Then.. There Is You Part I

 tumblr_nukz0ciFRW1r8ttxlo1_500

Note:     1. Seperti biasa, focus pada keterangan waktu dan kuatkan hati saat membacanya.

  1. Anggap bahwa LGBT bukanlah hal yang tabu lagi di Korea Selatan.
  2. Setelah membaca ini berpotensi terbawa nostalgia atau terbawa perasaan.
  3. Baca dengan santai, pahami, cermati dan ambil nilai positifnya, negatifnya buang.
  4. It must be healing time ^_^   semoga bisa jadi bacaan yang bermanfaat.
  5. Jika konten di dalam cerita ini dianggap baik mohon disebarkan kepada yang lain.
  6. Dimohon fokus pada esensi cerita bukan hanya pairingnya (Taeny)

 

Playlist: 1.Taeyeon- Rain & Secret.

               2.Charlie Puth- One Call Away

Jeju, 08:01,9 Maret 2027

“Mom… Dad.. aku datang..” seorang pria dengan pakaian musim seminya mulai duduk di samping nisan kedua orang yang paling berarti dalam hidupnya. Ia menyimpan barang-barang bawaannya dan mulai melakukan ritual yang biasa dilakukan saat mengunjungi orang yang sudah berpulang. Tak butuh waktu lama bagi pria itu untuk melakukannya karena kini ia sudah duduk kembali di hadapan kedua orang tuanya.

“Aku meminumnya untuk kalian hehhe..” pria itu membuka botol wine yang dibawanya, mulai menuangkan minuman memabukan itu ke gelasnya. Ia meminum wine itu dengan senyuman yang tak terlepas dari rasa melankolis dalam hatinya. Teringat lagi waktu bahagia bersama kedua orang tuanya.

====== Then.. There Is You ======

Seoul, September 2004

“Kau ingin aku menjadi apa?” Tiffany mencoba menanyakan lagi hal yang baru saja diungkapkan oleh wanita di hadapannya. Ia tak bisa mempercayai telinganya. Yang baru saja didengarnya adalah hal yang paling aneh menurutnya.

“Aku..” Taeyeon menggenggam kedua tangan wanita di hadapannya yang masih menatapnya tak percaya, terlihat bingung dengan apa yang terjadi padanya.

“Ingin kau..” Taeyeon mulai memasukan cincin emas putih itu ke jari manis Tiffany yang terkejut melihat cincin indah itu tersemat di jarinya.

“Menjadi istriku.” Ucapan itu diakhiri dengan kecupan ringan di kedua tangan Tiffany. Taeyeon tersenyum manis meskipun tak setampan milik kekasih-kekasihnya terdahulu.

“Tapi kau tahu kan bahwa aku..” ucapan Tiffany terhenti saat wanita bermarga Kim itu menganggukan kepalanya masih dengan senyum khas yang menghangatkan hati siapapun yang melihatnya.

“Aku tidak tahu.. ini semua masih seperti mimpi bagiku..” Tiffany melepaskan genggaman itu, berjalan mundur dari Taeyeon yang masih dalam senyumnya yang menenangkan.

“Bagian mana yang masih menjadi mimpi bagimu?” Ada tawa yang tersembunyi di balik senyuman itu. Tiffany menatap wanita di hadapannya itu lebih dalam, ingin menyelami pikiran wanita yang baru saja ia kenal selama beberapa bulan.

“Semuanya” Taeyeon mengangguk-angguk mendengar jawaban itu. Ia terlihat berpikir begitu keras tapi akhirnya hanya tersenyum begitu cute seperti bocah yang menggemaskan.

“Bisa kau jelaskan lagi? Mungkin aku tahu, tapi aku ingin memastikannya padamu.” Taeyeon membawa wanita di hadapannya itu untuk kembali duduk di meja makannya.

“Aku dan kau berbeda Tae. Kau adalah seorang Kim Taeyeon dan aku.. aku bukan siapa-siapa”

“Oke.. lanjutkan Nona..” Taeyeon menumpukan kedua telapak tangannya di meja, terlihat serius mendengarkan apa yang akan dibicarakan oleh wanita yang baru saja menolak lamarannya.

“Kau cantik sekaligus tampan, cerdas, berkarakter, memiliki jiwa pemimpin, karir yang bagus, religious, humoris, sopan, berkarisma, memperlakukan wanita dengan lembut. Kau adalah tipe ideal yang semua wanita inginkan untuk jadi pasangan hidup.” Ada nada kekaguman dalam cara bicara Tiffany yang membuat Taeyeon mengangkat alisnya, terhibur melihat tingkah wanita di hadapannya itu.

“Apa kau juga termasuk dalam kumpulan wanita itu?” Tiffany menganggukan kepalanya kemudian menggelengkan kepalanya cepat setelah menyadari kebodohannya. Bibir Taeyeon sudah menyunggingkan tawa meskipun suara itu tak mengikuti tawanya.

“Baiklah. Jadi hal itu yang menjadi masalah bagimu?” anggukan yang Taeyeon terima sebagai jawabannya. Tiffany terlihat gugup duduk di hadapannya.

“Aku belum bisa memasak. Aku malas untuk mengurus rumah. Apartmenku selalu berantakan. Aku ceroboh. Aku perasa, pemikir, sensitive. Aku mudah bersedih, aku tidak humoris seperti Yuri. Aku tidak fashionable seperti Jessica. Tidak selangsing Sooyoung. Tidak sebaik dan secerdas Seohyun. Tidak berbakat seperti Hyoyeon. Aku canggung, tidak se-easy going Sunny. Tidak sepopuler dan secantik Yoona.” Mata itu tak menatap Taeyeon, memilih untuk melihat ke arah lain selain wanita bermarga Kim itu.

“Lalu?” Apa yang diucapkan Tiffany seolah sesuatu yang sudah bisa diprediksi Taeyeon. Ia masih terlihat begitu tenang dengan senyum kecil di wajah tampannya.

“Aku canggung. Aku pemalu. Aku pemurung. Aku penyendiri. Aku adalah seseorang yang hanya bisa menjadi beban bagimu, menyusahkan hidupmu. Membuatmu malu.” Tatapan mata Taeyeon masih tak beralih dari wanita di hadapannya. Ia menyipitkan kedua matanya, terlihat memahami semua kelemahan yang Tiffany ucapkan padanya.

“Ada lagi hal yang harus kuketahui mengapa aku tak seharusnya menikah denganmu?” Kali ini kegugupan itu terlihat semakin jelas. Ada satu hal yang mengganggu pikiran Tiffany, itu pikir Taeyeon.

“Aku.. aku tak bisa memberikan sesuatu yang seharusnya aku berikan hanya padamu saja..” tangan itu mengepal dengan sendirinya, membuat Tiffany mengumpulkan keberanian untuk menatap wanita di hadapannya yang terlihat masih serius menatapnya.

I’m no longer virgin Taeyeon-ah..” pupil itu melebar mendengarnya, membuat kesedihan Tiffany semakin menjadi.

“Why?” Tiffany menutup kedua matanya mendengar pertanyaan itu. Ia tau Taeyeon adalah seseorang yang sangat menaati adat istiadat, begitu pula dengan keluarganya. Meskipun mereka baru kenal dan dekat selama 6 bulan, tapi ia sudah mengetahui beberapa hal penting tentang wanita itu. Termasuk tentang bagaimana Taeyeon dan keluarganya meyakini bahwa berhubungan intim hanya dilakukan setelah menikah. Sebenarnya hal itu juga yang dianut oleh keluarga besar Tiffany, tapi ada beberapa hal yang tak bisa Tiffany halangi untuk terjadi padanya.

“Seseorang telah mengambil hal itu dariku dengan paksa.”

“Maksudmu?”

“3 tahun yang lalu aku sempat bekerja di NTC, menjadi seorang akuntan. 6 bulan pertamaku berjalan dengan lancar. Meski tak secemerlang akuntan lainnya, setidaknya performaku bisa memenuhi kriteria pegawai disana. 1 tahun telah berlalu dan seorang pria mulai mendekatiku. Dia terlihat begitu manis, baik dan sopan. Latar belakang keluarga dan performa kerjanya pun bagus. Kepribadiannya menarik. Dan aku.. aku mulai jatuh cinta padanya.” Tiffany terdiam tak melanjutkan lagi ceritanya. Kesunyian itu kini menyelimuti mereka.

“Lanjutkan..” suara Taeyeon terdengar berbeda dan Tiffany merasa berat untuk mengungkapkan hal lainnya.

“Taeyeon-ah..” Tiffany mencoba menggenggam kedua tangan Taeyeon yang masih menutup matanya, tak menatapnya hangat seperti tadi.

“Sudah 1 tahun aku dekat dengannya. Kami belum berpacaran, hanya dekat dan berkencan layaknya seorang sahabat. Dia mengajakku berlibur ke Thailand, bertemu dengan keluarga besarnya. Kebetulan sepupunya menikah, dan ia memintaku untuk pergi menemaninya. Aku yang tergila-gila padanya dengan cepat menerima ajakannya. Kami terbang ke Phuket, tempat keluarga besarnya berkumpul disana. Awalnya semua berjalan baik, tapi malam resepsi pernikahan sepupunya adalah malam terburuk dalam hidupku karena saat itu, aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku.” suara Tiffany mengecil, terganti dengan tangisan yang berusaha ia tahan. Ia tak mau Taeyeon mendengar tangisnya, sesuatu yang membuatnya terlihat lemah dibalik semua kelemahan yang sebenarnya berusaha ia sembunyikan dengan menutup dirinya.

“Apa kau menikmatinya?” pertanyaan itu membawa senyum getir di wajah Tiffany.

“Bagaimana aku bisa menikmati sesuatu yang akhirnya hingga hari ini membunuhku secara perlahan? Membuatku tak berani berkomitmen dengan siapapun karena aku tak yakin mereka bisa menerima kekuranganku?” Taeyeon mengunci mulutnya mendengar hal itu, sementara tangis itu dengan sendirinya keluar dari Tiffany, tapi tak ada isak yang menemaninya.

“Dia mabuk. Aku sudah berusaha menolak, memberikan perlawanan tapi akhirnya hal itu terjadi. Sebulan kemudian aku mendapat kabar yang menghenyakan batinku. Janin itu mulai tumbuh sedangkan Khun belum siap menjadi seorang ayah. Aku mencoba menjaganya tapi keluarga besarku tak menyetujuinya. Mereka memintaku untuk menggugurkannya tapi aku tak bisa. Hingga akhirnya aku bertengkar cukup hebat dengan keluargaku. Aku kabur dari rumah dan mengalami kecelakaan yang membuat kehidupan itu menghilang dari rahimku. Sejak saat itu, semuanya tak lagi sama. Dan seperti inilah aku sekarang…” Tangis itu masih ada tapi terbalut tawa pahit dari pemiliknya. Taeyeon mulai membuka matanya, melihat Tiffany yang masih menangis dalam diam,  terlihat tubuh itu bergetar hebat menahan luapan emosi yang ada di dalamnya.

“Fany-ah.. bersiaplah.. aku akan mengantarmu pulang.” Taeyeon berdiri, meninggalkan Tiffany yang tak bisa berbuat apapun selain menangis dalam diamnya, berjalan menyiapkan dirinya menghadapi lagi mimpi buruknya, jauh dari seorang Kim Taeyeon.

====== Then.. There Is You ======

Seoul, Desember 2005

“Tiff.. bersemangatlah.. ini masih Senin!” Jessica menepuk bahu teman sekantornya yang sudah 1 tahun ini terlihat lemas seperti mayat hidup, seperti sesuatu telah hilang dari hidupnya.

Mungkin kalian sudah tahu penyebabnya.

Ya.. Kim Taeyeon.

September tahun kemarin adalah terakhir kali Tiffany bertemu dan berkomunikasi dengan wanita bermarga Kim itu.

Setelah lamaran dan pengakuan yang Tiffany berikan, Taeyeon entah kenapa menghilang seperti ditelan bumi.

Beberapa rekan kerjanya berkata bahwa Taeyeon dipindah tugaskan ke Dubai, untuk menangani Mega Proyek lainnya.

Tiffany mencoba menerima alasan itu meskipun otaknya dan hatinya berkata lain.

Ia merasa bukan itu alasan Taeyeon pergi darinya.

Batinnya berkata bahwa pengakuannya kemarin yang membuat Taeyeon membatalkan lamarannya, menjauh dari Tiffany, membuat wanita berparas cantik itu menambah alasan lain untuk tidak menikah atau menjalin komitmen serius dengan orang lain.

Wanita saja sudah jijik dan pergi menjauh darinya setelah mengetahui dirinya yang sebenarnya, bagaimana dengan seorang pria? Mungkin mereka akan memaki Tiffany sebagai wanita yang tak benar, tak bermoral.

Secara tidak langsung, peristiwa setahun kemarin menambah alasan Tiffany untuk membenci dirinya yang tidak pernah berguna bagi siapapun, meskipun ia tahu bahwa Tuhan menciptakan makhluknya dengan kelebihan dan kekurangan yang sudah tersedia.

Begitu pula dengan sebuah masalah yang sudah memiliki porsi masing-masing bagi setiap orang yang mendapatkannya.

Seseorang pernah berkata bahwa Tuhan tidak akan memberikan sebuah ujian, cobaan atau musibah melebihi batas kemampuan setiap hamba-Nya.

Tapi Tiffany merasa apa yang selama ini dialaminya adalah sesuatu yang berat.

Setiap hari ia selalu merasa takut. Ia takut jika ia tidak bisa bertahan dan kuat menghadapi ini semua.

Tiffany tahu bahwa sebelum mencari manusia untuk bersandar, ia seharusnya mencurahkan keluh kesahnya kepada Tuhan, yang berkuasa mengatur hati ciptaan-Nya.

Hal itu telah Tiffany lakukan, tapi tetap… ia membutuhkan pundak seseorang untuk bersandar.

Seseorang yang akan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

All Is Well.

Orang itu tidak perlu 24 jam berada di sampingnya.

Cukup selalu berusaha ada untuknya saat Tiffany membutuhkannya meskipun tidak secara fisik karena ia tahu orang itu pasti memiliki kesibukan sendiri.

“Aku tahu Jess, tidak usah mengingatkanku berkali-kali.” Tiffany mengetik lagi data keuangan yang diberikan oleh department teknik, tempat dulu pertama kali ia bertemu dengan Taeyeon karena wanita itu adalah Tenaga Ahli yang diperbantukan disana untuk proyek pembangunan gedung baru di Yeoso Culture Center.

“Kau mau ikut denganku dan Yoong malam ini? kau tahu.. Julian Oppa mengajak teman-temannya. Mungkin saja kita bisa…” Tiffany melepaskan kacamatanya, melihat Jessica dengan tatapan bosan dan lelahnya. Ia meregangkan tubuhnya, mencoba melepaskan rasa lelah yang entah kenapa tak pernah hilang dari tubuh dan hatinya.

Lelah.. rasanya lelah sekali.

Jika raga lelah, itu wajar.

Tiffany bisa tidur, mengistirahatkan tubuh dan otaknya, mengisi baterai tubuhnya yang habis selama ia beraktivitas seharian.

Tapi jika hati itu yang lelah, entah cara apa yang bisa ia lakukan untuk mengusirnya.

Selama ini ia sudah mencoba beberapa kali mengikuti apa yang disarankan oleh sahabat-sahabatnya.

Ia mencoba untuk lebih menikmati hidup.

Tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi di hidupnya.

Mencoba bebas, lepas, dan menggapai kebahagiaan itu pada akhirnya.

Tiffany tertawa jika ada cerita konyol yang diberikan padanya.

Ia berceloteh dengan humor membuat orang di sekelilingnya tertawa dan bahagia dibuatnya.

Ia bernyanyi, menari dalam riuh ramai pesta yang diadakan orang-orang terdekatnya.

Ia terlihat bahagia dan puas dengan apa yang dimilikinya.

Tapi hatinya tidak.

Saat Tiffany tersenyum, hati itu diam tak melengkungkan senyum seperti pemiliknya.

Saat ia tertawa, hanya suara dari pita suaranya yang menggemakan tawanya, tidak dengan hatinya yang merasa datar entah mengapa.

Keriuhan pesta dan kebahagian yang dibuatnya pun tak bisa membuat Tiffany terhanyut di dalamnya.

Raga iya

Pikiran iya

Tapi hati tidak.

Apa yang terlihat terkadang berbeda dengan yang dirasakan.

Manusia hanya bisa menerka, menilai tanpa melihat lebih dalam apa yang mereka lihat.

Terkadang, mereka terlalu malas untuk mengetahui apa yang orang lain rasakan.

Tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu.

Tiffany selalu berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengannya. Ia tak tahu mengapa dirinya menjadi seperti ini hanya saja, ia bisa menebak sejak kapan ia merasakan hal ini.

Merasakan kekosongan hati yang membunuhnya secara perlahan.

Tiffany sudah mengunjungi beberapa tenaga ahli, termasuk pastur dan suster yang sudah dekat dengannya.

Mereka selalu berkata bahwa Tiffany harus bersabar, bersyukur dan mengikhlaskan semua yang terjadi padanya, termasuk peristiwa dengan Khun beberapa tahun yang lalu.

Sabar.. Syukur.. Ikhlas..

Itu semua adalah sesuatu yang mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk dilakukan.

Tiffany sudah mencoba untuk melakukan semua itu.

Tapi hasilnya adalah seperti apa yang ia alami lagi hari ini.

“Kalian pergilah.. aku ada janji dengan Sera Unnie hari ini.. bersenang-senanglah..” Ada kekecewaan dari raut wajah Jessica dan Tiffany merasa bersalah akan hal itu. Tapi ia tak bisa lagi memaksakan dirinya untuk terlihat bahagia seperti biasanya. Ia membutuhkan waktu sendiri, merenung sepi bersama waktu yang ia harap akan menyembuhkan segalanya meskipun nyatanya sang waktu masih belum berpihak padanya.

“Tiff.. Tuan Lee memintaku untuk memberikan ini padamu.” Kahi, pegawai senior di department keuangan berjalan menghampiri Tiffany yang segera berdiri membungkuk pada wanita yang dihormati di sana. Ia tersenyum kecil memberikan sebuah map coklat pada juniornya itu lalu berjalan kembali ke meja kerjanya.

“Apa itu?” Tiffany menggelengkan kepalanya merobek amplop coklat itu. Ia mulai membaca isi amplop itu yang menuliskan undangan makan malam baginya. Ini adalah undangan jamuan bagi pegawai SM Enterprise yang berprestasi. Hanya orang-orang tertentu saja yang diundang kesana dan Tiffany merasa dirinya tidak memiliki kualifikasi itu.

“Wah.. kau tahu.. kau beruntung karena Tuan Lee yang mengirimmu kesana.” Jessica tersenyum senang memeluk temannya itu, kemudian membaca isi surat itu lebih lanjut sementara Tiffany terdiam, ia merasa ada yang salah. Ia beranjak dari kursinya, membawa surat yang masih Jessica baca.

“Hei kau mau kemana?” Tiffany menghentikan langkahnya, tersenyum meminta maaf lalu kembali berjalan menuju ruangan Manajer-nya.

====== Then.. There Is You ======

“Selamat datang Nona, bisa saya bantu dengan coat-nya?” Tiffany menganggukan kepalanya tersenyum kecil, memberikan coat abunya pada pria yang terlihat begitu rapi dengan black suits yang dikenakannya. Ia berjalan memasuki pintu ruangan lain, menuju tempat dimana makan malam itu dilaksanakan.

“Selamat malam Nona Hwang..” Choi Siwon, pria yang ia ketahui berada di bagian marketing menghampirinya, terlihat rapi dan tampan dengan classic tux-nya.

“Bolehkah aku menemanimu malam ini?” Siwon bertanya dengan gaya gentleman-nya membuat Tiffany tak punya hati untuk menolak pria yang sebenarnya sudah mengejarnya sejak ia bergabung dengan SM Enterprise.

Acara berlangsung seperti biasa.

Lee Sooman, selaku CEO dan pendiri SM Enterprise memberikan sambutannya.

Acara selanjutnya diisi dengan penampilan musik oleh beberapa penyanyi dan rombongan orchestra yang menambah kemewahan dan keeleganan acara tahunan ini. Tiffany tetap berada di samping Siwon, berbincang dengan tamu lain, menikmati hidangan yang disiapkan oleh mereka.

“Wah.. acaranya akan dimulai..” Siwon bersemangat bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan sedikit ke depan, melihat para pelayan dan panitia mulai membagikan sesuatu.

“Acara apa?” Tiffany yang tak tahu apa-apa bertanya.

“Oh iya, ini adalah pesta jamuan pertamamu ya. Biasanya mendekati acara puncak, selalu diadakan pesta topeng. Pasangan terbaik yang dipilih oleh panitia akan mendapat hadiah yang menggiurkan.” Ada binar harapan di wajah Siwon tapi tidak dengan Tiffany yang hanya mengiyakan informasi yang baru diterimanya.

“Ini topeng anda Nona Hwang..” salah seorang pelayan menghampirinya, memberikan topeng merah muda dengan kerlap kerlip hiasan yang indah, masih terbungkus sehingga tak ada orang yang mengetahuinya begitu pula dengan topeng milik Siwon yang tak ia ketahui warnanya apa.

“Baik.. kita berpisah disini, jika memang kita berjodoh, maka aku akan menemukanmu lagi Tiff..” Siwon mengedipkan mata kanannya, pergi meninggalkan Tiffany yang hanya terdiam, tak tertarik mengikuti pesta topeng itu. Untuk menghormati acara, akhirnya Tiffany kenakan juga topeng miliknya, menutupi wajah cantiknya malam ini.

“Semangat Fany-ah.. ini semua akan segera berakhir” Tiffany menyemangati dirinya, berjalan ke bagian tengah ruangan, tempat dimana orang-orang mulai bertemu dengan topeng di wajah mereka.

“Bolehkah aku berdansa denganmu?” seorang pria yang terlihat biasa, tidak kekar seperti Siwon menghampirinya. Rambut hitamnya cukup panjang untuk ukuran seorang pria bagi Tiffany. Pria itu mengenakan topeng abu dengan polos dengan butiran-butiran Kristal di pinggirannya.

“Eumh.. aku.. tidak mengenalmu Tuan..”

“Grey.. not GRAY.. nona..” pria bertubuh mungil itu tersenyum menunjukan deretan giginya yang rapi, membuat tawa kecil menghampiri wanita di hadapannya. Tiffany mempunyai ide lain di kepalanya mendengar jawaban pria yang kini berdiri terlalu dekat dengannya.

“Sparkle.. panggil aku itu.” Tawa renyah itu muncul saat Tiffany menyebutkan nama samarannya, berjalan sedikit mundur, mengambil jarak dari pria di hadapannya.

“Baiklah Nona Sparkle… eumh.. lebih baik kita segera ke lantai dansa..” Musik sudah mulai bermain, orang-orang sudah berjalan menuju lantai dansa. Tiffany sebenarnya ingin menolak tawaran pria ini, tapi entah mengapa, kakinya malah melangkah mengikuti direksi pria yang menggenggam telapak tangannya lembut, genggaman yang mengingatkannya pada seseorang.

“Saat berdansa, kau harus mempercayakan semuanya pada pasanganmu” pria bernama Grey itu berbisik lalu menarik tubuh Tiffany untuk mendekat dengannya.

Tiffany tak pintar berdansa. Ia hanya bisa mengikuti beberapa gerakan yang pernah ia lakukan di pesta pernikahan sepupu-sepupunya.

Biasanya kakinya sedikit kaku, sulit mengikuti gerakan pasangan dansanya, tapi entah mengapa dengan pria bernama Grey ini kakinya perlahan bergerak mengikuti arahan.

“Relaks dan nikmatilah..” Grey kembali berbisik dan tersenyum kembali membimbing Tiffany yang perlahan bisa mengikuti langkahnya.

Dansa mereka awalnya terlihat kaku tapi seiring berjalannya waktu, perlahan menyatu menjadi keindahan yang terpadu.

Lagu yang bertempo sedikit cepat dan sedang kini berubah menjadi begitu lambat.

Nafas Tiffany terasa berhenti saat Grey menarik tubuhnya lebih dekat, membuat jarak itu kini tak ada lagi diantara mereka. Tubuh mereka bergerak dalam simfoni lagu dan melodi, bercampur menjadi sesuatu yang tak bisa ditabuh menjadi abu bagi keduanya.

Begitu menawan dan mempesona siapapun yang melihatnya.

Perlahan orang-orang menyingkir. Mereka lebih memilih untuk menikmati apa yang sedang Tiffany dan Grey lakukan.

Mata abu indah itu menghipnotis Tiffany untuk semakin mendekat, terjebak dalam fatamorgana.

Grey semakin mendekatkan wajahnya dengan Tiffany yang tak bisa menahan lagi pesona pria di hadapannya.

Wajah mereka sudah begitu dekat, nafas mereka menderu, beradu menjadi satu.

“Let me..” itu yang Tiffany dengar sebelum bibir pink lembut itu menyapa miliknya. Otaknya berteriak menolak ciuman itu tapi hatinya bereaksi lain memacu dirinya menyambut bibir milik pria yang masih menciumnya dengan hangat.

“Bravo!!!” tak terasa music sudah berhenti diiringi dengan riuh tepuk tangan yang menggema ke penjuru ruangan.

“Eumh.. maaf..” Tiffany menarik dirinya, berjalan ke belakang dengan cepat berusaha meninggalkan pria yang berhasil menahannya, menggenggam tangannya begitu erat.

“Fany-ah.. tetaplah bersamaku” Tiffany perlahan mendekati Grey. Ia mengamati pria itu lebih dekat, memicingkan kedua matanya, curiga dan merasa ada yang aneh dengan pria di hadapannya.

“Tetaplah bersamaku.. jadi teman hidupku…” Pria bernama Grey itu membuka topengnya, tersenyum begitu tampan pada Tiffany yang hanya terdiam terkejut tak tahu harus berkata apa.

==============================

====================

============

TBC

 

Iklan

150 pemikiran pada “Then.. There Is You Part I

  1. As always selalu suka dengan ff mu thor. Entah itu jalan ceritanya, bahasanya mudah dipahami (kadang suka bingung dan mesti mikir keras sih wkwk) tp feel nya selalu dapet, entah kenapaa.-.
    Sempet baperr pas responnya taeng kaya kecewa gitu pas fany mengakui dirinya yg sebenarnya. Tp semoga aja dibalik semua itu ada rencana manis yg taeyeon siapkan buat fany XD
    Dan siapa itu grey??apa seorang kim taeyeon??.-.

  2. Hai hai gue reader baru ga baru juga sih hampir semua ff udh gue baca wkwk bukan ga mau komen sih cuma hp gue lemot sih tiap kli mau chat #bukanalesantapibeneran. maaf baru sempet komen. semua ff lo keren , gue selalu merasakan feel yg lu sampaikan. update cerita yang lain yaa. Lanjutkan berkarya yaaa~

  3. Kau luar biasa ☺
    Mau Yuri atay genben, jika itu berurusan dengan sastra tetaplah itu seni. Baik dan buruk, banyak kekurangan dan tidak tetap sebuah seni..

    Senia itu bebas, tanpa batasan, setidaknya saya tahu itu aturan mutlak dari senu. Tanpa batas.

    Sebenarnya saya sudah folow wp ini jauh hari, hanya saia tidak membaca karena saya lebih menyukai seni Yuri.

    Ketika membaca soal aturan dan adat istiadat Taeyeon, saya dengan ajaibnya begitu paham bahwa authornim orang yang taat agama.

    Jja, cukup orientasinya. Kejeje
    Hemm.. Jadi pada intinya ini ff mengisahkan orang yang memiliki masalah, dan kau mencoba memberi pesan bahwa meski ada masalah jgn anggap gak punya siapa2.

    Itu pesan yang bagus… terimakasih authornim, sudah meluangkan waktu untik menulis 😊

  4. finally! setelah janji mulu akhirnya q bisa tepati buat baca. T.T (smp terhura di ingetin mulu)
    kali ini q baca dr sisi selain taeny, yup! q baca dr sisi cerita. btw rasanya karakter tiffany ngena bgt! brasa lg ngaca. Dgn masalah yg complicated, ditinggal pacar abis digituin, babby meninggal, punya sifat cereboh dll pasti tiffany jg bakal down (minder) dan mrasa dirinya gak layak buat Tae yg tampak sempurna. mungkin gw jg kek gitu klo diposisi pany. tapi seenggaknya pany jgn terlalu menutup diri. gw jd kasian dgn org disekitar dy, contohnya si tae yg ditolak.

    Setiap kata2 dr kamu terasa buat ngingetin para readers, meskipun seberat apapun dan sedalem apapun masalah yg bikin kesepian smp rasanya cekik idup tp klo qt sadar, sbenernya qt gak bener2 sendirian. Qt masih punya Tuhan, sdr, teman walo kliatannya gak respect. Oh my~ baca ini brasa dpt nasihat dgn cara yg berbeda. Dan dari karya ini q bisa banyak intropeksi, really amajjing story!! Gw brasa kena gampar ff ini. Y.Y
    author rocksmith daebak!!

    untuk alurnya slalu bikin gw maju mundur syantik~ jd q bacanya pelan2 dan bolak-balik atas bawah. dan yg bikin penasaran, pertama itu ank siapa? kedua, q gak tau gmn sifat tae disini dan alasan miscom setahun stelah tae lamar pany. ketiga, itu grey siapa? klo tae tapi katanya cowok. ah tapi kan tae jg tamvan. kkkk.

  5. Wah sudah luwes ya nulis yuri. Gak sekagok ff yuri pertamanya. Pas gambarin perasaan tiffany berasa gambarin perasaan gw dek.
    Die indiside begitu kira2 bahasa singkatnya.
    Mau lanjut baca yg ke dua ah

  6. Annyeong author 😘😘😘
    Long time no see
    Masih inget ama gw ga hehehehe *plakk pede banget gw 😂
    Sori thor beberapa bulan ni gw blum sempet baca ff u,dimutasi kerja ke kota orang bikin stress yee
    Ahhhh senangnya bisa baca ff u lagi,seenggaknya bikin gw ga terlalu stress banget 😊😊
    Hmm diawal cerita ada seorang pria mengunjungi makam orangtuanya,trus dilanjutin taeyeon lamar tiffany tp taeyeon itu cewek kan???trus sekarang ada lagi cowo nama GREY yg ga tinggi ketemu m tiffany..
    Hahaha gw masih bingung 😂😂

  7. akhirnya baca juga 😀
    oya, td yg cowo di makam itu siapa ya, trz alasan beda wkt critanya kok beda mungkin di chapt brikut bkal jls semua ya termasuk greynya? kyke tae kok rambut pnjg, wlupun td dibilangin cowo. trz klo buat karakter tulisan aq ada pertanyaan lwt chat mungkin ya 🙂 ntr,,aq lnjt dulu deh bacanya, untung pndek critanya jd lgs lahap ni siang,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s