Above The Paper Chapter Two

Chapter Two

jessica1

Yuri POV

“Tuan.. mari kita masuk.. nona Jung sudah menunggu kita..” dengan itu Sandra membuka pintu ruang seminar megah yang dihiasi berbagai ornament furniture yang menambah keleluasaan, keeleganan dan kenyamanan ruang yang cukup untuk puluhan orang itu.

Jessica berada di depan di samping layar proyektor besar, dengan percaya diri, cerdas dan karismatik menyampaikan Speech-nya tak menyadari bahwa aku menyelinap duduk di salah satu kursi audiensnya menyaksikan istriku itu berbicara begitu fasih dalam kantonis, bahasa orang hongkong yang masih kupelajari saat ini. Peserta rapat begitu antusias mengikuti semua penjelasan Jessica. Banyak peserta yang mengangkat tangannya, mengajukan berbagai pertanyaan yang dijawab begitu lancar tanpa kesulitan apapun oleh Jessica.

Aku mendapat kesempatan untuk mempelajari istriku lebih dekat hari ini. Bagaimana ia bekerja, bagaimana ia berinteraksi dengan orang-orang. Hal pertama yang kulihat adalah senyuman dingin tapi anehnya yang begitu hangat bagiku. Perhatianku selanjutnya berpindah pada pakaian yang istriku kenakan hari ini. Oh Tuhan.. haruskah kukatakan betapa cantik dan seksinya Jessica hari ini? Dress black and white silky yang memeluk tubuhnya erat memperliihatkan lekuk tubuh proporsionalnya. Belum lagi potongan dress itu diatas lutut, sehingga aku bisa melihat kaki dan pahanya yang putih, mulus tanpa cacat. Pengamatanku terhenti saat seseorang memanggil namaku. Kualihkan pandanganku pada sumber suara itu dan akhirnya mataku ini bertatap pandang dengan istriku yang terlihat terhibur dengan tingkahku tadi.

‘Kwon Yuri.. you should behave later..’ rutukku tersenyum tenang berjalan menghampiri istriku yang telah menungguku untuk memperkenalkan diri di hadapan para board member yang menatapku penasaran. Kini aku berdiri di hadapan board member, memberikan perkenalan dan sedikit opini mengenai merger ini.

‘It’s nothing i haven’t done before..’ pikirku menatap para board member dengan penuh percaya diri dan karismatik. Syukurlah semua cepat berakhir. Selanjutnya Jessica menemaniku mengunjungi berbagai department yang ada di Jung Enterprise Branch Hongkong. Aku bertemu dengan berbagai kepala department dan staffnya, termasuk 2 orang usil tadi yang membicarakan betapa kejamnya aku memaksa Nona Jung mereka menikah denganku.

Sekarang kami sedang berada di dalam lift, melanjutkan perjalanan kami menuju department development and research bisnis saat Jessica menggodaku.

“Apa kau menikmati pemandangan yang tadi?” suaranya yang ringan dan menggoda itu membuatku menatapnya heran.

“Apa maksudmu?” apa mungkin Jessica menyadari bahwa aku tadi memperhatikan tubuhnya begitu detail? bagaimana bisa?? semua peserta rapat saja tadi tidak ada yang sadar kok.

“Gwenchana.. kau menunjukan pada para pebisnis Hongkong bahwa pernikahan kita sehat dan berjalan harmonis dengan menunjukan gairah besarmu saat menelanjangi tubuhku tadi..” Jessica masih terlihat tenang dan datar menahan tawanya melihatku mulai salah tingkah tapi tetap berusaha menjaga composure-ku.

“Oh begitu.. oke.. aku akan selalu mengingatnya..” ucapku berusaha terlihat cool meskipun dalam hati aku merasa benar-benar malu dan bodoh. Untung saja perjalanan itu tak berlangsung lama karena kini kami sudah berada di ruangan department yang kusebutkan tadi. Kami berbincang sedikit mengenai progress penelitian dan pengembangan bisnis Jung Enterprise di berbagai bidang sebelum akhirnya Jessica mengingatkanku bahwa jam makan siang telah tiba.

“Yuri.. apa yang kau pikirkan tentang perusahaan ini?” Kami masih berjalan menuju pintu keluar, melanjutkan perjalanan kami untuk makan siang di salah satu restoran favorit Jessica. Aku merasakan sedikit kegugupan Jessica meskipun dari gesture dan nada bicaranya tak seperti itu.

“Kau dan keluargamu menjalankan bisnis ini dengan baik. Setelah melihat semuanya tadi.. membuatku yakin bahwa Jung Enterprise memiliki team work yang solid. Kalau saja peristiwa buruk itu tidak terjadi.. mungkin kalian masih menjadi pesaing utama kami..” wajah Jessica masih lurus datar menatap pintu keluar Jung Enterprise. Kini kami sudah tiba di pintu keluar, memasuki mobil Bentley hitam yang menjemputku tadi. Kukira Chong Anglah yang akan mengantar kami lagi tapi ternyata kini orang lain yang menjadi supir kami.

“Euh Jessica.. apa dia mengerti bahasa Korea?” Aku sedikit berbisik, terlihat seperti mengecup pipi istriku yang membuat supir yang kukira berada di usia 50 tahunnya itu tersenyum penuh arti menatapku.

“Tidak.. ada apa memang?” Jessica mendekati wajahku yang tadi masih mencoba berbisik padanya. Jarak antara bibir kami hanya beberapa centimeter saja. Oh tuhan.. aku bersumpah.. jika saja hanya kami berdua yang ada di mobil ini maka aku bisa langsung mencium bibir manis tipis menggoda itu dengan penuh gairah seperti yang Jessica bilang tadi. Aku adalah seorang pria dengan kebutuhan biologis tinggi lagipula kami sudah sah secara hukum jadi tak ada larangan kan untuk berbuat apapun dengan gadis yang masih intens menatapku dengan tatapan tajam hangatnya yang akan melelehkan siapapun yang melihatnya.

“Jessica.. ada sesuatu yang ingin kutanyakan sejak kemarin sebenarnya.. apa kau tidak merasa sakit hati padaku dan perusahaanku karena kami telah mengambil alih perusahaan ini?” Jessica menatapku begitu dalam lalu seperti tersadar dan terlihat terkejut mengingat lagi apa yang kuucapkan tadi.

“Tidak! Tentu saja tidak. Satu-satunya orang yang membuatku sakit hati dan geram adalah orang yang menyebabkan Jung Enterprise kacau seperti ini..” ekspresi wajahnya berubah menjadi lembut saat ia menatapku yang masih focus mendengarkan ucapannya.

“Kau telah membantu perusahaan keluargaku, pegawai kami, dan harga yang harus kau bayar adalah..” aku menatapnya penuh dengan rasa penasaran sedangkan wajahnya yang indah dan menawan itu kini berubah menjadi sedih.

“..terjebak denganku untuk selamanya dalam pernikahan ini..” Jessica melanjutkan ucapannya tadi dengan sedikit senyuman yang menunjukan permohonan maafnya padaku.

“Ah untuk hal itu.. aku tidak merasa terjebak sama sekali. Bagaimana bisa aku merasa terjebak jika hidup bersama gadis cantik sepertimu?” aku memberikan senyum terbaikku pada wanita yang kini mulai tertawa kecil mengingat sesuatu di otaknya.

“Oh kau benar.. tadi saja kau dengan shameless-nya menelanjangi tubuhku di hadapan para board member.”

“Hey.. aku hanya mencoba mengamati selera fashionmu! Lagipula aku merasa kau mempunyai begitu banyak fans Nona Jung..” kini giliranku yang menggodanya. Tawa itu sedikit meredup, tergantikan dengan senyuman malu di wajah Jessica yang begitu cute bagiku.

“Benarkah? Well aku tetap berusaha menjalin hubungan yang baik dengan mereka. Karena aku percaya bisnis keluargaku ini tumbuh dan berkembang berkat para pekerja yang bekerja sepenuh hati memajukan perusahaan hingga sebesar ini.” Aku merasa bangga dengan wanita yang kini bisa kuakui sebagai istriku ini. Pola pikirnya benar-benar mengagumkan. Tak salah bila aku memilihnya sebagai pasangan hidupku well meskipun kami berada dalam pernikahan ini juga karena keadaan yang membuatnya seperti ini.

“Yuri.. kau melamun.. apa yang sedang kau pikirkan?” sentuhan tangan itu di wajahku membuatku segera terbangun dari dunia hayalku.

“Ah nothing.. mungkin aku terlalu lapar karena tadi pagi aku belum sempat sarapan hehee..” aku berbohong. Tadi pagi aku sudah memakan 3 potong sandwich besar yang kubeli saat menunggu suruhan Jessica menjemputku.

“Benarkah? Oh Tuhan.. maafkan aku ya..” tangan lembut itu kembali mengusap pipiku. Tuhan kumohon.. bisakah kau menghentikan waktu untuk beberapa menit saja? Biarkan aku menikmati sentuhan wanita cantik di hadapanku ini untuk beberapa saat saja.

“Mr. Kang.. tolong percepat mobilnya.. suamiku belum sarapan sejak ia tiba di Hongkong pagi ini..” Jessica berucap dalam bahasa kantonisnya membuat pria yang baru kutahui bernama Kang Liu itu menancap gas mobilnya lebih dalam, mempercepat perjalanan kami.

“Kau bilang apa tadi?” my curiousity sometimes get the best of me.

“Heump.. haruskah aku memberitahumu?” wajah imut yang nakal dan cantik itu membuatku ingin sekali menerjangnya saat ini juga.

“Oh ya.. Mr.Kim bilang bahwa kau akan satu kamar denganku selama kita berada di Hongkong..” gadis yang pintar… kini perhatianku teralihkan dengan ucapannya tadi.

“Mr. Kim.. maksudmu Kim Taeyeon?” Yuri mengkerutkan dahinya, berpikir keras mengapa sahabatnya itu berbuat seperti ini (hahaha okee Yuri atau gw ya yang lebay?) padanya.

“Euheuh.. dia bilang agar pernikahan kita terlihat normal seperti biasanya, ia menyarankan kita untuk tidur dalam satu kamar. Awalnya aku menolak tapi setelah kupikirkan lagi.. ada benarnya juga. Kebetulan sekali kamar yang tersisa di Hyatt juga hanya tersisa satu untuk kita..” Jessica terlihat begitu tenang menghadapi semua ini berbeda denganku yang mulai panic. Satu malam dengan Jessica Jung? Wow aku harus banyak mengingat nama tuhan sepertinya.

“Oh begitu.. okey.. kasurnya double kan?” Yuri menatap wanita di sampingnya itu tak percaya setelah Jessica menggelengkan kepalanya ringan.

“Kita akan tidur satu kasur Mr. Kwon..” Jessica berbisik halus di telingaku yang segera memerah mendengar desahannya yang bisa berujung maut bagiku. Oh tuhan.. tolonglah aku.. siapkan nyawa yang begitu banyak untukku malamini karena aku yakin ini akan menjadi malam yang panjang.

=========Above The Paper==========

Kepalaku membunuhku. Kakiku membunuhku. Tubuhku membunuhku. Taeyeon membunuhku oke aku berlebihan tapi memang benar namja pendek itu sedang mencoba memperpendek umurku dengan melakukan hal ini. Disinilah aku sekarang, berdua bersama Jessica di kamar hotel kami di Hyatt. Aku baru saja selesai mandi kemudian beberapa menit kemudian masuklah Jessica ke kamar mandi, mengambil gilirannya membersihkan tubuh dan relax dengan berbagai fasilitas yang disediakan oleh pihak hotel special untuk kami. Ingatkan aku untuk memotong 50% gaji Taeyeon yang telah memesankanku Royal Sweet Honeymoon Suite malam ini.

Sakit kepalaku bertambah parah sejak kami tiba di Hyatt. Aku meminta beberapa obat penghilang sakit kepada staff hotel yang dengan senang hati mengirimkannya ke kamar kami dengan berbagai bingkisan lain yang pada intinya.. memberiku dan Jessica ucapan selamat atas pernikahan kami. Masih dengan sakit yang sama aku meminum obat itu, mencoba merebahkan kepalaku di bantal empuk yang ada di ruangan romantic yang nyaman ini.

‘Eurgh.. andai saja sakit kepala ini tak datang.. heuh.. mengganggu saja!’ aku mulai merutuk dalam pejaman mataku, mencoba merasakan kerja obat yang masih belum berefek apapun. Rasa dingin sedikit menggelitik tubuhku yang hanya terbalut bathrobe tanpa baju apapun di dalamnya. Padahal sebentar lagi aku dan Jessica akan pergi. Well istriku yang baik hati itu telah memesankan ruangan privat di salah satu restoran favoritnya lagi untuk makan malam kami. Harus kuakui gadis itu memiliki selera yang tinggi. Di samping sakit kepala yang sebenarnya terkadang muncul, aku menikmati makan siang tadi.

“Yul?” ah suara itu sepertinya dari surga. Aku mencoba menghirup aroma vanilla dan lavender yang kini semakin dekat. Aku menghirup aroma segar itu sekali lagi, menutup mataku lebih erat, menenggelamkan kepalaku ke bantal empuk di kamar ini lebih dalam. Surga… sejak kapan surga penuh dengan suara Head dryer?

“Yul..” oh Jessica ternyata yang tadi memanggilku.

“Heumphh?” aku merasakan jari-jari lembut Jessica perlahan mengelus rambutku. Aku mencoba membuka mataku untuk melihat istriku itu menatapku sedikit khawatir.

“Bagaimana keadaanmu? Masih tidak enak?” ucapnya pelan masih mengelus rambutku yang sepertinya mati kesenangan mendapat elusan dari istriku.

“Gwenchana.. oh ya Jessica.. Reservation kita!” dalam sekejap aku terbangun, masih dengan bathrobeku yang menutupi tubuh polosku.

“Yul.. tak apa. Aku sudah membatalkan reservasi itu. Aku sudah memesan room service untuk makan malam kita..” senyum itu.. aku kini semakin terbiasa melihat senyum kecil yang bisa mengubah dunia bagiku. Oh ya aku baru sadar kalau Jessica juga memakai bathrobe putih polos dengan corak emas di pinggirannya, sama sepertiku.

“Wah.. terimakasih..” dengan itu aku kembali merebahkan tubuhku di kasur yang super nyaman ini. Ingatkan aku untuk membelinya saat pulang ke Seoul nanti.

“Tak masalah..” Jessica kemudian duduk di atas kasur, disamping tubuhku yang masih menikmati kenyamanan ini. Untuk beberapa detik kami terdiam, lebih tepatnya aku yang diam menikmati elusan lembut istriku ini.

“Sepertinya sakit sekali ya kepalanya?” Aku membuka mataku perlahan, mencoba duduk masih dengan sakit kepala yang tak tahu kenapa begitu betah menempel padaku hari ini. Jessica terlihat khawatir melihatku seperti ini.

“Ah.. gwenchana.. aku sudah biasa ko.. hehe mungkin dengan tidur sakitnya akan hilang..” aku tertawa garing menatap Jessica yang sepertinya tak mempercayai ucapanku. Oke lupakan! Jessica memang tak percaya dengan omonganku karena pada faktanya aku sudah tertidur dalam perjalanan menuju hotel dan setelah mandi tadi, menunggu Jessica yang mandi begitu lama bagiku, hanya tuhan yang tahu apa yang wanita itu lakukan di kamar mandi seorang diri.

“Kau payah sekali dalam berbohong Yul.. coba sini…” aku akhirnya menuruti perintahnya untuk mendekat, lebih dekat maksudnya. Ia menyimpan kepalaku di pangkuannya, perlahan memijat kepalaku, mengacak-acak tatanan rambutku yang masih basah seksi ini. Boys.. kami malas mengeringkan rambut kami.. kecuali ada orang lain yang mengeringkannya heheheee.

“Aww!!! Apa yang kau lakukan?!!” aku menjerit kesakitan saat tangan kiri Jessica menarik dahiku berlawanan dengan arah jarum jam sedangkan daguku sebaliknya secara bersamaan. Kepalaku rasanya akan remuk. Apa wanita ini sedang mencoba membunuhku juga?

“Tenanglah.. kau berisik sekali.. see.. sudah enakan kan sekarang?” aku masih terkejut dengan aksinya tadi. Tapi istriku ini ada benarnya juga. Rasa pusing dan sakit kepala yang luar biasa tadi perlahan menghilang. Aku hanya menganggukan kepalaku menyetujui ucapannya. Ia kembali memijit kepalaku dengan tangan halusnya.

“Darimana kau belajar seperti yang tadi?” aku berucap masih membenamkan kepalaku di pahanya yang tertutup kain bathrobe tebal yang empuk dan nyaman seperti bantalku yang tadi.

“Ummaku.. sewaktu aku kecil.. jika aku pusing atau sakit kepala.. Umma akan memijatku seperti tadi dan sekarang..” suaranya yang tenang dan lembut tapi tegas itu membuatku terlelap dalam dunia lain. Gatal.. geli… tunggu kenapa aku merasakan hal ini? Aku mencoba menghilangkan rasa gatal di leherku ini dengan menggaruknya perlahan sampai aku tak sadar bahwa aku sudah menyingkapkan bagian kain bathrobe di paha Jessica yang ternyata sama sepertiku, polos tak mengenakan apapun selain underwear saja. Kami berdua terkejut. Dengan bodohnya tanganku masih memegang pahanya yang memang sesuai seperti yang kubayangkan.

“Ahh maafkan aku.. aku tidak sengaja sungguh…” dengan segera aku terbangun membungkuk meminta maaf. Wajahku memerah panas seperti udang rebus kurasa.

“Ani.. Gwencha..” Jessica berusaha menenangkanku saat bel kamar kami berbunyi. Ia berjalan membuka pintu kamar sambil merapikan bathrobenya. Disana kulihat seorang pria dengan seragamnya berdiri di hadapan sebuah cart. Sepertinya ini room service yang akan menggantikan malam makan yang sudah istriku batalkan tadi.

“Ah Maafkan saya Nona Jung.. ini pesanan anda.. silakan lanjutkan kegiatan anda tadi bersama Mr. Kwon..” pria itu tersenyum malu membungkukan sedikit badannya lalu berjalan menjauhi pintu kamar, meninggalkan aku dan Jessica yang menatapnya heran.

“Kurasa aku mengerti apa maksudnya tadi..” Jessica berucap menunjuk tatanan rambutku yang berantakan, belum ditambah dengan bathrobeku dan kasur kami yang terlihat seperti kapal pecah.

=========Above The Paper==========

Yuri POV

“Oke.. Lau Inc. berjalan dengan baik kurasa.. heump.. haruskah aku menyuruh Soo untuk membuat janji dengan CEO mereka?” aku bergumam memakan pancake maduku lagi. Heump.. manis.. manis sekali. Aku harus meminta Kye Hyo, Personal Assistantku, untuk memasukan menu ini ke list sarapanku nanti.

“Tuan Kwon.. suatu kehormatan Anda bisa bermalam di hotel kami lagi untuk kesekian kalinya..” seorang pria, yang kuketahui sebagai senior manager di hotel ini berdiri di hadapanku, mengulaskan senyum 1 juta watt-nya itu membuatku membalasnya juga.

“Ah iya.. istriku yang meminta supaya kami menginap disini..” hahaha bagus Kwon Yuri.. ini akan membuat pernikahanku terlihat semakin nyata di mata public.

“Selamat atas pernikahan anda Tuan Kwon.. maaf kemarin kami tidak secara langsung memberikan ucapan itu. Aku hanya mendengar dari kabar burung yang beredar bahwa anda begitu bersemangat dengan pernikahan ini. Sebagai permintaan maaf kami.. chef kami telah membuatkan minuman khusus yang bisa meningkatkan stamina Anda dan istri. Silakan diminum.. saya pamit terlebih dulu Tuan..” aku terdiam melihat dua gelas jus berisi minuman berwarna hijau seperti jus alpukat itu.

“Apa maksud pria itu?” gumamku mulai meneguk minuman itu. Jika tak sadar bahwa aku sekarang sedang ada di tempat umum, restoran dalam hotel lebih tepatnya, sudah kumuntahkan minuman yang tak layak disebut minuman ini. Racun!! Yaa racun.. ini lebih terasa seperti racun!!!

“Yul.. kau kenapa?” belum sempat aku menjawab, Jessica sudah meminum racun miliknya. Aku ingin tertawa sekeras-kerasnya saat melihat ekspresi aneh plus konyol wajah angelic dan cantik itu.

‘Ternyata malaikat bisa menunjukan wajah konyol seperti tadi juga..’ tawaku dalam hati masih melihat Jessica yang segera menghentikan tegukan itu, memberikan setengah dari jus racun ini padaku yang tadi terpaksa sudah menghabiskan 1 gelas penuh cairan yang katanya berkhasiat ini.

“Eurgh… apa ini?” Jessica bertanya padaku masih dengan wajah asamnya, mencoba menghilangkan rasa aneh, pahit yang ada di minuman itu.

“Minuman khusus dari pihak hotel yang dibuat untuk kita.. katanya bisa meningkatkan stamina..”

“Yul.. apa kau bertanya konten dalam minuman tadi?” Aku menggelengkan kepalaku polos melihat Jessica yang segera menyimpan majalah dan koran yang ia beli tadi di supermarket dekat hotel untuk bekal perjalanan kami pulang ke Korea siang nanti. Jessica hanya tertawa kecil mendengar jawabanku.

“Yul.. apa kau tak merasakan apapun setelah meminum ramuan ini?” tunggu.. aku.. kenapa badanku tiba-tiba merasa hangat seperti ini?

“Aku.. aku..”

Ring ring ring ring..

“Sepertinya smartphone-mu bordering… coba angkat..” Kim Taeyeon.. nama itu muncul di layar teleponku.

“Hallo..”

“Yul.. bagaimana Hongkong? Menyenangkan?” suara si pendek ini terdengar begitu bersemangat, sepertinya sesuatu yang bagus sedang terjadi. Aku beranjak dari kursiku, sedikit menjauh dari Jessica yang sedang meminum jus apple yang kupesankan dengan sarapannya tadi.

“Baik.. kau.. apa maksudmu membuatku sekamar dengan Jessica huh?!!” nadaku terdengar sedikit memaksa dan kesal.

“Hahaha.. santai Yul. Kalian sudah menikah secara resmi dan syah secara hukum, jadi apa salahnya tidur dan tinggal satu kamar? Lagipula seperti kau tidak pernah melakukan hal itu saja hahaha..” tawa bodoh itu terdengar sangat mengganggu bagiku. Ingin rasanya kupotong pita suara si pendek bodoh yang bisa mendapat julukan Top Corporate Lawyer itu.

“Kim Taeyeon..” tawa itu sedikit mereda setelah mendengarku berbicara seperti tadi.

“Oke Yul.. kau tahu pernikahanmu ini bukan pernikahan biasa. Maka dari itu aku sudah merencanakan pesta resepsi di Kangnam Renaissance 3 minggu lagi. Aku sudah menyiapkan janji dengan Thomas Sorth, perancang yang akan membuatkan cincin pernikahan kalian, besok. Oh jangan lupakan Judith Kim yang akan merancang pakaian yang akan kalian kenakan nanti..”

“Kau ingin kupecat sekarang juga huh?” aku sudah geram sekali dengan sahabatku ini.

“Yul kau harusnya berterimakasih padaku dan board member lain yang telah merancang rencana brilliant ini. Mr. Goo begitu bersemangat menyaksikan ciuman pertama kalian di public nanti. Oh ya.. apa kau sudah melakukan hal itu?” dengan ringannya Taeyeon bertanya padaku. Aku hanya terdiam menahan kekesalanku pada namja pendek ini.

“Yul.. jangan bilang bahwa kalian belum melakukan apapun? Bahkan ciuman sekalipun? OMG.. you’re pathetic Kwon. Oke.. apa kalian tidak akur? Apa dia tak mau melayanimu?? Atau karena dia kurang seksi dan tidak memenuhi standardmu??” oke.. cukup.. satu kata lagi.. kurasa aku akan meledak.

“Yah!! Apa maksudmu midget!!! Aku belum pernah mencium atau berciuman dengan Jessica tapi itu tak berarti bahwa kami dalam hubungan buruk. Hubungan kami baik-baik saja. Kami sedang dalam tahap penjajakan, mengenal satu sama lain dengan baik. Dan untuk pertanyaanmu yang terakhir… of course I’m sexually attracted to her, I want kiss her so badly…” Taeyeon terdiam sesaat mendengar ledakanku itu. Tawa kecil menyebalkan itu kembali terdengar.

“Hahaha oke.. kalau begitu kalian harus mulai latihan dari sekarang..”

“Latihan apa maksudmu?”

“Kiss..”dengan itu line telepon terputus. Saat kucek ternyata batre telponku yang sudah habis. Kuputuskan untuk kembali melanjutkan sarapanku yang banyak terganggu pagi ini. Aku memutar direksi tubuhku, berjalan kembali menuju mejaku.

“Jessica..” langkahku terhenti. Mulutku terbuka cukup lebar mengetahui bahwa Jessica dengan wajahnya yang terlihat merah padam telah berdiri di belakangku sejak tadi mendengar semua yang kuucapkan pada Taeyeon.

=========Above The Paper==========

“Oppa.. kita akan kemana sekarang?” Taeyeon membukakan pintu untuk kekasihnya yang masih bingung karna namjanya itu tak memberitahu tujuan mereka selanjutnya setelah makan siang mereka tadi Popin Bone.

“Kita akan mencari gaun untukmu ms. Hwang..” Taeyeon masih menggenggam wanitanya itu berjalan memasuki salah satu butik di pinggir jalanan Gangnam.

“Ayo kita masuk.. ahh aku sudah tidak sabar melihatmu menggunakan gaun gaun indah ini..” Taeyeon terlihat begitu semangat sementara Tiffany hanya mengikuti langkah namjanya itu dengan bingung. Di dalam butik itu mereka disambut langsung oleh sang perancang, Sara Wang, salah satu perancang yang sedang naik daun dengan karya-karyanya yang mulai go international, salah satu perancang yang sedang Tiffany incar untuk menjadi pengisi majalahnya.

“Senang bisa bertemu denganmu secara langsung Ms. Hwang..” Sara menyambut Tiffany dan Taeyeon dengan ramah. Ia menjabat tangan Tiffany lalu Taeyeon yang tersenyum menahan tawanya melihat tingkah Sara seperti itu.

“Oppa.. behave!” Tiffany berbisik halus mencubit lengan Taeyeon yang meringis kecil menerima hukuman dari kekasihnya itu.

“Hahaha.. gwenchana Ms. Hwang.. Taeyeon memang biasa seperti itu..” Sara tertawa kecil melihat Taeyeon yang tersenyum lemah menatap Tiffany.

“Oh.. Anda mengenal pria di sampingku ini?”

“Kekasihmu Fany-ah.. calon suamimu lebih tepatnya..” tegas Taeyeon merengek kecil menatap kekasihnya itu dengan puppy eyesnya.

“Tentu.. dia adalah sahabat penaku saat aku masih kuliah dulu.. kebetulan dia juga adalah pengacara di perusahaan ayahku..” Sara kemudian membawa Taeyeon dan Tiffany ke ruangannya, memperlihatkan mereka koleksi terbaru yang sengaja Sara rancang sesuai permintaan Taeyeon.

“Sara.. gaun ini..” Tiffany tak bisa berkata apapun saat melihat gaun yang sudah dipajang di mannequin di hadapannya.

“Kau suka? Taeyeonlah yang memberi semua detailnya.. aku hanya mengerjakan sketsa dan mulai menjahitnya..” Sara tersenyum manis menatap Taeyeon yang dengan cute menganggukan kepalanya membenarkan ucapan gadis di hadapannya. Sementara Tiffany hanya terdiam.. masih mengamati keindahan di hadapannya dan tentunya fakta bahwa kekasihnya itu tak pernah berhenti mengejutkannya dengan berbagai hadiah yang telah ia berikan sejak kemarin. Mulai dari handphone terbaru, makan malam romantis, makan siang dengan keluarganya dan hari ini.

“Oppa terimakasih..” Tiffany menggenggam tangan Taeyeon erat, menatap kekasihnya yang tersenyum hangat menatapnya penuh cinta. Taeyeon mengelus puncak kepalanya lalu mendorong Tiffany memasuki ruangan kecil di ruang kantor Sara.

“Sekarang cobalah.. aku ingin tahu apa seleraku cocok denganmu..” beberapa menit kemudian Tiffany keluar dengan gaun pink pastel pendek. Di luar gaun itu ada kain sutra tipis yang memberikan kesan kamuflase yang membuat orang berpikir bahwa gaun itu tertutup, anggun dan elegan, padahal seksi dan begitu menggoda.

“Oke amazing… ini bagus sekali..” Taeyeon dan Sara bertepuk tangan melihat Tiffany yang menatap mereka bingung.

“Ini bagus sekali Oppa.. tapi ada apa?? Tak biasanya kau mau melakukan hal ini?” Taeyeon tersenyum malu melihat Sara yang menertawakannya.

“Fany-ah.. seminggu lagi Yul dan Jessica akan mengadakan resepsi pernikahan mereka. Aku akan mengajakmu kesana. Jadi aku ingin memastikan bahwa kau akan tampil tak kalah cantiknya dari Jessica..” Tiffany terdiam mendengar Taeyeon menyebutkan nama Yul dan istrinya. Tak tahu kenapa ia merasakan hal ini lagi.

“Fany-ah..” lamunan itu buyar setelah Taeyeon menggenggam kedua tangannya ringan.

“Maafkan aku tidak memberitahumu sebelumnya.. well aku hanya..”

“Gwenchana Oppa.. aku senang dengan gaun ini.. terimakasih..” senyum seperti bulan sabit itu kini tergambar di wajah Tiffany, mencoba mengelabui isi hatinya yang sebenarnya.

=========Above The Paper==========

Seminggu telah berlalu sejak peristiwa memalukan di Hongkong kemarin. Yuri dan Jessica telah kembali ke kesibukan mereka masing-masing, sedikit melupakan bahwa kini mereka sudah menikah. Jessica masih tinggal bersama keluarganya di Apgujong sedangkan Yuri masih tinggal di Penthouse-nya di salah satu pemukiman elit di Gangnam berbeda dengan keluarganya yang menetap di salah satu villa mereka di Jeju.

Hari ini rencananya Yuri akan bertemu dengan keluarga Jessica yang kebetulan sedang berkumpul di Seoul saat ini. Ia sengaja mempercepat semua rapatnya hari ini, tak sabar bertemu dengan wanita yang sudah satu minggu ini tak ia temui karena kesibukan mereka. Kye Hyo kewalahan mengatur jadwal meeting Yuri hari ini. Tak biasanya bosnya itu meminta durasi meeting mereka dipercepat. Biasanya Yurilah yang selalu memperpanjang durasi meeting mereka. Ia merasa ada sedikit perubahan dengan bosnya itu setelah seminggu lalu mengumumkan pernikahannya dengan putri pesaing utama KJG.

“Hyo.. tolong kosongkan semua jadwalku sore ini.. aku akan menemui istriku. Kalau ada sesuatu yang sangat penting tolong cepat telpon aku atau Taeyeon..” Kye Hyo mengangguk menerima mandat bosnya itu. Yuri segera berjalan meninggalkan ruangannya, berjalan menuju lobi, mengambil kunci mobil yang baru supirnya itu ambil hari ini dari showroom.

“Sudah berapa bulan?” suara itu mengejutkan Nami yang masih menerima telpon. Yuri kini berdiri di hadapannya dengan wajah tegas dan datarnya. Nami segera menutup telpon itu, membungkuk kecil pada Yuri yang mengangguka kepalanya menerima greeting dari resepsionis di kantornya ini.

“Se..se..sela.. selamat sore Tuan Kwon..” dengan wajah gugup Nami menyapa bosnya yang semakin hari semakin tampan, berharap putranya kelak bisa mewarisi ketampanan dan kecerdasan itu dari bosnya.

“Kandunganmu sudah berapa bulan?” Yuri tersenyum kecil menunjuk perut Nami yang terlihat sudah membuncit besar.

“Ah.. 7 bulan Tuan.. tapi tenang saja.. saya hanya akan cuti di bulan ke 9 nanti.. saya tidak akan mengambil cuti terlalu lama.. maafkan saya tuan.. saya akan bekerja dengan baik.. saya tidak aka…” Nami terlihat panic saat Yuri menatapnya heran. Ia takut bosnya itu akan segera memecatnya bila ia mengambil cuti lebih lama. Yuri terkenal tegas pada karyawan-karyawannya, tak perduli bahwa mereka perempuan atau sudah begitu lama bekerja di KJG. Baginya yang terpenting adalah efesiensi dan efektivitas semua sumber daya yang ada di KJG.

“Kau bisa mengambil cuti lebih awal.. dan jangan khawatir.. aku takkan memecatmu..” dengan itu Yuri berjalan menuju pintu luar, memasuki Audi R8 hitamnnya, meninggalkan Nami yang terpaku menatap bosnya heran.

=========Above The Paper==========

Yuri POV

“Bisakah aku bertemu dengan Nona Jung?” gadis bernama Lee Jieun itu, well itulah yang tertulis di nametage-nya, masih sibuk menulis sesuatu di bukunya, tak memperhatikan kehadiranku saat ini.

“Sudah ada janji?” aku harus meminta Jessica untuk mengirim gadis ini training lagi tentang hospitality.

“Belum.. tapi bisakah kau menyampaikan padanya bahwa Kwon Yuri ingin menemuinya..” gadis itu menganggukan kepalanya menulis lagi sesuatu yang membuatku penasaran.

“Kwon.. Yu.. ri??” wow gadis bernama Jieun itu begitu cepat mendongakan kepalanya, menatapku seperti melihat hantu.

“Ya.. Kwon Yuri.. bisakah kau sampaikan pesanku tadi?” gadis bernama Jieun itu segera menyimpan catatannya tadi, dengan cepat menekan beberapa no di telponnya, berbicara begitu cepat.

“Tuan Kwon.. maafkan saya.. saya tidak tahu bahwa Anda..”

“Gwenchana. Lain kali kau tidak boleh seperti itu. Tugasmu adalah melayani orang-orang yang membutuhkan informasi mengenai perusahaan ini. Jika kau acuh dan tak focus seperti tadi, bagaimana klien atau potential customer kita senang dengan pelayanan perusahaan ini. Ingat ini Ms. Lee.. karena nila setitik, rusak susu sebelangga.. kuharap kau mengerti itu..” Jieun menganggukan kepalanya lalu segera mengantarku ke ruangan Jessica. Di perjalanan kami hanya terdiam. Tapi aku lagi-lagi mendengar orang-orang memperbincangkanbetapa baik dan pemurahnya istriku. Di sepanjang jalan pasti ada saja yang sedang membicarakan betapa dermawannya Jessica, bagaimana ia begitu perhatian dengan hampir seluruh pegawainya, baik dari jabatan terendah hingga setinggi miliknya, berbeda sekali denganku yang lebih straight to the point tanpa terlalu memperhatikan bawahanku.

“Kita sudah tiba Mr. Kwon.. saya akan..” aku menghentikan Jieun membuka pintu ruang kerja Jessica. Gadis itu segera pamit mengerti dengan perintahku. Kubuka pintu mahogany besar itu pelan, berharap Jessica tak menyadari kedatanganku.

“What a Goddes..” gumamku melihat pemandangan dihadapanku. Apa kalian penasaran dengan yang kulihat sekarang?

Oke karna aku baik hati.. akan kuceritakan. Dihadapanku berdiri seorang Jessica Jung dengan kacamata kerjanya. Rambut indah golden brownnya itu diikat ponytail cukup tinggi ke belakang layaknya anggota girl group yang saat ini tengah popular di negaraku dan negara asia lainnya. Kemeja putih itu dibiarkan terbuka sedikit membuat aku bisa melihat sedikit belahan dadanya yang putih mulus itu meskipun masih tertutup kalung yang memeluk lehernya indah.

Senyum di wajahku muncul saat Jessica mulai menggigit bolpointnya, terlihat berpikir begitu dalam membaca kertas yang ada di tangannya saat ini. Kemudian ia mengambil kalkulator, menghitung sesuatu hingga ia tak sadar bahwa aku sedang berjalan ke arahnya, mencoba menghilangkan rasa aneh di dadaku ini. Oke.. sepertinya aku harus meminta Kye Hyo untuk menjadwalkan pertemuanku dengan Dokter Song, karena dadaku ini tak tahu kenapa selalu merasakan hal aneh sejak seminggu yang lalu, tepatnya setelah aku resmi menikahi gadis di hadapanku ini.

“Kau terlihat begitu sibuk Nona Jung.. apa aku mengganggumu?” Jessica segera menatap sumber suara yang ia dengar. Senyum kecil di wajahnya yang terlihat lelah itu tetap saja begitu indah di mataku. Untuk beberapa menit kami hanya terdiam, aku mengamatinya bekerja sedangkan Jessica.. gadis itu masih begitu focus dan sibuk menyelesaikan sesuatu yang dikerjakannya dari tadi. Kulihat beberapa tumpukan map yang sudah tertumpuk rapih di sisi kiri mejanya.

“Hai Yul.. maaf kau melihatku seperti ini.. bisakah kau menunggu sebentar?” aku menganggukan kepalaku lalu duduk di depan Jessica yang kembali menulis sesuatu di kertas yang dipegangnya tadi.

‘Sepertinya ini map terakhir yang ia kerjakan.. good girl!’ ucapku dalam hati melihat Jessica yang masih serius menghubungi seseorang di telepon, kembali menulis sesuatu di kertas yang ia pegang tadi.

“Hmm.. aku baru kali ini melihatmu terlihat kewalahan.. ada apa?” Jessica kini menatapku lurus. Ia tersenyum kecil segera merapihkan kertas itu kedalam map biru yang kulihat tadi.

“Liong Jae sedikit mengacaukan laporan keuangan Jung Enterprise di Jepang minggu ini. Aku baru saja mengetahuinya tadi. Untung saja board member yang lain belum mengetahuinya..” Jessica kini menyimpan map-map itu di laci meja kerjanya, tak menyadari kerutan di dahiku mendengar nama asing yang membuat istriku terlihat kesulitan dengan pekerjaan hari ini.

“Liong Jae?” tanyaku pada wanita yang sepertinya mulai menyadari ketidakmengertianku tentang apa yang ia bicarakan tadi.

“Ah.. dia adalah staff department keuangan yang baru. Background pendidikannya teknik informatika, tapi sebelumnya ia bekerja sebagai akuntan. Sudah 1 bulan ini dia mencoba beradaptasi dengan perusahaan. Aku mengerti kalau ia masih belum bisa..”

“Jessica.. kesalahan seperti ini bisa mematikan perusahaan..” ucapku dengan serius, tak memperdulikan keterkejutan Jessica melihatku seperti ini untuk pertama kalinya.

“Tapi dia masih baru.. masih mencoba beradaptasi dengan system perusahaan kami yang cukup sulit..” Jessica kini berdiri menatapku yang masih duduk. Untuk beberapa saat pandangan kami terkunci.

“Siapa kepala department HRD di sini?” tanyaku tegas. Jessica memberikan kertas struktur organigram perusahaan Jung Enterprise yang baru dimana terdapat aku sebagai CEO dan Jessica sebagai wakilku. Kulihat nama Kim Junsuk terpampang sebagai kepala HRD lengkap dengan profile dan contact personnya. Aku mengambil smartphoneku, menulis sesuatu yang kemudian segera kukirimkan ke email Kim Junsuk tadi.Kualihkan pandanganku pada wanita di hadapanku yang menatapku tak percaya dengan apa yang baru saja kulakukan tadi.

“Yul.. dia layak mendapat kesempatan kedua. Aku tak setuju jika kau…” aku hanya terdiam datar dan polos melihat Jessica berbicara.

“Kau pikir apa yang tadi kulakukan?” Jessica menatapku bingung. Sepertinya aku tahu kenapa.. hahaha Jessica Jung.. kau terlalu cepat menilaiku.

“Kau.. meminta Junsuk untuk.. memecat Liong Jae..” ucapnya merasa ragu dengan apa yang telah ia ucapkan tadi. Aku hanya tertawa kecil memberikan smartphoneku kepadanya, membiarkan Jessica membaca email yang kutulis tadi.

“Aku hanya meminta kepala HRD kita untuk memberikan Liong Jae pelatihan ulang. Agar ia bisa lebih paham mengenai system perusahaan ini. We can’t beared a mistake, Jessica.. we strive for perfection.. so even a little part of our company must be competent and trained to become an expert in their field..” itulah hal yang selalu kuterapkan sejak aku membangun KJG hingga menjadi besar seperti sekarang setelah penggabungan dengan perusahaan ayahku juga.

“Maaf.. aku kira..” aku mengambil smartphoneku lalu memasukannya ke jasku lagi, berjalan mengambil trench coat coklat yang senada dengan tas Jessica.

“Sudahlah tak apa.. lebih baik kita berangkat sekarang.. aku tak mau keluargamu menunggu terlalu lama..” Jessica mengangguk dan mulai mengambil trench coat dan tas yang kuberikan padanya, berjalan beriringan denganku dalam posisi tangannya yang tergenggam erat dalam tanganku. Sepanjang jalan semua mata menatap kami atau lebih tepatnya pada tangan kami yang belum terpisahkan dari tadi.

“Selamat sore Nona Jung.. Tuan Kwon..” banyak sekali pegawai Jung Enterprise yang menyapa kami atau lebih tepatnya Jessica yang membalas mereka dengan ramah dan sopan, berbeda denganku yang hanya tersenyum kecil menganggukan kepalaku.

“Mereka menyukaimu.. kau harus lebih memperhatikan pegawai kita Yul..” Ucap Jessica masih berjalan bersamaku keluar dari lift menuju mobilku yang sudah terpakir keren di luar gedung.

“Benarkah?” aku menghentikan langkahku tepat di depan meja resepsionis.

“Selamat sore Tuan dan Nyonya Kwon.. semoga selamat di perjalanan..” Jieun segera berdiri lalu sedikit membungkukkan badannya, terlihat gugup menatapku.

“Kurasa kau benar..” kutarik kembali Jessica untuk berjalan di sampingku.

“Aneh.. padahal tadi pagi dia tak seperti itu..” Jessica bergumam membuatku tersenyum kecil. Kubukakan pintu mobilku, menunggu Jessica masuk lalu aku mulai masuk dan duduk di kursiku.

“Selera mobilmu bagus..” Jessica berucap sambil merapikan roknya, menyimpan tas dan trench coat di pangkuannya.

“Tentu.. tapi ini belum seberapa…” aku tersenyum sedikit sombong, mulai memutarkan audio player agar perjalanan kami tidak membosankan.

“Oh I see.. selain byun.. kau juga sedikit sombong kurasa..” Jessica tersenyum begitu manis menggodaku. Aku terdiam sejenak mendengar panggilan yang ia berikan tadi. Byun?? Heol!! Siapa pria di muka bumi ini yang tidak Byun?? Normalkan untuk pria dewasa mapan sepertiku byun seperti Jessica bilang? Ckckck.. Jessica Jung.. kau juga akan merasakannya nanti hahaha oke lupakan.

“Terima kasih Nona Jung.. kurasa kau sangat beruntung memilikiku sebagai suamimu..” senyumku penuh kearoganan membuat Jessica tertawa. Aku hanya tersenyum kecil melihat tawa bahagia itu sebelum aku kembali focus mengemudikan mobil ini menuju tujuannya.

“I am Yul.. I am.. I’m indeed lucky to have you as my husband..” tawa itu mereda, tergantikan dengan pandangan lembut dan hangat yang membuat senyum entah sejak kapan muncul di wajahku.

“Oh ya.. kita mampir sebentar ke restoran favoritku. Ada sedikit bingkisan untuk keluargamu. Aku merasa tidak enak jika bertemu mereka tanpa membawa apapun.” Oke moment tadi memang indah tapi begitu aneh bagiku. Perhatian kami teralihkan dengan berbagai obrolan berbau bisnis. Aku senang mengetahui bahwa saham Jung Enterprise perlahan naik setelah sebelumnya merosot tajam di Kospi beberapa waktu yang lalu. Bisa kulihat bahwa bisnis adalah passion Jessica, sama sepertiku.

“Hai Yul.. kau semakin sehat saja sepertinya setelah menikah dengan Nona Jung..” sahabatku, Adrian Lim, salah satu chef terbaik yang mendapatkan sertifikat Michellin Star untuk restorannya yang ada di Seoul dan Jepang, menyambutku dengan sindiran khasnya seperti biasa. Ia adalah teman satu klub anggar dulu saat kami kuliah di Harvard. Dia memilih untuk mengejar mimpinya sebagai cheft saat kami lulus dari fakultas bisnis management beberapa tahun yang lalu. Banyak pihak yang menyayangkan keputusan salah satu pewaris perusahaan yang banyak bergerak di industry manufaktur itu. Tapi kurasa keputusan Adrian sudah tepat karena sekarangpun ia telah sukses mencatatkan dirinya sebagai chef kelas atas di kelas dunia bersama Gordon Ramsey dan chef-chef lainnya. Oke cukup bercerita tentang sejarah sahabatku.

“Hallo Nona Jung.. senang bertemu denganmu secara langsung..” aku menatap Adrian tajam saat sahabatku yang kurang ajar itu mengecup salah satu tangan Jessica yang tersenyum malu, tersipu dengan pesona charming Adrian yang tak berubah sejak dulu.

“Nyonya Kwon.. Kwon Jessica.. itulah namanya Adrian..” ucapku sambil memutuskan koneksi tangan mereka.

“Hahaha aku tahu Yul.. kau masih posesif saja.. baiklah.. ayo masuk.. aku akan menyiapkan pesananmu..” aku mengangguk menggenggam tangan Jessica memasuki restoran yang didekorasi begitu nyaman ini tak memperdulikan tatapan jahil Adrian padaku. Adrian membawa kami ke ruangan yang cukup eksklusif, menyediakan kami berbagai minuman ringan dan kudapan lezat yang menjadi daya tarik restoran ini.

“Apa kau selalu diperlakukan seistimewa ini di setiap tempat yang kau kunjungi?” Jessica masih menikmati cheese cake blueberry di hadapannya sementara aku sudah menyantap kembali kudapan ringan yang Adrian sediakan.

“Mostly.. but I get accostumed it already..” jawabku ringan menghabiskan cake di hadapanku dalam satu suap. Jessica tertawa kecil melihat hal itu.

‘Apa dia baru pertama kali melihat orang makan?’ gumamku dalam hati tak menyadari bahwa kini jari telunjuk Jessica mengelap krim keju yang ada di sudut bibirku.

“Makanmu belepotan..” senyum manis itu kembali menghiasi wajah cantik wanita yang bisa dengan bangga kukenalkan sebagai istriku pada dunia.

“Daniel.. kemarilah!!” seorang wanita di usia 40 tahunnya mendatangi meja kami, terlihat begitu mentereng dengan segala perhiasan yang terpasang di tubuhnya.

“Ada apa sayang.. kau berisik sekali.. kita bisa mengganggu orang lain..” pria yang kusangka sebagai suami wanita yang kini sudah berdiri di sampingku dan Jessica itu berjalan menghampiri meja kami yang ternyata terletak cukup dekat dengan milik mereka.

“Senang sekali bisa bertemu dengan kalian secara langsung.. kalian terlihat lebih serasi dan lovely di kehidupan nyata.. ah pasangan muda yang harmonis.. aku sering membaca berita tentang kalian di majalah-majalah..” wanita itu menatapku dan Jessica dengan wajah dreamy-nya.

“Terimakasih Nyonya..” Jessica berdiri menyodorkan tangannya pada wanita yang dengan senang hati mengenalkan dirinya.

“Victoria Song.. dan ini suamiku Daniel Choi..” Choi.. tunggu.. jangan bilang bahwa pria ini adalah..

“Senang bisa bertemu langsung denganmu Mr. Kwon.. aku berharap kita bisa bekerja sama di masa depan..” dengan gagah presdir Hyundai Korea itu menyalamiku dan Jessica.

“Sayang.. kita harus mengundang mereka untuk makan malam di lain waktu.. “ Victoria masih menatapku dan Jessica penuh dengan kekaguman.

“Tentu.. aku akan menghubungimu nanti.. sekarang kami pamit terlebih dulu.. putraku sudah menunggu kami di rumah..” dengan bodoh aku hanya menganggukan kepalaku, tak sadar bahwa Victoria dan Daniel menjabat tanganku dan Jessica bergantian.

“Kau kenapa Yul?” Jessica tertawa menggodaku lagi.

“Ani.. ahh kemana Adrian ini.. lama sekali menyiapkan pesananku..” aku mencoba mengalihkan percakapan kami dengan memakan lagi cake yang tersisa tadi. 15 menit kami hening menikmati makanan dan suasana ini.

“Yul maafkan aku.. hehehee ini pesananmu..” Adrian kembali dengan kotak yang cukup besar dan kantung kertas sedang di kedua tanganya. Aku mengambil kotak itu, mengacuhkan kantung kertas yang dipegang Adrian tadi. Aku dan Jessica beranjak dari kursi kami, bersiap pergi saat Adrian membisikan sesuatu padaku.

“Makanlah ini nanti Yul.. kupesankan ini khusus dari Pamanku di Shenzhen.. kau akan semakin kuat dan tahan dalam olahraga malammu nanti bersama istrimu.” dengan senyum nakalnya Adrian memberikan kantung kertas itu, tertawa kecil melihat wajahku yang mulai memerah padam sementara Jessica.. istriku ini hanya tersenyum tak mengerti dengan apa yang kami bicarakan.

==========================================================================

=====================================

sore..

gw update cepet hari ini atas request bebs gw si Vanni ^_^

oke.. ini total beda bgt dari gaya nulis gw selama ini… jadi gw mohon kalian maklum ya hehehe

untuk SECRET WALTZ gw usahakan update minggu ini tapi gtw kpn soalnya buat ff itu gw harus mikir keras brainstormingnya hehhee

NO COMMENT NO UPDATE

oke byeee ^_^

Iklan

244 pemikiran pada “Above The Paper Chapter Two

  1. Anyeong …
    Gw silent reader yg bru taubat thor ..
    Maaaf yah ..
    Maaf juga soalnya gw cuma coment di FF ini …
    Skli lagi maaf yah thor …

  2. Suka bagian waktu sica bilang kata ‘suamiku’ kyaa.. Ngakui jg klo yul suaminya, biasanya klo d ff laen susah banget blang kata suamiku. Tapi tetep YulTi no.1

  3. Wahh yul udah mkin kliatan sukany, tpi sicany msih bysa aja.. ksih sdut pndang dri sicany dong… msih smar bgt prasaan sicany, wlaupun diany baik dan prhatian k yul..
    Ntuh pany bneran msih suka sma yul hhaaa…
    Sorry gue bru mmpir ris, hbis couple lu slingkuhan mulu sih.. sorry y..

  4. gapapa kok ka beda gaya nulisnya. yang ini lebih ada bau2 komedinya kan hahaha
    sica udh suka sm yuri ya? dan juga sebaliknya??
    btw, keliatannya fany ada something2 nih tentang yulsic. hmmmmm jgn bilang ………….

  5. jessica tumben jd imut wkak. ada beberapa kalimat yg alay tp bikin ngakak lah keren eheh kapan nih konfliknya wkwk demen ribut2 nih gw. pasti ntr ada hubungannya sama fany yaa hayoo… sotau bat gw wkaka
    ok ditunggu lanjutannya~

  6. aaaaaarrrrgggghhhhhh
    omg omg omg Yulsic gw so sweeeeeeeetttttttt.. ashdjgadksagagkagasgjdka
    hahahahaaaaa kece kece kece
    walaupun pernikahan karena untuk menyelamatkan perusahaan tp tetep dong ga membunuh kemungkinan klo pernikahan mrk akan lenggeng iya kan ?? iya kan??? hahahaa maksaaaa
    gw lanjutttt yaaaaaaaaa

  7. waduh waduh nih yulsic so sweet bngt sih
    yul mulai trsepona nih sm istrinya hehe
    nona jung godain yul trus, kn si yul mudh trgoda tuh apalg kl yg ngegodain cewek yg sexy
    taeng emng bs bikn fanny seneng ya, cinta mati nih kyknya si taeng, tp fanny kyk msh ragu gitu
    wkwkwk di mkn aja tuh mknan dr adrian, sp tau bs brguna ntr

  8. Mkin seru ja ni crita,
    kyaknya yg mmbangkitkn byunyul tu sica deh soalnya sica slalu mnggoda yul tu nnti mlh yul gk bsa mngendlikn diri.

  9. haha konyol itu saat yul ketangkep sama istrinya sendiri lagi merhatiin body jessica…
    aduuuhhh yulsic lovely banget di chap ini.
    kenapa tiff selalu melamun kalau tae bahas yulsic apa tiff termasuk mantan nya yul ?
    pastiii yul tegang mau ketemu keluarga jung kkkkk

  10. Ping balik: LIST FF ROCKSMITH27 ^_^ | ANOTHER FORM Of FANFICT

  11. Woahh. Hahahha delulu tingkat klimaks nih kalo gini 😀 boleh sedikit untuk berlebihan? I really loved it… Kkkk yeah moment mereka dan apapun yg menjadi pembicaraan mereka itu point plus yg ngejadiin ini ff semakin sempurna (y) good jod thor.. Well tifanny, something a wrong terjadi dimasa lalu .. Kurasa 😀 haha

  12. keplayboyan yul belum teruji nih. hahahah nikah sama sica tp blm bisa ngapa2in. 😀 tapi suka sama sikapnya sica. Yul klo lagi jatuh cinta banyak salting ya. hihihi

  13. awawawwaw makin manis aja yul ma sica..berasa real aja,n bukan krna nikah bisnis doang,,,wah kyak nya prasaan mulai bermain bnyak d yul ni…nunggu sica aja nih,,next fighting thor,,,suka nih ma epep ni xD

  14. lagi ngebayangin muka yul waktu ngliat sica presentasi.. hihihi
    di sini yul lugu bgt sih..
    anyeong thor,, i’m new reader yg suka bgt sama ff ini

  15. ByunYul!!! Paraaaahhh hahahaa
    Tapi sica bener” nikmatin saat” dengan yuriii huaaa yulsic sweeett

    Aaa taeng bener” berjuang keras nih buat yulsic. Hehhehe mak comblang yg baik. Hmmm mau krmah sica yaaa

  16. yulsic so sweet….seneng lihat mreka malu” kucing alias mau pdhal , gwe hrp mreka langgeng selamanya….
    tp yg gwe msh tandatanya neh knpa hrus ada COUPLE SELINGKUHAN ,????? gwe gk phm maksdnya, , ,apa dibalik itu?????

  17. sumpah, mereka itu ngegemesin bngt yah ! gw nikmatin alurnya bngt ! g sabar liat mereka jd couple bneran deh !
    itu daniel ngasih something buat aktifitas mlm ?????
    kira2 terjadi g yah ? he he
    ok, gw liat d next chap

  18. butuh dokter plieeeeesseee… gue bisa kena debaetes akut nih baca ff yg kelrwat manis ky gini 😀 okeh… gue curiga fany ad prasaan sm yull 🙂 #benarkah?????

  19. Yulsic mkin sweet …..
    ciee yul bunga bunga cinta bermekaran … gk ush k dokter yul oppa ckup k htinya sica unni aja loll

    Hemmm ttp y yul oppa pervert wkwk

  20. waaaah,gw seneng banget ma ni chap,,full ma kesweetan yulsic!! 😀

    sica pinter banget ngegodain seobang nya,,ampe d sini yuri salting mulu kalo lagi b’2an!! ahahaahhaaa

    taeng pinter banget bisa bikin yulsic sekamar,,cie..cie..seobang marah ma tae,,padahal die suka tu sekamar ma sica! Wah,good job taeng!

    Oksip thor,gw lanjut ye!

  21. Aaa kapan nc nya ??? #plak
    habis dari tadi nunggu dan tak dapat dapat. Senangnya liat yulsic bisa akur gitu. Kirain tadi yuri bakal menyiksa njes kayak di ff yang lain yang alurnya begini :v untung engak

  22. Gemes bgt ya tingkah nya yulsic,malu2 gmn gitu ya,kapan nih mereka melakukan malam pertama nya,wkwkwkw.tiffany kyknya ada sesuatu dg yul ya?

  23. Karis omg.. Karis rasanya gw pgen peluk kecup nabok lo dah .. Ini part gemesin sekaleh, yulsic ya Allah gemes bacanya.. Jatuh hati dah sama ff ini.. Gilaa pokoknya keren alurnya, itu tiffany ada apa y ?,dia gk sungguhan cinta sama tae ? Ato jgn2 dia suka yuri ??

    Btw yuri konyol bngt dah . sica juga gtu sekseh2 unyu gmna gtu..

  24. UWWAHH DEABAKK
    kekekekkee gw senyum2 gj wktu adegan yul ma sica d hotel wkwk s yul aduhh hahaha sweet bgt sih walupun masih malu2 gtu hahaha
    w butuh bgt nih yulsic sweet moment nyaa wkwk
    manttaap!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s