Above The Paper Chapter 5 Part 2

007124100_1425535729-jessica-jung-ysl-fusion-ink-foundation-commercial 

Yuri POV

“Oppa.. aku..” ia sedikit terdiam menatap wajahku.

Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan? Apa kau merasakan apa yang kurasa sekarang?

“Merindukanmu..” dan seluruh dinding yang kubangun selama ini seketika runtuh saat tubuhnya memelukku begitu erat.

Dengan sendirinya tubuhku membalas pelukannya perlahan. Tangan ini mulai berani menempatkan dirinya di bahu wanita yang masih mempunyai tempat di hatiku ini. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dengan milikku.. membuat aku kembali merasakan kehangatan yang masih begitu kurindukan.

Tiffany menyenderkan kepalanya di bahuku, membuatku merasakan deru hembusan nafasnya yang memiliki sensasi tersendiri bagiku. Tangannya begitu erat menggapai leherku, membuatku tak mungkin melepaskan pelukan ini dan sejujurnya..

Aku memang tak mau melepaskan pelukan ini karena aku..

“Oppa..” Suara serak nan merdunya mulai terdengar.. aku hanya terdiam menunggu ia kembali berbicara. Tiffany pasti tahu diamku ini adalah tanda baginya untuk melanjutkan apa yang ingin ia katakan.

“Bisakah kita seperti ini dulu?” Apa aku bisa berkata tidak padamu Fany-ah?

“Ya..” hanya kata itu yang terucap dan aku tak tahu kenapa.

Untuk beberapa waktu kami terdiam seperti yang adikku ini inginkan. Aku bisa merasakan dentuman jantungnya yang bergetar begitu cepat, seirama dan beriringan dengan milikku yang tak bisa membohongi pemiliknya.

Tanganku ini semakin berani berlaku diluar kehendakku. Ia mengelus kepala Tiffany dengan lembutnya, membuat aku bisa merasakan harum vanilla dan strawberry yang berasal dari rambutnya. Kusesap puncak kepalanya perlahan tanpa Tiffany sadari. Rasanya.. bibir ini ingin mendaratkan ciuman kecil disana, ingin membuatnya sadar bahwa aku akan selalu ada baginya meskipun aku tak ingin ia mengetahui hal itu. Karena jika ia tahu.. itu hanya akan semakin menyakiti hatinya.

“Bagaimana kabarmu Oppa?”

Apa kau percaya jika aku mengatakan semuanya masih sama?

“Aku baik-baik saja.. perusahaan masih melesat maju membuatku semakin sibuk.. bagaimana.. denganmu?”

“Aku.. aku juga baik..” terdengar nada keraguan dalam cara bicaranya. Dan aku tahu mengapa hal itu terjadi.

“Syukurlah.. aku yakin Taeyeon memperlakukanmu dengan baik..” Aku mencoba sedikit tertawa meskipun hatiku melakukan yang sebaliknya.

Dia hanya diam tak menjawab ucapanku tadi.. semakin menyatukan tubuh kami dalam pelukan ini.

Fany-ah.. aku tahu Taeyeon pasti akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia.

Aku tahu hal itu karena bagi Taeyeon.. kau adalah dunianya.. nafasnya.. hidupnya..

Dan bagiku…

Kau adalah segalanya.. Tiffany Hwang.

“Oppa.. apa kau..”

“Heii Mr. Kwon!!! Apa yang kau lakukan pada kekasihku??” Terdengar suara Taeyeon yang berjalan semakin dekat menuju kami. Aku akan melepas pelukan ini saat dengan cepat Tiffany sedikit berjinjit dan mengecup pipi kananku pelan sehingga aku tak bisa berbuat apapun saat ia kini sudah melepaskan dirinya dari tubuhku.. berdiri di sampingku yang masih terjebak dalam nostalgia.

“Fany-ah..” Taeyeon kini sudah ada di hadapanku dan Tiffany. Ia segera mengambil tangan Tiffany untuk berdiri di dekatnya.

“Yah Kwon Yuri!! Mengapa kau menculiknya sampai kesini?” si pendek di hadapanku ini berbicara dengan nada bercandanya membuat pikiranku yang kacau tadi sedikit teralihkan.

“Menurutmu?” Taeyeon membulatkan matanya lebar.. terlihat kaget dan khawatir menatap kekasihnya yang masih belum berkata apapun.

“Fany-ah.. kau baik-baik saja kan sayang?” Apa aku salah jika aku merasa tidak nyaman melihat perhatian yang coba Taeyeon berikan pada Tiffany?

“Aku baik-baik saja Oppa.. Yuri Oppa tadi sedang membantuku..” Mulutnya berbicara pada Taeyeon tapi tatapan matanya masih tertuju padaku.

Ada apa Fany-ah? Apa yang ingin kau katakan?

“Syukurlah.. kalau tidak aku akan memendekan kakakmu ini..” Taeyeon meninju pelan bahuku dengan gaya konyolnya. Aku sedikit tertawa menerimanya.. meskipun aku merasakan sakit di bagian yang lainnya.

“Oh iya Yul.. Jessica mencarimu tadi..” aku mengangguk pada Taeyeon lalu kembali menatap Tiffany yang kini sudah mengalihkan pandangannya tak lagi menatapku.

Ada Apa?

=========Above The Paper==========

Yuri POV

“Hallo Mrs. Kwon..” Jessica membalikan tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya.

“Hai Mr.Kwon.. sudah selesai dengan angin segarnya?” Aku tersenyum kecil menjawab pertanyaannya. Kulangkahkan kakiku berjalan lebih dekat padanya.. membuat jarak kami sedikit berkurang.

Kini.. aku sudah berdiri di sampingnya, yang masih focus melihat tamu undangan yang berbaur dalam pesta ini.

“Aku tidak tahu bagaimana bisa menggambarkan dirimu hari ini..” aku berucap memecah kesunyian yang menyelimuti kami membuatnya menoleh padaku.

“Ada apa denganku hari ini?” Wajah penasarannya terlihat begitu cute bagiku meskipun aura elegan dan feminine yang begitu dominan menemaninya hari ini.

“Cantik bukanlah sebuah kata yang tepat..” Aku berucap mulai menatap kedua matanya, mengadukan tatapan kami dalam waktu yang sama.

“Benarkah? Lalu apa yang tepat bagimu Mr.Kwon?” Delikan matanya membuat senyum itu secara alami merekah di wajahku. Bagaimana wanita seindah ini bisa menjadi istriku?

“Wonderfull..” aku berbisik pelan di telinga kanannya, sedikit menghembuskan nafasku ke titik sensitive-nya.

“Well.. thank you then..” Jessica tertawa kecil menjauhkan sedikit badannya lalu dengan tiba-tiba mengecup pipi kananku.

“Oh ya by the way.. hadiahmu.. menanti malam ini..” mataku sedikit terbelalak mendengarnya.

Hadiah?

Apa mungkin?

“Siapkan dirimu…” dengan itu Jessica berjalan menghampiri teman-temannya yang ternyata sejak tadi memanggilnya bergabung dengan mereka sementara aku.. aku hanya terdiam membayangkan apa yang akan terjadi pada kami nanti.

“Hyung.. baru kali ini aku melihatmu seperti ini..” sebuah suara menghentikan lamunanku.

“Kau Yoong.. mengagetkanku saja..” Sahabatku yang satu ini berdiri di sampingku dengan senyum lebarnya yang kata orang tampan dan menawan.. termasuk sepupuku tersayang.. Seo Juhyun.

“Kau terlihat berbeda Hyung..”

“Maksudmu?”

“Kau sekarang terlihat seperti Kwon Yuri yang kukenal dulu.. apa ini karena Jessica Noona?” Yoong tersenyum lagi padaku yang berpikir sejenak mendengar ucapannya.

Apa benar ini karena Jessica?

 

=========Above The Paper==========

 

Yuri POV

Demi Tuhan.. semuanya akan baik-baik saja.

Selama perjalanan menuju apartment.. aku mencoba mengulang kalimat itu di kepalaku.

Aku berjalan menuju lift penthouseku, meletakkan kunci-kunciku di meja dan merebahkan diriku di sofa, aku selalu mengulang pikiran itu. Lagi dan lagi.

Semua akan baik-baik saja..

Tapi.. mengapa ini semua terasa begitu salah?

Aku menutup mataku dan menenggelamkan kepalaku di kedua tanganku. Menyembunyikan ini dari Jessica akan sangat sulit. Instingku berkarta untuk menceritakan semuanya padanya. Tapi.. jika aku melakukan itu.. maka ini akan menjadi penghianatan untuk perusahaan. Dan jika tidak.. aku akan menghianatinya.

Taeyeon benar.. aku telah berubah. Diriku yang dulu tidak akan ragu meletakan kebutuhan perusahaan diatas apapun.. atau siapapun. Tapi Jessica bukan sekedar orang biasa bagiku.. tidak lagi.

Aku berteriak malas dan kesal dalam hatiku.

Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi dan setidaknya aku butuh mengistirahatkan tubuh ini untuk beberapa jam. Aku dan Jessica akan sarapan atau lebih tepatnya makan siang bersama keluargaku dan keluarga besarnya. Ini harus menjadi luar biasa.

Supaya aku tidak mengganggu Jessica, aku menggunakan kunci cadangan ke kamarku untuk mandi. Aku sangat lelah hingga aku tak sempat menyalakan lampu di kamar. Aku menggunakan piyama yang sengaja disediakan untuk tamu. Ini terlalu besar untukku dan dengan malasnya kunaikan keatas kerah tangannya yang cukup menggangguku. Aku sudah tidak sabar menjatuhkan tubuh ini ke kasur. Saat tanganku membuka kenop pintu, aku berhenti.

Seseorang berada di kasur.

Aku cukup kaget. Mengapa Jessica tidur disini? Bukankah dia ingin tidur di kamarku bersama-sama? Mengingat kemarin dia menolak tawaranku untuk tidur di kamar terpisah.

“Kita sudah menikah Yuri-ah.. orang yang sudah menikah tidur bersama-sama dalam satu kasur.” Dia mengatakannya dengan yakin dan tegas.. sementara aku hanya diam menatapnya heran. Bukankah dengan tidur terpisah akan membuatnya nyaman?

Aku terdiam untuk beberapa waktu hingga sesuatu menyadarkanku. Ada 3 kamar di apatementku. Apa dia menyangka kamar ini adalah kamarku?

Orang yang sudah menikah tidur bersama-sama dalam satu ranjang kan? Aku rasa semua itu bukan masalah. Aku menggigit bagian bawah bibirku tidak pasti sambil terus menatapnya. Untuk progress pernikahan ini berjalan lebih cepat.. maka aku harus memulai sesuatu. Ya… sesuatu dengan tanda kutip di kedua sisinya.

Aku mulai naik ke kasur dengan pelan. Mungkin aku harus memeluknya lebih dulu. Jantungku mulai berdetak lebih. Aku berbaring dengan wajah sedikit merah merona di sampingnya.

“Sica?” Aku berbisik.

Dia bergerak sedikit. Tanganku mulai berada di atas tubuhnya untuk sementara.. masih penuh dengan keraguan. Aku menarik selimut yang menutupi punggungnya.

Aku membawa bibirku mendekati telinganya. “Sica?”

Mungkin aku harus membiarkannya tidur. Oh! Tangannya meraih milikku dan ia memeluk tanganku di dadanya. Tanganku mulai bergerak beriringan dengan naik dan turun nafasnya. Bahan dari gaun malamnya sangat tipis dan aku… aku kira dia tak menggunakan apapun didalamnya.

Aku mendengarnya sedikit mendesah dan Jessica membalikan tubuhnya untuk menghadapku.

Yang berbalik padaku dengan mata setengah tertutup dan senyum manisnya bukanlah Jessica. Apakah dia.. tunggu, siapa dia? Ini terlalu gelap untukku melihatnya secara jelas.

Oke.. keep calm.

Well.. siapapun dia.. tanganku masih tetap begitu erat terjebak di kedua gunungnya. Aku sedikit menggerakkan tanganku untuk melepasnya.

Dan hasilnya nihil. Tanganku masih terjebak di gundukan surganya.

Wanita ini berpindah mendekat dan menggumankan sesuatu

“Jaerim.. mengapa kau begitu lama?”

Bagus. Dia mengira bahwa aku adalah si Jaerim. Apa ada orang asing lain di apartmentku? Aku memutarkan pandanganku melewai bahuku.

Aku memutuskan untuk menarik tanganku cepat dan sebelum aku melakukan hal itu, wanita ini menguap dan melepaskan genggamannya di tanganku.

Yes!

Aku mundur dengan perlahan. Dengan hati-hati tidak membuatnya bergerak lebih jauh. JIka aku bisa keluar tanpa membuka matanya maka tidak akan ada seorangpun yang tahu tentang ini.

Saat aku mencapai ujung kasur, tangannya mencari tanganku, aku berhasil menarik mencegahnya.

Tapi dalam prosesnya, aku kehilangan keseimbanganku dan kemeja piyamaku terinjak lututku sehingga ada bagian yang sobek dibuatnya.

No. This is not good.

Suara robekan itu membuat kedua mata wanita itu terbuka dan dia membuka-bukakan kelopak matanya pelan.. masih diselimuti kantuknya. Matanya membesar saat menyadari apa yang dilihatnya sekarang.

“Tuan Kwon!” wanita itu berbicara terengah-engah.

Dia tahu siapa aku?

Dia melihat robekan piyamaku yang membuat tubuhku setengah telanjang dan sedikit berteriak.. menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Aku segera menutup tubuhku dengan piyamaku yang robek tadi. Oh Tidak. Dia mungkin berpikir bahwa aku mendatanginya

“Siapa kau?” Aku bertanya dengan wibawa yang masih ingin kupertahankan saat ini.

“Oh maafkan saya Tuan Kwon.. saya Hayeon, sekertaris baru Nyonya Kwon… Kita pernah bertemu kemarin..” Dia mencoba untuk menunduk memberikan hormatnya padaku tapi gaunnya cukup transparan sehingga ia berusaha menutupi tubuhnya dengan putus asa.

“Apa yang kau lakukan disini?” aku mulai mengenali wajahnya.

“Saya ketinggalan kereta terakhir menuju rumah setelah pesta resepsi berakhir dan Nyonya Kwon menawarkan untuk memesankan kamar di hotel tapi sayangnya semua kamar sudah dipesan karena pesta resepsi anda. Dia berkata bahwa dia tidak bisa meninggalkan saya dalam kondisi seperti itu dan meminta saya untuk bermalam disini.

“Baiklah.. gwenchana..” Aku mengangguk.

“Tuan Kwon.. jika saya boleh bertanya.. apa yang anda lakukan di ranjang ini?” Dia menatapku dengan rasa takut dan penasaran.

Detik-detik berikutnya dipenuhi dengan keheningan yang canggung.

“Aku kira kau adalah Jessica. Aku tidak tahu bahwa ada orang lain di kamar ini.”

“Oh..” Tatapan matanya kini beralih pada dadaku yang masih sedikit tereskpos. Rona malu merah muda itu kini memenuhi wajahnya. “ Ooohhh..”

Aku harus pergi sekarang.

Aku segera beranjak menuju pintu keluar dan berhenti menatapnya sebentar

“Aku meminta maaf atas kesalahpahaman ini. Tolong buat dirimu nyaman di rumah ini.”

Dia mengangguk penuh terimakasih padaku.

“Terimakasih Tuan Kwon!”

“Don’t mention it..” ucapku masih dengan wibawa dan personaku.

Dan aku berharap dia memang tak pernah menceritakan kejadian ini.

Aku menutup pintu di belakangku dan menyenderkan punggungku disana.

Ah.. tadi sungguh memalukan!

 

=========Above The Paper==========

Yuri POV

Akhirnya aku memasuki kamarku. Dengan pasti bisa kulihat bayangan istriku di ranjang kami. Aku berdiri untuk sementara melihat padanya.

Hanya ingin memastikan lagi.

“Jadi.. apa kau hanya akan diam disana?” Suaranya membuatku kembali dari lala land-ku.

“Kukira kau sudah tidur”

“Sudah.. sampai aku mendengar keributan di kamar yang lain..” Jessica tertawa dengan merdunya.

Aku berbaring di samping, berhadapan dengannya.

Dengan senyum yang masih tergambar di bibirnya.. dia menggodaku “Yah Kwon Yuri! Pada malam pertama kita setelah resepsi kau malah tidur denngan wanita lain?”

“Sica..” Aku mendengus lelah “ I can’t help it everyone finds me desireable..”

“Omo Kwon Yuri!” Dia sedikit mendorong bahuku. “Siapa lagi yang berpikir seperti itu tentangmu huh?”

Aku memasang wajah bosanku dan mulai menyebutkan satu persatu nama-nama itu.

“Sooyeon”

Ekspresi wajahnya berubah menjadi terkejut tapi penuh kepuasan.

“Jessica”

Dia mendekat padaku.

“Jessi”

Matanya terfokus pada bibirku dan jantungku berdetak lebih lebih cepat.

“Sica”

Dia bergerak begitu lamban mendekatkan wajah kami, menambah intensitas moment ini.

Dan terakhir.. “Jung Sooyeonie”

Aku menutup mataku menunggu untuk sebuah ciuman

Thump!

“Yahh!!!” Sebuah bantal yang bertemu dengan wajahku. Tetap menutup mataku, aku mengusap hidungku yang sedikit kesakitan menerima pukulan bantal empuk itu. aku mendengar Jessica tertawa dan pergerakan lain di ranjang kami. Jari-jari itu mengusap tanganku. Ciuman yang lembut mendarat di hidungku. Jessica mendaratkan ciuman lembut lainnya di keningku dan daguku serta yang terakhir… bibirku.

Sebelum situasi memanas, Jessica menarik dirinya dariku.

“Kau harus tidur Yul.. dalam beberapa jam kita akan bertemu dengan keluarga kita..” dia memegang wajahku lembut dengan kedua tangannya.

“Aku tidak mengantu..” aku menguap.

Damn it!

Dia tertawa dan menarik selimut menutupi tubuhku.

“Jangan khawatir.. kita masih punya waktu yang lama untuk melakukan hal itu..” Ekspresinya dipenuhi dengan kasih sayang dan campuran janji dan semangat.

Dinginnya udara benar-benar menamparku.

No. Sayangnya waktulah yang tidak kita punya.

Flashback

“Taeyeon ada apa ini?” pria pendek yang berstatus sebagai sahabatku ini menariku masuk ke ruangan setelah ia memastikan Tiffany aman bersama Seohyun.

“Mr. Park? Mr Kang?”

“Kau melewatkan aku Yuri-ah..” Mrs Bae berucap dari belakang… melewatiku dan duduk di samping dewan komisaris yang lain.

“Ada apa ini?” tanyaku bingung dan penuh tanya. Taeyeon membawaku duduk di meja bersama yang lainnya.

“Kau harus segera mengkonsumsi pernikahanmu dan memiliki keturunan secepatnya dari pernikahan ini..” Mr Kang berucap dengan gaya khasnya yang arogan.

“Maaf?” Ucapku tak mengerti mengapa mereka mulai ikut campur dengan urusan pribadiku.

“Yul.. seseorang telah melaporkan pada pengadilan bahwa pernikahanmu dan Jessica hanya kontrak saja.”

“Bukankah memang itu benar? Lalu masalahnya dimana?” Aku menjawabnya masih dengan gaya profesionalku meskipun di dalam aku tak bisa menahan emosiku.

“Begini Yuri-ah.. di dalam kontrakmu tertera bahwa jika kalian tidak mengkonsumsi pernikahan kalian dalam 1 tahun maka perjanjianmu dengan Jung Enterprise dinyatakan batal. Semua dana yang sudah kita suntikan ke Jung Enterprise akan menjadi milik mereka. KJG akan kehilangan saham yang ada di Jung Enterprise dengan otomatis..” Mrs Bae sebagai orang dengan analisa tingginya mulai berbicara.

“Maksudmu uang miliaran Won yang sudah kita berikan akan hilang begitu saja?” Mr Park berbicara dengan kaget mendengar hal itu sementara aku.. kini aku mulai mengerti permasalahannya.

“Aku akan segera mengkonsumsi pernikahanku. Aku dan Jessica sudah sepakat untuk menjadikan pernikahan kami bukan hanya sebatas kontrak.. kalian tenang saja.” Ucapku masih dengan tenang dan wibawa.

“Kita tidak punya waktu banyak Yuri-ah.. hanya 1 tahun. Dan mereka meminta bukti dengan lahirnya anak kalian..”

“Apa???” tanyaku tak percaya dengan semua omong kosong ini.

“Betul Yul.. kau dan Jessica harus memiliki anak dalam 1 tahun ini..” Taeyeon berucap memberikanku surat dari pengadilan tentang gugatan yang diajukan oleh seseorang yang masih dirahasiakan identitasnya oleh penulis.

“Apa kalian tahu siapa yang membuat hal seperti ini?” emosiku tak bisa kubendung lagi. Rasanya kepalaku akan pecah memikirkan hal ini.

“Kami belum menemukan apapun tapi kami akan segera menyelidiki hal ini..” Aku melirik Taeyeon dan yang lainnya dengan erangan yang tak bisa kutahan lagi.

Shit!

End Of Flashback

=========Above The Paper==========

Ada beberapa hal yang sulit kita percaya terjadi di dunia ini.

Seperti langit yang hijau

Unicorn

Atau panda yang mengendarai mobil.

Melihat Kwon family dan Jung family duduk bersama dalam sarapan yang sangat telat terasa seperti melihat panda mengendarai mobil di langit yang hijau dengan kumpulan unicorn yang mengelilinya.

Ini sungguh aneh bin ajaib.

Kami menempati sebuah meja di salah satu restoran yang cukup ramai di pusat Seoul. Ayahku sedang berbicara dengan nada monotonnya pada Yunho yang dengan sopannya mengangguk menanggapinya. Albert dan Lucile sibuk berdebat tentang keju.

“Demi Eifell Lucille.. keju itu bagus untuk kejantanan seorang pria!”

“Tapi kau bisa mati terserang kolestrol sayang.. bagaimana kau bisa menunjukan kejantananmu yang lebih baik?” Oke.. ini cukup vulgar.

Sesuatu yang paling aneh adalah saat Grandpa Jung maksudku Jung Yongeun memilih untuk duduk di sampingku, membuatku sedikit tidak nyaman. Dia terus-terusan mengirimku tatapan sinis dan membunuhnya.

Oh… kukira dia mulai melunak padaku.

Anggota keluarga lainnya tetap menjaga diri mereka dengan sopan, sesekali mereka melirikku penuh dengan ketertarikan. Minyoung dan suaminya akan kembali ke rumah mereka dalam beberapa hari bersamaan dengan Albert dan Lucille. Woohyun memilih untuk tinggal disini beberapa minggu lagi. Ahh bocah jorok itu.. euhhh.

Tapi berita yang paling membahagiakan kudengar hari ini adalah.. Grandpa Jung akan ikut pulang dengan Minyoung dan suaminya.

Maksudku.. itu sungguh disayangkan. Aku ingin sekali kakek tua itu tinggal di Seoul lebih lama.

“Kau dan Sooyeon harus mengunjungi kami nanti.. Kami akan membawa kalian berkeliling. Ini akan menyenangkan.” Minyoung berbicara masih memakan sarapannya.

“Kami akan melihatnya nanti Unnie.. beberapa bulan ini akan menjadi bulan yang sibuk untuk perusahaan..” Jessica membalasnya. Dia menatapku untuk mengkonfirmasi ucapannya tadi. Aku mengangguk dan menambahkan

“Tapi.. kami pastinya akan mengunjungi kalian. Mungkin tidak dalam waktu dekat tapi di waktu yang akan datang pastinya.”

Aku mendengar gerutuan di sampingku yang menunjukan ketidaksetujuannya tentang ucapanku tadi.

Kakek tua itu menggerutu, “ aku tidak tahu sampai kapan aku hidup.. dasar pengambil cucu orang..”

Minyoung dan suaminya bertukar pandang menunjukan ketidaknyamanan mereka. Woohyun mendengus dan dengan cepat mengambil gelasnya untuk minum.

“Cuacanya begitu tidak bersahabat..” Minyoung mulai berbicara yang dianggukan oleh suaminya.

Aku meneguk kopiku dan mengecek smartphone-ku. Ada pesan masuk dari nomor yang tak dikenal.

‘Ratu ke sarang’

Huh? Ini pasti kesalahan. Aku tak mengindahkan pesan itu dan kembali mendengarkan Jessica menceritakan Lucille tentang butik baru yang dibuka di Gangnam.

Pesan lain datang.

“Elang ke sarang. Target sudah menunggu.’

Ini pasti ulah orang jahil. Aku menghapus pesan itu dan meletakan smartphoneku hingga kini bergetar lagi.

Kali ini dari Taeyeon.

‘beberapa dewan komisaris ingin bertemu. Kami berada di restoran yang sama dengan kalian. Di meja belakang.’

Aku menahan eranganku. Mengapa mereka disini? Tak bisakah mereka menunggu? Ayahku dan Yunho bisa mengenali dewan komisaris.

‘Orang-orang akan mengenalimu’ aku membalasnya.

‘Mereka dalam penyamaran. Kami akan menunggu.’

Aku memindai ruangan dengan cepat. Tidak ada yang aneh.

“Maaf sepertinya aku terlalu banyak minum kopi.. aku permisi sebentar” aku berdeham.

Aku meninggalkan meja dan berjalan ke belakang. Jika mereka menyamar… maka ini akan sulit bagiku mengenali mereka.

Aish.. Pabo

Akhirnya aku bisa melihat mereka.

Mr Kang menggunakan wig pirang yang sungguh tidak cocok dengan wajah keriputnya. Mr Park mengenakan kamata hitam tebal dengan lapisan emasnya. Please.. dalam ruangan seperti ini memakai kacamata seperti itu? it’s a big no.

Mrs Bae menggunakan busana gelapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Sungguh memalukan. Rasanya aku ingin pergi meninggalkan mereka dan berpura-pura tak mengenal mereka.

Mr Kang mengenaliku dan mengibaskan tangannya. Aku bisa melihat cerutu di jarinya.

“Apa yang kalian lakukan disini?” Aku mendesis pelan, menutupi wajahku dengan kedua tanganku.

“Kami disini untuk..” Mr Kang berhenti dan menghirup kembali cerutunya.

“Emegency committee”

Aku melihat ke sekeliling.

Kami mati!

“Boleh aku tahu kenapa kalian berpakaian seperti ini?” Aku mencoba menjaga kesabaranku.

“Kau tahu.. agar tetap tersembunyi..” Matanya mengelilingi sekeliling restoran.

“Dengan menjadi seperti ini?” aku membalasnya cukup keras.

“Ini adalah sesuatu yang baru bagi kamu. Ini sungguh menyenangkan! Jika kau takut ketahuan.. pakailah ini..” Mr Kang berbicara penuh semangat mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

“Tidak akan ada yang tahu..” Mr Kang menempelkan kumis itu ke atas bibirku.

Baik.. cukup dengan permainan ini.

“Apa kalian sudah menemukan orang yang sudah membocorkan hal ini?” Aku bertanya.

“No. Tapi aku mempunyai beberapa petunjuk..” dia tiba-tiba berhenti saat seorang menghampirinya.

“Boleh saya mengambil pesanan anda? Maaf Tuan.. disini tidak boleh merokok.”

“Apa kau tidak tahu siapa aku???” Mr Kang membusungkan dadanya dikuasai amarah.

“Dia tidak perlu tahu kau siapa.. duduk!” Mr Park mendesis tajam membuat Mr Kang segera menurutinya.

“Aku pikir kami perlu waktu untuk memilih menunya..” Taeyeon tersenyum dengan tampannya membuat waitress itu mengerti dan segera meninggalkan mereka.

“Kami melihat sejarah pegawai. Kupikir kita akan beruntung. Saat semuanya terungkap.. mereka tak bisa kabur.” Mr Park melanjutkan apa yang akan dikatakan Mr Kang.

“Jika kita sukses tepat pada waktunya. Aku masih tidak mengerti bagaimana bisa mereka mengajukan kasus ini.” aku berbicara penuh keraguan.

“Uang. Beberapa orang di pengadilan sudah disuap..” Taeyeon mengusap dagunya terlihat serius.

“Mungkin kita bisa menyuap mereka juga!” Mrs Bae membalas.

“Tidak. Jika public mengetahui hal itu.. maka image perusahaan akan rusak..” ucap Taeyeon dengan tegas membuat yang lainnya menggumam setuju.

“Jadi.. mengapa kalian semua disini?” Aku mulai berbicara.

“untuk laporan progress..” Mrs Bae menjawab.

“jadi.. ada progress apa?” Mr Kang melirikku.

“No.. aku masih tidak senang dengan campur tangan kalian dalam kehidupan pribadiku..” jawabku terang-terangan.

Mr Park mendekat padaku.. kacamata besarnya itu jatuh ke hidungnya.

“Kami sudah membeli item untuk membuatmu.. eumh.. membuatmu..”

“Ya aku mengerti.. terimakasih” ucapku menghentikannya.

Dia menyodorkan sebuah kotak seukuran box sepatu padaku.

“Bagaimana bisa aku membawa kotak ini kembali ke mejaku?” aku berucap penuh tanya pada mereka.

“Bilang saja kalau ini adalah hadiah dari fan clubs mu..” Taeyeon tersenyum jahil padaku.

Aku kembali ke mejaku dengan kotak yang kusimpan di sampingku.

“Apa itu?” Jessica bertanya.

“Hadiah dari fan clubs kita”

“Wah kalian punya fan clubs? Luar biasa!!” Woohyun berucap masih dengan makanan yang penuh di mulutnya.

Saat ini aku ingin mengubah pembicaraan saat Grandpa Jung berbicara.

“Apa ini?” Dia akan mengambil kotak itu dan aku segera mengamankannya.

Tuhan tahu apa yang mungkin tersimpan dalam kotak itu.

“Aku tidak yakin tapi kami akan melihatnya nanti saat kembali ke apartment.”

“Buka sekarang juga!” Kakek tua itu memaksa dan mengambil kotaknya.. memberikannya pada Minyoung.

Aku bersumpah bahwa pria ini hidup untuk membuat hidupku sulit sepertinya.

Aku menyiapkan diriku untuk hal yang paling memalukan. Semoga tidak ada yang aneh didalamnya. Mungkin saja isinya lilin-lilin aroma terapi, music romantic atau..

“Mengapa kau tak membukanya? Ini adalah hadiahmu!” Minyoung memindahkan kotaknya pada Jessica.

Jessica membuka kotak itu dan melihat isinya sebelum segera menutupnya.

“Ada apa?” suami Minyoung bertanya.

“Tidak apa-apa..” Jessica menjawab. Wajahnya mulai merah merona. Dia melihatku dengan tatapan terpukaunya.

“Jadi apa yang mereka berikan padamu? Albert bertanya.

“Sebuah buku.. sangat bagus”Jessica segera menjawabnya.

“kotak itu terlalu besar untuk buku..” Lucille ikut berbicara.

“oh iya.. ada parfume juga di dalamnya” dengan senyumnya yang menawan dia menjawab.

Heumh.. aku tahu kau sedang berbohong dan menyembunyikan sesuatu istriku.

“Aku senang membaca!” Yunho berbicara “Bisakah aku melihatnya?”

Bagus. Kini semua orang menunggu untuk melihat isi kotak itu. Jessica melirikku meminta bantuan.

Aku harus melakukan sesuatu.

“Semuanya.. bisakah aku meminta perhatian kalian? Ada beberapa kata yang ingin kusampaikan..” Aku mendengar diriku berbicara.

Apa yang akan kubicarakan? Aku tidak tahu sama sekali.

Untuk memainkan waktu.. aku berdiri dan merapikan kemeja dan celanaku.

Oh Tuha.. apa yang akan kulakukan?

Ayo Yuri.. berpikir!

“Aku ingin berterimakasih pada Jung Family yang sudah menyambutku dan kedua orangtuaku sebagai keluarga. Aku merasa terhormat dan tersanjung dengan semua ini.” Aku sedikit membungkuk pada semuanya.

Dari ujung mataku aku bisa melihat Jessica menyembunyikan kotak itu di balik punggungnya dan berdiri.

“Aku meninggalkan sesuatu di mobil.. aku akan segera kembali.” Dia berbicara pada Minyoung dan suaminya.

“jadi.. mari kita bersulang semuanya..” Aku menaikan gelasku dan semua perhatian kini tertuju padaku lagi

“Untuk keluarga baru kita” ucapku diiringi dengan gema dari yang lainnya meyulangkan gelas mereka. Ayahku terkejut melihatku seperti ini. Ia tidak pernah mendengar hal seperti ini darku sementara Jung Family terlihat bahagia.

Kecuali untuk satu orang.

Aku kembali duduk di kursiku sementara Grandpa Jung menatapku dengan tatapan kematiannya.

“I’m watching you Kon Juuri!”

“Kwon Yuri..” aku membenarkan ucapannya.

“Aku tidak pernah berpikir bahwa fansite kita akan sevulgar itu.. biasanya mereka sangat manis.” Jessica berbicara memecah kesunyian kami di mobil.

“Aku rasa itu adalah hadiah untuk membuat situasi menjadi menyenangkan..” ucapku masih focus mengendarai mobil kami.

“wow.. mungkin saja..” dia tertawa kecil meliriku lalu kembali memeriksa sesuatu di iphone-nya.

“Buang saja nanti..”

“Heumh.. aku tidak tahu Yul.. mungkin kita bisa menggunakan apa yang ada di dalam kotak itu nanti. Seperti katamu tadi.. itu akan menyenangkan..” Jessica tersenyum malu menyibakan rambutnya ke samping.

=========Above The Paper==========

“Pakaikan..”

“No”

“Please”

“No”

“Yah Kwon Yuri! Kau harus mengenakan kostum mickey mouse itu.”

“Tidak”

Jessica menggembungkan kedua pipinya terihat kesal. Dia menyilangkan kakinya, melihat kembali isi dari kotak yang tadi kami bawa. Aku berbaring di sampingnya membaca majalah TIMES terbaru.

“Ah.. ada cd disini!” Jessica membuka cover CD itu dan memainkannya di CD player.

Lagu romantic dan sensual mulai bermain mengisi ruangan kami.

“Yuri-ah.. ayolah.. kabulkan keinginanku..” dia meminta dengan wajah terimutnya.

“No”

Dengan napas panjang dia akhirnya berjalan menuju kamar mandi untuk berganti baju.

Beberapa menit berlalu dan Jessica berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan lingerie merah transparan yang hanya menutupi setengah paha mulus putih jenjangnya.

Dia mengecek bayangannya di kaca meja riasnya yang sudah dipindahkan ke kamarku yang cukup besar untuk semua barang-barangnya.

“What do you think?” Dia bertanya.

“aku menyukainya”

“it likes you back”

Jessica naik ke ranjang kami seperti kucing dan mulai menaiki pinggangku, mengangkangiku.

“Yul..”

Aku seberusaha mungkin menahan diriku untuk tidak menyerangnya dan membaca majalah di genggamanku.

“Heumh?”

Dia mendekat padaku… meletakan kedua tangannya di dadaku.

“Aku ingin bermain” senyum nakal itu bermain di bibirnya. Aku membuka halaman lain majalah dan memperlihatkannya padanya.

“Sudoku?”

“Yah!!”   dia mengambil majalahku dan melemparkannya ke bagian lain kasur kami yang memang luas hehehe.

Tatapannya kini berapi-api.

“Tidak mau? Bagaimana kalau kita bermain tebak kata?” aku berbicara dengan polosnya. Jessica menggelengkan kepalanya.

Aku berpura-pura berpikir keras.

“Monopoly?” gelengan kepala lagi yang kuterima.

“No? Heumh.. how about chess?”

Jessica terdiam dan dengan mengejutkan mengangguk menerima tawaranku.

“Jinja?” aku terkejut.

“Tapi Yuri-ah.. aku sudah menang dalam permainan itu..” Jessica menautkan jari jemarinya ke leherku.

“Bagaimana bisa?” aku bertanya untuk mengganggunya.

Senyum nakal itu kembali.

“Dengan ini…” Jessica menyatukan dadanya ke miliku menarik kerah piyamaku mendekatinya dan berbisik “Checkmate”

Ciuman kami begitu lembut dan lambat.

Tangan Jessica mendorongku pelan ke belakang.

Saat kepalaku membentur bantal, ciuman baru yang menyegarkan dimulai. Kali ini dengan hangat dan membara.

Aku memindahkan bibirku ke leher putih menggodanya.

Jari jemarinya bekerja membuka kancing-kancing kemeja piyamaku.

Aku memfokuskan lidahku di beberapa daerah di lehernya. Dan kupikir aku menyentuh beberapa titik sensitive karena dia mendesah pelan dan jarinya seketika berhenti membuka kancingku.

“Yul..aahh” dia kembali mendesah sementara aku kembali menyerang lehernya lebih giat.

“Kiss me..” itu adalah perintah yang menggetarkan nafsuku. Segera kupindahkan bibirku ini untuk bertemu kembali dengan miliknya, menyatu menjadi candu yang tak terkira.

“Kau begitu cantik malam ini..” aku berucap di tengah-tengan ciuman kami membuatnya semakin memperdalam ciumannya. Aku membalasnya dengan intensitas yang sama.

Tangannya memijit leherku pelan sementara tangan kananku mengelus punggungnya dan tangan kiriku mengelus paha mulusnya ringan.

Jessica kembali mendesah dalam mulutku saat tanganku ini dengan instingnya mulai berkunjung ke daerah private-nya.

“Heumh.. aaah Yul..” Ucapnya terengah-engah mulai menuntun tanganku memasuki lingerienya. Ia arahkan tangan ini menuju kaitan bra-nya, membuat gundukan harta itu terbebas dari kurungannya. Perlahan.. mulai kupijat dadanya itu membuatnya kembali menciumku dengan needy.

“Fair Play..” ucapnya berhasil membuka bagian atas piyamaku.. membuatku kini sudah bertelanjang dada dibuatnya. Tangannya mengelus dadaku perlahan hingga ia mencapai nipple-ku.

“Arghh.. Sica..” Ia memelintir nipple-ku dengan jahilnya.. membuat senyuman cantik nakalnya itu mengembang sementara hormonku semakin menjadi. Kubuang lingerie merah menggoda yang sedari tadi menutupi tubuhnya, menyisakannya hanya dalam panties hitam yang tipis sekali.

“Yuri-ah!!!” pekiknya ketika mulutku kini mulai mengecap nipple buah dadanya. Kuputarkan lidahku mengelilingi nipplenya yang sempurna bagiku. Breast istriku ini cukup besar untuk wanita bertubuh kecil dan lansing sepertinya. Kuhisap nipple itu layaknya seorang bayi yang kehausan menginginkan makanan dari ibunya. Ia melemparkan kepalanya ke belakang.. tak kuat menahan rasa geli dan nikmat yang kuciptakan pada tubuhnya. Tanganku dan mulutku bergantian menyerang kedua gundukan ranum penuh kenikmatan itu.

Ah.. calon anak kami akan menikmati ini nanti.. God Bless you kids!

“Yul.. Down here..” istriku ini membuatku menghentikan seranganku di buah dadanya, mulai menciumi seluruh tubuhnya kebawah hingga wajahku kini berada tepat di depan daerah sucinya.

Dalam kondisi sadar dan dengan hati-hati mulai kusingkirkan kain yang menutupi daerah sucinya itu. Bisa kulihat dengan jelas kilauan cairan dari daerah berwana pink itu. Aku mendekatkan wajahku dengan daerah kesuciannya. Kuhirup aroma khas yang memabukan bagiku, membuatku dengan sendirinya mulai menjelajah daerah itu.

“Eunghh.. yuri-ahh..” Jessica tak bisa menahan erangan dan desahan, badannya memberontak sehingga aku harus memegang pahanya dengan kedua tanganku, membukanya begitu lebar sehingga aku bisa mendapatkan akses lebih mudah menjelajah daerah kesuciannya.

“Kau akan menikmati ini..” ucapku sebelum menelusupkan lidahku kedalam pink nub-nya. Clit milik istriku ini sudah sangat basah sepertinya karena seranganku tadi sehingga aku bisa dengan mudah memompa lidahku di dalam organ kewanitaannya. Ada rasa yang tak bisa kugambarkan dalam gua milik istriku ini yang pasti ini sungguh nikmat. Dinding-dindingnya memijat lidahku pelan. Aku semakin menenggelamkan lidahku di gua kenikmatan miliki istriku ini hingga akhirnya dia mengeluarkan cairan putih bening yang segera kuteguk hingga habis.

“Kau harus merasakan milikmu.. ini enak sekali..” ucapku kini mendekati wajahnya dan kembali menciumnya lembut dan pelan. Tangannya memijit kepalaku dengan tepat sementara jariku mulai nakal berkeliaran di daerah kewanitaannya.

“Ahhhhh…” Ia sedikit berteriak saat kumasukan 2 jari tanganku ke dalam guanya. Aku membawanya untuk duduk di dinding ranjang kami, masih mencoba memompa jari-jariku dalam miliknya yang semakin erat memeluk milikku.

“You’re so tight Sica..” aku menggumam dalam ciuman kami yang berantakan. Tanganku semakin gencar memompa daerah kewanitaannya sementara lidahku masih semangat bertarung merebut dominasi dengan lidahnya yang cukup kuat melawanku.

Kuhisap lidahnya cukup lama sehingga ia melenguh dan akhirnya tunduk padaku. Tangannya mulai memijat sahabatku yang sudah bangun sejak tadi ternyata.

Buddy.. akhirnya kau bisa bertemu dengan milik Jessica malam ini.

“Yuri-ahhhhh….” Teriakan indah itu menggema di kamar kami saat ia cairan cintanya kembali keluar membasahi tanganku dan seprei kami. Aku tersenyum puas melepaskan pagutan bibir kami dan kembali meminum cairan itu di daerah kewanitaannya. Ku lap bersih miliknya sehingga ia meringis lagi penuh kenikmatan membuatku semakin bersemangat mengkonsumsi pernikahan kami. Well waktu tak bisa kubuang dengan sia-sia kan. Akan kubuat mala mini menjadi tak terlupakan untuknya.

“Hah… Hah.. hah..” Jessica masih terengah-engah saat aku menatapnya begitu dalam dengan senyuman laparku akan tubuhnya.

“Take a breath and relax…” ucapku sedikit terengah juga karena intimate session kami tadi. Wajahnya begitu merah merona dengan kucuran keringat yang membasahi keningnya.

Wow.. Jessica Jung.. Kau begitu sempurna

“You’re so damn sexy right now..” Mataku menatapnya penuh dengan nafsu.

“Kau juga.. ahhh.. You’re doing a good job Mr Kwon..”

“Cause girl you’re perfect.. You’re always worth it.. And you deserve it.. the way you work it.. cause girl you earned it..” aku menyanyikan lagu yang sering kulihat di playlistnya.

“Suaramu bagus..” Aku mengecup lagi bibirnya ringan lalu menatapnya serius.

“Sica apa kau yakin?”

“Yes..” ucapnya ringan tanpa keraguan tapi aku.. aku merasa ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.

“Tapi..” ujung jarinya hinggap di bibirku, menghentikanku untuk berbicara lebih.

“Mr. Kwon.. let’s do this..” That’s it.. baiklah aku akan melakukannya dengan senang hati.

Tangan halusnya mulai aku mulai melepaskan celana piyamaku berikut dengan dalamannya. Kunaikan selimut untuk menutupi tubuh kami yang sudah telanjang bulat.

“Yul.. don’t tease me..” Jessica mengerang saat kepala sahabatku mulai memasuki miliknya.

“Oke oke…. Hahaha bersiaplah.. oh ya.. apa ini yang pertama bagimu atau..”

“Aku masih menjaga kesucianku hanya untuk suamiku..” ucapnya penuh dengan keyakinan dan rona malu yang menghiasi wajahnya.

“Jinja? Wow.. daebak” Jessica memukulku pelan lalu menyembunyikan kepalanya di bahuku.

“Haha oke maafkan aku.. mari kita memulainya. I’ll be gentle.. please bear the pain oke?” ucapku lalu mulai menelusupkan sahabatku yang sudah menegang begitu keras ke dalam organ kewanitaannya.

Ring…

Ring…

Ring…

Ring…

Ring…

Suara alarm menggema membuat aku dan Jessica segera menjauhkan tubuh kami.

“Apa itu?” Dia berteriak bersaing dengan suara bising yang menemani kami.

Rambutnya berantakan, bibirnya sedikit bengkak dan basah. Aku menyangka pasti penampilanku juga sama sepertinya.

Telepon apartment berbunyi dan aku yakin itu dari pihak keamanan apartment.

“Tuan Kwon.. kami mendapat laporan bahwa terjadi kebakaran di apartment anda. Kami sedang mengevakuasi orang-orang dan 2 orang penjaga kami akan segera membawa anda dan Nyonya ke luar.”

“Okay.. terimakasih..”

Aku memberitahu apa yang terjadi pada Jessica dan kami segera memakai baju yang ada di lemari. Kami dijemput keluar oleh kedua penjaga itu. Disana sudah berkumpul semua resident yang sudah dievakuasi. Aku menyangka hanya kami yang mendapatkan penjagaan dari sekuriti. Aku dan Jessica berdiri bersama-sama. Banyak suara bermunculan.. berspekulasi mengenai kebakaran yang terjadi saat ini.

Dalam 10 menit Taeyeon dan Yunho keluar dari mobil BMW silvernya.

“Syukurlah kalian baik-baik saja..” Yunho mendatangi kami bersama Taeyeon yang segera menghampiriku.

“Apa yang terjadi?” dia berbisik.

“alarm kebakaran menyala..”

“Apa kau melihat apinya? Dimana asapnya?” Taeyeon kembali bertanya.

“Tidak ada.. tapi kenapa?” aku kembali berpikir mengenai hal ini. Bagaimana mungkin ada kebakaran jika sumbernya saja tidak ada?

Kepala sekuriti menghampiri kami dan mulai berbicara

“Pemadam kebakaran sudah mengecek semua bagian gedung. Sepertinya terjadi kesalahan karena kami tidak menemukan kebakaran apapun..” ada keheningan yang menyelimuti kami sebelum aku akhirnya berbicara.

“Yes” Taeyeon sudah mengerti dengan ucapanku tadi.

“Mungkin saja ada kamera-kamera yang dipasang sembunyi-sembunyi di kamarmu Yul. Pasti dengan itu mereka bisa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengganggumu..” Taeyeon berbisik padaku yang segera menganggukan asumsinya.

“Biarkan aku yang menangani ini” Taeyeon mengeluarkan smartphonenya dan mulai menghubungi beberapa orang yang bisa membantunya menangani hal ini.

Jessica dan Yunho sedang berdiskusi dengan kepala sekuriti tentang kebakaran palsu ini.

Aku menjaga jarak dari mereka, menunggu Taeyeon kembali. Situasi ini sungguh berantakan dan tak terkontrol. Tapi.. trik kotor seperti ini bukanlah hal yang baru dalam dunia bisnis. Aku sudah mendengar cerita yang lebih buruk dari ini.

“Ada 5 kamera. Satu di kamarmu, satu di setiap kamar tamumu, di dapur dan di ruang tengah. Orang kita telah mulai melacaknya.” Taeyeon berbicara dengan seriusnya.

“Aku dan Jessica akan bermalam di hotel. Aku tidak bisa membiarkannya tanpa sepengetahuan terfilm..”

“baiklah.. tapi jika seperti itu mereka akan menghentikan pengintaian ini. lebih baik kau tetap tinggal di apartment dan berpura-pura tak terpengaruh dengan hal ini?” Si pendek ini terkadang pintar juga.

“Baiklah.. Sica..” aku menghampiri Yunho dan istriku yang masih sibuk berbicara sesuatu.

“Sayang.. bagaimana kalau kau bermalam saja di rumah keluargamu malam ini?”

“Tapi ini adalah alarm palsu.. tidak ada kebakaran Yul..”

“Please.. agar aku tenang?”

“O.. okay. Kau juga ikut kan?”

“Aku dan Taeyeon harus mengurus sesuatu. Aku akan bermalam di apartmentnya.” Aku berbohong.

Aku akan menghabiskan malam sendirian di apartmentku. Jadi orang gila itu akan senang mendokumentasikan aku dan kesendirianku malam ini.

=========Above The Paper==========

 

“Sica.. apa kau senang dengan semua ini?” suara pria itu membuat Jessica berhenti melihat cincin pernikahan yang Yuri sematkan padanya.

“Menurutmu Oppa?” pria itu tersenyum senang mendengar jawaban wanita di hadapannya.

“Well.. bagus kalau begitu.. aku berharap yang terbaik untuk semua ini…” Jessica menganggukan kepalanya.. mengalihkan pandangannya pada pria di hadapannnya yang sudah satu jam ini menemaninya berbelanja sesuatu yang akan ia berikan pada suaminya nanti.

=========Above The Paper==========

“Yul..” aku menyimpan buku yang sudah kubaca sejak setengah jam yang lalu, mengalihkan pandanganku pada sumber suara yang memanggilku.

“Yes Mr Kim?”

“Boleh aku minta tolong?”

“Ya apa?”

“Maukah kau menemani Tiffany selama satu hari ini?”

======================================================

================================

==========

Hai.. selamat malam ^_^

semoga kalian suka

gw lagi sakit dan gw mohon doanya biar cepat sehat lagi

thanks..

see you again di update selanjutnya hehehe

Iklan

120 pemikiran pada “Above The Paper Chapter 5 Part 2

  1. haish,gagal lagi..gagal lagi,,ntu sexy time nya! mana nanggung laggi,,yaahhh reader kecewa!:|
    thor siapa sih ntu yg nyalain alarm palsu,,sengaja banget gangguin yulsic ntuu!
    dah gittu d akhir ntu mr.kim nitipin fany laggi ma yul,,duhh,kacau..kacau ini! gimana ama sica ntar? heeh,berharap yg terbaik z lah thor! moga ntar happy end buat yulsic…! kaga papa ye thor gw ngarep gittu,hahhaaa ^,^

  2. Dapet gangguan mulu yulsic, sabar ye yul 😁😁😁
    Mr.kim ngapain juga nitipin fany ke yul??
    Thor bikin yulsic happy ending ya, please..🙏🙏🙏
    D tunggu update’n selanjutnya thor.

  3. Ada apa dg yulsic??? Tiap kali mau melakukan itu pasti ada aja halangan nya, apa ini taktik keluarga jung ya biar sica ga hamil Trs perusahaan nya akan balik lagi ke mereka.hhhmmm

  4. sial.. nc nya kentang hhaha

    author gw suka gaya lo nulis ff ini.. ide yg sngt briliant.. hebat dah..tiap partnya gk ketebak.. I like it.. love yulsic… taeny kuharap klian bhgia yah.. fany jgn terpaku sama yul ksihan dedek paud tahu

  5. dari pacar jd ka2k, mesti ga enk banget antara fany n yul klo ketemu, untung ga satu rumah. tp apalagi nih ksihan tae, napa ga tae aja yg nemenin fany ?
    fany jg tuh kykna msh blum bisa lupain yuri.
    hehe,, yg ganggu sesi time na mereka pas bnget,, 😀 ehh,, ya ris itu yulsic udh mulai suka beneran apa lakuinnya cm buat bisnisnya y,,? kadang yuri udh berasa mulai suka sica, kdang kok dtr2 aja gtu? ini lanjutnya udh ada lum ya, mksh,, 😀

  6. Oh Yul… kasihan banget dirimu…
    Duh.. penasaran lho sama Oppa yg diajak sama Sica… kakak sepupunya??
    Hmmm bgmn jadinya klo Yulfanny jalan seharian??? Bisa2 CLBK ni.. mana bisa move on si Fanny..

  7. Diliat dr gimana sikap yul ke sica..aku pikir dy udah bisa lupain fany.. Hmm trnyata belum.

    Dan lagi..untuk kesekian kalinya. Mereka gagal.. Hahahhahaha
    Hah nanggung bgt.. Kasian yulsic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s