I’m Not The Only One Part III

PhotoGrid_1433500034927

 

Jeju, 1 Agustus 2009

“Oppa.. kau lupa membawa ini?” seorang gadis cantik dengan gaun putih indahnya itu berjalan menghampiri sang kakak yang terlihat begitu gugup saat ini.

“Ah.. iya.. bagaimana aku bisa menikah nanti jika benda ini tak kubawa..” Pria itu menepuk jidadnya pelan mengingat cincin pernikahannya. Sang adik hanya tertawa kecil melihat kecerobohan kakaknya yang satu itu. Meskipun ia masih muda.. terkadang kakaknya itu bisa pelupa seperti kakeknya.

“Oppa.. jangan gugup. Nanti ketampananmu hilang dan Unnie akan berpikir ulang untuk menjadikanmu suaminya kekekekeke..” gadis cantik itu tertawa dengan riangnya melihat sang Oppa kesal. Ia akan mengejar adiknya itu tapi itu terhenti karena ibu negara memanggil.

“Sayang.. tadi calon mertuamu menelpon mereka akan segera tiba di sini.. kau harus bersiap juga. Meskipun tatanan rias untukmu hanya sebentar.. tapi kau harus sudah siap saat pengantinmu tiba di altar nanti.

“OKe Umma.. Siapp!” pria itu berlari menuju ruang make up dan wardrobe pernikahannya hari ini, tersenyum mengingat calon istrinya yang akan secara resmi menjadi pasangan sehidup sematinya hari ini.

Sementara itu…

“Aku datang ke alamat yang tepat kan?” seorang wanita dengan blue coat-nya melihat lagi alamat tertera di kartu undangan yang ia pegang sedari tadi.

“Semoga aku tidak terlambat..” dia berjalan memasuki pintu masuk lobi resort yang hari ini sengaja dibooking untuk upacara pernikahan seseorang yang ia kenal, sangat ia kenali sesungguhnya.

======== I’m Not The Only One ========

Tiffany POV

“Kau sudah lelah?” priaku berucap masih menggenggam tangan kananku, masih berjalan di sampingku yang menatap ke depan dengan senyuman yang sudah lama tak hinggap di wajahku. Aku menggelengkan kepalaku pelan, semakin mempererat genggaman tangan kami, masih melangkahkan kedua kaki ini dengan riang di hatinya.

“Baguslah.. karena aku.. ingin sekali menelusuri pantai ini lebih jauh lagi..” Taeyeon menghentikan langkahnya serentak membuatku juga berhenti. Kutatap kedua bola matanya yang selalu berhasil membuat senyum sendu dan kerinduan itu bermain kembali di hatiku.

“Aku juga.. aku ingin selalu seperti ini..” ucapku tanpa melepaskan pandangan kami. Lengkungan senyum itu mulai merekah di wajahnya. Kami diam tapi hati kami tidak.. dan aku percaya itu.

Malam ini begitu dingin.. tapi tidak dengan hatiku.. hatinya dan hati kami. Aku yakin itu.

“Kajja!” genggaman tangannya juga semakin erat, membawaku kembali berjalan berdampingan dengannya.

Firm yet gentle.. his hand that hold me tight.. it gave me a secure and comfort feeling.

 

“Taeyeon-ah..” setelah 20 menit mungkin kami berjalan mengelilingi resort dan pantai di sampingnya, aku dan Taeyeon memutuskan untuk beristirahat di café kecil dekat pantai dengan dekorasi indah yang membuat kalian nyaman berada di dalamnya, well practically kami masih berada di pinggir pantai, dekat sekali malah jika harus kujelaskan.

“Yes.. my lady..” Kali ini tidak ada nada guyonan dalam ucapannya saat memanggilku dengan sebutan yang kuminta padanya.

“Bagaimana kita sewaktu dulu?” sebenarnya hal ini sudah cukup lama ingin kutanyakan padanya. Aku ingin tahu bagaimana hubungan kami dulu. Bagaimana bisa aku tidak mencintai pria luar bisa sepertimu dan memilih Siwon Oppa yang memang harus kuakui sempurna untuk ukuran pria seumurannya.

Seohyun memang sudah menceritakan padaku tentang kisahku bersama Siwon Oppa but Hey! Aku pantas mendapatkan penjelasan tentang ini semua dari pria yang seharusnya sudah menjadi suamiku kan saat ini.

“Kau terkena amnesia?” ucapnya terlihat sedikit kaget tapi aku tahu itu hanya aktingnya saja.

“Yes.. saat aku bersamamu.. aku bisa melupakan semuanya..” ucapku dengan wajah dramatisku membuatnya segera tertawa melihatnya.

Oh Kim Taeyeon.. jika bukan karena aku merindukan tawa merdu dan renyahmu itu, aku tidak akan segan memukuli dadamu sekarang juga.

“Baiklah My lady.. aku akan menceritakannya. Tapi ijinkan aku untuk menghabiskan burger ini dulu karena berjalan-jalan denganmu tadi sungguh menguras enerjiku.” Aku hanya memutarkan pandanganku mendengarkan tawanya sebelum membiarkannya menyantap 2 porsi cheese burger special dalam waktu 10 menit.

Well Taeyeon yang ada denganku sekarang ini merupakan Taeyeon yang cukup berbeda dalam hidupku sebelumnya dan aku.. aku menyukainya.

“Aku dan kau bertemu saat kita masuk junior high. Kita tidak sekelas di tahun pertama tapi kita bergabung dalam club yang sama, paduan suara. Di tahun kedua kita akhirnya satu kelas dan dari situ kita mulai dekat. Kau selalu memintaku mengajarimu teknik vocal karena suara emasku selalu membuatmu mendapat urutan kedua bila kita sedang bertanding untuk menjadi solois di grup kita.” Aku bisa membayangkan hal itu terjadi padaku. Apa yang priaku ini ceritakan padaku ada benarnya juga. Lalu bagaimana bisa..

“Kau dan aku bagaikan gula dan kopi.. tak terpisahkan. Banyak orang menyangka bahwa kita berpacaran sampai di tahun terakhir kita junior high pun banyak yang menyarankan kita untuk go public.” Tawanya terdengar lagi.. membuatku tersenyum mendengarnya. Lalu mengapa tak kau jadikan anggapan orang-orang itu kenyataan Taetae?

“Kau memang sudah ditakdirkan untuk selalu bersamaku. Tanpa sepengetahuanku.. kau daftar dan masuk bersama-sama denganku ke Sekang High. Bahkan kita satu kelas. Aku tidak bisa lupa bagaimana kau membenarkan semua orang yang bilang bahwa aku adalah pacarmu. Apa kau sengaja melakukan itu agar pria-pria itu berhenti mengejarmu eoh Nona Hwang?” jari telunjuknya menyentuh hidungku pelan, membuatku mengedipkan mataku. Tunggu.. apa aku seperti itu?

“Kau masih berlaku seperti seorang pacar padaku hingga tahun kedua kita hingga kau bertemu dengan Sepupuku yang baru saja pindah dari San Fransisco. Kau harus melihat bagaimana terpesonanya kau pada Siwon Hyung waktu itu. Eurgh.. rasanya aku ingin sekali bersembunyi darimu karena kau tak mau berhenti memintaku untuk mengenalkannya padamu.” Senyum Taeyeon kini terkesan berbeda. Tunggu.. apa kau.. cemburu Sayang?

“Apa kau cemburu?” ucapku penasaran sementara ia seperti terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Cemburu.. mungkin bukan hal itu yang tepat untuk mengungkapkannya. Aku.. aku hanya tidak terbiasa melihatmu begitu tergila-gila dengan pria lain selain aku..” Taeyeon membalasnya penuh dengan percaya diri. Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Lalu bagaimana selanjutnya? Bagaimana bisa kau dan Jessica…” ucapanku tak tersambung karena ia sepertinya sudah mengerti maksud dari ucapanku itu.

“Dalam 3 bulan.. kau dan calon suamimu itu sudah dekat dan berpacaran. Dan aku.. kau masih dengan teganya membawaku berkencan dengan Oppamu itu. Untung saja kau selalu membawa Jessica sehingga aku tidak canggung melihat kemesraanmu dengan sepupuku. Tunggu dulu.. apa kau sengaja membuatku dekat dengan calon istriku agar aku bisa selalu menemanimu kencan?” Aku tidak bisa berkata apapun mendengar hal ini.

Aku.

Aku yang telah mendekatkan suamiku dengan Jessica?

Apa yang telah kau perbuat Tiffany Hwang????

“Tapi.. mungkin aku harus bersyukur padamu karena dengan itu.. aku bisa mengenal Sica lebih jauh. Kau tahu.. aku sekarang mengerti mengapa kau selalu ingin aku menjadikannya kekasihku. Kau benar Fany-ah.. dia adalah wanita yang bisa melengkapiku..” No.. bukan ini yang mau kudengar. Please Don’t..

“Jika amnesiamu masih belum sembuh.. baiklah biar kuceritakan padamu tentang kisahku dan Jessica padamu. Sejak dulu kau selalu giat membuatku dekat dengan Ice Princess itu. Kau selalu bilang bahwa kami adalah pasangan yang serasi tapi tetap kau bilang kami belum bisa mengalahkan kemanisan Sifany.. nama couple untukmu dan Oppamu itu.”

“Taeyeon-ah aku..”

“Yayaya.. aku tahu kau masih belum mau memungkiri fakta itu.. hahahaha..” tawanya itu.. mengapa aku bisa merasakan kepedihan di dalamnya.

Apa mungkin kau..

“Jessica adalah wanita dingin yang sebenarnya begitu hangat dan menyenangkan. Dia memang terkesan cuek tapi begitu kau tahu siapa sebenarnya dia.. maka kau akan dengan begitu cepat jatuh hati padanya. Dia terkesan begitu jauh tapi sebenarnya dia begitu dekat. Aku sempat gugup untuk memintanya menjadi kekasihku tapi… berkat doronganmu aku berani memintanya menjadi kekasihku saat tahun pertama kita berakhir di universitas. Terima kasih Fany-ah..” Mengapa genggaman tangan itu sekarang terasa begitu hambar bagiku Taeyeon-ah?

“Aku masih ingat bagaimana kau menyemangatiku untuk melamarnya 6 bulan yang lalu. Ceramah panjangmu membuatku sadar bahwa hanya dengan Jessicalah aku bisa melihat masa depanku. Sejak hari itu.. aku semakin sadar bahwa hidup tanpanya.. aku tidak bisa. Dan akhirnya.. berkat bantuanmu juga aku melamarnya kemarin..” Taeyeon dengan wajah bahagianya mengecup tangan kananku, mengungkapkan rasa terimakasihnya padaku. Sedangkan aku.. aku..

“Fany-ah.. gwenchanayo?” hanya diam dan air mata yang keluar dari mataku menjawab pertanyaannya.

Sekali lagi.. aku telah membuat kekacauan besar dalam hidupku.

======== I’m Not The Only One ========

“Apa kau pikir ini sudah cukup?” seseorang berbicara melalui telponnya melihat kembali layar yang masih menyala.

“Belum.. dia masih harus menyelesaikan semuanya..” orang di telpon itu berbicara dengan ketegasan di dalamnya.

“OKe.. baiklah aku hanya mengingatkan saja.. nyawanya juga menjadi taruhan disini..”

“Tentu.. aku mengerti itu. Aku tahu.. kapan kita harus menghentikan semua ini dan sekarang bukan saatnya. Dia masih belum mendapatkan pelajaran yang sebenarnya.”

“Maksudmu?”

“Kita lihat saja dan kau haru memperhatikannya dengan baik. Ingatlah.. sesuatu terjadi karena ada maksud tersembunyi di dalamnya..” Pria itu tersenyum manis mengingat kembali seseorang yang begitu ia rindukan hingga hari ini.

======== I’m Not The Only One ========

Taeyeon POV

“Fany-ah.. bangunlah..” Aku masih mencoba membangunkan wanita yang terlihat begitu damai memeluk tubuhku dalam tidurnya. Sejujurnya aku juga masih mengantuk tapi pagi ini masih ada pertemuan untuk melengkapi joblist dalam survey kami kali ini.

“Ah yasudahlah.. biarkan ia tidur untuk beberapa menit saja..” dengan hati-hati kulepaskan pelukannya dari tubuhku. Setelah bebeberapa menit.. kini aku berada di kamar mandi melakukan ritual pagiku. Sikat gigi, cuci muka, mandi dan bercukur.

Bercukur.. merupakan kebiasaan baru bagiku jika aku melakukannya setiap hari. Biasanya aku menunggu beberapa minggu baru aku mencukurnya tapi semenjak aku dan Jessica tinggal bersama di apartmentku setelah kami resmi bertunangan, bercukur setiap pagi menjadi sebuah keharusan karena calon istriku itu selalu mencukurkan kumisku dan janggutku setiap paginya walaupun itu baru tumbuh sedikit. Bagian terfavoritnya adalah saat memakaikan cream cukur padaku yang selalu kedinginan dibuatnya. Sebuah ciuman hangat selalu mengakhiri ritual pagiku, membuatku tambah bersemangat menjalani hari-hariku.

“Bolehkah aku mencukurmu?” Entah sejak kapan Tiffany berdiri di pintu kamar mandi dengan kaus besar yang menutupin setengah pahanya.

Cute..

“Kau yakin bisa melakukan ini?” Ucapku penuh canda menunjukan benda yang menjadi sebuah kewajiba bagi seorang pria untuk memilikinya.

“Jika aku bisa melakukannya.. kau harus mengabulkan lagi semua keinginanku hari ini..” Dia berjalan dengan percaya diri padaku. Ia ambil cukuran biru langit itu, memintaku untuk mengangkat tubuhnya, duduk di counter dekat wastafel, menarik tubuhku menjadi sangat dekat dengannya.

“Fany-ah..” ucapku sedikit lemah. Kalian tahu kenapa?

Saat ini mungkin hanya beberapa cm jarak kami berdua. Ia mengaitkan kedua kakinya pada pinggangku, menarik tubuh kami menjadi semakin dekat. Terlalu dekat.

“Shust.. just grant my wish Taeyeon-ah..” Ia berbicara dengan tatapannya yang begitu saja menghipnotisku untuk menganggukan kepalaku.

Dengan perlahan ia cukur semua bagian yang menurutnya perlu, berbeda dengan Jessica yang menyapu bersih dagu dan kumis tipisku yang sebenarnya ingin kupelihara.

“Sudah selesai.. sekarang kau terlihat tampan..” aku tersenyum melihatnya begitu senang menyimpan pisau cukur di tempatnya lalu kembali memusatkan pandangannya padaku yang entah mengapa merasa ada sesuatu yang akan terjadi.

“Terima kasih Fany-ah..” ucapku tanpa memutus staring contest yang terjadi pada kami sekarang.

“You’re most welcome.. Taetae..” ucapnya dengan gaya cute-nya yang menggoda, percis seperti wanita-wanita yang pernah kutonton dalam film film terlarang koleksiku. Well everyman has their needs right?

“Taetae? Seriously?itu terdengar kekanakan sekal..” ucapanku terhenti saat dengan ringannya ia mengecup bibirku secara spontan.

“Fany-ah..” Aku masih menatapnya bingung dan tak percaya.

Ada apa denganmu?

“Aku mencintaimu.. apa kau mempercayai itu?” dia berucap dengan begitu yakin, menatapku tanpa bergeming sama sekali sementara aku, aku masih merasa aneh dan bingung dengan semua ini.

“Grant my wish. Jadilah kekasihku selama beberapa hari ini, selama kita berada di Jeonju” dan detik berikutnya bisa kurasakan bibir halusnya itu menyapa miliku dengan penuh perasaan. Ia mengalungkan kedua tangannya ke leherku. Aku masih terdiam tak tahu apakah aku harus membalasnya atau tidak tapi entah mengapa dengan sendirinya bibirku mulai menyambut sapaanya itu. Kepalaku mengikuti arahan bibirnya ke kiri dan kanan, menenggelamkan diri kami dalam ciuman yang hangat dan memabukkan ini. Dengan refleks kuletakkan tangan kiriku di punggungnya sedangkan satu lagi di pinggangnya, menarik tubuhku semakin menyatu dengannya.

Tiffany menarik bagian bawah bibirku, membuat aku sedikit akan protes padanya, membuka sedikit mulutku tapi ternyata lidahnyalah yang menyapaku lagi, mengundangku untuk berperang dengan miliknya. Untuk sesaat kami bertarung, ia memutarkan miliknya dengan milikku sementara aku mulai menyesap milikknya sehingga ia dengan cepat menyerah, melenguh memijat leher dan kepalaku bersamaan.

“OKe..” ucapku melepas ciuman kami, membuatnya tersenyum menyipitkan kedua matanya, memberikanku senyuman khas-nya yang sejak dulu mampu membuat duniaku upside down.

==========================================

===================================

=========================

Better Short Update than never right?? hehehehe

Oke. selamat menebak bagaimana kedepannya perjalanan Tiffany mendapatkan priannya.

Well.. gw sedang on fire buat update meskipun.. siders semakin merajarela… terutama reader Above The Paper.

Boleh cerita?

Well.. actually.. gw aga kecewa dengan tidak sesuainya perkiraan gw ttg jumlah komen di FF Yulsic yang gw adaptasi dari FF Bluepetals.

sewaktu gw PW, banyak bgt yg minta PW lewat email maupun akun medsos lainnya.

sengaja gw waktu itu mengosongkan ceritanya.. niatnya untuk mengerjai kalian para siders.. dan berhasil 😀

Nah sekarang gw ga protek.. tapi ko yg komen tidak sesuai ya dengan yg minta PW..

gw masih inget loh siapa aja yg minta pw ke gw…

dan kebanyakan dari mereka tidak muncul untuk meninggalkan jejak di ff itu..

heumh.. haruskah gw STOP aja ya  ABOVE THE PAPER-nya?

karna FF Yoonfany gw aja yg “The Reason Is” itu tiap gw update lebih kurang menghasilkan 100 komentar.

itu FF Couple Selingkuhan loh ^_^ bukan FF Royal Family yg notabenenya banyak sekali peminatnya.. apalagi YULSIC

Temen gw bilang… lo mau bikin cerita sejelek apapun kalau main cast-nya YULSIC atau TAENY.. pasti banyak yg baca dan komen..

Nah ko gw ngerasanya lain ya? hehehe

tuangkan pemikiran kalian tentang hal ini.

gw tunggu ^__^

Mungkin kalau respon kalian baik tentang hal ini.. gw akan lanjutin dalam beberapa chapter ABOVE THE PAPERNYA

TAPI..

Kalau kurang responnya.. mungkin dalam 1 chapter berikutnya.. gw akan akhiri Above The Papernya.

Iklan

121 pemikiran pada “I’m Not The Only One Part III

  1. Ap crt ini msh lnjut? jengkel am fany psti krn scr tdk lngsung sakiti sica tunangn Tae yg hny ingin perbaiki slhny di ms ll. mgkin emg TaengSic ditakdirkn bsm n Fany hdp dl rasa bslhny..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s