I’m Not The Only One Part VI (Final Chapter)

PhotoGrid_1433500034927

Macau, Agustus 2005

“Stephi.. selamat ulang tahun Sayang..” Steve Hwang tersenyum menerima pelukan erat dari sang putri yang hari ini baru saja berumur 24 tahun. Ia sedang merayakan ulang tahun putri ke 3-nya itu di salah satu resort yang dimiliki olehnya.

“Thanks Daddy.. kau yang terbaik..” Tiffany tak bisa menyembunyikan air mata bahagianya saat ini.

Berkumpul bersama orang-orang yang dicintai dan disayangi adalah hal terbaik yang selalu ia minta kepada Tuhan setiap waktu. Tak terkecuali hari ini dimana Ayah, Leo, Michelle dan sang kekasih yang berkumpul di waktu yang sama dalam tempat yang sama pula. Biasanya mereka semua selalu sibuk dengan urusan masing-masing.

“Kau adalah Princessku Sayang.. harta yang berharga sama seperti Leo dan Michelle. Kalian pantas dan sudah seharusnya mendapatkan yang terbaik” Steve mengecup kening sang putri yang menangis kecil di bahunya sementara tamu lainnya yang hadir hanya bisa terdiam haru melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh keduanya, tak terkecuali tamu penting acara ini.

“Daddy Terima kasih.. terimakasih.. aku mencintaimu” Tiffany terus membisikkan kalimat itu di pelukan ayahnya yang tak bisa menahan linangan air matanya. Andai saja sang istri masih ada, mungkin kebahagian hari ini akan terasa sempurna.

“Sayang.. Daddy ingin kau bertemu dengan seseorang.” Kalimat itu membuat Tiffany mendongakan kepalanya, menatap ayahnya penasaran.

Tiffany POV

“Dia sudah ada disini.. Son.. kemarilah..” aku melepaskan pelukanku dan berbalik menghadap pria yang berjalan menghampiri kami.

“Selamat ulang tahun Tiffany-shi.. semoga apapun yang kau inginkan terkabul..” pria yang terlihat begitu karismatik dalam balutan kacamata tipisnya itu tersenyum begitu tampan memberikan sebuah box sedang yang dibalut wallpaper soft Pink favoritku.

“Terima kasih..” aku berbicara menerima pemberian itu, masih tetap menatap mata coklat madunya yang begitu familiar bagiku.

Apa aku pernah mengenalnya?

“Steph.. hadiahmu..” Michelle dan yang lainnya tertawa melihatku masih terdiam menerima kado dari pria yang berada di hadapanku saat ini. Kakak perempuanku itu mengambil hadiah itu, menyimpannya di tempat yang memang sudah disiapkan sebelumnya.

“Sayang.. kenapa kau diam saja?” Daddy kali ini berbicara, membuat kereta pikiranku berjalan berantakan.

“Ah iya.. aku belum mengenalkan diriku. Nice to meet you Tiffany Hwang, aku Kim Taeyeon. Kau bisa memanggilku Taeye..”

“Taetae..” ucapku entah kenapa, rasanya bibir ini bergerak di luar keinginanku. Ada keterkejutan di raut wajahnya mendengar apa yang kukatakan tadi tapi beberapa detik kemudian sebuah senyuman termanis dan terhangat yang pernah kulihat hadir membuat hatiku entah kenapa begitu senang melihatnya.

“Kau sudah mengenalnya terlebih dulu Sayang?” Daddy kembali bertanya membuat aku segera mengembalikan diriku seperti biasa.

“No Daddy.. aku baru bertemu dengan Taeyeon-shi hari ini.” sanggahku dengan cepat membuat tawa kecil itu keluar dari bibirnya. Daddy juga ikut tertawa dengannya dan tunggu.. mengapa aku ikut tertawa dengan mereka?

“Aku belum pernah bertemu dengan putrimu ini Paman, mungkin di kehidupan sebelumnya kami pernah bertemu..” Ia tertawa lagi kemudian terdiam, menatapku dengan lembut dan mengeluarkan lagi tawa renyahnya yang anehnya bisa dengan mudah aku sukai.

“Mungkin kalian adalah jodoh di kehidupan kalian sebelumnya..” Daddy tertawa lagi melihat wajahku tiba-tiba memerah mendengar kata ‘jodoh’ keluar dari mulutnya.

“Mungkin Paman… mungkin..” Taeyeon tersenyum kecil dalam ucapannya, menatapku dengan kesenduan dan kerinduan yang tersirat di dalamnya.

“Wah.. sepertinya kalian berdua sudah akrab yaa!” Leo, kakak laki-lakiku ikut bergabung bersama istrinya.

“Tentu.. mereka kan..” Michelle menghentikan ucapannya, mendapat tatapan tajam dari Daddy yang jarang sekali aku lihat selama ini.

“Sayang.. Taeyeon adalah anak sahabat Daddy di Korea. Dia baru saja menyelesaikan pendidikan masternya di UCLA. Daddy sengaja mengundangnya kesini agar kalian lebih akrab.”

“Akrab?” tanyaku mulai tak mengerti maksud Daddy. Untuk apa aku akrab dengannya? Tunggu.. jangan bilang bahwa kami…

“Tentu kalian harus mulai saling mengenal dan mengakrabkan diri kalian karena Taeyeon disini.. dia adalah calon suamimu Sayang..” Dan aku hanya terdiam mendengar Daddy berkata seperti itu. Kualihkan pandanganku pada Taeyeon yang tersenyum begitu hangat padaku.

Dugeun…

Dugeun…

Dugeun…

Dugeun…

Dugeun…

Tunggu! Mengapa hatiku seperti ini?

End Tiffany POV

 

Present Time

“Yul.. simulasi ini.. jalan ceritanya..” Jessica menatap layar monitor di hadapannya tak percaya.

Bagaimana bisa alam bawah sadar Tiffany membangkitkan lagi ingatannya tentang pertemuan pertamanya dengan Taeyeon? Apa mungkin wanita itu memiliki perasaan seperti yang digambarkan tadi? Apa selama ini sebenarnya cinta itu memang ada untuk Taeyeon?

“Aku tidak tahu mengapa Tiffany memulai simulasinya di bola ingatannya yang ini. Mungkin ini memiliki makna tersendiri bagi Tiffany sehingga ia menyimpan pertemuan pertamanya dengan Taeyeon sebagai Core Memory di otaknya”

“Apa ini semua aman? Dia akan baik-baik saja kan?” Jessica menatap tubuh yang masih tergeletak tak sadar di ranjangnya, memakai semua peralatan yang menopang hidupnya saat ini.

“Tentu.. aku akan mengusakan yang terbaik untuknya. Tapi aku juga membutuhkan dukunganmu Sayang..” Yuri memeluk sang istri yang terlihat khawatir sekali dengan semua yang mereka lakukan saat ini.

‘I will bring them to life Sica.. I promise..’ tekadnya dalam hati melihat sang sahabat yang tertidur begitu pulas di samping orang tercintanya.

======== I’m Not The Only One ========

Jeju, Maret 2015

“Sayang..bangun!.. bangun!.. kumohon bangunlah..” seorang wanita bangun dari tidurnya saat sebuah suara memanggilnya terus menerus. Ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya tapi seluruh badannya begitu lemas tak tahu kenapa.

“Kenapa badanku lemas seperti ini? rasanya seperti aku sudah tidur begitu lama. Semua badanku sakit..” wanita itu mengeluh mencoba meregangkan tubuhnya, otot-ototnya terasa kaku dan ia merasa aneh sekali berada di tempat ini.

“Apa yang sedang kulakukan disini? Bukankah kemarin aku..” pikirannya beralih pada scene terakhir yang ada di ingatannya.

“Aku selamat!” wanita itu sedikit berteriak lalu kemudian merasakan sakit di tenggorokannya. Ia mengambil segelas air mineral di meja dekat ia duduk sekarang. Ia teguk air itu dan rasanya segar sekali.. rasanya seperti sudah ribuan tahun ia belum minum. Selama beberapa menit ia mencoba menggerakan tubuhnya dan akhirnya kakinya bisa ia gerakan. Ia turun dari ranjang dan berjalan dengan hati-hati keluar dari kamarnya, mencari tahu tempat dimana ia sekarang berada.

Tiffany berjalan menuruni tangga satu persatu dengan perlahan, masih merasa tubuhnya kurang seimbang. Ia merasa seperti balita yang baru belajar bagaimana caranya berjalan. Dari kejauhan ia bisa mendengar suara orang yang sedang memasak di dapur. Senyumnya merekah, ia berharap apa yang dipikirkannya adalah apa yang akan ia lihat sekarang. Dengan cepat ia tambah langkah itu, mencoba menahan semangat luar biasa dalam dirinya.

“Taeyeon-ah..” wanita itu akhirnya memanggil pria yang memunggunginya, masih focus dalam masakannya.

Tiffany POV

“Taeyeon-ah..” aku mencoba memanggilnya dan hatiku ingin itu adalah dia.. Kim Taeyeonku.. Kim Taeyeonku tercinta.

“Kau sudah bangun?” aku hanya terdiam melihat ia tersenyum terkejut melihatku. Dari kejauhan aku bisa melihat ia mematikan kompor listriknya, berjalan menghampiriku masih dalam apron biru kesayangannya.

“Sayang.. kau kenapa? masih bermimpi buruk seperti kemarin?” ia bertanya padaku masih dengan gayanya yang gentle dan penuh kehangatan.

Oh Tuhan… Terimakasih!

Dia adalah Taeyeonku.. priaku.. hidupku..

“Taeyeon-ah.. dimana Jessica dan Siwon Oppa?” aku menanyakan hal ini karena aku harus memastikan bahwa ini semua bukan mimpi dan yang kualami kemarin hanyalah mimpi burukku saja.

“Tae..” aku berucap lagi karena priaku ini hanya terdiam mendengar nama Siwon Oppa keluar dari mulutku. Tunggu.. apa dia..

“Sica dan Yuri sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Siwon.. dia sudah..” ucapanya terhenti dan dia kembali menatapku dengan tatapan bingung dan tak percaya, sama seperti aku yang menatapnya seperti itu.

“Siwon Oppa kenapa?” Tanyaku lagi membuatnya menggelengkan kepalanya. Aku tahu pasti ada sesuatu yang kau sembunyikan sayang.

“Apa kau tak ingat apapun tentang Siwon?” dia kembali bertanya padaku seakan pertanyaanku membuat suasana semakin aneh.

“Sayang.. Siwon.. pria itu sudah masuk penjara karena dia mencoba membawamu kabur sehari sebelum pernikahan kita digelar.” Amarah jelas terlihat dari wajahnya baby face-nya.

“Tunggu.. maksudmu aku…”

“Dia begitu terobsesi untuk membalas dendam padaku dan menggunakanmu sebagai senjata utamanya untuk menghancurkanku. Dia sempat menyekapmu selama beberapa hari sebelum akhirnya Sooyoung dan Team-nya berhasil melacak keberadaanmu dan akhirnya pria brengsek itu berhasil kami tangkap. Syukurlah kau baik-baik saja… jika tidak aku bisa mati. Tapi sejak penyekapan itu, terkadang kau seperti ini, melupakan apapun yang terjadi padamu sebelum penyekapan itu terjadi. Untung saja beberapa jam kemudian kau mengingat lagi semuanya, bahkan aku. Sejak kau menjalani terapi bersama Minyoung Noona.. kondisimu membaik dan setidaknya sekarang kau tidak melupakan aku lagi sebagai suamimu..”

oke… cerita ini semakin aneh. Apa aku masuk ke dimensi lain? Bagaimana bisa Siwon Oppa menjadi penjahat seperti itu. Terlebih aku amnesia? Bagaimana bisa aku melupakan ingatan tentang pria tampan di hadapanku ini. Apa otakku sudah mulai lelah?

“Sayang.. apa kau baik-baik saja? Oh.. apa kau sudah meminum pil yang kusediakan di meja?” aku menggelengkan kepalaku dan dengan segera Taeyeon berlari mengambil obat itu sebelum aku sempat bertanya apapun. Aku memutuskan untuk duduk, dan menunggunya.

“Mom?” tunggu.. apa ada yang memanggilku?

“Mommy..” kualihkan pandanganku pada seorang anak laki-laki yang mirip sekali dengan Taeyeon. Apakah ia….

“Mom.. mengapa kau diam saja? Aku ingin pelukanmu..” bocah yang kukira masih berusia 6 tahun itu memelukku begitu erat, seakan aku akan hilang dalam sekejap dari hadapannya.

“Sangjin-ah.. Eomma baru saja sembuh..” Seorang anak perempuan yang ajaibnya mirip sekali denganku dan Taeyeon berjalan mendekati kami. Dari pakaiannya ia terlihat sudah lengkap untuk pergi melaksanakan aktivitasnya. Anak perempuan itu memakai rok hitam setengah paha lengkap dengan stokingnya sementara kemeja putih gaya klasick yang anggun dan elegan itu menjadi atasannya.

“Dave Noona.. panggil aku Dave.. Davide Kim” aku tersenyum melihat anak laki-laki yang masih berada di pelukanku ini merajuk pada kakaknya.

“Hai Kids.. kalian sudah siap?” Taeyeon kini berjalan turun dari tangga menghampiri kami. Aku mengalihkan pandanganku bergantian dari ketiga orang yang kini berada di sekelilingku.

“Eomma.. apa kepalamu masih sakit?” dengan sopan dan lembut anak perempuan itu menggenggam tangan kananku, membuatku tersenyum bahagia saat melihat mata coklat madu itu ia warisi dari pria yang paling aku cintai dalam hidupku.

“Yoojung-ah.. Eomma sudah baikan ko.. dia hanya perlu meminum ini sekarang.. buka mulutmu sayang..” Taeyeon menyuapiku 2 butir pil merah muda yang segera kuteguk bersama dengan air yang priaku ini berikan padaku.

“Mom.. jangan sakit lagi.. aku sangat khawatir..” kini Dave yang memegang pipiku dengan tangan kanannya, mengecupnya lalu menyenderkan kepalanya di leherku yang tersenyum begitu bahagia mendapatkan fakta ini.

“Tentu.. aku akan selalu menjaga kesehatanku.. aku akan selalu bersama dengan kalian…” Aku mengecup kening putri dan putraku ini penuh cinta, menangis dalam bahagia karena aku bisa bersama mereka, meskipun aku tak tahu apakah ini akan bertahan selamanya atau hanya sesaat.

“Big Hug!” Taeyeon tersenyum begitu lebar sebelum akhirnya membawa kami dalam pelukannya, membuatku merasakan kehangatan dalam hatiku begitu luar biasa.

End Tiffany POV

 

Present Time

“It’s positive.. Tiffany sudah menyimpan semua fakta di dalam Core Memory-nya bahwa dia mencintai Taeyeon.. kita berhasil Sica!” Yuri memeluk wanita di sampingnya yang hanya tersenyum kecil menganggukan kepalanya. Yuri melepas pelukan itu merasa ada yang berbeda istrinya.

“Sayang.. kenapa?” Yuri mengelus kepala istrinya itu, ia tahu ada hal yang masih mengganjal di hati istrinya.

“Tiffany masih belum bangun.. mereka berdua masih belum bangun Yul. Aku rasa ini semua belum bisa dikatakan berhasil jika mereka berdua belum kembali kesini..” Jessica menatap sang sahabat dan istrinya yang terbaring di ranjang berbeda tapi berdekatan, sesuai permintaan Taeyeon yang ingin selalu berdekatan dengan sang istri dalam kondisi apapun nantinya.

“Aku tahu Sayang.. maafkan aku.” Jessica menganggukan kepalanya, menerima kecupan di keningnya.

“Yul.. andai saja itu semua bisa terjadi pada Taeyeon sejak dulu..” Yuri mengiyakan ucapan istrinya yang masih ia dekap dalam pelukannya. Mereka berdua kembali mengawasi monitor yang masih memunculkan momen bahagia Taeyeon, Tiffany dan keluarga kecil mereka.

“Lihatlah.. Davide dan Yoojung mirip sekali dengan Taengoo dan Tiffany..” Jessica tersenyum melihat keluarga kecil itu saat ini sedang piknik di halaman belakang rumah mereka yang cukup luas. Davide ingin bermain laying-layang dengan Taeyeon sedangkan Yoojung dan Tiffany masih sibuk menyiapkan makan siang mereka untuk piknik mereka sekarang ini.

“Apa kau juga ingin memiliki Kwon Junior Sica?” Yuri kini bertanya pada Jessica yang terkejut mendengarnya tapi diakhir tersenyum malu padanya. Yuri tersenyum sebelum mengecup kening istrinya itu.

======== I’m Not The Only One ========

Jeonju, Agustus 2015

“Fany-ah.. aku akan bergabung dengan kalian nanti ya, setelah pertemuanku dengan Walikota Lee selesai…” Taeyeon tersenyum melihat anggukan dari istrinya. Ia turun membukakan pintu untuk sang istri yang duduk di sampingnya. Mereka tadi baru saja membeli kado untuk ulang tahun si bungsu yang lahir di bulan yang sama dengan ibunya. Rencananya malam ini mereka akan mengadakan pesta pribadi di Kim Mansion, kediaman pribadi orang tua Taeyeon di Jeonju.

“Baiklah.. kau hati-hati dan semoga sukses rapatnya..” Tiffany mengecup lagi bibir suaminya itu untuk kesekian kalinya. Ia menautkan kedua tangannya di leher sang suami, mengubah kecupan itu menjadi ciuman yang dalam dan menggairahkan. Keduanya harus terhenti karena bunyi telpon Taeyeon di saku jasnya.

“Pergilah.. nanti kau terlambat..” Tiffany mengambil sapu tangannya, menghapus bekas lipstick di bibir suaminya, merapikan kembali penampilan Taeyeon sehingga menjadi handsome, confidence and presentable seperti biasanya.

“Done! Now.. go go go my Tiger!” Taeyeon tertawa sebelum memasuki mobilnya, mulai menyalakan mesin dan menancap gasnya, meninggalkan Tiffany yang masih berdiri di tempatnya, melihat mobil sang suami yang kini mulai menghilang dari pandangannya.

20 Menit kemudian

Bel berbunyi beberapa kali membuat Tiffany berjalan membuka pintu utama kediaman Kim. Beberapa pembantu sedang berbelanja untuk pesta mereka nanti malam sehingga yang tersisa di rumah hanyalah Tiffany dan kedua buah hatinya, kedua orang tua Taeyeon sedang dalam jamuan makan siang dengan calon investor baru perusahaan mereka.

“Selamat Siang Nyonya…” seorang pria sedikit membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Tiffany yang tersenyum menerimanya.

“Oh Hai masuklah.. aku akan memanggil anak-anak terlebih dulu..” Pria itu masuk ke dalam rumah, berjalan menuju sofa di ruang tamu sambil menunggu Tiffany dan kedua anaknya.

“Paman!!!” Davide berlari memeluk pria itu berbeda dengan Yoojung yang berjalan begitu santai menghampirinya. Ia membungkukan tubuhnya sedikit dan mengecup kedua pipi pria di hadapannya.

“Apa kalian sudah siap?” pria itu bertanya pada anak-anak yang segera mengiyakan pertanyaan pamannya itu.

“Bagaimana dengan Anda Nyonya… apa anda sudah siap?” Tiffany mengangguk dan berjalan kelaur pintu bersama anak-anaknya, meninggalkan pria yang tersenyum diam dalam hatinya mengetahui rencana mereka hari ini.

======== I’m Not The Only One ========

“Appa.. Eomma..” Yoojung masih berteriak lemah dalam tangisnya, masih dengan kondisi mata yang tertutup dan mulut terlakban sehingga hanya gumaman kecil yang bisa ia lakukan. Kepalanya pusing, sakit.. seluruh tubuhnya sakit tapi bagian kepalanya yang paling menyakitkan dari semua ini. Ia berusaha menggerakkan tangannya berkali-kali, mencoba melepaskan ikatan yang pria-pria jahat itu lakukan padanya. Ia tak ingat bagaimana caranya ia bisa seperti ini yang ia tahu tadi siang ia hanya akan membeli hadiah untuk Sang Appa yang merayakan ulang tahun pernikahannya bersama sang Eomma.

“Eurghh…” tangannya perih, perih sekali saat bergesekan dengan tali itu. rasanya duri tajam menusuk-nusuk kulitnya setiap kali ia menggesekkan agar tali itu terbuka.

“Eomma.. Sangjin-ah..” rasanya ia ingin sekali melepaskan ikatan di kepalanya ini yang menutupi kedua matanya tapi bagaimana bisa, kedua tangannya saja diikat seperti ini.

“Mom!!!!” teriakan itu membuat rasa khawatir dan senang muncul di dalam pikiran Yoojung. Adiknya masih hidup, Dave tidak apa-apa tapi bagaimana dengan ibunya?

“Mommy… tolong aku..” Davide masih merintih dalam tangisannya yang cukup keras sehingga 2 orang pria yang sedari tadi menjaga mereka datang menghampirinya.

“Mommy-mu sudah tak ada! Kalian akan segera menyusulnya!” salah satu pria itu menendang kepala Davide sehingga kepala bocah malang itu tebentur dinding cukup keras, menghilangkan kesadaran Davide yang membuat hati Yoojung mencelos. Ia ingin berteriak memarahi pria-pria itu tapi ia tahu.. jika ia berbuat seperti itu maka ia akan menjadi Davide selanjutnya.

“Dia sudah diam?” salah satu pria itu bertanya pada pria yang tadi menendang kepala Davide begitu keras.

“Sudah tapi aku tidak tahu apa ia mati atau tidak.”

“Cek dulu! Bos sudah bilang bahwa tidak boleh ada yang membuat mereka mati kecuali dia. Ayo! Aku akan mengecek kakaknya yang belum sadar sampai saat ini sepertinya.” Si pria itu kemudian berjalan mendekati Yoojung yang segera berpura-pura tak sadarkan diri. Ia menahan tangis itu dalam hatinya karena jika ia menangis sekarang, semuanya akan gagal. Pria itu mengecek tanda-tanda vital di tubuhnya.

“Gadis ini masih hidup tapi masih tak sadarkan diri. Yook.. bagaimana dengan bocah itu?” Yoojung harap-harap cemas mendengar jawaban pria itu. Ia berharap semoga adiknya masih hidup. Ia, Davide dan sang ibu tidak boleh mati disini, mereka harus bertahan hingga nanti sang ayah menyelamatkan mereka.

“Dia masih hidup bos hanya saja nafasnya melemah.. aku harus segera menanganinya sebelum dia mati kehabisan darah, kepalanya mengalami pendarahan.” Yoojung ingin berteriak membalas apapun yang dilakukan orang-orang jahat itu pada keluarganya, terutama adiknya tadi.

‘Dave.. Sangjin-ah.. kumohon bertahanlah!’ doa Yoojung dalam hatinya berharap tuhan akan mengabulkan doanya dan sang ayah akan segera datang menyelamatkan mereka. Tanpa ia sadari dalam doa itu.. ia kehilangan kesadarannya dan tertidur di dalamnya.

-4 jam kemudian-

Tiffany terbangun dalam ruangan gelap, mulutnya masih tersumpal kain yang membuatnya ingin muntah dan sulit bernafas, berkali-kali ia berusaha melepaskan kain itu tapi nihil.

‘Aku dimana?’ ucapnya dalam hati mencoba mengingat lagi mengapa ia bisa seperti ini.

“Kau sudah bangun rupanya Nyonya Kim..” suara itu membuat Tiffany tiba-tiba mengingat semua yang terjadi padanya. Pemilik suara itu melepaskan sumpalan kalian di mulutnya, membuatnya bisa bernafas lagi dengan lancar.

“Sehun-ah?” pria yang disebut namanya tadi tertawa begitu keras, membuat kebencian dan kebingungan itu menghinggapi Tiffany.

“Oh Sehun Kau…” amarah itu kini meletup-letup di hatinya. Rasanya ia ingin membunuh pria di hadapannya itu. Bagaimana bisa ia melakukan ini pada keluarganya?

“Namaku Choi Minho.. bukan Oh Sehun Tiff..” pria bernama Sehun itu tertawa lagi melihat kebingungan di wajah sanderaannya hari ini.

‘Choi.. apa mungkin dia..’ pikiran Tiffany berpindah pada seorang pria yang dulu pernah mengisi hatinya juga sebelum Taeyeon mengambil alih semua bagian hatinya.

“Ya.. Choi Siwon. Aku adalah adik pria yang sudah kau campakkan demi seorang Kim Taeyeon yang tak berguna itu. Apa kau sudah mengingatnya Tiff?” Tiffany hanya diam mendengar hal itu, terkejut dan tak tahu kenapa semuanya menjadi seperti ini.

“Kau terkejut? Well.. selamat hahahaha” tawa Minho semakin keras, membahana di ruangan mereka berada sekarang.

“Kenapa kau diam saja? Oh ya.. seingatku.. Davide tadi masih tertidur dalam linangan dari kepalanya dan Yoojung.. putri kesayanganmu itu masih tak sadarkan diri sekarang. Heumh.. jika aku menjadi ibunya.. aku pasti sangat khawatir dengan kondisi mereka..” Minho meringis kecil, terlihat khawatir dan takut membuat Tiffany menatapnya tajam.

“Kau.. jangan bawa mereka dalam semua ini!” Teriakan wanita di hadapannya itu membuat tawa Minho keluar. Ia berjalan mendekati Tiffany yang menatapnya geram dan penuh amarah.

“Mereka adalah harta paling berharga bagimu dan kau.. adalah kehidupan seorang Kim Taeyeon. Dengan melenyapkan mereka… sama saja dengan melenyapkanmu. Dan dengan hilangnya seorang Tiffany Hwang dari hidup Kim Taeyeon.. maka hilang juga hidup suamimu itu.” Tawa Minho semakin menjadi melihat Tiffany berusaha memberontak dalam ikatannya, tak bisa lagi menahan amarah itu. Minho berjalan mendekati wanita yang terlihat ingin sekali membunuhnya.

“Shust.. kau akan kehabisan energimu nanti jika mengamuk seperti ini. Apa kau tak mau melihat suamimu nanti datang menyelamatkan kalian?” Tiffany terbelalak saat merasakan jarum itu menusuk lengan kanannya, membuatnya merasakan sedikit perih. Tapi bukan itu yang mengganggu, yang mengganggu adalah fakta bahwa ia merasa terbawa merasa dibawa ke dunia lain sekarang, dimana hanya ada ia dan kegelapan di dalamnya.

======== I’m Not The Only One ========

Jeonju, Agustus 2015

“Soo bagaimana? Apa sudah ada kabar baru?” Taeyeon beranjak dari kursinya, menghampiri polisi muda yang kini sudah menjadi sahabatnya juga semenjak kasus penculikan Tiffany dulu. Sooyoung membawa sahabatnya itu kembali duduk.

“Begini hyung… penculik istrimu dan anak-anak kalian kali ini sangat pintar mengatur dan mengeksekusi rencananya sehingga kami kesulitan untuk melacak keberadaan mereka. Tapi kau jangan putus harapan, aku dan Teamku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan mereka.

2 hari kemudian…

“Hyung.. kau jangan gila! Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi kesana sendirian.” Sooyoung memegang kedua sisi pundak pria yang sudah dekat dengannya layaknya seorang kakak.

“Tapi Tiffany dan kedua anakku.. mereka bisa saja terluka Soo jika aku tidak mengikuti keinginan si brengsek itu..” Sooyoung mempererat pegangannya di bahu Taeyeon, berusaha menyadarkan hyungnya itu bahwa dengan bertindak gegabah tidak akan menghasilkan apa-apa.

“Aku tahu hyung tapi apakah kau sadar.. mungkin saja yang mereka incar bukan Tiffany Noona dan kedua anakmu?”

“Maksudmu?”

“Menurutku.. kau adalah target mereka. Istri dan kedua anakmu sengaja mereka manfaatkan untuk mendapatkanmu. Jadi jika kau menuruti permintaan mereka, maka mereka berhasil menjalankan rencana itu. Belum ada jaminan juga apakah dengan kau mengikuti keinginan mereka lalu mereka akan melepaskan keluargamu.” Sooyoung kemukakan analisanya tentang kasus ini. Bukan kali pertama ia menangani kasus seperti ini, lagipula sebelumnya Taeyeon sudah pernah mengalami hal serupa dengan Siwon beberapa tahun yang lalu. Ia optimis si pelaku memiliki motif yang sama dengan apa yang Siwon lakukan.

“Lalu aku harus bagaiman Soo?” terdengar kekhawatiran dan putus asa dalam nada bicara Taeyeon. Sooyoung terdiam sebentar sebelum menjelaskan scenario yang sudah ia rancang di otaknya.

======== I’m Not The Only One ========

“Eungh.. Mom..” suara tangis Davide membuat Tiffany memutarkan pandangannya, mencoba mencari sumber suara yang tak asing baginya. Sudah 2 hari ini kalau ia tak salah hitung, ia dan kedua putrinya disekap oleh pria yang tak pernah ia kira sebagai adik mantan kekasihnya.

“Shust.. Sangjin-ah.. jangan berisik. Kau akan membuat mereka datang kesini dan menyiksamu lagi.” Harapan itu semakin melonjak saat ia mendengar suara sang putri yang begitu ia kenali.

“Noona.. kepalaku sakit..” Davide menyenderkan kepalanya ke tubuh sang kakak yang menangis dalam diam melihat perban yang melilit kepala adiknya. Masih terlihat sisa darah di perban itu. Ia membiarkan adiknya itu tertidur di pangkuannya, membuat tangis kesakitan Davide reda.

“Eumhh.. Eumhh.. Heumhh” Suara itu membuat Yoojung menghentikan ratapannya, berusaha mencari sumber suara aneh itu. Sedangkan Tiffany berusaha sekuat mungkin melepaskan sumpalan mulutnya. Ia bisa dengan jelas melihat putra dan putrinya itu tertutupi matanya oleh kain tebal yang melingkar erat di kepala mereka.

“Eumhh.. Eumhh.. Heumhh” lagi.. Tiffany masih berusaha melepaskan sumpalan itu dan beberapa menit kemudian ia berhasil melakukannya.

“Yoojung-ah.. sayang..” tangis Tiffany tumpah melihat sang putri yang mencari dimana dirinya berada. Ia berusaha menggeser terus pantatnya agar bisa berpindah menuju keluarganya karena tangan dan kakinya terikat ketat sekali.

Butuh waktu cukup lama bagi Tiffany untuk mencapai tempat putrid an putranya itu. Sesaat tiba disana ia coba buka penutup mata Yoojung, dengan giginya.

“Eomma..” wajah sembab Yoojung membuat Tiffany tak bisa menahan tangisannya. Ia berusaha meredam tangis sang putri dan miliknya.

“Eomma.. apa kita akan selamat?” Pertanyaan itu sebenarnya yang menghantui kepala Tiffany sejak kemarin. Ia tak tahu apakah mereka akan selamat atau tidak tetapi ia yakin sang suami akan segera menyelamatkan ia dan kedua buah hatinya.

“Kita akan selamat Sayang.. Appa akan segera menyelamatkan kita. Kau harus yakin itu..” Yoojung menganggukan kepalanya pelan, masih dalam tangis diamnya yang sama dilakukan sang ibu.

Bruckk!!!!

“Oh kalian sudah bangun ternyata?” Minho berjalan membawa seorang pria yang terlihat babak belur dihajar oleh beberapa orang.

“Tae…yeon” Tiffany kaget bukan main saat melihat penutup mata itu dibuka. Di hadapannya terduduk lemah sang suami yang terlihat terluka karna ulah anak buah Minho yang menghajarnya habis-habisan.

“Fany-ah..” Taeyeon masih bisa melihat sang istri yang memanggilnya. Bisa ia lihat juga Yoojung dan Davide yang terluka di kepalanya.

“Uhh.. sungguh reuni keluarga yang mengharukan.” Minho pura-pura menangis menendang Taeyeon hingga pria itu tersorong ke tubuh istrinya.

“Kau tau Kim Taeyeon… aku sungguh bahagia hari ini, kau tahu kenapa?” Minho mendekati tamu-tamu pentingnya, membawa sebuah kejutan di balik tubuhnya.

“Aku sangat bahagia karena bisa melihatmu kehilangan satu persatu orang yang kucintai dengan kedua matamu sendiri..” Minho mulai mengambil Davide ke sisinya, membuat anak itu terbangun dari tidurnya. Ia suntikan cairan biru bening ke lengan bocah itu, membuat Davide tak sadarkan diri saat itu juga. Minho membiarkan Davide terjatuh ke lantai dengan keras.

“Brengsek!!! Apa yang kau lakukan pada putraku!!!!” Taeyeon berusaha berjalan meskipun tangannya diikat. Ia menghampiri Minho yang tersenyum begitu lebar menanti kedatangannya.

“Sanjing-ah!!!” Tiffany dan Yoojung berteriak mencoba mendekati bocah kecil yang tergeletak tak sadarkan diri. Keduanya menangis melihat Davide seperti sekarang.

“Ohohooo.. Tuan Kim marah eoh? Haruskah aku memanggil penjagaku agar kau tidak membunuhku?” Minho tertawa keras setelah menendang dada Taeyeon, membuat pria itu terjatuh, tersungkur ke sisi Tiffany.

“Appa!!” Yoojung berteriak memanggil ayahnya yang terlihat kesakitan sebelum akhirnya menatapnya, tersenyum kecil mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.

“Yoojung-ah.. Appa mu masih baik-baik saja, yang seharusnya kau khawatirkan adalah adikmu. Karena.. jika dalam waktu 2 jam ini ia tidak mendapatkan penawar racunnya, maka adikmu tersayang itu akan pergi untuk selamanya hahahaha” Yoojung menatap Minho penuh kebencian. Ia tak tahu mengapa pria yang selama ini selalu ia idolakan selain ayahnya kini berubah menjadi orang paling jahat yang pernah ia temukan.

“Dan Oh.. Paman juga punya sesuatu untukmu Sayang..” Tiffany berteriak memohon pada Minho yang kini berjalan kea rah Yoojung, masih dengan wajah penuh senyum dan tampangnya, tidak terlihat seperti seorang pembunuh.

“Lepaskan aku!!” Yoojung memberontak saat Minho kini menyeretnya ke tempat Davide. Taeyeon berusaha berjalan lagi menuju Minho, mencoba mencegah kegilaan yang akan Minho lakukan pada putrinya.

“Diam!” Minho menampar wajah Yoojung keras, membuat Yoojung seketika terdiam sebelum terjatuh di sisi adiknya.

“Yoojung-ah.. Sayang..” Tiffany berusaha mendekati putrinya, mendampingi sang suami yang dengan susah payah menghentikan Minho menyiksa putrinya.

“Lihatlah Kim Taeyeon.. dalam waktu 1 jam Kim Yoojung.. hanya akan menjadi nama hahahahaha..” Beberapa detik kemudian, Minho menyuntikkan Cairan bening pink ke lengan kiri Yoojung yang seketika kejang-kejang diikuti dengan busa yang keluar dari mulutnya.

“Biadab!!! Apa yang kau lakukan pada putriku heuh!!” Tiffany memaki Minho dalam tangisnya.

“Hahahaha sekarang.. giliranmu Tiffany Hwang!” Minho masih berdiri di tempatnya, mengeluarkan senjata api dari belakang tubuhnya. Ia membidik Tiffany dengan wajah manis, polos dan bahagia miliknya, membuat Taeyeon dengan segera menghampirinya.

“Kau jangan ikut campur! Giliranmu setelah ini!” Taeyeon tersungkur jauh ke belakang menerima tendangan begitu keras dari Minho.

“Lihatlah suamimu.. lemah sekali.. masih mending Hyungku..” Minho mencibir Taeyeon, menatap Tiffany masih dengan senyum kegilaannya.

“Mari kita berhitung.. 10.. 9.. 8.. 7…” Minho melangkah mendekat menuju Tiffany yang mencoba mundur.

“6.. 5.. 4.. “ Taeyeon berusaha bangkit menghampiri Minho yang sudah dekat sekali dengan istrinya.

“3.. 2..”

“..1”

Dor!!!! Dor!!

“Eungh..” pistol itu jatuh dari tangan Minho, ia meringis kesakitan merasakan timah panas itu bersaran di lengan kanan dan kaki kirinya.

“Hands up!!!” sekelompok orang memasuki ruangan, mengepung Minho yang jatuh tersungkur menahan kesakitan yang ia rasakan.

“Hyung!!” Sooyoung berjalan menghampiri Taeyeon yang terluka parah.

“Soo.. tolong selamatkan Davide dan Yoojung terlebih dulu.. mereka sudah diracuni Minho..” suara Taeyeon terdengar begitu lemah. Sooyoung segera menghampiri kedua bocah yang sudah ia anggap sebagai keponakannya.

“Fany-ah..” Taeyeon berjalan menghampiri sang istri dalam langkah gontainya. Senyumnya sedikit merekah tak kala melihat istrinya mulai mengalihkan tatapan matanya padanya. Wanita yang dicintainya itu masih terlihat sangat cantik meskipun kondisinya seperti sekarang, berantakan, lusuh, terluka dan penuh dengan air mata. Ia bawa wanitanya itu untuk berdiri bersamanya, membawa wanita yang begitu dicintainya itu dalam pelukannya.

“Semua akan baik-baik saja.. percayalah. Aku.. mencintaimu” Taeyeon mengecup Tiffany yang masih menangis menatapnya.

“Taeyeon-ah.. aku..”

Dor!! Dor!Dor!!!!

“Andwaee!!!” Sooyoung menembak Minho di dadanya, membuat pria gila itu seketika terkapar tak sadarkan diri.

Di sisi lain, Tiffany terjatuh dengan linangan darah yang terus membasahi tubuhnya. Ia melihat ke bahunya, dan mendapati timah panas itu bersarang di dalamnya.

“Ta.. ta.. Tae” ia mencoba membangunkan pria yang terjatuh menimpanya. Ia coba bangunkan prianya itu, tak sengaja menyentuh lubang di bagian belakang kepala suaminya yang terkena timah panas Minho. Matanya terbuka lebar. Hatinya mencelos saat menyadari apa yang terjadi pada suaminya.

“Tae.. tae..” Ia mencoba membangunkan Taeyeon yang tak bergerak sedikitpun.

“Tiffany.. kembalilah.. kembalilah..” sebuah suara kini bergema di kepalanya.

“Kau harus bangun!! Bangunlah!!” suara perempuan kini ikut bergema di telinganya membuatnya merasakan pusing luar biasa.

“Arrrgggghhhhh!!!!” Tiffany berteriak begitu keras sebelumnya ia tak sadarkan diri, masih bersama Taeyeon yang berada di atas tubuhnya.

======== I’m Not The Only One ========

Jeju, Maret 2019

Tiffany POV

“Mengapa kau belum masuk?” suara itu tak pernah sekalipun tak memberikan kehangatan dalam hatiku saat mendengarnya. Musim dingin yang angin hembuskan tak menghilangkan kehangatan itu.

“Aku masih ingin disini.. bersamamu.” Kualihkan pandanganku pada ikan-ikan di kolam yang sebenarnya kubenci demi apapun di dunia ini. Melihat matanya membuat bulu kudukku berdiri. Mimpi buruk yang sejak kecil menghantuiku pasti akan datang jika aku terus menatap mata-mata yang begitu mengerikan bagiku. Pikiranku tentang moster-monster itu teralihkan dengan tawa renyah khas pria di sampingku ini, membuatku mempunyai alasan lain untuk menatap kedua mata coklat madunya yang membuatku tenggelam di dalamnya.

“Jangan lihat mereka, cukup pandangi aku saja.” Kedua tangannya menangkup wajahku, membuat mataku focus menatapnya, tak bisa menghindar lagi dari jendela hatinya yang selalu membuatku lemah seperti ini.

Entah sejak kapan hal ini terjadi tapi yang pasti.. kini kedua mata coklat madu itu menjadi ketakutan lain yang bisa membuat ketentraman dalam hatiku saat menatapnya.

Tanpa pelukan.. ucapan… atau hal lainnya, ketenangan itu bisa seketika menghinggapiku saat kedua matanya menatapku dengan pandangan hangat, lembut dan penuh cinta.

“Davide sudah tidur?” dia bertanya padaku tanpa mengalihkan tatapan matanya yang saat ini bisa membunuhku seketika. Aku menganggukan kepalaku membuatnya tersenyum masih dengan lesung pipit yang memaniskan ketampanan wajahnya.

“Cute.. hahaha.. aku tak tahu yang mana anak kecil, apa itu Davide atau kau..” tanpa sadar tawa itu juga keluar dari mulutku meskipun aku merengut padanya.

Chu!

“Jangan seperti itu, aku tak bisa..” Taeyeon kembali mengecup bibirku untuk kesekian kalinya setelah rengutan itu aku berikan padanya. Aku tertawa kecil menutup mataku menerima kecupan-kecupan tiada henti yang ia hujani pada wajahku.

“It tickles.. stop it..” ucapku berlawanan dengan hatiku yang berharap ini tak pernah berakhir.

“Magic Word please..” ucapnya menghentikan kecupan itu, membuatku membuka kedua mataku memberikan senyum seringai andalanku yang membuat alis kanannya naik ke atas.

“My Only… One” kali ini aku yang mengecup bibir tipis pinkish itu tanpa ragu atau ketakutan lainnya, membuat hatiku berdetak begitu keras layaknya seorang wanita yang baru mendapat ciuman pertamanya.

“Yours only..” bisiknya dengan lembut kembali menghangatkan hatiku, menggenggam tangan kananku sebelum mengecupnya ringan.

“Heumh.. ini sungguh menyenangkan..” tubuhku ini ia bawa dalam dekapannya, membuat kepalaku bersandar di bahunya, menghirup aroma tubuhnya yang khas, yang selalu membuat semua beban yang ada di otakku menghilang seketika.

“Tae.. apa kau pernah menyesal mencintaiku?” pertanyaan itu entah mengapa seketika keluar dari mulutku. Keheningan malam ini sama dengan heningnya suara kami sekarang, tapi tidak dengan hatiku.

Bodoh! Apa yang baru saja kuucapkan? Kata-kata yang bagus sekali Tiffany Hwang!

“Penyesalan itu tentu ada..” mengapa hatiku perih saat mendengarnya? Bukankah itu hal yang wajar? Beberapa tahun yang lalu, kau sudah sangat menyia-nyiakan pria luar biasa seperti Kim Taeyeon.

“Aku menyesal karena tak bisa membuatmu jatuh cinta terlebih dahulu sehingga kau tidak mencintai Siwon dulu daripada aku. Aku menyesal karena kau pasti merasa tersiksa dulu menikah tanpa cinta denganku, karena pria itu telah lebih dulu mencuri hatimu. Aku menyesal karena sudah membuatmu membenciku dulu. Aku menyesal karena sudah membuatmu merasa bersalah dan berpikiran seperti ini. Maafkan aku Sayang… ”

“Taeyeon-ah..” apa aku salah bila aku menangis mendengar perkataannya tadi?

“Mencintaimu… adalah hal yang tidak akan pernah kusesali sampai kapanpun.”

“Mencintaimu.. adalah sebuah anugerah yang selalu kusyukuri dalam hidup ini. Tuhan memberikanku cinta, untuk kupersembahkan padamu.” Bibir manisnya kembali menyapa milikku. Aku menautkan kedua tanganku di lehernya, memperdalam ciuman kami. Tuhan sepertinya ikut merasakan kebahagianku karena di tengah malam penuh bintang ini, butir-butir salju kini bertaburan menambah semua kebahagian yang kurasakan saat ini.

End Tiffany POV

 

“Minumlah.. kau melakukan ini lebih lama dari yang sudah dijadwalkan sebelumnya..”

Jessica memberikan cairan isotonic dan multivitamin lainnya pada wanita yang masih tak bisa mengalihkan tatapannya Taeyeon yang tertidur begitu tenang di ranjang khusus yang sudah Yuri desain.

“Lain kali aku tidak akan mengijinkanmu untuk melakukan pertambahan waktu…” Yuri tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Ia berdiri dari kursinya, menghampiri sang istri dan Tiffany yang masih berada di dekat Taeyeon.

“Sica.. gwenchana.. yang penting istri sahabatmu ini kembali dengan selamat.. iya kan Fany-ah?” Wanita yang memiliki senyum bulan sabit itu menaikan kedua ibu jarinya, menyetujui apa yang Yuri katakan.

“Kalian ini, selalu saja bersengkongkol melawan argumenku..” Jessica tersenyum kecil sebelum akhirnya berjalan keluar membawa mug coklat panasnya yang sudah habis, meninggalkan Yuri dan Tiffany yang masih duduk di sebelah Taeyeon.

“Bagaimana perasaanmu?” Tiffany melepaskan tatapannya dari sang suami, memandang Yuri dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

“Aku merasa bahagia Yuri-ah. Tapi rasa bersalah, penyesalan dan kesedihan ini tetap ada. Aku masih berasa bersalah dan menyesal karena aku yang menyebabkan Tae seperti ini. Sedih karena hanya dengan cara seperti ini aku bisa berkomunikasi dengannya.”

“Maafkan aku.. jika saja waktu itu aku bisa menyelamatkan Taeng…”

“No.. gwenchana. Kau sudah melakukan semuanya sebaik mungkin. Aku malah ingin berterimakasih padamu karena dengan kejeniusanmu ini, aku masih bisa bertemu dan berkomunikasi secara langsung dengannya, meskipun dengan cara seperti ini. Terimakasih Yuri-ah.. terimakasih banyak.” Yuri tersenyum kecil menerima pelukan wanita yang kini telah menjadi sahabatnya. Tiffany memeluk suami sahabatnya itu dengan semua yang ia rasakan sekarang.

“Mom..” suara malaikat itu membuat Tiffany melepas pelukannya dari Yuri yang segera menghampiri bocah 7 tahun yang terlihat baru saja bangun dari tidur siangnya.

“Kau ingin bertemu Daddy?” Davide mengangguk naik ke pelukan Yuri yang sudah menganggap bocah itu sebagai putranya.

“Well.. kita biarkan Daddy beristirahat dulu dalam beberapa jam dan kau.. bisa bertemu lagi dengan Daddy-mu” Davide tersenyum penuh semangat menatap Yuri yang selama ini selalu ia anggap seperti ayahnya juga.

Flashback

“Oke.. ada satu cara tapi aku tak yakin kau mau melakukannya.” Yuri mengeluarkan nafasnya kasar, ia tak tahu kenapa semuanya jadi rumit seperti ini. Andai saja Taeyeon mau menurut padanya untuk segera menghentikan simulasi kemarin, maka semuanya tidak akan seperti ini.

“Apa itu?” harapan itu muncul membuat senyum di wajah Taeyeon mulai merekah, berbeda dengan Yuri yang berat sekali untuk mengatakan hal sebenarnya bisa saja dengan mudah keluar dari mulutnya.

“Kau harus..” dan Taeyeon hanya terdiam mendengarkan semua hal yang Yuri jelaskan padanya.

“Kau harus apa Yul?” Yuri terlihat ragu dan terganggu untuk mengatakan hal itu, berulang kali menggelengkan kepalanya memikirkan sesuatu yang mungkin saja akan terjadi.

“Seobang.. apa yang harus Taengoo lakukan? Cepatlah.. nyawa Tiffany sedang berada dalam ancaman..” Jessica yang ikut penasaran dengan apa yang ada di pikiran suaminya itu ikut berbicara meskipun ia tahu ini bukanlah sesuatu yang baik melihat gelagat suaminya seperti tadi.

“Tiffany masih bisa menjalani simulasi, tapi hanya satu kali ini saja Taeng. Kau harus masuk ke simulasi itu…” Yuri kini berani berbicara menatap sahabatnya itu. Jessica dan Taeyeon masih menatap ilmuwan muda jenius itu dengan seksama.

“Lalu?” Taeyeon masih tak mengerti mengapa Yuri bereaksi seperti tadi, seperti sesuatu yang buruk akan terjadi. Ini bukan pertama kali ia masuk ke simulasi yang Tiffany jalani dan ia tak melihat ada masalah besar yang akan terjadi padanya kecuali kesalahan bodoh yang dilakukannya waktu itu, yang hampir membunuhnya jika Jessica tak menyelamatkannya waktu itu.

“Kau harus membawa Tiffany dari dunia simulasi terakhirnya. Kita tidak bisa mengatur alur dalam simulasi kali ini. Semuanya murni berdasarkan apa yang alam bawah sadar istrimu pikirkan saat ini. Aku dan Sica hanya bisa mengawasi dan memantaumu dari sini” Yuri kembali berbicara.

“apa yang menjadi masalahnya?”Rasa penasaran itu kini tak bisa Taeyeon bending lagi.

“Masalahnya adalah.. simulasi ini…. semuanya tergantung padamu. Ini berlangsung lama atau tidaknya.. semuanya tergantung padamu. Kau bisa membawa Tiffany kembali ke dunia nyatanya atau kalian berdua terjebak disana.”

“Seobang.. maksudmu…” Jessica menatap suaminya itu penuh dengan keterkejutan dan rasa tak percaya, bagaimana mungkin semuanya bisa seperti ini? Ia tak mau kehilangan Taeyeon, pria yang sudah ia anggap sebagai kakak laki-laki yang tak pernah ia miliki.

“Kau bisa saja menjadi koma seperti Tiffany sekarang karena terjebak di dalam alam bawah sadar kalian yang saling terkoneksi atau meninggalkan dunia ini untuk selamanya..” Taeyeon hanya terdiam mendengar hal itu.

“Taeng..”

“Oppa.. jangan lakukan ini.. kumohon!” Jessica tahu jika Yuri sudah berkata seperti tadi, kemungkinan buruk itu akan terjadi sangat besar.

“Just do it Yul..” Sebuah senyuman yang tak pernah Jessica lihat terulas di wajah Taeyeon, membuat Jessica menggelengkan kepalanya cepat.

“NO! don’t do it Seobang! I warn you!!” Yuri menatap istrinya itu lemah, tatapan membunuh Jessica kali ini terasa berat baginya untuk melawan apa yang Taeyeon ajukan padanya. Meskipun tatapan itu membunuh tapi ia tahu wanita yang begitu dicintainya itu memohon padanya untuk tidak menuruti keinginan Taeyeon.

“Seobang… kumohon..” hati Yuri sakit saat melihat istrinya itu memohon padanya dengan tangisan yang jarang sekali ia lihat meskipun mereka sudah bersama lebih dari 10 tahun. Jessica bukanlah tipe gadis yang menunjukan tangisannya sekalipun itu pada suaminya sendiri.

“Sica..”

“Kita sedang berbicara tentang hidupmu! Kau bisa mati Oppa!!! Apa itu yang kau inginkan?” Tangis dan teriakan itu tak tertahan lagi. Yuri hanya bisa menatap istrinya itu dengan sedih begitu pula Taeyeon yang kembali diam setelah mendengar itu.

“Sica..”

“No Seobang.. Oppa harus tahu bahwa Tiffany tidak layak membuatnya hingga harus mengorbankan nyawanya seperti ini!” amarah Jessica memuncak tak kala ia melihat wajah Tiffany yang terlihat begitu tenang dalam komatusnya. Semua bayangan tentang kejahatan yang telah dilakukan wanita jalang itu pada Taeyeon kembali berputar di otaknya.

“How do I live, how do I breathe.. when she’s not here I’m suffocating.. For her, I’ll risk it all..so please understand me.” Dan Taeyeon tahu, ini adalah keputusan terbaik yang takkan ia sesali sekalipun mungkin.. ia tak ada lagi di dunia ini untuk menyesalinya.

End Of Flashback

“Appa..” Yuri terbangun dari lamunannya. Ia tersenyum melihat putranya, Yoong berdiri di depan pintu, membawa minuman yang dipesannya.

“Hai Yoong..” Tiffany tersenyum kecil menyapa pemuda yang mirip sekali dengan Yuri, ayahnya.

“Hallo Aunty Fany.. Hei Jagoan!!” Yoong memeluk wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, lalu mengangkat Davide yang tertawa riang dalam pelukannya.

“Oh ya Dave.. ingin makan patbingsoo bersamaku?” Davide mengangguk senang membuat tawa itu hadir di antara semua yang hadir di ruangan itu.

“Appa.. Aunty.. Uncle..” Yoong melirik Taeyeon yang masih sama setiap harinya, tertidur dalam komatusnya.

“Kami pergi dulu.. oh ya sampaikan salam sayangku untuk Eomma..” dengan itu Yoong berjalan keluar dari ruangan bersama Davide di sampingnya.

“Fany-ah.. aku ingin mengajukan sebuah pertanyaan padamu..”

“Bicaralah Yuri-ah..”

“Jika Taeyeon sadar kembali dan tidak mengingatmu sama sekali.. atau bahkan bukan menjadi dirinya… apa kau masih akan tetap bersamanya?”

-The And-

Note:

Oke.. coba disini siapa yang ga ngerti dengan endingnya? Coba acungkan jempolnya wkwkwkw

Oke akan saya jelaskan.

Di bagian awal chapter kalian disuguhi dengan scene saat Tiffany pertama kali bertemu dengan Taeyeon kan? Nah disitu sebenarnya adalah gambaran dari simulasi yang dilakukan Yulsictae buat ngebangunin Fany. Tapi bedanya.. disini kita banyak tau tentang apa yang fany pikirkan saat dia bertemu dengan Taeng. Semua simulasi yang dibuat Yulsictae berhasil pemirsa! Sehingga rasa cinta itu sudah terbangun di hati dan pikiran Tiffany Hwang.

Nah kita pindah ke scene selanjutnya dimana Tiffany bangun dair tidurnya dan dapat fakta baru bahwa dia masih jadi istri Taeyeon dengan 2 anak cute di kehidupan mereka. Sekali lagi.. scene ini hanya terjadi di simulasi otak tiffany.

Tapi author.. ko tahunnya beda?

Kenapa bisa meloncat jauh seperti itu?

Nah justru disini apa yang dijelaskan Yuri sama Taeyeon tentang resiko simulasi terakhir buat fany itu bekerja. Karena TaengsicYul ga bisa ngebuat script program untuk simulasinya, akhirnya mereka mau gamau harus ngikutin alur cerita dari alam bawah sadar Tiffany yang nge plot dari awal dia ketemu taeyeon di pesta ultah dia, dia bangun di 2015 dengan kondisi udah punya anak dan masih jadi istri Taeyeon, bahkan sampai dia disekap, disiksa sama Minho yang berujung dengan ditembaknya Taeyeon dan Tiffany sendiri sama si Minho.

Oke.. buat yang penasaran kenapa Scene itu bisa terjadi?

Maksud gw scene dimana Tiffany, Yoojung dan Davide diculik Minho sampai berakhir tragis.

Yap.. itu terjadi karena sebenarnya sisi lain alam bawah sadar Tiffany masih sangat membenci Taeyeon.

Karakter Minho adalah karakter yang diciptakan oleh bagian lain alam bawah sadar Tiffany Hwang sendiri. Secara tidak langsung dia yang sudah membunuh suaminya di scene itu.

Thor.. ko Taeyeon mati TOT??

FYI, Taeyeon itu ga mati ya. Dia hanya Koma.

Loh.. Taeyeon ko koma tapi Tiffany bangun?

Well itu karena Tiffany mendapat shock dari yulsic. Sedangkan Taeyeon.. dia ga bisa dapet Shock dari Yulsic karena posisinya dia udah meninggal di simulasi itu. Sebenernya dengan meninggalnya Taeyeon di simulasi itu, harusnya dia meninggal juga di kehidupan nyatanya karena kerja otaknya juga hampir mati karena simulasi itu. well tapi untungnya kita punya si genius Kwon Yuri yang berhasil selamatin Taeyeon meskipun… taeyeon blm bisa bangun dari komanya sampai akhir ceritanya yang bersetting waktu di 2019 dimana Yulsic udah punya anak Yoong (17 thn) dan Taeny udah punya anak Davide (6 thn).

Gimana Taeny bisa punya anak? Kan Taeyeonnya Koma dari 2009?

Let say teknologi sudah canggih sehingga sperma Taeyeon bisa di ambil dan dimasukan ke sel telur Tiffany sehingga dia hamil dan 9 bulan kemudian lahirlah Davide, pewaris kerajaan Bisnis Taeyeon dan keluarga Kim.

Masih ga ngerti?

Hahaha tanyakan saja.. pasti dijawab ko.

Oh ya..

BUTUH SEQUEL? wkwkwkwkwk

Iklan

107 pemikiran pada “I’m Not The Only One Part VI (Final Chapter)

  1. keren yg nih,, aq suka ide critanya. diawal critanya tae mati dikuburan bis fany ktemu org asing itu n kejadian brikutnya aku fikir critanya kyk sihir gtu,, hehe ternyata bukan. aq liat ada beda perpindahan scien crita n waktunya bru krasa ada perpindahan bentuk crita, bru ngeh. wah keren detail imaginasimu. haha,, tdnya pas nyamp di crita fany selingkuh jengkel banget aku, trz lanjut lg ampe, brkutnya yg kejar2 mobil,, hehe brasa inget kisah ninggalnya lady diana sama alfred. 😀
    oy,, aq udh bsa ckup rasain beda tulisanmu ama yg author laenya. crita sendu klo aq bilang,, hehe,, trz diwaktu km suka ambil flashback gtu ya. ini ada sequelnya ga ya,, ? si tae lupa ingatan gtu,,gantian pas tae bangun fany yg bejuang hehee

  2. ceritanya bkin aq pusing dari awal msih meraba-raba, tpi akhirnya aq mengerti cerita ini.. dan aq dapat mengambil kesimpulan dari cerita ini bhwa, sebenci apa pun seseorg terhdp diri kita,sejujurny org tersebut memiliki rasa syng wlaupun selalu iya tutup dgn kebencian,,terimaksih atas share ffnya sangat bagus.. ff ini penuh dengan pemikiran..ak suka ff anda thor.. kalau ada sequelnya beritahu aq yang thor??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s