The Reason Is Part III

 

 2323

“Yoong.. kau sedang apa?” Tiffany berdiri di samping pria yang begitu focus menata sesuatu dalam sebuah botol unik yang terlihat begitu lucu baginya.

“Aku sedang menanam sesuatu dalam media tanam yang baru..” Yoong menolehkan kepalanya menatap istrinya yang hanya menganggukan kepalanya terlihat tak terlalu mengerti dengan apa yang diucapkan suaminya itu. Yoong tertawa kecil melihat ekspresi cute Noona-nya. Semakin hari.. istrinya itu semakin cantik. Cantik.. bukan hanya dalam artian cantik secara fisik. Bagi Yoong.. Tiffany semakin cantik hatinya. Ada sesuatu dalam diri Tiffany yang selalu membuatnya tak bisa mengalihkan dunianya dari istrinya itu.

Tiffany Hwang.. heuhm.. jujur Yoong tak tahu siapa wanita itu sebenarnya pada awalnya. Yang ia tahu Tiffany adalah anggota girl group yang terbilang cukup dekat dengan hyungnya. Beberapa kali Taeyeon menceritakan kebersamaannya bersama Tiffany tapi ia tak menyangka bahwa hubungan keduanya ternyata lebih dari seorang teman.

Tiffany Hwang.. heuhm.. meskipun Yoong bukan yang pertama bagi wanitanya itu.. ia bertekad menjadikan dirinya sebagai yang terakhir bagi wanita yang masih setia menyandang status sebagai istrinya meskipun Ji Soo telah 4 bulan ini hadir di kehidupan rumah tangga mereka.

Flashback

“Apa yang dilakukan istriku sepagi ini?” Tiffany tersenyum mengetahui bahwa suaminya itu sudah bangun. Ia tahu pasti pemuda itu terbangun karena wangi dari pancake buatannya yang ternyata menjadi favorit Yoong setelah pertama kali mencobanya. Hampir setiap pagi suaminya itu meminta chef di kwon mansion untuk membuatkan sarapan pancake sama seperti buatan istrinya khusus hanya untuk dirinya.

“Memasak sarapan kesukaan suamiku..” kata terakhir dari mulutnya itu begitu alami keluar dari bibirnya.

Tanpa sadar senyuman itu merekah di wajah Yoong saat mendengarnya. Kemarin malam adalah sesuatu yang takkan dilupakan oleh Yoong maupun dirinya. Setelah hampir satu tahun hidup bersama, akhirnya Yoong mengutarakan perasaannya. Pemuda itu meminta Tiffany untuk mulai membuka tempat lain di hatinya, membangun kembali cinta bersama dirinya.

Mengapa harus tempat lain? Karena Yoong tahu bahwa tempat Taeyeon takkan pernah bisa digantikan oleh siapapun. Taeyeon.. pria pertama yang benar-benar membuat istrinya itu merasa dicintai.

Semua kenangan.. baik yang indah.. biasa.. buruk… dan menyakitkan pun takkan bisa dengan mudah Tiffany hapus dari hati dan ingatannya. Kim Taeyeon.. selamanya pria itu akan ada di ingatannya. Cinta itu.. cukup ia.. Taeyeon dan Tuhan yang mengetahuinya.

Tempat lain itu.. perlahan telah terbangun dengan sendirinya tanpa susah payah Tiffany untuk membangunnya. Pondasi itu tumbuh dari kasih sayang dan ketulusan yang selama ini ia rasakan dari Yoong, pemuda yang tak ia ketahui sebelumnya. Pemuda itu dengan pesona alaminya membuat bangunan lain di hatinya yang ia harap penuh dengan kejujuran dan ketulusan.

Cinta.. apakah yang Tiffany rasakan pada suaminya itu adalah cinta?

Jujur.. ia belum bisa mendefinisikan perasaan yang sudah beberapa waktu ini bersarang di hatinya. Perasaan yang mengganggu nurani dan batinnya itu awalnya hanya ia kira sebagai rasa berterimakasih yang begitu dalam karena bantuan yang selama ini Yoong berikan padanya dan calon anaknya. Tapi perlahan rasa itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya melihat Yoong sebagai bagian penting dari hidupnya. Yoong baginya.. adalah sesuatu yang harus ada di hidupnya. Perlahan.. semua tentang Yoong menjadi suatu kebutuhan baginya.. bukan kewajiban lagi yang harus ia laksanakan setiap hari.

Yoong.. pemuda itu.. dia begitu menghormatinya.. dia tak memandangnya sebelah mata karena semua kesalahan yang telah ia lakukan selama ini.

Sehari sebelum pernikahan mereka, Tiffany mulai menceritakan semua masa kelamnya dalam meraih mimpinya sebagai penyanyi dan entertainer papan atas. Selama ia menceritakan semua kelakuan tak bermoralnya, Yoong hanya diam menatapnya penuh focus. Sesekali pemuda itu menganggukan kepalanya mendengar Tiffany menceritakan tentang affair-nya bersama Hyunsuk yang selama ini telah mengangkatnya menjadi artis multi talented yang diperhitungkan kehadirannya di industri hiburan Korea Selatan.

Genggaman tangan itu yang Tiffany dapat setelah ia selesai menceritakan semua lembaran gelap dalam hidupnya sejauh ini. Tiffany menatap pemuda di hadapannya itu dengan tanda tanya besar di hatinya sementara Yoong… pemuda itu hanya tersenyum lembut mengeratkan kedua genggaman di tangannya.

“Gwenchana.. semua itu sudah berlalu dan yang paling penting.. kau sudah mempelajari semua kesalahanmu Noona. Aku yakin kau tidak akan melakukannya lagi..” Yoong mengelus ringan tangan wanita yang digenggamnya itu, mencoba meyakinkan Tiffany akan dirinya sendiri.

“Tapi Yoong.. aku..” telunjuk tangan calon suaminya itu menghentikan bibirnya untuk melanjutkan kata-katanya.

“Noona.. apa yang telah kau ceritakan tadi tidak akan mengubah pandanganku padamu. Kau adalah wanita yang sangat dicintai Taeyeon Hyung. Aku tahu bahwa hyung tidak akan asal memilih wanita untuk menjaga hatinya. Kau sangat berharga Noona.. sehingga hyung masih berusaha memintaku untuk menjagamu meskipun maut sedang menjemputnya…” Mata Yoong begitu jujur saat mengucapkan semua itu. Ada kesedihan terlintas di hatinya mengingat kembali bagaimana hyungnya itu begitu setengah mati berusaha mengucapkan sesuatu agar ia mau menjaga Tiffany dan calon anak mereka.

“Yoong.. aku..” mulutnya terdiam.. bibirnya tak mampu berkata setelah mendengar apa yang diucapkan pemuda di hadapannya itu.

“Percayalah pada dirimu Noona.. kau luar biasa.. dan kau.. sangat berharga…” entah insting atau apa.. tangan itu menarik Tiffany dalam pelukannya, menghapus tangis dalam hatinya yang tak terisakan.

Ya.. kata ya tanpa tertahan meluncur begitu saja dari bibirnya setelah Yoong selesai mengutarakan niatnya untuk mendekatinya.

Courting her..

Dating her..

and make her as his in the real life

bukan hanya karna Yoong menjalankan amanat Taeyeon untuk menjaga dirinya dan calon anak mereka. Malam kemarin.. adalah penanda dari chapter baru yang akan Yoong dan Tiffany tulis dengan indah dalam hidup mereka.

“Wah.. dalam hitungan detik sepertinya semua ini akan habis masuk kedalam perutku..” Yoong kini berdiri di samping istrinya yang seketika terdiam entah kenapa.

“Yoong.. Ji Soo.. sepertinya akan segera lahir..” Tiffany menolehkan kepalanya menatap suaminya yang terlihat terkejut mendengar hal itu. Yoong berusaha untuk tidak panic saat melihat istrinya itu tiba-tiba menjadi begitu pucat dengan linangan air ketuban yang sudah pecah.

“Oke.. kita akan ke rumah sakit sekarang.. bertahanlah Noona..” dengan itu Yoong segera menelpon supirnya untuk menyiapkan mobil. Ia juga menghubungi bibi Nam, asisten rumah tangganya untuk mengambilkan 2 tas yang sudah disiapkan Tiffany untuk proses persalinannya. Dokter memang sudah memberikan prediksi bahwa dalam waktu 2 minggu ini.. bayi mereka akan segera lahir. Maka dari itu Yoong sengaja menyerahkan semua perjalanan bisnis ke luar negeri atau keluar kota pada Sooyoung.. sahabatnya yang menjadi bawahannya juga di Kwon Enterprise dan Yuri.

“Umma.. Tiffany air ketubannya sudah pecah. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit… ya.. aku menunggu kehadiranmu disana…” Tak butuh waktu lama bagi Yoong dan Tiffany untuk mencapai rumah sakit yang kebetulan terletak tak cukup jauh dari kediaman mereka. Mereka kini sudah tiba di pintu depan rumah sakit. 2 orang perawat dan seorang dokter menghampiri mereka.

“Silakan berbaring disini Nyonya Kwon..” kedua perawat dan dokter itu membantu Tiffany keluar dari mobil dan berbaring di ranjang dorong yang sudah disiapkan sebelumnya, thanks to Yoong yang inisiatif menelpon pihak rumah sakit untuk menyiapkan semuanya selama mereka masih di perjanalan tadi.

“Kau bisa sayang.. kau kuat.. kau bisa bertahan..” kata-kata itu terus Yoong ucapkan pada istrinya yang terlihat begitu kesakitan dengan semua proses ini. Dokter meminta Yoong untuk menunggu di luar sementara mereka memeriksa kondisi istrinya itu terlebih dulu.

“Yoojin Noona.. bisakah kau dan hyung datang sekarang?” Yoong bisa mendengar suara minyak yang berdecak, pasti noonanya itu sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka.

“Ada apa Yoong? Tunggu.. apa Tiffany sudah melahirkan?” Yoong bisa mendengar kegembiraan, semangat dan kekhawatiran dari Noona-nya itu. Untuk sesaat suara Yoojin menghilang.

“Kami akan kesana sekarang.. kakao aku alamat lengkap rumah sakitnya ya Yoong..” Yoong mengiyakan ucapan Noonanya itu lalu menutup telponnya. Ia sudah mengirim alamat rumah sakit saat salah satu suster yang membawa Tiffany tadi menghampirinya dengan wajah sedikit panic.

“Tuan.. istri anda membutuhkan kehadiran anda sekarang..”

“Ada apa suster?”

“Sebaiknya anda ikut saya..” dengan itu sang suster dan Yoong bergegas memasuki ruang persalinan. Saat masuk.. Yoong bisa melihat kekacauan yang terjadi sekarang.

“Tuan Kwon.. akhirnya anda datang juga..” sang dokter tersenyum lemah pada Yoong yang masih belum mengerti ada apa sebenarnya. Dokter itu bergegas menghampirinya.

“Tuan.. saya harus mengatakan bahwa proses persalinan istri anda cukup sulit. Air ketuban sudah pecah tapi putri anda masih sulit untuk kami keluarkan. Tadi kami telah meminta persetujuan istri anda untuk melakukan operasi Caesar tapi Nyonya Kwon menolaknya. Dia bersikukuh ingin melahirkan secara normal..”

“Lalu bagaimana dok?”

“Setelah saya berdiskusi dengan dokter yang lain.. mereka berpikir bahwa mungkin dengan memberikan rangsangan pada tubuh istri anda.. semuanya akan menjadi mudah…” dokter mulai menjelaskan apa yang harus dilakukan Yoong agar proses persalinan istrinya itu berjalan lancar. Yoong hanya terdiam sambil sesekali menganggukan kepalanya mendengarkan dengan focus. Setelah selesai memberikan semua penjelasan dokter itu, Yoong dan sang dokter bergegas memasuki ruangan bersalin lagi karna tadi mereka berbicara di ruangan sang dokter yang terletak tak cukup jauh dari ruangan persalinan berada.

“Baiklah.. kau pasti bisa Yoong..” hatinya berpacu lebih cepat dari biasa dan tak menentu. Saat ia membuka tirai putih itu, ia terpaku melihat istrinya itu dalam posisi yang belum pernah ia lihat selama ini.

“Tuan Kwon.. anda bisa melakukannya sekarang..” dengan langkah yang sangat gugup Yoong berjalan mendekati Tiffany yang masih menutup kedua matanya, menahan rasa sakit luar biasa yang menghinggapi tubuhnya.

“Sayang.. putri kita akan segera lahir.. bertahanlah..” Tiffany mulai membuka matanya saat ia merasakan dahinya mendapat kecupan lembut dari suaminya.

“Tuan Kwon.. apa yang anda lakukan? Bukankah tadi kita sudah…” Yoong menganggukan kepalanya lalu mulai menggenggam tangan kanan Tiffany yang begitu erat memegang kasur, menahan rasa sakit yang tak berhenti di perut dan organ kewanitaannya.

“Inilah caraku dokter.. silakan anda teruskan..” Dokter hanya menggangguk heran lalu mulai meminta Tiffany untuk mendorong sekuat tenaga sang jabang bayi yang masih ada di rahimnya.

“Terus dorong sayang.. kau bisa.. kau kuat.. ayo sayang.. aku mencintaimu..” kata-kata itu terus Yoong dengungkan di telinga istrinya yang menangis kesakitan mencoba mendorong putrinya keluar dari rahimnya.

“Yoong.. tolong aku..” Tiffany tersengal-sengal… nafasnya seperti habis entah kemana. Melihat istrinya yang kesakitan seperti itu membuat Yoong sedih. Seandainya ia bisa bertukar tempat dengan istrinya.. akan ia tukar itu semua agar wanitanya itu tak kesakitan seperti ini.

“Aku tahu sayang.. bertahanlah.. sebentar lagi Jisoo akan lahir..” Yoong mengecup lagi dahi dan kedua mata Tiffany yang masih mengeluarkan tangisnya pelan. Selama hampir 1 jam.. proses persalinan itu berlangsung dengan susah payah dan ketegangan karena Tiffany hampir beberapa kali tak sadarkan diri. Untung saja ada Yoong disampingnya yang segera menggenggam erat kembali tangannya, membangunkannya dari ketidaksadaran yang selalu menghampirinya, menguasai dirinya untuk terpacu dalam tidur panjang.

“Ya.. sedikit lagi nyonya.. dorong.. terus..” dokter terlihat masih focus meskipun keringat sepertinya sudah membasahi bajunya. Bagaimana tidak.. ini adalah durasi persalinan yang cukup lama untuk standar rumah sakit dengan teknologi canggih dan tenaga professional terpercaya di dalamnya.

“Arrgghhhh…. Yoong… Oppa!!!!!” Yoong merasa begitu sedih melihat Tiffany menjerit sejadinya mencoba mendorong putri mereka yang tinggal sebentar lagi hadir ke dunia ini.

“Nyonya.. kami sudah bisa melihat kepalanya.. dorong lagi.. ayo..”

“Yoong.. aku.. sudah tidak kuat..” mata Tiffany mulai terpejam lagi membuat Yoong kembali panic.

“Noona.. tetaplah bersamaku… dorong lagi.. buka matamu..” Yoong rasanya ingin menangis saat itu. Ia tak tega melihat istrinya seperti ini. Dadanya sesak melihat Tiffany yang seperti sedang bergulat dengan maut demi kelahiran sang putri mereka.

“Yoong.. maafkan aku.. aku tidak bi..” dan untuk pertama kalinya.. Tiffany merasakan kecupan bibir Yoong di miliknya.

Rasa yang aneh itu muncul. Semua sakit yang ia rasa seakan perlahan menghilang dengan sesuatu yang ringan.. menyenangkan dan tak terlupakan.. sesuatu yang belum ia rasakan dari pria manapun bahkan Taeyeon sekalipun. Padahal untuk sebuah kecupan.. Yoong bukan pria pertama yang melakukannya, tapi entah kenapa… rasanya kecupan suaminya itu seperti yang pertama baginya. Ia merasa bagai gadis 17 tahun lagi yang baru menerima ciuman pertama dari pria yang dicintainya.

“Fany-ah… stay with me.. I need you.. saranghae..” Yoong memperdalam kecupan itu, menutup kedua matanya dengan linangan air mata panic, sedih dan ketakutan yang selama proses persalinan ini menghantuinya. Yoong bisa merasakan Noonanya itu mulai membalas ciumannya, masih dalam tangisnya yang lemah karena semua tenaganya terasa terkuras selama proses persalinan ini.

“Ya.. Nyonya.. dorong sekali lagi…” dokter sudah berhasil mengeluarkan kepala sang bayi yang masih berlumur darah. Tiffany mencoba mendorong lagi sambil memegang kedua tangan Yoong yang tak berusaha menyembunyikan air matanya.

“Howaaaa… howaaa…..hoowaaa….” tangis itu terasa seperti sebuah mimpi bagi Yoong. Meskipun ia bukan ayah kandung Ji Soo.. tapi ia merasa seperti seorang ayah yang baru pertama kali menyambut kelahiran anak mereka. Lalu bagaimana dengan Tiffany?

“Yoong..” Yoong merasakan genggaman tangan Tiffany yang menatapnya begitu lelah tapi dengan raut kelegaan dan kebahagian yang tak bisa disembunyikan. Ia tak bisa mengalihkan tatapannya dari malaikat kecil yang baru saja hadir di hidupnya. Matanya tak berkedip melihat dokter mulai memotong ari-ari dan membersihkan putrinya yang masih menangis begitu keras.

Mata Yoong berkaca-kaca melihat perawat yang mulai membersihkan putrinya itu. Tiffany mengikuti pandangan suaminya itu, tersenyum kecil melihat putrinya masih menangis lemah saat dimandikan. Dalam beberapa menit.. sang bayi kini sudah diselimuti kain hangat yang menjadi baju pertamanya. Perawat itu memberikan Ji Soo pada Tiffany dengan perlahan, mulai mendekap putrinya itu untuk pertama kalinya setelah ia lahir.

“Noona.. malaikat kita..” Yoong mengecup puncak kepala Ji Soo yang mulai menutup kedua matanya selama di dekapan dada ibunya itu. Tiffany tak bisa menahan tangis harunya melihat hal itu. Pemuda yang masih tak bisa mengalihkan pandangan dari putrinya itu begitu luar biasa. Tiffany sungguh bersyukur karena ia dipasangkan oleh Tuhan dengan seorang pemuda.. no.. baginya Yoong adalah definisi pria yang sebenarnya. Yoong.. suaminya itu yang mencintainya unconditionally.. tak perduli dengan masa lalu yang masih menjadi momok yang menakutkan dan memalukan baginya.

End Of Flashback

“Kau tahu.. tanaman ini baru dikeluarkan 4 seri saja..” Yoong mulai menata isi dari botol tempat tanaman barunya itu singgah. Tiffany yang tak mengerti pun hanya menganggukan lagi kepalanya, berusaha mencoba mengerti apa yang diucapkan suaminya itu.

“Benarkah?” Yoong menganggukan kepalanya mengiyakan pertanyaan istrinya itu. Ia membawa Tiffany untuk melihat tanaman dengan bentuknya yang unik dan warna pink violet yang manis.. elegan dan menenangkan setiap orang yang melihatnya.

“Ya.. 2 milik penemunya dan 2 lagi milikku..” Tiffany kini mulai bisa melihat keindahan yang sebenarnya dari tanaman itu.

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” Yoong tersenyum melihat istrinya yang tak berhenti menatap tanaman barunya itu. Sepertinya istrinya itu sudah mulai terhipnotis dengan pesona tanamannya itu.

“Haruskah aku memberitahumu?”sisi jahil ini yang membuat Tiffany melihat suaminya itu dengan tatapan tak percayanya. Senyum misterius itu kini bermain di wajah cantiknya. Perlahan ia dekatkan wajahnya dengan suaminya itu, menyimpan kedua tangannya di dada bidang Yoong yang masih dalam balutan kemeja pink Armani miliknya yang khusus dipilihkan oleh Tiffany.

“Kau masih tak mau memberitahu istrimu ini?” kedua tangan halus itu mengelus dada itu perlahan membuat sang pemilik merasakan sensasi lain yang bermain di tubuhnya.

“Jika aku masih tak mau?” Suara suaminya itu terdengar semakin memberat dengan desiran halus di akhirnya.

“Kau akan menerima ini..” Tangan itu turun kebawah secara perlahan lalu berhenti di satu titik yang membuat pria di hadapannya itu menegang seketika.

“Fany-ah..” Tiffany tersenyum penuh kemenangan saat suaminya itu mulai memanggil panggilan kesayangannya. Yoong mulai memanggilnya seperti itu sejak mereka resmi mulai menjalin hubungan yang lebih dari seorang dongsaeng yang menjaga amanat dari hyungnya untuk menjaga kekasih dan putrinya.

Tangan itu mulai bergerak dengan sendirinya mencari titik lemah sang pemilik. Tubuh Yoong bergelinjang menerima sentuhan itu. Wanita di hadapannya ini jelas tahu apa kelemahannya.

“Ahhaaha… Noona.. stop please..” Tiffany masih tak berhenti menggelitiki pinggang pria yang semakin hari terlihat semakin tampan baginya. Tawa dan teriakan memenuhi balkon kamar pasangan muda itu. Tiffany takkan menghentikan gelitikannya itu sampai suaminya itu memberikan apa yang diinginkannya.

“Hahaha.. kau harus memberitahu dulu yang tadi padaku..” gerakan Tiffany terhenti saat Yoong mengunci tangan istrinya itu dengan miliknya. Tiffany berusaha melawan tapi gagal karena kekuatan suaminya itu bukan main. Yoong bisa membereskan kamarnya yang super luas dengan berbagai furniture di dalamnya sendiri waktu itu, saat semua pembantu di rumahnya ia liburkan di hari natal. Tiffany yang waktu itu masih dalam masa penyembuhan setelah melahirkan hanya terdiam kagum melihat suaminya itu begitu sigap dan penuh semangat membersihkan kamar mereka dan beberapa ruangan yang perlu didekorasi untuk pesta natal yang rencananya akan diadakan malam harinya.

“Acckk… Yoong..” kini giliran Tiffany yang terperangkap dalam tubuh suaminya itu. Yoong tertawa senang melihat istrinya itu berusaha lepas dari dekapannya.

“Aku akan melaporkanmu pada Yoojin Unnie dan Umma..” ancam Tiffany yang masih berusaha melepaskan genggaman tangan suaminya yang masih begitu erat mendekapnya dari belakang.

“Noona.. kau benar-benar mau tahu yang tadi?” nada bicara Yoong berubah. Dekapan itu ia lepaskan membuat Tiffany keluar segera dari perangkapnya tadi. Istrinya itu segera membalikan badannya untuk berhadapan dengannya.

“Jadi.. kau mau memberitahuku sekarang?” Tiffany berjalan mendekat lagi ke suaminya yang mengiyakan pertanyaannya tadi dengan wajah imutnya.

“Park Han Byeol adalah inventor dari dua tanaman ini Noona. Ia sengaja memberikan 2 tanaman ini saat tanaman ini berhasil diuji dan siap dibudidayakan. Han Byeol adalah salah satu sahabatku di jurusan. Dia berada di kelas yang berbeda. Kami berdua adalah partner dalam berbagai proyek yang diadakan di kampus waktu itu. Sebenarnya tanaman ini adalah proyek kami berdua tapi aku.. aku berhenti sementara melakukan penelitian itu karena aku harus pulang ke Korea.. menjemput wanita yang begitu luar biasa masuk ke hidupku saat itu..”

“Wanita itu..” terlihat sedikit rasa bingung, penasaran dan cemburu dari wajah Tiffany saat suaminya itu mengatakannya.

“Wanita itu terlihat begitu terluka karena ia baru saja kehilangan cinta dalam hidupnya. Tapi ia begitu kuat karena ia masih mau mempertahankan kehidupan yang baru saja memulai langkahnya di hidupnya..” Yoong mulai menautkan jari jemarinya dengan milik Tiffany yang sepertinya mulai mengerti kemana arah ucapan suaminya itu.

“Yoong..” kata itu terhenti saat jari telunjuk Yoong berhenti di bibirnya. Mata kijang itu menatapnya lembut.. penuh cinta.

“Wanita itu.. yang membuatku percaya bahwa cinta itu ada. Ia mengajarkan padaku tentang sesuatu yang selama ini selalu kusepelekan dan kuanggap hanya angin belaka. Wanita itu membuatku merasakan sesuatu yang membuatku hidupku lebih bersemangat. Aku seakan memiliki tujuan baru dalam hidupku saat aku bersamanya..” Tatapan Yoong tak pernah putus, ia mengamati keindahan di hadapannya yang tuhan titipkan padanya untuk ia jaga dan ia sayangi.

“Benarkah seperti itu?” Tiffany tersenyum lembut dengan kedua matanya yang mulai berkaca-kaca. Pria di hadapannya ini.. tak pernah berhenti mengejutkan dan meluluhkan hatinya dengan berbagai ungkapan kata dan tingkah lakunya yang begitu manis dan menyenangkan hati.

“Euhm.. aku merasa terlahir sebagai manusia baru saat melihat foto USG putrinya. Putri kami.. aku begitu senang memanggilnya seperti itu. Rasa itu awalnya begitu ambigu dan membingungkan bagiku.. tapi aku menikmatinya. Meskipun aku bukan yang pertama baginya.. tapi aku yakin dia adalah yang terakhir untukku Noona…” Keyakinan itu bisa dengan jelas Tiffany lihat di wajah suaminya. Entah kata apa yang harus ia ucapkan.. yang pasti ia bersyukur Tuhan telah mempertemukannya dengan pria seluar biasa ini.

“Beberapa bulan lalu aku menyatakan keinginanku untuk mengencaninya, menjadi prianya dan menjadi suami yang sebenarnya untuk wanita itu Noona..” Pandangan mereka berdua bertemu, terikat dalam satu waktu yang memabukkan keduanya dalam dimensi tak terbatas, tak termiliki.. hanya mereka berdua dan waktu yang membuatnya ada.

“Lalu apa jawabannya?”

“Syukurlah dia mau menerima permintaanku Noona. Besoknya putri kami lahir dan aku merasa menjadi pria paling bahagia saat itu karena aku bisa menyaksikan bagaimana putri kami lahir. Dia begitu cantik dan cute seperti ibunya…” Tiffany tertawa kecil mendengar itu sementara Yoong masih begitu semangat menceritakan hal itu.

“Wanita itu.. adalah kau Noona..” Yoong mengecup kedua tangan yang digenggamnya itu satu persatu. Tiffany tersenyum haru, menangis bahagia dalam diamnya melihat pria yang tak pernah berhenti menggetarkan hati dan jiwanya.

“Tanaman itu… melambangkan 2 orang yang begitu berharga dalam hidupku saat ini.. besok.. dan seterusnya..” Yoong lepas genggaman itu, ia simpan kedua telapak tangan Noona-nya itu di dadanya dan semakin mendekatkan tubuh mereka. Tiffany menutup kedua matanya saat ia merasakan kelembutan kecupan suaminya itu di kedua matanya bergantian, menghapus tangis harunya itu. Untuk beberapa saat mereka terdiam dalam kondisi itu sampai akhirnya Yoong menarik istrinya itu dalam pelukannya membuat Tiffany segera menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang begitu nyaman baginya.

“Yoong.. apa yang kau pikirkan tentang semua ini..” Tiffany berucap memecahkan keheningan itu, masih di sandaran suaminya yang tersenyum mendengarnya.

“Uri sarangeun.. yeongwonhata…” bisikan itu tanpa sadar membuat senyum Tiffany semakin merekah, sementara Yoong.. ia semakin dalam mendekapnya wanitanya itu dengan ciuman di puncak kepala yang menurutnya sudah cukup untuk menunjukan rasa cintanya pada sang Noona.

======== The Reason Is ========

“Hai georgeous.. apa kau sudah lama menunggu?” Seorang pria segera memeluk dan mengecup kening wanita yang sudah 30 menit ini terdiam seorang diri menunggunya. Wanita itu kembali duduk bersampingan dengan kekasihnya yang baru kali ini bisa ia temui lagi karena jadwal mereka yang memang selalu bersebrangan.

“30 menit kuhabiskan disini menunggumu Mr. Choi..” wanita itu menggembungkan kedua pipinya sementara kekasihnya hanya tertawa kecil melihat tingkah antic wanitanya itu.

“Aigoo.. Mr. Mr-mu ini kan sedang berusaha menyukseskan deal untuk perusahaan suami sahabatmu juga.. masa kau mau marah?” pria itu dengan cepat memeluk sang wanita dari samping, membuat wanita itu berteriak kaget tapi kegirangan juga dalam hatinya.

“Ishh.. sudahlah.. daripada kita berdebat hal seperti ini.. aku ingin membicarakan sesuatu denganmu..” si pria tertawa mendengar gaya khas kekasihnya itu. Ia semakin mendekatkan tubuhnya dengan wanita yang tak menolak tingkah manjanya itu.

“Malhaebwa.. aku siap mendengarkan semua ucapanmu georgeous..” Pria itu membawa dagu kekasihnya itu dengan tangannya, membuat wajah kekasihnya itu berhadapan langsung dengannya, begitu dekat. Ia kecup bibir pink merah mengkilap itu pelan yang dibalas dengan intensitas yang sama oleh sang kekasih. Kecupan-kecupan kecil itu perlahan berubah menjadi ciuman panas yang membuat keduanya gerah. Tangan si pria perlahan turun memijat buah dada si wanita yang menautkan jari jemarinya di kepala si pria.. memijat pelan kepala pria yang masih sibuk menyerang bibir dan lehernya bergantian. Untung saja mereka berada di ruang VIP restoran yang dimiliki oleh si pria sehingga privasi dan keamanan mereka terjaga.

“Euhmm.. Soo.. ahhh…” Jessica mencoba melepaskan pagutan kekasihnya yang masih begitu bernafsu menciuminya. Usaha Jessica sia-sia karena kekasihnya itu malah menambah ritme make out mereka. Namja jangkung itu berhasil membuka sleting dress yang dikenakan kekasihnya dalam hitungan detik. Mata pria bermarga Choi itu bersinar penuh kekaguman setelah berhasil menyingkirkan gaun putih hitam klasik yang tadi erat memeluk tubuh kekasihnya, membuat penampilan kekasihnya itu terlihat modis dan elegan seperti yang diharapkan dari seorang Jessica Jung. Jessica masih terbaring di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur juga saat kekasihnya itu dengan sigap melepaskan semua pakaiannya, membuat mereka berdua polos tak mengenakan apapun.

“Soo.. kau bisa berhenti menelanjangi tubuhku dengan mata predatormu itu..” Meskipun ini bukan pertama kalinya ia berhubungan badan dengan pria yang dulu terkenal sebagai playboy itu, rasa malu saat mata indah kekasihnya itu menatap tubuhnya dari atas hingga bawah selalu ada.

“Sica..aku merindukanmu sayang..” Sooyoung mulai mengecup bibir… leher.. dada dan berakhir di perut kekasihnya yang terawatt dan terbentuk itu. Perlahan ia masukan sahabatnya itu kedalam gua kenikmatan milik Jessica yang mendekapnya begitu erat dan hangat. Perlahan ia gerakan pinggangnya ke depan dan belakang, memberikan penetrasi penuh kenikmatan untuk keduanya. Jessica yang sudah terbiasa dengan ukuran sahabat kekasihnya yang terbilang luar biasa itu melenguh sementara prianya itu semakin mempercepat gerakan pinggangnya untuk mencapai puncak kenikmatan bagi keduanya.

“Soo..eungh.. aku..” Jessica berteriak cukup keras mencoba menahan kenikmatan dan rasa sakit dalam organ kewanitaannya sementara kekasihnya masih bertenaga memompa dirinya menuju ujung batas kenikmatan yang memang hanya Sooyounglah yang bisa memberikan itu semua padanya.

“Bersama-sama sayang.. tunggu aku..” dalam hitungan beberapa detik cairan cinta mereka keluar, memenuhi satu sama lain. Sooyoung menggulingkan posisi mereka sehingga Jessica kini yang berada di atasnya, terbaring di tubuhnya yang masih banjir keringat berkat aktivitas yang melepaskan birahi mereka.

“Gorjess… kau luar biasa sayang.. aku mencintaimu..” Sooyoung mengecup puncak kepala wanita yang masih berbaring di tubuhnya.. menyenderkan kepalanya di dadanya.

“Heuhm.. nado..” Jessica yang masih lelah dengan sesi bercintanya tadi semakin menenggelamkan kepalanya di bantalan favoritnya, dada sang kekasih dimana ia bisa mendengar dentuman jantung kekasihnya yang berpacu begitu cepat jika sedang bersama dirinya.

“Sayang… kau tadi ingin mengatakan sesuatu.. ada apa?” Sooyoung mengelus kepala kekasihnya yang terdiam sejenak mencoba mengingat sesuatu.

“Oh iya.. kau tahu.. kalau Yoong dan Tiffany sudah mulai membuat rumah tangga mereka berjalan?” Sooyoung menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan kekasihnya itu.

“Itu adalah progress yang bagus tapi aku tak tahu apa yang ada di kepala sahabatmu itu hingga ia masih belum melakukan itu dengan istrinya..”

“Tunggu dulu.. maksudmu mereka..” Sooyoung menghentikan elusan itu, menepuk kepalanya mengerti akan ucapan kekaishnya itu.

Flashback

“Jadi.. bagaimana Mr. Kwon? He is great isn’t?” Jessica kembali menyesap matcha latte-nya sementara Tiffany hanya mengangguk pelan menjawabnya. Jessica yang melihat hal itu segera menghentikan isapannya. Ia menatap sahabatnya itu heran.

“Dia begitu sempurna Jess.. sangat sempurna..” Tiffany tersenyum kecil mengingat suaminya yang begitu memuliakannya sebagai seorang wanita dan kekasih.. ya.. mereka masih berada di tahap itu dan Yoong-lah yang ingin menjalani semuanya dengan perlahan dan santai.

“Tiff.. kau ..mencintainya?”

“Tentu Jessi.. hanya orang bodoh yang akan membenci pria sesempurna Kwon Yoonan..”

“Lalu.. mengapa kesedihan itu masih ada bestie?” Tiffany terdiam tak menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

“Aku tidak sedih Jessi..” Tiffany tertawa kecil menyesap strawberry mocca latte-nya.

“Matamu tak bisa berbohong Tiffany Kwon..” Jessica menatap sahabatnya itu tajam, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan sahabatnya itu.

“Jessi.. malam sebelum Ji Soo lahir.. Yoong memintaku untuk menjadi kekasihnya… dia menyatakan cintanya padaku..”

“Lalu?”

“Sejak itu hubungan kami menjadi lebih baik. Yoong tak seperti dulu, ia mulai menunjukan sisi lain dari dirinya yang begitu luar biasa Jess. Yoong begitu gentle dan selalu mengutamakan semua kebutuhanku serta putri kami. Tapi.. meskipun begitu.. masih ada sesuatu yang ingin kulakukan dengannya Jessi..”

“Tiff.. selama ini.. apa saja yang telah kalian lakukan?”

“Maksudmu?”

“Kau tahu apa maksudku bestie..” Jessica tersenyum memutarkan pandangannya sementara Tiffany tertawa melihatnya.

“Kau tahu..dulu Yoong hanya mencium kedua tanganku, pipi atau keningku.. ya.. jangan lupakan juga genggaman manis dan pelukan hangatnya…” Jessica tersenyum senang dalam hatinya melihat sahabatnya yang begitu bahagia menceritakan kisah cintanya dengan sang pewaris keluarga Kwon.

“Kau seperti remaja yang baru jatuh cinta Tiff..” Jessica menggoda sahabatnya yang segera melemparkan tissue padanya.

“Jessi.. aku tak tahu mengapa aku bisa seperti ini.. setiap kecupan dan ciuman yang Yoong berikan padaku.. selalu membuatku tak bisa berpikir jernih. Aku selalu menginginkan hal yang lebih..”

“Kau belum bercinta dengan suamimu Tiff?” Tiffany menggelengkan kepalanya tersenyum kecil pada sahabatnya yang menatapnya tak percaya.

“Ini adalah kedua kalinya aku mendengar hal itu dan ini adalah hal yang tidak bisa dipercaya.. heol.. suamimu memang sesuatu!”

“Ya.. kami memutuskan untuk menjalankan semuanya pelan-pelan.. Yoong ingin kami melakukannya saat aku benar-benar siap Jessi..”

“Kau sudah siap kan? Kau juga menginginkannya bukan? Woahh apalagi suamimu itu adalah pewaris muda yang genius dan terkenal memiliki jiwa sosial yang tinggi.. semua wanita pasti rela mati untuk berada di posisimu sekarang..”

“Jessi..” Tiffany memberikan tatapan keberatannya pada Jessica yang tersenyum meminta maaf padanya.

“Aku sudah siap.. hanya saja aku yakin Yoong takkan mau melakukan hal itu mengingat kondisiku sekarang.. belum lagi dengan adanya Ji Soo.. Kau tahu.. kadang aku berharap sekali saja Yoong menjadi buas padaku.. menunjukan semua cinta dan nafsunya padaku..”

“Haha.. kau ingin suamimu menjadi Christian Grey eoh..Tiffany Stelle?” Jessica tertawa lagi melihat sahabatnya yang merona malu lalu mulai melemparinya dengan cheese bread yang tepat mengenai wajahnya.

End Of Flashback

 

“Sudah 1 tahun lebih dia menikah dan dia masih belum menyentuh istrinya.. sungguh disayangkan.. ckckck..” Jessica menganggukan kepalanya menyetujui ucapan kekasihnya itu.

“Lebih baik aku yang menjadi suaminya..” Sooyoung berucap asal… tak memperhatikan tatapan tajam yang diberikan kekasihnya. Beberapa detik kemudian ia merasakan panas luar biasa di dadanya karena Jessica mencubit nipple-nya begitu keras.

“Kau masih ingin menjadi suami sahabatku eoh?” nada yang mengancam itu membuat Sooyoung segera menggelengkan kepalanya seperti anak kucing yang akan dihukum oleh majikannya.

“Sudah.. daripada kau berbicara ngawur.. lebih baik kita susun rencana supaya sahabatmu yang pabo itu segera membuat adik baru untuk Ji Soo..” dan dengan itu kedua insan manusia itu mulai menyusun strategi yang akan membuat Yoong segera menyentuh istrinya.

======== The Reason Is ========

“Ji Soo dan Woonie sudah tidur?” Yoojin menganggukan kepalanya memberikan suaminya itu teh rosella hangat yang menjadi favoritnya. Yoojin segera duduk di pangkuan Yuri yang senang sekali memangkunya jika mereka sedang santai seperti ini di balkon kamar tidur mereka, memandangi langit dan taman Kwon mansion yang indah sekali di malam hari dengan pencahayaan yang diatur sedemikian rupa untuk menghidupkan isinya menjadi suatu keindahan yang tak ternilai.

“Apa kau lelah mengurus Ji Soo dan Dongwoon hari ini?” Yuri mulai meminum the buatan istrinya itu, masih mendekap hangat Yoojin yang masih focus menikmati momen mereka yang memang jarang sekali terjadi akhir-akhir ini karena kesibukan Yuri menghandle tugas-tugas sepupunya selama mengambil cuti untuk menemani istrinya yang baru saja melahirkan.

“Aku pasti bohong jika berkata ini semua tidak melelahkan..” Yoojin menyesap teh di cangkir suaminya itu, Yuri tersenyum melihat kebiasaan istrinya yang selalu minum dan makan dari cangkir atau piring yang sama dengannya. Ia melihat itu sebagai cara manis dari Yoojin yang ingin selalu menjadi bagian dari dirinya dalam hal apapun termasuk dalam hal berbagi makanan sekalipun.

“Tapi karena kau melakukan semuanya dengan cinta dan ikhlas.. maka semua lelah itu terbayar.. benar bukan?” Yoojin tertawa mencubit pipi suaminya itu dari belakang. Yuri memang pria yang paling mengerti dirinya melebihi dirinya sendiri. Dan ia sungguh beruntung bisa dipasangkan oleh tuhan dengan namja luar biasa yang selalu memberikan semua yang ia butuhkan dalam hidupnya selama ini hingga hari ini.

Flashback

“Unnie.. kau mendapat kiriman makan siang lagi..” Nana memberikan sebuah tas biru cukup besar. Yoojin sudah familiar dengan ta situ beserta isinya.

Sudah hampir 2 bulan ini ia menerima kiriman makan siang atau apapun dari seseorang yang masih ia belum ketahui identitasnya. Bukan ia tak mau mencari tahu tentang hal ini… hanya saja ia menghormati keinginan penggemar rahasianya yang tak ingin Yoojin mencari tahu identitas namja itu. Dengan cara yang aneh Yoojin tak mempersalahkan keinginan pria aneh dan misterius itu. Entah apa yang terjadi dengan otaknya saat ia memberikan balasan dari surat pertama pria misterius itu pada kurir yang akhirnya selalu mengantar paket pria itu padanya.

“Wow.. ini sudah 2 bulan dan dia masih terus saja memberikanmu kejutan-kejutan manis itu tanpa memberitahukan identitasnya.. heol.. daebak!” Lizzy tertawa masih mengunyah mandu coklatnya sementara Jungah dan Nana kini mendekati Yoojin yang segera membuka isi tas biru itu. Hal pertama yang akan Yoojin buka adalah amplop pink muda denga surat kecil di dalamnya yang tak pernah gagal melukis senyuman manis di wajahnya.

Cinta dan keikhlasan adalah kuncinya.. aku yakin kau mengerti maksudnya ^_^

Semoga makanan ini bisa mengusir semua kelelahanmu

Oh ya.. aku sengaja memasaknya untukmu.. kuharap kau menyukainya.

-YK-

 

“Unnie.. bukankah dia manis sekali.. ahh jika aku bisa bertemu dengannya.. akan langsung kuterima jika ia memintaku menjadi kekasihnya..” Yoojin tertawa mendengar ucapan Nana yang selalu ikut berdelulu ria membayangkan sosok pria misterius berinisial YK yang perlahan menyimpan tempatnya di hati Yoojin. Oke… panggil Yoojin gila karena ia bisa dengan mudah terpesona dengan pria misterius ini tapi tak tahu kenapa ia percaya bahwa ia seperti terhubung dengan pria ini dengan cara yang unik.

-4 bulan kemudian-

“Apa yang akan ia berikan kali ini untukku?” Yoojin berdiri dalam balutan gaun merah yang dengan indah dan elegan membalut tubuhnya. Ia sengaja datang ke puncak Namsan Tower malam ini sesuai dengan permintaan pengagum rahasianya yang berjanji akan memberikan kejutan tak terlupakan jika Yoojin mau menuruti permintaannya. Trench Coat Coklat Burberry hadiah dari YK juga ia kenakan malam ini agar tubuhnya tak menggigil melawan dinginnya Seoul saat ini.

“Nona Kim..” Yoojin mengalihkan pandangannya ke sumber suara yang memanggilnya. Di hadapannya kini berdiri seorang pria dalam balutan Trench Coat Coklat Burberry yang sama dengannya. Pria itu mengenakan topi fedora dan kacamata hitam berbingkai coklat yang berhasil membuat wajahnya tak terlihat jelas.

“Saya disini untuk mengantarkan paket kiriman tuan YK..” suara pria itu begitu rendah membuatnya terdengar seperti seorang pria yang gagah dan berwibawa.

‘ Mengapa aku baru melihatnya hari ini? dia tak terlihat seperti seorang kurir biasanya..’ ucap Yoojin dalam hatinya menatap pria yang masih berdiri satu meter darinya. Pria itu berjalan mendekat dengan dua kotak besar yang dijinjingnya.

“Mr. YK ingin Anda membuka kotak ini terlebih dulu..” pria itu memberikan kotak merah maroon yang cukup besar pada Yoojin yang semakin penasaran dengan isinya. Didalamnya terdapat peluit perak dengan kertas kecil.

Ingin bertemu denganku?

Tiup peluit ini 3 kali dan keinginanmu akan terkabul ^_^

 

Tanpa basa-basi lagi Yoojin segera meniup peluit itu 3 kali. Dalam hitungan beberapa detik muncullah 4 orang pria dengan tux hitamnya membawa dua kursi, satu meja, sebuah cart besar yang tak tahu apa isinya itu. Yoojin hanya bengong melihat 4 pria itu menata meja dan kursi itu seromantis mungkin. Di atas meja kini terlihat sebuah lilin dan 2 piring hidangan yang menjadi favoritnya. 4 pria itu bergegas pergi setelah selesai menyiapkan semuanya sementara Yoojin masih seperti orang bodoh dan bingung melihat ini semua.

“Tuan YK ingin anda membuka ini sekarang..” si kurir kini mulai memberikan kotak lain yang segera Yoojin buka. Di dalamnya terdapan sebuah gelang berhiaskan berlian yang selama ini ia inginkan.

Kenakan gelang ini dan kau akan segera mengetahui aku yang sebenarnya. Balikan badanmu saat memakainya. Jika sudah selesai.. balikan lagi tubuhmu dan kita akan segera bertemu ^_^

 

Dalam hitungan menit gelang itu sudah tersemat indah di pergelangan tangan kanannya. Dengan segera Yoojin balikan direksi tubuhnya.

“Kau..” Yoojin terdiam melihat pria yang menjadi kurirnya tadi mulai membuka topi fedora hitamnya. Yoojin bisa melihat rambut itu tertata rapid an bersinar seperti Daniel Henney. Saat kurir paketnya itu membuka trench coat-nya, Yoojin mulai tahu bahwa pria di hadapannya ini bukan orang biasa karena tux hitam classic Armani itu memelut erat tubuh berototnya. Dengan sendirinya kaki Yoojin melangkah mendekati pria di hadapannya itu yang masih mengenakan kaca mata hitamnya.

“Kau.. YK?” pria di hadapannya itu tersenyum manis memberikan sebuah kertas kecil dari saku jasnya.

Buka kacamata ini maka kau akan tahu yang sebenarnya Nona Kim Yoojin ^_^

Perlahan Yoojin ambil kacamata yang masih bertengger di wajah pria dihadapannya itu. Dan dalam hitungan detik.. wajah pria misterius itu terlihat jelas. Yoojin terdiam tak mengedipkan matanya melihat pria yang tersenyum begitu tampan dan lembut padanya mulai menggenggam kedua tangannya.

“Yuri Kwon imnida.. senang bisa bertemu denganmu secara langsung akhirnya..” ucap Yuri tertawa kecil lalu mulai mengecup tangan kanan Yoojin yang terhenyak sejenak dalam dunia fantasi dan realitanya.

End Of Flashback

 

“Syukurlah Sooyoung dan Jessica merencanakan hal ini..” Yuri mengangguk mendengar hal itu. Sudah 2 hari Yoong dan Tiffany pergi ke Venecia mengikuti permintaan Jessica yang menang dalam permainan kartu mereka seminggu yang lalu di Kwon Mansion. Sebagai pemenang Jessica bebas meminta apapun. Dengan spontan ia meminta Yoong dan Tiffany untuk menghabiskan 2 minggu mereka di sejumlah negara yang sudah Jessica tetapkan.

“Iya.. jika tidak.. mungkin mereka takkan pernah memiliki kesempatan untuk berbulan madu lagi..” Yoojin menggenggam kedua tangan Yuri yang mengelus perutnya pelan.

“Mengingat sifat Yoong.. aku yakin ia hanya berani mencium saja istrinya itu tidak lebih.. hahaha” Yuri tertawa mengingat betapa gugupnya sepupunya itu sebenarnya jika berada di dekat Tiffany. Ia serng berkonsultasi pada Yuri bagaimana caranya untuk tetap tenang di dekat Tiffany. Di balik kesempurnaan yang Yoong tunjukan selama ini.. Yuri tahu betul bahwa sepupunya itu terkadang masih merasa tak percaya diri bila ia sudah berhadapan dengan wanita yang perlahan dicintainya.

“Hush.. tidak boleh seperti itu ah. Kemarin Yoong sempat bercerita padaku sesuatu..” Yoojin menerawang lagi percakapannya dengan sang dongsaeng yang selalu berhasil membuatnya terkagum-kagum dengan kepribadiannya.

 Flashback

“Noona.. aku merindukanmu..” Yoong memeluk Yoojin yang baru saja tiba di café-nya. Mereka memang tinggal satu komplek di Apgujeong tapi akhir-akhir ini Yoong jarang sekali bertemu dengan Noona-nya yang mulai sibuk membawa Dongwoon ke sekolah.

“Hahaha.. jika Tiffany mendengar ini.. aku yakin ia cemburu..” Yoojin melepaskan pelukan itu menahan tawanya melihat Yoong yang tersenyum malu padanya.

“Tidak akan Noona.. cintaku pada istriku tentu lebih besar.. hehehhe” Yoong mengusap pelan kepalanya.

“OKe.. bagaimana rumah tanggamu?” keduanya kini mulai duduk menyantap hidangan pembuka yang begitu nikmat.

“Hubungan kami semakin membaik Noona. Aku semakin leluasa menunjukan kasih sayangku pada Tiffany dan putri kami. Semakin hari.. aku semakin mencintainya Noona.. ah berat sekali rasanya saat aku harus meninggalkanya beserta Ji Soo jika aku sedang melakukan perjalanan bisnisku..”

“Oh.. mengapa kau tidak membawa mereka saja?” Yoojin begitu lahap menyantap makanannya sementara Yoong memakannya pelan.

“Aku sempat berpikiran seperti itu.. hanya.. itu tak mungkin terjadi sekarang-sekarang ini karena Ji Soo masih kecil. Lagipula Tiffany Noona berniat untuk memberikan ASI eksklusif untuk Ji Soo sehingga aku tak mungkin membawanya bepergian bersamaku..” Yoojin menganggukkan kepalanya mengerti situasi dongsaeng kesayangannya itu.

“Kau semakin dewasa Yoong.. aku bangga padamu. Kau memikirkan kepentingan istri dan putrimu terlebih dibanding keinginanmu.. good job! Btw.. kapan kalian akan memberikan adik untuk Ji Soo?” Yoojin hampir saja tersedak menahan tawa melihat raut merah di wajah Yoong. Dongsaengnya itu wajahnya memerah seperti kepiting rebus menerima godaannya.

“Ah untuk masalah itu.. aku masih belum melakukannya Noona..” Yoong tersenyum kecil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.

“Kenapa? apa terjadi sesuatu?” Yoojin menatap dongsaengnya itu heran dan penasaran. Bagaimana mungkin adiknya itu bisa tahan tak menyentuh wanita secantik Tiffany.

“Semuanya baik-baik saja Noona. Aku sudah bilang pada Tiffany Noona bahwa kami akan melakukannya jika semuanya sudah siap. Lagipula.. aku ingin melakukan hal itu saat aku mengikat janji lagi denganya nanti Noona..”

“kau akan..” Sepertinya Yoojin mulai mengerti maksud dari malaikat di hadapannya ini.

“Ya.. aku berencana untuk melamarnya lagi dan memperbarui janji kami di hadapan Tuhan.. kali ini aku ingin benar-benar bertukar janji dengannya bukan hanya sebagai wanita yang harus kujaga.. tapi sebagai wanita yang aku cintai dan akan kujaga dengan seluruh hidup dan matiku..” Ucap Yoong tersenyum penuh harapan dan kepastian membayangkan betapa indahnya moment itu.

“Yoong.. aku tak bisa berkata apapun.. mengapa kau begitu sempurna?” Yoojin menatap pria di hadapannya itu penuh kekaguman. Andai saja ia tak bertemu Yuri dulu.. mungkin ia sudah jatuh cinta dengan anak ini. Kedewasaannya dalam bertindak dan memperlakukan wanita membuat Yoong begitu mempesona baginya.

“Hahaha.. kau terlalu berlebihan Noona. Oh ya.. tolong jangan beritahukan hal ini pada siapapun ya Noona..” Yoojin mengiyakan keinginan Yoong yang tertawa senang melihatnya.

End Of Flashback

“Yul.. apa yang sedang Tiffany dan Yoong lakukan sekarang ya?” Yoojin yang sudah membalikan direksi tubuhnya itu kini duduk berhadapan dalam pangkuan suaminya, menautkan kakinya di pinggang suaminya seperti seorang koala yang tak mau pisah dari induknya.

“Mungkin mereka sedang melakukan ini..” Yuri dekap wajah bening merona istrinya itu dengan kedua tangannya, perlahan ia elus lalu ia cium penuh cinta bibir yang selalu menjadi candu baginya.

“Atau mereka sedang melakukan ini..” Yoojin terasa seperti tersengat saat suaminya itu mulai mengecup daun telinganya, mulai menjilat dan menggigit telinganya perlahan. Tangan nakalnya itu mulai bergerilya menyusup masuk ke jubah lingerie leopard istrinya yang terlihat begitu seksi bagi Yuri. Perlahan ia usap lembut punggung mulus itu. Senyum itu hadir saat Yoojin mendesah pelan menerima sentuhan penuh cinta dan nafsu dari suaminya yang baru saja selesai mandi untuk melepas lelah dan stressnya.

“melakukan in..” ucapan itu terpotong karena Yoojin kini mencium Yuri begitu dalam, mulai mengalungkan kedua tangannya di leher Yuri yang membalas ciuman itu penuh semangat. Kedua lidah itu mulai bertarung merebut dominasi disertai pertukaran saliva yang menjadi kenikmatan untuk keduanya. Yoojin mendesah pelan saat suaminya itu menang dan menyesap lidahnya lalu mulai mengulumnya. Dengan refleks Yuri berdiri mengangkat tubuh istrinya itu, berjalan menuju ranjang tercinta mereka tanpa menghentikan pagutan bibirnya.

======== The Reason Is ========

 c9f04-menara-eiffel

“Noona… kau cantik sekali malam ini..” Yoong mengambil tangan kanan istrinya itu untuk ia kecup.

sweet

Tiffany tersenyum malu mendapat perlakuan manis dari suaminya yang terlihat begitu tampan dengan setelan blazer.. kemeja dan celana coklat tua yang terlihat begitu pas di tubuhnya. Tiffany melihat kancing kemeja suaminya itu tak dikancingkan 1 di bagian kerah dan satu lagi dibawahnya sehingga dada bidang dan berotot milik suaminya itu bisa sedikit ia lihat. Tiffany tersenyum senang dalam hatinya melihat keseksian itu.

“Maukah kau berdansa denganku?” Tiffany melihat sekelilingnya. Mereka kini sedang berada di puncak menara Eiffel, di dalam restorannya lebih tepatnya. Tiffany menganggukan kepalanya, mengambil tangan Yoong yang segera memeluknya lalu mulai menggerakan tubuh mereka dalam waltz dance pelan yang begitu romantis bagi siapapun yang melihatnya saat ini. Pandangan mereka tak pernah terputus. Langkah mereka beriringan seirama dalam melodi cantik yang menemaninya. Sesekali Yoong putarkan tubuh istrinya itu membuat Tiffany tertawa kecil dibutanya. Untuk sesaat.. dunia hanya milik mereka berdua.

“Yoong.. kenapa restoran ini terlihat begitu sepi?” Yoong tersenyum manis mendengar pertanyaan istrinya itu. Ia jentikan jarinya dan semua pencahayaan di restoran itu menyala. Tiffany yang melihatnya tak bisa menahan rasa takjubnya.

“Malam ini.. tempat ini hanya untuk kita berdua..” Yoong mengedipkan mata kanannya pada sang istri yang tersenyum malu menerima love gesture-nya itu. 15 menit telah berlalu dan keduanya kini sudah duduk di meja penuh dengan pencahayaan romantic yang indah. Seorang pelayan datang membawa cart makanan yang sebenarnya belum mereka pesan. Pelayan itu mulai menghidangkan makanan pembuka yang terlihat begitu lezat dan membuat mulut berair tak sabar untuk menyantapnya.

“Cobalah.. aku sengaja memasaknya untukmu..” Tiffany mulai menyuapkan Caesar salad yang terlihat sangat segar itu ke mulutnya. Beberapa detik kemudian senyum itu merekah di wajah cantiknya.

“Ini sungguh menyegarkan Yoong..” pria yang disebutnya tadi tertawa diam dalam duduknya. Yoong juga menyicipi salad buatannya itu dari sendok Tiffany yang memaksa untuk menyuapinya. Istrinya itu terkadang begitu memaksa untuk memanjakannya. Pasangan muda itu begitu menikmati hidangan makan malam mereka ditemani music classic romantic dan pemandangan malam Paris yang begitu menawan dan memikat hati yang melihatnya.

“Dan ini adalah dessert-nya… semoga kau menyukainya..” Yoong mulai membuka tutup saji hidangannya. Di atas piring putih itu tersaji sebuah cake merah muda berbentuk hati dengan kembang-kembang kecil di sampingnya. Tiffany terdiam melihat makanan secantik itu apalagi terbalut oleh warna favoritnya.

“Heumh.. it’s heaven..” Tiffany berucap masih melahap ice cream cake itu. Yoong tersenyum puas melihat istrinya itu begitu bersemangat memakan semua makanan buatannya hari ini.

“Mengapa kau tidak memakannya?” Tiffany menatap suaminya itu heran. Yoong hanya tertawa kecil menggelengkan kepalanya lalu mulai memakan ice cream cake itu. Dan rasanya.. memang seperti yang Tiffany katakan tadi.

“Melihatmu begitu senang memakannya.. sudah membuatku kenyang Noona..” Tiffany tertawa kecil mendengar gombalan suaminya itu.

“Hahaha.. kau bisa saja.. ayo makan lagi.. ah rasanya aku ingin memakannya lagi dan lagi.. ini sungguh lezat!” Yoong tersenyum menggigit bibirnya yang tak tahan melihat tampang cute, cantik dan seksi dari istrinya itu. Tiffany menyuapkan lagi ice cream cake itu dan berhenti mengemutnya saat ia merasakan sesuatu yang keras di mulutnya.

“Tunggu dulu.. apa ini?” Tiffany mengeluarkan benda asing itu dari mulutnya dan terdiam saat melihat benda itu dengan jelas. Perlahan Yoong ambil benda asing itu kemudian mulai ia genggam kedua tangan wanita yang menatapnya penuh tanda tanya.

“Tiffany Hwang.. maukah kau menikah denganku.. lagi?” Yoong bertanya dengan kesungguhan yang tergambar jelas di paras tampannya. Tiffany terdiam melihat suaminya itu terlihat begitu tenang dalam mengucapkannya. Ini adalah hal yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi pada dirinya.

“Sebelum aku menjawabnya.. aku memiliki satu syarat yang harus kau lakukan..” Tiffany kini mulai bersua menatap suaminya yang menatapnya penasaran. Ahh…. Wajah tampan.. cute dan berkarisma iitu.. ingin sekali Tiffany menikmatinya sekarang.

“Kau harus berhenti memanggilku Noona mulai dari sekarang dan Ya.. aku mau menikah.. lagi.. denganmu..” Yoong tertawa bahagia mendengar jawaban Noona-nya itu. Ia pasangkan cincin berlian merah muda itu di jari manis istrinya.

“Of course.. your wish.. is my command.. love..” Tiffany tersenyum mendengar jawaban prianya itu. Ia kalungkan kedua tangannya itu di leher Yoong yang segera mendekatkan tubuh mereka. Kehangatan itu mulai menyatu saat bibir manis suaminya itu mulai menciumnya pelan, membuat Tiffany menutup kedua matanya dalam kenikmatan yang tiada tara baginya.

“Aku mencintaimu.. Tiffany Kwon..” Ucap Yoong melepas ciumannya itu lalu kembali merasakan kenikmatan yang istrinya itu berikan dalam hidupnya.

 ==========================================================

===============================

Siang semuanya ^_^

well ini ff emang beneran couple selingkuhan semua hahaha..

yaa selamat menikmati aja ya ^_^

untuk yulsic.. bulan depan ya hehehe

Iklan

134 pemikiran pada “The Reason Is Part III

  1. ahh yoong dewsa bngt, bikin senyum stiap moment yoonfany, yoonfany manis bngt dah, bahagianya jdi fany pnya suami si yoong, yoong ngjak fany nikah lagi, sooyoung agresif bngt, seru ceritanya.

  2. aku suka thor…mskipun aq taeny forever tpi setelah baca bagus juga,thnks utk share ffnya…a tpi org yg suka membaca dan tdk suka menulis,jdi maafkan jika jarang meninggalkan koment disini hehehe thor kalau ada PWnya kasih tau di alamat emailku ya?haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s