My Lady (Shoot 1)

mine

“Hai Sayang… bagaimana kabarmu?” seorang pria masih memusatkan perhatiannya pada masakan yang sedang ia buat. Dengan lihai ia gerakan spatulanya, membuat semua bumbu dalam masakannya teraduk rata, menyadari bahwa sang kekasih sedang menatapnya intens.

“Duduklah.. sebentar lagi semuanya siap!” Pria itu mengolah lagi masakannya dengan beberapa bumbu dapur dan mengosengnya lagi menjadi sebuah tumis sayuran dan seafood lezat yang membuat lidah berliur menatapnya.

“Oppa.. ini tidak pedas kan?” si pria tertawa kecil mengambil sendok kecil, mengambil tumisannya itu dalam satu sendok, meniupinya dulu agar tidak terlalu panas sebelum ia suapkan ke mulut sang kekasih.

“Bagaimana? Kau menyukainya?” si wanita terdiam sebentar, mencoba mengidentifikasi rasa aneh yang bermain di lidahnya. Baru kali ini ia merasakan masakan dengan cita rasa seperti ini.

“Oke.. aku anggap kau menyukainya” si pria mengelus pelan puncak kepala wanitanya itu, membuat si wanita menganggukan kepalanya sebelum kembali focus menyantap sarapannya yang terbilang berat pagi ini baginya.

“Oh ya.. kau akan pergi lagi dengannya hari ini?” rasa penasaran si wanita terucap sementara sang kekasih terlihat berpikir sebentar, mengambil handphone-nya, memeriksa agendanya hari ini.

“Sepertinya iya.. ada apa memang?” wanita itu terlihat berhenti mengunyah apapun yang ada di mulutnya saat ini, terlihat ragu apa ia harus mengutarakan atau tidak apa yang ada di pikirannya saat ini.

“Kenapa? Kau cemburu? Tidak mau aku pergi dengannya hari ini?” Senyum malu menggemaskan itu kini terlukis di wajah sang wanita, membuat si pria tertawa kecil sebelum mengecup bibir kekasihnya itu pelan.

“Tenanglah.. ini hanya sementara..” Wanita itu mengangguk menerima kalimat yang setidaknya bisa menenangkan hatinya saat ini.

‘Atau mungkin tidak..’ sambung pria itu dalam hatinya.

===== My Lady =====

Tiffany POV

“Kau serius Oppa?” aku masih menatap pria dihadapanku ini tak percaya. Bagaimana dia bisa melakukan ini semua padaku?

“Aku serius” ada kemantapan dan keyakinan dalam jawabannya, membuat rasa bersalah dan beban yang bersarang di hatiku ini mulai berkurang.

Flashback

“Kau gila!” aku melepaskan genggaman tangannya, membuat pria di sampingku ini terlihat terkejut tapi beberapa detik kemudian berhasil mengatur lagi ekspresi wajahnya. Kami sekarang sedang berada dalam perjalanan pulang.

“Tenanglah Fany-ah.. semua akan baik-baik saja..” Kim Taeyeon.. pria di sampingku ini berucap masih dalam nada tenangnya, seakan tadi tidak terjadi apapun.

“Kau menciumku Oppa! Kau mencumbuku di khalayak umum! Bagaimana jika Yuri Oppa melihatnya? Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Dan lagi.. mengapa kau menciumku seperti tadi Heuh? Apa kau tidak sadar bahwa wanita yang kau cumbu tadi adalah calon istri sahabatmu?” aku menumpahkan emosiku padanya yang hanya tersenyum kecil menyesap segelas wine yang baru ia buka tadi.

“Yah Kim Taeyeon! mengapa kau hanya diam saja?” aku memberikan tatapan tajamku padanya sementara wajahnya masih terlihat biasa meskipun bisa kulihat senyum mulai bermain di dalamnya.

“Lalu mengapa kau tidak menolaknya? Mengapa kau tidak mendorongku?” Senyum itu bukan untuk mengejekku, lebih terlihat seperti sebuah bentuk kepuasan karena hiburan yang ia terima dari amarahku.

Aku terdiam..

Benar.. mengapa aku tidak langsung menolaknya saja?

Apa mungkin aku..

“Haruskah aku menolakmu.. mendorongmu dan mendapat kemungkinan bahwa mereka akan tahu bahwa kau bukanlah kekasihku yang sebenarnya?” Senyum di wajahnya itu bertambah lebar, terlihat begitu menyebalkan bagiku untuk melihatnya.

Mengapa kau masih begitu tampan dalam senyuman menjijikan itu?

“Nah.. kau sudah tahu jawabannya.” Ia sesap kembali wine di gelasnya, begitu menikmati minuman memabukan itu.

“No! aku butuh penjelasan langsung darimu!” ucapku masih dengan determinasi yang sama, menatapnya tajam dan penuh kekesalan tapi terselip pengharapan di dalamnya.

“Aku hanya menjalankan tugasku Fany-ah. Selama kau pergi dengan teman-teman wanitamu, berdansa dengan Ayah, Leo dan kakak iparmu, banyak orang disekelilingku yang tak mempercayai hubungan kita. Mereka mengira kau hanya sedang bersandiwara denganku dimana itu adalah sebuah kebenaran yang harus bisa kita tutupi demi keselamatanmu.”

Oke aku mengerti dengan maksudnya tadi tapi mengapa dia harus menciumku seperti itu? Yuri Oppa saja tidak pernah melakukan hal seperti itu di depan public padaku. Dia sangat menjaga privasiku yang tak ingin orang banyak melihat kami mengumbar kemesraan.

“Apa kau melihat beberapa orang memakai jas abu dengan pin scorpio di kerah mereka?” Tunggu.. apa maksudnya?

“Mereka adalah perwakilan Nozo Group yang mengawasi kita sejak tadi. Mereka beberapa kali memotretmu, memotret kita. Aku harus menciummu seperti tadi agar mereka yakin bahwa kau tidak memiliki hubungan apapun dengan Yuri.” Tak ada kebohongan atau keraguan di wajahnya saat ia mengatakan itu padaku.

Untuk sesaat aku hanya terdiam mendengar penjelasannya.

Tuhan… mengapa semuanya harus seperti ini?

Mengapa harus muncul masalah sebesar ini saat aku sebentar lagi akan benar-benar menggapai kebahagiaanku?

“Fany-ah.. maafkan aku. Jika kau masih ragu padaku.. kau bisa menanyakan semuanya langsung pada Yuri.” Sekali lagi aku hanya terdiam mendengarkan Taeyeon Oppa menjelaskannya padaku, masih terjebak dalam pikiranku tentang semuanya.

End Of Flashback

Oh My.. mengapa kau bisa mengirimkan padaku pria sempurna sepertinya?

“Fany-ah.. dengarkan aku. Apa yang dilakukan oleh Taeyeon kemarin.. dia sudah mendiskusikannya terlebih dulu denganku. Jadi kau tidak usah khawatir apa aku akan marah padamu atau tidak..” Yuri Oppa masih menatapku dengan senyum lelahnya.

Bohong!

Kau berbohong Oppa..

“Lalu bagaimana denganku? Apa kau memikirkan bagaimana perasaanku saat sahabatmu itu mencumbuku begitu mesranya di hadapan public?” pria di hadapanku ini menutup matanya sebentar, sebelum menatapku lagi dengan ekspresi kelelahan dan rasa bersalah luar biasa yang tergambar di wajahnya.

No Oppa.. jangan seperti itu.. kumohon!

Jangan menatapku seperti itu… kau tahu aku tak bisa bila kau seperti itu!

Batinku ini masih meminta dan memohon agar ia segera menghapus wajah yang bisa membuatku luluh seketika walau sebesar apapun kesalahannya.

“Maafkan aku sayang.. aku egois karena tidak memikirkan terlebih dulu perasaanmu tentang ini semua. Maafkan aku..” Ia berdiri dari kursi kebesarannya, menghampiriku yang masih diam membeku di tempat menunggunya.

“Keselamatanmu adalah prioritas utamaku. Aku lebih baik membunuh rasa cemburu yang begitu dalam saat Taeng mencumbumu kemarin daripada melihatmu terbunuh karena kecemburuanku.” Dia mulai menggenggam kedua telapak tanganku, membawanya dalam genggaman hangatnya.

“Cemburu itu pasti. Rasanya aku ingin sekali membunuh si pendek itu saat ia dengan alami dan tanpa beban menciummu begitu mesra. Hatiku panas, aku terbakar cemburu, jiwa possessive ku memberontak.” Genggaman itu berubah menjadi begitu erat seperti hampir melukai tanganku, membuatku sedikit meringis dibuatnya.

Apakah hatimu merasakan rasa sakit yang lebih luar biasa dari ini Sayang?

“Tetapi saat aku mengingat senyummu..” Yuri Oppa lepas genggaman tangannya yang sedikit menyakitiku tadi, mencoba membuat senyuman di wajahku dengan kedua tangannya, membuat senyum yang begitu dicintainya itu akhirnya tampak juga.

“Semua sakit itu menghilang..” tak ada kebohongan ataupun sandiwara yang bermain di wajahnya.

Mengapa Oppa? Hal itu yang kini muncul di pikiranku.

“Mengapa?” ucapku pelan, mencoba menahan tangis ini.

Tuhan!! Aku tak ingin menangis di hadapannya sekarang.. kumohon.

Jangan berikan jawaban yang membuat tangisku tumpah Sayang. Kumohon!

“Karena aku mencintaimu dan hatiku hanya untukmu. Aku..Tak akan menyerah dan tak akan berhenti mencintaimu.. meskipun kau harus bersama dengan pria lain, meskipun dunia tahu bahwa saat ini kau bukan milikku..” Entah sadar atau tidak, mataku kini sudah basah. Pipiku menjadi saksi tumpahan butiran Kristal yang tak ingin kukeluarkan saat ini.

“Aku akan terus berjuang dalam hidupku.. untuk selalu memilikimu.. seumur hidupku.. setulus hatiku hanya untukmu..” Tangisku pecah meskipun pelan. Aku menutup kedua mata ini, tak ingin melihat wajah bodohnya yang selalu membuatku jatuh cinta padanya.

Mengapa kau begitu sempurna Kwon Yuri?

“Sayangku..” Dia membawa kepalaku bersender di dadanya, mendekap tubuhku dalam pelukannya yang tak terlalu kuat. Aku masih menumpahkan tangisku di dadanya, mengalungkan kedua tanganku di tubuhnya, begitupun dengan tangannya yang masih di bertengger di pinggangku, lalu mengelus punggungku ringan, membuat tangisku terhenti

“Aigoo.. Nyonya Kwon.. kau begitu cantik walau seperti ini..” dia hanya tertawa sebelum mengecup keningku ringan, mengelus puncak kepalaku seakan itu adalah hal yang menjadi favoritnya.

“Karena itu kau mencintaiku..” ucapku masih dalam tangis meskipun sekarang sudah mereda. Ia melepaskan pelukan itu, merundukan kepalanya, menatapku dengan kedua jendela jiwanya yang selalu menjadi kesukaan untukku.

“Tentu. Aku hanya mencintaimu Tiffany Hwang.” Ia usap pipiku halus, membuat rona kemerahan itu masih saja muncul meskipun kami sudah berhubungan lebih dari 5 tahun.

“Kau jahat Oppa” ucapku memukul dadanya ringan, membuat senyum tampannya itu bermain di wajahnya, sementara aku masih tak ingin lama-lama menatapnya.

“Kau yang lebih jahat dariku” ucapnya memegang daguku, membuat mataku kini bertemu dengannya, melihat keseriusan yang ada di dalamnya.

“Apa maksudmu?” ucapku pelan karena jarak kami semakin dekat. Ia bawa tubuhku kembali dalam pelukannya, masih menatapu dengan tajam.

“Kau adalah makhluk Tuhan terjahat..” bisa kurasakan deru nafasnya menyapu bibirku membuat hatiku berdebar lebih cepat.

“Karena kau sudah membuaku jatuh cinta dan jatuh hati padamu.” Bibirnya yang lembut kini menyapa milikku yang dengan senang hati menyambut miliknya.

Ring.. Ring.. Ring..

“Angkatlah..” Ucapku sedikit melepaskan pagutan bibirnya yang masih tak mau lepas dariku. Aku tertawa kecil melihat wajah menggemaskannya yang merengut meminta bibirku kembali menyapanya. Kugelengkan kepalaku, membuatnya mendengus kesal dan segera mengambil handphonenya.

Aku beranjak mengambil sebuah album photo coklat yang selalu ada di meja kerjanya. Heumh.. sejak kapan album ini berada di disini?

Kubuka album itu dan senyum itu tak bisa kutahan saat aku melihat versi mini priaku ini berdiri begitu gagah dengan kaca mata hitamnya disamping Jiwoong Oppa dan seorang anak laki-laki yang sangat imut sekali. Mereka tersenyum begitu tampan dan menggemaskan pada kamera. Kulihat foto lain dimana calon suamiku ini hanya berfoto sendiri, berdua bersama Jiwoong Oppa dan satu lagi berdua saja dengan anak laki-laki yang setelah kupikir-pikir mirip sekali dengan Taeyeon Oppa.

Kubuka lembar berikutnya. Disana terdapat foto Yuri Oppa sedang bermain perang air dengan anak-anak seumurannya tapi lagi dapat kulihat anak laki-laki yang mirip dengan Taeyeon Oppa tertawa begitu tampan menembak lawan mereka. Tawa kecil itu keluar dari mulutku membuatku dengan semangat melihat lagi foto lainnya.

Taeyeon Oppa! Benar.. ternyata anak laki-laki yang tadi adalah dia. Mengapa? Karena di foto selanjutnya bisa kulihat anak laki-laki menggemaskan itu tersenyum menerima kecupan dari Yuri dan Jiwoong Oppa dengan cake ultah yang bertuliskan namanya. Oh.. mereka sudah bersahabat dari sekecil ini rupanya.

“Dia menggemaskan kan?” Calon suamiku ini segera membawa tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Bersama-sama kami melihat foto-foto yang memuat kebersamaan Yuri Oppa, Taeyeon Oppa dan calon kakak iparku hingga mereka menyelesaikan pendidikan strata mereka. Beberapa kali aku merengut dan cepat mengalihkan perhatianku setelah melihat foto-foto Oppa bersama pacar pertamanya, Son Yejin, aktris terkenal yang sampai saat ini masih berteman dekat dengan priaku ini. Dan yang paling aneh adalah saat aku melihat foto Taeyeon Oppa berdansa bersama seorang wanita begitu mesra. Mengapa aku merasa sebal sekali melihat mereka seperti itu?

“Dia adalah Jinhee, gadis pertama yang membuat Taeyeon jatuh cinta.” Rasanya tenggorokanku tersedak mendengar hal itu. Mengapa?

“Sayang sekali dia harus pergi begitu cepat..” ada kesedihan yang tak bisa Yuri Oppa tutupi dari wajahnya.

“Pergi?” Tanyaku pelan, masih tak ingin berkata banyak.

“Jinhee adalah mahasiswi hukum yang aktif membela hak dan keadilan bagi rakyat lemah. Dia adalah gadis yang sudah lama Taeyeon kagumi sejak kami duduk di sekolah menengah atas. Dia adalah aktivis HAM yang selalu giat mengkampanyekan kesamaan status dan hak bagi rakyat lemah meskipun dia adalah putri Lee Gwi..” kekasihku ini membuka lagi lembaran lain dimana wanita bernama Jinhee tadi tersenyum begitu bahagia menggenggam tangan Taeyeon Oppa dan pria tua yang ia ketahui sebagai seorang jaksa terkenal di negaranya.

“Si bodoh pendek ini baru berani meminta Jinhee menjadi kekasihnya saat mereka sudah duduk di tingkat 2. Sejak itu mereka menjalin hubungan yang serius hingga akhirnya Jinhee meninggal.”

“Meninggal?” Entah mengapa aku sekarang merasakan kesedihan itu muncul di hatiku saat melihat wanita bernama Jinhee itu tersenyum begitu indah pada Taeyeon Oppa yang sedang membakar sosis di sampingnya.

Mereka cocok. Mungkin jika Jinhee masih ada, Taeyeon Oppa sudah melamarnya dan menjadi suaminya.

“Jinhee adalah gadis yang cerdas dan kritis. Dia menyelesaikan kuliah setahun lebih cepat dari kami dan mulai serius menjalankan lembaga bantuan hukum yang dibuat oleh sahabat-sahabat aktivisnya. Semuanya berjalan lancar dan mengagumkan, mengingat Jinhee selalu memenangkan kasus klien yang dibelanya, kebanyakan dari mereka adalah rakyat miskin yang tak percaya hukum dan keadilan itu ada untuk mereka. Aku dan Taeyeon beberapa kali menghadiri persidangan Jinhee dan selalu terpukau dengan aksinya melawan pengacara lain yang sudah memiliki nama dibanding dirinya.” Oppa menunjukan foto lain dimana Jinhee dan Taeyeon Oppa berdiri bersama beberapa pekerja yang terlihat begitu bahagia bisa bersama mereka.

“Ini adalah pekerja Dong-Monhyu Group yang ternyata tidak mendapatkan upah dan tunjangan yang setimpal dengan kerja keras mereka. Jinhee dan team hukumnya mulai menyelidiki kasus ini dan akhirnya setelah mengumpulkan bukti yang cukup, mereka mengangkat kasus ini ke public dan setelah persidangan yang cukup menegangkan, mereka memenangkan kasus ini dan para pekerja itu bisa mendapatkan hak mereka.” Kekaguman itu kini mulai muncul di hatiku saat melihat Jinhee dengan karismatik dan serius berbicara mendampingi kliennya di pengadilan, di belakang bisa kulihat Taeyeon Oppa menatapnya penuh cinta dan kebanggaan.

“Saat itu Jinhee sedang menangani kasus tentang pencemaran laut yang dilakukan oleh salah satu perusahaan asal Rusia yang mengolah minyak mentah. Sidang itu adalah sidang yang terakhir kali Jinhee hadiri karena beberapa hari kemudian Jinhee ditemukan tewas di apartementnya nyaris tanpa luka apapun di tubuhnya. Media pun anehnya menutup rapat mulut mereka tentang kasus ini.”

“Bagaimana bisa Oppa?” tanyaku penasaran. Ini seperti yang sering terjadi di drama-drama CSI yang pernah kutonton.

“Aku juga tidak tahu, tapi yang paling mengejutkan adalah hasil akhir dari penyelidikan yang dilakukan polisi. Mereka mengatakan bahwa Jinhee tewas karena Over Dosis. Keluarga Jinhee dan Taeyeon menentang habis-habisan hal itu. Mereka tahu sekali bahwa Jinhee tidak pernah menyentuh obat-obatan terlarang seperti itu, bahkan Jinhee tidak pernah meminum minuman keras atau mabuk karena dia punya alergi terhadap minuman seperti itu. Akhirnya keluarga Jinhee dan Taeyeon mengadakan penyelidikan sendiri dan mendapati fakta baru bahwa selama ini banyak sekali perusahaan yang menginginkan Jinhee mati karena Jinhee dianggap terlalu ikut campur dalam urusan internal perusahaan mereka.”

Omo!!! aku tak bisa menahan keterkejutanku mendengar semua ini. Mengapa semuanya seperti yang ada di dalam drama?

“Sejak kematian Jinhee.. Taeyeon memutuskan pindah ke Amerika dan bergabung dengan kepolisian disana. Dia tidak mau bergabung dengan kepolisian Korea karena kekecewaannya terhadap kepolisian Korea yang seperti tutup mata dengan kasus Jinhee. Ia begitu ambisius sehingga sekarang.. disinilah ia sekarang.. menjadi pelindungmu..”

“Lalu bagaimana dengan tugasnya disana Oppa?”

“Well Taeyeon sudah meminta pada atasannya disana untuk ditugaskan di Korea dan untungnya mereka mengabulkan permintaannya.”

“Syukurlah..” ucapku masih merasa abu-abu. Aku bingung.. rasanya sekarang ini begitu banyak yang berlalu lalang di pikiranku. Apa yang dikatakan oleh Yuri Oppa padaku tadi terlalu banyak bagiku untuk kucerna.

“Aku mempercayakanmu pada Taeyeon karena aku tahu.. dia bisa menjagamu dan melindungimu. Dia tidak mau aku merasakan apa yang dirasakan olehnya saat Jinhee meninggal. Ia tidak mau aku kehilanganmu Sayang..” Oppa mengecup pipi kananku, sementara aku masih terdiam duduk di pangkuannya.

Ragaku memang aman dan selalu berada bersamamu, tapi.. bagaimana bila hatiku tidak?

===== My Lady =====

Taeyeon POV

“Hai..” Aku menyapa wanita yang hanya tersenyum kecil menerima pelukanku. Hari ini kami ada jadwal pemotretan dan wawancara dengan salah satu majalah yang tertarik mengungkap tentang hubungan kami. Yuri dengan cepat menyetujui ide yang dilontarkan oleh calon istrinya itu. Ia merasa ini adalah ide yang bagus untuk membuat public semakin percaya bahwa kami adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

“Kau ada masalah dengan Yul?” Tiffany menggelengkan kepalanya, tak menatapku, hanya melihat kesamping, melihat salju-salju yang mulai menutupin jalanan. Aku menyalakan radio dan mereka sedang memutar lagu-lagu natal yang membuat senyumku muncul saat mendengarnya.

“Suaramu bagus..” ucapnya masih belum menatapku tapi mulai mengangguk-anggukan kepalanya mendengar lagu yang menyenangkan ini.

Flashback

“Suaramu bagus..” gadis yang kini terasa seperti seorang wanita bagiku mulai mengeluarkan suaranya, membuatku mengalihkan tatapanku padanya.

“Kau baru mengetahuinya? Tapi terimakasih…” wanitaku ini tertawa begitu renyah dan merdu, mengeratkan genggaman tangan kami.

“Taeyeon-ah.. tuhan sudah begitu baik padaku. Dia memberikanku keluarga yang hangat, teman dan sahabat yang baik serta kekasih yang sempurna sepertimu.” Mata hitam kecoklatannya menatapku dengan cinta dan kebahagian di dalamnya.

“Karena kau adalah makhluknya yang begitu baik.. Sayang. Kau tak pernah lupa untuk bersyukur dengan apapun yang kau miliki, mencintai sesama dan menolong yang membutuhkan. Aku merasa Tuhan begitu mencintaiku karena telah mempertemukanmu denganku.” Aku mengecup tangannya ringan, membuat senyum indahnya itu menghiasi wajah cantik naturalnya.

“Sayang.. aku berharap hanya kematian dan Tuhanlah yang memisahkan kita..” Jinhee.. wanitaku.. dia berkata dengan sinar kebahagian dan harapan di dalamnya, sinar yang akan selalu kurindukan selamanya.

End Of Flashback

Jinhee-ah.. aku merindukanmu Sayang.

“Kau masih belum menjawab pertanyaanku” ucapku menyentuh tangannya, membuat wanita bermarga Hwang ini mulai menatapku dengan kedua matanya hitam keunguan yang membuat aku tak pernah bosan melihatnya.

“Kami baik-baik saja Oppa..” ucapnya singkat dan segera mengalihkan pandangannya membuat genggaman tanganku di tangannya semakin erat.

“Lalu mengapa kau seperti ini?” sepertinya aku tahu mengapa ia bersikap seperti ini. Lampu sign kiri kunyalakan dan mulai kutepikan mobil ini di pinggir jalan.

“Tiffany Hwang.. kau masih marah padaku karna hal kemarin?” Ucapku masih terlihat tenang meskipun tak tahu kenapa aku tak ingin dia marah padaku.

“Baiklah.. kuanggap diammu sebagai iya..” ucapku lagi masih dengan diamnya yang tak aku sukai. Kemana Tiffany yang selalu ceria dan memberiku senyuman cantik dan indahnya?

“Oppa.. bisakah kita bicarakan ini semua setelah pemotretan dan wawancara saja?” mataku segera menatapnya yang menggenggam tanganku dengan perasaan yang tak bisa kudefinisikan.

===== My Lady =====

“Ya.. seperti itu…” Pengarah gaya dan Fotograper membidik lagi kedua insan yang terlihat begitu dimabuk cinta. Taeyeon mengenakan kemeja polos putih dan celana kain cream sedangkan Tiffany mengenakan atasan yang sama dengan Taeyeon dan rok panjang yang senada dengan warna celana kekasihnya itu.

Itu adalah konsep ketiga dari pemotretan mereka untuk majalah Sure, salah satu majalah yang menjadi klien tetap perusahaan periklanan yang sekarang sedang dikelola Tiffany.

Konsep pertama tadi menceritakan bagaimana mereka bertemu. Tiffany yang terlihat begitu anggun, cantik dan elegan berdiri di samping mobil pink-nya, dalam balutan mantel bulu lembut merah mudanya, terlihat kebingungan mendapati kendaraannya itu mogok di jalan yang sepi dengan salju yang mengelilinginya.

Di frame selanjutnya diceritakan Taeyeon menepikan mobilnya, menghampiri Tiffany yang terlihat lega ada yang membantunya. Frame selanjutnya digambarkan bagaimana Taeyeon membantu wanita yang akhirnya menjadi kekasihnya itu memperbaiki mobilnya, make up artis dan stylish sengaja merubah tatanan rambut, baju dan wajah Taeyeon yang begitu tampan menjadi sedikit berantakan tapi tetap tak menghilangkan karisma dan menambah aura kejantanan Taeyeon yang terlihat begitu manly dan seksi. Tiffany berdiri di samping Taeyeon, memperhatikan pria itu memperbaiki mobilnya dengan cekatan, itulah yang pengarah gaya inginkan darinya dan dengan mudah ia lakukan. Sesi pertama pemotretan itu berakhir dengan Taeyeon dan Tiffany yang tersenyum malu tapi bahagia, saling bertukar no telepon.

Konsep kedua berlanjut dengan sesi pendekatan mereka. Background frame ini adalah sebuah kafe kecil favorit Tiffany. Mereka terlihat malu-malu menunjukan senyum mereka. Pengarah gaya dan fotograper tak mengalami kesulitan karena Taeyeon dan Tiffany memang terlihat seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta untuk pertama kalinya. Banyak bidikan kamera yang menangkap moment mereka. Dimana Taeyeon terlihat berbincang dengan wanita cantik di hadapannya itu, membuat beberapa banyolan sehingga Tiffany tertawa begitu cantik dibuatnya. Tiffany membulatkan kedua matanya saat dengan natural Taeyeon menghapus butiran busa di atas bibirnya menggunakan ibu jarinya sehingga rona merah kemaluan itu tak bisa hilang dari wajahnya. Kru banyak yang tertawa senang melihat scene itu. Puncaknya adalah saat Taeyeon mengantarkan wanita bermarga Hwang itu ke sebuah rumah yang disetting sebagai rumah Tiffany, mengecup kedua telapak tangan Tiffany dan mengecup kening Tiffany yang terdiam membeku menerimanya. Banyak kru disana yang menggoda Tiffany yang tersenyum malu sedangkan Taeyeon terlihat bangga dengan aksi yang dilakukannya.

Dan di konsep ketiga ini.. mereka akan menceritakan masa-masa mereka ketika sudah resmi sebagai sepasang kekasih.

“Taeyeon-shi.. bisakah anda mengecup pipi Tiffany-shi dan membisikan sesuatu di telinganya?” pengarah gaya berbicara begitu semangat membuat Tiffany terkejut mendengarnya.

“Tentu!” Dengan lantang Taeyeon menjawab, membuat kru yang lain tertawa melihat antusias pria bermarga Kim itu.

“Kau begitu cantik..” bisiknya halus sebelum mengecup pipi kanan Tiffany yang terkejut tapi kemudian tersenyum menyipitkan kedua matanya, membuat kamera berhasil menangkap senyum andalannya itu.

“Tiffany-shi… tolong peluk kekasihmu seperti kau akan kehilangannya..” Fotograper tersenyum melihat pasangan menggemaskan yang hari ini menjadi objek bidikan kameranya. Lelah itu tak terasa karena kedua orang di hadapannya itu sangat koperatif dan alami.

“Ahhh.. ini surga..” Taeyeon berkomentar membuat orang disekelilingnya tertawa mendengar celetukannya sementara memeluknya dengan rasa malu yang kentara.

“Oppa..” Tiffany melepaskan pelukan itu, membuat Taeyeon segera menatapnya dengan penuh cinta.

“Apa sayang?” ucapnya membuat Tiffany merengutkan wajahnya manja sehingga kecupan itu Taeyeon daratkan di bibir manis yang sudah menggodanya sejak tadi.

“Bravo!!!” Sang Fotograper tak melewatkan moment itu. Kru yang lain bertepuk tangan semangat melihat scene manis itu sementara Tiffany tak tahu harus berkata apa yang pasti ia merasa kesal karena Taeyeon lagi-lagi mengecup bibirnya tanpa permisi.

“Bisakah kita mengakhiri sesi pemotretannya dengan ini?” Keterkejutan Tiffany bertambah saat Taeyeon dengan cepat menarik tubuh mereka menyatu, menciumnya cukup dalam, mendekapnya begitu erat sehingga ia tak bisa dan tak mungkin menolak keinginan pria yang bertatus sebagai kekasihnya itu.

“Ok.. It’s a wrap guys… kalian luar biasa..” tepuk tangan memenuhi studio tapi tak menghentikan ciuman yang Taeyeon lakukan pada calon istri sahabatnya itu

.

===== My Lady =====

“Bagaimana kalian bisa bertemu dan akhirnya menjadi sepasang kekasih?” Tiffany terdiam sebentar sebelum menatap Taeyeon yang menganggukan kepalanya, membiarkan kekasihnya itu menjawab apapun yang diinginkannya.

“Itu terjadi begitu saja. Aku rasa ini adalah takdir.” Ucap Tiffany singkat membuat wanita yang mewawancaranya terlihat semakin penasaran.

“Maksud anda?” wanita itu kembali bertanya membuat Taeyeon yang sedari tadi diam akhirnya ikut berbicara.

“Aku dan Tiffany bertemu dalam keadaan yang tidak biasa. Dia melaporkan kehilangan anjingnya padaku yang saat itu memang sedang bertugas. Oh ya.. aku adalah polisi hehehe” Taeyeon tertawa renyah menyebutkan pekerjaannya itu.

“Anda Polisi?” si pewawancara kembali bertanya.

“Ya.. aku adalah polisi yang baru saja dipindahtugaskan ke Seoul. Basisku adalah di New York. Dan wanita disampingku ini.. adalah alasan utamaku akhirnya memutuskan untuk menetap di Seoul karena sebenarnya aku harus kembali ke New York.” Ada kekaguman dari wanita itu saat mendengar jawaban Taeyeon.

“Wah.. luar biasa!” pewawancara itu bertepuk tangan membuat Taeyeon tertawa lagi mendengarnya.

“Kau tahu.. ternyata anjingnya Nona Hwang..” Taeyeon menunjuk Tiffany yang menatapnya penasaran.

“Begitu menyukaiku karena akulah ternyata yang menemukannya. Sejak saat itu kami menjadi dekat. Kami biasa bertemu saat menjemput anjing kami, miliku bernama Ginger dan miliknya bernama Prince, dari rumah penitipan hewan peliharaan. Aku nyaman berbicara padanya begitu pula dengannya. Mungkin dari situ rasa suka itu muncul dan berubah menjadi cinta.”

“Berarti konsep yang tadi kami lakukan pada saat pemotretan itu salah besar?” Si pewawancara bertanya dengan tawa dan khawatir yang tergambar di wajahnya.

“Tidak.. karena apa yang kalian lakukan tadi sebenarnya terjadi juga. Hanya dengan jalan cerita yang berbeda karena Tuan Kim ini tidak mengingat wajahku sama sekali saat aku bertemu dengannya.”

“Benarkah?” Taeyeon hanya tersenyum malu menganggukan kepalanya, menikmati permainan mereka ini.

“Ya. Dengan polos dan bodohnya dia menanyakan lagi identitasku saat aku menghampirinya, melaporkan kehilangan anjing kesayanganku.”

“Wah.. berarti anda yang masih mengingat Taeyeon-shi hingga anda bertemu lagi dengannya?” Tiffany tertawa kecil menganggukan kepalanya, membuat Taeyeon yang gemas segera mengecup pipinya ringan.

“Apa dia sering melakukan hal itu?” pewawancara menunjukan pada ciuman dan kecupan yang selalu Taeyeon berikan pada Tiffany.

“Dia begitu manis sehingga aku tak bisa menahan diriku.. hahhaaha mohon maafkan..” Tiffany meninju perut kekasihnya itu ringan sementara Taeyeon menunjukan wajah kesakitan dan menyesalnya.

“Oke.. ini mungkin pertanyaan yang terkesan mengganggu privasi anda. Tapi public sebelumnya tahu bahwa anda adalah kekasih Kwon Yuri. Apa Taeyeon-shi penyebab..” Tiffany segera memotong apapun yang akan dikatakan wanita itu.

“Aku dan Yuri Oppa sudah putus sejak 2 tahun yang lalu tapi kami masih berteman baik. Taeyeon Oppa juga ternyata adalah sahabat masa kecilnya dan Yuri Oppa tidak masalah aku sekarang menjalin hubungan dengan sahabatnya. Publik mengira aku dan Yuri Oppa putus secara tiba-tiba karena adanya orang ketiga, yang mana selalu public tunjukan pada Taeyeon Oppa. Tapi kebenarannya adalah.. aku bertemu dan akhirnya jatuh cinta dengan pria di sampingku ini jauh setelah aku mengakhiri hubunganku dengan Yuri Oppa..”

“Aku tidak tahu dia adalah mantan kekasih sahabatku karena aku dan Yuri sudah jarang berkomunikasi sejak aku pindah ke Amerika. Lagipula sahabatku itu adalah tipe pria yang sangat menjaga privasinya. Jadi bisa kupastikan aku bukan perusak hubungan orang apalagi sahabatku sendiri..”

“Lalu apa yang menyebabkan kau dan Kwon Yuri putus?” Tiffany tak menyukai pertanyaan ini apalagi mengingat fakta bahwa ia dan tunangannya itu memang tak pernah memutuskan hubungan mereka pada kenyataannya.

“Kurasa itu adalah privasi Nona Hwang dan aku pun tak pernah menanyakan hal itu padanya. Bisakah kita pindah ke pertanyaan yang lain?” Taeyeon kali ini yang berbicara, membuat pewawancara itu tersadar dari kesalahannya dan meminta maaf pada keduanya khususnya Tiffany.

“Baiklah terakhir.. apa harapan kalian berdua? Maksud saya tentang kehidupan.. mimpi.. pekerjaan ataupun hubungan kalian..” si pewawancara itu menyadari situasi yang tak nyaman yang dibuatnya.

“Harapanku.. aku berharap semua yang kuinginkan tercapai. Selalu diberkahi dan dilindungi Tuhan. Semua proyek yang sedang kujalankan lancar dan sukses. Diberi kesehatan, kedamaian dan ketenangan hati. Bisa membantu banyak dengan program kemanusian yang sudah dijalankan yayasan keluargaku, Keluarga besar Hwang. Dan terakhir.. hidup bahagia bersama keluargaku dan pria yang kucintai..” Tiffany melirik Taeyeon yang tersenyum lebar mendengarnya.

“Lalu bagaimana denganmu Taeyeon-shi?”

“Harapanku?” si pewawancara itu menganggukan pertanyaan Taeyeon.

“Aku hanya berharap semoga apa yang diinginkan dan diharapkan oleh wanita di sampingku ini terkabul..” Taeyeon mengedipkan matanya, tersenyum begitu tampan dan karismatik pada Tiffany yang tak bisa menahan senyum malu mendengarnya.

===== My Lady =====

Tiffany POV

“Kau lelah?” Kami sekarang berada di taman tempat aku dan Yuri Oppa biasa bertemu jika kami rindu.

“Sedikit.. photoshoot hari ini dan wawancaranya.. cukup melelahkan..” ucapku sedikit mengulaskan senyumku padanya.

“Beristirahatlah..” aku menganggukan kepalaku dan dengan begitu saja menyenderkan kepalaku du bahunya.

“Oppa..” ucapku memecah kesunyian ini.

“Iya?” dia menjawabku tapi tak menatapku seperti biasanya.

“Aku ingin berbicara..” ucapku mulai serius dan kini dia mulai menatapku, masih meminum kopi panasnya.

“Aku sedang bingung..” pelan suara ini keluar dari bibirku membuatnya mendekat padaku, ingin mendengarku lebih jelas berbicara padanya.

“Aku dan Yuri Oppa sudah membicarakan kejadian kemarin dan reaksi yang dia berikan sama seperti apa yang kau bicarakan padaku.” Taeyeon masih menyesap minumannya, menganggukan kepalanya memberi tanda pada Tiffany untuk melanjutkannya ucapannya.

“Yuri Oppa kesal padamu tapi dia berkata bahwa keselamatanku adalah prioritas utamanya. Dia rela kau menciumku seperti kemarin karena dia ingin aku selamat meskipun aku bersamamu.”

“Lalu?”

“Oke.. let’s say jiwa dan ragaku selamat selama aku bersamamu tapi bagaimana bila hatiku tidak?” Taeyeon Oppa menatapku dalam diam, seperti berusaha mencerna apa yang baru saja kuucapkan padanya.

“Aku bingung Oppa.. aku takut..” ucapku kembali membuatnya terdiam, terlihat berpikir dengan apa yang akan ia katakan.

“Fany-ah.. apa kau mencintai Yuri?” Aku dengan cepat menganggukan kepalaku.

“Apa kau pikir aku mau melakukan semua ini jika aku tidak mencintainya Oppa?” Aku menatapnya kesal dan tak percaya.

“Lalu mengapa kau masih meragukan hatimu?” Damn! Mengapa kau pintar bermain kata?

“Aku.. aku.. aku tak tahu Oppa..” Bodoh! Kau jelas sekali tahu Tiffany Hwang!

“Okay.. aku mengerti..”Dia segera menyimpan kopinya, menarik tubuhku semakin dekat dengannya.

“Kau harus melatih hatimu untuk tetap bersama Yul meskipun aku melakukan ini..” Detik berikutnya bisa kurasakan bibir lembutnya itu menyapu milikku yang tak membalasnya meskipun bagian lain diriku ingin melakukan hal itu. Ia melepaskan kecupan itu dan tersenyum begitu manis padaku dengan wajah kekanakannya.

“Karena hanya Kwon Yuri.. pemilik hatimu dan aku.. akan memastikan itu” ucapnya penuh dengan keyakinan tapi tidak denganku.

Bagaimana bisa kau seyakin itu jika yang kau lakukan adalah sebaliknya?

==================================

============================

================

hai folks!

Kangen dengan cerita ini?

anggap saja ini adalah hadiah natal dan tahun baru dari gw ya ^_^

https://risma3194.wordpress.com/2015/09/06/my-lady/

buat yg belum pernah baca part perkenalannya… silakan linknya sudah ada di atas ya

oh ya… gw baru kecelakaan dan mohon doa dari kalian semua semoga cepat diberi kesembuhan dan kesehatan lagi

akhir kata.. gw mau bilang makasih buat kalian yg masih setia dan mau membaca ff disini..

terimakasih buat yg selalu komen

terimakasih buat yang sudah dengan baik hati menghubungi gw untuk minta pw

heumh.. gw tahu ko untuk komen itu susah tapi setidaknya dengan baca komen kalian.. itu menambah motivasi gw buat bikin dan posting karya yang lebih baik.

Jika Taeyeon dan SNSD bilang bahwa mereka bisa merasa terhubung dengan fans melalui comeback dan konser mungkin hal itu berlaku sama untuk gw yang bisa merasa terhubung langsung dengan kalian lewat komentar yang kalian tinggalkan.

kenapa sih harus komen? kan itu hak kita thor mau komen atau ngga?

percaya atau ngga ya.. buat gw.. komen kalian tuh adalah sebuah kenangan yg akan selalu gw jaga dan gw pelihara meskipun yg HennyHilda sempet ga sengaja kehapus

maaf ya hehheh

ih author ko lebay sih?

biarin gpp.. kalian malah lebih lebay baca tulisan dari author kaya gw hahaha oke maafkan gw tidak maksud menyinggung siapapun disini

oh ya thor.. kpn mau update ff yg lain? yg yulsic gmn? ko updatenya yg taeny terus sih?

heumh.. sebenernya ide untuk menulis hingga ending yg yulsic itu sudah ada cuma gw  kesulitan untuk  menuangkannya dalam kata-kata.. entahlah kenapa.. mungkin butuh piknik dan moodbuster gtu hahhaa

Thor!! yg Yoonfany kapan?

aduh kpan ya? kemarin udah baca” lagi sih yg yoonfany dan Oke… gw suka banget sama karakter Yoong disitu hahaha tapi lagi mentok nih gtw kenapa.. lagi susah aja nyari ide dan menuangkannya ke ms word wkwkwkwkw

sabar ya yoonfany dan yoonsic shipper

dan terakhir.. berbahagialah kalian Locksmith karena berkat beberapa orang yg namanya g bisa gw sebut disini.. jiwa locksmith gw lagi onfire wkwkwkw

gtw sih lagi suka banget baca taeny apalagi baca ff-nya… heumh.. dan heumh hehehhee

mungkin orang” terdekat gw tahu siapa mereka yg jadi sumber inspirasi gw buat nulis taeny

oh ya.. klo kalian pikir gw ga inget sama kalian yg suka komen.. kalian salah

kalian yg suka komen itu..udh kaya temen gw.. sodara gw..

hennyhilda, ppannytaeng, keyna, nita, kimrahmahwang, fofo, A, nursy shee cyruus,  Minjoon, sn, kwonratna, ciahashyoung, sherink1820, chipajungss, murie, junileen, my boo tae tae, dokong, taeny407, balabila, hyeanisaicha, Q_dorktae, Wink(s), im d, abii, xee, dhean kim taeny, kimtaengoo007, J, SicaBaby, charlezt, taengo dan pembaca lainnya yang sudah setia baca disini

Thor ko kaya yg mau perpisahan? mau pensiun emang?

heumh.. gtw.. tapi mungkin aja..

tapi tenang.. klo lagi baca komen kalian,, pikiran buat pensiun jadi penulis ff itu buyar hahaha

yaa gw sih mikirnya kan ga selamanya gw bisa nulis ff hehehe dan gw juga ga semakin muda tiap tahunnya..

Selamat Tahun Baru… semoga 2016 lebih baik dari 2015 ^_^

Be Happy Folks!!!

Iklan

139 pemikiran pada “My Lady (Shoot 1)

  1. Owalaah jadi ini ada sandiwara toh haha tapi tadi di shoot 3 taeyeonnya kaya yg jadi kecintaan, tapi di sini tiffany?
    Ini belum menjawab komen shoot 3. shoot 2 deh hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s