SECRET WALTZ Chapter 3 part 1

tumblr_mwfap0REw81swqx1fo2_500

Seorang wanita di usia 40-annya menatap kembali putrinya yang terlihat  begitu tenang dan nyaman dalam tidurnya. Ia mengelus salah satu telapak tangan putrinya yang masih terlihat cantik nan rupawan meski dalam balutan gaun rumah sakit sejak beberapa hari yang lalu. Air mata kembali menetes dari kedua mata sang ibu yang merasa pedih hatinya melihat putrinya yang  begitu ia banggakan bisa berada dalam kondisi seperti sekarang.

“Mengapa kau bisa seperti ini sayang? Apa terjadi sesuatu?” sang ibu mengelus pipi putrinya yang masih lembut tapi terlihat begitu pucat dengan selang oksigen yang ada di mulutnya.

“Kahi..” seorang pria yang lebih tua dari wanita itu berjalan mendekatinya.

“Henry… putri kita..” wanita bernama Kahi tadi beranjak dari kursinya lalu memeluk sang suami yang terlihat begitu lelah baik secara batin dan fisik.

“Aku tahu.. kita harus bersabar.. semuanya pasti terjadi karena sesuatu.. aku sudah meminta tolong Joon untuk menyelidiki ini semua. Tenanglah.. aku yakin putri kita kuat.. ia akan bertahan.. ia akan kembali bersama kita..” Pria bernama Henry itu mempererat pelukannya, mencoba menenangkan sang istri yang terlihat begitu sedih dan kaget dengan mimpi buruk yang sekarang menimpa keluarganya.

Putrinya.. putri semata wayangnya yang cemerlang dalam berbagai bidang, cantik, cerdas, sopan, beretika, dan memiliki insting yang sama tajam dengannya dalam dunia bisnis kini terbaring tak berdaya di salah satu kamar VVIP rumah sakit pribadi miliknya. Ia tak pernah menyangka bahwa makan malam dua minsggu yang lalu di Milan adalah pertemuan terakhirnya dengan sang putri yang sedang melaksanakan tugasnya sebagai managing director di salah satu perusahaan fashionnya yang sedang melakukan ekspansi di tanah eropa.

“Sayang.. sekarang kau makan dulu ya.. aku sudah membawakan sandwich favoritmu..” Kahi masih terisak di bahu sang suami yang perlahan juga ikut menangis dalam diam melihat putri mereka dalam kondisi seperti sekarang.

“Aku tidak lapar..” Henry menggelengkan kepalanya menerima jawaban istrinya itu. Ia menggenggam tangan Kahi lalu membawa istrinya itu untuk duduk di salah satu sofa kamar rawat putrinya yang terbilang cukup luas. Ia mengambil lunch box yang ia bawa tadi, mulai menyuapi sang istri yang masih menutup mulutnya.

“Sayang kumohon.. demi putri kita.. makanlah. Kau sudah 2 hari ini tak memakan apapun kecuali minum air mineral. Apa kau mau putri kita sedih karna melihat ibunya sakit? Apa kau pikir aku bisa makan enak melihat putri kita terbaring mencoba bertahan hidup setelah kecelakaan mengerikan kemarin?  Kumohon…” Henry duduk sedikit berlutut di samping istrinya yang kembali terisak kecil menahan kesedihannya. Senyum sedikit tergambar di wajah Henry saat melihat istrinya perlahan mulai menyantap makan siang yang ia bawa. Sesekali ia kembali memandang putrinya yang masih terlihat begitu cantik baginya meskipun terhalang dengan berbagai alat medis yang menopang kehidupan putrinya itu.

“Kau harus bangun sayang.. harus.. kami membutuhkanmu..” Kata-kata itu yang selalu ada di hati Henry sejak beberapa hari ini. Jumat pagi minggu lalu.. adalah hari yang takkan pernah ia lupakan karna pada hari itu.. mimpi buruknya dimulai

FLASHBACK

“Sayang.. apa kau sudah menghubungi Min Joong?” Henry masih sibuk membaca laporan keuangan yang baru ia terima kemarin dari Accounting Director-nya.

“Belum tapi Min Joong sudah menelponku kemarin bahwa ia dan Heechul akan tiba disini nanti siang.. ada apa memangnya?” sang istri masih sibuk menyiapkan sarapan untuk Henry yang duduk di meja makan mereka yang menghadap laut Jeju yang indah. Henry menyimpan tabletnya sesaat, memandangi lautan biru yang terhampar luas di hadapannya. Senyum tiba-tiba terulas di wajah tampannya mengingat kembali masa kecil putrinya yang begitu menyukai laut.

“Mengapa kau tersenyum seperti itu?” Henry kini menatap istrinya, membuka mulutnya menerima suapan sandwich buatan istrinya yang sangat lezat.

“Aku teringat pada putri kita… kau ingat kan bahwa laut adalah favoritnya?” sang istri terdiam lalu menggagukan kepalanya, tersenyum mengingat kembali betapa imut dan lucu putrinya waktu dulu. Rasa rindu itu kini bertambah.. membuat Kahi, sang istri mendesah pelan.

“Tenang saja.. 3 hari lagi putri kita akan pulang. Dia pasti akan membawa kabar baik untuk kita..” Henry tersenyum mengecup pipi istrinya yang mengangguk pelan, merasa lebih baik setelah menerima kecupan yang selalu memberikan ketenangan baginya.

Tring.. tring..tring.. tring

“Sayang.. angkat dulu.. kau masih bisa memelukku nanti..” Kahi sedikit mendorong suaminya yang masih mendekapnya begitu erat. Dengan terpaksa Henry melepas pelukan itu, mengambil smartphone di meja lalu mulai menerima panggilan itu. Wajah tenang Henry seketika berubah menjadi pucat pasi setelah beberapa detik menerima panggilan itu. Kahi yang melihat ekspresi suaminya itu tak tahu kenapa merasa sesuatu hal yang buruk telah terjadi. Henry bangkit dari kursinya lalu berjalan menjauhi Kahi, masih berbicara dengan nada yang sedikit panic membuat istrinya penasaran.

“Sayang.. kita harus berangkat ke Milan sekarang juga..” wajah Henry terlihat sembab, sepertinya suaminya baru menangis. Kahi yang tak tahu apapun menatap suaminya itu bingung.

“Milan.. bukankah siang ini kita akan..” air mata kembali turun dari kedua mata Henry, membuat Kahi semakin takut.

“Sayang.. ada apa?” Kahi membelai pipi suaminya itu, mencoba menghapus air mata di wajah indah suaminya. Henry tak bisa menahan tangisnya, ia menggenggam kedua tangan istrinya, menatap istrinya begitu dalam.

“Putri kita kecelakaan.. dia.. dalam keadaan kritis..”

END OF FLASHBACK

“Kau akan sembuh..” air mata itu kembali membasahi wajah tampan Henry yang masih kembali mendekap Kahi dalam pelukannya.

 —————————————————————————————————————————–

“Meskipun debut perdanamu sebagai Lady Kwon kemarin cukup sukses… kau tetap harus belajar! Besok kau dan Shinye Noona akan memulai pelajaran baru..” Yoonan berbicara pada calon istrinya yang masih serius menyantap sarapan mewah mereka.

“Yah!!! Jessica Kwon!!! Apa kau mendengarku??” Yoonan cukup kesal karena calon istrinya seperti tak mendengarnya berbicara. Ia mengambil garpu dan sendok yang Jessica masih gunakan untuk menyuap hidangan lezat sarapan mewah mereka pagi ini. Jessica menatap calon suaminya itu dengan tatapan sedih dan bingung. Ia begitu lapar pagi ini, tak tahu kenapa, mungkin karena kemarin malam ia tak makan apapun selain minuman dengan rasa yang sangat tidak enak baginya tapi begitu banyak diminum oleh tamu yang datang pada acara pertunangannya.

         Mengingat acara pertunangannya kemarin… membuat Jessica sedih kembali. Setelah Yoonan meresmikan pertunangan mereka kemarin, pria menyebalkan itu selalu menempel dengannya, menghujani ciuman-ciuman menjijikan yang membuatnya sangat terganggu apalagi jika ia melihat pangerannya terlihat sedikit berbeda saat Yoonan bermesraan dengannya. Ia tak tahu mengapa pangerannya itu, yang baru saja ia ketahui sebagai sahabat Yoonan, Kim Taeyeon, terlihat terkejut dan sedih saat mengetahui bahwa ia adalah tunangan sahabatnya.

“Mulai malam  ini kau tidur bersamaku..”dengan wajah tegas, Yoonan menatap Jessica yang terdiam kaget mendengarnya. Dengan segera Jessica melepas genggaman tangan calon suaminya yang masih cool dengan wajahnya yang tegas sekaligus… tampan.

“Tidak mau!!.. kita belum resmi menikah! Jadi kau belum boleh menyentuhku!” Yoonan tersenyum kecil melihat reaksi gadis di sampingnya. Mereka duduk di meja makan yang cukup besar makanya Yoonan menyuruh Jessica duduk di sampingnya. Mendengar jawaban Jessica yang seperti tadi, Yoonan malah mengeratkan genggaman tangannya di Jessica. Ia mendekatkan wajahnya dengan calon istrinya yang masih menatapnya tajam tapi lugu, salah satu hal yang membuat Jessica cukup menarik dimatanya.

“Apa kau siap mengembalikan 20 jutaku?” dengan nada yang tak mengancam Yoonan berbisik  lalu mengecup lembut telinga Jessica yang berigidik menerima sentuhan pria kurang ajar yang berstatus sebagai calon suaminya itu, mimpi buruknya. Melihat reaksi calon istrinya yang seperti itu membuat adrenalin Yoonan meningkat. Ia menarik Jessica untuk duduk di pahanya, menarik tubuh Jessica beradu dengan miliknya, mencium bibir merah muda calon istrinya yang semakin terlihat cantik setelah mendapat pelatihan dari Shinye beberapa bulan yang lalu hingga sekarang.

Jessica berusaha melepaskan diri dari dekapan Yoonan yang mulai ganas menciumnya, memasukan lidahnya, mengeksplor bagian dalam mulutnya, mencoba membuatnya menyerah dengan ciuman panas itu. Yoonan semakin agresif mencumbu Jessica yang mencoba menolak dirinya dengan tak membalas ciumannya itu. Ia mulai menggerak-gerakan pahanya dengan Jessica, membuat mr.p-nya menyentuh miss v Jessica yang mulai merasakan sesuatu aneh dalam dirinya. Perlahan Yoonan menyingkap rok setengah lutut Jessica yang mencoba menepis tangan jahil calon suaminya itu.

“Yoon..hmmpph…” Yoonan kini memegang kedua tangan Jessica, menguncinya dengan serbet yang ada di meja. Jessica semakin merasa aneh saat Yoonan berhasil menyingkap roknya, mengelus kedua pahanya perlahan.. bergantian. Tubuhnya bergetar bergelinjang ketika calon suaminya itu  mulai mengecup lehernya, menghujani leher mulusnya itu dengan gigitan-gigitan kecil yang pastinya akan meninggalkan bekas.

“Kau akan menikmatinya.. tenanglah.. and let me do the rest..” dengan suaranya yang berat Yoonan berbicara lalu mulai membuka satu persatu kancing blouse putih Jessica,membuat matanya bersinar melihat pemandangan di hadapannya.

—————————————————————————————————————————–

“Sayang.. mengapa kau tidak memakan sarapanmu?” Min Joong berhenti menyantap sarapannya.. menatap putranya yang terlihat berbeda hari ini tapi masih rapih, tampan, dan berkelas seperti biasanya.

“Aku sudah makan french toast paman Sol saat lari pagi tadi Umma.. susu ini sudah cukup bagiku..” Taeyeon kemudian meminum susu murni di hadapannya hingga tetes terakhir membuat ibunya itu tersenyum padanya.

“Baiklah.. tapi jika kau masih lapar.. Umma bisa meminta bibi Hong menyiapkannya untuk kau bekal ke kantor nanti..” Taeyeon menganggukan kepalanya menerima perhatian ibunya ysng kembali menyantap sarapannya.

“Tidak usah Umma.. aku ada janji makan siang dengan Yoonan nanti..”

“Umma.. apa yang kau rasakan dulu saat bertemu dengan Appa?” Min Joong menatap putranya heran lalu tersenyum penuh arti pada Taeyeon yang masih serius menunggu jawabannya.

“Apa kau tertarik dengan seorang gadis Taeyeon-ah?” putranya itu segera menundukan kepalanya, perlahan menggelengkan kepala lalu kembali serius menatapnya.

“Ani.. aku hanya penasaran.. kemarin malam Yoonan telah resmi bertunangan. Kau tahu anak itu kan Umma? Dia adalah tipe pria yang tak mau berkomitmen.. sering sekali memainkan wanita, menganggap cinta itu kebohongan..”

“Kwon Yoonan?? Anak itu sudah bertunangan? Syukurlah..” Senyum itu terukir kembali di wajah Min Joong yang semakin lahap memakan salad buahnya sementara putranya hanya mengangguk dengan senyuman kecil.

“Aku berkata seperti ini bukan bermaksud untuk menjelek-jelekannya Umma. Aku bahagia kini ia sudah bertunangan, memecahkan anggapan kebanyakan orang tentang dirinya. Nah maka dari itu Umma.. aku ingin tahu bagaimana dulu ceritamu dengan Appa.. bagaimana kau bisa yakin bahwa Appa adalah satu-satunya untukmu?” Min Joong mengangguk-anggukan kepalanya, mulai mengerti maksud pembicaraan putranya yang terlihat begitu tampan dan cute walaupun terlihat kekar dengan otot-otot di tubuhnya.

“Well.. semua orang pasti merasakan hal yang berbeda saat ia mengetahui bahwa orang di hadapannya itu adalah pasangan hidupnya. Untuk kasus Umma.. bisa dibilang dulu Umma hanya gadis kutu buku biasa yang tak mendapat banyak perhatian dari siapapun. Suatu ketika sebuah bola tenis dengan keras memukul kepala Umma yang saat itu sedang berjalan melewati lapang tenis yang dipenuhi gadis-gadis hingga kacamata Umma pecah. Kau tahu siapa pelakunya? Ayahmu, seorang idola kampus yang hampir sama sepertimu, ramah, lembut dan tak memilih-milih dalam bergaul…” Min Jong tersenyum menatap putranya yang memang mirip sekali dengan suaminya yang begitu ia cintai.

“Saat pertama kali melihat ayahmu, Umma tak merasakan apapun kecuali pusing, benci serta kesal luar biasa. Mungkin karena merasa bersalah dan ingin bertanggungjawab.. ayahmu sejak hari itu selalu memperhatikan Umma. Aku merasa risih karena fans-fans gila ayahmu itu selalu menerorku agar aku menjauhi Appa-mu. Dan dengan gilanya.. Appamu mengaku pada seisi kampus bahwa Umma adalah calon istrinya… dari situlah kami mulai dekat.. menjadi kekasih betulan.. menikah hingga akhirnya lahirlah kau dan adikmu…” Min Joong terkejut dengan apa yang telah ia ucapkan. Kesedihan itu masih bisa ia rasakan hingga saat ini. Taeyeon yang mengerti kondisi ibunya segera menggenggam tangan Min Joong, membuat wanita itu tersenyum kecil, mencoba menenangkan putranya bahwa ia baik-baik saja.

“Umma maafkan aku.. karna aku kau jadi mengingat..” Air mata itu perlahan turun dari mata Min Joong yang segera menggelengkan kepalanya.

“Ani.. gwenchana.. Umma hanya berharap semoga adikmu bahagia dimanapun ia berada meskipun rindu ini.. tak pernah padam..”

—————————————————————————————————————————–

Seorang pria masih sibuk mereview laporan-laporan yang ada di Ipad-nya sambil menikmati kopi dingin di tangannya. Alunan music yang mendayu-dayu membuat tubuhnya relaks, kursi yang nyaman membuat dirinya mengantuk. Ingin sekali rasanya ia memejamkan matanya sebentar, mengosongkan pikirannya. Untuk beberapa menit ia terdiam, menyimpan tablet dan minumannya ke meja, menyandarkan dirinya di sofa sambil menutup kedua matanya, menghirup aroma terapi dari lilin-lilin yang menghiasi mejanya begitu indah.

“Sepertinya kau bosan menungguku sampai tertidur seperti ini..” suara orang yang ia tunggu itu membangunkan kesadarannya, belum dengan matanya.

“Yah Kim Taeyeon.. bangunlah! Apa kau hanya akan tertidur di hadapan wanita cantik seperti ini huh?” perlahan matanya mulai terbuka. Ia bisa melihat seorang gadis dengan gayanya yang anggun, simple dan elegan berdiri di hadapannya. Senyum mulai merekah di wajah gadis itu saat kedua mata mereka bertemu.

“Jessica-shi?” Taeyeon segera membetulkan posisi duduknya, tersenyum kecil lalu merapikan kemeja dan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Hahaa… santai Tae.. Jessica bukan ibumu sehingga kau harus seperti itu..” Yoonan tertawa kecil sambil menarik kursi di hadapan Taeyeon untuk calon istrinya lalu duduk di kursi sebelah Jessica yang masih tersenyum kecil memperhatikan pangerannya.

“Senang bertemu denganmu lagi..” Taeyeon tersenyum sambil menganggukan kepalanya menatap Jessica yang membalasnya dengan senyuman yang terlihat sedikit sedih.

“Kau akan sering bertemu dengannya mulai sekarang Tae karena dia akan segera menjadi istriku..” Yoonan mengelus tangan Jessica lalu menciumnya cukup lama. Rasa sakit itu tak tahu kenapa muncul lagi di dada Taeyeon saat ia melihat kini Yoonan mengecup pinggir bibir Jessica yang masih menatapnya kosong lalu seakan tersadar sesuatu dan mulai tersenyum pada Yoonan.

‘Mengapa kau terlihat sedih? Apa telah terjadi sesuatu?’Taeyeon masih memandangi gadis di hadapannya yang terlihat terpaksa mengutaskan senyum di wajahnya.

“Kau akan selalu menemaniku kan Sayang?” Jessica menganggukan kepalanya perlahan menatap Taeyeon yang tak tahu dengan apa yang sedang bergejolak di hatinya saat ini.

“Baiklah.. kalian akan memesan apa?” Taeyeon berusaha mengalihkan pikirannya dengan memulai makan siangnya yang tak terduga akan seperti ini.

     Taeyeon dan Jessica memesan masakan Korea sedangkan Yoonan memilih masakan khas America favorit kekasihnya yang sudah 1 bulan ini jarang sekali menghubunginya. Ketiganya dengan tenang menyantap makanan yang dihidangkan setelah 10 menit mereka menunggu. Sesekali Yoonan menyuapi Jessica, membuat Taeyeon tak nyaman melihatnya. Yoonan menghentikan PDA(Public Display of Affection)-nya itu saat ponselnya berdering. Yoonan berdiri lalu berjalan sedikit menjauh dari meja tempat Taeyeon dan Jessica yang masih menyantap makan mereka.

“Tae.. aku harus pergi sekarang.. bisakah kau menemani Jessica untuk beberapa jam? Aku akan menjemputnya saat urusanku sudah selesai nanti..” Wajah Yoonan terlihat sedikit panic setelah menerima telepon itu membuat Jessica dan Taeyeon penasaran.

“Yoong.. ada apa? Ya.. Jessica bisa ikut denganku.. kebetulan aku free setelah makan siang ini..”

“Para pemegang saham ingin meeting denganku sekarang juga.. sepertinya ini berkaitan dengan rencanaku membeli Yongwon Bank.. ada-ada saja mereka.. kau tidak keberatan menemani tunanganku kan Tae?” Taeyeon tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Jess.. kau tak apa kan ikut dengan Taeyeon dulu?” Jessica menggelengkan kepalanya lalu menerima kecupan di dahinya dari Yoonan yang kemudian beranjak meninggalkan meja mereka, meninggalkan hanya ia dan Taeyeon yang masih berdiri melihat kepegian tunangannya itu.

“Lebih baik kita duduk dan melanjutkan makan kita..” Taeyeon berbicara lalu kembali duduk menikmati makan siangnya dan kebersamaannya dengan Jessica tanpa Yoonan.

—————————————————————————————————————————–

“Kau pasti suka dengan ini..” Tiffany kembali menggenggam kotak hitam kecil di jok samping mobilnya. Saat ini ia sedang dalam perjalanan kembali ke Corso Magenta, tempatnya menginap setelah berkunjung ke sebuah tempat di Via Palestro yang terbilang cukup jauh dari pusat keramaian di Milan. Senyum manis itu tak hilang dari wajah cantiknya saat mengingat kembali percakapannya dengan Patrizio, pria paruh baya yang telah membuatkannya sesuatu istimewa yang akan ia bawa ke Seoul esok hari, melepas rindu dengan sang kekasih setelah berbulan-bulan mereka tak bertemu karena ekspansi bisnis keluarganya yang terbilang cukup sulit, tak tahu kenapa, sesuatu seperti sengaja menahan dirinya untuk pulang kembali ke korea. Tiffany kembali menyimpan kotak hitam itu di jok samping, kembali focus mengemudi ditemani lagu-lagu yang mengingatkan moment-moment indahnya bersama sang kekasih.

FLASHBACK

“Ini bagus.. ya.. aku akan membelinya..” Tiffany dengan semangat memasukan beberapa potong kemeja blouse, rok, dan celana ke tas belanjaannya. Ia memang seorang shopaholic sekaligus fashionista karena posisinya sebagai salah satu calon pewaris kerajaan bisnis keluarga Hwang yang mengharuskannya berpenampilan modis, elegan dan presentable setiap saat.

“Ah.. baiklah.. aku hanya tinggal membeli celana jeans, sepatu dan hoodie saja..” dengan senyumnya yang menawan Tiffany berjalan meninggalkan toko ini menuju toko lainnya yang ada di kawasan perbelanjaan elit di Hongkong. Jarak dari satu toko ke toko lainnya cukup dekat karena itu ia memutuskan untuk berjalan saja.

“Sepertinya disini bagus..” Tiffany memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko yang menjual berbagai benda yang berbau sub-urban, casual, modis dan trendy. Setelah memilah milih selama  lebih kurang 40 menit.. Tiffany kini telah selesai dengan misi belanjanya, ia tinggal menggesek kartu kreditnya dan semua kebutuhan pakaiannya selama di Hongkong terpenuhi.

“Total belanjanya 450.000 dollar..” wanita yang menjadi cashier di toko itu memberitahunya dengan ramah. Tiffany mengangguk lalu mulai mencari dompetnya tapi nihil.

“Bagaimana?? Apa mau menggunakan uang tunai saja Nona?” si cashier kini mulai menyadari bahwa Tiffany tak memiliki uang sepeserpun. Ia bisa melihat wajah panic Tiffany yang terlihat jelas.

“Bolehkah saya meminjam telpon sebentar?” si cashier mengangguk, membuat Tiffany berjalan ke samping meja cashier, membiarkan pembeli yang lain membayar belanjaan mereka. Tiffany ingin sekali mengetuk kepalanya dengan palu karena ponselnya ternyata mati. Tadinya ia akan menghubungi ibunya yang masih di hotel menemani ayahnya bertemu client bisnis mereka tapi ponselnya malah mati saat genting seperti ini.

“Saya.. tidak jadi membeli..” ucapan Tiffany terhenti saat sebuah tangan menggenggam kantung belanjaannya.

“Maaf aku terlambat.. kau menunggu lama?” pemuda dengan kemeja denim biru lautnya itu memberikan kartu kreditnya, mengetik beberapa digit password kartu kreditnya.

“Maaf tapi..” Tiffany membeku saat ia merasakan bibir pemuda itu mengecupnya singkat.

“Kajja.. kita berbelanja lagi.. oh ya.. terimakasih karena sudah membantu kekasihku..” pemuda yang telah mengambil ciuman pertamanya itu tersenyum begitu tampan pada si cashier yang menganggukan kepalanya dengan wajah merah padamnya. Tiffany masih tak sadar bahwa ia kini sudah keluar dari toko itu bersama orang asing yang menggenggam salah satu tangannya dengan lembut.

“Ciuman pertamaku…” langkah Tiffany terhenti setelah mendengar tawa kecil pemuda di sampingnya.

“Yah!! Lepaskan tanganku ih..” Pemuda itu malah tertawa semakin keras mendapat dorongan yang cukup keras dari Tiffany.

“Kenapa kau tertawa seperti orang gila?? Aku akan melaporkanmu jika kau mendekat!!!” pemuda itu malah berjalan mendekati Tiffany yang berjalan terus ke belakang dan akhirnya ia terperangkap dalam dekapan pemuda yang telah mencuri ciuman pertamanya yang berharga.

“Aku sudah menolongmu tadii.. apakah menurutmu ini pembalasan yang baik??” pemuda itu menatap Tiffany begitu dalam dengan doe eyes-nya yang indah. Keduanya terdiam untuk sesaat. Tiffany bisa merasakan hembusan pemuda yang kini menatapnya begitu lembut.

“Apa kau percaya pada love at first sight?” untuk sesaat Tiffany terdiam tak menjawab pertanyaan pemuda yang kini semakin mendekatkan wajahnya dengan Tiffany yang kemudian mengangguk.

I like you.. may I court you?” pemuda yang tadi begitu lancang mengambil ciuman pertamanya itu mengecup kedua tangannya lalu tersenyum begitu tampan pada Tiffany yang tak tahu kenapa mulai merasakan sesuatu yang aneh di hatinya

END OF FLASHBACK

lMusic player berpindah ke sebuat trek yang selalu dinyanyikan kekasihnya yang perlahan mencuri hatinya itu. Tiffany kembali tersenyum mengingat lagi memori yang dibawa lagu itu.

FLASHBACK

Malam ini langit Jeju bertabur bintang, menambah keindahan malam sepasang kekasih yang masih dimabuk asmara meskipun hubungan mereka kini sudah berjalan 2 tahun lebih. Sang wanita minggu lalu baru saja merayakan pesta kelulusannya dari salah satu  universitas bergengsi dan terbaik di Korea Selatan. Ia menyandang lulusan terbaik di angkatannya dengan double degree yang diraihnya. Tentu saja kekasih wanita itu bangga dengan prestasi yang diraihnya. Maka dari itu, kini ia dan sang kekasih berada di tengah laut di daerah Jeju dalam kapal pesiar pribadi miliknya yang sengaja didekor dengan hal yang berbau pink sesuai dengan kesukaannya.

“Yoong… kita ada dimana?” Yoonan masih membawa Tiffany dalam pelukannya, tak membiarkan gadis itu menginjakan kakinya terlebih dulu di Yacth yang sengaja ia hadiahkan untuk wanita yang sukses mengikat hatinya itu untuk pertama kalinya. Yoonan tersenyum tak berhenti menatap wanita di hadapannya.

“Ini.. adalah sesuatu special untuk wanitaku…” Yoonan menatap Tiffany penuh cinta dan kekaguman. Tiffany masih tak mengerti dengan apa yang diucapkan kekasih rahasianya itu.

“Maksudmu?” Yoonan malah mengecup dahi Tiffany lalu memberikan sebuah kotak pink kecil.

“Kunci apa?” Tiffany mengambil kunci dari kotak pink yang dipegangnya, menunjukan apa maksud kekasihnya itu.

“Aku tahu kau suka sekali dengan laut.. maka dari itu aku.. sengaja memesan Yatch ini untukmu. Semua dokumennya sudah selesai dan kau sudah menjadi pemilik sah kapal ini sayang..” Yoonan kini mengecup kedua tangan Tiffany yang sudah berkaca-kaca mendengar penjelasan dari kekasihnya itu. Yoonan tersenyum begitu lebar menerima pelukan gadisnya yang menangis kecil di bahunya.

“Mengapa kau menangis? Apa kau tak suka?” Tiffany menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan pria yang masih mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Ia berdiri kembali menatap kekasihnya yang tersenyum begitu mempesona padanya.

“Jadi kau suka?” dengan cepat Tiffany menganggukan kepalanya menerima kecupan di bibirnya.

“Syukurlah.. aku lega hehhee.. oh ya apa kau mau berkeliling?” Tiffany menganggukan kepalanya semangat membuat Yoonan segera membawa gadisnya itu mengelilingi kapal pesiar yang cukup menguras koceknya. Tentu saja.. bagaimana tidak, dalam kapal ini terdapat beberapa kamar, gym, jacuzzi, mini theater dan bar kecil yang menambah kenyamanan pemiliknya.

 Setelah berkeliling selama 30 menit, mereka kini ada di kamar tidur utama Yatch yang berada di lantai 3. Tiffany begitu terkejut sekaligus senang saat melihat seluruh dekorasi kamar ini sesuai dengan kamar impiannya, terlebih karena adanya warna merah muda yang mendominasi kamar bergaya eropa modern ini. Senyumnya semakin melebar saat ia merasakan kehangatan favorit di punggungnya.

“Kau hanya akan diam saja? Apa kau tak mau mencoba kasurnya?” Yoonan melepaskan pelukannya lalu mengangkat tubuh Tiffany, membawa gadis itu menuju ranjang dan kasur yang terlihat begitu megah dan mewah layaknya yang dimiliki raja atau ratu. Ia menurunkan  wanitanya itu dengan perlahan membuat Tiffany tersenyum manis padanya. Ia lepas heels Tiffany dan juga sepatunya. Mereka berdua kini berada dala posisi terlentang menatap langit langit. Yoonan menggenggam tangan kanan Tiffany yang segera memberikan kecupan kecil di pipinya. Tiffany begitu serius mengamati langit langit kamarnya yang dilukis begitu indah dengan ornament-ornamen laut yang menambah daya tarik kapal pesiar dan kamar ini khususnya hingga ia tak sadar bahwa kekasihnya itu kini sedang memijit beberapa tombol di remote kecil yang dipegangnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?” langit langit kamar yang sejak tadi menarik perhatian Tiffany tiba-tiba terbuka. Tiffany tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat jutaan bintang yang tadi mereka lihat di luar kini bisa ia lihat dari kamarnya dengan posisi ia berbaring di kasur dan ranjang yang begitu nyaman bersama orang yang sangat special baginya.

“Happy Anniversary.. maaf aku agak telat mengucapkanya..” Tiffany terdiam menatap kekasihnya yang mengambil sesuatu di saku celananya.

“Kau tahu.. kau wanita pertama yang mengalami semua ini. Ini pertama kalinya aku bisa menjalani hubungan yang serius dengan seseorang. Fany-ah.. kau wanita pertama yang membuatku merasakan sesuatu yang anehnya sangat luar biasa bagiku. Terima kasih kau mau memberiku kesempatan hingga hari ini. Kau adalah pertama dan kuharap yang terakhir untukku..saranghae..” Yoonan bangkit dari posisi tidurnya, memasangkan kalung emas putih berhiaskan sebuah kalung kecil sederhana.

“Kunci itu.. hanya kau pemiliknya. Hanya kau yang bisa membuka gembok di kalungku ini..” Yoonan kemudian mengeluarkan kalung serupa dengan hiasan gembok kecil yang serasi dengan kalung yang tadi ia pakaikan pada kekasihnya.

“Yoona…”

“Fany-ah.. gembok ini adalah hatiku.. hanya kau yang bisa membukanya. Kuharap kau yang akan selalu menjadi pemilik kunci ini. Sekali lagi.. terimakasih.. aku mencintaimu..” ciuman kali ini tak penuh nafsu seperti biasanya. Ini terasa begitu manis. Bibir mereka hanya menempel saja beberapa detik sebelum akhirnya Tiffany mendorong tubuh Yoonan sehingga kini kekasihnya itu ada di atasnya.

“Kau yakin? Bukankah kau..” ucapan Yoonan dipotong oleh Tiffany yang kini menciumnya penuh hasrat. Gadis itu menarik Yoonan semakin dalam, membuat hormone Yoonan naik dan tak bisa tertahan lagi. Yoonan mulai membalas ciuman kekasihnya itu dengan intens. Beberapa menit berlalu dan kini keduanya tak mengenakan pakaian apapun di tubuh mereka kecuali perhiasan yang mereka kenakan. Yoonan masih berada di atas Tiffany yang terlihat begitu cantik baginya saat ini. Sementara Tiffany.. ia menatap Yoonan dengan senyum bulan sabitnya, membuat kekasihnya itu semakin jatuh dan jatuh hati padanya.

“Ini yang pertama bagimu?” Tiffany menganggukan kepalanya dengan sedikit ketakutan yang terpancar di matanya. Yoonan tersenyum lembut mengelus wajah kekasihnya yang imut itu.

“Kalau kau belum siap.. aku bisa menunggu sampai kau benar-benar siap..” lama Tiffany tak menjawab hingga Yoonan akhirnya mengecup dahi kekasihnya itu lalu berbaring di sampingnya.

“Yoon.. aku siap.. dan aku ingin kau jadi yang pertama.. dan terakhir bagiku…” setelah beberapa menit keduanya terdiam, Tiffany mengucapkan itu semua. Ia membuat Yoonan kaget karena dengan spontan menaiki tubuh Yoonan. Tiffany mulai mencium kekasihnya itu dengan hangat, menuangkan semua yang ia rasakan sekarang. Selama beberapa menit keduanya terus bercumbu seperti itu, menumpahkan semua cinta, nafsu dan hasrat yang mereka pendam, terutama Yoonan yang selama berpacaran dengan Tiffany tak pernah melakukan sex lagi dengan wanita lain seperti yang biasa ia lakukan dulu.

“I’ll be gentle.. I promise.. love you..” dengan itu Yoonan mulai meleburkan miliknya dengan Tiffany yang menangis kecil menahan rasa sakit luar biasa di organ kewanitaannya. Yoonan memasukannya perlahan, menunggu kekasihnya itu terbiasa dengan miliknya. Ia sengaja mencium Tiffany yang masih meringis kesakitan karena ia telah menembus hymen Tiffany. Bercak darah mulai terlihat. Yoonan tersenyum melihat itu.

“Wrap your legs arounf my waist.. love” Tiffany mengikuti instruksi pria yang baru saja mengambil virginity-nya. Ia mengunci pinggang Yoonan dengan kedua kakinya, membuat tak ada lagi jarak antara keduanya, mempermudah Yoonan melakukan penetrasi miliknya ke dalam milik Tiffany yang masih mencoba terbiasa dengan benda asing di dalam organ kewanitaannya.

‘Kau benar-benar masih virgin Fany-ah.. terimakasih..’ ucap Yoonan dalam hatinya masih sibuk menciumi kekasihnya yang masih berusaha beradaptasi dengan juniornya.

“Yoon…ahh.. ini aneh sekali…” ucap Tiffany sedikit tersengal-sengal. Ia merasa ditusuk dengan seribu pedang tapi anehnya sekarang terasa sungguh nikmat. Mendengar hal itu membuat Yoonan memulai penetrasinya perlahan.

“Kau menyukainya?” Tiffany terlihat malu menganggukan kepalanya membuat Yoonan tersenyum melihat tingkah cute gadis di bawahnya.

“Baiklah.. siapkan dirimu.. karena aku.. aku akan membawamu ke dunia yang baru..” dengan itu Yoonan mulai menghentakan miliknya dengan keras dan cepat ke dinding Tiffany yang masih begitu ketat untuk miliknya. Semuanya berlalu begitu indah dan mengesankan. Tiffany menangis, berulang kali meneriakan nama Yoonan yang semakin terpacu memompa miliknya ke dalam milik Tiffany. Tiffany kini mulai merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa ingin buang air kecil.

“Yoon.. anghh.. I wanna pee..” ucap Tiffany terpatah-patah karena kekasihnya itu semakin mempercepat tempo penetrasinya, menyentuh titik sensitivenya, membuat Tiffany merasa terbang ke langit 9 dengan kenikmatan yang prianya berikan.

“Don’t hold it baby..it’s cum.. not pee.. it’s juice of our love.. together ok?”beberapa detik kemudian cairan itu mulai keluar membasahi milik Yoonan dan ranjang mereka. Yoong mengeluarkan miliknya sebelum miliknya itu menyemprotkan sperma ke rahim Tiffany yang masih tersengal-sengal mencoba menenangkan tubuhnya.

“You wonderfull.. I love you..” ucap Yoonan kemudian mendekap tubuh kekasihnya begitu erat, menikmati moment-moment terindah dalam hidupnya.

 

END OF FLASHBACK

Tring.. tring..tring..

“Oh..Bora.. ada apa ia menelpon?” Tiffany kini memasangkan earphone Bluetooth di telinga kanannya, masih focus menjalankan kendaraannya di pinggir jalan dekat tebing-tebing yang langsung menghadap ke laut eropa yang indah.

“Hai Sweety.. ada apa?” senyum semangat terlukis di wajah Tiffany yang terlihat cukup lelah dengan perjalanan dan kegiatannya hari ini.

“Tiff.. apa Yoonan sudah menghubungimu?” Bora.. salah satu pewaris keluarga Shin yang cukup terpandang di Korea berbicara dengan nada yang gelisah pada sahabatnya. Ia tak tahu harus bagaimana memberi tahu sahabatnya itu tentang Yoonan yang telah resmi bertunangan malamini dengan gadis misterius yang baru ia ketahui beberapa menit yang lalu saat pria yang statusnya masih menjadi kekasih sahabatnya itu mengumumkan pada public tentang pertunangannya.

“Menghubungiku? Maksudmu?” Tiffany mulai bingung.. tak biasanya Bora menanyakan tentang hubungannya dengan Yoonan. Bora memang satu-satunya orang yang mengetahui hubungan rahasianya dengan sang pewaris keluarga Kwon, pangeran hatinya. Tapi sahabatnya itu tak pernah membahas tentang Yoonan kecuali ia sendiri yang memulai topic pembicaraan tentang kekasihnya itu. Well maklumlah.. hubungannya dengan Yoonan sangat sensitive karena ini menyangkut persaingan bisnis yang cukup ketat antara kedua perusahaan yang terbilang no 1 di Korea.

“Tiff.. kumohon kau harus tenang mendengar semua ini ya..” Bora kini mulai menceritakan apa yang ia lihat dan saksikan tadi. Air mata perlahan turun dari kedua mata Tiffany yang terkejut mendengar apa yang baru saja ia dengar dari sahabatnya itu. Tiffany  perlahan memberhentikan mobilnya di samping jalan, ia tak mau ceroboh menabrak sesuatu karena berita yang mengejutkan sekaligus mematahkan hatinya ini.

“Tiff.. kau baik-baik saja?” Bora bertanya, mencoba menenangkan hatinya, menanyakan kondisi sahabatnya yang terdiam cukup lama setelah mendengar berita menyakitkan itu darinya.

“Gwenchana.. apa Yoonan masih ada disana bersama tunangannya?” dengan nada yang tenang Tiffany bertanya pada Bora yang kini malah semakin khawatir dengan sahabatnya itu.

“Tiff.. it’s okay.. kau bisa menangis dan mengeluarkan semuanya padak..”

“ Apa Yoonan masih ada disana bersama tunangannya?” masih dengan nada tenangnya yang menakutkan Tiffany berbicara.

“Tidak.. dia tadi keluar ruangan bersama Paman Jang..”

“Baiklah.. terimakasih.. aku akan menghubungimu nanti..” dengan itu Tiffany mengakhiri panggilan sahabatnya. Unttuk sesaat ia terdiam, menatap kedepan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini semua bukanlah mimpi. Yoonan tak mungkin melakukan ini semua padanya. Kekasihnya itu tak mungkin mengkhianatinya begitu saja. Hubungan yang sudah terjalin selama 3 tahun ini tak mungkin terhenti hanya karena seorang gadis yang mengganti tempatnya di hati kekasihnya itu. Ia tahu bahwa Yoonan sangat mencintai dirinya, tak mungkin dengan sekejap prianya itu berpaling darinya. Pasti ada sesuatu.. ya pasti telah terjadi sesuatu hingga kekasihnya itu terpaksa bertunangan dengan gadis itu.

Sebuah truk container cukup besar yang melaju dengan kecepatan penuh oleng karena salah satu bannya pecah. Truk container itu berhasil menghentikan laju kendaraannya menubruk sedan hitam yang berjalan sangat kencang di depannya. Si pengemudi  sedan itu yang kini malah kehilangan kendalinya. Ia berusaha mengurangi kecepatannya tapi percuma karena rem mobilnya itu kurang pakem. Si pengemudi sedan hitam itu semakin panic saat mobilnya melaju begitu kencang menuju sebuah mobil mini couper pink yang sedang menepi di pinggir jalan.

“Lebih baik aku menghubunginya sekara…” Tiffany tak sempat menghubungi Yoonan karena mobil mini couper pink yang dikendarainya kini berguling beberapa kali sebelum akhirnya masuk ke laut, menembus pagar pembatas bersama mobil sedan hitam yang menyusul mobilnya masuk ke laut luas yang terhampar di sepanjang jalan..

——————————————————————————————————————————————————-

——————————————

sore semuanya ^_^

author CS slash RF kalian yang renKe ini balik lagi bawa full chapter 3 yg kmrin gw janjiin hehhee

gimana??

sedikit terjawab kan pertanyaan kalian?

tenang aja… klo belum.. masih ada part 2nya ehehee

tunggu yeeee!!!
jangan lupa komen!!!!

NO COMMENT NO UPDATE

buat kalian reader setia gw yg selalu main dan meninggalkan jejak di wp gw yg masih amatiran ini..

thanks bgt.. sangat gw hargai..

komen kalian penyemangat gw buat ngelanjutin cerita” gw hehe

buat kalian yulsic shipper.. gw udah ada draftnya hehhee

cuma gw mau liat dulu antusiasme kalian ttg ff yulsic ini ^_^

gw tau kebanyakan dari kalian LS dan RF.. but please.. open your mind hehe

sedikit curcol aja nih ya.. dulu gw suka SNSD karna Taeny.. swear deh..

selama beberapa tahun gw RF dan LS yg selalu baca cerita mereka…

emang sih tempat tongkrongan gw bkn di wp hehee gw main di AFF

dulu gw ga bisa baca ff selain taeny dan yulsic main castnya..

tapi… ada banyak cerita yg bikin pikiran dan imajinasi gw akhirnya terbuka ttg ff snsd

banyak loh ff taengsic, soosic, yulti, yoonsic, soori, taeri, soona.. dan pairing lainnya yg lain..

gw tahu sih mungkin kalian ngerasa ngekhianatin taeny atau yulsic kalau misalkan kalian baca taengsic atau yulti but gw saranin jgn liat castnya dulu deh hehee liat dulu gmn ceritanya… maksud gw tuh ide ceritanya hehee

okee segitu dulu mungkin dari gw yaaa

disini gw ga bermaksud ngejelikin taeny atau RF couple lainnya.. gw hanya ingin ngeshare aja apa yg ada di otak gw ttg FF SNSD ^_^

gw hanya manusia biasa.. so maaf klo gw ada salah kata atau apa gtu hehehee

oke byee… see you next week or another ^_^

Iklan

106 pemikiran pada “SECRET WALTZ Chapter 3 part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s