Love Itself Chapter 16

this 

-Nagasaki, Japan, 10 Januri 2014-

“Dokter.., pasien sekarang sudah dipindahkan ke ruang ICU, seperti yang Anda perintahkan. Saya juga telah menghubungi dokter Choi untuk bertemu dengan Anda besok pagi.”

“Terima kasih Rihoko…kau boleh pergi sekarang… jangan lupa untuk selalu memantau keadaannya. Berikan laporan padaku setiap 1 jam sekali ok?” Dengan itu Rihoko pergi bergegas meninggalkan ruangan salah satu dokter terbaik di Nagasaki General Hospital, Prof. Dr. Junichi Tayama.

Junichi memandang keluar, menerawang langit yang cukup mendung, mengingat kembali peristiwa yang terjadi tadi pagi.

 

Flashback

“Mengapa jalanan macet seperti ini? Tidak biasanya..” Dokter berusia 40 tahun itu mengeluh menghadapi kemacetan yang membuat mobilnya diam di tempat selama 15 menit. Karena penasaran, ia pun keluar dari kendaraannya, berjalan menuju sumber kemacetan tersebut. Saat mendekati lokasi sumber kemacetan itu, ia terkejut melihat sebuah mobil yang terlihat cukup hancur bagian depannya, menabrak sebuah cafe kecil di pinggir jalan Namoto yang terkenal. Orang-orang yang ada di lokasi kecelakaan itu mencoba membuka pintu dari mobil itu. Selain mobil itu, Junichi juga melihat 5 mobil lain di belakang dan depan mobil yang kini masih berusaha dibuka.

     Di dalam mobil Toyota Fortuner putih metalic itu ia melihat seorang pemuda dengan linangan darah yang mengalir dari kepala dan telinganya. Kepala pemuda itu menyender pada stir sehingga suara buzzer dari mobil yang dikendarainya itu masih menggema. Polisi datang membawa kapak untuk memecahkan jendela depan mobil itu. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya mereka berhasil mengeluarkan pemuda itu dari mobilnya.

     Junichi berjalan mendekati pemuda itu, karena sepertinya ia pernah melihatnya, hanya saja ia tak tahu kapan dan dimana. Karena tenaga medis belum datang menolong pemuda itu dan korban lainnya, Junichi memutuskan untuk mengecek keadaan pemuda itu dengan menunjukkan kartu tanda pengenalnya sebagai salah satu dokter spesialis di Nagasaki General Hospital. Polisi segera mempersilakan dirinya untuk memeriksa pemuda yang tak sadarkan diri itu.

     Setelah mengecek beberapa bagian vital di tubuh pemuda itu, Junichi berkesimpulan bahwa pemuda itu masih bisa diselamatkan nyawanya, hanya saja ia harus segera mendapatkan perawatan medis. Ia pun menelepon ambulance VIP Nagasaki General Hospital untuk membawa pemuda itu. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya ambulance yang diharapkan pun tiba.

“Jinki..tolong suntikan adrenalinnya!” Keadaan ruang operasi cukup panik karena kondisi pemuda yang Junichi tolong itu detak jantungnya melemah.

“Tingkatkan voltase dari alat denyut jantungnya..cepat!” Junichi menyuruh dokter lainnya untuk menyelamatkan pemuda itu.

“1 2 3..Clear Charge Shock!…1 2 3…Clear Charge Shock! 1 2 3..Clear Charge Shock…!” Suara itu terdengar di ruangan operasi yang berisi beberapa dokter bawahan Junichi. Mereka terus mencoba membangkitkan denyut jantung pemuda itu. Kini giliran Junichi yang mencoba alat pemacu jantung itu.

“Beep..Beep..Beep……..”Setelah 3 kali Junichi memberi efek kejut pada dada pemuda itu,   bentuk gelombang yang menunjukkan denyut jantung pemuda itu pun telah datar. Dokter lain yang menangani pemuda itu sudah menyerah, menganggap pasien mereka telah meninggal.

End Of Flashback

 

“Tak kusangka kau bisa bertahan hingga sekarang anak muda…dimanapun kau berada sekarang, terus berjuanglah untuk kembali hidup..” Junichi kembali berucap, memikirkan pasien barunya yang kini tak sadarkan diri di ruang ICU.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

-Seoul Internasional Hospital, Gangnam, Seoul, 10 Januari 2014-

 

“Kumohon bertahanlah.. Tuhan tolong selamatkan suamiku…” Seorang wanita terus berdoa menggenggam kedua tangannya berharap permintaannya terkabul.

       Linangan air mata mengiringi doa wanita itu. Ia tak menyangka bahwa semuanya akan seperti ini. Tadi pagi pria yang ia cintai itu masih memberikan pelukan dan ciuman hangat padanya. Menghujaninya dengan kata-kata romantis yang selalu sukses membuat wanita itu merona malu. Bahkan 1 jam yang lalu wanita itu masih melakukan video call dengan suaminya yang kini tak sadarkan diri di ruang instalasi gawat darurat Seoul Internasional Hospital.

     3 jam telah berlalu tapi ruang operasi masih belum terbuka juga. Beberapa perawat berlarian keluar masuk dari ruangan itu. Akan tetapi saat wanita itu menanyakan keadaan suaminya, mereka hanya meminta wanita itu untuk bersabar karena mereka sedang mengusahakan yang terbaik untuk pria itu. Wanita itu hanya bisa pasrah, menunggu belahan jiwanya keluar dari ruang operasi dengan selamat.

“Tiffany Dear..apa yang sebenarnya terjadi pada Yoong? Bagaimana keadaannya sekarang?” Jaekyung yang baru saja tiba di rumah sakit membanjiri Tiffany dengan pertanyaan yang ia sendiri tak tahu jawabannya apa. Ibu mertuanya itu sengaja menggunakan jet pribadinya untuk kembali ke Seoul dari Hongkong maka dari itu Jaekyung baru tiba di rumah sakit 3 jam kemudian.

“Aku tak tahu mother… 4 jam yang lalu Gong Yoo meneleponku untuk datang ke rumah sakit ini. Ia berkata bahwa Yoong tiba-tiba merasakan sesak lalu pingsan setelah meeting tadi pagi. Setelah itu aku tak tahu lagi…” Tiffany terisak menjelaskan semuanya pada Jaekyung yang mencoba mencerna ucapan menantunya itu.

“Lalu sekarang Gong Yoo dimana?”

“Tadi ia masih menemaniku…tapi beberapa menit yang lalu polisi menelponnya, lalu ia pamit Mother…” Ucap Tiffany dengan suaranya yang sudah terdengar parau. Jaekyung mengira pasti menantunya itu tak berhenti menangis melihat apa yang terjadi pada putranya itu.

“It’s ok Tiff.. suamimu akan baik-baik saja…anakku adalah pria yang kuat, ia tak mungkin menyerah begitu saja dan meninggalkan kita, orang-orang yang begitu ia cintai.” Jaekyung berusaha menenangkan Tiffany dengan mengelus lembut punggung menantunya itu meskipun ia sendiri masih shock dengan semua ini, apalagi ketika Tiffany tiba-tiba meneleponnya dengan isakan tangis yang membuat kegugupannya memuncak saat mendengarnya.

“Apa Anda keluarga dari Mr. Im Yoong?” Seorang pria yang kira-kira berada di usia 50 tahunnya bertanya pada Tiffany dan Jaekyung.

“Ia kami keluarganya..bagaimana keadaan suami saya… dokter?” isakan Tiffany terhenti seketika, ia mencoba membaca ekspresi pria di hadapannya itu. Terlihat jelas bahwa pria itu begitu lelah selama 3 jam lebih berada di ruangan operasi.

“Kau istrinya? Dan Anda?”Dokter tersebut mengalihkan pandangannya pada Jaekyung.

“Aku Im Jaekyung, ibu Im Yoong… Bagaimana keadaan putraku?” Jaekyung mencoba tenang menghadapi ini semua, jika semuanya panik maka takkan ada titik terang dari ini semua.

“Mr.Im mengalami keracunan. Zat yang membuat Mr.Im hampir kehilangan nyawanya disebut Strychnine. Strychnine menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan reaksi refleks berlebihan. Dengan dosis yang benar korban bisa mati dalam waktu sepuluh sampai dua puluh menit. Ini merupakan salah satu dari bentuk racun yang lebih populer pada awal abad kedua puluh. Semenit saja Mr.Im terlambat diobati, maka kematian jawabannya. Oh ya, saya adalah dokter yang akan menangani Mr. Im lebih lanjut, Han Tae Song..” Penjelasan dokter itu membuat air mata Tiffany kembali mengalir. Bagaimana bisa Yoong mengalami hal seperti itu?

“Lalu bagaimana kondisi suami saya sekarang?” Tiffany terisak sedih menanyakan keadaan Yoong.

“Untuk saat ini Mr.Im masih belum sadarkan diri, selama 3 hari ini beliau masih berada dalam keadaan kritis. Saya harap Anda tabah menghadapi ini semua, ini terjadi karena 40 persen dari racun itu telah bekerja pada tubuh Mr. Im, mengingat peristiwa keracunan Strychnine ini sangat sulit untuk disembuhkan. Tapi sepertinya berkat doa semuanya, Mr. Im masih berjuang melawan maut, kami masih optimis bahwa Mr. Im bisa sembuh kembali, hanya saja ini semua membutuhkan kesabaran. Jadi saya mohon kerjasamanya dari pihak keluarga juga. Sekarang Mr.Im sudah kami pindahkan ke ICU untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif lagi. Maaf saya masih harus menangani pasien lainnya. Jadi saya mohon undur diri…” Lalu Dr.Han bergegas bersama asistennya meninggalkan Tiffany dan Jaekyung yang masih tak percaya dengan apa yang terjadi pada Yoong.

     Sementara itu di tempat yang berbeda, seorang gadis tengah khawatir menunggu kekasihnya. Waktu telah menunjukan pukul 02.30 malam akan tetapi kekasihnya masih belum pulang. Sejak tadi pagi Jessica sudah mencoba untuk menghubungi Taeyeon tetapi panggilannya itu selalu dialihkan pada operator. Ini sungguh aneh, Taeyeon tak pernah menolak panggilannya. Ia juga jarang pulang hingga larut malam karena ia tahu bahwa perusahaan tempat kekasihnya bekerja itu memiliki jam kerja hanya hingga pukul 20.00.

     “Apa aku harus melaporkannya pada polisi?” Jessica bingung dengan keadaan Taeyeon yang tak tahu ada dimana. Saat ia masih bingung dengan pikirannya, bel apartement terdengar. Jessica bergegas membuka pintu apartementnya itu, berharap Taeyeonlah yang ada di hadapannya. Tapi harapannya itu pudar ketika ia melihat Sooyoung, dengan wajahnya yang terlihat cukup lelah.

“Soo…”

“Maafkan aku Jess..aku baru bisa menemuimu sekarang, tadi aku masih harus menangani beberapa pasien.” Sooyoung segera masuk setelah Jessica mempersilakan dirinya untuk memasuki apartement sahabatnya itu.

“Jadi mengapa kau memintaku datang kemari? Apa terjadi sesuatu?” Sooyoung bertanya pada Jessica yang sedang mempersiapkan minuman untuk mereka berdua.

“Taeng tak menjawab teleponnya sejak tadi pagi. Padahal hari ini ia berjanji mengajakku makan malam. Sampai saat ini ia masih belum pulang, apa yang harus kulakukan Soo?” Kekhawatiran jelas bisa Sooyoung lihat dari gadis itu.

“Benarkah? Tak biasanya…Heump..lebih baik sekarang kau istirahat saja. Jika besok masih belum ada kabar dari Taeyeon maka kita laporkan polisi . Kau setuju? Oh ya..bolehkah aku bermalam disini?Aku sungguh lelah untuk pulang ke rumahku hehehe…” Setelah berpikir lagi, akhirnya Jessica menganggukkan kepalanya lalu menyiapkan kamar tamu untuk ditiduri Sooyoung.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Selamat pagi Prof..” Seorang pemuda lengkap dengan jas putih panjangnya membungkuk menyapa Junichi yang baru datang di kantornya.

“Selamat pagi juga Dr.Choi…Maaf jika membuatmu menunggu lama.” Balas Junichi tengah memakai jas putih kebanggaannya.

“Tidak apa-apa Prof…oh iya ada apa Anda meminta saya untuk datang kemari?”

“Aku ingin memintamu untuk menangani pasien baruku selama aku mengikuti seminar di Swiss. Apa kau bersedia?”

“Tapi mengapa saya Prof?”

“Karena aku percaya dengan kemampuanmu Choi Sooyoung… Kau adalah salah satu mahasiswaku yang terbaik.” Junichi menatap pemuda di hadapannya dengan wajah yang meyakinkan, tipe seorang motivator yang baik.

“Baiklah Prof..terima kasih atas pujiannya hehehe. Mulai kapan dan sampai kapan saya harus menanganinya Prof?

“Well jika memungkinkan, hari ini aku ingin kau mengobservasi keadaannya karena besok aku harus berangkat ke Swiss dan mungkin akan kembali 4 hari lagi.”

“Tentu saja bisa..tapi saya akan memulai observasinya siang nanti, karena ada beberapa hal yang harus saya urus dahulu Prof..Bisakah saya melihat pasiennya sekarang?”

“Tentu saja… ikuti aku.” Junichi membawa Sooyoung menuju salah satu ruang ICU Nagasaki General Hospital.

     Kini Sooyoung dan Junichi memasuki ruang ICU dimana pemuda itu dirawat. Dari kejauhan Sooyoung bisa melihat seorang pemuda seusia dengannya mengenakan berbagai alat yang membantu pemuda itu bernafas. Tapi ada sesuatu yang membuat Sooyoung penasaran dengan pemuda itu. Pemuda itu terlihat begitu familiar, ia seperti seseorang yang begitu ia kenal.

“Ta…Taeng?” Sooyoung terkejut ketika melihat wajah pemuda itu lebih dekat. Junichi heran melihat reaksi mahasiswa favoritnya itu.

“Apa kau kenal dengan pemuda ini? Kemarin ia mengalami kecelakaan. Polisi masih terus menyediki penyebabnya. Sampai saat ini.. identitas pemuda ini masih belum diketahui karena dompet, handphone dan tanda pengenalnya hilang. Sepertinya ada orang yang tak bertanggungjawab yang memanfaatkan kacaunya keadaan saat kecelakaan itu terjadi.”

“Ia adalah sahabat saya Prof…yang saya kenalkan pada Anda beberapa bulan lalu pada pesta pertunangan saya di Hokaido. Ia adalah Kim Taeyeon…” Sooyoung berbicara dengan begitu berat.Nafasnya terasa sesak menerima berita yang mengejutkan ini.

“Pantas saja aku seperti pernah bertemu dengannya. Jadi ia adalah sahabatmu? Apa kau bisa menghubungi keluarganya? Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan keluarganya.” Junichi menatap Sooyoung dengan pandangan turut berdukanya. Dari ekspresi yang ditunjukkan Sooyoung, ia tahu bahwa pemuda itu adalah salah satu orang yang begitu penting bagi mahasiswa favoritnya itu.

“Baiklah..saya permisi sebentar Prof..”Ucap Sooyoung dengan nada lemah karena ia begitu shock melihat sahabatnya terbaring tak sadarkan diri di ruangan ICU, ruangan yang terkenal ditempati oleh orang-orang sebelum mereka pergi meninggalkan dunia ini.

“Hallo Soo..” Sooyoung bisa mendengar suara Jessica yang membuatnya semakin gugup.

“Jess…bisakah kau datang ke Nagasaki General Hospital sekarang?” Sooyoung mencoba tenang memberitahukan ini semua pada Jessica.

“Tapi ada apa Soo? Bukankah kau janji mengantarkanku siang ini ke kantor polisi untuk melaporkan kehilangan Taeng?” Untuk beberapa detik Sooyoung terdiam.

“Kau akan tahu saat ada disini nanti. Tapi kumohon datanglah.. ini penting. Aku tunggu kau di lobby.” Dengan itu Sooyoung menutup teleponnya berharap Jessica tak menyadari keanehannya tadi.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

     Sementara itu di Seoul International Hospital, Im Donggun kini telah tiba di ruangan VVIP yang sengaja Jaekyung pesan untuk putranya. Ia berjalan dengan kecepatan penuh menuju Yoong yang masih belum sadarkan diri. Ketika ia melihat putranya lebih dekat, hatinya begitu sakit. Seketika, energi Donggun menghilang saat melihat di tubuh putranya itu terpasang berbagai alat yang membantu Yoong untuk bertahan hidup. Yoong terlihat bagaikan manusia yang telah mati baginya dengan wajah yang begitu pucat. Jika tidak ada Jaekyung yang memapahnya menuju sofa, mungkin kini ia sudah tergeletak pingsan di lantai.

“Bagaimana ini semua bisa terjadi?” Donggun menangis melihat putranya yang terlihat tidur begitu tenang.

“Sepertinya ada seseorang yang sengaja meracuni putra kita. Polisi masih menyelidiki ini semua. Bahkan aku sudah meminta bantuan Seung Woo. Kita hanya bisa terus berdoa agar Yoong bisa segera keluar dari masa kritisnya.” Jaekyung terenyuh hatinya ketika melihat suaminya menangis.

“Bagaimana dengan Tiffany?” Kini tangisan hening Donggun terhenti.

“Ia orang pertama yang mengetahui semua ini. Gadis itu menolak meninggalkan Yoong sedetikpun. Sudah 2 hari ia menginap disini, menemani Yoong yang sampai sekarang belum sadar juga. Bahkan aku harus memanggil Taehee untuk membawanya pulang. Menantu kita betul-betul tak mau berpisah dari suaminya walau semenit saja…” Linangan air mata kini terdapat di wajah Jaekyung yang begitu sedih melihat keadaan putra tercintanya seperti ini, tapi begitu terharu dengan sikap menantunya itu.

“Mengapa Jessica belum ada disini? Apa kau belum mengabarinya?” Donggun bertanya sambil menyapu air matanya menggunakan sapu tangannya.

“Hampir 3 hari ini Jessi tak bisa dihubungi. Aku tak tahu apa yang terjadi pada anak kita itu. Tapi aku sudah mengirim Butler Kang untuk mengecek keadaan Jessi disana.” Kini giliran Jaekyung yang disapu air matanya oleh Donggun.

“Ahh baiklah..tapi mengapa putra kita belum sadar juga?” Donggun duduk kembali di samping Yoong, memegang lengan putranya yang begitu dingin dan pucat.

“Dokter bilang racun itu telah bekerja 40% dalam tubuh Yoong sehingga ia berada dalam kondisi seperti ini. Untung saja Gong Yoo segera membawa putra kita kesini, jika tidak, mungkin kematian telah menjemputnya.” Tangis Jaekyung terhenti saat Donggung memeluknya.

“Gwenchana…everything’s gonna be okay… Kita akan melakukan yang terbaik untuk Yoong..” Ucap Donggun mengelus punggung istrinya, berharap aksinya itu bisa menenangkan hati istrinya, walau ia tahu tak semudah itu.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu Sayang..?” Seorang gadis terisak sambil memegang tangan kekasihnya yang masih belum bangun dari koma.

Flashback

 

     2 hari yang lalu adalah hari paling menyedihkan bagi Jessica. Ia begitu kaget ketika Sooyoung membawanya ke sebuah ruangan yang ia kenali sebagai ruang ICU. Di ruangan itu ia melihat seorang pria dengan perban besar di kepalanya. Tak lupa juga berbagai alat-alat kesehatan yang menopangnya untuk hidup. Sooyoung lalu membawanya mengamati lebih dekat kondisi pria itu. Tetapi sebelum mereka sampai di tempat yang lebih dekat untuk mengamati wajah pria itu Jessica menghentikan langkahnya, melepaskan genggaman Sooyoung darinya.

“Sebenarnya ada apa Soo? Untuk apa kau membawaku mendekati pria itu?” kebingungan dan amarah, itulah yang tergambar di wajah Jessica. Sooyoung menarik nafas lalu mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Jessica melemah.

“Pria yang kau lihat tadi… adalah Taeyeon…. Kim Taeyeon.” Ucap Sooyoung dengan menundukkan kepalanya, ia tak berani melihat Jessica yang terdiam mendengarnya.

“Kau pasti bercanda kan Soo? Apa Taeyeon yang menyiapkan semua ini?” Jessica tertawa melihat Taeyeon yang masih belum sadarkan diri.

     Sooyoung tak menjawab pertanyaan itu. Ia membiarkan Jessica untuk mengecek sendiri keadaan sahabatnya itu. Jessica berjalan dengan cepat mendekati pria itu. Dilihatnya wajah pria itu dengan seksama. Aliran darah Jessica seperti berhenti seketika saat ia melihat wajah baby face yang kini ia kenali itu.

     Lalu ia memeriksa pergelangan tangan pria itu, berharap tak menemukan kalung onix pemberiannya 3 bulan lalu. Kini nafasnya tercekat, pandangannya mulai kabur saat ia melihat kalung onix yang terukir tulisan “Taeng<3Sica” ada di pergelangan tangan pria itu. Yang terakhir kali ia dengar adalah permintaan Sooyoung padanya agar ia tak pingsan di samping Taeyeon.

 

End Of Flashback

 

“Jess…ada seseorang yang ingin menemuimu..” Suara Sooyoung tak ia hiraukan.

“Jess..apa kau mendengarku?” Kini Sooyoung berbicara lagi, membuatnya ingin menampar pria itu.

“Aku tak ingin menemui siapapun saat ini..” Jessica memberikan tatapan dinginnya pada Sooyoung yang kini mulai terbiasa dengan perilakunya yang begitu dingin. Semenjak Taeyeon koma, Jessica menjadi begitu pemurung dan dingin. Ia jarang sekali berbicara, ia hanya diam memandangi wajah kekasihnya itu. Sesekali ia mengusap dan mengecup tangan Taeyeon. Sooyoung yang melihatnya begitu sedih dengan semua ini.

“Keluarlah dulu dari ruangan ini Jess… kau membutuhkan udara segar. Aku tahu semua ini begitu berat bagimu. Tapi kau tak bisa selamanya seperti ini… kau bertingkah seperti Taeyeon sudah mati saja…” Dengan entengnya Sooyoung berbicara seperti itu pada Jessica. Beberapa detik kemudian Sooyoung sudah merasakan rasa perih di pipinya akibat tamparan yang diberikan oleh Jessica padanya.

“Kim Taeyeon akan bertahan..ia akan hidup!” Kata-kata itu Jessica ucapkan dengan penekanan yang jelas pada setiap katanya.

“Lalu mengapa kau seperti ini? Apa kau tahu?…kau bertingkah seperti Taeyeon telah meninggal dan pergi meninggalkanmu. Jika kau yakin Taeyeon akan selamat, hidup dan bertingkahlah seperti Taeyeon masih beraktivitas seperti biasanya. Menemanimu, mencintaimu…Apa kau pikir ia takkan sedih melihat kekasihnya bertingkah seperti mayat hidup?!! Kukira kau mengenal Taeyeon..”

       Linangan air mata Jessica tak terbendung. Isakan tangis yang selalu ia tahan akhirnya keluar dari mulutnya menunjukkan kesedihan yang ia alami. Sooyoung yang tak tega melihatnya kini memeluk gadis yang terlihat begitu lemah itu. Sudah hampir 3 hari ini Jessica hanya memakan sedikit makanan yang telah Sooyoung berikan padanya. Bahkan gadis itu menginap di ruangan Taeyeon tanpa membawa perlengkapan apapun. Lingkaran hitam di matanya tergambar jelas menandakan bahwa gadis itu tidak cukup tidur.

“Kumohon..keluarlah dulu dari ruangan ini Jess.. aku juga akan melakukan pemeriksaan pada Taeyeon..” dengan itu Sooyoung melepaskan pelukannya. Membawa Jessica menuju seseorang yang telah menunggunya 1 jam yang lalu di kantor Sooyoung.

“Nona Jessica..”

“Butler Kang?” Jessica terkejut dan heran dengan keberadaan pelayan keluarganya yang setia itu.

“Syukurlah akhirnya aku bisa menemuimu….Apa Anda baik-baik saja?” Pria di usia sekitar 50 tahun itu menatap Jessica dengan kekhawatiran.

“Ahh aku baik-baik saja kok…mengapa tiba-tiba menyusulku?” Jessica bertanya pada pria yang kini terlihat gugup.

“Itu.. itu… aku diperintahkan untuk menjemput Nona kembali ke Seoul oleh Mrs.Im..”

“Maksudmu Mother? Ada apa?”

“Yoong.. Tuan Yoong sekarang sedang dalam keadaan koma. Ayah Nona ingin semuanya berkumpul disana.” Akhirnya kata-kata itu terucap dari mulut Butler Kang. Jessica terdiam, mencoba kembali untuk mencerna ucapan pelayan kesayangannya itu.

“Mengapa Yoong bisa seperti itu?”

“Maafkan saya Nona Jessica…tapi saya tidak bertugas untuk menjelaskan itu semua pada Anda. Maka dari itu Anda harus ikut dengan saya kembali ke Seoul.” Butler Kang memberikan tatapan menyesalnya memberitahukan ini semua pada Nona kesayangannya. Untuk sesaat Jessica terdiam, memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia tak mungkin meninggalkan Taeyeon yang masih tak sadarkan diri hingga sekarang. Tapi ia pun tak mungkin membiarkan begitu saja kembarannya koma di Seoul.

“Mr. Kang bisakah kau tunggu aku beberapa jam? Aku harus membereskan beberapa hal dulu disini. Setelah itu kita akan berangkat kembali ke Seoul…”

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

 

 

 

-Nagasaki, Japan, 10 Januri 2014 06.45 a.m.-

“Oh…dimana handphoneku? Aku harus segera menelepon Mr. Yamamoto untuk menyiapkan keperluan rapat hari ini…” Taeyeon berusaha mencari ponselnya yang tadi ia taruh di jok samping sambil mengemudikan mobilnya yang baru ia beli 6 bulan lalu.

“Ahh itu dia…” Taeyeon melihat Handphone yang ternyata jatuh ke bawah kursi mobilnya.

     Karena masih pagi dan jalanan yang belum macet, maka Taeyeon mengambil Handphone itu tanpa memberhentikan kendaraannya. Saat ia telah berhasil mengambil benda itu, tiba-tiba mobilnya terdorong, hampir menabrak mobil lain. Semuanya terjadi begitu cepat, Taeyeon yang masih memegang kendali setirnya mencoba menghindari kecelakaan itu. Tapi akhirnya ia malah menabrak salah satu kafe di pinggir jalan. Untuk beberapa detik Taeyeon masih bisa mengenali keadaan di sekitarnya.

‘Apakah ini adalah akhir dari hidupku?…’ ucap Taeyeon dalam hatinya lalu semuanya berubah menjadi gelap, unconcius.

     Sementara itu di Seoul, Yoong telah sampai di ruangan meeting Im Tower. Ini adalah hari kedua baginya sebagai eksekutif desainer di perusahaan properti milik keluarganya. Sesuai dengan janjinya, Yoong akan mulai mengambil alih perusahaan keluarganya secara bertahap setelah ia menikah. Dan disinilah ia sekarang, mempersiapkan meeting perdananya dengan para pemegang saham.

     Yoong telah merekrut Seohyun dan Gong Yoo sebagai asistennya. Ia percaya pada kemampuan kedua sahabatnya itu. Tapi pagi ini Seohyun tak bisa menghadiri rapat karena ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Maka dari itu Gong Yoo lah yang akan menemaninya hari ini. Sesampainya di kantor, ia meminta sahabatnya itu untuk membawa file-file untuk rapat hari ini. Kini ia mencoba menelepon istrinya yang ia yakin sudah tiba di kampus.

“Selamat pagi Nyonya Im…” Yoong menunjukkan aegyeonya sambil tesenyum imut pada Tiffany yang berada di ruang kelas kampusnya.

“Pagi juga sayang…. apa kau begitu merindukanku hingga kau melakukan video call ini? Padahal kita baru berpisah sekitar 40 menit yang lalu..” Tiffany tesenyum menggoda suaminya.

“Tentu saja….karena kau adalah energiku maka dari itu aku harus selalu melihatmu setiap saat..” Yoong tersenyum manis pada istrinya itu.

“Kau selalu saja bisa membuatku terbang dengan kata-katamu… dasar gombal..” terdengar suara gemuruh orang-orang yang mulai memasuki kelas di tempat Tiffany berada.

“Tiffany Hwang… aku mencintaimu… Selalu.. kumohon ingat itu…” sambungan video call itu terputus begitu saja sebelum Tiffany bisa membalas kata-kata manis dari suaminya itu. Beberapa detik kemudian ia menerima sms dari Yoong yang membuatnya kembali tersenyum.

From: My Love

“Maaf tadi tiba-tiba sambungannya terputus..Love You..Doakan aku sukses dalam rapat ni…”

To: My Love

“Love you too tentu saja Handsome…aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu…Goodluck sayang..” itu isi sms Tiffany pada suaminya. Tapi sepertinya Yoong sudah menghidupkan mode hening di Handphone sehingga ia tak menerima balasan apapun dari suaminya itu.

     Rapat sudah dimulai, kini Yoong sibuk mempresentasikan image baru dari perusahaan Im Corp. pada para pemegang saham. Ia menggengam erat pointer yang ia gunakan untuk menunjukkan lebih jelas beberapa data pada orang-orang itu. Para pemegang saham mengamati kinerja Yoong sebagai pewaris Im Corp. Mereka ingin memastikan bahwa investasi mereka benar-benar dikelola oleh orang yang kompeten dan dapat dipercaya seperti Im Donggun.

    1 jam telah berlalu, kini Yoong duduk sambil melonggarkan dasinya. Ia mengambil sebotol jus apel dari kulkas di ruangan kantornya. Ia ingin melepas dahaga setelah menjalani rapat yang baru selesai 10 menit yang lalu. Kemudian ia meneguk jus itu, membuatnya merasakan kesegeran lagi. Tapi beberapa menit kemudian Yoong merasakan sesak dan sakit yang luar biasa. Ia mencoba menghubungi sekretarisnya, tapi sepertinya gadis itu sedang ke toilet. Kemudian ia mencoba menghubungi Gong Yoo saat pandangannya mulai gelap.

“Yoboseyeo?”Gong Yoo menjawab panggilan Yoong sambil menutup laptopnya

“Too..loong…” Kemudian terdengar suara benda jatuh lalu semuanya hening. Gong Yoo yang penasaran kemudian berlari menuju ruangan Yoong yang berada tak cukup jauh dari ruangannya. Betapa terkejutnya Gong Yoo saat mendapati Yoong sudah tergeletak tak sadarkan diri di karpet ruangannya. Gong Yoo kemudian berlari ke arah Yoong, mengecek urat nadi pria itu.

“Bertahanlah Yoong… kumohon!” Ucap Gong Yoo yang kini menggendong sahabatnya itu, membawa Yoong menuju rumah sakit yang cukup dekat dengan kantor Im Corp. Itu.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

-Joengsom Traditional Market, Seoul, 16 Januari 2014-

“Apa ada kabar terbaru dari Im Yoong?” Seorang pemuda bertanya pada orang suruhannya sambil memilih bayam dan sayuran lainnya.

“Ia masih belum sadarkan diri Tuan….Sepertinya semua tinggal menunggu waktu hingga kematian menjemputnya.”

“Baiklah..tapi kuminta terus pantau keadaan pria itu. Jangan lupa untuk terus berhati-hati, jangan sampai polisi menyadari kegiatan kita ini. Aku ingin cepat-sepat mendengar berita kematiannya. Hahaha..sepertinya Hyung-ku akan sangat senang mendengar berita ini.” Kemudian pemuda yang masih remaja itu tertawa lepas pada orang suruhannya itu.

“Hyung…Aku akan mengembalikan Tiffany Noona padamu..Tunggulah!” Ucap pria itu dengan senyuman misterIusnya.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

     Tiffany masih duduk di samping suaminya yang masih belum sadarkan diri. Ia mengamati kembali wajah suaminya yang begitu tenang, seperti tak ada kesakitan yang tergambar di wajah tampan itu. Sudah 6 hari ini Yoong berada di Ruangan VVIP Seoul International Hospital. Setiap hari Tiffany selalu menemani suaminya itu, mengambil cuti beberapa hari dari kegiatan kuliahnya.

“Tiff… makanlah. Mother sengaja membuatkan ini untukmu…” Jessica memberikan sandwich untuk kakak iparnya itu.

“Aku tak lapar Jess..Simpan saja di meja, nanti aku akan memakannya.”

“Tiff apa kau ingat saat Yoong kehilangan Jieun?” Jessica i duduk bersama Tiffany, melihat kembali kakaknya lebih dekat.

“Tentu saja…tapi apa maksudmu?” Tiffany menatap Jessica dengan tatapan tak mengerti.

“Maksudku.. sekarang kau hampir bersikap seperti Yoong saat ia kehilangan Jieun.. Miyoung-ah. Apa kau tahu, mungkin jika Yoong bisa melihatmu sekarang, ia akan sedih melihatmu seperti ini Tiff… sama saat kau melihat Yoong menyiksa dirinya menghadapi kenyataan bahwa Jieun telah tiada.” Kini Jessica tersenyum pada Tiffany, memberikan kembali sandwich dan jus pear pada Tiffany yang menatapnya tak percaya.

“Aku.. tak menyangka kau bisa seperti ini Jess…. Kau benar.. aku tak boleh seperti ini. Aku harus kuat untuk Yoong…” Ucap Tiffany dengan linangan air matanya. Jessica menghapus air mata itu dengan sapu tangan kesayangannya, sapu tangan yang diberikan oleh kekasihnya 2 hari sebelum mengalami kecelakaan.

Flashback

“Mother..Father..ada apa dengan Yoongie? Mengapa ia bisa seperti ini?” Jessica kini sedang memegang tangan kembarannya itu. Ia baru tiba di Seoul setelah menempuh beberapa jam perjalanan dengan jet pribadi ayahnya.

       Jessica tak menyangka Yoong bisa seperti ini, menambah kesedihan yang ia rasakan karena 2 orang yang ia sayangi kini terbaring tak berdaya dalam kondisi yang sama dengan alasan yang berbeda. Jaekyung kemudian duduk di sebelah Jessica sedangkan Donggun berdiri diantara putri dan istrinya, menatap Yoong dengan kesedihan yang tergambar di wajahnya selama 4 hari ini.

“Yoong terkena racun Strychnine. Zat ini membuat kakakmu hampir kehilangan nyawanya. Strychnine menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan reaksi refleks berlebihan. Dengan dosis yang benar Yoong bisa mati dalam waktu sepuluh sampai dua puluh menit. Untungnya obat itu baru bekerja 40% dalam tubuhnya sehingga dokter masih bisa menolongnya. Hari ini Yoong sudah dinyatakan keluar dari masa kritisnya. Hanya saja dokter belum tahu kapan kakakmu akan sadar…” Ucap Donggun mengelus bahu putrinya itu.

“Kalau begitu, Yoong masih dalam keadaan koma? Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?” Suara Jessica kini sudah terpotong-potong menahan tangis.

“Bisa dibilang begitu. Tapi dokter meyakinkan kita bahwa Yoong akan sembuh kembali. Kita hanya tinggal menunggu kapan pangeran ini bangun dari tidur panjangnya…Sehingga ia bisa berkumpul kembali dengan kita..” Jaekyung mngakhiri kata-katanya dengan tawa ringannya membuat Donggun dan Jessica menatapnya heran.

“Apa? Apakah aku tak boleh berusaha menghidupkan suasana yang gloomy selama beberapa hari ini? Yoong juga mungkin akan segera bangun bila ia dikelilingi energi positif disekitarnya.” Kini Jessica dan Donggun tersenyum memandang Jaekyung.

“Kau benar Sayang..” Kini Donggun memeluk 2 wanita yang begitu ia cintai itu.

End Of Flashback

 

 

     Beberapa menit kemudian handphone Jessica berdering. Ia segera keluar dari ruangan untuk menjawab panggilan Sooyoung. Kemudian ia menekan tombol untuk menerima panggilan sahabat kekasihnya itu. Ia berharap Sooyoung akan mengabarinya dengan berita tentang Taeyeon yang telah sadar. Tapi itu semua terhapuskan saat ia mendengar kata-kata dari pria itu.

“Jessica…apa kau bisa kembali ke Nagasaki hari ini? Ini tentang Taeyeon…” Suara Sooyoung terdengar begitu gugup dan khawatir.

“Ada apa Soo? Apa sesuatu terjadi pada Taeyeon?” Jessica menjawab pria itu dengan nada lemahnya.

“Beberapa menit yang lalu Taengoo mengalami pendarahan lagi di otaknya. Sekarang dokter Junichi sedang berusaha menyelamatkannya. Maka dari itu aku memintamu untuk kembali hari ini.” Ucap Sooyoung yang membuat Jessica terduduk lemas di koridor ruangan VVIP tempat Yoong dirawat.

     Sedangkan di dalam ruangan tempat Yoong dirawat, Tiffany sedang memakan sandwich buatan ibu mertuanya. Ia sengaja memakan sandwich itu di hadapan Yoong, berharap suaminya itu bisa melihat dirinya yang kini sedang melahap makanan favorit suaminya itu. Ia tak ingin selamanya berduka dengan keadaan suaminya, ia ingin Yoong bahagia melihatnya saat ini, dimanapun pria itu berada sekarang.

     Tapi tiba-tiba Tiffany melihat hal yang selama ini ia tunggu. Saat ini Yoong sudah membuka matanya, kemudian menutupnya lagi karena ia masih sensitif melihat cahaya yang sudah cukup lama tak dilihatnya. Saat ia akan bebicara, tenggorokannya terasa begitu perih. Menyadari semua itu, Tiffany kemudian memberikan suaminya segelas air putih yang ada di meja sebelahnya. Lalu Yoong segera meneguk minuman itu, membuatnya kini bisa berbicara kembali sedikit demi sedikit.

“Fany-ah???” Yoong berbicara dengan suaranya yang serak kemudian menatap Tiffany dengan kebingungan yang tersirat di wajahnya. Gadis itu tak menjawabnya, hanya memeluknya begitu erat seakan ia akan pergi.

“Kau tak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu..” Kemudian Tiffany memberikan kecupan yang cukup lama di bibir Yoong. Membuat pria itu terdiam menyadari apa yang telah dilakukan oleh gadis dihadapannya, yang memberikan eye smile terbaiknya dengan linangan air mata kebahagiaan karena orang yang dicintainya telah kembali hidup.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Umma…”

“Taeyeon-ah…syukurlah kau sudah sadar dari tidurmu..” Mrs. Kim tersenyum pada putranya yang begitu ia rindukan. Kemudian ia meminta Taeyeon untuk duduk di sampingnya.

“Umma..kita ada dimana? Apa aku sudah mati hingga aku bisa bertemu lagi denganmu? Atau semua ini hanya mimpi?” Kemudian Taeyeon menatap ibunya yang hanya tersenyum mendengar ucapannya.

“Taeyeon-ah…apa kau percaya pada keajaiban?”

“Apa maksudmu Umma?”

“Kau belum ditakdirkan untuk mati saat ini Sayang…maka dari itu, manfaatkanlah kesempatan yang tuhan berikan padamu. Mungkin ini semua akan menuntunmu pada arti hidup yang sebenarnya.” Ucap Mrs.Kim tersenyum pada putranya. Beberapa detik kemudian Taeyeon terhisap dalam sebuah lubang hitam.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Ahh..aku ada dimana?” Kini Taeyeon telah terbangun kembali di sebuah ruangan yang begitu asing baginya.

‘Eurgh…badanku sakit sekali, mengapa cahayanya begitu menyilaukan? Aduh…, tenggorokanku sakit sekali, tapi bukankah ia…’ Taeyeon tak bisa lagi melanjutkan ucapan dalam hatinya saat ia menatap gadis yang ada di hadapannya.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

 

-Nagasaki, Japan, 26 Maret 2014-

“Kau sudah menghubungi kekasihnya?” Junichi bertanya pada Sooyoung yang masih mengecek keadaan pasien di sampingnya.

“Sudah Prof…Ia akan kembali ke sini sekitar 4 jam lagi.”

“Syukurlah…kurasa Taeyeon tahu bahwa kekasihnya akan datang hingga ia bisa berjuang melawan maut yang mungkin saja mengambil nyawanya tadi.” Junichi tersenyum sedih melihat pemuda yang sedang diperiksa oleh Sooyoung.

“Syukurlah Prof…terima kasih karena sudah berusaha sekuat mungkin untuk menyelamatkan sahabat saya..” Sooyoung tersenyum tulus pada guru yang sangat ia kagumi itu. Kini Sooyoung mengamati kembali sahabatnya yang masih terlihat tenang dalam tidurnya. Ia bisa melihat air mata mengalir secara perlahan dari kedua mata sahabatnya itu.

“Prof..aku yakin kau sudah sering melihat pasien koma sebelumnya. Tapi ada sesuatu yang ingin kutanyakan…” Sooyoung terhenti sesaat lalu melanjutkan perkataannya. Junichi kini menatapnya dengan tatapan penasaran.

“Jika seseorang dalam kondisi koma menangis, itu tidak apa-apa kan?”

“Awalnya aku mengira itu hanyalah hal biasa…Tapi setelah aku bertemu dengan beberapa pasien yang mengalami hal serupa, aku bisa menyimpulkan bahwa mereka sedang dalam keadaan bahagia di alam sana atau mereka juga tahu bahwa kalian orang-orang disampingnya selalu menemaninya. Maka dari itu, air mata itu adalah air mata kebahagiaan.”

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

       Seorang pria kini terbangun dari tidurnya, mulai melihat keadaan sekelilingnya. Ia melihat seorang gadis yang kini mulai mendekatinya secara perlahan. Gadis itu kini semakin dekat dengannya, membuat pria itu merasakan kembali rasa yang ia kira telah hilang dari dirinya. Kini gadis itu telah berdiri di hadapan pria itu, mengenakan gaun putih yang begitu cantik.

“Annyeong….”Ucap gadis itu tersenyum menatap pemuda yang sudah lama ia rindukan.

“Jieun-ah…” Pemuda itu tak kuasa menahan tangis saat ia bertemu lagi dengan gadis yang begitu ia cintai.

“Apa kau merindukanku?” gadis itu tersenyum menghapus air mata di wajah pria itu.

“Wajah tampan yang kurindukan ini sungguh sayang jika dihiasi dengan tangisan.. jadi jangan menangis…” Pria itu memeluk gadis di hadapannya dengan erat setelah ia mendengar kata-kata dari gadis itu.

“Kau tak tahu betapa aku merindukanmu…Maafkan aku Jieun-ah.” Ucap pria itu mendekap gadis dipelukannya lebih erat. Gadis itu membalas pelukan pria itu dengan senyuman yang tergambar di wajahnya.

‘Gunakan waktumu dengan baik Taeyeon-ah.. aku akan menjaganya ketika kau ada bersama Tiffany…Good Luck..’ Ucap gadis itu dalam hatinya.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Akhirnya kau datang Jess…” Sooyoung memeluk gadis di hadapannya itu.

“Bagaimana kondisi Taeng sekarang?” Sooyoung bisa melihat kedua mata Jessica yang cukup sembab, bukti bahwa gadis itu telah menangis lagi untuk sahabatnya.

“Taeyeon sekarang sudah melewati masa kritisnya setelah Dr.Junichi melakukan operasi 9 jam yang lalu. Sekarang ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan yang lebih intensif lagi. Oh iya.. lebih baik sekarang kau temui Dr.Junichi…sepertinya ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padamu.” Kini Sooyoung membawa gadis itu ke ruangan Dr. Junichi yang berada tak cukup jauh dari ruangan Taeyeon.

“Selamat sore Dokter…” Jessica menyapa pria dihadapannya. Junichi tersenyum melihat Jessica yang begitu sopan terhadapnya.

“Selamat sore juga Ms.Im Jessica…Senang bertemu denganmu. Silakan duduk…” Jessica duduk di depan meja kerja Junichi yang terlihat rapih dengan gundukan file-file.

“Saya akan menjelaskan kondisi Taeyeon yang sebenarnya pada Anda. Dalam kasus normal, biasanya pasien yang mengalami kecelakaan seperti Taeyeon akan langsung meninggal setelah mengalami pendarahan otak yang dialami olehnya tadi pagi. Akan tetapi, saat kami mencoba melakukan operasi, tubuh Taeyeon memberikan respon yang positif sehingga beliau kini kami rawat di ICU lagi karena masih memerlukan perawatan yang intensif meskipun kini Taeyeon sudah dinyatakan keluar dari masa kritisnya.” Jessica tersenyum mendengar penjelasan Junichi. Akan tetapi senyumnya pudar saat ia mendengar kalimat lain dari dokter itu.

“Tapi… saya belum bisa memastikan kapan Taeyeon bisa bangun dan kembali pulih. Cedera di otaknya terbilang cukup parah sehingga menyebabkan trauma yang cukup berat. Bisa dibilang, Taeyeon akan sadar juga sesuai dengan kemauannya melawan trauma di otaknya itu. Meskipun beliau telah keluar dari masa kritisnya, tapi ini tak mengubah status koma yang disandang kekasih Anda. Pasien yang mengalami koma tidak bisa diprediksi kapan ia akan sadar dari unconcious statenya. Sekarang semua keputusan ada pada Anda…” Junichi kini membuat Jessica menatapnya heran.

“Maksud Anda?”

“Taeyeon bisa koma selama 3 hari, 3 bulan, 3 tahun ataupun selamanya…. saya tidak tahu apakah Anda akan meneruskan pengobatan ini..”

“Jadi maksud Anda saya harus memutuskan apakah saya harus mempertahankan Taeyeon atau tidak?” Jessica menatap pria di hadapannya tak percaya.

“Begitulah kenyataannya Ms.Im….Saya hanya menawarkan solusi terbaik untuk Anda.” Junichi memberikan tatapan menyesal pada gadis di hadapannya. Untuk sesaat Jessica terdiam. Ia memikirkan kembali ucapan pria di hadapannya itu.

“Baiklah.. saya sudah memutuskannya. Saya akan terus menunggu Taeyeon hingga ia sadar kembali Dok…”

‘Because you’re worth to wait.. And i willing to’ ucap Jessica dalam hatinya.

“Tapi itu semua membutuhkan waktu yang kita tak tahu sampai kapan. Biaya dan tenaga Anda juga akan terkuras Ms. Im…” Ucapan Junichi terhenti saat ia melihat wajah Jessica yang menitikan air matanya. Ia bisa melihat kesungguhan dari wajah gadis itu.

‘Kau sungguh beruntung Taeyeon….Gadis ini begitu mencintaimu’ pikir Junichi dalam benaknya.

“Saya tak peduli berapa uang dan tenaga yang harus saya berikan untuk kesembuhan Taeyeon. Saya hanya meminta usahakan yang terbaik untuk kesembuhannya….” Tetesan air mata itu kini tergantikan dengan tangisan halus dari gadis di hadapan Junichi. Membuat pria itu mantap dengan keputusannya untuk menjadikan Taeyeon sebagai salah satu pasien utamanya.

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Mom… apa yang harus kuberikan pada Yoong?” Tiffany bertanya pada ibunya yang sedang menyiapkan bekal untuk menantunya.

“Aku juga bingung..sudah 2 hari ini Yoong hanya memakan sepertiga dari makanannya..ia juga bertingkah cukup aneh Mom…” Tiffany kini memasukkan kimbap sayur dan daging kesukaan Yoong ke kotak nasi yang akan dibawanya.

“Memang apanya yang aneh?” Tanya Taehee yang telah selesai memasukkan sup iga sapi untuk menantunya itu.

“Ia menjadi sedikit pendiam..”Tiffany terdiam untuk sesaat, mengingat lagi keanehan yang terjadi pada suaminya.

“Lalu?”

“Saat aku mencIum atau memeluknya…ia hanya diam, tak memberikan balasan. Padahal selama ini dalam hubungan kami, Yoonglah yang selalu mengambil inisiatif dalam hal seperti itu..” Ekspresi Tiffany kini berubah menjadi kesedihan yang dibalut kebingungan. Taehee mengerti perasaan putrinya, maka dari itu ia kmencoba untuk membuat Tiffany tetap berpikiran positif.

“Mungkin itu salah satu efek dari racun yang menyerang suamimu, Sayang… kau harus bersabar ya. Bisa saja Yoong merasa asing lagi dengan lingkungannya karena kondisinya sekarang.” Tiffany kini mengangguk, mencoba menerima saran dari ibunya.

“Akan kucoba Mom…Thanks…”

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

“Taeyeon-ah.. apa yang sedang kau lakukan disana? Mengapa kau belum mau bangun juga? Apa kau tak merindukanku?” Ucap Jessica pada pria yang tak memberikan reaksi apapun padanya.

       Pria itu masih seperti biasanya, tertidur tak sadarkan diri diiringi bunyi mesin-mesin yang menopang nafasnya. Ekspresi wajahnya begitu tenang, layaknya seorang bayi yang sedang tertidur. Sesekali gadis itu mengelus wajah kekasihnya, memberikan kecupan lembut yang selalu ia berikan pada kekasihnya saat peristiwa ini belum terjadi.

“Aku merindukanmu….apa kau tahu itu? Kembalilah.. jangan tinggalkan aku..” Tetesan air mata mengalir dari paras cantik Jessica. Ia hapus air mata itu, mencoba menunjukkan senyumnya pada Taeyeon.

“See? Aku takkan menangis lagi….aku akan berjuang untuk kesembuhanmu…”

     Beberapa menit kemudian Jessica beranjak dari kursinya, mengambil handphone yang ada di tasnya. Kemudian ia menekan beberapa tombol, menghubungi seseorang yang akan membantunya. Setelah beberapa detik menunggu akhirnya orang itu menjawab panggilannya.

“Yoboseyo?” Seorang pria menjawabnya dengan nada ramah.

“Father.. aku menerima tawaranmu. Tapi, siapkan segala sesuatu yang telah kuminta…”

+++++++++++ LOVE ITSELF +++++++++++

     Seorang pemuda terdiam, menatap gedung-gedung megah yang ada di sekitar Gangnam Distrik. Ia berada di atap gedung rumah sakit yang memiliki 10 lantai, cukup untuk membuatnya mati jika ia mencoba loncat dari atap gedung ini. Pikirannya berkutik dengan apa yang terjadi padanya 2 hari ini. Mulai dari saat ia terbangun di ruangan yang begitu asing hingga akhirnya sekarang, disini, ia menatap langit dan pemandangan sekitar Seoul dalam tubuh pria yang menjadi suami wanita yang ia cintai.

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?…Mengapa aku bisa begini?”Kini ucapan itu hampir setiap saat meluncur dari mulutnya.

 

Flashback

“Kau tak tahu betapa takutnya aku kehilanganmu..”Ucapan wanita di hadapannya itu membuatnya bingung. Ia tak tahu bahwa Tiffany begitu takut kehilangannya.

‘Memang selama ini aku kemana? Apa yang telah terjadi padaku? Oh iya..kecelakaan itu..pasti karena kecelakaan itu.’pikir Taeyeon yang masih merasakan sedikit pusing di kepalanya.

       Tapi hal berikutnya membuat Taeyeon terdiam. Kini di hadapannya, Tiffany memberikan kecupan yang cukup lama padanya. Bibir gadis itu masih bersatu dengan miliknya untuk beberapa detik, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Dari kecupan itu, Taeyeon bisa menggambarkan betapa Tiffany merindukannya, begitu dalam rasa cinta yang tergambar dari satu kecupan itu.

       Ketika Tiffany melepaskan kecupan itu, Taeyeon bisa melihat linangan air mata dari gadis di hadapannya. Saat Taeyeon akan bertanya pada Tiffany, kini gadis itu menghubungi dokter dengan menekan tombol merah di samping ranjang yang ia tempati. Lalu gadis itu mengambil handphonenya, menghubungi beberapa orang yang tak diketahui oleh Taeyeon siapa.

       Beberapa menit kemudian tibalah seorang dokter dengan asistennya. Dokter itu terlihat begitu berkarisma dengan kacamata dan jas putih yang menempel di badannya. Kemudian ia melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh Taeyeon yang mengikuti apa yang dokter itu instruksikan padanya. Setelah selesai dengan pemeriksaannya, kemudian dokter itu memanggil Tiffany yang memasuki ruangan, diikuti oleh orangtua Yoong, Hwang Taehee dan supprisingly kekasihnya, Jessica.

“Syukurlah kau telah bangun, Son…” Ucap Im Donggun lalu memeluk Taeyeon begitu erat.

“Akhirnya kau kembali putraku….Mother sangat merindukanmu..” Lalu Jaekyung pun menyusul suaminya, memeluk Taeyeon tak kalah eratnya. Mendengar ucapan itu membuat denyut jantung Taeyeon berhenti seketika.

‘Sejak kapan aku menjadi putra mereka? Apa karena aku adalah kekasih Jessica?’ pikir Taeyeon yang sekarang menerima pelukan dari ibu Tiffany. Kini Tinggal Jessica yang mendekatinya, memberikan pelukan yang begitu familiar bagi Taeyeon. Tapi yang membuatnya bingung adalah kekasihnya itu tidak memberikan kecupan seperti biasa padanya. Padahal ia tahu, biasanya gadis itu selalu ingin mengecup pipi atau bibirnya.

“Well aku senang kini kembaranku telah kembali hidup…” Deng!! Kini semuanya mulai masuk akal bagi Taeyeon. Wajahnya pucat, keringat dingin kini mengalir di sekitar tubuhnya.

‘Aku berada di tubuh Yoong? Bagaimana ini bisa terjadi?!!’ pikir Taeyeon yang mulai panik dengan keadaanya sekarang. Dari matanya tergambar kebingungan, Tiffany yang menyadari itu semua kini mendekati Taeyeon.

“Ada apa Sayang? Apa kau merasakan sesuatu?” Kekhawatiran tergambar di wajah Tiffany menatap Taeyeon yang diam tak menjawabnya.

“Jangan khawatir.. ini hanya efek dari tidur lamanya.. Yoong bisa pulang setelah menjalani perawatan 4 hari lagi. Kalau begitu saya pamit…” Dr. Han kemudian pergi meninggalkan ruangan.

“Yoong…apa masih ada yang sakit?” Kini Tiffany memegang tangan Taeyeon, membuat pemuda itu menatapnya heran.

“Aku.. aku.. Im Yoong?” Ucap Taeyeon menatap Tiffany.

“Haha… kau lucu Son…apa ini salah satu efek dari koma yang kau alami selama beberapa hari ini? Tentu saja, kau adalah putraku…Im Yoong…,suami dari wanita luar biasa yang ada di sampingmu ini.” Donggun memegang bahu Tiffany, tersenyum tulus pada menantunya yang merona malu dengan pujian darinya.

“Thanks..Father..” Tiffany menambah erat genggamannya pada tangan Taeyeon yang masih bergelut dengan pikirannya setelah mendengar ucapan Donggun.

End of Flashback

 

 

“Kau pasti bingung dengan semua ini kan?” Ucap seseorang yang berada di belakang Taeyeon.

“Anda siapa??” Taeyeon berusaha mengenali wanita tua yang ada di hadapannya. Wanita itu memakai pakaian berwarna serba putih dengan make-up yang natural.

“Kau lupa?? Aigoo..kau tak ingat pada nenek?” Wanita itu tersenyum pada Taeyeon.

“Nenek?”

“Aku yang menjual couple necklace padamu beberapa tahun lalu di Jeongsom Traditional Market, Taeyeon-ah.”

     Tiba-tiba sebuah cahaya putih menyinari nenek itu.. membuat Taeyeon pingsan karena sorotan yang dipantulkan nenek itu. Dalam pingsannya, Taeyeon melihat kembali dirinya bersama Tiffany beberapa tahun lalu, sebelum gadis itu resmi menjadi kekasih Yoong. Mereka sedang berbelanja beberapa barang kebutuhan Tiffany. Ia melihat dirinya tersenyum pada Tiffany.

     Kini ia melihat dirinya memperhatikan sebuah kalung berbentuk kunci dan gembok yang dipajang di sebuah stand kecil. Lalu ia melihat dirinya membawa Tiffany menuju kalung yang dari tadi ia perhatikan. Kini ia melihat dirinya dan Tiffany sedang berbincang mengenai kalung itu dengan wanita tua yang ia sadari sebagai nenek yang tadi menyapanya. Dan sekarang nenek tua itu melihat ke arahnya, mengedipkan salah satu matanya sambil tersenyum.

“Ahhh….aku tahu!” Taeyeon telah kembali sadar.. melihat nenek yang telah berubah menjadi seorang gadis yang begitu cantik.

“Hah.. kau siapa? Kemana perginya nenek?” Taeyeon bertanya pada seorang gadis cantik yang memakai baju serba putih itu.

“I’m your fallen angel Taeyeon-ah…. dan nenek yang tadi kau lihat itu aku.” Gadis itu berbicara dengan lemah lembut membuat Taeyeon tak berhenti menatapnya.

“Haha apa aku begitu menarik sehingga kau tak berhenti menatapku?”

“Aniyo..!” ucap Taeyeon dengan nada malunya. Taeyeon menggelengkan kedua kepalanya seperti anak kecil membuat Mi Kyung mengeluarkan tawanya yang begitu indah didengar.

“Hahaha..kau begitu cute Taeyeon-ah…” Mi Kyung kini mencubit kedua pipi pria di hadapannya itu, membuat Taeyeon kembali menundukkan kepalanya, malu.

“Terimakasih..”

“Baiklah kita langsung saja….Kau pasti bingung mengapa kini kau ada di tubuh Yoong kan? Well ini mudah saja…Karena kau telah meminta agar kau bisa mencintai dan dicintai oleh Tiffany secara bebas. Maka dari itu sekarang beginilah keadaannya..” Ucap gadis yang mengaku menjadi Fallen Angelnya Taeyeon dengan nada innocentnya membuat Taeyeon membeku seketika, jiwanya melayang entah kemana.

“Taeyeon-ah?” Ucap gadis itu berusaha membuat Taeyeon kembali dari keterkejutannya.

“Ahh Nae!” Taeyeon menatapnya dengan penuh kebingungan.

“Heumph.. baiklah sepertinya kau masih belum mengerti juga. Ayo ikut aku!” Gadis itu menggenggam Taeyeon, membawanya menembuh tembok pintu atap rumah sakit itu. Taeyeon yang tak tahu apa-apa hanya mengikuti gadis itu membawanya ke suatu tempat yang kini begitu familiar baginya.

“Bukankah ini…” ucapan Taeyeon terhenti saat ia melihat seorang pria yang sedang menangis di pusara keluarganya.

       Lalu ia mengamati bagaimana sedihnya pria itu hingga akhirnya membuat sebuah permintaan yang membuatnya hingga seperti ini. Untuk sesaat ia terdiam, kembali memikirkan bagaimana bisa sebuah keinginan mustahil sepeti itu, membuatnya terjebak dalam tubuh sahabatnya. Kemudian ia menutup matanya untuk beberapa detik, berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruknya. Tapi saat ia kembali membuka mata dan mengecek kondisi tubuhnya, nihil yang ia dapat.

“Itu kau Kim Taeyeon…dan karena kau telah merawat kalung itu dengan baik, maka Tuhan mengabulkan permintaanmu… semuanya sudah terencana dengan sempurna!” Anehnya Mi Kyung selalu tersenyum setiap berbicara padanya. Kini Mi Kyung menepuk salah satu bahunya, membuat Taeyeon kembali menatapnya dengan tatapan bingung dan ketakutan yang luar biasa.

“Tidak!! Kau pasti bercanda kan? Apa dosaku terlalu banyak hingga aku harus mengalami ini semua?” Taeyeon melepaskan tangan Mi Kyung dari bahunya, membuat gadis itu kini menatapnya dengan serIus.

“Kau tak bisa lari dari takdirmu Taeyeon-ah…Kau sendiri yang telah membuat ini semua terjadi…So Let it be and enjoy it as long as you can. Opportunity never come twice!” ekspresi serius Mi Kyung kini berubah kembali lembut dan feminin seperti semula. Membuat Taeyeon teringat dengan Jessica.

“Tapi mengapa ini semua terjadi saat semuanya sudah terlalu rumit. Kau pasti tahu bahwa aku memiliki Jessica, Tiffany juga sudah menjadi istri Yoong yang sah. Apa kau pikir aku tak berdosa merebut istri orang lain? Apalagi harus sampai berhubungan intim dengan Tiffany karena aku sekarang ada di tubuh suaminya. Apa yang harus kulakukan..??” Kebingungan dan frustasi kini hinggap di muka Taeyeon.

“Berbohong padanya mengaku kau adalah suaminya karena kini kau ada di badan Yoong, kau tidak berdosa karena telah menggunakan badan ini untuk mendapatkan cinta gadis yang selama ini kau cintai Taeyeon-ah. Atau Jujur pada Tiffany bahwa kau adalah Kim Taeyeon, Pria yang selama ini masih ada di hatinya tanpa ia sadari…” Mi Kyung menatap Taeyeon dengan senyum lembutnya, menggenggam kembali tangan pria itu.

“Maksudmu?”

“Lebih baik kau diam dan perhatikan ya..” Mi Kyung lalu mengedipkan mata kanannya, kembali membawa Taeyeon menembus dimensi lain sehingga membawanya ke ruang waktu yang lain. Taeyeon kembali mengikuti Mi Kyung yang kini telah membawanya menuju sebuah taman yang tak tahu ada dimana.

“Ahhh kita ada dimana? Mengapa kau hobi sekali membawaku ke tempat asing secara tiba-tiba. Eugh sepertinya aku ingin muntah..” Kemudian Taeyeon berlari ke semak-semak terdekat, mengeluarkan hampir semua konten dalam perutnya. Kini Mi Kyung sudah ada di samping pemuda yang masih merasakan mual di perutnya itu. Mi Kyung memberikan obat dan segelas teh hangat kepada Taeyeon yang masih pusing.

“Thanks..” Taeyeon kemudian meminum obat itu, beberapa menit kemudian Mi Kyung sudah membawanya kembali ke posisi dimana mereka pertama tiba di taman yang kini hanya terlihat seorang gadis cilik bersama anjing yang menemaninya. Mi Kyung membawa Taeyeon ke tempat persembunyian yang posisinya lebih dekat dengan gadis itu.

“Siapa dia?” Taeyeon mengamati gadis itu dengan penasaran, membuat Mi Kyung memukul kepala Taeyeon dengan ringan.

“Aigoo…kau lupa pada cinta pertamamu?” Mi Kyung menunjuk gadis yang kini tengah bermain ayunan dengan anjing yang setia di sampingnya.

“Maksudmu.. Tiffany?” Taeyeon kembali mengamati gadis yang tengah tersenyum pada anjingnya, menunjukkan eye smile khasnya yang membuat Taeyeon percaya bahwa gadis itu adalah Hwang Miyoung.

“Tentu saja.. dan sekarang lebih baik kau dengar baik-baik apa yang akan dikatakan Tiffany..” Mi Kyung menjentikan telinga Taeyeon, membuat pria itu bisa mendengar lebih jelas apa yang Tiffany bicarakan pada anjingnya.

“Romeo… Taetae belum mengirimi aku surat.. Bagaimana ini?”Senyuman Tiffany kini digantikan ekspresi sedih.

“Aku merindukannya Romeo… sangat merindukannya… Apa ia merindukanku? Ucap Tiffany kini menghapus air mata di pipinya. Kemudian ia tersenyum pada Romeo, lalu membawa anjingnya berlari keluar daerah taman.

“Apa maksudmu membawaku ke tempat ini? Jika kau ingin meyakinkanku bahwa selama ini Tiffany mencintaiku hanya dengan peristiwa ini maka selamat, kau gagal!” Ucap Taeyeon pada Mi Kyung yang malah tersenyum mendengar ucapan ketus Taeyeon. Mi Kyung menarik Taeyeon dan membuat mereka menghilang seketika dari taman itu. Kini mereka tiba di kamar yang dihiasi berbagai benda yang berwarna PINK. Dari sini Taeyeon sudah bisa menebak bahwa ini adalah kamar Tiffany. Ia melihat Tiffany yang sedang menulis sesuatu di Diarynya. Sepertinya Tiffany sedang serIus sekali menuangkan isi hatinya.

Diary.. sekarang sudah 2 tahun aku dan Taeyeon berpisah. Aku ingin sekali bertemu dengannya lagi dan mengatakan bahwa selama ini aku menyayanginya. Tapi kurasa Tuhan punya rencana lain untukku. Aku yakin Tuhan pasti akan mempertemukanku dengannya lagi..” Ucap Tiffany yang masih menulis di buku hariannya.

“Selama ini ia hanya sayang padaku…sebagai sahabat. Iya..pasti hanya sampai situ, tidak lebih!” Ucap Taeyeon meyakinkan dirinya sendiri.

“Benarkah?You’re unbelieveble Taeyeon-ah….” Ucap Mi Kyung tertawa tak percaya dengan pengingkaran Taeyeon, lalu membawa Taeyeon ke tempat lain dengan jentikan jarinya.

       Kini mereka telah tiba di pinggiran sungai Han yang begitu indah dan damai. Mi Kyung membawa Taeyeon mengikuti Tiffany yang sedang melempar batu ke sungai yang terkenal itu. Dari ekspresinya, Tiffany sungguh kesal terhadap sesuatu, sehingga wajahnya begitu kusut.

“Mengapa kau tega sekali membohongiku…Urgh Choi Siwon!” Air mata kini terlihat di wajah cantik Tiffany yang membuat Taeyeon dengan segera mendekatinya.

“Jangan menangis Miyoungie…” Taeyeon berusaha menyapu air mata Tiffany yang sepertinya tak bisa melihatnya.

“Andai saja kau ada di sini…mungkin semuanya takkan seperti ini. Siwon takkan membuatku kecewa…karena kau yang akan menjadi pria chingguku, bukan dia. Aku juga mungkin takkan terlena dengan cinta Siwon. Karena aku yakin kau memiliki perasaan yang lebih padaku Taeyeon-ah…Tapi apa aku hanya berkhayal, berharap bahwa selama ini kau mencintaiku?” Ucap Tiffany pada dirinya sendiri.

“Tidak Fany-ah, kau benar….aku mencintaimu!” Taeyeon kembali mencoba memegang tubuh Tiffany, tapi tak ayal Tiffany tak bisa mendengar ataupun merasakan sentuhannya.

“Apa kau sekarang sudah yakin?” Mi Kyung bertanya pada Taeyeon yang masih mencoba membuat Tiffany melihatnya.

“Aigoo.. sepertinya masih belum ya? Baiklah..” Mi Kyung kemudian menjentikkan jarinya lagi, membuat suasana kini berganti.

“Taeyeon-ah…akhirnya aku bertemu lagi denganmu! Aku sungguh senang…Terima kasih Tuhan. Aku ingin mengatakan betapa aku mencintaimu…” Ucap Tiffany yang memeluk bantal pinknya begitu erat. Sebelum Taeyeon sempat berbicara apapun, Mi Kyung telah membawanya ke tempat lain, dengan jentikkan jarinya.

     Kini Taeyeon dan Mi Kyung berada di taman sekolah SMA Hanyoung. Disini Taeyeon melihat Tiffany yang menatap langit dengan senyum kesedihan di wajahnya. Perlahan Taeyeon mendekati Tiffany yang masih terdiam menatap mendungnya langit Seoul saat itu. Kini ia duduk di samping gadis yang masih berlinangan air mata itu. Melihat Tiffany yang seperti itu, hati Taeyeon ikut sakit. Ia tak bisa melihat Tiffany seperti ini.

“Kau kenapa Fany-ah? Apa ini karena Yoong menyakitimu?” Ucap Taeyeon pada Tiffany yang tak menggubrisnya.

“Kau takkan bisa berkomunikasi dengannya saat ini Taeyeon-ah…Jadi lebih baik dengarkan saja semua yang akan Tiffany ucapkan.”Ucap Mi Kyung dengan lembut.

“ Taetae…harus kuakui aku menyukai Yoong. Ia adalah pria yang baik dan merupakan tipe ideal semua wanita. Tapi aku tak bisa mengalahkan rasa cintaku padanya dengan cinta yang kurasakan padamu. Saat hari ini aku akan menyatakan cintaku padamu, ternyata kau telah menjadi milik orang lain Taeyeon-ah…dan orang itu Jessica, sahabatku sendiri. Tuhan…ini begitu sakit! Mengapa aku harus merasakan ini semua??” Ucap Tiffany kini menangis dalam keheningan.. membenamkan wajahnya di tangannya, berharap suara tangisannya tak menarik perhatian orang-orang.

“Fany-ah… jadi selama ini aku yang telah menyakitimu? Tapi bukankah kau.. mencintai Yoong?” Kebingungan dan kesedihan kini tergambar di muka Taeyeon, menatap Tiffany tak percaya.

“Itu benar Taeyeon-ah…selama ini kalian berdua telah menyakiti diri kalian sendiri. Memang benar jika kau berpikir bahwa Tiffany mencintai Yoong, tapi kau juga sekarang tahu kan bahwa sebelumnya Tiffany lebih dahulu mencintaimu. Tapi ia tak mau mengecewakan sahabat terbaiknya, Jessica. Maka dari itu ia mencoba menutupi perasaanya dan beralih pada Yoong. Tapi jauh di dalam hatinya, rasa itu masih ada karena kau adalah cinta pertamanya. Dan cinta pertama takkan pernah mati, so this is your chance Taeyeon-ah…” Ucap Mi Kyung yang kini telah membawa Taeyeon kembali ke atap rumah sakit tempat mereka pertama bertemu tadi.

“Tapi ia sekarang telah menjadi istri orang lain…aku tak bisa merebutnya dari Yoong!”Kini Taeyeon berjalan menjauhi Mi Kyung yang masih berdiri di tempatnya.

“Lalu kau memilih untuk mati dan membawamu langsung ke Neraka?” Ucap Mi Kyung dengan nada serIusnya membuat Taeyeon terkejut dan kembali menatapnya tak percaya. Seperti tahu dengan apa yang akan Taeyeon tanyakan, Mi Kyung berbicara.

“Jika kau memilih untuk menyerah, maka kau sudah membuat Yoong ikut mati dan itu dengan praktis telah membuatmu mendapatkan 1 tiket gratis ke neraka.” Ucap Mi Kyung dengan tenang lalu menghilang dari hadapan Taeyeon yang masih terkejut.

“Apa yang harus kulakukan?” Taeyeon terdiam.. bingung dengan keputusan yang akan ia ambil. Ia tahu.. jika ia memilih keputusan yang salah.. semuanya akan berubah menjadi lebih buruk.

===========================================================

====================================

Jangan dibawa pusing bacanya.. bawa enjoy aja.. anggap saja semua yang dituliskan di FF ini bisa terjjadi di dunia mereka hahaha

Panjang kan?

Masih pada inget atau udah lupa ceritanya?

hahaha gw aja yg nulisnya lupa apalagi kalian..

tapi.. gpp sih.. klo gw sekali baca lagi.. langsung inget hehehe

selamat menikmati dan jangan lupa jaga kesehatan kalian..

oh ya.. comeback soshi kayanya seksi ya? pas bulan puasa lagi…

mantap *_*

oke.. see you again di The Reason Is dan Earned It ^_^

Iklan

80 pemikiran pada “Love Itself Chapter 16

  1. anyeong thor,jumpa lagi dngan sya si reader ketce…aigoo thor nih gua jadi binung harus kasihan ama siapa??? kalo gg comback sexy y liat pas bln puasa berakhir T_T..OK thor,,fightaeng!! yang INTO jan lupa lanjut #apasihloe

  2. Duh kok gini :3 trus nanti jessica gimana? *bingung* eh keep calm ,keep calm ..
    Udah terlanjur seneng karna taengsic,eh jadinya gini :3 penasaran bingo lanjutannya gimana 😀
    Ditunggu yap,dan samoai jumpa di karya selanjutnya

  3. Rada lupa ma nih cerita .kekeke
    Aigoo kenapa jadi gini sih , terus kemana pergi’a yoong klo di dlm tubuh’a ada taeng ?
    Yah kasian yoong’a nih ma jessi )’

  4. Oemji makkkk!! napa smua ny jd kek bgini sih thor? bingung sumvah gw baca nya lol
    balikin ke awal lgi yeeee bneran udh terlanjur seneng ama pairing sbelum nya 😀
    duhhhh penasaran bet gmn next nya 🙂
    okay, di tggu next part nya.

  5. Kok rumit gini sih,mending pany blom nikah,nah ini gak mungkin jga kn tae gak sentuh2 pany gtu ntar panyx curiga lgi lok dy gak di itu2in #apadehh, scra lok nengok kblakang mrk kn sling cinta,yg pling jd korban kn pany,polyandri haha ntar bingung cp yg punya anak kekeke#kjaohan deh pikiranq,,,
    lgian q sebel bnget np taeny kisahx jd runyam:-(

  6. taeeeee ternyata selama ini kalian suka sama suka ya andai aja kalian tae ama fany jujur dari awal pasti jadian tu tp kasian sica juga sih
    trus sica gmna ampe kapan tae gak sadar

  7. hah,,,complicated bgd lah nih crita,,,
    nih gegara taruhan taengsic waktu itu,,yg bikin taeng hrs pura” jd pacar nya jessie daaan waaalaaa ppany salah paham dan semua nya jd kacau,,,
    aish,,,

  8. Oh jd gitu pany jg menyukai taeng tp karena taeng jadian dengan jessica duluan jd pany menyerah
    emang taeny gx bisa terpisahkan walau dengan cara yg kaya gitu
    kasian sica dong yg menunggu taeng sadar, dan bagai mana kabar yoong kemana ia pergi ?

  9. Ihhh u mahhh kebiasaan banget deh thor selalu ngebolak balik cerita gitu aja 😢 #yahh wajar lah secara u sendiri authornya
    Tapi tetep aja gw agak gimana gitu karna gw kesel ama taeng masa dia enggak liat c gimana pengorbanan sica buat dia grrrr 😈 ughhh gedek banget gw kalo ada cowok kaya gitu yg egois mikirin diri sendiri tanpa mikirin perasaan orang lain,u pasti juga kesel kan thor kalo ada yg kaya gitu ama u #lohhh kenapa gw jadi mencak mencak ama u y 😀 piss author

  10. Jadi taeyeon sama yoong ketuker nih waddoohh, jadi agak ribet yaa trz apa yoong nya bakal hidup lagi apa bakal koma terus, okee di tunggu terus lanjutannya penasaran gw

  11. kalo tae sekarang ditubuh yoong, trus yoong kamana dmana???
    jadi selama ini tae sama fany ounya perasaan yg sama???
    yoong berarti cuma pelariannya fany aja dong???
    banyak pertanyaan yg masih ingin ditanyakan, tp sudahlah,,
    tunggu chap selanjutnya aja..

  12. akhirny update LIS jg lu thor..
    woah..woah..
    kok jd rumit gini critany..
    kasian yoonsic donk..
    pdhl dh suka kmren critany yoonfany.. aishh..
    demen bgt author yg satu ini bwt gw gmn gt..
    misalny im g kembar kn yoonsic bisa bareng klw akhrny bgtu critanye.. huee kasian sica ny tuh..

    thx dh update.. semangat trus

  13. waduh waduh kok jd bgini ya
    kl jiwanya taeng ada di tubuhnya yoong, brarti ntr taeng gak bangun2 donk
    nah tuh apalagi si miyoung, jd slama ini cm pura2 cinta sm yoong
    kl emng bneran kyk gitu, kasian yoonsic donk
    itu mksdnya jieun apa ya?trus yg ngeracunin yoong sp kok bwa2 nm tiffany
    ok thor lnjut deh, mkin pensaran nih kl kyk gni

  14. Lupa lupa ingat thor gue ama chap terahir ff ini :v hahaha
    Itu kenapa juga harus tukeran badan sma yoongg -_- ntar kalaw fany anuan sama taeng kan makin ribet 😥

  15. anneyonghaseo…
    sbnrna ud ga terlalu ngikutin nie crta krna yoongfany hhe tp td baca komen yg lain ad taeny na hhe..
    yah klo pun taeng milih ma fany tp kan ttp aj thor yg fany tau dan seluruh dunia tau itu yoong??taeng na jg psti juga ga mw bersatu sama fany tp dgn tubuh na yoong??
    taengsic juga gpp cey..

  16. huwaaaaa wae??? wae taengsic dapat cobaan? aigoo~ taeng pake ketuker lagi jiwanya ke yoong.. terus yoong nya masih kemana2 gtu jiwanya?? aduuhh oppa tampan entah kemana. T.T kembalikan yoonan Ris. hohoho

  17. YES TAENY MASIH ADA KESEMPATAN BUAT BERSATU!!!!
    Dan akhrnya gue ngerti sama apa yg dibilang jieun. Ternyata si jieun mau ngasih kesempatan buat taeng biar bisa deket lagi kan sama fany dan dia bakalan tetep ngejagain yoong dialam sana..gu sempet bingung tuh sama kata2nya jieun

    Tuhkan bener feeling gue kalo fany tuh sebenernya masih ada rasa2 buat taeng tapi dia berusaha buat ditutupin. Ah pabo kalian berdua malah jadinya saling menyakiti-,- entar sica dipertemukan ajalah sama yul dan yoong jatuh cinta kek gitu sama seohyun..biar taeny bisa bersatu

    Semangat taeng ini kesempatanmu!!semoga aja taeny bisa bersatu. Please bgt buat authornya bikin taeny bersatu di akhir nanti T__T

  18. O.M.G kenapa jadi begini ?
    Seneng sih TaeNy jadi bisa bersatu saling mencintai, tapi kasian Yoong sama Sica 😦
    semoga akhirnya semuanya bisa bahagia deh 😉
    Author hwaiting!!! Keep update thor 😀

  19. ooo blog ini msh aktif th???
    kirain udh nda
    maaf ye thor aku br nongol
    kmaren2 sempt sih bc 1 2 ff mu tpi gk ninggalin jjk krna kirain udh gk aktif lg
    dan skarng gw tobat thor.hehehe

    tpi jgn sih misahin yoong sm fany thor nanti klo tae sm fany trus nsib si kembar t g mn??
    please jgn misahin yoonfany
    aisshhh siapa lg yg ngasi t racun ke yoong oppa
    awas ya klo gw dah tau siapa orgx gw sumpl t mulut pk lakban
    oke sekian dan trimakasih
    hahaha

  20. aq hampir lupa sama cerita ini..nti di baca chap trakhir sblm ini baru ngerti lagi hehe..
    nah loh tuh kan trnyta ada sesuatu trjadi sama kalung loksmith mreka..yoong blum sadar..klu sadar gimana ya..????

  21. hahahaha ciyus thor????
    ku bnr2 ndak ikhlas lo taeny huu kasian yoongpa
    awas y klo tau cp yg racunin uri yoongpa gw mutilasi lo (sadis amaatt)

    tpi kpn update lg yg ni thor?
    gk sbr ne (pnasaran bgt)

  22. yaampun, jiwa tae masuk ke tubuh yoong? terus jiwa nya yoong kemana? apa dia juga masuk ke tubuh tae? makin penasaran kelanjutannya, thor kapan update? ga sabar ni sama cerita hubungan mereka apalagi sama hubungan taeny setelah yoongtae koma. cepat update lah thor.. please.. aku menunggumu. *bbuing bbuing*

  23. Cerita yang lu buat bener2 kece badai thor suka bingit lah!!!! Aarrghhh… cuma ini juga gada kelanjutannya lagi ya? Penasaran bingit thor.. kapan update yang ini?

  24. jeng jeng jeng , yoong taeng koma , tukeran roh ,, yoong jadi taeng , dan yoong entah kemana , dijagain sama jieun di surga . lebih kesini kasian amat sama sica nya , bgmana ya , taeng , dia mau kasi thu yg sebenarnya atau nggak ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s