The Reason Is.. Part I

Tanner

“Apa kau bilang? Kau hamil?” seorang pria masih meminum juice kiwinya, menatap wanita di hadapannya yang hanya berbalut selimut tipis yang menutupi tubuhnya.

“Iya.. dokter bilang usia kandunganku sudah 2 minggu.. aku tak sabar memberitahu Umma..” wanita itu terlihat begitu bahagia menceritakan berita baik ini. Mereka sudah berpacaran selama 3 tahun walau diam-diam karena kepopuleran mereka bisa jatuh kapan saja jika hubungan mereka terendus oleh publik.

Taeyeon adalah seorang model, actor dan juga penyanyi yang popular di semua kalangan. Begitu pula Tiffany yang memulai debut karirnya sebagai penyanyi di salah satu girl band popular sampai akhirnya 2 tahun yang lalu ia memutuskan untuk bersolo karir mengikuti passionnya sebagai solois dan fashion desainer yang berdiri di bawah naungan agensi sebesar YG berbeda dengan Taeyeon yang sudah menghabiskan hampir separuh hidupnya bersama SM entertainment, agensi yang menjadi titik balik dalam hidupnya.

“Tae.. mengapa kau diam saja?” Tiffany kini mulai khawatir melihat kekasihnya yang diam sejak tadi.. sejak ia memberitahukan berita kehamilannya.

“Fany-ah.. siapa saja yang sudah tahu hal ini?” Taeyeon kini mendekatinya, berjalan menuju meja kecil di balkon lantai 2 rumahnya, menyimpan gelas juice yang sudah habis diminumnya itu.

“Aku belum memberitahu siapapun. Baru dokter Lee yang mengetahuinya..”

‘Bagus.. jangan sampai dia mengetahuinya.. tidak boleh!’ ucap Taeyeon dalam hatinya.

“Kau tahu.. aku merasa begitu beruntung hari ini..” Tiffany tersenyum menerima kecupan kecil di lehernya.

“Kenapa?” ia bisa merasakan tangan kekasihnya itu menelusup ke dalam selimut yang masih erat memeluk tubuhnya.

“Karena aku akan menjadi ayah.. dan yang menjadi ibunya adalah kau.. wanita yang begitu aku cintai..” tangan itu kini mengelus perut Tiffany yang masih rata meskipun kehidupan itu telah ada dalam rahimnya.

“Benarkah?” Taeyeon mengangguk lembut menatap wanitanya yang terlihat berkaca-kaca memandangnya. Senyum manis dan tampan itu kini menghiasi wajahnya.. membuat Taeyeon mengecup bibir pink manis kekasihnya yang sudah jutaan kali ia kecup dalam hidupnya. Ia membawa tubuh wanitanya itu dalam pelukannya, mendekap Tiffany di dadanya sementara ia terus mengecup puncak kepala kekasihnya itu.

“Kapan kita akan mengumumkan berita baik ini?” kecupan itu terhenti untuk sejenak. Tiffany merasakan hal itu. Ia akan melepaskan pelukan itu saat tangan kokoh kekasihnya itu menghalaunya.

“Sebelum Management mengetahui ini semua.. aku ingin keluarga kita yang mengetahuinya.” Senyum Taeyeon lemah tanpa melepaskan pelukannya. Ia tak ingin wanitanya itu melihat ekspresi mukanya saat ini.

“Tae.. apa ada sesuatu yang kau..”

Ring..ring.. ring..

“Aku mengangkatnya dulu Fany-ah…” Taeyeon segera melepas pelukan itu.. berjalan menuju meja kecil tempat ia menyimpan smartphonenya berdampingan dengan gelas jusnya.

“Yoboseyo?”

“Hyung..” Taeyeon tersenyum mendengar suara sahabatnya yang sudah lama tak ia dengar kabarnya.

“Hai dongsaeng.. bagaimana kabarmu?” lawan bicaranya itu tertawa kecil mendengar ucapannya tadi.

“Aku baik Hyung.. bagaimana denganmu? Oh ya besok aku pulang ke Seoul.. bisakah kau menjemputku?”

“Kau telah menyelesaikan program sarjanamu?” ada keterkejutan di nada bicara Taeyeon mendengar sahabatnya itu. Bocah itu sudah 3 tahun ini kabur ke negeri paman sam untuk mengejar cita-citanya, melepaskan semua fasilitas yang ia miliki sebagai pewaris Kwon Enterprise demi mewujudkan cita-citanya menjadi seorang ahli teknologi pangan, membangun dan menciptakan sistem baru untuk kebaikan manusia banyak dengan keahliannya.

“Tentu.. dengan hasil yang memuaskan seperti biasanya…” Taeyeon bisa mendengar tawa kebanggan yang membuat senyumnya merekah juga.

“Kau sudah memberitahu ibumu?”

“Ah itu.. aku belum berencana memberitahunya..” Taeyeon tahu bahwa hal ini adalah topic sensitive untuk sahabatnya. Kwon Boa… CEO sekaligus pemilik saham terbesar di Kwon Enterprise, wanita perfeksionis dan terkenal tegas dengan keputusannya itu adalah wanita yang sangat disayangi sahabatnya itu. Tapi Boa jugalah yang menjadi penyebab mengapa sahabatnya itu kabur dari Korea demi mngejar cita-citanya.

“Dia pasti akan sangat senang dan bangga padamu brother..” Taeyeon tertawa menirukan logat amerika yang sudah menghinggapi sahabatnya itu. Tawa itu mengecil saat ia mendengar tawa pahit dari Yoong.

“Itu yang kuharapkan Hyung.. tapi kau tahu.. itu takkan pernah terjadi..” Taeyeon sedikit terdiam mendengar ucapan sepupunya itu. Ia tahu betapa beratnya hal yang telah sepupunya itu alami. Sejak memutuskan kabur ke Amerika tanpa menggunakan embel-embel posisinya sebagai pewaris, Yoong memulai hidupnya dari nol.

Di negeri paman sam.. Yoong membangun lagi hidupnya, meninggalkan semua kemudahan.. kemewahan dan semua fasilitas yang ia miliki dulu. Tiap hari ia bekerja sampingan di beberapa toko untuk membiayai hidupnya, bersyukur karena biaya kuliahnya berkurang karena beasiswa yang ia terima berkat kecerdasannya yang luar biasa, sama seperti mendiang ayahnya yang meninggal beberapa tahun lalu dalam kecelakaan mobil yang seketika merenggut nyawanya.

“Kau tidak boleh berkecil hati ya dongsaeng.. siapa tahu hati aunty sudah berubah.. kau tahu.. kemarin dia menanyakanku apa kau menelponku atau tidak..” Taeyeon tersenyum kecil melirik kesamping, mengeratkan pelukan Tiffany di punggungnya.

“Heumh.. semoga saja.. ah sudahlah.. kau bisa tidak menjemputku besok sore Hyung?” Taeyeon tahu sepupunya itu ingin mengakhiri pembicaraan mereka tentang Boa.

“Tentu.. kau tiba jam berapa memang?” Taeyeon tersenyum merasakan kecupan kecil yang kekasihnya berikan di punggungnya.

“Pukul 16.45.. jika tidak ada keterlambatan itu juga. Oke.. aku masih harus membereskan semua bawaanku.. sampai ketemu besok Hyung..”

======== The Reason Is ========

“Presiden Kim..” Taeyeon sedikit membungkuk memberi hormat pada pria yang sudah membantu membesarkan namanya di industry hiburan hingga saat ini.

“Ada berita baik apa hingga bintangku ini mau menemui pria tua ini?” Youngmin masih menghisap cerutu yang selalu menjadi identitas dirinya sejak dulu.

“Aku ingin…” ucapan Taeyeon terpotong saat seorang pria membawa sebotol anggur dan2 gelas di nampannya.

“Ini pesanan Anda Tuan..” pria itu menyimpan anggur dan gelasnya di meja mahogany mewah Youngmin yang selalu menjadi saksi semua deal bisnisnya dilakukan.

“Terimakasih Joon.. kau bisa kembali ke tempatmu..” dengan itu pria yang bernama Joon tadi pamit. Youngmin mempersilakan Taeyeon duduk dan mulai membuka botol anggur favoritnya itu. Ia menuangkan anggur itu ke gelas milik Taeyeon dan miliknya. Mereka bersulang meminum minuman nikmat yang memabukan itu.

“Presiden.. sebenarnya aku..” Taeyeon mulai mengutarakan niatnya bertemu dengan pemilik agensi yang sudah membesarkan namanya.

“Sudah berapa bulan usia kandungannya?” Taeyeon terbatuk mendengar ucapan itu.

“Bagaimana kau..” Taeyeon menatap pria di hadapannya itu tak percaya. Bagaimana mungkin hal yang sudah ia tutupi selama ini bisa diketahui oleh Youngmin.

“Taeng.. putraku.. dunia ini seperti ada dalam genggamanku.” Youngmin kembali menghirup cerutunya, menyimpan gelas anggur miliknya.

“Jadi kau..”

“Kau sudah bermain dalam lingkaran setan Taeyeon. Kau mengambil sesuatu yang berharga yang sangat Hyungsuk sukai..”

“Apa maksudmu?”

“Apa kau pikir wanita itu bisa sebesar sekarang hanya karena bakatnya? Tanyakan padanya sudah berapa kali Hyungsuk menikmatinya..”

“Tidak mungkin! Kau pasti sedang bercanda denganku..”

“Taeng.. Taeng.. Taeng.. kau masih terlalu polos rupanya..” Youngmin tertawa mengeluarkan remote kecil di laci mejanya. Ia mulai menekan beberapa tombol.

“Ah.. ah… aahh.. Presideng Yang..” Tubuh Taeyeon membeku mendengar suara itu. Perlahan ia balikan tubuhnya, menatap layar LED besar yang menampilkan kekasihnya tanpa sehelai benangpun melenguh menerima penetrasi dari pria di atasnya yang begitu bernafsu menikmatinya.

“Fany-ah..” Entah benda apa yang kini menancap di hati Taeyeon. Hatinya begitu sakit mengetahui semua ini. Ia kira dirinyalah yang pertama bagi Tiffany. Ia kira hanya dirinyalah satu-satunya pria yang ada di hidup wanitanya itu.

“Kau masih terlalu polos nak.. tinggalkanlah wanita itu selagi kau bisa.. sebelum Hyungsuk mengetahui semuanya..” Taeyeon terdiam mendengar ucapan pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu. Taeyeon menatap wajah Youngmin dengan seksama meskipun air mata itu perlahan turun dari matanya.

“Dia mengandung putraku..” ucap Taeyeon lemah seperti sesuatu telah mengunci pita suaranya.

“Apa kau yakin itu darah dagingmu? Tinggalkanlah dia nak.. sebelum semuanya terlambat..” Youngmin menyimpan cerutunya itu di asbak. Dia berdiri menghampiri Taeyeon yang masih tak berhenti mengeluarkan air matanya.

“Semuanya akan hancur jika Hyungsuk mengetahui semua ini. Tinggalkan wanita itu dan minta ia menggugurkan bayi kalian. Kumohon Taeng… jangan hancurkan karirmu dan aku..”

“Apa maksudmu?”

“Hyungsuk bisa menghancurkan semua yang kubangun selama ini hanya dengan jentikan jari..”

“Presiden..”

“Semua ada di tanganmu Taeng.. apa kau memilih wanita itu atau aku?” Taeyeon terdiam memikirkan apa yang Youngmin ucapkan padanya. Semua scene kini bermain di kepalanya. Awal pertemuan ia dengan Tiffany di sebuah jamuan makan malam di Jeju. Bagaimana hubungan awal mereka yang terkesan sulit dijalanani karena kesibukan mereka.

“Taeng..” Taeyeon kini menatap lagi pria yang dulu menyelamatkan hidupnya dai kehancuran. Youngmin.. pria itu yang mengambil Taeyeon dari jalanan, dari dunia kelam yang dulu sempat mengisi hari-harinya. Youngmin yang melatih Taeyeon menjadi seorang bintang seperti sekarang. Youngmin yang menjadi sosok ayah yang tak pernah ia miliki selama ini, yang membantu ibunya sembuh dari kanker rahim yang hampir merenggut nyawanya.

“Kau memilih wanita itu kan?” entah kenapa perasaan Taeyeon sekarang tidak enak. Youngmin kini duduk berjongkok di hadapannya dengan wajah dinginnya yang membunuh.

“Aku sudah bisa menebaknya.. kau benar-benar mengecewakan nak..” Youngmin mengelus wajah Taeyeon yang kini sudah berkeringat dingin. Ia membalikan tubuhnya dan berjalan kembali ke tempat duduknya.

“Presiden..” Entah kenapa kepala Taeyeon sekarang ini pusing, nafasnya mulai terasa sesak.

“Gelas yang kau minum tadi.. itu adalah penyelesaian dari semuanya..” Taeyeon masih berusaha mengatur nafasnya yang berat. Rasanya dadanya begitu sakit.

“Dalam waktu yang cepat.. sirkulasi darah di otak dan tubuhmu akan berhenti. Kau akan merasa kepanasan, pusing, sesak dan kelumpuhan.”

“Kau.. argh..” Taeyeon segera bangkit dari kursinya, dengan susah payah dia berjalan menuju pintu keluar, sempoyongan berlari sekuat tenaganya menuju lift. Tak butuh waktu yang lama baginya untuk mencapai basement dan menaiki mobilnya, mencari pertolongan pertama yang bisa menolongnya untuk tetap hidup.

“Bereskan dia.. buat semuanya sebersih mungkin.. tanpa jejak apapun Joon..” Youngmin segera menutup telponnya, menutup album fotonya, sebuah foto dimana semua kenangan tentang Taeyeon akan ia simpan di lemari koleksinya, lemari tempat semua orang yang telah ia bunuh dengan tangan dinginnya.

Sementara itu……

“Hyung.. kau sudah dimana? Aku sudah menunggumu sejak..” Yoong berbicara cukup keras karena bandara begitu ramai saat ini tak tahu kenapa.

“Yoongh..” suara Taeyeon terdengar lemah. Nafasnya tersengal-sengal berusaha mengucapkan sesuatu pada sahabatnya yang harusnya ia temui hari ini.

“Hyung.. kau ada dimana!??” Yoong tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.

“Toh.longh.. jag..aahh.. Tiffanyh Hwanghh.. danhhh.. putt..rihh..haa.. kammih…” dan saluran telpon terputus begitu saja diingi dengan benturan yang sangat keras dari mobil pemiliknya.

======== The Reason Is ========

Kematian Kim Taeyeon menjadi berita besar di seluruh media cetak maupun televisi. Kematiannya yang mendadak membuat banyak orang terkejut. Apalagi fakta bahwa Taeyeon meninggal dalam kecelakaan hebat yang membakar hangus mobil dan dirinya membuat seluruh fans dan teman terdekatnya begitu berduka menerima kenyataan pahit ini. Mereka tak percaya bahwa Taeyeon bisa meninggal dalam keadaan seperti itu. Apalagi Taeyeon dikenal sebagai pribadi yang taat aturan dan sangat hati-hati termasuk dalam berkemudi.

Pemakaman sudah dilaksanakan sejak tadi pagi tapi orang-orang masih berlalu lalang mengunjungi makamnya yang terletak di kawasan elit di Seoul. Banyak orang-orang berpengaruh di dunia industri hiburan yang menghadiri pemakaman ini, mereka ingin memberikan hormat terakhir mereka untuk actor kesayangan mereka.

“Tak kusangka Taeng Oppa akan pergi secepat itu..” seorang wanita masih berdiri melihat bingkai foto besar yang berada di atas makam yang masih dipenuhi dengan berbagai karangan bunga yang mengelilinginya.

“Kecelakaannya juga sangat parah.. mobilnya hancur karena ledakan itu. Seandainya Taeyeon Oppa masih sadar.. mungkin dia akan selamat..” wanita yang bernama Sunny itu membalas apa yang dibicarakan oleh member satu grupnya itu.

“Fany.. bagaimana menurutmu?” Jessica bertanya pada wanita yang masih diam menatap foto itu, tak menyadari bahwa air mata itu sudah membasahi pipinya sejak tadi.

“Aku tahu ini sangat berat untukmu.. apalagi kau begitu dekat dengan Taeyeon Oppa..” Sunny dan Jessica memeluk wanita yang sempat menjadi member grup mereka yang sampai sekarang masih eksis di dunia industry Korea meskipun berbagai isu menghadang mereka.

“Fany-ah.. kau.. kenapa?” sadar ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Sejak proses awal pemakaman dia tahu Tiffany hanya diam dengan air mata yang tak habis mengalir dari matanya meskipun tangis itu tak pernah ada.

“Fany.. gwenchanayo?” kini giliran Sunny yang khawatir melihat wajah Tiffany yang begitu pucat. Ia tahu kematian Taeyeon adalah pukulan yang keras untuk sahabatnya itu karena Oppanya itu memang dekat sekali dengan Tiffany. Ia malah sempat mengira mereka pacaran tapi keduanya selalu menolaknya karena mereka hanya dekat sebagai adik kaka saja.. sebagai junior dan senior yang saling membantu dan Sunny percaya hal itu karena selama ini tak pernah ada pergerakan aneh dari Taeyeon ataupun Tiffany.

“Sunny-ah.. Sica-ah.. boleh aku meminta sesuatu pada kalian?” Tiffany berucap begitu lemah, rasanya semua tenaga dan energy dalam dirinya terkuras. Ia memegang tangan kedua sahabatnya itu bersamaan. Keduanya menganggukan kepalanya menjawab perkataan sahabat mereka yang terlihat tak bernyawa hari ini.

“Bantu aku.. menyusul Oppa.. secepatnya..” dengan itu tubuh Tiffany ambruk ke arah Jessica membuat kedua sahabatnya itu panic.

“Oppa.. bantu kami..” Sunny berteriak pada managernya yang baru saja datang membawa beberapa kaleng minuman isotonic untuk artis-artisnya itu.

“Ada apa ini?” sang manager segera memangku Tiffany menuju mobil mereka. Untung saja suasana sudah cukup sepi karena hari sudah mulai malam. Jessica dan Sunny sebenarnya baru datang 15 menit yang lalu, berbeda dengan Tiffany yang sudah standbye dari pagi menyaksikan semua proses pemakaman dalam diam, tak memperdulikan tatapan aneh dan penasaran yang orang berikan padanya. Ia sudah tak peduli lagi apakah hubungan mereka akan terungkap atau tidak. Ia sudah tak perduli lagi dengan semua kopopuleran yang ia jaga selama ini. Apa arti itu semua jika alasannya untuk tetap hidup di dunia ini sudah tiada? Klise dan berlebihan memang terdengarnya, tapi… apa kalian pernah mengalami apa yang Tiffany alami? Bagi yang sudah.. mungkin mereka akan mengerti dengan semua ini tapi bagi yang belum.. mereka hanya bisa menebak bagaimana sakit dan beratnya ini semua bagi wanita pemilik senyum indah itu.

“Kami tidak tahu Oppa.. tiba-tiba saja Fany pingsan setelah dia mengucapkan sesuatu.. iya kan Sica?” tanya Sunny meminta kepastian sahabatnya yang terdiam sendu menatap Tiffany yang masih tergeletak lemas di pangkuannya.

“Sunny-ah.. apa kau memikirkan apa yang kupikirkan selama ini?” Jessica menatap Sunny dengan kesedihan yang tergambar di wajahnya.

“Maksudmu?”

“Fany dan Taeyeon Oppa.. mereka adalah item..”

Sementara itu di sudut lain pemakaman terlihat seorang pemuda dengan jas hitamnya berjalan menghampiri makam Taeyeon yang masih basah tanahnya.

“Hyung.. aku sudah melihat wanitamu.. dia begitu cantik.. pantas saja kau begitu mencintainya..” Yoong menyimpan karangan bunga yang ia bawa, mengeluarkan koran yang ia simpan di tasnya, membuka koran itu dan mulai duduk di samping sahabatnya itu.

“Aku tak tahu apa sebenarnya terjadi padamu hingga kau seperti ini.. tapi aku berjanji.. aku akan memenuhi permintaanmu itu..” air mata itu akhirnya keluar dari kedua mata Yoong yang masih tak percaya bahwa hyung yang selama ini banyak membantunya bisa pergi begitu cepat dalam kecelakaan tragis yang membuat hatinya tak kuasa melihatnya.

=============================================

==========================

Pendek?? heumh maklumilah.. hahaha

Iklan

129 pemikiran pada “The Reason Is.. Part I

  1. cari yoonfany dpt ini. ikut nimbrung thor.
    awal yg tragis bg taeny hrs ditgl tae. fany hrs kuat krn ad janin yg hrs dijg. ap yg akn dilakukn yoong??

  2. Tae mati d bunuh?! oh my!! youngmin kejam bener thor,,die ngebunuh artisnya sendiri!! 😮
    kasian fany,mana die laggi hamil kan!!
    moga yoong bisa nepatin janjinya buat jagain fany ma janin nya! Yee,my hero yoongie! 😀

  3. hai ,, salam kenal ya . reader bru nih gue ceritanya ,, bru mampir . kirain bakal taeny ,, ehh taeng nya mati . jahat banget tuh Mr. kim . hikshikshiks ,, taeng gue . yoongfanny di tgg .. hehehhee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s