The Reason Is Part II

Part II (Celtic = New Beginning)

imas

“Masuklah.. aku sudah lama menunggumu..” Hyungsuk berbicara tanpa melepaskan tatapannya pada wanita yang baru saja memasuki ruangannya.

“Tiffany.. kau.. tak kusangka kau sebodoh ini..” Hyungsuk melihat salah satu artis andalannya itu dengan kekecewaan yang tergambar di wajahnya. Tiffany masih berdiri tak berani memandang pimpinan agensinya itu.

“Presiden.. maafkan aku..” air mata itu kini turun membasahi pipi Tiffany. Hyungsuk berdiri menghampiri wanita yang sudah menjadi mainannya sejak dulu. Ia mengangkat wajah Tiffany untuk tegak menatapnya. Mata itu.. bisa ia lihat sedikit bengkak, mungkin karena terlalu banyak menangis pikirnya.

“Gugurkan bayi itu dan semuanya bisa selesai. Aku akan melupakan semuanya dan tetap melanjutkan proyek solo tour-mu ke Eropa bersama SNSD…” Hyungsuk mencoba tersenyum menghapus air mata itu.

Tiffany Hwang.. wanita yang ia temukan saat ia berlibur ke Cali kini sudah tumbuh menjadi wanita yang cantik.. feminin.. berkelas.. kaya… dan berkarisma. Wanita yang ia bentuk.. ia didik dengan tangan dinginnya. Salah satu asset YG yang menghasilkan keuntungan yang cukup besar.

Tiffany.. wanita yang begitu ambisius.. enerjik… dan tekun. Wanita yang dulu menjadi sexcapade-nya, tempatnya selalu beralih dari kejenuhan dalam berhubungan dengan istrinya. Tapi sudah 3 tahun ini.. Hyungsuk tak menyentuhnya lagi sesering dulu. Mereka hanya melakukan hal itu sebulan sekali saja, mungkin tidak mengingat kesibukannya yang luar biasa sebagai pemilik YG.

Cinta.. tak ada hal semacam itu yang Hyungsuk terapkan pada artis-artis wanitanya. Tiffany bukanlah wanita pertama yang ia tiduri untuk membesarkan mereka menjadi seorang penghibur yang terkenal. Sudah banyak wanita yang menawarkan diri untuk ia setubuhi demi ambisi dan keinginan mereka untuk memperoleh kekayaan dan kepopuleran. Tapi dengan Tiffany Hwang.. ia seperti tak bisa melepaskan tubuh itu dari pikirannya. Sejak itulah kebiasaannya menggauli Tiffany dimulai.

Tiffany.. gadis itu masih terlalu polos namun terlalu berambisi saat Hyungsuk menawarkan hal itu. Hyungsuk adalah pria yang memegang kata-katanya. Sekali ia berucap bahwa ia akan menjadikan Tiffany seorang artis yang sukses dan terkenal.. maka hal itu akan ia wujudkan tak peduli bagaimanapun caranya. Dan hasilnya.. bisa Tiffany rasakan hingga hari ini.

“Aku tidak bisa.. anak inilah satu-satunya yang kumiliki setelah Oppa pergi..” Hyungsuk menutup kedua matanya, mengambil kembali tangannya yang tadi mengelus wajah wanita di hadapannya.

“Apa kau mau menukar semua yang kau miliki saat ini dengan anak itu?” Hyungsuk tersenyum sinis berjalan kembali ke tempat duduknya sementara Tiffany… dia masih mematung di tempatnya, memikirkan kembali ucapannya bosnya itu.

“Jangan korbankan semua yang telah kau raih selama ini hanya demi kehidupan yang belum tentu bisa membahagiakanmu sayang..” Hyungsuk berbicara dengan nadanya yang tak beremosi. Dia tahu Tiffany terkadang kehilangan arah… dan mungkin ini adalah efeknya setelah ia membiarkan hal itu berlalu. Gadisnya itu begitu pintar sehingga ia bisa menyembunyikan hubungannya dengan anak kesayangan Youngmin, pria tua yang bisa ia remukan hanya dengan jentikan jarinya.

“Aku akan menjaganya..” Dan Hyungsuk hanya tersenyum kecut mendengar hal itu sementara Tiffany.. ia sudah siap menanggung semua yang akan terjadi padanya karena pilihan hidupnya tadi. Taeyeon telah pergi dan ia takkan membiarkan satu-satunya hal yang menjadi pengikat dirinya dengan pria yang begitu ia cintai itu menghilang dari hidupnya karena keegoisannya yang terlalu memikirkan dunianya.

It’s now… or never…

======== The Reason Is ========

“Tiffany.. wah tak kusangka ia seperti itu ya..” seorang gadis berbicara begitu semangat pada temannya yang tak kalah semangatnya juga dengan dirinya. Mereka berada di café dengan layout taman dan tanaman indah yang menjadi feature menarik dari café yang mereka kunjungi ini tentu saja selain makanan dan minuman yang tersedia di dalamnya.

“Dia mengandung seorang anak tanpa seorang ayah.. oh tuhan.. kukira dia begitu bersih seperti malaikat..”

“Ya.. untung saja dia sudah keluar dari YG saat berita ini meruak.. ahh kalau tidak.. saham YG akan turun drastis..”

“Kau benar.. tapi aku penasaran siapa ayah bayi itu ya?”

“Nickhun? Tiffany kan sedang hangat-hangatnya digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Oppa-mu itu..”

“Andwae.. Oppa-ku tak mungkin berbuat hal seperti itu..”

“Hahaha kau ini sensitive sekali jika sudah dengan Khun Oppa.. hahaa”

“Tentu saja.. dia kan kekasihku.. idolaku..”

“Heump.. teruslah kau begitu dengan dunia delusimu Eunbi-ah..” gadis bernama Yuna itu mendeham heram dan bosan pada sahabatnya yang begitu tergila-gila pada artis idolanya, realita yang terjadi pada saat ini.

“Ini pesanan kalian nona-nona..” perhatian Eunbi dan Yuna teralihkan saat seorang pria dengan apron hitamnya datang mengantarkan pesanan mereka.

“Gomawo Oppa.. kau semakin tampan hari ini.. seperti Khun Oppa-ku..” Yuna tertawa girlish mengucapkannya, berbeda dengan Eunbi yang menunjukan senyum malunya.. malu karena ucapan sahabatnya itu.

“Hahaha.. benarkah.. heumh.. terima kasih untuk itu. Tapi ngomong-ngomong.. apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya seru sekali..” pria itu segera ikut duduk di kursi pelanggan cafenya yang sudah dibuka sejak 3 minggu yang lalu, sejak kepulangannya kembali ke Korea.

“Oppa.. apa kau tahu Tiffany Hwang? Ex member SNSD yang akhirnya bersolo karir dan menjadi fashion designer?” pria itu menggelengkan kepalanya, merasa asing dengan nama itu, itulah yang dipikirkan oleh dua gadis di hadapannya.

“Woah.. oke singkat ceritanya seperti ini Oppa. Tiffany Hwang 2 minggu lalu mengumumkan pengunduran dirinya sebagai salah satu artis YG. Nah beberapa hari yang lalu.. muncul kabar bahwa Tiffany sedang hamil. Dan kau tahu bagian buruknya apa Oppa??” pria yang sejak tadi serius mendengarkan cerita dari dua gadis di hadapannya itu menggelengkan kepalanya pelan.

“Tiffany Hwang mengakui hal itu tapi dia menolak memberitahukan media siapa ayah dari bayinya itu. Mungkin itu juga yang membuat client dan sponsor yang selama ini mendukungnya mencabut support mereka.” Jelas Eunbi dengan pemikirannya.

“Tentu saja mereka mencabutnya.. kau pikir siapa yang akan membiayai wanita yang hamil diluar nikah seperti itu? Kudengar fansnya menurun begitu drastis.. bahkan beberapa fansitenya sudah tutup..”

“Woah.. sepertinya ini serius sekali.. kasian sekali wanita itu..”

“Yah Oppa!! Apa yang harus dikasihani coba.. wanita seperti itu pantas menerima akibatnya.. lagipula siapa yang tahu apa yang ia perbuat dengan pria lainnya.. Tiffany Hwang kan terkenal dekat dengan banyak pria selama masa keartisannya..”

“Hahaha contohnya Khun Oppa-mu.. mungkin dia juga adalah ayah dari bayi Tiffany..”

“Eunbi.. sekali lagi kau mengucapkan hal itu..” Yuna kali ini terlihat begitu kesal.

“Oke ladies.. tidak usah seperti ini.. semua ada penyelesainnya..” pria itu mencoba mendinginkan suasana yang mulai memanas.

‘Hyung.. aku akan segera menepati janjiku.. bersabar dan tenanglah disana..’ ucap salah seorang pria yang ternyata dari tadi mendengarkan ucapan 3 orang itu.

======== The Reason Is ========

“Kenapa kau mau melakukan semua ini?” tanya seorang wanita yang masih terduduk diam di kasurnya sementara pria yang ia ajak bicara masih berdiri melepas jas tuxedo yang ia kenakan hari ini. Pria itu hanya tersenyum mendekati wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya, pendamping hidupnya.

“Karena mungkin.. inilah jalan yang tuhan tunjukan untuk kita..” pria itu duduk berjongkok di hadapan istrinya, menghapus tangis yang masih tersisa di wajah indah istrinya itu.

Flashback

“Terima kasih karena kau mau meluangkan waktumu bertemu denganku hari ini..” Yoong tersenyum pada wanita yang baru saja datang menemuinya.

“Ya sama-sama.. mungkin aku datang juga karena kau ingin mengatakan sesuatu mengenai Taeyeon Oppa..” Tiffany tak berbohong dengan ucapannya itu. 2 hari yang lalu seorang pria menelponnya, berbicara ingin bertemu dengannya. Pria itu ingin membicarakan sesuatu mengenai mendiang kekasihnya yang sudah 1 bulan ini berpulang.

“Baiklah.. mungkin kuceritakan sekarang saja. Nama lengkapku adalah Kwon Yoonan.. aku adalah salah satu sahabat Taeyeon Hyung. Kami bertemu di pesta ulang tahun ibuku.. saat itu dia banyak menyanyikan lagu favorit ibuku..” Yoong tersenyum kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Taeyeon.

“Dia memiliki suara seperti malaikat..” Tiffany tersenyum sedih mengingat mendiang kekasihnya itu. Baginya.. suara Taeyeon adalah sesuatu yang akan selalu ia rindukan. Karena suara itu.. suara yang akan selalu membawa jauh dari semua ketakutan dan permasalahannya.

“Heumh..” Yoong menganggukan kepalanya.

“Karena bakatnya itu.. aku menjadi dekat dengan Hyung. Aku begitu mengagumi suaranya. Kami menjadi teman dalam waktu tak cukup lama karena Hyung begitu ramah dan aktif merangkulku untuk ikut dalam setiap kegiatannya. Dalam waktu satu bulan.. aku seperti memiliki kakak baru karena Hyung begitu baik dan perhatian padaku.”

“Kehangatan hatinyalah yang membuatku..” Tiffany menghentikan ucapannya, baru menyadari bahwa ucapannya itu mungkin bisa membongkar sesuatu yang ia ingin rahasiakan dari public.

“Kehangatan hati hyung pasti yang membuatmu jatuh cinta padanya..” Yoong tertawa kecil melihat keterkejutan yang muncul di wajah Tiffany.

“Noona.. boleh aku memanggilmu itu Tiffany-shi..” Tiffany masih menatap Yoong dengan ketidakpercayaan yang bermain di wajahnya. Beberapa detik kemudian ia menganggukan kepalanya, mencoba mempercayai pria yang mengaku sebagai sahabat mendiang kekasihnya itu.

“Noona.. hyung orang yang paling mengerti aku bahkan melebihi ibuku.. dan kematian hyung.. itu merupakan kehilangan terbesar yang kualami juga..” Yoong mengerti apa yang dirasakan Tiffany. Belum lagi dengan masalah yang menimpa wanita itu sekarang.. ia ingin sekali membantunya.

“Ijinkan aku melaksanakan amanat terakhir Taeyeon Hyung..” tangan itu mulai Yoong raih, ia tautkan dengan miliknya, memberikan kenyamanan seperti yang ia inginkan, berharap Tiffany bisa mengerti maksudnya.

“Ijinkan aku merawatmu dan calon putra kalian…” kata-kata itu akhirnya keluar juga. Yoong sempat bingung apa ia akan memberitahu hal ini atau tidak. Tapi cepat atau lambat.. semua akan terbongkar dan Yoong telah menyiapkan semua skenarionya.

“Kau.. bagaimana kau tahu…” Sepertinya bukan hanya sekali Yoong akan mengejutkan Tiffany.

“Noona.. sebelum kecelakaan itu terjadi.. hyung menelponku.. dia memintaku untuk menjagamu dan putri kalian..” Respon dari Tiffany tepat seperti yang ia bayangkan. Wanita itu terdiam namun menatapnya penuh penasaran. Ia tahu pasti Tiffany ingin menanyakan banyak hal tapi semua itu sepertinya tertahan sesuatu yang Yoong tak ketahui apa.

“Noona.. aku tahu ini terlalu cepat bagimu.. tapi.. menikahlah denganku..” keterkejutan itu semakin bertambah di muka Tiffany, ia bingung tak tahu harus berkata apa. Pria ini.. pria di hadapannya ini belum ia kenal selain sebagai sahabat Taeyeon.. tapi pria ini telah berani melamarnya begitu saja walau pria itu tahu bahwa Tiffany sudah mengandung anak mendiang sahabatnya.

“Kau gila.. kau pasti sudah gila..” Yoong bisa merasakan pergerakan Tiffany yang akan melepas genggaman tangannya, tapi ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi, tidak saat ia sudah berjanji akan melindungi… menjaga.. dan merawat wanita di hadapannya ini seperti hidupnya.

“Aku serius Noona.. dan jika kau tidak percaya.. kau bisa melihat ini..” Yoong menyodorkan tabletnya, membiarkan Tiffany membaca konten dari tablet itu.

Confirmed: Bayi Tiffany Memiliki Seorang Ayah Dan Itu Adalah Pewaris Kwon Enterprise

Industri hiburan Korea dibuat geger hari ini saat perwakilan dari Kwon Enterprise memberikan pernyataan mengenai pernikahan Tiffany Hwang dengan putra sulung Kwon Boa, salah satu orang penting di perusahaan yang mengelola dunia perminyakan di Korea Selatan. Kabar ini bukanlah sebuah issue karena ternyata perwakilan dari Tiffany pun membenarkan hal itu. Selama ini Tiffany sengaja menyembunyikan identitas kekasih sekaligus ayah dari bayinya itu karena posisi sang calon suami. Tapi mengingat banyaknya rumor tidak jelas yang merugikan pihak Tiffany, pihak Kwon Enterprise mengambil tindakan, ucap juru bicara Kwon Enterprise yang ditemui sore tadi.

“Mengapa kau melakukan hal ini?” hanya itu yang bisa terucap dari bibir Tiffany yang sejujurnya tak tahu harus berkata apa dengan semua pemberitaan ini.

“Karena aku serius dengan ucapanku dan janjiku pada hyung.. menikahlah denganku dan ijinkan aku merawat kalian dengan seharusnya..” Tiffany masih menatap Yoong bingung dan tak percaya pada pria yang kini menggenggam tangan dan sang jabang bayi yang ada di perutnya.

End Of Flashback

 

“Noona.. sekarang lebih baik kau istirahat saja ya.. kita masih harus menghadiri pesta resepsi nanti sore..” Yoong membaringkan Tiffany di tempat tidurnya.

“Oh ya aku lupa.. kau belum mengganti bajumu.. ah ya tunggu.. aku akan memanggilkan Yoojin Noona untuk membantumu mengganti baju..” Belum sempat Tiffany membalasnya, Yoong sudah berlari keluar kamar mereka, kamar yang memang sengaja disewa khusus untuk acara pernikahan dan resepsi mereka hari ini. Beberapa menit kemudian masuklah seorang wanita yang sejak tadi pagi membantu make up dan hal lainnya dalam upacara pernikahan yang diadakan untuk undangan khusus keluarga Tiffany dan Yoong saja, well lebih tepatnya keluarga besar Yoong karena dari pihak Tiffany hanya hadir sang manager dan kakaknya saja yang sengaja terbang dari LA untuk menghadiri pernikahan adik bungsunya itu.

“Wah.. kau masih cantik sekali setelah menjalani beberapa proses upacara pernikahan kalian hari ini.. Yoong beruntung sekali menjadi suamimu..” Yoojin tersenyum membantu Tiffany melepas hiasan di kepalanya. Ia membantu Tiffany melepaskan gaunnya juga, membiarkan istri sepupu suaminya itu berganti baju di kamar mandi dengan gaun yang lebih nyaman mengingat acara resepsi masih akan dilaksanakan 4 jam lagi.

“Nah sudah selesai.. aku akan memanggilkan suamimu ya..” dengan itu Yoojin berjalan meninggalkan kamar setelah Tiffany mengiyakan ucapan gadis itu. Beberapa menit telah berlalu dan Yoong masih belum datang juga. Tiffany beranjak dari meja riasnya, bersiap menyusul suaminya yang ternyata baru saja memasuki kamar mereka. Keduanya terdiam di tempat mereka masing-masing, bingung sebenarnya dengan hal selanjutnya yang akan mereka lakukan.

“Yoonan-shi.. masih ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu..” Tiffany memberanikan dirinya berjalan mendekati Yoong, membawa pria yang berstatus sebagai suaminya itu duduk di ranjang mereka.

“Yoong.. cukup panggil itu Noona..” Yoong tersenyum lagi menunjukan mata kijangnya yang indah.

“Oke Yoong.. sebenarnya aku bingung harus bagaimana mengatakan hal ini padamu. Tapi kita sudah melangkah sejauh ini. Kau sudah menjadi suamiku tapi aku.. aku pasti tak bisa melayanimu selayaknya seorang istri pada suaminya..” kata-kata itu akhirnya keluar juga dari mulut Tiffany. Mendengar itu Yoong malah santai-santai saja. Ia menggenggam tangan kiri Tiffany, menyimpan tangan itu di pahanya.

“Noona.. tenang saja.. aku mengerti posisimu. Kau juga masih belum terlalu nyaman denganku saat ini. Tapi jangan sampai menjadikan semua ini beban untukmu. Jika kau mau.. anggaplah aku sebagai temanmu.. jika memang itu membuatmu nyaman…” Tiffany terdiam mendengar ucapan pria di sampingnya itu. Ia tak percaya ada pria sebaik itu pada zaman seperti ini.

“Yoong.. tapi.. kau masih bisa melakukan hal yang lebih baik jika kau tak melakukan ini.. kau masih bisa menikah dengan wanita yang sesuai untukmu.. bukan aku dan calon putriku.. kau pantas mendapatkan yang lebih baik.. kau pria baik..” Yoong kini semakin tersenyum lebar mendengar ucapan Noona-nya itu.

“Mungkin inilah yang terbaik untukku Noona.. seperti yang kau katakan.. aku pantas mendapatkan yang lebih baik.. dan itu adalah kau dan calon bayi kita..”

“Kita?”

“Ya.. Kita.. Noona kini telah menjadi bagian hidupku. Begitu pula bayi yang ada di kandunganmu.. dia bukan hanya menjadi anakmu nanti.. tapi anakku juga Noona. Meskipun aku bukan ayah kandungnya.. aku akan membuatnya merasakan kasih sayang seorang ayah yang sebenarnya. Itu janjiku padamu..” Tiffany tak tahu harus berkata apa lagi. Semua yang akan ia katakan sepertinya menghilang setelah Yoong menenangkan semua kegelisahan yang tersimpan di hatinya selama ini, sejak pria yang lebih muda darinya 3 tahun itu melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya.

Awalnya Tiffany menolak ide itu. Ia tak mau mengorbankan kehidupan dan kebebasan seseorang demi dirinya. Sudah cukup banyak kesalahan yang ia lakukan selama ini, termasuk menyembunyikan hubungannya bersama Hyungsuk dari Taeyeon yang sampai akhir hayatnya pun tak mengetahui bahwa wanitanya itu masih menjadi mainan pemuas hasrat seksual Hyungsuk juga.

Karirnya yang menurun, popularitasnya yang berkurang, cacian.. makian hingga hinaan yang ia terima, Tiffany anggap itu semua sebagai hukuman atas semua perbuatannya selama ini. Ia sudah tak mempersalahkan lagi kehidupannya yang terbilang sederhana saat itu, saat Yoong belum menghampirinya, memberikannya lagi semua fasilitas yang dulu sempat ia nikmati. Berita kehamilan itu membuat Tiffany mengalami krisis keuangan karena ia harus membayar beberapa kontrak besar yang sudah ia curangi karena berita kehamilannya ini. Apa yang diucapkan Hyungsuk waktu itu.. semua menjadi kenyataan. Dan Tiffany tidak pernah menyesal telah mengganti semua yang telah ia capai selama ini dengan kehidupan baru yang bersarang di rahimnya.

“Terimakasih Yoong.. terimakasih..” butiran Kristal itu perlahan turun dari sang pemiliknya. Tiffany tak bisa menahan tangis harunya sementara Yoong.. pria itu.. dia menarik Tiffany dalam pelukannya, mendekap istrinya itu dalam hangatnya.

======== The Reason Is ========

20140422105604191

“Yoojin Noona.. aku ingin bertanya sesuatu padamu..” Yoong mendekati istri kakak sepupunya yang sedang merangkai bunga di taman belakang kediaman keluarga Kwon yang luas terhampar.

“Ada apa Yoong? Kau perlu sesuatu?” Yoojin menaruh peralatan merangkai bunganya, ia kini memberikan perhatian penuhnya menghadapi pria di hadapannya yang masih menggemaskan baginya meskipun umurnya tak semuda dulu. Yoong dulu adalah penggemarnya juga saat ia masih bergabung dengan AfterSchool, girl group yang berhasil mengangkat popularitasnya menjadi artis yang multi talented juga. Uee.. itu adalah nama panggungnya sebelum akhirnya ia mengganti namanya itu kembali menjadi Kim Yoojin atas permintaan sang suami, Kwon Yuri, kakak sepupu Yoong.

“Noona.. bagaimana dulu rasanya saat kau mengandung Dongwoon?” Yoojin bisa melihat rasa penasaran itu begitu tinggi bermain di mata Yoong. Ia tertawa kecil melihat Yoong yang terlihat begitu cute di hadapannya.

“Noona.. aku serius..” Yoong merengut melihat Noonanya itu malah tertawa semakin keras. Ia mendecak kesal melihat hal itu.

“Ah yasudahlah.. aku tidak jadi…” Yoong akan beranjak pergi saat tangan Noonanya itu menahannya. Yoojin membawa Yoong untuk kembali duduk di hadapannya, masih dengan senyum menyesalnya meminta maaf pada pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.

“Pasti ini karena Tiffany juga ya?” Yoong menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan

“Kau mengalami kesulitan menghadapinya?” Yoong terdiam.. berpikir sesuatu lalu menggelengkan kepalanya ragu.

“Itu normal bagimu untuk merasa bingung bagaimana menghadapimu istrimu yang sedang hamil. Terkadang.. kami memang sulit dipahami saat itu.. itu yang Yuri sering katakan padaku dulu..” Yoojin tersenyum mengingat suaminya yang dulu selalu terlihat bingung menghadapi emosinya yang cepat sekali berubah.

“Memang Tiffany seperti apa?”

“Well.. saat ini dia sudah melewati masa mual-mualnya Noona. Thanks God dia dan bayi kami sehat setelah kami melakukan check up kemarin.. hanya saja terkadang dia bisa tiba-tiba murung dan sedih..”

“Heumh.. itu wajar Yoong.. ini juga kehamilan pertamanya kan jadi dia masih mengalami roller couster dari emosi, mental dan batinnya. Tapi menginjak beberapa bulan selanjutnya.. aku yakin istrimu itu akan terbiasa, malah menikmati masa kehamilannya..” Yoojin mengelus lembut bahu adiknya itu, senang dan bangga melihat Yoong mau melakukan hal ini. Bagi Yoojin.. keberanian Yoong berbicara kepada public mengenai hubungannya dengan Tiffany patut diacungi jempol meskipun hamilnya Tiffany sebelum mereka menikah bukanlah perbuatan yang layak dicontoh.

“Yoong.. apa yang kau rasakan sekarang?”

“Maksudmu Noona?”

“Apa kau.. mulai merasakan sesuatu pada istrimu?” Yoojin sudah tahu bagaimana ceritanya Yoong bisa memutuskan untuk menikahi Tiffany. Ia juga tahu bahwa bayi yang dikandung Tiffany.. bukan Yoonglah ayahnya. Awalnya Yoojin sempat menolak untuk menjaga rahasia ini, tapi setelah Yoong menjelaskan semuanya, akhirnya ia mulai mengerti bagaimana hal ini juga merupakan sesuatu penting bagi Yoong yang harus pria itu lakukan dalam hidupnya. Mungkin bagi sebagian orang keputusan pria yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu sendiri terkesan bodoh dan terlalu naïf, tapi baginya.. itulah yang membuat Yoong berbeda dari pria lainnya pada umurnya. Baginya saat ini.. Yoong terlihat begitu dewasa… bijak dan bertanggungjawab meskipun itu bukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkannya.

“Bagaimana aku harus mengatakannya.. ini semua masih ambigu untukku tapi sejauh ini aku… menikmatinya..”

Flashback

“Noona.. kau tidak tidur?” Yoong baru saja keluar dari kamar mandinya, masih lengkap dengan bathrobe putih dan handuk yang mengalung di kepalanya. Tiffany menggelengkan kepala tanpa menatapnya sekalipun. Wanita itu terlihat gugup tanpa alasan yang jelas. Dan Yoong ingin mengetahui itu.

“Ada apa.. ceritakan saja..” Yoong mengambil tempat di samping istrinya yang duduk di samping tempat tidur mereka. Ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri dan mungkin hal itulah yang membuat Tiffany seperti ini pikir Yoong.

“Yoong.. kau tahu.. aku.. aku belum bisa melakukan hal itu denganmu..” Tiffany berucap begitu pelan sehingga Yoong harus sedikit menunduk untuk mendengarnya. Tiffany begitu kaget saat mendapati suaminya itu tepat berada dekat sekali dengannya, terlalu dekat malah.

“Eits.. tenang Noona.. aku tidak akan memangsamu kok.. hahaha” Yoong berusaha mencairkan suasana dengan candaannya yang cukup garing tapi menghibur. Bisa terlihat raut tegang wajah Tiffany yang sedikit berkurang. Yoong bersyukur akan hal itu.

“Noona.. bukankah sudah kubilang aku ingin kau nyaman? Bukankah sudah kita bicarakan bahwa kau boleh menganggapku sebagai temanmu saja dulu jika itu yang membuatmu nyaman berada di dekatku?” Yoong kembali memegang dua tangan lembut itu, mengelusnya dengan pelan, mencoba meyakinkan sang empunya untuk percaya padanya.

“Tapi aku.. aku merasa aku memiliki kewajiban untuk membalas semua kebaikanmu dengan melayanimu..” Tiffany berucap mulai menegakkan kepalanya, belajar menatap mata kijang lembut milik pria yang ia harus panggil sebagai suaminya itu. Yoong terlihat berpikir mendengar ucapan itu.

“Kau boleh melakukan itu tapi tidak berarti kau harus memaksakan dirimu untuk melayaniku Noona. Melayani.. heumh.. itu kata yang terdengar tidak bagus.. kesannya aku adalah bosmu dan kau kubayar untuk melakukan hal itu Noona..” senyum itu tak tahu sejak kapan hinggap di bibir Tiffany. Mendengar ucapan Yoong dengan gaya khasnya yang sopan.. hangat dan perhatian.. selalu membawa sensasi baru baginya.

“Oh ya.. kau lebih baik tidur sekarang.. besok kita harus pergi pagi sekali.. Ibu pasti tak mau perjalanan kita ke Maldives terlambat..” Yoong membaringkan tubuh istrinya yang tak tahu kenapa menurut saja dengan perkataannya itu. Yoong naikan selimut yang akan menghangatkan istrinya itu, mematikan lampu kamar dan mulai menyalakan lampu lain yang sudah disetting agar lebih redup supaya istrinya itu nyaman dalam tidurnya. Perlahan Yoong mulai beranjak dari tempat tidurnya, meninggalkan Tiffany yang kebingungan melihatnya.

“Kau akan kemana?” selimut itu sedikit Tiffany singkapkan tapi tetap menutupi tubuhnya.

“Aku akan mengganti bajuku dan tidur..”

“Kau akan tidur dimana?”

“Di sofa saja.. disana juga sama nyamannya dengan kasur ini..”

“Tapi Yoong..”

“Tidak ada tapi Noona.. jika kau adalah istriku… kau harus menuruti semua ucapan suamimu..” dan dengan itu Yoong berjalan mendekati Tiffany, mengelus lengan wanita itu lalu berjalan kembali mengganti bajunya dengan piyama coklatnya sementara Tiffany.. ia masih merenungkan semua yang terjadi padanya hari ini.

End Of Flashback

 

“Jadi kau masih tidur terpisah dengannya? For God sake Yoong.. kalian sudah menikah selama 8 bulan..” Oke Yoojin mungkin terdengar berlebihan tapi menurutnya hal itu sudah terlalu lama terjadi. Oke.. untuk bulan pertama mungkin Tiffany masih merasa risih dengan adiknya itu tapi jika hingga 3 bulan ini mereka masih tidur terpisah.. Yoojin tak tahu apa yang dipikirkan oleh Tiffany dan adiknya itu.

“Tidak Noona.. kami sudah mulai tidur satu ranjang sejak 2 bulan yang lalu..” Yoong tersenyum kecil melihat Noonanya yang terlihat seperti siap menceramahinya berjam-jam.

Flashback

“Noona.. kau harus memakan ini..” Yoong menyuapkan sup ayam ginseng yang dibuat olehnya tadi pagi. Ia tahu istrinya itu sedang tidak sehat. Karena Tiffany tak mau diajak ke dokter olehnya, Yoong memutuskan untuk membuat sup yang selalu ia buat jika ia memang sedang tak enak badan atau kondisi tubuhnya menurun.

“Tidak mau.. aku pusing.. mual..” Tiffany masih belum beranjak dari posisi tidurnya. Sudah 2 bulan ia resmi menjadi istri Yoong. Awalnya mereka tinggal di apartement Yoong, tapi 2 minggu kemudian suaminya itu membawanya pindah ke Kwon Mansion untuk tinggal bersama keluarga besarnya sesuai dengan permintaan pribadi sang ibu, Kwon Boa, yang ingin lebih dekat dengan cucunya, well itulah yang dipikirkan wanita tua itu.

“Noona.. ayo.. satu sendok saja.. please..” Yoong kini mulai berani mengeluarkan nada manjanya yang tetap saja masih terdengar begitu pria baginya. Tiffany yang mendengar itu tiba-tiba bertepuk tangan, tertawa lemah dengan mata tertutup dalam senyumnya. Rengutan di wajah perlahan berubah menjadi senyum yang mengembang melihat Tiffany yang terlihat bahagia dalam tawanya.

“Yoong.. tak kusangka kau beraegyeo juga.. hahaha lucu sekali..” sekilas.. rasa sakit itu terlihat menghilang dari wajah Tiffany.

“Well.. aku juga seperti manusia kebanyakan yang manja dengan orang terdekatnya..” Yoong tersenyum menyuapkan sup itu ke mulut istrinya yang terlihat berpikir keras menikmati sup buatannya.

“Kenapa Noona?? Tidak enak ya?” ucap Yoong terlihat sedikit khawatir melihat wajah Tiffany yang sedikit merengut di hadapannya.

“Heuhm.. ini lezat sekali Yoong.. kau harus mencobanya juga..” Tiffany segera mengambil sendok yang dipegang oleh Yoong, mengambil sesuap penuh sup itu dan menyuapkannya pada pria di hadapannya itu. Tanpa mereka sadari.. tawa itu kembali hadir di samping mereka, menghangatkan situasi yang ada. 1 jam telah berlalu dan sup ginseng buatan Yoong telah habis dilahap oleh keduanya. Yoong kini mengantarkan segelas susu hangat untuk sang ibu hamil yang terlihat lebih baik kondisinya.

“Minumlah ini dan tidurlah..” Yoong memberikan gelas itu pada Tiffany yang segera menerimanya, meminum susu itu perlahan hingga gelas itu kosong tak bersisa.

“Nah sudah selesai.. aku pergi dulu Noona.. selamat mala..” ucapan itu terhenti saat Yoong mendapati tangannya digenggam Tiffany. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ragu dengan hatinya.

“Ada apa Noona?” cara pendekatan Yoong yang ramah dan hangat bila sesuatu sedang mengganjal di pikirannya membuat Tiffany terbuka juga akhirnya. Ia meminta Yoong untuk duduk di sampingnya yang masih dalam posisi terbaring.

“Yoong.. kau tidak usah tidur lagi di sofa..” Yoong terdiam mendengar ucapan itu. Sekilas ia berpikir mengapa tapi hatinya memintanya untuk diam.

“Kau siap untuk tidur seranjang denganku? Well maksudku..” Tiffany mengambil kedua tangan Yoong, membuat suaminya itu focus menatap kedua tangan mereka yang bertautan.

“Aku siap Yoong.. kau.. adalah suamiku.. dan dengan tidur disampingku.. mungkin kau bisa mengusir mimpi-mimpi burukku.. lagipula kau tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh padaku..” senyum kecil itu perlahan Yoong mulai sukai. Senyum itu begitu ringan.. manis.. dan memanjakan baginya meskipun wanita di hadapannya ini tak berbalut make up yang menambah kecantikannya.

“Tentu Noona.. aku akan selalu menjagamu dan putri kita.. dalam kondisi apapun..” untuk kesekian kalinya.. mata kijang itu memberikan sesuatu yang aneh pada batin Tiffany. Sesuatu yang mungkin.. akan benar-benar mengubah hidupnya yang sudah terjatuh dan diambang nestapa. Dan ia tak bohong.. ia berharap pria di hadapannya inilah yang akan menjawab semua doanya.

End Of Flashback

 

“Syukurlah.. kukira kalian seperti yang kupikirkan tadi..”

“Oh ya Noona.. kau masih belum menjawab pertanyaanku yang tadi..”

“Yang mana?”

“Bagaimana dulu rasanya saat kau mengandung Dongwoon?”

“Oh ya.. well awalnya aku merasa takut dan tak percaya karena Yuri dan aku telah berhasil membuat suatu kehidupan dengan cinta kami. Aku sempat takut karena ini adalah yang pertama untukku Yoong, aku takut aku tidak bisa menjadi yang terbaik untuk anak kami nanti. Apalagi waktu itu juga aku dan hyungmu masih sangat muda.. kami berencana memiliki anak saat ulang tahun pernikahan kami yang ketiga. Tapi tuhan berkata lain dan mengirimkan Dongwoon tepat satu tahun setelah kami menikah. Awalnya aku ragu memberitahu kakakmu itu tapi setelah aku berbicara dengan ibumu.. aku menjadi tenang..”

“Ibu bisa melakukan itu?”

“Yoong.. kau tahu.. selama ini kau terlalu cepat menilai bibi dengan penilaian burukmu..”

“Oke Noona.. kita lanjutkan dengan perasaanmu saat mengandung Dongwoon tadi.”

“Oke.. baiklah.. susah sekali menasehatimu.. aigoo.. aku tak menyangka kau akan segera menjadi seorang ayah..” Yoojin mengacak-acak tatanan rambut Yoong yang tertawa kesal bercampur senang menerima perlakuan wanita di hadapannya itu.

“Noona.. perasaanmu saat mengandung Dongwoon..” Yoong mencoba terlepas dari serangan Yoojin. Dia memperlihatkan senyum tampannya seraya merapikan rambutnya yang tadi sudah tertata rapi. Ia tahu kelemahan wanita di depannya itu, senyum tampannya yang membunuh akan membuat Yoojin melupakan semuanya bahkan Yuri sekalipun.

“Oh ya..semua rasa takut dan keterkejutan itu hilang saat aku memberitahu Yuri. Sejak itu.. semuanya penuh dengan rasa syukur Yoong. Aku bahagia dan bersyukur karena kakakmu itu.. dia begitu mencintai kami. Puncak kebahagian itu.. saat Dongwoon lahir kedunia ini.. saat itu.. untuk kedua kalinya aku melihat Yuri menangis karena bahagia menyambut kelahiran putra kami..”

“Wah.. aku .. aku tak bisa membayangkan itu semua Noona..”

“Memang kenapa Yoong? Apa terjadi sesuatu?”

“Aku tak tahu Noona.. aku hanya bingung. Aku ingin sekali merawat Tiffany Noona dengan baik.. memperhatikannya. Memang semua itu sudah kulakukan sejauh ini. dan aku merasakan sesuatu yang baru Noona. Kau pasti berpikir bahwa semua ini adalah beban bagiku. Tapi tidak untukku Noona. Dengan cara yang aneh.. aku merasa senang dengan semua ini. Aku merasa.. aku seperti memiliki tujuan dan semangat baru…” Binar di wajah Yoong saat ini.. Yoojin pernah melihatnya di diri seseorang. Sinar kebahagiaan dan semangat itu.. pernah ia lihat di wajah suaminya saat ia memberitahukan berita kehamilannya.

“Yoong.. apa kau pernah jatuh cinta?” kata-kata itu membuat Yoong menatap wanita di hadapannya itu heran dan perlahan menggelengkan kepalanya sementara Yoojin.. tersenyum dengan pemikiran yang ada di dalam otaknya.

======== The Reason Is ========

“Hai Mom..” Jessica menunduk segera mengecup kedua pipi sahabatnya yang sudah beberapa bulan ini tak ia temui.

“Aku bukan ibumu Jess..” Tiffany memberikan minuman yang sudah ia pesan sebelum Jessica datang ke café ini, salah satu café yang suaminya miliki di Seoul.

“Aku tahu.. tapi kau akan segera menjadi ibu kan?” Jessica menyuapkan pancake yang ada di piring Tiffany yang tertsenyum kecil

“Yah.. kau betul..”

“Jadi.. bagaimana hidupmu setelah menjadi nyonya Kwon?” Jessica berucap masih dengan gaya isengnya.

“Well.. semua berjalan seperti biasa Jess. Yoong adalah pria baik yang mau menerima kami..”

“Wow… kau gadis yang beruntung Tiff..”

“Aku tahu.. dia ingin sekali menepati janjinya pada Taeyeon Oppa untuk menjaga dan melindungi kami. Aku.. sangat bersyukur akan hal itu Jess..”

“Ya.. itu pasti Tiff.. lalu ada apa? Mengapa kau terlihat sedih seperti ini.. kau tahu.. kau tidak boleh stress.. itu akan mempengaruh kandunganmu..” Jessica mulai menunjukan sisi keibuannya. Meskipun belum menjadi seorang ibu.. ia tahu bagaimana merawat seorag bayi dari variety show Hello Baby yang diikutinya beberapa tahun yang lalu bersama member grupnya.

“Kami sudah menikah selama 8 bulan.. tapi Yoong.. dia belum pernah menyentuhku..”

“Kau serius? Dan kau baru menceritakan hal ini padaku sekarang?”

“Well.. aku tahu dia menghormatiku sebagai wanita yang dicintai oleh mendiang sahabatnya. Aku sangat mengerti itu. Tapi sikap Yoong yang seperti itu.. membuatku selalu merasa bersalah. Aku merasa telah merenggut kebebasan yang harusnya Yoong miliki bila ia tak menikahiku..”

“Tiff.. kau sudah membicarakan hal ini dengannya?” Tiffany menggelengkan kepalanya, tahu kemana arah pembicaraan ini kemana.

“Kau tahu kan apa yang aku sarankan padamu?”

“Aku sudah bisa menebaknya.. tapi aku bingung Jess.. jika aku membicarakan ini semua pada Yoong.. aku merasa aku terlalu banyak meminta darinya…” Jessica hanya menganggukan kepalanya mendengar kesah sahabatnya itu, berbeda dengan otaknya yang mulai memikirkan rencana baru untuk Tiffany dan suaminya yang seperti malaikat itu.

======== The Reason Is ========

tumblr_mgkwtd1jJW1s0dr2ao1_500

“Ini.. minumlah.. kau pasti kecapean..” Tiffany memberikan segelas teh madu chamomile yang selalu menjadi favorite suaminya itu yang sudah ia pelajari selama 8 bulan ini.

“Ahh segar sekali..” dalam beberapa tegukan.. gelas teh itu sudah habis. Tiffany tertawa dalam hatinya melihat pria yang lebih muda darinya itu terlihat kembali enerjik hanya dengan segelas teh buatannya. Hal sesimple itu yang selalu membuat tawanya itu hadir tak disangka.

“Bagaimana hari ini?”

“Heumh.. rapatnya sangat membosankan.. aku berharap bisa kabur darisana sejak tadi pagi..” Tiffany tertawa melepas coat abu Yoong, meletakan mantel hangat suaminya itu di gantungan baju mereka. Ia berjalan kembali mendekati Yoong, membuka dasi abu pink mengkilat yang sengaja ia pilihkan untuk suaminya tadi pagi. Yoong memang memiliki selera fashion yang tinggi tapi sejak memiliki Tiffany sebagai istrinya.. hampir semua urusan yang berbau fashion selalu diurus istrinya itu dengan baik. Tiffany bagaikan fashion stylist pribadinya.

“Kalau begitu.. kau harus segera mandi untuk melepas penatmu.. aku sudah menyiapkan air hangat dan lilin aroma terapi..” Tiffany tersenyum mendorong Yoong masuk ke kamar mandi dengan handuk dan bathrobe putihnya.

20 menit telah berlalu dan Yoong kini sudah keluar dari kamar mandi dengan tubuh freshnya. Dia sudah mengenakan piyama biru langitnya, warna favorit Taeyeon yang menghinggapi dirinya juga. Tiffany yang masih mendesain sesuatu di buku sketch-nya tak menyadari suaminya itu kini sudah ada di sampingnya, mengamati dirinya yang masih terpaku dengan dunia imajinasinya menciptakan gaya terbaru untuk desain musim dingin yang akan dikeluarkannya nanti.. setelah ia melahirkan putrinya.

“Kau sudah selesai? Sejak kapan kau mengamatiku?” Tiffany mulai menyadari tatapan yang Yoong berikan padanya. Ia tutup buku sketsanya itu lalu ia simpan di coffe table dekat ranjangnya. Ia membukakan comforter yang menghangatkan tubuhnya sejak tadi, membawa Yoong masuk seranjang dengannya, membiarkan suaminya itu merasakan kehangatan dan kenyamanan yang comforter itu berikan pada mereka.

“Kau terlihat serius sekali tadi.. apa itu masuk ke draft koleksimu untuk musim depan?” Yoong mulai mengurangi penerangan di kamar mereka, mengambil remote lalu menekan beberapa tombol sehingga atap kamarnya itu kini berganti menjadi atap kaca transparan dimana ia dan Tiffany bisa melihat banyaknya bintang yang bertebaran malam ini.

“Iya.. aku sedang mencoba beberapa gaya baru.. yah… semuanya masih guratan kasar..” Tiffany mulai menyenderkan kepalanya ke bantal. Yoong tak kalah cepat, ia segera mendekatkan bahunya dengan bantal Tiffany, membiarkan wanita itu menyenderkan kepalanya di tubuhnya. Tanpa disadari senyum itu muncul di wajah keduanya. Tiffany semakin mendekatkan tubuhnya dengan Yoong yang menuruti keinginan istrinya itu. Keduanya hanya terdiam menatap keindahan yang memainkan trik di hadapan mereka, membuatnya takjub dengan kuasa tuhan yang luar biasa dan adidaya.

“Noona.. dalam 5 tahun kedepan.. apa yang kau lihat?” pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Yoong, ia masih tak mengalihkan pandangannya dari bintang dan benda langit lain yang memanjakan matanya.

“Heuhm.. membesarkan Ji Soo, mengembangkan fashion line-ku, mencoba bernyanyi lagi.. dan tetap menjadi istrimu..” Yoong beralih menatap wajah istrinya. Ada kilatan kegembiraan dan semangat saat Tiffany mengucapkan bagian terakhir dari kalimatnya.

“Dalam 5 tahun kedepan.. aku bisa melihat diriku yang selalu membangunkanmu dengan pelukan hangatku. Menyiapkan semua kebutuhanmu dengan sepenuh hati.. melayanimu dengan hangat dan menutup kedua mataku dalam pelukanmu di malam hari..” Mata Yoong semakin bersinar mendengarnya. Tiffany kini menatap wajah suaminya itu dengan intensitas yang sama.

“Bagaimana denganmu Yoong.. apa yang kau lihat dalam 5 tahun kedepan?” kini giliran Tiffany yang penasaran mendengar jawaban pria di sampingnya itu. Yoong terlihat memikirkan sesuatu tapi segera tersenyum menggelengkan kepalanya dengan pikirannya itu.

“Wae?”

“Hahaha gwenchana. Oke.. dalam 5 tahun kedepan.. aku bisa melihat rumah kita ini dipenuhi malaikat-malaikat kecil yang menambah kehangatan penghuninya.”

“Maksudmu?”

“Tiffany Hwang.. Noonaku.. bolehkah aku mendekati hatimu dan mendekapnya dengan penuh cinta?” dan malam itu adalah fase baru dalam kehidupan seorang Tiffany Hwang yang tak menyangka hidupnya akan penuh warna seperti ini.

================================================================

=======================

oke.. membosankan?

mungkin..

tapi buat gw.. ini manis seperti puding coklat yang gw nikmati saat ini

bon appetiet ^_^

Iklan

122 pemikiran pada “The Reason Is Part II

  1. wohoo ,, gak membosankan kok . bener seperti kata elo thor ,, manis kayak pudding . heheh . yoongfanny jangg . sudah mulai membuka hatinya nih ya ..

  2. Indahnya dunia klo diisi makhluk2 penerima n sabar kayak yoonfany,, dunia damai, malem2 gelap jd lebih indah berwarna gara2 ada banyak bintang sperti mereka 🙂
    Masa lalu sudah simpan sbg pelajaran, yang ada skrang dan bagaimana akan datang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s