak menyakiti pemiliknya.

“Fany-ah.. aku meminta maaf padamu. Aku meminta maaf karena telah membuatmu berpikir bahwa aku pergi menjauh darimu karena aku tidak bisa menerima masa lalumu. Tapi bukan itu.. demi Tuhan bukan itu alasannya.” Tiffany masih terdiam menatap wanita yang terlihat begitu menyesal padanya, mata hitam kecoklatannya itu menceritakan semuanya.

“Jika masa lalumu yang membuatku pergi darimu, aku tidak akan ada disini hari ini, bersamamu, mengucapkan ini semua padamu. Kau melihatku sebagai wanita sempurna yang tak pantas bagimu tapi sebenarnya aku tidak seperti itu. Banyak hal yang mungkin akan membuatmu merubah pandanganmu jika kau sudah mengenalku lebih jauh. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini Fany-ah, tapi kesempurnaan itu hendaknya kita cari meskipun pada akhirnya tak kita dapatkan seperti yang kita inginkan.” Dibalik rasa sesal itu terselip senyum penuh ketenangan dan menghangatkan jiwa saat Tiffany melihatnya.

“Aku ingin menggapai kesempurnaan itu bersamamu, berdua denganmu, bersama keluarga kecil kita nanti.” Senyum itu begitu lembut dan penuh dengan harapan membuat Tiffany menggelengkan kepalanya, tak percaya hal ini terjadi padanya.

“Mengapa kau melakukan ini?” kata-kata itu keluar begitu kecil dari mulutnya, Tiffany seakan tak mau Taeyeon mendengarnya.

“Karena aku… mencintaimu. Mencintaimu bukan hanya karena apa yang kau miliki sekarang atau di masa lalu. Mungkin ini terdengar mustahil dan klise tapi aku mencintaimu… karena Tuhan yang telah membuatnya seperti itu.” ragu bukanlah sesuatu yang tergambar di wajah Taeyeon saat ini. Jendela jiwanya itu menatap wanita yang terlihat tersesat mendengar pengakuannya tadi. Lagi.. hanya senyum penuh ketenangan yang bisa ia berikan pada

“Kau.. mencintaiku?” hanya itu yang bisa Tiffany ucapkan setelah mendengar penjelasan Taeyeon tadi.

“Ya.. aku mencintaimu dan aku yakin itu. Ini bukan hanya sebuah ucapan dan omong kosong belaka. Ini adalah janjiku padamu dan biarkan Tuhan yang menjadi saksinya.”

====== Then.. There Is You ======

Jeju, Agustus 2006

“Tiff.. Selamat!” Jessica memeluk wanita yang masih begitu cantik meskipun ia hanya memakai gaun putih sederhana untuk ukuran seorang pengantin wanita bagi kebanyakan orang.

“Terima kasih Jess..” senyum gugup penuh kebahagian itu masih tak hilang dari wajah Tiffany. Jessica yang melihatnya tersenyum kecil, bahagia akhirnya sahabatnya itu menikah dengan seseorang yang Jessica yakin bisa menjaga hati sahabatnya itu.

“Kau tahu.. aku tidak menyangka kau akan menikah dengannya.” Jessica tersenyum menggoda Tiffany yang tersenyum malu melihat foto pra wedding-nya dengan seseorang yang sudah begitu berani berkomitmen dengannya.

 

“Taeyeon-ah.. kumohon, hentikan.” Tiffany memberikan kembali box pink kecil yang semua orang sudah tahu apa itu pasti isinya. Ia menolak hadiah dari wanita di hadapannya yang tak memberikan reaksi apapun selain tersenyum kecil menatapnya.

“Kenapa?” nada bicara Taeyeon terdengar tidak stabil meskipun wajahnya terlihat tenang seperti biasanya. Tiffany menutup kedua matanya sebelum mengucapkan hal yang mungkin sudah bosan Taeyeon untuk mendengarnya. Perlahan ia genggam telapak tangan wanita bermarga Kim itu.

“Aku tidak bisa. Hanya itu.”

“Tidak.. pasti ada alasan lain, ceritakanlah.” Genggaman tangan itu Taeyeon balas, ia genggam kembali jari jemari halus wanita yang selalu mengisi hatinya sejak mereka pertama kali bertemu.

“Aku mungkin tidak bisa mempercayakan hatiku pada siapapun. Aku tidak mau terluka lagi. Jatuh cinta itu indah tapi aku masih belum bisa merasakan lagi sakit yang akan diberikan padaku jika aku memberikan hatiku padamu, maafkan aku Taeyeon-ah…” senyum lemas itu seketika menghilang, tergantikan dengan wajah penuh pengharapan saat Taeyeon mendengarnya. Ia lepaskan genggaman tangannya dari Tiffany, mengambil isi dari box merah muda yang sudah berkali-kali Tiffany tolak.

“Kau hanya takut untuk jatuh cinta. Aku akan meminta hal ini untuk terakhir kalinya dan aku tidak akan mengulanginya lagi. Beri aku satu kesempatan. Satu saja, kumohon Fany-ah..” Tiffany terdiam menanggapi permohonan itu. Ini adalah kesekian kalinya Tiffany menolak lamaran Taeyeon. Wanita bermarga Kim itu sudah mendekatinya lagi sejak kejadian di Sungai Han, dimana ia mendengar semua penjelasan Taeyeon yang mendadak menghilang darinya. Sejak saat itu Tiffany selalu menguatkan hatinya untuk menolak apapun yang Taeyeon berikan padanya, hingga akhirnya hari ini.

“Bagaimana aku tahu bahwa kau tidak akan pergi lagi seperti kemarin?” jika orang lain yang mendengar itu mungkin mereka sudah memaki Tiffany saking kesalnya karena kalimat itu sudah bagaikan kaset rusak yang selalu Taeyeon dengar setelah penolakan yang diterimanya. Biasanya, setelah Tiffany menolaknya, ia hanya akan tersenyum kecil menguatkan dan menyemangati hatinya, lalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain, dimana mereka bisa terlupa peristiwa yang membuat suasana menjadi canggung dan tidak nyaman, terlebih bagi Taeyeon.

Bagaimana tidak? Sudah puluhan kali Tiffany menolaknya, memberikan alasan dari A-Z mengapa ia tidak bisa bersama Taeyeon.

Sepandai-pandainya Tupai melompat pasti akan jatuh juga.

Sekuat-kuatnya Taeyeon menahan rasa kecewa dan sedih dari setiap penolakan yang Tiffany berikan padanya, ia ada lelahnya juga.

“Fany-ah.. kumohon…” Menangis tidak, hanya saja mata itu sudah terlihat berair dan sekuat-kuatnya Tiffany untuk membentengi hatinya dari pesona Taeyeon, melihat wanita yang menjadi idola bagi wanita-wanita lain di sekelilingnya terlihat begitu mati-matian mengejarnya, meyakinkan dirinya untuk menjadi pendamping hidup seorang Kim Taeyeon akhirnya Tiffany luluh juga.

“Baiklah.. hanya satu kali.” Air mata itu ternyata tetap mengalir dari kedua mata indah Taeyeon hanya saja Tiffany bisa melihat kebahagiaan dan kelegaan di dalamnya. Entah mengapa ia begitu senang melihat Taeyeon seperti itu, seakan kebahagiaan itu juga merasuk ke jiwanya.

“Terimakasih… aku tidak akan mengecewakanmu.” Tiffany hanya tersenyum kecil melihat wanita di hadapannya yang segera mengecup kedua telapak tangannya, menggenggam miliknya begitu hanya.

Sejak saat itu, semuanya menjadi berbeda. Perlahan Tiffany mencoba membuka dirinya, membiarkan Taeyeon menyembuhkan luka yang sudah begitu dalam terukir di hatinya, yang tak pernah bisa ia lupakan.

Kegiatan mereka berlangsung layaknya sepasang kekasih yang baru memulai cerita cinta, meskipun kontak fisik itu tidak terlalu banyak. Hal terjauh yang Taeyeon lakukan hanya mengecup kedua pipi Tiffany atau keningnya. Wanita bermarga Kim itu lebih senang menggenggam tangan Tiffany dibanding mencium atau mencumbu Tiffany yang selalu menjauhkan dirinya jika Taeyeon akan mengecup bibirnya. Dari situ Taeyeon tahu bahwa trauma itu masih menempel begitu lekat di pikiran Tiffany.

Motivasinya untuk menjadi pendamping hidup wanita bermarga Hwang itu menjadi bertambah. Entah energy apa yang merasukinya, sejak menyadari hal itu, Taeyeon menjadi lebih sayang kepada Tiffany. Rasa ingin melindungi itu menjadi begitu besar. Baginya Tiffany bukanlah sesuatu untuk dicintai dan dimiliki saja, Tiffany adalah seseorang yang akan ia bahagiakan, muliakan dan ia lindungi dengan seluruh hidupnya. Ia tak perduli bagaimana orang memandang Tiffany sinis sebagai wanita aneh yang selalu menutup diri. Ia tak perduli bagaimana teman-teman satu departementnya selalu membicarakan Tiffany sebagai wanita murahan yang tak bisa menjaga harta paling berharga di hidupnya.

Masa lalu Tiffany adalah sesuatu yang sudah terjadi, sudah lewat dan takkan kembali.

Yang terpenting adalah masa sekarang dan masa depannya, dimana sudah terbingkai nama Tiffany dan keluarga kecil mereka di dalam pikiran dan hatinya.

“Taeyeon-ah.. aku..” Tiffany menghentikan langkahnya memasuki restoran tempat ia akan bertemu dengan keluarga Taeyeon. Rasa tidak percaya diri itu begitu hebat menghinggapinya, rasanya seperti akan bertemu dengan seseorang yang akan mengambil kebahagianmu saat itu juga.

“Mereka menyukaimu. Percayalah.” Senyuman yang Taeyeon berikan akhir-akhir ini bisa menenangkan hatinya entah kenapa. Tak butuh kalimat panjang dan rasa takut itu perlahan menghilang meski harus ia akui masih ada apalagi saat langkahnya kini semakin dekat dengan keluarga Taeyeon yang terlihat begitu seru membicarakan sesuatu.

“Eheum.. apa kami melewatkan sesuatu?” Taeyeon berucap memecahkan keriuhan kecil yang dibuat keluarganya. Si bungsu, Hayeon menghampirinya, memeluk kakak kesayangannya itu dengan semangat.

“Unnie..” Taeyeon mengelus puncak kepala Hayeon yang begitu erat memeluknya, seakan Taeyeon akan pergi menghilang darinya.

“Kau pasti Tiffany?” Jiwoong berdiri menjabat tangan Tiffany yang segera membalasnya, mencoba tenang meskipun gerakan tubuhnya terlihat kaku sekali. Orang tua Taeyeon berdiri dan menghampiri putri mereka.

“Hei anak muda! Mengapa kau pintar sekali?” Tuan Kim menepuk-nepuk bahu Taeyeon yang tersenyum bangga mendengarnya. Tiffany menatap kedua Kim itu bingung, tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

“Tiffany senang bertemu denganmu.” Ibu Taeyeon memeluk Tiffany yang begitu kaku membalasnya, masih kaget dengan pelukan calon ibu mertuanya.

“Aku juga senang sekali bisa bertemu dengan wanita yang membuat Taeyeon-ku begitu bersemangat setiap harinya!” Tuan Kim kemudian memeluk Tiffany yang membeku tak membalas pelukan itu, merasa sensitive setiap kali seseorang memeluknya, terutama seorang pria. Rasanya semua pelukan itu sama, seperti yang Nickhun berikan padanya, dan ia mencoba menghilangkan hal itu dari pikirannya.

“Aku juga senang..” Taeyeon menarik lengan kakak tertuanya, membuat Jiwoong tak bisa memeluk Tiffany yang masih merasa gugup dan canggung, terlihat begitu pucat tiba-tiba setelah menerima pelukan itu.

Sesi perkenalan telah selesai, begitupun hidangan yang mereka santap. Hanya tersisa makanan penutup yang tepat untuk pembicaraan yang lebih serius untuk malam ini.

“Tiffany.. apa kau siap menjadi pendamping hidup Taengoo?” Tuan Kim mengucapkan itu masih dengan senyum tampan dan tenangnya, sesuatu yang Taeyeon warisi darinya.

“Euhm.. aku.. aku sedang mencobanya Tuan..”

“Panggil aku Dad.. kau adalah calon putri kami” Tiffany tersenyum kecil mendengar itu, ia merasa begitu bersyukur karena keluarga Taeyeon memperlakukannya dengan baik, tidak seperti apa yang telah ia pikirkan sebelumnya.

“Tidak apa-apa. Semua akan berjalan pada waktunya. Yang penting kau mau untuk menjalani ini semua dengan Taeyeon. Taeyeon sudah menceritakan tentang dirimu..” Tuan Kim tertawa dalam hatinya melihat wajah tegang Tiffany.

“Tenanglah.. Taeyeon tidak menceritakan bagian yang tidak seharusnya kami ketahui.” Nyonya Kim mengelus puncak tangan Tiffany yang masih merasa tidak nyaman membayangkan bahwa kedua orang tua Taeyeon tahu tentang masa lalunya.

“Aku menghormatimu, maka aku tidak menceritakannya. Aku hanya menceritakan bagaimana kau yang sebenarnya, kelebihan dan kekuranganmu.” Taeyeon ikut menggenggam tangan wanita yang secara tak langsung sudah menjadi kekasihnya meskipun mereka tidak meresmikan dan memberi label pada apa yang mereka jalani sekarang.

Jika orang lain bertanya siapa Tiffany maka Taeyeon akan menjawab Tiffany sebagai kekasihnya, calon istrinya.

Memberitahu mereka Tiffany sebagai teman kencan ataupun pacar bagi Taeyeon itu terasa sebagai sesuatu yang tak pantas, sesuatu yang terdengar kekanakan, terkesan tidak serius. Karena bagi Taeyeon, Tiffany bukan hanya sementara, wanita itu adalah pelabuhan terakhirnya, dan ia yakin itu.

Jarang bagi Taeyeon menyatakan pada orang banyak bahwa ia sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang tapi baginya bersama Tiffany adalah sebuah kebanggaan.

Tiffany adalah proses pendewasaan baginya dimana ia belajar untuk bersabar, tidak menyerah dan putus asa untuk menyembuhkan wanita itu.

Penyembuh.. ya ia ingin menjadi seorang penyembuh bagi Tiffany Hwang.

Ia ingin wanita bermarga Hwang itu merasakan lagi indahnya dunia dan cinta di dalamnya.

Ia ingin Tiffany merasakan apa yang dirasakannya saat pertama kali melihat Tiffany.

Tiffany bukan yang pertama baginya tapi ia yakin wanita itu akan menjadi terakhir baginya.

“Jika Taeyeon bahagia bersamamu, itu sudah cukup. Kami hanya meminta kau untuk menjaga hatinya. Dalam setiap pernikahan tidak mungkin tidak terjadi pertengkaran tapi ingatlah saat itu terjadi.. ingatlah bahwa kalian saling mencintai, ingatlah perjuangan yang telah kalian lakukan untuk mencapai tahap ini.” Nyonya Kim kembali berbicara, sementara Tiffany hanya diam mendengarnya, mengiyakan wanita yang masih begitu cantik di usia lanjutnya, tak heran bila putra-putrinya terlihat lebih muda dari umur mereka yang sebenarnya.

Makan malam itu diakhiri dengan janji makan malam baru dimana keluarga Tiffany dan Taeyeon akan bertemu, membicarakan tentang hubungan kedua putri mereka lebih jauh. Sebelum makan malam ini, Taeyeon telah terlebih dulu bertemu dengan keluarga Tiffany. Meskipun awalnya ayah Tiffany meragukan dirinya, tapi ia bisa membuktikan kesungguhan dirinya pada Tiffany.

Sebelum mendekati Tiffany lagi, Taeyeon telah meminta pada calon ayah mertuanya itu untuk mendekati Tiffany, mengutarakan niatnya untuk mempersunting putri termuda di keluarga Hwang tersebut. Tak banyak janji yang Taeyeon berikan, ia hanya meminta ayah Tiffany untuk melihat hasilnya nanti. Tuan Hwang sebenarnya bahagia jika ada seseorang yang ingin mendekati Tiffany, menjalih hubungan dengan putri yang begitu disayanginya itu, hanya saja ia takut putrinya itu akan terluka lagi.

Awalnya ia ragu bagaimana seorang wanita seperti Taeyeon, yang terlihat mungil tak bisa melindungi dirinya ingin menjadikan Tiffany sebagai seorang istri. Tapi satu hal yang mengubah pikiran Tuan Hwang tentang Taeyeon adalah saat wanita itu mengutarakan niatnya bukan hanya berpacaran, tapi menjalin hubungan serius. Tanpa sepengetahuan Tiffany, Tuan Hwang terus berkomunikasi dengan Taeyeon, memberikan sedikit info tentang putrinya, yang ia ketahui. Mungkin secara kasat mata mereka terlihat tidak akrab, tapi dibalik itu terjalin hubungan yang erat selayaknya seorang ayah dengan putrinya. Mendengar Tiffany mulai membuka dirinya pada Taeyeon merupakan suatu kebahagian tersendiri bagi Tuan Hwang. Setidaknya ia tahu ia bisa menitipkan putrinya itu pada orang seperti Taeyeon yang tidak hanya memberikannya ucapan tapi bukti nyata.

Menikah itu mudah, cukup kalian ucapkan janji di depan saksi dan selesai.

Kalian sudah resmi sebagai sepasang suami istri.

Yang sulit adalah bagaimana setelah hari bahagia itu berlalu.

Bagaimana jika cinta itu perlahan berkurang.

Bagaimana jika kesetian itu sudah tidak ada lagi.

Bagaimana jika semua itu hanya janji manis semata.

Cinta hanya komponen awal pembentuk pondasi rumah tangga itu terbangun.

Pilar lain yang harus ada adalah kepercayaan, kejujuran, keterbukaan, tanggungjawab, dan saling menghormati satu sama lain.

Yang pasti.. pondasi agama yang kuat merupakan komponen penting bagaimana pernikahan itu akan terjalin kedepannya.

Pasangan kalian adalah cerminan dari diri kalian.

Maka dari itu Taeyeon dan Tiffany selalu mencoba memperbaiki diri mereka.

Taeyeon paham bahwa menikah bukan merupakan penyatuan dirinya dan Tiffany saja, tapi keluarga mereka juga. Ia tidak bisa mencintai Tiffany tanpa membangun hubungan yang baik dengan keluarga calon istrinya itu begitupun dengan Tiffany. Ia tahu mungkin butuh waktu bagi Tiffany untuk dekat dengan keluarganya tapi ia percaya Tiffany bisa melakukannya. Apalagi keluarga Taeyeon juga begitu hangat menyambut Tiffany masuk menjadi bagian dari mereka.

Dan Taeyeon sangat bersyukur dengan hal itu. Pernikahan bukan hanya saja tentang cinta antara dirinya dan Tiffany tapi lebih besar dari itu, cinta kedua keluarga mereka. Tidak ada hal yang lebih berharga dalam hidup ini selain keluarga bagi mereka berdua meskipun Taeyeon tahu bahwa Tiffany sulit untuk mengekspresikan hal itu.

Kalian boleh memiliki otak jenius

Karir yang cemerlang

Jabatan tinggi

Gaji yang tinggi

Fisik yang sempurna

Teman dan sahabat yang banyak

Pasangan hidup yang sempurna

Tapi ingatlah.. hanya Tuhan dan keluarga tempat kalian kembali pada akhirnya.

Sejelek apapun hubungan kalian dengan keluarga kalian, mereka tetaplah keluarga, satu darah, satu penyusuan, lahir dari rahim yang sama, yang pasti memiliki ikatan yang kuat dengan kalian.

Sejahat apapun kalian

Sebenci apapun kalian terhadap keluarga kalian

Keluarga adalah keluarga

Jika salah satu anggota keluarga kalian berada di jalan yang salah, ingatkan dan bimbinglah mereka kembali ke jalan yang benar.

Karena sesungguhnya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahannya.

Tuhan menciptakan kita untuk menjadi berguna bagi yang lain.

Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang berguna bagi manusia lainnya.

Otak untuk berpikir

Telinga untuk mendengar

Mulut untuk berbicara

Hati untuk merasakan.

Jika ada yang salah, gunakanlah semua elemen itu untuk memperbaikinya.

Setelah makan malam kedua keluarga yang berlangsung di kediaman orang tua Taeyeon di Jeonju, diputuskan bahwa dalam beberapa bulan lagi upacara pernikahan itu akan segera dilaksanakan. Meskipun masih ada keraguan, Tiffany mencoba meyakinkan hati dan pikirannya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

All Is Well

Kill your own fear.

Kita tidak terlahir untuk membuat keputusan yang tepat

Kita terlahir untuk membuat sebuah keputusan dan membuatnya menjadi tepat.

Semuanya membutuhkan waktu dan proses, tidak instant.

Be happy.. life just once and you’ll never know when the death will come fetch you.

I love you. Don’t believe me, just believe that God heard it.

Itulah yang selalu Taeyeon katakan padanya. Sesuatu yang perlahan mulai ia terapkan dalam hari-harinya. Sesuatu yang awalnya sulit untuk ia lakukan tapi semua kembali lagi pada diri kita, pada pikiran itu.

Kau adalah apa yang kau pikirkan.

Jika kau selalu merasa tidak bisa, maka selamanya tidak. Kau akan merasa dunia tertutup bagimu, membalikan punggungnya saat kau membutuhkannya.

Jika kalian merasa bisa, maka bisa.

Musuh terbesar manusia adalah pikiran dan dirinya sendiri.

Dan itu yang sedang Tiffany lakukan, ia sedang melawan sisi lain dari dirinya yang selalu menjatuhkan dirinya, membuatnya lemah dan lelah.

Ia tidak tahu masa depan apa yang akan ia dapatkan bersama Taeyeon, yang ia tahu Taeyeon akan mengusakan yang terbaik baginya, bagi keluarga mereka nanti.

Memikirkan masa depan itu perlu, tapi aksi lebih penting.

Jika ia memikirkan masa depan dengan Taeyeon, maka banyak bayangan masalah dan kesulitan yang akan menghampiri mereka. Bagaimana ketakutan itu akan selalu menghantuinya.

Cukup jalani dan lihat kedepannya seperti apa. Kita tidak pernah tahu apa yang Tuhan siapkan untuk kita kan?

Teruslah percaya bahwa apapun itu, adalah yang terbaik untuk kita.

Itu yang Tiffany pikirkan saat ini.

“Tiff.. sebentar lagi pangeranmu tiba, mari kita tunggu di altar.” Tuan Hwang menghentikan lamunan sang putri yang tersenyum begitu cantik dan semangat hari ini menyambut hari bahagianya.

====== Then.. There Is You ======

“Taeyong..” Seorang bocah laki-laki berlari menghampiri wanita yang begitu ia rindukan selama beberapa minggu ini.

“Dad.. mengapa lama sekali? Bukankah kau berjanji untuk menonton festival kembang api denganku?” Taeyong bergelayut manja di pangkuan sang ayah yang baru saja tiba di rumah mereka. Terlihat sekali betapa lelahnya Taeyeon, apalagi wajah pucat dan kantung mata yang semakin tebal. Tapi tetap.. ayahnya itu terlihat begitu tampan dan cantik baginya.

“Maafkan Daddy..” hanya itu yang Taeyeon ucapkan dalam senyuman menyesalnya. Taeyong cemberut tapi beberapa detik kemudian ia tertawa terpingkal-pingkal mencoba kabur dari jeratan Taeyeon yang menggelitikinya.

“Mom tolong aku!!!” Taeyong berteriak saat melihat Tiffany turun dari tangga lantai 2 rumah mereka. Rumah yang tidak terlalu luas. Fungsional dan minimalis, sesuai dengan yang diinginkan oleh nyonya rumah, Tiffany Kim. Tapi masih tersedia halaman depan, garasi, kebun di belakang serta kolam renang kecil yang sengaja dibangun sesuai permintaan Taeyong, buah hati mereka.

“Mom!!!” Taeyong berteriak begitu keras karena kini bukan hanya sang Daddy yang menggelitikinya, tapi sang Mommy juga.

“Fany-ah.. aku.. bolehkah aku meminta sesuatu padamu?” Tiffany mengalihkan pandangan tubuhnya, menghadap wanita yang sudah 1 tahun ini menjadi pasangan hidupnya, membuat keindahan itu mulai melukiskan tinta kebahagiaan di dalamnya. Mereka kini berada dalam rutinitas sehari-hari mereka sebelum tidur, meluangkan beberapa menit untuk menceritakan apa yang mereka rasakan atau lakukan hari ini.

“Bicaralah..” Taeyeon tersenyum seperti anak kecil yang imut mendengar hal itu. Apalagi kini Tiffany menatapnya begitu manis, ahh rasanya dunia ini adalah surga baginya.

“Apa kau setuju jika kita.. memulai program untuk memiliki anak?” diam.. itulah reaksi yang Tiffany berikan diikuti dengan keterkejutan di dalamnya. Ini adalah sesuatu yang sudah Taeyeon bayangkan. Dan ia tak bisa berbohong, kekecewaan itu ada.

“Sayang..” Tapi kembali lagi ke janjinya sebelum menikah, Taeyeon akan selalu mencoba mengerti istrinya itu. Bukankah Tiffany adalah bentuk pendewasaan dirinya? Dan ia akan selalu mempelajari kedewasaan itu.

“Tidak apa-apa.. jika kau belum siap, kita bisa mencoba nanti..” dan pembicaraan tentang anak berhenti pada malam itu.

Detik berganti menit

Menit berganti Jam

Hari berganti minggu

Minggu berganti bulan. Dan tak terasa 2 bulan telah berlalu setelah percakapan di malam itu.

Taeyeon dan Tiffany masih menjalani rutinitas mereka. Taeyeon masih bekerja sebagai tenaga ahli di beberapa perusahaan konstruksi ternama, bukan hanya di Korea tapi di beberapa negara Asia, membuatnya mempunyai mobilitas yang tinggi. Tiffany masih bekerja sebagai akuntan di perusahaan tempat ia bertemu dengan Taeyeon pertama kali. Keduanya sibuk, sangat sibuk tapi mereka masih mempunya waktu yang berkualitas agar cinta itu tak pernah padam meskipun Tiffany tak bisa membohongi dirinya bahwa ia merasa sedih setiap kali melihat Taeyeon begitu menginginkan seorang anak, ia tak mendengar itu terucap dari mulut Taeyeon secara langsung, tapi dari pandangan yang sendu saat melihat anak-anak yang mereka temui dalam berbagai kencan mereka.

“Aku sudah menemui Minyoung Unnie.. dan dia menyarankan IVF” Tiffany berbicara memecah kesunyian malam mereka. Setelah bercinta, biasanya mereka akan berbincang beberapa menit, Pillow Talk, sesuatu yang membuat ikatan mereka menjadi lebih erat.

Well cinta memang tidak selalu tentang kontak fisik

Tapi kontak fisik diperlukan dalam sebuah hubungan.

Apalagi bercinta.

Holding hand, kissing, hugging, make out and making love

Itu semua adalah berbagai bentuk kontak fisik yang bisa mempererat keintiman setiap pasangan, tak terkecuali Taeyeon dan Tiffany. Meskipun pada awalnya Tiffany belum siap melakukan hal itu, tapi Taeyeon tetap bersabar, menyusun strategi dan pendekatan lain agar istrinya itu mau melakukan hal itu tanpa ada paksaan apapun di dalamnya. Dan sukses. Hingga akhirnya mereka menjadi pasangan yang aktif secara seksual, meskipun tidak sesering pasangan lainnya karena mobilitas Taeyeon yang tinggi. Terkadang Taeyeon terlalu lelah untuk melakukan hal itu dengan Tiffany dan begitupun sebaliknya. Tapi kembali lagi, komunikasi yang baik, kejujuran dan keterbukaan membantu mereka menghadapi masalah itu, masalah yang banyak membuat pasangan muda berpisah karena mereka sudah merasa tidak puas, tidak cocok atau sudah berbeda paham.

Jika Taeyeon mengikuti ego dan nafsunya, mungkin ia juga sudah melakukan hal itu, berpisah dari Tiffany. Tapi kembali lagi pada tujuan awalnya menikah yaitu untuk mencapai kesempurnaan hidupnya, membangun keluarga bersama wanita yang bisa membawa sisi terbaik dan terburuk dari dirinya.

IVF?”

In Vitro Fertilization, menyatukan sperma dan sel telur dalam tabung yang kemudian diletakkan kembali ke dalam rahim untuk berkembang.” Tiffany tertawa melihat tampang bingung dan bodoh yang ditunjukan pasangan hidupnya itu. Wanita secerdas Taeyeon bisa begitu lambat dalam merespon ucapannya.

“Sperma? Kita akan memakai sperma siapa?”

“Spermamu.”

“Spermaku? Aku tidak bisa menghasilkan..”

Bisa, dengan membagi genmu menjadi sperma yang diciptakan dari sumsum tulang belakangmu.” Dan perjuangan mereka untuk mendapatkan seorang anak dimulai hari itu.

IVF selalu berada dalam urutan terakhir dalam usaha untuk memiliki anak bagi pasangan sesama jenis yang ingin memiliki anak karena biayanya yang sangat mahal. Jika memang IVF adalah satu-satunya metode yang tersisa, sebaiknya pasangan yang mempertimbangkan melakukan IVF, mencari klinik IVF dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi serta bagaimana kondisi ibu serta calon bayi dengan mengikuti prosedur di klinik tersebut. Taeyeon dan Tiffany mempercayakan hal ini pada Park Minyoung, salah satu genekolog terbaik di bidangnya, sahabat Jessica yang berhasil membuat wanita yang kini bermarga Kwon itu berhasil mempunyai buah cintanya bersama sang suami, Kwon Yoonan, rekan Taeyeon yang tak kalah sukses dengan wanita bermarga Kim itu.

“Sayang.. bagaimana? Positive?” Taeyeon menghampiri Tiffany yang terlihat lemas.

“No..” hanya kata itu yang keluar dari mulut Tiffany. Ini adalah kesekian kalinya ia mencoba mengecek kehamilan dan hasilnya masih nol besar.

“Tidak apa-apa.. kita bisa mencoba lagi.” Tiffany mengangguk sedih tak menatap Taeyeon yang tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

“Mungkin ini karena sperma buatanku Fany-ah.. bagaimana jika aku meminta Jiwoong Oppa untuk..” Tiffany bangkit dari tempat duduknya. Ia menghampiri sang istri yang berdiri di balkon apartment mereka.

Malam itu sepi, sama seperti pemilik hati Tiffany. Beberapa bulan telah berlalu dan program IVF mereka masih gagal.

“No.. ini semua karena rahimku yang mungkin memang tidak bisa mengandung. Bagaimana jika..” Tiffany memeluk wanita yang berperan sebagai seorang suami baginya dari belakang, membuat dinginnya malam tak lagi mengga

“No.. aku tidak mau..” Taeyeon menggelengkan kepalanya, melepaskan pelukan Tiffany. Ia berjalan masuk kembali ke kamar mereka menuju ranjang, menelusupkan tubuhnya ke dalam selimut tebal yang begitu nyaman.

“Taeyeon-ah..” Tiffany ikut berbaring di samping Taeyeon yang memunggunginya. Ia tahu Taeyeon tak ingin berbicara padanya saat ini.

“Tidurlah..” sejak hari itu, Taeyeon menjadi sedikit dingin padanya. Setiap kali Tiffany membahas tentang kemungkinan mereka menggunakan rahim Taeyeon untuk mengandung calon putri/putri mereka, itu semua selalu berakhir dengan pertengkaran yang cukup hebat.

Hal tergila yang terjadi adalah saat Tiffany meninggalkan apartment mereka, menginap selama 2 minggu di rumah Jessica yang tak diketahui oleh keluarga Kim maupun Hwang.

“Sayang.. pulanglah.. maafkan aku. Aku akan melakukannya.” Taeyeon yang sejak awal menolak ide rahimnya digunakan untuk mengandung calon anak mereka akhirnya menyerah juga. Setelah melakukan serangkaian tes, ternyata rahim Taeyeon tidak cocok untuk dilakukan IVF. Setelah berdiskusi dengan beberapa ahli, ditemukan sebuah kesimpulan bahwa kesibukan dan kelelahan Tiffany-lah yang membuat program IVF-nya belum sukses.

“Fany-ah.. kumohon berhentilah bekerja dan focus pada program kita.”

“Aku tidak bisa!” bentakan itu terlontar begitu saja dari mulut Tiffany. Ia sendiri kaget bagaimana bisa ia membentak Taeyeon yang tak pernah melakukan itu padanya sejauh ini.

Taeyeon selalu lembut padanya, tak pernah mencoba menunjukan amarahnya secara terbuka pada Tiffany. Terkadang ia hanya akan diam untuk beberapa saat tapi kemudian menyapa dan berbicara lagi dengan Tiffany yang harus Taeyeon akui masih saja egois, mengikuti keinginannya untuk tetap bekerja dan berkarir padahal yang Taeyeon inginkan Tiffany berhenti dari pekerjaannya dan focus mengurus rumah tangga mereka, ikut dalam setiap perjalanan dinas yang Taeyeon lakukan.

“Aku mempunyai satu pertanyaan. Mana yang menjadi prioritasmu, aku.. keluarga kita atau pekerjaanmu?” Tak ada kekesalan dan amarah di dalamnya, tapi itu semua terdengar begitu memohon dan menyakitkan bagi Tiffany.

“Aku.. aku.. tidak bisa memilih… Tak bisakah aku memilih semuanya?”

“Taeyeon-ah..” Tiffany tak bisa berbicara lagi saat Taeyeon memberikan senyum kecutnya, berjalan mengambil mantelnya dan pergi dari apartment mereka untuk beberapa jam.

Taeyeon tidak pergi dari apartment mereka seperti yang dilakukan Tiffany tapi ia benar-benar mengambil jarak dengan Tiffany. Mereka tidak tidur satu ranjang lagi. Taeyeon sudah pergi saat Tiffany bangun, meninggalkan hidangan untuk sarapan istrinya itu tanpa kata-kata apapun. Saat pertemuan keluarga, mereka masih terlihat mesra tapi semuanya terasa begitu dingin dan hambar.

Setelah beberapa minggu penuh dengan perang dingin, Tiffany memtuskan sesuatu yang besar dalam hidupnya, sesuatu yang seharusnya ia pilih sejak dulu jika bukan karena ego dan kebodohannya.

“Aku akan bermain dengan Tzuyu saja!” Taeyong berhasil keluar dari siksaan orangtuanya yanga hanya tertawa menggelengkan kepala mereka melihat putra mereka berlari begitu cepat keluar rumah mereka.

“Aku merindukanmu Nyonya Kim..” Taeyeon mengecup bibir istrinya itu ringan lalu menghujani wajah istrinya itu dengan kecupan-kecupan kecil lainnya membuat Tiffany tak bisa menahan tawanya menahan kegelian.

“Aku juga merindukanmu…” Rasa lelah itu seakan menghilang saat Tiffany mencium bibirnya cukup lama, benar-benar menyampaikan kerinduannya pada Taeyeon yang seketika menjadi segar kembali.

“Ah.. bagaimana jika kita lanjutkan ini di tempat lain?” Tiffany mengangguk malu sebelum menerima ciuman dari Taeyeon, melepaskan hasrat dan kerinduan mereka lebih jauh di tempat yang lebih nyaman bagi keduanya.

====== Then.. There Is You ======

 

Dari caramu tersenyum, dari caramu terlihat

Kau menangkap hatiku tak seperti yang lainnya

Dari sapaan pertama dan ya.. hanya cukup itu

Dan tiba-tiba aku mencintaimu.

 

Jangan pernah berpikir bahwa aku membutuhkan yang lebih darimu

Aku tidak akan meninggalkanmu, selalu menjadi sebuah kebenaran untukmu

Aku mempunyai satu untuk menjadi kehidupanku

Tidak ada orang lain yang bisa melakukannya dan aku memberitahumu

Letakkan hatimu padaku.

 

Aku berjanji hatimu takkan pernah patah.

Kita tidak akan melupakan momen ini

Aku akan selalu menjadi aku yang baru

Karna aku mencintaimu.. lagi dan lagi.

Seorang wanita tengah memainkan sebuah video di kamar tidurnya, kamar yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi dirinya dan sang suami. Ia memutarkan beberapa video lama mereka. Mulai dari upacara pernikahan mereka, resepsi, bulan madu, kehidupan sehari-hari pernikahan mereka hingga lahirnya sang buah hati yang penuh dengan perjuangan dalam prosesnya, dipenuhi dengan drama.

“Fany-ah.. aku tak pernah pergi, selalu di hatimu. Kau tak pernah jauh.. selalu di dalam hatiku..” Tiffany tersenyum tersenyum melihat Taeyeon mengecup kedua tangannya, membawa dirinya berdansa di pesta ulang tahun pernikahan mereka.

“Taeyeon-ah..” Tiffany tak bisa menahan tangisnya saat melihat suaminya itu melamar lagi dirinya. Tahun ini adalah tahun ke 15 mereka resmi menikah. Siapa yang menyangka seorang Tiffany Hwang bisa luluh dan membuka hatinya pada Kim Taeyeon, pengecut yang pada awalnya mencoba menenangkan dirinya setelah mengetahui masa lalu Tiffany.

“Maukah kau.. menikah lagi denganku?” Taeyeon tersenyum dengan kekhasannya, selalu tak terduga. Mereka baru saja selesai melakukan kencan rahasia mereka, menitipkan Taeyong pada Jessica. Hari ini seperti flashback bagi keduanya. Taeyeon sengaja membawa istrinya itu ke tempat yang sering mereka kunjungi sebelum mereka menikah, membangkitkan kenangan yang membuat mereka sejenak terjebak dalam nostalgia.

“Yes Taeyeon Kim..” Taeyeon tertawa mendengar jawaban istrinya itu. 2 minggu kemudian pesta sederhana dan pribadi itu diadakan di kediamannya. Hanya keluarga dan teman dekat yang hadir menyaksikan janji suci itu diperbarui. Semua terlarut dalam haru dan kebahagiaan yang tercipta. Taeyeon dan Tiffany memutuskan untuk menjalani bulan madu mereka lagi, menjelajah beberapa negara di Eropa sesuai keinginan Tiffany yang sudah memimpikan perjalanan ini cukup lama dan secara diam-diam Taeyeon menyiapkan rencana perjalanan mereka itu.

“Sayang.. aku akan ke Hana Bank siang ini, mengurus rekening baru untukmu dan Taeyong..” Taeyeon berbicara pada sang istri yang masih sibuk mengurus kebun mereka, hobi yang muncul sejak Taeyong sudah berusia 4 tahun, saat Tiffany mempunyai waktu lebih untuk merelaksasikan dirinya.

“Baiklah.. tapi mengapa tidak besok? Bukankah mengurus rekening ini bisa nanti?” Tiffany menyimpan peralatan berkebunnya, membersihkan tangannya yang cukup kotor.

“Entahlah.. aku ingin menyelesaikan semuanya hari ini. Kau tahu kan.. maut bisa menjemputmu kapanpun.. dimanapun.. pada siapapun..” Tiffany mengiyakan ucapan yang sering sekali diucapkan suaminya itu, sesuatu yang membuat mereka selalu mencoba memanfaatkan waktu yang mereka untuk menjadi lebih baik.

Karena waktu tidak akan bisa kembali jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik.

Ya prinsip itu yang selalu dipegang oleh Taeyeon yang menular pada keluarga kecilnya yang harmonis.

“Baiklah.. hati-hati.. kembalilah sebelum larut, aku akan menyiapka..”

“Fany-ah.. bisakah kau mengantarkanku? Nanti aku akan bertemu dengan Soo Hyuk, dia akan menjemputku di Bank.” Tiffany mengiyakan permintaan Taeyeon yang hari ini terlihat begitu bercahaya, terlihat bahagia. Mungkin efek dari kegiatan malam mereka yang bertahan begitu lama, membuat Tiffany sedikit lelah sebenarnya hari ini. Meskipun usia mereka tidak semakin muda, tapi hasrat seksual mereka masih tinggi, terutama Taeyeon.

“Sayang.. aku mencintaimu..” Taeyeon mengecup Tiffany cukup lama untuk kesekian kalinya, membuat Tiffany tertawa dan terpaksa harus menghentikan suaminya itu. Hari ini Taeyeon begitu manja padanya, tak mau melepaskan genggaman tangannya selama ia mengemudikan mobil, sesuatu yang membuat Tiffany bahagia tapi kurang ia sukai karena kebiasaan seperti itu bisa mencelakakan diri mereka.

“No.. Kau bisa telat dengan janjimu. Hush cepat pergi…”

“Dan jangan kembali lagi?” Tiffany tertawa mendengar Taeyeon melanjutkan bagian kalimat yang seharusnya ia ucapkan.

“No.. kau harus kembali. Ingat itu atau kau akan tidur di sofa malam ini!” Tiffany tertawa lagi kemudian mengecup Taeyeon cukup lama, menghapus kerutan dan cemberut di wajah sang suami.

“Tiffany Hwang.. aku mencintaimu!!!” Taeyeon meneriakan hal itu membuat senyum itu tak pernah hilang dari wajah istrinya. Ia mulai masuk ke dalam gedung bank, memulai kegiatan yang ada di agendanya.

“Kau tahu.. aku masih bingung sebenarnya bagaimana seorang wanita bisa cantik tapi begitu tampan secara bersamaan sepertimu..” Tiffany berbicara pada wanita yang hanya tersenyum kecil padanya, menatap Tiffany dalam diam. Tatapan itu Tiffany balas dengan intensitas yang sama. Ia menyandarkan tubuhnya ke tubuh Taeyeon yang mendekapnya penuh kehangatan, meskipun hanya ia sendiri yang bisa merasakan kehangatan itu.

“Tiff..” Jessica menghampiri sang sahabat yang sudah sadar dari pingsannya. Sepertinya sahabatnya itu begitu lelah hari ini.

“Jess.. apa Taeyeon sudah pulang?” Jessica hanya tersenyum kecil sebelum menelpon seseroang kemudian kembali menghampiri sang sahabat yang masih menunggu pertanyaannya dijawab.

“Dia akan segera kesini Tiff..” ada keraguan dalam nada bicara Jessica dan Tiffany bisa mendengar hal itu. 20 menit kemudian seorang pria yang sudah tidak asing bagi Tiffany mendatanginya.

“Dad? Apa Taeyeon yang sengaja mengundangmu?” Tiffany bertanya pada sang ayah yang menganggukan kepalanya, matanya terlihat berkaca-kaca melihat kondisi putrinya.

“Sayang.. Taeyeon sebentar lagi akan pulang.. tadi dia mengatakan padaku untuk mengajakmu makan siang.”

“Aku tidak mau.. aku ingin makan siang dengan Taeyeon Dad!” Entah kenapa Tiffany mendadak kesal.

Ada apa dengan semua orang? Mengapa mereka tak membiarkannya bertemu dengan suaminya? Ia berjalan meninggalkan ayahnya, berlari ke seluruh tempat di rumahnya, mencari Taeyeon yang ia temui juga.

“Sayang.. apa kau melihat Aunty Taeyeon?” Tiffany bertanya pada Tzuyu yang sedang bermain Barbie di halaman belakang rumahnya.

“Aunty Taeyeon? aku belum bertemu lagi dengan Aunty Taeyeon. Eomma bilang Aunty Taeyeon sudah beristirahat dengan tenang.” Kerutan itu mulai muncul di kening Tiffany. Ada sesuatu yang tak beres disini. Ia berterimakasih dan mulai berlari mencari Jessica atau siapapun yang bisa ia tanyai tentang keberadaan Taeyeon yang sebenarnya.

“Jiwoong Oppa..” Tiffany memanggil kakak iparnya yang terlihat begitu kusut, tidak ceria dan bersemangat seperti biasanya.

“Apa kau melihat Taeyeon? Mengapa Tzuyu mengatakan bahwa suamiku sudah..”

“Meninggal. Taeyeon sudah meninggal.” Kalimat itu menghentak batin Tiffany, membuat nafasnya tercekat, kepalanya pusing dan ia tak tahu harus percaya pada siapa.

“Seandainya engkau tahu, takkan ada cinta lagi yang sanggup mengganti dirimu meskipun awalnya aku ragu untuk menikah denganmu. Sekarang kau telah pergi, membuatku hanya berkasih dengan bayangmu.” Air mata itu tak bisa Tiffany tahan, mengalir ditengah tangis dalam diamnya.

“Anda Tiffany Kim?” Tiffany mengiyakan lawan bicaranya yang terdengar begitu berat untuk berbicara dengannya. Entahlah, ia merasa ada sesuatu yang tidak baik.

“Nyonya Kim, kami memohon kehadiran anda di Kangnam hospital. Suami anda menjadi salah satu korban luka dari pencurian yang terjadi di Hana Bank siang tadi. Kondisinya baik-baik saja, kami meminta Anda segera kesini.” Polisi itu menutup telponnya sementara Tiffany segera menghubungi Jessica dan Jiwoong, orang yang pertama kali muncul di ingatannya dalam pikirannya yang kacau setelah mendengar berita ini.

“Tidak.. dia bukan Taeyeon..” Tiffany melangkah mundur dari tubuh Taeyeon yang terbujur kaku di ranjangnya. Ia mendekati tubuh suaminya sekali lagi, melihat wajah baby face itu terlihat begitu tenang dalam tidurnya, sesuatu yang selalu menjadi kebahagiaan tersendiri saat ia memandangi ketika teman hidupnya itu tertidur pulas di sampingnya.

“Taeyeon-ah.. apa yang terjadi denganmu sayang? Kau hanya tertidur kan?” Tiffany menangis dalam diamnya, masih mencoba berkomunikasi dengan Taeyeon yang tak menjawab apapun.

Polisi menemukan Taeyeon bersimbah darah di bagian perutnya. Banyak korban memberikan kesaksian bagaimana komplotan pencuri itu menembaki beberapa nasabah bank yang memberontak, termasuk Taeyeon yang berusaha menyelamatkan seorang gadis seusia dengan Taeyong sepertinya yang akan ditembak oleh komplotan pencuri itu.

Pendarahan, ya itulah yang menyebabkan Taeyeon meninggal meskipun sebelumnya sudah mendapatkan perawatan yang semaksimal mungkin dari pihak medis.

“Jessica pernah bertanya padaku mengapa aku tidak menikah lagi.” Taeyeon tersenyum mendengar hal itu. Tiffany semakin mengeratkan pelukannya. Ia menikmati aroma khas Taeyeon yang selalu membuatnya nyaman.

“Meskipun kau pernah datang ke dalam mimpiku, mengatakan padaku bahwa kau rela bila ada cinta baru menjadi penggantimu. Tapi aku tak mencari penggantimu.. agar kau disana tahu bahwa kau adalah pasangan terbaikku.” Mata itu Tiffany pejamkan, berharap Taeyeon bisa benar-benar membawanya ke keabadian, berkumpul lagi bersama wanita yang sangat dicintainya.

====== Then.. There Is You ======

London, 9 Maret 2027

“Mom… Dad.. aku datang..” seorang pria dengan pakaian musim seminya mulai duduk di samping nisan kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Ia menyimpan barang-barang bawaannya dan mulai melakukan ritual yang biasa dilakukan saat mengunjungi orang yang sudah berpulang. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk melakukannya karena kini ia sudah duduk kembali di hadapan kedua orang tuanya.

“Aku meminumnya untuk kalian hehhe..” pria itu membuka botol wine yang dibawanya, mulai menuangkan minuman memabukan itu ke gelasnya. Ia meminum wine itu dengan senyuman yang tak terlepas dari rasa melankolis dalam hatinya. Teringat lagi waktu bahagia bersama kedua orang tuanya.

“Eric? Mengapa kau meninggalkan kami?” Tzuyu, Taeyong dan beberapa orang di belakangnya menghampiri pria yang terlihat begitu sedih meskipun senyum indahnya tak pernah hilang dari wajahnya.

“Kau juga meninggalkan kami..” Jessica berkata dengan tatapan membunuhnya membuat Eric tersenyum gugup padanya.

“Kau tidak boleh seperti itu pada putraku Jess..” Tiffany berjalan ke samping Eric yang tersenyum berterimakasih padanya.

“Thanks Mom.. kau yang terbaik hehhee” Tiffany memberikan senyum simpatinya pada Eric, bocah malang yang kehilangan kedua orangtuanya saat Tiffany baru saja pindah ke London, memulai hidup barunya disana bersama Taeyong dan keluarga Jessica yang mendapat tawaran kerja di kota bersejarah ini.

“Mom.. melihat Eric seperti ini.. aku menjadi teringat pada Daddy..” Taeyong berbicara dengan nada yang diliputi dengan rindu luar biasa.

“Kau tahu sayang.. Daddy tak pernah pergi, selalu di hatimu. Ia tak pernah jauh.. selalu di dalam hati kita semua.” Tiffany tersenyum merasakan semilir angin melewati tubuhnya. Ia bisa merasakan bahwa Taeyeon selalu bersama dirinya dan Taeyong.

Fin.

Iklan

99 pemikiran pada “Then.. There Is You Part II (Final)

  1. ga salah pilih jd salah satu author fav.ini bru baca bbrp tulisan udah dah kerenn,,
    klo luapin emosi mlh tulisannya bgus. dibikin emosi aja apa,,?? hehe ,, becanda 😀 peace,,
    dicritanya ini, tdnya aq udh mo ngumpat tae di chapt pertama, tp pas baca lanjutannya, yahh aq ga bisa ngomong, pkoknya idaman bngt mreka isa saling nrima gtu. dr crita kluarga itu jg bikin senyum, trz crta gimn tae ke fany, ampe sikapnya setelahnya nikah, janjinya penuhi. soal virgin bener bnget sbg org timur emank kudu dipikirin utama. tp klo kejadiaany ama fany gtu, bgus tae fikiranya lapang, wlpun sempet bikin org salah paham. yaa pokoknya aq banyak setuju ama pesen2mu suhuu 🙂 km tentunya pasti lebih muda dari aq tapi pikiranmu lwt tulisan ini,, dewasa bnget nakk. yg tadinya mo kebawa sedihpun aq pikir penerimaanmu luar biasa. bahagia itu pilihan, gmn cara pandang kita 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s