My Lady

mine

“Tiff.. kau yakin sudah menyiapkan semuanya?” wanita yang disebut tadi mengangguk riang menggumamkan beberapa bait lagu yang sedang disenanginya. Ia mengecek kembali kondisi cupcake-nya yang sepertinya sebentar lagi matang. Di atas counter berserakan bahan-bahan hiasan cupkace tak lupa dengan frostingnya. Mungkin dalam beberapa menit cake-nya akan segera matang dan ia siap menghiasnya.

“Jessi.. bisakah kau membawa buah peach dan strawberry yang tadi sudah kau olah?” Jessica segera mengambil pan berisi buah yang disebutkan tadi. Ia menuangkan buah-buahan itu ke mangkuk kecil untuk hiasan cupcake mereka nanti.

“Ahh.. sudah matang ternyata kuenya.. ayo kita keluarkan dan dinginkan terlebih dulu..” Tiffany segera mengeluarkan cake-nya dan segera mendinginkannya. Ia menyusul Jessica yang serius membaca sesuatu di Iphone-nya.

“Heii.. serius sekali.. ada yang menarik?” Jessica sedikit terkejut tapi tak bisa menyembunyikan senyum manisnya saat membaca pesan yang baru ia terima dari sahabatnya yang sudah lama sekali tak bertemu dengannya. Tiffany yang tak mengerti menaikan kedua alisnya meminta penjelasan dari sahabatnya itu.

“Dia sudah kembali Tiff!!” Jessica berdiri memeluk Tiffany yang segera membawa tubuh mereka berputar dalam tarian bodoh dan kekanakan milik mereka. Merasa lelah.. keduanya segera membaringkan tubuh mereka di sofa.

“Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya.. aku senang dia sudah kembali untukmu Jessi..” Jessica tersenyum menerima pelukan kecil dari samping. Ia menepuk pundak sahabatnya itu.. mengucapkan terima kasih.

“Kau akan mengerti mengapa aku sangat mengaguminya saat bertemu dengannya nanti Tiff..” Tiffany mengangguk melihat kemilat kebahagian dan semangat dari mata sahabatnya itu. Jessica Jung adalah tipikel wanita yang tidak terlalu pintar mengutarakan perasaannya tapi jika mereka sudah membicarakan sesuatu tentang sahabat masa kecilnya itu.. ia seperti melihat sisi lain dari Jessica yang sungguh menyegarkan, membuatnya tidak pernah bosan mengeksplor sisi baru dari sahabatnya itu.

===== My Lady =====

Seorang pria berjalan memasuki ruangan yang cukup megah di lantai puncak salah satu gedung tertinggi di Seoul. Pria itu berhenti sejenak melihat bayangan orang yang akan ia temui hari ini. Lengkungan senyum tergambar di wajah pria itu… melanjutkan langkahnya menghampiri orang yang sudah menunggunya sejak tadi.

“Selamat siang Tuan Kwon..” pria yang disebut tadi segera membalikan direksi tubuhnya. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran seseorang yang sudah lama ditunggunya.

“Hahaha.. kau terlalu berlebihan Taeng..” Yuri memeluk pria di hadapannya erat.. penuh semangat menepuk pundak sahabatnya yang tertawa kecil menerima sambutannya.

“Well.. liat siapa yang berbicara padaku sekarang..” Yuri tertawa malu memukul bahu Taeyeon yang segera menghindar. Yuri mencoba mengirimkan tinjunya lagi tapi hanya mengenai angin yang menyapa tangannya ringan.

“Wow.. refleksmu bagus sekali!” Taeyeon hanya tersenyum kecil meminta Yuri mempersilakannya untuk duduk.

“Berarti pelatihanku di Cina tidak sia-sia..” Yuri hanya mengangguk lalu menghubungi sekretarisnya… meminta bawahannya untuk membawa hidangan yang sudah disiapkan sejak tadi.

“Baguslah.. jadi aku tidak akan khawatir menyerahkan tunanganku padamu..”

“Apa maks…” belum sempat Taeyeon menjawab, Hayoung.. sekertaris Yuri sudah masuk ke ruangan mereka mendorong sebuah cart medium yang Taeyeon bisa tebak apa itu isinya. Yuri berdiri membantu sekertarisnya itu menyiapkan hidangan yang dengan cantik tersedia di meja makan kecil yang memang sengaja ada di ruangannya.

Menjadi CEO salah satu perusahaan manufacturing multinasional seperti Yuri membuat dirinya harus selalu siap sedia dengan kondisi apapun. Mungkin bagi sebagian orang menganggap pekerjaan Yuri mudah yaitu hanya memeriksa.. mengambil keputusan.. membuat kebijakan dan memberi perintah. Tapi baginya.. seorang pemimpin bukan hanya seperti itu. Pemimpin adalah seseorang yang bisa memberi contoh bukan tumpang kaki dan memerintah seenaknya.

“Thanks Hayoungie… kau bisa melanjutkan pekerjaanmu yang lainnya..” Hayoung mengangguk.. tersenyum lalu membungkuk kecil pada Taeyeon yang segera berdiri membungkuk juga padanya. Senyum masih menghiasi wajah Taeyeon saat Hayoung keluar dari ruangan.. membuat Yuri berdeham pelan. Taeyeon sedikit menggelengkan kepalanya kembali tersadar dari Dazed mode-nya.

“Dia masih single Taeng.. dan Hayoung… mengidamkan pria sepertimu..” Yuri berbisik pelan di telinga kanan pria yang kini meringis kesakitan menerima pukulan kecil di bahunya.

“Hahaha.. benarkah?” Kedua alis Taeyeon naik beriringan dengan senyum lesung pipitnya. Yuri tertawa melihat ekspresi wajah pria di sampingnya itu.

“Kenapa kau tertawa huh?” Tawa itu kini berhenti.. berganti dengan senyuman gugup dan maaf dari Yuri.

“Maafkan aku Taeng.. tapi Hayoung sudah menikah dengan salah satu sepupuku.. Julian.. kau masih mengingatnya kan?” raut kekecewaan kini tergambar di wajah Taeyeon. Ia sedikit berpikir mengingat pria beruntung yang sudah menjadi suami wanita bernama Hayoung tadi.

===== My Lady =====

“Baby.. I miss you..” seorang pria melingkarkan tangannya di pinggang wanita yang memunggunginya sejak tadi. Ia mengecup pipi kanan sang kekasih yang tersenyum masih belum menatapnya.. terlalu asik memandang keindahan sang pencipta semesta yang bermain di hadapannya.

“Heumh.. I miss you too Oppa..” Tiffany mulai membalikan direksi tubuhnya.. menghadap sang kekasih yang tersenyum begitu manis baginya. Ia mengelus pipi pria di hadapannya yang terlihat kelelahan, terbukti dengan sedikit lingkaran hitam yang ada di bawah kantung matanya.

“Kau lelah sekali..” pria itu hanya menggumamkan lagu kesukaan mereka.. menarik Tiffany dalam pelukannya.. membuat tubuhnya seketika relaks menghirup aroma khas sang kekasih yang selalu dirindukannya. Wangi vanilla.. lavender dan strawberry bersatu menciptakan sensasi baru yang hanya dimiliki kekasihnya itu.

“Aku tidak akan pernah lelah jika bersamamu..” Tiffany tersenyum menyipitkan kedua matanya.. bahagia mendengar kata-kata manis klise sang kekasih yang selalu apa adanya padanya.

“Maka dari itu.. kau harus selalu bersamaku..” sang kekasih melepaskan pelukannya.. menatap kedua mata Tiffany begitu dalam sebelum mengecup lembut kening dan puncak kepalanya.. kembali mendekap sang kekasih yang bisa saja menghilang dalam sekejap darinya.

“Oppa.. ada apa?” Tiffany tahu kekasihnya itu pasti menyembunyikan suatu masalah darinya. Mendengar nada bicara Oppa-nya itu.. ada sesuatu yang mengganggu pikiran sang kekasih.

“Fany-ah.. kau mempercayaiku kan?” Tiffany menatap mata kekasihnya begitu lekat.. menganggukan kepalanya. Mata prianya itu terlihat berkaca-kaca.. ada ketakutan dan kesedihan yang bersembunyi di balik keindahan dan kehangatan tatapannya yang selalu menghanyutkan dirinya.

“Ada apa Oppa? Kau membuatku takut jika seperti ini..” kekasihnya itu sedikit menggelengkan kepalanya lalu mengecup bibirnya ringan, membawa kening mereka bertemu.. memejamkan kedua matanya.. menikmati kehadirannya yang selalu menenangkan hatinya.

“Kau adalah hidupku Fany-ah.. percayalah padaku…” Kwon Yuri kembali mendekap sang kekasih yang hanya menganggukan kepalanya.. menerima dekapan hangatnya yang selalu menyenangkan untuk keduanya.

Keesokan harinya….

“Oppa?” Tiffany berjalan ke luar dari kamarnya.. masih mengenakan lingerie dalam balutan bathrobe pink-nya menuju ruang santai di lantai 1 rumahnya. Ia mencium harumnya pancake khas kekasihnya yang selalu membuat nafsu makannya meningkat. Tak heran jika Jessica memanggilnya Pig karena memang sejak berpacaran dan sekarang menjadi tunangan Yuri Tiffany menjadi lebih menikmati dunia dengan memakan berbagai hidangan lezat yang ia jumpai apalagi sang kekasih begitu memanjakannya dengan kemampuan memasaknya yang diatas rata-rata.. menambah begitu banyaknya alasan mengapa ia menyukai.. no hapus itu.. mencintai Kwon Yuri.

Kwon Yuri.. Tiffany tidak sanggup menggambarkan betapa sempurnya pria itu baginya.

Pertemuan pertama mereka terjadi sama seperti apa yang terjadi di drama televisi atau film- film romance lainnya.

Meskipun klise.. tapi itu begitu indah dan tak terlupakan.

Flashback

Tiffany saat itu sedang menempuh praktek kerja lapangannya di salah satu perusahaan milik keluarga Kwon. Meskipun ia adalah putri Craig Hwang, pemilik tunggal perusahaan advertising ternama di Korea, ia tetap melaksanakan tugas akhirnya itu sebagai Tiffany Hwang, gadis 19 tahun yang menutupi identitasnya untuk hidup normal seperti kebanyakan orang pada umumnya.

Jika kalian menebak Tiffany hidup bagaikan seorang puteri dongeng pada umumnya.. kalian salah. Sejak kecil.. kedua orangtuanya selalu mendidiknya untuk hidup sederhana meskipun mereka memliki kekayaan dan harta yang melimpah. Dan hasilnya.. Tiffany tumbuh menjadi gadis cerdas, cantik.. berkepribadian menarik.. ramah dan independent, tidak seperti kebanyakan gadis lain yang seumuran dan berstatus sama sepertinya.

Mungkin hal itu juga yang menarik Yuri padanya.

Sebelumnya.. ia hanya tahu bahwa Yuri adalah leader project yang sedang ia analisis perkembangannya untuk tugas akhir bisnis manajementnya. Entah bagaimana mereka bisa menjadi dekat.. mungkin karena Tiffany yang aktif dan kreatif dalam proyek itu atau memang karena kecerdasan dan kecantikan alaminya yang terpancar sehingga Yuri begitu tergila-gila padanya.

Berakhirnya praktek kerja lapangan merupakan awal bagi hubungan Tiffany dan pria yang baru ia ketahui sebagai pewaris tahta Kwon Grup yang begitu berpengaruh dalam perkembangan perekonomian Korea Selatan. Yuri meresmikan hubungan mereka dengan hadir dan membawa kejutan manis di hari wisudanya. Pria itu meminta bantuan temannnya, seorang penerbang bebas untuk menuliskan “Happy Graduation Day Tiffany Hwang” di langit siang itu begitu indahnya membuat perhatian semua orang yang hadir saat itu tertuju padanya.

Senyum manisnya yang tampan dan menghangatkan hati membuat Tiffany tak bisa mengatakan tidak saat Yuri memintanya secara langsung untuk menjadi kekasihnya di hadapan ayah dan kedua kakak Tiffany. Perlu keberanian besar bagi seorang pria untuk melakukan hal itu karena Craig Hwang yang terkenal tegas membasmi pria-pria yang mendekati putrinya hanya untuk main-main atau memanfaatkan putrinya dan Yuri tahu hal itu pastinya.

Aneh memang aneh saat Craig meminta Yuri untuk mendekat padanya.. memeluk pria itu setelah melihat Tiffany menerima tawarannya untuk menjadi kekasih hatinya. Michelle dan Leo hanya tersenyum kaget melihat ayahnya dengan cepat menerima Yuri sebagai kekasih adik bungsunya itu. Tiffany merasa lega karena ayahnya bisa dengan cepat menerima Yuri setelah ia dengan terbuka menceritakan kedekatan dan perasaannya tentang calon kekasihnya itu pada sang ayah.

Tahun ini adalah tahun ke-7 hubungan mereka resmi terjalin. Di usia mereka yang sudah matang ini.. Yuri ingin memantapkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih jauh lagi. Ia ingin mengikat cinta mereka dalam ikatan suci pernikahan. Maka dari itu ia memberanikan diri untuk melamar wanitanya itu tepat di hari jadi mereka.

Hari masih terlalu pagi bagi Tiffany untuk bangun disamping sang kekasih yang tak ada berbaring disisinya.. memeluknya hangat membuat tidurnya selalu nyaman dan nyenyak dengan kehadirannya.. mengusir mimpi buruk yang terkadang menghampirinya. Apalagi jika itu sudah berhubugan dengan mendiang ibunya yang sudah berpulang beberapa tahun lalu dalam kecelakaan yang masih membuat Tiffany trauma hingga hari ini.

Tiffany berjalan keluar dari tendanya, memakai coat coklat kesukaan Yuri yang ternyata masih sibuk memanggang sesuatu. Tiffany memeluk kekasihnya itu dari samping, sedikit mengagetkan Yuri yang sedang membuat sesuau untuk menemani sarapan mereka nanti.

“Mengapa kau bangun? Apa terjadi sesuatu?” Tiffany menggelengkan kepalanya, semakin mengeratkan pelukannya membuat Yuri tersenyum kecil mengingat lagi rencananya. Untuk sesaat keduanya hanya terdiam dalam posisi seperti itu hingga Yuri selesai memasak sarapannya. Ia menghidangkan makanan lezat sehat bernutrisi itu di meja kayu antic yang memang sudah ada di tempat itu sejak dulu.

“Oppa.. ini masih terlalu pagi untuk sarapan..” Tiffany yang masih menguap mencoba berbincang dengan sang kekasih yang tersenyum dalam hatinya tak mau menjawab pertanyaan itu.

“Aku tahu tapi perasaanku mengatakan bahwa perutmu akan selalu bereaksi pada masakanku kapanpun itu.. hehehe” Yuri tak bisa menahan tawa renyah merdunya melihat wanitanya itu menggembungkan kedua pipinya.. berpura-pura sebal mendengar leluconnya. Meskipun begitu.. Tiffany tetap tak bisa menahan aroma masakan prianya yang begitu menggoda lidahnya. Ia mau menyantap sarapannya itu karena Yuri yang menyuapinya. Sesekali pria bermarga Kwon itu mencuri ciuman yang membuat Tiffany malu dibuatnya. Well meskipun 7 tahun sudah berlalu.. tapi rasa malu dan jantung yang bergedup kencang ketika ia pertama kali jatuh cinta dengan Yuri tidak pernah hilang.

7 tahun.. mengapa perlu waktu selama itu bagi Yuri untuk melamar Tiffany?

Well.. sebenarnya.. sejak tahun ke-2 mereka berpacaran.. Yuri sudah siap untuk melamar Tiffany tapi permintaan Craig untuk membawa Tiffany ke Amerika mengembangkan bisnisnya membuat Yuri mengurungkan niatnya. Belum dengan pendidikan master yang ditempuh olehnya dan Tiffany membuat lamaran itu selalu tertunda.

Ya.. Tiffany dan Yuri pernah mengalami pahit dan manisnya hubungan jarak jauh karena kesibukan yang mereka tempuh. Tapi hubungan jarak jauh itu tak terasa karena Yuri yang selalu menyempatkan diri mengunjungi sang kekasih dan calon ayah mertuanya di Amerika, baik itu di New York atau LA. Begitu juga Tiffany yang selalu mengunjungi kekasihnya itu 2 minggu sekali ke London saat Yuri masih menempuh masternya di salah satu universitas bergengsi di Inggris.

“Sayang.. percayalah padaku.. kau pasti menyukai semua ini..” Yuri membawa kekasihnya itu ke ujung puncak bukit tempat mereka berkemah sekarang. Ia memegang tangan Tiffany erat.. tak henti tersenyum membayangkan jawaban yang akan diberikan wanita yang selalu menjadi gadis imut baginya.

“Ahh.. kita sampai..” Yuri duduk membawa Tiffany untuk berdiam di pangkuannya, menyatukan kehangatan tubuh mereka.. melawan dinginnya udara pagi yang menusuk tubuh mereka.

“Sepertinya aku tahu mengapa kita berada disini” Tiffany menyenderkan kepalanya di bahu Yuri yang mengangguk pelan mengiyakan apapun yang dipikirkan kekasihnya itu. Untuk sesaat mereka hanya diam menikmati pemandangan dan udara segar yang mengelilingi hingga mataharipun mulai keluar dari persembunyiannya.

“Stephanie Hwang Miyoung.. maukah kau menikah denganku?” hanya dengan kalimat itu Yuri melamarnya disaat matahari mulai naik dan menerangi dunia dengan cahayanya. Selama ini sudah begitu banyak kejutan manis dan besar yang diberikan padanya tapi lamaran ini begitu simple, natural dan jujur.. ia sangat menyukainya.

“Sayang?? Maaf jika lamaranku tidak sesua..” ucapan itu terhenti saat Tiffany membalikan tubuhnya.. menatap sang kekasih dengan matanya yang berair.. seperti ingin menangis tapi tidak.

Yuri menutup kedua matanya menerima ciuman lembut dan manis Tiffany yang menautkan tangannya itu di lehernya. Ciuman itu tidak dipenuhi nafsu.. hanya cinta yang bermain di dalamnya. Tiffany melepaskan pagutan bibirnya itu.. mengecup ringan sekali lagi bibir mungil sang kekasih yang selalu ia nikmati.. tersenyum manis menyipitkan kedua matanya.. membuat Yuri tersenyum semangat memompa tangan kanannya ke atas.

“Yes!!! Whuoooo… Yeaaahh!!! aku akan segera menikah!!! Hahahaha yess!!” Ia masih membawa Tiffany dalam dekapannya.. berlari dan meloncat kegirangan karena lamarannya diterima.

End Of Flashback

“Heumh.. pancake almond strawberry madu.. aku menyukainya..” Yuri tertawa kecil menerima pelukan calon istrinya itu. Dengan satu balikan pancake terakhir sudah siap dihidangkan ke piring.

Tiffany masih memeluknya erat.. membuat prianya itu kesulitan bergerak untuk menghidangkan sarapan mereka di meja makan.

“Hai Gorgeous.. kau sudah bangun?” Tiffany menganggukan kepalanya di punggung Yuri yang memang jauh lebih tinggi darinya tapi ia menyukai hal itu karena dengan seperti itu ia selalu bisa berada di dekapan sang kekasih.

“Oppa.. aku ingin makan di taman..” Yuri mengerti keinginan kekasihnya itu. Ia membawa Tiffany dan sarapan mereka menuju halaman belakang rumah mereka, taman luas dengan kolam renang ukuran sedang yang sengaja didesain Yuri khusus untuk calon istrinya itu.

“Ahh.. ayo buka mulutmu Mr Kwon..” Yuri membuka mulutnya lebar-lebar menerima suapan besar dari wanitanya yang terkadang jahil seperti ini.

“Hahahaha Oppa.. wajahmu..” Tiffany tak bisa menahan tawanya melihat wajah sang calon suami yang belepotan berusaha mengunyah dan menelan suapan pancakenya. Perlahan ia bersihkan cream dan saus di pinggir mulut Yuri menggunakan lidahnya, membuat pria di hadapannya itu tersenyum senang menerimanya. Dan dari hal kecil tadi.. sarapan mereka diisi dengan tawa.. canda.. ciuman dan cumbuan kecil yang menambah kenikmatan penyantapnya.

“Oke cukup.. kau bisa telat Oppa jika seperti ini terus..” Tiffany mencoba melepaskan pagutan sang kekasih di lehernya, menghilangkan kesempatan calon suaminya itu untuk membuat lukisan-lukisan baru di lehernya.

“Aku tidak akan telat sayang.. tapi kau ada benarnya juga..” dengan satu ciuman panjang.. Yuri melepaskan Tiffany dari dalam dekapannya. Ia membawa wanitanya itu ke dalam rumah.. menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuh mereka.

“Sudah selesai.. aigoo.. calon suamiku tampan sekali!” Tiffany memekik kegirangan setelah menalikan dasi pink abu Yuri. Prianya itu hanya tersenyum kecil mengecup bibirnya ringan, membuat Tiffany tak kalan senang.

“Sayang hari ini kau sibuk?” Tiffany mengambil Ipadnya memeriksa kembali jadwalnya.

“Sampai nanti siang aku masih harus menyiapkan project iklan baru IPKN.. tapi sesudah itu aku free.. ada apa Oppa?” Tiffany mendekati sang kekasih yang terlihat berpikir sejenak lalu kembali tersenyum setelah mendapat ide baru di kepalanya.

“Jika kau sudah selesai beritahu aku ya. Aku ingin mengenalkan sahabatku yang sudah lama ingin kukenalkan padamu..” Tiffany menganggukan kepalanya, tersenyum menerima kecupan di keningnya sebelum mengantar Yuri ke luar pintu rumah mereka menaiki mobil menuju kantornya.

===== My Lady =====

“Hai Oppa.. aku sangat merindukanmu..” Taeyeon membalas pelukan wanita di hadapannya itu sama eratnya. Ia mengelus kepala Jessica yang masih belum melepas pelukannya.. membuat Taeyeon tertawa kecil melihatnya.

“Aigoo.. aku tidak tahu kau serindu itu padaku Sica.. hahaha” masih dengan ahjussi laugh-nya Taeyeon tertawa.. membuat Jessica akhirnya ikut tertawa juga dibuatnya.

“Oppa kenapa baru pulang sekarang? Bukankah pelatihanmu di Cina hanya 2 tahun? Lalu setahun kemarin kau kemana?” Taeyeon hanya tertawa kecil sebelum akhirnya menjelaskan semuanya pada wanita yang paling dekat dengannya itu.

“Selama satu tahun ini aku berlatih di Hongkong dan kembali lagi ke stasiunku di New York.. dan akhirnya.. aku diperbolehkan pulang lagi ke Korea. Oppa tidak sempat menghubungimu karena kegiatan disana penuh sekali. Tanyakan pada Umma dan Hayeon kapan Oppa sempat menghubungi mereka..” Jessica menerima penjelasan pria di hadapannya itu dengan sebal karena memang benar Taeyeon tak pernah berbohong padanya.

“Baiklah aku terima penjelasanmu tapi..”

“Tapi apa?”

“Kau harus membawaku kesini..” dan Taeyeon hanya melongo melihat list tempat yang ingin Jessica kunjungi bersamanya.

Beberapa jam kemudian…

“Sica.. Oppa sudah capek.. sudah ya..” Taeyeon merebahkan tubuhnya di sofa café yang sekarang sedang mereka kunjungi.

“Tapi Oppa..” Jessica merajuk… berusaha menunjukan wajah imut agar Taeyeon mau mengabulkan permintaannya.

“Sica.. Oppa harus bertemu dengan sahabat Oppa satu jam lagi.. lebih baik kita pulang ya..” dengan itu keduanya segera menghabiskan minuman mereka, melanjutkan perjalanan pulang mereka.

===== My Lady =====

“Oppa… Kita akan bertemu siapa?” Yuri hanya tersenyum dan mengatakan bahwa ia akan mengetahui hal itu nanti. Tiffany kini sudah berada di restoran langganan keduanya sejak ia dan Yuri baru bertemu pertama kali.

“Nah itu dia orangnya sudah datang.. kau tunggu disini sebentar ya Sayang..” Yuri beranjak dari kursinya, berjalan menghampiri seorang pria yang tidak jauh lebih tinggi darinya. Ia memeluk pria itu dan membawanya ke meja mereka.

“Taeng.. dia adalah duniaku.. Tiffany Hwang..” Tiffany berdiri membalas jabatan tangan pria yang masih memakai kacamata hitamnya, terlihat tampan dan cool seperti agen-agen rahasia di film-film yang pernah ia tonton.

“Kim Taeyeon.. senang bisa bertemu denganmu Tiffany-shi..” dibalik genggaman tangannya yang cukup keras.. Tiffany bisa merasakan halus dan hangatnya tangan pria di hadapannya itu.

“Iya.. senang bisa bertemu denganmu juga Taeyeon-shi..” Taeyeon tak bisa menahan senyumannya mendengar suara merdu nan indah itu. Tiffany bukan wanita pertama yang ia temui dengan kecantikan seperti itu.. tapi apa yang dimiliki Tiffany memang berbeda dengan yang lainnya.

“Oke.. sudah cukup perkenalannya.. kau sepertinya sudah cukup tersihir dengan kecantikan calon istriku Taeng..” Yuri tertawa melihat wajah Taeyeon yang terlihat salah tingkah sementara Tiffany memukulnya pelan.

Pertemuan itu diisi dengan perkenalan Taeyeon pada Tiffany secara singkat, ketiganya menyantap makanan favorit Tiffany dan Yuri di restoran itu diselingi obrolan-obrolan ringan sebelum mereka menjajaki obrolan serius yang Yuri ingin lakukan bersama kedua orang di sampingnya.

“Oppa.. kau masih seperti anak kecil..” Tiffany mengambil tissue-nya, mengelap lembut ujung bibir kekasihnya itu membuat Taeyeon tertawa kecil melihatnya.

“Kau benar sekali Tiffany.. calon suamimu itu memang seperti bayi.. hahaha” Yuri menatapnya tajam sementara sahabatnya itu semakin tertawa dibuatnya.

“Yah Kim Taeyeon.. masih mending aku yang sebentar lagi akan menikah.. sementara kau? Masih saja sibuk memanjakan senjata-senjatamu..”

“Tentu saja.. mereka adalah baby-babyku Kwon Yuri…” Taeyeon mengelus senjata yang kini berada di pinggangnya membuat Tiffany menatapnya kaget.

“Taeyeon Oppa.. kau membawa senjata???” Taeyeon mengangguk tersenyum kecil layaknya bocah membuat Yuri tak bisa menahan tawanya.

“Oke.. mari kita bicarakan tujuan kita berkumpul disini..” Yuri kini kembali ke mode seriusnya. Ia menggenggam halus tangan Tiffany, membuat calon istrinya itu menatapnya heran.

“Fany-ah.. aku sudah lama memikirkan ini dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil keputusan ini..”

“Keputusan?”

“Aku ingin kau tetap berada di dekat Taeyeon dalam beberapa bulan ke depan. Taeyeon akan menemanimu dalam setiap kegiatan.”

“Kenapa Oppa? Ada apa ini sebenarnya?” Tiffany melepaskan genggaman tangan Yuri di tangannya, menatap kekasihnya itu bingung dan terkejut.

“Sayang.. keadaanmu sekarang tidak aman. Sesuatu telah terjadi beberapa bulan yang lalu ketika aku..”

Bang!!

Yuri melihat ke bahu kirinya, mendapati darah mulai mengalir.. belum menyadari rasa sakit luar biasa yang terjadi selanjutnya.

“Yul!! Taeyeon akan berlari ke samping tubuh sahabatnya itu saat peluru lain bersarang di bahu kanan Yuri. Tubuh Yuri seketika ambruk, terjatuh ke samping Tiffany yang masih shock dalam tangisnya melihat semua ini.

===== My Lady =====

“Tiffany… beristirahatlah” Taeyeon duduk di samping gadis yang masih menangis dalam diam memegang tangan Yuri yang tertidur lelap dalam tidurnya.

“Aku tidak bisa Taeyeon Oppa.. bagaimana bila orang jahat itu mencelakakan calon suamiku lagi?” Taeyeon menggenggam tangan lain Tiffany, membawa wajah gadis itu untuk bertemu dengannya.

Mata Ungu kehitaman itu.. begitu sayu dan temaram.

Wajah indah.. manis dan ayu-nya.. kini diselimuti kesedihan dan ketakutan.

Bibir pinkish dan mungil itu.. tak melengkungkan lagi senyum indahnya.

“Fany.. aku akan menjagamu dan juga Yuri dengan nyawaku.. kau harus ingat itu..” tangan itu dengan sendirinya menghapus air mata yang masih berlinangan di wajah pemiliknya.

“Yuri akan sembuh.. kalian akan segera melaksanakan pernikahan kalian secepatnya.. dan aku akan menjadi best man Oppamu ini..” Taeyeon menggertakan giginya.. menahan tangis melihat sahabatnya yang menyebalkan itu terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat medis yang membantunya bertahan hidup.

Flashback

“Taeng… kau tahu Nozo Group?” Yuri memberikan Taeyeon selembar map coklat berisi beberapa dokumen dan foto tentang hal yang disebutkan tadi. Taeyeon mengangguk mengambil isi map itu.. memeriksa semua yang ada di dalamnya.

“Apa yang kau lakukan dengan mereka?” Yuri memijat kepalanya yang sedikit pusing. Ia membawa dokumen lain yang menjadi penyebab masalahnya ini.

“Yul!! Kau serius akan bekerjasama dengan mereka?” Yuri menggeleng pelan lalu meminum infused water yang selalu Tiffany sediakan untuknya.. menghilangkan sedikit pusing dan stressnya seketika.

“Baguslah.. kau tahu mereka justru akan membawa perusahaanmu ini ke jalur yang berbahaya.. sudah lama kepolisian Seoul dan CIA mengikuti jejak langkah mereka.”

“Justru itu masalahnya Taeng..” Yuri memejamkan kedua matanya, berusaha mengumpulkan fokusnya.

“Apa maksudmu?” Yuri kembali mengambil sesuatu dari laci mejanya.. membawa beberapa surat yang dikirimkan secara resmi dari Nozo Grup.

“Yul!! Ini adalah ancaman yang berbahaya.. kau harus melaporkannya ke polisi..” Taeyeon menatap sahabatnya itu khawatir.

“Dan membuat reputasi Kwon Grup menurun drastis?” Kini Yuri memberikan smartphone-nya pada Taeyeon, memperlihatkan percakapannya dengan perwakilan grup bisnis yang dikuasai oleh mafia paling berpengaruh di Hongkong, Jepang dan sekitarnya.

“Kita harus melawan mereka..” Taeyeon mengepalkan kedua tangannya setelah selesai membaca percakapan itu.

“Aku tahu Taeng.. aku ingin melakukan hal itu tapi masih belum ada rencana matang untuk menghentikan ulah mereka. Mereka tidak akan berhenti menggangguku sebelum mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan..”

“Jangan Yul.. kau jangan sampai menyetujui keinginan mereka untuk membeli 40% saham Kwon grup. Kehadiran mereka disini akan menjadi ancaman besar bagi negara kita..”

“Aku tahu… mereka bertujuan untuk menguasai negara ini dengan pengaruh mereka melalui proyek ini jika aku menyetujuinya. Maka dari itu aku langsung menolak proposal mereka. Tapi aku tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini..” Keluarganya dan Tiffany-lah yang selalu mendatangi pikirannya jika ia sedang memikirkan hal ini.

Tidak.. Yuri tidak bisa membiarkan mereka melukai Tiffany ataupun keluarganya.

“Maka dari itu Taeng.. aku meminta tolong padamu.. tolong jagalah Tiffany untukku?” Yuri menggenggam kedua tangan Taeyeon terlihat begitu sedih dan khawatir.

“Tiffany?” Mendengar nama itu mengulaskan senyum di wajah Yuri. Ia memperlihatkan sebuah album foto yang tersimpan di laci meja kerjanya pada Taeyeon yang segera melihat album itu.

“Dia.. tunanganmu Yul? Wow.. you got a nice catch..” Yuri tertawa kecil mendengar celetukan sahabatnya itu. Ia duduk di samping Taeyeon yang masih serius atau lebih tepatnya terpesona melihat begitu banyaknya foto eye smiling girl itu dalam album foto sahabatnya.

“Kau beruntung bisa mendapatkannya..” Yuri tersenyum melihat foto-foto liburannya di Milan tahun kemarin.. tepat saat ia melamar kekasihnya itu untuk menjadi pendamping hidupnya.

“Tentu.. maka dari itu aku ingin kau menjaganya untukku Taeng.. apalagi bila sesuatu terjadi padaku..” kesedihan dan melankoli itu terasa lagi membuat Taeyeon menatap sahabatnya yakin.. menganggukan kepalanya.. bersedia mengabulkan keinginan sahabatnya itu.

End Of Flashback

“Aku akan menjaganya Yul.. aku akan menjaganya.. kau tidak usah khawatir..” Taeyeon menatap sahabatnya itu sebelum akhirnya membawa Tiffany yang tertidur di pangkuan Yuri menuju sofa.

===== My Lady =====

Tiffany POV

“Fany-ah.. kau sudah selesai?” aku menganggukan kepalaku menjawab pertanyaan pria yang sudah 1 tahun ini selalu setia menemaniku dalam aktivitas apapun seperti hari ini.. saat aku harus membuka kantor cabang baru perusahaan Daddy di Beijing.

“Baiklah.. let’s kill them!” Taeyeon Oppa mengedipkan mata kanannya, tersenyum berjalan keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku. Ia mengambil telapak tangan kananku, membantuku keluar dari limo hitam kami layaknya seorang gentleman pada umumnya. Aku berjalan di sampingnya, menelusupkan tangan kiriku ke gandengannya.. berjalan beriringan menyapa awak media yang begitu bersemangat meliput pesta pembukaan kantor baru ini. Well salahkan semua karyawan perusahaan Daddy-ku yang begitu jenius sehingga perusahaan kami sekarang sudah meraih titel sebagai perusahaan periklanan no 1 di asia. Target kami selanjutnya menjadi no 1 di dunia.

“Kau harus mengecup pipiku…” Taeyeon Oppa berbisik padaku.. terlihat seperti sedang menciumku jika orang luar melihatnya. Kami kini sedang ada di karpet merah.. menyapa para wartawan.

“Tapi Oppa.. Yuri Oppa nanti..” Taeyeon Oppa menggenggam tanganku erat.. menatapku dengan mata hitam onixnya, membuatku tanpa sadar menganggukan kepalaku dan mengecup pipi kanannya pelan membuatnya tersenyum lebar menerimanya. Awak media berteriak riuh ramai melihat aksi kami tadi, berbondong-bondong mengabadikan moment itu sebagai sesuatu yang berharga.

Flashback

“Oppa.. akhirnya kau bangun!” Tiffany segera menghampiri kekasihnya yang sudah 1 bulan ini tertidur dalam komatusnya. Ia segera menghubungi dokter dengan menekan tombol merah yang ada dalam kasus darurat. Dalam beberapa menit, dokter dan suster berjalan menghampiri Yuri yang masih terlihat lemas dan pucat seperti mayat hidup. Tiffany menunggu di luar dengan rasa khawatir bercampur bahagia menunggu pemeriksaan pada calon suaminya itu.

“Bagaimana dokter? Apa calon suami saya baik-baik saja?” Dokter tersenyum kecil mulai menjelaskan tentang keadaan Yuri yang mengalami shock di beberapa bagian syaraf tubuhnya. Selama beberapa bulan mungkin Yuri akan sulit untuk berjalan. Terapi akan membantu kesembuhan Yuri dengan cepat.

“Oppa.. aku merindukanmu..” Tiffany memeluk Yuri pelan.. takut jika calon suaminya itu kesakitan jika ia mengenai luka kekasihnya itu.

“Iya sayang.. Oppa juga sangat merindukanmu. Sudah berapa lama aku tertidur?” Yuri mengelus kepala Tiffany pelan dalam pelukannya, bersyukur karena tuhan masih memberinya kesempatan untuk berkumpul kembali bersama orang-orang tercintanya.

“Sekitar 1 bulan Oppa… aku selalu yakin bahwa kau akan bangun.. mengucapkan janji suci kita nanti di altar.. di hadapan Tuhan dan keluarga kita..” Baju Yuri basah menyadari bahwa kekasihnya itu menangis di pelukannya. Ia membawa wajah kekasihnya itu mendekat dengannya menghapus tangis itu dengan kecupan lembut di kedua mata Tiffany.

“Pasti Sayang.. aku akan menepati janjiku itu padamu.. kau akan menjadi istriku hari ini.. esok dan seterusnya..” dan bibir yang sudah lama Tiffany rindukan itu kembali menyapanya dalam kecupan manis dan lembut yang selalu menggetarkan hatinya.

2 bulan kemudian

“Sayang.. kau harus mengerti.. aku melakukan ini semua demi keselamatanmu…” Yuri mencoba menggenggam tangan Tiffany yang berusaha menepisnya.

“Tapi mengapa harus seperti ini?? apa kau ingin membatalkan pernikahan kita?” Yuri menggeleng cepat mencoba menggenggam kembali tangan kekasihnya itu.. ingin menjelaskan semuanya pada wanita yang terlihat marah sekali padanya.

“Kau ingin Taeyeon Oppa menjadi pelindungku.. bodyguardku.. oke aku terima. Tapi.. jika kau ingin aku mengenalkan pada dunia bahwa Taeyeon Oppa adalah kekasihku.. itu gila Oppa!” Tiffany sedikit berteriak mengatakan itu semua. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi dengan semua ketakutan dan kegilaan pria di hadapannya ini.

“Baiklah.. mungkin aku harus menceritakannya padamu. Kau tahu Taehwan yang sejak dulu selalu menjagaku? Saat ini ia sedang dalam perawatan intensive setelah mengalami kecelakaan. Kau mau tahu kenapa? Dia mengendarai mobilmu yang ternyata sudah dirusak sebelumnya..”

“Kim Sunhi… salah satu staff-mu yang kemarin mengalami keracunan hebat karena ia menghirup bunga beracun yang harusnya diterima olehmu. Lee janhee.. salah satu pegawai di rumahmu yang sekarang masih dirawat karena ia menerima paket untukmu yang sudah diisi serangga beracun yang bertujuan untuk membunuhmu..”

“Oppa..”

“Apa aku harus menceritakan hal lainnya Fany-ah?” air mata itu kini tak sengaja meluncur dari mata Yuri. Ia sudah berusaha menyembunyikan semua hal ini dari kekasihnya, tak ingin kekasihnya itu merasa terancam. Maka dari itu ia memutuskan untuk membiarkan Nozo grup percaya bahwa ia dan Tiffany tak memiliki hubungan apapun.

“Apa Taeyeon oppa sudah mengetahui semua ini?” Yuri menganggukan kepalanya, tak ingin Tiffany melihatnya lemah seperti ini. Kekasihnya itu perlahan berjalan mendekatinya, memeluknya, menyenderkan kepalanya di bahunya Yuri.

“Sayang.. kau akan tetap aman jika Taeyeon tetap berada di sampingmu..” Tiffany menganggukan kepalanya, mengeluarkan tangis kecilnya.. membuat Yuri mengepalkan salah satu tangannya merasa kesal karena sampai saat ini ia masih belum bisa menyelesaikan masalah ini.

Sebenarnya jalan keluar dari masalah ini mudah.

Yuri hanya harus menyetujui proposal kerjasama yang ditawarkan Nozo grup padanya dan hidupnya akan aman dan damai seperti dulu. Tapi ia tidak bisa egois hanya memikirkan keamanannya saja jika nantinya Nozo grup mulai mengancam ketentraman di negaranya. Ia tahu bahwa Tiffany adalah segalanya baginya tapi ia tak bisa mengorbankan ribuan nyawa lainnya hanya untuk 1 orang yang begitu ia cintai di dunia ini. Maka dari itu.. mendorong Tiffany jauh dari hidupnya hingga semua masalah dengan Nozo Grup ini berakhir adalah salah satu jalan keluar terbaik menurutnya.

End Of Flashback

Kami sekarang sudah memasuki ruang pertemuan yang disulap menjadi jamuan mewah dan elegan untuk pesta ini. Daddy menyambutku senang.. memelukku erat begitu juga pada Taeyeon Oppa. Pesta peresmian ini pun resmi dimulai setelah Daddy memotong pita dan menyalakan buzzer.. menambah kemeriahan pesta.

Jika kalian bertanya-tanya apakah Daddy dan saudara-saudaraku tahu tentang hal ini?

Well.. yes.. mereka sudah mengetahuinya langsung dari Yuri oppa secara pribadi. Sudah beberapa bulan ini aku dan Taeyeon Oppa berakting layaknya sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Yuri Oppa masih menghubungiku secara diam-diam agar Nozo grup tak mencurigai rencananya. Sesekali aku dan Oppa bertemu di tempat yang sudah sangat dijaga keamanannya. Hanya saat itulah aku bisa mencurahkan semua kerinduanku padanya.

Aku dan Taeyeon Oppa berbincang dengan tamu Daddy yang lainnya, menyapa teman dan kolegaku yang kebetulan juga hadir. Kebanyakan dari mereka kaget mengetahui bahwa hubunganku dan Yuri Oppa putus begitu saja. Tapi Taeyeon Oppa dan keahliannya dalam berbicara membuat kebanyakan dari mereka akhirnya percaya juga. Saat aku diculik oleh teman-teman wanitaku.. mereka banyak bertanya padaku tentang Taeyeon Oppa. Dari kejauhan aku melihat Oppa begitu santai.. karismatik dan berwibawa berbincang-bincang bersama Daddy dan rekan bisnisnya. Ia terlihat menikmati perannya sebagai kekasihku yang berhasil menggeser posisi Yuri Oppa dihatiku.

Pikiranku tertuju pada kekasihku itu.. apa yang sedang ia lakukan sekarang?

Sudah 1 minggu ini kami tak berkomunikasi mengingat kesibukan Oppa dengan bisnisnya dan rencananya menghentikan ancaman yang Nozo Grup berikan padanya.

“Shall we dance my princess?” waktu berlalu dengan cepat dan para tamu undangan bersiap memulai dansa mereka. Daddy mendatangiku dan dengan senyum tampannya yang tak pernah hilang itu ia mengajaku berdansa. Meskipun usia Daddy sudah tak muda lagi tapi pesona dan kemampuan berdansanya tidak pernah padam. Mommy dulu pernah bercerita padaku bagaimana ia pertama kali jatuh cinta dengan Daddy saat dansa pertamanya bersama Daddy. Aku rasa aku tahu hal itu karena karisma yang Daddy keluarkan dari dirinya secara alami memang bukan ocehan semata.

Lagu berganti dan pasangan dansa berganti, kali ini Leo yang menghampiriku. Kakaku yang satu ini mengajakku melakukan funny dance-nya, membuatku sedikit melupakan semua stress yang menghinggapi pikiranku. Daniel Oppa datang menghampiriku selanjutnya.. memintaku untuk menari dalam lagu ceria bersamanya. Tentu saja aku tidak bisa menolak undangan kakak iparku ini.. mengingat cerita Michelle yang begitu tergila-gila dengan kemampuan dansa Daniel Oppa.

Untuk beberapa menit aku menikmati kegilaan dalam hidupku bersama pria di hadapanku ini tak menyadari bahwa pasanganku malam ini menatapku sejak awal sesi dansa ini dimulai. Aku menyadarinya saat Michelle mendatangiku.. mengambil Daniel Oppa yang menunjukan wajah menyesalnya karena harus mengakhiri sesi dansanya denganku.

“Taeyeon tak bisa mengalihkan tatapannya darimu Sist.. aktingnya begitu memukau.. He’s look smoking hot..” kakakku berbisik sebelum kemudian berjalan menjauhiku bersama suaminya, kembali berdansa menghidupkan suasana pesta. Aku berjalan menuju meja minuman dan snack ringan tak mengetahui bahwa kekasih­-ku itu juga ternyata berada disana.

“Hai Princess.. kau terlihat lelah..” Taeyeon Oppa menghampiriku dengan dua gelas cocktail di tangannya.. mencoba menyingkir dari sekelompok gadis-gadis sosialita lainnya. Ia memberikanku cocktail yang segera kuteguk sementara tangannya yang lain mengambil sapu tangan di saku jasnya, mengelap sedikit keringat yang muncul karena dansaku tadi bersama Daddy dan yang lainnya. Samar-samar terdengar riuh ‘Awww..dia begitu manis dan gentleman’ dan ungkapan kekaguman lainnya dari gadis-gadis tadi saat melihat Taeyeon Oppa melakukan hal itu padaku.

“Kau menikmatinya?” Oppa berbisik padaku, mengambil buah Cherry yang baru setengah kugigit dari cocktailku, memakannya dan tersenyum begitu tampan.

“Aku ingin berdansa denganmu..” itu terdengar bukan seperti sebuah permintaan tapi sebuah perintah. Dengan sendirinya tubuhku mengikuti iringan tangannya membawaku menuju lantai dansa yang kini berganti lagu memainkan lagu yang begitu pelan dan romantic.

Ini bukan dansa pertamaku tapi aku merasa seperti gadis 17 tahun yang baru memulai dansa pertamanya. Pikiranku mendadak blank saat Taeyeon Oppa menatapku dengan mata hitamnya yang tajam dan lembut. Bagaimana seseorang bisa seperti itu?

Taeyeon Oppa meletakan kedua tanganku di bahunya sementara tangannya meraih pinggangku, membawa tubuh kami lebih dekat hingga aku kini bisa merasakan deruan nafasnya di leherku.

“Relaks Fany-ah..” kata itu ia bisikan membuatku mulai melangkahkan kakiku.. mengikuti arahannya. Tubuhku seakan berada dalam kontrolnya. Langkah kami berpadu beriringan membuat semua orang memperhatikannya. Aku terbawa ke dunia lain saat pria di hadapanku ini mendekapku erat, masih membimbing tubuhku berdansa dengannya tak memperhatikan bahwa kini hanya aku dan dia yang berdansa di lantai ini.

“Kau cantik sekali malam ini..” Taeyeon Oppa sedikit menjauhkan tubuh kami.. masih dengan senyum tampannya yang seksi dan menawan membuatku tak berani menatapnya lebih lama. Kutelusupkan kepala ini di bahunya, membuatnya tertawa kecil kembali melanjutkan dansa kami.

Beberapa menit kemudian lagu berganti ke tempo yang lebih cepat membuatku sedikit kewalahan karena kemampuan dansa kekasih-ku ini yang bagus. Ia menari begitu indah dengan tubuh atletisnya meskipun ia tak setinggi Yuri Oppa-ku.

“Kau lelah?” Taeyeon Oppa sepertinya menyadari hal itu tapi aku menggelengkan kepalaku.. masih melanjutkan dansa kami yang sedikit melelahkan. Ia hanya tertawa kecil sebelum lagu akhirnya kembali berubah menjadi lambat.. sangat lambat jika harus kubilang.

“Apa Yuri pernah melakukan hal ini denganmu?” aku sedikit berpikir sebelum akhirnya menganggukan kepalaku. Taeyeon Oppa kembali menarik tubuhku lebih dekat dengannya, lebih tepatnya hampir bersatu dengannya. Kali ini ia membisikan sesuatu padaku yang membuat mataku sedikit membesar mendengarnya.

“Pasti ia juga pernah melakukan hal ini kan?” awalnya aku bingung tapi semuanya terjawab saat ia mendekatkan wajahnya dan mulai menciumku ringan. Aku yang terkejut tak bisa mengedipkan kedua mataku menerimanya.

Apa Kim Taeyeon baru saja menciumku?

Tawanya kecilnya yang merdu itu kembali menyadarkanku yang akhirnya menatapnya heran.

Apa maksudmu?

Tatapan mataku mengungkapkan kalimat itu padanya. Ia hanya mengedipkan mata kanannya sebelum melakukan hal lainnya yang membuatku tak kalah terkejutnya.

“Tenanglah.. semua ini demi kebaikanmu” kata-kata itu terucap jelas sebelum ia menarik kepalaku sehingga wajah kami kembali mendekat, menciumku lebih dalam kali ini.

Entah apa yang berputar di kepalaku sehingga bibirku ini bisa bergerak sinkron dengan miliknya. Ia menggerakan kepalanya ke kiri dan kanan.. menciumku dengan ahlinya. Bibir bagian bawahku merasakan gigitan kecilnya, membuat mulutku sedikit terbuka sehingga lidahnya mulai menjajah milikku, membuat milikku dengan natural berebut dominasi di dalamnya.

“Ngghh.. Op.. paahh” desahan itu tak bisa kutahan saat dengan lihainya ia bermain di mulutku. Mengabsen satu- persatu bagian mulutku sedangkan tangannya mengelus pinggang dan punggungku pelan. Nafasku rasanya akan habis saat ia menghisap lidahku, membuat paru-paruku terbakar kehabisan oksigen atau karena rasa aneh lainnya yang mulai menghinggapi tubuhku. Menyadari hal itu.. ia melepaskan ciuman itu, membuat mataku mulai terbuka. Aku mencoba mengatur nafasku.. masih tak bisa melepaskan pandanganku dari matanya yang menatapku dengan tatapan misteriusnya. Kami masih tak melepaskan tatapan ini meskipun ia kini mulai mengelap bibirku karena lipstickku sedikit berantakan tadi dibuatnya.

“You did a great job My Lady..” Pria di hadapanku ini berbisik sebelum akhirnya mengecup kembali bibirku ringan.. membuatku tak bisa berbicara sama sekali olehnya.

============================================================

==================================

============

Hai…

z3j7

Enter a caption

Iklan

130 pemikiran pada “My Lady

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s