The Reason Is Part IV

calculator_catalog_image

“Yoong.. You’re lucky guy.. bro..” Yuri berbisik pada sepupunya yang berdiri disampingnya… tak menghentikan tatapannya pada wanita yang sedang berjalan mendekat dengan gaun pengantin soft pink-nya yang menawan.

“I am..” Yoong tersenyum bangga mengatakan hal itu pada sepupunya yang terkekeh mendengar jawabannya itu.

“Shusht.. kau harus menghampiri pengantinmu sekarang..!” Yuri sedikit mendorong Yoong yang segera berjalan menghampiri istrinya yang kini sudah berada dekat sekali dengannya.

“Terima kasih sudah mengantarkan Tiffany padaku Dad..” Yoong sedikit membungkuk pada Timothy Hwang, ayah Tiffany yang selama ini menetap di Cali bersama keluarga kecilnya. Tim tersenyum mendengar ucapan menantunya itu. Ia serahkan tangan putrinya yang sedari tadi ia genggam pada Yoong yang dengan sigap menerimanya.

“Tepati janjimu.. bukan padaku saja.. tapi janjimu pada Tuhan… Aku percayakan putri dan cucuku padamu..” Tim menepuk bahu kanan Yoong cukup keras membuat Yoong dengan cepat dan mantap mengiyakan pesan mertuanya itu. Tiffany tersenyum dalam hati melihat interaksi dua pria penting dalam hidupnya. Mereka terlihat cute dengan aura dan karisma berbeda masing-masing yang mereka miliki.

“Apa aku boleh tahu janji itu apa?” Tiffany ikut berbicara.. membuat kedua pria di sampingnya tersenyum mendengarnya.

“Action speak louder Stephi.. jadi nanti kau akan tahu apa janji suamimu padaku dan Tuhan..” Tim tersenyum misterius pada putrinya yang terlihat kecewa mendengar jawaban itu. Yoong tersenyum melihat istrinya itu terlihat imut sekali sedangkan Tim.. pria itu mengelus kepala putrinya pelan lalu menyuruh Yoong segera membawa putrinya kehadapan pastur yang sudah menunggu dengan sabar daritadi.

Ya.. kalian pasti sudah bisa menebak apa yang sedang dilakukan oleh Yoonfany sekarang kan?

Betul.. mereka melakukan upacara pernikahan untuk kedua kalinya. Tapi kali ini hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat mereka saja. Acara ini sangat privat dan terbatas. Hanya Sooyoung, Jessica, Yuri, Yooojin, Boa, Timothy dan dua kakak Tiffany yang sengaja datang dari LA untuk menghadiri kembali acara yang sangat sacral untuk Yoong dan Tiffany. Oh ya.. jangan lupakan juga malaikat kecil mereka.. Kwon Ji Soo.

“Daddy benar sayang.. kau akan tahu nanti..” Yoong mengedipkan mata kanannya, tersenyum begitu tampan dengan kedua lesung pipinya yang begitu manis. Wajah Tiffany memerah mendapat kedipan itu. Tim tertawa kecil melihat putrinya itu terlihat malu seperti seorang gadis 17 tahun saat digoda oleh kekasihnya.

Tim bersyukur karena putrinya itu telah dipasangkan oleh tuhan dengan pemuda seperti Yoong. Jika bukan karena Yoong.. mungkin Tim tidak akan hadir hari ini, menjadi saksi dari peristiwa penting bagi hidup putrinya. Yoong.. pemuda itu.. Tim benar-benar harus berterimakasih padanya.

Flashback

“Yoong.. aku tidak mau.. aku belum siap..” sudah 1 jam ini mereka berada di dalam mobil. Yoong masih bersabar menghadapi wanita di sampingnya yang masih tak mau beranjak dari kursinya.

Kalian penasaran ada apa yang sebenarnya sedang Yoonfany lakukan?

Well.. sepulang Yoong dan Tiffany dari liburan 2 minggu mereka di Eropa, Yoong membujuk istrinya itu untuk mengunjungi ayahnya yang menetap di Cali. Tiffany awalnya menolak mentah-mentah permintaan suaminya itu. Ia tak mau bertemu dengan ayahnya lagi. Lebih tepatnya ia belum siap menerima cacian atau cemoohan dari pria yang sebenarnya begitu ia rindukan.

Hubungan Tiffany dan ayahnya sebenarnya begitu dekat. Tiffany adalah putri kesayangan Timothy Hwang yang sudah hidup menduda sejak istrinya meninggal terkena kanker rahim di usia Tiffany yang ke 3 tahun. Sejak sang istri meninggal.. Tim begitu menyayangi Tiffany dibanding Michelle dan Leo.. kakak Tiffany yang sangat Tim sayangi juga. Tim menganggap Tiffany sebagai hadiah dari Tuhan dan istrinya. Karena sejak istrinya meninggal.. Tim tidak menikah lagi sampai sekarang. Ia lebih memilih untuk menunggu dipertemukan lagi dengan istrinya di surga kelak.

Tiffany berasal dari keluarga dengan background pebisnis yang religious. Sejak kecil ia begitu rajin datang ke gereja bersama keluarganya. Tim mengajarkannya untuk mencintai Tuhan layaknya ia mencintai dirinya. Sejak kecil Tiffany dididik untuk menjadi seorang pebisnis seperti ayahnya yang terbilang sukses dengan bisnis Real Estate-nya di kawasan Amerika Utara. Keluarga Hwang sudah tak asing lagi di mata pebisnis Real Estate disana.

Sebagai putri yang baik dan berbakti.. awalnya Tiffany mencoba mengikuti semua yang diarahkan dan diajarkan oleh ayahnya. Tim begitu senang saat Tiffany akhirnya lulus dengan nilai memuaskan dari sekolah bisnis di New York yang cukup prestisius disana. Well.. Kecerdasan Tiffany sepertinya menurun darinya mengingat Tiffany mengambil kelas percepatan sehingga ia bisa lulus 2 tahun lebih cepat dari seharusnya.

Saat Tim akan memberikan posisi yang cukup strategis di perusahaannya pada Tiffany.. putrinya itu menolak secara halus. Ia sangat terkejut saat Tiffany memperlihatkan surat penerimaan dirinya sebagai trainee di salah satu agensi hiburan di tanah kelahirannya, Korea Selatan. Tim jelas menolak keinginan Tiffany untuk hijrah ke Seoul.. menjalani kehidupan trainee-nya disana. Dalam pikiran Tim.. dunia hiburan itu hanya oase yang akan menyesatkan putrinya. Harus Tim akui bahwa industry hiburan di Korea Selatan cukup menjanjikan. Tapi dunia seperti itu hanya memberi kenikmatan dan kesenangan sementara.. seperti kehidupan manusia di bumi ini.

Tiffany pergi dari rumahnya dengan hati yang berat karena Tim memintanya untuk memilih antara mimpi dan keluarganya. Tiffany yang mungkin sudah lelah menuruti semua keinginan Tim akhirnya memutuskan untuk pamit keluar dari rumah. Ia memilih untuk mengejar mimpi dan hasratnya menjadi seorang entertainer. Tim mengiyakan keinginan putrinya itu dengan berat hati. Sejak saat itu hubungan mereka tak lagi sama. Tim jarang menghubungi Tiffany.. begitu pula sebaliknya. Michelle dan Leo sudah berulang kali mencoba mendamaikan adik dan ayah mereka tapi karena watak keduanya yang keras kepala dan memiliki gengsi yang besar.. akhirnya Michelle dan Leo menyerah dengan usaha mereka.

Tim begitu kaget saat mengetahui bahwa putrinya telah mengandung sebelum menikah. Ia begitu kecewa dengan tindakan immoral putrinya itu. Ia merasa telah gagal menjadi seorang ayah karena ia merasa sudah mendidik putra dan putrinya dengan baik.. menanamkan nilai moral dan religious dalam kehidupan mereka. Panggil Tim kuno.. tapi ia meyakini bahwa bercinta hanya boleh dilakukan setelah menikah. Itu pula yang terjadi pada Leo dan Michelle.

Saat ia menerima undangan upacara pernikahan Yoonfany untuk pertama kalinya.. ia menolak untuk menghadirinya. Ia merasa tak perlu menghadiri upacara yang dinilainya sudah ternodai dengan kehamilan Tiffany. Tim tahu bahwa calon suami putrinya itu bukanlah pria biasa. Ia tahu bahwa Yoong adalah seorang pewaris kerajaan minyak di Korea Selatan. Meskipun begitu.. ia terlanjur tidak meyukai pria yang telah berani menghamili putrinya sembarangan.. menikahi putrinya tanpa meminta ijin dulu padanya. Meskipun Leo dan Michelle sudah beratus kali membujuk.. ia tetap tak datang di hari penting putrinya itu meskipun dalam hati ia menyesal karena ia sudah melewatkan salah satu moment penting dalam hidup putri bungsunya itu.

“Kau sudah berjanji padaku..” Yoong menatap serius istrinya itu. Tiffany terdiam mendengar ucapan suaminya.

“Tapi Yoong..” Tiffany merajuk.. ia menatap Yoong dengan memohon.. mencoba membujuk suaminya itu agar mengabulkan keinginannya untuk tidak bertemu dengan sang ayah.

“Kau tahu betapa aku membenci orang yang mengingkari janjinya?” Tiffany menganggukkan kepalanya. Yoong adalah malaikat baginya tapi suaminya itu juga bisa sangat tegas padanya. Itulah salah satu yang Tiffany pelajari dari Yoong.. menjaga komitmen pada prinsip dan hal yang telah dijanjikan pada seseorang meskipun kita tahu bahwa semua hal tidak mungkin akan sempurna aktualisasinya.

“Sigh.. baiklah..” Senyum itu mulai muncul di wajah Yoong. Dengan semangat ia berlari membukakan pintu Tiffany, membiarkan istrinya itu keluar dari mobil lalu mengambil Ji Soo di kursi tengah yang sudah didesain khusus aman dan nyaman. Ya.. mereka memutuskan membawa Ji Soo dalam kunjungan ini. Yoong merasa putrinya itu layak bertemu dengan kakeknya. Maka dari itu ia meminta Tiffany untuk membawa Ji Soo pergi dengan mereka.

“Tunggu sebentar..” suara itu masih sama. Tiffany terdiam membeku saat pintu mahogany coklat besar itu terbuka. Dalam sekejap ia sudah berhadapan dengan Tim yang terlihat terkejut dengan kehadiran mereka.

“Selamat siang Tuan Hwang.. senang bertemu dengan anda.” Yoong membungkukan kepalanya lalu menjabat tangan mertuanya yang sepertinya masih shock melihat kedatangannya.

“Dad.. siapa yang.. Oh My.. Stephi!!!” Michellle akan memeluk adiknya tapi aksinya itu tertahan karena ia melihat keponakannya yang masih dalam pangkuan sang ibu. Tiffany tersenyum kecil saat Michelle berinisiatif mengambil Ji Soo dari pangkuannya, membuat dirinya kini bisa berhadapan langsung dengan sang ayah yang masih belum memberikan reaksi apapun dengan kedatangannya. Well.. sejujurnya Tiffany sudah siap menerima reaksi terburuk dari Tim yang malah terdiam tak tahu harus bereaksi apa melihat putri yang begitu ia rindukan kini ada di hadapannya bersama keluarga barunya.

“Masuklah.. kalian pasti lelah..” kata itu terucap begitu datar dari bibir Tim tapi Tiffany tersenyum dalam hatinya mendengar hal itu. Ternyata ayahnya masih menerimanya. Tiffany tersenyum lega menerima tanda itu. Yoong menggenggam tangannya lalu berjalan bersama memasuki kediaman keluarga Hwang yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

“Michelle.. tolong siapkan minuman dan snack untuk tamu kita ini..” rasanya sakit sekali mendengar hal itu keluar dari bibir ayahnya. Michelle menuruti perintah ayahnya lalu memberikan Ji Soo pada adiknya lagi. Yoong tahu perasaan istrinya itu. Ia mengelus punggung Tiffany yang kembali memangku Ji Soo yang terlihat damai dalam dunianya.

“Ada apa kalian kesini?” Tim terdengar cukup ketus tapi Tiffany takkan goyah dengan perlakuan ayahnya yang menyakitkan hatinya itu.

“Aku ingin mengunjungi Daddy dan Michelle.. sudah lama kita tidak bertemu. Ji Soo juga ingin bertemu dengan Grandpa-nya.. iya kan sayang?” Entah kekuatan apa yang membuat kata-kata itu terlontar dengan alami dari mulut Tiffany. Ji Soo tertawa kecil begitu lucu mendengar ucapan ibunya. Matanya bercahaya menyipit seperti bulan sabit.. tepat seperti sang ibu yang terkenal dengan senyum bulan sabitnya hingga hari ini. Yoong tersenyum gemas melihat putrinya terlihat begitu cute dengan senyum menawan yang sepertinya diwarisi dari Taeyeon.

“Daddy..” Tiffany kembali berucap sementara ayahnya masih diam tak bergeming mendengar putrinya memanggilnya begitu lembut. Yoong mengerti dengan ucapan istrinya itu, ia meminta istrinya itu untuk menyerahkan Ji Soo padanya. Yoong tersenyum menyemangati istrinya yang berjalan mendekati ayahnya, duduk di samping sang ayah yang masih tak memberikan respon apapun.

“Daddy.. aku minta maaf.. aku merindukanmu.. sangat merindukanmu..” Tiffany kini menggenggam kedua tangan sang ayah yang masih terdiam. Air mata perlahan turun membasahi pipinya melihat sang ayah yang masih sepert itu. Well.. setidaknya ia sudah berusaha kan? Dengan hati kecewa dan berat Tiffany melepas genggaman tangan itu saat Tim dengan cepat memeluknya begitu erat.

“Dad..” Tiffany masih bingung bercampur senang menerima pelukan ayahnya itu. Untuk sesaat keduanya terdiam sementara Yoong dan Michelle tersenyum haru melihat reuni dua orang di hadapan mereka.

“Daddy juga merindukanmu Stephi.. putriku sayang..” Tangis itu mulai terdengar dari seorang Tim Hwang. Ia mencurahkan semua rasa yang selama ini ia pendam karena gengsi dan egonya. Tim melepaskan pelukan itu.. mengamati wajah putrinya lebih dekat.

“Kau terlihat berbeda putriku..” Tim menghapus air mata itu dari wajah indah putrinya. Diantara ketiga anaknya.. Tiffanylah yang paling mirip dengan sang istri baik itu dari wajah dan sikap keduanya. Tiffany tersenyum begitu bahagia menerima love gesture dari ayahnya.

“Tentu Dad.. aku bahagia bisa bersama denganmu lagi.. aku juga bahagia karena Tuhan memberikanku seorang suami dan putri yang takkan kutukar dengan apapun di dunia ini.. mereka begitu berharga sehingga aku selalu bersyukur pada Tuhan Dad..” Tiffany tersenyum lembut menatap Yoong yang memangku Ji Soo dalam pelukannya. Ekspresi wajah Tim kembali berubah.

“Dia sudah seharusnya membahagiakanmu.. dia telah mengambil kesucianmu sebelum kalian menikah..” Yoong terlihat terkejut mendengar kata-kata itu. ia terdiam memikirkan apa yang harus ia katakan.

“Daddy.. bukan dia yang menghamiliku..” Tiffany memecahkan keheningan dan ketegangan yang ada. Tim menatap putrinya itu bingung.

“Apa maksud..”

“Kim Taeyeon.. mendiang kekasihku-lah yang sebenarnya menjadi ayah Ji Soo..” Tiffany tak bisa menahan tetesan air matanya mengingat kembali sang kekasih yang sudah tenang di alam keabadian.

“Jadi pria ini..”

“Dia adalah sahabat Taeyeon Oppa yang menepati janjinya suntuk menjagaku. Taeyeon Oppa meninggal sssdalam kecelakaan setahun lalu..” Tim tak bisa berkata apapun. Semua ini terlalu mengejutkan baginya.

“Dia adalah malaikat yang membuatku jatuh cinta dengan semua ketulusan dan kebaikannya Daddy.. dia adalah suamiku.. Kwon Yoonan..”

“Dia yang memintaku.. no.. memaksaku untuk menemuimu hari ini..” Tiffany tersenyum begitu manis dan lembut pada sang suami yang tersenyum malu mendengar kata-katanya.

Tim melihat pandangan penuh cinta dan kekaguman sang putri pada menantunya. Untuk sesaat ia terdiam.. mengingat kembali kapan putrinya terakhir tersenyum seperti itu. dan jawabannya… belum pernah. Ia belum pernah melihat putrinya terlihat begitu bebas dan bahagia dalam hidupnya seperti hari ini. Melihat hal itu.. ia menjadi yakin bahwa pria yang menatap putrinya itu penuh kepercayaan dan cinta adalah pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidup Tiffany.

End Of Flashback

 

“Aku.. Kwon Yoonan.. berterima kasih pada Tuhan dan semuanya karena bisa hadir disini.. menjadi saksi pertukaran janjiku lagi dengan wanita yang begitu kucintai di dunia ini selain ibuku…” Pastur tertawa kecil mendengar hal itu begitu pula dengan Tiffany yang tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

“Kau adalah wanita yang pertama mengusik batinku. Aku tak tahu bahwa aku bisa seperti ini. Aku kira seorang wanita takkan membuatku merasakan hal semenakjubkan seperti ini. Kau dan putri kita adalah duniaku.. nafasku dan hidupku. Aku begitu mencintaimu… sangat mencintaimu. Dan hari ini aku ingin memperbarui janji kita di hadapan Tuhan..”

“Tiffany Hwang.. apa kau menerima Kwon Yoonan menjadi suamimu lagi? Memperbarui janji kalian?”

“Dengan sepenuh hati aku bersedia.. aku mau menjadi istrimu untuk hari ini.. esok.. dan selamanya..” Senyum itu begitu lebar tergambar di wajah Yoong. Ia mengecup kedua tangan istrinya itu bergantian membuat orang-orang yang hadir disitu begitu tersentuh dengan love gesture darinya.

“Kwon Yoonan.. aku tak menyangka kau bisa membuka lagi pintu hatiku. Dengan gayamu yang sederhana.. ramah dan pemaaf… tempatmu begitu mudah terbangun di hatiku. Ketulusanmu.. adalah sesuatu yang tak bisa kutemukan dari pria manapun. Cintamu.. begitu lembut.. manis.. dan menyentuh kalbuku. Aku sungguh beruntung karena Tuhan mempertemukan kita. Berjuta syukur kuucapkan karena kau adalah suamiku. Aku mencintaimu.. dan aku yakin itu. Tak ada yang abadi di dunia ini tapi kuharap keabadian itu menjadi definisi dari cinta kita.” Yoong tak bisa menahan butiran Kristal bening di kedua matanya. Tiffany juga menitikkan air mata harunya. Ia ambil kedua tangan suaminya itu… ia kecup beberapa detik lalu ia simpan di kedua pipinya untuk sesaat. Semua orang yang ada disitu terdiam melihat interaksi keduanya yang begitu indah bagi mereka.

“Kwon Yoonan.. apa kau siap memberikan semuanya untuk istrimu?” Pastur pun tak bisa menahan tangis harunya.

“Berjuta kata iya akan kuucapkan.. selamanya.. Tiffany adalah wanitaku.. istriku.. hidupku yang akan selalu kumuliakan…” Yoong tersenyum beradu pandang dengan sang istri yang menatapnya penuh cinta.

“Cinta kalian begitu suci.. kudoakan kehidupan rumah tangga kalian lancar dan penuh kebahagian. Silakan tukar cincin kalian..” Yoong mengambil cincin yang dipegang oleh Yuri. Ia pasangkan cincin emas putih itu di jari manis istrinya begitu pula Tiffany.

“Kau boleh mencium kembali istrimu..” Tiffany tersenyum malu melihat Yoong yang sudah begitu dekat dengannya. Perlahan bibir itu bertemu dengan milik Tiffany. Yoong menutup kedua matanya, mencoba mengirimkan semua cinta dan rasa bahagianya itu pada Tiffany yang mulai meresposn ciumannya.

“Cinta kita.. selamanya..” Yoong berbisik di telinga kanan Tiffany yang mengangguk haru mendengarnya.

======== The Reason Is ========

“Good luck Bro.. aku tahu kau pasti bisa hahahha.. oh ya jangan lupa apa yang kuajarkan kemarin..” Sooyoung tertawa kecil sebelum mematikan telponnya. Yoong ikut tertawa juga mendengar kicauan sahabatnya itu. Sooyoung terkenal begitu aktif dengan kehidupan seksualnya. Sebelum bertemu Jessica.. Sooyoung selalu berganti wanita untuk ditiduri. Tapi sejak jatuh cinta dengan ice princess-nya itu.. player jangkung itu taubat dan hanya melakukan sex .. tidak.. hapus itu.. ia hanya melakukan making love dengan Jessica.

10421187_852828374762837_1539945625107569481_n

“Kenapa kau tertawa sendiri?” Tiffany yang baru selesai mandi kini menghampiri Yoong yang masih belum menghapus tawanya itu mengingat apa yang Sooyoung ajarkan padanya kemarin. Sahabatnya itu mengajarkan semua teknik dalam bercinta padanya melalui sebuah film animasi dan buku rahasia keluarga Choi.

“Sooyoung tadi menelponku.. ia akan sangat merindukanku karena kau akan menguasaiku untuk 2 minggu kedepan..” Yoong tersenyum jahil pada sang istri yang tersenyum cemberut di hadapannya.

“Bukan hanya 2 minggu… kau akan menjadi penguasa hatiku.. selamanya..” Yoong tersenyum begitu tampan pada Tiffany yang terdiam malu mendengarnya. Dengan gentle ia tarik istrinya itu untuk duduk di pangkuannya. Tiffany masih dalam balutan bathrobe putihnya sedangkan Yoong masih menggunakan kemeja putih dan celana putih tuxedo saat upacara pernikahan tadi. Keduanya kini berada di salah satu hotel bintang 5 milik keluarga Sooyoung.

“Aku mandi dulu ya..” Tiffany menganggukan kepalanya menerima kecupan itu di kepalanya. Yoong menyimpan istrinya itu untuk duduk di kasur lalu berjalan memasuki bathroom dengan bathrobe di tangannya.

15 menit telah berlalu dan kini Yoong sudah keluar dari bathroom dengan tubuh freshnya. Ia berjalan menghampiri sang istri yang terlihat berdiri di balkon memandangi malam hari Seoul yang begitu indah. Dengan perlahan Yoong dekati istrinya itu. Tiffany tersenyum kaget menerima pelukan itu di punggungnya. Yoong menelusupkan kedua tangannya ke pinggang dan perut sang istri yang masih terbalut jubah tipis lingerie pink leophardnya.

“Yoong..” Tiffany bergetar menerima sentuhan itu. Ia tahu malam ini adalah malam yang akan mengubah kehidupan cintanya dengan Yoong. Ia sudah lama menunggu malam ini tapi saat ini rasa gugup itu begitu kuat menghampirinya.

“Yes Love?” Yoong mulai mengecup leher istrinya itu perlahan. Ia menggigit pelan leher mulus Tiffany yang mulai menahan rintihannya, menggigit bibirnya.

Yoong tersenyum saat ia merasakan erangan yang berusaha istrinya tahan. Bukannya mengurangi intensitas kecupannya itu.. Yoong malah menyambar sisi kiri leher Tiffany yang akhirnya tak bisa menahan eluhannya saat suaminya itu mencium.. menggigit dan memainkan lidahnya untuk menghilangkan perih gigitan itu di lehernya.

“Don’t Leave mark please..” Tiffany sepertinya telat karena Yoong telah sukses membuat beberapa tanda cinta di leher mulusnya.

“You’re late Love.. I already mark you as mine..” Tiffany terdiam melihat ekspresi wajah suaminya saat ini. Ia bisa melihat hasrat dan gairah yang begitu besar di mata kijang lembut itu untuknya. Senyum perlahan tergambar di wajah Tiffany. Ia tertawa kecil mengalungkan ledua lengannya itu di leher Yoong yang menarik tubuhnya untuk menyatu dengan miliknya.

“Make me yours Yoong.. Yours only.. your only one..” Tiffany berbisik di kuping kanan Yoong yang seperti mendapat trigger untuk menjadikan Tiffany miliknya malam ini. Hasrat Yoong semakin tak tertahan lagi saat Tiffany menggigit telinganya, menjelajahi telinganya itu dengan lidahnya.

“As your wish Love..” dengan itu Yoong naikan kedua kaki istrinya itu bergantian. Tiffany tertawa kecil saat Yoong dengan cepat membawa tubuh mereka ke atas kasur yang masih berhiaskan bunga mawar merah serta putih yang harum dan begitu indah. Yoong mendudukan Tiffany yang kemudian bersandar di ujung ranjang megah dan empuk mereka. Dengan cepat Yoong buka bathrobenya, menyisakan hanya boxer hitamnya saja. Tiffany terdiam melihat tubuh hampir polos suaminya yang menakjubkan itu. baginya tubuh Yoong itu ideal.. tidak terlalu berotot.. gemuk.. apalagi kurus.

“I Love You..” Yoong membisikan kata-kata itu sebelum mengklaim bibir Tiffany yang segera menyambut ciuman Yoong yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ciuman itu berbeda dari biasanya. Ini bukan pertama kalinya Tiffany merasakan manis dan begitu lembutnya bibir suaminya itu. Tapi ada sesuatu yang membuat Tiffany tak mau melepaskan pagutan bibir mereka. Sesuatu yang membuatnya ringan dan menyegarkan.

“Eungh.. I Love.. you too..” ucap Tiffany di sela-sela ciuman mereka dengan nafas memburunya.

Ciuman semakin panas saat Yoong menggigit kecil bibir istrinya itu membuat Tiffany membuka mulutnya dan akhirnya berhasil memasukan lidahnya kedalam mulut Tiffany, mulai mengadukan lidah istrinya dengan miliknya. Dengan sendirinya lidah mereka mulai beradu merebut dominasi, berdansa cantik dalam kenikmatan yang membuat waktu terasa berhenti dan dunia hanya milik mereka berdua. Saliva begitu cepat tertukar, bersatu menjadi kesatuan yang dinikmati keduanya.

“Yoonghhh..” Tiffany melenguh membiarkan Yoong kini menjadi pemenang, mendominasi tarian mereka. Nafasnya serasa ditarik saat Yoong menghisap lidahnya… membuat dirinya menggigil bergetar menerima hal itu.

“Mendesahlah untukku Fany-ah..” ucap Yoong disela-sela ciumannya. Ia telusuri semua tempat di mulut Tiffany. Ia absen satu persatu gigi sang istri yang semakin mabuk dibuatnya. Perlahan tangan kanannya mulai membuka jubah yang menutupi lingerie itu. Setelah sukses membuka jubah itu dan melemparkannya entah kemana, tangan itu mulai memijat buah dada Tiffany dengan perlahan.

“Heungh.. ahh.. Yoong..”desahan itu terdengar semakin merdu di telinga Yoong yang semakin mempercepat tempo dan ritme pijatan itu. Ia telusupkan tangan kirinya ke dalam lingerie pink leopard seksi itu. Tangan itu mengelus punggung mulus Tiffany yang semakin tak bisa menahan laju cairan yang kini sudah mulai membasahi Thong-nya.

“Mendesahlah Love..” Yoong kembali mencium bibir Tiffany yang kini sudah merah muda. Sesekali ia tarik dan ia gigit bibir itu.. lalu ia lumasi lagi dengan salivanya sementara kedua tangannya masih bekerja di area masing-masing yang membuat Tiffany terbang ke awang-awang. Ia hisap dan ia emut kembali lidah Tiffany yang memijat leher dan kepalanya penuh nafsu, menaikan gairah bercintanya.

“Aku ingin melihat keindahanmu Love..” Tiffany mengerti maksud suaminya itu. Dengan sabar Yoong membuka tali itu.. membuka lingerie itu dan menarik kain sutra cantik yang sejak tadi menutupi tubuh Tiffany. Tiffany begitu senang melihat Yoong yang tak henti memandangi tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia harus berterima kasih pada Yoojin dan Jessica yang selalu rajin mengajaknya merawat tubuhnya itu di klinik kecantikan dan gym favorit mereka karena meskipun sudah melahirkan.. tubuhnya masih dalam porsi ideal dan proporsional seperti kebanyakan model.

“Kau menyukainya?” Tiffany tersenyum menggoda Yoong yang masih belum bisa berkata apapun melihat sesuatu yang begitu luar biasa baginya. Tak pernah ia bayangkan bahwa seluruh tubuh istrinya itu akan begitu halus.. putih dan berkilau seperti ini. Tiffany.. bagai sebuah berlian yang begitu menghipnotisnya saat ini.

“No.. I love it.. not like it..” Yoong tersenyum penuh kekaguman sementara Tiffany tertawa kecil mendengarnya.

“Fany-ah.. bolehkah aku..” Ucapan Yoong terhenti saat ia merasakan Tiffany membawa tangannya untuk memijat buah dada indah itu.

“Kiss Me Yoong..” Yoong tersenyum lalu mulai menyerang lagi bibir istrinya itu dengan intensitas ciuman yang semakin panas. Ia memutarkan lidahnya dengan milik Tiffany yang menarik dan memijat kepalanya penuh gairah.

Yoong mulai mengubah posisi mereka. Ia mulai menaikan Tiffany di pangkuannya, membuat juniornya secara tidak langsung bersentuhan dengan miss V istrinya. Secara alami tubuh mereka mulai bergerak.. bertemu di satu titik yang membuat junior Yoong dan miss V Tiffany bertemu.. membuat keduanya melenguh dalam kenikmatan.

“Suck me…” Tiffany memohon pada Yoong yang segera mendaratkan bibirnya ke buah dada istrinya yang meringis penuh kenikmatan saat ia menghisap.. mengggigit dan membasahi nipple pinkish itu dengan lidahnya. Yoong melakukan hal itu bergantian.. ke payudara kanan dan kiri Tiffany yang mulai memijat mister P suaminya yang melenguh tak kalah hebatnya. Ia bisa merasakan mister P suaminya itu semakin mengeras dan sudah berdiri tegang siap memasuki miss V-nya.

“Take me Yoong..” Tiffany tak bisa menahan lagi. Ia butuh Yoong untuk melepaskan semua yang ada dalam tubuhnya sekarang atau ia bisa mati dibuatnya. Semuanya terasa begitu gila.. ia tak pernah merasakan sensasi seperti ini bahkan dengan Taeyeon sekalipun.

“Your wish is my command Love..” dengan itu Yoong mulai mengecup Tiffany di seluruh wajahnya, leher, dada, perut dan berakhir di miss V-nya. Tiffany mulai bergelinjang saat miss V-nya itu menerima penetrasi.. dorongan masuk ke dalam dan keluar dari lidahnya.

“Ahhh… Yoonghhh..” Tiffany tak bisa menahan desahannya. desahan itu semakin keras saat Yoong mulai memasukan 2 jarinya, mempenetrasi miss V istrinya itu dengan pelan sampai akhirnya dengan kecepatan penuh karena permintaan Tiffany. Merasa istrinya itu sudah cukup terlumasi dengan semua rangsangannya tadi.. Yoong mulai bersiap mempertemukan mister P-nya dengan miss V sang istri yang terlihat merah padam dibuatnya.

“Saranghae Love..” dengan itu Yoong mulai menelusupkan mister P-nya kedalam miss V Tiffany yang berkilauan.. terimakasih atas cumbuan hebatnya tadi. Tiffany menangis kecil mencakar punggung Yoong yang masih berusaha memasukan semua permukaan mister P-nya.

“You’re so tight Love.. eungh… ahhhh” Yoong menggeram penuh kenikmatan saat mister P-nya itu berhasil sepenuhnya masuk ke miss V Tiffany yang masih mencoba beradaptasi dengan mister P Yoong yang begitu besar baginya.

“Heungh… Yoong.. perlahan..” Tiffany meringis menerima genjotan pertama dari sang suami yang menuruti permintaannya itu. Perlahan Yoong memasukan dan mengeluarkan mister P-nya secara bergantian dalam tempo yang pelan. Menit-menit pertama masih pelan lalu Tiffany meminta suaminya itu untuk menambah kecepatan dan tenaga penetrasi mister P Yoong yang tentu saja segera ia kabulkan.

“Harder.. Faster Yoonghhh…aahhh” Yoong dengan semangat mengabulkan keinginan Tiffany yang semakin keras mendesahkann namanya. Tiffany mulai mencium bibir Yoong yang segera membalasnya tapi masih tetap focus mempenetrasi istrinya.

“Ya.. disitu Yoonghh.. haahh.. ahhh… ahh.. ahh..” Tiffany merasa dikirim ke surga karena titik kenikmatannya itu berulang kali dihantam mister P suaminya. Yoong semakin keras dan cepat memompa mister V-nya.

“Fany…” Yoong tahu sebentar lagi ia akan mengeluarkan cairan cintanya. Tapi ia masih menahannya karena ia tahu istrinya itu masih belum merasakan hal itu.

“Yoong.. I wanna come..”

“Me too.. together oke..” dengan sentakan itu Tiffany meledak. Ia mengeluarkan cairan cintanya yang tak tertahan lagi. Begitu juga Yoong.. ia mulai menyemprotkan spermanya ke rahim sang istri yang tersenyum merasakan rahimnya itu menerima cairan hangat penuh cinta dari suaminya. Yoong menyenderkan punggungnya keranjang kasur.. masih memeluk Tiffany yang menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Yoong.

“Kau.. luar biasa Love.. terima kasih..” Yoong masih mengatur nafasnya.. mencium kening Tiffany yang tersenyum menganggukan kepalanya di dada Yoong. Ia bahagia sekali bisa merasakan detak jantung sang suami yang berpacu begitu cepat untuknya.

“Kau juga.. aku tak pernah merasakan hal se-intense ini..” Tiffany mengelus dan menciumi dada sang suami yang ditumbuhi rambut-rambut halus yang membuatnya terlihat begitu manly. Keringat membasahi tubuh keduanya bercampur dengan aroma sex dan cairan cinta mereka.

“Sahabatmu masih mengejutkanku Yoong..” Tiffany tertawa kecil merasakan mister P suaminya itu kembali mengeras begitu cepat dalam miss V-nya.

“Hahaha.. kau harus bertanggung jawab merawatnya Noona..” Yoong mulai membuka selimut dan menutupi tubuh keduanya, memulai lagi proses making love mereka. Dalam beberapa jam kemudian.. hanya terdengar desahan.. erangan.. eluhan dan teriakan penuh kenikmatan yang membuat orang lain iri mendengarnya.

======== The Reason Is ========

“Selamat siang Nyonya Kwon..” Tiffany masih mencoba membuka kedua matanya. Ia masih terlalu mengantuk untuk bangun. Badannya serasa patah semua karena aktifitas kemarin. Untuk sesaat ia kembali tidur.. tak memperdulikan ciuman-ciuman kecil yang menghujani wajah dan lehernya.

“Heungh.. aku masih ingin tidur..” Tiffany berusaha menjauhkan wajahnya dari ciuman-ciuman yang sebenarnya ia nikmati. Yoong tak menghentikan kecupan-kecupan itu. Melihat istrinya itu bangun tidur adalah sebuah kebahagian tersendiri bagi Yoong. Saat Tiffany masih tertidur.. ia seperti melihat seorang bidadari yang tertidur tenang. Saat kedua mata indah itu mulai terbuka.. Yoong tahu bahwa harinya akan semakin indah. Wajah polos.. putih merona istrinya itu ketika baru bangun tidur menunjukan kecantikan yang sebenarnya bagi Yoong.

“Kau masih ingin tidur dan melewatkan penerbangan kita ke Bali?” mendengar kalimat itu membuat Tiffany dalam sekejap terbangun. Yoong tertawa melihat istrinya masih mencoba mengumpulkan kesadarannya.

“Kita.. akan kesana?” Mata Tiffany terlihat berkilau penuh harapan. Bali.. sudah lama ia ingin berlibur kesana. Jessica dan Sooyoung sudah 2 kali kesana dan tak henti menceritakan betapa indahnya pulau itu. 2 bulan yang lalu juga Yoojin dan Yuri berlibur kesana bersama Dongwoon.

“Kita akan berbulan madu disana.. dan tempat lainnya yang masih kurahasiakan..” Yoong tersenyum misterius lalu mengecup bibir istrinya itu.

“Selamat pagi Love..” Tiffany menutup kedua matanya saat ia merasakan ciuman hangat itu Yoong berikan padanya. Tubuhnya masih polos hanya terbalut selimut sedangkan suaminya itu sudah berpakaian casual dengan kemeja pink dan celana denim coklat yang Tiffany pilihkan beberapa bulan lalu.

“Good morning too.. my husband..” Tiffany berucap di sela-sela ciuman panas mereka. Yoong tersenyum lebar saat Tiffany men-dry humping tubuhnya.

“Kau harus sarapan dulu.. aku sudah memasaknya bersama Chef Junshin..” dengan berat hati Yoong melepas ciuman itu. ia berjalan mengambil sebuah tray stainless dari cart kecil yang baru saja diantarkan oleh pelayan hotel tadi.

“Your favorit..” Yoong membuka nampan itu. Nafsu makan Tiffany semakin meningkat saat melihat makanan dihadapannya.

“Terima kasih sayang..” Tiffany kembali mengecup bibir Yoong yang tertawa mulai menyuapi Tiffany yang dengan senang hati membuka mulutnya menyantap belut saus teriyaki favoritnya itu.

“Kau juga harus memakannya..” Tiffany mulai menyuapi Yoong yang tersenyum mengangguk menuruti keinginan istrinya itu. Mereka begitu menikmati sarapan itu dengan candaan.. dan ciuman-ciuman kecil yang Yoong curi dari istrinya itu.

“Kau tahu.. kau menakutkan jika kau terus melihatku seperti itu..” Tiffany tertawa kecil mulai beranjak dari ranjang mereka… mulai memakai bathrobe yang sudah Yoong sediakan.

“ Ahh.. benarkah?” Yoong tertawa pada dirinya sendiri.

“Benar… kau seperti om-om genit hahaha” Tiffany tertawa begitu puas melihat wajah shock sang suami yang begitu cute baginya. Ia mencubit hidung sang suami yang memejamkan matanya.. terlihat kesakitan menerima cubitan yang sebenarnya tak menyakitkan.

“Dan kau tante-tante genitnya..” ucap Yoong mulai memangku Tiffany berlari menuju kamar mandi.

“Ehh.. apa yang kau lakukan???”

“Tentu saja menghujani istriku dengan cinta..” Yoong tersenyum penuh hasrat memasuki kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.

“Yah.. apa maksuhmmmpppp…” dan mereka memulai kembali making love mereka berkali-kali hingga mereka akhirnya hampir telat dengan penerbangan bulan madu mereka mengelilingi Asia.

======== The Reason Is ========

“Ji Soo-ah… ayo buka mulutmu sayang..” Yoojin masih menyuapi bayi imut yang dipenuhi segala sesuatu berbau pink di tubuhnya. Yuri tertawa kecil melihat interaksi sang istri yang begitu cute.. sabar dan terlihat begitu cantik saat ini.. padahal Yoojin tidak memakai make apapun. Ia jadi teringat saat istrinya itu mengurus putranya yang masih seusia dengan Ji Soo dulu. Melihat itu membuat sebuah ide muncul di otak Yuri. Ia tersenyum senang memikirkan tentang rencananya itu.

“Ibu.. Wooni ingin makan..” Dongwoon menarik-narik baju ibunya yang mash belum selesai menyuapi Ji Soo yang dengan lancar memakan semua makanannya.

“Wooni makan sama ayah ya.. Ibu sedang menyuapi dede Ji Soo.. hehehe” Yuri akhirnya berjalan mendekati ketiga orang itu. ia mengangkat putranya itu ke pangkuannya. memutar-mutarkan putranya yang berteriak kegirangan dibuatnya.

“Kau makan dengan Ayah ya jagoan!.. kita akan membuat pancake superhero..” Dongwoon tersenyum semangat saat ayahnya itu memangkunya ke dapur, mulai membuat adonan pancake mereka. Proses pembuatan adonan itu dihiasi dengan canda dan tawa membuat Yoojin penasaran apa pria-prianya itu benar-benar sedang membuat sesuatu.

“Ayah.. aku ingin gambar spiderman pancake-nya..” Dongwoon merengek manja pada Yuri yang segera mengabulkan keinginan putranya itu. Ia segera menuangkan adonan warna warni itu di cetakan bergambar pahlawan favorit Dongwoon yang 2 bulan lalu baru saja merayakan ulang tahun ke 4 tahunnya.

“Ini jagoan.. pancake-mu sudah matang..” Yuri menghidangkan sarapan untuk putranya itu di piring yang sudah ia hias sebelumnya. Kini ia tinggal menuangkan mapple sirup dan Dongwoon siap melahapnya. Diam-diam Yoojin tersenyum melihat interaksi suami dan putranya itu dengan Ji Soo yang masih berada dalam pangkuannya.

“Wah… ini lezat sekali Ayah.. aku suka!!!” Dongwoon dengan cepat menghabiskan pancake superheronya. Yuri tersenyum mengelus kepala putranya itu pelan. Setelah selesai memakan pancakenya, Dongwoon meminum susu dan juice yang selalu menjadi menu wajib bagi keluarganya.

“Kau sudah kenyang kan?” Dongwoon menganggukan kepalanya senang.

“Bagaimana kalau kita bermain bersama Ibu dan Ji Soo?” Dongwoon menyetujui saran ayahnya itu dan segera berlari menghampiri sang ibu yang ternyata memperhatikan mereka dari tadi. Yoojin tersenyum kaget saat pengamatannya terbongkar.

“Hahaha.. Woonie.. ternyata ada yang menguntit kita daritadi..” Yuri memberitahu putranya yang masih belum mengerti dengan maksud ayahnya itu. Yuri tertawa melihat wajah bingung putranya.

“Ayah.. Woonie masih belum mengetahui kata-kata itu..” Yoojin mengingatkan suaminya yang masih tertawa melihat wajah cute putranya.

“Oh iya.. hehehe maafkan Ayah ya sayang.. heumph.. bagaimana kalau sekarang kau menonton dulu Barney?” Dongwoon terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan segera berlari menyalakan TV dan mulai menonton acara favoritnya itu. Yuri berjalan memeluk Yoojin dari samping.

“Yul.. kau harus memilih kata yang tepat jika sedang berkomunikasi dengan Woonie..” Yoojin berucap sambil menidurkan Ji Soo yang terlihat mulai menutup kedua matanya, mungkin bayi itu kenyang sehingga mengantuk.

“Siap Mom!” Yuri menjawab layaknya anak kecil.

“Shusst.. Ji Soo sedang tidur..” Yuri segera menutup mulutnya masih mengikuti istrinya yang segera membawa Ji Soo ke kamarnya. Sesampainya disana.. ia membaringkan gadis kecil itu di kasurnya.

“Kau adalah berkah untuk kedua orangtuamu..” Yoojin mengelus pipi lembut itu sementara Yuri mulai duduk di sampingnya.

“Kau benar Sayang.. jika bukan karena Ji Soo.. mungkin Yoong masih belum menemukan dirinya..”

“Apa maksudmu?”

“Kau tahu bahwa sejak Yoong memilih untuk mengejar mimpinya.. hubungannya dengan tante Boa tidak baik?” Yoojin menganggukan kepalanya.

“Well.. sejak dia menikah dengan Tiffany yang notabene-nya sedang mengandung Ji Soo.. Yoong perlahan berubah. Bahkan dia mau menerima takdirnya sebagai pewaris padahal sejak dulu ia menolak dan menentang keinginan semua tetua keluarga Kwon dan ibunya. Tapi sejak hadirnya Tiffany dan Ji Soo di hidup Yoong.. bocah itu menjadi seorang pria bertanggungjawab yang tidak lagi keras kepala mengikuti semua kemauannya.. keinginannya untuk menjadi seorang tekhnolog pangan yang jelas-jelas ditentang oleh tetua keluarga Kwon..”

“Aku setuju. Meskipun mereka bersatu bukan karena cinta pada awalnya.. tapi kini Tuhan memberikan cinta itu pada mereka. Yul.. aku harap cinta mereka abadi..” Yuri menganggukan kepalanya memeluk istrinya itu dari samping. Ia tahu betapa sayangnya Yoojin pada Yoong. Sepupunya itu.. mirip sekali dengan adik Yoojin yang meninggal karena kecelakaan motor beberapa tahun yang lalu. Maka dari itu ia tak pernah protes ataupun cemburu jika istrinya itu terkadang selalu mengutamakan Yoong dibanding dirinya.

“Seperti cinta kita…” Yoojin tersenyum menerima kecupan Yul di pipinya. Ia mengeratkan genggaman tangan Yul di pinggangnya. Sementara Yul.. ia masih begitu hangat mendekap tubuh istrinya. Ia juga selalu berharap dan berdoa semoga keluarganya selalu diberkahi dengan kesehatan… kesejahteraan dan cinta di dalamnya.

======== The Reason Is ========

“Kau ingin beristirahat dulu atau berjalan-jalan dulu sayang?” Yoong bertanya pada Tiffany yang masih menyenderkan kepalanya di dadanya. Keduanya baru saja tiba di hotel yang dekat sekali dengan pantai posisinya. Yoong sengaja memesan hotel itu sejak 6 bulan yang lalu mengingat banyak sekali yang ingin bermalam disana.

“Aku ingin seperti ini dulu saja..” Tiffany semakin menenggelamkan kepalanya di tubuh suaminya. Ia menghirup wangi special Yoong yang begitu nyaman dan menenangkan baginya.. membangun mood-nya yang kadang berubah menjadi buruk.

“Baiklah.. kita seperti ini dulu saja..” Yoong tersenyum mengelus kepala istrinya itu ringan. Ia sesekali mengecup puncak kepala Tiffany yang mulai tertidur di dadanya. Ia memangku istrinya itu menuju kasur, mulai membaringkan sang istri yang terlelap dalam tidurnya. Merasa lelah.. akhirnya Yoong juga ikut tertidur memeluk Tiffany. 3 jam berlalu dan kini salah satu dari mereka telah terbangun.

“Lebih baik aku memesan room service dulu..” Tiffany perlahan beranjak dari tempat tidurnya berharap suaminya itu tidak terbangun oleh pergerakannya. Ia segera menghubungi pihak hotel dan memesan makanan untuk perutnya yang mulai merasa lapar. Ia memesan beberapa makanan mengingat selera makan suaminya yang cukup besar. Tiffany berjalan menuju kulkas di kamar mereka. Mengeluarkan sebotol wine dan beberapa buah-buahan dari kulkas itu untuk ia minum dengan Yoong nanti. Setelah itu ia mulai menghubungi Yoojin dan Jessica.. menanyakan kabar putrinya dan kabar mereka di Korea. Selesai dengan telponnya, Tiffany mulai berjalan ke kamar mandi.. menyiapkan sesuatu yang pasti nanti akan disukai oleh suaminya itu.

“Heumh..” Yoong terbangun saat ia merasakan kecupan-kecupan kecil di wajahnya.

“Akhirnya kau bangun juga.. sleepy head!” Yoong tertawa kecil mendengar itu.

“Well.. tadi aku memangkumu.. jadi semua tenagaku terkuras hahaha..” Tiffany segera mencubit kedua pipi Yoong yang meringis kecil menerimanya.

“Aw.. aw.. sayang.. sakit..” Tiffany masih belum melepas cubitan itu meskipun ia mulai mencium bibir suaminya yang ternyata masih merespon ciumannya, meskipun dalam ringisan.

“Served you right!” Tiffany melepas cubitan dan ciumannya.

“Ahh tapi aku takkan menolak dicubit lagi olehmu beribu kali jika kau memberiku ini..” Tiffany terkejut menerima ciuman dari suaminya itu. Tapi ia segera membalas ciuman itu dengan mengalungkan kedua tangannya di leher dan punggung Yoong yang begitu bersemangat menciumnya. Pagutan bibir itu tak terpisahkan, lengket bagaikan lem dan manis bagaikan coklat yang meleleh begitu kalian menyentuhnya.

Tangan Yoong mulai memijat bagian-bagian sensitive di tubuh istrinya. Ia kecup ringan kedua sisi leher Tiffany. Kecupan itu berlanjut dengan ke daerah dada dan perut Tiffany yang masih menggunakan dress musim panasnya yang begitu mudah diakses oleh Yoong.

“Kau akan menyukai ini Sayang..” Yoong tersenyum mengambil wine lalu membukanya. Ia menambahkan beberapa butir es ke gelas itu. Ia minum wine itu tapi belum ia telan. Tiffany yang masih berbaring memejamkan kedua matanya saat Yoong membagi cairan itu ke mulutnya. Dengan cepat Yoong membuka dress Tiffany sehingga dalam sekejap tubuhnya istrinya itu tak berbalut apapun kecuali pakaian dalamnya yang segera Yoong lepas juga akhirnya.

Dalam mulut Yoong saat ini masih ada 2 butir es batu yang ia sentuhkan pada leher hingga perut Tiffany yang mendesah pelan menerima treatment dari suaminya itu. Ia tak tahu bahwa Yoong bisa sekreatif ini dalam membangun mood bercinta mereka. Dinginnya es dan hangatnya bibir dan lidah suaminya itu membuat Tiffany merasakan sensasi luar biasa yang tak terlupakan baginya. Di dalam mulutnya masih ada sebutir es batu saat ia mulai mengecap bagian paling privat istrinya itu.

“Yoonghh.. ahhh..” Tubuh Tiffany bergelinjang saat suaminya itu menelusupkan lidah dan es batu ke dalam miss V-nya. Yoong memainkan lidahnya itu dengan lincah, menjelajah lagi semua bagian miss V Tiffany yang kini menjadi candu baginya. Kepala Tiffany bergerak ke kiri dan kanan dengan mata terperjam dan bibir yang ia gigit. Tiffany mendesah begitu keras saat Yoong memompa lidahnya itu ke titik penuh kenikmatan baginya.. lebih keras dan lebih cepat membuat dirinya meledak seketika dalam sensasi luar biasa menyenangkan untuknya. Yoong segera menyeruput cairan cinta yang keluar dari miss V Tiffany setelah tadi mencapai titik klimaksnya.

“Kau begitu manis sayang.. apa kau ingin mencobanya?” Tiffany menganggukan kepalanya menerima ciuman dari Yoong, merasakan cairan cintanya.

“Yoong.. I need you..” Yoong mengerti maksud istrinya itu. mencumbu Tiffany sambil memasukan juniornya ke miss v Tiffany yang memang sudah terlumasi. Tiffany mendesah pelan di mulut Yoong yang masih menggenjot miss v-nya pelan. Tangan Yoong secara natural memijat buah dada Tiffany yang melenguh hebat dibuatnya. Yoong mengalihkan perhatian istrinya itu dengan menyesap buah dada itu bergantian sementara juniornya masih focus memuaskan miss v istrinya.

“Sayanghh.. ahh..aku mencintaimu..” Yoong hentakan juniornya itu semakin keras ke G-Spot Tiffany yang melenguh keras dibuatnya. Keduanya kini sudah mendekati titik puncak dari proses bercinta mereka.

“Fany-ah…ahh…” Yoong menggeram menelusupkan kepalanya di dada Tiffany.

“Yoong..aaahhh…ahhh…” Tiffany berteriak saat cairan cintanya itu keluar lagi untuk kedua kalinya bersamaan dengan milik sang suami yang mencapai klimaksnya juga. Tubuh Yoong terjatuh pelan ke atas tubuh Tiffany yang segera memeluknya dengan kondisi organ intim keduanya yang masih bersatu.

“Ahh.. hah.. hah.. wow..” Yoong terucap masih terengah engah sama sepert sang istri yang masih High dengan efek bercinta mereka tadi. Untuk sesaat kedua terdiam dalam keheningan yang menenangkan bagi keduanya.

“Terima kasih sayang.. terimakasih..” Yoong berucap mulai beranjak dari tubuh istrinya yang terlihat semakin cantik dan bercahaya setelah love making mereka. Yoong kini duduk membawa Tiffany untuk duduk di pangkuannya dengan posisi wajah mereka yang saling berhadapan.

“Apa yang telah kulakukan di masa lalu hingga aku bisa mendapatkanmu Love?” ucap Yoong tak henti memandang istrinya penuh cinta dan kekaguman. Tiffany membalas tatapan suaminya itu dengan intensitas yang sama. Ia membelai wajah Yoong dan menciuminya pelan, membiarkan suaminya itu mengetahui apa yang dirasakannya saat ini.

“Kau mencuri kata-kataku..” Tiffany berucap sambil tertawa melihat wajah bingung suaminya. Ia mencium bibir pinkish itu membuat Yoong tersenyum senang dibuatnya.

“Aku yang harusnya bertanya pada Tuhan mengapa aku bisa mendapatkan pria sempurna sepertimu Yoong. Tapi setelah kupikirkan lagi.. Tuhan mempunyai cara dan mekanisme tertentu sehingga akhirnya menyatukan kita dalam cinta ini..” Tiffany menyatukan kening suaminya itu dengan miliknya masih menatap suaminya itu penuh cinta dan kekaguman yang begitu besar. Akhirnya sore hari itu mereka habiskan dengan bercinta.. jalan-jalan di pantai.. makan malam.. bercinta.. dan bercinta lagi sepanjang malam.. membuat kehidupan baru itu.. mungkin mulai bersarang di rahim ibunya.

======== The Reason Is ========

“Bagaimana kabarmu Soo?” Daniel Jung bertanya masih menyantap rib eye steak di hot plate-nya.

“Baik Dad.. aku mulai focus mengembangkan café dan restoranku ke Jeonju.. mungkin dalam beberapa bulan lagi pembangunannya akan selesai..” Daniel tersenyum senang mendengarnya. Saat ini mereka sedang makan malam di restoran milik Sooyoung yang dikelola sepupunya, choi Sulli, chef terkenal yang sering muncul di TV. Lewat Sulli jugalah ia bisa mengenal Jessica dan akhirnya kini menjadi kekasihnya.

“Bagus Soo.. mungkin nanti kita bisa bekerja sama… aku berencana membangun Apartement di Andong. Kau bisa menjadi konsultanku nanti..” Sooyoung menganggukan kepalanya menyetujui ucapan calon ayah mertuanya itu.

“Daddy.. Soo.. please jangan bahas tentang bisnis kalian disini..” Jessica kini mulai bersuara.. memberikan tatapan tajam membunuh pada kedua pria itu. Ia kembali menyuapkan beef cordon blue steaknya tak menghiraukan tawa dari keduanya.

“Sooyeon benar.. kalian harus mendapat hukuman jika melakukan ini lagi..” Jung Hee Sun mencubit lengan suaminya pelan begitu pula Sooyoung yang mendapat jitakan kecil dari Jessica. Kedua pria itu meminta maaf dan melanjutkan kembali makan malam mereka di ruang VVIP yang hanya dimasuki oleh orang-orang tertentu saja.

“Jadi Soo.. ada apa kau mengundang kami makan malam hari ini?” Daniel mulai membuka percakapan.. tersenyum bercanda menggoda pria yang kini mulai terlihat tegang dibuatnya. Jessica menatap aneh dan curiga kekasihnya itu. Mereka memang sering melakukan makan malam keluarga seperti ini tapi entah mengapa mala mini terasa berbeda.

“Hahaha apa Daddy seorang peramal?” Sooyoung kini tertawa rileks menjawab pertanyaan Daniel.

“Maksudmu?” Kini giliran Hee Sun yang bertanya membuat Jessica dan Daniel melihat Sooyoung dengan penasaran.

“Baiklah.. sebenarnya aku merasa gugup hari ini… masih bingung sebenarnya dengan apa yang akan kukatakan. Jadi.. tolong bersabar denganku hehhee..” Sooyoung tersenyum gugup mengucapkannya. Dia memanggil pelayan yang segera menghampiri meja mereka membawa sebuah kotak hitam kecil yang segera diberikan padanya.

“Di dalam kotak ini.. ada cincin untuk putri tertua kalian. Dia adalah segalanya yang kuinginkan dari seorang wanita selama ini.. akan sangat melegakan jika kalian mengerti maksudku dan berada dalam sisi yang sama.. karena secepatnya.. aku berharap.. untuk menikahinya… menjadikanya istriku…” Sooyoung memegang tangan Daniel dan Hee Sun bersamaan sementara Jessica terdiam.. terkejut menyadari apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu.

“Aku ingin Jessica menjadi satu-satunya wanita yang kucintai sepanjang hidupku.. memberikannya yang terbaik dariku.. sampai hari dimana aku meninggal nanti. Aku ingin menikahi putri kalian.. menjadikannya ratuku..” Sooyoung kini menatap Jessica yang duduk di sampingnya dengan kesungguhan dan cinta. Jessica tak bisa berkata-kata. Ini adalah sesuatu yang tak pernah ia pikirkan akan terjadi. Ia tak pernah menyangka kekasihnya itu akan begitu berani dan gentle melamarnya di hadapan orangtuanya. Sesuatu yang mengejutkan dari seorang Choi Sooyoung.

“Jessica akan menjadi penganting tercantik yang pernah kulihat… aku tak bisa menunggu untuk tersenyum saat dia berjalan di altar.. dalam genggaman tanganmu Dad..” Mata Sooyoung berkilau saat mengucapkannya.

“Jessica selalu berada di sisiku sejak kita pertama kali bertemu. Aku ketakutan setengah mati jika ia sampai meninggalkanku. Jadi kalian tak usah khawatir jika aku mungkin akan memperlakukan Jessica dengan buruk nanti.”

“Apa kau yakin Soo?” Kini Daniel mulai berbicara.. menahan senyum bahagianya mendengar lamaran ini.

“Sejauh ini.. hubungan kami berjalan dengan baik. Tidak ada keraguan dalam hatiku untuk menikahi putri kalian… karena sejujurnya.. saat pertama kali melihatnya.. aku tahu bahwa Jessica adalah wanita yang akan dengan yakin kujawab bersedia saat pastur menikahkan kami nanti..” Daniel dan Hee Sun menganggukan kepala mereka mendengar jawaban Sooyoung yang terdengar begitu mantap. Sementara Jessica.. gadis itu tak bisa menyembunyikan air mata bahagianya.

“Well.. Sooyoung-ah.. kami sangat menghargai dan senang karena kau meminta izin terlebih dulu pada kami.. selaku orang tua Sooyeon untuk menikahi putri kami yang satu ini..” Daniel tersenyum pada Jessica yang masih berlinang air mata.

“Kami merestuimu dan akan dengan senang hati menerimamu sebagai menantu tapi hasil akhirnya.. tentu hanya Jessica yang bisa memutuskan.. iya kan sayang?” Hee Sun mengangguk menjawab pertanyaan suaminya itu. Sooyoung mengerti hal itu dan segera menatap kekasihnya yang terlihat menghapus tangisnya.

“Jessica Jung.. maukah kau menikah denganku?” Sooyoung menggenggam kedua tangan Jessica yang menatapnya penuh cinta.

“Apa aku bisa berkata tidak??” Sooyoung tertawa kecil mendengar jawaban wanita di sampingnya itu. Ia mengecup tangan kekasihnya itu bergantian dan mulai memasangkan cincin itu jari manis tangan kiri Jessica.

=================================================================================

================================================

Hallo.. selamat malam ^_^

bagaimana? puas??

hahaha gw ingatkan.. tolong jangan praktekan hal yg tadi di rumah ya kalau kalian masih dibawah umur dan belum menikah!

resikonya.. kalian tanggung sendiri ya.. hehehe gw ga tanggung jawab hehehe

see you soon ^_^

Iklan

115 pemikiran pada “The Reason Is Part IV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s