Above The Paper Chapter 4

Chapter Four

IMG-20150217-WA0004

 

Yuri POV

“Yul..” seseorang seperti memanggilku dengan suara lembutnya. Suara itu mengingatkanku pada tokoh putri salju yang selalu kutonton dulu dengannya. Ya dia.. wanita yang selalu ada disampingku sejak kami masih seumur jagung. Dia… si gadis sailor moon yang selalu mengalihkan duniaku dengan senyum bulan sabitnya. Tingkahnya yang enerjik selalu membangun moodku. Rambut hitam berkilaunya selalu menyapuku saat kami bermain kejar-kejaran dulu.. ketika kami masih bocah polos.. tak perduli dengan dunia yang selalu menghadang kami.

Kulit putih halus meronanya selalu membuatku ingin mengelus atau memegangnya. Suara lembut.. serak dan heumh.. seksi itu selalu membangunkan tidurku yang sebenarnya tak boleh terganggu. Tapi untuknya.. semua boleh. Untuknya.. akan kuberikan apapun bahkan dunia. Tapi ada satu hal yang tak bisa kuberikan.. lagi padanya. Dia… orang yang kurindukan.. tapi tak boleh kurindukan. Dia.. orang yang ingin kucinta.. tapi tak seharusnya kucinta. Dia.. yang akan selalu mengalihkan duniaku.. tapi akan selalu menjadi orang lain bagiku. Dia.. adalah sesuatu yang hanya bisa kulihat tapi tak bisa kusentuh dan… kumiliki tentunya. Dia.. adalah kesalahan yang takkan pernah kusesali. Karena dia.. adalah kesalahan terbaikku.

Flashback

“Oppa… bangunlah.. sudah siang tahu!” tawanya yang ringan dan renyah itu membuatku menyunggingkan senyumku. Dengan segera kupeluk tubuh mungil itu, kugulingkan tubuhku dengannya sehingga kini posisi kami terbalik, aku diatas dan dia dibawah. Senyum sailor moon-nya itu kembali membutakan pandanganku. Kututup mataku sejenak, kucoba tenangkan detak jantungku yang selalu tak karuan bila didekatnya. Heumh.. apa yang kau perbuat padaku eoh?

“Apa kau takut menatap keindahan di hadapanmu ini?” nadanya yang disombongkan itu membuat tawaku hadir. Beberapa detik kemudian mataku terbuka lebar menerima kecupan manis itu. Kecupan yang cukup membuatku terbangun 100% dari kantukku. Tatapan itu.. penuh dengan kehangatan. Kubalas tatapan itu dengan intensitas yang sama. Untuk beberapa detik kami hanya terdiam menatap satu sama lain tanpa butuh kata apapun untuk terucap. Pelan kuelus pipi kanannya. Kusingkapkan beberapa helai rambut yang menghalangi keindahan yang takkan bosan kulihat sampai kapanpun.

“Mengapa kau terlahir begitu sempurna?” dia hanya diam menatapku. Kubingkai wajah itu lalu kudekatkan dengan milikku. Hati ini rasanya ingin meledak saat manis bibirnya menyapu milikku. Kutarik tubuhnya semakin menyatu denganku, kehangatan dan electron itu kini mengalir menjalar di tubuh kami begitu cepat. Desahannya membuatku tersadar dan melepaskan ciuman kami.

“You should get ready.. lover boy…” ucapnya sambil menarik diriku memasuki kamar mandi. Tubuhku yang malas ini tentu saja akan selalu meleleh dalam sentuhannya. Ucapannya seperti sihir yang akan membuat aku selalu menuruti dirinya.

“Heumh.. janggut dan kumismu sudah cukup tebal.. kita harus mencukurnya!” hanya kuanggukan kepalaku. Tangannya yang lembut itu mulai mengulaskan krim dingin yang membuat wajahku seperti beku. Dengan cekatan dia cukur gundukan rambut-rambut itu dari wajahku. Air dingin perlahan membasuh wajahku. Dia hanya tertawa kecil melihatku menggigil kedinginan, mungkin aku terlihat seperti Prince, anjingnya yang kubelikan beberapa bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya.

“Nah sekarang kau sudah tampan.. ayo kita sikat gigimu.. kau bau tadi.. kekekeke..” bukan sikat gigi yang kuambil darinya tapi malah wajahnya yang segera kucium dengan penuh nafsu.

“Aku bau heuh? Lalu mengapa kau menikmati ciuman ini Nona?” dia hanya tersenyum malu lalu mulai mengambilkan pasta dan sikat gigiku. Dengan telaten dia bersihkan semua bagian gigi dan mulutku hingga benar-benar bersih.

“Sekarang.. sisanya kau bereskan sendiri ya.. aku akan menyiapkan sarapanmu dulu..” aku masih belum melepaskan genggaman tanganku ini di pinggangnya.

“Apa kau tak bisa memandikanku juga?” ucapku dengan nada polosku.

“Nikahi aku dulu..” ucapnya dengan cepat mengecup bibirku lalu mendorong tubuhku menabrak tembok. Dia tertawa kecil sebelum akhirnya berlari keluar kamar mandi membuatku tersenyum bodoh dengan tingkahnya yang tadi berhasil menipuku. Tunggulah.. dalam 7 tahun lagi aku akan menjadi sukses.. bahkan lebih sukses dari orangtuaku sehingga aku bisa melamarmu dengan kondisi yang siap.. baik secara lahir, batin, mental dan kekayaan. Aku ingin menjadi priamu.. lelakimu.. yang bisa selalu kau andalkan.

End OF Flashback

“Yul.. thanks God your’re awake now…” mataku masih berat untuk dibuka rasanya. Kurasakan sesuatu yang halus menyentuh pipiku. Perlahan kubuka kedua mata ini. Pencahayaan di kamar menyakiti pandanganku tapi tidak dengannya. Kukedip-kedipkan lagi mataku perlahan mencoba menyesuaikan semuanya. Rasa pusing itu masih menghujam kepalaku. Erangan itu tak terasa keluar dari mulutku.

“Masih sangat sakit ya? Tunggu sebentar akan kupanggilkan dokter Kang..” Jessica segera berjalan menuju meja kecil yang tak jauh dari posisiku berbaring sekarang. Dia menekan beberapa tombol lalu berbicara sesuatu. Aku hanya menatap kosong ke langit-langit masih mencoba menghilangkan rasa sakit ini. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kepalaku pusing mengingatnya. Yang aku tahu malam itu aku dan Jessica sedang dalam proses mengkonsumsi pernikahan kami. Kenapa aku bisa berakhir di ranjang rumah sakit seperti ini? Heumh aku harus menanyakan hal ini pada Jessica nanti.

“Yul.. kau mau minum dulu?” wajahnya yang khawatir melihatku hanya terdiam menatapnya.

“Kau siapa?” kata-kata itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulutku. Sudah kubilang kan bahwa tadi wajah cantiknya itu terlihat begitu khawatir melihatku. Kutambahkan.. saat ini wajahnya begitu horror melihatku. Hahaha dia melihatku seperti melihat hantu. Tapi tenang istriku.. kau masih tetap terlihat cantik kok dengan ekspresi wajahmu sekarang ini hahaha.

“Kau melupakan cucuku heuh bajingan!” suara pintu terbuka lebar mengejutkanku yang refleks bergerak ke atas membuat kepalaku membentur ujung kasur. Aku meringis kesakitan menerima luka baru di kepalaku. Jessica segera mendekatiku, memeriksa bagian kepalaku yang terjedot tadi.

“Yul omo!! Mana yang sakit?” shit mengapa kau malah menekan bagian yang sekarang paling sakit di kepalaku sayang?

“Sooyeonie.. singkirkan tanganmu dari pria itu!” right!.. kakek sialan itu ternyata penyebabnya. Mendengar suaranya saja sudah menaikkan bulu kudukku, membuatku mengingat lagi semua kejadian kemarin. Kulirik kakek tua itu yang berjalan semakin dekat ke tempatku. Tunggu.. mengapa dia tak membawa tongkat sialannya itu?

“Se.. sel.. selamat pagi Grandpa..” ucapku sambil membungkuk lemah memberikan hormatku padanya.

“Kau membohongiku heoh?” aku hanya tersenyum kecil menunjukan maafku saat istriku itu berbisik pelan sambil mengelus bagian kepalaku yang sangat sakit tadi.

“Oppa!!! OMG!!!! Syukurlah kau sudah sadar!!!” Jessica sedikit tersungkur saat adiknya yang tak kalah cantik dengannya itu datang memelukku begitu erat. Wajahku sedikit hampir membiru menerima pelukan yang menyesakkan itu. Untung istriku yang pengertian itu segera melepaskan adiknya yang begitu menyukaiku itu dari pelukannya. Ahh.. aku harus menyediakan banyak cadangan nyawa jika ingin hidup bersama keluarga Jung sepertinya.

“Oppa kau baik-baik saja kan?? Mana yang sakit?? Omo Oppa!! Apa kau amnesia!!! OMG Unnie!! Jika benar Oppa amnesia kau harus segera menceraikannya dan membiarkannya untuk menikah denganku!!” Jessica segera mendorong adiknya yang kembali berusaha memelukku. Krystal… ya itu namanya, gadis itu tadi mencoba memelukku tapi malah berakhir memeluk kakeknya sepertinya hahaha apa aku setampan itu ya sehingga kalian para gadis tidak bisa menahan dirinya bila melihatku? Heol Kwon Yuri.. Daebak Sarang!! Hahahaha

“Yuri-ah.. kau sudah baikan nak?” Yunho, ayah mertuaku berjalan mendekatiku masih dengan ibu mertuaku yang selalu berada dalam dekapannya. Aish… kalian sudah tahu kan betapa cantiknya ibu mertuaku? Hahaha Gwenchana… aku juga mendapatkan putrinya kok yang tak kalah cantiknya hahaha.

“Iya Appa… aku sudah baikan..” tunggu! Apa aku baru saja memanggilnya Appa?

“Syukurlah.. Jessi kami begitu khawatir selama kau tidak sadarkan kemarin. Sudah 4 hari ini dia hanya diam di ruangan ini merawat dan menunggumu sadar Nak.. lihatlah sekarang wajahnya begitu segar saat mengetahui bahwa suaminya sudah bangun lagi.” Ibu mertuaku memeluk istriku dari samping yang tersenyum malu karena kata-kata ibunya tadi.

“Kau meninggalkan pekerjaanmu demi aku?” dia hanya tersenyum menganggukan kepalanya menggenggam tanganku yang seperti tersetrum listrik menerima sentuhannya. Tunggu!! Apa kau diam-diam menyimpan alat kejut listrik di tubuhmu Jessica?!! Aku harus meminta Taeyeon untuk memeriksanya nanti.

“Tentu tapi kan dia istrimu. Kalau aku menjadi istrimu.. akan kutinggalkan semuanya demimu Oppa!” aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Apa kau masih bisa berkata seperti itu bila kau bertemu dengan Yoona, Krystal Jung?

“Oh ya.. Appa ingin mengatakan sesuatu padamu…” Yunho membantu ayahnya itu berjalan mendekatiku lagi.. lebih dekat. Bayangan peristiwa kemarin membuatku was-was berada di dekatnya. Rasanya hidupku berada di ujung tanduk bila di dekatnya. Aish tenang Kwon Yuri.. dia takkan bisa menyakitimu tanpa tongkat saktinya itu.

“Aku minta maaf..” ucapnya cepat sambil menghentakan tangannya ke ranjangku.

“Gwencha..” suaraku terputus saat ranjang itu mendorong tubuhku kedepan tiba-tiba. Pinggangku rasanya akan patah akibat dorongan itu.

“Omo.. kau baik-baik saja?” Kakek sialan itu.. beraninya dia membuatku kesakitan lagi. Kulirik matanya tajam. Dia hanya tersenyum polos melepaskan tangannya dari tombol di sisi ranjang yang ia sentuh tadi. Sialan.. tadi dia sepertinya sengaja menekan tombol itu agar bagian atas ranjangku terlipat maju kedepan. Lihat saja nanti.. akan kukirim video malam pertamaku dengan cucu kesayangmu itu biar kau kepanasan jenggot.

“Apa yang terjadi disini?” seseorang dengan jas putihnya berjalan mendekatiku.

“Kwanghee.. bisakah kau memeriksa suamiku? Sepertinya dia kesakitan setelah Grandpa tidak sengaja menekan tombol ini.” Istriku ini memelukku dari samping khawatir. Dokter yang masih terlihat muda itu segera memeriksa kondisiku. Aku berteriak kesakitan saat tangannya itu menyentuh pinggangku. Ish dasar dokter genit!! Main pegang-pegang pinggangku saja!

“Siapa namamu?” aku terdiam bukan karena tidak ingat namaku. Aku hanya terdiam aneh melihat dokter tampan di hadapanku ini dengan pertanyaan retorisnya.

“Berapa usiamu?” aku tak bisa membuka mulutku saat merasakan tangannya itu memeriksa denyut nadiku. Oh tuhan!! Dia bukan memeriksaku tapi mengelus-elusnya dengan mata nafsu dan genitnya. Melihat diriku yang tak bereaksi apapun dia malah menelusupkan tangannya itu ke pahaku dan pinggangku lagi membuatku terkejut dan refleks mendorongnya.

“Yah!! Namaku Kwon Yuri, usiaku 28 tahun.. dan aku suami Jessica Jung!”

=========Above The Paper==========

“Hyunnie.. kau kenapa sayang?” Seohyun segera melihat pria yang baru saja memeluk dirinya dari samping.

“Oppa sudah menikah ternyata dan dia belum memberitahu kita..” ucapnya segera mengetik sesuatu di Ipad kesayanganya itu. Yoona hanya tertawa menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya itu.

“Yoong.. kau bisa menemaniku?”

“Kemana?”

“Ke Seoul.. kita akan mengunjungi Oppa dan dia harus menjelaskan semuanya padaku..”

“Tentu… apa kau sudah memesan tiket pesawat kita sayang?” Seohyun menggelengkan kepalanya menjawab kekasihnya itu.

“Oke.. aku akan meminta Josh menyiapkan jet pribadiku untuk penerbangan kita..” ucap Yoona ringan lalu menghubungi asisten pribadi ayahnya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya juga.

“Kalau begitu kita bisa terbang malam ini?” Seohyun bertanya penuh harap pada kekasihnya yang super kaya itu. Bagaimana tidak? Demi cintanya pada Seohyun, dia rela ikut pindah kuliah ke Amerika menemani sang kekasih yang mendapatkan beasiswa kedokteran di salah satu universitas bergengsi di negara adidaya itu. Mereka masih berada di tahun ketiga mereka. Dalam setahun mungkin keduanya hanya pulang ke Korea beberapa kali karena kesibukan mereka yang menggila setiap tahunnya sesuai dengan tingkatan mereka yang semakin tinggi.

“Kau sudah memberitahu Fany noona?” Seohyun berhenti memainkan Ipadnya sementara kekasihnya itu masih menatapnya penasaran.

“Menurutmu aku harus memberitahunya? Kau tahu Yoong dia… aku tak ingin mengusik kebahagian yang dia miliki sekarang dengan Taeyeon Oppa..” Yoona menggeleng. Ia mengambil tablet yang masih digenggam kekasihnya itu, mengetik sesuatu.

“Telponlah.. dia harus tahu.. bagaimanapun Noona.. dia pernah menjadi bagian hidup Yuri Hyung..” Yoona yang sudah mengenal Yuri dan Tiffany sejak kecil mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Noona dan Hyung-nya itu. Pernah satu kali dia tidak sengaja melihat hyung favoritnya itu mencium Noona yang sebenarnya diam-diam ia sukai.

Flashback

“Noona kau pasti akan menyukai ini!” Yoona yang waktu itu masih berusia belasan tahun berjalan begitu semangat membawa sebuket bunga rose pink yang baru saja ia beli hari ini. Ia menemukan bunga cute itu saat mengantar neneknya jalan-jalan ke kebun keluarga Seo yang ia kunjungi hari ini.

“Ahh Oppa..” Langkah Yoona terhenti saat ia mendengar desahan seseorang. Dari suaranya ia sepertinya tahu siapa orang itu. Dengan hati-hati ia dekati sumber suara itu. Perasaannya sudah tidak enak saat kini ia berdiri di pintu kamar Yuri yang sedikit terbuka. Ia memberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi di kamar itu lewat lubang pintu kamar yang terbuka tadi.

“Noona..” genggamannya tak tahu kenapa semakin kencang pada buket bunga yang ia pegang. Dadanya sepertinya sesak melihat apa yang ada di hadapannya saat ini. Saat ini.. di hadapannya.. hyung yang selalu ia kagumi selama ini sedang mencumbu Noona yang sudah diam-diam ia cintai.

End OF Flashback

“Telponlah.. aku tahu kau bisa..” Yoona mengelus tangan kekasihnya itu, menatap gadis yang berhasil menghapus Noona-nya itu dari hatinya perlahan dengan kepercayaan. Baginya wanita itu bukan hanya satu Noona-nya saja. Sejak tahu bahwa Noona dan Hyungnya itu memiliki sesuatu.. ia mulai belajar moving on. Untung saja Seohyun saat itu datang dengan kepolosannya yang berhasil membuat Yoona begitu jatuh hati padanya.

“Hallo Unnie.. ini aku Seohyun..” Seohyun masih terlihat gugup berbicara pada Unnie-nya yang sudah lama tak ia hubungi. Sejak Tiffany pindah ke Paris.. kontak mereka tiba-tiba terputus begitu saja. Tiffany.. seperti ingin menjauhkan dirinya dari apapun yang bisa mengingatkannya pada Oppanya itu.

“Hai Hyunie.. sudah lama kita tak bertemu.. bagaimana kuliahmu?” suara Unnie-nya itu masih terdengar sama. Hanya saja sekarang terdengar lebih anggun dan berwibawa. Seperti yang diharapkan dari seorang Hwang yang berkelas, anggun dan elegan.

“Baik Unnie.. bagaimana denganmu?”

“Aku juga baik.. kapan kau akan pulang ke Seoul? Mungkin kita bisa bertemu karena aku sudah kembali lagi ke Seoul.”

“Chinca?? Wah.. aku juga akan ke Seoul Unnie.. oh ya Unnie.. apa kau sudah tahu bahwa Yuri Oppa..”

“Menikah?”

“Kau tahu?”

“Ya.. Taeyeon Oppa yang memberitahuku..” tak tahu kenapa Seohyun merasakan ada sesuatu yang berat dengan nada bicara Unnie-nya itu.

“Unnie.. gwenchanayo?”

“I’m fine Seohyun-ah..” nada bicara Unnie-nya itu terdengar normal lagi.

“Unnie aku dan Yoong.. kami akan menghadiri resepsi Yuri Oppa. Apa kau akan hadir?”

“Tentu.. aku sangat merindukannya Hyunnie..”

=========Above The Paper==========

Yuri POV

“Kim.. Tae.. Yeon.. kau harus membantuku!” aku berbisik cukup cepat pada sahabatku yang masih tersenyum membalas Line-nya pada kekasihnya yang bisa membuatnya tersenyum bodoh seperti itu. Haha aku ingin tahu apa lawan-lawanmu masih menganggapmu hebat jika mereka membawa Tiffany saat bertarung di persidangan dengan mereka.

“Kwon… Yuw..ree.. kau mengangguku!” si pendek beruntung itu melepaskan genggamanku di bahunya. Dia segera menyimpan smartphone unyu-unyu-nya. Hello.. mana ada Top Corporate Lawyer yang memakai leather case ponselnya dengan warna pink lembut seperti itu. Heol ini pasti ulah si Pink Monster itu. Heumh.. Tiffany Hwang.. No Comment!

“Taeng.. cepat bantu aku!! Akan kunaikan bonusmu tahun ini!” ucapku cepat membuatnya berpikir tiba-tiba.

“Jessica!” si pendek menyebalkan itu malah berteriak memanggil istriku yang baru saja keluar dari lobi rumah sakit lengkap dengan trench coat pink dan tas gandeng Guci miliknya.

“Apa yang kau lakukan???” geramku pada si pendek di sampingku ini sementara wajahku tersenyum kecil menyambut kehadiran istriku.

“Membantumu.. dan kau harus menepati janjimu tadi!” Taeyeon mengedipkan salah satu matanya lalu kembali melihat istriku.

“Oh kalian sudah disini? Yul.. ayo kita naik ke mobilku..” Aku menatap tajam sahabatku yang hanya tersenyum padaku.

“Jessica.. aku dan suamimu ada urusan sebentar.. kami harus bertemu dengan klien yang sudah 3 hari ini menunggu suamimu sadar.” Jessica merengutkan kedua alisnya mendengar penjelasan bodoh sahabatku ini.

“Kau ingin mengajak suamiku rapat dengan kondisinya yang seperti ini?” Jessica menunjuk perban di kepalaku yang membuatku ingin sekali membuat Taeyeon memakainya sekarang juga.

“Mereka adalah investor dari Rusia Jessica.. dan KJG sudah lama mengincar mereka.” Dengan aura otoritasnya sebagai penasihat hukum KJG si pendek itu berbicara. Istriku itu terdiam mendengar beberapa hal yang Taeyeon jelaskan padanya. Hahaa God Job Taeyeon!

“Baiklah.. tapi nanti kau harus mengantarkannya sampai ke apartmentnya dengan selamat..” Taeyeon dengan cepat mengangguk sementara aku tersenyum lebar menerima kecupan manis istriku itu di kedua pipiku. Dia mengelus perbanku.. wajahku lalu mulai berjalan memasuki mobil Benz putihnya yang seksi itu. Okee.. jika kita sudah resmi menikah nanti.. akan kubelikan yang lebih dari itu.

“Kau berhutang besar padaku Kwon Yuri..” pandangan Taeyeon masih lurus menatap jalan sementara aku hanya mengistirahatkan kepala dan bahuku di kursi mobilku yang sungguh nyaman ini. Ah.. mungkin inilah surga.

“Yayaya… terimakasih Hyung.. kau sudah menyelamatkanku!” ucapku masih menutup kedua mataku. Kalian tahu.. tadi Jessica memaksaku untuk pulang ke rumahnya. Ia memintaku untuk tinggal dengan keluarganya sampai kondisiku benar-benar pulih. Tentu saja aku tidak mau. Look! Bukan dengan Jessicanya yang aku tak mau.. tapi kakeknya yang gila itu yang membuatku tak mau kembali ke rumahnya untuk sementara waktu. Ihhh apalagi kamarnya… rasanya kepalaku masih sakit membayangkan betapa mengerikannya peristiwa itu.

“Tapi Yul.. aku tidak bohong saat aku berbicara pada Jessica tadi..”

“Apa maksudmu?”

“Smith Lumbridge ingin bertemu denganmu..” aku sekejap terbangun mendengar nama itu. Smith Lumbridge… apa Taeyeon sedang bercanda? Pria Kanada super kaya yang memiliki berbagai perusahaan yang bergerak di berbagai sektor pembangunan beberapa negara di asia itu ingin menemuiku?

“Kau serius?” Taeyeon tersenyum lebar menganggukan kepalanya. Yes!! Akhinya!! Setelah menunggu 2 tahun lebih akhirnya di bilioner aneh itu memenuhi undanganku juga.

“Kapan? Sekarang?” Taeyeon memberiku tatapan ‘Apa kau serius?!!’-nya melirik perban di kepalaku dengan tatapan simpatinya.

“3 hari lagi.. dan kau harus memotong kembali rambutmu sepertinya..”

“oke rambutku memang sudah cukup gondrong kemarin. Tapi sepertinya aku masih tampan dengan gayaku yang seper..” mataku terbelalak tajam saat melihat potongan aneh di kepalaku sementara Taeyeon hanya tersenyum dengan menyesal memperlihatkan bahwa sebagian dari rambutku yang indah berkilau ini sudah dipotong karena dokter perlu untuk menjahit luka di kepalaku.

“Jung Yongeun..” geramku dalam hati mengingat lagi kakek sialan yang sepertinya masih akan menggangguku.

=========Above The Paper==========

Yuri POV

Ini adalah hari kedua aku mulai masuk kantor. Aku masih sibuk membaca file yang sedang dipresentasikan oleh Hyunsik, manager produksi salah satu anak perusahaan KJG yang bergerak di sector nutrisi dan pangan saat seorang wanita masih dengan dandanannya yang terlihat berantakan memasuki ruangan rapat.

“Maaf saya terlambat..” Aku menganggukan kepalaku lalu mulai memakaia kacamata bacaku. Di ID cardnya tertulis Kang Seo Jin. Dari department keuangan sepertinya. Heumh.. dia harus kuberi pelajaran. Rapat sudah berlangsung 30 menit dan dia baru datang? Apalagi ini rapat denganku.. apa dia cari mati? Kau memang cantik nona.. tapi aku takkan pilih kasih karena melihat kecantikanmu.

“Kang Seo Jin..” gadis itu baru saja akan duduk saat kupanggil namanya dengan mikrophoneku.

“Iya tuan Kwon..” wajahnya yang cantik itu seketika pucat saat aku memintanya berjalan ke mejaku. Kuberikan tumpukan kertas paling atas dari mapku. Aku ingin dia membacakan agenda rapat hari ini.

“Bacakan ini dengan keras di hadapan semuanya..” dengan ragu gadis itu berjalan ke depan. Ia mengambil microphonenya lalu terdiam membaca apa yang ada di kertas itu.

“Kenapa kau diam? ayo bacakan dengan keras dan lantang!” nadaku mulai meninggi. Kuperbaiki kacamataku yang sedikit berantakan karena teriakanku tadi. Beraninya kau mempermainkan Kwon Yuri.

“Ba.. baa.. baiklah..” dengan wajahnya yang gugup gadis itu mulai memposisikan microphone-nya. Saat dia mulai membacakan isi kertas itu telponku bordering. Appa… aduh.. ada apa sih pria itu menelponku saat rapat seperti ini. Akhirnya kupustuskan untuk keluar ruangan rapat sebentar untuk berbicara dengan beliau. Kalian tahu mengapa Appa menelponku? Dia hanya menanyakan apa aku benar sudah menikah dengan Jessica. Aku tak habis pikir… ini sudah hampir seminggu lebih sejak aku menikah dengan Jessica tapi ayahku sendiri baru menanyakannya sekarang. Segera kumasuki ruangan rapat karena aku tidak mau lama-lama ketinggalan aksi si gadis yang terlambat tadi.

“Kwon Yuri… The things I like about you… 1. Aku suka saat kau terdiam bodoh melihatku..” tunggu apa yang dikatakan gadis itu? Langkahku terhenti saat si gadis itu berbicara seperti itu.

“2. Aku suka saat kau serius membaca file-file kerjamu.. dengan kacamata bacamu yang seksi itu..”

“Apa-apaan ini?” aku segera membuka kacamata kerjaku. Semua peserta rapat menatapku kini dengan tatapan anehnya. Aku segera meminta Taeyeon untuk menghentikan kegilaan gadis itu.

“3. Aku suka betapa gentlenya dirimu padaku..”

“4.Aku suka caramu diam-diam mengagumiku..”

“Taeng.. apa yang kau lakukan?!” si midget itu masih mencoba memberikan tanda pada gadis yang sekarang sukses membuatku malu seperti kepiting rebus.

“5. Aku suka caramu selalu mencoba terlihat keren dan cool di hadapanku..”

“6. Aku suka caramu..” Taeyeon berlari menghampiri gadis yang kini malah tersenyum aneh padaku. Taeyeon segera menghampiriku setelah berhasil menenangkan peserta rapat yang menatapku begitu aneh.. bahkan pria-pria itu menatapku seperti aku adalah idola mereka. Heol daebak sarang! Tapi bagaimana kertas itu bisa ada di mapku ya? Oh ya.. Woohyun.. bocah itu yang mengambilkan tasku kan kemarin saat aku akan pulang ke apartmenku. Bocah itu.. pasti bocah itu dalang dibalik semua ini. Kalian tahu.. saat aku berjalan menuju kantorku tadi orang-orang ramai membicarakan tulisan istriku tadi. Mereka menyebut appa yang Jessica tulis tadi sebagai List of you.

Flashback

“Kau dengar tadi? Itu sangat romantis..” pegawaiku yang sepertinya ikut rapat tadi mulai berbincang dengan rekannya. Aku mengamati mereka dari luar kubikel sehingga mereka tak mengetahui keberadaanku.

“Iya.. wah CEO kita memang beruntung sekali.. sayang tadi belum semuanya disebutkan..” balas lawan bicaranya.

“Kapan ya pacarku bisa semanis itu? Bagaimana bisa ya Jessica Jung jatuh cinta pada bos kita yang seperti itu?” tunggu.. apa maksud mereka?

“Hahaha.. kau tak usah menyebutkannya lagi, siapa tahu bos kita yang killer itu ada disini. Untuk masalah yang tadi..Yaaa itulah cinta.. tak bisa memilih siapa yang akan dihinggapinya.”

End OF Flashback

“Syukurlah.. semuanya selesai..” Taeyeon mengelap jidatnya yang lebar itu dengan sapu tangan pink-nya. Haruskah kuingatkan padamu bagaimana pengaruh Tiffany pada sahabatku ini?

“Kau tahu.. aku tak tahu Jessica bisa menulis ini..” aku segera mengambil kertas yang ada di genggaman Taeyeon. Kubaca list itu satu persatu. Perlahan senyumku muncul membaca tulisan tangan istriku yang terlihat berantakan. Wajar saja.. kami menulis ini dalam kondisi setengah mabuk. Tapi pandangan mataku berhenti di list terakhir kertas itu.

I like the way how you make me fallin love with you…

“Eheum.. hahaha sepertinya ada yang sedang terpesona melihat tulisan istrinya!” Aku tak memperdulikan ucapan sahabatku itu. Segera kuambil jas dan jaketku. Kumasukan list itu ke saku jaketku. Aku harus menanyakan hal ini pada Jessica.

“Hei mau kemana kau? Tahan nafsumu Mr. Kwon.. Smith ingin bertemu denganmu siang ini..” aku menghentikan langkahku saat si midget slash orang kepercayaanku itu menyebutkan nama yang segera mengubah niatku.

“Apa kau bilang? Bagaimana bisa?”

“Aku tak tahu..”

“Baiklah.. kita pergi sekarang..”

Jessica.. kau harus menungguku! Hahaha akan kutanyakan hal ini padamu. Apakah kau benar-benar sudah mulai mencintaiku? Heol!! Ini berita yang bagus.. tentu saja.. Kwon Yuri.. siapa yang takkan bisa menahan pesonaku huh? Hahaha. Dengan semangat kulangkahkan kakiku ini keluar gedung kantorku yang megah. Aku tak sabar menyelesaikan urusanku dengan Mr. Smith lalu bertemu dengan istriku yang selalu membuatku penasaran dan gemas padanya. Taeyeon memintaku pergi lebih dulu karena dia meninggalkan sesuatu di ruangannya. Aku menganggukan kepalaku lalu melanjutkan perjalananku. Di luar gedung bisa kulihat supir pribadiku sudah menunggu. Langkahku terhenti saat melihat seorang bocah gendut masih dengan seragam sekolahnya memberikan sebuah kotak kecil pada gadis cantik di hadapannya.

“Sayang.. ini untukmu..” gadis itu terlihat senang sekali menerima kejutan yang diberikan oleh si bocah gendut yang terlihat manis juga tapi lebih manis aku tentunya. Saat kotak itu dibuka, si bocah gendut itu mengambil kertas yang ada di dalamnya.

“Things I like about you…”

“1. Aku suka saat kau tertawa riang dalam candaku..”

“2. Aku suka caramu membuatku selalu terpesona padamu..” dan si bocah itu membacakan list itu hingga selesai. Tunggu.. isi dari list itu.. hampir sama dengan list yang istriku tulis untukku. Apa mungkin….

“Sangat manis bukan?” suara seseorang memecahkan lamunanku.

“Kau.. tahu tentang hal ini?” tanyaku ragu pada seorang gadis kecil yang kukira masih berumur 10 tahun.

“Bagaimana kau bisa tahu?” gadis itu memberikan tatapan anehnya pada diriku. Right… aku masih belum melepaskan kacamata kerja dan topi fedora merah maroon-ku yang serasi dengan tux yang kukenakan hari ini. Sebagai CEO perusahaan sebesar KJG.. tentu saja aku harus menjaga penampilanku.

“Ahjushi.. kau ini hidup di abad berapa sih? List itu sedang jadi trending topic worldwide di twitter..” Twitter?? Trending topic? OMG!!!

“Bagaimana..”

“Kau juga tak tahu Jessica Jung? Omo.. baiklah kuberitahu yaaa.. pagi ini salah satu pegawai KJG memposting sesuatu yang ditulis oleh Jessica Unnie untuk suaminya. Manis sekali kan Unnie-ku yang satu itu? Heumh aku sih tak tahu yang mana suami Jessica Unnie itu. Katanya sih dia CEO KJG itu yang katanya sombong.. sok keren.. galak dan tak memiliki keperimanusiaan. Heumh Unnie-ku.. semoga kau baik-baik saja..” dan aku hanya diam mendengar apa yang selanjutnya gadis kecil polos itu ucapkan padaku.

=========Above The Paper==========

“Selamat siang Miss Jung..” seorang pria masih dengan dandanan rapinya memasuki ruangan wakil CEO Jung Enterprise yang masih serius memeriksa dan menulis sesuatu.

“Mrs. Kwon.. dan simpan saja pesananku di meja dekat sofa…” Jessica berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas- kertas itu. Si pria yang ia sebut tadi hanya terdiam.. tertawa dalam hatinya.

‘Kau anggap aku office boy-mu huh? Hahaha’ ucap si pria dalam hatinya.

“Baik.. Mrs Kwon.. tapi ada seseorang yang ingin menemuimu..” pria itu tertawa karena Jessica masih belum mengalihkan perhatiannya dari file-file yang ia kerjakan dari tadi.

“Siapa?” dia pekerja keras rupanya.. sampai dia masih belum melihat pria yang dari tadi berdiri di hadapannya.

“Mr. Kwon..” Yuri berusaha menahan tawanya dengan memasang wajah cool-nya melihat istrinya yang menatap dirinya tak percaya.

“Kwon.. Yuri..” Jessica segera berdiri dari kursinya, menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya. Yuri berjalan mendekati istrinya yang masih terkejut dengan kunjungannya yang mendadak sore ini. Kemarin siang Yuri baru saja bertemu dengan Mr Smith, klien potensial yang harus ia tangani sendiri tanpa bantuan Soonam yang juga sedang sibuk menyelesaikan detail perjanjiannya dengan perusahaan penyedia pangan di Indonesia.

“Apa aku mengganggumu?” Jessica menggelengkan kepalanya masih menatap suaminya itu penasaran. ia rapikan sedikit gundukan file-file yang cukup berserakan di mejanya, tak ingin suaminya itu melihat mejanya yang berantakan.

“Tidak.. hanya mengerjakan beberapa file untuk rapat komisaris besok.. kau ikut kan?” Jessica kini menghampiri suaminya yang masih berdiri di samping sofa putih besar favoritnya.

“Tentu.. oh ya.. kau sudah siap?” Yuri ikut duduk di samping Jessica yang mengajaknya untuk duduk tadi. Ia mulai mengambil beberapa majalah yang ada di meja yang serasi dengan sofa yang ia duduki saat ini.

“Siap? Untuk?”

“Oh,, apa Taeyeon lupa memberitahumu?” Jessica kini semakin tak mengerti dengan apa yang suaminya bicarakan sekarang. Ia menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya itu.

“Taeyeon sudah menyiapkan janji dengan Edward Kim untuk fitting resepsi kita.. dan mungkin janji dengan Hwang Jungmin,,, orang yang membuatkan cincin pernikahan kita.” Yuri mengucapkan itu bagaikan hal itu hanyalah sesuatu yang biasa baginya sedangkan Jessica terdiam semangat mendengarnya.

“Oh tunggu..” Jessica berjalan mengambil tabletnya. Ia membuka pesan LINE yang Taeyeon kirim padanya.

Taengoo Oppa

Sica-ah.. kau akan fitting dan memilih cincin pernikahanmu dengan Yul hari ini… Hwaiting ^_^

“OKe.. sepertinya aku lupa membuka LINE dari Taeyeon Oppa..” Jessica tersenyum membalas pesan sahabat suaminya itu. Jessica beranjak dari sofa.. berjalan menuju closet-nya, mengganti baju kerjanya yang menurutnya kurang cocok jika ia gunakan saat berjalan dengan Yul nanti. Ia ingin terlihat lebih cantik dan mempesona hingga Yuri tak malu memperkenalkan dirinya pada dunia sebagai seorang istri.

‘Oppa? Sejak kapan kau memanggilnya Oppa?’ tanya Yuri dalam hatinya. Ia tak tahu bahwa Taeyeon dan Jessica sudah sedekat itu hingga kini istrinya itu tidak memanggil Taeyeon dengan panggilan formal seperti biasanya. Berbagai pikiran kini bermain di otaknya. Hingga ia tak menyadari bahwa Jessica sudah memanggilnya dari tadi

“Yul.. yul.. Yuri-ah..” ini adalah kesekian kalinya Jessica memanggil Yuri yang baru sadar dan menanggapi panggilannya. Ia tersenyum melihat wajah Yuri yang bodoh sekaligus begitu tampan baginya. Suaminya itu.. memiliki aura otoritas tinggi dan kearoganan luar biasa tapi anehnya hal itu justru yang membuatnya semakin menarik di matanya. Kepribadian Yuri yang cukup ignorant and denial membuatnya semakin penasaran.

“Ya? Apa kau sudah siap?” Jessica menggelengkan kepalanya dan malah memberikan punggungnya yang sedikit terekspos karena ia tadi tidak bisa menaikan sleting gaun santainya itu. Mengerti dengan maksud istrinya itu, Yuri segera menaikan sleting gaun yang akhirnya menutupi keindahan yang diam-diam ia nikmati. Jessica tertawa dalam hatinya melihat refleksi Yuri yang begitu serius mengamati punggungnya tadi.

“Like what you see Mr. Kwon?” Jessica menggoda suaminya yang kini sudah berdiri menyambut kedatangannya. Ia kini sudah siap pergi dengan Yuri dalam pakaian terbaiknya saat ini.

“Well.. men can’t take their eyes from something beautifull.. so do i..” dengan wajahnya yang masih cool Yuri mengambil tangan Jessica lalu berjalan keluar menuju mobilnya. Di luar sudah ada Royal Royce hitam yang menyambut mereka. Yuri berjalan membukakan pintu untuk istrinya kemudian berlari masuk ke tempat duduknya. Sepanjang perjalanan.. mereka tak pernah sepi. Jessica selalu menceritakan sesuatu yang membuat Yuri tersenyum atau terkadang hanya menganggukan kepalanya. Dalam hati ia tersenyum senang karena Jessica perlahan mulai membuka diri padanya. Jessica banyak menceritakan hal-hal tentang dirinya. Mulai dari hal yang tak penting hingga hal yang mungkin sifatnya cukup confidental. Tak terasa 45 menit telah berlalu dan disinilah mereka, di pintu masuk butik mewah dan eksklusif milik Edward Kim.

“Kau siap?” Yuri kembali mengulurkan tangannya sementara Jessica dengan tawa kecilnya mengambil uluran tersebut.

“ini sudah kesekian kalinya kau mengatakan hal itu Mr. Kwon..” Mereka berjalan masuk ke lobi butik mewah itu. Disana terpampang berbagai karya Edward yang nama dan reputasinya memang sudah tak diragukan lagi.

“Sooyeon-ah!!” seorang pria masih dengan rompi anehnya berjalan memeluk Jessica yang tersenyum senang menerima pelukan itu.

“aku sudah menyiapkan semuanya khusus untukmu dear… aku tahu kau akan menyukai semua ini..” pria itu mulai membawa Jessica ke sebuah ruangan yang penuh dengan mannequin yang menggunakan gaun pengantin yang begitu indah hingga kalian takkan mau mengedipkan mata kalian untuk sedetikpun mengingat cantik dan anggunnya gaun-gaun itu.

“Tunggu sebentar.. akan kau bawa kemana istriku..” Yuri bersuara menghentikan langkah Jessica dan pria yang akan membawa istrinya itu pergi.

“Oh kau calonnya Jessica ya?” pria itu berkata dengan nada datarnya terlihat sedikit merendahkan Yuri dengan tatapan yang diberikannya itu.

“Bukan calon suami.. aku adalah suaminya.. Kwon Yuri..” menyadari bahwa tensi di ruangannya menjadi sedikit tegang membuat Jessica bernisiatif menanggulangi hal ini.

“Ed.. ini adalah Yuri.. suamiku.. hehe kami sudah menikah. Dan Yuri-ah… ini adalah sahabatku.. Edward Kim..” Edward mendelikan matanya menatap Yuri yang masih menatapnya tajam. Jessica tersenyum dalam hatinya melihat tingkah lucu suaminya itu.

“Seleramu not bad dear..” Edward mengulurkan tangannnya untuk dijabat Yuri.

“Euh.. Ed.. lebih baik kau tunjukan gaunku sekarang.. Yul.. kau tunggu disini yaa..”

“No Jess.. suamimu ikut dengan Lin saja.. dia juga harus mencoba desainmu dulu..”

Edward menarik Jessica berjalan menuju ruangan lain meninggalkan Yuri yang masih merasa sebal dengan perancang yang kegenitan itu. Tak lama setelah itu muncul seorang wanita cantik yang mengaku sebagai assistennya Edward yang dibicarakan tadi.

“Aku Lin Minah… senang bisa bertemu denganmu secara langsung Mr.Kwon.. selamat atas pernikahanmu..” dia sedikit membungkuk lalu menjabat tanganku.

“Terima kasih.. mohon bantuannya.. senang bertemu denganmu juga..” dengan itu Lin membawaku menuju ruang ganti yang terletak di lantai 2. Apa Jessica ada disini juga ya? Lin memberikan sebuah tuxedo classic hitam dengan sedikit hiasan cream peachnya di bagian kerah jasnya. Bagus juga.. apa si pria melambai ini yang membuatnya? Uppss sorry Edward.

“Kau terlihat semakin tampan Mr. Kwon..” Lin sudah selesai memasangkan dasi kupu-kupu yang unik ini. Yuri tersenyum puas menganggukan kepalanya sebagai tanda terima kasih. Ia kini sudah tampan dengan tuxedo hitam classic peach-nya. Lin kemudian membawa Yuri ke sebuah ruangan di lantai 2 butik yang katanya no 1 di Seoul. Ia tersenyum kecil menganggukan kepalanya saat Lin pamit, meminta Yuri menunggu karena sebentar lagi Jessica akan segera datang menemuinya dengan gaun pengantinnya. 5.. 10.. 15 menit telah berlalu tapi Jessica belum menunjukan batang hidungnya juga. Omo… apa si Edward itu menculiknya?

“Aish.. haruskah kutelpon?” dengan sedikit gusar dan kesal Yuri mengambil Iphone terbarunya. Ia segera menghubungi Jessica yang entah ada dimana sekarang. Yang ia tahu di ruangan inilah ia mungkin akan bertemu dengan istrinya itu.

“Sica.. kau ada dimana?” Yuri berucap membelakangi tirai yang ada di belakangnya. Ia menatap lurus mobil-mobil dan orang-orang yang berlalu lalang di depan butik.

“Aku ada di belakangmu..” Yuri membalikan direksi tubuhnya ke belakang. Dengan itu terbukalah tirai yang dari tadi tak Yuri sadari keberadaannya.

Yuri POV

Tubuhku diam. mataku tak berkedip. Lidahku kelu. Salivaku membeku. Jantungku terdiam. Nafasku terhenti. Apa aku sudah mati?Kalian tahu kenapa? Di hadapanku.. sekarang… berdiri seorang dewi yang tak layak kusebut sebagai manusia.

“Yul?” suara itu diam-diam membunuhku. Denyut nadiku berdetak lebih kencang saat kusadarkan diriku kembali menatapnya. Senyum dingin yang meleleh itu membuat desiran sesuatu yang terlarang dalam diriku muncul.

“Yuri.. Oppa..” suara itu semakin melembut diakhir. Kumohon jika ini mimpi.. jangan bangunkan aku tuhan.

“Seo..bang?” thump..thump..thump.. kalian bisa tebak itu suara apa? Dia memanggilku seobang? Senyum itu tak terbantahkan lagi hinggap di wajah tampanku. Untung tidak sebodoh biasanya meskipun harus kuakui aku memang tampan.. well itu semacam takdir… ya seperti itu.

“Kau.. istriku?” kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Jessica tertawa kecil mendengar itu sedangkan aku.. aku masih di tempat berdiri menatapnya tiada henti. Disini.. di hadapanku.. berdiri Jessica dengan white peach dress-nya yang simple klasik dan elegan. Aura femininnya sangat kuat. Rambutnya masih tergerai tapi sudah ditata sedikit menjadi lebih bergelombang. Tanpa sadar kakiku mulai melangkah sesuai keinginannya. Dalam hitungan detik kini aku sudah benar-benar berhadapan dengan Jessica. Kutatap tubuhnya dari atas kebawah layaknya aku sedang memindai dokumen-dokumen penting KJG… well dalam kasus ini Jessica adalah dokumen penting lainnya juga dalam hidup Kwon Yuri.

“Kau suka?” Jessica memutarkan tubuhnya perlahan memperlihatkan keseluruhan bentuk dressnya. Terlihat rasa penasaran dan gugup melihat aku yang masih terdiam memandangi wajahnya.. tubuhnya.. dressnya.. semuanya.

“Aku tidak menyukainya..” dengan wajahku yang masih terlihat cool dan datar aku berbicara. Jessica terlihat sedikit terkejut mendengar hal itu, melihat reaksiku yang tadi.. sepertinya ia berpikir bahwa aku menyukai dressnya ini.

“Benarkah?? Haruskah aku mengganti dress-nya?” aku masih terdiam melihat raut kekecewaan itu kini muncul di wajah cantiknya yang bersinar itu.. apalagi dengan outfitnya sekarang. Jessica menunduk melihat kembali gaunnya yang indah dan cantik itu.. percis seperti dirinya. Dalam hatiku aku tertawa melihat tingkahnya yang seperti ini. Sayang.. tak ada yang salah kok.. kau.. sempurna..

“Mungkin ada detail yang kau sukai.. ahh apa ini ya?? Mungkin aku harus memint..” kata-kata itu terhenti saat aku menaikan dagunya agar sejajar denganku. Aku menatapnya serius dengan karisma Kwon-ku yang terkenal begitu mempesona. Kutatap kedua mata coklat keemasan itu cukup dalam. Bisa kulihat kebingungan dalam mata itu melihat tingkahku yang seperti ini. Well ini pertama kalinya lagi aku menatap seorang wanita seperti ini selain.. kekasih sahabatku.

“I don’t like it.. I.. love it.. Mrs. Kwon..” senyum itu kini kuulaskan di wajah tampanku. Jessica terdiam mendengar ucapanku tadi.

“Benarkah?” Mata coklat keemasan itu bergelimang dalam semangat setelah mendengar ucapanku tadi. Aku akan menganggukan kepalaku saat kurasakan lembut dan manisnya bibir wanita di hadapanku ini. Awalnya bibir itu hanya menempel tapi detik berikutnya perlahan menyapu miliku yang masih terkejut menerima kejutan manis darinya itu. Hangat nafasnya.. aroma vanilla dan green tea menyusup dalam ciuman kami. Mata Jessica tertutup menerima balasan dariku. Kutarik tubuhnya lebih dekat dan menyatu denganku dengan kutarik pinggangnya dalam pelukanku sementara kedua tangannya secara otomatis mengalung di leherku. Perlahan tapi pasti bibir kami saling berpagutan. Istriku ini sedikit membuka mulutnya setelah kuelus punggungnya yang terbuka itu membuatku dengan mudah menelusupkan lidahku ke dalam mulutnya. Kutelusuri isi mulutnya itu satu persatu membuatnya sedikit melenguh dengan seranganku. Lidahnya memberikan perlawanan.. membuatku semakin semangat memenangkan pertarungan yang baru kami mulai. Untuk beberapa detik kedua lidah itu bertarung merebut dominasi.. membuatku hampir kehabisa nafas tapi tentu saja aku menikmatinya.

“Yul..arhh..” suara itu membangunkanku. Aku terkesiap hendak melepaskan ciuman kami sambil melepaskan peganganku di pinggang dan bahunya.

“No.. Tetap disitu..” Jessica berbicara masih dengan wajah kemerah padamnya.. nafas tersengal.

“Tapi aku..” Aku masih akan menarik tanganku saat Jessica mengeratkan kembali peganganku di pinggang dan bahunya. Kedua tangannya semakin menarik tubuhku menyatu dengannya.

“Kita sudah resmi menikah Yul.. kau adalah suamiku dan aku adalah istrimu.. kau boleh menyentuhku dan aku… boleh menyentuhmu..” detik berikutnya aku merasakan kembali manis dan lembutnya bibir Jessica menyentuhku. There’s no turning back.. so I’m gonna do it as you told my wife :d. Kini giliranku yang menciumnya. Aku memberikan semua yang kurasakan meskipun aku tak tahu apa namanya.. karena rasa ini begitu aneh.. tak sama seperti yang kurasakan pada Tiffany dulu. Jessica mengelus dadaku perlahan.. mulai membuka kancing tuxedo-ku.. menelusupkan tangan nakalnya itu ke dalam kemeja peach-ku. Semua uratku rasanya menegang menerima elusan itu. Aku mulai merasakan sahabatku bangun dari peristirahatannya.

Tangan Jessica membimbingku menuju ke kedua paha mulusnya. Bagaimana bisa? Well gaun yang istriku kenakan ini panjang ke belakang tapi pendek di depan.. sehingga aku bisa dengan mudah mengakses ke dalam tubuhnya. Heuhm.. desain yang bagus.. jadi saat malam pertama nanti.. aku bisa dengan mudah membukanya. Aku harus berterima kasih pada si Edward itu nanti hahaha.

“Yuri-ah..” Jessica semakin mengeratkan salah satu tangannya di kepalaku. Aku tersenyum kembali memagut bibir mungilnya itu dengan penuh nafsu yang terpendam selama ini. Oh tuhan.. mungkin inilah surga.. ku didalam nirwana. Bibirnya begitu manis.. sentuhannya begitu manis.. aku penasaran dengan hal lainnya. Sahabatku semakin menegang.. mengeras meminta aku untuk segera mengeluarkannya. Sabar buddy.. kita harus memanaskan dulu sahabat istriku baru kau bisa menikmati semuanya hehehe.

“Sica-ah…” tubuhku bergetar saat tangan mungilnya itu turun ke bawah menuju sahabatku.

“Yul.. kau bergetar..” Jessica masih sempat berbicara saat aku masih menyerangnya dengan ciuman manisku.

“Ya.. aku memang bergetar untukmu..” kutelusupkan lagi lidahku kedalam mulutnya mencoba bertarung lagi dengan milikku. Tapi aku hanya mendengar tawa dari istriku itu. Aku membuka mataku.. kenikmatan itu kini tergantikan dengan rasa heran karena Jessica mulai melepaskan ciuman kami.. menatapku dengan wajah bahagianya.

“Well thanks jika memang benar begitu.. hahaha tapi tubuhmu sekarang bergetar karena handphone-mu..” dengan sebalnya kuambil handphone di sakuku… kubuka kuncinya dan kulihat ternyata si midget yang mengganggu sesiku bersama istriku.

Kim Midget

Malam ini kau dan Jessica akan makan malam dengan Lumbridge.. aku sudah menyiapkan semuanya.. dan sorry jika aku mengganggu sesimu 😛

=========Above The Paper==========

Yuri POV

“Aku tidak menyangka kau akan mengajakku bertemu dengan klien pentingmu itu..” suara Jessica menghentikanku dalam lamunanku. Aku menatap wajahnya sebentar lalu mengambil tangan kirinya untuk kugenggam di pahaku.

Flashback

“Selamat siang Mr. Lumbridge.. suatu kehormatan bisa bertemu denganmu..” ucapku sambil menjabat tangannya yang besar itu. Wah.. benar kata orang-orang.. pria ini sebesar raksasa. Tapi tetap tampan hahaha.. Krystal pasti akan senang bertemu dengan pria seperti ini.

“Siang Mr Kwon.. senang bisa bertemu denganmu juga..” Lumbridge mengajaku untuk duduk di mejanya. Kami sekarang ada di sebuah kafe taman yang biasa menjadi saksi deal-deal miliaran dollar KJG tereksekusi dengan baik. Semoga hari ini keberuntungan dan aura baik dari kafe ini juga masih berpihak padaku.

“Bagaimana Korea? Anda menikmatinya?” Kutuangkan teh earl grey yang menjadi minuman khas kafe ini ke cangkir Smith. Dia tersenyum menikmati aroma teh yang nikmat itu. Aku juga tersenyum menikmati aroma minuman yang selalu bisa menenangkan diriku untuk menghadapi situasi yang kadang susah-susah gampang seperti ini.

“Korea?? Aku dan istriku menikmati waktu kami selama disini.. Seoul indah.. Namsan Tower.. hahaha Carla begitu semangat saat kami melakukan ritual kunci dan gembok..” dan perbincangan kami pun berlanjut ke menu utama dari pertemuan ini. Lumbridge mulai menceritakan rencananya membangun hotel di Jeju dan pabrik otomotif di Gwangju. Jika dia mau mengambil beberapa produk unggulan KJG ke hotel dan pabrik otomotifnya, KJG bisa mendapatkan kontrak jutaan dollar yang akan meningkatkan profit kami tahun ini.

“Oh ya.. kudengar kau berhasil mengambil Jung Enterprise? Kau tahu.. S&C sudah lama mengincar perusahaan itu tapi Jung Yunho begitu posesive dengan bisnisnya itu. Bagaimana kau bisa mengambilnya? Kau tahu.. KJG sudah tak diragukan lagi reputasinya…” Lumbridge.. Lumbridge.. Lumbridge.. kau ingin bermain game ini denganku eoh?

“Aku tidak mengambil Jung Enterprise Mr. Lumbridge … tapi menggabungkannya dengan KJG.” Ucapku dengan tenang sambil memotong cheesecake matcha-ku.

“Kau yakin? Bagaimana bisa? Seorang Jung Yunho?”

“Aku menikahi putrinya..” aku ulaskan senyum khasku yang manis dan meyakinkan itu. Lumbridge hanya terdiam menggelengkan kepalanya menatapku. Topik pembicaraan kembali beralih ke perencanaan kerja sama yang akan kami jalin. Lumbridge terlihat yakin sekali untuk bekerja sama denganku apalagi setelah mendengar tadi bahwa aku berhasil mengambil alih Jung Enterprise.. uppss.. hapus itu.. menggabungkannya lebih tepat.

“Yuri.. yaa bolehkan aku memanggilmu itu?” aku menganggukan kepalaku ringan lalu kembali menyuapkan potongan kedua cheesecake matcha-ku yang super lezat ini. Manis tapi pahitnya yang menyegarkan ini membuatku mengingat lagi ciuman yang kubagi dengan Jessica waktu itu. Heumh.. pasti rasanya akan lebih nikmat saat aku dalam keadaan sadar menikmati ciuman itu.

“Look Yuri.. tentang kerjasama ini.. aku bisa saja menandatanganinya sekarang. Tapi aku yakin kau butuh menyiapkan semua kontrak dan detailnya kan?” Aku mengiyakan pertanyaan pria di hadapanku ini. Wajahku kembali focus dan serius. Fokus Yuri.. Fokus.. jangan fantasikan istrimu itu di hadapan klien pentingmu ini! Aish chincha otak rasionalku ini.

“Alice ingin sekali bertemu denganmu. Dia sudah menyiapkan makan malam untuk kita. Oh ya.. jangan lupa ajak istrimu. Untuk detailnya.. Personal Assistantku akan memberitahumu..”

End OF Flashback

“Kau adalah istriku.. pendampingku..” ucapku menatap matanya untuk sesaat. Dia sepertinya menggunakan lensa mata ungunya hari ini.

“Kau memakai lensa mata?” Jessica menganggukan kepalanya tersenyum polos seperti seekor kucing yang imut sekali. Aish.. bisakah kau berhenti menjadi imut dan cantik untuk satu hari saja?

“Kau tak suka?” aku menggelengkan kepalaku menjawab pertanyaannya itu. Senyum itu perlahan kembali tergambar di wajah aristokratnya yang dingin itu.. dingin.. dingin.. tapi tak tahu kenapa menghangatkan hatiku saat melihatnya.

“Aku baru saja memeriksakan mataku kemarin… dokter menyuruhku untuk memakai lensa mata ini agar aku bisa mengurangi penggunaan kacamataku. Kau juga memakai kacamata kan?”

“Ya.. tapi hanya untuk membaca saja.. maksudku membaca file-file kerjaku..” kuelus pelan tangannya yang masih ada di pahaku. Dia mengangguk-anggukan kepalanya mendengar perkataanku tadi perlahan menyenderkan kepalanya di bahuku.

“Oh ya.. apa aku.. terlihat..” kualihkan lagi pandanganku padanya. Kuselipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya.

“Cantik?” dia terdiam malu menundukan kepalanya mengangguk menjawab pertanyaanku.

“Heumh.. kau tahu.. aku tadi sempat berpikir sesuatu. Aku bertanya dalam hatiku.. kapan ya kira-kira aku bisa melihatmu satu hari saja tanpa kecantikanmu yang mempesona itu?” Omo?? Apa yang baru saja kukatakan? Kau serius untuk merayu seorang wanita dari sekarang Kwon Yuri? FYI.. selain Tiffany.. kau belum pernah berkata semanis ini kepada wanita lain.. bahkan mantan-mantanmu yang super kaya, cantik.. sukses dan popular itu.

“Apa kau serius? Atau hanya menggombaliku?” mata coklat madu itu menatapku tajam penuh pengharapan. Aku membuat diriku terlihat seperti sedang berpikir lalu menganggukan kepalaku perlahan membuat senyum dingin tapi hangat itu kembali tergambar di wajahnya. Aku tertawa kecil dalam hatiku sementara wajahku berkata lain. Aku segera mengembalikan composure-ku menjadi seorang Kwon Yuri yang selalu terlihat berkarisma, smart dan bersahaja hahaha.

“Jadi kau hanya menggombaliku? Heumh.. fine..” ucapnya sedikit berbisik di akhir. Tawa itu sulit sekali kutahan melihat betapa imut Jessica saat ini. Jessica menyimpan dagunya di tangan kirinya yang menempel ke kaca mobil. Bibir itu sedikit ia rapatkan disertai dengan gembungan di kedua pipinya. Wajahnya terlihat sebal mendengar jawabanku tadi. Wanita yang duduk di sampingku sekarang seperti bukan Jessica Jung yang sudah beberapa waktu ini kukenal.

“Kau cantik.. dan aku berkata jujur.. bukan gombalan..” ucapku masih terlihat keren menatap wajahnya yang segera mendongak melihatku. Kukedipkan salah satu mataku mencoba meyakinkan wajahnya yang masih tak percaya dengan ucapanku itu. Jessica mengecup pipi kananku sementara aku hanya tersenyum keren menerimanya.

“Kau tahu.. tadi banyak pegawaiku yang membicarakan tentang List Of you..” ucapnya memulai pembicaraan. Aku menganggukan kepalaku mengiyakan ucapannya tentang daftar itu.

“Kau sudah tahu? Mengapa kau tak bilang? Apa saja yang sudah aku tulis??” Aku tersenyum bodoh mengingat sesuatu dalam list itu.

I like the way how you make me fallin love with you…

“Kau tidak mengingatnya?” Tanyaku tak percaya.

“Aku sedikit mabuk saat itu kau tahu..” bukan sedikit sayang.. sangat hahaha. Oke ini kesempatan yang bagus hahahaha.

“Kau bilang bahwa aku cerdas..” Jessica masih menatapku penasaran dengan sedikit keraguan yang tergambar di wajahnya. Sayang.. apa kau meragukan kecerdasan suamimu ini???

“Kau suka bagaimana aku yang selalu benar.”

“Benarkah?”

“Tentu. Kau juga menyebutkan bagaimana kau suka selalu mendengarkan aku, mendengarkan saranku karena aku selalu benar.” Aku tertawa dalam hatiku melihatnya berpikir keras mendengarkan penjelasanku tadi. Apa yang kuucapkan tadi sepertinya sulit untuk Jessica cerna dan percayai. Hahaha

“Apa aku menyebutkan betapa sulitnya tidur denganmu?” tawaku terhenti. Kini giliranku yang menatapnya penasaran.

“Maksudmu?”

“Kau tak bisa diam dalam tidurmu, mengigau…. Diam lagi lalu menjelerkan lidahmu keluar. Tapi bagian terbaiknya.. kau senang memelukku jika kau sedang tidur.” Aku menggelengkan kepalaku mendengarnya. Tidak mungkin orang sepertiku tidur seperti itu. Tidak mungkin aku memeluk Jessica saat sedang tidur, harusnya aku memeluknya saat sedang sadar agar aku bisa merasakan hangatnya pelukan itu.

“Kau pasti bohong.. tidak mungkin aku seperti itu..” ucapku masih dengan kerennya sementara Jessica tertawa mendengar sangkalanku. Dia mengeluarkan buku kecil di tasnya.

“Kau lihat.. ini adalah stragegi pemasaran dan evaluasi pasar yang kau bicarakan dalam tidurmu kemarin. Aku sengaja bangun untuk mencatatnya dan hasilnya sungguh luar biasa. Harusnya kau mengajar di universitas, Prof Kwon..” Bisik Jessica dengan tawa keringnya sementara aku masih serius membaca catatan itu. 10 lembar… aku bisa berbicara sebanyak itu dalam tidurku.. tidak.. Jessica bilang ini hanya point-point penting saja yang dia tulis. Haruskah aku membuka kelas saat aku tertidur?

“Aku tak percaya ini.. heumh tapi aku tak berbicara hal yang lain kan?” ucapku sedikit khawatir mengingat kadang mulutku ini kadang tak sesuai dengan hati dan otakku.

“Kau bilang bahwa kau begitu suka memelukku..” Jessica berucap sambil menatapku nakal.

“Oh benarkah? Well itu benar mungkin..” segera kudekap tubuh mungilnya itu. Jessica berteriak kaget dengan aksiku tadi sementara aku masih terus memeluknya dengan wajah polosku.

=========Above The Paper==========

Yuri POV

Kami tiba di restoran dengan kondisi wartawan dan paparazzi yang berkumpul menunggu kehadiranku dan istriku.

“Bagaimana bajuku.. apa masih rapi?” Jessica terlihat sedikit khawatir dengan tampilannya. Aku kembali menggenggam tangannya, membuat pandangannya segera beralih padaku.

“Kau masih cantik.. dan tetap cantik.. Mrs.Kwon..”

“Thanks.. kau juga terlihat tampan.. tetap tampan Mr. Kwon..” kami tersenyum mendengar hal itu.

Supirku mulai membuka pintu mobil membuat aku dan Jessica segera keluar dari mobil kami. Di luar sudah ada 2 orang staff restoran yang menjemputku buru sementara wartawan dan rekan media semakin mendekat.

Kamera mulai membidikku beserta Jessica, pertanyaann-pertanyaan mulai berhamburan meminta untuk dijawab. Yang membuatku pusing.. mereka berbicara dan berteriak mengajukan pertanyaan padaku di saat yang sama.

“Kabar bahagia itu.. kapan kalian akan mengumumkannya secara resmi?”

Aku tak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan itu masih melanjutkan perjalanan kami masuk ke restoran. Fiuh.. masuk ke restoran saja sesusah ini.. aku masih jadi perngusaha.. apalagi jika aku menjadi artis?? Sejak kami mengumumkan pesta resepsi yang akan segera dilaksanakan secepatnya, pemberitaan di media cetak maupun eletronik tidak pernah berhenti sehingga aku kini mulai lelah mendengarnya.

Satu pria berhasil masuk menembus penjagaan yang telah disiapkan pihak restoran. Dia terdiam membeku melihatku dan Jessica tapi di detik berikutnya ia segera menyiapkan lensa kameranya, siap memotret aku yang masih menggenggam erat Jessica.

“Laki-laki atau perempuan?? Apa kalian sudah memberi tahu kedua orang tua kali… oohmmpp..” pihak keamanan segera menyingkirkan pemuda itu dengan membawanya kesamping, menambah pengamanan untukku dan Jessica agar peristiwa tadi tidak terulang. Jessica dan aku bertukar pandang melihat peristiwa tadi. Well aku tidak punya waktu memikirkan hal yang sia-sia seperti tadi.

Seorang pria menyambut aku dan Jessica lengkap dengan jas hitam mengkilapnya sebagai Maitre. Pria itu segera membungkuk memberikan hormatnya pada kami.

“Selamat datang Tuan dan Nyonya Kwon.. Tuan dan Nyonya Lumbridge sudah datang dan menunggu di dalam..” seorang waitress datang dan melepaskan coat kami.

“Mohon ijinkan saya untuk mengantar Tuan dan Nyonya ke dalam..”

Maitre itu segera mengantarkan kami masuk ke dining hall yang megah mewah dan menawan. Suara alat- alat makan dan dentuman bunyi gelas wine ditubrukan terdengar. Saat kami melewat beberapa meja, orang-orang segera menatap kami.. terkejut melihatku dan Jessica ada di sekitar mereka. Dari kejauhan aku bisa melihat Smith berdiri mengayunkan tangannya, tersenyum semangat menyambut kedatangan kami.

“Yuri.. senang bisa melihatmu lagi,,”

“Terimakasih Tuan Lumbridge sudah mengundang kami makan malam..” senyumku melihat pria raksasa di hadapanku ini begitu semangat.

“Ahh.. ini tidak seberapa.. Aku malah sangat senang karena aku bisa bertemu langsung dengan putri Jung Yunho..”

“Suatu kehormatan bagiku bisa bertemu denganmu Tuan Lumbridge.. Yuri sering bercerita betapa ia mengagumi dirimu..” Aku mendelikkan salah satu mataku mendengar apa yang baru saja istriku ucapkan. Apa kau tak salah Jessica?? Aku? Mengagumi Lumbridge?? Heumh.. jika mengagumimu.. mungkin iya… seperti itu.

“Ah benarkah?? Hahaaha suamimu bukan orang yang pertama mengagumiku.. oh ya kenalkan.. ini adalah istriku.. Alice..” Seorang wanita yang sejak tadi duduk di samping Lumbridge berdiri menjabat tanganku dan Jessica.

“Senang sekali bisa bertemu kalian.. mari duduk..” aku dan Jessica duduk di seberang Lumbridge dan istrinya. Alice segera memakai napkin di pangkuannya, sedikit memajukan wajahnya seperti ingin membisikan sesuatu.

“Kalian tahu.. ini terasa tak nyata bagiku.. setiap hari.. aku selalu melihat kalian di koran.. radio atau televisi..”

“Maafkan kami..” ucapku masih dalam mode profesionalku.

“Oh.. it’s okay.. It’s wonderfull thougt.. tapi jika aku tahu bahwa akan ada begitu banyak wartawan malam ini.. mungkin aku akan berdandan lebih cantik lagi..” Alice menepuk pelan tatanan rambutnya yang sudah mengembang seperti sarang burung. Mungkin 4-5 burung cukup di dalamnya.

“Yasudah.. lain kali kau buat lebih bagus saja make up dan tatanan rambutmu sayang.. oh ya.. bisa kau keluarkan wine terbaikmu?” seorang waitress yang ternyata dari tadi sudah ada di sampingku mengangguk.

“Baiklah,.. apa yang bisa saya siapkan untuk Tuan dan Nyonya Kwon?”

“Wine juga bagus untuk kami..” tema makan malam malam ini adalah bisnis berkedok jamuan sosial bersahabat yang sudah biasa terjadi. Aku sudah mengamati akun keuangan Smith dan aku hanya harus membuat semuanya lancar malam ini. Dengan itu 45 juta dollar bisa kutambahkan sebagai keuntungan KJG. Ini harus berjalan tanpa ada gangguan.. tunggu dulu.. kenapa waitress itu tak beranjak dari posisinya?

“Mungkin dia menunggu tips..” Alice segera mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang nilainya cukup mencengangkan untuk sebuah tips

“Maaf Nyonya.. saya tidak bermaksud untuk diberi tips..” waitress itu mengembalikan lembaran uang yang Alice berikan tadi. Untuk sesaat suasana yang hening dan canggung menghinggapi kami. Menyadari itu semua… waitress itu segera berbicara menjernihkan semuanya.

“Kami juga menyediakan wine non alcoholic Nyonya Kwon..”

“Tidak.. kami semua akan meminum wine yang sama..” Smith terlihat mulai kesal sepertinya.

“Oh maafkan saya.. saya kira dalam kondisi Nyonya Kwon yang seperti sekarang.. anda tidak akan meminum minuman yang beralkohol..” waitress itu menatap Jessica dengan wajah malu dan khawatirnya.

“Kondisi?? Kondisi apa?” Alice mulai berbicara sementara aku dan Jessica masih diam tak tahu dengan apa yang terjadi.

“Maafkan aku Tuan Lumbridge.. tapi aku dan Jessica memang sebenarnya tidak terlalu sering mengkonsumsi minuman alcoholic..” Menekan kekesalan dalam diriku.. aku mulai bertanya pada waitress itu.

“Kondisi apa yang anda maksudkan?” keraguan itu kini tergambar di wajah si waitress.

“Maafkan saya Tuan Kwon.. hari ini berita bahagia itu keluar..” ucapnya terlihat excited. Berita bahagia?? Maksudnya resepsi pernikahanku??

“Berita bahagia?” ucapku memicingkan mataku sementara Jessica terlihat seperti mendapat sesuatu di benaknya.

“Yul.. sepertinya aku tahu maksudnya..” Jessica mendekat padaku.. membisikan sesuatu.

“Apa maksudmu?” ucapku tak mengerti

“Beberapa hari yang lalu aku dan Krystal pergi ke Baby Store.. kami membeli hadiah untuk sahabatku yang sedang hamil..” Jessica masih berbicara pelan padaku sementara aku sepertinya mulai memahami situasi ini.

“Tunggu.. apa maksudmu mereka berpikir bahwa kau..”

“Hamil..” mataku membuka lebar mendengar hal itu. Jika memang aku dan Jessica sudah melakukan itu.. maka aku bahagia tapi kami.. sighed.. berbuat hal itu saja belum karena ulah si kakek tua dan tongkat saktinya.. belum lagi gangguan dari Taeng kemarin.. huaahh… hidupku.

“Tunggu berita apa memangnya?” aku masih penasaran dengan apa yang akan diucapkan waitress itu.

“Pagi ini di stasiun tv dan koran-koran.. mereka mengatakan bahwa Nyonya Kwon sedang mengandung.. beberapa mengatakan bahwa bayinya akan kembar.. ibu Saya sangat senang dan bersemangat dengan munculnya berita ini..”

“Tunggu.. itu tidak ben..”

“Oh ya… kalau begitu aku pesan orange juice saja..”

“Sica..”

“Yul.. aku tahu ini tidak benar tapi apa yang akan orang bilang kalau aku sekarang meminum minuman beralkohol sedangkan mereka berpikir bahwa aku sedang hamil mengandung anak pertama kita?” entah mengapa aku malah senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Jessica. Heuhm.. hamil.. anak pertama.. anak kami.. apa aku sudah siap menjadi seorang ayah??

“Baiklah.. saya akan mengantarkan pesanan Tuan dan Nyonya..” dengan itu si waitress pergi dari hadapan kami. Aku masih asik dengan duniaku sendiri sementara Jessica.. Smith dan Alice sibuk memilih menu.

“Yul.. Appa tadi mengirimku pesan. Berita itu disiarkan tad pagi di beberapa stasiun TV besar. Appa dan Taeyeon Oppa sudah mengatasi semuanya.” Jessica berbicara membuyarkan lamunan tak jelasku yang tak mau lebih jelas lagi kujelaskan pada kalian. Karena hanya Tuhan.. author.. dan aku yang tahu tentang lamunan bahayaku itu hahaha.

“Bagus.. aku tidak mau ada kesalahpahaman lagi..” ucapku masih dengan gaya cool-ku. Jika malam itu aku berhasil mengkonsumsi pernikahan kami tanpa ada gangguan dari si kakek sialan itu.. mungkin hal ini.. tidak akan menjadi kesalahpahaman lagi 😀

=========Above The Paper==========

Thanks God dinner malam ini berlangsung lancar. Lumbridge dan Alice ternyata dengan mudah terpesona oleh karisma dan kehangatan Jessica. Heumh.. siapa yang mengira bahwa istriku itu begitu ramah dan pintar menarik perhatian orang dengan pesona dan karismanya?Live Band di restoran ini mulai memainkan musiknya. Waitress yang tadi memberitahuku tentang berita kehamilan Jessica terus saja mondar-mandir melayani kami.

“Pengantin baru dihadapan kita seharusnya berdansa bersama.. ah sayang sekali lututku sedang sakit..” Alice berkata sambil memijat pelan lututnya.

“Ah.. aku tidak bisa berdansa..” ucapku dengan cepat melihat kemana ini akan bermuara.

“Bagaimana denganmu Jessica? Maukah kau berdansa denganku” Lumbridge atau sekarang harus kusebut Smith meminta istriku ini untuk berdansa dengannya. Sejak percakapan selama makan malam ini.. Lumbridge ingin disebut nama depannya saja karena ia sudah merasa sangat akrab denganku dan Jessica.. well lebih tepatnya sih Jessica karena istriku itu tak henti-hentinya membuat Smith dan istrinya terkagum-kagum dengan petualangannya selama di Eropa.

“Tentu Smith..” dengan itu Smith membawa istriku ke lantai dansa sementara aku dan Alice duduk berdua mengamati pasangan kami yang terlihat memulai dansa mereka.

“Pasti menyenangkan bisa bekerja bersama-sama dengan istrimu..” Alice meminum kembali teh yang dia pesan tadi.

“Well.. kami bekerja di kantor yang berbeda tapi ya.. kau benar..”

“Kau tahu… aku dan Smith memulai bisnis kami bersama-sama..”

“Wow.. yang itu aku baru tahu..” tiba-tiba aku menjadi tertarik dengan percakapan ini.

“Kau takkan menyangka kami bisa menjadi seperti sekarang. Aku dan Smith memiliki kepribadian yang berbeda. Aku lebih serius sedangkan dia lebih santai dalam bekerja tapi itulah yang membuat semuanya seimbang,,” Alice tersenyum kecil mengingat sesuatu dalam benaknya.. sepertinya.

“Oh.. jadi kalian adalah teman bisnis?” aku mencoba membuat percakapan ini lebih berhubungan dengan pekerjaan.

“Ya.. kami berdua sering menghabiskan waktu yang lama di ruangan kecil kami dulu.. saat bisnis kami masih dibangun. It was fun.. Jika tangan kami tidak sibuk dengan pekerjaan.. tangan kami sibuk melakukan hal lainnya..” Alice tersenyum nakal padaku. Wah wah.. aku mengerti sepertinya apa yang Alice maksudkan tadi.

“The sex was great.. it was beyond your imagination..” Aku menganggukan kepalaku dengan sopan.

“Bekerja bersama-sama bisa menjadi aphrodisiac yang bagus. Melihat interaksi kalian selama dinner tadi.. aku bertaruh bahwa kalian tak bisa diam seperti tupai yang overactive.” Tak tahu harus merespon apa.. segera kuraih gelas di sampingku.. lalu meminumnya.

“Jadi.. dalam waktu dekat ini kau tak berencana memiliki anak?” Alice dan Smith sudah kuberi tahu bahwa Jessica tidak hamil tadi.

“Tidak untuk saat ini.,, apalagi merger masih dilakukan..” aku meneguk lagi minumanku.

“Jadi.. kalian berencana punya berapa anak? Empat.. atau 5?” 5? Aku hampir tersedak mendengar hal itu.

“Well lebih baik kalian punya anak selama kalian masih muda.. aku dan Smith saja sudah punya 5 saat usia kami masih 28. Kami masih bisa mengatur dan membangun bisnis kami dengan baik..” aku hanya menganggukan kepalaku.. tidak terlalu mendengarkan apa ayang dikatakan Alice. Mataku berjalan ke lantai dansa.. dan berhenti di Jessica. Dia dancer yang bagus. Smith juga mengimbangi gerakannya dengan baik. Ahh aku berharap bisa sebagus itu.

Aku akan meneguk wine-ku kembali saat sesuatu menarik perhatianku. Resleting belakang dress Jessica terbuka perlahan ke bawah punggungnya. Jessic tak menyadari hal itu karena ia sibuk berdansa. Segera kulihat sekitar. Oke.. sejauh ini tidak ada yang menyadarinya kalaupun ada.. mereka mengira dress yang dikenakan istriku itu adalah dress dengan punggung yang terbuka yang akan dengan senang hati kupandangi.

Dengan cepat kususun strategi untuk menyelamatkan Jessica. Ya.. dia harus segera berhenti berdansa. Semakin banyak dia bergerak maka akan semakin terbuka resletingnya. Lagu ini harusnya segera berakhir dan ketika dia kembali ke meja kami, dengan santai akan kulatakan tanganku di punggungnya, menaikan kembali resletingnya.

“Dan untuk penutup.. berputar..” suara Smith melewat ke pikiranku. Tidak!!! Jika Jessica berputar.. maka resletingnya akan turun ke bawah semuanya dan punggungnya akan sangat terbuka.. no!! tidak ada orang lain yang boleh melihatnya selain aku!

“Siap?” Smith bertanya.. yang dijawab Jessica dengan anggukan dan senyumannya.

Kakiku mulai bergerak dengan sendirinya seperti biasa. Alice terdiam bingung melihatku segera meninggalkannya ketika dia masih berbicara. Dengan cepat kucapai lantai dansa. Semuanya bermain seperti slow motion. Smith memutarkan Jessica ke arahku. Saat dia bergerak,semua resletingnya terbuka. Dalam satu gerakan, aku maju menarik tubuhnya melawanku.. mendekapnya dengan memeluknya dari belakang.

“Smith.. bolehkah aku memotong?” aku berbicara masih menyenderkan daguku di bahu Jessica yan terbuka.

“Tentu.. tentu..” dengan senyum bahagianya yang sepertinya terkejut dengan kehadiranku Smith berjalan menjauh kembali menemani Alice.

“Kukira kau tidak mau berdansa..” Jessica mencoba untuk berputar tapi aku mencegahnya, masih erat mendekapnya dalam pelukanku.

“Tidak mau bukan berarti tidak pernah kan?” Aku meletakan tanganku diantara tubuh kami, perlahan kunaikan resletingnya, membiarkan jari jariku menyentuh kulitnya yang terekspos. Tubuh Jessica terkejut kaku menerima sentuhanku.

“Jangan khawatir.. tidak ada yang menyadarinya..” aku mencoba meyakinkannya.

“Kau menyadarinya..” Jessica menghadapiku. Kulitnya bersinar dan nafasnya sedikit tersentak.. mungkin karena efek berdansa tadi.

Penyanyi dari band itu melihaku dan Jessica bersama. Dia memanggil anggota band lain untuk berdiskusi tiba-tiba. Saat mereka selesai berdiskusi.. mereka mulai memainkan lagu yang sangat pelan. Gitaris band itu tersenyum lebar dan mengacungiku jempolnya.

Aish.. baiklah.. one dance won’t hurt maybe.

=========Above The Paper==========

Dinner dengan Lumbrigde akhirnya berakhir. Supir membawa kami ke kediaman keluarga Jessica. Aku menemaninya keluar dari mobil.

“Terima kasih karena sudah menemaniku makan malam..”

“Ini menyenangkan.. terimakasih karena sudah menyelamatkanku tadi..” Jessica tersenyum.

“Well.. itu adalah tugasku sebagai suamimu… itu ada di job description.. selamat malam Sica..” Aku membalas senyuman itu.

“Tunggu.. apa kau tidak akan masuk dulu?” sejenak aku terdiam mendengar hal itu. Bertemu dengan Jung Yongeun lagi??

“Wah sepertinya ini sudah terlalu malam..” aku mulai beralasan.

“Mereka masih bangun dan Taeyeon Oppa ada didalam… dan ini juga masuk ke job description-mu sebagai suamiku..” oke.. sepertinya aku tidak bisa menyingkir lagi.

“oh benarkah? Aku tidak melihatnya..” aku pura-pura terkejut.

“Tentu.. ini sudah tercetak..”

“baiklah..” aku mulai berjalan bersampingan dengannya. Untuk sesaat keheningan dan angin malam yang menyelimuti kami.

“Smith dan Alice terlihat seperti pasangan yang bahagia.. bukankah begitu?” Jessica bertanya.

“Itu semua tentang keseimbangan…” aku mengemukakan pengetahuan baruku.

“Benarkah? Betapa cerdasnya kau Kwon Yuri-nim..”

“Sebenarnya aku genius jika membicarakan tentang sebuah hubungan kau tahu..” Jessica tertawa kecil mendengar hal itu. Tanpa kusadari dia menelusupkan lengannya, membuat tanganku menggandeng lengannya.

“Oh ya.. sepertinya Alice mengira kita adalah couple yang cute..”

“bagaimana bisa?”

“Saat kita mengucapkan perpisahan kita tadi.. dia membisikan padaku bahwa kau dan aku mengingatkannya pada 2 tupai yang overactive.

=========Above The Paper==========

Saat Jessica membuka pintu rumahnya.. aku mengira bahwa hanya kegelapan dan kesunyianlah yang akan menyambut kami.

“Yuri.. Jessica..! apa kalian mau the atau kopi?” Minyoung menyambut kami dengan pelukan hangatnya.

“ Satu cangkir teh untukku.. please..” Jessica berucap sementara aku menggelengkan kepalaku menolah tawaran kakak iparku itu secara halus.

“Aku hanya mengantar Jessica dan menyapan kalian.. supir sudah menungguku di luar..”

“wah.. kau sungguh baik.. ayo.. ayoo kita ke ruang tamu.. sudah banyak yang menunggu kalian disana…” Minyoung Noona membawaku dan Jessica ke ruang tamu yang masih gaduh seperti biasa. Yunho.. dan Taeyeon sedang asik menonton TV sedangkan Arad an Krystal sedang membuat sesuatu di dapur.

“OMG.. Unnie.. kau sudah hamil ternyata? Apa bayinya kembar? Haruskah aku berhenti mencintai Yuri Oppa?” Krystal menghampiri kakaknya yang hanya memandangnya aneh.

“Kau tahu kan Krys kalau berita itu tidak benar..”

“Hai Yuri-ah… come here….” Yunho mulai menyadari kehadiranku dan memintaku untuk duduk di sampingnya bersama Taeyeon.

“3 Stasiun TV sudah memberitakan tentang yang sebenarnya.. besok mungkin juga media cetak akan menarik lagi apa yang telah mereka beritakan hari ini.. kau tenang saja.. aku sudah membereskan semuanya hari ini..” Yunho berbicara dengan nada yang meyakinkan sementara aku menganggukan kepalaku mendengar ucapan ayah mertuaku itu.

“Aku masih tak habis pikir mengapa orang-orang bisa mempercayai berita itu..” aku mengelus jidatku yang tak gatal itu.

“Sooyeon??” bunyi berciut datang dari ruang masuk ruang tamu.

“Dimana cucuku??” no.. jangan bilang bahwa itu adalah… dengan sendirinya tanganku memegang kepalaku. Bisa kulihat Yongeun berjalan ke arahku dengan tongkat barunya yang bersinar membutakan pandanganku bersamaan dengan Jessica yang baru keluar dari dapur dengan dua cangkir teh di tangannya.

“Ah Sooyeon.. sini.. Grandpa ingin melihatmu..” Yongeun mulai melihat Jessica dari kepala sampai kaki lalu berakhir di perutnya.

“Perempuan.. anakmu nantinya perempuan.. seorang kakek tak mungkin salah..”

“Grandpa.. aku tidak..”

“Kwon Yuri!!! Sini kau!!” Yongeun berteriak padaku. Aku berjalan mendekat dengan hati-hati sementara Taeyeon hanya tersenyum menyemangatiku.

“Baiklah.. karena sekarang cucuku sudah hamil.. aku terpaksa harus menerimamu masuk ke keluarga ini..” Yongeun mengeluh sementara aku masih tegang ada di hadapannya.. tak tahu kenapa.

“Ayah.. Sooyeon tidak hamil.. tapi aku senang kau sudah bisa mengakui Yuri sebagai cucu menantumu..” Yunho berkata dengan ceria sementara aku.. heuhm.. jangan tanya.

“Apa?” kakek Jessica yang kusayangi itu mengetukan tongkat barunya itu ke lantai dengan keras yang sayangnya.. mengenai jari kakiku juga.

Arrghh.. sakit.. oh tuhan.. lebih baik aku langsung pingsan seperti kemarin daripada seperti ini. Aku mencoba menahan tangisku dengan tersenyum menutup mulutku.

“Yul… omo!! Gwenchana?” Jessica menghampiriku dengan wajah khawatirnya sementara aku masih belum bisa berkata apa-apa. Yunho menatap ayahnya dengan tatapan lain yang hanya bisa mereka berdua mengerti.

“Penglihatanku kan kurang baik.. seperti dulu..” aish.. dasar kakek tua.. pintar sekali kau beralasan.

“Ah.. gwenchana..” aku berusaha berkata masih menahan sakit di jari kakiku yang tiada duanya ini.

“Sepertinya aku mendengar sesuatu.. OMG!! Mau kuambilkan ice pack??” Minyoung berjalan menghampiriku.

“Ahh.. tidak usah.. aku langsung pulang saja.. supirku sudah terlalu lama menunggu..” ucapku masih terlihat kesakitan menggerakan kakiku.

“Baiklah.. aku akan mengantarmu tapi.. aku belum melihat Woohyun Oppa.. tumben sekali dia sudah tidur jam segini..” Jessica berucap mulai memapahku dengan tubuhnya yang mungil ini. Minyoung berjalan mendekati kami dan berbisik

“Grandpa merasa aura Woohyun sangat jelek untuk wanita hamil maka dari itu.. Grandpa mengunci Woohyun di kamarnya sejak tadi siang… dan ayah kesulitan membukanya..”

=======================================================================================

=======================================================================================

Siang??

hai reader.. apa gw termaafkan dengan update hari ini??

well banyak hal terjadi pada tgl 14 dan bikin gw ga bisa update

hehe maafkan gw.. gw khilaf..

yasudahlah.. hehehe

btw.. berharap kalian enjoy baca ff ini karena gw juga sangat enjoy baca The Contractnya hehehe

gw gtw mau ngomong apalagi tapi dengan banyaknya gangguan dan cobaan yang yg datang menerpa gw.. gw harap ini bisa menghibur kalian dan kalian mau berbagi tentang apa yang kalian pikirkan tentang ff ini.. khususnya chapter ini di kolom komentar.. bolehlah lewat WA.. BBM.. Twitter.. email atau FB

cuma gw sih berharapnya ya disini di wp gw.. biar orang lain juga bisa tau apa yang kalian pikirkan tentang ff ini..

Thanks..

Bye.. and See you soon ^_^

Iklan

184 pemikiran pada “Above The Paper Chapter 4

  1. Ga bisa bayangin yuri di kehidupan nyata,keren banget yuri disini
    Setelah seabad nunggu akhirnya kakak update juga,aku nunggu sampel hibernasi berkali kali *alay
    Cukup gue alay nya,semoga tetep update ya…walaupun nunggu lama lagi aku tetep nunggu kok 😉
    Fighting

  2. kakek jung kejam amat, apa semua keluarga jung sekejam itu #haah

    Makin sweet aja yulsic nya, udh dong fany move on aja, kasian taeyeon udh cinta sepenuh hati, #halah

  3. Hampir lupa sama cerita ini,,stelah di baca 2x jdi ingat,krna kelmaan updatex kali ya..
    Yul di musuhin ama grandpa sica,,sabar ya yul,,hehe
    di tunggu updatex thor..

  4. Wowww akhirnya ni ff muncul(?) Jga lanjutannya..
    Keren thor ngebayangin yuri ama grandpanya haha koplak bgt dah tu org bedua,grandpanya kejem errrr
    Yulsic enseh nye stengah2 ye thor kekeke#byunreader
    D tunggu nextnya thorrr

  5. ahh keknya udh lama ga buka nih wp, terakhir baca kapan ya kok gw udh lupa cerita di chap 3 wkwk.
    ternyata bagian awal doang yg bahas yulti, kirain bakal ada masalah di chap ini. tp bagus sih banyak humornya. suasananya tenang, ga rusuh tp bisa bikin ngakak lah lumayan haha
    konflik yg gw tunggu2 blm keluar jg nih wkwk okay^^
    semanga buat next chapter~

  6. ahh keknya udh lama ga buka nih wp, terakhir baca kapan ya kok gw udh lupa cerita di chap 3 wkwk.
    ternyata bagian awal doang yg bahas yulti, kirain bakal ada masalah di chap ini. tp bagus sih banyak humornya. suasananya tenang, ga rusuh tp bisa bikin ngakak lah lumayan haha
    konflik yg gw tunggu2 blm keluar jg nih wkwk okay^^
    semangat buat next chapter~

  7. gw pnsarn, ada hbungan apa antara ppany ma yuri??!kalo sama2 suka np pisah?!
    gw brharp ni g’brakhir dg yulti #please!!!

  8. Dari kmrin sampai skrg baca ff ini terus gak bosen ㅋㅋㅋ. Maap thor kalo gue cuman komen di chapter 4 doang. Soalnya gue baca chapter 4 dulu batu chapter yg lain nya ㅋㅋㅋ minta pin bbm boleh thor??

  9. Hubungan Yulti dulu gimani si penasaran gue..
    Grandpa tetep kejem & jail ama si Kwon kasian kan masa kena pukul si.
    Yulsic mungkin harus honeymoon dulu kali y biar sica cepet hamil n gak terus”an digangguin grandpa …wakakakak

  10. Ping balik: LIST FF ROCKSMITH27 ^_^ | ANOTHER FORM Of FANFICT

  11. 296B4A05 , woah kkkk entah kenapa no comment rasanya , delulu banget dan momentnya greget thor terimakasih banyak untuk tangan mu ixixiixi

  12. woaaaahh yulsic langsung nikah di part 1. tp jessica agak misterius ya dan yul juga nih.. tapi gpp lah, mgkn cnta mrka akan tmbuh seiring berjalannya waktu. #eaaaa hhahaha

    • aduh lo bacanya loncat je?
      sayang bgt hehehe
      padahal chapter 2 dan 3 kece bgt loh je..
      klo menurut gw sih lebih kece dari chapter 4 yg panjang bgt dan chapter 5 yg nanggung bgt hehehehee
      udah beres ujiannya je?

  13. ini sudah keterlaluan. hahahaha bisa kan ris gue request tolong jessica pndh k tmpt yuri. ah gk tega gue oppa yg satu itu menderita gara2 kakek jung. 😀
    dua kali gagal krna banyk gangguan. hehehe

  14. Oh gosh gue bener bener pengen tau sejauh apa hubungan YulTi kayaknya spesial banget. Dan yoong suka Fany juga dulu. Kasian fany disini masih cinta Yul, tapi knp dia jadian sama taeng? Huaaaa
    Please YulTi 😭🙏

  15. OMG!!!! setiap yul ktemu ma kakek kera sakti tuh pasti yul oppa celaka ckckckck…
    sabar ya oppa,,,,tp tnang jah sicababy akan slalu ngelindungimu…
    dah berkali” gwe baca ff ini gk ada bosannya, sperti crita dlm kehdupan nyata..ditunggu update lanjutannya ya thorr, gwe gk sbrn pingin lht kwon junior mreka heheh

  16. ceritanya gue smlem ktiduran dan baru mwlek skrg.. jd bru lanjut 😀 hahaa makin krsini hub yulsic mkin weh…. mkin g bisa nahan hormon si yull mah V

  17. suka banget ama yulsic disini. cucok……
    mreka uda menikah tp kok gak tinggal breng sih. kan sbel jdinya. yuri hrus ktemu sma kakek jhat itu.

  18. huaaah,yulsic dah makin deket z!! sweet moment nya buanyaak banget thor,,bikin diabet akut! tappi gw sukkaaa! 😀

    duhh,napa ntu kakek ngbully yul mulu yak,,kan kecian kayanya yul jadi trauma kalo ketemu ma kake nye sica palagi kln bwa tongkat sakti nye!
    truz kapan yulsic beneran ciptain d’real sexy time nya thor? perasaan k ganggu mulu deh,,g c kake g c taeng,,emmh,ganggu z!:|

    ok dah thor,d lanjut yee ^,^

  19. poor yuri.. sllu dinistain karis,

    btw author bisa bagi gak khayalan berbahaya yuri ???? hhheee

    yoona ksayangNku muncul.. yeaaa lnjut next part..

  20. Huwaahhh yul kyaahh gw mau yul juga dongg gila keren bgt disinii hahaha suami idaman banger jirrrr
    yulsoc disini couple sempurna jirrr w suka w sukaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s