I’m Not The Only One

PhotoGrid_1433500034927

GENDER BENDER!!!!

Genre: Romance, Hurt.

Pairing: Taeny (pairing utama) and the others.

“I Have Loved You For Many Years.. Maybe I Am Just Not Enough..”

Now Playing: Sam Smith-I’m Not The Only One

“.. apa kau akan memberitahu ini semua?” seorang wanita masih menggunakan pink bathrobe berjalan menghampiri pria yang masih terdiam menatap lalu lalang Seoul yang selalu sibuk dengan semua cerita yang bermain di dalamnya.

“Apa aku harus memberitahunya? Apa ini semua akan memberikanku kebahagian?” Pria itu menghirup kembali cerutu yang sejak tadi menemaninya, menghapus rasa pilu dan sepi di hatinya.

“Tapi kau tidak bisa begini terus..” wanita itu menutupi punggung pria itu dengan selimut yang dibawanya tadi. Pria itu masih terdiam, entah menikmati cerutu yang menghangatkan tubuhnya atau kehadiran wanita disampingnya.

“Kau pantas mendapatkan yang lebih baik.. dan ini bukan cara terbaik untuk menyelesaikan semua kekacauan ini..” Wanita itu menelusupkan kedua tangannya ke dada pria itu, memeluknya dari belakang, mencoba memberikan kehangatan lain yang prianya butuhkan, bukan cerutu.. rokok.. minuman keras.. obat-obatan terlarang atau apapun yang bisa menghilangkan kepedihan hati pria itu dengan cara yang mematikan.

Prianya..

Kata itu terdengar Menyenangkan.. dan Menyedihkan.

Ia tahu bahwa saat ini ia tidak berada di posisi untuk memanggil pria itu sebagai prianya.

Tapi ia sudah menetapkan hatinya untuk membuat prianya itu ada.. nyata.. tak menyedihkan ataupun miris seperti yang terdengar tadi.

Karena pria itu pantas mendapatkan yang terbaik.. dan dirinyalah yang pantas menyandang gelar itu setelah semua yang terjadi dalam hidup prianya dan dunia yang berputar di sekitarnya.

======== I’m Not The Only One ========

“… apa kau menerima pria di sampingmu ini sebagai suamimu?” suara itu membuat semua ketakutan gadis yang disebutkan tadi tiba-tiba hilang. Ia lirik pria yang menatapnya penuh harap dan cemas. Senyum itu perlahan terlukis di wajahnya. Kekasihnya itu.. no.. calon suaminya itu terlihat tampan sekali dengan tux hitam classic yang sahabatnya buatkan untuknya. Kekasih 10 tahunnya itu berusaha focus mendengarkan ucapan pastur tadi. Ada beberapa tetesan keringat yang mengalir di pelipis matanya diikuti dengan wajah pucat pias pasi yang ajaibnya membuat kekasihnya itu malah terlihat semakin tampan.

“Gwenchana?” suara itu membuat wanita tadi membuka matanya perlahan. Nafasnya masih tersengal tak beraturan. Suhu tubuhnya masih tinggi. Keringat masih terus keluar dari tubuhnya. Sambungan itu masih belum terputus, membuat wanita itu kembali sadar akan keadaannya sekarang.

“Apa aku terlalu keras melakukannya?” sang pria berhenti mendorong miliknya memasuki milik wanitanya itu. Meskipun tubuh mereka telah menyatu sejak beberapa menit yang lalu ia tahu bahwa wanitanya itu sedang tak ada bersamanya, pikirannya terbang jauh entah kemana.

“Tidak.. kau melakukannya dengan baik..” wanita itu memberikan senyum khasnya yang membuat pria yang masih mendekapnya begitu erat menganggukan kepalanya, tapi masih belum melanjutkan kegiatan yang memabukan bagi keduanya itu.

“Kau.. sedang memikirkannya?” pria itu menyentakkan miliknya lebih keras ke pusat kenikmatan wanitanya yang meringis menerima hal itu. Ia sentakan lagi lebih cepat dan keras membuat ringisan itu berubah menjadi lenguhan penuh kenikmatan yang selalu menjadi music paling indah di telinganya.

“Anghh.. arhh..” air mata perlahan mengalir dari kedua mata wanita itu. Segera ia telusupkan kepala pria yang masih sibuk menjamahnya itu ke dadanya, mengalihkan perhatian pria itu agar tak memberikan pertanyaan yang kembali mengoyak hatinya.

“Jawab aku.. jawab ak.. ahhh.. sayang…” pria itu semakin membabi buta menyiksa wanitanya itu dengan mengulum buah dada wanitanya itu, menjilat , menyesap dan memberikan gigitan-gigitan kecil yang membuat teriakan wanitanya itu muncul.

“Arhhh.. aku.. arhh.. tak.. arhh.. mungkin.. heunghh.. memikirkannya…” tanpa wanita itu sadari tubuhnya menyambut kenikmatan yang diberikan prianya itu. Pinggulnya seolah bekerja secara otomatis mendorong hantaman dari milik prianya itu sehingga menyentuh titik kenikmatan tak terduga yang selama ini begitu ia rindukan dari belahan jiwanya.. hidupnya… yang selalu ada tapi tak pernah ada… menyapanya tapi tak bersemangat memeluknya.. tapi tak lagi menghidupkan kegembiraan lagi.. mencumbunya.. tapi tak lagi membuatnya menghangatkan hatinya.

“Bagus..” pria itu tersenyum lebar lalu kembali mencumbu wanita yang sebenarnya terlarang baginya. Senyuman itu muncul juga karena wanitanya itu kini mulai benar-benar terhubung dengannya. Lembah kenikmatan itu mengikatnya begitu erat, mendekap miliknya yang berharga itu begitu hangat, membuatnya menderam penuh semangat dan kenikmatan menyentakan lagi dan lagi senjata pemuas hasrat dan nafsunya.

======== I’m Not The Only One ========

 z3j7

“Mommy..” Yoojung menggetarkan pinggang wanita yang masih focus memasak sesuatu di penggorengannya. Wanita yang dipanggilnya itu segera melirik gadis kecilnya itu, tersenyum melihat wajah penuh semangat bercampur polos yang mengingatkannya akan sesuatu yang dicintainya.

“Ya sayang??” wanita itu mengecilkan kompornya lalu merunduk agar ia bisa selevel dengan gadis kecilnya yang imut itu… sama seperti ayahnya.

“Aku membuatkan ini untukmu..” Yoojung mengeluarkan sesuatu dari balik pinggangnya, mengeluarkan sebuah buku gambar yang membuat wanita itu penasaran. ia tahu gadis kecilnya itu senang sekali menggambar dan mewarnai, mengungkapkan apa yang ada di hati.. otak dan perasaannya dalam gambar yang unik dan menakjubkan untuk gadis seumurannya, sama seperti ayah gadis itu.

“Kau.. menggambarku?” Yoojung menganggukan kepalanya perlahan kali ini, tersenyum lembut pada wanita yang selama ini selalu ada di sampingnya, merawatnya penuh dengan cinta.

“Aku mencintaimu Mommy..” Yoojung mengecup kedua pipi wanita itu lalu memeluk wanita di hadapannya itu ringan.

“Aku juga mencintaimu Sayang..”

“Yoojung-ah..” Yoojung menolehkan kepalanya mencari sumber suara itu, suara yang begitu ia rindukan.

“Appa.. bogoshipoyo.. neomu.. neomu bogoshiposo..” {Maaf gw blm bisa bahasa korea hehe}

“Nado sayang.. nado.. sini peluk dulu Appa-mu ini..” Taeyeon membuka lebar kedua tangannya, bersiap menerima pelukan malaikatnya yang sudah 2 hari ini tak ia rasakan. Perjalanan bisnisnya ke Tokyo kemarin ternyata membutuhkan waktu yang lebih dari yang telah diperkirakan.

“Appa.. kau semakin tampan..” Yoojung melepas pelukan itu, kembali mengamati wajah Appa-nya yang selalu terlihat muda.. segar dan bercahaya. Baru 2 hari ia tak bertemu dengan ayahnya tapi rasanya sudah begitu lama waktu berlalu.

“Hahaa.. putri Appa juga semakin cantik.. aigoo.. apa sudah ada pria yang memintamu menjadi kekasihnya?” Taeyeon tertawa layaknya ahjushi-ahjushi genit, membuat putrinya itu menatapnya dengan kengerian.

“Kau tidak boleh menggoda putrimu seperti itu Kim Taeyeon..” Tawa itu mulai mereda tapi tidak dengan wajah cemberut yang Yoojung tunjukan pada ayahnya. Taeyeon segera merundukan tubuhnya, berjongkok sejajar dengan putrinya yang sangat ia sayangi.

“Kenapa kau cemberut seperti itu sayang?” seorang wanita berjalan mendekati putrinya yang semakin imut dengan rengutan di wajahnya. Taeyeon yang tadi membelakangi wanita yang baru datang itu segera berdiri membalikan direksi tubuhnya. Ia tersenyum menatap istrinya yang baru saja datang.

“Umma… akhirnya kau pulang juga!” Yoojung terlihat begitu senang melihat ibunya datang. Ia berlari memeluk Tiffany yang membawa paper bag pink ukuran sedang di tangan kirinya.

“Apa ini Umma?” Yoojung bertanya dengan polosnya membuat Tiffany mengecup hidung putrinya itu.

“Ini hadiah untuk putri Umma yang sedang sedih.. apa ini semua karena Appa-mu sayang?” Tiffany bertanya pada Yoojung yang segera menganggukan kepalanya. Taeyeon terlihat gelagapan saat istrinya itu memberikan tatapan tajamnya, tapi disertai senyum jahil di belakangnya.

“Baiklah.. Umma akan menghukum Appa-mu sekarang. Kau bisa bermain dengan aunty Jessi dulu ya sayang..” Jessica menganggukkan kepalanya, mengerti dengan sinyal yang diberikan sahabatnya itu. Yoojung tak memperdulikan lagi ayahnya yang terlihat ketakutan menerima hukuman dari istrinya.

“Hai baby.. aku merindukanmu..” Tiffany memeluk Taeyeon yang segera menerima pelukannya. Ia tangkupkan kepalanya di bahu suaminya yang sudah 2 hari ini tak ia temui.

“Aku juga..” hanya itu balasan yang keluar dari bibir Taeyeon. Tiffany semakin mengeratkan pelukan itu, berusaha mendapat kehangatan yang selama ini selalu menyamankan hatinya. Untuk beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti tubuh mereka. Taeyeon bisa merasakan detak jantung istrinya itu bergerak lebih cepat. Lalu bagaimana dengan miliknya? Ia berharap ia bisa seperti itu.

“Kenapa jantungmu berdetak lebih cepat dari biasanya?” kata-kata itu keluar tanpa permisi dari bibir Taeyeon. Tiffany melepaskan pelukan itu, ia menatap suaminya dalam. Wajah putih… bersih dan awet muda itu.. ia sungguh beruntung memiliki Taeyeon sebagai suaminya selama 8 tahun pernikahan mereka.

“Karena aku begitu mencintaimu..” Tiffany mengelus kedua pipi suaminya itu, mulai mendekat mencoba mengecup bibir itu. Taeyeon tersenyum kecil mencoba mendekat juga, menyatukan bibir mereka dalam kecupan lembut yang sejujurnya ia rindukan juga.

“Kau juga kan Taetae?” Taeyeon tersenyum kecil mendengar nama itu. Ia menganggukan kepalanya perlahan lalu kembali mengecup bibir istrinya itu.

“Taetae..” Taeyeon mendongakan kepalanya mendengar gadis di sebelahnya itu memanggilnya dengan panggilan aneh.

“Taetae?” Taeyeon bertanya pada kekasihnya yang terlihat begitu senang mengucapkan nama aneh itu.

“Iya.. Taetae. Mulai sekarang aku akan memanggilmu itu…” Tiffany mengecup bibir prianya itu singkat. Ia tahu Taeyeon pasti takkan bisa menolak permintaannya jika ia sudah memberikan kecupan itu.

“Tapi Fany-ah.. itu terdengar aneh sekali..” Taeyeon terlihat tidak nyaman dengan panggilan barunya itu. Sudah 1 tahun mereka berpacaran tapi baru kali ini ia mendengar panggilan aneh itu. Biasanya Tiffany hanya memanggilnya sayang.. baby.. atau kata lain yang memang kadang membuatnya sedikit tidak nyaman tapi perlahan bisa ia terima dan ia ikuti karena cintanya itu pada sang kekasih.

“No.. Taetae itu cute baby. Nama itu.. hanya aku yang memilikinya.. dan hanya aku yang boleh memanggilnya..” semangat dan energy positive itu kembali terlihat di mata Tiffany.

“Kenapa?”

“Karena kau satu-satunya priaku Kim Taeyeon.. selamanya..” senyum itu perlahan tergambar di wajah Taeyeon yang semakin hari semakin mencintai wanita yang tak henti mengalihkan dunianya.

 

“Euhmp.. maaf mengganggu moment kalian..” Tiffany melepaskan pagutan bibir suaminya yang sedari tadi melahapnya. Ia torehkan kepalanya kesamping mendapati pria yang tadi mengantarkannya berdiri membawakan kotak lain yang sepertinya tertinggal tadi.

“Oppa..” Taeyeon tersenyum kecut dalam hatinya melihat scene yang bermain di hadapannya. perlahan ia hampiri pria itu.

“Hyung.. apa kabar?” pria itu segera memeluknya, menyapa sepupu yang begitu dekat dengannya.

“Baik.. baik sekali.. bagaimana denganmu?” pria bermarga choi itu kembali bertanya pada pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

“Aku juga baik hyung..” nada itu terdengar berat sekali.

“Bagus.. Tiffany dan Yoojung membutuhkanmu.. kau harus selalu dalam kondisi baik Taeyeon-ah. Oke.. ini barangmu yang ketinggalan di kantor tadi Fany-ah.. aku pamit..” Siwon memeluk kembali adik sepupunya itu lalu memeluk Tiffany yang tak tahu kenapa merasa tegang saat ini.. saat pria itu memeluknya, mengelus punggungnya pelan.

“Sampaikan salamku pada Yoojung..” dengan itu Siwon berjalan ke pintu keluar kediaman keluarga Kim. Tiffany melihat suaminya itu menatap arah kepergian Siwon dengan tatapan kosongnya. Ia merangkul kembali lengan suaminya yang segera teralihkan perhatiannya karena aksinya itu.

“Ini khusus untukmu Baby..” Tiffany memberikan kotak baby blue yang dihias begitu simple dengan pita selaras di atasnya. Taeyeon memandang wajah istrinya itu heran. Tiffany tersenyum manis melihat tingkah suaminya yang cute itu.

“Apa ini?” kotak itu mulai Taeyeon buka sementara Tiffany masih diam tak membuka mulutnya.. hanya tersenyum manis pada suaminya.

“Sesuatu yang berharga untuk satu-satunya pria di hidupku..” Tiffany mengecup bibir Taeyeon yang terdiam mematung memegang sebuah kunci yang tuhan tahu apa itu maksudnya.

“Fany-ah.. kau pasti sedang bercanda..” Taeyeon menggelengkan kepalanya… tertawa kecil melihat istrinya yang segera memegang tangan kirinya, membawa suaminya itu berjalan ke halaman depan rumah mereka. Di garasi sudah terparkir mobil Hummer nitro blue yang terlihat begitu gagah dan keren.

“Semoga kau menyukainya sayang.. aku mencintaimu..” Tiffany mulai memeluk Taeyeon yang masih terdiam membalas pelukan itu dengan senyuman kecil di wajahnya. Hanya Tuhan.. Taeyeon.. dan Tiffany yang tahu apa mungkin.. arti dari senyum itu.

======== I’m Not The Only One ========

Yes, I do, I believe
That one day I will be
Where I was right there
Right next to you

“.. kita harus menutup peti Taeyeon sekarang.. kau harus bangun.. kumohon..” Jessica berbicara masih dengan nada dingin dan datarnya. Tiffany tak menggubris ucapan sahabatnya itu, ia masih menyenderkan kepalanya di sisi peti kayu putih itu. Pria yang berbaring dalam peti itu terlihat begitu tampan dengan tux putihnya.

Wajah yang dulu selalu tersenyum hangat pada Tiffany kini terlihat begitu kaku dan pucat. Tapi wajah baby face itu masih menunjukan pesonanya bagi Tiffany. Ia tersenyum dalam tangisannya menyentuh wajah Taeyeon. Jessica terdiam melihat itu. Tak tahu harus berkata apa, rasanya semua hal itu bergejolak dalam dirinya.

And it’s hard
The days just seems so dark
The moon, the stars
Are nothing without you

“Taeyeon-ah..” rintihan itu masih terus terucap dari bibir Tiffany. Ia masih tak bisa mempercayai bahwa semuanya terjadi padanya. Harinya terasa tak nyata saat ia mengetahui bahwa Taeyeon telah meninggal. Ya.. Taeyeon meninggal karena menyelamatkannya.. menyelamatkannya dari kebodohannya sendiri. Ini adalah hari kedua Taeyeon pergi tapi semua tak lagi sama. Tiffany merasa dunianya menjadi gelap. Bulan dan Bintang tak berarti apapun tanpa hadirnya Taeyeon di hidupnya.

Your touch, your skin
Where do I begin?
No words can explain
The way I’m missing you

Masih lekat di ingatan Tiffany bagaimana sentuhan terakhir yang Taeyeon berikan padanya. Sebelum matanya benar-benar tertutup.. suaminya itu sempat meminta kedua tangannya untuk ia kecup. Kata tak bisa terucap saat bibir itu mengecup kening dan puncak kepalanya. Tak ada kata yang bisa menggambarkan betapa rindunya Tiffany pada Taeyeon yang akhirnya menghembuskan nafasnya setelah kecupan terkahir di puncak kepala Tiffany.

Deny this emptiness
This hole that I’m inside
These tears
They tell their own story

“Fany-ah..” giliran Siwon kini yang berucap pada wanita yang diam-diam menjadi kekasihnya itu. Ia tak tahu harus merasakan apa saat ini. Di satu sisi Siwon senang bahwa Taeyeon kini telah sepenuhnya menghilang dari kehidupan Tiffany tapi di sisi lain ia sedih karena sepupu kesayangannya itu telah pergi untuk selamanya dari dunia ini.

“Oppa..” Siwon menggenggam tangan Tiffany yang masih memegang milik Taeyeon. Tiffany mulai menatap Oppa-nya itu dengan kesedihan mendalam yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia telah berusaha mengusir kekosongan dalam hatinya itu tapi tak bisa. Lubang dalam hatinya itu begitu menyesakan baginya. Air mata itu tak berhenti mengalir dari sumbernya. Air mata itu menceritakan cerita mereka masing-masing.

Told me not to cry when you were gone
But the feeling’s overwhelming, it’s much too strong

“Taetae..” Tiffany mengecup kedua tangan Taeyeon.. melepaskan tangan Siwon yang berusaha meraihnya, membawanya jauh dari pria yang selamanya akan ia cintai itu.

Tangan lembut dan hangat itu.. kini telah berubah menjadi dingin dan kaku. Tangan itu.. dulu yang selalu membelainya penuh cinta. Tangan itu.. yang selalu menghapus tangisnya. Taeyeon pernah memintanya untuk tidak menangis saat ia pergi nanti. Tapi Tiffany tak bisa menahan tangis itu.. perasaannya terlalu kuat… semuanya terlalu berat baginya.

Can I lay by your side?
Next to you, you
And make sure you’re alright
I’ll take care of you
I don’t want to be here if I can’t be with you tonight

“Taeyeon-ah.. aku ingin berbaring di sampingmu Sayang.. bisakah?” Tiffany membaringkan kepalanya di dada Taeyeon yang tak lagi naik ke atas dan bawah.

“Aku ingin berbaring di sampingmu. Memastikan bahwa kau baik-baik saja. Aku akan merawatmu.. Aku tak mau berbaring di kamar kita bila kau tak ada disana malam ini..” Tiffany mengelus dada Taeyeon yang begitu nyaman baginya. Ia kecup dada itu.. masih dengan air mata yang membasahi baju suaminya itu.

I’m reaching out to you
Can you hear my call?
This hurt that I’ve been through
I’m missing you, missing you like crazy

“Taetae.. bangunlah..” Tiffany kini sedikit menggoyangkan tubuh suaminya yang masih terbujur kaku di sampingnya. Ia memanggil suaminya itu berkali-kali. Tak bisakah Taeyeon mendengar panggilannya. Rasa sakit yang ia alami sekarang semakin membuatnya merindukan Taeyeon layaknya orang gila yang sudah kehilangan kewarasannya.

“Kau harus bangun… berhentilah menangis..” Jessica kini menarik tubuh Tiffany untuk bangun dari peti Taeyeon. Ia sudah cukup muak melihat semua ini. Tiffany sudah beberapa jam ini terus seperti ini. Proses pemakaman Taeyeon sudah tertunda beberapa jam karena ulah Tiffany yang tak mau melepaskan tubuhnya dari peti mati Taeyeon dan pemiliknya yang terbaring begitu damai dan tenang di dalamnya.

“Jessica.. jangan seperti ini..” Siwon sedikit menarik Jessica agar gadis itu tak menyakiti Tiffany. Ia menahan perlawanan tubuh Jessica yang cukup kuat.

“Oppa.. no.. Mr. Choi.. bawa kekasihmu dari sini..” Jessica menyentak pria bertubuh atletis itu dengan nada membunuhnya yang pelan, hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Mata Siwon terbuka lebar saat mendengar kata-kata itu.

“Kau..” Jessica tersenyum sinis menatap pria di hadapannya itu begitu tajam. Kuncian tangan itu terlepas begitu saja. Jessica segera melepaskan dirinya dari Siwon dan mendekati Tiffany yang masih saja mengganggu Taeyeon meskipun pria itu telah pergi meninggalkannya.

“Cepat bawa Tiffany pergi dari sini.. sebelum aku berubah pikiran dan membongkar semuanya pada keluarga Kim!” Ancam Jessica yang segera mendapat anggukan dari Siwon. Dengan segera Siwon bawa Tiffany yang menangis histeris saat ia dipisahkan dengan suaminya. Ia meronta dalam dekapan Siwon yang semakin membawanya jauh dari Taeyeon.

“Taeyeon-ah… lepaskan aku Oppa.. biarkan aku bersama suamiku!!!” teriakan itu tak membuat Siwon melepaskan Tiffany yang semakin jadi dalam rontaannya. Keluarga besar Taeyeon sudah pulang dari tadi sehingga kondisi rumah duka sudah sepi. Kedua orangtua Taeyeon sudah menyerahkan semua proses pemakaman pada Jessica yang memang sudah menjadi sahabat Taeyeon sejak mereka masih bayi. Mengapa bukan Tiffany?

Melihat kondisi Tiffany yang seperti sekarang membuat orang tua Taeyeon tak mau membebani menantunya itu dengan persiapan pemakaman yang cukup menguras energy dan emosi bagi yang mengalaminya. Jessica sebagai orang terdekat Taeyeon segera menyanggupi untuk menyiapkan semua persiapan pemakaman sebagai penghormatan terakhir bagi sahabatnya itu.

“Lepaskan aku!! Mengapa kalian ingin sekali memisahkan aku dan suamiku!!” Tiffany yang kini berhasil lepas dari dekapan Siwon segera menghampiri Jessica, menampar gadis itu dengan tangan kanannya. Jessica terdiam menerima tamparan itu. Tamparan itu ternyata begitu keras hingga kini darah itu mulai nampak dari bibir Jessica.

“Suamimu? Kapan terakhir kali kau benar-benar membahagiakannya seperti layaknya seorang istri pada suaminya heuh?” pertanyaan itu bagai tamparan keras untuk Tiffany.

“Aku.. aku..” Mendadak semua bayangan itu muncul. Mulai dari awal pertemuannya dengan Taeyeon.. hari dimana prianya itu menyatakan perasaannya. Saat Taeyeon melamarnya dengan begitu romantic… hari pernikahan mereka… dan hari dimana Yoojung lahir. Tapi bayangan lain juga menyusul hadir di otaknya. Saat ia kesepian karena Taeyeon yang masih sibuk mengembangkan bisnisnya. Saat ia pertama kali menerima kenyamanan yang Siwon tawarkan padanya. Dan yang paling menyakitkan adalah.. saat ia bercinta dengan sepupu suaminya itu. Tangis itu kembali menghampiri Tiffany.

“Kau tak bisa menjawab apapun kan? Kau tahu.. kau begitu bodoh Tiff. Aku kira aku mengenalmu tapi tidak. Aku sudah merelakan Taeyeon untukmu saat ia menceritakan padaku betapa bahagianya ia bisa menjadi suamimu.. membesarkan Yoojung denganmu. Tapi kau telah menyia-nyiakan pria seluar biasa Taeyeon.”

“Jessica.. aku..” Tiffany kembali akan berucap tapi sesuatu seperti menghalanginya untuk berbicara.

“Kau pikir Taeyeon tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan lelaki bajingan ini?” Jessica menatap Siwon jijik.

“Dan kau Tiffany.. sahabatku yang paling suci sedunia.. kau menuduh suamimu berselingkuh denganku hanya karena kejadian kemarin? Kau tahu Nona Hwang.. kau salah!”

“Apa maksudmu? Bukankah kalian..” Tiffany kini mulai mengingat kejadian kemarin.. kejadian yang membuat Taeyeon pergi untuk selamanya.

“Aku yang menawari Taeyeon untuk mejadikanku kekasih gelapnya.. sama sepertimu yang begitu lincah menjalankan aksimu berselingkuh di belakang Taeyeon. Tapi kau tahu?? Dia menolak tawaranku. Taeyeon tak semunafik dan sebodoh dirimu Tiff. Dia sudah tahu perselingkuhanmu sejak 1 tahun yang lalu. Dia terlihat begitu hancur saat menceritakan padaku bagaimana ia menahan emosinya saat mengetahui kau bercinta dengan Siwon di rumah kalian. Dia selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini hanya mimpi.. kau akan kembali padanya dan menghentikan kegilaannmu dengan Siwon yang sayangnya.. tak pernah terjadi hingga hari ini..”

“Kau bodoh Tif.. sangat bodoh. Taeyeon sengaja bekerja keras membangun bisnisnya hanya untuk kebahagiannmu dan Yoojung. Dia ingin menjadi pria terbaik untukmu dan ayah terbaik bagi Yoojung. Kau tak tahu kan bahwa Taeyeon menderita kanker pankreas stadium awal? Dia meninggal bukan karena kankernya.. tapi karena menyelamatkanmu.. wanita yang begitu ia cintai meski ia tahu bahwa kau sudah begitu lama menyakitinya.. menduakannya dengan pria yang begitu ia hormati dan sayangi seperti kakak.”

“Kanker?” Jessica berjalan mendekati Tiffany yang mematung di tempatnya mendengar hal itu.

“Ya.. kanker. Kau tahu kenapa? karena sejak mengetahui perselingkuhanmu.. Taeyeon selalu menjadikan rokok dan alcohol sebagai pelariannya. Dia begitu sakit Tiff.. dia ingin berpisah darimu tapi dia tahu bahwa kau adalah sebagian dirinya yang tak mungkin bisa ia hapus dan lepas begitu saja. Setiap hari ia selalu menangis ditemani minuman dan rokoknya. Seumur hidupku.. aku baru kali itu melihat Taeyeon menyentuh dan menggunakan barang-barang seperti itu. Dia begitu hancur Tiff.. dia begitu rapuh. Sekarang dia telah tiada.. dia telah beristirahat dengan tenang..” Jessica tak berhenti meneteskan air matanya mengecup kening pria yang begitu ia cintai dalam hidupnya itu. Tiffany terdiam melihat hal itu.. tak bisa menjelaskan apa yang bergejolak di hatinya saat ini.

“Jadi kumohon.. pergilah..” Jessica kali ini berucap penuh dengan permohonan. Meski berat entah kenapa kedua kaki Tiffany akhirnya berjalan mundur meninggalkan peti itu.. tempat dimana suaminya berbaring. Siwon masih memapah tubuhnya meskipun hatinya tak mengizinkan tubuhnya untuk pergi.

“Taetae…” rintihan itu masih ada meskipun kini ia telah menjauh dari Taeyeon.. masih dengan tangisan yang tak pernah henti membasahi pipinya.

======== I’m Not The Only One ========

Tiba di pemakaman, aku berjalan keluar dari mobilku dengan sebuke bunga di tanganku. Aku tahu orang-orang selalu mempunyai konsep bahwa pemakaman selalu menyeramkan dan penuh dengan hal mistis tapi untukku.. pemakaman hanya satu-satunya tempat dimana aku bisa melihat dan berbicara dengan Taeyeon, setidaknya dalam imajinasiku. Aku belum gila.. tentunya.

Aku melangkahkan kakiku menuju tempat yang selalu kuingat sejak hari itu. Bagaimana aku tak mengingatnya jika aku selalu datang ke sini setiap hari? Aku hanya akan duduk disana hingga Siwon Oppa datang menjemput tubuhku yang tak mau berpisah dengan Taeyeon.

Aku meletakan bunga-bunga itu diatas batu nisan dan mulai duduk di atas rumput-rumput yang tumbuh di sekitar makamnya. Kulihat lagi batu nisan itu dan rasa sesak itu kembali menghampiriku.

Kim Taeyeon, March 9, 1986 August 1, 2016

“Hi Taetae.. rasanya sudah lama aku tak mengunjungimu sayang.. sudah berapa lama ya? 3 hari?” Aku mencoba tertawa dengan candaanku sendiri.

“Sayang.. bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja dimanapun kau berada.. jangan sepertiku yang menderita karena tak bisa hidup tanpamu..” Aku terus menatap nisan itu dan mengusapnya dengan lembut seakan Taeyeon ada di hadapanku. Aku menahan nafasku sesaat.. mulai mengeluarkannya lagi bersamaan dengan air mata yang terbangun di ujung mataku. Aku menarik nafas dan melihat ke atas langit.. mencoba menghentikan tangis itu jatuh lagi.

“Apa kau ingat saat kita bersama? Hari-hari bahagia dan menyenangkan yang kita lewati? Hari dimana kita akan bertengkar karena hal sepele? Hari dimana kita hanya duduk saling menatap satu sama lain dengan berbagai pikiran yang berlalu lalang di pikiran kita dan mengkomuniksikannya tanpa membuka mulut kita? Hari dimana kita dengan tidak jelasnya mengucapkan I love you?” aku terus mengedipkan mataku tapi air mata ini terus saja turun dari pemiliknya.

Sial!! Kenapa aku tak bisa menghentikan hal ini?

Aku mengusap air mataku dengan belakang tanganku sambil melanjutkan perbincanganku dengannya.

“Kau berjanji padaku bahwa kaus akan bersama denganku selamanya.. kau telah berjanji Tae..” Aku berteriak sekuat tenaga. Aku tak perduli jika orang akan melihatku dan berpikir bahwa aku gila. Tapi itu ada benarnya juga.. aku akan gila karena terlalu merindukanmu.

“Apa ini maksudnya bahwa janji itu dibuat bukan untuk ditepati..” aku tertawa pada diriku sendiri masih dengan air mataku.

Perlahan butiran-butiran air membasahi wajahku. Aku melihat ke langit dan meletakan tanganku.. merasakan air hujan yang mulai turun. Ini seperti Tuhan juga sedang berduka bersamaku. Aku berterimakasih pada-Nya karena telah menutupi air mataku. Aku terus menangis hingga Tuhan tahu berapa lama. Aku hanya menangis dan menangis ditemani hujan yang begitu deras. Mengusap wajahku dengan telapak tanganku, aku sadar bahwa hujan tak lagi membasahiku. Aku mendongakan kepalaku.. menatap ke sekeliling dan melihat wanita tinggi, kulit sawo matang kira-kira seusiaku berdiri dengan paying terbukanya yang melindungi kami berdua dari derasnya hujan saat ini.

Apa yang dia lakukan disini? Setahuku.. dia bukan salah satu dari teman Taeyeon. Suamiku telah mengenalkan semua temannya padaku.

Aku tak mengindahkannya dan kembali melihat makam suamiku.

“Bukankah kau seharusnya mencari tempat berteduh?”

“Bukan urusan Anda..” aku menyandakan daguku ke lututku dan mendekap kakiku.

Kami terus diam dalam keheningan tak ingin mematahkan suasana yang canggung ini.

“Kau tahu.. aku selalu melihatmu disini sejak orang itu dikuburkan. Apa dia orang yang special untukmu?” Akhirnya wanita tinggi itu kembali berbicara. Keheningan kembali menyelimuti kami. Apa dia tak tahu bahwa aku dan Taeyeon telah menikah?

“Heumph.. Kim Taeyeon..” Dia maju kedepan melihat batu nisan. Keheningan lagi.. apa dia tau Taeyeon?”

“Bagaimana dia meninggal?” Lebih hening lagi.

“Apa karena sakit parah? Pembunuhan? Atau kecelakaan?” Wanita it uterus bertanya lebih jauh. Yang benar saja.. apa dia tak mengerti dengan ucapanku tadi untuk tak mencampuri urusan orang lain??

“Melihat dari batu nisannya.. dia terlihat masih muda.. sehingga kemungkinan karena sakit parah itu kecil. Mungkin kecelakaan? Kecelakaan mobi..”

“Bisakah kau diam? Apa kau tak mengerti arti kata PRIVACY??!!” Aku membalikan direksi kepalaku dan berteriak padanya. Yang mengejutkanku.. dia hanya tertawa mendengarnya.

“Akhirnya kau bereaksi juga..”

“Apa yang kau inginkan? Mengapa kau disini?”

“Tidak ada.. aku hanya ingin berbicara denganmu.”

“Kenapa?”

“Kenapa tidak?” Dia membalas pertanyaanku.

“Dengar.. aku tak punya waktu untuk hal ini.. kau bisa lihat… aku sibuk disini..”

“Kau hanya diam..”

“Terserah kau saja.. aku tak ingin berbicara dengan siapapun..” Setelah beberapa menit, aku merasakan air hujan kembali membasahiku. Dia pasti telah pergi. Bagus.. akhirnya dia mengerti. Aku hanya ingin sendiri sekarang. Aku tak perduli dengan sekelilingku.

Saat kukira dia telah pergi.. dia malah kembali dengan payung yang masih ada di tangannya.

“Kupikir ini adalah hal yang bagus untuk diminum saat hujan seperti ini.Kau akan sakit jika terus duduk seperti itu dengan hujan seperti ini..” Dia berkata dan memberikanku secangkir kopi.

“Pergilah.. aku baik-baik saja disini..”

“Bukankah kita kedinginan?” dia kembali berbicara dan tertawa kecil. Aku tak memperdulikannya dan kembali memandangi nisan suamiku.

“Daripada duduk disini membasahi dirimu dalam hujan.. bukankah sebaiknya kau mencoba untuk move on? Kau tahu… memandangi nisannya takkan membuatnya kembali hidup.” Aku hanya terdiam mendengarnya.. sekal lagi dia berucap.. maka aku akan..

“Dia telah meninggal.. kau seharusnya..” Aku berdiri dan menghentikan mulut besarnya itu.

“Aku tahu dia telah meninggal! Tak peduli apapun yang kulakukan.. dia takkan pernah kembali. Dan itu karena aku!!! Aku!!”

“Jika aku tak begitu bodoh dan mengikuti emosiku.. mungkin dia takkan meninggal. Dia akan bersamaku disini.. disampingku!”

Yang mengejutkanku.. dia hanya tersenyum seringai dan menaikan salat satu alisnya.

“Mengapa itu salahmu? Kau tak membunuhnya kan?”

“Tentu saja tidak! Mana mungkin aku membunuh suamiku sendiri?”

“Jadi kau sudah menikah..” hening.

“Jika kau tak membunuhnya.. mengapa kau menyalahkan dirimu?”

“Kau tak mengerti..”

“Benarkah? Kalau begitu.. coba buat aku mengerti.”

Aku menghirup nafas panjang.. mengumpulkan kekuatan dari sekelilingku. Aku tak tahu kenapa.. tapi aku merasa ingin menceritakan semua yang sebenarnya terjadi pada wanita ini. dan akhirnya… aku mulai bercerita apa yang terjadi pada hari terburuk dalam hidupku. Hari dimana Taeyeon meninggal.

“Jadi.. inilah yang selama ini kau sembunyikan?” Taeyeon beranjak dari kursinya… berjalan mendekati wanita yang masih menjadi separuh dirinya itu. Tatapan mata mereka bertemu.. beradu dalam satu waktu yang menghentikan semuanya.

Mata coklat gelap itu.. terlihat begitu lelah.. tapi memburu dengan sesuatu kelabu yang masih tabu untuk diungkapkan. Mata itu.. meminta Tiffany untuk menghentikan semuanya sekarang. Tapi Tiffany takkan semudah itu dikalahkan oleh tatapan suaminya yang seperti itu.

“Maafkan aku.. tapi ini tak seperti yang kau pikirkan..” nada itu terdengar begitu datar.. seolah Taeyeon terpaksa mengucapkannya.

Mata itu.. penuh dengan semua emosi tapi tertahan sesuatu hingga menjadi kekosongan yang mendalam bagi pemiliknya.

“Lalu apa yang kau pikirkan jika kau melihat yang tadi??” Emosi itu masih terlihat begitu membara di mata Tiffany.

Mata sayu dan sendu suaminya itu memintanya untuk mengerti sekali lagi keadaan suaminya itu.

Lelah dan terluka.. entah mengapa mata itu selalu menatapnya seperti itu.

Keheningan itu kini menyelimuti mereka lagi sampai akhirnya Taeyeon melangkah.. berjalan melewati istrinya itu dengan langkah gontainya. Kepalanya terasa berat dan pusing. Rasanya ia bisa kehilangan kesadaran sekarang juga jika ia masih terus berhadapan dengan istrinya itu.

Tiffany bagai Kryptonite baginya saat ini.. sesuatu yang menjadi kelemahan dalam dirinya bila ia dekati dan diamkan begitu saja.

‘Aku harus pergi.. harus..’ ucap Taeyeon dalam hatinya tak memperdulikan Tiffany yang terlihat masih emosional. Bagaimana tidak? Beberapa menit yang lalu Tiffany melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana sahabatnya memeluk suaminya begitu hangat, mengecup bibir suaminya itu ringan.. penuh dengan cinta yang selama ini tak ia sadari sahabatnya itu miliki untuk suaminya.

“Maafkan aku.. aku harus pergi sekarang…” kaki itu berusaha Taeyeon langkahkan secepat mungkin. Ia hanya ingin segera berbaring dan tertidur di kasur empuk tanpa ada gangguan apapun, termasuk dari wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.

“Jadi kau hanya akan pergi begitu saja?”Untuk sesaat Tiffany terdiam melihat suaminya itu mulai melangkah.. berjalan keluar restoran tanpa memperdulikan kehadirannya.. ataupun Jessica, wanita yang telah menikamnya dari belakang.

Tiffany mendengus kesal melihat pria yang selama hampir 9 tahun ini telah menjadi suaminya. Ia tak percaya Taeyeon bisa berbuat seperti ini padanya. Ia merasa telah dicurangi. Harusnya ia yang bersikap seperti itu.. pergi.. tak mau mendengarkan apapun yang akan diucapkan oleh pria yang telah selingkuh darinya. Untuk sesaat ia terdiam memikirkan semuanya… masa lalu.. sekarang.. dan masa depan yang akan ia jalani dengan Taeyeon.

Tiffany menatap Jessica yang masih duduk menundukan kepalanya dengan rasa terluka dan kebencian yang begitu dalam. Pikiran itu teralih lagi pada suaminya yang sedari tadi sudah pergi meninggalkannya.

“Kau.. tidak boleh seperti ini..” dengan itu Tiffany putarkan direksi tubuhnya, berlari mengejar pria yang masih begitu ia cintai. Setelah beberapa menit berlari.. ia bisa melihat prianya itu masih berjalan dengan langkah gontainya.

Hanya dalam beberapa langkah.. kini Tiffany sudah ada di hadapan Taeyeon yang melihatnya dengan kelelahan dan kesakitan yang terlihat jelas di wajahnya.

Wajah itu.. putih.. tapi terlihat begitu pucat..

“Kau.. apa kau hanya akan berlari dan membiarkan semuanya seperti ini???” air mata itu tak bisa tertahan lagi. Mata Tiffany terlihat begitu merah.. rapuh seperti hatinya saat ini.

“Apa kau akan membiarkanku berpikir seperti ini padamu?? Apa kau sengaja melakukan semua ini karena kau ingin berpisah denganku??” Tiffany memegang bahu Taeyeon yang masih terdiam menatapnya kosong.

“Apa lebihnya Jessica dariku?? Heuh!!!” orang-orang mulai melihat teriakan Tiffany tapi mereka tak berani mendekat dan ikut campur.

“Apa karena dia.. bisa memberikan kepuasan yang lebih dariku?? Wanita jalang itu..”

Plakkk…

Tamparan itu membuat Tiffany terdiam seketika. Sakit memang.. tapi luka dan perih dalam hatinya melebihi tamparan tadi. Baru kali ini ia merasakan tamparan dari pria yang sudah hampir 9 tahun ini menjalin rumah tangga dengannya.

“Jadi benar.. karena hal itu.. haha..” Tiffany tertawa kecil dalam tangis.. menatap Taeyeon dengan rasa luka yang begitu dalam sementara suaminya itu.. masih terdiam.. terkejut dengan apa yang telah dilakukannya tadi. Taeyeon tak menyangka ia bisa menampar Tiffany seperti tadi.

“Maafkan aku Fany-ah…” Mata suaminya itu terlihat begitu bingung dan menyesal sementara Tiffany masih menatapnya nanar.

“Kau tidak pernah menamparku selama ini.. apa dia begitu penting bagimu?? Apa kau.. sudah tak mencintaiku lagi Kim Taeyeon?” Taeyeon terdiam mendengar hal itu. Tanpa sadar air mata itu keluar. Hatinya begitu sakit mendengar hal itu keluar dari wanita yang masih sangat ia cintai meskipun otak dan pikirannya sudah tak kuat lagi melakukan hal itu.

“Mengapa kau diam? apa yang kuucapkan itu benar?”Taeyeon kini menatapnya begitu dalam. Tatapan itu.. Tiffany bisa melihat begitu dalam cinta yang dimiliki suaminya. Tapi ia tak mau terperangkap dalam tatapan itu. Ia tak mau seperti ini.. ia ingin mendengar ucapan itu.. bukan hanya dari tatapan mata yang terkadang selalu menyesatkannya.

“Sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya.. terima kasih Kim Taeyeon…” Hati Tiffany sudah tak kuat lagi. Ia putarkan direksi tubuhnya.. berjalan meninggalkan Taeyeon yang menangis dalam diam sama seperti dirinya. Ia langkahkan kakinya itu kedepan.. tak tahu akan kemana. Ia ingin menghilangkan sakit luar biasa ini. Tak pernah ia bayangkan semuanya akan seperti ini.

“Fany-ah..” suara itu menghentikan langkah Tiffany yang tak menyadari keberadaannya dimana sekarang. Semuanya terjadi begitu cepat.. Tiffany merasa tubuhnya terhempas cukup jauh. Rasa sakit itu kini mulai menghinggapi tubuhnya. Kepalanya terasa seperti melayang. Semuanya menjadi kabur. Tapi ada satu hal yang tak mungkin ia lupakan..

“Aku mencintaimu.. maafkan aku..” kata itu yang terakhir ia dengar sebelum semuanya menjadi gelap tak menyisakan apapun.

“Jadi karena itu suamimu meninggal?” Aku mengiyakan ucapannya masih terbalut tangisku.

“Dia meninggal karenaku.. karena mencoba menyelamatkanku. Dokter masih sempat mengoperasinya tapi itu semua tak berhasil karena beberapa jam kemudian dia meninggal. Kau tahu bagian apa yang paling berat dan tak bisa kulupakan?”

“Dia bilang padamu bahwa dia mencintaimu.. meskipun semua yang telah kau lakukan padanya..” wanita itu berbicara seolah-olah dia ada disana saat itu.

“Bagaimana ia bisa berkata seperti itu meskipun aku telah menyakitinya berulang kali dengan perselingkuhanku? Taeyeon bahkan meminta maaf padaku karena telah menamparku dan membentakku. Dan apa yang telah kulakukan selama ini? aku hanya bisa mencari kenyamanan dari orang lain dan berselingkuh darinya.”

“Tidak ada manusia yang sempurna.. begitu juga kau..”

“Tapi tidak ada ketidaksempurnaan yang membuat orang mati seperti yang kulakukan pada suamiku!”

“Jadi.. apa yang kau inginkan?”

“Tentu saja aku ingin Taeyeon kembali hidup. Daripada ia meninggal.. aku lebih baik menghukum diriku sendiri.”

“Bahkan jika semua kenangannya tentangmu terhapus? Atau dia menceraikanmu? Atau.. dia menikah dengan orang lain yang begitu dekat denganmu?”

“Sejujurnya.. semua itu bukan hal yang kuinginkan. Tapi jika memang itu terjadi.. setidaknya Taeyeon masih hidup. Aku masih punya kesempatan untuk bisa bersamanya.. meskipun itu kecil dan tak mungkin.”

“Jadi.. jika kau memiliki keinginan.. apa itu?” aku menatap keatas langit dan terdiam.

“Aku ingin mengulangi semuanya dari awal dan memperbaiki kesalahanku.”

“Itu hal yang mustahil.. tidak mungkin.” Aku tertawa kecil mendengarnya.

“Kau tidak memintaku untuk menginginkan suatu hal yang mungkin kan?”

“Kau benar..” Aku masih tenggelam dalam pikiranku hingga aku menyadari sesuatu. Aku bahkan tak tahu nama wanita yang kubagikan pikiranku dengannya. Aku berdiri dan menyodorkan tanganku padanya.

“Maaf aku belum mengetahui namamu.. Aku Tiffany.. Tiffany Kim..” dia melepas payungnya dan menyambut jabatan tanganku.

“Panggil saja aku Deka..”

“Maaf karena aku telah meneriakimu tadi..”

“Gwenchana…”

Melihat ke sekelilingku.. aku tidak sadar bahwa sekarang sudah gelap.

“Omo.. ini sudah gelap.. aku harus pergi sekarang Deka-shi.. Senang bertemu denganmu..”

“Senang bertemu denganmu juga..”

Aku akan segera pergi saat wanita itu berbalik dan memanggilku.

“Hey.. berhati-hatilah dengan yang kau inginkan Stephanie Hwang Miyoung Kim..”

Dan dengan itu dia pergi.

Tunggu.. Stephanie Hwang Miyoung Kim? Bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku?

=========================================================

========================

Author Note:

Heumh.. setiap orang punya masalah dengan hidupnya.. begitupun gw.. kalian dan orang di sekitar kita

seseorang pernah bilang bahwa hidup itu takkan berwarna tanpa masalah di dalamnya

semoga aku.. kalian dan orang di sekitar kita bisa survive dan kuat menghadapi masalah dengan warna dan coraknya tersendiri..

Have A Good Day 🙂

Iklan

148 pemikiran pada “I’m Not The Only One

  1. annyeong thor, knalin gue reader baru.. jujur, dari semua ff lu, gue lebih tetarik sama nih ff. gue tersentuh sama nih cerita.. keren thor, oh iya yg cepet ya thor update part2nya.. hihihi..

    #readerbaruYangPemaksa/SMIRK

  2. ah~ ternyata ada crita sebelum part I
    jd paham gw yg slama ini gw bingungin. XD
    nyeseg bgtz idup lu dad. udh si momy selingkuh n yadongan sama cow lain. sumpah kasian bgtz taeng digituin. huaaa T.T
    mommy knp lu gg punya prasaan. gw stuju klo lu dihukum. ><!!!
    daddy lu ma gw aja klo pany nikung. hahaha

  3. Annyeong thor..
    New reader 🙂
    Emang penyesalan tuh slalu datang belakangan, skarang fany ngerasain kan ditinggal tae 😦
    gw suka klo tae yg disakiti.. hehe
    maaf thor klo gw hanya komen di ff ini, soalnya gw cma baca taeny thor 😀

  4. Annyeong thor..
    New reader 🙂
    Emang penyesalan tuh slalu datang belakangan, skarang fany ngerasain kan ditinggal tae 😦
    gw stuju klo fany dihukum, biar fany sadar ..
    maaf thor klo gw hanya komen di ff ini, soalnya gw cma baca taeny thor 😀

  5. Annyeong thor. .
    new reader 🙂
    emang penyesalan slalu datang belakangan, skrng fany ngerasainkan ditinggal taetae 😦
    gw stuju thor klo fany dihukum, biar tau rasa sakitnya tae kyk gimna. .
    maaf ya thor gw hanya komen diff ini, soalnya gw cma baca ff taeny 😀

  6. Uwaaaah, annyeong thor.. Sorry gue bru ngubek2 wp lu trus gue nmuin ff yg jdulnya sma dgn lgu favorit gue..
    Pas gue bcaa di awal gue agak bingung yg selingkuh in siapa, trnyta oalah tiff yg slingkuh dan gue nangis bneran pas baca crita dri jessica yg ngungkapin knyataan kalo taeng udah tw trnyata si tiff selingkuhin dia.
    Keren critny thor bru part pertma udh mnguras air mata dan emosi, ato mngkin gue yg brlbihan kali yee 😁

  7. OMO perselingkuhn….NO…NO, nyesel psti ingin perbaiki tp Tae udh meninggl. ap mgkin Tae hdp lg? hny Tuhan yg bs. g nyngka Fany kyk gitu.
    Ap fany g ingt ikrar nikhny am Tae? Fany hrsny sbr n setia krn ini yg dilkukn Tae utk klrgny….
    g bs byngin….nyesek sumph..

  8. Ping balik: You Are | Be Different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s