Earned It Chapter 3

PhotoGrid_1433217119274

 

“Ayah.. ada apa? Apa kau tidak bisa menghubungiku saja lewat telpon?” Julian berucap masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal karena ayahnya yang super sibuk itu memanggilnya ke kantor mereka di waktu yang kurang tepat baginya.

“Hahaha.. sabarlah nak.. kau terlihat kelelahan” Jongsuk tertawa memukul pundak putra pertamanya itu ringan.

“Tentu saja.. aku harus bergegas meninggalkan acara itu dan kembali mengganti pakaianku lalu segera berkendara kesini karena kau bilang ada sesuatu yang penting dengan deal kita bersama KJG…” Julian berbicara dalam satu tarikan nafas membuat ayahnya itu menatapnya penuh kekaguman.

“Wow nak.. kau semakin mirip sekali dengan ibumu.. hahaha” Julian mendengus kesal mendengar tawa itu.

“Oke.. Mr. CEO.. jadi bagaimana deal dengan KJG?” Julian kembali ke bisnis mode. Ia melepas kacamata kerjanya yang dari tadi ia pakai. Mungkin ia lupa melepasnya karena ia terburu-buru meninggalkan sahabat masa kecilnya yang akhirnya berhasil ia temui lagi hari ini.

“Begini nak.. mereka memintamu untuk segera naik mengambil posisiku..” Jongsuk juga sekarang mulai terlihat serius. Ia membuka kembali sesuatu di smartphonenya.

“Maksud ayah?” Jongsuk memberikan smartphonenya itu pada putranya. Ia membiarkan Julian membaca kembali pesan yang ditulis oleh CEO KJG yang sengaja menghubunginya tadi.

“Mereka masih belum bisa mempercayakan proyek miliaran dollar ini jika kau masih belum berada di posisimu sebagai CEO..” Jongsuk berkata pada putranya yang serius membaca pesan itu. Ia tahu Julian pasti sangat kesal mendengar berita ini. Proyek ini.. merupakan mega proyek yang sudah dirancang oleh Julian cukup lama. Hanya tinggal sedikit lagi sampai putranya itu mencapai mega proyek yang sudah dinantikan berbagai perusahaan elite di Asia.

“Jadi maksudmu aku harus menjadi CEO dulu baru mereka mau menyetujui kontrak kerjasama itu? Apa jabatanku sekarang sebagai CFO tidak cukup Ayah?” Julian berusaha menahan emosinya. Ia tahu emosinya takan membawanya ke puncak kesuksesan jika ia mengikuti emosinya itu.

“Kau harus mempercepat proses pendekatanmu dengan calon istrimu itu nak…” Jongsuk memecahkan keheningan yang menyelimuti mereka sejak tadi. Julian terlihat berpikir mempertimbangkan saran ayahnya itu.

“Tapi aku baru bertemu dengannya hari ini Ayah..” Julian memikirkan lagi semua kemungkinan yang baru bermain di otaknya.

“Calon istrimu??” Jongsuk bertanya dengan wajah penasaran yang tergambar di paras tampannya, mewariskan ketampanan itu pada putranya yang memang sudah cukup lama tinggal di London bersama kedua orangtuanya.

“Bukan..” Julian menggeleng pelan menyanggah pertanyaan ayahnya itu.

“Lalu?”

“Wanita yang selalu ada dalam mimpiku..” Julian tersenyum kecil mengingat pertemuannya dengan wanita yang tadi terlihat begitu hancur baginya.

{{(========= Earned It =========)}}

“Hong.. kenapa semuanya jadi seperti ini?” Taeyeon tak bisa mengendalikan kekesalannya pada pria yang mengatur jalannya rencana untuk melamar sahabatnya hari ini.

“Maafkan aku Taeng.. aku tidak tahu bahwa yang masuk ke ruangan itu adalah Jessica Jung.. bukan Tiffany..” Hongki terlihat begitu menyesal dengan kesalahan yang ia perbuat hari ini.

“Apa kau sudah menemukan Tiffany?” Taeyeon terlihat begitu kacau saat ini, masih dengan busana yang ia kenakan pada fashion show tadi.

“Belum.. beberapa pelayan melihatnya segera berjalan keluar dari ruangan saat kau mencium Jessica..” Hongki terlihat ragu saat mengucapkan hal itu sementara Taeyeon semakin menyesal dengan apa yang terjadi hari ini.

“Appa..” suara itu membuat Taeyeon terpaksa memasang senyum di wajahnya. Hongki pamit keluar meninggalkan ayah dan putrinya itu untuk berbicara.

“Ada apa sayang? Apa Tante Jessica sudah selesai makan malamnya?” Taeyeon beranjak dari kursinya menghampiri putrinya yang terlihat begitu bahagia hari ini berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan sekarang.

“Appa.. mengapa kau terlihat sedih? Apa telah terjadi sesuatu?” Irene mengusap pipi ayahnya yang tersenyum kecil menerima love gesture dari putrinya itu.

“Tidak.. Appa mungkin hanya lelah saja dengan showcase ini dan semua persiapan untuk melamar Umma-mu

Flashback

“Kau.. bukan Fany-ku..” Taeyeon segera melepas ciumannya. Ia membuka penutup mata itu dengan cepat, mengecek siapa wanita yang ada di hadapannya.

“Tuan Kim.. aku..” Jessica tak tahu harus berkata apa. Dia mendadak menjadi bingung dengan semua ini. Ada bagian dalam dirinya yang menginginkan ini semua terjadi tapi ada bagian dalam dirinya yang menolak juga.

“Wah.. selamat untuk pasangan baru kita..” belum sempat Taeyeon atau Jessica berkata, pembaca acara telah mengumumkan hal ini membuat semua yang hadir disitu bersorak ria menyambut pasangan baru yang sebenarnya tak seharusnya begini. Entah angin apa yang membuat Jessica berjalan mendekati MC, ia mengambil mike yang MC itu kenakan.

“Maaf tapi aku buk..” ucapannya terpotong saat ia merasakan sesuatu menggenggam tangan kirinya. Ia menolehkan kepalanya, melihat Taeyeon yang menggelengkan kepalanya.

“Jangan sekarang… jangan disini.. kumohon..” Taeyeon berbisik di telinga Jessica yang mengurungkan niatnya tadi.

End Of Flashback

“Jeongmal?” Irene kembali bertanya pada ayahnya yang kini memberikan senyum lesung pipinya, senyum yang Irene sukai dari sekian banyak ekspresi wajah ayahnya yang tak pernah habis membuatnya tersenyum dan tertawa bahagia.

“Syukurlah.. kau tahu Appa.. aku sangat senang karena kau segera melamar Jessica Umma..” Senyuman di wajah Taeyeon berkurang, tergantikan dengan rasa penasaran mengapa putrinya itu begitu menyukai Jessica.

“Kenapa putri Appa begitu menyukai Jessica Jung eoh?” Irene tertawa kecil saat ia merasakan tubuhnya diangkat oleh Taeyeon. Taeyeon menggendong Irene untuk duduk dengannya di salah satu sofa di ruang kerjanya.

“Kau percaya tidak Appa.. meskipun aku tak pernah tahu secara nyata Seungyon Umma itu seperti apa, tapi entah mengapa aku merasa Jessica Umma memberikan rasa yang sama bagiku.”

“Maksudnya?”

“Fany Mommy adalah sosok ibu yang baik.. ibu yang sempurna. Tapi Jessica Umma.. meskipun aku belum terlalu lama mengenalnya, dia bisa membuatku merasa begitu nyaman dengan semua sifatnya yang tidak dibuat-buat menurutku.”

“Jadi karena itulah kau sangat menyukai Jessica Umma eoh?”

“No.. lebih dari itu. Entah kenapa aku mempunyai feeling yang kuat bahwa Umma adalah pendamping hidupmu yang tepat Appa.. well setelah sekian lama kau sendiri selama ini.”

“Sayang.. aku begitu juga karena kau yang memintaku untuk tidak mencari ibu baru kan..” Taeyeon beralasan, membuat Irene cemberut dan sedikit menggembungkan pipinya.

“Iya aku tahu Appa.. tapi Jessica Umma.. aku ingin sekali menjadikannya ibuku Appa.. istri Appa yang bisa merawat kita semua juga..” mendengar hal itu.. Taeyeon tak tahu harus berkata apa lagi pada putri yang sangat ia sayangi itu.

‘Seungyon-ah.. apa yang harus kulakukan?’ rintih Taeyeon dalam hatinya. Ia tak tahu apa yang harus ia dahulukan, keinginannya untuk mempersunting Tiffany atau keinginan putrinya yang ingin Jessica menjadi istri dan ibu untuk putrinya.

{{(========= Earned It =========)}}

“Yah!!! Kau kemana saja??” Jessica berusaha mengecilkan suaranya. Ia berusaha mengontrol emosinya saat ini.

“Aku dipanggil oleh Mr.Choi tadi. Ia memintaku untuk mengirimkan sesuatu untuk clientnya.. maafkan aku Nona Jung..” Yoona berbicara dengan suaranya yang sedikit berat, membuat Jessica penasaran dengan apa yang sedang dilakukan manajer barunya itu.

“Benarkah? Apa memang yang Oppa kirimkan?” rasa penasaran itu bertambah di hati Jessica. Semua tentang Siwon.. pasti ia mengetahuinya karena Oppanya itu tak pernah menyembunyikan sesuatu darinya. Managernya yang misterius ini sekarang malah berkata seperti tadi.

“Maaf untuk hal itu aku tak bisa memberitahumu.. jika kau mau mengetahuinya.. lebih baik tanyakan langsung pada Mr.Choi..” masih dengan tenang dan wibawanya Yoona menjawab pertanyaan Jessica yang sepertinya mulai kesal dengan sikapnya.

“Aish.. kau ini sungguh menyebalkan ya!” Jessica menggebrak kasurnya. Ia menepak betisnya yang mulai terasa nyeri akibat perbuatan bodohnya itu.

“Oh.. maaf kalau begitu..” Yoona mengucapkannya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia malah tertawa dalam hatinya membayangkan wajah Jessica yang pasti terlihat aneh saat ini.

“Maaf? Kau pikir dengan maaf kau bisa membantuku sekarang?” Jessica naik pitam. Ia berjalan keluar kamarnya menuju balkon lantai 2 rumah calon suami-nya yang sederhana tapi mewah dan nyaman. Ia melihat jalanan Seoul yang ramai padat seperti biasa, berharap pemandangan itu bisa mengalihkan perhatiannya.

“Memang ada apa?” jika managernya itu ada di hadapannya, ingin sekali rasanya Jessica memukul kepala pria bodoh yang ajaibnya bisa begitu tampan seperti pangeran impiannya yang sampai hari ini belum ia temukan. No.. seharusnya pangeranlah yang mencarinya dan menemukannya. Bukan sebaliknya.. pikir Jessica mengabaikan fakta bahwa ia masih berbicara dengan Yoona saat ini.

“Oh Tuhan.. demi mentimun ya.. kau ini niat tidak sih jadi managerku? Kau tahu.. karena kau menghilang tadi aku sekarang adalah seorang calon istri Kim Taeyeon.. Kim.. Tae..yeon.” Jessica berucap dengan penekanan di setiap kata-katanya.

“Kau.. bagaimana bisa!?” Kini malah giliran Jessica yang terkejut mendengar reaksi managernya itu.

“Yah!! Kenapa jadi kau yang berteriak padaku? Harusnya aku yang..” Jessica terdiam sejenak. Sesuatu mulai bermain di otaknya. Sebuah rencana brilliant itu kini membangun alurnya dalam pikiran Jessica. Ia berkumpul jadi satu menyambungkan semua puzzle yang membuat Jessica tersenyum lebar menyelesaikannya.

“Apa Mr. Choi sudah tahu tentang hal ini?” Yoona terdengar sedikit goyah, berusaha tak menunjukan keterkejutan dan kekhawatirannya akan berita ini.

“Euhm.. aku tak tahu.. tapi yang pasti Oppa akan senang mendengar berita ini..” Jessica tertawa kecil mengingat Oppanya yang begitu ingin memiliki kembali Tiffany ke dalam hidupnya. Choi Siwon.. pria itu bisa begitu jenius tapi begitu bodoh untuk melakukan semua ini dengannya. Menganggap perasaan manusia sebagai domino yang akan berbalik dan berubah dalam sekejap waktu jika kau mendorong atau menyentuhnya.

“Kenapa?”

“Heuhm.. Maaf untuk hal itu aku tak bisa memberitahumu.. jika kau mau mengetahuinya.. lebih baik tanyakan langsung pada Mr.Choi..” Jessica tertawa penuh kemenangan mengucapkan itu semua.

‘Kita sekarang sama Lim Yoona!’ pekiknya dalam hati tersenyum begitu lebar membayangkan wajah sebal pangerannya itu.

“Tapi aku harus tahu.. aku adalah managermu..” Yoona berucap dengan nada yang berusaha menutupi emosinya. Ia tak boleh terpancing oleh permainan wanita yang bisa menjadi hidup dan matinya itu.

‘Kau kucing cantik.. heumh.. kau tak bisa mematikanku..’ ucap Yoona dalam hatinya.

“Tuan.. pesanan Anda sudah siap..” samar-samar Jessica bisa mendengar suara seorang pria bergema di telponnya. Sepertinya seseorang memanggil Yoona.

“Baiklah.. kita akan melanjutkan percakapan ini besok Nona Jung.. selamat malam..” Ting! Dengan itu sambungan telpon terputus. Jessica hanya terdiam mengalami hal ini.

“Heol!.. kau mematikan telpon sebelum aku mematikannya eoh?” aura hitam itu bisa terlihat di seluruh tubuh Jessica. Ia berbalik akan berjalan menuju kamarnya saat ia menabrak sesuatu. Wajahnya membentur sesuatu yang empuk dan hangat.. menyenangkan. Ia putarkan pandangannya ke atas, menemukan apa yang sebenarnya ada di hadapannya.

“Kau baik-baik saja Nona Jung?” suara itu membuat Jessica terdiam. Ia bukan menjawab pertanyaan itu, ia malah semakin intens menatap pria yang ada di hadapannya itu.

Calon suaminya.. Kim Taeyeon.. kini berdiri begitu dekat dengannya saat ini.

‘Oh Tuhan.. apa yang telah kuperbuat di masa lalu sehingga aku bisa bertemu dengan manusia seindah ini?’ Jessica berucap dalam hatinya, terlihat seperti wanita bodoh menatap seorang pria yang baru saja ia temui hari ini, no baru ia temui secara langsung tepatnya, bukan melihatnya dari jauh selama ini.

“Nona Jung?” Taeyeon mulai kembali mengeluarkan suaranya membuat Jessica kembali focus menatapnya, mengalihkan pikiran-pikiran aneh yang akan menghinggapinya.

“Ya?” dengan polosnya Jessica berucap seperti seorang anak kecil yang ditanya orangtuanya.

“Kita harus membicarakan hal tadi..” Jessica mengerti kemana arah percakapan ini. Ia dan Taeyeon berjalan menuju sofa yang ada di balkon.

“Tuan Kim.. aku tidak tahu bahwa kau..”

“Panggil aku Taeyeon..” ucap Taeyeon dengan ramah dan hangat pada Jessica yang menganggukan kepalanya mendengar hal itu.

“Ya Tuan Kim.. maksudku Taeyeon… aku tidak tahu bagaimana aku bisa ada di ruangan itu. Maksudku.. berada di posisi seorang wanita yang harusnya kau lamar hari ini..”

“Aku tahu.. ini semua hanya salah paham..” Taeyeon berucap sambil menutup kedua matanya. Ia memikirkan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya pada gadis di hadapannya ini.

“Oke.. kau bisa memanggilku Jessica.. aku setuju denganmu. Maka dari itu besok aku akan meminta Oppaku untuk mengadakan klarifikasi untuk..” Jessica berhenti berkata saat tangan Taeyeon memegang salah satu tangannya.

“Putriku.. ia ingin kau menjadi ibunya.. yang sebenarnya.. bukan hanya sandiwara..” Taeyeon mengambil nafas panjang.

“Maksudmu?”

“Be my wife.. for real..” dan Jessica hanya terdiam bodoh mendengar kalimat itu dengan berat keluar dari mulut pria di hadapannya.

{{(========= Earned It =========)}}

 

 

“Fany-ah.. kumohon dengarkan dulu penjelasanku..” Taeyeon setengah berlari mengejar wanita yang sudah seminggu ini sulit sekali ia temui. Tiffany semakin menambah kecepatan kakinya meskipun ia menggunakan heels tinggi yang bisa membuatnya terjatuh seketika.

“Fany.. tolong..” kali ini Taeyeon berhasil meraih tangan yang seharusnya berhiasakan cincin indah yang sudah lama ia siapkan itu. Tiffany terpaksa menghentikan langkahnya, belum berbalik menghadap pria yang membuatnya begitu hancur dalam beberapa hari ini.

“Apa lagi yang harus kudengar darimu Tae?” Taeyeon mengepalkan tangan kirinya yang bebas tak menggenggam tangan Tiffany. Apa yang diucapkan wanitanya itu ada benarnya juga. Tapi.. tapi Tiffany harus tahu mengapa ia melakukan semua ini.

Flashback

“Thanks God.. akhirnya aku menemukanmu.. aku merindukanmu Fany-ah…” Taeyeon memeluk sahabatnya yang sudah 2 hari ini tak bisa ia temui. Semua bentuk komunikasi mereka terputus. Taeyeon sudah seperti orang gila mencari cara bagaimana agar sahabatnya itu bisa kembali ia hubungi. Baginya Tiffany adalah kehidupan yang takkan lengkap bila tak ada di sisinya. Tiffany adalah candu yang tak bisa ia lepaskan begitu saja. Tiffany.. adalah pembangun moodnya selama ini. Ia adalah vitamin yang akan memberikan Taeyeon energy untuk menjalankan semua aktifitasnya yang melelahkan ini.

“Tae.. kenapa kau tak pernah cerita tentang Jessica padaku?” Nada bicara Tiffany berubah menjadi datar, tak ada lagi kehangatan yang selalu membuat Taeyeon bersemangat mendengarnya.

“Fany.. masalah itu.. Jessica adalah..” Taeyeon melepaskan pelukannya. Dia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.

“Aku tahu.. dia adalah calon istrimu yang direstui secara langsung oleh Irene kan?” Taeyeon terdiam mendengar nama putrinya itu disebutkan. Janji yang ia buat 2 hari lalu pada putrinya itu membuat lidahnya itu kelu tak tahu kenapa. Semua kalimat yang akan ia jelaskan pada Tiffany mendadak menjadi blur dan ambigu.

“Jessica pasti memiliki sesuatu yang sangat special sehingga Irene bisa begitu menyukainya. Gadis itu.. dia mirip sekali dengan Seungyon..” Tiffany tersenyum kecut mengingat ekspresi Irene yang berbinar-binar setiap kali menceritakan tentang calon ibu barunya itu padanya. Memutus semua hubungannya dengan Taeyeon bukan berarti ia harus melakukannya pada gadis yang sudah anggap sebagai putrinya sendiri kan? Dalam kondisi apapun.. akan bagaimanapun nantinya kedepan hubungannya dengan Taeyeon, Tiffany tetap tidak akan meninggalkan Irene. Gadis itu.. ia sudah berjanji untuk merawat.. menjaga dan menyayanginya seperti putrinya sendiri pada Seungyon.

“Fany.. aku..” hati Taeyeon menjad tak enak.

“Apa kau setuju dengan apa yang kuucapkan tadi?” Taeyeon terdiam lagi memikirkan yang barusan saja Tiffany ucapkan. Ucapan sahabatnya itu ada benarnya juga.

“Kita hentikan saja kegilaan dan kekacauan yang selama ini kita buat.. oh no.. yang aku buat..” Taeyeon menatap sahabatnya itu tak percaya. Kegilaan dan kekacauan? Apa maksud gadis di hadapannya ini.

“Fany-ah.. apa maksudmu dengan kegilaan dan kekacauan? Kau tahu aku tidak pernah menganggapnya seperti itu. Semua yang telah kita lakukan.. aku menikmatinya. Aku tidak pernah menjadikan semuanya sebagai..” Bibir Taeyeon terdiam saat kedua tangan yang selalu menghangatkan miliknya itu membingkai wajahnya lembut.

“Tae.. aku mencintaimu… sebagai teman.. sahabat.. saudara.. dan seorang pria. Kau akan memiliki pendamping hidup, ibu untuk putrimu. Apa yang telah terjadi pada kita selama ini.. anggaplah semuanya hanya mimpi indah yang takkan pernah terjadi lagi.”

“Tidak Fany.. aku tidak ma..” ucapan itu terpotong lagi karena kini Taeyeon bisa merasakan lembut dan manis bibir sahabatnya itu menyapa miliknya. Entah kenapa ia bisa merasakan semua hal dalam ciuman itu.

“Kau akan tetap menjadi sahabatku.. rekan bisnisku.. saudaraku. Aku tidak akan menjauh darimu dan Irene. Jagalah selalu Irene dan Jessica..” dengan itu Tiffany kembali memeluk pria yang hanya terdiam melihat kepergian wanita yang tanpa ia sadari telah ia cintai selama ini.

“Fany-ah.. kumohon jangan..” hanya itu kata-kata yang selalu bermain di hati Taeyeon melihat Tiffany berjalan pergi menjauhinya dengan air mata yang tak mampu terbendung lagi bagi keduanya.

End Of Flashback

“Fany-ah.. aku tidak mencintainya..” Taeyeon memegang bahu wanita yang masih belum sepenuhnya menatapnya itu.

“Lalu siapa yang kau cintai? Jawab aku Kim Taeyeon?” Kini kedua mata mereka bertemu. Untuk sesaat keduanya terdiam. Taeyeon terlihat bingung dengan apa yang akan ia katakan. Hatinya ingin sekali berteriak mengatakan Tiffany kepada dunia tapi sisi yang lain dalam dirinya menolak.

“Kau.. itu kau.. tapi Irene..” Jawaban itu terdengar lemah dan kacau seakan tak yakin dengan pondasi kepercayaan yang ada di dalamnya.

“Irene ingin Jessica yang menjadi istrimu kan?” Tiffany menghirup nafas panjang sebelum mengucapkan kata itu.

“Fany-ah.. aku bisa membatalkan semuanya.. aku bisa memberitahukan kepada semuanya bahwa kaulah..” Taeyeon kembali menggenggam kedua tangan sahabatnya itu mencoba meyakinkan kembali apa yang ada di hatinya saat ini.

“Cukup Tae.. sudah..” dengan cepat Tiffany melepaskan genggaman tangan itu, membuat sedikit jarak dengan sahabatnya itu.

“Fany-ah.. jangan seperti ini.. kumohon..” Mata Taeyeon terlihat berair, membuat Tiffany tak berani menatapnya.

“Selama ini.. aku tidak pernah melihat Irene sebahagia ini. Mengapa kita harus memaksakan kehendak kita bila kita membahagiakannya Tae?” Tiffany mengeluarkan tissuenya, ia menghapus air mata yang akan jatuh membasahi pipi prianya itu. Ia tahu ini bukan saatnya terlihat patah hati.. sakit dan lemah di hadapan Taeyeon.

{{(========= Earned It =========)}}

 

“Heumh.. sepertinya wanita di sampingku ini cepat sekali melupakan kata-kataku..” Tiffany menoleh ke kiri, melihat pria yang kemarin telah meminjamkan mantel coklat dan shall merah muda padanya.

“Apa maksudmu?” Tiffany tak mendapat jawaban apapun. Ia hanya merasakan tubuhnya menjadi lebih hangat dengan tambahan mantel yang menempel di tubuhnya saat ini. Tak butuh kata saat ia merasakan tangan itu menyapu kedua pipi dan matanya dengan kain lembut yang akan selalu menjadi favorit dengan sebuah aroma yang menjadi kenangan indah yang tak bisa ia hapuskan dalam hidupnya.

“Apakah masih dingin? Heumh.. kuharap tidak..” entah apa yang membuat pria itu begitu berani memeluknya dari belakang. Entah apa juga yang membuat Tiffany tak memberontak menerima kehangatan lain yang memasuki tubuhnya itu.

Nyaman.. damai.. semuanya terasa ringan.. hanya itulah yang Tiffany rasakan saat ini.

“Apa yang sedang kau pikirkan?” pria itu kembali berbicara tanpa melepaskan pelukan yang Tiffany biarkan hinggap di tubuhnya. Orang boleh menyebutnya gila karena membiarkan pria asing memeluknya begitu saja. Tapi sesuatu dalam pria ini.. ia seperti begitu mengenal aroma dan tubuh ini. Sesuatu seperti telah memanggil ingatannya untuk mengenang sesuatu yang tak mau ia ungkit dari masa lalunya.

“Yoongie.. apakah itu kau?” mereka berdua kini berada di puncak menara namsan, memandang kerlap kerlip sore hari Seoul yang indah, berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh salah satu dari mereka. Pria itu melepaskan pelukannya membuat Tiffany membalikan direksi tubuhnya, mengamati wajah di hadapannya itu. Meskipun terbungkus kacamata coklat klasik tipisnya, Tiffany bisa melihat mata kijang itu menatapnya penuh kehangatan, langsung menuju hatinya. Mata kijang itu.. begitu indah dan menenangkan.. menyenangkan bila kalian membuat hal itu terjadi padanya. Tanpa permisi tangan Tiffany mengambil kacamata itu, membuatnya lebih jelas menatap keindahan di depannya. Senyum lesung pipi yang manis itu kini bermain di wajah pria itu. Dengan pelan Tiffany mengelus wajah itu, mengingat kembali setiap detail yang ia coba gali di ingatannya.

‘Masih sama.. tak ada yang berubah..’ pikirnya dalam hati tersenyum kembali untuk pertama kalinya sejak peristiwa yang tak mau ia ingat lagi.. untuk saat ini.

“Kau masih mengingat nama itu rupanya..” pria itu tersenyum memberikan secangkir coklat panas pada wanita yang masih menatap wajahnya dengan berbagai pikiran yang berlalu lalang di otaknya.

“Apa aku setampan itu hingga kau tak bisa berhenti menatapku Nona Hwang?” pria itu tertawa kecil menyeruput coklat panas di cangkirnya. Ia mengalihkan pandangannya, tak berani lama-lama menatap sahabat masa kecilnya itu.

“Apa kau.. benar.. Yoongie..ku?” kata terakhir itu rasanya hanya anginlah yang bisa mendengarnya. Tiffany masih tak melepaskan pandangannya dari pria di sampingnya itu.

Lim Yoona.. seorang bocah kecil yang dulu menjadi tetangganya. Lim Yoona.. pemuda yang dulu selalu melukis senyum di wajahnya. Pemuda yang selalu sabar mengajarkannya naik sepeda, menemaninya mencari kebahagian masa kecilnya yang terlalu indah untuk dilupakan. Yoona kecil.. selalu melindunginya dari berbagai orang yang ingin membuatnya sedih.

‘Apa ini adalah jalanmu Tuhan?’ ucap Tiffany dalam hatinya masih memperhatikan pria yang terlihat sama.. masih sama seperti dulu, begitu manis dan menenangkan bila berada di sampingnya meskipun hanya kesunyian yang diam menghinggapi mereka.

“Maaf baru mengucapkannya sekarang.. Tapi.. senang bisa bertemu denganmu lagi Fany-ah..” Pria itu tersenyum begitu lebar menerima pelukan dari wanita yang begitu erat memeluknya saat ini.

{{(========= Earned It =========)}}

“Tuan Kwon.. senang sekali aku bisa mendapat kunjungan darimu hari ini..” Siwon tersenyum begitu lebar menjabat tangan partner bisnis yang sangat penting untuknya dan Koreana Group.

“No.. akulah yang senang karena kau mau meluangkan waktumu bertemu denganku… yang sudah tua renta ini..” Jongsuk tertawa kecil menepuk bahu pria yang 2 tahun lebih tua dari putranya itu. Siwon ikut tertawa mendengar ucapan itu. Ia membawa Jongsuk ke sofa kulit hitam kesayangannya, mempersilakan tamunya itu untuk duduk sementara ia menghubungi PA-nya untuk menyiapkan hidangan yang sengaja telah disiapkan untuk menyambut kedatangan Bos besar Kwon Group yang sudah mendunia.

“Nah itu dia minumannya sudah datang.. silakan diminum Tuan..” Siwon mengambil gelas wine yang ada di depannya, membuka botol wine itu lalu mulai menuangkannya ke gelas Jongsuk yang berbinar melihat tulisan di botol wine itu.

“Ini Barcellona 1890? Wow.. seleramu sungguh bagus nak..” Jongsuk menggoyang-gooyangkan gelasnya pelan kemudian menghirup aroma khas dan manis dari gelasnya.

“Tentu.. untukmu aku sediakan yang terbaik Tuan Kwon…” Siwon tersenyum bangga meminum koleksi anggur keluarganya yang eksklusif itu.

“Aku percaya pada seleramu.. artis-artismu saja sama seperti wine ini.. benarkan?” Jongsuk memejamkan matanya menikmati wine yang menjelajah lidah dan tenggorokannya. Manis.. nikmat dan lezat.. dia sungguh harus mencari anggur seperti ini lebih lama lagi.

“Pardon.. maksud anda?” Siwon tersenyum penuh penasaran dengan apa yang diucapkan pria di hadapannya itu.

“Jessica Jung.. kudengar dia telah menjadi calon istri seseorang.”

“Ya.. kemarin Kim Taeyeon baru saja melamarnya. Aku ikut senang karena dia sudah mendapatkan pria yang dia inginkan dalam hidupnya..” Siwon tersenyum senang mengingat bahwa kesempatannya untuk kembali dengan Tiffany semakin besar. Taeyeon baginya kini bukan halangan besar lagi untuk memiliki Tiffany seutuhnya.

“Mr Choi..” Jongsuk masih meneguk anggur yang menjadi kesukaannya ini.

“Cukup panggil aku Siwon Tuan Kwon..” Siwon kembali menuangkan wine ke gelas Jongsuk yang sudah habis begitu cepat.

“Siwon-ah.. bisakah kau membuat Jessica berpisah dari pria itu?” Dalam industry hiburan seperti ini.. wanita adalah hal biasa yang digunakann sebagai pelancar bagi bisnis mereka. Bahkan pemerintah pun bisa ia beli dengan bantuan artis-artisnya.

“Maksud Anda?” Keterkejutan itu tak bisa menghilang begitu saja dari wajah Siwon hingga ia tak sadar bahwa gelas Jongsuk telah terisi penuh.

“Ah Maafkan aku..” Siwon segera mengambil sapu tangannya, membersihkan wine yang tumpah ke tangan Jongsuk dan bajunya.

“Gwenchana.. aku bisa membersihkannya nanti. Tapi permintaanku tadi.. aku serius..” senyum hangat di wajah Jongsuk mulai berganti dengan wajahnya yang serius dan berwibawa.

 ===============================================================

==========================

Cukup?

penasaran?

klo gw sih iya ^_^

Iklan

110 pemikiran pada “Earned It Chapter 3

  1. Tiba tiba gue bangun karna ada badai ☔⚡ :3 trus iseng iseng buka wp eh ada update an ff ini,tapi sebelum baca aku sholat subuh dulu *edisi alim* ea..
    Nah itu udah Taengsic moodbooster dipagi hari tapi pas akhirannya jadi agak greget deh kenapa harus dipisah :v kan Irene dan aku udah seneng taengsic bersatu ^_^ 😝
    Penasaran nih,cepet dilanjut ya *tenang aku gak maksa kok*
    Fighting kak

  2. Iyaaaa thor penasaran pairingnya^^thor aodate nya cepat skrng,senang deh.dan miga selanjutnya thor apdate above the paper chap 5,lanjut thor

  3. Ga cukup msh kurang .haha
    Irene kecil kagak ngerti perasaaan orang dewasa yeee ,bikin pany mommy mewek terus ..
    Siapa pun pairing’a yg penting tetep lanjut .haha

  4. ko gue jadi pusing pala barbie ya thor :v ini pairing nya siapa ? dan itu si julian juga siapa ? anak nya si kwon jongsuk ? si julian suka sama jessica,,trus yoong sama siapa ??? :O aarrgghh pusing pala barbie pala barbie :v

  5. pairing ny lum jlas thor..
    hadeh..
    cpt y thor skrg update ny tp aq nunggu RSL jg.. satu gi lupa LIS klw g slh..
    gomaomao..
    smngat!!

  6. penasaran banget ini thor ak ..
    poor fany pasti sakit banget tapi mau gimana??
    semoga next part taeng jadi lebih bijak buat memilih deh yg terbaik.

  7. handeeh…thor pairing nya blm jelas2 jga neh?
    Tambah penasaran jd nya neh ff..
    Lanjutin lagi thor
    sory baru komen di Earned it chapter 3..hehe

  8. Greget banget sama alurnya, padahal baru chapter 3 loh ini. Udah bikin gregetan aja
    Pairing di wp ini sulit ditebak, awalnya ini bisa berakhir dengan itu. Tunggu kelanjutannya ajalah. Tapi semoga aja pairing akhirnya taeny 😀 wkwk

  9. Eh taeny da penghalang taengsic pun da pemisah
    Author ini ada” ja makin rumitkan jadinya 😀
    Masih blom da gambaran bwt couplenya tpi sepertinya hub dua pasangan tu gak mulus deh 😔
    Next updatenya ditunggu thor~ 😄

  10. kesel w ma taeng d sini,,,fany w kasihan yg sabar yg sayank..
    kykna permasalahan taeny bukan k sica aj deh tpi lebih k irene???krna tuh ank dah sayang bgt ma sica..
    susah jd na taeny buat bersatu hiks hiks,,,

  11. yah thor,,lg seru baca nya ehh malah di cut di situ u,u
    taeng pasti nyesel bgd dah tuh,,,apa lg klo ntar ppany jdian ama yoong hahaha*evilaugh

      • iye thor,,di bikin yoonfany aje dlu,,,
        biar taeng nyesel bingid plus sapa tau iren bisa sadar(?)
        hahaha tega bener yah gw,,,bodo dah
        abis ppany dah korban banyak gtu taeng malah “salah lamar org”
        daaan msh tetep mikirin perasaan nya si anak kecil yg -ntah knp gw rada ga seneng ama tuh bocah- scra tak lgsg dah bikin ppany patah hati…
        gw aje pengen emak kyk ppany XD

  12. yah yah kenapa hrus ada tbc?
    omonaa siapa itu yulian?
    dan yeayyy tiff ternyata shbt kecil yoong..
    yoong sica..yoong tiff… taeng-sica..taeng-fany. yulian nugu?
    dan knpa mr.kwon pgn jess sma taeng pisah?
    cpet update thorr pleasee

  13. Julian itu yoona kan?wah complicated bgt c n gw benci m taeng yg plin plan.klo mank udah mantab bwt m sica sprti apa yg dy bilang seharusnya jgn kasih harapan lg k fany.benci bgt gw m orang kaya gitu grrrr n u thor bisa banget mainin emosi gw huhuhu

  14. Ping balik: LIST FF ROCKSMITH27 ^_^ | ANOTHER FORM Of FANFICT

  15. Makin komplit dech konfliknya, disini lim yoona nyamar gitu apa gmana y???
    Masih harus nebak2.
    pairingnya mau taeny boleh,yoonfany jugaboleh.

  16. ini yg jd anaknya jongsuk si yoonan bkn?tp dia pura2 jd managernya sica biar bs dekat sm sica
    tp kok yoonan kyknya ada perasaan ke fanny, haduh bingung nih
    yoonan kyknya suka jg sm sica
    tuh tuan jongsuk mo jodohin sica sm yoonan ya?
    kasian taeny, hrs di pisahin krn kemauan irene, mo gmn pun jg taeng psti mnuruti kmauan anaknya

  17. juliannn???? spa.itu?,,bisa kutebak itu pasti yuri secara dia kan anak mr. kwon.
    pisahkan jah dah taengsic…biar sica sma yuri, or yuri sma fanyah…gwe rela yulti bersama…agr tange tw fanyah mash bnyak yg mencintai…..
    lanjut thor critanya…gwe tunggu unpdate barunya…semangattt…:-) 🙂 🙂 🙂

  18. jasi bener ya kalo lim yoona itu temen masa kecilnya fany? dia juga manajernya sica kan ya,,, fany rela berkorban demi kebahagian irene yang menginginkan sica sebagai ibunya >< julian itu yul ya? tuan kwon menyuruh siwon buat misahain taesic demi putranya kah?

  19. Aish jadi bingung, pairing mana yang akan bersatu? Tapi aku harap taeny, tak ada yg lain selain taeny, tapi jika tae masih menyakiti tiffany, yaudah sama yoong aja, dia g kalah cutenya ko hoho

  20. oke gue paham… julian itu yoong… dan dia calon yg disiapkan buat jessica.. sica nya suka taeng. taeng suka mpok tippachan… dan tiphachan sahabat yoong d masa kecil… complete… cinta yg segi ruet ini mah.. bkn segi 3 lagi 😀 haaahaha

  21. Sumpah demi apa pun.. aer mata sy ngalir gitu aja😢😢😢😢.. bukan bukan pany aja yg mrsakan sakitnya 😢😢.. lihat tae yg menginginkan mu menjadi pendampingnya.. bukan hanya sekedar sahabat, partnership atau pun saudara.. yg hanya memanfaatkan tubuhmu, pany!!
    gak rela tae jdi taengsi dan pany jdi yoontif.. ubah ceritanya thor😢😢😢😢..
    Gomawoyo thor^^

  22. Fany bgt bsrny hatimu bs ikhlaskn Tae, tp emg sprtny hub Taeny penuh beban. tp disaat sprt itu fany ktm lg dgn Yoona tmn ms kclny yg jstru sll n tetap memberiny rasa nyaman n aman serta tiada beban dlm hdpny. smg ini jln yg bgs utk fany kedpnny. tp knp tuh siwon hrs bntu jongsuk ptskn Taengsic, ap ad hubny dgn Yulian??

  23. Ini gua bingung, disaat taengsic udah dekat sekarang mau dipisahin. Gua makin penasaran sama si julian, julian ini. Gua juga penasaran sama sica, disaat dia deket ama yoong dia selalu terpesona, disaat deket sama taeng juga sama, Jadi intinya yoong ama taeng itu orang yg bisa membuat cewek terpesona yeh

  24. Julian itu bkan yoong ya pdahal jka Julian itu adalah yoong apa Siwon akan menerima permintaan Jong-suk semakin pnasaran dgn jln crita ya…….👌👍

  25. Ping balik: Lagi baik :) | Be Different

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s