LOVE IT SELF Chapter I

cropped-tumblr_mwezwdfuph1swqx1fo1_500.jpg

-Jeonju, Korea Selatan, January 1999-

“Kau tidak apa-apa? apakah lukanya sakit sekali?” tanya laki-laki muda pada seorang gadis cilik yang mencoba untuk tidak menangis karena ia baru saja  terjatuh dari ayunan di taman yang baru ia kunjungi.

“Hermm aku…aku… kakiku sakit sekali, sepertinya kakiku terkilir.” Gadis cilik itu berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit dan air matanya karena ia tak mau terlihat lemah di depan young boy yang baru saja ia temui.Baginya menunjukkan air mata di depan orang lain adalah suatu kelemahan yang harus ia hindari.

“Ok, baiklah namaku Kim Taeyeon dan aku akan menjadi satriamu hhehe! Aku akan mengantarkanmu pulang!” ucap Taeyeon sambil menunjukkan senyum seribu wattnya yang membuat gadis cilik itu daze dan bingung pada dirinya sendiri.

“Euh oh…tapi aku tidak mengenalmu. Dan mengapa kau mau menolongku?”tanya gadis cilik itu.

Its simple…because of fate and maybe God send me to help you…?”jawab Taeyeon muda sambil mengerutkan salah satu alisnya pertanda ia ingin mengetahui nama gadis cilik yang telah membuatnya merasakan rasa yang aneh di perutnya yang tak pernah ia rasakan. Rasanya seperti ada berjuta kupu-kupu berterbangan di perutnya itu.

“Tiffany…namaku Tiffany Hwang”

“oh Tippany? haha nama yang bagus dan sesuai dengan pemiliknya” Taeyeon tersenyum sembari mengumbar handsome charm-nya yang membuat rona pipi Tiffany memerah.

“Omo!! Apakah lukanya parah sekali hingga mukamu menjadi merah padam seperti itu?”

“A…aa aniyo, bukan seperti itu. Aku rasa sebaiknya aku pulang sekarang…errr ghamsahamnida Taeyeon-shii.” Tiffany yang malu tak merasakan lagi sakit di kakinya segera bangkit dan mulai berjalan meninggalkan Taeyeon muda yang kebingungan dengan aksi Tiffany tadi. Tapi selang beberapa detik, Tiffany pun jatuh lagi dan kali ini ia tak bisa menyembunyikan tangisnya. Melihat kejadian tersebut, Taeyeon pun dengan segera menghampiri Tiffany yang sekarang terduduk di tanah sambil menangis.

“Shusht… Jangan menangis Pany-ah…ayoo naik ke punggungku dan kau beri tahu saja alamatmu?”

“Tapi…tapi..aku baru mengenalmu dan aku belum bisa mempercayaimu…bisa saja kau akan berbuat jahat padaku” Ucap Tiffany cilik sambil meneteskan air matanya. Melihat kondisi Tiffany yang seperti itu membuat hati Taeyeon meringis.

“Well, aku berjanji tidak akan melukaimu Tippany. Sekarang aku hanya minta kau percaya padaku, naik ke punggungku dan beri tahu aku alamatmu….Umma ku selalu mengingatkanku untuk memperlakukan wanita sebaik mungkin.” Ucap Taeyeon dengan nada yang meyakinkan Tiffany ditambah dengan senyum tampannya yang sekali lagi membuat tiffany mengangguk. Di perjalanan, Taeyeon selalu membuat lelucon yang membuat Tiffany tersenyum. Taeyeon pun tak henti-hentinya bertanya mengenai Tiffany. Hingga tak terasa mereka telah sampai di halaman rumah keluarga Hwang yang begitu luasnya.

“Ya…baiklah tuan puteri kita telah sampai. Aku akan mengantarkanmu hingga bertemu dengan Ummamu dan menjelaskan ini semua. Dan aku tidak menerima kata NO darimu ok?”

But Taeyeon i can take care myself from here”ujar Tiffany yang tidak sadar mengeluarkan agyeonya(bicara imut gitu).

“Baiklah kalau begitu.., aku takkan menurunkanmu hingga kau setuju denganku” ucap Taeyeon cilik sedikit mengancam.

“hmmm baiklah..Welcome to my house Taeyeon-ah, Hwang Mansion!” Ucap Tiffany yang tak tahu mengapa bisa begitu nyaman dan hangat saat ia ada di dekat Taeyeon, padahal mereka baru saja bertemu.

And welcome to my life too my Princess’ pikir Taeyeon sambil tersenyum memasuki bagian dalam Hwang Mansion yang cukup megah bagi Taeyeon.

———————————————————-LOVE IT SELF———————————————————–

-Jeonju, Korea Selatan, Februari 2003-

Tak  disangka bahwa peristiwa 4 tahun yang lalu telah membuat Taeyeon dan Tiffany yang semula asing menjadi sahabat yang tak dapat dipisahkan. Hingga orang tua Tiffany pun menyekolahkan putri semata wayangnya itu di sekolah dasar yang sama dengan Taeng muda (nama panggilan Taeyeon itu Taetae, Taeng, Taenggoo)

Ya.. bagi Mr. Hwang ini mudah saja karena ia adalah salah satu pengusaha sukses Korea yang berhasil mengembangkan bisnisnya di Amerika hingga akhirnya Tiffany dilahirkan di California. Karena tak mau anaknya melupakan budaya tanah air dan bangsanya, Mrs. Hwang pun memaksa suaminya untuk pindah ke Korea Selatan dan bisnisnya di Amerika ia serahkan pada Adiknya.

Setelah berpikir berulang-ulang akhirnya Mr. Hwang pun setuju dan mereka sekeluarga pindah ke Jeonju karena itu adalah kampung halaman Mrs.Hwang.Tiffany cilik tidak menemui kesulitan yang berarti mempelajari hangul karena Mrs. Hwang selalu mengajarkannya sejak putrinya berumur 4 tahun.  Karena itu mungkin saat bertemu Taeyeon, Tiffany tak menemui kesulitan yang berarti saat akan berbicara dengan namja itu. Lagipula jika ia menemui kesulitan dalam hangul, Pangeran ciliknya itu akan dengan senang hati dan sabar mengajarkannya hal baru yang sungguh bermanfaat baginya.

“Taeyeon-ah..ulang tahunmu sebentar lagi…,heumm kau ingin hadiah apa dariku?”

Tippany’s Love is enough for me hehe” Jawab Taeyeon yang sekarang sedang menatap langit dari bukit dekat Hwang Mansion. Tiffany yang mendenganya pun kaget. Ia tak menyangka sahabatnya itu akan menyatakan cintanya.

But Taetae… we’re too young to have any relationship like that!”ucap Tiffany seraya memalingkan wajahnya karena malu bercampur bahagia mendengar Taeng’s sudden confession.

Wae? Apakah aku salah meminta cinta persahabatan dari sahabatnya?”tanya Taeyeon dengan polosnya pada Tiffany yang salah tingkah.

Aigoo i should know it from the start that its just cinta persahabatan yang ia minta  dariku…yahh naega pabo(Bodohnya diriku!)!”rutuk Tiffany dengan suara yang kecil sehingga Taeyeon tak mendengarnya.

YahHwang Miyoung why you talking to  yourself?”

“hehe aniyo Taetaeit just another ant bite me..”

OMO!  Let me see your hand! ” Taeyeon segera menyentuh tangan halus Tiffany. Tiffany yang salah tingkah segera melepas tangannya dari Taeyeon. Wajahnya merah padam lagi seperti saat pertama kali Taeyeon menolongnya di Taman 4 tahun yang lalu. Ia tak bisa menyembunyikan blush-nya ketika ia beradu kontak fisik dengan sahabatnya itu. Jantung Tiffany tiba-tiba berdetak tak karuan. Ia merasa jika Taeyeon lebih lama lagi memegang tangannya, bisa saja ia tak sadarkan diri. Tiffany pun segera melepas genggaman Taeyeon.

Yah Tiffany Hwang! Mengapa kau melepaskan tanganmu dari tanganku?” ucap Taeyeon dengan nada yang terkesan marah dan menggoda Tiffany.

“Tidak apa-apa kok! Aku hanya tak biasa bila namja memegang tanganku yang halus begitu lama!” balas Tiffany dengan nada narsistiknya yang biasa ia tunjukkan pada sahabatnya itu. Mendengar ucapan Tiffany, Taeyeon pun hanya tersenyum hangat dan kembali menggenggam sahabatnya. Kali ini ia menggengam lebih erat dan kembali menatap indahnya langit hari itu.

“Jujur, hanya kehadiran dan kasih sayangmu saja sudah cukup bagiku Miyoung. Akan tetapi aku juga berharap kita berdua bisa lulus dari sekolah dasar ini dengan nilai yang memuaskan serta melanjutkan ke Junior High School….TOGETHER.” Ungkap Taeyeon dari dasar hatinya. Ia tak mau meminta lebih untuk saat ini. Karena ia tak tahu sebenarnya apa yang  ia rasakan pada Tiffany. Yang pasti jika ia di dekat sahabatnya itu, maka tak ada  satu moment pun yang ia sesali.

I hope soo Taetae! Ayo lakukan yang terbaik! Bukankah kita telah bertekad untuk masuk Jeowangdo Junior High School kan? Aku harap doamu terkabul Tae….”

“Ya aku juga”

“Tae ini sudah jam 5 sore..! Ayo kita pulang! Kau bilang ayahmu menyuruhmu untuk cepat pulang hari ini. Tak biasanya Uncle Kim menyuruhmu pulang cepat hehe..” Ucap Tiffany menggoda Taeyeon yang masih saja berbaring di rumput dengan mata yang telah tertutup.

“…..”

“TAE!!!”Tiffany mulai menggoyang-goyangkan badan Taeyeon yang tetap saja di posisinya sedari tadi. Taeyeon terkesan malas untuk pulang ke rumahnya hari ini dan Tiffany tak tahu mengapa. Taeyeon pun mulai membuka matanya dan menatap lurus ke arah Tiffany dengan Innocent dan Affectionate gazenya yang membuat Tiffany breeze seketika.

“Fany-ah….Bisakah kita seperti ini dulu sebentar? Aku ingin sekali menikmati moment indah ini bersamamu.” Jawab Taeyeon yang dengan segera mendorong Tiffany untuk berbaring disampingnya dan kembali menggenggam dengan lembut tangan sahabatnya itu. Tiffany hanya diam saja mengikuti keinginan Taeyeon.

Tak terasa 10 menit pun berlalu, sekarang Taeyeon mulai bangun dan menggendong Tiffany di punggungnya. Tiffany pun tak kalah shock-nya dengan tindakan spontan sahabatnya itu tapi tak tahu kenapa tubuhnya hanya diam mengikuti kehendak Taeyeon.

Lets go Home Fany-ah!”

“Tae mengapa kau menggendongku seperti saat kita pertama kali bertemu?” tanya Tiffany mencoba menyembunyikan raut malu di wajahnya.

“Haha…aku sebenarnya ingin sekali menggendongmu lagi sudah sejak lama. Hanya saja baru sekarang keberanianku bertindak. Gwenchanayo? ” Ujar Taeyeon mulai mengatur nafas dan detak jantungnya yang berdetak cepat seperti kereta api. Kehangatan di hatinya yang dulu sering ia rasakan pun kembali, tak kalah dengan jutaan kupu-kupu yang sepetinya berterbangan di perutnya.

A..a..aniyo, its fine! Kajja!” Tiffany menjawab sahabatnya itu dengan suara yang terbata-bata.

Di perjalanan, keduanya diam tak bersuara. Tapi keheningan tersebut bukanlah keheningan yang mengganggu, ini adalah keheningan yang menenangkan hati mereka. Sesampainya di rumah Tiffany, Taeyeon segera pamit kepada orang tua sahabatnya itu. Ia pun bergegas pulang mengingat ayahnya yang telah menunggunya di rumah. Taeyeon, sebenarnya heran mengapa ayahnya tiba-tiba menyuruhnya untuk pulang cepat.

Umma..Appa.. aku pulang!” ucap Taeyeon mencoba mencari kedua orang tuanya. Ia dikagetkan ketika ia melihat hampir semua barang-barang di rumahnya lenyap tak berjejak. Ia mencoba berlari ke ruang tamu dan dapur akan tetapi tak ada siapa-siapa. Saat ia mencapai garasi, ia terkejut melihat semua barang-barangnya telah di-pack dalam kardus-kardus yang cukup besar.

Umma..Appa.. ada apa ini?mengapa barang-barangku di-pack seperti itu?”Ujar Taeyeon yang clueless pada kedua orang tuanya yang cukup sibuk mengatur pack-pack di garasi kecil mereka.

“Maafkan Appa Taeng… Appa lupa memberi tahumu lebih awal bahwa kita akan pindah ke Andong. Boss Choi memindah tugaskan Appa ke Andong untuk pabrik baru disana. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk karir Appa dan masa depan keluarga kita Taeng…Kau tidak keberatan kan?” Ucap Mr.Kim  dengan tenang dan mencoba meyakinkan Taeng yang sekarang hanya terdiam kosong menatap Appanya.

Appa…tak bisakah aku sekolah disini bersama Tiffany?”

“Lalu kau akan tinggal bersama siapa Taeng?”tanya Mrs.Kim pada anak sulungnya itu.

“Tiffany… bersama orang tuanya di Hwang Mansion.”jawab Taeyeon ringan.

“Tak bisa… Kita telah begitu banyak merepotkan keluarga Hwang!Apakah kau tahu bahwa sebenarnya yang membiayai biaya sekolahmu selama ini adalah mereka? Appa malu Taeng! Apakah kau tahu apa yang Appa rasakan selama ini?” ungkap Mr.Kim yang mulai mengingat lagi betapa perihnya hidupnya beberapa tahun ini.

Keluarga Kim memang bukanlah keluarga kaya raya, mereka memiliki pendapatan menengah ke bawah. Hanya saja mereka sungguh kesulitan dalam membiayai sekolah Taeng yang notabenenya sekolah di SD favorit dan cukup bonavit. Melihat keadaan ini Mr. Hwang mengajukan diri untuk membiayai sekolah Taeyeon yang ia ketahui sangat menyayangi Tiffany, putri semata wayangnya yang sangat ia sayangi.  Karena terpaksa akhirnya Mr.Kim pun menerima tawaran Mr.Hwang dan sungguh berterima kasih pada kemurahan hati keluarga Hwang, walaupun ia malu.

“Tapi Appa…,aku belum memberi tahu Tiffany. Aku tak bisa begitu saja menghilang dari sahabatku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.”ucap Taeyeon dengan mata yang berkaca-kaca mencoba menutupi kesedihannya.

“Tiffany akan mengerti Taeng. Lagi pula kami sudah memberi tahu Mr.Hwang mengenai ini semua dan ia berjanji akan menjelaskan ini semua pada Tiffany.”ungkap Mr.Kim pada anaknya.

“Umma mohon agar kau mengerti Taeng. Ini semua demi kebaikan kita di masa depan nanti. Dan untuk masalah Tiffany, Umma mengerti kau sedih karena harus berpisah dengannya, tetapi bukankah kalian masih bisa bertukar surat dan berkomunikasi? Hubungan kalian takkan terputus Taeng jika kalian memang telah ditakdirkan untuk tetap keep in touch…percayalah pada tuhan Taeng” Ucap Mrs. Kim dengan penuh pengertian dan harap pada Taeyeon yang sedari tadi hanya diam menundukkan kepalanya.

“Kapan kita akan pergi?”tanya Taeyeon dengan datar tanpa ekspresi.

“Pukul 21.30 Taeng. Kita akan pindah ke Andong dengan mobil yang telah disediakan oleh perusahaan karena ternyata Appa telah diberi mobil dinas baru oleh perusahaan yang lebih layak untuk keluarga kita. Bukankah itu bagus Taeng?!” Mr.Kim mencoba membuat Taeyeon ceria kembali mengingat ia tahu bahwa Taeng sangat menyukai mobil dan hal yang berbau otomotif lainnya.

“Baiklah Appa…Lalu bagaimana dengan sekolahku?Bukankah aku harus menyelesaikan ujianku terlebih dahulu?”

“Well untuk masalah itu Appa telah mengurusnya….Kau tenang saja dan fokus pada ujianmu di sekolahmu yang baru ok?!”  ucap Appa Taeng mencoba mengurangi kekhawatiran putranya.

“Bolehkah aku pergi sebentar? Ada sesuatu yang harus aku selesaikan terlebih  dahulu.” Dengan itu Taeyeon pun bergegas pergi mengambil tasnya. Ia pun berlari menuju taman tempat ia dan Tiffany bertemu dahulu.

Taeyeon sampai di Hwang mansion dengan napas yang memburu. Ia dengan segera memanjat menuju kamar sahabatnya. Setelah berkali-kali Taeyeon mengetuk pintu, Tiffany pun keluar menemui sahabatnya yang terlihat berbeda dan begitu kusut… dan Sedih.

“Fany-ah…”

“ Taetae? Mengapa kau malam-malam begini bergegas menemuiku?”

“Aku.. Aku menyayangimu.” Dengan itu Taeyeon segera memelukTiffany yang shock dan membeku diam di pelukan Taeyeon.

“Taetae…Ada apa? mengapa kau tiba-tiba seperti ini?” Tiffany pun hendak melepaskan dirinya dari pelukan Taeyeon. Tapi Taeyeon malah semakin mempererat pelukannya. Tiffany pun mulai merasakan air yang menetes di bahunya. Tak ingin memaksa sahabatnya untuk membuka mulut, Tiffany hanya diam dan membalas pelukan Taeyeon.

“Fany-ah… kau percaya pada takdir kan?.”

Taeyeon pun melepaskan pelukannya dan menatap kembali mata Tiffany dengan serius  dan penuh kesedihan seakan ia mencari sesuatu dari sahabatnya itu. Tiffany yang tak tahu harus berbuat apa pun hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menatap Taeyeon. Ia dapat melihat sorot kesedihan dan kasih sayang dari mata namja itu.

Tanpa aba-aba Taeyeon mulai mendekatkan dirinya dengan Tiffany. Perlahan-lahan ia mendekatkan wajahnya dengan Tiffany dan tiba-tiba

Chu…

Taeyeon pun mendaratkan kecupan di kening Tiffany yang membeku merasakan kehangatan bibir Taeyeon di keningnya.

“Saranghae Hwang Miyoung…” Taeyeon pun memberikan amplop pink kepada Tiffany dan bergegas pergi menuruni kamar Tiffany yang berada di lantai 2.

“Tae….” ucap Tiffany yang baru menyadari kepergian sahabatnya beberapa menit kemudian. Ia terus memandangi Taeyeon yang kini mulai menghilang dari pandangannya. Air mata tak terasa turun menelusuri indahnya wajah gadis itu, beriringan dengan tangis kesedihan yang diluapkan Taeyeon saat berlari meninggalkan Hwang Mansion.

———————————————————————————————————————————————————————–

——————————————

well.. itulah chap pertama ..

terlalu pendek??

terlalu klise??

umum?

udah biasa liat taeny yg kaya gtu???

hahaha jangan salah yaaa..

itu semua cuma jebakan..

nanti bakal ada kejutan lainnya.. so keep reading ok? ^_^

no comment no update ok ^_^

Iklan

94 pemikiran pada “LOVE IT SELF Chapter I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s