Earned It Chapter IV

PhotoGrid_1433217119274

 

“Selamat datang di tempat persembunyianku Nona Hwang..” Yoong membuka pintu penthousenya dengan cepat, begitu bersemangat menyambut sahabat masa kecilnya itu masuk ke tempat persembunyiannya.

 

“Tempat persembunyian?” Tiffany tertawa kecil melihat sekelilingnya. Bagaimana mungkin tempat semewah dan senyaman ini bisa menjadi tempat persembunyian?

“Ya.. ini adalah hideout-ku.. tempat yang selalu menyediakan kenyamanan tak terbatas jika aku sedang tak ingin diganggu oleh siapapun..” Tiffany mulai mengangguk.. mengerti maksud sahabatnya itu. Terkadang kita memang butuh tempat seperti ini untuk menenangkan pikiran dan hati kita yang sedang kacau.

Yoong membawa sahabatnya itu kini duduk di sofa favoritnya. Ia mempersilahkan Tiffany untuk duduk sambil menyiapkan snack dan minuman untuk menghangatkan suasana. Tiffany menganggukan kepalanya.. hanya duduk melihat-lihat pemandangan sekitar. Banyak foto-foto yang terpajang di dinding-dinding yang ditata seminimalis mungkin tapi tetap berkesan elegan.. eksklusif.. dan menawan. Tiffany berdiri dan mulai mendekati bingkai-bingkai foto itu. Satu persatu ia lihat dan senyum itu muncul dengan sendirinya. Dari foto-foto itu Tiffany bisa menangkap makna yang berusaha diceritakan oleh sang fotograper.

“Kau menikmatinya?” Suara itu menghentikan Tiffany yang masih terpesona dengan foto-foto itu. Ia balikan badannya.. tersenyum melihat mata kijang itu menatapnya penuh dengan rasa penasaran.

“Menikmatinya? Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih dari itu..” Tiffany tersenyum kecil menghampiri Yoong yang segera memberikannya secangkir jus strawberry kesukaannya. Sahabatnya itu masih saja mengingat hal kecil tentang dirinya dan jujur.. itu membuatnya merasa bahagia. Ia terima cangkir pink itu dengan senyum bulan sabitnya.. membuat pria bermata kijang itu tertawa kecil dibuatnya.

“Benarkah?” Tiffany bisa merasakan sahabatnya itu menatapnya tajam penuh dengan senyum dan godaan.

“Tentu. Ini begitu bagus hingga aku tak bisa mengedipkan mataku untuk sejenak.. siapa yang memotretnya?” Yoong hanya terdiam dengan senyuman yang berhenti menghiasi wajahnya. Ia minum kembali mug coklatnya itu.. masih menatap Tiffany dengan mata kijangnya yang polos dan memikat.

“Kau masih belum menjawabku..” Tiffany menyimpan gelas jusnya yang kini tinggal setengah lagi. Ia membalas tatapan Yoong dengan intensitas yang sama.. mencoba menandingi keunikan tatapan mata kijang itu.. membuat keduanya beradu pandang cukup lama tak memperdulikan waktu yang berputar di sekeliling mereka.

“Aku yang memotretnya..” kedua tangan itu Yoong bawa ke hadapannya.. ia kecup satu persatu dengan kelembutan yang sama. Tiffany hanya terdiam menatap sahabatnya itu dengan kebingungan yang jelas terlihat di wajahnya. Yoong hanya tersenyum kecil membalas tatapan Tiffany yang merupakan suatu kenikmatan tersendiri baginya.

“Mengapa kau tidak bilang dari tadi?” Genggaman itu masih belum Yoong lepaskan.. malah kedua tangan itu masih berada di bibirnya.

“Karena aku ingin kau menatapku seperti ini..” kedua tangan lembut itu Yoong tempelkan di pipinya.. merasakan kelembutan dan wangi luar biasa dari wanita yang selama ini begitu ia rindukan.

“Yoong..” Tiffany tak tahu apa yang bergejolak di hatinya saat ini. Tatapan dan gesture yang pria ini berikan padanya begitu berbeda dari sebelumnya.. seperti tersimpan maksud tertentu yang mulai ia mengerti.

“Fany-ah.. maukah kau menjadi objek fotoku untuk selanjutnya?” Tiffany terdiam melihat kembali foto-foto yang ia lihat tadi. Matanya berkeliling menelusuri foto-foto landscape dan panorama yang begitu indah dan artistic.. pengambilan sudut sempurna yang menambah nilai tersendiri dari konten foto itu. Tapi ada satu hal yang kini mengetuk akalnya.

‘Yoong tidak pernah memotret orang.. semuanya hanya pemandangan atau objek mati..’ kedua mata kijang itu kembali ia tatap. Akalnya ingin menolak tapi hati dan tubuhnya memberikan jawaban yang berbeda. Dengan sendirinya kepala itu ia anggukan membuat pria di hadapannya itu tersenyum manis dengan kedua lesung pipi bermain di wajahya.

========= Earned It =========

 

 

 

“Umma.. sekarang kita akan kemana?” Jessica berjalan di samping Irene yang masih menikmati bubble tea yang ada di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya sejak tadi begitu lengket menggenggam tangan ibunya itu.

“Heuhm.. Umma ikut denganmu saja maunya kemana..” Irene tersenyum menganggukan kepalanya.. sudah memiliki rencana selanjutnya untuk melancarkan rencananyanya hari ini.

“Appa.. kita naik kereta hantu saja ayoo..” Irene menarik kedua orangtuanya itu untuk berlari bersamanya tanpa menyadari tampang horror yang dimiliki oleh salah satu orang yang sedang ia genggam kini.

“Nah… ayo Appa dan Umma naik dulu.. aku ingin duduk dekat kursi keluar hehehe..” Jessica dan Taeyeon mengikuti permintaan gadis itu. Jessica mulai naik ke kereta isi tiga orang itu dengan langkah yang mantap berbeda dengan Taeyeon yang terlihat ragu.

“Ayo Appa.. nanti kita ketinggalan hiburannya..” Irene tertawa kecil melihat ayahnya yang terlihat aneh sekali saat ini. Apa mungkin ayahnya itu takut? Hahahaha kita liat nanti.

“Nah kalian sudah naik.. sekarang giliranku untuk menikmati hiburanku sendiri..” dengan itu Irene berlari keluar dari tempat masuk meninggalkan Jessica dan Taeyeon yang sudah duduk dengan pengaman di kursi mereka yang sudah mereka pasang. Kereta sudah mulai berjalan dan mau tidak mau Jessica dan Taeyeon harus menikmati hiburan menyeramkan ini hanya berdua.

“Kau takut? Tenanglah semua ini cuma bohongan kok.. mereka semua tidak menakutkan sama sekali..” Taeyeon tersenyum kecil meihat Jessica yang mencoba menenangkannya. Ia melihat tangan itu menggenggam miliknya halus dengan rasa yang berbeda dari yang Tiffany berikan padanya.

Tiffany.. ya wanita itu sudah 4 bulan ini jarang sekali ia lihat atau mengunjunginya. Sejak obrolan serius saat itu.. Tiffany menjadi sangat jauh dengannya. Jauh.. bukan dalam artian yang sebenarnya. Tiffany masih berbicara padanya. Ia masih sering bermain ke rumah untuk mengecek keadaannya dan Irene walau hanya sebentar lalu pergi lagi setelah menerima telpon dari seseorang yang begitu sering menghubunginya. Tapi hanya sebatas itu. Setiap kali Taeyeon mencoba membangun mood untuk pembicaraan serius tentang hubungan mereka.. Tiffany selalu tersenyum dan meminta Taeyeon untuk menghentikannya.. berkata bahwa Jessica dan Irene sudah lama menunggunya di rumah lalu ia pergi karena ada urusan lain yang harus ia urus.

Taeyeon tahu urusan itu apa. Sudah 1 bulan ini ia meminta tolong bantuan detektif swasta untuk menyelidiki apa yang Tiffany lakukan dengan urusannya. Hasilnya.. ia menemukan satu nama yang sepertinya sukses mencuri perhatian Tiffany darinya. Dari yang ia pelajari.. orang itu bukan orang biasa. Tidak terlalu banyak data yang didapatnya.. hanya saja.. sosok pria yang sekarang sedang dekat dengan Tiffany tiba-tiba menjadi misteri baginya saat ia menilik lagi profilnya yang unik dan membingungkan.. terkesan dirahasiakan keberadaannya.

Jujur semua hal tentang Tiffany dan pria itu sangat membuatnya frustasi. Tapi setiap kali ia melihat senyum dan tawa bahagia Irene.. semua seperti perlahan menghilang. Tawa dan senyum itu.. hanya Jessica yang bisa membuatnya hadir entah dengan kekuatan apa. Perlahan Taeyeon pun mencoba menerima kehadiran Jessica disisinya. Ia harus bertanggungjawab dengan keputusan yang telah ia buat untuk mencoba segala sesuatunya dengan Jessica.. sesuai dengan yang Irene inginkan meskipun di penghujung malam.. hati dan pikirannya akan beralih pada wanita pemilik senyum bulan sabit yang tak ia ketahui telah mencuri hatinya tanpa permisi dengan semua pengorbanan dan cinta tulusnya selama ini.

“Ah… itu mereka..” Irene berlari mendekat ke pintu keluar dari kereta hantu. Ia menghampiri Taeyeon dan Jessica yang baru saja keluar dari kereta itu. Kekhawatiran itu sekilas tergambar di wajahnya saat melihat kedua orangtuanya lebih dekat.

“Kau baik-baik saja? Mau kupapah saja atau bagaimana?” Jessica menggelengkan wajahnya pelan masih dengan wajah pucat pasinya yang seperti baru kehilangan nyawanya.

“Appa.. Umma kenapa?” Irena membantu ayahnya memapah Jessica menuju bangku terdekat. Ketiganya kini sudah duduk di bangku yang tersedia dekat pintu keluar kereta hantu tadi.

“Haruskah Appa menceritakannya?” Taeyeon tertawa kecil mengingat perjalanannya bersama Jessica di kereta hantu tadi. Siapa yang sangka gadis yang awalnya terlihat pemberani malah mengalami ketakutan besar saat ia melihat hantu-hantu bohongan yang mendekati dan menyapa mereka. Taeyeon yang awalnya ketakutan setegah mati malah tertawa dalam hatinya melihat Jessica yang berusaha berulang kali kabur dari kereta itu jika bukan Taeyeon yang menahannya.

Jessica Jung.. gadis itu begitu unik baginya. Terkadang ia terlihat begitu bossy.. confident.. independent dan memiliki karisma yang overflowing saat berpose atau catwalk di runaway. Tapi di kehidupan biasa.. gadis itu terbilang memiliki pemikiran yang sederhana dan menyenangkan. Baginya.. hidup bahagia saja sudah cukup. Kebahagian itu bisa dicari kapanpun dimanapun asal kita memiliki kemauan dan usaha yang cerdas dalam meraihnya. Satu waktu dia bisa begitu bijak tapi di waktu lainnya.. Jessica bisa begitu menghibur dengan humor dan kekonyolannya yang alami dan menyegarkan disamping penampilan dan gayanya yang cantik.. fun dan memukau.

========= Earned It =========

 

 

 

 

“Kau sedang memasak apa?” Tiffany tidak menjawab pertanyaan pria yang sudah berdiri di belakangnya sejak tadi. Ia tak tahu kalau Yoong sudah pulang karena sejak tadi ia masih mendengarkan music dari earphone-nya.

“Eii.. gadis ini ternyata sedang mendengarkan music..” Yoong memindahkan music itu dengan lagu yang menjadi favoritnya akhir-akhir ini.

“Eh.. kenapa lagunya pindah sendiri?” Tiffany akan berbalik.. berjalan menuju media player di apartementnya saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya.. menahannya untuk bergerak lebih jauh.

“Nyawa atau harta.. pretty lady?” Yoong memberatkan suaranya.. terdengar seperti paman-paman jahat yang sering menjadi penculik di drama yang ia tonton kemarin bersama gadis yang ia peluk sekarang.

“Jika aku memilih keduanya?” Tiffany tahu bahwa pria di belakangnya itu adalah Yoong yang selalu iseng menjahilinya dengan candaannya yang kadang terasa garing tapi menyenangkan dan menghibur.

“Maka kau akan mendapatkan ini..” Tiffany berteriak begitu keras mendapatkan gelitikan di pinggang dan perutnya. Ia berulang kali meronta.. mencoba melepaskan tubuhnya dari dekapan pria bermarga ganda itu yang mendekapnya erat.

“Yoong.. hahaha.. hentikan.. hahaha..” air mata itu keluar dari kedua mata Tiffany karena saking gelinya dia tertawa menerima serangan dari Yoong yang masih terus menggelitikinya. Semua itu terhenti saat tercium bau hangus dari pembakaran yang ada di samping mereka.

“Omo!! ikanku…” Tiffany segera membalikan ikan yang sekarang terlihat sedikit hitam di sisi kanannya.

“Kenapa? kalau gosong tidak usah dilanjutkan masaknya.. kita makan malam diluar saja..” dengan senyum polosnya Yoong berbicara membuat Tiffany mencubit kedua pipinya cukup lama dan cukup keras.

“Aw.. sakit.. aduh kulit halusku..” Yoong mengusap-usap kedua pipinya yang sekarang terlihat merah sekali. Tiffany yang sedikit kesal tak memperhatikan rintihannya.. kembali focus memasak hidangan utama makan malamnya hari ini.

“Kalau ingin makan diluar ya makan saja.. sendiri..” Tiffany berucap kembali mengoleskan saus madu pedas asin buatannya. Ikan bakar itu terlihat begitu lezat dengan aroma yang membangkitkan selera dan gairah untuk memakannya.

Yoong mematikan api di pembakaran itu. ia balikan direksi tubuh Tiffany agar berhadapan dengannya. Tiffany yang masih begitu cantik dan seksi dengan apron pink-nya itu masih menundukan wajahnya tak mau menatap wajah pria di hadapannya. Yoong naikan dagu Tiffany agar lurus menatap wajahnya.. bukan yang lain. Perlahan Tiffany mulai menatapnya.. melihat kedua mata kijangnya yang selalu memiliki sihir tersendiri bagi yang berani menatapnya. Keduanya hanya terdiam tak mengeluarkan kalimat apapun.. hanya mata mereka yang saling berkomunikasi.

“Bagaimana aku bisa makan tanpa ini?” Yoong membentuk senyum di wajah Tiffany dengan kedua tangannya. Meski terlihat sedikit dipaksakan.. senyum itu akhirnya mengembang juga di wajah Tiffany. Yoong menyelipkan rambut yang tadi sedikit menghalangi wajah Tiffany ke telinga gadis itu.

“Kau tahu.. senyuman itu tak bisa dibeli dengan apapun di dunia ini. Ini terlalu berharga untuk ditukar dengan apapun Nona Hwang..” Yoong mengecup pinggir bibir gadis di hadapannya yang tersenyum malu menerimanya.

“Yoong.. kau dan gombalanmu..” Tiffany menjauhkan tubuh Yoong dengan mendorong dada tegap dan gagah pria di hadapannya itu.

“Well.. jika hanya kau yang kugombali.. itu bukan sebuah kejahatan kan? Lagipula.. bagaimana bisa sebuah kejujuran hati dikatakan sebagai gombalan? Bukannya aku yang harusnya merasa dijahati?” Tiffany tertawa kecil melihat wajah drama pria di hadapannya itu. Ia cubit hidung mancung itu pelan lalu membuka kacamata pria yang terlihat begitu tampan tanpa kacamata yang selalu ia gunakan untuk kerja itu.

“Maafkan aku kalau begitu Tuan Lim..” Yoong terlihat pura-pura marah padanya tapi ia tahu satu hal yang bisa membuat pria itu tersenyum lebar seperti orang gila dibalik penampilan tampan.. karimatik dan berwibawanya.

Chu..

Chu..

Chu..

“Termaafkan?” Yoong menggelengkan kepalanya setelah menerima kecupan manis di kedua pipi dan hidungnya yang masih single sampai sekarang.

“Aigoo Tuan Lim.. kau manja sekali.. hmmm… oke.. baiklah..” senyum kembali tergambar di wajah Yoong saat bibirnya menerima kelembutan dan manisnya milik Tiffany yang menyapunya perlahan.. penuh dengan kasih sayang.

“Sudah kan.. jadi berhentilan merengut seperti itu.. kau terlihat tua..” Tiffany mengelus pipi Yoong yang terlihat kaget mendengarnya.

“Aku.. terlihat tua? Lalu kau??” Yoong tersenyum polos melihat Tiffany mendelik tajam padanya.

 

========= Earned It =========

“Hai nak.. akhirnya kau datang juga..” Jongsuk tersenyum menyesap teh Earl Grey-nya sementara sang putra segera duduk di hadapannya.

“Ya.. kau harus segera menerima berita baik dari putramu ini..” Julian terkekeh melihat sang ayah yang mengangguk-angguk masih meminum teh kesukaannya. Ia mengambil cangkir di meja dan mulai menuangkan pot minuman yang bisa menyenangkan hatinya dalam seketika.

“Okee.. apa berita baiknya?” Jongsuk menyimpan cangkir tehnya.. mulai focus mendengarkan berita dari putranya.

“KJG mau menerima deal kita..”

“Benarkah?? Hahaha bagus sekali kau memang hebat nak!” Jongsuk tertawa menepuk bahu Julian yang tersenyum kecil mengingat sesuatu yang masih menjadi ganjalan di hatinya.

“Aku harus segera menikahi Jessica Jung..” Julian terdiam.. membuang nafasnya setelah mengucapkan itu. Jongsuk mengerti maksud putranya itu. Ia tahu bagaimana pentingnya hal ini bagi Julian tapi ia tahu… ada sesuatu juga yang mengganjal benak putranya

“Lalu.. apa rencanamu kedepan? Kau tidak mungkin meninggalkannya kan?” Jongsuk yakin putranya itu pasti mengerti apa yang ia tanyakan. Untuk beberapa saat hanya keheningan membuntu yang menyelimuti ruangan mereka. Keduanya terlihat sedang memikirkan masalah yang terlihat mudah tapi sebenarnya cukup sulit dilakukan.

“Aku sudah mengubah rencanaku Ayah.. semuanya harus kupercepat. Lagipula dia sudah menjadi calon istri Kim Taeyeon bagi mata public..” Jongsuk mengangguk-angguk mendengarnya.

“Untuk sementara.. aku masih akan menyembunyikan identitasku.. jangan sampai wanitaku tahu bahwa aku adalah putramu.. Kwon Julian..” teh itu kembali Julian teguk dengan tenangnya tak sebanding dengan masalah yang sedang ia hadapi sekarang.

“Good plan.. Ayah akan selalu mendukungmu. Lalu Jessica.. bagaimana dengan gadis itu?”

“Ayah mulai atur pertemuan kita dengan Jessica dan ayahnya. Kita akan membicarakan tentang pernikahan ini. Aku akan bertemu dengan Jessica dulu sebelumnya. Kami akan melakukan perkenalan lebih dulu..” Julian tersenyum membayangkan reaksi calon istrinya yang ia yakin.. akan memberikan hiburan baginya.

========= Earned It =========

 

 

 

“Fany-ah.. apa kau sudah makan siang?” Taeyeon berjalan menghampiri wanita yang masih serius mengetik sesuatu di laptopnya. Tiffany terlihat masih serius mengedit sesuatu dengan earphone di telinganya.. kebiasaannya dari dulu yang membuat Taeyeon tersenyum mengingat lagi masa sekolah mereka.

“Jangan terlalu keras.. telingamu bisa rusak..” Tiffany menghentikan kegiatannya saat sumber musiknya itu tercabut dari telinganya. Ia lirik penyebabnya dan terdiam kembali melanjutkan pekerjaannya.

“Jangan marah.. kau akan terlihat semakin tua jika seperti itu..” Taeyeon tersenyum meliihat Tiffany mendelik padanya.

“Aigoo.. akhirnya aku mendapatkan perhatianmu..” Taeyeon tertawa kecil mendekatkan wajahnya dengan Tiffany yang hanya diam tak memberikan reaksi apapun.

“Kau sudah mendapatkannnya dari dulu Tuan Kim..” tubuh dan wajah yang sudah mendekat itu mulai Tiffany jauhkan. Ia tak mau membangun sesuatu yang akan disesali oleh keduanya nanti. Taeyeon sudah mempunyai Jessica begitupun dirinya yang masih dalam tahap awal dengan Yoong.. sahabat masa kecilnya yang mencoba menata kembali hatinya yang telah hancur karena kebodohan Taeyeon selama ini. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri takkan mengulangi kesalahannya itu.

“Kalau begitu.. makan sianglah denganku hari ini.. saat ini juga..” Taeyeon sudah tak memperdulikan apakah ia akan ditolak lagi kesekian kalinya oleh Tiffany. Biasanya Tiffany selalu menghindar dengan berjuta alasan yang selalu hadir.

“Aku tidak bisa.. aku sudah ada janji dengan..” Tiffany segera mengambil Iphone-nya yang berdering.. menandakan ada panggilan masuk dari Yoong.

“Mi.. kau sudah makan siang?” senyum itu perlahan terlukis di wajahnya Tiffany sementara Taeyeon terdiam… tahu bahwa orang itu pasti yang menelpon Tiffany.

“Belum.. aku masih banyak pekerjaan. Lagipula.. bukankah kau akan membawaku ke restoran favoritmu di Seoul?” Tiffany berusaha tak merperdulikan Taeyeon yang menatapnya penasaran.

“Kalau begitu segeralah makan siang.. kau tidak boleh menunda-nundanya. Nanti lambungmu perih. Aku akan mengirim lunch box kesukaannmu ya..”

“Lunch box? Apa aku akan makan sendiri?” Yoong terdiam sebentar lalu berbicara kembali menjawab Tiffany.

“Unfortunately yes.. ini sangat mendadak dan urgent. Aku harus meeting dengan investor-investor baru.. kau tidak apa-apa kan?” Taeyeon tersenyum mendengar hal itu karena sejak tadi Tiffany sengaja mengaktifkan loudspeakernya.

“Oke.. gwenchana..” Tiffany menutup keuda matanya.. merutuk dirinya sendiri kenapa ia malah sengaja meyalakan speaker Iphone-nya jika akhirnya akan seperti ini.

“Baiklah.. jangan lupa makan siangmu ya… aku mencintaimu..” Setelah membalas ungkapan itu.. Tiffany segera menutup telponnya.. segera menyiapkan jawaban untuk pria yang tersenyum begitu lebar padanya saat ini.

“Oke.. baiklah.. kita akan makan siang dimana? Jessica dan Irene bagaimana? Apa kau sudah mengabari mereka?” Taeyeon segera mengiyakan semua pertanyaan wanita di hadapannya yang terlihat malas makan siang dengannya. Tapi sekali lagi.. ia tak perduli.. yang penting ia bisa mengungkapkan semua yang tertahan di hatinya selama ini.

 

========= Earned It =========

“Heii.. kau akan membawaku kemana?” Jessica masih mengatur langkahnya yang tak berirama dengan sang manajer yang berjalan terlalu cepat baginya.

“Anda juga akan tahu nanti Nona Jung..” Setelah beberapa menit berjalan.. akhirnya kini mereka memasuki sebuah restoran yang cukup mewah dan privat. Jessica tahu karena Siwon pernah mengajaknya sekali ke restoran ini untuk bertemu dengan para investor Koreana Group. Orang sekelas Eksekutiflah yang paling sering memakai restoran ini untuk meeting atau jamuan penting mereka. Jessica ingin tahu kenapa ia ada disini sekarang.

“Tunggu!!.. kenapa aku disini?” Yoona kini berhenti setelah mereka berada di lobi restoran. Ia menatap Jessica dengan wajah tenangnya.

“Tuan Choi yang menyuruh kita untuk disini. Dia ingin kau bertemu dengan seseorang..” Yoona kembali menggenggam tangan Jessica yang masih terdiam setelah mendengar hal itu.

“Tidak.. Oppa pasti akan memberitahuku terlebih dulu..” Jessica masih diam di tempat membuat orang-orang mulai melihatnya. Mereka tahu bahwa ia adalah calon istri Kim Taeyeon dan ia melupakan hal itu.

“Baiklah.. telpon tuan Choi saja kalau tidak percaya..” Yoona melepas genggamannnya.. membiarkan Jessica segera mengambil Iphone-nya, menghubungi sang Oppa yang tidak mungkin tidak memberitahu apapun padanya tentang hal ini.

“Hallo Oppa.. kenapa kau tidak memberitahuku tentang hal ini..”

“Heii.. tenang dulu Nona Jung.. ada apa ini?” Siwon tertawa kecil mendengar Jessica yang terdengar kesal berbicara padanya. HellSica jelas bukan orang yang menyenangkan diajak berbicara saat ia sedang aktif.

“Apa benar kau menyuruh Yoona membawaku ke restoran XXXXX?” Jessica berusaha mengatur emosinya. Ia bukan tipikel orang yang bisa menahan amarahnya pada sesuatu atau seseorang. Dan semua tindakan Yoona hari ini sudah cukup mengesalkan baginya. Rasanya ia ingin sekali menampar dan meninju wajah tampan itu dari tadi pagi.

“Oh.. hahaha.. kau akan mengetahuinya nanti.. ikuti saja apa yang diucapkan Yoona oke? Kau pasti akan menyukainya.. aku sengaja menyiapkannya untukmu..”

“Apa maksudmu Oppa??”

“Well.. pokoknya kau akan menyukainya. Sica.. aku harus segera menutup telpon ini.. rapat akan segera dimulai lagi… oke bye.. goodluck dongsaeng!” terdengar tawa kecil Oppanya itu sebelum sambungan telepon mereka terputus.

“Menyukainya heuh? Mengapa aku mendapat perasaan yang sebaliknya?” Jessica berucap pada dirinya sendiri masih dengan suara kerasnya sehingga Yoona bisa mendengar hal itu… menahan tawanya mendengar apa yang Jessica ucapkan tadi.

“Baiklah.. antarkan aku…” Jessica sepertinya mulai menyerah.. ia memutuskan untuk mengikuti permainan Oppanya itu. Mereka berjalan memasuki ruangan megah.. lengkap dengan beberapa hidangan khas asia.. eropa dan perpaduan dari keduanya yang sudah tertata rapi di meja. Ia pernah melihat hidangan seperti ini dihidangkan saat kunjungan kerajaan-kerajaan.. well itulah yang TV jelaskan padanya.

“Wah.. daebak.. ini sungguh wow..” Kaki Jessica melangkah dengan sendirinya menghampiri meja penuh dengan makanan yang membuat lidah menetes keluar dengan hanya melihatnya.

“Pantas saja pebisnis-pebisnis itu menjamu rekan mereka di sini.. ini sungguh luar biasa..” Jessica berbicara pada dirinya sendiri.. sedikit melupakan Yoona yang masih berdiri di sampingnya.

“Tugas saya sudah selesai… saya pamit Nona Jung..” Suara itu membangunkan Jessica dari dunianya sendiri. Ia melihat Yoona mulai berjalan meninggalkan dirinya sendiri di ruangan megah ini.

“Tunggu!! Mengapa kau pergi? Kau kan harusnya menungguku hingga acara ini selesai dan mengantarkanku pulang..” Jessica berbicara sedikit berteriak membuat Yoona menghentikan langkahnya.

“Nona Jung.. Tuan Choi menyuruhku untuk segera menemuinya setelah mengantarmu kesini. Untuk masalah itu.. Tuan Choi bilang akan ada yang mengantarmu nanti..” Yoona tersenyum kecil.. menepuk bahu Jessica lalu berjalan menuju pintu keluar.. sementara Jessica.. gadis itu hanya terdiam tak percaya dengan apa yang managernya itu lakukan padanya.

“Heol!!.. apa dia benar-benar managerku??” Jessica masih memandangi pintu tempat Yoona keluar tadi. 5 menit.. 10 menit.. 15 menit.. 20 menit.. 40 menit telah berlalu tapi seseorang yang akan bertemu dengannya belum datang juga.

“Oppa.. apa kau tidak mengerjaiku? Mana orang yang kau bilang akan menemuiku??” Jessica sudah tak bisa menahan lagi kekesalannya. Baru kali ini dalam hidupnya ia menunggu orang selama ini. Ia bukan tipe wanita yang menunggu.. tapi lebih tepatnya ditunggu. Bagaimana ini bisa terjadi pada seorang Jessica Jung?

“Tenang Nona Jung.. sebentar lagi orang itu akan datang.. bersabarlah.. dan.. good luck..” Tiba-tiba sambungan telponnya terputus. Jessica akan mengumpat Oppanya itu saat ia melihat ponselnya mati karena baterainya sudah lemah. Sungguh hari yang menyenangkan bagi Jessica Jung.

“What The..” ucapan Jessica terhenti saat ia melihat pintu itu terbuka.. seorang pria dengan setelan grey suits-nya berjalan mendekatinya. Rambut Slick Back coklat keemasannya yang bersinar dan tertata rapi.. kacamata stylish, sepatu kulit coklat dan jam tangan yang senada dengan warna rambutnya bertengger begitu pas di posisinya masing-masing… menambah daya tarik dari pria itu.

“Selamat siang Nona Jung.. maaf saya terlambat..” suara rendahnya yang sedikit serak menambah keseksian yang dimiliki pria itu. Pria itu kini berada tepat di hadapan Jessica yang entah mengapa mendadak diam tak bisa mengatakan hal apapun. Jika dulu ia bilang bahwa Yoona begitu tampan seperti pangeran.. maka ia harus menghapus hal itu dari ingatannya karena pria yang kini berdiri di depannya adalah definisi ketampanan yang sebenarnya. Panggil ia labil.. tapi ia takkan perduli karena ketampanan pria di hadapannya ini bisa melupakan segala kekesalan yang ada di dirinya saat ini.

“Kwon Julian.. senang bisa bertemu dengan model dan artis yang biasanya hanya bisa kulihat di media..” Pria itu mulai mengenalkan dirinya.. mengambil tangan kanan Jessica dan mulai mengecupnya singkat tapi penuh kelembutan. Rona pink kini terlihat bermain di pipi Jessica yang tak merasa salah tingkah karena pria bernama Julian tadi.

“Jessica Jung.. nice to meet you too..” tiba-tiba menggunakan bahasa Inggris adalah kebiasaan lain Jessica saat ia merasa malu atau terlalu senang.

“The pleasure is mine Miss Jung..” Julian membalas dengan aksen inggrisnya yang kental.. menghilangkan aksen koreanya. Jessica terkejut mendengarnya sementara Julian hanya memberikan senyuman manisnya pada gadis itu.

“Bahasa Inggrismu.. bagus sekali..” Seperti terhipnotis.. Jessica mulai mengikuti genggaman tangan Julian yang membawanya untuk duduk di kursi meja makan yang sejak tadi ia duduki dengan emosi yang berbeda dari yang tadi.

“Aku tinggal di London sejak sekolah menengah.. jadi beginilah sekarang..” Mata hijau emerald itu begitu indah hingga Jessica tak ingin mengalihkan pandangannya untuk sejenak saja dari pria yang duduk berhadapan dengannya.

“Oh.. pantas saja..” Jessica benar-benar merasa kembali menjadi gadis 16 tahun yang sedang berkencan dengan pemudanya. Ia tak berani menatap Julian secara langsung.

‘Hahaha.. kucing cantik ini sepertinya mulai jatuh dalam pesonaku.. Tak kusangka akan semudah ini..’ Julian tertawa riang dalam hatinya melihat Jessica yang menurutnya agak pemberontak.. kini tak berkutik di hadapannya.

“Baiklah.. lebih baik kita makan hidangan-hidangan ini sekarang.. aku yakin kau pasti sudah lapar karena menungguku terlalu lama..”

“Ah.. tidak.. aku juga baru tiba disini tadi kok..” Julian hanya mengangguk.. mulai mengambil makanan-makanan itu ke piringnya.. begitupun Jessica. Mereka menyantap hidangan itu diselingi dengan obrolan-obrolan kecil yang membangun suasana hingga tak terasa 20 menit telah berlalu. Keduanya kini tengah menikmati wine yang sengaja Julian siapkan.

“Maaf baru bertanya sekarang..tapi mengapa kau tiba-tiba ingin menemuiku? Aku yakin ini bukan hanya karena kau adalah fansku kan?” Jessica tertawa kecil menanyakan hal itu pada Julian yang tadi mengaku sebagai fansnya Jessica.

“Well.. maukah kau menyimpan rasa penasaran itu untukku? Aku akan memberikan jawabannya nanti.. dalam waktu yang tepat.. secepatnya..” Julian tersenyum mengedipkan mata kanannya pada Jessica yang lagi-lagi terdiam malu menerimanya.

‘Got you.. permainan ini semakin menarik..’ tawa Julian dalam hatinya melihat Jessica bersikap seperti itu.

========= Earned It =========

“Bagaimana kabarmu?” Taeyeon bertanya pada Tiffany yang masih menatap pemandangan luar dari balkon ruangan mereka menyantap makan siang tadi. Keduanya kini sedang menikmati anggur putih yang begitu nikmat bagi keduanya.. kebiasaan mereka dulu.. sebelum semua hal ini terjadi.

“Aku baik-baik saja..” Tiffany masih tak menatapnya.. menyesap anggur putihnya itu dengan perlahan.. menikmati aromanya dengan khidmat.

“Bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu?” Taeyeon sengaja menanyakan hal itu.. ia ingin tahu apakah benar pria misterius itu memiliki hubungan tertentu dengan Tiffany. Wanita itu sedikit terdiam lalu mengulaskan senyum yang selama ini begitu ia rindukan.

“Kami baik-baik saja.. semuanya masih dalam tahap awal tapi aku yakin.. kami bisa melangkah jauh kedepan..” Taeyeon kembali meminum anggur di gelasnya agak cepat.. kembali menambahkan minuman memabukan itu ke gelasnya.

‘Sial.. ternyata mereka benar-benar berpacaran..” rutuk Taeyeon dalam hatinya.

“Dia.. siapa?” Tiba-tiba pertanyaan itu muncul. Tiffany menatap sahabatnya itu heran.

“Dia adalah sahabat masa kecilku.. sudah lama kami tidak bertemu dan saat kami bertemu lagi beberapa bulan yang lalu.. dan dengan sedikit pendekatan.. disinilah kami sekarang..” Awalnya Tiffany tak mau menjawab pertanyaan tadi tapi bibirnya memberontak akal dan inginnya.

“Benarkah? Well.. kau tidak boleh begitu saja mempercayai seorang pria yang baru kau temui meskipun dia dulu adalah sahabatmu. Siapa tahu dia adalah penjahat.. atau dia hanya ingin memanfaatkanmu saja..” Taeyeon mengucapkannya dengan ringan.. tak menyadari picingan mata Tiffany yang menatapnya heran.

“Apa maksudmu?”

“Apa kau pernah bertanya tentang keluarganya? Mengapa tiba-tiba dia pergi meninggalkanmu sewaktu kalian kecil? Apa kau pernah bertanya apa pekerjaannya yang sekarang? Apa kau..”

“Terimakasih atas perhatianmu Tuan Kim.. tapi aku tahu mana yang terbaik untuk diriku sendiri..” Tiffany menyimpan gelas anggurnya.. beranjak mengambil tasnya… bersiap meninggalkan Taeyeon yang masih terdiam di tempatnya.

“Fany-ah.. aku mencintaimu..” Tiffany masih menyiapkan dirinya untuk pergi.. mencoba menghubungi supir kekasihnya untuk segera menjemputnya. Ia tak mau lama-lama lagi berada disini. Ia tahu arah pembicaraan ini.

“Tiffany Hwang.. dengarkan aku!” Taeyeon menggenggam kedua tangan wanita di hadapannya itu dengan amarah yang terpancar di wajahnya. Ia menatap wajah Tiffany yang tak mau melihat ke arahnya. Ia lepas salah satu genggamannya, menyentuh wajah Tiffany agar melihat ke wajahnya dan sukses.

“Aku mencintaimu.. sangat mencintamu. Kumohon.. berikan aku kesempatan..” matanya menatap Tiffany.. memohon sahabatnya itu agar percaya padanya.

“Tae.. kau sudah mempunyai Jessica.. dan ingatlah Irene.. dia..” Ciuman itu memotong ucapan Tiffany. Awalnya Tiffany menolak tapi Taeyeon mendekapnya begitu erat hingga ia tak bisa terlepas. Perlahan pertahanannya melemah. Secara tidak sadar.. ia mulai membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.. meluapkan semua rasa yang selama ini ia coba hapuskan. Ciuman itu semakin memanas saat Taeyeon membawa Tiffany menuju Sofa yang ada di ruangan itu. Perlahan ia baringkan wanita yang begitu ia rindukan itu dengan penuh cinta dan memulai kembali sesuatu yang selama ini menjadi candu bagi keduanya.

========= Earned It =========

“Stop.. aku tidak bisa..” Tiffany mendorong tubuh Taeyeon yang sudah berada di atasnya.. topless. Ia segera memakai lagi atasannya.. merapikan sedikit make up dan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan karena make out session tadi. Taeyeon berdiri juga segera memakai kemejanya.. menghampiri Tiffany yang sudah bersiap meninggalkannya.

“Tunggu dulu.. kenapa jadi seperti ini.. bukankah kita..” Tiffany tak menjawab pertanyaan itu.. ia malah segera berjalan keluar dari ruangan dan meninggalkan Taeyeon yang masih terheran-heran dengan aksi wanita yang dicintainya itu. Tanpa tunggu lama.. ia segera membereskan dandanannya dan berlari mengejar Tiffany yang sudah jauh meninggalkannya.

“Fany-ah.. Tunggu..” dengan sedikit usaha.. Taeyeon berhasil menghentikan Tiffany yang akan sudah berada di luar restoran yang terlihat begitu elit dan mewah.

“Kau ingin tahu jawabannya? Maafkan aku.. aku tidak bisa. Aku sudah memiliki Yoona dan kau.. Jessica dan Irene menunggumu di rumah.” Kesedihan itu tergambar jelas di wajah Tiffany.. Taeyeon hanya diam memandangi wajah wanita di hadapannya itu.

“Kau benar.. tapi.. hatiku.. hatiku menginginkan apa yang ia inginkan.. dan itu adalah kau..” Taeyeon menatap Tiffany lembut.. memegang salah satu tangan wanitanya itu.. mengecupnya pelan.

“Apa kau ingin tahu apa yang hatiku inginkan?” Tiffany melepas genggaman itu.. membalas tatapan Taeyeon dengan senyuman kecilnya.

“Hatiku.. menginginkanmu.. tapi nuraniku..” Tiffany mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Taeyeon yang penasaran menunggu jawabannya.

“Sudah menetapkan hatiku untuk seseorang.. dan itu.. bukan kau..” Tiffany mengecup pipi kanan Taeyeon dengan menutup matanya.. menahan tangis yang sudah memberontak.. segera mundur.. berbalik.. dan berjalan meninggalkan Taeyeon yang terdiam menerimanya.

“Mereka..” Jessica terdiam melihat scene tadi. Ia dan Julian baru saja akan menaiki mobil milik Julian yang terparkir tak jauh dari restoran. Sementara itu.. pria di sampingnya memiliki pikiran lain yang bermain di benaknya.

‘Heumh.. tak kusangka akan seperti ini.. dia..dia pasti adalah pria itu.. aku harus segera mencari tahu..’ Julian  mulai berjalan mendekati Jessica.. membawa gadis itu menaiki mobilnya dan membawa Jessica meninggalkan restoran itu.

===========================================

==================

Galau??

Don’t be.. harapan itu masih ada ko..

untuk yang sudah email ttg PW Above the paper.. sabar ya.. emailnya lagi error.. so.. mohon menunggu dan bersabar ^_^

Selamat berpuasa -_^

Iklan

103 pemikiran pada “Earned It Chapter IV

  1. Whatttt? ckckck apa apaan ini.. Sica sebenernya suka nggak sih sama tae? dan gw juga ga abis pikir ama taeny, fany dulu ngejar2 sekarang dilepasin.. tapi yaaa yaweslah.. ngikut aja alurnya mau fany ama yoong ato tae, sica ama julian ato yoong n tae terserah padamu lah kak U.u

  2. Huaaa gue baca ini kok seru thor. Tapi lgsg chap 4 gak nyambung.
    Gue izin baca dulu yg chap sebelumnyaa penasaran thorr

    Itu taeng udh sama sica? Irene itu anaknya?
    Aaahhh kasian nih taeny saling mencintai tapi gak bisa bersatu. Hmmm tapi fany dan yoong udh cukup manissss

  3. Weww tetep y taeng masih labil n ga konsisten..
    Hmm yoong,yoona n julian itu adalah 1 orang.right?? Fany,sahabat kecilnya n wanitanya kan n mungkin yg ia kenal juga dg LIM YOONA pdhl sebenarnya KWON JULIAN ato mungkin KWON YOONG?? Sica, yg ingin dy nikahin karna suatu alasan,bener kan????
    Ohh goshhh bermain teka teki dg otak sendiri baca ff ni bikin pusing,menerka nerka sebenarnya yoong mw ngelakuin pa n pa yg dy pikirin dg jessica n taeng.kenapa juga dy harus ngerahasain jati dirinya dr fany n utk pairing dsni masih belum jelas tapi gw suka c dg ceritanya krn u thor bikin ff nya bagus bgt.bikin readersnya penasaran abis 👍👏 jd gw tunggu bgt buat kelanjutannya 😉😘

  4. Bingung seriusan deh kwon julian, yoong, yoona ah Elah itu 1 orang apa engga sih? Apa mereka kembaran gitu ahahaha. Taeny rumit nget deh. Pusing pala gue masa hahahaha

  5. Yoonfany yoonsic oh my 😃😃
    yoong suka ama fany trs knp dy ttep mw menikahi sica 😐😐
    Yoong mw km tuh apa sihhh dan sbnr nya km tuh siapa ?? Mksd dan tujuan km tuh yoong apa ??
    Belum nemu titik jelas nya 😑😅😅😅
    tak tggu ja kelanjutannya 😃😃
    heeeeeee

  6. bntar deh kok rumit gini ya, tuh si yoong ato julian orang yg sama kn?trus kl yoong suka sm sica kok sikapnya bgitu ke fanny, nih gmn mksdnya?
    julian pnya mksd apaan ya?
    taeny rumit bngt, kasian taeng sbnernya cintanya msh bwt fanny
    ntuh sica udh kena pesonanya si kwon julian kyknya

  7. duh gw pusing..
    c yoong kn manager jessica ya.. julian kan yoong jg.. tp kok pas ktemu julian c neng jessi kagak heran atau kaget gtu..?? aq bingung..
    trus c yoong suka fany tp napa mw nikahin jessica y?? .. klw dipikir2 kasian jessica gt ya mw dinikahin tp bkn atas dasar cinta tp ad tujuan msing2 dr yoong atw tae..
    wuahhh
    keren thor.. lu sukses bwt gw bingung yg soal identitas yoong tu.. haha..
    dtgguin deh lnjutanny..
    thx

  8. Complicated. Padahal mah hatinya taeny menginginkan satu sama lain tapi karna keadaan aja yg bikin semua nya jadi salah paham gini. Jadi makin ribet semuanya. Sica ngedeketin tae juga cuma karna suruhannya si choi pea itu-_-

    Tenang tenang masih ada harapan buat taeny bersatu. Semoga taeny bersatu aamiin…
    Yoong sama sica ajalah. Ato sica sama kwon julian. Taeng buat fany aja wkwkwk

  9. Aduuhh thor gue jadi bingung ya :/ ini Ff gabisa gue tebak inimah -_- emang ini author bisa bikin galau para readers inimah !! Masalah pairing gue masih blm bsa nebak!!

  10. Ahh galau nih fany goyah lg kasian yoong kan yg baru PDKT , julian ada maksud apa ma jessi ?
    Ga terlalu faham yoona ma julian orang yg sama gtu?
    Ah lanjut ah ..
    Dtunggu blsan email thor ..

  11. Bingung banget chap ini, bingung ceritax, bingung pairingx,bingung sma si julian,yoona,yoong dan bingung mau comment apa.. ??

    lnjut aja deh 🙂
    semangat..

  12. Bingung banget chap ini, bingung pairingx,bingung sma si julian,yoona,yoong dan bingung mau comment apa.. ??

    lnjut aja deh 🙂
    semangat..

  13. ini yoong yoona julian satu org apa gimana sih klo emg julian itu yoong tp knp sica ga kaget mlah terpesona apa kwon julian itu yuri???

  14. lho kok ak kasian ya saya yoong, emang sih fany mulai buka hati nya tapi lpas baca fany bales kiss tae haduh kokoro ku retak. tapi disatu sisi ak maunya taeny hahaha
    next bikjn yang manis2 donk antara taeny/yokng fany thor ocehoceh

  15. Haduuuh yooong sebenernya sukanya sams siapa siich??? Fany didekati,sekarang kok sica.
    Tae berusalah untuk dpetin fany lagi…..

  16. julian ma yoong itu org yg beda kan???jgn bilang klo yoong nyamar jd yul ato sbalikna??kyk na gtu deh thor..
    pokok na ttp taeny ya thor trserah sica ma syp??hha
    sica sbnr na suka ga ma tae??
    taeng maka na u jgn plin plan napa klo mw fany putusin tuh sica na ud jgn pikirin irene utamain fany..

  17. sica plin plan euy,,,
    udhlah taeng,,,berenti godain ppany,,tuh ppany dah ngomong naluri nya bwt yoong,,,
    salahmu yg slama ini mengabaikan ppany,,,tuh sakit kan?!

    oia thor gw nunggu balesan email pw nya yah,,

  18. ko berbelit y ff ini,.sedikit mikir jg c td baca ny..mungkin udh lama ga updet ff ini kali y jd lupa lg alur crta ny..
    fany klo mao nolak tu y d awal gto lho,ini mh udh stngah jln mao masuk inti ny eh d stop gto ajj bikin frustasi nama ny suka sakit kepala tao

  19. yaaa ampuun thor bnrn bingung deech ma pairing ni ff,trs yoong,yoona and julian it satu orng yg sama kh???
    hadeeww bnrn teka teki,pusing palee berbieee 😦

  20. jadi bener ya kalo julian itu anaknya tuan kwon dan dia menginginkah jessica sebagai istrinya,,, sepertinya fany udah berusaha menata hati sama kehidupannya dengan menerima yoong,,, sebenernya kerjaan yoong itu apa siy? fotografer ato manajernya sica?wkwkwk suka sama karakter yoong yang tengil kayak gitu hoho

  21. Menguras emosi nih ff, sebenarnya apa tujuan yoona, dan siapa kwon julian? Dia merencanakan apa? ini benar2 membuatku gila dengan teka teki yoong dan kwon julian, mereka begitu misterius

  22. mulai dech galau” ria….pilhn fanyah antara yoontaeng , so sica antara taeng & julian…
    aischhh ribet,!!!
    tp tunggu kirain julian tuh bnrn suka klo dijodohkn sma sica ternyata ada udang dibalik batu…apa thor kira”?
    aisch gemes gwe…

  23. bingung sama hubungan mereka..
    yoong itu im yoona trus julian tuh yul???
    aishh bingung aq..
    aq gk tau pwx above the paper chap 5 yg di protek..hiks..gak tau make email..

  24. Sejujurnya gua baca chapter ini sambil mikir, sebenarnya yg dibilang taeng bener juga, kenapa dulu yoong pergi ninggalin fany? Masih banyak hal yang gua pikirin tentang yoong terutama siapa couplenya dia? gua juga bingung sama taeng, di satu sisi dia cinta sama fany tapi di sisi lain irene sukanya sama sica dan yg bikin gua tambah bingung kayaknya sica cepet banget terpesona sama cowok-cowok. Pertama yoong, kedua taeng dan skrg julian. Tapi mungkin kalau ada 3 cowok yg gua temuin kayak mereka mungkin gua jga akan terpesona kayak sica kali yah

    • aku juga jadi mikir ttg jalan cerita ff ini loh sejak baca komen km yg ini. Ko bisa ya aku nulis kaya gtu. Trus kedepannya bakal kaya gimana? Pendapat km masuk akal. Terlalu absurd sebenernya untuk sica begitu mudah terpesona dgn 3 cowo sekaligus tapi di kehidupan nyata ada ko yg kaya gtu (pengalaman).
      Coba km bahas disini apa aja yg pikirin ttg Yoong disini.

      • Sebenarnya gua juga pernah kayak sica kok gampang terpesona sama cowok apalagi cowoknya kayak oppa-oppa di korea wkwk
        Tentang yoong yah? Emmh untuk saat ini yoong itu masih misterius menurut gua, awalnya gua pikir dia suka sama sica karena di chapter pas dia ketemu sica, yoong kayak nunjukin ketertarikkannya sama sica tapi setelah dia ketemu sama fany gua jadi mikir kalau yoong juga suka sama fany. Tapi gua tetep masih mikirin tentang yoong, seperti yg gua bilang kepribadian yoong masih misterius disini. Tapi pas gua baca chapter V gua jadi tahu kalau yoong ternyata adiknya julian. Setidaknya satu persatu pertanyaan gua ttg yoong udah kejawab

  25. Ping balik: Lagi baik :) | Be Different

  26. Yoonfany sweet sekali😊😊
    Yoong sama julian itu orang berbeda kan?
    Sica sebenernya kamu suka sama siapa sih.
    Penasaran, oke lanjut baca chap berikut nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s